Senin, 17 Agustus 2020

Kupu-Kupu yang Menabrakkan Sayapnya pada Dinding Jendela (Part 2)


Fiksi

D.U.A

Oleh : Gustyanita Pratiwi

Jendela dengan tirai transparan yang sedikit kumal dan membatasi ruangan ini dengan ruang sebelah adalah satu-satunya cara dimana aku bisa memandangmu dengan sepuasku. Memandangmu berjam-jam selama yang aku mau tanpa harus kepergok atau dikatai 'banci' sehingga membuat martabat yang sedemikian lebih tinggi darimu ini jatuh tersungkur mencium tanah. Jujur, aku sangsi pada perbuatanku ini. Siapapun pasti setuju bahwa aku tak lebih dari seorang maniak perempuan yang hobi mengintip mereka mandi. Maka aku seringkali malu untuk bercermin dan melihat wajahku sendiri--yang selalu menyimpan segala kemunafikan dalam sorot mata biruku ini. Dan aku yakin benar jika aku mengaca, pasti otakku yang brilian ini langsung mengataiku dengan sindiran keras--ya, mukaku tak jauh lebih buruk dari setumpuk kotoran manusia. Meski orang-orang di kantor ini--atau di luaran sana, bahkan selalu menaruh hormat padaku--atau sebenarnya hanya pura-pura hormat di depanku tapi menohokku diam-diam di belakang, siapa tahu.

Tapi benar, hampir semuanya tak bisa melihat kemunafikan besar yang ada dalam ruh ini. Mereka pasti sulit menebak apa-apa saja yang ada dalam diriku, terutama dalam hal keburukan. Apalagi orang sudah terlanjur mencapku sebagai sosok pekerja kantoran muda penuh wibawa yang kerja di balik jas hitam parlente dan minum kopi pagi-pagi. Ditambah pula struktur fisik yang menunjang--yah katakanlah orang selalu bilang aku ini termasuk dalam jajaran manusia beruntung. Maksudnya aku lumayan tampan, meski aku tahu mukaku tak sesempurna yang mereka bilang. Bahkan aku benci pada bentuk mataku yang bulat penuh, cenderung menonjol tapi tidak sampai keluar. Kata hatimu mengatakan pasti mataku sangar. Langsung menghujam ke dalam. Terutama dalam selingkar-dua lingkar kornea matamu yang indah. Lagi pula kau sering menghindari tatapan mataku yang biru ini. Entah karena kau begitu takutnya padaku, atau karena kau tak enak hati jika sampai jatuh cinta padaku.

Maka dari itu aku sering memarahimu, dengan alasan yang sebenarnya kurang begitu penting hanya sekadar perkara agar aku bisa berlama-lama berdiri di depanmu--menyongsong harapan-harapan yang kupikir terlalu muluk adanya.



Dan untuk semua kemarahan yang sering kutimpakan padamu sebenarnya aku tahu, aku yang salah. Aku sering membentakmu dengan volume yang cukup keras sehingga rekan-rekan seprofesimu akhirnya tahu bahwa kau kena tegurku lagi untuk yang ke sekian kalinya. Dan aku tahu, aku banyak bersalah padamu karena seringnya aku membohongimu dengan kemunafikanku. Di luar aku bagai anjing menggonggong, sedang di dalam rasanya aku bagai kakaktua yang banyak bicara tapi kenyataannya nol. 

Sebenarnya semua yang terjadi bukanlah mutlak kesalahanmu. Akan tetapi, lebih sering karena adanya trouble teknis semata. Seperti saat kau dan official team lainnya tengah mempersiapkan schedule latihan timnas untuk persiapan kualifikasi pertandingan besar tahun lalu. Lalu tiba-tiba terjadi pergeseran jadwal dan itu sempat membingungkan kinerja kami sebagai lini manager bagian pengadaan barang-barang. Karena merasa ada hubunganya denganmu, kau dan rekan seprofesimu dengan gegabah dan tanpa pikir panjang lalu mengambil inisiatif pertama yaitu mencari data akurat lebih lanjut untuk kalian sampaikan pada pos-pos pengumuman agar semua pemain tahu, bukannya langsung menelepon bagian informasi. Dan kurasa kalian, terutama kau--terlihat begitu kewalahan dan kerepotan sendiri. Aku tahu hal itu karena aku sendiri melihatmu sekelibatan dari balik tirai jendela ini. Lalu setelah itu telepon berdering keras membuyarkan segala lamunanku tentangmu.

Suara serak di ujung telepon malam-malam seperti getar hujan yang merayapi jalanan becek di pinggir got-got pembuangan. Tiba-tiba aku merasa terpukul karenanya. Petinggi Asosiasi yang merupakan atasan tertinggiku nomor 2 dari direksi utama meminta kejelasan akan perubahan jadwal yang semula telah disahkan lewat panitia kualifikasi pertandingan yang dimaksud. Dia menyindirku dengan kalimat-kalimatnya yang positif namun lebih mengarah ke sarkasme kurasa. 

Lalu dalam sekejap aku meletup-letup tak terima kenapa hanya aku yang dijadikan sasaran muntahan amarahnya. Kenapa dia tidak protes saja pada manajer timnas--atasanku secara formil. Karena dia lah yang menentukan semuanya dan tetek mbengek persiapan tanding. Dan bukan aku yang hanya menjabat sebagai asisten pembantu manager yang berada di urutan ke sekian dalam birokrasi kami. Kerjaku kan hanya check up para official bagian perlengkapannya saja. Bukan soal proposal dan laporan inti setiap rapat. Jadi kenapa harus aku yang disalahkan?

Merasa tidak terima, maka sudah kuputuskan waktu itu juga bahwa aku akan mencari seorang kambing hitam agar aku tak merasa bahwa aku sendiri yang bersalah. Agar aku punya sasaran rasa kesalku khususnya untuk masalah yang satu ini. Dan kebetulan kaulah yang resmi kupilih sebagai kambing hitam yang siap menerima kekesalanku. Lalu kusuruh kau untuk segera masuk ke ruanganku segera setelah aku mendapat telepon dari si keparat itu.

Beberapa menit kemudian kau masuk dengan tergopoh-gopoh sambil pasang muka tegang--seperti biasa. Aku yakin pasti dalam hati, kau mengutuk habis diriku sambil berucap : "Bisakah kau tak menceramahiku hari ini, Tuan Omong Kosong?". Demikian mungkin tebakan yang tepat untuk melukiskan arti wajah tegangmu itu. Namun, seberapapun kau memohon dalam hati, aku masih tetap pada pendirianku. Dan aku masih berminat menjadikanmu sebagai kambing dungu berwarna hitam yang tak tahu apa-apa, tapi lantas dipersalahkan. 

Sebenarnya, simple saja. Aku memilihmu sebagai orang yang patut dipersalahkan, itu karena aku ingin kau juga merasakan kejengkelanku saat itu. Selain itu, aku ingin kau juga bisa mengerti betapa pedih hatiku saat mendengar kata-kata petinggi asosiasi menghajar telingaku habis-habisan. Padahal aku baru saja keluar dari dokter THT. Ya, kuakui aku memang jahat padamu. Kuakui, benar-benar aku mengaku. Aku sudah sangat keterlaluan dan mungkin selalu membuatmu menangis dalam hati karena ketidakadilanku. Terutama untuk statement-statement tololku padamu yang kurasa tak pantas kulontarkan langsung pada gadis ringkih macam kau. Aku juga tahu sebenarnya kau tidak tahan padaku, namun apa daya, kau terlalu naif untuk bisa melawanku. Sehingga pada akhirnya kau hanya bisa menunduk pilu saat mendengarku berteriak-teriak--meminta perhatian lebih tepatnya.


Kembali ke yang tadi. Saat itu kau lelah berdiri di hadapanku. Dan aku mulai mengawali percakapan ini dengan sebuah praduga yang sengaja kukait-kaitkan dengan sikapmu yang kurang efisien dan efektif, kurasa. 

"Khem...khem !!" Aku berdehem keras supaya kau tidak selalu menunduk dan mencoba untuk menatapku. Dan, lumayan juga. Aku berhasil membuatmu melihat pandangan mataku sekarang. 

"Id Card? Belum dipasang?" Aku memulai percakapan ini dengan sebuah pertanyaan kosong. Kau lantas memandang ke atas, entah apa yang sedang kau lihat, mungkin seekor tokek gendut di ujung jendela dekat teralis.

"Em...maaf saya baru saja masuk. Jadi, saya belum bisa membuat Id Card Pak." Kau berkata dengan cukup hati-hati kedengarannya.

"Oh....pantas, aku melihatmu baru-baru ini. Sudah berapa lama kau di sini ? Setengah bulan?" --(dan aku sudah menetapkanmu sebagai karyawan paling ceroboh seantero jagad). Aku mulai menginterogasimu. Lantas kau tersenyum kikuk dan mengangguk ragu.

"Oh ya, kau pasti tahu mengenai jadwal baru timnas hari ini ya kan? Sudah kau beri tahu pada bagian informasi?"

"Eh...maksud Anda, manager dan pelatih begitu Pak?"

Aku mengernyitkan dahiku sejenak. Kau dalam sejurus nampak begitu gugup dan dalam sorot mata kucingmu bisa kusaksikan secara gamblang bahwa kau menyimpan suatu keragu-raguan.

"Manager...dan pelatih. Manager, pelatih..." Aku mengangguk-anggukkan kepalaku dengan tenang. Tapi kemudian aku berteriak, setengah membentak, sampai-sampai kau menciut dan menjauhi arah pandangan mataku. 

"Manajer dan pelatih ?!!!!"

"Ya...ya... manajer dan pelatih...bisa juga sih. Tapi itu sama sekali tidak efektif ! Kenapa kau tak sekalian saja datangi satu-persatu pemain kita untuk kau beri pengumuman tentang perubahan jadwal ini, haaaah !!" Aku menggebrag mejaku dengan kekuatan ekstra. Kulihat kau di situ semakin gugup dan mencoba bersikap calm, sambil menahan napasmu yang tercekat kuat dalam tenggorokan. Aku yakin, kau pasti ingin segera melarikan diri dari neraka ini.

"Well, tidak usah dijawab. Aku tahu kau mau bilang apa, emm...kau--karyawan baru yang merasa sudah mampu bekerja di tempat serumit ini...coba dengarkan aku ! Kau pasti mau bilang bahwa kau gugup....sampai-sampai kau tak tahu harus menginformasikan hal seriskan ini pada siapa. Iya kan? Ckkkkckckk....inisiatif itu ternyata diperlukan sekali ya? Inisiatif, pikiran yang logis, dan kecepatan. Dan itu semua tak kau miliki satu pun. Kau bertindak lambat. Hampir saja menghancurkan segalanya. Jika saja kepala federasi tidak menelponku dan memaki-maki keadaan birokrasi kita, mungkin aku tidak semarah ini. Sekarang aku tanya. Benar kau yang menerima telepon pertama kali mengenai perubahan jadwal tempo lalu?" Aku semakin memojokkanmu dengan pertanyaan-pertanyaan aneh. Dan mataku terus saja memelototimu layaknya aku sangat membutuhkan sebuah jawaban.

"Iya Pak, saya yang menerima telepon pertama kali kemarin pagi.."

"Kalau begitu, kenapa kau harus repot-repot memasang jadwal ke setiap pos dan malah melupakan bagian informasi, tempat yang paling mudah untuk menyelesaikan persoalan ini? Kenapa kau malah membuat hal semudah ini jadi masalah yang memusingkan, sampai-sampai pihak atas tahu dan turut campur untuk...sekali lagi..ya untuk urusan sesepele ini ? Aku heran...dimana kau pasang otakmu untuk berpikir? Oh, jangan katakan bahwa kau punya otak, tapi tidak berada pada tempurung kepalamu, tetapi di dengkul. Bah. !!! Lama-lama aku bisa capek bicara denganmu. Ya sudahlah buat apa disesali. Toh sudah terjadi...Yang jelas, Nona...tolong camkan kata-kataku barusan. Kau masih punya banyak waktu untuk mempelajari birokrasi tempat ini. Dan...otak...gunakan otakmu baik-baik sebelum melakukan sesuatu. Yah, itu saja. Silakan keluar !" Aku memandangmu dengan perasaan puas--entah mengapa, mungkin karena aku sudah membagi sebagian kekesalanku padamu. Itu sebabnya aku merasa puas. Lalu bagaimana denganmu? Aku berani bersumpah...sebentar lagi kau bakal memasukkanku ke dalam draft hitam hidupmu sebagai 'mostwanted paling menyebalkan' yang patut kau benci seumur hidup.---Aku yakin itu.

Bersambung...

PS : Aku lagi latihan bikin fiksi, mungkin di beberapa postingan ke depan masih akan ada sambungan-sambungan ceritanya, hehe...

Terima kasih yang sudah terdampar membaca..

34 komentar:

  1. Mbul.. yang bentak-bentak itu bukan si oink oink kan? Seweem bacanya..

    Nice cerpen Mbul, cuma aku kehilangan keceriaan si oink-oink bermata telur puyuh bacem nih.. hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. jangan jangan itu oink oink yang menyamar mas 😂
      e ga deng oink oink kan ga tampan, dia syantik 😂😂😂

      haha, iyah mas, ntar abis kubikin part 4 walau masih bersambung juga, aku jeda dulu pake postingan banyolan seperti biasanya #kemudian tapa dulu cari wangsit kira kira mau pusting upu hahhahhaa

      Hapus
    2. Assyikkk.. gue jadi muda lagi dipanggil mas... wkwkwkwk

      #kabur

      Hapus
  2. Makasih mba buat ceritanya.. bagus. ditunggu kelanjutannya..
    btw gambar novelnya mba yang bikin??

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih mas bayu 😊

      iya itu aku sendiri yang gambar ^__^

      Hapus
  3. Ini part 2-nya lompat atau gimana sih kok saya jadi bingung, atau saya ngga ngerti alur ceritanya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Santuy mas, nanti juga akan ketahuan di part part selanjutnya.😄

      Hapus
    2. mas kal el...na itu dah dibantuh jawab mas agus, hihihi

      yah kurang lebih seperti itu, part 1 cuma prolog masa kecil, selanjutnya lompat ke masa dewasa hhaha

      Hapus
    3. mas agus, thenkyu mas uda bantu menjelaskan hahhah
      #kudu berguru nih ma mastah cerpennya gw haha

      Hapus
    4. Oh jadi memang bener ceritanya lompat ya tapi lompatnya jauh banget bikin bingung dan Sepertinya itu si aku tokoh baru lagi di luar yang telah diperkenalkan di part pertama?

      Hapus
    5. hu umb mas loncatnya ibarat loncat jauh dalam olah raga...jadinya tau tau uda gede aja hahahahhahah

      Hapus
  4. jadi bayangin pas dibentak2 nih, hhh
    ditunggu cerita selnajutnya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. siyappp mas part 3 uda nongol, ni aku takngetik part 4 nya duluw
      #otewe ke leptop

      Hapus
  5. Balasan
    1. siaaap mas ikrom
      mumpung langi semangat, los no tekan part 4 sik

      Hapus
  6. Sama seperti mas Kal El, sepertinya ceritanya langsung melompat ke masa depan dimana Rui sudah gede ya lalu kerja di bagian manajemen sepakbola, mungkin bagian Humas kali ya.

    Oh ya, tokoh aku itu siapa sih, apakah Herman ataukah Satria? 😋

    Oh ya, ada beberapa yang typo yaitu kata terpikir jadi terpikur, terus kata seriskan itu apa ya. Maaf cuma ngasih tahu saja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. mantaaab, ada yang ngeh juga xixixi
      keknya gegara uda biasa nulis cerpen mas agus mah langsung mudeng yak ama jalan pikiran penulis lain hihi

      lah tokoh utamanya kira kira siapa ya...apa jangan jangan malah si agus hahhahah...bercanda.. ga kuat sayaaah bayar royalti kang satria, mas kal el atau mas agus wakakka

      tar part berikutnya bakal ketemu jawabannya

      oiya, ntar coba aku check lagi, makasi buat koreksinya 😊

      Hapus
    2. Royalti nya ngga mahal kok mbak, asal kasih pulsa juga cukup, yang penting cukup buat internetan unlimited selama sebulan.😂

      Hapus
    3. wakakakak...bisa aja mas agus
      ntar aku cari sponspor duluk 🤣🤣🤣😂😂

      Hapus
    4. Biasa juga royaltinya cuma pisang goreng lima potong, mas..hihihi

      Hapus
    5. Ngga melas lah daripada nyomot pisang goreng di warung lima tapi ngakunya dua kan lebih baik hasil royalti..hihihi

      Hapus
    6. ogah ah jadi cameo di cerpen mas agus, deskripsinya ga okey mulu, masa jadi wong tuwek mulu.. kalau teman lain deskripsinya mah bagus bagus, mas agus sensi kali ya ma gw hahhaha
      #becanda

      Hapus
  7. agak membingungkan baca part dua ini, kirain langsung lanjutin rui yang tiba-tiba pingsan di part satu.. jadi ini langsung lompat ke masa depan ya :D.. lanjut part tiga :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyah nif, memang lompatnyabtau tau agak jauh..yaitu dari kecil langsung ke usia kerja

      asyiiik...sembari khanif baca part 3, kulanjut ngetiknya part 4 #wow warbiasah produktifnya sayaaah ahahhahah

      Hapus
  8. Betul tuh kata para komentator diatas cerita kedua membingungkan meski gw bisa menangkap alur ceritanya.,😊

    Harusnya cerita bagian pertama ada kelanjutannya dulu meski tidak banyak. Dan berakhir 17 tahun kemudian..😊😊

    Sepertinya ada semacam terburu2 dalam menulis atau sedikit mandek ide.😊😊

    Ok langsung lanjut ke yang ke Tiga deh gw.😊😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. sebenernya malah part-l-nya itu aku bikin paling akhir kang, karena aku malah nulis masa gedenya dulu sampai tamat, eh buat nyempilin background psikologis kenapa si rui jadi cewe misterius dan si tokoh aku agak sinis, maka mulai lah aku nulisin part 1 nya justru di moment paling akhir huehehhehe

      Hapus
  9. Kaya yang pertama mbul jalan ceritanya menarik dan mudah dimengerti pembaca...😊😊

    Sorry yaa bukan aku menggurui, Gw juga terkadang sering tergesa dalam buat cerita bersambung jadinya awal dan akhir ngawur2 juga.😊🤣🤣🤣

    BalasHapus
    Balasan
    1. asiyaaap makasih buat sarannya kang, diterima dengan baik 😊

      Hapus
  10. Membingungkannya karena Mba Nita menggunakan sudut pandang orang ketiga di part 1 lalu begitu di part 2 Mba Nita menggunakan sudut pandang orang pertama, hmmm...

    Kalo part 1 dan part2 nya adalah satu bagian dan mungkin ditambah part 3 sebagai cerita penjelas, saya kira gak membingungkan sebenernya (menyatu menjadi satu buku seperti sebuah novel), mungkin kendalanya hanya karena harus terbagi-bagi menjadi beberapa postingan ini ya Mba Nita?

    BalasHapus
    Balasan
    1. naini !!! akhirnya ada yang bisa menyuarakan isi hatiku pas mau menjelaskan..aw aw..persis kayak apa yang pengen aku utarakan dalam pikiranku ini mba rin tapi susah ngomongnya ke temen2 yang nanya.. mungkin karena pergantian kata ganti orangnya ituh yang bikin temen2 pada bingung kali ya hihi..iya..sebenernya klo dijadiin buku ga dipisah-pisah kayak di blog, karena pas nulisnya pun aku emang tulis di buku tulis, dan itu buatku ga membingungkan sih hihi

      tapi mungkin akan beda pas dituliskannya di platformm blog yang harus bersambung soalnya kalau langsung tamat akan puanjang banget hihi


      thankyu mba rin, mwaaaah :*

      Hapus
  11. Baca makiannyaaa bikiiin benciiiii Ama si co yg marah2 ituuuu hahahahaha. Penasaran baca lanjutan.

    Awalnya aku sedikit bingung apa ini lanjut cerita kemarin ato bukan, kenapa agak beda. Tapi abis itu lgs kepikir, jangan2 ini cerita dalam alur maju mundur, dan bagian kedua cerita masa depannya :D. Trus lgs connect lagi :D.

    Bagus kok nit..

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahahha tapi sebenernya si tim orangnya setia mba hihihi

      iya memang loncat, tapi sebenernya aku galau pengen ga ada part 1 nya hiks

      Hapus

Komenin dong...tanpa kehadiran kalian apalah arti aku menulis....
kalian penyemangat setiap bulir kalimat dalam blog ini :*
Namun jangan komentar SARU atau SARA ya, jika ada komentar dengan unsur tersebut, dengan berat hati akan aku HAPUS .

Oh ya, Dilarang juga mengambil gambar/foto atau menyadur tulisan tanpa mencantumkan sumber atau seijin pemiliknya. Apalagi untuk kepentingan komersial atau lomba. Thx ^____^