Kamis, 20 Agustus 2020

Kupu-Kupu yang Menabrakkan Sayapnya pada Dinding Jendela (Part 5)


Fiksi

L.I.M.A

Oleh : Gustyanita Pratiwi

Kucuran air cucian pada sink masih menyala. Tak seorang pun berada di dapur. Segalanya nampak begitu berantakan. Seperti sebuah tempat di mana kecoak-kecoak busuk habis berpesta-pora. Apel panggang--sisa tadi malam, jus jeruk yang masih berada dalam jar, koktail berry-berryan yang berwarna gelap, sepanci sekutel ayam jamur dan bistik sapi asli buatanmu. Semuanya masih pada tempat yang sama. Berada di atas meja, persis seperti saat kau tinggalkan tadi malam, tapi kali ini dengan batang-batang lilin yang sudah meleleh.

Semalam kita bertengkar hebat, Rui. Aku ingat betul bahwa kau tinggalkan aku dengan terburu-buru, tepat setelah aku pecahkan salah satu piring porselen kesayangan yang berisi lauk-pauk buatanmu. Sangat menyedihkan karena itu berarti salah satu barang pecah belah di rumah ini berkurang 1---tapi itu tidaklah penting jika dibandingkan dengan kekecewaanmu yang luar biasa hanya karena ucapan-ucapanku yang tak masuk akal.




Saat makan malam itu, semula kau duduk dengan sangat anggun, belagak seperti seorang ibu rumah tangga dengan celemek pita merah jambu yang kau ikatkan pada pinggang kurusmu. Ya, terus terang aku sangat kaget. Saat kubuka pintu rumahku, selotnya tidak terkunci. Tahu-tahu kau sudah muncul dari dalam dan menyambutku dengan senyuman. Senyuman yang kurasa aneh. Tapi tetap saja bisa meluluhlantakkan hati ini. Kau juga ikat rambutmu yang melambai-lambai itu hingga penampilanmu tak ubahnya seorang 'master'. Maka, tak dinyana-nyana lagi, aku langsung menyambut uluran tanganmu yang siap melepaskan lilitan dasiku. Oh, saat itu aku sungguh-sungguh berharap bahwa kau sudah menjadi Nyonya Luther.

Lalu, tepat pukul 21.00 waktu Jerman, kita berhadapan diantara meja dining room yang panjang. Selain bunga yang ada dalam vas kau ganti dengan yang lebih segar, ada juga pajangan lilin yang kau isi semua corongnya dan kau nyalakan sumbunya satu-satu. Dengan cara yang amat kusuka, kau persiapkan segalanya dengan begitu sempurna. Parfait. Sampai aku lupa bahwa pada hari itu sebenarnya kau baru bertandang pertama kali ke rumahku --maksudku baru hari itu kau mulai terlihat intimate dalam hal mengisi kehidupanku di rumah kecil yang kusewa ini. Rumah dengan gaya minimalis cocok untuk pekerja kantoran macam aku yang hidup secara mandiri sejak usia dua puluhan awal. Dan tiba-tiba kau hadir setelah kencan pertama kita waktu itu yang kemudian disambung tadi malam----entah kau dapat kunci darimana, tapi tiba-tiba saja saat aku tiba di  muka rumah, kau sudah menyambutku dengan penuh senyuman.

Tapi apa peduliku? Bukankah itu yang kumau. Sebuah goal yang kuimpi-impikan sejak awal kita bertemu. Kucoba mengakrabimu lewat kesan pertama yang begitu memelowdramakan hati...di bawah payung pink, kau dan aku bersanding di antara kecipak hujan. Itu minggu lalu. Dan sekali lagi, betapa surprisenya aku waktu itu---malam tadi maksudnya, saat kau mulai menjadi pengisi hidupku yang selama ini kupikir begitu membosankan. "Apa aku sedang bermimpi?" Aku bertanya seolah aku mengharapkan jawaban atas pertanyaanku sendiri. 

Kau mulai memasangkan napkin di atas pangkuanmu. Begitu pula aku. Aku mengikuti caramu memasang napkin. Dan itu lebih terlihat seperti acara makan malam romantis yang sering ditayangkan di TV-TV. Jujur selama ini aku blank soal adab sopan santun makan malam. Terutama jika ada seorang wanita cantik di depan mata. Padahal selama meeting dengan kolega, ya biasanya ada juga sih acara makan-makannya. Bedanya memang di situ tidak ada wanita cantik yang aku taksir sedemikian rupa sehingga aku bisa berlaku senorak ini.

Dan sekarang aku pun harus memulainya dengan sebuah percakapan.

"Ini semua...kau sendiri yang masak?" Aku mencoba memberi pertanyaan pembuka yang selanjutnya sudah kusiapkan pujiannya.
"Ya..." Jawabmu pendek. Tapi kau tampak begitu cekatan menata semuanya. Sesuai dengan pakem table manner. Serius. Dan aku cukup ternganga dibuatnya.
"Apa aku tidak tampak seperti seorang perempuan yang pintar memasak?"
"Hmmm....tidak juga sih. Cuma kebetulan kau dengan wajah imutmu itu tampak kurang cocok dengan kata akrab bersahabat dengan dapur dan kawan-kawannya itu."
"Ha...sulit dipercaya ya?"
"Ya, begitulah.....Sulit dipercaya!!"

Kamipun tertawa.

"Yang ini, boleh kucoba?" Aku menunjuk garpuku pada sepiring bistik sapi yang ketebalannya sudah kau atur sedemikian presisi supaya layak disebut sebagai menu bistik. Aroma bakarannya cukup kuat, warnanya cokelat berlumurkan saus mentega, dan jangan lupa--masih mengepulkan asap. Di pinggir-pinggirnya ada sayuran yang tidak hanya berfungsi sebagai garnish tapi juga bisa dimakan sebagai makanan utama. Ada jagung manis pipil, potongan wortel seukuran korek api, baby buncis, dan kentang goreng. Satu set menu ini kau letakkan di atas hot plate.

"Silakan."

Aku tersenyum simpul. Lalu mata hijaumu mengerling padaku. Hmmm...kurasa aku bakal tersedak.

"Bagaimana rasanya?"
"Em......it's good!!" Aku mengunyah potongan daging sapinya dengan penuh penghayatan.

"Ngomong-ngomong, kelihatannya bahan bakunya premium semua ya." Aku berkata dengan cukup hati-hati dan kau membalasku dengan tertawa. 
"Tenang saja, ini semua pakai uangku. Aku tidak mencuri uangmu, okey? Oh ya, sorry, aku masuk ke rumahmu tanpa ijin. Sebenarnya ini kejutan. Kau kemarin menjatuhkan kuncimu sebelum kau meninggalkanku pulang untuk lembur......jadi aku bukan penyusup, okey." Ujarmu lagi.
"Ya, aku percaya padamu, Noir," sahutku.
"Noir? Namaku Rui. Bukan Noir," protesmu.
"Aku suka Noir. Aku merasa aneh dengan nama Rui".

Tunggu......

Rui?

Itu nama dari daerah mana ya?

Apa kau bukan dari Eropa?

"Kau..........bisakah kau ceritakan sesuatu tentangmu...padaku...?"

Dalam sejurus kau langsung menghentikan acara makanmu. Sepertinya ada sesuatu yang tak kausuka dari nada bicaraku. Kau kelihatan agak kurang nyaman.

"Em..itu tidak penting." Kau membetulkan posisi napkinmu seolah kau tak mau aku menanyakannya lagi.
"Kenapa? 
"Tidak............itu bukan apa-apa"
"Tapi Aku perlu itu untuk kita ke depan. Masa depan kita!"
"Tidak....itu tidak penting. Aku tidak tahu bagaimana asal-usulku..."

Aku terhenyak sesaat. Kulihat kau mengubah ekspresimu dengan sangat cepat. Kau menghindari tatapan mataku sekarang.

"Kau tidak tahu asalmu. Apakah kau bercanda?"
"Itu sudah berlalu cukup lama. Dan aku lupa."
"Tapi kenapa? Aku perlu tahu asal-usulmu nanti. Karena aku menginginkanmu untuk menjadi pendampingku. Ini penting Rui. Aku tidak main-main. Aku harus mengetahui masa lalumu. Begitu pula kau. Kau juga perlu tahu masa laluku. Meskipun seburuk-buruknya masa lalu kita, tapi itu membuat kita saling percaya dan menghargai. Apa kau tak berpikir sejauh itu?"
"Aku tidak tertarik dengan pemikiran kolot semacam itu.."

Aku terdiam sejenak. Mencoba mencerna kalimatmu barusan.

"Dengan kata lain kau menolakku?"
"Aku tidak pernah menolakmu. Dan aku tidak pernah bisa menolakmu. Itu yang pernah kau katakan padaku kan?"

Aku melengos. Kenapa dia bisa tahu. Itu kan kata-kata yang hanya pernah aku utarakan dalam hati saja?

"Kalau begitu ceritakan! Okey paling tidak tentang Aprilia. Aku hanya ingin tahu ada hubungan apa antara kau dengannya?" Tiba-tiba aku meninggikan nada suaraku dibandingkan yang tadi. Tapi, tetap saja aku tak melihatmu seperti seorang yang meledak-ledak. Kau malah semakin menunjukkan ekspresi tenang yang tidak pernah kutahu apa maksudnya.

"Aprilia?"
"Ya, orang Italia itu."
"Kau mau tahu, ada apa antara Aku dan Aprilia?"
"Ya, dan sejauh mana kalian berhubungan," ujarku menahan rasa emosi.
"Mmmm...apakah itu penting untuk kau ketahui?"
"Tentu saja. Aku sangat penasaran karena di kantor kulihat kau sering bertemu dengannya," Aku mulai berkata sinis.
"Apakah karena aku sudah datang ke sini tanpa diundang, lantas kau bisa seenaknya menginterogasiku?"
"Kau tinggal menjawab saja Rui. Bukankah itu tidak susah?"
"Baiklah kalau kau sangat menginginkan jawabannya. Mungkin kedekatanku dengan Aprilia sudah sejauh langit tanpa batas. Begitulah kami sebelumnya."
"Kau!!!!!!!!!" Kugebrak meja dengan penuh emosi. 

Aku menghentikan acara makanku. Dan aku mendadak marah sekali. Aku bangkit dari kursiku. Dan...sekali lagi kau masih tetap calm seperti biasa. Entah apa yang membuatmu bisa setenang itu, sementara aku yang sedang berada di depanmu ini sudah menjelma menjadi singa yang siap mengaum.

"Sekarang aku yakin, kau benar-benar tak serius denganku Rui. Kau...kau tak menginginkan hubungan ini kan? Kau hanya mencari pelarian karena Aprilia telah kami degradasi. Dan kau hanya menganggapku sebagai seorang atasan yang tak pantas kau tolak. Kau tak menginginkan aku jadi suamimu. Ya.....itulah faktanya!!!! Benar begitu bukan? Aku tidak pantas untukmu. Mungkin dalam hatimu memang tidak ada tempat untukku. Baiklah, aku tidak mau kau masuk ke dalam hidupku yang buram. Mungkin kau bisa pergi sekarang kalau kau mau.....aku tak mau memaksa. Oh ya, terima kasih untuk makan malam yang demikian menyenangkan. Dan aku berhutang ratusan euro padamu."

Aku sangat sadar dengan apa yang kukatakan barusan. Dan itu terdengar sangat menyakitkan di telingaku sendiri. Sungguh. Kulihat kau mulai melepaskan celemek pita merah jambumu. Lantas kau dengan sikap yang demikian tenang itu menghampiriku sambil meletakkan sesuatu di atas meja, tepat di samping hot plateku yang berisi bistik sapi dengan tampilan sudah kukerat sedikit. Aku menunduk.

"Kunci rumahmu. Kau benar, aku memang tidak bisa menolakmu. Baiklah, aku pergi. Oh ya..mengenai makan malam, aku ikhlas kok. Tidak usah sungkan mau mengganti."

Kau berdiri lalu memohon diri untuk pamit. Sementara aku nampak berantakan sembari menahan diri untuk tidak mengacaukan meja yang berisi lauk-pauk hasil jerih payahmu---yang kau buat spesial untukku. Ya, spesial, kalau saja tak kurusakkan dengan macam-macam pertanyaan aneh yang menghancurkan moodmu dalam sekejap. Dan sekarang, kau benar-benar pergi sebelum aku mengatakan sesuatu.

"Besok..........besok pasti kubayar........hutangku........tolong dicatat saja Nona Rui!"

"PRANG!!!" Dan piring ini tiba-tiba kupecahkan--membuat batinku sedikit lebih tenang karena ada pelampiasan. Ya, dan kutinggalkan serpih-serpih kacanya di kolong meja sampai keesokan harinya.

"Brengsek!!!"

***

Aku matikan air keran--tempat biasa aku mencuci piring. Kulihat pecahan piring tadi malam masih ada di bawah kolong. Dan akupun berdiri sambil merogohnya dengan menggunakan sapu. Hari yang sangat melelahkan setelah dengan dungunya aku menutup semuanya dengan satu kali tepukan. Entah karena terlalu pemarahnya aku, atau karena aku memang benar-benar ditakdirkan Tuhan untuk selalu menjadi laki-laki yang sial dalam hal percintaan.

Aku terus terang tidak habis pikir dengan apa yang kulakukan semalam. Menohokmu dengan bermacam-macam pertanyaan yang buatku sendiri sebenarnya tidak penting. Maksudku tak penting kau itu siapa. Tak penting kau itu dari mana, bagaimana dengan mantan kekasihmu, dan blah-blah-blah-nya yang jelas jika aku tak melontarkan kalimat-kalimat bodoh itu, tentu aku tak akan segera bersinggungan lagi dengan kata 'patah hati'.

Namun, pada kenyataannya memang lain. Aku malah berbuat yang sebaliknya dan malah membuat semua ini menjadi hancur berantakan. Seolah kembali mengubahku menjadi bulatan yang bernama nol. Dan sekarang aku harus memulai dari mana aku tak tahu. Aku bingung. Aku merasa, aku memang pantas untuk semua ini.

Ya Tuhan! Apakah aku juga harus ingat kantor saat kepalaku diserang migrain begini. Ya, penyakit bawaan yang tiba-tiba muncul saat aku sedang banyak pikiran. Apakah aku akan siap bertemu denganmu nanti?

Kucium aroma lilac pada dasi yang semalam sempat kau sentuh. Ternyata karenamulah, keadaan rumah jadi harum bunga-bunga liar. Dan kurasakan betul betapa lembutnya dasi ini--padahal aku tahu dasiku tak terbuat dari bahan sutera. Okey, aku memang sedang kasmaran. Tapi kasmaran pada orang yang salah. Sialan. Maafkan aku. Memang tidak baik mengeluh pagi-pagi begini. Apalagi sempat-sempatnya aku terus memikirkanmu, meski tadi malam aku telah mengusirmu dengan cara yang tidak terhormat. Terlebih untuk calon mempelai yang sudah memasakkan hidangan malam sempurna dan khusus disuguhkan untuk raja lalim ini. Ya ampun, betapa terkutuknya aku!

Kuambil beberapa berkas yang diantaranya berisi laporan keuangan mengenai pembelian perlengkapan tanding untuk cadangan pemain kami. Asosiasi Sepak Bola Negara dimana aku bekerja, mengharuskan setiap pengeluaran harus disertai dengan bukti otentik dan terpercaya untuk mencegah timbulnya korupsi. Baru-baru ini lembaga kami memang sedang ramai-ramainya mempergunjingkan kasus persepakbolaan yang menimpa negara tetangga--Italia--kasus calciopoli, berkaitan dengan pengaturan skor, skandal wasit, dan hakim garis yang sungguh memalukan dan patut untuk dihindari atau jangan dijadikan contoh. Karena sebenarnya kasus-kasus tersebut hanya akan mencoreng muka persepakbolaan negara yang bersangkutan dan menonaktifkan sikap sportivitas--khususnya untuk persepakbolaan di tanah mafia tersebut. Alias dunia sepak bola bagi rival nomor satuku : J. Aprilia.

****

Aku segera berpacu dengan waktu. Kuambil stelan jasku dan aku pun berlari menuju halte. Hari ini agaknya tempat kerjaku sedang sibuk-sibuknya mengatur persiapan salah satu club yang paling mentereng di negara kami untuk menghadapi bursa transfer musim mendatang. Mungkin pelatih salah satu club yang baru akan dimunculkan. Ya pelatih yang sekiranya dapat membawa angin segar bagi club. Dengan sederet teknik baru untuk memperbaiki citra club kami yang tahun lalu sempat tampil buruk dan acapkali menuai protes dari berbagai kalangan pada beberapa pertandingan di kancah Eropa. Majalah Sport, Harian Ibukota, sampai situs-situs olah raga terkini. Maka dari itu, asosiasi sepak bola negara kami sangat selektif dalam menentukan pelatih. Karena, biar bagaimana pun nyawa club salah satunya ada di tangan pelatih. Pelatih yang profesional tentu akan mengantarkan club sampai ke puncak kejayaan. Demikian aku terngiang-ngiang ucapan Presiden Asosiasi Sepak Bola negara kami yang sangat bersemangat dan memberi motivasi penuh sehingga melakukan pengaturan besar-besaran untuk kepentingan club-club yang akan diikutkan dalam pertandingan di kancah Eropa maupun dunia. Tapi, sebagai bagian dari birokrasi yang menduduki jabatan nomor sekian, kadang paradoksnya adalah aku merasa terabaikan dan cenderung kurang diperhatikan kesejahteraannya. Aku hanya dipandang sebelah mata. Mungkin dipikirnya aku cuma sekerat belulang yang bekerja di balik layar, sungguh kecil kaitannya dengan kejayaan club-club. Padahal kalau tidak ada aku, mungkin mereka semua tidak akan memperoleh barang-barang berkualitas yang aku datangkan betul dari brand paling mahal sedunia. Kalau tidak, mungkin mereka akan sama saja dengan sekumpulan anak ayam yang tak ada artinya ketika merumput di atas lapangan.

Oh ya, aku sampai tak sadar bahwa dari tadi aku berdiri di sini sambil menggerutu selama 1/4 jam lamanya. Dan ini sia-sia saja karena aku telah melewatkan beberapa bus kota yang sempat berhenti di depanku--lalu berlalu karena ketidaksadaranku.

Sambil kuhantam tiang halte, kulirik arloji yang ada di pergelangan tangan kananku. Pukul 09.15. Aku sudah telat 2,5 jam. Dari tadi aku ngapain ya?

Kutengok kanan kiri jalan. Ternyata masih sepi. Gemerisik daun-daun maple warna cokelat tua yang tersapu angin membuatku semakin gelisah. Apa hari ini bus-bus sedang mogok?

Aku mengalihkan pandang ke seberang jalan. Sebuah rumah tempat tinggalku berdiri. Rumah type 36 yang terbilang sempit dan kurang enak dipandang, terutama dari jalanan seperti ini. Sungguh. Rumah itu malah tak ubahnya sebagai onggokan sampah kayu yang siap digerogoti rayap. Sebenarnya aku ingin pindah saja ke apartemen yang lebih chic dan strategis karena dekat dengan kantor. Tapi itu semua tentu membutuhkan biaya yang sangat banyak. Belum untuk pindahannya. Sewa truck, beli perabotan baru, dan lain-lain... Ah, semua itu tentu tak sesuai dengan isi kantongku. Kantong ukuran pegawai kantoran kelas asisten manajer, muda, tampan, berambut pirang, bermata biru, berjas hitam--tapi kalau ke kantor cuma naik bus? Oh, what a pity...

Sebuah bus kuning tingkat dua berjalan mendekatiku. Aku terkejut. Buru-buru kurapikan jasku dan tanpa pikir panjang langsung saja masuk ke dalam. "Hmmpft....akhirnya!" Aku menarik nafas lega. Kujatuhkan pantatku ke jok paling belakang dan bersanding dengan kaca jendela. Sekalian melihat-lihat pemandangan di luar. Siapa tahu aku bisa mengobati rasa kesalku dengan melihat berbagai macam kendaraan yang hilir mudik menyesaki area traffict light. Pagi yang sibuk, Kota Dortmundd.. Aku memegangi karcis erat-erat. Kurasakan suasana bus cukup longgar. Tak banyak penumpang yang naik seperti di jam-jam pagi maupun sore. Yang ada hanya beberapa penumpang tua berkaca mata minus tebal yang duduk di haluan sambil membolak-balikkan koran hari ini. Yang lainnya, seorang wanita paruh baya yang kelihatannya habis dari toko bunga. Di tangannya ada sebuket bunga lili putih campur bakung yang dibungkus karton dan dililit pita. Manis sekali. Tapi aku tak peduli. Kuluruskan pandanganku pada kaca jendela lagi.

Deretan rumah-rumah berjalan seolah mengejar laju bus. Rumah-rumah itu begitu cantik dan berjajar rapi di tepi-tepi jalan, mengingatkanku pada sebuah miniatur Kota Dortmudd yang terpajang di bilik kantor wilayah setempat. Rumah-rumah itu kelihatan lucu dan membuatku ingat akan rumah Barbie dan pasangannya Kent yang biasa kulihat di etalase toko mainan. Ah...andai aku bisa menempati rumah sebagus itu kelak. "Ciiiiiiiitttt!!!!!!!"Rem bus tiba-tiba berbunyi. Decitannya hampir membuatku nyungsep ke depan. Aku melihat ke arah jendela. Dan penumpang bertambah satu

Seorang cewek muda funky dengan walkman yang tersumbat di kedua telinganya. Mulutnya tak berhenti mengunyah permen karet. Aku kembali ke jendela. Di antara kaca-kaca ini, biasanya aku langsung mengarahkan memori pada satu hal. Padamu. Dan kau orang yang surealis karena begitu sulitnya kutebak jalan pikiranmu. Kau aneh. Seperti mempunyai masalah kejiwaan. Tapi aku tak mau menyebutmu gila atau bagaimana. Karena biar bagaimana pun kau tetaplah wanita yang pertama dan terakhir singgah di hatiku. Tak ada yang lain. Karena jujur aku bukan lelaki gombal yang mau terhadap siapapun. Aku laki-laki setia. Kutegaskan hal itu. Karena rasa setiaku merupakan sifat dasar yang sudah tidak bisa dirobah-robah lagi bagaimana pun caranya. Untuk itu, seandainya kau bukan jodohku atau dengan kata lain aku tak bisa menikah denganmu, maka alangkah lebih baiknya jika aku pergi saja dari dunia ini. Menghilang. Dan sekalian menguji kadar cintamu padaku. Itupun jika kau mencintaiku. Jika tidak? Aku harus bagaimana lagi?

****

Asosiasi Sepak Bola tempatku bekerja, pukul 10.30 waktu Jerman. Aku menghela nafas tanda rasa lelah sudah mencapai ubun-ubun. Tak ada yang tahu aku terlambat. Lagian, semua pasti sedang sibuk dengan agenda mempersiapkan target-target pemain club yang akan diikutkan ke dalam bursa transfer. 

Presiden Asosiasi, BOC, BOD, manager, agen, dan anggota asosiasi di lini inti kelihatannya sedang mengadakan jajak pendapat mengenai pelatih baru untuk salah satu club unggulan kami. Wah...siapa ya? Selintas aku pernah mendengar beberapa nama penting yang mereka calonkan. Mc. Clarent, van Basten, Scrusterh, entah siapa lagi. Yang jelas mereka semua adalah orang-orang profesional dan sanggup mengantarkan club unggulan kami ke masa gemilang. 

Aku tahu, sebenarnya untuk sebuah pengangkatan pelatih itu bukan merupakan faktor terpenting. Yang dibutuhkan club saat ini adalah kerja sama yang solid, kecerdasan permainan, dan formasi team yang perlu sesekali dirotasikan (kalau perlu). Seperti pemain tua Oliver Hanz misalnya. Kiper kami tidak hanya dia--yang memiliki tingkat prestisius tinggi--berkharisma dan nampak garang di lapangan. Tapi lihatlah Yansen Lemmar. Dia pun sebetulnya memiliki potensi lebih. Hanya saja mungkin saat ini dia terlalu memikirkan perasaan Hanz yang rencananya akan dibangkucadangkan pada pertandingan awal kualifikasi Liga Eropa mendatang. Mungkin dia merasa rendah diri dan jauh lebih baik jika Hanz yang diturunkan. Soal seperti itu mungkin akan menjadi urusan pelatih. Dan aku hanya bisa berpendapat saja. Pemain kami yang lain sebenarnya juga banyak yang memiliki aura bintang seperti Klaas, Lucas Chaddrick, Bastian Schaefer, Jarvas Frings, dan masih banyak lagi yang tak bisa kusebutkan satu persatu. Masalah mereka pernah tampil buruk mungkin karena tragedi piala dunia sebelumnya yang sedikit banyak menyisakan isak tangis bagi rakyat kami.

Yah, tapi keputusan tetap berada di tangan Presiden Asosiasi. Aku, orang kecil tak bisa berbuat banyak selain dengan membantu urusan pengadaan dan perlengkapan barang untuk keperluan tanding. Hah...aku menghela nafas panjang. Dan tentunya bersamamu. Selama ini aku bekerja sama dengan wanita aneh yang merupakan karyawati tingkat bawah--tapi setidaknya kau sedikit lebih tinggi dibandingkan CS.

Oh iya, aku sampai lupa, aku harus memberikan berkas keuangan pada manager Dirk Radmont mengenai laporan barang-barang yang sudah kupesan pada supplier resmi. Aku harus segera memintanya menandatangani, agar bisa segera kukirim ke bagian administrasi. Ya, sebaliknya kutelepon dia segera. Aku beralih pada sebuah pesawat telepon dan meminta sekertarisnya untuk menyambungkanku pada Manager.

"Nona Juli, tolong hubungkan teleponku dengan Tuan Radmont!"
"Baik Pak."

***

"Ya, Luther. Ada apa kau memanggilku?"
Suara di seberang sana, bisa kutebak adalah milik Manager, Tuan Dirk Radmont yang terkenal disiplin dan pekerja keras. Aku menghela nafas dalam-dalam. Kubuat diriku serileks mungkin. 

"Pak, laporan sudah saya print. Anda tinggal menandatanganinya saja. Setelah itu laporan ini akan saya arsipkan ke bagian administrasi."

"Ya, bagaimana?"

Ugh..aku menggumam. Kurasa orang ini sedang sibuk di depan komputer. Terdengar suara 'sing-sing-sing' mesin pencetak data mengalir sampai ke pesawat teleponku. Ini radiasi namanya. Aku garuk-garuk kepala. 

"Ya, Tim. Tadi kau bilang apa? Aku kurang jelas."
Ya ampun, tolong! Kenapa sih aku harus mengulang kalimat yang sama untuk kedua kalinya. Ini kan tidak efisien. Aku menghela nafas panjang. 

"Begini Pak, saya akan ke ruangan Anda. Ada beberapa berkas yang perlu Anda beri signature untuk saya arsipkan setelahnya Pak."
"Tanda tangan? Soal apa itu Tim? Kau yakin akan menyerahkan berkasnya sekarang?"

Ya jelas lah. Buat apa aku ke kantor dengan membela diriku yang sedang kesal ini kalau tidak untuk mengajukan pertanggungjawaban padanya. Kalau tidak, mungkin aku akan lebih memilih tidur-tidur saja sampai siang--sampai marahku hilang. Tapi kurasa aku tak bisa tidur karena masalah sesensitif ini. Aku meneguk kopiku diam-diam. Kudengar manager nyentrik itu sedang bergumam sendiri menghadapi komputer yang ada di depannya.

"Luth? Luther? Kau masih di situ?"
"Ah iya--iya. Semua sudah siap. Dan tinggal Anda tandatangani saja semua. Bagaimana Pak?"
"Well, bawa ke sini dalam 15 menit."

Aku segera bangkit dan berjalan dengan terburu-buru untuk mencapai lantai 25, tempat dimana managerku duduk di singgasananya. Aku tak ingin keduluan orang lain untuk bisa berurusan dengan lelaki gaek berambut putih-putih itu. Aku harus segera menyelesaikan berkas-berkas ini sampai tuntas. Sampai semua sudah benar-benar ditandatangani dan tinggal membawanya ke ruang administrasi untuk dicap dan dijadikan arsip. Itu saja. Selebihnya, aku ingin segera balik ke ruanganku. Mungkin merebahkan diri di atas sofa sampai migrainku sembuh.

***

Lift membuka secara otomatis. Beberapa orang ke luar dari sana. Mereka sepertinya agen dari pemain club Bremen. Apa mau ada rencana transfer pemain lagi dalam waktu dekat? Aku bertanya dalam hati. Belum sempat lift berjalan ke atas, seseorang menekan lift hingga aku dengan sangat terpaksa harus bersama dengannya--berada dalam lift ini untuk tujuan berbeda. Lift kembali terbuka. Frings salah satu pemain yang mendapat hati dari banyak gadis--masuk dengan gaya slengehannya. Di mulutnya terkulum Big Babol rasa blueberry. Ya, memang pantas. Dia sangat tampan, rambutnya panjang, hidungnya bagus, mata birunya--seperti mata biruku, tapi yang lebih membuatku iri adalah bentuk badannya. Sangat kontras dengan punyaku. Dia kekar, berisi, dan sispact. Sedangkan aku hanya rangkaian tulang belulang yang menjulang tinggi dengan mata cekung seperti orang yang jarang tidur. 

"Lingkar dadamu ukuran berapa?" Tiba-tiba aku bertanya sesuatu yang cukup memalukan. Ya ampun apa ini pantas untuk kutanyakan? Kulihat mata birunya langsung menghujam ke mata biruku. Wah...silau rasanya. 

"109. Kalau tidak salah...eh bukan 110." Dia mengunyah permen karetnya dengan sangat mantap. Kurasa ia ingin terkekeh saat aku dengan lantang menanyakan hal sepribadi itu untuk ukuran lelaki yang tidak ada akrab-akrabnya. Yah, aku menyerah. Aku kalah. Ukuran dadaku hanya 95. Aku melengos. Apa dia benar-benar tertawa sekarang?

"Hati-hati dengan dada lebarmu!" Ujarku lagi.
Lagi-lagi ia melirikku dengan pandangan mata aneh. Memangnya kenapa sih?
"Apa aku menyaingimu, Dude?"
"Bukan. Bukan soal itu. Tapi kontrol emosi. Jangan sampai seperti Zidane waktu sama Materazzi itu ya."

What??! Kurasa ia mengernyitkan dahinya untuk beberapa saat. Seolah aku sudah salah mengucapkan statement.

"Zidane? Bukannya dia pakai kepala ya, bukan dada."
Dia terpingkal-pingkal dan itu membuatku merasa seperti dipecundangi. 

"Ya, sudahlah sama saja. Pakai kepala atau pakai dada sama saja. Jangan main kekerasan. Jangan diulangi lagi yang kau lakukan pada Cruzz tahun lalu. Tahu kan maksudku?" Aku menggoyangkan pundaknya hingga ia kembali tertawa.

"Oh....yang itu? Tenang saja. Waktu itu aku cuma membela diri. Ah...dan  juga Mertesacker...bukan aku yang memulai duluan. Percayalah Pak!"

Aku memberengut sejenak sebelum akhirnya ia keluar lift.

"Hey, jangan panggil aku Pak. Aku belum setua itu untuk menjadi ayahmu..........Nak!"
"Ha...ha...ha!!!!" Dia tertawa, dan aku pun akhirnya ikutan tertawa sambil melambaikan tangan padanya. Lalu kami berpisah di lantai 15.

***

"Tok! Tok! Tok!" Pintu ruang Manager kuketuk. Agaknya dia masih sibuk dengan komputernya. Dari sini sudah bisa kudengar dengan jelas bahwa ia sedang bermain dengan alat scanner.

"Ya, masuk !" Terdengar suara si Tua itu merespon ketukan pintuku dengan cepat. Dan aku segera masuk. Benar apa yang menjadi dugaanku sebelumnya. Managerku ini sedang coba mencetak foto pertandingan liga Eropa musim lalu. Lalu kulihat ada gambar Aprilia besar-besar terpampang di sana, bersama 10 rekan lainnya sambil berpose buruk di depan kamera. Sangat tidak photogenic, padahal aslinya dia begitu tampan bak seorang Hercules yang berada di tengah-tengah pengawalnya.

"Coba kau lihat! Pemain-pemain dari club ini, mana yang menurutmu tidak diperlukan lagi selama musim mendatang?" Si tua ini meminta pendapatku sambil mendekatkan foto itu padaku. Tidak salah dia menginginkan pendapatku?

"Yang tidak pantas ya? Emmm.. tunggu..tunggu! Mungkin dia...oh tidak...Arne sangat lincah. Bagaimana kalau Aprilia?"

Tuan Radmont mengernyitkan dahinya. Ia berpikir sejenak.
"Aprilia? Bukannya dia sudah ditarik negaranya bulan lalu? Selain dia dong!"
"Siapa ya? Semua bagus kok. Hanya saja mungkin Aroon Han jangan dimasukkan. Dia cuma akan jadi perusak." Ujarku tegas. Si Tua itu kemudian manggut-manggut saja tanda usulku mungkin disetujuinya.
"Kau bilang tadi Aprilia, Tim?"
"Aroon Han, Pak."
"Bukan! Bukan! Yang pertama kau bilang Aprilia kan?"
"Iya sih. Tapi Anda bilang dia memang sudah jelas tidak bisa dipakai lagi kan?" Aku bertanya ragu-ragu. 
"Ah...bukan itu maksudku."

Terus apa? Aku makin tak mengerti dengan jalan pikiran si Tua ini. Uh, lama-lama aku bisa ngamuk kalau begini caranya. Mana berkas belum ada yang ditandatangani semua lagi. Iya, ia tak memberiku sedikitpun ruang untuk membicarakan berkas yang harus di-acc, bukan malah membahas pemain untuk keperluan bursa transfer. Aku mengutuk habis dirinya dalam hati. 

"Begini, sebenarnya dari pihak management club Aprilia yang sekarang...setelah kupantau lewat agen di beberapa pertandingan terakhir, kelihatannya dia mulai menunjukkan aura bintangnya Tim. Dia itu bisa jadi playmaker loh. Bukannya apa-apa sih. Cuma dari Presiden Asosiasi kita dengar-dengar waktu itu agak saklek masalah status. Si April ini ada slentingan kurang enak mengenai status kewarganegaraannya yang masih dipertanyakan. Yah masih simpang siur begitulah. Sayang sekali sebenarnya saat dia harus menerima putusan dari Presiden Asosiasi. Ah, tapi mau apalagi. Sudah mutlak juga. Kita sebagai orang dalam cuma bisa berharap semoga dia masih bisa diperhitungkan dalam bursa transfer club andai tidak bisa memperkuat timnas. Bremen sepertinya mengincar dia."

Hmmm...aku tersenyum hambar. Dalam hati aku ingin berteriak. "Jangan masukkan dia lagi!"

Orang tua ini memang menyebalkan. Masa tega sih membicarakan Aprilia dengan nada yang berlebihan begitu di depanku. Dasar tidak tahu perasaan orang. Memangnya pemain yang hebat cuma dia saja? Nggak jamin. Masih banyak kok yang lebih jenius dari orang Italia gondrong itu. Kenapa harus Aprilia. Kenapa harus orang yang menjadi rival beratku--yang harus disayangkan ketika meninggalkan arena persebakbolaan kami tempo hari atas putusan petinggi asosiasi. Memang tidak bisa dimaafkan si Aprilia itu. Dimana-mana orang menyukainya. Dimana-mana orang mengelu-elukan dia sebagai pahlawan bola. Apa-apaan semua ini? Hanya membuat hatiku semakin dengki. Dan rasa dengki yang bertumpuk ini semakin lama semakin menjulang menjadi gunungan yang siap meledak kapan saja menjadi sebuah kebencian.

"Oh ya Tim, tadi kau mau apa?"
Si Tua ini akhirnya sadar juga dari acara ngelindurnya. Kenapa tidak dari tadi saja ia bertanya. Segera kukeluarkan isi stopmapku dan menyerahkan beberapa berkas yang mesti ia tandatangani.

"Berkas Pak, tolong Anda tandatangani."
"Oh iya---ya..aku lupa. Maaf. Keasyikan mem-plot calon pemain inti di club favorit mendatang. Kau tidak marah kan?"

Oh, tentu saja aku marah. Bahkan sangat-sangat marah. Karena kau telah menghabiskan waktu pentingku hanya untuk mendengarkan omong kosongmu. Begitulah keluhanku dalam hati, meski di luar aku harus pura-pura tersenyum palsu.

"Tim, kau mendengarkanku?"
"Ah, ya. Tidak apa-apa Pak. Semuanya beres," ucapku bohong.
"Baik, dimana aku musti tanda tangan?"

Aku memberikan instruksi pada si Tua itu untuk segera mempercepat tugasku. Menandatangani seluruh berkas yang kubawa.

"Ya sudah. Semua sudah kutandatangani. Ada lagi Tim?"
"Tidak. Hanya itu saja Pak. Kalau begitu saya permisi dulu."
"Ya, ya... silakan...silakan.."

Aku mohon diri dan selintasan dia bergumam dengan setengah bernyanyi :"Prili, Prili kecilku...bulan depan kau target utama bursa transfer untuk musim mendatang. Mamamia!"

Huh, apa-apaan si rambut uban itu. Dasar gila!

****

Malamnya....

"Aku mau coke..."
Seseorang menuangkan seperempat minuman beralkohol jenis ini ke dalam gelasku. Bartender bermuka Asia. Hmm, wajah yang kulihat baru-baru ini. Aku memperhatikan dia dengan cermat saat dia meramu minuman yang telah kupesan barusan. Dan dia nampaknya tidak keberatan dengan hal itu. Mungkin dia senang karena merasa diperhatikan.

"Bertepuk tanganlah untukku, Tuan!" Dia berteriak keras di antara dentuman musik disko yang memekakkan telinga.

"Yeah, anak baru yang cukup berbakat. Bukan kelas kacangan!"
"Apa yang kau katakan barusan, Tuan Pemabuk?"
"Tidak....tidak....tidak.....bukan begitu maksudku!!! Cuma bercanda, Bung! Dan aku sekarang belum mabuk, kau tau? Lihat mataku!!! Ada seberkas cahaya dari surga di sana? Ha...ha..haaaa..!!" Aku tertawa tidak karuan sambil nyerocos dan menyatakan diriku masih terjaga. Padahal aku tahu bahwa sebenarnya aku sudah kehilangan kontrol atas keseimbanganku. Aku sudah mabuk berat.

"Kau yakin mau tambah lagi?" Dia mengambil botol berisi setengah liter coke yang siap dia tuang kembali ke dalam gelas kristalku.
"Kau pikir aku main-main apa? Cepat-cepat!! Berikan padaku semua. Aku sedang banyak masalah, kau tahu?" Ucapku ngelantur.

Kupastikan si wajah Asia ini menuang gelasku dengan minuman yang sama.

"Okey! Kalem saja. Karena kau menyuruhku, maka aku akan melayanimu. Bagaimana?"
"Bagus! Aku suka itu!" Ha ha! Siapa namamu orang Asia?
Suara dentuman musik terus menghajar telingaku dan aku merasa terganggu karenanya.

"Namaku? Untuk apa Tuan?" Dia berteriak sekencang-kencangnya agar aku bisa mencerna kalimatnya diantara berisiknya musik disko yang memenuhi seluruh penjuru ruangan pada bar itu.

"Untuk apa katamu? Ah!!! Tentu saja untuk pertemanan kita sekarang. Perkenalkan dirimu, cepat!!" Aku menyikut pundaknya hingga ia termakan bujukanku.

"Watanabe. Watanabe Idesuka."
"Wohooo...Japanese?" Aku terkejut sampai-sampai coke yang kuminum muncrat sedikit dan membuatnya agak sedikit jijik.

"Sorry...oh.....senang bertemu denganmu, Mr Idesuka. Dan aku terkejut karena kau asli Jepang"
"Panggil saja Watanabe."
"Oh yeah. Watanabe. Nama yang imut. Oh ya...aku Tim Luther." 

Dia tersenyum lalu menepuk pundakku.
"Kau menyetir?"
"Tidak-tidak-tidak. Aku tidak punya mobil. Aku naik bus."

Dia tertawa. Mungkin dia tidak mengira bahwa orang setampan dan senecis aku--atau orang yang sudah mencoba ribuan jenis anggur setiap pulang kerja sepertiku hanya bisa naik bus. Kurasa dia bakal tertawa terpingkal-pingkal sampai mau kencing di celana.

"Lucu ya?"
"Ah..ha.ha...ha..ha... Oh astaga. Ternyata kau lumayan juga. Kau orang mabuk yang menggelikan!"
"Brengsek kau!"

Haha..aku tersenyum ke arahnya. Lalu mencekal ujung kerahnya. Dia pun tergagap.

"Sorry...sorry Bung!"
"Yah, tak apa kawan. Aku memang pantas ditertawakan. "Kau dapat melihatku sekarang. Aku seperti badut yang sangat konyol, bukan? Aku terlihat seperti orang bodoh saja."

Dia tersenyum dan kembali memainkan botolnya.
"Ich bin nicht dein Gott, ich mache fehlerr!!! Hanya Tuhan yang Maha Sempurna. Manusia selalu bikin kesalahan. Kau bukan satu-satunya pecundang di dunia ini, percayalah!"

Aku terbelalak. 

"Wow Jermanmu bagus. Gut!"
"Thank you."
".....dan cukup fasih."

Dia kembali tersenyum sambil bercerita bahwa dia sudah lama di Jerman dan mengambil kewarganegaraan sini. Katanya, dulu awal-awal saat ke sini dia cuma mau mengikuti festival kembang api tahunan dan mencoba untuk menyelipkan kebudayaan Jepang dalam acara itu. Semacam pertunjukan sendratari dan sandiwara boneka yang ia rancang sedemikian rupa sehingga memberikan warna tersendiri diantara festival-festival yang diadakan sebelumnya. Dia juga banyak bercerita tentang kehidupan bar tempatnya baru sebulan bekerja. Ya, pantas saja aku baru melihatnya baru-baru ini. Katanya, kerja di tempat hiburan macam ini sangat menyenangkan. Banyak wanita cantik berbalut busana sexy yang setiap saat bisa menggugah birahi. Kalau tidak tahan iman, bisa dibayangkan sendiri lah apa yang akan terjadi. Untungnya, dia adalah penganut budaya timur yang lumayan kuat. Buktinya, sampai sekarang dia masih lumayan menjunjung tinggi adat kesopan-santunan dalam hal pergaulan. Namun, saat ditanya apakah dia benar-benar orang timur yang pure. Ternyata tidak juga. Karena saat ini dia pun menjalankan politik luar negeri bebas aktif. Alias bebas bergaul sesama lawan jenis dan aktif berbuat dalam tanda kutip dengan ikatan yang bisa dibilang tidak resmi. Biasalah, kumpul kebo.

"Ah ternyata kau sama juga, Boss!" Ucapku sambil menepuknya pelan. Dia pun tertawa.
"Apapun itu. Yang jelas, di daerah kapitalis seperti ini. Mana wajar sih ada orang yang sampai saat ini masih bisa menjaga keperjakaannya. Ha...ha...!"

Aku berhenti tertawa. Kali ini dia menyinggungku. Dan aku tidak suka gurauannya.

"Oh, sialan! Sudah hampir seharian aku menghabiskan waktu di tempat terkutuk ini. Sebaiknya aku pulang sekarang!"

Kulirik arlojiku yang bukan merek Rollex ini, dan ternyata sudah pukul 23.00. Sangat larut. Yang jelas, aku takut jika tak kutemukan satu bus pun yang mau mengantarku pulang.

"Sudah mau pulang, Bung?" Watanabe tercekat.
Aku mengangguk sambil berjalan setengah sempoyongan dan hampir saja nona penjual rokok yang duduk di sebelahku aku tubruk.

"Ya-ya. Bye Idesuka!"
Aku melambaikan tangan padanya dan segera berbalik ke arah pintu bar yang bisa membuka secara otomatis. Oh...kurasa aku hampir muntah sekarang.

"It's over. You don't need to tell me. I hope you're with someone who makes you. feel safe in your sleeping tonight ...uhuk!!!"

" I won't kill myself, trying to stay in your life. I got no distance left to run. When you see me ...la..la..la.."

"Dugh!"

"Aw, kau nakal!" Aku menendang sekaleng Pepsi dan tiba-tiba seseorang telah berdiri di depanku dengan sangat nyata.

"Damon Albarn tidak punya suara seburuk itu, hah?"

Aku berhenti sejenak. Memastikan siapakah itu?

"Aha... ha.. ha... ha... kamu malaikat pelindungku, Miss Bellami?!"

Ya, Rui. Kenapa kau ada di sini? Apakah ini merupakan kesempatan baikku untuk minta maaf sekarang? Ah, tapi kurasa tidak. Aku masih terlalu pusing untuk sekadar memberimu sebuah kalimat permintaan maaf. Aku kembali berjalan sambil tertatih-tatih dan menenteng jas di pundak. Kau kutinggalkan sendiri di belakang sana yang berjarak kurang lebih 1 meteran.

"Hey!!! Tunggu aku!!"
Kau mengejarku dan berhasil menjajari langkahku. Sepertinya aku punya feeling bagus

"Dengarkan aku!" Kau berlari kecil sambil terus menjajari langkahku.
"Yeah! Apa yang ingin kau katakan? Kau ingin menertawakan diriku sekarang kan Rui?"

Kau tersenyum kecut dan menatapku dengan pandangan samar. Ada sinar abu-abu di sekujur tubuhmu.

"Uhuk!! Uhuk!!! Uhuk!!"

"Luther, tolong perhatikan aku sebentar?!"
Kau memberiku bahasa isyarat agar aku diam dan mendengarkanmu.

"Hey!!! Kau tidak mendengarkanku ya?"
"Siapa?"
"Kau!"
"Siapa bilang?"

Aku tertawa dan mukaku bertambah merah. Ini pasti karena pengaruh bir dan kau, Rui. Ya, aku yakin itu. Kau lantas menyeretku dan membawaku ke sebuah volvo antik tahun 70-an.

"Masuk!" Kau mendorongku ke dalam volvo metalik--mobil dengan moncong kotak era jadoel yang tak kutahu punya siapa, yang jelas aku yakin ini pasti bukan punyamu. Kau sendiri lantas duduk di sampingku, di bangku supir. Waw, aku surprise! Kau bisa menyetir juga. Benar-benar perempuan perkasa untuk ukuran gadis imut-imut sepertimu.

"Apa-apaan ini? Aku protes.
"Aku ingin bicara denganmu." Ujarmu lagi.
"Bicara saja...aku akan mendengarkan."
"Tidak...tidak. Tidak di sini. Tapi di rumah." Katamu.
"Di rumah?" Aku melongo.
"Ya, rumahku. Aku takut kalau bicara di sini kau malah akan meninggalkanku sampai ke alam mimpi. Tahu?!"
"Terserah!"
"Bagus! Sekarang diamlah!" Kau keluarkan rokok mentolmu dan menyulutnya dengan sebuah korek berwadah indah. 
"Alkohol...dan rokok. Kombinasi yang bagus ya. Sama-sama racun yang membuat orang bahagia. Aku tak menyangka gadis seinnocent dirimu ternyata doyan rokok juga. Benar-benar kelelaki-lakian...Oh ya, apa aku terlihat seperti banci?"

Kau memalingkan wajahmu ke arahku. Sorot mata hijaumu menyala-nyala seperti mata kucing di tengah malam.

"Baik..baik.  Aku akan diam."

Kau kembali melihat ke arah jalan dan menghisap rokokmu lekat-lekat. Sepertinya kau sangat menikmatinya---sama seperti saat aku menikmati alkohol.

"Tapi, boleh aku bertanya satu kali saja kan? Ngomong-ngokong ini mobil siapa? Bukannya setiap hari kau naik bus?"

"Cyiiiiiiiiittt!" Tiba-tiba kau menginjak rem dengan gerakan yang cukup kasar sehingga aku tergoyang. Okey, okey, kali ini kau benar-benar serius.

"Ya....ya...aku diam. Aku diam sekarang!!"

Kau menancap gas dan mobil kembali berjalan dengan mulusnya di area sesepi dan setenang ini--Kota Dortmundd malam hari.

***

Lampion bergambar sapi yang tergantung lucu di depan pintu rumahmu membuatku geli. Dalam sepersekian detik aku langsung melihat-lihat ke arah lain. Sudah sepi. Setiap orang di dunia tentu sudah tidur sekarang. Kecuali aku dan kau. Sebenarnya kau mau ngomong apa sih? Kenapa aku mendadak jadi gemetar begini. Apa karena cuaca malam yang dingin atau karena aku memang sedang dalam kondisi buruk?

Kau lantas mengajakku ke dalam, menyodorkan segelas air agar aku bisa memerciki wajahku dengan air itu. Supaya aku cepat sadar dan bisa kau ajak bicara empat mata.

"Sudah...sekarang bicaralah!"
"Yakin...kau sudah sadar?"
"Kau tidak lihat mataku? Sudah melotot begini kan? Aku sudah sadar."
"Baiklah sebelumnya aku mau minta maaf sudah membawamu kemari."
"Ya, tak apa. Teruskan!" Aku memandangmu dengan perasaan kesal. Lantas kau duduk terdiam beberapa saat sambil meresapi detik demi detik jam yang tergantung di dinding ruang tamu. Senyap sekali rasanya. Terus terang aku jadi sedikit agak mengantuk.

"Tim, kau pasti tahu kapan bursa trasfer akan dilaksanakan sampai penandatanganan kontrak? Kau mau menceritakannya padaku?"

Aku mengerling ke arahmu. Kulihat ekspresimu berubah dari yang tadi. Agak sedikit melunak. Ya, bisa kau ulangi lagi? Bursa transfer? Ada apa dengan bursa transfer?

"Hey! Apa kau mendengarku?"
Aku bengong. Malas jawab.

"Tim? Hallooooow?" Kau menggerak-gerakkan ke dua tanganmu di depan kedua mataku.

"Ya, aku dengar. Bursa transfer kan? Oh itu? Kenapa? Aprilia?"

Kau kembali diam untuk beberapa saat. Sepertinya tebakanku barusan benar.

"Ya, jadi tepatnya sampai taken kontrak tanggal berapa?"
"Begitu simpelnya kau bertanya soal itu? Apa kau tak sedikitpun mengerti perasaanku? Hah? Aprilia.....haaa....selalu Aprilia." 

Kau menghela napas panjang dan menyambar pertanyaanku dengan semacam keragu-raguan.

"Tim, kau belum menjawab pertanyaanku."
"Kenapa? Kau sangat butuh jawaban itu ya? Maaf kau bertanya pada orang yang salah. Kalau mau kuberi saran, kau bisa hubungi agen atau Tuan Manager. Kau tahu sendiri lah jabatanku dalam asosiasi apa? Aku cuma orang kecil. Kroco. Walaupun aku bossmu. Aku tidak tahu banyak soal permainan, pemain, apalagi soal bursa transfer. Itu bukan bidangku. Yang aku tahu cuma kerja di balik layar......bagian perlengkapan, right?"

Kau berdiri dan kali ini kau benar-benar ingin menyiram wajahku agar aku tak selalu mengumbar ribuan kata yang pantas kau sebut sebagai khutbah. Aku tahu, yang kau inginkan cuma satu. Jawaban atas pertanyaanmu. Tapi sungguh! Demi Tuhan aku sangat malas menjawabnya.

"Tim, singkat saja. Aku hanya ingin tahu kapan taken kontrak dari akhir bursa transfer dilaksanakan?"
"Kau keras kepala sekali ya. Sudah kubilang aku tak tahu. Kau tak ingin aku berteriak di kupingmu untuk memastikannya kan? Aku pusing. Aku tidak mau mendengar Aprilia. Aku tidak mau kau menyebut nama itu sekali lagi Rui!!! Tolong mengertilah?!!!"

Aku berjalan ke arah pintu dan kurasakan emosiku naik turun. Mungkin karena hal inilah, suhu tubuhku mendadak agak naik. Dan kau beberapa inchi di belakangku, diam terpaku seribu bahasa.

"Kau tak ingin tahu kenapa aku ingin memperoleh kepastian ini?" Tiba-tiba kau membunyikan suara setelah sekian detik aku merasakan keheningan. Aku menghentikan langkahku.

"Karena aku ingin memisahkan diri darinya."

Aku berbalik badan. Dan kudapati kau tercenung dalam ketidakpastian.

"Tadi kau bilang apa?" Aku bertanya sekali lagi untuk memastikan diri. Apakah barusan aku yang salah dengar atau apa?

"Memisahkan diri dari Aprilia??? Maksudmu?"
"Selama ini aku menumpang.."

"Deg!!!" 
Barusan kau bilang apa.

"Tunggu-tunggu-tunggu...kau tadi bilang apa? Menumpang? Jadi...jadi kau tinggal satu atap dengan dia selama ini?" Kurasakan betapa beratnya mulutku saat mengucapkan hal ini. Dan kau hanya mengangguk tenang. Satu detikpun tak kulihat kau merasa bersalah padaku. Apa kau benar-benar tidak tahu apa maksud kencan kita selama ini? Ah, rasanya aku ingin terjun ke jurang saja.

*****

Beberapa bulan kemudian....

Akhirnya kau pergi dari duniaku. Kau pergi dengan sangat mendadak dan baru memberitahuku setengah jam sebelum kau menorehkan senyum terakhir untukku. Senyum yang kurasa sangat manis dan jauh lebih manis dibandingkan hari-hari sebelumnya. Saat itu yang kurasakan cuma satu. Aneh. Perasaan aneh yang menyelimuti perbincangan terakhir kita. Mengenai perasan kita selama ini. Bagaimana kau diam-diam sangat menghormatiku hingga kau rela pada suatu malam pergi ke rumahku hanya untuk membuatkan menu dinner spesial yang akhirnya kubuat berantakan--yang berakhir menyedihkan. Kau mungkin merasa bahwa selama ini aku selalu berbuat tidak adil padamu. Selalu menuduhmu dengan hal-hal buruk terutama jika menyangkut Aprilia. Padahal kau bisa hidup dan bisa kucintai sekarang karena Aprilia. Tanpanya, kau mungkin tidak pernah ada.

Dan mengenai perasaanku padamu, aku yakin 100% bahwa kau sudah tahu betapa aku telah memberikan seluruh hatiku padamu. Kau sudah paham sekali bukan bahwa aku sebegitu cemburunya jika melihat kau bersama Aprilia. Kini aku paham, selama ini kau pasti ingin memberiku kesan terakhir yang manis sebelum kau menghilang dari duniaku. Akhirnya, kau hanya bisa berucap bahwa kau akan mencari ayah yang selama ini telah meninggalkanmu. Kau akan segera menyusul ayahmu, menuju tempat terindah untuk menagih janjinya  bermain bola di tempat terluas yang hanya ada kau dan dia. Yah, kata-kata terakhirmu itu sangat ringan kau ucapkan. Kelihatannya kau pun sangat gembira mengucapkannya. Dan sebelum kau benar-benar berbalik badan lalu terbang dengan sayapmu, kau menunjukkan sebuah surat yang ditulis tangan oleh ayahmu. Begitulah surat yang mengejutkan itu datang sekonyong-konyong jatuh dari langit--membuatmu langsung melompat kegirangan, memancarkan sorot matamu yang bagaikan sepasang batu zamrud.

Dan sesaat setelah itu....CLACK!! Entah bagaimana caranya aku sudah tak melihat sosokmu lagi di depan kedua mataku. Aku tak tahu perasaanku saat itu bagaimana. Apakah sedih, apakah senang, ataukah bingung. Semua berkumpul menjadi satu menjadi benang-benang kusut. Lalu kau titipkan salam rindu pada Aprilia dan kau berpesan supaya aku menyampaikan padanya : "Kunci rumah ada di bawah pot opelianya yang ada di dekat kolam teratai." Ya...ya...aku hanya mengangguk saja sembari kulambaikan tanganku dan sepertinya aku ikhlas. 

Tapi aku masih ingin bertanya satu hal lagi padamu.

Sebenarnya, kupu-kupu itu siapa? 
Aku atau kau...
Sebersit tanda tanya besar keluar dari dalam pikiranku. 
Ya, kupu-kupu morfo itu....

****

Aku melangkah gontai sambil mendesah pelan. Di pikiranku saat ini hanya ada satu kata : kacau. Rasanya aku berada di sebuah labirin yang penuh dengan teka-teki aneh yang sulit dinalar dengan akal. 

Ya, kehadiranmu, keberadaanmu, sampai kepergianmu yang begitu misterius. Seumur-umur baru kali ini aku mendapati peristiwa seabsurd ini. Bertemu dan mencoba untuk mencintai keanehanmu. Sumpah aku bingung. Ya, biarlah sang waktu yang akan menjawabnya. Aku tak punya kuasa untuk meramal nasib atau bagaimana. Itu sudah suratan.

Apa yang akan kukatakan pula pada Aprilia perihal kepergianmu? Apa dia akan percaya pada setiap ucap dan lakuku. Selama ini aku memang jauh dengan orang Italia itu. "Sial. Kenapa jadi kacau begini." Semua seolah bertumburan tak sesuai dengan pakem yang ada. Semua terlihat seperti ilusi yang menyakitkan. Fatamorgana yang fana adanya. Oh Tuhan, berapa kali harus kusebut namaMu untuk menenangkan pikiranku?

"Tiiiien...tieeeennnn!!!!"

Aku dikejutkan oleh suara klakson mobil box berukuran besar. Supir yang ada di dalam melongokkan kepalanya dan siap mendampratku. "Woooiii, mau mati ya!!" Teriaknya keras-keras.

Aku segera merapat ke pedestrian. Kuhela nafasku dalam-dalam. Rasanya aku berada di alam lain saja. Huhh!! Sebenarnya aku ini kenapa sih! Kenapa aku harus mengalami kejadian aneh begini?

*****

Asosiasi Sepak Bola dimana tempatku bekerja, pukul 12.35. Aku berjalan terburu-buru sambil mengelap peluhku dari ujung rambut sampai ujung dagu. Hari ini aku memang kesiangan. Tapi kesiangan yang benar-benar kelewatan. Dan aku hampir melewatkan separuh tanggung jawabku karena peristiwa tempo hari.

Well, ini merupakan hari yang buruk untukku. Tak seharusnya aku berbuat seceroboh ini dan mengesampingkan kepentingan orang banyak. Ya, hari ini pertengahan Agustus, masing-masing anggota asosiasi berikut petinggi pada beberapa lini, semisal presiden dan wakilnya juga management beserta staff, dan beberapa pemain club yang ditunjuk berkumpul di satu tempat guna membicarakan kandidat yang akan diikutkan dalam bursa transfer. 

Dan aku harus memacu langkah. Jangan sampai mereka menganggapku sebagai sosok staff muda paling molor dan tidak patut untuk ditiru. So, tunggu apalagi Tim! Cepat bukalah pintu ini!

"Blaaagh!!" Pintu ruang meeting lantai 9 terbuka.

"Selamat pagi!!" ucapku setengah ragu, diikuti oleh pandangan-pandangan aneh peserta rapat lainnya terhadapku. Seakan-akan aku ini sesosok gembel jalanan yang tiba-tiba masuk ruangan dan mengacaukan rapat.

"Selamat pagi? Mmm..sudah pukul 13.00 kurang sedikit kan?" Salah seorang anggota rapat lain memalingkan wajahnya pada jam dinding yang tergantung di sudut ruangan. Aku menelan ludahku. MALU.
"Maaf, lain kali tidak akan saya ulangi."
"A...ha? Kami sudah menunggu untuk 2 jam. Darimana saja kau?"
"E....."  Aku kehilangan kata-kata, lalu Tuan Radmont menunjuk kursiku. "Duduk!" Ujarnya tegas.
"Kita lanjutkan rapat."

Huh. Aku bisa bernapas lega sekarang. Rasanya sedikit tidak enak sih. Bayangkan, aku telat 2 jam. Bukankah itu benar-benar keterlaluan? Yah mula-mula aku mengelap tanganku yang basah bukan main karena keringat dingin. Setelahnya aku mencoba duduk serileks mungkin. 

"Sssttt.... kau beruntung. Presiden Asosiasi belum datang. Coba bayangkan jika kau datang tepat saat si rambut emas itu duduk di singgasananya, huft bisa jadi kudapan kau!" Seamust, rekan seprofesiku bagian administrasi coba-coba untuk menakut-nakuti. Ia terkekeh ke arahku. Brengsek! Ia memang teman yang menyebalkan. 

Tuan Radmont lalu berdiri sambil memberikan beberapa lembar kertas berisi aturan rapat kepada seorang sekertarisnya untuk diedarkan ke yang lain. Aku lantas mendengarkan si Tua itu memberi sambutan sambil sesekali menahan hasrat untuk menguap. 

"Hmmm.... Aku tahu. Pasti kau habis putus cinta!" Seamust menonjok lenganku dengan jahilnya. Aku meliriknya sebal. "Bagaimana kau bisa tahu?"

Dia pun tertawa pelan. "Ha...ha...ha..., bukan Seamust namanya kalau tidak tahu ciri-ciri orang yang sedang patah hati. Bagaimana? Hebat kan?" 

"Yah, kuakui kau memang hebat!"

Aku tertawa bersamanya. Lalu tiba-tiba seorang wanita bersetelan biru berdiri di depan kami. Dia memberiku sebuah kertas--dan juga Seamust. 

"Range-range-an rapat?"

Aku membuka-buka lembar kertas tadi dengan perasaan acuh tak acuh. Semuanya biasa saja. Tidak ada yang menarik. Hanya rencana kerja selanjutnya yang berkenaan dengan hasil pemantauan agen yang tengah membidik calon pemain untuk ditempatkan salah satu club asuhan kami. Selain itu, akan dibahas pula mengenai laporan administrasi pengadaan barang-barang dan akuntansi keuangannya.

Fiuh. Aku melemaskan otot-otot leherku yang sedari masuk sudah kaku seperti terpelintir. Kulihat beberapa anggota asosiasi yang lainnya sedang sibuk berdiskusi. Begitu pula, Pak Manajer yang sedang berbincang dengan beberapa pemain club yang ikut serta. Ya, di ruangan ini ada beberapa pria muda tampan yang duduk berjajar di meja seberang tepat menghadap ke arahku. Ada Klaas, Lucas, Arne, Mertesacker, Yansen, Hanz, dan Frings. Saat aku dengan sekilasan menengok ke arah mereka, salah satu diantara mereka lantas mengarahkan pandangan tajam ke arahku. Dia tampaknya tidak memperhatikan apa kata Pak Manajer. Dia sedang memfokuskan pandangannya pada satu hal. Dan aku merasa bahwa itu aku. Aku tidak berani melihatnya. Akhirnya aku pasrah saja dan kembali fokus ke materi rapat. Nampaknya ini memang hari yang sangat aneh. Persis seperti hari dimana aku merasakan kejanggalan-kejanggalan yang sama saat aku melepas kepergianmu.

"Luther, kau lihat siapa?" Aku menoleh ke arah Seamust dan dia menyodorkan sebuah artikel dalam koran mengenai bursa transfer teranyar.

"Kenapa?"
"Coba baca!"

Aku membaca sebuah pernyataan mengejutkan pada headline artikel itu. "Apa???!!! Aprilia menjadi target utama transfer pemain untuk Bremen dengan harga 50 juta euro???! Gilaa!!" Aku hampir saja berteriak kalau saja Seamust tidak membekap mulutku. Dia sama-sama terkejut juga ternyata.

"Gila!!! Penawaran yang tidak masuk akal!"
"Ckkkkckc! Berita pagi yang membuat mata melotot, benar kan?" 
"Siapa yang sanggup membayar dia pake uang segepok begitu?"
"Bremen lah siapa lagi? Selama ini Bremen kan kandangnya para bintang. Bukannya petinggi kita banyak yang menjagokan Bremen ketimbang club lain? Yang jadi perwakilan timnas saja kebanyakan dari sana." Seamust berkata panjang lebar dan aku cuma melongo saja.

"Eh iya, kenapa musti Aprilia ya? Dia kan biasa-biasa saja." 
"Biasa-biasa saja kepalamu! Dia itu bisa jadi starter hebat loh. Coba kau ingat-ingat, saat dia jadi kapten tim Hansa Rostock dan saat jadi cadangan di pertandingan besar tahun lalu? Apa kau tak menonton aksi cemerlangnya itu? Hah? Atau jangan-jangan kau selalu ketiduran dan tidak pernah menonton kalau ada dia?"
"Ah...tidak juga. Tapi tetap saja dia belum seterang yang lain."
"Gampang, itu bisa diasah kan. Sekarang belum tentu seterang 2-3 tahun ke depan? Eh ngomong-ngomong dari tadi kita bicara sendiri terus. Apa orang lain pada nggak nyadar ya?" Seamust lalu melihat peserta rapat lainnya dan dalam hatipun aku ingin ketawa. Karena selama setengah jam duduk di sini, kami hanya ngomong ngalor-ngidul tak tentu arahnya.

****

Aku membolak-balik halaman koran pemberian Seamust berulang kali. Rasanya masih penasaran dengan berita tentang Aprilia tadi siang. Ya, halaman 32 kolom A. Judul dengan huruf kapital semua. Bunyinya : "Bremen Inginkan Aprilia!" Di sini dikatakan bahwa kegemilangan gelandang serang J. Aprilia yang disebut-sebut sebagai pengganti bintang sebelumnya menarik minat Marcus Graham untuk mendatangkannya pada musim mendatang. Pemain berusia 25 tahun ini dikenal saat ikut membantu Jerman tampil di perempat final Piala Dunia tahun lalu namun hanya di bangku cadangan. Di awal musim ini, Aprilia sempat mengungkapkan keinginannya untuk pindah dari Atalanta dan diisukan akan dipinang Bremen atau Lyon dengan nilai puluhan juta euro. Namun hingga bursa transfer menuju penutupan, Aprilia belum menentukan pilihan. 

Agen sang pemain, Lucas Heidersheid mengungkapkan Bremen kemungkinan akan kembali memboyongnya pada menit-menit terakhir. 

Aku mengernyitkan dahiku sejenak. Aku mencoba berpikir tantangnya sekarang. Bursa transfer bukankah besok penutupannya. So...tentu saja seperti selentingan yang sudah keluar dari orang club dalam rapat, Aprilia resmi sudah dipinang olehnya. Jadi kemungkinan besar pada saat taken kontrak minggu-minggu besok, ia sudah tiba di Dortmundd. Oh damn! Ini mungkin hal tersulit dalam hidupku. Maksudku jika aku berniat menepati janjiku padamu untuk menyampaikan pesan terakhirmu untuknya. Ya ya.....mengenai kunci rumah. Ingat-ingat hal itu Luther. Aku bergumam sambil melipat koran dan meninggalkannya untuk pergi makan siang. Ah...tidak, kurasa aku mau tidur saja. Kepalaku pusing.

***

Kupu-Kupu yang Menyerahkan Dirinya

Pagiku disambut dengan matahari yang telah memunggungi gorden jendela. Sinarnya menembus sampai ke lantai granit dan membuatnya menjadi hangat ketika dipijak. Di kejauhan burung-burung bertengger di antara dahan-dahan pohon sambil mematuki ulat-ulat kayu. 

Aku membuka mata. Kudapati tubuhku sudah bertelanjang dada dan ada sesuatu yang lain yang bertengger di atasnya. Aku terkejut. Ada kau di sana???!!! Apa???! Aku mengucek-ucek mataku berulang kali. Lalu kubuka mataku lebar-lebar, sekedar mengkonfirmasi apakah aku sudah berhalusinasi sekarang ini. 

Aku mencoba menepuk pipiku dengan keras. Aaakkh, sakit!! Berarti ini bukan mimpi. Aku tidak sedang ngelindur. Tapi, bagaimana kau bisa ada di sini? Bagaimana kau bisa kembali setelah beberapa waktu lalu sudah berpamitan seolah pergi ke tempat yang sangat jauh dan tak akan kembali? Bagaimana kau bisa masuk ke dalam rumahku? Bukankah kunci selalu berada di tempat paling rahasia dan hanya aku yang tahu? Sementara aku sendiri tidak punya duplikatnya. Lalu yang paling membuatku histeris adalah bagaimana bisa kau datang tiba-tiba seperti ini--seperti sesesok peri yang bisa terbang kapan saja dan menghilang, lalu tiba-tiba datang lagi, dan menghilang lagi, dst seenak perut. Kau datang pun tahu-tahu sudah naik ke atas ranjang dan kita sudah tidur bersama. Perlahan aku mencoba mengendurkan rasa tegangku. Kau pun seketika langsung terjaga sambil mendongakkan wajahmu ke arahku dengan sorot mata yang sangat teduh.

"Bagaimana bisa Rui..?" Tak sempat aku meneruskan pertanyaanku, kau sudah mengunci bibirku duluan dengan bibirmu. 

"Boleh aku mengikatkan diri padamu?"ujarmu sambil membisikkan sesuatu tepat sekitar 1 cm di atas bibirku.

Aku tercengang. Kurasakan betul aroma lilac meruapi setiap jengkal tubuh indahmu.

Damn!!! Aku tidak bisa mengelak lagi. 

"Ya, Rui. Asal kau jangan pergi lagi..."

***

"Bagaimana dengan ayahmu? Apa kau sudah bertemu dengannya?" Aku bertanya sambil terus memelukmu dalam dekapanku. Kau menatapku lembut. Lalu menggeleng.

"Tidak kutemukan," ujarmu pelan. Kubelai rambutmu dengan penuh perasaan. Kau pun mendekatkan diri ke arah dadaku. Aku ini memang tidak tahu situasi. Seharusnya aku peka bahwa kau akan merasa sedih jika aku bertanya hal seperti ini.

"Tidak apa Rui, kau masih punya aku.."
"Terima kasih kau selalu ada untukku." Kau mencium pipiku spontan. Dan akupun tertawa. Kapan lagi aku bisa seperti ini? 

"Ugh!!!" Aku melenguh pelan. Kulirik jam sudah menunjuk pukul 07.00.

"Kurasa aku harus ke kantor sekarang." bisikku sambil mengakhiri tingkahku yang seperti parasit. Terus menempel di setiap jengkal kulitmu yang lembut dan kenyal di beberapa bagian.

"Pergilah. Aku akan buatkan sarapan untukmu."

Kau lalu mendorongku untuk segera berdiri. Dan aku bangkit dengan ogah-ogahan seperti tumbuhan kangkung yang kekurangan cairan. 

"Ayo! Berdirilah!!!" Kau menepuk pipiku agar aku keluar dari sifat malasku segera.

"Sepertinya kau tidak ingin berlama-lama denganku?" Ucapku merajuk seperti anak kecil yang akhirnya diberikan hadiah ciuman di kening supaya tidak ngambek lagi.

"Baiklah ! Mari kita tunggu, kau akan membuatkan aku sarapan apa?"

Aku kemudian memperhatikanmu yang dengan sigap langsung menuju ke pantry lalu menjerang air pada teko listrik dan membuka rak kecil pada kitchen set tanggung yang tegantung di atas kompor. Seolah kau sudah tahu segalanya tentang rumah ini dan sudah bertahun-tahun menyandang predikat sebagai Nyonya Luther. Mulanya aku heran. Kau tiba-tiba mengeluarkan sebungkus pasta yang tak kuingat betul bahwa aku pernah meletakkannya di sana. Tapi, ya sudahlah. Aku tak peduli. Yang penting, aku mendapatimu seusai bangun dari tidurku hari ini. 

Kemudian kau menyeduh pasta tadi dan memberikannya padaku. Belum pernah aku sarapan pasta dengan saus tomat kelembekan campur daging cincang seperti ini. Dan seumur-umur belum pernah aku merasakan masakan buatan wanita setelah aku bangun dari tidur. Jadi ini memang bisa dibilang baru pertama kalinya.

"Wah, sausnya kebanyakan. Ini pedas sekali." Aku megap-megap. Di mulutku serasa keluar asap seperti naga yang siap menyemburkan api.

"Sepertinya kau senang melihatku sarapan pagi sambil berteriak-teriak kepedasan? Bagaimana kalau aku sakit perut?"
"Toilet akan aku bersihkan. Dan kau bisa memakainya Sayang."

Hahaha... Aku menjitak kepalamu dengan gemas. Sementara waktu terus bergulir ke arah yang lebih siang.

****
Pertanyaan-Pertanyaan....

Pantulan bola kristal pada jendela ruanganku telah membuyarkan ingatanku pada sebuah pertanyaan yang seharusnya kulontarkan padamu sebelum aku sampai di sini. Ya, apa kau tidak bekerja? Kulihat ruang sebelah kosong melompong, ruang yang biasa kau huni dan ruang yang merupakan tempat persembunyianmu di kala aku sedang mencari seekor kambing hitam untuk kujadikan pelampiasan amarahku di awal-awal kita bertemu. DULU. Tapi tidak untuk sekarang. Karena sekali lagi aku jatuh cinta padamu. Harum tubuhmu yang tak bersalin tatkala kita bersisihan dengan memandang langit-langit yang sama. Memang cinta tak punya mata ya?

Oh, sialan. Terus membuallah aku. Kutekan nomor telepon rumah. Aku harus memastikan pertanyaan ini padamu sekarang juga. Aku tidak mau ketidakjelasan--kesimpangsiuran.

"Tuuuttt tuuut tuuut!!"
"Tuuut!"
"Tuuuttt tuuut tuuut!!"
"Tuuut!"

Tidak diangkat?

Aku tiba-tiba merasa takut. Jangan-jangan yang tadi itu hanya mimpi. Kesepian kembali mengancam. Tapi tetap saja bunyi nada sambung tidak altif, merong-rong kedua telingaku, kepala ini rasanya ingin membenturkan diri. Sekali-- namun sangat keras. 

Cepat angkatlah! Kau tak harus membuatku sekarat kan? 

Drap..drap drap!!! Di luar sana, seseorang berteriak seperti suara Seamust.

"Tanda tangan kontrak pemain baru dari bursa transfer club Bremen jam 9, Tim. Aku yang temani Pak Manager ngobrol-ngobrol dengan agen Aprilia."

Deg! "Aprilia??"

Kunci rumahnya!!

Aku berlari tinggalkan ruangan.


***


"Derstenn."

Dia melihat ke arahku. Kini aku dan dia tengah berhadap-hadapan sebagai seorang lelaki. Pembicaraan antara lelaki dengan lelaki. 

Di lantai 4, balkon gedung pencakar langit. Awan kelabu berarak mengitari kami. Lalu kami saling memanggil dari puncak menara. Tadinya satu kalipun kami belum pernah terlibat dalam percakapan serius. Tiap hari kami bertemu, tapi hanya di lorong-lorong kantor dan rapat-rapat. Urusan kerja. Namun tak ada satupun kalimat yang meluncur dalam bentuk sapaan. Kami saling tahu hanya dari id card. Dan sekarang kami berhadap-hadapan seperti sudah saling tahu api peperangan yang siap disulut yang semula kami pendam dalam kepala masing-masing.

Tiba-tiba dia mendekatiku. Kurasakan aura lain dalam langkahnya. Langkahnya terdengar lebih berat dan penuh kharisma. Penampilannya mulai matang dengan usianya yang 25 tahun kini. Kurasa dia lebih tampan setelah kembali dari perasalannya. Dia agak kurusan, meski jika dibandingkan denganku tentu aku masih jauh lebih kurus darinya. Fiuh...aku menghela nafas dalam-dalam. 

"Kau sudah menandatangani kontrak?", kupancing dia dengan sebuah pertanyaan pendek. Pertanyaan retoris yang sudah kuketahui jawabannya. Dia memandang ke arah jalan, sekitar 700 kaki dari tempat kami berdiri. Mobil-mobil berseliweran di antara laju angin yang menimbulkan suara-suara bising.

"Ya, Tuan Luther. Aku kembali."
"50 juta euro....Sepertinya kau telah menjadi pahlawan setelah pulang menemui Mamamu di Italia sana. Apa kau mendapat sebuah energi baru?"

Dia melirik tajam.

"Kau mengejekku?"
"Tidak...santai Bung! Aku hanya memberi sambutan."
"Aku bukanlah lelaki yang selalu berlindung di ketiak Mama, Tuan. Aku kembali juga bukan karena mata duitan. Aku masih ada tujuan lain."
"Kau punya seseorang yang kau kasihi di sini?"
"Ya. Bisa dibilang begitu."
"Jadi kau punya istri?"
"Istri?" Gantian dia sekarang yang menatapku. 
"Tidak! Aku belum beristri. Justru aku kembali ke sini karena aku akan mencari seorang istri."

Deg ! Dalam sekelebatan, jantungku berdegup kencang.

"Di sini? Siapa?" Kali ini aku merasa takut untuk melontarkan pertanyaan yang satu ini. Jangan coba katakan kalau calon istri yang dia maksud adalah Kau Rui.

"Bukankah bintang muda yang mulai terang sinarnya justru lebih menyenangkan jika tidak terikat dengan masalah wanita dulu Bung?"

Dia memperbaiki posisi berdirinya sekarang lalu menatap pandangan kedua mataku. Aku pasrah, dia mau bilang apa sekarang. 

"Aku sudah menemukannya Tuan Luther. Jadi tidak perlu sibuk mencari lagi. Yah, mungkin setelah dari sini aku akan menemuinya." Dia tersenyum. Sementara aku sedikit merasa bersalah padanya. Aku mengutuk diriku dalam hati. Rasanya aku tak sanggup lagi mendengar semuanya. Semua yang keluar dari mulutnya itu seolah seperti sebuah kartu mati yang sebentar lagi membuka hubunganku denganmu.

"Bandul kalung yang bagus." Aku menunjuk sebuah bola kristal yang menjadi bandul pada kalung gotik. Dia lantas tertawa. Rasanya semua dugaanku tadi benar. Dan sebentar lagi mungkin aku bakal meledak.

"Ini....adalah dia selama aku pergi. Dia yang selalu ada bersama cahaya dari batu ini. Karena batu ini seperti matanya. Indah dan berkilauan."

"Oh ya, Tuan Luther, mungkin sekarang aku harus pergi. Ada sesuatu yang harus kuselesaikan hari ini."
"Tunggu..."
"Ya?"
"Kau akan pulang ke rumahmu?"
"Em....kurasa aku akan ke apartement baruku dulu. Benefit dari kontrak baru. Baru setelah itu aku akan ke rumah lamaku. Memangnya kenapa?"
"Ah.....tidak. Pergilah!"

*****

Rembulan bertandang di kegelapan malam. Cahayanya putih keperakan dengan titik-titik warna yang lebih gelap seperti kulit tortila yang baru diambil dari panggangan. Kulihat bayanganku tampak membungkuk hilang timbul di permukaan jalan yang atasnya dipayungi pohon-pohon besar. Menjadikanku pulang dengan perasaan aras-arasan. Aku ingin minum-minum dulu di kedai bir seberang. Barangkali Watanabe ada di sana. Aku butuh teman curhat.

****

"Hai Bung! Ada masalah lagi ya?" Watanabe segera menghampiriku tatkala aku akan masuk lewat pintu otomatis. Dia mempersilakanku duduk.

"Aku minta softdrink saja."ujarku malas. Watanabe langsung melotot ke arahku. Padahal dia sudah mengambil coke--minuman yang beberapa hari lalu sukses merangsek ke dalam lambungku sebanyak belasan kali. Tapi sekarang aku sedang tidak nafsu untuk mabuk. Bisa-bisa kondektur bus menolakku mengantarkan pulang nantinya.

"Kenapa lagi kau Bung? Sudah tak kuasa menenggak busa haaa...?" Dia terpingkal-pingkal dan aku cuek saja memesan softdrink. Aku mengetuk-ngetukkan jari tengahku ke atas meja bar. Aku pusing melihat dia menggurauiku seperti itu.

"Ini Rasa blueberry. Seperti anggur juga. Cuma kadar alkoholnya lebih sedikit. Kau tak akan mabuk. Nah, cobalah!" Dia menyodorkanku sekaleng minuman bermerek 'cantle'. Aku mengangguk dan berterima kasih. Sementara itu, suasana bar semakin ramai. Musik berdentum-dentum, meraung-raung seperti kesetanan. Lalu aku mulai bercerita.

"Sedang dilema nih. Wanita yang kucintai akhirnya menyerah padaku. Kami sudah melewatinya semalam....tapi...tanpa sadar... Bagaimana ya mengatakannya?"
"Waw! Apa kau sedang mabuk lalu dia kau..."
"Hush!! Sembarangan! Bukan! Bukan aku yang memulainya. Tapi dia." Hampir saja aku tersedak sendiri saat mengatakan hal ini. Dan Watanabe menatapku takjub.
"Wah! Pacarmu liar juga ya??!"
"Diam dulu! Aku belum selesai. Sebenarnya....aku mendapati dia sudah ada bersamaku setelah aku bangun dari tidur."
"Apaaaa?!!!!" Watanabe terlonjak. Buru-buru ia membetulkan kursi dan menyimak ceritaku baik-baik. 

"Dia ada dan tiba-tiba sudah ada di sampingku. Seolah-olah dia dapat menembus rumahku tanpa perlu sebuah alat yang bernama kunci. Dia masuk ke rumahku tanpa kunci, Idesuka!! Apa kau tak merasa ini aneh?" Aku menyedot softdrinkku dalam-dalam. Dan pria Jepang yang ada di depanku ini segera mengerutkan dahinya tanda ia sedang berpikir.

"Sedikit aneh sih. Tapi apa kau tak lupa bahwa sebelum tidur kau belum mengunci pintu rumahmu? Bisa jadi pintu belum kau kunci dan pacarmu masuk karena dia membutuhkan kehangatan."
"Sudah kukunci. Aku yakin itu."
"Benarkah? Wah, ini kasus yang cukup rumit. Aku tidak tahu bagaimana menyelesaikannya. Tapi.... Ah...ya! Jangan-jangan kau cuma mimpi. Iya paling itu mimpimu karena sudah kangen dengannya?!!"
"Mimpi? Aku rasa tidak. Aku benar-benar bertemu dengannya Idesuka. Bahkan kami...."
"Ya...ya...aku tahu. Tapi apa kau sudah memastikannya sekali lagi. Bahwa dia sekarang ada di rumahmu?"

Aku terdiam sejenak. Saat kutelepon tadi siang, tidak ada yang mengangkatnya. Apa kau sedang keluar....sedang tidak ada di rumah? Atau...masa ini cuma mimpi? Padahal aku sudah menampar pipiku berulang kali. Dan ternyata sakit. Jadi artinya ini bukan mimpi kan?

"Sudahlah Bung, sebaiknya sekarang kau pulang. Dan pastikan apa kata-kataku benar atau salah. Okey? Dengan begitu, kau bisa memperoleh kejelasan atas mimpimu...oh sorry-sorry, maksudku...."
"Jangan katakan pacarku itu hanya imajinasi. Aku bersumpah demi Tuhan aku bertemu dengannya." ucapku sinis. Dan aku bangkit dari kursiku.

Dia tertawa terbahak-bahak saat aku meninggalkan mejanya. Sama sekali bukan teman curhat yang baik. Aku mendengus. 

****

Aku seperti titik-titik air yang berada di atas daun keladi. Posisiku terombang-ambing karena banyak hal. Jika pun ada katak melintas ataupun sekedar angin lewat yang menyebabkan keseimbangannya goyah, tentu aku bakal jatuh terjerembab ke atas sungai yang berarus deras. Aku tidak mengerti dengan apa yang harus kulakukan dengan posisi sekarang.

Aku memegang gagang pintu dengan ragu-ragu--lalu memutarnya. TERKUNCI. Perlahan kukeluarkan kunci untuk membukanya dan suara anak kunci ini tiba-tiba bergemerincing bukan main, memastikan ketakutanku akan kau.

"Krieeeetttt!!" 

Dan pintu pun terbuka. 

Lalu aku masuk ke dalamnya. Samar-samar terdengar suara bergemerasak di langit-langit membuatku ingin bilang bahwa semalam atau pagi tadi itu jangan-jangan memang cuma mimpi. Aku mengendap-endap seperti maling masuk rumah. Kupasang telinga, mata, dan indera perasaku baik-baik. Seperti ada mahluk lain di ruangan ini--mahluk lain yang tak kasat mata. Oh, jangan-jangan kau pergi dari rumah karena merasakan hal yang sama denganku. Ketakutan seperti sekarang ini.

"Rui!!!! Aku pulang..!!!"

"Rui.....

Tidak ada jawaban. 

Sepi...
Menyayat...

Gelisah hatiku dipermainkan oleh rasa cemas yang bertumpuk-tumpuk. Jendela kamar terbuka lebar. Seekor kupu-kupu morfo meninggalkan setengah sayapnya yang robek di daun jendela. 

****

Aku memandang lekat-lekat kaca jendela kamar. Titik-titik hujan menempel pada permukaannya. Membuat kota ini semakin sentimentil dengan hiasan gerimis yang kontur airnya lebih menyerupai garis-garis panjang tapi tipis seperti kristal yang runcing dan khusus diturunkan dari langit.  

"Tim....kau sudah pulang?"
DEG!

Untuk beberapa saat, aku berlatih menetralkan perasaanku secepat mungkin. Kurasakan betapa keringat dingin membasahi telapak tangan. Okey, mungkin sekarang sudah saatnya aku menoleh.

"Kau........? Darimana Rui?"
Kulihat kau mendekat dan seulas senyuman tersungging dari bibir mungilmu yang warna merah muda.

Aku mundur selangkah. 

"Terbang....", ujarmu masih tetap tersenyum.

Aku mendelikkan mataku seolah meminta sebuah kejelasan dalam arti kata 'terbang'.

"Maksudku cari udara segar."
Kau merevisi kata-katamu tadi dan berusaha menyentuh wajahku.

"Tunggu!" Aku mundur selangkah lagi. Entah kenapa perasaanku sungguh aneh saat kau berada di dekatku.

"Aku tahu, kau pasti menganggapku aneh." Kaupun akhirnya mengurungkan niatmu untuk menyentuh wajahku. Jadi aku yang balik merasa bersalah. Sekarang, gantian aku yang menyentuh pipimu lembut.

"Maaf..."

***

Suasana kamar dengan cahaya lilin warna-warni yang ada di beberapa sudutnya. Remangnya membuatku semakin betah dan coba memberi sinyal-sinyal kecil agar kau bisa segera cepat tanggap. Tapi, kurasa ini belum saatnya. Karena dari tadi kau masih memakai pakaian lengkap. Tidak ada tanda-tanda bakal kau tanggalkan satu persatu. Kau hanya sedikit memberiku kesempatan untuk memberikan sebagian dadaku saja untuk kau sandari. Yah, tak apa lah. Ini saja sudah cukup. Asal kau tidak minggat saja dari rumah ini.

"Rui..." aku memanggil. Dan kau menggerakkan wajahmu agar kita bisa saling menatap.

"Ya.."

Aku mengatur nafasku satu-satu. Kurasa ini akan sangat sulit. 

"Sebenarnya tadi aku..."
Ya Tuhan, sanggupkah aku mengucapkan nama Aprilia di saat seperti ini? Kurasa tidak. Aku terlalu takut untuk mengatakannya. Aku khawatir kau akan kembali padanya. Atau sebaiknya, kutunda dulu diskusi tentang Aprilia ini. Aku tak mau merusak suasana yang selama ini kutunggu-tunggu dengan membawa-bawa nama si gondrong Italia itu. Aku menghela nafas panjang.

"Ah tidak....aku tidak ingin membahasnya sekarang..."
Aku mengambil jeda.

"Oh...tidak apa-apa. Tidak usah kau sampaikan juga tidak apa-apa kalau berita itu hanya akan membuatmu resah." Ujarmu ringan.

Dan aku terhenyak sesaat. Kau barusan berkata apa? Bisakah kau mengulanginya sekali lagi? Aku benar-benar tidak percaya. Barusan itu kau sama saja dengan membebaskanku dari kewajiban menunaikan tugas sehubungan dengan pesanmu kepada Aprilia tahu. 

"Benar kau tak ingin mendengar kalimat yang barusan tak jadi kuteruskan itu?"
"Lebih baik aku tidak mendengarnya. Karena aku tahu mungkin ini tidak menyenangkan bagimu. Betul kan?"

Kupandang kau sekali lagi. Rasanya aku melihat sorot mata 'maha tahu' dari kedua bola matamu yang hijau. Seperti sebuah misteri. Tapi apa ya? Aku tak bisa mengungkapkannya. Aku bahkan tak mau menebak. Ini terlalu mustahil untuk pikiran dangkalku. Meski sebenarnya mata ketigaku mengatakan yang sebaliknya.

"Ya, sangat tidak menyenangkan. Bagiku. Entah bagimu..ah sudahlah..."

Sebaiknya aku menghentikan percakapan yang tidak jelas ini. Takutnya mulutku malah keceplosan dan tahu-tahu sudah membeberkan fakta yang sebenarnya, bahwa aku sudah bertemu dengan Aprilia. Aku tak mau membuang kesempatan terbaikku untuk bisa menikmati malam berdua saja denganmu. Hanya kita. Diantara sorot lilin--yang sesekali mengecil namun sesekali juga membesar. Diantara dingin malam dan hujan rintik-rintik di luar sana--berpegangan erat seolah tangan ini tak mau melepasnya lagi.

--samar-samar kulihat sekelebatan.....sepasang kupu-kupu kawin di balik gorden jendela.

***

Kupu-Kupu Sekarat

Aku mengecek isi file berjudul 'Data Karyawan'. Kucari namamu dan segala hal tentangmu. Dan saat kuobrak-abrik foldernya, aku benar-benar terkejut. Datamu telah raib ditelan bumi. Sama sekali tak ada. Hilang. Tidak berbekas. Tentang data lama, semua sudah kucek ulang dan hasilnya tetap sama. Nihil besar.

Apa-apaan ini? Aku memegang kepalaku yang mulai pening. Kurasakan benar bahwa darah di sekujur tubuhku mendadak berhenti. Ada satu kejanggalan di sini.

Dan aku buru-buru telepon bagian personalia.

****

Tidak ada!

Semua tidak ada yang menuliskan bahwa kau pernah bekerja di sini. Semua bilang aku ini salah.

Semua tidak ada yang membenarkanku.

Datamu, ruang kerjamu selama ini. Jendela ini--jendela yang menghubungkan ruanganku dengan ruangan sebelah--dengan kata lain ruanganmu ternyata tidak ada. Ini semua bohong. Ini hanya jendela yang ketika gordinnya disibak isinya hanyalah tembok belaka. Tidak ada ruanganmu. 

Aku pusing. Kepalaku serasa mau pecaaaah. Aku tidak sanggup lagi. Aku hilang akal. Semua ini bullshit. Badanku limbung...berulang kali mata ini kabur, melayang, jemari menggapai angin. Aku tidak kuat lagi. Aku.... 

Aaaaaa...............Suara lolongan itu menggema--merasuk--meradang--lalu menghilang ...lenyap bersama dengan ragaku yang terbaring lemah di satu kotak putih dengan suasana yang serba putih-putih. Pucat--semua pucat--berkabut pekat--aroma busuk obat-obatan, hilir mudik orang-orang hilang akal.

Kupu-Kupu yang Menabrakkan Sayapnya pada Dinding Jendela (Part 1)
Kupu-Kupu yang Menabrakkan Sayapnya pada Dinding Jendela (Part 2)
Kupu-Kupu yang Menabrakkan Sayapnya pada Dinding Jendela (Part 3)
Kupu-Kupu yang Menabrakkan Sayapnya pada Dinding Jendela (Part 4)

Note : Semua nama tokoh, tempat, lembaga, peristiwa yang ada dalam cerpen ini hanyalah fiktif belaka. 

To be continued...


68 komentar:

  1. Akhirnya terjadi juga perseteruan Aprillia dan Luther demi seorang wanita yang bernama Rui. Meski keduanya merasa kurang punya kemampuan untuk memiliki Rui. Meski Dalam cerita Luther lebih dominan dekat dengan Rui. Namun sepertinya ada kebimbangan pada hati Luther untuk Rui.

    Apakah Antara Luther dan Aprillia cuma mendapatkan cinta angin belaka nggak tahu...🤷🤷

    Bikin cerbung kaya diuber2 setan mbull...🤣 🤣 🤣 Kalem mbul..Kalem!!.😊

    Dari part 1 sampai part 5 harusnya panjang ceritanya sama. Biar tidak berkesan kejar2ran.😊

    Gw udah baca ulang lima kali, Tetapi ceritanya tetap mati nggak hidup... Jadi diibaratkan senar gitar dari senar 1 sampai senar 6 mati total. Steam rendah malah gabug, Disteam tinggi sampai 3 oktaf putaran glayernya bunyinya hambar.😊😊

    Tetapi tetap semangat mbul, Kalem aje ...Kalem...😊 Kalau di MWB bisa ditimpukin ente mbul.🤣 🤣 MWB jawara cerpennya bisa ribuan orang...Gw malah ngalamin bikin cerpen atau cerbung disorakin sampai seribu orang, Gara2 kualitas cerpen atau cerbung gw butut dan nggak bermutu.😊😊 Malah terus gw bikin, Semakin disorakin semakin semangat dulu waktu di MWB.😊

    Ok mbull Semangat!...Ditunggu kelanjutannya part 6nya..👍👍👍👏👏👏

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha...iya ga pa pa kok kang, salam hormat buat kang satria yang udah master di bidang cerpen dan cerpenis2 kawakan mwb lainnya yang uda pada jago-jago bikin cerita yang terasa hidup

      Beginilah gaya tulisku kang, masih pemula banget.

      Ya intinya memang ceritaku masih biasa aja dan mungkin kalau bagi yang udah master kelihatan ga ada apa-apanya

      Kalau dibandingkan ama cerpen kang satria mah jauh...cerpen kang satria mah 👍👍👍👍

      Tapi ga pa pa, seenggaknya aku cuma pengen nuangin cerita yang udah aku buat pada waktu aku masih SMA dulu kang, sekitar tahun 2008, daripada cuma ngendep di buku tulis yang aku tulis pakai bolpoin dan karena uda lama jadi bolpoinnya keburu pudar, ya udah aku taruh di blog aja,

      tapi makasih buat kritik dan sarannya kang 😊. Insyaalloh nanti kalau ada kesempatan nulis cerpen lagi akan kuperbaiki yang kurang-kurang 😊

      Hapus
    2. Ikutan nimbrung donk, MWB itu apa sih Mba Nita, Mas satria? Kayaknya komunitas menarik buat tempat belajar nulis ya. Jadi penasaran..

      Hapus
    3. Kurang tahu aku mba thessa, mungkin kang satria yang alumninya platform tersebut yang bisa menjelaskan, karena beliau udah banyak pengalaman alias makan asam garam saat menulis cerpennya di mwb hihi

      Kalau aku mah cuma kelas coro aja... masih pemula akutuh kalau menulis fiksi 😂

      Hapus
    4. Anjir, jadi lupa mau komentar apa habis baca komentar MWB. Haha.

      Saya cuma mau iseng merespons tanpa bermaksud membela ataupun terlepas dari tulisan Mbak Nita ini: enggak masalah sih mau cerpen/cerbung panjangnya beda-beda atau sama dalam tiap bagian. Selama bisa ditulis dengan baik, pembaca bakal anteng melahapnya, Mas. Jika akrab sama penulisan fiksi, khususnya novel, saya pikir mah Mas tentu tahu bahwa bab awal-awal dan perkenalan bisa pendek, terus menuju pertengahan, apalagi di bagian puncak dan konfliknya, bisa berlarut-larut.

      Saya enggak tahu juga apa itu MWB, cuma tahu GWP (Gramedia Writing Project). Tapi saya kira itu sejenis platform untuk penulis memamerkan karyanya.

      Dengan Mas bilang kenapa cerpennya ditimpukin seribu orang, saya pikir enggak ada hubungannya membandingkan tulisan Mbak Nita dengan pengalamanmu di sana.

      Jika mau kritik atau saran, ya sampaikan aja langsung. Bahas apa yang menurut Mas ceritanya terasa mati. Memuji diri sendiri dengan membahas pengalaman pernah menderita kala dihujat banyak pembaca buat saya terasa konyol.

      Oh iya, tadi saya iseng baca dua cerpenmu di blog, saya kayaknya paham kenapa cerpennya ditimpukin seribu orang. Mas juga sudah sadar diri kan. Mutunya emang elek tenan, Mas. Saya perjelas lagi tuh. Salah satu cerpen yang saya baca, mirip kisah stensilan, tapi ditulis dengan amburadul. Saya enggak nafsu sama sekali. Malah cerita-cerita dewasa di internet yang biasanya ditulis anonim itu tampak lebih bagus dan mengundang hasrat.

      Lalu, kayaknya Mas masih payah dalam membangun narasi. Sedikit-sedikit dialog. Sekalipun tujuannya dibentuk kayak kisah minimalis, dialog yang disampaikan enggak menggerakkan alur cerita. Enggak buat lelucon. Enggak bermakna. Jika ada editor menangani tulisan itu, saya yakin dia bakal meminta buat hapus semua dialognya. Itu tentu kegagalan fatal dalam bikin cerita.

      Sekian dan terima kasih, Mas. Btw, saya bersedia juga lho gantian dinilai cerpennya sama penulis MWB. :p

      Hapus
    5. Haaahaaa bisa aja luh Pentil Asem...Eehh Solihin..🤣 🤣

      Tugasluh komentar dicepennya Nita bukannya malah komentarin gw pentil asem. Gw itu fansnya blognya Nita Jadi apa yang dia tulis sesuka gw mau komentar apa, Enak gw bilang enak, Begitupun jelek...Yaa gw bilang jelek. Tanpa memojokan dirinya. Dan gw rasa Nita juga paham kok sama kelakuan gw. Karena boleh dikatakan hampir setiap hari gw sama Nita Blogwalking.

      Justru ente nih yang dateng2 ngibarin bendara perang Ha!!....Emang luh kenal gw....Tahu dalem2 gw. Gw rasa kaga. Pasang kuping ente sama kacamata tuh luh pake....Gw bukan penulis atau cerpenis terlebih Novelis. Dan gw juga orang yang nggak punya waktu untuk nulis, Blog bagi gw sekarang hanya untuk sekedar corat-coret doang. Jadi kalau luh mau ngoceh2 tentang cerpen atau sejenisnya luh salah tempat tong!.🤣 🤣 Lagian nggak kaya jadi cerpenis, dan gw kaga minat dengan hal itu.

      Makanya kalau belum tahu jangan sok tahu tong!!....Ente kalau mau ngomentari cerpen2 cari penulis media cerpen handal ngoceh deh luh sana sampai luh puas. MWB luh nggak tahu....Wajarlah luh nggak tahu, Udah kepinteran kali yee..🤣 🤣 🤣

      Masih kalah wawasan luh sama Nita..😊😊 Udaah gitu saja Solihin...kalau mau ngoceh2 mending diblog gw aje, Ketimbang nyampah di blog orang..

      Jiitaakk dulu aahh buat Solihin Suuee...Tuuks!.


      Hapus
    6. @ Thessa R :

      MWB ntuh singkatan nama dari Manusia Wajah Bayik 👶

      Hapus
    7. @Thessa R : Mwb itu sebuah blog builder untuk ponsel karena seluruhnya bisa diakses dan dikelola lewat ponsel. Mwb di perkenalkan tahun 2008 dan di tutup tahun 2016.

      Hapus
    8. Oh begitu ya mas Himawan, kirain aku mwb itu singkatan dari Main Wadon Bae, kesukaannya Don Juan.😂😂😂

      Hapus
    9. mungkin lebih tepatnya AAJB

      Hapus
    10. yoga : kalau ada fitur pin, pingin kupin dan kulike berkali kali nih komentar yoga, makasih yog...seenggaknya lu tau cara mengomentari penulis yang masih pemula sepertiku dengan memberi masukan yang sesuai konteks dan membangun, sekali lagi makasih yogaaaa, realy appreciate your comment ^______^

      Hapus
    11. mas himawan, mas kal el, mas agus, pak dokter tubagus: 😄😄 pindah ke post atasnya yokkk, ngulas makanan dan es yang seger seger 😁😁😁

      Hapus
    12. Walah kok bisa gitu mas rahul? Siapa yang taruh di twitter, aku aja ga mainan twitter. la wong aku cuma iseng bikin cerpen amburadul waktu jaman SMA gitu kok. Banyak halunya. Udah ga usah diributin di twitter, aku mah cuma pengen nostalgia kenangannya aja waktu nulisin cerpen ini pas SMA dulu dan seneng2 berbagi dengan temen blogger...Serem klo ada di twitter 😱😱

      sorry klo ceritanya masih amatiran buat yang baca, maklum karena aku masih nubie

      Hapus
    13. Terkait komentar Rahul, itu konteksnya tadi ada yang tanya, saya habis komentar apaan sampai dapat komentar balasan di blog yang katanya ngajak perang. Saya kasih unjuk link ini.

      Maaf ya, Mbak, saya enggak bermaksud aneh-aneh. Maaf juga malah seakan-akan cari keributan di sini. Itu saya cuma memberikan pandangan aja, sih. Ya, sekalian iseng meledek MWB.

      Tapi sepertinya tindakan saya berlebihan. Ahaha.

      Semestinya betul kata Mas itu, aturan saya komentarnya di blog dia aja biar enggak melibatkan pihak lain. Besok-besok saya usahakan lebih banyak diam aja, enggak usah mengkritik yang salah tempat, lebih-lebih sampai memancing keributan. Lagian malas juga, enggak bikin kaya, seperti kata mas-mas yang salah sebut nama orang. XD

      Sekali lagi, sori ya. Sori juga buat para pengunjung yang terganggu.

      Terima kasih.

      Hapus
    14. Waduh, jangan gitu yog, santai, selow....ga pa pa kok, justru aku mah biasanya paling menantikan salah satunya ya komentar yoga, beneran deh, soalnya komentarmu bagus karena sesuai konteks dan ketika memberikan saranpun bener adanya alias membangun. Jadi ga pa pa atuh yog. Santai aja ya 😊😊😊

      Hapus
    15. Waah rameeee 😆😆 apapun itu, semangat buat nulisnya Mba Nita. Menurut aku cerita mba nita udah oke, cara bertuturnya pun bagus, runut. Variasi katanya juga udah keren.
      Masukan dr aku, salah satu kesalahan penulis pemula itu adala di awal terlalu banyak memunculkan tanda tanya dan banyak tokoh. Itu bisa membuat pembaca overwhelming duluan. Padahal kalau tujuannya cerbung, konflik keluarkan pelan2 begitu juga tokohnya. Hehehe.. keep ur good work mbaa. Semangaat lanjutkaan! 😁

      Hapus
    16. Awwwww mamacih mba thessa, hihi, masukan dari yang dah bikin buku beneran jadi makin menyemangatiku yang masih pemuka ini :*

      Iya mba udah cem telenopelah yaaaak ahahah, tokohnya kebanyakan, aku juga ngerasa gitu sih..
      Buatku saran mba thessa membangun banget, maybe bisa buat aku ke depannya beneran garap tokohnya yang minimalis dulu supaya lebih centralized ke situ danga kemana-mana, makasih vanget mba thessa, laaafffff 😍

      Hapus
    17. Wow ada masukan dari mbak Thessa yang sudah bikin buku jadinya pasti bagus. Aku coba bikin cerbung lagi ah, tapi temanya tetap horor romantis.

      Kalo cerpen mbak mbul menurutku tokohnya cuma Tim bul, Aprilia Paijo sama Rui Costi itu. Yang lain cuma figuran ya, cuma ngga jelas nasibnya apalagi yang part 1 seperti detektif Conan dan tuan Bellamy.😄

      Hapus
    18. sebenernya part 1 pengen kubuang mas haha, soalnya part 1 agak mengacaukan semuanya 😭😭😭

      Hapus
    19. Wuiiih.. saya ketinggalan keseruan disini yah gara-gara sibuk migrasi.... wakakakaka...

      Semangat ya mBul... keep on writing and enjoy it..

      Hapus
    20. hihi trima kasih mas anton

      aku lagi ubek ubek mm yang baru yang lebih ijo seger...

      ini bikin cerita iseng aja mas 😂😂

      Hapus
    21. Buang sajalah kalo memang itu mengganggu, kan ini karya sendiri bukan orang lain.

      Yang penting semangat dong.

      Hapus
    22. Eh menurutku sih jangan dibuang, diedit saja mbak biar jalan ceritanya sinkron sama part part selanjutnya.

      Hapus
    23. Mas : sebenernya sayang kalau part1 nya dibuang atau diedit mas, soalnya uda banyak yang komen huehehhe, anggap aja tu part atu walau tetep aku pajang tapi ga ada diantara part2 lainnya aja deh ya hihihi

      Hapus
  2. Setau saya asosiasi (kalau di sini PSSI) tak mengurusi pelatih club, pelatih club itu mutlak wewenang club kalau pelatih timnas itu baru wewenang asosiasi.

    Jangan si Rui ini gadis bergaun putih kok tiba-tiba bisa ada di kamar Tim jadi takut atau jangan-jangan ada adegan yang disensor?

    BalasHapus
    Balasan
    1. waduh, mas dari kemaren aku mau konsul ma peyan masalah bolanya malah dijawabe sekarang, yah dah terlanjur kupost haha

      😆😂

      ya tapi makasih kritikannya

      walaupun ini fiksi sih, bisa aja lembaga di cerita ini beda ma lembaga yang ada di dunia nyata sono..

      oke deh, thanks buat masukannya 😃

      Hapus
    2. Maaf, ngga tau kalau mau konsul lagi pula saya hanya sedikit mengerti tentang sepakbola bola kalau Konsul sama saya bisa-bisa jawabannya ngawur..hihihi

      Betul banget ceritanya hanya fiksi dan sepakbola hanya sebagai latarnya saja dan mungkin juga hanya yang mengerti (sedikit) sepakbola saja yang membacanya sedikit merasa janggal.

      Hapus
    3. Iya soalnya kemaren mau tanya-tanyam berhubung kayaknya mas kal el tiap komen banyak wawasan, e tapi kutunggu2 ga dijawab2, yawes keburu takupload part lanjutannya dengan mengandalkan imajinasi aja. Maaf deh masih nubie hehe..

      Hapus
    4. Oh ya mbak mbul, kalo bisa saya minta sih untuk part selanjutnya ngga usah pakai bahasa Inggris karena terus terang aku ngga paham. Kadang lagi baca baca ada bahasa Inggris jadi bingung, dia ngomong apa ya, akhirnya translate dulu, kirain cuma satu eh ternyata ada lagi.😂

      Memang sih pakai bahasa Inggris bisa jadi nilai lebih, sesuai dengan cerpennya yang settingnya di luar negeri. Cuma akunya saja yang bingung.😅

      Ini hanya permintaan saja sih, ngga usah terlalu diperhatikan jika alurnya memang harus menggunakan bahasa Inggris.😊

      Hapus
    5. Asyikkk, dapat masukan dari mas agus,
      Iya mas, next time aku usahakan perbanyak bahasa indonesianya, kadang kadang aku kalau bahasa indo kudu bener bener cari perbendaharaan kata yang luwes dan kaya dulu mas, sekalian latihan.

      Makasih mas agus....jadi semangat buka kbbi lagi aku hihihi 😊😄

      Hapus
    6. Hahaha ngga perlu buka kamus ah, cukup pakai bahasa sehari-hari saja yang enak, kalo terlalu ngikutin kamu nanti terlalu kaku menurutku sih.

      Pakai kata kata yang unik saja seperti D3m1 4p@ G1t0.🤣

      Hapus
  3. Wah panjang sekali ceritanya, padahal part 1 sampai 4 agak pendek ya, kalo part 5 kayak sepur barang.😅

    Jadi sebenarnya Rui itu ada atau tidak sih? Kok datanya ngga pernah ada di kantor tempat Tim kerja ya? Atau jangan-jangan ini semua hanya halusinasi saja atau jangan-jangan Tim juga sebenarnya sedang berhalusinasi semuanya, dari kerja sebagai asisten manajer sepakbola, ketemu Watanabe, ketemu Rui, padahal aslinya dia sedang di RSJ, kayak filmnya Shutter Island nya Leonardo Dicaprio.😂

    Atau jangan-jangan ada agen rahasia yang menghapus semua datanya, kayak film-nya Jason bourne itu lho. Ditunggu part 6 nya.

    Wah mahal amat harga transfer Aprilia Paijo sampai 50 juta euro dan hebatnya wender Bremen mau saja ya, banyak duit dong. Kirain aku cuma Bayern Muenchen saja klub Jerman yang bisa beli pemain mahal.😄

    BalasHapus
    Balasan
    1. silakan mas agus kembangkan sendiri jadi film, wakakak..

      ya namanya juga fiksi 😃😃

      panjang emang part 5 ini, sengaja...sekalian ngetes pada baca ga kalau kubuat panjang begindang 😂😂😂😂🤣🤣

      Hapus
    2. Oh, jadi part 5 plot twist nya adalah ceritanya sengaja dibuat panjang.😱😱😱

      Hapus
    3. ya biar bada shocked saking panjangnya 😂😂

      Hapus
    4. gw baca hampir sejam dong, mana baru bangun tidur :D

      Hapus
    5. Kalau saya bacanya hanya beberapa paragraf saja mungkin hanya dua atau tiga paragraf..hihihi.. kaburrrrrrrrr

      Hapus
    6. Khanif : apalagi gw yang ngedit nif, ampe berhari hari hahahha, dan kadang masih edit sambil jalan juga 😂😂

      Hapus
    7. Haha, iya ya, mas kal el, tapi warbiasa loh mas kal el ini, baca beberapa paragraf aja uda tau point point pentingnya dan kritis sekali...:D

      Hapus
  4. wah semakin misterius nih ceritanya, gw heran apakah rui yang bersama tim beneran, atau rui jadi-jadian :D, sepertinya gw gak rela kalo rui sama tim, mendingan sama gw aja hahaha :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. mending ma khanif aja ya berarti si ruinya hahhahaha

      Hapus
    2. Kalo sama mas khanif, Rui-nya punggungnya bolong.😂

      Kaboorrr 🏃🏃🏃

      Hapus
    3. berarti kudu dicek dulu bagian punggungnya 😂😂

      Hapus
    4. eh jangan kabor dulu mas agus, ini loh tak beliin jajan bakso mau gak :D

      Hapus
    5. rui sama gw cocok kali ya, kisah hidup tim juga gak jauh beda dengan hidup gw :D

      Hapus
    6. Wuih, mas khanif jadi manajer sepakbola juga di kampung ya, mantap mas.👍

      Hapus
    7. Khanif : nah tuh nif, cegat si mas agus di pengkolan 😂
      Iya ya, kayaknya emang cocok khanif sama si ruinya hihihi


      Hapus
    8. Keren yo mas agus, si khanif 😀😀

      Hapus
    9. maksut gw bukan kehidupan yang jadi manager sepak bola kalik, tapi cerita hidup yang suram nya itu lho hampir mirip, apalgi kalo udah urusan wanita :D

      Hapus
    10. Asyiiik, ada yang mirip...

      Jadi ga sia sia gw bikin tokohnya kan hihihi

      Hapus
  5. Mba Nita saya butuh 2 hari menyelesaikan bacaan di part 5 ini, 😂😁 karena penulisannya makin lama makin halus, jalan ceritanya semakin menghanyutkan, makanya saya bacanya pelan-pelan biar bisa di hayati 😂😁

    Kalo untuk alurnya, ini beneran cerita misteri, karena adegan per adegan meloncat agak banyak dan sampai part ini ada beberapa hal yang belum terjawab, dan sebagai pembaca ada satu yang paling pengen saya rasakan feelnya seperti ketika Mba Nita menggambarkan suasana dan situasi di cerita ini, yakni momen momen mendetail dimana luther bisa jadian sama Rui, pengen ikutan ngerasain deg degannya juga soalnya Mba, hihihi..

    Untuk ending di part 5 ini, apakah suasana serba putih2 dan aroma busuk obat-obatan adalah jawaban dari misteri di cerita ini mba? karena setelah baca ending part ini seolah cerpennya bakal segera tamat. Atau belum? Masih misteri yah ternyata 😂

    Karena banyak misteri2 di part part sebelumnya yang jawabannya masih di tunggu2 pembaca macam saya 😂🥺 semoga part-part selanjutnya masih ada lebih banyak lagi, penasaran soalnya 😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Awwww, aku paling semangat kalau mba rini uda komen fiksi aku, hihihi

      Makasih mba rin, jadi bikin ku semangat dan nggak nglokro lagi

      Iya mba, aku juga pas nulisin proses ceritanya ini serasa tiba tiba kayak ngebayangin atawa menghayati gitu hahhaha, biar totalitas #halu deh aku, biasalah yak kita wanita kan sukanya yang romance romance mendebarkan gituh 😍😍😍

      Hapus
    2. Apalagi ditambah sambil nyetel lagu romantis hihihi...biar makin meknyess >____________<

      Hapus
  6. Aku curigaaaa si tim sbnrnya menderita halusinasi akut :D. Sbnrnya dari awal karakternya dibikin udh kliatan dia ada sedikit kelainan mental, mungkin Krn dari dalam kandunganku dia udah menderita ya Nit. Jadi wajar semua sikap menyebalkan yg dia tunjukin ke Rui :D. Aku ikut kebawa kesel Ama sikap egoisnya di semua part hahahhaha

    Duuuh liat yoga dan mas satria ngakak niiih wkwkwkwk.

    Nit, ini komen masih dimoderasi ga ya? Aku cuma mau sedikit ngebenerin kata2 bahasa Inggrisnya. Kalo bagian yg ini mau di delete juga gpp. Beberapa istilah ada yg grammarnya salah. Mungkin lebih bagus kalo semua percakapan dibuat dalam bahasa Indonesia aja kali yaa.

    Beberapa yg salah grammarnya:
    1. I did'nt steal your money di percakapan saat Rui bikinin masakan utk Tim. Koma atas utk singkatan seharusnya setelah N, jadi I didn't steal your money.

    2. So I'm not a smuggler. Secara grammar ga salah, tapi aku ngerasa kata2 smuggler ga cocok dalam konteks ini. Rui masuk ke rumah Tim secara diam-diam, lebih cocok istilahnya Intruder, orang yang menerobos masuk diam2 ke property orang lain. Smuggler artinya memang penyelundup . Tapi LBH pas utk orang yg menyelundupkan barang secara ilegal dari dalam ato luar negeri/masih di 1 negara.

    3. I don't know about who am I.
    Ini kata yg dipakai Rui pas Tim mau tau dia siapa. Who Am I di kalimat itu kurang tepat. Karena konteksnya bukan kalimat tanya. Rui hanya menyatakan bahwa dia ga tau siapa dirinya. Jadi Krn itu bukan kalimat tanya, kalimat seharusnya: I don't know about who I am.

    4. "Just a joke, Men". Men itu plural, sementara di kalimat ini seharusnya hanya ditujukan utk 1 org kan, jd harus Man.

    5. "There are a sunlight from heaven" . Are dikalikat itu utk menunjukkan plural , bukan single. Sementara A Sunlight menunjukkan hanya 1, bukan jamak /plural. Jd seharusnya There is a Sunlight...

    6. Sorry, oh, I am surprise can meet you, Mr Idesuka

    Surprise itu Verb alias kata kerja. Sementara di kalimat ini mau menunjukkan kalo Tim KAGET bisa ketemu orang Jepang di tempat itu. Kaget di sini kata Sifat ato adjective. Jadi kalimat yg tepat : I am surprised . Kata Surprise yg VERB td, di tambahin ED dibelakang dan menjadi Adjective.

    Dan kata "can" ga tepat dipake di sana. Kalimatnya mungkin LBH enak kalo, "I'm surprised meeting a Japanese in this bar.

    7. You can see now. I like a ridiculous clown , am I.

    Ada 2 kesalahan di kalimat atas. Pertama I like, itu mksdnya menyatakan mirip kan? Bukan SUKA? Kalo menyatakan mirip, ato Adjective, harusnya I AM Like a ridiculous clown.

    Harus pake To Be :AM. Agar berubah jd kata sifat.

    Lalu Am I , di kata-kata trakhir, itu aku ngerti kamu mau menunjukkan TAG question. Tag question itu bukan pertanyaan, tapi hanya ingin memastikan (confirm) bahwa yg dia maksud itu benar . Jadi aturan grammarnya Positive statement, harus diikuti Negative tag, dan negative statment harus diikuti Positive tag.

    Yang mana dalam kalimat di atas positive statment (I'm like a ridiculous clown) harusnya diikuti Negative tags (aren't I)

    Disini exception, walopun I selalu berpasangan dengan Am, tapi di aturan taq question, I harus dilawan dengan Are ato Aren't :)

    Cth nya lagi,

    •You're a writer, Aren't you. (Positive statement with Negative tag)
    •She is not eating cookies, is she? (Negative statement with Positive tag)

    Penjelasan ku bikin pusing ga yaaa 😅.

    Yg percakapan Tim dan Watanabe, itu juga terlihat kaku nit. Tp aku bisa trima Krn aku anggab tim sndiri org Jerman, dan Watanabe Jepang. Jdi mungkin bahasa Inggris mereka blm terlaku fasih dan sedikit kaku . Jd masih okelah.

    Maaaaf, ga bermaksud sok lebih pintar yaaa, Krn BHS inggrisku juga msh harus dilatih trus2an. Apalagi sejak ga kerja, makinlaaah ga kepake ini ngomong Inggris hahahhahaa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masukan yang sangat berharga mba fanny,

      Laff 😄

      #uda aku edit jadi bahasa indonesia aja

      makasih mba fan, aku jadi bisa belajar grammar bahasa inggris lagi, ..bermanfaat banget :D

      Hapus
    2. Dan mbak mbul menyerah, akhirnya jadi bahasa Indonesia saja.

      #hore

      Hapus
  7. Belum ada nih lanjutannya, padahal para penggemar sudah menunggu part 6 nya.😀

    BalasHapus
    Balasan
    1. Belum mas, soalnya abis baca metode save the cat cara bikin novel mba thessa malah makin bikin kepalaku cenad cenyd ga keruan 😢😭

      Hapus
    2. Hahaha, aku mah tidak pernah mikir bagaimana metodenya, langsung saja menulis gitu, kalo mikir seperti itu memang cenat cenut.

      Biarpun kadang kalo sudah menulis bingung buat endingnya.😂

      Hapus
    3. hu um mas, ini aku lagi nyoba mulai ngetik dan edit sana sini dulu hihihi

      tungguin yak 😌🙄😜

      Hapus
    4. lagi mau mulai part 6nya mas makanya aku resapin dulu baca ulang part 1 mpe 5 nya biar lebih berasa hihihi 😆

      Hapus
    5. Oke, aku juga mau terbitkan cerbung baru ah, tapi ini banyak horornya daripada romansa nya.🙂

      Hapus
    6. iya mas, aku jadi semangat lagi nih mau lanjutin cerpen ini berkat mas...dan kemungkinan masih pengen bikin cerpen cerpen lainnya juga ntar kalau ada kesempatan...makasih ya mas 😊,bul jadi smangaaaaaaaaad

      💪('ω'💪)

      Hapus

Komenin dong...tanpa kehadiran kalian apalah arti aku menulis....
kalian penyemangat setiap bulir kalimat dalam blog ini :*
Namun jangan komentar SARU atau SARA ya, jika ada komentar dengan unsur tersebut, dengan berat hati akan aku HAPUS .

Oh ya, Dilarang juga mengambil gambar/foto atau menyadur tulisan tanpa mencantumkan sumber atau seijin pemiliknya. Apalagi untuk kepentingan komersial atau lomba. Thx ^____^