Sabtu, 28 Juli 2018

Review Buku : Rojak (Fira Basuki)




Judul Buku : Rojak
Pengarang : Fira Basuki
Penerbit : PT Gramedia Widiasarana Indonesia
Terbit : 2004
Tebal : 174 hlm.

Blurb : 

Rujak atau yang dalam bahasa Melayu-Singapuranya Rojak tentu punya berbagai rasa. Asam, manis, asin, pedas, bahkan pahit sekalipun yang berada dalam satu kesatuan bernama cobek. Tapi, rojak dalam bahasa Singlish artinya hancur, berantakan, aneh. "Hati-hati menikah gaya rojak (menikah campur), salah-salah nanti bisa benar-benar rojak (hancur) !"

Review :

Menamatkan dalam satu kali jalan, saya benar-benar dibawa berpetualang lewat buku ini. Ya berpetualang ke Singapura--dimana setting buku ini dibuat, lalu berpetualang lewat karakter tokoh-tokoh utamanya (yang saya rasa sangat sayang kalau ga kunjung dibuatkan film, sementara buku lain yang kelasnya jauh lebih ecek-ecek sudah banyak yang naik ke bangku sutradara, ah......jujur saya sedikit kecewa kenapa buku ini malah belum difilmkan, hiks?), kemudian berpetualang lewat 2 budaya berbeda--yang jauh bagai langit dengan bumi dan begitu disatukan dalam sebuah tali pernikahan, pada akhirnya malah menjadikan satu 'culture shock' tersendiri diantara pelakunya meskipun dalam hal ini masih bisa dikompromikan. 

Sedikit cerita, diawali dengan prolog tokoh utama bernama Janice Wong yang mendekam dalam penjara dimana ia sedang minta tolong kepada sahabatnya--Bernice, untuk menghubungi seseorang bernama Eric Tan. Ia memohon dengan sangat kepada karibnya itu tanpa bilang lebih jauh siapa sosok Eric sebenarnya. Ia hanya memberikan kontak singkat dan buku diary berwarna coklat yang sedikit banyak menggambarkan kondisinya selama di penjara. Ia berharap jika Bernice berhasil menghubungi Eric, maka harapannya untuk mendapatkan keringanan bakal terwujud. Ia sendiri sudah tidak punya siapa-siapa lagi selain orang yang mungkin saja mau membantunya itu, setelah suami dan anak-anaknya diajak minggat mertuanya yang egois karena satu dan lain hal. Itulah sebabnya, kini dirinya terlihat begitu rapuh dan mengenaskan. 

Alur selanjutnya kemudian flashback lewat curhatan Janice yang tertuang dalam diary dan kemudian dibaca diam-diam oleh Bernice. Mulai dari 'bencana' yang datang pertama kali setelah hijrahnya sang ibu suri (demikian ia menyebut ibu mertuanya yang angkuh, bossy, dan juga cerewet) ke apartemen sempitnya di Singapura--padahal tadinya beliau bermukim di rumah mewah di Yogyakarta karena masih ada darah biru, namun sayangnya harus bangkrut seusai meninggalnya sang suami, lalu curcolan seputar kesehariannya mengurus rumah tangga, suami yang tidak lagi sumringah dan tampak murung akhir-akhir ini, lesunya ekonomi rumah tangga, mama dan adik-adik yang masih membutuhkan perhatian, pembantu baru yang ia impor dari Indonesia dan di akhir cerita semakin nglunjak, sampai dosa-dosanya saat berselingkuh dengan guru yoganya. Komplit. Sampai saya rasa, menjadi tokoh utama Janice kok ya keliatan capek banget. Capek yang benar-benar capek, seriously fisik maupun batin. 

Seperti yang saya bocorkan di atas, memang semua bermula dari tidak disetujuinya pernikahan antara Janice yang bermata sipit dengan Setyo yang Jawa sebenar-benarnya orang Jawa. Ibu (demikian tokoh ibunda dari Setyo ini  biasa disebut dalam buku) tadinya mengharapkan mantunya adalah orang yang selevel baik dari segi bibit, bebet, maupun bobot. Selayaknya orang Jawa tulen, ia berharap mantunya ini juga berasal dari Jawa yang stereotypenya adalah setelah menikah ya full mengabdi kepada anak-bojo. Namun sayangnya, nasi sudah menjadi bubur. Setyo terlanjur jatuh cinta dengan Janice dan keduanya pun memilih ikatan lewat janji suci pernikahan hingga kini dianugerahi 2 orang anak yang lucu-lucu. 

Konflik mulai datang bertubi-tubi setelah keberadaan si ibu yang dirasa cukup mencampuri urusan rumah tangga anaknya. Padahal sebelumnya, Janice bersikap cukup sabar dan memakluminya. Namun makin ke sini, semakin banyak saja komplainan yang dilayangkan oleh si ibu. Seolah tidak pernah puas dengan apa yang dilakukan Janice, ada saja yang membuatnya ngomel. Entah itu urusan rumah, anak, kerjaan, masakan, pelayanan terhadap suami, pembantu, dll. Padahal selama ini hampir seluruh pemasukan rumah tangga yang harusnya digunakan untuk mencukupi kebutuhan hidup (dan itu 90%-nya dari hasil gaji Janice), lebih dari separuhnya  malah masuk ke kantong ibu atas nama gaya hidup. Contohnya, dengan semena-mena dirinya memboyong barang-barang sisa kejayaannya di masa lalu yang jumlahnya bisa dikatakan satu kontainer sendiri dan berhasil membuat rumah semakin sempit karena minta dibelikan lemari jati mahal untuk menampung barang-barangnya itu. Bahkan yang paling menyebalkan adalah momen ketika ia dijamu dengan sangat baik oleh besannnya, tapi sikapnya malah sama sekali tidak menunjukkan rasa hormat. Dengan tingkahnya yang sok regal, ia malah bersikap kurang menghargai tuan rumah. Diakrabi malah bersikap kaku, dipersilakan mencicipi hidangan yang sudah disiapkan dengan susah payah, malah  terang-terangan menolak dan malah mengatai pakan kambing (waktu itu salah satu menunya kebetulan adalah sambal kangkong balacan). Di situlah, letak kekesalan Janice sudah mulai memuncak. Ibaratnya sudah tidak terkontrol lagi karena merasa harga diri keluarganya diinjak-injak. Sungguh ia jadi tidak respect sama sekali terhadap mertuanya sehingga apa yang diucapkan beliau setelahnya ya bagaikan masuk kuping kanan keluar kuping kiri. Janice pun semakin acuh dan masa bodoh.

Buku ini memang terasa sangat kuat dari segi karakter tokoh-tokohnya. Hampir semua tokoh bisa dikatakan mempunyai sisi jeleknya. Si Ibu mertua sudah pasti antagonis, Setyo yang dibilang baik dan penyayang pun ujung-ujungnya tetap klemar-klemer karena tidak berprinsip dan selalu membela ibunya walaupun tingkahnya sangat egois, lalu tokoh lain ada pula Ipah--pembantu yang dicap sundal yang di tengah-tengah cerita juga terbukti menunjukkan kesundalannya, bahkan Janice pun tidak luput dari versi jeleknya. Memang baiknya, setiap tokoh tidak ada yang maha benar sempurna bukan? Terutama karena si Janice ini terlalu lemah saat diperlakukan semena-mena, selalu positif thinking padahal ada yang menusuknya dari belakang, suka mengalah, terlalu berusaha ingin menyelesaikan masalah sendiri, sampai yang nekad menuruti hawa nafsu seperti satu potongan adegan dimana di tengah lesunya ekonomi keluarga, suami yang mem-PHK-kan diri, ibu mertua yang boros, dan adik-adik yang masih perlu uluran dana kulian, eh dirinya malah tanpa pikir panjang menyusul simpanannya untuk berlibur ke Jepang sambil 'ena-ena'. Meski satu tindakan tertentu bisa terjadi karena adanya unsur sebab akibat. Dan untuk kasus Janice pun sama, penyebabnya sudah pasti banyak, sehingga pada akhirnya ia seperti balas dendam dengan melampiaskannya lewat cara yang salah. Palingan yang saya tengarai punya watak protagonis hanyalah tokoh Ma (Ibu Janice), yang walau anaknya sering curhat colongan mengenai kurang cocoknya ia dengan mertua, namun sebagai ibu yang baik ia selalu bisa menjadi penengah, tidak memihak, tidak mencampuri, malah menasihati Janice supaya tetap jadi yang lurus-lurus saja, supaya pernikahan juga selamat. 

Cara penyampaian buku ini bisa dibilang cukup lugas. Bahkan untuk pembahasan 'seni bercinta'-pun disampaikan dengan tidak bertele-tele, meski di sana-sini berusaha ditempeli dengan uraian teori ataupun falsafah-falsafah Cina yang rasanya seperti baca buku pelajaran. Buku ini juga tidak memunculkan banyak 'kata-kata bersayap' di tiap-tiap obrolan romantisnya, sehingga justru penyampaiannya yang demikian gamblang juga sarat akan majas ironi dan sinisme seolah-olah memang sangat dekat dengan kehidupan nyata yang jauh dari kesan mendayu-dayu.

Satu lagi yang saya suka dari buku ini. Sampulnya kelihatan 'nyeni banget'. Ada gambar perempuan bergaun merah yang berada di atas cobek dan juga ulegan. Hal tersebut seolah-olah menginterpretasikan bahwa ia sedang terjebak dalam gerus kehidupan yang begitu campur-aduk rasanya. Ya, campur-aduk seperti rujak. Warna merah di sini mengindikasikan bahwa rujak tersebut lebih banyak ke unsur 'pedas'-nya ketimbang rasa yang lain. Sementara rasa 'pedas' sendiri diasosiasikan sebagai sebuah kemalangan. Karena bisa dibilang 90% isinya memang kemalangan si tokoh utama, yang dalam hal ini adalah Janice.

Sebenarnya banyak sekali pelajaran moral yang dapat diambil dari buku ini. Namun, satu yang saya suka dari sekian ungkapan adalah : "Jangan merusak 'rasa' rojak dengan memberi terlalu pedas. Karena itu, sudahlah. Bersyukur kaum Hokkien selamat dan akhirnya berkembang serta menikah di sana-sini, termasuk dengan kaum Melayu. Melayu dan Indonesia, satu rumpun. Selain itu, jika tidak demikian, bersyukurlah kamu ada. Biarkan si ibu berdamai dengannya. Ciptakan ketentraman di rumahmu." (Resensi : Gustyanita Pratiwi).


8 komentar:

  1. aku udah lama nggak baca buku, lumayan deh udah 4 bulanan >.<
    di kehidupan nyata pun banyak kayak gini ya mbul. Kerasnyaaa kenyataan hihi
    Janice quad banget.. kan klo omongan yg pedas itu pasti membuat hati teriris pedih halah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Baca agie yuk ka ucig, aku juga pengen rajin baca buku lagi, nagih klo udah ketemu buku-buku, serasa surga aaak

      Iya aku kesian ama tokoh utamanya ini, serasa dikasi cobaan bertubi-tubi, en sebelnya ga ada yang nulungin, hiks

      Hapus
  2. ah fira basuki
    aku jadi ingat novel Biru, yang cerita reuni SMA yg akhire gak jadi
    aku suka mbak Fira klo exolore latar tempat niat banget
    apalagi masalah dialog antar tokoh
    meski konflik sepele sebenernya, tapi aku suka endingnya yang selalu nggigit sih

    masuk keranjang nih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku baru baca yang trilogi jendela jendela, pintu n atap mas, baca pas smp, nyewa di rental komik haha

      Klo biru yang tokoh utamanya bernsma Ana bukan yo mas?

      Hapus
    2. iya mbak, Ana sama Aris
      duh baper banget itu
      ada juga tokoh yg dari Filipin dan mbak Fira asyik banget klo gambarin orang2 Pinoy
      oh iya jendela jendela juga bagus
      tapi aku juga suka yg difilmnin kayak brownies

      Hapus
    3. Aku belom baca brownies n blom nonton filmnya jugaaaak aaak, padahal film lama yes huhu -______-"

      Ah, fora basuki mah tokohnya sering berlatar orang luar negri ya, risetnya oke banget ampe dipikirin mateng mateng latar budaya si tokoh tokohnya biasanya

      Sebenernya klo penulis wanita favorit aku lebih suka yang gaya nulisnya lebih surealis atau lebih nyentrik lagi kayak ayu utami, djenar maesa ayu, n deelestari (yang terakhir ini sih ofcourse)
      Buku buku fira ini kebanyakan aku bacanya karena butuh hiburan..
      Klo buku dee aku suka karena banyak dibikin mikir, secara kan tulisan dia uda dewa banget ya boook

      Hapus
  3. aku sukaaa buku ini, dah selalu menemani kl lagi ke toilet hahahaha, sedih sih akhirnya kasian sama si Janice & kzl sama mertua & suaminya hahahah XD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kzl bgt emang ma tokoh si ibu n setyonya ini, asli geregetaaaaan hihihi

      Hapus

Komenin dong...tanpa kehadiran kalian apalah arti aku menulis....
kalian penyemangat setiap bulir kalimat dalam blog ini :*
Namun jangan komentar SARU atau SARA ya, jika ada komentar dengan unsur tersebut, dengan berat hati akan aku HAPUS .

Oh ya, Dilarang juga mengambil gambar/foto atau menyadur tulisan tanpa mencantumkan sumber atau seijin pemiliknya. Apalagi untuk kepentingan komersial atau lomba. Thx ^____^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...