Rabu, 19 Agustus 2020

Kupu-Kupu yang Menabrakkan Sayapnya pada Dinding Jendela (Part 4)


Fiksi

E.M.P.A.T

Oleh : Gustyanita Pratiwi

J.e.n.d.e.l.a
3


Jendela ini kusibak lagi. Kali ini aku sial. Kau tak berada di tempat. Kemana gerangan kau pergi? Tidak seperti biasanya--pada jam-jam begini kau pergi ke luar. Apakah kau menemui kekasihmu? Apakah kau diam-diam telah memiliki seorang kekasih? Masa aku harus patah hati?

"Tidak ! Ini tidak boleh terjadi! Ini harus kuselidiki! Aku tak mau kau direbut oleh lelaki manapun. Karena kau adalah milikku. Kau tidak boleh menolakku. Dan kau tak akan pernah bisa menolakku!

Kukirimkan seekor kupu-kupu senja warna biru muda untuk mengikutimu--ah maksudnya telepati atau dengan kata lain mata ketiga. Tentu untuk membuktikan instingku tentangmu...atau kekasihmu itu. Oh, shit! Ternyata sangat berat ketika harus mengatakan hal ini. Karena sesungguhnya aku benar-benar tak rela jika kau menjadi wanita yang terikat.

Kau cuma untukku.

--yang tak kutahu siapa namamu--





****


L.a.n.g.i.t
1

Di bawah langit kering musim rontok, angin merubuhkan daun-daun casablanka ke atas tanah. Kakimu tersaruk-saruk menyentuh daun-daun itu sehingga menimbulkan bunyi-bunyian yang bergemerasak.

Hari ini, kau nampak begitu cerah dengan hodie warna ungu muda dan rok hitam panjang terusan. Mata hijaumu yang cantik sesekali mengarah pada jam yang melingkar pada pergelangan tangan. 

Aku tahu, pasti kau sedang menunggu seseorang yang mungkin saja kekasihmu. Oh...rasanya tiba-tiba aku diserang badai cemburu. Kenapa aku tidak pernah melihatmu bersama dengan siapalah itu...kekasihmu?

Tapi sebentar.......

Kekasih?

Kulihat kau melambaikan tangan ke arah seorang lelaki  muda yang kukira umurnya sepantaran denganmu. Ah, lagi-lagi aku cemburu. Ya-ya-ya, laki-laki yang ternyata sangat aku kenal betul siapa dirinya. Dia adalah orang yang tak jauh dari profesimu dan juga profesiku. Salah seorang anggota timnas. Aprilia. J. Aprilia--siapa lagi. Bintang yang masih redup sinarnya. Dia hanya seorang pemain sayap. Kurasa, dia belum menjadi siapa-siapa dalam timnas. Bukan maksudku untuk merendahkannya--karena cemburuku. Tapi itu semua benar adanya. Aprilia masih baru, dan orang-orang kami juga sedang ribut-ributnya mempermasalahkan dia bergabung dalam timnas. Karena sesungguhnya dia bukan warga sini. Dia kelahiran Italia. Dan ini merupakan kontroversial jika dia harus dilibatkan langsung pada kualifikasi pertandingan kancah dunia mendatang untuk memperkuat tim kami.

Tapi itu bukan urusan penting sekarang. Yang paling kukhawatirkan adalah : Ada apa kau menemui Aprilia pada jam-jam dimana kau masih bekerja ? Apa perlumu dengannya? Apa kau mau main backstreet? Rasanya tidak mungkin kau membicarakan masalah pekerjaan di tempat sesepi dan sepribadi ini? Jangan-jangan si Italia ini mau coba-coba main mata denganmu, lalu tanpa sepengetahuanku kau direbutnya dariku. "Oh, aku harus mendekat !" 

"Sorry, aku telat," dia mendekatimu dan kau pun tertawa, sedangkan aku tersenyum kecut ke arah kalian.

"Lain kali jangan diulangi lagi ya! Kau tahu, aku sangat mencintai waktu," kau tersenyum manis sekali ke arahnya. Dan dia pun mulai menatapmu mesra. Orang Italia itu akan mengapakanmu ya? Aku semakin melebarkan mataku untuk coba-coba membuatmu gamang. Tapi, kurasa kalian tetap baik-baik saja--dan tetap tak menyadari keberadaanku yang ada di sekitar kalian. Dan kulihat, dia malah semakin menjadi-jadi di hadapanmu. Apakah dia akan menciummu? Aku gusar. 

"Rui....hari ini kau cantik," lalu dia menyentuh pipimu dengan lembutnya. Sialan, kurasa aku ingin menonjok sesuatu.

Eit...tapi tunggu ! Dia tadi bilang apa? 

Rui??? 

Aaah, Rui?? 

Ternyata namamu Rui. Nama yang cukup aneh sih, tapi yang jelas aku kesal melihat orang Italia itu telah menyentuh-nyentuhmu barang sebentar saja dan tidak sampai ke dalam-dalam. Tapi, bagaimana jika nanti dia mengajakmu ke hotel dan akhirnya merampas kesucianmu? Aku tak bisa membayangkannya. Semoga saja tidak. Kupasang kembali mataku baik-baik.

"Jangan suka memuji. Pujian cuma bikin aku terbang dan lupa bagaimana caranya turun....aku tidak suka dipuji, ngerti?" Kau berpaling ke arah lain. Dalam hatiku aku berkata : Please Rui !!! Jangan mau disentuh-sentuh olehnya lagi!! Please!!!

"Ah... aku tidak tahu kalau kau tidak suka dibegitukan Rui, maafkan aku.." Dia mengikuti arah pandangmu lagi. Kurasa dia mencoba untuk memasuki area mata kucingmu yang hijau.

"Ah ya! Dan jangan mengulang kata maaf berkali-kali padaku. Aku itu cuma bercanda tahu. Kau itu perasa sekali ya. Biasa saja lah padaku. Seperti dengan siapa..."

"Haaa, oke-oke-oke...aku selalu salah di matamu. Duh, Rui aku jadi bingung mau ngomong apa. Ehmmm...sebentar-sebentar..... aku ada sesuatu untukmu!" Sekali lagi dia menatapmu dengan sangat mesra. Sementara itu aku terus mengawasi kalian dengan perasaan segan. Aku ingin sekali tiba-tiba muncul di hadapan kalian dan menyeretmu kembali bekerja. Ingin sekali. Maksudnya agar kau tak melakukan hal-hal yang lebih jauh lagi dengan si Italia itu.

"Okey tidak apa-apa. Aku cuma mengujimu saja. Dan ternyata? Kau cukup lembek untuk semua kritikku. Sorry ya...0:1!" Kau menggoyangkan bahunya dengan bahumu sambil tertawa. Padahal tadi aku sudah senang karena kau sudah berkata sinis padanya. Ternyata kau hanya mempermainkannya. Uh...sial. Aku kembali pasang muka kecut. Lalu melihat kejadian selanjutnya.

"Sial! Aku kecolongan ternyata. Kau curang ya, haha", dia menjitak kepalamu dengan lembut, lalu meneruskan kalimatnya dan kau memperhatikannya dengan sungguh-sungguh. Sesungguh-sungguh aku memperhatikan kalian.

"Mmmm...tadi katanya mau memberiku sesuatu? Apa tuh?"

"Astaga maaf, aku lupa. Dimana tadi aku menyimpannya? Tunggu sebentar....oh, ini dia! Ayo kemarilah! Ini untukmu..."

"Apa ini? Kok kayak cokelat?"

"Terimalah !"

"Apa ini?"

"Okey, sini aku bukakan untukmu...."

Aprilia membuka kotak segi empat panjang itu dengan perasaan berdebar. Tangannya mulai melepas lilitan pitanya dan entah mengapa aku jadi ikut berdebar-debar juga--terus terang saja.

"Swallaaaaaa!"

"Waaaah...apa ini?? A talisman?" Kau berseru sampai jantungku mau copot dari tempatnya.

Kulihat Aprilia sangat bangga saat memperlihatkan sebulir benda bulat kecil--mirip bandul kalung--atau malah kristal ini padamu. Warnanya indah mencolok mata.

"A beautiful talisman..." ucapmu berkali-kali sambil terus memancarkan rasa kagum pada benda yang ia berikan itu. Lalu kulihat sinar mata abu-abunya yang besar menyala-nyala seiring dengan senyum yang menghias bibir mungilmu.

"Kau menyukainya?"

"Ya... Aku menyukainya. Ini cantik sekali. Thanks !"

"Kau janji akan memakainya?"

"Ya, aku janji..."

"Ini bisa menjadi pelindungmu. Ini jimat."

"Oh ya? Masa?"

"Serius."

"Kupakaikan ya di lehermu."

Dia kemudian langsung berinisiatif dan kau mau saja menyibakkan sebagian rambutmu serta memperlihatkan lehermu yang putih.

Oh, rasanya aku tidak mau melihat ini. Perlahan-lahan ia mendekatimu kembali. Perlahan tapi pasti. Dan aku sungguh sangat yakin bahwa kali ini ia sungguh-sungguh menatapmu lebih dari yang tadi. Kurasa aku bakal dapat insting buruk karena aku semakin melihat kesungguhan pada mata abu-abunya itu saat memandangmu. Ia serius menatap mata kucingmu. Dan yang kutakutkan adalah------terjadilah. Ia menggigit ujung  bibir bawahnya. Lalu pada akhirnya aku harus menyaksikan ini semua dengan sangat menyakitkan. Dia menjatuhkan bibirnya tepat di atas bibir mungilmu--di depan kedua mataku. Kurasa sebentar lagi aku bakal menangis.

"Bresssss !!!" 

Tiba-tiba hujan turun.

***
L.a.n.g.i.t
2

Langit bertambah kelabu. Gumpal-gumpal awan bergandengan tangan membingkai senja Dortmundd dekat Gelsenkirchen Park--utara tempatku bekerja. Hujan yang sungguh-sungguh deras tak terelakkan lagi turun di kota ini. Dan aku adalah sosok jangkung kurus yang basah kuyup dengan baju kantor masih melekat pada tubuh, berjalan tersaruk-saruk diantara becek lumpur pedestrian kota. Tubuhku menggigil kedinginan, lambungku perih, perutku mual, dan perasaanku jangan ditanya. Sudah pasti kacau.

Ketika guntur menggelegar di angkasa raya, teringat kembali dalam telingaku suara mesra Aprilia menyentuh telingamu---dekat sekali. Membuatku hampir-hampir gila, dan ingin rasanya aku membinasakan diri. Ingin rasanya aku mampus saja. Dari hadapanmu---dari hadapannya---dari hadapan kalian---atau dari hadapan siapa pun juga di dunia ini, supaya paham betapa sakitnya aku. Atau kalau diperbolehkan menangis, ingin rasanya aku menangis. Tapi sialan aku tak bisa. Aku tak mau kelihatan cengeng saja. Jadi kubiarkan berbagai macam kendaraan yang lewat di sisiku menerjang genangan air yang ada di permukaan aspal bolong-bolong dan airnya mengenaiku sampai aku bertambah kuyup. Lalu saat sebuah bus melintas, secara otomatis aku mendongakkan wajahku ke atas. Kulihat sekelebatan dari dalam bus, kau dan Aprilia di sampingmu sedang menuju ke rumah kalian masing-masing. Atau............jangan-jangan rumah kalian berdua? Maksudku, kalian sudah tinggal satu atap. Damn !!! Kurasakan betul hatiku bertambah sakit----seperti sakaratul maut rasanya.

Kau duduk di dekat jendela bus yang gordennya biru muda dan kacanya buram dipenuhi uap air sisa hujan hari ini. Busmu terseok-seok membelah jalanan yang gelap dibayangi pohon-pohon besar dengan ranting-ranting dahan yang menyerupai tangan. Lalu tiba-tiba saja kau menoleh ke arah jalan. Dan dalam sekejap kau melihatku----di luar sini, tentu dengan keadaan yang sangat menyedihkan. Kau mengekori terus sosokku walaupun bus terus meluncur meninggalkan tubuhku yang semakin lama semakin mengecil dan berubah menjadi satu titik.

Sementara kau menghilang dari pandanganku.
Bersama bus itu.
Bersama Apriliamu.

***

"Kenapa Rui? Kau baik-baik saja?"

"Oh....tidak, aku baik-baik saja."

Dalam hati kau mungkin merasa cemas akan keberadaanku. Tapi kau mungkin juga tak yakin bahwa yang sedang lontang-lantung berjalan diantara guyuran hujan di pinggir jalan itu aku. Kau merasa...

"Hey...lihat !!"

Aprilia tiba-tiba mengacungkan tangannya ke arah jendela bus yang segera kau ikuti dengan arah pandangan matamu juga.

"Kupu-kupu?"

Kau mengernyitkan dahimu, sementara bus terus meluncur di antara senja Kota Dortmundd yang makin mencekam.

"Kenapa ada seekor kupu-kupu di luar jendela bus ya?"


****
J.e.n.d.e.l.a
4

Keesokan harinya...

Tidak seperti biasanya, tiba-tiba kau mengetuk pintu ruanganku tanpa kuminta. Kau segera masuk setelah sekian detik tak ada jawaban dariku. Lalu tahu-tahu kau sudah berdiri di depanku dengan muka cemas. Mata hijaumu sepertinya berkaca-kaca. Apakah kau mengkhawatirkan aku?

Kuperbaiki posisi dudukku setelah sekian lama aku dalam rasa sakit yang luar biasa, menggerogoti sebelah kepala. Saat aku bangkit, kau agak sedikit terkejut pada keadaanku. Mungkin hari ini aku terlihat berantakan sekali. Tapi aku mencoba untuk bersikap baik-baik saja. Seperti tak terjadi sesuatu.

"Ada apa?" tanyaku dengan suara parau karena kehujanan kemarin.

"Emmm...saya hanya mau menyampaikan ini." 

Lalu kau letakkan beberapa stopmap berisi laporan barang-barang yang akan digunakan untuk cadangan. Aku melongoknya sejenak

"Ini apa saja?" Kali ini suaraku kubuat senetral mungkin.

"Mmm...daftarnya sudah saya print di note Pak. Dan sudah saya infokan ke bagian informasi yang mana sebentar lagi akan datang pesanannya...." Kau menghentikan kalimatmu barusan dengan nada menggantung.

"Itu saja?" tanyaku tanpa ekspresi.

Kurasa kau heran. Tak seperti biasanya aku tak memberimu bonus pertanyaan tambahan yang mungkin bisa berjam-jam lamanya hingga kau bisa kuperbolehkan keluar. Sengaja aku tak melakukan hal itu karena terus terang aku sedang tidak mood untuk berbicara panjang lebar denganmu. Aku terlanjur sakit hati karena peristiwa kemarin. Ya, padamu dan juga Aprilia.

"Kalau begitu saya permisi dulu Pak!", kau berkata ragu dan berbalik badan--mencoba mendekati pintu.

"Tunggu!" Tiba-tiba aku memanggilmu kembali walaupun sebelumnya kau sudah merasa bahwa aku memang akan memanggilmu--sehingga barusan kau berjalan lambat-lambat.

"Iya Pak?"

"Kau tahu cara menghilangkan migrain?"

"Migrain?"

******
J.e.n.d.e.l.a
5

Aku melihat Aprilia masuk ke ruanganmu dengan kaos bola masih menempel pada tubuhnya. Seperti biasa, aku melihatnya lewat jendela ini. Ugh! Kenapa lagi dia?

Kau dalam sejurus lantas berdiri mendekatinya. Samar-samar aku bisa menangkap perbincangan kalian--lewat jendela ini juga.

"Jam istirahat?" Kau bertanya lembut padanya, lalu ia sekonyong-konyong duduk di atas mejamu dan memintamu mengelap peluh yang jatuh di dahinya dengan sebuah sapu tangan. Dan kau melakukannya dengan senang hati, bahkan penuh perasaan sehingga membuatnya semakin betah berlama-lama duduk di situ sambil menggodaimu meski sebenarnya kau tahu aku sedang kesal--kesal karenamu bersamanya, tapi tetap saja kau tak sadar.

"Tuh...sepertinya ada yang sedang kesal." Aprilia melirik ruang sebelah, diikuti oleh pandangan matamu.

"Iya..dia sedang sakit kepala, makanya begitu. Ada apa kau ke ruanganku?"

"Kangen."

Kau menyikut pundaknya dengan gemas. Lalu kalian tertawa bersama. Jujur suara tawa kalian membuatku semakin jengkel.

"Serius dikit Aprilia!"

"Okey...sorry..aku cuma mau kita ketemu nanti sore jam 5 . Soalnya ada yang mau aku sampaikan."

"Oh ya sudah, sekarang saja bicaranya. Aku siap mendengarkan!"

"Tidak! Tidak di sini. Tapi di luar. Aku tak ingin membuat bossmu sakit jantung karena cemburu. Okey?"

"Gimana ya..." 

Kau mendengus lucu sambil menggaruk-garukkan kepalamu yang tak gatal. 

"Okey Bonita ! At five ya! Awas kalau tak datang. Aku akan menculikmu!"

"Terserah kau sajalah!"

"Oke, Aku cabut dulu ya. Mau latihan.." 

(Emoticon senyum)

Sementara itu, keadaanku semakin kacau saja. Aku tak bisa untuk tak memanggilmu segera ke ruanganku agar menjaga jarak dengan si Italia gondrong itu, kalau tidak dia akan mendapat sanksi tegas yang berasal dariku sendiri, bukan dari perusahaan ini atau siapa. Tapi, aku lah yang akan mengekangmu untuk tidak berhubungan lebih intim lagi bersama si Italia itu--bagaimana pun caranya.

"Ruiiiiii!!!!"

"Rui le Noiiiirrrr!!!"

Aku berteriak menyebut namamu dengan suara yang cukup keras. Lantas kau datang terhuyung-huyung menuju mejaku, dengan sikap siap----siap dimarahi maksudnya.

"Maksudku Rui Bellami." Ya-ya-ya, tadi aku menyebutmu dengan sebutan 'noir'--yang berarti sejenis karakter kucing dalam anime dengan sepasang mata hijau yang menawan. Namun tampaknya kau ingin protes waktu aku menyebutmu demikian.

"Bagus! Kau sudah memasang id-card. Oh ya, sayang sekali aku harus menyampaikan berita buruk ini padamu. Malam ini kita harus lembur. Kau ingat kan, banyak sekali yang belum terselesaikan dalam minggu-minggu terakhir. Dan ditambah dengan masuknya pemain cadangan selain pemain inti. Jadi apa boleh buat, kita harus kerja lembur malam ini. Dan...kau bisa mulai dengan packing-packing kardus di sebelah sana. Okey, ada pertanyaan?"

Kau diam saja, meski dapat kulihat jelas bahwa sebenarnya kau sangat keberatan. Tapi aku juga tak mau menawarkan keringanan padamu--karena aku takut jika kuberikan ijin kau pulang cepat, bisa-bisa aku memberi Aprilia kesempatan untuk berduaan denganmu.

"Ya sudah, kau bisa kembali!"

Kau pun pamit dan meninggalkanku dengan suara langkah kakimu yang terdengar lelah. Aku menghembuskan napasku panjang-panjang. Berharap supaya kau bisa tahan terhadap orang egois macam aku.

*****
J.e.n.d.e.l.a
6

Putusan asosiasi sudah keluar. Aprilia tidak boleh memperkuat skuad timnas kami. Dia juga sudah mendapat lisensi dari negara asalnya--di Italia sana untuk mengisi kekosongan pemain sayap setelah sempat vakum tanpanya selama ini. Hah! Memang pada akhirnya dia harus kembali, jika tidak ingin ada tindakan dari masing-masing kubu. Negara kami dan negara dia. Yah, sudah keputusan terbaik, jadi terima saja. Toh, dia juga akan jadi pahlawan karena sudah memegang posisi yang tepat. Membela negaranya sendiri. Dan bukan negara kami tercinta. Kurasa dia akan berjaya jika memang berada di sana. Dia tak akan merasa rikuh pada siapa-siapa. Dan tentu saja, semua pendukungnya akan mengelu-elukannya sebagai 'Magnificio Aprilia'.

Mungkin bisa dibilang aku sangat gembira dengan adanya berita ini. Karena satu hal--yaitu kepindahannya akan menjadi penentu kelanjutan kisah asmaraku denganmu yang sempat tersendat karena adanya penyihir abu-abu itu. Oh yes! Aku tak bisa sekedar mengucapkan kata ini karena saking gembiranya. Paling tidak aku harus merayakannya dengan satu sloki sampanye atau gin--merayakan kemenanganku atasmu. Atas segala jerih payahku--berdoa pada Tuhan untuk mencegahmu coba-coba dekat dengan Apriliamu tersayang. Berdoa dengan sepenuh hatiku agar aku diberi kesempatan untuk coba-coba mendekatimu. Pokoknya aku harus bisa mengisi kesempatan dalam kesempitan ini dengan sebaik-baiknya. Dengan seluruh kekuatanku agar aku bisa mengenalmu lebih jauh. Begitu pula sebaliknya. Kita bisa sekali-kali berteman atau sekedar minum kopi atau...ya Tuhan aku ingin sekali mengajakmu makan malam. Tentu makan malam dengan suasana yang cukup romantis, dengan iringan musik bernada lembut---denting piano, gesekan biola, dan juga menu Eropa lengkap. Lalu busana yang indah pastinya. Kubayangkan kau berdandan khusus untukku dengan gaun malam tipis yang memperlihatkan tubuh petitemu. Pinggulmu yang mungil, torso kecil, wajah bulat penuh senyuman, dan kaki yang pendek namun terlihat proposional. Kubayangkan moment itu dengan hati berdebar, tatkala aku menunggumu dari balik limusin kebesaran yang akan kita bawa ke suatu tempat. Sayang sekali aku tak punya limusin. Aku hanya punya kaki dan setiap hari kau tahu lah aku pergi ke kantor dengan apa? Dengan bus. Seperti kau. Dan juga Aprilia. Tapi makan malam? Kurasa itu terlalu cepat. Aku tidak bisa tergesa-gesa begitu. Aku harus benar-benar matang lahir batin. Aku harus mempersiapkan segalanya--semua yang mengantarkanku pada sebuah hubungan spesial--antara aku dan kau.

Jadi aku harus mulai dari mana? Aku coba berpikir keras dan mengingat-ngingat sebuah acara di televisi berjudul "Blind Date". Ah...tidak..tidak. Aku harus pelan-pelan. Kenapa berpikir untuk mengajakmu makan malam terus sih? Tidakkah nanti kau malah bertanya-tanya : "Kenapa si monster ini tiba-tiba mengajakku makan malam?" Tidak boleh. Aku harus mulai dari sesuatu yang kecil dulu. Sesuatu yang kecil tapi mengesankan. Sesuatu yang sekelebatan--tapi berlangsung memorable dan tak dapat kau lupakan seumur hidupmu. Tapi apa? Aku berpikir keras. Aha!!! Aku tahu sekarang!! Aku girang setengah mati. Hampir saja aku loncat dari tempat dudukku dan berkata keras-keras.

Kupastikan keberadaanmu lewat jendela--seperti biasa. Dan, ugh! Sial...kau tak kudapatkan berada di ruang kerjamu. Sepertinya kau sudah pulang dan tanpa sadar aku telah mengacuhkan langkah kakimu yang sengaja kau pelankan sedemikian halus--sengaja untuk mengelabuhiku agar tidak diajak lembur lagi. Tentu saja. Kau pasti marah sekali padaku karena aku tak memberimu satu kesempatanpun untuk memberi ciuman terakhir pada kekasihmu sebelum ia take off ke Italia. Dan kau pasti merasa jengkel sekali atas ulahku yang menyeretmu dalam urusan kerja kemarin malam--hingga kau kehilangan kesempatan untuk sekedar memandang punggung kekasihmu tercinta--meski cuma sebentar saja. Yah, katakanlah aku sangat keterlaluan dan tidak mengerti perasaanmu. Tapi memang iya sih, jujur saja begitu.

Tapi biarlah. Aku memang sengaja memisahkanmu dengannya. Aku memang sudah bertekad bulat untuk menjauhkanmu dari pelukannya. Aku memang berdoa habis-habisan untuk mencoba mengusirnya dari kehidupanmu meski dengan cara yang tak langsung, tetapi lewat tangan Tuhan--semua bisa terjadi.

Dan semua ini harus kusyukuri dengan cara aku akan mulai dengan mengejarmu. Seperti yang Aprilia dulu lakukan. Aku akan mencoba untuk pertama-tama berbaikan denganmu. Lalu setelah itu pendekatan dan seterusnya dan seterusnya. Terserah skenario Tuhan bagaimana--semoga aku selalu dimudahkan jalannya untuk mendapatkanmu.

Kembali ke yang tadi. Tapi kau sudah pulang ya? Aku tidak tahu rumahmu dimana. Aku kan tidak pernah melihatmu sampai rumah. Aku cuma pernah memergokimu bersama Aprilia untuk pulang ke rumah. Ah, kenapa aku selalu teringat pada Aprilia sih. Bukankah aku sangat membencinya? Kenapa sih dia selalu saja membuatku takut, jangan-jangan kau sudah menikah dengannya?

"Aaakkkh!!" Kubuang prasangka buruk ini dari dalam benakku. Apa yang harus aku lakukan sekarang adalah bukan untuk mengurusi Aprilia melulu. Tetapi mencari alamatmu--yang semoga saja bukan rumah Aprilia juga. 

Aku ingat, semua alamat dan data karyawan pasti tertulis dalam server kantor. Kenapa aku berpikir lemot begini ya. Mungkin aku sudah tidak sabar untuk segera menerormu dan mencoba-coba untuk segera menjalin hubungan baru. Ah...manis betul kalau dipikir-pikir.

Aku mengobrak-abrik isi komputer. Dan file berjudul 'Data Karyawan' pun kutemukan. Ya-ya-ya. Ini mudah sekali. Tinggal click...lalu tulis di bagian pencarian. Emmm...Rui...Rui Bellami...Click lagi. Dan...right.  Aku memang pintar. Tidak sia-sia aku hidup di dunia ini.

Aku berlari dari tangga atas menuju ke lantai bawah. Oh...pasti aku tak kepikiran untuk menggunakan lift saja demi bisa menemukan rumahmu dengan cepat. Rumah yang selama ini kau tinggali--tentu saja dengan harapan itu hanya rumahmu sendiri--bukan rumah yang kau bangun bersama Aprilia dalam hidup berumah tangga. Semoga saja waktu itu kalian pulang berdua hanya karena searah saja atau maybe bertetanggaan. Tidak lebih. Bukan pulang ke satu rumah yang sama yang kalian tempati berdua. Oh...semoga saja. Amien!

Dengan nafas tersengal-sengal, akhirnya aku sampai ke lantai dasar. Kulihat kantor masih terang-benderang dan security yang berjaga di depan pintu terus mengekori langkahku. Mulutnya juga melompong. Apa aku sudah menghipnotisnya? Hmmm, apa peduliku. Sekarang aku musti bergerak cepat demi mengejar malam. Dan supaya ketika aku sudah mencapai pagar rumahmu, aku tak dikira terlalu mengganggu. Ya, semoga saja kau tak berkata dalam hati bahwa : "Aku adalah seorang lelaki kurang ajar yang datang ke rumah cewek di jam-jam begini." Oh sial!!!! Jam sudah menunjukkan pukul 23.00 malam kurang 3 menit lagi. Bisakah aku segera mendapatkan sebuah bus di malam yang sudah selarut ini?

Sebuah bus tua nyaris kosong datang mendekat. Syukurlah! Aku masih diperkenankan Tuhan untuk bertemu denganmu. Aku segera mencari tempat duduk paling nyaman--yang bisa membuatku mengingat-ingat dimana letak rumahmu. Aku duduk di buritan bus--tepat di samping jendela yang kacanya keruh menghadap keluar--satu hal yang memvalidasi bahwa bus ini benar-benar sudah tua. Dan bus ini pun sudah langka penumpang. Tentu saja, karena ini sudah hampir pukul 24.00 waktu Jerman. 

Hawa dingin kering merayapi kedua telapak tanganku. Membuatku tak berhenti menggosok-gosokkan permukaannya satu sama lain supaya mendapatkan kehangatan dari sisa panas tubuh. Mataku terus memandangi jendela. Kuhayati betul suasana di luar sana begitu melodramatis. Sinar lampu yang kekuning-kuningan di tepi jalan berubah menjadi deretan lonjong kelap-kelip yang bergandengan tangan seolah berkejaran. Pepohonan juga menari dengan indahnya. Kanopinya yang lebar seakan menimbulkan bunyi-bunyian yang bergemerasak karena angin, nyaris terdengar seperti koor. Sementara klakson mobil yang menyalak-nyalak di luar sana bagaikan anjing harder membuat perasaanku tak tentu arah. Antara deg-degan, tapi juga takut. Apa semua ini karena terpengaruh cuaca ya? Ya, cuaca memang sedikit agak lembab. Jadi secara tidak langsung mempengaruhi suasana di dalam bus. Apalagi bus yang kutumpangi juga sudah tua. Aromanya lain. Apek dan berdebu di sana-sini. Interior dan penempatan bangkunya lumayan mengerikan. Warnanya juga sudah pudar. Sarung joknya banyak yang robek dan menjadi tempat persembunyian paling nyaman bagi sekumpulan kecoak. Tidak ada kondektur yang menanyaiku karcis. Jadi nanti bayarnya langsung saja pada sopirnya. Aneh. Aku seperti berada dalam dimensi lain saja. Tapi sudahlah......aku fokuskan pikiranku kembali pada suasana hatiku saat ini sambil mengingat-ingat alamat rumahmu : Jalan Klinsman kavaleri 6, dekat Gereja Santo Paulus sebelah stadion tua di Hannover. Sementara bus terus melaju lembut diantara sisa-sisa hujan hari ini yang sudah menjelma menjadi gerimis.

***

J.e.n.d.e.l.a
7

Kau bergumam lirih sambil menatap jendela rumahmu dengan mata nanar. Seekor kupu-kupu kecil bersayap biru menabrak-nabrakkan diri di permukaannya. Lantas kau terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu. Kau melihat ke arah jam. Sudah pukul 24.00 lebih 8 menit. "Mau ada tamukah?"

***

L.a.n.g.i.t
5

Bus menurunkanku dekat mulut Jalan Klinsmann dan segera berlalu. Petir berkelebat diikuti oleh sodetan putih berpola zig-zag, mirip ranting-ranting pohon yang telah mengering. Suaranya menyentak, menggelegar semaunya. Mendung tebal berarak siap menumpahkan isinya kembali. Sepertinya akan lebih deras dari yang tadi. Sementara, angin dingin berhembus kencang menerbangkan daun-daun di jalanan. Membentuk gunungan-gunungan oranye segitiga. Aku memacu langkah, menyeret sejumput harapan yang telah kupupuk sekian lama supaya bisa segera kuutarakan padamu sesampainya di muka rumah.

Tapi, belumlah sempat aku tiba di TKP. Aku sudah mendapatkan masalah baru. Di muka gerbang perumahan ini, tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara derai tawa seorang bedebah tengik yang tengah minum-minum. Dia mendekatiku. Oh shiiiiit !!!!! Kurasa aku bakal dikerjainya.

"Hallo Tampan! Mau kemana malam-malam?!! HAHHH?!!! Sini, come to Papa!!!"

Aku mundur selangkah. Di sekitar mulutnya keluar aroma kecut bir merek murah yang belum sekalipun pernah aku tenggak. Badannya bungkuk dibalut jaket yang tidak dikancing dengan bawahan celana jeans belel yang berlubang pada bagian lutut. Matanya berair, hidungnya bengkok mirip paruh burung betet, sementara seringainya menampakkan deretan gigi kuning--besar-besar mirip biji jagung walaupun susunannya rapi. Sebenarnya aku tidak bisa mengira-ngira bagaimana tampangnya karena separuh wajahnya ditutupi oleh rambutnya yang gondrong tidak disisir.

"Eiittt!!! Sini kau pirang tampan!!! Jangan takut! Aku cuma minta uang sedikit saja. Boleh kan?!!! Ayo mana uangnya?!!!!" Dia mendorongku hingga aku jatuh terjerembab. Bajukupun nyaris lecek dibuatnya. Sementara celanaku sudah basah berkubang lumpur. Aku mulai gusar.

"Aku tak punya uang, minggir kau!" Usirku saat dia mulai mendekati mukaku. 

"Ayolah, jangan bohong!!! Kau tak punya uang???!!! Tidak  mungkin!!! Kau orang kaya. Bajumu saja jas. Pasti kau punya banyak uang! Cepat serahkan padaku!!! Atau aku yang akan ambil sendiri???!"

"Sudah kubilang, aku tak punya uang," aku mulai bangkit dan  mencoba menghindarinya. Tapi ia tak kalah gesit dengan langkahku. Dia menubrukku sambil mengacung-acungkan botol birnya ke udara. Aku siap-siap berlari.

"Berhenti!!! Orang kaya sialan!! Aku minta uang saja apa kau keberatan, haaaah ?!!!! Apa kau minta nyawamu saja yang kulenyapkan!!! Sini kalau tak takut! Maju kau, Brengsek!!" 

Aku terus berlari tapi dia juga mengejarku dan mengacung-acungkan botol birnya ke arahku. Lalu...

"PRAAAAANKKK!!!" Botol itu jatuh di sekitar pelipis kananku. Aku kembali jatuh terduduk. Dia pun segera sibuk menggeledah bajuku mencari uang yang ia maksud. 

"Aaaarrgggh!!!!" Aku menahan sakit. Aku mencoba mengusirnya dari hadapanku. Tapi dia acuh saja. Dia terus merogoh saku jasku dan ...yang dia temukan hanya satu botol kecil aspirin--obat migrain yang kau pinjamkan tempo hari.

"Setaaaaaan!!! Orang miskin kau ternyata! Brengsek!!!"

"PRAAAKKK!!" Dia lalu menginjak aspirinmu hingga hancur remuk berbalut tanah. Sementara gerimis makin menjadi. Preman itu pergi dan meninggalkanku yang tengah terkapar.

****
J.e.n.d.e.l.a
8

Aku merangkak kesakitan sambil memunguti sisa-sisa harapan yang ada. Darah segar mengucur deras di area pelipis dan aku menahan rasa sakit ini dengan mencoba menutupinya dengan sebelah tanganku. Oh damn!!!! Rasanya perih bukan main apalagi ditambah dengan siraman air hujan yang kian membuat pandanganku kabur. Kurasa, aku tak sanggup lagi jika harus melangkah beberapa meter hingga menyentuh rumahmu. Aku sudah terlalu pusing. Kesadaranku mulai tumbang. Aku roboh di dekat pintu kaca sebuah wartel. Yah, bagaimana kalau aku meneleponmu saja?

"Tuuut tuuut tuuuuuuttt!!!"

Please angkat teleponnya Rui, please !!

"Tuuut tuuut tuuuuuuttt!!!"

Setelah sekian menit menunggu akhirnya..

"Hallo, dengan siapa saya bicara? Ini kediaman Rui."

"Emmm...ini aku...aku....aku butuh bantuanmu sekarang. I've got some trouble near your house, please...come here now!!!" 

"Astaga!!! Andakah itu Pak...??? Aku akan segera ke sana! Wait a minute! Okey?! Just still down!"

"Tuuut tuuut tuuuuuuttt!!!"

Telepon ditutup. Mungkin sekarang kau sedang berlari menuju ke sini. Suaramu barusan terdengar cukup panik. Apa aku bermimpi? Ah...tidak..tidak!! Kurasa aku memang tidak sedang tidur. Yah, barusan, aku mendengarmu mencoba untuk mengkhawatirkan aku. Tapi......apa kau sadar bahwa yang menelponmu barusan adalah aku? Dan kau tidak bertanya dimana posisiku? Heran saja. Padahal tadi aku tak menyebutkan siapa namaku dan dimana aku sekarang. Apa kau langsung bisa mengenali suaraku? Apa kau bisa langsung tahu dimana aku sekarang? Lalu...sebenarnya aku ini siapa di matamu? Apakah aku termasuk orang yang cukup penting? Ah...........atau aku yang terlalu berlebihan? Merasa kau memperhatikanku terlalu jauh.

Ya, mungkin aku harus belajar banyak hal dalam menyelami perasaan perempuan. Terutama untuk perempuan aneh macam kau. Yang tentunya sangat berbeda dari semua perempuan yang pernah kukenal.

***

"Oh !!! Lord....Andakah itu Pak?"

Tiba-tiba kudengar suaramu yang jernih menembus bunyi hujan. Dalam sepersekian detik, kau lantas berlari kecil menuju tempat dimana aku tengah bergulat melawan rasa sakit di sekitar pelipisku. Kau berdiri mendekatiku dan kau tinggalkan payung pinkmu di antara genangan air.

"Astaga...kenapa Anda bisa seperti ini Pak?" Kau bicara dengan setengah memekik. Kurasakan debaran jantungku semakin kuat berpacu. Kuakui aku sangat gembira. Andai ini terjadi dulu-dulu. Mungkin aku bisa mendahului Aprilia. 

"Kau lihat....betapa sialnya aku berada di tempat ini. Seseorang sudah menghancurkan niatan baikku. Aku...minta maaf. Aku sudah merusak barangmu. Lihat!" Kau mengikuti arah pandangku ke luar wartel. Ya, sesuatu yang membuatku seperti seorang tolol yang mau jadi Romeo kesiangan di zaman yang sudah serba mesin begini. Kau lantas tertawa geli. Entah apa maksudnya. Tapi, sumpah baru kali ini aku melihatmu tersenyum langsung di depanku. Bukan di depan Aprilia. Atau bukan ekspresi kesal yang biasa kau tunjukkan padaku selalu.

"Anda serius? Benda itu? Astaga, maaf bukannya saya lancang. Tapi Anda tidak perlu jauh-jauh dan melawan malam sebegini larutnya hanya untuk benda sekecil ini Pak, ini kan obat yang kemarin saya pinjamkan itu bukan?"

Aku melongo. Aku tak percaya. Kita bisa bicara seringan ini diantara hujan petir di sebuah kotak kaca bernama wartel. Sungguh seperti sebuah ilusi. Dan pada akhirnya, kau mengundangku singgah ke bilik mungilmu di seberang selatan gerbang diantara cemara yang menjulang.

Kami melangkah berbarengan dengan kecipak hujan di antara kaki-kaki kami, sesekali mata kami pun beradu. Lalu kau tiba-tiba memberikan tanganmu untuk membantuku berjalan. Ya, lumayan romantis juga untuk satu kali dalam sejarah. Bisa beriringan di balik payung pinkmu yang lucu ini--bersamamu. Tuhan. Thank's atas segalanya....

***
J.e.n.d.e.l.a
9

"Mau teh?"

"E...aku mau tequila saja. Kalau ada tapi.."

"Baiklah. Tunggu sebentar."

Kaupun bangkit meninggalkanku di sofa tempat biasa kau duduk. Aku tersenyum manis ke arahmu. Semoga senyumku tidak kau pandang sebelah mata dan lebih parahnya lagi kau menudingku sebagai lelaki paling gila seantero jagad karena baru kali ini ada orang yang sebegitu ngebetnya mengembalikan aspirin di tengah hujan lebat dan ancaman preman yang setiap saat bisa menghilangkan nyawa. Jujur ini baru pertama kalinya aku berbuat senekad ini. Untung kau masih berbaik hati padaku dan mencoba merawatku dengan sentuhan hangatmu. Ya, sekarang pelipisku telah kau balut dengan segulung perban dan membuatku terlihat seperti mummy.

"Apa aku merepotkan?" Aku berteriak hingga suaraku menembus dinding dapurmu. Kau pun menyahut dengan nada yang sama.

"Sama sekali tidak. Ini suguhan khusus untuk atasan saya." sahutmu ringan.

Aku terkekeh. Kulihat kau dari kejauhan membawa nampan berisi 2 gelas piala dan 1 botol tequila tahun lama, tahun-tahun 1970-an. Ah...nikmat sekali.

"Thank's...aku tidak menyangka..kau punya jiwa yang sangat besar dan masih mau beramah-tamah dengan orang buruk sepertiku".

Kau menuang gelasku dengan seperempat tequila. Tercium olehku bau alkohol yang menusuk-nusuk membuatku ingin bersin. Lalu kau tersenyum hangat.

"Saya yang seharusnya berterima kasih. Anda membuat saya tidak kesepian lagi Pak. Ternyata.....saya sudah menduganya, bahwa akan ada tamu malam ini, Dan ternyata benar. Kupu-kupu dari langit itu Anda Pak. Tuhan mendatangkan Anda untuk saya hari ini.... eh.... untuk selanjutnya, bolehkan saya...ehmm maksudku aku ingin memanggilmu dengan nama saja...?"

Aku tercengang sekian detik. Benar-benar tercengang rasanya. Barusan kalimat yang kau ucapkan itu hampir mirip dengan apa yang ada dalam pikiranku saat ini. Ya segala hal tentang kupu-kupu dan pertanda akan datangnya tamu. Dan tadi kau mengajakku apa? Kau mencoba untuk menjalin pertemanankah denganku? Ya... karena kau ingin memastikan diri bahwa kau ingin memanggil namaku tanpa embel-embel 'Pak'. Dan itu membuat tampangku terlihat sedikit agak shocked. Baru kali ini ada orang yang mencoba berakrab-akrab ria denganku tanpa mengindahkan segala atribut antara atasan dan bawahan. Hmmm... aku harus gembira, bingung, atau apa nih?

"Jadi siapa namamu?" tanyamu memecah keheningan yang tercipta sesaat.

Aku menghembuskan nafas berat.

"Sudah setengah bulan bekerja, kau tak tahu siapa namaku?" Aku mengambil gelasku dan meminumnya sedikit demi sedikit.

Kau mengangguk lucu.

"Dan sudah setengah bulan, kau memandangku dengan sorot mata tajam. Mana berani aku melihat id-cardmu." Lalu kau menoleh ke arah dadaku. Kau tertawa kecil. Begitu pula aku.

"Bercanda. Tentu saja aku tahu namamu..."

(emoticon senyum)

"Tim...Tim Luther. Boleh aku memanggilmu dengan sebutan Tim saja?" tanyamu memastikan sekali lagi.

Aku pun mengelus rambutmu dengan gemas.

"Baru kali ini ada seorang bawahan yang tidak sopan padaku, Noir.."

"Hahahha...", kami tertawa bersama.

Aneh. Ini adalah malam teraneh selama hidupku. Mengapa aku baru tahu bahwa kau begitu baik dan bersikap hangat setelah sekian lama aku menjalin hubungan buruk denganmu. Sampai akhirnya kami berkencan.

Bersambung....

Note : Semua nama tokoh, tempat, lembaga, peristiwa yang ada dalam cerpen ini hanyalah fiktif belaka. Adapun jika ada yang menyerupai berarti tidak ada unsur kesengajaan.






32 komentar:

  1. Oh namanya si aku itu Tim Luther, kirain aku namanya Tim bul, eh itu mah nama pelawak Srimulat ya.😂

    Kini mulai sedikit terkuak para pemerannya, kalo Tim sepertinya manager timnas Jerman ya? Dan Rui jadi bawahannya.

    Oh ya, Tim sepertinya punya kekuatan khusus bisa menerbangkan kupu kupu dan melihat apa yang dilihat kupu kupu itu. Enak juga dong, Tim bisa mengintip strategi tim sepakbola lain dengan menyuruh kupu kupu nya ke markas lawan, daripada ngintipin Rui terus.😂

    Ditunggu lanjutannya ya mbak.😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. jyaaaah...
      jangan dilawakin dong mas tim ini kan orangnya cool hahhaha

      kagak mau bahas teknikal sepak bolanya mas, mumet, tar dikomplen lagi hhahaha.. itu mah cuma buat background kerjaan tokohnya aja hahha

      ya kayak biasanya paling bahas percintaannya aja #tsailah 🤭🤭😂

      Hapus
    2. Ya ga apa-apa bahas masalah percintaan nya, tapi kok Tim sepertinya galau mau umur kepala empat masih jomblo padahal banyak juga kok yang kawin umur 20an disini ya bahkan yang 17 tahun juga ada eh...😁

      Sepertinya Tim ini memang dekat dekat dengan kas ya makanya jadi cool kas.😂

      Btw, udah dipinjamin novel Eny nya kang satria belum buat adegan percintaannya? 🤣

      Hapus
    3. Komplain dikit ahh timnas ngga mengikuti kualifikasi liga Eropa, liga Eropa kan kompetisi buat club-club Eropa.

      Kaburrrrr sebelum dilempar lemari.. wkwkwk

      Hapus
    4. Sudah sedikit ketebak alur ceritanya, kalau ngga meleset si Tim ini bakalan bersaing sama si Aprilia untuk mendapatkan Rui.

      Hapus
    5. uda aku edit jadi kualifikasi puala dunia aja biar tetep ada kata timnasnya 😋😋😋

      Hapus
    6. mas kal el, bener bangatts...100 buat mas kal el, ntar sepedanya bisa diambil 😂😂

      Hapus
    7. wakakka, mas agus suwek memang, tapi doi masih 30 an pertengahan deng kagak mepet mau 40 tahun, ya kayak sepantaran mas agus keknya yekan

      ow, bukannya yang koleksi majalah si mastah enny sampeyan mas, pinjem dunk buat tambah kosa kata 😱😱🤣🤣🤣🤣

      Hapus
    8. Betul itu itu Nite Biasa si Agus mah dia lempar batu sembunyi cawet..

      Hapus
    9. Kenapa bukan piala Eropa aja, apa karena piala Eropa diundur makanya pakai piala dunia?

      Kenapa komentar kedua saya ada di kolom balasan komentar mas Agus juga perasaan saya nulisnya bukan dibalasan komentar mas Agus?

      Hapus
    10. kang satria : wakakak...astagfirulloh jadi nyebut aku hahha

      Hapus
    11. mas kal el : ngetiknya ga sadar kali masuk kolom komentarnya mas agus
      klo gitu hayu atuh ulangi komen di bawah, biar komen gw nambah banyak #etdah wakkakakak

      Hapus
    12. mas kal el : keknya aku kalau bagian bolanya kudu konsultasi khusus ni ma mas kal el 😂😂😄
      btw mas kal el : soalnya aku ada kata kunci timnasnya sih yang bikin riweh ketika disambungkan ama dibalikinnya si paijo aprilia ke itali gegara dia bukan warga jerman hoho

      tapi part 5 aku ada mbahas bursa trasfer...kira-kira klo di part 5 jadinya mbahas club bukan timnas dan piala dunia lagi yang pembahasannya uda distop pas part 4 ini begimana yaaah....maksudnya yang part mendatang karena aku mau bahas bursa transfer buat club make sense ga ya kira kira setelah part sebelumnya ngomongin timnas mau ubah haluan hahahha #puyeng puyeng deh gw...

      Hapus
  2. Apakah akan ada cinta antara Aprillia dan Rui...Apa hubungan Rui dengan si anu.😲😲 Apakah mungkin juga si Anu ternyata Anu..🤣 🤣

    Apakah karena Aprillia pula Rui bisa bergelut dalam dunia Club Bola.😲 Nggak tahu?? Lalu mungkinkah Rui bisa mengunggkap tabir ayahnya yang kini telah tiada?

    Tunggu komentar saya lagi besok yaa.😂😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. tumben pake saya saya kang?

      wanjiiirrrr kenapa jadi anu anu...hahhahahha

      mungkin saja kang, siapa tahu kang satria yang menyembunyikan ayah rui 🤣🤣

      asiyaaaaappp...ntar aku tapa dulu bikin cerbung atunya yang ga kalah sensesyenal karena tokohnya pada ghibah di sini mua hahah

      Hapus
    2. Mingkinkah Aprillia berharap untuk mendapatkan cinta Rui...??

      Atau mungkin karena Aprillia pula tabir kehidupan Rui bisa terungkap.

      Apakah salamanya Rui akan bergelut terus dalam sebuah club bola bersama Aprillia...Kita lihat saja ke Part 5 nanti.😊😊

      Hapus
    3. kang kang...sebenernya tokoh utamanya itu luther kang

      aprilia itu antagonis cowonya huahahhahahhaa


      tapi sifatnya emang banyak jelekan si protagonisnya sih 😆😆

      Hapus
    4. Jadi sedikit ketebak cerita selanjutnya. Sepertinya karakter Si Aprilia ini Serigala berbulu manusia ya Mba ?? Hmm... 😁

      Hapus
    5. hihiii lanjutanya uda aku post mba rin 😜😝😆

      Hapus
    6. tapi ga serigala berbulu domba juga deng mba rin 😝😝

      Hapus
  3. wah si tim kesanya jadi penguntit dan perusak hubungan orang lain ya, jujur gw mendukung hubungan rui sama aprilia aja.. tapi kalo gw ada di posisi tim ya apa boleh buat :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sengaja nif sekali kali kukasih pemeran utama cowoknya yang agak agak ngedark dan sedikit jahat sifatnya, xixixi

      Hahhaha, pernah ngalamin ga posisi kayak si Tim begini nif?

      Hapus
  4. haha belum pernah, gw kalo kenal cwe tau dia udah punya gandengan gw langsur mundur, meski ada yg bilang sebelum janur kuning melengkung, tapi tetap aja takut karma :D

    BalasHapus
  5. Always good as I read it.. Lanjutkan mba.
    Tim ini kharismatik orangnya, walaupun sedikit posesif dan overprotektif. Tapi juga romantis karena berjuang buat ngnterin obat aspirin tengah malem sampai dihadang preman.
    Malem2 dingin, habis berantem. ditolongn cewe cantik. minum tequila tahun 1970.. mantepp banget itu, walaupun saya belum pernah nyoba minum rasanya gimna.. wkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. huaaaa
      makasih mas bayu...gw jadi semangat hihi

      correct mas, emang begitulah karakter yang mau aku bawa ke si tokoh utama cowoknya aka tim ini
      dia jutek, dingin, kaku, posesif cenderung obsesed, tapi aslinya setia dan sweet banget ama orang yang uda mengisi hatinya saat pandangan pertama...hasyikkk hahhahaha


      siyaaaaappp, gaskeun tekan part 5 ntar :D

      Hapus
  6. Si Tim ini sebenernya karakter cowok idaman wanita, yang berjuang dan gak gampang ngungkapin. Hawa-hawa romansa udah kerasa semakin pekat, tinggal nunggu part-part nya yang ehem ehem aja, semoga gak banyak anu-anu kayak yang Mas Satria bilang 😂, pembaca disini kan masih abege semua (setengah abad yang lalu) 😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihi tau aja mba rin, emang paling peka dah kalau uda baca fiksi, sukaaak deh aku hahahah

      jadi pengen malu, nganu mba rin,...adegan romancenya kubikin sealus mungkin 😆😆😆😂🤣

      Hapus
  7. Ini boleh saya kritik atau komentar sejujurnya dari pandangan saya? Tapi bertanya begitu kayaknya enggak perlu. Kolom komentar jelas tersedia. Toh, Mbak Nita juga pernah beberapa kali kasih penilaian untuk tulisan saya di blog.

    Jika saya memosisikan diri sebagai orang asing, bukan kenal sama Mbak Nita, saya yakin, saya enggak akan melanjutkan baca cerpen ini sehabis melahap bagian 1. Terlepas dari urusan tata bahasa yang enggak ingin saya bahas, bagian satunya itu enggak menawarkan rasa ingin tahu buat dibaca lebih lanjut. Gaya penuturannya juga gimana ya, kurang mengalir. Bikin tersendat.

    Namun, saya menyimpan perasaan itu karena kita kenal sebagai teman bloger. Setelah baca bagian dua, saya kaget. Penuturannya jelas beda banget. Lebih menarik diikuti. Jadinya 'jomplang' gitu. Anggaplah ini pujian karena bisa mengubah penilaian saya sebelumnya.

    Setelah baca sampai bagian 4 ini, saya cuma bisa bertanya, apakah penuturan di bagian 1 sengaja dibuat begitu? Biar beda jauh dengan sudut pandang si 'aku', cowok dingin dan sok galak (yang mungkin sebenarnya baik dan setia sama satu cewek) ini?

    Saya juga masih payah sih dalam menciptakan suara karakter yang berbeda, tapi menurut saya penuturan bagian satunya sulit dimaklumi aja kalau niatnya untuk pembeda. Apalagi dialog anak kecil bernama Rui yang panjang banget dan terasa kurang efektif kan mestinya bisa disiasati dengan narasi.

    Saya belum tahu ini cerita mau dibawa ke mana, akan sampai bab berapa. Masukan saya sih: mungkin kalau nanti membuat cerbung sejenis ini lagi, urutan babnya bisa diubah, dari masa dewasanya dulu, baru kilas balik ke masa kecil. Memainkan alur cerita. Maju-mundur. Enggak cuma bergerak maju. Karena buat saya masa kecil Rui benar-benar belum terlihat berguna selain cuma mengenalkan dia suka sepak bola. Okelah ada bagian dia kesepian karena bapaknya sibuk, terus di bagian 2-4 kayaknya enggak muncul lagi itu bapak. Cuma tiba-tiba nyambung bagian satunya dengan ketemu Aprilia. Cowok yang dicemburui si protagonis.

    Sori jadi panjang dan kayak mengulas serius, Mbak. Bisa dibilang ini hasil rangkuman dari pembacaan cerpen 4 bagian ini. Kalau Mbak keberatan, komentar ini dihapus juga enggak apa-apa.

    Saya sadar diri belum jago juga dalam bikin cerpen. Seperti yang pernah Mbak bilang, kualitas dan tema cerita saya pun masih sebatas ala-ala cerita majalah remaja. Sampai sekarang mungkin masih begitu. Tapi mengkritik setahu saya enggak ada hubungannya dengan saya harus mampu bikin yang lebih oke.

    Saya sih hanya berusaha mengapresiasi cerita yang telah Mbak buat dengan memberi penilaian sejujurnya, bukan kepalsuan. Dengan ini semoga ke depannya bisa menyuguhkan yang lebih oke.

    Sekian dan terima kasih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. boleh banget dong yoga 😆😁😀

      masa kasih komentar jujur ga boleh hahha, justru dengan adanya kritik dan saran dari lu, gw malah jadi sangat terapresiasi karena ternyata ada yang mengomentari dengan serius :D

      gw malah terima kasih banget yog...sejujurnya apa yang lu tuturkan ini memang benar adanya. Gw pernah merasakan keresahan tatkala melakukan proses kreatif di balik layar bikin cerita ini ketika sampai di bagian bagaimana cara gw menuliskan latar belakang tokoh utamanya---kenapa sampai bisa seperti itu.... dan memang bener, di part 1 inilah gw merasa paling ogah-ogahan ngegarapnya yang mana pada kenyataannya, nulisnya pas keseluruhan cerita udah kubikin tamat, dan part 1 nya ini baru gw tulis pas bagian akhir.. awal nulis justru gw di bab tengah, baru abis itu pernah ada dalam posisi puyeng ketika mau kasih latar belakang tokoh utamanya kenapa bisa jadi seperti itu..maka lahirlah part 1 itu yang gw akui kayak asal asalan, dan sometimes pas nulisinnya dulu pernah bikin gw galau pengen ngebuangnya karena kalau dihubung hubungkan ke part part lainnya bisa jadi pengacau cerita..hiks..

      tapi makasih banget yoga, gw malah jadi semangat gini kalau dikasih komentar yang penuh dengan kritik dan saran yang membangun. Seenggaknya ini bisa jadi pelecut semangat gw untuk bikin fiksi-fiksi lain yang jauh lebih tertata lagi, insyaAlloh kalau ada kesempatan mungkin someday bakal gw post di blog juga 😊😊

      Hapus
  8. Aku suka baca kritiknya yoga, dia mah udahlaaah... Cerpen2 yang dibuat, walo ceritanya dark, tapi bisa bikin aku ga brenti baca sebelum selesai.

    Btw nit, cuma agak ganggu yg bagian Rui mau tau siapa nama si bos menyebalkan itu :p. Bukan napa2 ya, aku cuma ngebayangin posisiku waktu msh kerja dulu.

    Seserem-seremnya aku Ama bos ku, tapi kayaknya ga mungkin aku ga tau namanya :D. Pasti udh dikasih tau ntah dari Jobdesk yg diksh, ada nama Bos yg tercantum, ato dari temen2 lain yg pasti pernah ada nyebut nama si bos :D. Cerita ini udah zaman menggunakan internet kah? Krn kalo sudah, email2 kantor yg Rui trima pasti ada dari bos harusnya kan yaaa...

    Bukan kritik dari sisi teknikal penulisan :). Kalo itu aku jg ga terlalu paham. Agak receh sih, cuma sayang aja kalo ada bagian percakapan yg bikin aneh, padahal lain2nya udah baguuus :).

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya begitulah mba fann...keanehan keanehan si rui sang gadis misterius ini nanti akan ada jawabannya di part part akhir..anggaplah ini fiksi jadi segimana pun anehnya bisa aja kejadian huehehe

      tapi dialog terakhir yang tentang nama uda aku edit. Jadinya rui becanda aja pas bilang ga tau namanya :D

      Hapus

Komenin dong...tanpa kehadiran kalian apalah arti aku menulis....
kalian penyemangat setiap bulir kalimat dalam blog ini :*
Namun jangan komentar SARU atau SARA ya, jika ada komentar dengan unsur tersebut, dengan berat hati akan aku HAPUS .

Oh ya, Dilarang juga mengambil gambar/foto atau menyadur tulisan tanpa mencantumkan sumber atau seijin pemiliknya. Apalagi untuk kepentingan komersial atau lomba. Thx ^____^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...