Minggu, 16 Agustus 2020

Kupu-Kupu yang Menabrakkan Sayapnya pada Dinding Jendela



S.A.T.U

Oleh : Gustyanita Pratiwi


Potongan rambut cepak adalah gaya khas Rui. Umurnya baru 7 tahun. Suatu kali ia diajak ayahnya ke Hannover Stadium. Dia sangat berbinar-binar. Sejak balita, dia memang sudah menyukai bola. Kemana pun dia pergi, bola selalu berada dalam genggamannya. Dari sudut pandang mata Rui, bola adalah sekerat gula-gula yang terlihat begitu manis dan menggairahkan. Rui sangat mencintai bola.

Ayahnya, Tuan Bellami adalah seorang pemotong rumput di Hannover Stadium. Perawakannya bagus, tak menunjukkan bahwa dirinya sudah berusia gaek. Tulangnya kuat bertemankan sinar matahari pagi setiap hari. Sorot matanya pun memancarkan aura kebapakan dengan pergumulan hidup yang keras. Tujuannya satu, ingin membahagiakan Rui di kemudian hari. 


Gambar bikinan : Gustyanita Pratiwi

"Ayah ! Ayah ! Ayo main bola, Yah ! " Rui berteriak-teriak sambil menariki kemeja ayahnya. 

Tuan Bellami pun menoleh sesaat. Buliran keringat yang bercucuran di sekitar kabaret merahnya menunjukkan bahwa dia sudah cukup lama berkutat pada mesin pemotong rumput yang sedang dia pegang. Dia tersenyum lalu mengelus-elus rambut cepak Rui. 

"Kau lihat kan, aku sedang bekerja. Masih banyak rumput yang harus kupotong. Kau main-main saja lah dulu. Atau mau main gol-gol-an di gawang sebelah sana?" Tuan Bellami mengarahkan pandang ke bagian selatan lapangan. 

"Ah Aku mau main bola sama Ayah, main bola Ayah, main bolaaa !" Rui terus merengek. 

"Nak, aku sedang sibuk!" Tolak Tuan Bellami lembut.

"Aaaa tidak. Aku mau bola Ayah, aku mau  bola. Sekarang !"

"Kau ini keras kepala ya ! Kapan aku bisa melihatmu bermain boneka atau rumah-rumahan?" Tuan Bellami bergumam lirih. Ia lalu melanjutkan pekerjaannya.

Suara mesin pemotong rumput kembali menderu-deru, berebut suara dengan teriakan Rui yang minta ditemani main bola. 

Sementara itu, dari arah gor, seorang pria paruh baya bermata kelabu berjalan mendekati Tuan Bellami. Tuan Bellami pun segera menghentikan pekerjaannya itu. Dia menunduk hormat pada pria paruh baya tadi sambil tersenyum ramah. Rupanya Tuan Bellami sangat menghormati pria itu.

"Maaf Tuan Bellami, Kepala Staff ingin berbicara dengan Anda!" Perintahnya.

Tuan Bellami pun terperanjat, ia lalu buru-buru melepas sarung tangan hitamnya yang terlihat kotor kecoklatan.

"Sekarang?" Tanya Tuan Bellami ragu-ragu.

"Ya. Sekarang ! Penting !" Pria itu menjawab pertanyaan Tuan Bellami dengan tegas. Dia menginginkan Tuan Bellami segera ke ruang Kepala Staff. 

"Ah, ya--sebentar," jawab Tuan Bellami sopan. Dipandangnya Rui dengan sorot mata memohon.

"Rui, Aku ke sana dulu ya? Kau main-main saja dulu di sini ! Jangan kemana-mana sebelum aku kembali. Mengerti ?!" Perintah Tuan Bellami.

Rui yang diajak bicara hanya bisa melompong saja. Otak polosnya masih berpikir keras untuk memahami maksud dari kalimat sang ayah.

"Rui, kau mengerti maksudku kan?" Tuan Bellami kembali menanyakan hal yang sama pada Rui. Ia khawatir dan tampak ragu untuk meninggalkan Rui seorang sendiri  meskipun cuma sebentar.

"Ayah mau cuci tangan?", tanya Rui sembari menebak.

Tuan Bellami tertawa kecil. Rupanya Rui belum paham juga. Tapi Tuan Bellami segera mengiyakan pernyataan putrinya itu. Ia tak mau membuat pria paruh baya tadi menunggu hingga berjam-jam lamanya hanya untuk membuat Rui kecil mengerti.

"Iya. Aku mau cuci tangan. Lihat, tanganku kotor sekali kan? E...kau di sini saja ya ! Jangan kemana-mana. Aku akan segera kembali. Jangan khawatir aku cuma sebentar !"

"Tapi bola Ayah..", Rui merengek.

"Iya. Nanti kita main bola. Aku janji !" Tuan Bellami menenangkan.

"Benar ?" Tanya Rui memastikan. Anak itu masih belum begitu yakin. Matanya mengerling-ngerling seperti memaksa agar ayahnya menjawab dengan pasti.

"Aku janji. Aku akan segera kembali. Sudah ya !" Tuan Bellami beranjak. Dia mengikuti pria paruh baya tadi menuju ke ruang Kepala Staff sekarang. Sementara itu Rui masih termangu. Kelihatannya dia sangat takut jika ayahnya tidak akan pernah kembali lagi untuk menjemputnya.

***

Sepeninggal Tuan Bellami, Rui terlihat begitu kesepian. Dia bingung harus berbuat apa. Dengan perasaan kesal, akhirnya bola yang semula dia pegang, ditendangnya dengan keras ke arah sembarang. Bola itu mulanya melambung membentuk sudut 45 derajat persis mengarah ke depan mistar gawang, dan...."Hah !!!! Goaaaaalllll !" Rui berteriak-teriak kegirangan. Ia lantas meloncat ke udara, meroda dengan lincahnya, dan tersenyum-senyum sambil mengacungkan dua jarinya ke atas. Rui berputar-putar. Ia membayangkan dirinya kini seorang maha bintang Maradona. "Pasti aku langsung disorot kamera lebar-lebar." Begitu pikir Rui bersemangat.

Namun kegembiraan itu tak berlangsung lama. Ia akhirnya tersadar bahwa kini dirinya sendirian. Tak ada seorang pun yang menyaksikan atraksinya barusan. Tak ada kamera yang menyorotnya. Tak ada yang memberinya tepuk tangan meriah. Dan tak ada yang mengelu-elukannya sebagai seorang pahlawan. Sampai dengan saat ini ayahnya belum juga kembali untuk menemaninya bermain bola. Padahal ini sudah 1/4 jam  lamanya. -Ayah kemana?- Rui termenung menahan rasa takut.

***

Sambil terus menunggui ayahnya, Rui kecil duduk berselonjor di atas rumput hijau yang maha luas. Ia mengeluh terus sepanjang hari. Hatinya bergumam bahwa ayahnya bakal ingkar janji. Ayahnya akan lama kembali. Dan membiarkan Rui sendiri.

"Ayah lama banget sih. Aku capek Ayah. Apa Ayah lupa sama janji Ayah ?" Rui terus bersungut-sungut sampai tak terasa rumput yang telah rapi dipangkas Tuan Bellami kembali berantakan akibat diremas-remas oleh tangan kecilnya. Di pikirannya, Tuan Bellami sedang pergi cuci tangan di toilet ganti. Padahal sebenarnya dia sedang dipanggil oleh Kastaff Stadium entah untuk urusan apa.

Saking kesalnya menunggu, akhirnya Rui bangkit. Ia menuju ke bangku cadangan dan official team yang biasa untuk duduk-duduk sambil mengawasi jalannya pertandingan. Rui rebahan di situ. Pikirannya penat. Rasanya ia ingin memarahi Tuan Bellami saja nanti, sekembalinya ia dari ruang Kastaff Hannover Stadium.

***

Mega merah bersemburat di ufuk barat. Rupanya matahari telah condong sebagian dan hari mulai petang. Gemerisik dedaunan ivy di pinggir papan sebuah iklan softdrink membangunkan Rui dari rasa kantuk. Dia mengucek-ucek matanya sampai merah. Lalu duduk sambil menerawang jauh pada satu titik. Rumput dandelion di ujung garis putih tengah menari-nari pilu ditimpa angin sore. Membuat anak-anak dari tanaman itu terbang bersenggolan ke udara bebas dan menjauh dari sang induk.

"Ayah pasti lupa memangkasnya..." ucap Rui lirih. Kakinya berayun-ayun pelan tanpa memijak tanah. Rupanya hawa dingin telah merasuk tulang.

"Blugh..,.blugh...blugh.." tiba-tiba terdengar suara bola dipantul-pantulkan ke udara. Rui memasang telinganya baik-baik. Sekarang dia sadar, ada orang lain di sekitarnya. 

Siapa? Ayahkah?

"Hey-hey-hey !!! Kontrol kecepatan larimu. Jangan terlalu ngotot, Essien !" Dan kau Robben, kenapa kau tidak bisa mengoper bolamu sebentar saja. Kau tidak bisa selamanya main secara individual begitu. Ini team. Bukan ajang pamer !"

Rui mendengar suara seorang pria berteriak keras-keras. 

"Maaf Pak."

Kali ini Rui mendengar suara seorang lelaki berkulit putih dan bertubuh gempal yang sedang bergabung dengan belasan temannya. 

"Oh....tidak-tidak-tidak...ckckkkk...kalian ini sulit diatur ya. Yang satu terlalu cepat, yang satunya lagi terlalu lambat. Geremi jangan seperti siput. Bertenagalah sedikit ! Larimu terlalu mesra untuk ukuran seorang gelandang tengah !"

Kini Rui melihat seorang pria tambun berumur sekitar 40-an sedang menggerak-gerakkan tangannya ke atas sambil mengeluarkan perintah-perintah.

"Itu......itu !!! OH...MY GODNESS. Kacau...semua kacau !!! Andriy kau menggelikan ! Kenapa cuma lari-lari saja kerjamu. Cepat bantu temanmu, aku tidak mau dengar alasan apapun termasuk cedera atau apalah. Kita baru berlatih 15 menit. Tidak ada pengaruh untuk bisa secepat itu cedera !"

"Maaf Pak saya akan mengubah posisi." Ucap seseorang yang tadi dipanggil Andriy.

Rui tidak melihat secara jelas wajah pemuda pirang itu.

"Aku heran, kenapa selalu di setiap latihan begini kalian semua lemah. Kenapa semuanya nol ! Tidak ada yang benar. Apa kalian masih mau bersantai-santai saja untuk pertandingan sebesar kualifikasi piala UEFA ?!! Hahh ?!! Jangan jadi pecundang ! Ayo sekarang pemanasan !" Lelaki tambun itu terus mengeluarkan kata-kata makian. Rui rasa, itu untuk kebaikan anak buahnya. Kata-kata lelaki tambun tadi menggugah semangat mereka yang mulai kendor. Rui setuju. Dia terus saja memandangi kegiatan mereka dengan cukup antusias. Sampai tak terasa, sebuah bola sedang mengarah kepadanya.

"Blugh !!!"

Bola itu jatuh dan berhenti di depan kaki Rui. Seseorang kemudian berteriak keras.

"Andriy ambil bolanya !"

"Okey !" Kata Andriy menyahut permintaan kawannya itu. Dia pun berlari dan mendekati sang bola yang sudah tepat berada di depan kaki Rui. 

Semula Rui tidak begitu mengenali wajah itu. Tetapi, setelah lama-kelamaan mendekat, barulah Rui sadar bahwa orang yang sedang menuju ke arahnya ini adalah orang yang sangat terkenal. Seorang bintang yang amat dipuja oleh sebagian masyarakat dunia. Dia adalah Andriy, Andriy Sevchenko. Dan Rui pun mengaguminya layaknya pangeran tampan dari dunia lapangan hijau. 

"Andriy Sevchenko...kau kah itu?" Rui bergumam sendiri.

Perlahan-lahan wajah Andriy mendekat, mendekat, dan mendekat. Andriy benar-benar ada di hadapan Rui saat ini. Tapi dia diam saja. 

"Ini...ambillah bolamu..."

"Kau .... Andriy kan?"

"Andriy Sevchenko?" Rui mencoba mengajak bicara si pirang itu meskipun yang diajak bicara hanya diam saja seolah tak bisa mendengar apa yang ia ucapkan.

"Ini ...ambillah..."

"Hai...kenapa diam? Kau tidak mendengarku Andriy?"

Rui kembali mengajaknya bicara. Tetapi sekali lagi Andriy tetap bersikukuh dengan diamnya. 

"Mmm...aku Rui. Salah satu penggemarmu. Salam kenal.." Rui mengulurkan tangannya ke arah Andriy. Dia sangat berharap Andriy mau menerima uluran tangannya itu. Lama Rui mencoba membuat si pirang itu memberinya respon. Akhirnya yang didapat Rui hanyalah sebuah senyuman yang tersungging dari bibir manisnya. Senyuman yang tak dapat Rui lupakan seumur hidupnya. Setelah itu, tiba-tiba Andriy berbalik dan meninggalkan dirinya juga bola yang semula ingin diambilnya. Andriy berlari ke tengah lapangan. Namun, sebelum dia sempat bergabung bersama teman-teman yang lain. Andriy sempat memalingkan wajahnya ke arah Rui. Dan ternyata dia masih saja tersenyum kepadanya. Rui hanya bisa menatap sosok itu dengan sorot mata berkaca-kaca. Dia sangat mengaguminya.

****

"Nona ! Nona ! Bangun Nona ! Nona Bellami !", sebuah suara membangunkan Rui dari tidur.

"Nona, jangan tidur di sini. Di sini dingin. Ayo kita pulang!" Suaranya sangat asing di telinga Rui.

Rui mengerjap-ngerjapkan matanya dan mendongak ke atas. Seorang pria negro berjaket hitam-hitam tengah menggoyang-goyangkan bahunya. Dia terlihat seperti seorang mafia. Dirapatkannya jaket yang membungkus tubuhnya itu lekat-lekat.

"Andriy yang tadi itu...apa cuma mimpi?" Rui bergumam lirih.

Diliriknya si pria negro itu takut-takut. Pria itu tersenyum ramah. 

"Jangan takut. Aku polisi. Em...Nona Bellami, kau harus pulang. Mari kuantar kau pulang?!" Tawar pria itu ramah. Wajahnya kelihatan buruk tapi ucap dan lakunya sangat sopan. "Dia orang baik-baik Rui..." ujar Rui dalam hati. Meski masih ada sekitar 50% rasa takut yang tersempil di hatinya--jujur saja.

"Mari Nona...kuantar kau pulang." Tawarnya kembali pada Rui.

"Ayah mana?" Sebuah pertanyaan yang menggantung.

"A.....emm..ada. Ayahmu ada di rumah. Dia kecapekan. Jadi pulang duluan. Dan dia memberi pesan bahwa aku harus mengantarmu pulang Nona Bellami !" Polisi itu bicara dengan sedikit tersendat-sendat. 

Rui berpikir sejenak. Dia ingat janji ayahnya tadi siang. 

"Uhhhkk,...ayah  bohong !"sungut Rui kesal. Mukanya cemberut total. Dan membuat si pria negro tadi menjadi kikuk. 

"Oh ya, perkenalkan namaku Phill Hopkins anggota reskrim daerah," ujar si pria negro tanpa diminta. Rui menoleh ke arahnya dengan pandangan heran. 

"Tuan Phill, kenapa Ayah tidak menjemputku?" Tanya Rui ingin tahu.

"Eh...begini ya anak manis. Sebenarnya dia memang tidak ada di rumah. Tapi tadi dia menemuiku. Dia sedang sakit sekarang. Maaf tadi aku bohong. Jadi dia sedang dirawat di suatu tempat."

"Ayah dirawat? Tidak mungkin ! Tadi siang dia sehat !"

"Ayahmu memang kelihatan sehat dari luat. Tapi sebenarnya dia sedang sakit. Sakitnya lumayan parah. Jadi dia harus dirawat inap dan memperoleh serangkaian tindakan medis berkala agar mendapatkan kesembuhannya kembali." Ujar si pria negro itu panjang lebar.

Dia cukup berhati-hati dalam mengucapkannya. 

"Terus aku sendirian? Ah.. aku tidak percaya...ayah sehat kok. Tadi dia sudah janji untuk main bersamaku. Tidak mungkin ayah membohongiku. Tuan Phill semua yang kau katakan tidak benar kan?" Rui protes. Dia menarik-narik ujung jaket si pria negro itu dengan paksa. 

"Dengarkan aku Nona Bellami, sebelum ayahmu dibawa pihak medis, dia berpesan padaku untuk segera mengurus perwalianmu pada salah seorang pamanmu untuk menjadi walimu. Kau akan pindah ke Catalunya sampai ayahmu dinyatakan sembuh. Ya sekitar 5 bulanan lah."

"Apa ?!!! Selama itu aku harus pisah sama Ayah. Tuan Phill ini bohong kan ?! Memangnya ayah sakit apa sampai begitu lama dia dirawat ?" Rui mulai mencurigai perkataan polisi itu. Dia memandang tajam ke arahnya.

Tapi akhirnya Rui mau juga diantarkan pulang...Petan-petang begini di stadion mau apa kalau tanpa ayahnya. Lebih baik dia nurut saja apa kata polisi.

"Eh.., Nona..kita sudah sampai." Polisi itu mengalihkan pembicaraan. Mereka berdua berhenti di depan sebuah rumah kayu kecil tempat tinggal Rui dan Tuan Bellami. Rumah itu tampak muram dari biasanya. Lampu merkuri yang biasa terang benderang kini tampak gelap. Suasana sekeliling rumah menjadi lebih menakutkan dari apapun juga. Tidak ada tanda-tanda bahwa Tuan Bellami berada di dalam rumah.

"Jadi benar ayahku sedang dirawat? Kalau begitu aku boleh melihatnya kan? Dimana dia dirawat? Dimana dia sekarang?" Berondong Rui tidak sabaran. Dia mengguncang-guncangkan lengan si pria negro itu kuat-kuat. Kelihatannya Rui sedang emosi tinggi.

"Nona Bellami, sebaiknya kita masuk dulu.. tidak baik berada di luar begini. Nanti kau bisa sakit," nasihat pria itu baik-baik. Sayangnya Rui tidak mendengarkannya.

"Dug dug dug !" Ia lantas berlari ke dalam dan meninggalkan polisi itu sendirian di luar. 

****

Ruangan sempit berdinding kayu itu memancarkan sinar redup lampu bohlam berkekuatan 10 watt. Rui menyaksikan sendiri betapa berantakannya ruangan itu. Tidak serapi ketika tadi ia dan Tuan Bellami meninggalkanya ke stadion.

"Oh....ada apakah gerangan ?! Ini..... kenapa semuanya pecah?" Rui menghempaskan tubuhnya ke atas lantai. Ia syock setengah mati melihat keadaan rumahnya seperti habis dijarah orang.

Perabotan rumah tangga, alat masak, vas bunga, gorden, meja, kursi, semua tidak beraturan dan membentuk formasi sembarang. Bahkan sebagian besar dari benda-benda itu pecah berantakan mengotori lantai kayu rumah itu. "Ini perbuatan siapa?" Batin Rui terus bertanya-tanya sambil mencoba mencari-cari petunjuk siapa kah gerangan yang sudah membuat rumahnya hancur bagaikan kapal karam. 

"Pruaaanng !!!"

Tiba-tiba sesuatu dari arah luar membuat jendela kaca rumah Rui pecah berkeping-keping di atas lantai. Rui kaget. Dia semakin menciut saja di sudut tembok rumahnya. Kedua tangannya ia tangkupkan ke muka, menahan rasa takut yang luar biasa. Polisi negro itu buru-buru datang. Ia pun berjongkok mendekati jendela tadi. Dipungutnya sesuatu yang jatuh di sana yang ternyata berwujud gumpalan kertas buram berisi batu yang bertuliskan semacam ancaman. Dahinya mengernyit. "Brengsek ! Akan kukejar dia!" Polisi itu berlari tanpa berkata apa pun pada Rui. Sepertinya keadaan semakin runyam. Rui semakin tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Yang ia lakukan cuma duduk tergolek, diam seribu bahasa. Ia ingin segera bertemu dengan ayahnya. Tapi ia juga bingung pada perkataan polisi negro itu tadi. Kenapa Tuan Bellami musti dirawat? Memangnya dia kenapa? Rui merapatkan kedua belah tangannya sambil memeluk lututnya erat-erat. Ia ingin berteriak dan memohon supaya sang ayah segera kembali dengan memberikan sebuah penjelasan.

***

"Hei ! Kau ! Iya...kau yang di sana ?!" Seorang bocah laki-laki bermata abu-abu dan berambut merah kecokelatan memandang Rui dengan tatapan heran. Sudah seminggu Rui berdiam diri di sudut ruangan itu--yang semula rumah kayunya--namun sekarang sudah menjadi puing-puing, bangunan tua yang tak berpenghuni. 

Rui menolehnya dengan pandangan sayu. Tubuhnya kurus kering dan berdebu. Kulitnya kusam dan terlihat seperti seorang gelandangan.

"Emm..aku main bola di sini ya!" Bocah laki-laki itu kembali mengusik Rui. Tapi Rui hanya diam saja. Lalu si bocah tadi segera meletakkan bolanya itu di atas lantai dan menendangnya ke sana ke mari sambil menabrak-nabrakkan pecahan kaca. 

"Ooopppss.. ya ampun. Rumah ini sumpek sekali, kenapa kau mau menghuninya? Apa kau tak punya rumah?", si bocah kembali bertanya. Tapi Rui diam saja. Mulutnya terlalu berat untuk mengucapkan sepatah-dua patah kata setelah sedemikian lamanya ia belum mengisi perutnya dengan sesuatu yang bisa dimakan. 

"Hei...kenapa kau diam saja? Kau tak punya orang tua ya?" Anak itu lagi-lagi mengusik Rui dengan macam-macam pertanyaan.

"Rumah? Kau punya rumah tidak? Atau ini memang rumahmu? Tapi kenapa rumahmu kotor sekali? Ayahmu mana? Ibumu? Kau sendirian? " dia lalu mendekati Rui dan mencoba untuk mengajaknya berkomunikasi. Namun Rui sekali lagi hanya diam, diam, dan diam saja. Bahkan matanya juga diam. Matanya tak bisa bicara. Ada semacam kekosongan yang menaungi kedua bola matanya yang hijau.

"Hello ??!!! Any body here ? Kau tidak mendengarkanku ya? Ooops..maaf, seharusnya kita berkenalan dulu ya. Eh...aku Aprilia. Maaf tadi aku tanya macam-macam, sedangkan aku belum tahu siapa namamu. Namamu siapa?" Bocah itu mengulurkan tangannya pada Rui sebagai isyarat minta berteman. Namun, Rui malah tersenyum miris, lalu tiba-tiba tanpa disadarinya tubuhnya menjadi sangat ringan dan jatuh menimpa anak laki-laki bermata abu-abu itu tadi. Dia tak sadarkan diri. 

"Hei-hei..hei...kau kenapa? Oh ya ampun.. apa...kau pingsan...?!"

Bocah laki-laki bernama Aprilia itu lantas mencoba menepuk-nepuk kembali pipi Rui dengan harapan supaya dia sadar. Namun ternyata Rui sudah sangat lemah. Ia kekurangan cairan dan mengalami demam tinggi. Aprilia gugup. Ia tidak tahu harus berbuat apa pada Rui. Akhirnya ia punya ide cemerlang. Digendongnya tubuh itu menuju ke rumahnya. Ia harus cepat-cepat mencari pamannya agar Rui segera mendapatkan pertolongan pertama.

***

"Bertahanlah ! Aku akan membawa kau ke rumah !" Aprilia berjuang keras dalam perjalanannya sambil menggendong Rui di punggung kecilnya. Dalam hati, ia juga terus memohon pada Tuhan supaya Rui bisa selamat.

"Ya Tuhan, semoga kita cepat sampai. Please, bertahanlah...kita akan sampai sebentar lagi." Aprilia terus bergumam.

Dan dia merasa tubuh Rui semakin lama semakin berat saja. Namun demikian, dia terus berjalan tersuruk-suruk dan membungkuk di bawah langit sore dengan rembulannya yang masih berwarna keoranye-oranyean. (Gustyanita Pratiwi)

Bersambung....

"Sebuah fiksi pertama yang coba aku unggah di blog. Lanjutannya mungkin bakal berepisode-episode :D. Maaf kalau masih terkesan amatir, namanya juga masih latihan hehehe..


Selamat membaca ^_____^ !!





35 komentar:

  1. Waduh, kok bersambung sih. Kirain langsung tamat.😱

    Karena masih pertama jadinya aku belum bisa komentar banyak karena jalan ceritanya baru awal. Cuma sepertinya ini kisah sepakbola dan tuan Bellamy itu mungkin agen rahasia kali ya, soalnya rumahnya diacak-acak, seseorang mungkin sedang mencari berkas dirumahnya.

    Cuma tokoh utamanya anak kecil bernama Rui kok jadi ingat bintang sepakbola Rui Costa yang seangkatan dengan Andriy Shevchenko ya.

    Ditunggu lanjutannya mbak, ngga apa-apa bakal beberapa episode, kalo bisa sih episodenya yang banyak, biar bisa mengalahkan jumlah episodenya Tukang Ojek Pengkolan.🀣

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya sebentar lagi akan aku ketik lanjutannya 😊

      ayok terus mas tebak-tebak buah manggis jalan cerita selanjutnya...πŸ˜†

      ya rui costapun aku tahu..sayangnya di sini ruinya cewe ^____^

      asem...rusak deh kesyahduan ceritanya mas..tapi ya sepertinya memang akan melebihi episodenya kang ojek pengkolan...suweeeeeeeek πŸ˜±πŸ˜‚

      Hapus
    2. Itu kalo bisa bocah lelakinya jangan nama Aprilia dong, soalnya namanya kok kesannya kayak cewek gitu. Tetangga saya ada dua anak yang bernama Aprilia dan semuanya cewek. Bisa diganti namanya jadi Gusti gitu.πŸ˜„πŸ€£

      Eh, tapi mungkin di Jerman nama Aprilia buat cowok kalo ya, Aprilia Beckenbauer atau kalo ngga Aprilio Paijo. Lho kok mirip nama Jawa, ya memang Jerman nya itu jejer Kauman di Yogyakarta.😁

      Hapus
    3. sengaja mas.. biar pada bingung karena namanya jadi kebolak balik, yang cewe kayak nama cowo yang cowo kayak nama cewe..jadi kek genre anime gender bender 😱😝
      tapi aprilianya di sini blom muncul banyak...tar lagi bakal nongol porsi tokoh utama sebenernya yang part 2..apakah itu aprilia atau ada lagi...kita tunggu saja pemirsa.

      oiya aprilia di sini orang itali kok #setdah mainnya jauh aje kan si mbul dari jerman, espanyola dan itali...#mumpung bikin fiksi skill halu ditingkatkan 🀭πŸ₯΄πŸ˜†πŸ˜‚πŸ˜‚

      Hapus
    4. Halohaaa... Aku ke sini gara2 postingan Mas Agus, mbak πŸ˜€

      Hapus
  2. Baguuus nit. Cepeeet lanjutin, aku ga sabaaaar :D. Enak baca ceritamu ini. Runut, tertata juga.. kalimat yg dipake juga ga kaku :).

    Eh tp iyaa, aku pikir Aprilia itu cewe td :p. Ternyata cowo yaaa. Rui malah aku pikir cowo hahahahaha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. aaawwww...mamacih mba fan, aku lagi ngetik bagian ke 3, ke 2 nya uda tayang di post atasnya yang ini πŸ˜†

      hu um mba, sengaja bikin nama yang ambigu gendernya wakkakakk

      Hapus
  3. Nama-nama karakternya dari pemain bola ya haha, Rui Costa, Shevchenko, Essien, Robben.. tapi mungkin karena latar ceritanya dari sepakbola ya

    Masih bikin penasaran nih kemna ayahnya Rui, kenapa Rui tiba-tiba pingsan, ditunggu episode selanjutnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. wakakaka, penggemar sepak bola pasti tau nama nama ini >________<

      asiiiyappo...ntar lagi aku ketik part 3 nya jeh :D

      Hapus
  4. Ternyata pengemar sepakbola juga ya?
    Itu tokohnya kenapa ketukar begitu nama cowok jadi cewek nama cewek jadi cowok, jadi bingung?

    Ini mah bukan amatir tapi udah tingkat profesional.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo bingung pegangan sama kang satria mas, tapi jangan pegang kolornya, takutnya ntar merosot kebawah kan bahaya.πŸ˜‚

      Betul, kalo begini amatir gimana dengan saya ya, baru seperempat amatir.😰

      Hapus
    2. Lebih nyaman pegangan tiang listrik aja..hihihi

      Apalagi saya, amatir aja ngga sampai apalagi profesional dan artikel di blog aja hanya hasil dari copas..hiks

      Hapus
    3. mas kal el : aduh jadi pend malu dikomen mastah cerpen romantis aka mas kal el, kemaren aja aku baca cerpenmu yang di blog andromeda yang misteri di balik kata hmmm trasa betul romantisnya huahahahhaha..apa itu kisah nyata mas kal el wakakka...soalnya aku bacanya beneran ikutan terhanyut dong sama cerpennya 😊

      Hapus
    4. mas agus mah merendah saja ya
      padahal doi seleb blog spesialis cerpen horror semi nyerempet kisah kisah ala sinetron indosiar hahahha

      e cerpen mas agus mah bagus kok, ga bohong aku
      tu buktinya penggemarnya banyak hahh

      kalo dibanding cerpenku mah aku ga ada seujung kukunya cerpen mas agus n mas kal el kali ya hihihi

      Hapus
    5. mas kal el..awas ntar malah kesetrum mas klo pegangan togor listrik..mending pegangan kang satria aja bener hahahhahha

      Hapus
    6. Haah, mastah cerpen romantis, ngga salah nih? Menurut saya itu bukan cerpen karena ngga ada jalan ceritanya dan nama tokohnya dan di mana letak romantisnya? Dan penulisannya juga masih kacau balau dan dialognya juga kaku.

      Tiang listrik bukan togor listrik, mbak?

      Hapus
    7. buahhaha dia mah merendah aja

      tapi menurutku bagus kok cerita "di balik misteri kata hmmm" di blognya dirimu kok 😊, kayak kisah nyata..hehe

      Hapus
    8. Bukan merendahkan tapi kenyataannya kan memang begitu.. hihihi..jadi kepengen nulis cerita lagi tapi yang cerbung aja udah lama ngga dilanjut-lanjutin, jadi sedih.. hiks

      Betul itu cerpennya dilatari dari kisah nyata orang, mbak

      Hapus
    9. bukan merendahkan mas..tapi merendah..alias rendah hati..atau down to earth padahal tata bahasa cerita di blogmu bagus 😊

      hayooo mas bikin cerbung, seru aja bacanya abis bikin cerbung ndiri terus mampir blog lain ketemu cerbung lagi hihihi..jadi semangat nulis malah aku

      ooow, kisah nyata orang, orange mas kal el kali ya πŸ˜†πŸ˜†

      Hapus
    10. Maksudnya merendah, gara-gara ada akhiran kan jadi beda arti, mungkin karena teks prediksi diaktifkan merendah jadi merendahkan. Jadi besar kepala saya dibilang cerpen di blog saya bagus

      Bingung saya mau lanjutin cerbungnya padahal kerangkanya udah ada, masih susah nyari kata-kata buat nyusun kalimatnya.

      Iya kisah nyata orang, kalau saya kan manusia..hihihi

      Hapus
    11. bahhahaha...dan manusia itu adalah orang
      jadi kisah itubadalah kisahnya mas kal el, hihihi
      #kemudian aku ditabok

      Hapus
  5. Waaaah mba Nita kereeen, tulisannya bagus ini mba, suka bacanya πŸ˜† jadi mengingatkan saya sama novel yang pernah saya baca saat sekolah, novelnya berlatar belakang negara-negara Eropa. By the way, saat awal-awal baca, feel-nya macam baca buku terjemahan novel luar, which is fun buat saya hahahahahaaha πŸ˜‚ ditunggu dengan sangat kelanjutannya, mba ~ nggak apa-apa kalau episode-nya banyak, akan saya tunggu dengan sabar. Mana tau bisa jadi seperti sinetron Kang Bubur Naik Hati yang beribu-ribu episodenya 🀣

    Semangat mba Nita! 😍

    BalasHapus
    Balasan
    1. bhuakakakkaka...jadi pengen malu..tapi aku mah masih amatiran mba eno, ini aja sebenernya ga pede mau unggah di blog, tapi ketimbang ga ada yang baca, cuma kutulis di buku tulis sidu dan bolpen biasa akhirnya kuberanikan diri kutulis di blog, seenggaknya biar aku latihan lah hihi

      makasi mba eno, πŸ₯°πŸ˜

      Hapus
  6. wah mbak nita nyerbungggggg asyikk
    bagus mbak sebagai pengamat fiksi bagus lo ini
    apalagi latarnya lumayan detail dan ada plot tak terduga

    shevcendku itu ukraina apa serbia sih aku kok lupa ahahha

    terus lanjut mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. xixixi, mandan isin asline aku mas ikrom
      tapi ketimbang ga eneng sing maca takterbitin aja di blog...sayang nek kur ning buku tulis thok hahahha

      iya doi ukraina mas
      jaman nomku biyen tontonane bola dong hahahha...kacau ya aku mas hahah
      siaaap taklanjut sik


      ntar bewe rapel πŸ˜†

      Hapus
  7. Ini semacam teenlit kah Mba atau cerpen? kenapa gak diikutkan ke Lomba Mba, siapa tau menang, cerita dan penulisannya bagus, macam novel terjemahan 😍😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. ga mba rin
      malah kumasukin kategori dewasa ntarnya hihi

      aduh ahahahha kayaknya aku lha nda pede mba rin klo lomba mah, yang ada panitianya malu pas bacanya πŸ˜‚πŸ€£πŸ€£

      Hapus
  8. wah gak nyangka gw ternyata mbak mbul bisa bikin cerita fiksi sekeren ini, bisa-bisa nyaingin mas agus nih hahaha :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. waduuuuh jadi membumbung tinggi ada yang muji,😝😝 haduhhhh hahahha, ga lah nif aku mah critanya agak agak bikin geli, tapi tetep pede yak taktulis di blog wakkakakaka, ampun dijey πŸ˜‚πŸ˜‚

      Hapus
  9. Haaa!! .. Ada cerpen udah ketinggalan jauh lagi...Maklum sibuk berkarier ....Eeh salah berkelir.🀣🀣
    Setelah saya baca sampai habis akhirnya Rui apa Riu..mana anak cewek lagi.😲

    Rui harus kehilangan sang ayah yang katanya dirawat dirumah sakit. Dan kejadian itu Rui tidak tahu karena ia sedang bermimpi bertemu sang bintang idolanya yang bernama Andriy Sevchenko, Saat sedang latihan bola.

    Dan sejak kejadian itu Rui tak pernah bertemu ayahnya lagi. Rumahpun berantakan luluh lantah setelah ia diantar oleh seorang polisi negro. Rui sang gadis kecil itupun meratapi nasibnya hingga seminggu kemudian ia jatuh sakit dan ditolong oleh Aprilia.

    Pertanyaannya cerita tentang apakah ini..Sepak bola, Atau kisah tabir seseorang pemotong rumput atau sang dektektif. Heemm!!..πŸ€” πŸ€”

    Menarik mbul ceritanya mudah dipahami, dan plotnya juga dapat. Kisah selanjutnya akan saya baca kembali nanti malam. Maklum orang siibboookkk berkarier...Eehh berkelir.🀣 🀣 🀣

    Kasihan Rui,😭😭 Apakah ia akan baik2 saja setelah ditolong Aprilia. Tunggu komentar saya nanti malam yaa..di bagian 2.πŸ˜€πŸ˜€

    BalasHapus
    Balasan
    1. berkelir teh apaan yak kang

      pas ngecek di google kelir sama dengan warna hahhahah

      siyaappp..sesantainya aja kang hehe

      Hapus
  10. Keren😍😍
    Berasa baca novel deh. Saya kirain tadi rui cowok, soalnya main bola eh tenyata cewek ya. Aprilia juga ternyata cowok.
    Apa nanti mereka bakal jatuh cinta ya...?
    Tapi ini genrenya ada sepak bolanya ya...?
    Jadi kebanyakan tanya saya😁
    Akan saya baca kelanjutannya besok mbak mbul karena seperti mas satria saya juga sok sibukπŸ˜‚

    BalasHapus
  11. bisa nih dikirimkan ke majalah jadi cerbung gitu mba nit
    oke juga ini untuk part 1 nya, cara penyampaian cerita pun sama dengan buku buku novel yang aku baca baca selama ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. kagak lah mba ai, malu yang ada hahahha
      cukup kupos di blog aja, siaoa tau ada yang khilap baca cerita yang masih amburadul ini 😊😊

      Hapus

Komenin dong...tanpa kehadiran kalian apalah arti aku menulis....
kalian penyemangat setiap bulir kalimat dalam blog ini :*
Namun jangan komentar SARU atau SARA ya, jika ada komentar dengan unsur tersebut, dengan berat hati akan aku HAPUS .

Oh ya, Dilarang juga mengambil gambar/foto atau menyadur tulisan tanpa mencantumkan sumber atau seijin pemiliknya. Apalagi untuk kepentingan komersial atau lomba. Thx ^____^