Selasa, 27 Oktober 2020

"Kupu-Kupu yang Menabrakkan Sayapnya pada Dinding Jendela" (Final Chapter)


F.i.k.s.i
ENAM

Oleh : Gustyanita Pratiwi

Betapa nerakanya hidup dalam sebuah kurungan. Sudah sempit, tak ada teman, bahkan semuanya menganggapku 'sakit'. Makanya sekarang aku dipindahkan ke sini--tempat terkutuk ini--yang benar-benar tidak aku mengerti hanya karena satu hal--pertemuanku denganmu tempo hari yang tak kutahu apa maksudnya. Dan sekarang, inikah akhir dari petualanganku denganmu wahai Nona Aneh bermata zamrud, berambut harajuku? Ya, berakhir di sebuah kurungan. Kurungan pengab, untuk bernafaspun sulit apalagi untuk yang lain. 

Tiba-tiba saja aku merasa berada dalam keadaan yang sangat brengsek. Mau memaki tapi entahlah.. aku tidak mampu. Ya, semuanya karena kurungan sialan ini. Dimana aku ditempatkan di bangsal satu. Sebab kata dokter aku terkena gangguan saraf yang entah apa namanya aku tak tahu. Namanya sangat rumit untuk diucapkan. Jadi aku malas untuk tahu. Ya, semoga saja tidak sampai parah sehingga aku bisa keluar sesegera mungkin dari tempat terkutuk ini. Semoga. 

Oh...kepalaku sakit lagi sekarang !!

"Dokter...dokter!!!" suster di sebelahku agak mengencangkan suaranya. Dia kerepotan mengontrol kelakuanku yang makin ekstrem ini-- memukul-mukulkan kepala ke satu sisi tembok hingga timbul memar-memar hitam. Demi Tuhan ini sakit sekali. Aku terus memukul-mukul kepalaku berulang kali.


***




"Kemarikan tanganmu?"
"Buat apa sih?"
"Cuma ingin menyejajarkannya aja dengan tanganku.....Cepat kemarikan!" 

Tanpa meminta persetujuanku terlebih dulu, kau dengan tampang bocahmu itu tampak menggamit seenak hati sebelah tanganku lalu meletakkannya di atas kasur tempat kita duduk-duduk pada suatu malam. Ya semula aku sedang merampungkan sisa lembur yang terpaksa kubawa pulang untuk kurevisi sedikit sesampainya di rumah. Tapi ternyata kau malah mengajakku bercanda hingga membuyarkan konsentrasiku supaya beralih dari layar leptop. 

"Iseng saja nih anak kecil!"
"Aku sudah besar tahu!"
"Iya...tapi tetap saja umurmu 10 tahun di bawahku."
"Biarin. Weeeekkk!"
"Ngeyel..jitak nih!"
"Sejak kejadian di wartel dan kau hampir ditonjoki oleh berandalan cuma buat mengantarkan sebotol aspirin ke rumahku malam-malam, kurasa kau yang lebih terlihat seperti anak kecil, hohoho.."
"Iya ya?"
"Betul!"
"Tapi aku ini sudah mau umur kepala 3 ujung lo, bahkan mau kepala 4 sebentar lagi."
"Iya yah, tapi kau lebih kekanak-kanakan kalau di tempat kerja. Memangnya aku tidak tahu kalau kau suka cemburu hahhahha."
"Siapa bilang!"
"Aku tahu kok."
"Ah...."
"Sudah mengaku saja?"
"Tidak benar itu. Kau saja yang ge er. Dasar anak kecil!"
"Iya, aku memang anak kecil. Lihat! Telapak tanganku saja kecil. Sedangkan punyamu seperti yeti."
"Siapa itu yeti?"
"Raksasa salju. Itu loh gorilla warna putih yang katanya ada di Gunung Himalaya."
"Kebanyakan nonton film thriller nih anak."
"Eh benar loh. Coba bandingkan dengan telapak tanganku. Lihat?"
"Ya jelas lah aku kan cowok. Jelas tanganku lebih besar."
"Ng.......ngomong-omong kenapa ya telapak tangan cowok selalu terlihat lebih besar dari telapak tangan cewek? Jari-jarinya juga. Masa ibu jariku masih lebih kecil daripada kelingkingmu."
"Haaaiiish...itu supaya anak kecil ini tidak berisik kalau sudah aku pegang tangannya...lalu aku beginikan...."

Perlahan kami mulai mengubah posisi dari yang semula duduk menjadi terbenam diantara hangat selimut dan bantal yang berserakan. Sementara jam terus berderik membunyikan suara 'tik-tik-tik' yang teratur, padahal belakangnya jadi tempat ngumpet cicak kawin.

****






Rui....

Tak ada satu jengkalpun dari tubuhmu yang sanggup aku lupa. Bagaimana lembutnya bagian-bagian yang kudekap erat--dengan menggunakan kedua telapak tangan ini--yang katamu besar--sebab memang ini tangan laki-laki-- yang berhasil membuatku mabuk kepayang. Padahal anehnya aku tak tahu bagaimana wujud dari buah kepayang itu seperti apa. 

Rui, kau tahu? Walaupun kau kecil dan lucu, tapi aku jatuh cinta. Juga aura yang kadang berubah-ubah dalam sekejap mata. Bisa kadang terlihat sangat dewasa dan keibuan, namun bisa juga sangat kekanak-kanakan yang rambutnya gemar minta dielus dan diacak-acak. Pipimu yang chubby dan senyuman dari bibir merah jambu mungilmu yang tanpa teknik ombre. Juga tentu saja mata yang besar, bulat, dan selalu membuatku takluk.

Rui.....

Harum tubuhmu menguar aroma lilac dan bunga-bunga gunung. Manis parasmu sering membuatku bertanya-tanya, apakah kau adalah jelmaan peri? Kau seperti peri atau apa lah... mungkin Tingker Bell dalam film Peterpan, aku tak peduli. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Saat dimana mata biruku yang seperti lautan ini tertaut pada mata hijaumu yang bagaikan zamrud. Penuh misteri. Entahlah, rasaku dunia ini jadi milik berdua.

****






Mungkin ada enaknya juga tinggal di kurungan bujur sangkar warna putih ini. Temboknya putih, lantainya putih, bahkan seseprai-seprainya pun juga putih. Termasuk sarung bantal, guling, dan selimut yang biasa kujadikan tempat bergumul dalam gelap dan dinginnya malam. Meskipun agak sedikit keras,  tapi tak apa lah. Ya, hidup memang tak selamanya malang. Buktinya orang-orang yang selama ini acuh tak acuh dan cenderung masa bodoh denganku--datang mengunjungiku. Banyak...mereka datang demi melihatku apakah keadaanku sudah membaik atau belum. Terutama pasca tindakan brutalku tempo hari, sesaat sebelum aku dikirim ke kurungan putih ini. Tepatnya lagi, setelah aku dihantui rasa takut pada kehadiranmu di waktu-waktu lalu--yang sebenarnya aku sendiri merasa sudah aneh semenjak pertama kali kita bertemu.

Oh ya, balik ke yang tadi. Tentang orang-orang penting di kantor yang telah jauh-jauh hari menengokku atau bisa juga dikatakan mereka membela-belakan diri untuk datang ke tempatku yang sekarang ini---seperti yang kukatakan tadi sekedar untuk memastikan apakah ada perubahan pada sakitku atau tidak. Kuakui aku memang sakit. Sakit kepala yang tak kuketahui apa sebabnya. Yang jelas rasanya nyeri sekali--seperti mau pecah. Dan saraf-sarafku menegang akibat suatu hal. Lagi-lagi rasanya seperti mau modyar. Pecah berhamburan beserta seluruh isi kepala. Tapi itu tidak mungkin. Kalau toh kepalaku benar-benar pecah, pasti dokter-dokter di sini langsung kelimpungan mau mengoperasiku atau tidak--sebab aku tak punya satupun anggota keluarga yang bisa kumintai tolong untuk tanda tangan. Ya, semoga saja itu cuma andai-andai 'terburuk' yang amit-amit jangan sampai kejadian. 

Dan tentang orang-orang penting yang sudah kulihat menjenguk di kurunganku ini tiada lain seperti Tuan Radmont, Seamust, Tuan Marcus, dan yang paling membuatku agak bangga adalah Presiden Asosiasi dimana aku bekerja yang selama ini menganggapku tak lebih dari sekadar kroco. Jadi pantaslah jika aku sedikit berbangga hati akan kehadirannya, setidaknya aku masih bisa merasakan : "Apakah ada orang yang merasa kehilangan saat aku absen dan harus terbaring di tempat putih-putih terkutuk ini?".

Presiden Asosiasi juga sempat memberiku wejangan kecil yang tak aku tanggapi dengan serius, meski itu cukup mengesankan bagiku. Dia bilang : "Tim, istirahatkan otakmu, jangan terlalu banyak berpikir hal-hal yang sulit dinalar pakai otak." Lalu dia menepuk-nepuk bahuku, dan aku mengangguk hormat sambil cengengesan. Kalau Tuan Radmont lain lagi, dia malah menggurauiku dengan kalimat-kalimat anekdotnya--seperti biasa, seperti saat kami berinteraksi dalam kantor. Dia bilang : "Ini kesempatan bagus Luther, libur panjang yang jarang-jarang bisa kau dapatkan kan? Ya sudah...pokoknya kau nikmati saja fasilitas gratis ini. Biarkan kantor yang bereskan tagihannya. Ini pasti hal-hal dinas yang membuatmu sampai terlihat seperti zombie begini ini?" Dia pun tertawa dan lumayan terhibur juga aku dibuatnya. Padahal dalam hati, tak sedikitpun aku membagi sebagian otakku untuk masalah kantor. Dan Seamust, dia juga sama dengan Tuan Radmont atau Tuan Marcus, sama-sama pakai taktik ngelucu agar aku sedikit rileks dan berusaha untuk mengurangi sebagian hal berat yang telah mengendap lama dalam pikiranku. Dan saat dalam keadaan seperempat tidur, mereka baru membicarakanku dengan tampang serius. Seseorang--salah satu dari mereka berbisik sepelan mungkin supaya aku tak mendengar pembicaraan penting itu. Lalu yang lain mulai beranggapan sama. Sama-sama mencemaskan keadaanku.

***







"Jadi dia sakit apa, Dok?" Kali ini Watanabe yang datang. Aku melihatnya dari kejauhan. Dia berbincang dengan dokterku, mungkin sekitar 50 meter dari ranjangku.

"Imajinya buruk. Buruk sekali. Sampai otaknya tak sanggup menampung segala pikirannya itu." 

Dokter itu terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya, tanda ia sudah hampir angkat tangan. Kurasa Watanabe juga mencemaskanku. Dia memang perasa. Padahal kami baru bertemu 3 kali ini. 

"Tapi masih stadium 1 kan?"
"Meski masih dalam taraf awal. Tapi agaknya dia masih harus tinggal lama di sini. Sesuatu telah membuat otaknya abstain."

Watanabe memberengut. "Maksud Anda bagaimana ya?"

"Lebih mengarah ke kejiwaan." 

Kemudian mereka terlihat menuju ke ambang pintu bangsal 1 dan Watanabe mempersilakan dokter itu keluar. Sedang dia? Dia datang ke arahku dengan langkah lambat-lambat. Kelihatannya dia sangat cemas. 

"Hai!!" Dia menyapaku dengan dibuat seriang mungkin. Seolah ekspresi yang tadi itu nonsense. Tangannya meletakkan sekantung jeruk ke atas meja dekat ranjangku yang terbuat dari besi. 

"Thanks sudah datang!" Aku menepuk lengannya dan diapun duduk di sampingku.
"Bagaimana keadaanmu?"
"Hmmmm....lumayan."
"Lumayan apa? Lumayan sehat apa lumayan sakit?" Tanyanya.

Aku tertawa. Dan mencoba untuk bersikap wajar di depannya. Meski sebenarnya aku masih merasa kalau kepalaku sakit luar biasa. 

"Lumayan itu kan 1:1. Jadi sakit dan tidak sakitnya sama poinnya."
"Sedang sakit masih bisa bercanda. Dasar gila!"

Dia mengeluarkan sebuah jeruk dan mengupaskannya untukku.

"Makan ini! Biar segar. Kuingatkan kau! Jangan suka tidur-tidur tak berarti seperti ini. Mengacalah ke kamar mandi. Mukamu sudah seperti mayat hidup."

"Tambah kerempeng ya?"

Dia mengangguk. Lalu aku meraih jeruk yang sudah dia kupaskan untukku. Rasanya lumayan juga. Ini bisa menetralisir rasa pahit di lidahku yang sering dijadwal untuk menenggak obat-obatan. Dia memang anak yang baik. Lalu aku memintanya untuk menemaniku ke sebuah taman.
***










"Tadi kau bicara apa?" Aku memintanya untuk membantuku berjalan. Dan dia bersedia. Sambil memapahku , dia menjawab pertanyaanku barusan.

"Penyakitmu."
"Oh ya?"
"Absolutelly right!"
"Pasti aku gila ya?" aku menyambar. Lalu dia teruskan lagi ucapannya yang belum selesai. 
"Aku tak bisa menjawab. Tapi....mungkin dokter berkata seperti itu. Separuh gila. Bukan gila total." Dia berkata dengan setengah berbisik dan aku melirik kesal ke arahnya. 
"Er ist Arzt. Dia cuma seorang dokter."
"Terus?"
"Terus?.....ya terus dia tidak bisa memvonisku seenak udelnya."
"Ha hah..ha ha..Jadi kenapa kau bisa dibawa ke sini kalau bukan karena gila? Hah?Apa coba?"
"Ich kann mir nicht helfen...Aku tidak bisa menolong diriku sendiri. Aku butuh dokter."

"Aku tahu...ini semua pasti karena pacarmu ya?" 

Aku terhenyak.

Kuminta dia berhenti untuk memapahku. Lalu aku tertatih menuju ke depat pancuran. Dan menikmati angin di sana.

"Sampai saat ini aku masih menganggapnya ada....Tapi...dia memang ada...."

Suara gemericik air kolam sedikit menjernihkan pikiranku. Kali ini kami sama-sama terdiam. Mungkin mencoba memahami apa arti dari suara gemericik itu. Ya, suara air yang tenang, namun aku tak juga memperoleh ketenangan batinku sampai dengan saat ini. Tiba-tiba suster memanggilku. Dia mau memberikan obat sekarang. Hmmm...aku jadi ingat. Sarafku sekarang sangat ketergantungan dengan obat-obatan macam ini. Entah berapa butir tablet.

****








Aku membaca harian La Stampa edisi sekarang. Kusandarkan kepala di atas bantal. Dan aku berani berpendapat bahwa suasana tempat ini memang tak lebih dari sangat menyedihkan. Bantal saja apeknya bukan main. Seperti tidak mencerminkan jiwa sehat saja, padahal ini rumah sakit. Aku kembali terpaku pada koran yang tengah kubaca.

Tidak terasa detik berubah jadi menit, menit berubah jadi jam, jam berubah jadi hari, hari berubah jadi minggu, minggu jadi bulan, tapi bulan belum berganti jadi tahun. Baru juga 1,5 bulan aku mondok di tempat baruku ini. Dan jika diukur-ukur sekali lagi, rasanya waktu jauh lebih cepat dan tahu-tahu keadaan grup jagoanku di tempat kerja sekarang sudah bisa membuatku sedikit berbangga. Bremen sudah mencapai banyak hal di saat aku tak bisa aktif melihat perkembangan mereka secara langsung. Ya, mereka sudah banyak melampaui target di kualifikasi pertandingan kancah dunia yang mana kulihat ada suasana baru di dalamnya. Entah karena pola permainan dirobah atau pengaruh pelatih...atau malah...Oh apa ini? Aprilia si bintang jatuh diangkat menjadi kapten?  Aku terhenyak sesaat. Kali ini ludahku macet di tenggorokan. Aku tersedak. Oh tidak  Aku batuk...Dan ini membuatku sedikit takut. Bisa jadi karena...

Tiba-tiba pikiranku berpaling ke arah sesuatu yang lain.

"PLETAK!! PLETAKK!!" Seekor kupu-kupu hinggap setelah sempat menabrak-nabrakkan diri diantara kaca jendela tempatku berbaring.

***













Kau tahu....

Ada satu hal yang paling membuatku bersemangat tatkala bangun tidur. Yaitu tubuh lain yang tergolek di sampingku polos dengan wajah seperti bayi. Rambut sebahu yang acak-acakan. Juga hembusan nafas yang teratur. 

Tahukah kau?

Ada satu ruang khusus untukku menghitung banyak bilangan sementara kau terbenam dalam bantalmu dengan begitu khidmadnya. Sengaja terlebih dahulu aku bangun dan menikmati wajahmu sepuas hati. Apakah ini akan selalu kujumpai pada jam-jam subuh sebelum sinar matahari pagi benar-benar memunggungi gorden jendela pada pukul 6? Aku tidak tahu...Tapi yang jelas, waktu yang ada saat ini harus aku gunakan semaksimal mungkin  sehingga aku bisa menjadi satu-satunya pemilik hatimu. 

Rui, kekasihku yang baik hati...

Janganlah kau cepat-cepat bangun. Karena menikmati wajahmu yang terpejam begitu lelapnya mengapa selalu bisa terbitkan senyumku

Seperti ada banyak kupu-kupu yang mencubiti bagian perut. Rasanya geli yang benar-benar menyenangkan...

****









Jantungku berdegup kencang. Mataku basah digenangi sesuatu. Bibirku kelu sementara tanganku gemetar.

Semua seolah berpadu padan dengan gesekan angin yang menerobos masuk ke tempatku dan menerbang-nerbangkan segala sesuatu yang ringan seperti kertas tissue tempatku membuang ingus atau keringat dingin yang menjalari pipi.

Aku menciut. Nyaliku mengkerut. Kulihat kupu-kupu itu semakin sering menggebrakkan dirinya ke atas kaca dan itu semakin membuat sepotong hatiku tersayat entah karena apa. Yang jelas hari ini aku sangat takut. 

"PLETAK! PLETAK!!! PLETAK!!!"
"Arrrrrgggh....pergi!!! Pergi kau dari sini!" Pergiiiii!" 
"PLETAK! PLETAK!!! PLETAK!!!"

"Susteerrrrr!"

***











Seseorang telah memberiku suntikan penenang. Dan aku kembali normal. Meski aku berani bersumpah, ini belum seratus persen. Karena perasaanku masih sama--maksudnya agak berubah sedikit tapi belum sepenuhnya tenangan. Bahkan aku merasa bahwa aku sekarang sedang diawasi oleh sesuatu. Sesuatu yang sangat misteri dan menghantuiku setelah orang-orang medis ini pergi. Dan benar saja, memang setelah mereka keluar dari tempatku, aku kembali dinaungi perasaan tak enak.

Kali ini kucoba untuk memejamkan mata. Aku ingat untuk mengurangi derita insomnia--salah satu tokoh kartun di saluran TV kabel memberikan tips agar 'si susah tidur' mencoba untuk menghitung domba. Ya, sekarang sudah kulakukan. Pikiranku yang tadinya kosong, kini kuisi dengan gambar-gambar berujud ribuan domba yang harus kuhitung jumlahnya--sekedar formalitas untuk membantuku cepat mengantuk. Nyatanya? Tidak berhasil juga. Justru aku semakin pusing. Dan akhirnya aku kembali membuka mata. 

***










Face down with the LA curbside endings
With the ones and zeros.
Downtown was the perfect place to hide.
The first star that I saw last night was a headlight
Of a man-made sky, but man- made never made our dreams collide,
Collide.

Here we are now with the falling sky and the rain,
We're awakening
Here we are now with our desperate youth and the pain,
We're awakening
Maybe it's called ambition, you've been talking in your sleep
About a dream, we're awakening

Aku menyanyi dalam sepi. Kuacuhkan segala batin orang-orang di sekitarku yang mungkin saja mereka berkata : "Tolong hentikan suara sumbang ini!"

Ya, masa bodoh dengan semua itu.

I want to wake up kicking and screaming
I want to wake up kicking and screaming
I want a heart that I know is beating,
It's beating,
I'm bleeding
I want to wake up kicking and screaming
I want to live like I know what I'm leaving
I want a heart that I know is beating,
It's beating... it's beating...it's beating...
I'm bleeding

Aku kembali menyanyi. Meski lebih tepatnya terdengar seperti sebuah mantra yang keluar dari mulut pangeran sekarat yang selalu mendambakan cinta sejati 'happily ever after'.

Aku merapat ke tembok.

****











"Tuan Luther, ada seseorang yang ingin bertemu dengan Anda."

Aku melirik suster itu, dan feeling pertama yang kudapat adalah : perasaan tidak enak.

"Sebentar saya panggilkan! Suster itu permisi pamit dan kelihatannya ia keluar sebentar untuk mempersilakan orang itu masuk. Siapa ya? Batinku bertanya-tanya dalam hati.

Beberapa saat kemudian, tiba-tiba aku dikejutkan oleh kedatangan seseorang : APRILIA????

Aku tercengang....

***










Dia berjalan mendekati ranjangku. Diletakkannya sebuket bunga ke atas meja dekat air putih dan sekantung jeruk pemberian Watanabe kemarin. Aku memberinya senyum basa-basi.

"Duduk."
"Bagaimana keadaanmu?"

tanyanya. Lalu kuterawang matanya bulat-bulat pada orang yang selama ini jadi rivalku. Rival abadi malah.

"Kau sendirian saja?"
"Ya, seperti yang kau lihat. Aku sendirian."

Kemudian dia beringsut dan merapatkan diri ke sisi ranjangku. Dia berbicara dengan setengah berbisik. 

"Frings titip salam padamu. Bunga ini sebenarnya dari dia."

Aku mengkerut. Mukaku jadi terlihat sangat-sangat memelas di saat-saat seperti ini. Kupandang lekat-lekat sebuket mawar putih yang tersembul dari dalam kertas krep yang membungkusnya. 

"Frings?" Aku mengernyit. Sepertinya dia---maksudku Aprilia hampir saja meledakkan tawa karena kalimat tanyaku barusan. Seolah dia sudah memergokiku basah bahwa aku ada main dengan Frings. Yang benar saja. Tentu aku masih normal, Dude. Aku biar begini tidak pernah ada ketertarikan dengan lelaki. Temasuk salah satu bintang lapangan muda berbakat Darsten Frings.

"Terus saja ketawa Jerk Aprilia!"

"Maaf..maaf!" dia sampai memegangi perutnya segala. Ugh...aku jadi terlihat seperti seonggok badut berhidung merah yang mukanya coreng moreng dan bertingkah menggelikan. Apa pantas dia menertawaiku seperti itu?

"Oh iya...namaku Jessamine...Jessamine Aprilia, bukan Jerk Tuan Luther!"

Untuk beberapa saat tak kutanggapi ocehan bodohnya itu. Terlalu norak kurasa. Atau malah tidak lucu sama sekali. Walau aku jadi tahu juga sih kepanjangan J dari 2 pasang nama J Aprilia yang biasa tersemat di punggung kaos bolanya. Okey, yang tadi itu...lebih baik ganti topik saja. Lepas keperjakaan dengan pacar khayalan saja masih mending ketimbang dikira naksir sesama. Bangsat juga si gondrong tampan ini.

"Apa kabar Bremen?"
"Kau tak bertanya soal bunga itu?"

Fuh. Pertanyaanku tidak dijawab. Sengaja kali ya mau bikin hatiku mendidih.

"Baik..baik..Kalem Dude! Aku tak akan meledekmu lagi. Aku minta maaf. Oh ya, tadi kau bilang apa?"

"Bremen." Aku berkata dengan nada bersungut-sungut. Anehnya, dia masih saja dengan santainya mencandaiku begini.

"Sangat mengejutkan. Setelah diasuh Tuan Mc Clarent, jiwa bola kami serasa tumbuh. Di lini depan telah muncul beberapa generasi-generasi Backenbauer. Ya seperti Klaas, Lucas, Borowski, dan Frings. Bahkan dia menjadi man of the match pertandingan terakhir kami. Wah, dia hebat sekali Tuan Luther. Kau tidak melihat performa kami kemarin pagi ya?" ujarnya panjang lebar. Lalu dia mengambil setangkai dari belasan mawar tadi dan memain-mainkannya dengan ujung jarinya.

"Mawar putih... itu tanda apa ya?" Dia bergumam sendiri, seolah aku ini ada kaitannya dengan jawaban pertanyaannya barusan.

"Tanda tanya." jawabku singkat.
"Oh Tuan Luther...kau sensitif sekali. Apa kau tak melihat satu ketulusan atas pemberian agungnya ini?"

Aku melotot ke arahnya. Kulihat jemari tengahnya menjentik-jentikkan diri pada kelopak mawar putih itu. Dia tersenyum hambar. Ada sesuatu yang lain dari dirinya. 

"Cling!!" Tiba-tiba ada sebersit kilauan merah dari balik kerah bajunya. Oh... batu kristal itu. Buru-buru aku menenangkan diri. Apa dia mengalami hal yang sama denganku? Menerima kedatanganmu dengan maksud yang tidak kami mengerti. Jangan-jangan kami adalah orang yang sama, maksudnya sama-sama berada dalam tenungan seseorang bernama Rui. 

Ya...tenunganmu.

"Bandul kalung itu...katamu kemarin berasal dari siapa?" tanyaku tiba-tiba. Dia dalam sejurus lantas menunjukkan ekspresi terkejut. Diletakkannya mawar tadi di atas pangkuanku.

"Bandul kalung?"

Matanya langsung tertuju pada sesuatu yang melingkar pada lehernya kemudian ia menerawang jauh. Merambat ke segala memori yang ada dalam kepalanya. Dia seperti sedang amnesia. Dan itu tentu bukan kasus yang sama sepertiku yang hampir-hampir hilang akal. Atau malah sudah. Otewe.

"Ini... aku tidak tahu ini dari siapa. Sepulang dari Italia...aku banyak meninggalkan sebagian kenanganku di sini. Jadi aku tidak ingat benda ini...berasal dari siapa...."

Aku tercengang mendengar pernyataannya barusan. Itu tadi sebuah kejanggalan besar diantara kejujurannya yang lancar keluar atas mulutnya sendiri kemarin-kemarin itu. Saat dia mengatakan bahwa batu kristal itu sebagai pengganti kekasihnya selama ia tak ada bersamamu. Ya--terus terang aku sangat tercengang. 

"Apa kau mengenal Rui?"

Waktu seolah berhenti didekap derik-derik jam dinding. Dia mematung, menangkupkan kedua telapak tangannya ke permukaan wajah dengan garis-garis hidungnya yang bagus. Sembari berujar dia malah melemparkan pertanyaan ke arahku.

"Rui???"

"Aku tidak kenal."

****








Di bawah langit oranye aku memandang ribuan kerikil yang terhampar luas di pinggir sepanjang kolam. Airnya muncrat-muncrat keluar. Aku menahan nafas panjang. Ada sedikit rasa gamang yang menaungiku.

"Kau sedang dikelilingi aura magis. Berhati-hatilah."

Seseorang sudah berdiri di belakangku. Rambutnya sepundak, dadanya bidang, dan wajahnya memancarkan aroma keseriusan. Dia berjalan ke arahku sekarang. 

"Terima kasih sudah datang, juga mawar putihmu." ujarku datar. Dia kemudian menjajariku. Dilihatnya pula air kolam--seperti yang sedang kulakukan sekarang. Dia tertawa.

"Apa yang kau tertawakan?"
"Ha...haaa..tidak."

Aku memandang ke arahnya. Dan dia masih juga tertawa lebar. 

"Maaf. Jangan salah sangka. Aku cuma memberimu sebuah penangkal." Dia berkata dengan mencoba untuk menghentikan tawanya. Dan aku mengkerut. Tidak mengerti.

"Penangkal? Apa maksudmu?"

***







Fearful and Cautious

Intensitas ketakutanku semakin bertambah. Mungkin karena bukan aku saja yang merasakan. Tapi Frings. Dan juga Aprilia. 

Tabir memang belum terkuak. Namun sinyal-sinyal misteri itu perlahan muncul. Meski belum secara keseluruhan. Tapi tetap saja hal-hal ini semakin membuatku bertanya-tanya. Apa sebenarnya yang tersembunyi di baliknya. Ada apa gerangan sehingga harus aku dan Aprilia yang mengalami. Mengapa kau memilih kami?  Bukan lelaki lain saja. 

Dan Frings? Tiba-tiba saja dia datang pada garis yang telah aku, Aprilia, dan kau buat. Tiba-tiba manusia dadakan ini berdiri diantara kami. Entah ia sebagai penengah atau malah membuat suasana menjadi semakin susah. Aku hanya tidak yakin perihal sifatnya yang terkenal slengehan itu, apa benar ia bisa menjadi heronya. Dia tidak terkesan seperti seorang penolong, melainkan sama saja seperti halnya orang-orang biasa yang tidak tahu apa-apa.

Tapi pernyataannya yang mencium gelagat-gelagat aneh antara aku, kau, dan Aprilia...kuakui memang Frings sepertinya memiliki mata ketiga.

***










"Tuk! Tuk! Tuk!"

Bunyi ketukan sepatu diantara laras kaki-kaki telanjang.

"Suster, ambilkan saya air bisa?"

Seorang pasien renta menjulurkan tangannya dan bunyi 'tuk-tuk-tuk' itu terdengar lagi. Ia tanggap dan segera memberesi permintaan si tua gopoh tadi. Aku terkesiap. Sepertinya wajah tua yang menggelambir itu ada yang mirip dengan.......Oh! Aku tahu. Mata hijau zamrudmu. Mata hijau indahmu Rui...

"Suster! Orang itu selalu memperhatikanku, aku agak takut Sus." Si Tua itu menjulurkan kembali tangannya, dan itu mengarah tepat di kedua mataku. Aku? Aku lantas menengok ke kiri kananku, juga depan belakangku. Tidak ada orang lain selain aku, si Tua, dan suster itu. "Wah bapak-bapak yang tersinggung." keluhku dalam hati.

"Lihat kan suster, aku dipelototinya?"

"Tidak kok Pak, orang itu hanya melihat saja. Dia tidak berbahaya."

Aku menganggukkan diri--maksudnya ingin minta maaf kalau-kalau sikapku tadi tidak menyenangkan baginya. 

Ya sudahlah, lebih baik aku balik ke bangsalku saja. Daripada dituding yang tidak-tidak oleh orang-orang yang tidak berakal sehat, lebih baik aku pulang. Barangkali ada yang menengokku lagi. Soalnya dalam kurun sebulan dan hampir setiap hari aku dikunjungi oleh teman-teman.

***









"Sudah petang Tim, kau masih saja jalan-jalan?"

Watanabe sudah menungguiku di ambang jendela. Dia menyambutku dengan sebuah sindiran kecil.

"Cari udara segarlah biasa!" Aku melenggang masuk mendekatinya.
"Bagaimana?" dia bertanya.
"Semakin buruk Idesuka. Aku semakin gila saja berada di tempat ini."
"Oh ya? Baguslah! Setidaknya kau jadi punya banyak saudara di tempat ini!"
"Ha? Saudara? Yang benar saja kau?"
"Lha iya lah, suster cantik, dokter baik, pasien-pasien itu....apalagi?"
"Mereka semua? Setiap saat begitu kejamnya aku dijejali obat penenang. Kau kira ini menyenangkan? Dan manusia-manusia gila itu. Oh ya ampun...aku sampai kehabisan kata-kata."
"Hahaha..maka nikmatilah! Setidaknya kau masih bernafas sampai dengan saat ini kan?"

Aku menonjok pelan bahunya dan kami bercanda sampai jam 7 malam.

****










Malam ini cuaca agak buruk. Gorden jendela melambai-lambai tertiup angin buritan. Sepasang gagak bernaung di antara pucuk-pucuk cemara. Suasana di luaran sana tidak lebih buruk dari bongkah-bongkah kuburan tua di ujung bukit. 

Aku merapatkan gorden dan jendela terasa berkerit menimbulkan bunyi-bunyian ramai. Untung aku sendiri saja di ruangan ini.

"Hoaaammh." Aku menguap berulang kali. Mataku berair dan rasa peningku kembali kambuh. Inilah saat-saat malam yang paling melelahkan. Ternyata ngobrol dengan orang Asia itu (baca : si Watanabe) lumayan capek juga. Dan malam sudah sangat larut.

Aku rebahan di atas ranjang. Kulayangkan memoriku pada sebait lagu yang dulu sangat kusuka "What Becomes of the Broken Hearted" yang diantaranya begitu trenyuh dan menenangkan hati : "I walk in a shadow searching fot light---cold and alone---no comfort insight---hoping and praying for someone to care--always moving and going nowhere."

Derik-derik jam dinding merebaki ruangan. Hawa aneh yang terasa menghidupkan setiap ketakutan dan menonaktifkan sikap sok berani yang biasa aku umbar ke setiap orang. Fuh...sepi. Segelintir angin lewat lalu saja dan menggosok-gosok punggungku dengan rasa dingin yang menggigit. Telak sampai ke tulang-tulang.

"Ziiiing! Ziiing!Ziiiing!!" 

"PLETAK! PLETAK! !!!"

"Ziiiing! Ziiing!Ziiiing!!" 

Suara aneh yang berasal dari jendela. Aku arahkan pandang ke sana.

"PLETAK! PLETAK! !!!" 

Siluet benda terbang dari balik gorden. Tidak mungkin! Aku beringsut. Seprai tempat tidurkupun kisut. Ujung selimut hampir saja kugigit dan peluhku bercucuran--basah dari ujung rambut sampai ujung kaki. Sumpah! Mendadak aku jadi sport jantung seperti ini. 

"Ziiiing! Ziiing!Ziiiing!!" 

"PLETAK! PLETAK! !!!"

"Ziiiing! Ziiing!Ziiiing!!" 

"Hush! Hush! Hush!"

"Pergi kau! Pergi!!!"

"Pergi dari sini. Jangan dekati aku. Hush!"

Tangan kulibas-libaskan ke arah jendela. Demi Tuhan, sepertinya rasa takut ini sudah mencapai titik kulminasi. 

"Pergi kataku. Pergiiii!!!!"

****











"Tim......"

Bulu kudukku semakin meremang. Ada suara-suara kecil yang sepintas terdengar lewat udara. Aku menyapu pandang ke segala arah.

"Tim....ini aku....." 

WUSHHHHH!!! Angin dingin merebak ke seluruh badan. Rupanya suara yang sama. Suara kecil yang terdengar lirih---halus sekali. Seperti terdengar-tidak-terdengar-tidak. Sepintas ada dan tiada. 

"Ini aku.....melihatlah ke arahku....Tim..."

Oh sial. Otakku berontak. Jantungku berdetak cepat sekali. Nadiku kencang-kendur. Dan segalanya tampak sangat menakutkan 

"Siapa?!!!"

"Siapa itu?!!!Siapaaaa!!!" Aku teriak.

***








"Kalau berani ayo keluarlah! Aku tidak takut!!"

"Atau kau seorang pecundang?" Aku teriak semakin keras dan seluruh ruangan terasa bergetar.

"Kau bisa melihatku asal singkirkan dulu bunga itu...."

Aku melihat ke arah mawar putih pemberian Frings. Dia bilang tadi itu penangkal. Apakah aku harus menyingkirkan benda yang bakal jadi penyelamatku itu? 

"Kumohon!!! Bunga itu akan membuatku musnah. Kau pernah berkata padaku supaya aku tak akan pergi lagi darimu kan Tim? Makanya sekarang aku datang."

"PLETAK! PLETAK!!"

"Aku datang untukmu Tim, bukalah jendela ini...."

"PLETAK! PLETAK!!"

"Dan bunga itu, tolong singkirkan jauh-jauh dari sini!"

Mendadak aku kacau setengah mati. Apa yang harus aku perbuat rasanya tidak mungkin aku lakukan. Suara kecil itu menerorku terus. 

"Ziiiing! Ziiing!Ziiiing!!" 

"PLETAK! PLETAK! !!!"

"Ziiiing! Ziiing!Ziiiing!!" 

Akhirnya hal bodoh ini kulakukan juga. Kupindahkan mawar putih Frings ke kolong tempat tidur. Kusibak tirai jendela lalu kubuka kacanya, dan.....

Kupu-kupu morfo sayap hijau bermotif mata--binatang kecil itu masuk---atau maksudku, kau yang masuk. Dan aku pasrah saja dalam hati.

"Terima kasih Tim. Kau orang yang sangat baik. " Tiba-tiba kupu-kupu itu menyulap diri jadi dirimu yang sebenarnya. Kau dengan wujud aslimu--yang cantik--masih tetap dengan sepasang bola mata hijau menyala-nyala. Kau lantas tersenyum dan memeluk erat tubuhku. Aku bengong sekian detik.

"Lepaskan Rui!" Aku memandang ke arah lain dan matamu menatap ke arahku dengan sorot mata membesar dan mengiba. Tentu saja aku tak tega melihatnya. Aku yang selalu kalah dengan matamu yang bulat penuh dan menyenangkan itu. Ayo lah Tim. Kau harus kesampingkan sikap sentimentilmu ini.

"Bisa kau ceritakan satu persatu...mulai dari awal...." Kini giliranku yang menatapmu dengan tajam. Kau lantas menunduk pilu. Kau berbalik badan, maju selangkah dan menjauhiku hingga aku bicara cukup tersendat-sendat.

"Jawab pertanyaanku Rui? Mengapa semua ini bisa terjadi? Rui....kau membuatku gila...seperti yang kau lihat sekarang. Aku gila Rui!" 

"Bukankah ini kemauanmu? Ingat apa yang sudah kau ucapkan? Aku tidak akan pernah pergi darimu? Dan aku sudah menepati janjiku---aku menemuimu." kau membela diri.

Aku sekali lagi dilibatkan oleh perasaan dilema. Kusentuh teralis jendela karatan rumah sakit. Ada perasaan hampa di sini. Dan aku tak sanggup mengucapkan sesuatu. Yang kubisa hanya diam tanpa arti. Tapi ingin juga aku mencercamu dengan berbagai macam pertanyaan.

"Kau telah berubah."

"Kau yang telah berubah...."

Kau lantas melirik ke arahku dengan sorot mata tajam. Kuhempaskan sebagian kelelahanku dengan duduk di pinggir ranjang. Aku melihat tanganmu lecet-lecet--biru memar...mungkin karena terlalu sering menabrak-nabrakkan diri di atas permukaan kaca jendela.

***






"Kita tidak sama Rui. Kau dan aku berbeda."
"Ternyata kau masih belum menyadarinya Tim..."
"Apa maksudmu?"
"Yah...meski kau belum berubah sepenuhnya. Tapi kau harus tahu bahwa kita adalah sama. Kita sekaum."
"Aku tidak mengerti..."
"Kau dan aku adalah satu. Dan aku sudah mengikatkan diri padamu. Jadi perlahan-lahan kau akan menjadi sama sepertiku. Menjadi mahluk yang sama sepertiku."
"Maksudmu?...
" Iya Tim, kau dan aku itu sama..."
"Satir...Ini pasti komedi satir kan Rui. Jangan membual Rui."
"Terserah. Yang jelas dalam kesakitanmu ini tersimpan suatu proses menuju ke arah metamorfose diri. Kau akan berubah dalam hitungan hari."
"Tidak mungkin!"
"Ingat kupu-kupu saat kau datang ke rumahku tengah malam? Itu adalah ruh yang akan masuk ke dalam ragamu sebentar lagi...ya sebentar lagi pasti akan terjadi."
"Aku tidak percaya! Ini pasti mimpi! Kumohon jangan racuni aku dengan kalimat-kalimat itu. Aku tidak percaya!"
"Kau mau tahu apa yang membuatmu jadi seperti ini?"
"Tidak!"
"Karena kita sudah menyatu. Kita sudah bersama dan kau sudah menanamkan benih ke dalam tubuhku..."

DEG ! DEG !DEG!

Suara jantungku seolah hampir copot dari tempatnya. Raungannya bisa-bisa terdengar ke seluruh penjuru bangsal. Dingin dini hari mencubiti jangatku tanpa ampun. Dingin yang kering. membuatku sedikit gigil. Rasanya aku sudah melakukan kesalahan besar dalam hidupku. Sesuatu yang amat sangat menyakitkan sampai tak sanggup lagi keluar dalam bentuk kata-kata.

Kau maju selangkah.

Aku menghindari tatapan matamu yang telah basah menjadikan kelopaknya yang bulat justru semakin berkilauan. 

"Kau tak ingin melihatku Tim?"
"Tolong Rui jangan mendekat!"
"Kenapa kau mau berkilah? Kau mau menarik semua ucapan manismu kemarin-kemarin? Kau ingin menghindariku?"
"Tolong hentikan!!"
"Ini anakmu Tim....ini janinmu..."
"Aku tidak mau mendengar. Tolong!"
"Lihatlah Tim! Janin ini memerlukanmu! Dia ingin memanggilmu ayah..."
"Aku tidak mau mendengarnya. Stop Rui Stop!!!"
"Aku tidak mau mati dalam keadaan gila mutlak Rui.. Tolonglah! Demi Tuhan aku tidak mau mendengarnya..."

Tidak terdengar jelas lagi. Badanku limbung dan persendianku rasanya lemas sekali. Kutarik kursi dekat situ dan duduk. Butiran-butiran bening meluncur begitu saja akibat reaksi kimia tubuh yang terkena goncangan hebat sehingga energi menurun dan salah satunya menyemburat keluar dalam bentuk cairan dari kelopak mata. 

"Sudahlah...aku tidak ingin memaksamu lagi. Jika kau inginkan aku pergi, maka aku akan pergi. Kau ingat kan....bahwa aku memang tidak bisa menolakmu. Tyrone kecil...ayo ucapkan salam perpisahan pada Papa...."

"Cups !" Sebuah kecupan manis mendarat dengan lembut di keningku. Lalu kau sentuhkan tanganku ke atas perutmu yang sedikit mulai membuncit ketimbang sebelumnya. Aku mulai merasakan nafasnya...aku merasakan denyut jantungnya dan juga sesekali gerakan kecilnya. Aku merasakannya. Janin yang kutanam dalam rahimmu. Yang sebentar lagi mungkin akan berubah menjadi seekor kupu-kupu mungil. Oh tidak! Apakah ini hanya metafor saja? Apakah aku hanya mimpi? Tapi brengsek...justru ini membuatku serasa menjadi orang paling jahat sedunia. Orang jahat yang cengeng setengah mampus karena nyatanya aku malah menangis sesenggukan dengan air mata yang yang tak terbendung. Ya....karena aku merasakan ada kehidupan kecil di balik perutmu...

Aku melepaskan tanganku di atas perutmu. Namun kau diam saja. Kau hanya menatapku sebentar dan akhirnya berbalik menuju jendela .

"Hey! Kupu-kupu morfo sayap biru. Kau harus camkan baik-baik! Aku akan terbang membawa darah daging kita. Jika ini yang kau mau...maka kau selamat. Jadilah manusia seutuhnya. Aku tak akan mengganggumu lagi. Satu lagi.. terima kasih sudah membohongiku..."

"CLACK!!!!"

Tiba-tiba terbang-melayang ke udara bebas di tengah pekat kabut dan awan menggumpal di malam yang begini larut. Menukik...hampir doyong disambar angin, lalu tegak berdiri dan kembali terbang....

Aku menangis sesenggukan menata hati yang berantakan. Kubiarkan jendela terbuka lebar karena ingin melihat punggung itu untuk yang terakhir kalinya. Ya punggung yang bersayap itu.

"Maaf........"













Soundtrack yang paling pas untuk adegan ini adalah lagunya....

Blackout : "Selalu Ada"

lirik : 

Betapa hancur hati
Hilang gairah hidup
Serasa hampa
Selimuti di jiwa

Tak ada lagi tawa
Dan tak ada ceria
Semua hilang
Terkubur dalam duka

Dia kini telah pergi jauh
Terbang tinggi tinggalkanku di sini

Tuhan Engkau tahu aku mencintainya
Dan tak ada yang bisa mengganti dirinya
Tuhan hanya dia yang selalu ada
Dalam anganku dalam benakku

Tuhan Engkau tahu aku mencintainya
Dan tak ada yang bisa mengganti dirinya
Tuhan hanya dia yang selalu ada
Dalam anganku dalam benakku

Tuhan Engkau tahu
Aku mencintainya
Tuhan hanya dia yang selalu ada
Dalam anganku dalam benakku


*****










Diantara rintik hujan sore-sore aku berjalan. Diantara wajah-wajah bertampang boneka fiberglass yang lalu lalang bertudung payung warna-warni aku menjelma bagaikan seorang tolol yang telah melepaskan segenggam cinta dari pemilik bibir merah jambu, mata bulat penuh dan tampang kekanak-kanakan yang sangat komikal. Sungguh terus terang aku rapuh...aku hilang tanpamu oh kupu-kupu kecilku. Bahkan dalam bayang genang-genang air yang tercetak pada cerukan jalan raya tempat aku berpijak saat ini, yang kudapati hanyalah sekerat wajah pengecut yang lari dari tanggung jawab. Wajah yang sangat menyedihkan yang harusnya kuberikan padamu. Sungguh.

Dan ini merupakan hari kelabuku sesaat setelah aku mendapat vonis sembuh bersyarat dari dokter. Ya aku sembuh. Sesungguhnya aku gembira...tapi....nyatanya sekarang aku   malah kacau begini. Aku tersaruk-saruk membawa tubuh jangkungku yang semakin kurus saja dari hari ke hari, mencoba mengais sisa-sisa semangat hidup yang nyaris compang-camping.

***








Waktu berjalan cepat antara akhir November sampai pertengahan Januari ketika aku masuk kantor...

"Swallaaaaaa....surprise!!!"

Kertas krep kuning emas bertaburan dimana-mana, termasuk di atas kepalaku. Teman-teman langsung menyalamiku satu persatu. Bahkan ada yang sampai memelukku segala saking kangennya. 

"Oh God! Ternyata Kau masih memberkatiku."

Aku berjalan mantap-mantap dan puluhan mata menatapku terang-terangan. Pasti mereka tak pernah menyangka bahwa aku bakal kembali ke tempat ini.

"Plok! Plok! Plok!!!"

Sebuah tepuk tangan meriah keluar dari Bossku tercinta, Tuan Manager. Dia langsung berjalan mendekatiku dan memelukku erat--seperti sudah kehilangan aku ratusan tahun.

"Luther selamat datang! Kau tak akan sia-sia kembali ke tempat ini. Pokoknya tempat ini terbuka untukmu!" Aku tersenyum-senyum saja. Dia memang orang tua yang sangat baik.

***





Satu tahun aku bekerja, satu tahun aku berangsur-angsur bisa menyesuaikan diri bahkan hasil kerjaku terbilang gemilang. Aku lebih workaholic sekarang. Aku juga lebih memfokuskan satu hal daripada yang lain-lain--yaitu kerja. Bagiku kerja adalah segalanya. Selain itu, kurasa tidak ada yang lebih penting.

Sampai suatu siang di awal musim kompetisi nasional, aku dipanggil oleh atasanku tertinggi Presiden Asosiasi. Kudengar ada desas-desus pengunduran diri Tuan Radmont akhir tahun ini. Mungkin karena usianya yang sudah uzur. Jadi ada berita burung semacam ini. Tapi mengapa aku juga ikut dipanggil? Jangan-jangan karena Tuan Radmont akan keluar, maka aku sebagai asistennya pun ikut keluar? Oh, pikiranku sudah berseliweran kemana-mana, saat mulai memasuki ruangannya.

****







Lantai 17, balkon pencakar langit. Kulihat awan-awan bergumpal-gumpal membentuk formasi gula-gula kapas. Ada 1 burung melintas dengan pola angka 3 terbalik warna hitam-- kebingungan tak tahu jalan pulang. Tapi aku malah senyam-senyum sendiri. Kau tahu apa yang kurasakan sekarang? Oh...betapa gembiranya aku mengatakan hal ini. Aku diangkat sebagai manager tapi bukan untuk timnas atau klub di negara sendiri. Melainkan salah satu klub besar di negara tetangga. Ya, aku akan pindah ke Inggris.














17 Januari 2008
Inggris

Aku gemetar. Bagaimana tidak? Ini pertama kalinya aku keluar negeri untuk 'wewenang baru'. Manager salah satu klub yang tidak terlalu macan, namun juga tidak ecek-ecek banget. Ya standar lah. Tapi sumpah. Ini tugas yang sangat mendebarkan. 

Tapi bagaimana ya? Aku harus menemukan jantungku kembali. Aku harus menemukan kehidupan baru---dan mungkin mencari pelarian terhadap masalah-masalahku yang banyak mengakar di kota ini--di negara ini. Dan aku mau perubahan. Mungkin salah satunya adalah taken kontrak dengan LMA Inggris selama 1 tahun masa percobaan. Ya, semoga saja aku bisa melakukannya.

Aku lalu menguatkan diri  Bangun pukul setengah 3 pagi, karena pesawatku terbang pukul 5 nanti. Dan sebuah taksi pun meluncur bersamaku juga barang-barangku menuju ke Bandara Frankfurt 2 jam sebelum pesawat take off.

Sudah sebulan yang lalu, di suatu makan siang, Presiden Asosiasi menyinggung-nyinggung tentang rencana diperkenalkannya aku pada agen Club CA untuk menangani klub sepak bola itu. Mengobrol basa-basi mengenai kenaikan jabatan, akhirnya sampailah ia menawarkanku untuk menghadap ketua liga di Inggris sana.

"Sial...sebenarnya aku ingin sekali naik jabatan di negara sendiri. Tapi aku sudah menyangka, pasti bos memilihku untuk pekerjaan ini. Aku kan pekerja teladan."

"Ya, kau tahu sendiri, kantor dan kerja membutuhkan kebriliananmu Luth! Tapi kau pantas naik level." katanya seraya manggut-manggut.

Aku setuju saja. 

Dan kini, aku sudah pergi. Di Bandara Frankfurt, dimana tempat check in untuk maskapai British Airways sudah dipenuhi orang, bahkan sudah mengular antreannya.

Aku berlari-lari menuju gate 32, dan tanpa menunggu langsung masuk ke kabin pesawat. Namun karena saking paranoidnya ketinggalan pesawat, ada sesuatu yang terlupa olehku. Oh !!! Barang-barangku. Akupun balik ke bagian screening koper. Dan ternyata benar, seorang pria berseragam biru memanggil-manggil namaku. Akupun minta maaf dan segera mengambil barangku untuk kembali ke kabin pesawat.

Tapi baru juga melangkah sekian meter dari tempat yang tadi, mata ketigaku langsung berinsting buruk. Aku menoleh ke samping kiri dan kanan. Tidak ada apapun. Lalu aku melanjutkan jalanku. Tapi...rasanya semakin tidak enak begini. Kenapa ya?

"Luther!" Seseorang memanggilku. Dan itu suara yang rada familier untuk ke-3 kalinya mampir di telingaku. Aku menoleh ke belakang.

Seorang cowok berkemeja putih dengan satu kancing dibiarkan terbuka dan kerah bajunya terangkat satu ke atas. Dia melambaikan tangan ke arahku. Rambutnya panjang dikuncir kuda. Matanya biru dan kulitnya putih bersih.  Aku langsung teriak dalam hati. Frings!

"Hai Bro! Terpaksa aku mendekat padanya dan ini sangat membantuku untuk mengulur waktu. Dia tersenyum skeptis lalu menyalamiku.

"Aku sama teman, take off  sejam lagi. Pake Lufthansa sih. " katanya.

Aku hanya bisa ber-'oh' panjang. Berusaha untuk menunjukkan kepada dia bahwa sebenarnya aku sedang malas berbincang. Tapi ternyata, dia terus nyerocos saja. Sehingga aku hanya bisa duduk di bangku pengantar pada akhirnya. Ya, tak apa lah. Mendengar dia cerita untuk yang terakhir kalinya tak ada salahnya kan? Toh dia sedang duty free sampai satu jam ke depan.

"Kita jumpa lagi di lapangan nanti! Kalau ketemu club asuhanmu tapi" ujarnya lagi.

Akupun mengangguk dan memain-mainkan ujung kukuku yang runcing sekedar untuk mengusir rasa kesal di hati.

Kemudian suara nona-nona di balik pengeras suara menggetarkan lamunanku. Dia mengumumkan pesawatku akan segera terbang. Akupun kasak-kusuk sehingga akhirnya menyadarkan Frings bahwa aku harus segera pergi.

"Sudah mau terbang ya?"
"Iya. Aku harus ke sana!" aku merapikan diri lalu bangkit. Dia mempersilakanku dengan sopan. Lalu pengeras suara itu bunyi lagi. 

"Perhatian-perhatian, sekali lagi pesawat dengan nomor penerbangan British Airways B903 akan segera diterbangkan. Untuk itu dimohon kepada calon penumpang untuk segera menaiki kabin!" 

Ya, aku harus benar-benar ke sana sekarang. Lalu aku pamit pada Frings.

"Aku pergi dulu Bro!" Kutepuk bahunya 2 kali. Namun saat aku hendak benar-benar memijakkan kakiku barang selangkah, tiba-tiba saja dia menahanku. Aku kaget. Bro, aku harus pergi brengsek! Tapi dia menahanku sekian detik. Mungkin ada setengah menit. Aneh sekali. Lalu dia mengucapkan sesuatu sebelum aku cabut. 

"Hati-hati." Katanya. Terpancar dari sorot mata birunya bahwa sungguh ia sangat khawatir dengan diriku. Sekali lagi aku cukup terperanjat.

"Hati-hati?"

Tapi lagi-lagi dia mengeluarkan statement aneh. 

"Tunggu sebentar. Ada sesuatu yang harus kusampaikan padamu Dude." Dia mengeluarkan sebuah amplop putih berisi...mungkin seperti sebuah surat. Lalu dia menyerahkannya padaku. Dengan mulut masih ternganga aku hanya bisa mengangguk.

"Baca saja nanti. Terserah mau di pesawat atau setelah sampai di Inggris." Ia mengakhiri pembicaraan.

"Kalau begitu aku pergi dulu." ujarku pada akhirnya. 
"Siapppp!"

Dan akupun kembali berlari ke gate yang tadi, gate 32. Masuk kabin, duduk dengan seatbelt dikencangkan. Seorang pramugari kemudian memperagakan prosedur normal penggunaan sabuk pengaman dan mengajari apa yang harus dilakukan jika terjadi keadaan darurat. 

***







Pesawat menukik dan meninggalkan Jerman dengan lancar. Setelah itu disebutkan bahwa perjalanan ke Inggris akan memakan waktu 1 jam 30 menit. Jadi aku masih punya sedikit waktu untuk tidur kembali, atau melamun. Atau juga keduanya. 

Hoaaahm...suasana lembab dalam pesawat memang cukup memusingkan. Apa yang bisa membuatku sedikit mengusir rasa mual? "Ah!!!" tiba-tiba aku teringat akan sesuatu. Kukeluarkan sepucuk surat pemberian Frings di bandara tadi. Amplopnya wangi  sekali. Aku mengendus amplop itu layaknya sedang mencium aroma wine. Sepertinya amplop ini berisi sesuatu yang sangat penting. Apakah semacam kartu pos farewell? Rasanya tidak mungkin. Buat apa? Kami bukanlah karib yang sekental itu. Kami cuma kenal lewat perkara mistis kemarin. "Srettt!" Tiba-tiba ada sesuatu yang keluar saat aku hendak mengeluarkan isi surat dari dalam amplopnya.

Aku tertegun.

Beberapa helai mawar putih?

Surat dari Frings ini kemudian aku baca dalam hati.

dan....tak berapa lama setelah surat mencapai baris paling akhir, terdengar suara yang tak asing di telingaku...

"PLETAK !!!PLETAK!!!"

Seekor kupu-kupu tiba-tiba melintas sekelebatan di jendela kabin begitu pesawat landing di Inggris.

"PLETAK !!!PLETAK!!!"

Bunyi itu terus menggodaiku untuk mengamati permukaan jendela.

"Ziiiing! Ziiing!Ziiiing!!" 
"PLETAK! PLETAK! !!!"
"Ziiiing! Ziiing!Ziiiing!!" 

Bagaimana bisa?

Kau mengantarku sampai sejauh dan setinggi ini.........

TAMAT

Catatan : 

Biar uda ga ada tanggungan lagi, maka kuputuskan untuk menulis lanjutan cerbung yang sudah kubuat beberapa kali sebelumnya. Maksudnya supaya aku bisa cepet move on bikin judul cerbung atau cerpen lainnya, haha..

Untuk semua hal yang ada di dalam cerbung ini sifatnya fiktif belaka. Cuma buat seseruan nulis dan iseng aja karena masih latihan bikin fiksi. 

Terima kasih bagi yang sudah membaca dari part 1 sampai part 6 nya. Silakan yang mau komen seseruan boleh, tapi ga sah dibawa serius-serius ya, buat seru seruan aja kok aku nulisnya hehhehe..namanya juga masih nubie.

Tak lupa pula terima kasihku untuk seorang mentor yang selalu menyemangatiku dalam hal menulis, membuat cerbung atau cerpen... Semangat yang kau berikan amat sangat berarti untukku ^________^

PS...terakhir : lagu yang kudengarkan waktu nulis lanjutan cerbung yang udah lama mangkrak ini supaya (nemu feelnya lagi kamsudku), maka aku mendengarkan lagunya Hanya Rindu by Andmesh Kamaleng dan Selalu Ada, Blackout.




127 komentar:

  1. panjang banget ceritanya, itu kok sampai segitunya ya mbaknya, sampai harus di suntik obat penenang terus, coba dia meditasi ya, lama-kelamaan bisa bahaya loh kalau di suntuk terus, he-he

    dan kupu-kupunya hadir di tengah kegalauan seorang wanita, suatu penceritaan yang menarik, ngomong-ngomong ngetik sepanjang ini berapa hariya baru selesai

    BalasHapus
    Balasan
    1. koh kayaknya harus baca dari part 1-part 5 nya deh biar mudeng benang merahnya hahhaha...

      kok wanita? ini tokoh utama yang jadi akunya itu cowok kok

      okey, trims atas waktunya 😊

      Hapus
    2. ha-ha-ha, mungkin saya enggak baca dari awal ya, atau kurang konsen bacanya karena ceritanya panjang banget, wkwkckk

      Hapus
    3. biasa koh,spesialis ketikan panjang saya 😁

      Hapus
  2. Wah... Merinding juga.
    Ternyata masih diikuti sampe sejauh apapun dia pergi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mas rudi, tapi kupu kupunya kasian...dia adalah kupu kupu yang dicampakan ceritanya

      wkwkkw...

      makasih atas waktunya uda membaca mas rudi 😊, jangan lupa dari part 1 sampe part yang terakhir ini ya, biar ngerti urutan-urutannya xixixi

      Hapus
  3. Jadi ceritanya Rui adalah roh seekor kupu kupu yang menjelma jadi wanita ya? Bukannya Rui adalah anak kecil pada part 1 ya? Bagaimana ini kok aku masih loading belum terlalu paham suhu mbul.😂

    Jadi Rui itu cuma ada dalam pikiran Tim saja ya? Jadi Aprilia kenalan sama Rui itu cuma anggapan Tim doang.

    Sepertinya aku harus baca lagi dari part 1 sampai part 5 biar mudeng. Soalnya sudah lama jadinya masih loading.😀

    BalasHapus
    Balasan
    1. sebenernya pingin aku jelasin sih mas..tapi....coba nunggu ada pembaca lain yang udah sedikit bisa menebak blom arah arahnya gimana...

      tar kalau misal blom ada yang bisa menyimpulkan baru admin Mbul kasih tau detailnya mas...soalnya kalau kujelasin sekarang spoiler dunk gegegegekk

      hu um mas, silakan diceki-ceki n dibaca baca ulang yang part sebelomnya, kan sini muridnyahhh jadi perlu bimbingan mentor sayanyaaaaa

      #sungkem guru 😊😇🙏🙏🙏

      Hapus
    2. Wah, aku malah yang harusnya sungkem sama mbak mbul biar diajarkan bikin cerpen bersambung yang bagus seperti ini.

      Oke, nunggu di pinggir jalan ah sambil gelar tiker, siapa tahu nanti ada komentar yang jelasin, mungkin mbak Ica.😄

      Hapus
    3. bhahaaaaa seremmm dikomentari mba icha yang novelis beneran...ampun hihi....piece mba ica dimanapun dikau berada 😝 ✌

      aku mah ga ada seujung kukunya skill mas agus hihi

      (⊃ω`)zz

      (`・ω・´)

      mas harusnya bacanya kalau ada kuota sambil dengerin mp3 soundtrack lagu yang dah kulist kan tuh, biar makin mendjiwai ahahhaha

      download dulu lagunya wkwkwkkw

      nah itu ceritanya tuh lagu sesuai isi hati si tim ke rui dan rui ke tim #eaaaa 😆☺😳😂

      Hapus
    4. Eh ada yg colek akuu.. hehehhe.. 😆
      Bentar2, nunggu bocah2 tidur dulu baru aku baca sampe abis. Walaupun blm baca aku yakin, klo mba nita yg bikin pasti baguus 😍😍 Ga sabar mau beresin bacaa..

      Hapus
    5. wadidaw mba ica datang, siapin cemilan dan siropnya dulu aaahh

      ¯\_(ツ)_/¯

      (((o(♡´▽`♡)o)))

      Hapus
    6. Nasi goreng juga mbul dan aneka makanan + teh anget dll...Jangan lupa kirim kerumah juga yaa.🤣🤣

      Hapus
    7. wew lengkap dunk yaaash...

      tar mbul siapkan perjamuan untuk mamih icha dan pembaca lainnya yang mauk nongkrong di marih nyoba nebak nebak atawa ngeresensi or ngrangkum alur cerbungku ini

      syeeeeettt #brobah penampilan pake apron dan topi koki dulu sayaaaa..

      #buru buru masakin

      🍗🍤🍖🍟🍔🌭🌮🍕🥙🍝🍜🥘🥗🍲🍱

      (。・ω・。)

      Hapus
    8. cerita mbak tiwi memang enggak ada duanya, puanjang banget

      Hapus
    9. jadi maksut ceritanya begini....

      Hapus
    10. khanif : hayo...terusin...

      begininya yang gimana nif? 😊

      Hapus
    11. uda aku buka tuh

      ada di bawah jawabannya

      yang sampai 4 kolom komentar panjang mas resensi cerbung aku

      yuk yuk dilihat 😆

      Hapus
  4. Gilaa hampir setengah hari gw bacanya...🤣 🤣 Meski pada akhirnya kemanapun Luther pergi sang kupu2 itu selalu mengikutinya dan ada untuknya...Meski sebelum keberangkatan ke Inggris banyak drama yang harus dihadapi oleh Luther.

    Gw mau baca ulang dari awal part pertama lagi aah mbul, Karena banyak keseruan diakhir kisah yang part 6 ini atau yang terakhir.😊😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. wkwkwkw...punten kang satria hahhah, en tentunya makasih uda dibaca, harus sering sering konsul dengan suhu satria n suhu agus saya

      😊☺

      nuhun kang, mangga diintip-intip lagi part sebelumnya biar kabelnya ni cerbung pada konek lagi huahhaahha 🥴🙏🙏

      Hapus
    2. Iya kang, sama seperti kang satria pergi kemanapun Ratna selalu mengikuti eh ~ 😂😂😂

      Hapus
    3. huahahhaa, ntar nana ga bisa move on dari kang satria loh mas agus wkwkwk

      😆😂🤣

      Hapus
    4. Beehaaa!!..🤣🤣🤣 Ratnanya telah pergi ikut Luther ke Inggris mungkin mau jadi kupu2 juga dan nyaingi Rui...🤣🤣🤣

      Hapus
    5. kalau ratna jadi kupu kupu jangan jangan pake gincu kang 😆😆

      Hapus
    6. kalau saya baca cepat aja mas, mulai dari paragraf awal, setelah itu tengah dan akhir, total tiga paragraf, tapi nyimak kok, ceritanya tentang kegundahan dan sakau terhadap obat, wkkckk

      Hapus
    7. bwahaahha...lebih banyak cerita romansa nya kok koh, bagian obat obatannya cuma sampingan aja 😁

      Hapus
    8. ha-ha, good story mbak

      Hapus
  5. Mbak mbul, ini panjangnya kaya kreta jurusan jakarta - surabaya, aku baca dari kenyang abis makan sampe laper lagi loh wkwkwkkwk.
    Jadi Rui itu roh kupu2nya apa bukan? duh aku lola hahha.
    Btw itu kenapa namanya Watanabe mbak? Aku jadi inget atlet bulutangkis jepang yg main 2 sektor, Yuta Watanabe, hihihi maklum ya, penonton setia bulutangkis wkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. berapa kilo berarti ya mba met? 😋🤭🤭

      hmmmn tungguin yang lain komen dulu
      mau nyurvey ada yang bisa kasih jawaban pas ga 😆😆

      oiya aku tau watanabe yang itu, hihhi

      Hapus
  6. Ngeyel.... Jitak nih.. langsung ketawa baca dialog ini..hihihi

    Ini si aku mungkin koma kali ya terus di dalam komanya dia ketemu sama Rui jadi Rui itu hanya fantasi saja..

    CA itu Charlton Athletic kah?

    BalasHapus
    Balasan
    1. bwahahahaha...jadi pengen ngumpet masuk toples, malu

      🙈(⁄ ⁄•⁄ω⁄•⁄ ⁄)

      hahhahahaha

      matiiii akuuu

      ada yang lebih ngerti bola datang...hihihi

      iii kok tauu itu charlton athletic, duh ampuni aku ya club CA dijadiin materi cerpen

      ((o(*>ω<*)o))

      jawabannya adalah......koma ga ya?

      ntar lagi aku jelasin deh klo uda banyak yang nebak 😝

      Hapus
    2. Dari sekian banyaknya dialog. Sepertinya cuma dialog itu aja yang keluar dari jalurnya dan bikin ketawa..hihihi

      Itu kan saya nanya bukannya saya tau CA itu Charlton Athletic kalaupun dijawab Charlie's Angels saya iya aja..hihihi
      Berarti mbak Nita fans club Charlton Athletic nih.

      Baiklah, semoga aja nanti malam sudah ada penjelasannya..hihihi

      Hapus
    3. Waahh suhu KA-EL memang luar biasa...Sungkem dulu Huu.����

      Kalung permata yang dipakai Luther juga berpengaruh kali yaa agar sikupu2 bisa tahu kemana Luther pergi...Atau karen Janin yang ada diperut Rui..��‍♀️

      Hapus
    4. bhahahha...iya mas kal..bagian yang dicetak miring dan dialog yang bagian itu aku bikin paling akhir aku sempilin ceritanya 😊

      wealah ternyata nanya?(´^ω^`)

      kupikir itu bukan pertanyaan tapi pernyataan :D

      bukan fans club ca sih, lebih tepatnya nyari contoh club yang ga terlalu mentereng, klo pake yang mentereng aku nulis salah diomelin die hard fans kan gaswad hahahhaa


      (。>ㅅ<。)💦sorry…


      okay...nanti kalau uda banyak yang nebak dan blom ada yang pas aku kasih tau deh 😄😊

      Hapus
    5. kang satria : waduuuh emot anak naga nungul 😆😂🤣

      hu umb kang radarnya kenceng, oengen ngintilin terus wkwkwkkwkwk

      Hapus
    6. Oh begitu ceritanya pantesan keluar dari jalurnya.

      Kurang lebih pertanyaan merangkap pernyataan..hihihi

      Dan selain ngga mentereng club Charlton itu udah ngga masuk di premier league.

      Ternyata udah malam belum ketebak juga..

      Hapus
    7. bhahhaha ini mah badayyy ngerti bidang bolanya atuh mas 😂

      iyaaaa kan emang ga mentereng wkwkwkkw, biar ga ada celah kena kritik #eh haha 😝

      apa aku buka sekarang aja kali ya? 🤔

      Hapus
    8. Udah buka aja sekarang mbak, ngga ada yang lihat ini.😂

      Hapus
    9. Badayyy itu apa ya? ngga ngerti bahasa gaul (sedih)

      Sebentar dicari dulu masa iya ngga ada celah buat kritik. (Angkat ember, rak piring dan meja masih belum ketemu)

      Jangan dulu, tambah sehari lagi biar makin tambah lama penasarannya.

      Hapus
    10. mas agus : katanya bukanya suruh besok, biar tambah penasaran 😊

      ヾ(^-^)ノ

      Hapus
    11. mas kal : kece badayyyy mas 😆

      mangsudku uda ahli n update inpoh inpoh persepakbolaan dunia huhu...#jadi takut aku 😝 wkwkkw

      ampun mas ampun..#buru buru sembunyikan segala celah ᕕ( ᐛ )ᕗ

      ᕕ( ՞ ᗜ ՞ )ᕗ

      okey deh ku buka besok aja

      Hapus
    12. Waduh, buka rahasianya besok ya, kirain hari ini.

      Oke deh kutunggu besok.😀

      (Paling besoknya mbul bilangnya besok lagi, begitu seterusnya sampai lebaran kuda 😁)

      Kaboorrrr 🏃🏃🏃

      Hapus
    13. sengaja...

      biar mas agus bolak balik blog aku terus ☺😊

      asyikkkk dipanggilnya mbul aja 😆

      Hapus
    14. Loh masih belum juga, apa perlu tambah satu hari lagi?

      Hapus
    15. jadi menurut mas kal gimana? aku buka sekarang apa besok?

      dijawabnya di kolom komen yang nanya apa di post tersendiri apa di mana? ☺🤔

      Hapus
    16. uda aku buka semua mas...yuk

      silakan dilihat

      aku taruh di kolom komen aku sampai 4 kolom komentar penjelasannya

      (*・ω・*)b♪

      Hapus
  7. Judul kisahnya metafora banget, keren.

    BalasHapus
  8. Dari judulnya saja sudah menarik .. Ceritanya gloomy tapi dialognya masih ada unsur ringannya kadang.
    Kok bisa sih mbak bercerita dari sudut pandang pemikiran laki laki, padahal yg nulis ini kan imuut dan syantiik :)

    Sukaa ceritanya.. Hanya untuk jadi bab yg ending menurut saya terlalu panjang. Jadi malah kurang duaarnyaa. Mungkin dibagi saja jadi dua bab, terus pakai epilog. Biar jadi ikutan merasuk ke suasananya Rui menabrakkan tubuhnya ke dinding.

    Keep writing, mbak mbul
    Dengan gambar gambarnya yg selalu ngangeni 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. saatnya katakan Horraaayyyyy

      buguluuuw syantik datang dan memberi masukan, matur sembah nuwun mba dewi

      (♡´▽`♡)

      (´∧ω∧`*)

      hehe, nyobain cerita dari sisi laki mba dew, walau kayaknya masih belom terasa gahaaaar banget sih hihihi 🤭🤭🤭

      biasa imajinasi mbul suka sesuatu 😆😆

      iya makasih banyak mba dewi, masukannya sangat berarti untukku

      (*・ω・ノノ゙☆゚゚

      (^ω^)

      Hapus
  9. nulis novel zaman kini bisa diangkat ke layar digital lho

    BalasHapus
  10. Waaah udah bagian enam aja. Aku kudu baca juga nih dari bagian pertama 😀

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau uda rampungin semua partnya,p tolong rangkumin kesan dodo di komenan part yang ini yaaaash 😀

      Hapus
  11. wah ini udah bagian akhir ya, gw malah udah rada lupa cerita part 1-5 nya hehehe :D, lumayan seru sebenernya dan ada misterinya.. gw sebenernya masih penasaran dengan sosok rui itu siapa, apa dia cuma seorang gadis yang ada di khayalanya luther ?.. bisa jadi ya, karna dia sakit kejiwaan yg suka berkhayal hohoho :D.. mungkin dia gak bisa membedakan antara gadis khayalanya dan dunia nyata yang bercampur, karna terlalu seringnya berkhayal jadi semua terasa sama antara khayalan dan nyata hahaha :D, sotoy ah...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makanya mas khanif, saran saya mas segera kawin saja biar tidak berkhayal dengan Shizuka terus.🤣🤣🤣

      Hapus
    2. khanif : asyikkk ada yang penasaran ama Rui 😊

      kasih tau sekarang ga yaaaa....

      jawabannya adalah...jreng jreng jreeeeeng...bener ga ya tebakan khanif? 🙄🤔

      tungguin beberapa hari lagi ya, ntar aku buka semuanya

      (〃^ω^〃)

      Hapus
    3. sizukanya siapa mas agus ?

      (´∧ω∧`*)

      Hapus
    4. Lhoo katanya Asmobil...Eehh salah Asmiranda..😊🤣🤣🏃🏃💨

      Hapus
    5. asmirandahnya uda jadi miliknya jonas revano kang, uda punya anak juga 😂

      Hapus
    6. pengenya sama asmirandah, tapi takut ketinggian :D

      Hapus
    7. ayo mbak mbul bikin post ulasan tentang cerbungnya ya, banyak yang penasaran tentang sosok rui xixixi

      Hapus
    8. jangan nif jangan ama asmirandah...asmirandahnya uda punya orang hahhahahah

      Hapus
    9. eh bener nih, aku jawab di post tersendirikah? apa jawabnya ama yang tanya aja 😊☺

      Hapus
    10. jawab di post aja mbak mbul, biar lebih enak nantinya, paling nanti juga komen2nan lagi di postinganya :D

      gw ama asmirandah cuma ngefans aja kok, gak berharap sampai segitunya :D

      Hapus
    11. khanif...jawabannya uda aku publish di komen aku di bawah kubikin jadi 4 kolom jawaban ya nif...yuk yuks...

      secrol di komenan aku yang bawah yang panjang mpe 4 kolom komen nif

      (´∧ω∧`*)

      Hapus
  12. wow ajib tenan bisa jadi skrip film nih mbak siapa tahu ada yang mau jadi produsernya jujur baru episode ini I read jadi interest untuk read part lainnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul bangat bang Rusdi akan lebih menarik memang kalau dibuat Film...Pastinya seru Abiisss...Dan penonton juga tak akan kecewa yaa..😊😊😊 cocok juga nih Mis Suketi bila jadi pembuat naskah Film..😊😊

      Hapus
    2. mas rusdi : hahaha, mas rusdi bisa aja ☺

      mesem aku baca komen mas rusdi 😄 kayak logat malaysie ya mas..

      boleh mas diintip intip part sebelumnya, monggo mas hehe ☺

      Hapus
    3. kang satria : masa sih kang, ntar yang ada banyak nganu nganunya kalau gw yang bikin skrip...bhahaaaaaa 😂🤣

      Hapus
    4. huss tak lah aku komen seperti itu karena keyboard huruf si rusak jadi pakai bahasa inggris wk wk

      Hapus
    5. wkwkwkwk...ealah keyboardnya bisa gitu ya 😂

      Hapus
  13. soundtracknya coba u9 band,,pasti mantep juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. judul lagunya apa ya mas rezky? kalau romantis mauk lah taklist buat tambahan soundtrack cerpenku 😊

      Hapus
  14. Fix!.
    Final chapter cerbung yang keren dan panjangnya serangkaian gerbong kereta ini .., cucok meong dijadiin drakor.

    Drakor atau telenovela ala-ala Maria Mercedez aja yaa ..., lebih 'kena'soalnya.
    Apalagi akktisnya secantik Thalia.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ho o mas him wkwkwkwk, biar sekalian kretekin jari nulise dowo sakpole wkwkwkwkw

      bahhahaha artisnya lebih wajah asia mas him hahhahaha

      Hapus
    2. Waah Si Hino ngefans Sama Thalia jangan2 yaa mbul... Kemarin J-LO sekarang Thalia...Apa mungkin besok2 ngefans Bang Pepet Kali yee..🤣🤣

      Hapus
    3. fixed bisa disimpulkeun seleranya mas him agak agak ke wong amerika latin kang 😂

      Hapus
  15. *PENGUMUMAN PENGUMUMAN!!!"

    hola hola hola Mbul mau pengumuman nich...

    Check sound...satu...dua..tiga..dicoba...check...check...(uda bejtek ga ada ojek haha..sueee), mendung terus yekan udah bulan ber-ber-ber..

    okey, sesuai dengan janjiku kemaren....berhubung ada beberapa temen yang ingin aku menjabarkan behind the scenenya cerbung ini (dari part 1 ampe part 6) apa dan bagaimana tokoh-tokohnya, kok bisa ina ini anu eh inu.. dan ndilalahnya juga belum ada yang bisa menebak secara pas, maka kuputuskan dengan bismilahirohmanirohim (seperti saat kau pinang aku dengan bismillah #etdahhh), kujabarkan juga dalam thread komen berikut. Harapannya biar ga ada lagi syak wasangka diantara pembaca ebuset bahasa w tingkat tinggi amat ya segala pake syak wasangka hahhaha...

    Nah, bagi siapa saja yang belum baca dan ga ingin tahu SPOILERnya...silakan lewati saja komen ini. Sementara bagi yang mau menanggapi, silakan reply- reply aja komen ini, mau haha hihi hoho juga terserah deh karena komen apa juga selalu aku terima dengan senyuman #ahzyeeeegghh..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pertama, penokohan.
      Kubuat mengerucut jadi 3 tokoh sentralnya ya. Ada aku, kau, dan dia.

      Tokoh 'aku' kusematkan pada sosok lelaki lajang umur 30 tahunan tengah bernama Tim Luther...Orangnya tinggi, kurus, pekerja keras tapi sayang sifatnya dingin, jarang senyum, susah mengungkapkan sesuatu, tapi kalau udah mencintai setianya setengah mampus, walaupun orangnya gloomy alias melankolis cenderung ke surem jadi dia suka berpikir terlalu rumit makanya di bab percintaan selalu sial. Padahal ya tampangnya ga jelek-jelek amat. Malah cenderung cakep. Matanya biru gede walaupun kayak orang yang lagi marah kalau pas lagi ngelirik haha.. tapi mungkin cakepnya agak ke modelan orang yang surem gitulah

      tokoh kedua adalah 'kau', kusematkan pada sosok perempuan yang misterius yang masih jadi pertanyaan bagi sebagian pembaca yang uda mengikuti kisahnya dari awal. Dia ini sebenernya apa? Pacar khayalannya Tim Lutherkah? Manusia kah? atau Siluman aka peri? Jawabannya adalah.....bukan seperti tebakan khanif dan mas kal el di kolom komen di atas, tapi hampir bener ama tebakannya mas agus. Rui itu bukan hasil halusinasi si tokoh aku. Bukan pula didapat dari hasil komanya Si Tim sehingga akhirnya ketemu mahluk modelan Rui.. Tapi Rui itu beneran ada, cuma emang wujudnya itu peri..peri kupu-kupu. Atau lebih ke siluman kali yes... Dia ini manis, posturnya kecil dan gemesin gitu lah (mungkin kayak admin hahahha). Cuma kadang bikin heran juga soalnya tau-tau suka nemplok di rumah orang mana dalam keadaan bobok bobok nda pake aju lagi ngajak nganu #gimana sih mbak sutradara bikin scripctnya...suka sesuatu deh...la iya lah dia bisa begitu karena nerobos sana sini..ya kan mengecil dulu sebelum berubah wujud...sebab dia bisa terbang terus nyelip-nyelip ke bagian rumah yang ada celah buat masuknya, jadi ga perlu pake kunci segala. Terus dia itu kayak bisa baca isi hati dan pikiran orang. Soalnya pas Tim lagi mbatin apa, Rui selalu tau segala sesuatunya.

      Tim juga secara sadar dan ga sadar dia punya kemampuan lebih...sebenernya malah sama sekali blom sadar sih ama kemampuannya itu. Jadi Tim itu sebenernya hampir sama kayak Rui yaitu mau jadi kupu-kupu juga. Cuma Tim belom sepenuhnya kupu-kupu kayak Rui. Kalau Rui kupu kupu sayap hijau (sesuai warna matanya)...tim kupu-kupu warna biru (sesuai warna matanya juga). Tim belom sadar kalau sejak ketemu rui wujud aslinya mulai bermetamorfosis...dia taunya cuma kayak punya mata ketiga atau indera keenam. Kedetect saat dia membuntuti Aprilia n Rui pas lagi mojok mesra mesraan sambil ngasiin kalung. Nah, abis itu pas keduanya pulang Tim nguntit juga kan di dinding jendela busnya Rui n Aprilia pake wujud kupu kupu sayap biru. Terus pas malem- malem mau nganterin aspirin di part 4, di situ dijelaskan bahwa di jam-jam mendekati jam 12 malem, di dinding jendela rumah rui juga uda menclok kupu- kupu sayap biru. sementara si Tim dengan menggunakan bus tua mulai menuju ke rumahnya. Walaupun di sini belom bermetamorfosis secara sepenuhnya ya si timnya ini. Puncak uda mau jadinya itu setelah Rui n Tim 'gituan'. Tapi karena akhirnya Timnya menghindar dari Rui, makanya dia ga jadi kupu kupu n dinyatakan sembuh dari rsj. Tim pun balik lagi jadi manusia walaupun ruinya dicampakan begitu aja dengan sadisnya setelah sebelomnya diPHp..nahloh??? pukpuk Rui..

      Hapus
    2. Eh...bentar...tapi kenapa pula kalau baca di part 1 jadi bikin bingung lagi. Sebenernya part 1 itu galau pengen aku ilangin...cuma karena uda terlanjur publish yaudah lah show must go on...kukasih skenarionya jadi begini....bapaknya rui itu kawin sama peri...jadi Rui ini adalah turunan manusia campur peri. Ibunya Rui ga pernah diceritain kan? Nah dia ini aslinya uda terbang ninggalin bapaknya rui. Makanya bapaknya Rui itu pas lagi kerja dipanggil ama atasannya buat diberhentikan karena dia ada indikasi kelainan jiwa, setelah ditinggal terbang ama ibunya Rui. Rui kecil sebenernya masih manusia. Dia sering ngikut bapaknya kerja walau bapaknya itu orangnya ga ekspresif yang hangat selayaknya orang tua..Ya maklum kan jadi bapak sekaligus ibu buat membesarkan rui itu tidak mudah. Apalagi dengan pekerjaannya yang bisa dibilang berhonor kecil jadi pemotong rumput. Nah, suatu ketika di part 1 itu kan tetiba bapaknya ngilang ya abis dipanggil atasannya ngadep. Kemana dia...rupanya dia jadi korban konspirasi suatu kelompok di ranah tempat kerjanya itu. Disangkanya itu bapaknya rui adalah orang berbahaya yang menyamar jadi pemotong rumput stadion. Karenanya sejumlah agen menyelidiki rumahnya sehingga pas Rui dianter tu detektif pulang pasca bapaknya ngilang malah mendapati rumahnya berantakan..apalagi nemu rekam medis bapaknya yang ada gejala kelainan jiwa segala makanya bapaknya langsung dibawa ke rsj...nah di sini pada ngeh ga kalau di part 6 ada bagian Tim ketemu pasien tua yang lagi minta tolong suster ambilkan air yang matanya hijau kayak mata rui...nah itulah bokapnya rui (yang ini alesannya ku sebenernya bingung sih mau menghubungkannya kayak gimana, aslinya cuma pengen Rui itu dalam keadaan sendirian, melas, dan tanpa orang tua jadi kan ntaran ada sosok pangeran yang menampungnya. Tapi karena dah terlanjur ketulis yawes aku pake alesan ini aja, si bapaknya Rui sebenernya aslinya ga gila gila amat...doi cuma tambah apes aja pas dijadiin korban konspirasi kelompok di tempat kerjanya jadi doi dijebloskan ke rsj deh seumur hidupnya.

      Hapus
    3. Selanjutnya si rivalnya tokoh aku adalah dia. Dia itu siapa? Cowok cakep pemain bola yang baru naik daun bernama Jessamine Aprilia. Namanya kebolak balik kan...kayak model anime gender bender. Yang cewe kayak nama cowo, begitu pula yang cowo jadi kayak nama cewe #suka suka mbak admin aja dah..begimane baiknye...hahaa...

      lha si rui ini pas kecilnya pada part 1 kan ditinggal detektif buat ngejer yang nerror rumahnya. So anak sekecil itu semingguan ga makan ga minum yang ada mati dong genks...jadilah rui kecil itu aslinya udah mati. Nah, setelah mati ternyata berkat turunan peri dari ibunya Rui malah menjelma jadi peri seutuhnya yang mana ketemu Aprilia jaman bocah. si Aprilia Pajo ini belum tau rui udah koit dan malih jadi peri selamanya, tapi dia kesian akhirnya digendong deh ke rumah pamannya. makanya berdua itu uda kayak kakak adean diasuh paman aprilia...jadi berdua itu ga kumpul kebo loh sebenernya...tapi emang diasuh paman aprilia sejak kecil. Sayangnye bareng gede, paman aprilia meninggal, tinggalah tuh berdua beda darah dalam satu rumah..ya gimana sih ada orang cakep serumah ama orang cantik turunan peri...maka yang ada ya timbullah suatu hormon hormon tertentu. Walaupun...di sini rui tetep menganggap aprilia sebagai abangnya, tapi aprilia ngga..deseu lama-lama jadi jatuh hati juga ama si rui yang cantiknya emang turunan peri. Ya, walaupun hubungan keduanya adalah sifatnya HTs...(si rui nganggap abang, sedang si aprilia nekad nyium deseu pada suatu waktu jadilah kerumitan demi kerumitan terjadilah ugh la la hahahah #ngayal terosss ya mba sutradara). Tapi seriusnya si rui ga pernah bobok bareng ama si Aprilia ya gengs cuma sebatas khilap dicipok basah aja, walaupun Aprilia itu naksir berat ama dia. Nah dari situlah pas gedenya saling ketemu deh ama si Luthernya...eh iya...satu lagi Aprila kasih kalung itu tandanya apa? terus muncul tokoh frings juga yang seolah olah satu sama lain kayak punya kekuatan untuk mengintai kayak avenger aja hahaha..

      Jadi ya bisa dibilang pas lagi deket ama Rui, Aprilia merasa Tim itu ancaman, jadilah dia kasih Rui jimat supaya Tim yang menurut penerawangan indera keenam Aprilia adalah setengah siluman kupu kupu (padahal adeknya...eh adek apa pacar ya.. adek rasa pacar kali yes juga aslinya lebih parah lagi yaitu kupu kupu beneran), maka dikasihlah rui jimat dalam bentuk bandul kalung. Tapi pas pindah ke italia, rui kasihkan kembali bandul kalung itu buat dipakai aprilia ya kesannya biar inget pulang lah karena ada adek manis rasa pacar yang selalu menunggunya di rumah. Adek adekan kalik ya Min? haha

      Nah tapi di part 5 ada adegan Rui yang uda menerima cinta Tim niatnya mau melepaskan diri dari ikatan Aprilia, maka uda barang tentu siapapun yang udah ga ada kaitan lagi ama Rui seakan akan kayak orang amnesia. Sehingga pas di part 6 ini Tim nanya itu kalung menginterpretasikan siapa, Aprilia malah mendadak ga tau siapa Rui. Puyeng ga gengs? #sama mbak sutradara beby mbul juga pucing pala balbie hahhaha

      jadi di sini kupu-kupunya siapa? yang uda jelas ga diragukan lagi ya si Rui nya lah. Si Tim tadinya mau metamorfosis juga, e tapi ujung-ujungnya ga jadi setelah memilih pisahan ama Rui (walaupun akhirnya diikuti terus sih)

      Si Aprilia? dia manusia...

      si Frings? nah ini yang masih tanda tanya...silakan tebak-tebak sendiri juga Frings ini manusia atau bukan hahaha

      jadiiiiii, benul kata khanif...e betul...maksud aku..bahwa genre cerbungku ini lebih ke genre romance semi misteri hehehe

      ntar kalau ada yang blon jelas lagi dan mau nanya silakan reply aja penjelasanku yang ini yaaaaashh..

      ( ´・ω・)

      (´・ェ・`)


      Hapus
    4. jadi gitu tow penjelasanya, si rui adalah peri kupu-kupu, kalo gitu nilai 100 untuk mas agus yg udah berhasil nebak xixixi :D.. pantesan aja ya di cerita dia bisa langsung masuk kamar dan entah datang darimana tiba-tiba langsung ada, dan cerita masa kecil rui yang di tinggal ayahnya di part satu juga udah di jelasin.. makasih mbak mbul, ceritanya menarik cuma memang rada membingungkan kalo baca nya gak teliti, best lah pokonya heheheh :D

      Hapus
    5. Loh jadi Rui itu peri kupu-kupu, ceritanya jadi kayak dongeng dong ya. Btw kalau diolah lagi penjelasannya ini bisa jadi satu part untuk dijadikan klimak ceritanya atau mungkin jadi dua part.

      Hapus
    6. Baca penjelasannya kok kayak baca detektif Conan, baru ngeh setelah dijelaskan.😁

      Syukurlah sudah dijelaskan jadinya saya tidak perlu bertapa dulu nyari wangsit sama mbak Suketi.😂

      Makasih sudah dijelaskan semuanya mbak.😀

      Hapus
    7. Protes..kenapa tokohnya Rui, Watanabe dan Tim..kenapa ga Megan Fox, Liv Tyler, Keira Knightley gitu..😂😂

      Gue mau komentar jadi susah neh...

      Kalo tokohnya itu pan seru..

      Gue bukan ahli cerpen Mbul..saya hanya penikmat..cuma kalau boleh saran, penggunaan paragrafnya mungkin bisa diperbaiki.

      Terkadang saya lost di bagian situ karena ada beberapa ide kalimat yang kurang nyambung..setelah ditelek telek karena sebenarnya berisi dua topik tapi dijadikan satu.

      Kalau paragraf paragraf itu dipecah sesuai topik masing masing saya pikir alurnya akan lebih terasa mengalir..

      Penggunaan kalimat langsung atau berupa pemikiran kalau menurut saya jangan digabung dan ditumpuk dengan kalimat kalimat lain dalam satu paragraf panjang.

      Saya pikir kalau dipisahkan dan katang berdiri sendiri, bisa memberikan penekanan emosi dan membuat tulisan mengalir.

      Tapi..pendapat ini bukan dari cerpenis yah, cuma pembaca saja..

      Kadang saya agak bingung menangkap alur cerita ketelingsut di paragraf menumpuk itu..

      🙏🙏🙏 maaf yah sok tau ☺️☺️

      Hapus
    8. iya tapi kurangin lagi aja deh, mas agus terlalu fokus di part 1 hahhahaha, nilai jadi 85, padahal aku sukanya part 4 ke atas wkwkwk, yang uda mulai kerasa romancenya 😆,tapi karena beliau mentorku yang kemaren menyemangati kembali buat lanjutin ni cerbung ya dah taknaikin lagi aja pointnya jadi 90 hahahah

      iya khanif dia bisa nyelip kemana aja sesuka dia kalau lagi butuh pundak seseorang buat disandari #sailahhh puitis amat gw ya timbang bikin cerbung doang ahhahahha bhahahha

      monmaap tulung dimaklumi, soalnya bikin cerbung atau cerpen ntah kenapa akhir akhir ini bisa ngebikin aku semangat dan release stress di tengah aktivitas harian, ya semacam me time yang menyenangkan karena aku bisa bikin cerita sesukaku biarpun seabsurd mungkin hahhaha

      ya tapi kukasih nilai 90 juga lah buat khanif yang udah antusias menanti dibahasnya cerbungku ini, cukup berarti buatku nif apresiasimu ini...hehe 😊☺

      makasih ya khanif ^____^

      Hapus
    9. mas kal el : iya mas kal... jadi genre romance mistery adult...eh kok adult sih???? hahhahahahah

      waini...kalau bisa diringkas dan lebih dipadatkan menjadi 1-2 part sepertinya aku harus belajar dulu dari mas...☺😊🙏

      Hapus
    10. mas agus : perasaan tadi dipanggilnya mbul ya ((tiwas uda senang jew haha)))..☺

      iya yak...memang begini mas, gegara dulu bikinnya masih kesusu susu mas, maklum bikin ini jaman SMA, tapi finishingnya dirampungin era era sekarang sih hihi...biar nda ada utang lagi ditanyain lanjutannya mas,biar cepet ganti judul pake tokoh lokal dalam negeri aja bhihihi😝

      lha cari wangsit lagi aja yuk buat ide cerpen ke depan...battle piye battle? #deng ga #canda saya...

      sungkem guru 😊☺🙏

      Hapus
    11. mas anton : injihhh mas anton, sendiko dawuh mas :D

      nganu mas, nda kepikiran pake nama bintang pilem mas, dulu pake nama rui karena ada tokoh manga jepang yang cool manis bin syantik kayak admin blog ini eeehhh maksudnya yang bikin aku pengen pake nama itu, kalau tim dulu sempet ngebucinin pemain bola asal jerman mas haahah...watanabe itu mah figuran mas, klo aprilia itu terinspirasyong dari nama-nama orang italia cowo yang kadang ada aksen cewek ceweknya padahal macho

      ini aku masih latian sangat...nanti ke depannya kalau genre romance aku akan belajar lagi dari suhu mas kal el 😊☺🙏

      Hapus
    12. Buat jaman SMA itu pas tahun 2008 ya seperti setting ceritanya. Pantesan agak beda dengan akhiran nya, tapi masih bagus kok asal aku dikasih pulsa.😁

      Ah, saya malah perlu berguru pada suhu mbul untuk bikin cerpen misteri seperti ini. Sungkem guru.🙏

      Hapus
    13. iya mas 2008 masi kicik uda imajinasinya luar biasa bukan hahha...e beberapa part yang uda 'agak-agak' bikinan sekarang deng hihi..maklum biar kesannya emosionil...tapi ternyata masih harus belajar ama mas agus aku...ajarin ya mas...kalau bikin cerpen dengan tokoh lokal tema sehari hari yang romantis misteri 😊🙏☺

      Hapus
    14. pundi nomere mas agus?

      pulsa 5 k saja ya

      mbul minta ditabok banget emang ya mas hahahhaha

      Hapus
    15. Romance mistery adult itu genre yang seperti apa ya?

      Hapus
    16. bhahaha...adultnya dicoret aja deh. ganti genre romantis misteri aja mas hahaha

      Hapus
    17. Adul itu panggilan dari Duljaelani, anaknya Ahmad Dhani.😁

      Hapus
    18. mas agus kasih pulsa 2k aja ydah seneng nya minta ampun mbak ckckck :D

      Hapus
    19. bhahahhamas agus bisa aja 🙈

      Hapus
    20. eh pulsa 2 rebu perak masih ada kah nif? bhahahha baru tau aku 😂

      Hapus
    21. Gimana kalau mistery-nya aja yang dicoret jadi romance adult..hihihi

      Pulsa 2 ribu itu buat kartu apa, mas khanif? Lumayan tuh jadi bisa ngirit beli pulsanya.

      Hapus
    22. mas kal...sejujurnya itu genre bacaan yang paling aku sukai banget




      (((romance adult))) hahahhahahhahahahhahaahahah

      Hapus
    23. Mau pesan bukunya apa ngga, kebetulan nih saya lagi chat sama penulis genre itu..hihihi

      Hapus
    24. oh ga deh mas kal, trima kasih sebelumnya

      tapi aku mau bikin cerita sendiri aja ☺

      kalau baca penulis lain ku kayaknya ga menjiwai hahhahaha

      🙏

      Hapus
    25. Asiikkk.. bakalan ada cerpen baru lagi nih, eh cerpen atau cerbung ya?

      Hapus
  16. Naahh yang part 1 nya Ibunya Rui nggak dimainkan bahwa sebenarnya ialah kupu2 itu yang menitis ke Rui...😊😊
    Part 6 yang gw bingung apa hubungan lelaki tua yang minta diambilkan air sewaktu Luther dirawat. Ternyata ia ayahnya Rui yang ternyata peri kupu2 ....Bentar baca lagi biar jadi full..😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Harusnya dikasih peran sedikit ibunya Rui ya kang, misalnya pas bapaknya Rui ketemu sama ibunya yang jadi tukang gorengan gitu.😆

      Hapus
    2. yeayyyy akhirnya kejawab semua ya kang satria...aku tau kang satria mah beneran baca hihihi, jadi ngerasa tersanjung cerpenku yang masih pemula ini dibaca full dan dicermati beberapa keping keping yang menimbulkan tanda tanya oleh kang satria, sekali lagi terima kasih apresiasinya ya kang sat..this mean a a lot to me kaaaang..

      sungkem dulu ☺😊🙏🙏

      Hapus
    3. mas agus...loh kok tukang gorengan? neng jerman iki loh mas aguuuus...neng jerman...gorengane piye itu bentuknya huhuhu

      😆

      Hapus
    4. Ngga apa-apa, warteg juga ada kok diluar negeri.😆

      Hapus
    5. hu um siapa tau kita bisa bikin warteg di jerman ya mas 😆😝

      Hapus
    6. Beeehhhaaa tukang gorengan..🤣🤣🤣

      Nggak sekalian tukang seblak ..🤣🤣🤣

      Hapus
    7. seblak yang banjir kencurnya yak kang 😂🤣

      Hapus
  17. Alhamdulillah 2 hari baca ini baru selesai, kemaren malem baru setengah tapi mata udah ngantuk, tadi pagi lanjut sebentar, dan malam ini selesai juga. 😅😅😅

    Oh iya kak mbul, itu aroma lilac seperti apa ya kak, aroma lilac dan bunga bunga dari pegunungan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. turut kuucapkan hamdalah juga mas eko dah tamat merampungkan tulisan yang maha panjang ini #matur sembah nuwun mas eko 🙏☺

      ceritanya wanginya kayak modelan lavender kali ya...e jadi inget obat nyamuk lavender wakkaka #bcanda

      ya pokoknya wangi yang selalu dikangenin oleh tokoh utama cowoknya pokoknya mas eko 😄

      Hapus
    2. Waahh benar kata mas Rusdi sebelumnya Seruan dibuat film karena ada cerita mistisnya juga..😊👍👍 Karena part 5 dan 6 Seru ceritanya..😊

      Hapus
    3. Kang Satria kan kenal banyak orang kang terutama produser, masa ngga ada satu produser yang mau membiayai film ini kang.

      Kalo ngga ada, kang satria saja yang bikin filmnya, saya siap bantu bantu jadi tukang makannya.😆

      Hapus
    4. nuhun kang satria, jadi terharu saya..

      tissue mana tissue 😆😂🤣

      Hapus
    5. nahhh iyaaaakkk pilmnya dibikinin, kang sat jadi produsernya tar aku yang jadi ruinya #eh lha mba admin minta jadi pemeran utamanya naskah garapan ndiri hhahhahahahaha

      o mas agus mau jadi seksi konsumsi yak? 😆

      Hapus
  18. Woww... Aku belum pernah bikin cerpen bersambung sih.. Dan ini panjang banget.. Mbak mbul kreatifitasnya mantep banget, nulis cerita bersambung sepanjang ini plus gmbarnya juga.. Idenya mantep bisa nymbung gtu.. Tokohnya juga.. Ini kalau digabungin jadi satu jadi bisa jadi novel kali mba.. wkwk

    btw kalau mbak mbul bikin coretan gambarnya pake aplikasi apa mba??

    BalasHapus
    Balasan
    1. bwahahah ya biasalah bay, ini pas gw lagi konek aja pengen nulis fiksi, tapi ya ternyata masih harus banyak belajar lagi kok gw nyah hehe

      Hapus

Komenin dong...tanpa kehadiran kalian apalah arti aku menulis....
kalian penyemangat setiap bulir kalimat dalam blog ini :*
Namun jangan komentar SARU atau SARA ya, jika ada komentar dengan unsur tersebut, dengan berat hati akan aku HAPUS .

Oh ya, Dilarang juga mengambil gambar/foto atau menyadur tulisan tanpa mencantumkan sumber atau seijin pemiliknya. Apalagi untuk kepentingan komersial atau lomba. Thx ^____^