Rabu, 29 April 2015

Banjir Oleh-Oleh dari Tanah Suci


Musim Haji tahun lalu menjadi kesempatan bagi kedua orang tuaku untuk melawat ke Mekah. Alhamdulilah, hal ini bisa kesampaian setelah beberapa bulan sebelumnya aku melepas masa lajang. Memang sih sempat bingung antara mau mantu dulu atau naik haji. Setelah ditimbang-timbang, ternyata mendingan mantu duluan baru fokus ke haji. Alasannya simpel. Biar nyampe sana ga kepikiran ngurusin perintilan kawinan, hehheheh...

Selama 40 hari, ibu dan bapak otomatis harus hengkang dari rumah. Padahal waktu itu, Adikku Anis masih sibuk menghadapi Ujian Tengah Semester (UTS). Akhirnya diputuskan bahwa ia indekost saja tanpa pulang seperti biasa pada Sabtu dan Minggunya. Akupun bisa bernafas lega.

Tiap hari, aku dan kakak punya tugas baru, yakni bergantian mengontrol kegiatan si Adik. Sebagai anak akselerasi, tentu dia mengklaim sehari-harinya sangat sibuk dengan tugas sekolah. Takutnya, itu perut bakal diacuhkan karena keseringan belajar. Kadang bandel juga dia terkait masalah HP (baca : adikku sangat taat peraturan). Dia hampir tidak pernah bawa HP ke sekolah karena takut kena point. Makanya aku sering pantau dia lewat FB. Dan kalau kumassage di FB, justru lebih cepat responnya. JYAAHHH Giliran di FB aja dia baca...dasar bocah !!!

Pokoknya aku dan kakak ibarat kata jadi alarm buat Anis. Kami menggantikan peran ibu yang tak pernah absen menanyai sekolahnya setiap hari. Kalau ga sekedar tanya uda maem apa belum, gimana UTS-nya, ya kami teleponan... Setidaknya ini bisa meredam kerinduan kami pada orang tua. Terlebih lagi, bapak kerap menyinggung hal ini saat ada kesempatan berbalas kabar via telepon maupun SMS agar kami saling peduli satu sama lain.

Di penghujung musim haji, dimana saat itu rasa kangen kami sudah membuncah, tiba-tiba ibu menelepon.

“Mbak mau jilbab ga? Ini mumpung ibu ada di Pusat Oleh-Oleh?” ujarnya di seberang sana yang berebut suara dengan para pedagang.
Jelas ibu sedang ada waktu santai kala itu. Dan hal tersebut diisinya dengan mencari oleh-oleh.

Ditawarin begitu, siapa yang menolak? Meski sebenarnya hal terpenting yang aku harapkan adalah kepulangan mereka dengan selamat tanpa kurang suatu apapun.

“Gimana mbak? Mau ibu pilihin yang item aja nih.. Ini juga ada sorban, gamis, baju koko buat masmu,” katanya.
“Boleh....,”jawabku senang.
“Ya agak gedean dikit ga pa pa ya, kan nanti bisa disekeng...,” kata ibuku lagi.
“Iyaa iyaa....yang penting cepetan pulaang,” ujarku dengan sorot mata menyala-nyala.

Sebelum pulang, ibu memintaku untuk menambah stok kacang Arab yang akan dibagikan ke tamu-tamu rumah. Wah...aku kelabakan. Karena kan kacang Arab yang enak tak kuketahui dimana belinya. “Soalnya di pesawat kuota barangnya dibatasin, jadi ga bisa ngangkut oleh-oleh banyak...., tolong ya mbak” tambah ibu lagi. 
Kacang yang dimaksud....
(Ditulis oleh Gustyanita Pratiwi pemilik Gembulnita)
Karena kakakku waktu itu udah bantuan hunting oleh-oleh jilbab, maka kini giliranku yang kena jatah oleh-oleh cemilan. Dengan menghitung kancing baju, akhirnya kuputuskan untuk membeli pesanan ibu di Ranch Market saja. Ga ada waktu lagi soalnya. Besok udah harus capcus naik kereta.

Ya sudah, sepulang kerja mampir GI dan belanja-belinji deh. Aku ingat betul kacang-kacangan kayak gini pernah kulihat di sana. Nah, ketika kutelusuri rak demi rak, ketemu juga kacang yang dimaksud. Lebih tepatnya bernama kacang pistachio sebenarnya. Dan harganya...ternyata sangat muahaalll.... yang 200 gram saja Rp 260 ribu. Beli sebungkus, kok rasanya kurang ya...Akhirnya kutambah lagi varian kacang lainnya dengan merek yang sama. Dan kalau ditotal-total...belanjaku kali ini nyampe Rp 650 ribuan. Sempat gontai juga sih, saat gesek debit ke kasir. Gimanapun pengeluaran buat beli tiket kereta sudah hampir Rp 1 juta sendiri. Tapi setelah kurenungi baik-baik, masa iya mau memberikan yang terbaik buat orang terkasih kudu perhitungan. Toh Alloh juga kan yang bakal membalas kebaikan-kebaikan kita?

Lalu tibalah hari dimana ibu dan bapak kembali ke Tanah Air. Meski tak bisa menjemput dari bandara, aku tetap pulang dengan sukacita. Mumpung ada alasan pulang, hehhehe... Selain itu oleh-oleh dari Mekah juga pastinya sangat kunanti-nanti.

Sesampainya di rumah....Wah...banyak betul oleh-olehnya. Tamu-tamu juga sudah pada pergi. Katanya ramean pasca kedatangan. Alhamdulilah deh, jadi kan kami-kami bisa giliran temu kangen juga. Sembari kukeluarkan oleh-olehku, kuterima pula oleh-oleh dari Tanah Suci tepat saat kami semua bercengkerama di kasur ruang tengah sembari nonton TV. Ya, oleh-oleh cerita memang jauh lebih mahal dan berkesan....Heheee...tapi jangan kecewa...oleh-oleh yang sebenarnya langsung dibisikkan kepadaku. Ada di kamar ibu. Cepat-cepat kami semua mengekor, manakala ibu menjinjing satu tas plastik gede.

Sorban mas yang akhirnya jadi hak milik (akuuh)

"Kabulkan doa Aim, Ya Alloh..."

Saat kresek besar itu dibuka....wahh mata ini berkaca-kaca. Hihi...saking terharunya, segitu perhatiannya orang tua ke kami. Padahal agenda ibadah tentunya padat merayap bukan. Sempet-sempetnya ngeborong segini banyak. Dicarinyapun yang bener-bener berkualitas. Memang sih ada yang kegedean, tapi ini mah udah lebih dari cukup. Kami banjir oleh-oleh. Ada gamis lengkap dengan jilbab panjangnya, baju koko, sorban, sarung, jubah, sari kurma, zam-zam, kacang-kacangan, sajadah, dan lain-lain. 

Seneng??? Pastinyaa..... Selain bisa mejeng keren kayak cewek-cewek Arab yang cuantek-cuantek itu, aku juga bisa kembaran gamis bareng ibu, kakak, dan adik :D : D



Kalau oleh-oleh yang paling berkesan buat kalian apa? Share ya di kotak komen ^___^

Minggu, 26 April 2015

Cah Purworejo Perantauan


Sebagai pendatang, terkadang aku berpikir....kenapa ya aku ga buka bisnis makanan aja dari kampung? Aku emang anak daerah yang kudu meneruskan idup dengan mengais (emang ayam) rezeki di ibukota... Sementara untuk tinggal, aku memilih kota (pinggiran) Jekarda yakni Tangerang. Karena rumah di Jakarta udah ga mungkin lagi kejangkau isi dompet.... Walhasil, tiap hari aku musti jadi penglaju yang bolak-balik pakek kereta.

Aku pernah berpikir, ga selamanya aku jadi karyawan. Aku pengen usaha sendiri. Jadi boss ....  (Kebayang ga bocah gembul ini duduk di kursi panas sambil kipas-kipas dollar). Ahhhh kapan itu bisa kejadian??

Bisnis kuliner mungkin bisa jadi alternatif. Aku bisa bawa makanan khas Kebumen kayak sate ambal...(e tapi bisa ga ya..kan ini uda punya paten), terus gembus goreng, wedang ronde, de el el....Kalok dari tempat Tamas ada dawet ireng khas Butuh, Kutoarjo dan jika ini dipadukan pasti bakal memperkaya menu sajian resto. 

(Ditulis oleh Gustyanita Pratiwi pemilik Gembulnita)

Pengen jualan sate Ambal... (itu lo yang bumbunya sambel tempe)

Ato pecel khas resep io yang pake daun turi

Baru-baru ini, kami menemukan kupat tahu asli Purworejo yang ditekuni oleh seorang Pakde (entah siapa namanya) di 2 bangunan ruko yang dijadikan kede. Lokasinya ada di bilangan Cimone.

Persis jam 8, kursi depan sudah penuh. Seorang ibu berjilbab yang bertugas sebagai koki pun menyambut kami dengan senyum ramahnya, lalu menggiring kami untuk makan di dalam...Bukan dalam ruangan juga sih...semacam eperan yang menghubungkan satu ruko dengan ruko lainnya yang letaknya berdampingan.

Dengan cekatan si Pakde langsung menggelar karpet dan menambahkan satu buah meja untuk posisi lesehan. Di depan kami udah banyak anak muda berlogat Jawa yang kongko. Dari pembicaraan yang kudengar, rupanya mereka ini satu komunitas yang mengatasnamakan Cah Purworejo Perantauan ato disingkat CPP. Bahasanya uda bisa kutebak sih...Jawa halus, tapi kadang kedengeran seperti orang nesu.. (mungkin itu intonasi khas orang-orang Purworejo dalam berucap #sotoy), beda dengan kampungku .... yang bahasanya ngapak... tapi ga juga sih soalnya Prembun dah nyerempet-nyerempet Kutoarjo juga...jadi udah lumayan alus lahh...hahhaha

Balik lagi ke si CPP ini pemirsah. Rupanya lagi ada kopdar yang anggotanya sebagian besar kerja pabrik di sekitar Tangerang. Aku kan kebetulan duduk di korsi tengah.... Lalu kami pesan tahu kupat, 2 telor ceplok, dan 5 tempe mendoan. Wuff...wufff fanasss..... tapi suwer tempe mendoannya wenak tenan walaupun potongannya ga selebar tempe mendoan pada umumnya. 

Nah, sambil makan sambil kami nguping (ini kepaksa loh) pembicaraan para agen CPP ini. Ya kebanyakan sih guyonan ga jelas. Malah sempet ada yang nyeletuk...”Iyo ki penasaran mbek sing jenenge Nita, pengen njaluk pin e.” ((((NITA PEMIRSAAA...))) Ini di depan kelen ada anak gembul bernama Nita padahal... PIN??? PIN ATM kamsudnya???? Lah kenapa eke yang jadi kegedean rumongso begindang? Hahahhaha.... Ga kok itu bukan Nita yang ini. Tapi Nita yang lain.

Tak berselang lama, datanglah 2 anak cowok yang telat. Lalu tanpa ba bi bu lagi mereka menyalami seluruh anggota, tak terkecuali kami. YA...AKU DAN TAMAS JUGA DISALAMIN (YAAAA...PASTI KAMI DIKIRA CPP JUGA NEHH).

Habis itu aku dan Tamas saling pandang en cekikikan. Tapi bener juga sih, mas kan juga orang Pordjo juga, walo ga terdaftar resmi dalam kancah CPP, HAHHHAHAH..
Lalu pakde pemilik kede datang sambil bawa baby-nya. Kira-kira baru 3 bulanan. Tamas yang emang suka bersosialisasi ini langsung nyapa. 

“Dah berapa bulan Pakde?”
Si Pakde menjawab : “Jalan 3 tahunan,” dengan entengnya.
LAH...Kami berpandangan, ga mungkin 3 tahunan lah....masi imut begitu hahahha
“Masa 3 tahun pakde?”
“E...maksude telung wulan Hahahhaha,” dia meralat.
“Namanya siapa,”kembali Tamas bertanya.
“Fatkhul Lahab,” ujar Pakde bangga.... (cz dia ini ternyata turunan kyai jadi nama baby-nya ada nafas islaminya gituh)
“Lah...podo berarti, aku juga ada Fatkhul-nya,” sahut Mas..

Hahahahah.....kami semua tertawa, lalu si Pakde kembali mendongeng panjang lebar tentang ekspansi kupat tahunya. Kamipun jadi pendengar yang baik sambil tak lepas dari suap demi suap tahu kupat. Sampe tak terasa piring di depan kami sudah kosong. Walhasil kamipun mau angkat pantat dari tempat kami duduk. Eh baru mau bangkit, tiba-tiba ada mbak pelayan yang lewat dari belakang dan nubruk aku. Terus dia bilang “Eee....maaf ya Dek, waduh aku mau lewat, dirimu pasang tangan sih, “
Hahahahah...kami semua ketawa....

Ooops..tapi seneng juga. Aku dipanggil Dek...berarti kan aku pasti dikira masi muda kayak anak-anak CPP ini, AZEEGH...
 
YES, masi dipanggil Dek... (silaken close tab kalok mual liat foto ini Hahah)



Kamis, 23 April 2015

Ngejawab Pertanyaannya si Wahyu...


Hari ini sore terasa begitu cepat. Tau-tau bentar lagi magrib... Klo itu terjadi, aku bakal teriak HOREEEH !!! Selain bakal pencet bel jam 6, aku juga pengen abis dari stasiun ditraktir makan. Makan di luar lah yaa.... ((Pak Suami, plis baca postingan ini, hiks).... Akoohh lagi capee masaagh...324r7555776542 47 Super cute pig emoticons gif pig emoticons

Buat ngisi waktu, kali ini aku mau nyaur hutang postingan aja lah. Jadi ceritanya tanggal 30 Maret 2015 kemaren aku dikasi pe-er ama anak bau kencur kemarin sore yang baru kelar UN ((Apa-apaan cobaaaakk... saia dikerjain anak kecil, huft) Tapi biar bagaimanapun saia harus menuntaskan tugas ini.

Yaitu liebster award... ((LAGI)). Ini kali ke-dua aku dapat penghargaan sebagai blogger PE-MU-LA. Ya catet!!! Saia emang masi pemula. Tahun 2013 bikin blog ...1 tahun kemudian ditelantarin, 1 tahunnya lagi ditengokin. Daaaaan....banyak jaring laba-laba yang uda bersarang di sana. Keadaannya sangat mengenaskan. Lagi-lagi kotak komen kosong. Bayangkan, hidup tanpa komen kelen tu rasanya kayak mana lah #ini kenapa jadi ketularan bahasanya beby? Ya pokoknya nyeseghh banget (sengaja pake ghh biar keliatan nampol nyeseknya). 

 

Ya gimana engga, uda bikin tulisan moler-moler ga ada yang baca. Sempet terbersit mungkin ada lah silent readernya....tapii...kalok kutelaah lagi...jumlah visitornya juga ga naek signifikan... Kalok kuedit bolak-balik baru dah naek statistiknya. Dan di situ sudah bisa dipastikan kalo yang ngeklik ya aku lagi dan aku lagi. Huft...

Jadi aku harus berterima kasih buat keaadaan ini. Sekarang teman blogku bertambah. Bahkan sampek dapat lobster dari si Wahyu Husea Ajie... (thanx ya anak abal). Kenapa thanks? Selain karena ada dalam peraturan games, si Wahyu ini juga termasuk tipe komentator yang jujur ((nah loh kasi gue duit uda dipuji)..Komennya ga sekedar bunyi terima kasi suda berbagi info, nice posting, la la la...tapi bener-bener mengomentari sesuai konteksnya. Kalopun mau OOT juga masi ada kata-kata panjangnya, dan ga jarang pula ditambahin nada nglawak jadi saia sebagai penulis merasa terharu di sini...Sekali lagi thanks...324r75557765430 47 Super cute pig emoticons gif pig emoticons



Peraturan kedua, emmmm apa yaa....copy paste dulu dah aturan maennya :

1. Ucapin makasih ke yang kasi award
2. Mendeskripsikan 11 hal tentang diri kamu
3. Menjawab 11 pertanyaan yang diberikan oleh orang yang memberimu award
4. Menominasikan kembali 11 blogger yang dipilih dengan memberikan 11 pertanyaan yang kamu buat
5. Kasih tahu para pemilik blog yang blog-nya telah kamu jadiin nominasi Liebster Award
6. Cantumin peraturan tentang Liebster Award di postingan kamu
7. Pasang juga logo Liebster Award di postingan yang kamu buat

Oke satu-satu dulu dah :
11 Hal tentang diriku ((LAGIIIH))

Gembul
Unyuk (boong)
Sensian
Tembem
Yaaa cemen dikit laa
Antik (saya cuma 1 di dunia, kecuali disamarkan ama jin qorin)
Nangisan
Ingin bikin novel sendiri
Teramat sangat setiaaa
Alim (maap ini pencitraan :D)

Pendiem (kecuali kalok uda kenal banget pesti brani ngecap cwewettt)


Peraturan ketiga, menjawab pertanyaan si Wahyu :

Pernah mimpi seram? Ceritain dong singkatnya.
Pernah. Ngempi tentang detik-detik kiamat (ini uda terjadi 2 kali)....
Tapi pas counting down malah ada adegan romantisnya, dimana eke dengan pasangan jadi pegangan tangan sambil ngebuka lagi memori-memori dari awal bertemu sampe akhir dunia.....(dan ini terasa kayak titanic)

Percaya firasat? Ceritakan pengalaman firasat kalian?
Kadang...
Kalo lagi beduaan ni...tiba-tiba ada mak sreeetttt perasaan ga enak, e bener aja ada tamu yang mencet bel....Dannn....mertamu ga pulang-pulaang. Arrrggghhh (Dan itu uda kejadian berulang kali)

Hantu. Pernah diliatin sama Tuhan tentang makhluk ini? Gimana?
Ga pernah dan ga mau juga dilihatin... amit-amit jabang bayi...

Kalau gambar pohon, di bagian tengah kertas atau di bagian bawah kertas?
Di pinggir kertas aga ke tengah........

Kalau kalian berkesempatan untuk tinggal di luar negeri. Mau di daerah mana? Alasannya?
Ke...... Selandia Baru, mau ngerasain susu sapi Selandia Baru, tentunya di padang rumput persis kek dongengnya Heidy.

Kalau ketemu idola, hal yang pertama dilakuin?
Biasa aja....males norakk hahahhaha...

Siapa nama guru SD kelas satu kalian?
Bu Tam....

Pasangan berada apa pasangan beradab? Alasannya?
Beradab lah..... ya klo beradab kan tar bisa jadi berada hehehhe (ngasal aja jawabnya...)

Kerja di pabrik internasional jadi karyawan atau bisnis sendiri meskipun skala rumahan? Alasannya juga.
Jadi boss sendiri... ga makan ati.

Kendaraan pribadi apa transportasi umum?
Tergantung...

Transportasi yang belum pernah kalian naiki apa?
Kuda terbang.... eh...kapal pesiar... yang kayak di film Titanic gitu dah


Point selanjutnya, kasi pertanyaan ke korban selanjutnya :

1. Jenis pekerjaan ideal ?
2. Lagi sibuk apa sekarang?
3. Paling sebel sama?
4. Pengen punya rumah idaman kayak gimana?
5. Menghadapi orang yang suka sinis ato kepo ama kita gimana sih?
6. Paling ga suka ditanya apa?
7. Makanan favorit?
8. Milih kerja apa sekolah setinggi-tingginya?
9. Hal yang membuat kalian bangga?
10. Pasangan yang kalian pengen kayak apa?
11. Posting foto kamu aja deh...pake outfit of the day ato lagi di tempat yang sekiranya kereen...

Nah........berikutnya, yang bakal kukasi Liebster Award buat ngejawab pertanyaan di atas adalah....


(Maaf ya bakal ngerepotin...kalo ada waktu luang sok diposting jawabannya en diteruskan gamesnya...klo ga ada waktu bisa juga dijawab di kolom komen ya...)
Keep Silaturahim Sahabat blogger aku....

Selasa, 21 April 2015

Kartiniku.....



Hampir semua isi postingan blog kali ini ngobrolin tentang tanggal 21. Emang ada apa sih? Apa istimewanya tanggal 21 kali ini dibandingkan dengan tanggal 21 di bulan-bulan lainnya. Yaitu karena Kartini....
Makanya aku juga tertarik ni ngebahas tentang wanita...

Ga mau kalah kan??

Bicara tentang wanita dalam hidupku, tentunya ga ada yang bisa ngalahin peranan I-o Titik...(ini panggilan kesayanganku pada ibu for your info). Pertama kali yang manggil dengan sebutan ini sih adek. Karena terdengar seperti ledekan, dan lama-lama berasa lucu aja di telinga akhirnya aku ikut-ikutan manggil I-o...(klo ditelaah ini kayak anak cadel yang nggak bisa nyebut ibu dengan jelas #eh apa hubungannya, kan cadel masi bisa nyebut konsonan b...haaah apasih, pokoknya kayak begitu lah...)


Ibuku.... (kayaknya lagi penyuluhan apa tauk)

Selain sehari-harinya bekerja sebagai PNS, I-o juga merangkap sebagai mantri hewan... Emm bahasa resminya Pengawas Bibit Ternak gitu lah, tapi lebih sering dipanggil mantri oleh masyarakat desa.

Ibarat dokter, beliau harus siapkan waktu 24 jam untuk stand bye tatkala ada ternak sapi ato kambing ngetok pintu rumah (tentunya ini jangan dibayangkan soalnya yang ngetok beneran adalah pemiliknya)...

Dulu, waktu jaman masih SMA aku yang kebagian tugas nyatetin pasien sapi atau hewan lain yang datang berobat. Ruang tamu yang ada di teras disulap jadi ruang konsul. Ada buku pasien yang harus diisi manakala I-o ga ada di tempat atau masi kerja. Kalo uda pulang barulah disamper ke rumah si pasien ini... Ga tanggung-tanggung kadang sore bahkan malempun dijabanin buat nyuntik... Dan aku yang didaulat sebagai asistennya. Naik-naik gunung boncengan pake motor. Karena kan kebanyakan peternak mangkalnya di gunung. Biasanya tugasku CUMA disuruh pegangin si hewan klo mau dinjus pake jarum suntik... (serem kan, belom pernah tahu kan gimana reaksi kambing atau sapi yang ngamuk gara-gara disuntik?)

Bukan cuma nyuntik, kadang I-o juga ga jijian kala membantu persalinan seekor sapi betina ataupun memeriksa feses binatang untuk dicek apa ada pengaruhnya ke sakitnya...HUAAA 

Wanita lain yang tak kalah penting dalam hidupku saat ini adalah my mother in law alias ibunya Tamas. Ya, setelah merried otomatis aku dapat double mom kan, hehehhee.... Dan aku sayang dua-duanya.

Keduanya aku sayang semua...

I-o Sum namanya. Seorang petani hebat yang dengan  kebersahajaannya itu  telah melahirkan lelaki yang kini telah menjadi imamku. Aku ga bermaksud riya di sini... cuma mau berbagi inspirasi saja akan hebatnya peranan seorang ibu dalam kehidupan. Dengan setiap  doa yang dilantunkan juga sikap prihatin seorang ibu terhadap buah hatinya kayak rajin nyenin kemis, jamaah, dan nderes Quran yang tiada putus-putusnya, maka ke-2 anaknya sekarang telah menjadi ‘orang’ semua. 

Satu hal lain yang harus kuakui dari I-o Sum. Beliau amat pandai memasak. Padahal masakannya juga simpel-simpel aja. Kalo pulang kampung, aku pasti ga sungkan-sungkan makan banyak (mantu macam apa ini hahahha). Apalagi tahu kupat khas lebarannya. Bumbunya tiada tertandingi dah... Kata Tamas ada resep rahasianya. Kuncinya si di perpaduan bumbunya. Kapan-kapan aku kudu belajar ni...
 
Itulah 2 profil wanita hebat dalam hidupku... Dan moga-moga suatu hari nanti aku juga mewarisi sifat-sifat baik beliau-beliau ini....Sekarang aku baru mewarisi sifat ‘gembulnya’ saja....Hahaaa...ini si bukan sifat Hadooohhh....

Ku mewarisi kegembulannya
Sekian terima kasi


Kalo cerita kalian tentang Kartinian ini gimana? Share ya di kotak komen....

(Ditulis oleh Gustyanita Pratiwi pemilik Gembulnita)


Sabtu, 18 April 2015

Ngeteng Sayuran

Pete yang ranum-ranum itu tampak menggantung indah di sisi kiri dan kanan aneka pisang-pisangan. Hijaunya yang mencolok mata langsung membetot perhatian kami tatkala sekelebatan melintas di pinggir kede-kede sayuran. Kami pun turun. Sejenak menawar harga untuk dijadikan buah tangan. Hahaa...terdengar kampungan memang. Tapi biarlah. Kami berdua pecinta pete.

"Ambil ya Dek?" (Tamas mengerlingkan mata ke arahku sambil tangannya tak henti-hentinya mengelus pete.
" Terserah," jawabku pendek.....  Tadinya aku mau gasak pisang. Tapi kuurungkan niat tersebut mengingat di rumah, masih ada 2 lenjer pisang tanduk, yang sampai detik ini belum kumasak...BAYANGKAN.... (lagi-lagi aku menimbun sesuatu).

Tanpa ba bi bu lagi, langsung diguntinglah 10 renteng pete dari gantungan. Mata bulat Tamas berbinar, seolah telah menemukan harta karun. Lalu aku melipir dan mengamati sudut lain yang menawarkan aneka penganan dalam toples. Macem-macem. Ada keripik bayam, tempe, dodol, manisan, dan lain-lain. Sontak abang-abangnya kegirangan melihat kedatangan kami.


Sortir pete


Pilih yang ga ada uletnya dunk Yank..


Pengen ambil pisang, tapi nggak jadi...

"Boleh teh, dicobain aja," ujarnya ramah sembari membantu membuka tutup toples dan mempersilahkan aku mencomotnya sebagai sampel. Kupungut satu, lalu terdengar bunyi KRAUK !! KRAUK !!! (Lumayan keras)---> dalam hatiku langsung pengen kabur ngga jadi beli. Tapi nyatanya aku masih punya sisi manusiawi juga sama pedagang. Ga tega barang yang uda dikemek-kemek, apalagi sudah sampe ke perut ditinggal begitu aja. Akhirnya aku minta dibungkusin 1/4 kg aja.

Lepas dari rayuan penjaja snack, kami pun melipir sejenak. Dan perut tiba-tiba kruyuk-kruyuk. Dan mata ini menuntunku untuk menyatroni kang cilok. "Beli berapa yank?"
"Goceng aja.."
"Oke, bungkus bang!!"
Dikasihlah 5 bulatan aci yang direbus lalu disiram saos encer itu dalam plastik. Asap mengepul. Fuh..fuh...Panas.

Kami pun pulang menembus kemacetan....

(Ditulis oleh Gustyanita Pratiwi pemilik Gembulnita)

Jumat, 17 April 2015

Filosofi Teh

Menyesap teh tiap pukul 6 tak lagi rajin kujalani. Sebabnya??? Banyaaakk.. Mulai dari kesiangan, malas nuang gula yang seringnya tumpah-karena tak muat menyesaki diameter sendok yang demikian mungil, atau karena mau lebih intim sama air putih.

Tapi...tetap saja aku suka teh. Dulu, zamannya masih gadis, tak kurang dari 1 botol sosro plastik habis kutenggak tiap harinya. Kalau nggak yang kemasan tetrapact macam teh kotak. Sungguh kebiasaan yang tak pro diabet bukan ? Biasanya habis naik turun angkot, bekerja siang malam bak kelelawar karena terdoktrin deadline laporan, akhirnya teh lah yang jadi pelarian. Jadi ngeteh...bukan ngebir kayak bule-bule itu...

Ada rasa tenang ketika ngeteh.
Tapi ada juga rasa was-was dimana degup jantung terdengar lebih kencang dari biasanya sesaat setelah ngeteh.
Rasa manis yang menjadikan cokelatnya lebih pekat kadang membuat perut sedikit berontak. Mules...lalu pengen boker.,

Kadang teh juga bikin insomniaku kumat. Padahal baru ngicip seteguk...malamnya langsung on 24 jam bisa-bisa... ya meskipun kadar kafeinnya tak setinggi kopi, tetap saja membikin mataku bandel  buat merem.

Lain lagi kalok nenggak teh pahit. Yang biasanya beser dan lancar ke 'belakang', tiba-tiba memberikan efek lain pada proses pencernaan. Jadinya sembelit. Sungguh menyebalkan..

Teh memang punya banyak efek.
Kadang menenangkan, kadang pula menggelisahkan.

Baru-baru ini aku sempat mampir ke kebun teh sehabis wisata dari puncak. Ini cuma spontanitas. Ketika lewat, reflek aja pengen mandeg lalu foto-foto. Ha ha ha...biaaarrr...... dicap alay biaaarr....

(Ditulis oleh Gustyanita Pratiwi pemilik Gembulnita)

Terbaaang

Di antara hijau teh
Ngelihat pucuk-pucuk teh yang menghampar bak permadani itu, siapa yang tak tahan buat sekedar foto ? Agak rempong juga sih karena musti berhentiin kendaraan dan nyebrang jalan. Setelah itu kami memasuki gapura yang di depannya sudah dikerubungi penjual kue dading (sejenis makanan yang terbuat dari tepung beras). Lalu ada cilok dan warung-warung penjaja minuman dingin--khusus untuk para pendaki yang kehausan.

Kue dading

Uda gitu ternyata ini ngga gratis. Ada calo tiketnya juga di dalam gubuk kecil yang telah disesaki muda-mudi alay # rupanya kami punya teman..... Setelah membayar 8000,- kami pun dipersilahkan untuk memanjat bukit demi bukit yang telah tersaji di depan mata. Jalannya lumayan serem. Licin dan berlumpur sisa embun dan hujan tadi malam. Kupikir kami mau ambil gambar di bawah saja, karena toh sebenarnya aku malas manjat. Capek....!!!! (risiko punya badan gembul)

Ehh...ternyata si mas uda gesit aja nyampe tengah. Dikeplokinlah aku supaya nyusul dia. Huft. Ndak lihat bininya ngos-ngosan begini apa ??? Sesekali bahkan aku jongkok saking pegalnya saat meniru cara jalan cicak macam begini. Dan, panas matahari jam 10 itu rasanya begitu menyengat hingga mata ini bersikeras menahan silau.

Setelah bersusah payah merambah tanjakan, akhirnya kami sampe ke puncaknya. Jujur...sebenarnya pemandangannya sama saja. Dan jika ditelaah lebih detail, teh-teh di samping kami agak kurang gemuk. Daunnya jarang-jarang. Tak seindah yang terlihat dari kejauhan.

Yah, tak apalah, toh sudah nyampe sini. Ga dosa dong, kalo segera ambil kamera buat fota-foto. LAGIII.
Setelah puas dan memperagakan berbagai gaya, akhirnya kami mulai lelah. Lalu turun dan menyusuri setapak becek tadi. Sempet ada momen mau jatuh juga nih, gara-gara napak di pijakan kayu yang sudah lapuk.. Untung aku segera ditangkap. Haaaapp....

Kami juga berbapapasan dengan gerombolan anak alay yang lewat. Salah seorang diantaranya tiba-tiba nyeletuk : "Teh apa namanyaa??"
JYAAAAAHHHH Langsung dalam hatikupun teriaaaaak !!!!!!: Teh Bohai buatan Nitaaaaa (bukan Maya), Teh bohay buatan Nitaaaaaa.....!!!!


Sesampainya di bawah, Tamas berbisik : "Untung tadi dedek ndak joged..."
-______-"


Jakarta, 17 April 2015