Rabu, 06 Mei 2020

The Lunchbox 2013 : Kisah-Kisah dalam Setumpuk Rantang Makan Siang yang Tertukar


Oleh : Gustyanita Pratiwi

"Bukan anak kembar dalam sinetron saja yang bisa tertukar, tapi rantang makan siang juga bisa tertukar, hehe..."

Seperti sebuah kebetulan yang ga diduga-duga, baru saja kemarin aku menuntaskan The Lunchbox (2013) untuk yang kesekian kalinya, eh ga tahunya begitu menengok ke laman berita online malah mendapati sebuah berita duka....sang pemeran utama dalam film ini dinyatakan meninggal dunia untuk selama-lamanya (baca : Irrfan Khan). Jadi agak lumayan syock juga aku bacanya. Seperti sebuah kebetulan yang ga diduga-duga #feeling deeply condolences :'(   #GustyanitaPratiwi_sinopsis_&_review_film

Kisah dari setumpuk rantang makan siang yang tertukar, The Lunchbox (2013), source : imdb

Oh ya, di paragraf sebelumnya aku juga bilang bahwa ini bukan pertama kalinya aku menonton The Lunchbox (2013). Ya, karena aku suka kebiasaan untuk me-repeat satu film (lagi dan lagi) manakala secara ga sengaja nemu film yang berbobot. Jarang aku nemu film India yang seberbobot ini (masalah selera sih ya). Seringnya aku nemu yang durasinya agak lama (kebanyakan lebih dari 2 jam) dan jalan ceritanya pun kadang cukup unbelievable, diselingi dengan acara nyanyi-nyanyi atau nari-narinya segala. Nah yang ini beda. Kelasnya uda kelas internasional. Saking ga kaleng-kalengnya ini film, sampai-sampai aku sering menunda-nunda untuk mereviewnya, karena biasalah...aku tuh suka takut jelek kalau mereview film bagus, haha... Aku kadang minder kalau reviewku terasa kurang nyastra atau beropini layaknya pemerhati #halah, padahal mah nulis ya nulis aja ya, hihi. Perkara reviewku terkesan kacangan atau ga sebermutu reviewer lain ya ga pa pa juga kan ya sebenernya. Kan masing-masing tulisan punya ciri khas tersendiri. Nah, ciri khas dari reviewku ini ya memang pakenya bahasa orang awam #penting #dibahas.

Bercerita tentang 2 insan yang belum pernah bertatap muka tapi saling jatuh cinta. Keduanya terjebak dalam hubungan yang rumit gara-gara setumpuk rantang makan siang yang tertukar. Adalah Ila (Nimrat Kaur), seorang ibu rumah tangga biasa yang saban hari harus berkutat dengan pekerjaan domestik yang tak ada habisnya. Mulai dari mengurus anak, pekerjaan rumah tangga lainnya, serta membuatkan bekal sang suami saat pergi ke kantor. Siang hari, ia sibuk memasak agar dapat menyajikan masakannya hangat-hangat sehingga ia harus menggunakan jasa seorang dabbawala atau pengantar makanan/catering yang ada India. Upaya Ila memasakkan macam-macam ini tak lain dan tak bukan adalah supaya membakar kembali gairah cinta keduanya yang akhir-akhir ini terasa hambar. Bahkan tak segan ia meminta resep-resep andalan dari bibi tetangga yang tinggal di lantai atas flatnya yang biasa ia sebut sebagai Auntie. Lucunya adalah komunikasi yang terjalin antara Ila-Auntie ini terbilang unik, karena jika Ila meminta saran kepada Auntie, maka Auntie dengan segera mengirimkannya beragam bumbu rahasia melalui keranjang kecil yang ia kerekkan ke bawah dengan menggunakan tali.

Sukses mempraktikkan resep Auntie, Ila pun bersuka cita saat mendapati rantang yang diantarkan Dabbawalanya ke rumah habis tak bersisa. Sayangnya, saat ia menanyai sang suami tentang rasa masakan hari ini, yang ada malahan sesuatu yang aneh. Rajeev sangat menyukai potongan brokolinya. Padahal Ila sama sekali tidak memasukkan brokoli ke dalam masakannya. Yang aku lihat sih kayak semacam sayur kacang panjang, kari or samting laik det gitu deh, cmiiw... Lantas siapa yang memakannya ya ? 

Adalah Saajan Fernandes (Irrfan Khan), seorang akuntan tua yang sedang menanti masa-masa pensiunnya. Sebentar lagi posisinya akan digantikan oleh  seorang karyawan baru yang sudah diperkenalkan kepadanya. Saajan, hidup menua seorang diri di sebuah sudut kecil di kota Mumbai dengan rumahnya yang bobrok dan bernuansa suram. Sudah lama ia menduda setelah ditinggal mati oleh istrinya. Meskipun begitu, ia masih rajin mendatangi makam istrinya,  hanya untuk sekedar mengenang masa lalu. Dari segi penampilan, Saajan terkesan kurang ramah dengan model potongan rambut lelaki tua dan dahi yang selalu berkerut, cenderung antisosial, bahkan galak terhadap tetangga kecilnya manakala mereka sering kedapatan main di depan rumahnya. 

Suatu kali, Saajan mendapati rasa masakan pada bekal makan siangnya terasa jauh lebih enak dari biasanya. Ia sangat terkesan sampai-sampai menghabiskannya tanpa sisa. Ia pun mengecek ke bagian catering sekalian menginformasikan bahwa sebentar lagi ia akan pensiun dan mungkin sudah tidak membutuhkan lagi jasa cateringnya. Namun ia akui bahwa bekal makan siangnya akhir-akhir ini terasa sangat lezat. Seolah ada 'sihirnya', begitu kata Shaikh (Nawazuddin Shidiqqui), karyawan baru--calon penggantinya yang sering nebeng makan di mejanya sambil modus biar bisa icip-icip dikit. Saajan pun penasaran dengan siapa yang memasak. Akhirnya ia menulis surat kepada siapapun yang sudah memasakannya itu, dimana suratnya itu ia masukkan ke dalam rantang. Hari-hari selanjutnya adalah Sajaan dan Ila saling berkirim surat, berbalas-balasan sambil menceritakan sepenggal kisah, apapun yang membuat rasa sepi dalam hati masing-masing perlahan sirna.

Menonton The Lunchbox (2013) seakan menerbitkan perspektif baru dalam penyampaian sebuah cerita. Yang menarik bukan melulu tentang film yang sarat akan dialog menye-menyenya, tapi juga yang temponya lambat pun bisa jadi jauh menarik manakala digarap dengan luwes. Sebenarnya, film ini lebih banyak bercerita lewat mimik muka serta ekspresi para pemainnya. Dialognya minim, banyak tergantikan oleh sobekan-sobekan kertas kecil yang ternyata lebih menuturkan segalanya. Tentang keseharian 2 pemain utamanya, problematika hidup, kehidupan tetangga yang pun sama saja menyimpan banyak kegetiran--walau nampaknya masih bisa intens ber-haha hihi--lewat atap dapur, kesepian dan fase-fase hidup paling berat, suicide, pengkhianatan yang terendus samar-samar, harapan-harapan di kota lain, moda transportasi kereta dengan sederet type penumpangnya, sampai hal-hal sepele yang ditemui sekelebat saja namun tetap saja menarik untuk diceritakan. 

Sebuah kisah klise sebenarnya. Banyak hal yang disampaikan melalui metafora-metafora. Tapi entah kenapa, Ritesh Batra, sang sutradara berhasil meramunya menjadi sajian yang menggelitik. Sinematografinya pun aduhai keren. Cenderung amat sangat nyeni, sebab dari beberapa angle yang diambil, visual yang tertangkap kamera terlihat begitu detail. Ada sisi lain dari Kota Mumbai yang kaya akan kultur, budaya, serta keseharian dari warga lokalnya yang digarap dengan apik. Ada pula gambaran tentang profesi dabbawala yang cukup menarik perhatian, serta moment-moment tertentu yang membuat penonton terlarut dalam emosi (bukan emosi marah ya, melainkan emosi penuh keresahan karena banyaknya sisi gelap yang dialami oleh tokoh-tokohnya). Beberapa part yang lain juga sukses menyulut gelak tawa (seperti halnya part si Shaikh dan juga Auntie tetangga). Walaupun, keduanya sama-sama punya sisi getir dalam hidupnya masing-masing, tak jauh beda dengan 2 tokoh utamanya yaitu Ila dan Saajan, meski dengan porsi yang berbeda tentu saja, tapi tetap....sisi humournya itu ada). Ga drama yang kaku-kaku banget lah istilahnya.

Akhir kata, film ini memang berkelas. Film yang membawa hawa baru dalam dunia Bollywood yang biasanya cuma dihiasi dengan banyaknya tarian dan juga nyanyian (namun kali ini tidak). Film ini sukses membuat banyak orang merenung dan mengangguk setuju bahwa ada sebagian dari mereka yang harus menjalani hidup dengan fase terberatnya masing-masing. Tidak untuk disambut dengan bersedih-sedih ria sepanjang hayat, tapi juga disikapi dengan upaya nrimo berbarengan dengan mengusahakan apa saja yang diharapkan mampu membalikkan keadaan. Who knows ! #GustyanitaPratiwi_sinopsis_&_review_film


27 komentar:

  1. Nitaaa, pas tahu Irfan Khan meninggal, aku bingung, itu siapa? Apanya Shah Ruh Khan? Karena di Twitter mayan banyak yang berbela sungkawa.

    Akhirnya nanya Gugel dan ketemu film ini. Aku baru2 ini nonton.

    Bagus banget filmnya. Ga ada tari2an dan nyanyi2 kayak biasanya karena Irfan Khan memang cenderung nggak bisa nari.

    Dari cerita2 di kertas malah menggambarkan kehidupan yang lebih dalam ya. Padahal syutingane cuma sekitar itu aja tapi menarik. Sayangnya Ila dan Fernandes belum ketemu ya. Mereka jadi ke Bhutan nggak ya? Hehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbaaa piiit aaaak, tau ga mba pit aku dah lama nonton ni film dong, e ndilalah kemaren kan aku ga sengaja pengen nonton lagi tuh, ga taunya beberapa hari kemudian di berita Irrfan khan yang jadi pak fernandes meninggal, wow aku langsung ngebatin, eh la da lah kok kebetulan amat yak, semacam firasat opo gimana ini hehe

      Iyaaa beliau emang aktingnya naturaaaal banget
      Kuakui sejak aku tahu ada film india sekeren ini, aku langsung ga begitu antipati sama film2 india karena biasanya banyakan nemu yang lama dan banyak yang ceritanya berlebihan. Nah ini ga, pas aja menurutku, neycurel bahasa gaule hahahha

      Akting semua pemainnya pas, sesuai proporsi
      Meski bertempo lambat, tapi per partnya kayak bisa ngasih imajinasi sendiri di benak masing2 penonton, seolah kita yang nonton disurih nebak-nebak, pak fernandez iki sapa, bojone ila opo udu, rasa masakane ila enak ga, dll, dsb hahhaha

      Keren aslikkkk

      Kayaknya jadine disusul ya, pas naik kereta itu, iya ga sih, lah terus bojone ila piye ya nasibe wekekekkek

      Hapus
  2. Oh ternyata film India, entah kenapa saya ngga begitu suka sama film India dulu sering tuh film india di putar di tv kesel banget lihatnya lebih seneng lihat film kartun Tom n Jerry daripada lihat film India.

    Btw mbak dulu jadi jurnalis di majalah bisnis yang berlogo merah itu ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Film india yang ini bagus kok, coba aja ditonton, beda model penceritaan kayak film india pada umumnya, etapi itu menurutku sih :)

      Hapus
    2. Nantilah di tonton kalau udah bisa nekan emosi takut tv-nya jadi sasaran..hihihi

      Hapus
    3. Jangan mas, kesian tipinya ntar lecet wakakakka #bcanda

      Hapus
  3. jadi keinget lagi sedihnya kematian beliau. :(

    film lunchbox ini menurut saya juga sangat berkelas. menurut org banyak juga sih. walo sepanjang cerita fokus orangnya ya itu-itu saja, tapi kita bisa ikutan hanyut dengan keadaan pemainnya. tau behagianya dapat makanan enak, tidak sehambar biasanya, tau senangnya bisa berkomunikasi dgn org yg mengerti kita, sampai tau sedihnya melawan takdir karena perbuatan kita tak seharusnya sampai begitu...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya haw, sungguh kebetulan yang sangat mengagetkan pas abis aku nonton, e besokane beliau yang main di sini meninggal dunia

      Aktor langganan film2 keren padahal kan ya

      Yes, bener banget haw, pokoknya beda dari film India yang kayak biasanya
      Penggarapannya termasuk yang totalitas
      Filmnya filosofis
      Banyak sisi kehidupan yang patut direnungi mengacu pada nasib si tokoh2nya ini..heheh

      Hapus
  4. aku kira ini kisah nyata mba nita hehe
    ringan ya sepertinya film ini, ada bumbu komedinya juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kurang tau apa ini diangkat sutradaranya ritesh batra dari kisah nyata atau ga

      Justru menurutku ini filmnya ga ringan sama sekali mba, filmnya berat, namun sang sutradara berhasil mengemasnya dengan cukup apik

      Hapus
  5. Makasih mba, ada juga referensi film india yang wajib di tonton, apalagi film india yang nyanyi-nyanyi, nggak akan menjadi referensi film, beda masa beda juga orang-orang menilai film. kebiasaan sih nonton film barat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama mas harris, lumayan ini buat hiburan di tengah pandemi, xixixi

      Iya baru sekali ini aku nemu film india sebagus ini,
      Walaupun ceritanya terkesan suram, tapi penyampaian model penceritaannya susah dilupakan

      Hapus
  6. Aku bukan penggemar film India, dan enggak tau beliau juga. Cuman baca-baca ulasan-ulasan singkat tentang filmnya di Twitter (waktu beliau meninggal ini jadi rame banget soalnya jadi mau gak mau jadi baca) dan kebetulan belakangan ini juga lagi suka nonton film yang ringan-ringan, aku akhirnya masukin The Lunchbox ini ke watchlist aku. Hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah ternyata di tuiterland rame ya, qiqiqiq, ketinggalan inpoh deh aku
      Sebenernya ini ga ringan sih man, malah menurutku cenderung film berat
      Tapi bagus kok, coba aja tonton wekekek

      Hapus
  7. Nah, kkayaknya karena tempo ceritanya yang lambat apa ya, aku malah bosen pas nonton film ini. Apakah aku harus nonton kedua kalinya. Hahaha.

    Kalau masalah antipati sama film bollywood, aku nggak sih mbak, karena emang udah suka dari jaman dulu. Apalagi kan dulu Indosiar masih seneng-senengnya ngeplay kuch-kuch ho ta hai, mohabbatein, kabhi kushi kabhi gham macam itu, tetep tak tonton, meskipun harus dibagi jadi 2 apa 3 part penayangan. Kalau sekarang, misal pas nonton film India terus ada part nyanyi-nyanyinya sering tak skip-skip sih. Itu memakan durasi banget. Hahaha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kayae sih ngunu nu, aku pas pertama kali nonton, agi adegan mbuka rantang scene awal wes rasabar akhire ga sido rampung, barulah pas nonton kedua ngematke tekan akhir, akhirnya lumayan nemu benang merah di teknik penceritaane, dan menurutku bagus

      Pantesan menangin award ya
      Klo sik jaman jadoel sih lumayan
      Tapi aku senenge sing ada kajole tok, lain dari itu aku ga pati seneng nontone #elah pilih2 pemain deh saia hahahhaha

      Hapus
  8. Kalau baca dari review mba Nita, sepertinya film ini bagus juga :D

    By the way, review mba Nita bagus kok meski nggak nyastra seperti yang mba Nita bilang, tapi saya justru suka baca review yang seperti ini karena menggunakan kata-kata yang lebih mudah dipahami oleh orang-orang seperti saya (yang nggak punya banyak vocabulary bahasa Indonesia) :""D

    Terus saya jadi penasaran biasanya mba Nita menonton film India di mana? Saya mau juga soalnya. Saya pribadi sudah beberapa kali menonton film India, dari 3 idiots, Slam Dunk Millionaire, terus yang Hotel Mumbai juga saya suka hehehe. Plus film India fenomenal Kuch Kuch Hotai Hai hahahahaha :)))))

    BalasHapus
    Balasan
    1. True mbaaa :D, fiomnya bersahaja tapi mempunyai makna dalam

      Aww, tersanjung aku hahah, maklum review ku masih kacrut, bukan anak pemerhati film yang uda faseh memainkan kata kata akutuw

      Mba eno kalau orange tipe idealis dan maunya nonton di situs legal, udah banyak perasaan mba semacam netflix dsb hehe

      Oiya, aku juga masih waiting list hotel mumbai hihihi, aku mau nonton itu juga soalnya

      Hapus
  9. tidak begitu suka sih dengan filim india... tpi aku suka sama film india yang judjl fim nya 3 Idiots...

    yuk mbak nita Mari berteman dan saling follow back :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oiya 3 idiots aku nontonnya pas jaman kukiah dulu hehe

      Salam kenal, terima kasih sudah mampir ya :)

      Hapus
  10. Kasihan Ila yang telah berusaha memberikan rasa kepada suaminya ternyata tidak mendapatkan rasa yang sama yang harus dia terima. Sepertinya menarik untuk ditonton ya mbak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lumayan ngenes emang nasibnya Ila mas roni, cuma aku juga mikir kenapa doi jadi curcol curcolan ama lelaki lain, padahal masih ada suami huehehhe, serba complicated deh ini film >______<

      Hapus
  11. Saya dong barusan nonton film terbarunya orang ini, dan nanti dia meninggal baru saya tahu kalau namanya Irfan Khan.

    Dan kayaknya setiap dia main film karakternya gitu ya, kaku tapi manis, atau memang kesannya di film terakhir yang saya tonton itu.

    Dan sepertinya juga, kayaknya film-film yang dia mainkan bagus-bagus ya, jadi pengen nonton yang ini, pebasaran dengan Irfan Khannya qiqiqiqi

    Btw dirimu kalau nonton eh nulis review itu keren banget ya, eh lupa mantan wartawan ya hahaha.
    makanya pengetahuannya luas.

    Kalau saya biasanya cuman fokus ke filmnya, sama pemainnya.

    Etapi , gara-gara baca ini, saya jadi ingat mau review film Irrfan yang saya tonton barusan, gara-gara ikut challenge BPN tiap hari bahas covid dan ramadan mulu, kadnag bosan tapi udah terlanjur ikutan hahaha.
    Duh kukangen nulis sesuai tema sendiri, harusnya Sabtu dan Minggu biasanya bahas film :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kak rey film2 irrfan khan katanya emang bagus2, ini aja aku mau nonton filmnya yang lain, penasaran kalau di film lain aktingnya sama bagusnya ama yang di sini ga

      Iya, kata orang beliau itu bisa akting dari sorot matanya loh, yang tajem bak mata elang wekekek

      Keren dari hongkong kak rey, aku mah masih amatiran, di luar sana blogger khusus film kata katanya jauh lebih canggih dari aku wakakak

      Hapus
  12. Mbak Nitaaaaaaaa. Yaampun, racun banget ini. Aku jadi pengen ikutan nonton. Kayaknya bagus dan gak menye-menye ala pilem Bollywood kebanyakan. Kebetulan aku lagi bosen banget nonton tv nih, Mbak. Soalnya tv isinya cuma berita Corona terus-terusan.😭

    BalasHapus
  13. Aku jd pgn nonton filmnya nit. Sbnrnya aku ga anti film India sih. Ada bbrpr film India yg aku suka, Krn ceritanya memang bagus, dan ga ada ato ga banyak tarian di pohon :p. Ga ada juga polisi datang kesiangan Krn penjahat udh dibantai Ama sang jagoan :p

    Naaah utk film2 India yg sesuai Ama kriteriaku itu, aku sukaaaa. Kayak life of Pi, my name Is Khan, slumdog millionaire... Itu bagus

    Jd kalo film Lunchbox ini ga ada tari2an, rasanya aku bakal nonton sih :D. Baca sinobsismu bikin penasaran :D.

    Ga ush nulis terlalu kaku kyk orang lain nit. Yg begini aja, aku sukaaa. Bener katamu, hrs ada yg mereview film dari kacamata org awam. Kira2 mah ga ngerti apa point' yg bikin film itu bisa terkenal ato bisa menang Oscar. Kenyataannya, kebanyakan film yg menang banyak penghargaan, pas aku tonton malah bikin ketiduran :p.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eh mba fan aku juga suka india untuk beberapa judul, terutama yang ga genre drama cinta tok hihi
      Tapi ngulas kehidupan dengan karakter2 yang kuat

      Aku dong pengen nonton life of pi ama filmnya irrfan khan yang lain

      Hotel mumbai juga aku penasaran, blom sempet nonton hihi

      Hahhahah makasih mba fan, sezuzurnya kalau nulis review film emang dulunya aku suka minder, tapi bener juga sih, kalau nulis dari sisi bahasa orang awam aku mah langsung semangat, seenggaknya aku bisa ngrekomendasiin film keren dan plong aja begitu nulisnya ahahha, mamacih mba fan, jadi smangat nulis sinopsis atau resensi lagi aku :D

      Hapus

Komenin dong...tanpa kehadiran kalian apalah arti aku menulis....
kalian penyemangat setiap bulir kalimat dalam blog ini :*
Namun jangan komentar SARU atau SARA ya, jika ada komentar dengan unsur tersebut, dengan berat hati akan aku HAPUS .

Oh ya, Dilarang juga mengambil gambar/foto atau menyadur tulisan tanpa mencantumkan sumber atau seijin pemiliknya. Apalagi untuk kepentingan komersial atau lomba. Thx ^____^