Selasa, 18 Agustus 2020

Kupu-Kupu yang Menabrakkan Sayapnya pada Dinding Jendela (Part 3)


Fiksi

T.I.G.A

Oleh : Gustyanita Pratiwi

Oktober senja yang benar-benar dingin dan membuat sikap dudukku semakin gelisah. Hujan di luar turun deras, sementara aku masih dengan senang hati (tapi pasti) menjalankan kebiasaan burukku, yaitu mengintipmu diam-diam, dari balik jendela ini--tentunya sambil menyesap sebatang kretek sekedar untuk alasan yang lebih sentimentil, agar aku bisa membayangkan wajahmu dalam bentuk kepulan-kepulan asap rokokku yang lebih mirip gula-gula kapas.

Benar, dengan cara seperti inilah aku akan lebih bisa mengobati rasa rinduku pada kata 'kawin'. Karena sudah lumayan lama aku membujang dan merasakan nikmatnya rasa sakit akibat kesendirian. Bukannya tidak laku atau apa. Tapi untuk sekedar mengambil hati seorang wanita rasanya aku punya penyakit aneh yang susah sekali dihilangkan--yaitu berkata sinis dengan mengacuhkan segala perasaan mereka yang konon lebih mirip sehelai bulu-bulu angsa--lembut namun cepat rapuh. Aku sendiri heran, mengapa aku tak pernah merasa akrab pada mahluk yang bernama wanita. Dalam hal ini adalah bagaimana cara berkomunikasi. Maksudku, komunikasi yang kujalin dengan mereka lebih mirip dengan diskusi panel yang tidak pernah mencerminkan sikap ingin mengajak mereka ke hubungan yang lebih manis.

Begitulah, yang aku rasakan betul bahwa ngomong dengan mereka sama saja dengan membangun sebuah kepayahan. Ya, jadi kesimpulannya aku tak bisa semudah itu menjalin hubungan pada siapa pun, terutama wanita. Sekali lagi, hal itu merupakan hal yang tidak semudah membalik telapak tangan. Atau mungkin juga penyebab masa lalu. Tentang kekolotan sikapku pada wanita yang pernah melahirkanku, ibuku. Aku ingat jelas bahwa pada masa kecilku dulu, aku selalu mengajak ibu perang. Ah, tapi sebenarnya bukan aku duluan sih yang mulai. Melainkan dia. Aku benci padanya, terus terang aku benci. Mengapa aku harus lahir dari diri perempuan yang hampir-hampir membunuhku dengan berbagai macam cara.



Saat itu aku masih dalam bentuk embrio yang berproses menuju kesempurnaan. Dalam ruangan gelap (bersuara pun tidak), aku berjuang keras untuk hidup dan mencoba menunggu seseorang di luar sana untuk mengeluarkanku segera. Namun apa yang terjadi saat itu? Baru juga aku merasa tubuhku semakin membesar dalam bentuk yang berbeda dari setiap harinya, perempuan itu--yang memberiku tempat sementara ini malah coba-coba untuk membinasakanku--entah karena dia malu sudah membuatku secara ilegal bersama seorang lelaki yang pantas kusebut sebagai ayah--yang kini melarikan diri entah kemana atau karena dia benar-benar tak menginginkanku tumbuh pada salah satu jaringannya. Segala macam obat-obatan dengan takaran yang tidak masuk akal, dopping, stimulansia, atau yang lebih parahnya lagi adalah rokoknya. Uh....tentu itu sangat menggangguku. SEKALI.

Seharusnya aku bisa tumbuh dengan wajar layaknya janin yang berkembang. Tapi aku lain, aku harus ekstra keras di dalam ruang gelap dan sempit ini untuk melawan toksin-toksin yang diberikan oleh perempuan itu. Beruntung aku masih bisa selamat. Kalau tidak, mungkin aku hanya bisa keluar lewat selangkangannya tapi dalam bentuk gumpal-gumpal darah--hancur berantakan tanpa wujud.

Lalu setelah 9 bulan lamanya aku merongrongi tubuh perempuan itu, dan perempuan itu juga merongrongiku dengan segala macam tingkah buruknya terhadapku, akhirnya seseorang di luar sana mencoba menyelamatkanku dari gelap sesaat. Saat itu tangisku pecah karena begitu gembiranya bisa keluar dari siksa maut ibuku sendiri. Oh ya, orang yang sudah menolongku itu bernama suster. Aku bisa mendengar ibu berteriak-teriak agar dia segera menyingkirkanku dari sisi pembaringannya. 

"Tolong jauhkan dia dariku. Aku tak mau melihatnya, Suster ! Bawa dia keluar!" Begitulah dalih ibuku saat aku mencoba mengakrabinya lewat suara tangisan. Dan ternyata dia tetap menolak. Bahkan dia semakin membenci, membenci, dan membenci. Di dalam otaknya hanya ada satu kata yang kulihat dalam sorot matanya--sebuah kebencian.... Lalu dia tidur dan berusaha untuk masa bodoh terhadap tangisanku yang semakin menjadi-jadi.

Sayup-sayup suster itu mengangkat tubuhku ke tempat yang lain--yang jauh dari ibuku. Dia menimangku dan aku berhenti menangis. 

"Bayi tampan...aduh..bagusnya mata birumu itu. Aduh....tampannya. Ayo-ayo..kita cari tempat yang lebih hangat. Ayo Nak."

Dalam hati aku berkata, "Bahkan suster ini jauh lebih baik dari ibuku sendiri."

****

Ya, sekilas masa kecil yang tidak menyenangkan, bahkan sangat menyedihkan. Berkali-kali kucoba untuk bisa melupakan dan menghapusnya dari ingatanku. Tapi memang sangat sulit. Sangat-sangat sulit. Bahkan mungkin tidak bisa. Karena biar bagaimanapun itu tetap masa laluku. Semua itu merupakan bagian dari hidupku. Dan kurasa dengan adanya masa lalu itu, aku kini tumbuh menjadi seorang yang lebih tegar dan jauh dari kesan cengeng, walau sesekali ingin juga menangis.

Persoalan hidup itu memang panjang. Termasuk juga untuk urusan yang satu ini--ya, status bujangku yang hampir memasuki kepala 4--meski belum benar-benar masuk pada usia 40, tapi sudah kepala 3 pertengahan, dan itu rasanya lain saja. Entah kenapa, untuk masalah yang satu ini aku selalu merasa risau. Merasa ragu. Pada diri sendiri, pada orang yang kusukai, atau lainnya. Aku merasa bahwa setiap kali aku mengaca, aku punya banyak sekali kekurangan. Padahal seperti yang sudah kujelaskan di depan, aku bukan termasuk orang yang buruk rupa. Sikapku juga tidak brutal-brutal amat untuk menjadi seorang kepala keluarga nantinya.

Aku tahu aku memang telah beranjak menua untuk kasus cowok yang masih perjaka. Tapi bukan berarti aku harus berputus asa ria dan dengan mengindahkan martabat, mencari pelarian lain seperti pelacur atau apa. Atau memproklamirkan diri sendiri di hadapan gadis-gadis yang siap kunikahi. Aku tak mau melakukan hal-hal macam itu. Lebih baik aku menikmati dulu segala kesakitan-kesakitan ini dengan perlahan tapi pasti--menunggu gadis yang benar-benar aku cintai--entah kapan.

Tapi, sepasrah-pasrahnya aku berkata, aku juga sering merasa semua ini tak adil. Dan kuakui sekali lagi bahwa aku memang munafik. Berkata bijak di luar, namun apa yang terjadi di dalam sungguh sangat ironis--aku meraung-raung bak seorang gila sambil sesekali mencoba melakukan perlawanan batin dengan segala kegundah gulanaan yang menimpaku ini. Atau juga sesekali ingin protes saja diriku, tapi ingin protes kemana aku tak tahu. Masa aku harus protes pada Tuhan?

Tapi rupanya aku tak melulu bernasib sial. Tuhan masih cukup berbaik hati padaku dengan mendatangkanmu ke dalam hidupku. Aku tahu, sebenarnya aku sangat sulit berinteraksi dengan wanita, meski hanya sebatas hubungan yang biasa-biasa saja ataupun sekedar basa-basi menyampaikan sesuatu. Tetap saja itu hal tersulit dalam hidupku.

Tapi, denganmu aku merasa lain. Denganmu aku bisa melepaskan seperdelapan rasa canggungku--walaupun itu cuma sedikit sekali. Meski itu baru sekedar memerintah atau menasihati dan yang terburuk adalah marah-marah. Tapi tetap saja itu merupakan suatu kemajuan.

Denganmu aku merasa bahwa kau bisa selalu kujadikan pelampiasan rasa kesal yang menderu-deru dalam jiwa, dan denganmulah aku bisa merasa lebih baik, karena aku tahu, saat pertama kali aku memandang mata hijaumu, aku seperti menangkap sesuatu yang sifatnya lebih misteri. Mungkin sihir karena kau bisa membuatku sesekali terjatuh, dan bangkit, lalu terjatuh, dan bangkit lagi, dan seterusnya. 

Sampai suatu kali aku mendengarmu berucap lirih, namun aku bisa menangkap apa yang kau maksudkan itu. Kau berkata, mungkin tentang seseorang yang selalu menatap dan memperhatikanmu dari sini. Bibir mungilmu berucap : "Mata biru yang indah. Beda dengan mataku yang seperti mata kucing ini. Huft..." 

Ah...apa aku yang sudah GR duluan ya......

***

Masih pada Oktober musim gugur di Dortmund. Cuaca sudah agak mendingan--cerah sedikit, namun itu tak berarti telah membuat gigi-gigiku berhenti bergemeletuk menahan gigil.

Seperti kemarin, aku masih saja betah berlama-lama duduk dalam kenyamanan kursi kantorku yang menghadap langsung pada jendelaku dan jendelamu. Ya, aku mengintipmu lagi. Kali ini aku ingin fokus pada dirimu saja. Tidak pada yang lain-lain, seperti kemarin sampai melantur kemana-mana, termasuk perempuan yang paling kubenci--ibuku.

Balik ke jendela. Kali ini aku melihatmu sedang sibuk menulis-nulis sesuatu pada secarik kertas--seperti sebuah catatan daftar barang-barang. Hmmm, tapi aku tak peduli. Yang penting aku bisa melihatmu di sini dengan perasaan tenang. Perasaan ingin memiliki dan yang lainnya. Semua campur aduk menjadi satu membuatku semakin ingin menyelamimu. Entahlah, yang jelas aku merasakan bahwa bola matamu yang hijau selalu memantulkan aura magis--memilukan tapi dalam.

Aku merasa bahwa kecantikan yang ada padamu bukan hanya datang dari keorientalan wajahmu saja. Tapi juga lirikan mata hijau yang menusuk ke jantung hati siapa yang memandangmu.

Tapi, di sisi lain aku juga sering merasa aneh pada wajahmu. Kau orang mana aku tak tahu. Wajahmu berbeda dengan orang-orang sepertiku. Kau seperti bukan dari daerah sini. Apakah kau seseorang yang datang dari jauh ? Apakah kau andromeda dengan sepasang mata hijau manik-manik seperti mata kucing yang menyala di kala malam? Ya, itu metaforamu.

Lalu, lain mata, lain pula rambut. Rambutmu hitam lebat berantakan dengan potongan harajuku seperti yang biasa kulihat pada gaya rambut tokoh animasi Jepang--tak apalah. Setidaknya kau tidak sama dengan perempuan-perempuan kebanyakan dengan standar kecantikan yang itu-itu saja. Kau dengan rambut liarmu itu memberiku sebuah inspirasi baru tentang apa arti kebebasan.

Oh.....andai aku tak bisa memilikimu, mungkin aku akan bersumpah pada Tuhan untuk tidak pernah menikah seumur hidupku. Betul. Aku sungguh-sungguh. Karena yang kuinginkan cuma satu. 

Kau.

Yang tak kutahu siapa namamu....

Bersambung....

P.S : Sambil ngetik lanjutannya, admin Mbul mau kretekin jari duluk ah..karena waktu gambar ilustrasinya lumayan PR juga ya gengs, hehehe. Wokeyyy lanjuddd !

42 komentar:

  1. Tokoh aku ini apakah Aprilia Paijo yang matanya biru di episode satu mbak mbul? Sepertinya sih bukan karena Paijo itu matanya abu abu ya. Kalo wanita yang matanya hijau itu sih kayaknya Rui ya.

    Untuk si aku, memang jika diasuh oleh ibu yang membenci dirinya memang bisa membuat dia juga membenci wanita, hal ini berimbas pada dirinya yang sudah berusia hampir kepala empat tapi masih belum kawin juga. Untung ada Rui yang sepertinya disukainya, tapi sayangnya Rui sepertinya sudah punya pacar yaitu Aprilia Paijo yang menolongnya saat kecil.😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. kok pinter sih analisisnya #uda kayak conan 😆😊😂

      teliti emang mas agus, yak si paijo itu emang matanya abu-abu, beda ama yang mata biru ini...xixix
      siapakah si tokoh aku ini? mungkin part 4 atau 5 akan muncul sebuah nama hahahahaiii

      Hapus
    2. Settingnya sepertinya di Jerman ya, soalnya dulu Rui kecil di Hannover, sekarang si aku di Dortmund. Apakah Paijo ada di Muenchen?

      Asyik, sepertinya masih panjang nih episodenya soalnya perjalanan Rui kecil belum terungkap, terus siapa yang mengacak-acak rumah tn. Bellamy dulu juga belum ketahuan terus apakah maksudnya juga belum tahu. Yang pasti sih si maling bukan nyari rongdo karena Bellamy hidup berdua dengan Rui kecil saja kan.😄

      Soal gambar ini salah satu yang aku suka karena mbak mbul menggambar sendiri, kalo aku paling bisanya nyari gambar di google.😂

      Hapus

    3. 🤭🤭🙄 #buru buru nyanding atlas eropa duluk aku hahhahaha


      na iya mas astaga ngakak kenapa ada bagian tu orang misterius mau culik rongdo segala yak, suweeeekk 😂😂

      makasih mas, biasa aku mah suka ribet mau sosoan pake ilustrasi ngegambar ndiri hihi

      Hapus
    4. Settingnya seperti ada di Jerman tapi kenapa ada la liga, ya? Masih jadi misteri

      Hapus
    5. ealah salah ya...#kurang riset sayaaaah...uhuk

      ntar aku edit cobaaak, berarti bundes liga apa ya mas kal?

      Hapus
    6. Iya, salah sedikit, la liga itu Spanyol kalau Jerman itu Bundesliga dan satu lagi ini tentang club' atau timnas ya?

      Hapus
    7. Wokaaai mas tar aku edit lagi, makasih buat koreksinya ya ^________^

      Hapus
    8. Langsung beresin 3 part sekali baca karena penasaran. 😆
      Samaa aku juga kayak Mas Agus, penasaran siapa yang acak2 rumah Rui dan kenapa sampai melibatkan polisi segala..
      Keren ceritanya Mba Nita. Aku paling suka gaya bercerita Mba Nita yang bagian deskripsi, banyak pake perumpamaan yang bikin feel ceritanya lebih kerasa.
      Btw, paling mau saran aja tentang kepenulisan. Sebelum tanda seru atau tanda tanya tidak perlu pake spasi Mba Nit. Hehehe. Biar lebih enak aja bacanya. Maaf kalau kurang berkenan 😆😆

      Semangat nulis lanjutannya Mba Nitz biar mengobati penasaran kitaa 😁

      Hapus
    9. awww jadi malu dikomen penulis buku beneran ahahahah...ampun mba thess diriku mah ceritanya masih aneh yaaak hahahha

      siyaaap mba ..nanti aku perbaiki model beberapa tanda bacanya ^______^

      Hapus
  2. sekilas di atas seperti cerita hidup gw yang belum nemu cwe idaman haha :D, kasarnya sih belum laku :D.. sepertinya akan panjang ya mbak mbul jalan ceritanya, sampai part berapa nih kira-kira :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jangan jangan ini diambil dari kisah mas khanif, ayo minta royaltinya mas.😁

      Tenang mas, jumlah episodenya ngga banyak kok, hanya 11 12 sama tukang ojek pengkolan.😄

      Hapus
    2. waaaaaakkk...tapi aku ga bermaksud lo nif xiixi

      ini mah khayalan n fantasiku aja, alias ngehalu wmata inspirasi tokoh2nya 🤣😂😂


      tapi meski begitu, kudoakan jodohnya khanif lagi otewe bentar lagi...dan moga dapat yang seperti asmirandah 😊🤭🤭😊😆


      haha...iya nif kayaknya mayan panjang..mungkin melebihi tol cipali #eh wakakkaka

      tapi abis part 4 ntar aku selang seling aja ya ama postingan yang lain hihihi

      Hapus
    3. mas agus : bukan mas bukaaaan...hahhaha
      kalau khanif sih kayaknya mah masi muda belom ada 30 tahun kali yak 😋😋

      Hapus
    4. Kalau bukan terinpirasi dari kisah hidupnya mas Khanif ..., apa ini inspurasi kisahnya dari kisah hidupku yaaa ,wwkkkk ..
      Kok mirip gitu 😆😆

      Ra sabar nunggu gimana kisah sambungannya ...
      Pengin ngerti apa lokasinya masih di Dortmund atau pindah ke kota di Jawa Tengah 🤔

      Hapus
    5. wakakkaka...bukan mas him, bukaaaan 😆😆, ini mah ngehalu aja, ngebayangin pemain sepak bola favorit jaman muda dulu hahhahahahha yaitu salah seorang pemain jerman yang mayan tampan #ehhh


      kayaknya kecil kemungkinan ada di Indonesia mas him, soalnya klo di Indonesia musti terikat berbagai macam norma kesusilaan, sedangkan ntar cerbungku keknya agak genre dewasa #ettdaaaaah 😂😂😂

      Hapus
    6. What, genre dewasa.😱

      Apa habis berguru sama suhu satria.😋

      Hapus
    7. hihi kayaknya ada pengaruh dari cerpen mas agus dan kang sat deh kalau genrenya begono 😂😂

      Hapus
  3. Ternyata si aku ini memang tokoh baru yang dimunculkan di luar tokoh yang ada di part satu, karena dia laki-laki ada kemungkinan nama tokoh ini Chelsea.

    BalasHapus
    Balasan
    1. tetooot..tebakan namanya masih salah 🤭🤭

      iya dia di luar tokoh yang dah ada di part 1 😊😃

      Hapus
    2. Kirain Chelsea kan si Shevchenko pernah merumput di Chelsea kali aja tokoh si aku ini temannya Shevchenko..hehehe

      Hapus
    3. ceritanya era era shevchenko pas tokoh ceweknya masih kicik alias masih kecil mas, nah yang sekarang tau tau uda usia 20 an 😃😆

      Hapus
    4. Bisa aja selisih umur si aku sama Rui 20 tahunan dan si aku ini memang temannya Shevchenko.

      Hapus
    5. Eh tapi ada yang kurang pas menurutku mas Herman, di part 1 kan diceritakan Shevchenko latihan sama Essien di stadion Hannover, tapi baik Shevchenko ataupun Essien belum pernah memperkuat Hannover ataupun klub Jerman lainnya, yang pas keduanya memang bermain bersama di Chelsea, tapi bukan Chelsea Olivia atau Chelsea Islan.🤣

      Hapus
    6. mas kal el...ga kok mas, terlalu sugar daddy atuh klo jaraknya mpe 20 tahun..kan bossnya si rui bukan orang yang ada di jamannya bapak rui kerja hehe..juga uda beda kantor..lagipula si tokoh aku orang korporat bukan pemain bola jadi dia ga sohiban ama pemain lapangan 😃

      Hapus
    7. yang part 1 kan pas ketemu seva cuma ngimpi aja, lagipula belum tentu juga kan pemain yang disebut di lapangan pas rui kecil itu nyata, ngimpi aja dia alias halusinasi dimana tokoh2 yang selama ini sering doi liat di tipi tetiba kebawa ngimpi pas tiduran di bangku stadion

      trus ini cuma fiksi aja kok, semua nama tokoh, profesi,tempat, peristiwa
      yang kutulis di cerbung ini hanya fiktif belaka 😊

      klo beda sama fakta aslinya ya ngapunten, namanya juga fiksi hehe

      Hapus
    8. Eh iya, sebenarnya aku mau nulis itu kan mimpi jadinya Rui bebas bermimpi apa saja termasuk ketemu Essien dan Shevchenko. Eh udah keburu kepencet.😄

      Aku juga pernah mimpi naik angkot mbak ke Jakarta. Eh tiba-tiba angkot nya nyasar ke...

      Coba tebak, Yap ke Tokyo Jepang mbak dan saya ketemu sama Conan, soalnya aku lihat semua pakai huruf kanji. Anehnya saya bisa bahasa Jepang dan ngobrol sama Conan, padahal paling bahasa Jepang yang aku tahu paling hanya Takashi Mura dan Samakami Sampepagi atau Yukita Takuti.😁

      Saya juga bukan penggemar bola sih, cuma suka baca berita saja. Tuh info Sheva sama Essien juga aku baca dari google.😂

      Semangat dong mbak, jangan patah semangat ya, ditunggu part 4 nya. Mohon maaf kalo komentar sebelumnya kurang mengenakkan.🙏

      Hapus
    9. tak kasih murah
      sama kami sampe pagi
      yuk kita takuti...

      asem ngakakkk 😂😂😂

      siyap semangat terus atuh...😆

      Hapus
  4. Hiihiii ikut kaya komentator diatas saja deh.😊😊

    Nunggu langsung part 4 nya saja. Kalau mandek ide jangan dipaksain mbull biar nggak ngawur. Semangat mbull.👏👏👏

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eh tumben kang satria bijak, ngga seperti aku yang malah ngawur.😂

      Hapus
    2. kalau mas agus mas risetnya detail, aku lah mengarang byebaaassss 😂😂

      Hapus
  5. Wah bagus banget cara mba Nita menggambarkan penokohannya. Detail dan jelas bahkan sampai saat dia masih di dalam perut ibunya. Dan kenapa dia masih perjaka sampai sekarang 😍

    Kayaknya novel ini akan ada banyak page-nya, jadi nggak sabar bagaimana ceritanya berkembangan antara Rui dan orang-orang yang ditemuinya 😆 eniho, saya penasaran sama nama tokoh ini, berhubung saya nggak paham soal bola jadi nggak bisa tebak-tebak seperti para mas di atas 🤣 nggak mungkin kan namanya Ronaldo atau Messi? Hahahahahaha. Ditunggu kelanjutannya, mba. Langsung rapel baca last 2 parts 😍

    BalasHapus
    Balasan
    1. heheh makasih mba eno, ni aku lagi ketik part 4 nya

      semangaaaaaad
      #sambil ikat kepala dan kepalkan tangan. smangad qaqaaaa

      Hapus
  6. aku merasa bahwa kecantikan yang ada padamu bukan hanya dari wajahmu saja tetapi lirakan mata hijau yang menusuk ke jantung hati siapa yang memandangmu.... ASIK

    BalasHapus
  7. Baca yang part 3 ini, berasa ada yang lagi curhat gitu Mba 😂😁

    masih menunggu part 4 nya, penasaran dengan benang merahnya 😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. bhihihi siapa mba rin yang lagi curhat 😂😂😂

      siap uda tayang mba rin, ntar abis ini kuselang seling pake cerita lain 😊😊

      Hapus
  8. Mas Agus Ama mas khanif teliti juga yaaa, td baca komen2 di atas dulu. Mungkin Krn aku ga ngerti bola, jd ga ngeh kalo Jerman itu Bundesliga dan Spanyol la liga. Sebagai org awam aku cuma perhatiin Ama alur ceritanya aja, apa gampang dimengerti ato ga. Bikin aku penasaran baca ato ga. Dan sampe part ini, aku masih tertarik utk nunggu lanjutan2nya, Krn blm ketemu koneksi antara cerita 1,2,&3 :D.

    Semangaaat nit , lanjutin ceritanya ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. sebenernya di cerita ini aku ambil keseluruhan point antara tokoh, peristiwa, lembaga dan profesi yang ada di dalamnya adalah fiktif belaka mba, jadi jikapun beda dengan yang di dunia nyata sana ya beginilah adanya, balik lagi karena ini cuma fiksi belaka, hihi

      iya, aku seneng kalau fokusnya di alur ceritanya..:D

      Hapus

Komenin dong...tanpa kehadiran kalian apalah arti aku menulis....
kalian penyemangat setiap bulir kalimat dalam blog ini :*
Namun jangan komentar SARU atau SARA ya, jika ada komentar dengan unsur tersebut, dengan berat hati akan aku HAPUS .

Oh ya, Dilarang juga mengambil gambar/foto atau menyadur tulisan tanpa mencantumkan sumber atau seijin pemiliknya. Apalagi untuk kepentingan komersial atau lomba. Thx ^____^