Kamis, 25 Juni 2020

Kelabu



Oleh : Gustyanita Pratiwi

Kokok ayam jago membangunku dari posisi tidur yang semula meringkuk. Sarung yang membungkus tubuh ini segera kulipat dengan cepat. Akupun bersiap untuk memulai aktivitas seperti biasanya walaupun judulnya akan kulakukan dengan santai-santai saja. Maklum, pagi itu disponsori oleh kediaman mertua yang letaknya di pedesaan dengan landscape berupa sawah, kali, pekarangan, dan juga rumpun bambu yang berada di samping-sampingnya. Jadi memang tidak ada agenda khusus, tidak seketat protokol saat berada di rumah sendiri. Wong masakan saja sudah disiapkan. Biasalah, masaknya porsi besar yang bisa dihangatkan untuk beberapa hari. Jadi tinggal cidak-ciduk saja seenak udel. Favorit Mamih (begitu kami menyebut Mamak Mertua) adalah sayur thewel aka gori atau nangka muda. Modelnya dibuat santan pedas. Lauknya opor ayam atau ayam kecap. Ayamnya hasil motong sendiri. Piaraan tapi yang jenis kampung. Jadi dagingnya agak wuled karena jago tua. Babonnya ada juga sih. Tapi yang ini buat digoreng biasa. Jadi perkara masak-memasak aku ga ada andil. Tinggal makan saja... meskipun bagian asah-asahnya ya tetap aku yang tackle-in (baca : cuci piring). Sama nyapu atau apa lah. Walaupun ga pernah diperintah langsung alias atas inisiatif sendiri. Ya masa kan gw ga ngapa-ngapain ? Bagaimana presedenku sebagai daughter in law. Tengsin lah yaaw, wekekek.

Baca juga : Gustyanita Pratiwi trip dan kuliner di Solo

Pagi di tempat mertua biasanya juga identik dengan acara ngeteh bersama. Pokoknya begitu menjelang pagi, pasti di meja makan sudah tersedia deretan gelas belimbing yang sudah diisi teh berikut tatakannya masing-masing. Khusus untuk Bapak-Bapaknya pakenya gelas gede yang ada gagangnya. Tehnya dari cerek yang bagian pantatnya sudah menghitam. Bisa begitu karena seringnya itu cerek ditangkringkan di atas tungku yang berbahan dasar batu bata dengan genen kayu, sabut kelapa, juga blarak (daun kelapa yang telah mengering). Menjadikan rasa tehnya khas. Ada sensasi sangit-sangitnya. Tapi ini sih yang bikin enak. Soalnya masih terasa nasgitel (panas, legit, dan juga kentel) juga perpaduan antara sepet manis. Padahal tehnya juga serbuk biasa. Bukan yang bentuknya celup. Paling-paling kunci kental atau nggaknya ya terletak pada seberapa banyak ngasih tehnya ke dalam wedang umeb. Kalau beberapa sendok saja ya jadinya kentel pekat. Kalau sedikit ya pucat. Sama takeran gula pasirnya juga ngaruh sih (kalau kataku). Meskipun kami sendiri ga begitu suka yang terlampau manis.

Seperti juga pagi itu yang hawanya memang adem luar biasa, menyebabkan gigi-geligiku tak berhenti bergemeletuk. Di luar sana suasananya cukup gelap. Padahal sudah jam 07.30 WIB. Hujan semalaman rupanya masih menyisakan sedikit kabut serta raungan kodok bangkong yang bersahut-sahutan diantara becek lumpur dan sawah yang belum masuk masa tandur padi. Orkesnya sudah berlaku sejak semalaman. Sebenarnya beberapa kali juga terdengar suara burung sir kedasih diantara pucuk-pucuk pohon yang tinggi. Suaranya menclok dari satu pohon ke pohon lainnya dan bergema. Itu loh burung yang kata orang (jaman dulu) biasa dijadikan penanda akan adanya berita lelayu. Burungnya sendiri aku belum pernah lihat. Tapi kalau di desa-desa sering dengar. Jujur, aku memang agak takut sih kalau sudah dengar bunyi burung ini. Bunyinya yang teratur seperti orang menyanyi yang kalau diamat-amati ya bikin merinding disko juga.

Ya, pagi itu suasana masih benar-benar seperti subuh. Udara dingin menggigit dibarengi dengan kabut tipis-tipis. Kali besar yang ada di belakang rumah saja sampai tak terlihat. Walaupun untuk mencapai area sana musti ada acara jalan kaki agak menanjaknya segala. Struktur tanahnya memang dibuat miring supaya membedakan antara tanah yang biasa dipakai untuk pemukiman warga dengan yang dijadikan pembatas kali. Tapi sebelum benar-benar mencapai sana, ada sebagian area yang bisa dibilang menyerupai lapangan dan kerap dimanfaatkan oleh anak-anak SD atau MI setempat untuk olah raga pagi. Yaitu lapangan sepak bola lengkap dengan gawang yang tiangnya sudah berkarat. Rumputnya pun sudah tinggi-tinggi sehingga tak jarang pada sore harinya dialihfungsikan sebagai tempat untuk ngangon kambing. Di pinggirannya lagi, berbatasan dengan kalinya pas, ada space lain yang lebih menyerupai ladang dan biasa dimanfaatkan oleh Bapak Mertua atau warga desa lainnya untuk bertanam palawija. Ada jagung, waluh, kacang panjang, suring, kecipir, terung, dan tanaman sayur lainnya. Kadang kalau pas sowan tempat mertua, hal yang paling menyenangkan adalah bagan ini-nya. Saat off dari kerjaan bantu-bantu di dapur, sore harinya, Pak Suami biasa ngajakin aku buat 'kabur' sebentar--nengokin ladang. Cari angin sambil liatin capung yang sliwar-sliwer atau panen apa gitu. Nanti pulangnya bisa nenteng waluh yang kalau di supermarket biasa dibanderol mahal. Coba saja cek di supermarket harganya berapa. Waluh separuh pun nyampe puluhan ribu. Di ladang Bapak Mertua mah murah meriah redho...bahkan gratis sampai dibawain bergelundung-gelundung buat dibawa pulang Tangerang. Ya, waluh atau bahasa lainnya labu di sini tuh bisa tumbuh liar dan subur banget. Ibaratnya cuma nyebar biji aja jadi, haha..









Tapi, karena pagi itu matahari masih ngumpet saja di balik peraduan, belum mau menampakkan sinarnya yang ke-oranye-oranyean, aku dan Pak Suami hanya duduk-duduk saja di bale-bale sambil nyeruput teh. Sesekali tangan ikut mencomot gorengan entah itu pisang hasil metik sendiri atau tempe yang dibalut tepung. Sementara itu, Kakung dan Putri tengah asyik mengajak cucu bercanda ria di atas lantai yang beralaskan tikar. Atau sesekali mengajak anak cewekku buat sobo ke teras yang ada di samping rumah. Katanya mau dia diajarin caranya kasih makan ayam sambil bilang "ayam-ayam...ker..ker..kerrrr !". Dan rasanya seneng banget deh karena dia bisa nyebar beras ke segala penjuru, terus ayam-ayam yang ada di depannya jadi ikut riuh saling berebutan. 

Sambil bercengkrama dan ngemong cucu, sayup-sayup Mamih Mertua bilang kalau tadi subuh Bu Lik dari Banjarnegara menelepon. Beliau mengabarkan bahwa Simbah dalam keadaan kritis. Sudah beberapa hari ini ga doyan makan. Hanya bergantung pada alat-alat kesehatan yang ada di ruang ICU. Simbah yang kuceritakan ini sebenarnya bukan simbah langsungnya Pak Suami. Melainkan Simbah adiknya Simbah dari pihak Bapaknya Pak Suami. Belibet ga? Jadi Beliau ini adalah ibu dari Buliknya Pak Suami yang masih ada hubungan kekerabatan dengan Bapak Mertua. Rumahnya kebetulan cuma ngarep mburi alias depan belakang ama rumah mertua. Pembatasnya hanya kebon. Tapi meskipun hanya dibatasi kebon, ukurannya lumayan luas loh. Isinya banyak ditanami buah-buahan. Ada kepel (buah langka yang sudah amat jarang ditemui), kelengkeng, rambutan, jambu biji, dan pohon lainnya yang lumayan berkanopi rindang. Malah waktu itu kami sempat ada wacana buat nebas rambutan yang sedang lebat-lebatnya. Buahnya ranum dan merah-merah banget. Sayang hal tersebut urung kami niatkan karena kadung ubrug begitu dengar kabar tentang Simbah. Yang semula kami akan balik ke Tangerang pada sore harinya mendadak langsung ubah jadwal. 





Meskipun Simbah terbilang sudah sepuh, tapi selama ini beliau kelihatan sehat walafiat. Setahun lagi (andai Simbah masih ada), Beliau sudah menginjak usia 80 tahun. Seenggaknya pada saat aku silaturahmi, Simbah selalu menyambutku selaku cucu ketemu gedenya ini dengan penuh kehangatan. Masih sering cerita ini itu. Ya, Simbahnya Pak Suami ini memang orangnya supel. Bahkan dengan simbahku langsung aja aku ga seakrab ini. Cuma memang beberapa tahun terakhir agak kolokan dikit dan katanya sudah susah jalan. Jadi seringnya baringan aja, meskipun kadang masih ngeyel pengen nengok rumah pokok yang ada di desa. Katanya kangen suasana kampung. Sebab sepeninggal anak bungsunya (bulek paling kecil), Simbah memilih tinggal dengan anak mbarep yang ada di Banjar. Jadi rumah pokoknya dibiarkan suwung tak berpenghuni. Lebaran saja baru bisa mampir walaupun cuma 1-2 hari. Semata-mata karena beliau termasuk pinisepuh desa. Tapi toh kenyataannya lain. Simbah berpulang pada saat kami mampir pulkam Februari lalu sesaat setelah rangkaian wisudanya adekku di Solo. Nggak nyangka juga pertemuan kami saat lebaran haji sebelumnya adalah pertemuan yang terakhir. Jadi pas ada telepon dari Bulek Banjar itu, Mamih diminta pangapuranya supaya jikalau Simbah ada salah segera dimaafkan. Dan jikalau diambil sewaktu-waktu, Beliau bisa mendapatkan keringanan dan ditempatkan di tempat terbaik di sisi-Nya. 

Tapi, sejak telepon dari Bulek Banjar pagi tadi memang belum ada kabar lagi, jadi ya kami pun belum bisa berbuat apa-apa selain melanjutkan aktivitas seperti biasanya. Awalnya, kami berencana untuk nengok bayi dulu di tempat sepupu yang baru lahiran. Sebentar aja sekalian absen. Habis itu ya agenda persiapan balik ke Tangerang karena belum packing-packing, astaga ! Cuma memang pas pulang dari tempat sepupu itu-nya yang kami ga langsung pulang. Tapi sempat nyate kambing dulu di daerah Pituruh. Nah, pas dari situ tuh perasaan udah mulai nggak enak. Apa karena kepikiran telepon tadi pagi dan takut slisiban andai kami udah jalan duluan dan ternyata Simbah tiba-tiba meninggal lalu kami harus putar arah atau karena ribet belum packing. Jadi, begitu sate baru saja dihidangkan di atas meja, benar saja, telepon masuk lagi dan Simbah dikabarkan udah nggak ada. Innalilahiwainnailaihirojiun. Semua kan kembali kepada-Nya. Tapi, memang ada untungnya juga sih tahu kabar ini duluan. Karena kalau sudah jalan arah Tangerang, takutnya malah nggak konsen, kan kita nggak tahu ya bakal ada kendala apa di lapangan. Maka dengan perasaan ga menentu sambil tetep calm down menghabiskan satenya, rencana pun diubah seketika itu juga. Balik ke Tangerangnya ditunda besok. Tapi aku dan anak bayi 2 biji ini langsung diboyong ke tempat bapak Ibuku dulu yang cuma beda kabupaten dari tempat mertua. Soalnya ga kebayang riweuhnya Pak Su dan Mamih serta Bapak Mertua yang pastinya bakal sibuk ubyang-ubyung ngurus jenazah. Mana anakku krengki banget lagi kan kalau ga ada Bapakknya. Jadi sementara kayak gitu dulu...ntar misal Bapakku mau layat ya ga pa pa. Pagian takziah, ntar kan ketemu Pak Su, Mamih dan juga Bapak Mertua. Yang penting aku dan anak-anak udah di rumah Prembun aja biar ga rempong karena Bapaknya bakal sibuk seharian di rumah duka.

Bersambung...

#Sepenggal cerita di awal-awal tahun kemarin yang masih masuk ke dalam rangkaian acara setelah menghadiri wisudaan adek di Solo dan ada kesempatan buat mampir tempat mertua.

28 komentar:

  1. Suasananya pas liat foto2nya.. Jadi kangen desa :).

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya vid, adem tentrem gemah ripah loh jinawilah pokoknya 😀

      Hapus
  2. Turut berdukacita ya kak Nita 😢

    Foto-fotonya adem banget, ngebayangin hidup di desa yang jauh dari hingar bingar kota kok enak banget ya 😂

    Aku bingung gelas belimbing itu apaan terus pas dipikir ulang, oh ternyata gelas yang ujungnya banyak garis-garisnya ya wkwkw baru tahu itu sebutannya gelas belimbing!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih lia, uda lama sebenernya, februari lalu mbah ninggalnya

      Iya desanya masih asri li, ijo di sana sini, belakang rumah pas kali seberangbjalan setapak terus ada sawah

      Iya gelas belimbing yang bagian alasnya itu kayak ada motif kembangnya mirip belimbing hihi

      Hapus
  3. Emang enak rasa teh kalau di masak di tunggu pake kayu, agak-agak sangit dan khas banget. Dan sayur gori itu favorit saya.

    Turut berduka juga semoga semua lancar.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas ada kesan sangit-sangit tapi itu yang bikin unik dan khasnya ya hehe

      Iya mas, gori pedes apa manis kayak gudeg nih? Kalau tempat kami seringnya dimasak santen pedes, kadang bisa nyampe dihangatkan berhari-hari nyampe seminggu kemudian mau puasa sayur gori wekekekek..

      Tetima kasih mas, udah lama sebenernya beliau meninggalnya, yaitu februari lalu mas

      Hapus
  4. Turut berdukacita juga mbak mbul, semoga simbahnya diterima amal ibadah nya dan mendapat tempat yang bagus di akhirat, amiiin.

    Kalo ngomongin soal teh memang paling enak kalo pakai ceret yang pantatnya sudah hitam karena sering dipakai di tungku. Apalagi kalo gulanya pakai gula batu makin enak rasanya.

    Eh, tapi teh juga beda beda rasanya lho. Biasanya aku pakai teh 2 tang yang rasanya enak, tapi waktu di Tegal, aku pernah minum teh yang selain rasanya enak juga wanginya terasa sampai keluar rumah. Aku lupa merk nya apa tapi harganya memang 2x dari teh 2 tang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin terima kasih mas, postingan latepost sebenernya ini, soalnya pas sowam kampuangnya uda awal tahun sebelum ada status psbb

      Bener mas, tehnya itu istilah di tegal yang terkenal akan pocinya ya nasgitel, #jadi inget pas lewat tegal atau slawi ya, itu ketemu patung poci gede banget di tengah kota

      Apa teh poci ya mas yang dimaksud itu

      Bener pake gula batu dituang dari poci tanah liatnya langsung, gerrr banget 😀

      Hapus
    2. Bukan teh cap poci, kalo cap poci aku juga sering minum kalo teh dua tang hanis. Lupa merk-nya, cuma ingat harganya. Kalo teh dua tang itu 5500 sepak,cap poci 4500, itu teh 10 ribu sepak nya.😂

      Iya, emang kalo minum teh pakai poci dari tanah liat ya, seger.😄

      Hapus
    3. Kok aku jafi penasaran ya ama merek tehnya
      Teh cap botol bukan yak, yang gambarnya botol ijo

      Hapus
  5. Innalillahi wa innailaihi rojiun, turut berduka cita.

    Kalau ngeteh saya mah suka yg tawar, ga suka kalau manis malah sering pusing. Kalau ke timur Jawa sering diledekin, "Dasar orang Sunda!" haha.

    Itu waluhnya yg gimana mba, yg ijo atau yg Halloween yg suka dibuat kolak itu?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih rip, semoga mbah sudah ditempatkan di pesarean di tempat terbaik di sisiNya

      Iya rip, sebenernya aku lagi menchallenge diri biar latihan jangan pake gula, ngurangin gula gitu, uda umur soalnya, kudu meminimalisir gula, hiks, tapi kok susah ya ahahhahaha

      Waluhnya yang gede-gede kayak yang dipakai haloween rip 😁

      Hapus
  6. Alamatnya dimana sih, kak ? .. cuuz ngga sabar aku pengin mborong rambutane kuwi, haaaha ...

    What's the kind of sayur Thewel 🤔 ?.
    Aku gek krungu saiki nama masakan kuwi.

    Ikut berduka cita atas meninggalnya simbah kak Mbul.
    Semoga beliau bahagia di Atas sana, ikut mendoakan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salah satu kecamatan di kabupaten purworejo mas, tapi di ujung meh kutoarjo 😁

      Thewel is...l.jeng jeng jeng....nangka muda mas him, tapi ala-ala dibikin gulai gitu deh ahha

      Amin, makasih mas 😊

      Hapus
  7. innalillahi wa innailaihi rojiun
    semoga khusnul khatimah mbak

    adiknya gatakut sama ayam
    kalo aku takut ditabruk
    kalau di desa rumah boleh sebelahan tapi kalau dibatasi kebon ya lumayan jauh

    rambutane aku yo ngiler mbak
    seger seger tur gede gede hmmm

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin maturnuwun mas ikrom

      Anakku malah nyedaki mas hahahja, padahal mboke wedi ditlabung ayam 😂😂

      Iya mas, itu yang berbuah di pohonnya sengaja takphoto yang belakang rumah, ning ga ketok, soale keciliken motone, ga kezoom, xixixi

      Hapus
  8. Turut berduka Cita,mbak
    Semoga almarhumah Husnul khatimah.

    Tempatnya asri banget dan rambutannya itu bikin ngiler.
    Kalau di sini burung yang konon katanya kalau berbunyi ngabarin ada yang meninggal disebutnya burung tutit tutit dan belum sekalipun saya lihat wujudnya katanya sih itu burung jenis burung pemalu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin makasih mas kal el, uda beberapa bulan lalu, februari beliau dipanggilNya

      Iya mas, memang suasananya aja adem, klo pagi tuh bikin betah ndekem saking huademmmnyo xixixi

      Nah kan ternyata di jakarta ada juga semacam burung yang punya mitos gini kan mas kal el, di tempat kami namanya sir kedasih, klo malem-malem denger burung ini ngalamat ga bisa tidur akutuh huhu

      Hapus
    2. Kayak kodok dong betah dekem..wkwkwk

      Iya di sini masih ada mitos burung seperti itu padahal sekarang udah eranya HP android bukan hp Java lagi. Saya baru tau ternyata namanya burungnya kedasih setelah searching dengan kata kunci burung sir kedasih

      Hapus
    3. Bukannya itu burung gagak? Disini juga kadang tengah malam ada suara burung keras sekali, padahal burungnya kecil. Soalnya aku pernah mau ke pasar jam 5 tuh lihat burung lagi bersuara.

      Hapus
    4. Kok kodok ndekem, kodok mah loncat mereun 😂😂

      Nah bener berarti mitos burung ini memang santer ya di kalangan masyarakat, tapi ga tau bener atau ganya, namanya juga mitos dan cerita ya mas

      Burungnya kayak burung tekukur ga sih?

      Hapus
    5. Bukan gagak mas, beda burung itu
      Gagak kan item
      Nah kedasih ini nggak, dia kalau bunyi tuh iramanya teratur gitu, agak merinding aku ama bunyinya xixixixi
      Mungkin saja itu burung kecil ya si kedasih
      Etapi aku ga tau deng, blom pernah liat dengan mata kepala sendiri klo burung itu

      Hapus
  9. Awalnya adem banget baca cerita Mba Nita. Teh panas, ayam dr motong sendiri, pisang goreng dari kebun. Ditambah sama gambar2nya bikin hati tentram liatnya.
    Tapi kemudian berita duka cita. Semua yg bernyawa akan kembali kepada Nya. Turut berduka cita ya Mba Nita, semoga simbah mendapat tempat terbaik di sisi Allah 💖💖

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi ngingetin alam pedesaan di buku cerita ala rumah nenek ya mba thess
      Aminnn makasih doanya mbak 😍

      Hapus
  10. Masha Allah Mbul, adem banget!
    Suasana gini sering saya dapatkan saat lebaran awal-awal nikah dulu, di mana kami ikutan keliling ke saudara mertua di desa, cuman saya dan paksu nggak pernah mau nginap sih, paksu tahu betapa krenkinya saya kalau nginap itu, kudu tidur di kamar, di atas kasur, sementara kan kalau lebara gitu rame-rame tidurnya ngumpul yak.

    Ini akibat ngendon di rumah aja nih waktu kecil, hahaha.

    Btw asyik banget tuh pemandangannya, dan labu ituuu ya ampunnn, bener banget!
    Di sini mihiill, dan pernah ada kejadian sedih, saya beli dong sepotong gitu saking pengennya, terus saya simpan dulu belum di olah karena nggak enak badan, setelah ingat saya mau olah eh udah busuk, huhuhu.

    Padahal mahal loh hiks

    Btw turut berduka cita atas siMbah nya ya Nit, semoga diberi tempat terindah di sisiNya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wakakak, iya kak rey emang desanya tuh adem banget suasananya

      Kalau tempat bukmerku tetep tidur di kamar masing2 kok kak rey, soalnya anak cuma 2, pak su n kakaknya, kebetulan kamar ngepas, jadi ga gegoleran bareng di luar hahah

      Iya labu di desa mah tinggal metik, mana gede2 lagi, klo di supermarket kecil mahal pula #perhitungan deh gw 😂😂

      Iya makasih kak rey atas doanya, aminnn 🙏

      Hapus
  11. Ikut berduka ya mba nit denger kabar si Mbah ... semoga almarhumah mendapat tempat terbaik di sisiNya :)

    Aku sering ngebayangin kalo ntr pensiun bisa ga yaaa tinggal di daerah desa gini :D. Adem, dingiiin, ga banyak polusi. Kampung suami di solo udah termasuk kota, jd ga mungkin nemuin ijo royo2 :D.

    Kampung papaku di Sorkam dan sibolga daerah laut, jadi puanaaaas hahahha. Makanya aku ga betah. Ttp LBH suka daerah yg LBH hijau dan sejuk gini :).

    Walo kadang pak suami suka godain, 'seriuuuus bakal tahan di desa? Ntr kamu mau traveling jauh LG hrs ke JKT dulu, blm skincare nyarinya jd susah, onkir LBH mahal " wkwkwkkwkwkw .. dia tauuuu aja nyari kelemahanku di mana :p.

    Aku ga prnh denger nama burung Sri kedasih. Malah jd penasaran td pgn guggling yg mana bentuknya :D.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mba fan kenapa dikau panggil aku mba ahhahaha #bcanda

      Amiin makasih mba fan,

      Iya kalau solo mnurutku juga uda kota kayak jogja hihi

      Eh sama, aku juga ga gitu betah klo di pesisir, aku mah betahnya di gunung yang huadem hihihi

      Hahhaha, iseng ya mba pak su dikau, mending punya di kita n di desa mba, yang di desa jadiin semacam villa hihi

      Coba aja mba cek mitosnya kedasih, kadang bikin ngeri juga, walau ga tau juga bener ga nya namanya juga mitos qeqekkkqek

      Hapus

Komenin dong...tanpa kehadiran kalian apalah arti aku menulis....
kalian penyemangat setiap bulir kalimat dalam blog ini :*
Namun jangan komentar SARU atau SARA ya, jika ada komentar dengan unsur tersebut, dengan berat hati akan aku HAPUS .

Oh ya, Dilarang juga mengambil gambar/foto atau menyadur tulisan tanpa mencantumkan sumber atau seijin pemiliknya. Apalagi untuk kepentingan komersial atau lomba. Thx ^____^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...