Kamis, 12 Desember 2019

Antara Hujan, Sore, dan Blok M



Apa yang dapat menyunggingkan senyumku di tengah-tengah bulan sentimentil yang berakhiran 'ber' ini ? Liburan dan kode jalan-jalan. Mungkin saja. Tapi kemana? Untuk mencapai tanggal merah keroyokan antara Natal dan Tahun baru (jangan lupa jatah cuti bersamanya), rasanya masih terlalu jauh. Tapi memang di tiap weekend, pinginku selalu kemana gitu. Biar nggak bosen-bosen amat dengan rutinitas monoton dari Senin-Sabtu. Makanya, kalau ada agenda jalan-jalan colongan di sela-sela kegiatan anak-anak di Hari Sabtu, aku ngerasa cukup deserved untuk mendapatkannya. Aku tuh nggak muluk-muluk amat kalau urusan nglayap. Paling dimampirin ke toko buku bekas aja rasanya udah seneng. 




Seperti di suatu Sabtu yang langitnya cukup kelabu itu. Nggak...., nggak sebenarnya nggak kelabu-kelabu amat kok. Karena cuma dari Serpong sampai awal Tol Lingkar Selatan aja yang kena hujan. Selebihnya, matahari bersinar terang-benderang. Liat ! Alam semesta seakan mendukungku untuk pergi ke Blok M #Dan Pak Suami langsung berhenti meledekku karena tadinya berusaha menggagalkan dengan seribu satu alasan setiap kali ku ajak jalan #nyanyi lagunya zaskia gotik dunk. Waktu aku bilang : "Ayok Pah, kita ke Blok M. Mau nglengkapin judul yang kemaren lupa belum kebeli di Metro." Terus dijawabnya cuma pakai kata-kata : "Sanah..." yang artinya (dalam tafsirannya)--kalau jawabannya sanah, berarti aku disuruh berangkat sendiri, sedangkan kalau jawabannya hayuk, berarti aku diantarkan. Terus aku ulang-ulang aja biar jawabannya jadi hayuk. Eh dianya mengiyakan tapi dengan bilang, : "Wani piro minta disupirin Papah. Mana sebentar lagi hujan. Coba kalok Cubul bisa nyetir sendiri, kan Papah nggak capek dan nanti bisa gantian". Bhahaha....Nggak taunya hujannya cuma sebentar...... kawus ora kawus ora...Beby Mbul dilawan #byuh #tabok. 

Ya, selain Metro Book Store yang ada di WTC, kemana lagi aku akan membeli buku kalau nggak di Blok M Square. Bedanya, kalau di Metro bisa dapat buku baru, sedangkan di Blok M dapat buku bekas. Ya, berhubung di Metronya baru saja kemarin waktu borong buku anak versi kertas tebal (board book), jadi sekarang giliran Blok M-nya. Ckkckck..

"Waduh, Mama jadi juga nih shopping-shopping-nya Cyiqa !" Pak Suami masih berusaha mencari bala-bala seraya melirik putri sulungku Asyiqa yang tengah asyik menyendok es krim strawberry. Tapi toh Asyiqa nggak mudeng. Dia kan mudengnya jalan-jalan, naik mobil, terus mampir indomaret sama beli eskrim. Ya asal bukan kinderjoy aja, haha... Sementara si adek masih meringkuk pulas di dalam carseat belakang. 

Aku pikir, ke sana pun aku mau nyari buku anak-anak juga. Jadi tenang saja, ini bukan kepentingan Mamah Bull semata. Yah, paling nggak aku mau cari yang murah di samping misi melengkapi buku Supernova masih jadi urutan pertama, huahahhaha.... 

Buku Supernova sebenarnya sudah pernah aku baca sejak masih SMP. Waktu itu kebetulan dapatnya dari hasil pinjam di rental bacaan. Namun karena rencananya mau aku tulis ulang di blog (reviewnya Cuy), dan ada beberapa bagian cerita yang something miss, jadi aku agendakan buat baca ulang. Beli sih lebih tepatnya, hahaha... Paling nggak nglengkapin yang sudah ada di rumah yaitu Supernova Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh, Supernova Petir, dan Supernova Gelombang. Sisanya aku pengen beli yang Partikel dan Intelegensia Embun Pagi. Juga yang terbaru di luar Supernova, yaitu Aroma Karsa. Memang aku ini pecinta buku-bukunya Dee. Coba sebut buku Dee mana yang ga aku baca. Pasti aku baca semua, meski kalau di series Supernova paling demen ama yang Petir. Karena di Petir, aku benar-benar jatuh cinta sama tokoh Elektra. Soalnya dia polos dan sangat comical. Juga yang paling aku ga bisa lupa adalah bagian percintaanya dengan Mpret alias Toni yang walau diceritainnya sedikit  tapi bagiku tuh sweet banget. Wah, panjang juga ya aku ngomongin Supernova Petir. Nanti deh kapan-kapan aku tulis reviewnya di post tersendiri. 





Nggak terasa, 1,5 jam berlalu. Mobil pun baru saja lepas dari tol lingkar selatan menuju area Fatmawati, namun masih terkendala macet yang cukup parah. Beberapa bajaj berbahan bakar BBG dan metromini jurusan Mayestik yang bodynya mengingatkanku akan kaleng rombeng tempat untuk meletakkan kerupuk, dikendarai dengan cukup ugal-ugalan. Belum lagi mobil yang saling klakson, sungguh memekakkan telinga karena lampu lalu lintas dari peralihan merah menuju hijau rasanya lama sekali. Tapi aku takjub. Soalnya belum pernah aku melewati Fatmawati pada siang hari. Rasanya apa ya ? Rame. Pedestriannya penuh dengan orang jalan kaki. Bahkan ada satu dua bule yang nampak terburu-buru dengan tas ransel di punggung, melewati bangunan kafe bergaya arsitektur Belanda yang nyempil diantara belasan warteg dan rumah makan Padang. Begitu pula dengan aneka pedagang kaki lima yang menghiasi jalan, mulai dari buah potong, mie ayam baso, ketoprak, gado-gado, siomay, cilok, gorengan, dsb.

Selain surga makanan, berderet pula toko atau supermarket bangunan yang membuatku banyak berkhayal tentang renovasi rumah. Para pedagang karpet dan furnitur bertebaran dimana-mana. Juga jalur kereta api monorail yang dibangga-banggakan itu. Di hadapan kami, kini menjulang stasiun MRT yang banyak menurunkan penumpang dengan tujuan wisata belanja area Blok M. Stasiunnya juga sudah dilengkapi lift, sungguh canggih. Owh, memang banyak sekali perubahan dalam kurun 3 tahun berakhir, selama aku tidak bersua dengan Jakarta.





Pada akhirnya kami masuk Blok M Square melalui area Melawai, tidak dari pintu depan terminal Blok M-nya yang memungkinkan kami menjumpai warung sop kaki kambing di jalan Barito. Sungguh tidak beruntung, seperti kunjungan kami beberapa pekan sebelumnya, yang mana kami sempat menikmati salah satu menu sop kaki kambing paling legendaris diantara yang lain. Namanya sop kaki kambing Pak Irwan. Sop kaki kambing yang selalu bikin terngiang-ngiang karena konon kuahnya bukan dari santan kelapa layaknya soto Betawi pada umumnya, melainkan dari susu segar. Juga tetelan jeroan yang melimpah, irisan tomat segar dan kentang rebus, topping bawang goreng, serta remahan emping yang tiada tara nikmatnya. Sayang kali ini kami datang di waktu yang tidak tepat. Pantaran jam 2 siang gini biasanya sudah habis-habisan. Apa mau dikata, akhirnya kami langsung saja masuk ke Blok M Square dengan tujuan lantai basement. 





Sebenarnya di depan sana sedang ada pameran sih. Bukan pameran biasa, melainkan pameran durian. Duriannya demplon-demplon menggugah selera buat dibeli. Terlebih bagi kami yang sama-sama pecinta durian, rasanya kok ini godaan banget. Tapi kalau masalah beli, terkadang Pak Suami rada idealis dibandingkan denganku yang tipe lidahnya cuma ada 2 rasa, yaitu enak dan enak banget. Sedangkan dia, uugh udah mirip komentar pedesnya Anton Ego dalam film animasi Rattatoile.

Gimana nggak, kalau dalam kamus perjualbelian durian ala Pak Suami, syaratnya harus bener-bener barang bagus. No kawe-kawe dan beneran enak. Bila perlu makan di tempat biar nggak kena tipu-tipu dibilangnya manis, eh sampai rumah hambar. Kan kadang ada ya, yang jualan keliatan oke tapi begitu dibawa pulang duriannya zonk. Ya yang belom mateng lah, ada uletnya lah, pahit lah, dll. Nah, jadilah biar 100% percaya, lebih baik makan di tempat aja. Kalau nggak cari yang monthong sekalian biar puas, muehehe #itu sih saran Pak Suami sebagai pemerhati durian bagus. Kalau aku sich, apa aja hajarrr ! Hahaha...

Tapi, apakah kami melipir sejenak ke lapak ini ? Mata sih nggak bisa lepas dari gelundungan demi gelundungan durian yang wangi-wangi banget ituh...

Tapi....
Tapi.........
Tapi.............
Tapi.................



Karena tujuan utama kami sebenarnya adalah belanja buku, ya sudah yang pertama dituju ya ke situ dulu. Sebab di sanalah, surga buku-buku bekas berada. Lapaknya memenuhi hampir seluruh lantai. Let's see apa yang mau kami cari ! #lau aja kalik Mbul. Papa, Cyiqa, dan Dedek mah jadi penggembira aja.

Tujuanku sudah pasti safari dari lapak satu ke lapak lainnya. Memang sudah menjadi kebiasaan kalau mampir ke Blok M, pasti yang dicari duluan adalah ini. Bagaimana pun buku memang menjadi daya tarik utamaku, sementara cewek-cewek lain biasanya lebih heboh bicara skincare atau make up, haha.... Yah, buku second pun tak apalah, yang penting ori. Dan aku selalu dapat banyak buruan malah kadang-kadang dibonusin buku bagus sehingga ga pernah bosan rasanya belanja di sini.

Kegiatan muter hunting buku tak terasa udah berjalan selama 2 jam. Omaygaaaad....kok lama juga ya. Nggak tahunya di luar sana udah peteng ndendet. Tapi karena kami belum makan siang, jadilah disempatkan dulu untuk makan di Gudeg Jogja Bu Hendro (walaupun menunya sudah ntek-ntekan alias habis-habisan)....yaudahlah yang ada saja kami order seperti nasi dengan sayur bunga pepaya, tongkol suir, perkedel, serta usus. Sementara Pak Suami nasi, semur jengkol, krecek, orek, dan oseng jantung ayam. Biasanya tuh kami masih kedapatan tumis daun pepaya, tapi kali ini sudah habis. 




Kelar mengisi perut, tak terasa pandangan mata tertuju ke area pelataran Blok M Square yang kini disulap menjadi  Pameran Durian. Benar-benar surga dunia yang lain, hahaha... Durian aneka macam ada di situ. Mulai dari durian lokal, sampai durian asal negara tetangga. Durian lokal seperti durian medan, durian petruk, durian cianjur, durian sidikalang, durian rancamaya, durian jonggol, dll. Sementara yang dari negara tetangga so pasti monthong yang daging buahnya tebal dan ranum itu. Ah, kepingin beli tapi 300 ribuan melayang agak sayang juga hahahha... Kalau di Rumah Buah bisa lebih mahal lagi. Tapi tetap saja mahal. Sebenarnya buah lainnya ada juga sih, seperti nangka dan alpukat. Tapi karena ratunya si durian, ya rasanya nggak pas aja beli selain durian. Sayang isi dompet sedang tidak bersahabat. Kalau iya, boleh lah kapan-kapan beli. Sementara belinya jus durennya Kedung Sari aja dulu kali ya, hihihi...#ngarep.



Hari pun beranjak sore. Langit berubah dari yang tadinya ke-oraye-oraye-an menjadi gelap kehitam-hitaman. Dan awan berarak dengan sangat cepat disertai bunyi petir yang menggelegar-gelegar. Tak berapa lama, hujan turun dengan derasnya, menggenangi jalanan yang becek cokelat tua, ditimpa puluhan roda kendaraan yang lalu-lalang. Kali ini arah pulangnya lewat Senayan. Dan mudah-mudahan nggak dibonusin macet. Karena kombinasi antara malam-macet-dan lapar adalah sesuatu yang paling menyebalkan di dunia, haha... Tapi untunglah beby-beby kami tertidur pulas di carseat masing-masing sehingga nggak menimbulkan sikap semakin senewen. Sisanya, kami larut dalam obrolan sambil menikmati jalanan malam Jakarta yang semakin basah (Gustyanita Pratiwi).

28 komentar:

  1. enaknya bisa beli bacaan dengan mudah, kalau di manokwari sini beli bacaan harus ke toko online dulu atau saat adaperjalanan ke jawa baru ke toko buku.
    btw blognya kereeeenn, pas mau buka bisa ada tulisan buka sitik joz. dan kekerenan blog ini sukses membuat saya ngakak di kantor pada jumat pagi ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener mas, terbilangnya masih serba enak karena toko offline pun masih menjamur dimana mana, wah ternyata mukim di manokwari ya, keren !!!

      Walah blog aku mah kacrut hahhhahah, ceritanya ngalor ngidul tk tentu arah, tapi makasih ya uda mampir ^_^

      Hapus
  2. Seru tuh Mbak jalan-jalan walau sekadar ke toko buku. Menurut saya lumayan banget buat bikin seger mata dan pikiran. Rasanya tuh kalo liat buku-buku tuh kayak minum air es pas lagi haus-hausnya.

    Durennya bikin ngiler, padahal bukan buah favorit. Udahlah lama juga euy nggak makan duren.

    Eh, saya penasaran review buku Supernova-nya. Soalnya saya juga ngefans tuh sama Mpret. Kocak abis dia tuh, hehe. Bikin-bikin-bikin-bikin, haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya don cuci mata liat buku en duren montong hahaa

      Menyusul, aku juga lumayan antusias ni mau baca supernova petir lagi dan lagi
      Iya tokoh mpret yg suka sama elektra cool bgt walau gayanya slengean

      Hapus
  3. Untuk buku bekas biasanya aku cari di pasar Senen kak, cuma aku jarang beli buku, sukanya beli komik saja seperti detektif Conan atau legenda naga.😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku klo di senen kurang tahu lokasinya dimana, soale pernah nyari area kwitangnkok dah pada ga ada ya

      Kalau detectif conan sih akunjuga sering beli

      Hapus
    2. Dekat terminal bus Senen kok, itu kan banyak kios di sebelah nya. Kalo mau lebih banyak ke dalam pasarnya. Harganya lebih murah dari Gramedia, komik Conan aja 15rb yang baru, kalo yang lama bisa 5rb atau 10rb dapat tiga.

      Tapi sekarang keadaan sudah ga kayak dulu awal 2000an, banyak kios tutup karena sepi.

      Hapus
    3. O gitu tah, kabarnya sebagian dari yang di senen emang udah pindah ke blok m bukannya yak

      Sama kebagi juga yang di Jakbook. Wah iya kah 15 ribu yang baru ori kan? Kalau yang di gramed tuh uda 19 atau 20 ribu ya conan sekarang, padahal jaman aku masih smp masih 7000an yang barunya, jaman uda semakin berubah wakakk

      Hapus
    4. Original lah, kalo yang bajakan malah cuma 5k. Dulu aku juga beli Conan atau Doraemon cuma 5k yang baru di pasar Senen. Di sekitar Jakarta seperti Tangerang atau Bekasi para taman bacaan kalo ga salah juga blanja disitu, lebih murah soalnya

      Hapus
    5. Conan koleksiku juga udah lumayan lengkap, kalau doraemon aku sukanya yang petualangan doang

      Iya kebanyakan rental bacaan pada belanjanya di situ, soale klo nyari yang series uda lengkap

      Hapus
  4. Sudah hampir 2 tahun saya nggak sempat mampir ke BlokM... Dulu pernah nyari majalah jadul Deny manusia ikan...Dapatnya disitu.😄😄

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kpn2 capcuz ke blok m sat banyak buku2 lawas yang penuh nostalgia, trus kadang banyak pameran juga

      Hapus
    2. Bukannya kang satria sukanya nyari buku anu kang..😂

      Hapus
    3. Waduh kang satria dibuka kartunya tuh hahahhaha

      Hapus
  5. Nita, aku baca ini kok berasa beda ya gaya bahasanya. Kayak baca cerpen, hehehe.

    Ah, jadi kangen buku bekas di Blok M Square, aku juga sering beli di situ. Kalau balik, pengen ke sana.

    Btw, aku kok ngerasa kamu identik dengan buku bekas dan kenangan jadul ya. Suka. Hehehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tadinya mauk latihan ala-ala blogger yang nulis naratif mb pit, e sampai paragraf tengah acak adut maning wkwkwk, emang susah kayaknya aku klo nulis dibikin gaya naratif, ujung ujunge nglawak maning huhuhu

      Wah mb pit berapa lama di jepangnya, hayu kalo pas pulang ke indo mampir blok m egein, nostalgian jaman masih gawe di sana xixixixi

      Ho oh mb, aku pingin bikin perpus atau rental bacaan yang isine buku jadul atau komik komik yang aku suka xixiixi #kapan ya bisa terwujud, aish....renov aja masih ada episode jilid 2 hahaha

      Hapus
  6. Kalau saya soal ngisi perut lebih ke makan nasi itu. Soalnya gak suka durian he he he. Omong omong nasi sayur bunga pepaya pasi enak itu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Durennya jugabga jadi beli, mahal hahaha

      Iya sayur bunga payanya enak, ga pahit seperti pas bikin sendiri

      Hapus
  7. mamambuuuull... itu dapet bukunya dari Blok M semua? wih lengkap ugha ya. aku wes suwe ndak pernah beli buku. (untukku sendiri ). belinya buat bocah.

    kalau bukunya tebal2 gitu, waktu bacanya kapan mah? wih keren keren, masih bisa baca buku. sesungguhnya aku kangen baca buku. dulu sempet koleksi komik Conan. trs udah lama nggak beli beli lagi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang fiksi dewasanya banyakan blok m mb na, cuma intelegensia embun pagi dapet di metro book store

      Klo yang anak anak, campur antara metrobook store ama lapak di blok m, yang dapat di blok m murah2, kena 10 ribuan yang board book, kalau yang fabel bahasa inggris 25 k, kalau yang enaiklopedi 30 k...mayan...
      Tau sendiri kan yang barunya bisa cepek.

      Waktu bacanya dicicil sakmoode mb na ahahhaa, ini karena tetiba aku lagi mood n obsesi ngreview supernova, makane malem sebelum tidur pas bocah dah pada bubuk baru deh dikit2 baca...

      Conan aku juga koleksi hihi, tapi yang edisi paling barune blom beli, beli, keburu gemes ma anggota jubah hitam...sekaline penasaran kirain bakal lanjut myritain jubah hitam e ujung2ne cuma kasus kriminal biasa yang dipecahkan kogoro mori hahahah

      Hapus
  8. PS : mbak acyiqa sama adek tenggara suka makan duren juga nggak mbak ?
    baca ini aku jadi ngiler pen makan duren juga :P

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak doyan, cyiqa kicep...hahhaha
      Buat emak bapaknya aja tu duren yekan

      Hapus
  9. Mantap bisa jalan jalan terus.
    Itu Supernova, isinya cakep kagak ya. Dulu ingin beli tapi selalu urung terbeli.
    Kalau saya suka nya jalan jalan ke mal gading.
    Wah durennya menggugah selera. Kaalu duren mah emang enaknya makan ditempat, biar tidak kena tipu tipu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ga jalan terus kok mas hahahha, jalan itu klo pas ada kesempatan dalam kesempitan wkwkwk

      Supernova menurutku amat sangat cakep, penggemar buku2 dee sih saya, tapi dari kesemua seriesnya saya paling suka tokoh yang ada di supernova petir, soalnya lucu, polos ga seserius tokoh supernova yang laen

      Iya, klo makan di rumah biasanya ada aja yang kurang hahahah

      Hapus
  10. September, oktober, november, desember
    Tampung ember

    :)))))

    Ewwwh, aku nggak suka durian mbakbul Xd

    Cium baunya aja udah langsung kabur kwkwkwkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tampung ember itu bukan karena atap pada bocor kan hahahhahaha

      Hapus

Komenin dong...tanpa kehadiran kalian apalah arti aku menulis....
kalian penyemangat setiap bulir kalimat dalam blog ini :*
Namun jangan komentar SARU atau SARA ya, jika ada komentar dengan unsur tersebut, dengan berat hati akan aku HAPUS .

Oh ya, Dilarang juga mengambil gambar/foto atau menyadur tulisan tanpa mencantumkan sumber atau seijin pemiliknya. Apalagi untuk kepentingan komersial atau lomba. Thx ^____^