Selasa, 28 Januari 2020

Review Buku : Messiah (Boris Starling)


Sinopsis Messiah (Boris Starling)

Detektif Penyelia kenamaan asal Scotland Yard, Red Metcalfe harus berhadapan dengan dua pembunuhan sekaligus yang terjadi dalam satu malam. Satu orang digantung, satu orang lagi dipukuli hingga mati. Satu-satunya kesamaan dalam kasus ini adalah tidak adanya lidah dan keberadaan sendok perak dalam mulut korban. Polanya sama tapi tidak ada jejak si pelaku. Kasus ini cukup rumit, bahkan mengancam reputasi Red sebagai polisi.

Belum juga menemukan jejak si pelaku, pembunuhan ketiga tiba-tiba diumumkan. Kali ini korbannya dipenggal dengan cara biadab. Lagi-lagi tanpa lidah. Hanya ada sendok perak di dalam mulut yang mengucurkan darah. Merasa dipecundangi oleh si pelaku, Red pun segera membentuk tim yang beranggotakan polisi-polisi terbaik di jajarannya. Ia tunjuk agen muda Jez Clifton, pacar Jez--Kate Beauchamp, dan satu lagi polisi tua yang sebenarnya menyebalkan tapi dinilai cukup mumpuni yaitu Duncan Warren. 

Meski demikian, pelaku masih terus 'bermain-main' dengan Red dkk, bahkan semakin menggila dengan menumbangkan korban-korban baru yang ternyata memiliki kesamaan pola dengan korban sebelumnya. "Pembunuh berantai ini lantas dijuluki si 'Lidah Perak'!" Siapa sebenarnya orang 'gila ini ?  Red pun mengerahkan segala kemampuannya sampai titik darah penghabisan.



Judul Buku : Messiah
Nama Pengarang : Borris Starling
Penerbit : Matahari (imprint PT Zaytuna Ufuk Abadi)
Cetakan 1 : Maret 2016
Desain Sampul : Giet
Pewajah Isi : Kreatif Matahari
Korektor Teks : Glaresia
Jumlah Halaman : 544 halaman
ISBN : 978-602-372-078-1

Kesan Terhadap Buku

Saat memutuskan untuk meresensi buku ini, sebenarnya saya sudah menamatkannya sebanyak 4 kali. Pertama saat saya masih kuliah dan meminjamnya dari sebuah rental bacaan, kedua saat menemukan cetakan barunya di sebuah toko buku setelah sekian lama sukar ditemui, baik di etalase toko buku konvensional maupun toko buku bekas, ketiga saat sebelum kehamilan anak pertama (yang saya jadikan alibi sebagai upaya penuntasan dahaga akan bacaan thriller sebelum dilarang ini itu oleh orang tua, haha), dan yang keempat tentu saja baru kemarin. 

Saya rasakan betul proses membacanya yang boleh dibilang cukup 'geblek'. Geblek sadisnya maksud saya. Ya, unsur sadisnya memang luar biasa menghantuimu tanpa ampun. Sungguh kesadisan yang ada pada tahap : saya sukses membayangkannya seperti kejadian di depan mata. Meskipun anehnya saya justru menikmati lembar demi lembar halamannya tanpa banyak cing cong. Yang ada dalam kepala saya hanya : "Mari kita tuntaskan dengan segera buku ini karena sensasi thrillingnya justru didapat pada saat masih dalam keadaan hangat-hangat tahi ayam. 

Saya sendiri jarang menjeda buku yang ketika menemukannya untuk pertama kali langsung jatuh cinta pada bagian blurbnya. Apalagi ketika sudah tenggelam dalam alur cerita. Yang dalam hal ini saya merasa cukup 'resah' andai meletakkan buku ini sebentar saja karena saya takut melewatkan bagian pentingnya. Makanya saya kayak lari dikejar anjing ketika merampungkannya dalam hitungan hari. 

Starling sendiri membagi cerita Messiah dalam beberapa bab. Nah, bab-bab inilah yang diracik sedemikian rupa sehingga mampu tercipta utas benang merah yang logis dari penggambaran suatu kejahatan yang rapi dari karakter antagonisnya. Perjalanan menuju suspect utamanya ini lah yang membuat saya seolah tak bisa berhenti membaca. Saya kira plotnya ditulis dengan sangat lincah, menempatkan beberapa alur maju mundur yang menurut saya cukup alus tanpa perlu kehilangan esensi ceritanya secara utuh. Sebab setiap bagian itu memang berhubungan satu sama lain. Di sini lah saya seperti dibawa pada proses tebak-tebakan yang menyenangkan. Bahkan saya merasa Starling benar-benar mengonsep karakter antagonisnya dengan cukup cerdas sehingga bisa saya katakan bahwa kejahatannya ini disusun dengan cara main cantik.

Kelebihan dan Kekurangan Buku

Messiah adalah buku pembunuhan terbaik yang pernah saya baca. Menurut hemat saya, buku ini langsung memberikan sengatan yang luar biasa mulai dari halaman pertama. Memang istilah kesan pertama begitu menggoda ada benarnya. Adapun selanjutnya terserah Anda ya itu lain perkara. Tapi di sini saya tidak banyak komplain sama sekali. Sebab, kabar baiknya adalah saya dibuat tegang secara nonstop--seolah tak diberikan kesempatan untuk mengelap keringat sedikitpun karena hampir seluruh isi cerita dipenuhi dengan darah.

Paling yang saya agak kurang enjoy melihatnya adalah bagian covernya. Maksud saya, cover untuk cetakan yang 2016 ini. Sebab pada saat membaca untuk yang pertama kalinya, saya merasa cover yang cetakan Januari 2007 dari penerbit Ufuk Press lebih terasa kental nuansa misterinya ketimbang yang ini. Yang dulu itu bukan gambar siluet warna putih dengan senjata di tangan. Tapi hanya gambar tatapan mata yang tajam berikut font judul Messiahnya yang terasa lebih nyeni sekaligus proporsional untuk ukuran genre thriller misteri.

Pelajaran yang Dapat Diambil dari Buku ini

Mengambil karakter utama protagonisnya yaitu Red Metcalfe, saya seperti diberikan contoh nyata untuk tetap mengedepankan logika ketimbang perasaan ketika dihimpit oleh sesuatu yang bikin kita jadi serba salah. Utamanya (amit-amit getok meja tapi ya) terkait kejahatan yang dilakukan oleh keluarga sendiri. Red yang seorang kakak, namun harus tetap mengedepankan akal sehatnya saat tahu adiknya bersinggungan dengan hukum, apakah akan terus menyembunyikan kejahatan adiknya agar tetap dianggap sebagai anggota keluarga atau membuang sisi melankolisnya dengan cara membiarkannya diproses secara hukum, walaupun tentu saja dengan bonus dibenci seumur hidup. Hal tersebut benar-benar memberikan secercah wawasan kepada saya selaku pembaca awam supaya memahami kondisi seperti ini tuh problem solvingnya seperti apa.

Masih dengan karakter Red--yang sedikit banyak dipengaruhi oleh masa lalu. Saya jadi belajar bahwa sebagai manusia yang tak luput dari kesalahan, jangan melihat orang lain dulu, tapi diri sendiri lah yang harus ada kesadaran untuk introspeksi diri. Jangan sampai mendadak jadi pahlawan kesiangan tanpa berkaca diri sendiri sudah sebaik apa. Kasarannya begini, si Red sendiri bisa dengan tega menjebloskan adiknya ke dalam penjara untuk seumur hidupnya, namun ketika sebenarnya ia pun memiliki dosa di masa lalu, ya banyak-banyaklah instrospeksi diri. Sebab, alih-alih berpikir tidak pernah menyakiti orang lain, nyatanya justru yang dialami Red di masa kini adalah buah dari perbuatannya di masa lalu. Hukum tabur tuai kalau kata orang sekarang istilahnya. 

Jadi bersikap baiklah terhadap siapapun, karena kalau tidak ya siap-siap saja dengan karma buruk yang bisa mengintai sewaktu-waktu. Bahkan amit-amitnya (lagi), bisa jadi dengan cara yang jauh lebih sadis melebihi monster seperti yang dialami oleh Red. 

Rating (4 dari 5 Bintang)

"Saya sangat merekomendasikan buku ini karena Starling cukup cerdas menuliskan alur cerita yang demikian lincah walaupun gayanya maju mundur namun tidak kehilangan esensi ketegangannya yang dijor habis-habisan. Selain itu karakteristik penokohannya juga sangat kompleks apalagi ditambah dengan konflik batin yang sangat rumit menjadikan saya banyak belajar tentang trik psikologis dari kasus ini."

Akhir kata, saya dengan suka cita berani memberikan rating 4 dari 5 bintang untuk Messiah. Saya merasa Boris Starling menyuguhkan pengalaman membaca thriller investigatif yang sangat menyenangkan sekaligus mendebarkan. Bahkan The Times sendiri memberikan ulasan singkatnya lewat sampul belakang buku yang berbunyi : "Tidak untuk dibaca di malam hari sendirian." Diresensi oleh Gustyanita Pratiwi.



22 komentar:

  1. Waduuuh bukunya soal pembunuhan, hihihi~ saya nggak berani baca buku-buku serial pembunuhan atau horor, suka jadi kepikiran soalnya :)))) tapi baca review-nya cukup tau alur ceritanya ~

    By the way, mba Nita suka baca buku genre apa?
    Novel-novel saja atau buku lainnya juga suka? :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebenarnya untuk genre thriller saya lebih suka film mba...

      Tapi khusus untuk buku Messiah karya Boris Starling ini udah lebih dulu saya baca sebelum saya jatuh hati dengan film genre thriller.

      Saya bilang kayaknya ini buku thriller terbaik yang pernah saya baca.
      Soalnya, ngerinya itu sampai kebayang kayak saya lagi nonton film, dan btw, katanya sih buku ini juga sudah dibuatkan filmnya juga, tapi saya belum nonton sih, dan kayaknya bukunya ga pernah bisa tergantikan efek psikologisnya sejak pertama kali saya membaca

      Kalau buku memang saya prefer ke fiksi Mba..

      Buku nonfiksi saya ngerasa berat aja dan kutaksanggup merampungkannya apalagi kalau yang halamannya tebal, kadang saya uda rempong duluan ama kehidupan, jadi pinginnya tenggelam aja dalam keseruan buku-buku fiksi.
      Klo fiksi beratpun masih okay saya lahap, tapi kalau nonfiksi udah pasti saya sering angkat tangan hahaha

      Selain fiksi saya juga sebenarnya penggemar komik jepang dan buku ilustrasi Eropa untuk anak-anak yang sarat akan gambar ^______^

      Hapus
  2. Wah reviewnya cukup menarik. Film-film bertemakan detektif atau kepolisian yang menangani suatu kasus pembunuhan biasanya banyak diadaptasi dari buku best seller.

    Misalnya buku karya Stephen King yang sudah banyak dibuatkan filmnya tahun lalu ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sangat menarik memang buku ini. Sebenarnya saya baca Messiah duluan sebelum saya hobi nonton film genre thriller atau yang berhubungan dengan serial killer, psikopat, dan cerita cerita criminal investigation lainnya.

      Saya bahkan selalu rajin ngeliat updatean film thriller khususnya dari Korsel dan barat.

      Era 2017 ke atas makin banyak aja genre thriller dan itu serasa tontonan menyenangkan buat saya.

      O iya yang Stephen King sejauh yg saya tau yang udah difilmkan itu In the Tall Grass, Pet Sematary, It, cat's eye, gerald's game, dream cachter, doctor sleep, christine, carrie, 1922, children of the corn dan masih banyak lagi yang range tahun 1980 an dan 90an

      Hapus
  3. menceritakan masalah dajjal ya ini..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukan kok, di artikel kan sudah saya jelaskan
      Ceritanya tentang 'serial killer', wujudnya ya manusia biasa, sama kayak kita-kita, bedanya doi psikopat

      Hapus
  4. Ampuuunnn mak bacaanmu, ngeri bangett.
    seumur-umur baca novel belum pernah daku baca-baca novel pembunuhan kek gini. gakuaaatt bacanya.. haha..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang ini seru say, bikin ga bisa berhenti sampai halaman terakhir

      Hapus
  5. Aku kalau film suka banget sama Thrill tapi kalau buku kurang suka, tahu gak kalau aku ketemu uku thrill atau detektive2 gitu? aku akan intip endingnya :D

    Jadinya emang ga seru.

    Tapi, aku suka dengan value yang bisa ditarik di sini. Yang salah tetap dibilang salah meski ada hubungan darah, ini sulit lho. Aku seoarang melankonlis juga, jadi aku tahu gimana rasanya. :D Been there before meski addekku bukan yang lakukan kesalahan berat (naudzubillah).

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kadang-kadang aku juga gemez-gemez gregetan pingin ngintip endingnya kepiye, tapi coba taktahan-tahan nyampe menuju detik-detik halaman akhir wkwkkk

      Yup, bener-bener konflik batin tokoh-tokohnya ini kayak ga habis-habis, karena melibatkan hubungan kakak adik yang retak, di samping si Rednya ini juga dituntut cepat buat segera meringkus si lidah peraknya, walaupun teka-tekinya lumayan bikin syock karena berhubungan dengan seseorang yang ga diduga-duga

      Hapus
  6. Wahhh seru banget nih ceritanya, jadi tidak hanya membaca saja kita pun harus memahami setiap cerita cerita yang dibaca. Dan menariknya kita seakan terjun juga kedalam cerita tersebut, jadi seakan membayangi hal itu terjadi di depan mata kita... Kebayang banget sih hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar, pokoknya ngerasa bagian tebak tebakan pelakunya seru banget

      Hapus
  7. Aku mbatin : Lha cetakan pertama baru 2016, tapi kok Mbak Nita di paragraf-paragraf awal sempet bilang udah pernah baca bukunya pas kuliah? Oalah, ternyata beda penerbit XD

    Tapi asyiknya baca novel emang begitu sih, mbak. Kudu-harus-wajib cepat selesai. Misal kejeda lama, (kalau aku nih, ya) jadi lupa sama alur cerita sebelumnya. Pun sensasinya kadang jadi beda gitu. Feel ceritanya udah ilang. Hehehe.

    Mencium aroma-aroma gaya menulis barukah saya? ("n_n)V

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gaya menulis kheseus resensi buku en film kisanak wkwkwk

      Sik liyone teteup mbanyol seperti biasa dan pake kata ganti orang pertama aku hahhahah

      Iya, bahkan buku asli bahasa inggrise udah terbit sejak 1999, pas kuliah aku mocone sik terbitan 2007, takgoleki bekase sik vover 2007 dah jarang beredar, kecuali tumbas di e commerce kayake masih akeh
      Tapi terlanjur n3mu di metrobookstore, langsung beli walaupun uda cetak ulang dari penerbit yang berbeda

      Hapus
  8. Jadi penasaran juga sama cerita si Red bagaimana akhir ceritanya saat dia menghadapi adiknya yang tersangkut masalah hukum yang dia selidiki setelah baca review disini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebenernya cerita tentang adiknya ini cuma intermezo masalalu, kejadian yang dialami Red pada saat sekarang berkaitan dengan lidah perak barulah kasus yang lebih barunya lagi

      Hapus
  9. Resensi buku yang tajam & detail. Saya ngerti ya hanya Detektif Conan hehe.. Menarik pesan terakhir, tidak untuk dibaca malam hari sendirian, karena bisa bikin halu, insomnia, dan bibir pecah-pecah hehe..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha bisa saja pak,
      Saya juga ada koleksi conan sih

      Hapus
  10. Saya belum baca bukunya dan malah belum denger nama penulisnya. Tetapi patut dicoba membaca buku ini karena genre thriller yang pasti bikin pembaca penasaran siapa pembunuhnya dan bagaimana proses membunuhnya. Oh ya jangan lupa motifnya apaan.

    Setahu saya dalam genre ini dibutuhkan twist yang nampol supaya pembaca merasa takjub dan kaget mengikuti kisahnya. Twist novel ini apaan ya? Hahahaha. Jangan dikasih tau Mbak nanti spoiler...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya rekomendasikan banget nih din, nanti kalau dirimu baca, langsung bikin resensinya, xixixi

      Iya, yang ini beneran twist banget...
      Untuk ukuran buku terbitan lama, palingawal tahun 1999, ni novel berasa bisa dibayangkan layaknya film thriler

      Hapus
  11. Genre favorit nih. Paling suka thriller entah itu novel, film, atau drama series. Seru aja dan bikin penasaran. Nanti coba dicari deh. Semoga bisa ketemu hehe

    BalasHapus

Komenin dong...tanpa kehadiran kalian apalah arti aku menulis....
kalian penyemangat setiap bulir kalimat dalam blog ini :*
Namun jangan komentar SARU atau SARA ya, jika ada komentar dengan unsur tersebut, dengan berat hati akan aku HAPUS .

Oh ya, Dilarang juga mengambil gambar/foto atau menyadur tulisan tanpa mencantumkan sumber atau seijin pemiliknya. Apalagi untuk kepentingan komersial atau lomba. Thx ^____^