Kamis, 10 Desember 2020

Cerbung : Gadis Kecil yang Sedang Belajar Jatuh Cinta (Part 3)




Oleh : Gustyanita Pratiwi

Note : Fiktif belaka untuk latihan menulis dan hiburan

Genre : Romance



"Syut!!! Syuttt!! Syuuut!!!"

Diantara tronton bermuatan besar yang bergerak sepagian menuju kawasan Cikampek dalam rentang kilometer 19 jalan Raya Bogor, Khanif dan Rembulan yang sedang diboncengnya laksana Dom dan Letti dalam sekuel Fast n Furious (tapi kali ini dengan versi lain, versi motor bebek). Keduanya melesat zig-zag menembus pendar lampu kekuningan yang menyorot pada moncong-moncong raksasa kendaraan beroda ganda itu sembari memicingkan mata menahan silau. Memang agak sial sebenarnya. Sebab jalanan yang mereka lalui sangatlah rapat. Rapat dengan kendaraaan besar tentu saja. Jadi harus jeli mencari celah supaya bisa stay on the right track. Sebab moda transportasi yang mereka tunggangi jauh lebih kecil ketimbang kawannya yang lain yang tersebar di seluruh penjuru jalan raya ini. Ibaratnya jika disejajarkan dengan tronton ya raksasa vs kurcaci. Tapi memang sudah lumrahnya kendaraan-kendaraan besar macam begini beraktivitas di jam-jam segini. Jam-jam malam menuju subuh sampai akhirnya matahari bergerak dari peraduan, menerbitkan semburatnya yang berwarna keoranye-oranyean laksana buah jeruk. 

Apes. Itulah satu kata yang menggambarkan keadaan Khanif dan juga Rembulan. Keduanya harus tersendat beberapa kali. Padahal titik point yang mereka tuju juga tidak jauh-jauh amat. Muka pasar yang biasa mereka jadikan tempat mengais rejeki. Bedanya, Rembulan saja yang akan didrop di situ, sementara Khanif bablas masuk ke dalam pasar menjalankan aktivitas ekonomi seperti biasanya. Rembulan akan kemana? Tentu saja akan membayar janjinya kepada Mas 'A'. Janji traktiran walaupun belum tahu akan kemana, mungkin bisa dipikir sambil jalan. 

Tapi sayang, sudah sekian lama mereka boncengan, tetap saja macet menjebak dari sisi kanan, kiri, depan, maupun belakang. Seperti tikus yang terjebak karena godaan keju. Mampus! Tak bisa kemana-mana. Seandainya saja Rembulan mau berjalan kaki saja dari kontrakan hingga pintu masuk bagian belakang pasar, pasti sudah nyampai dari tadi. Tapi karena ia takut diganggu preman yang suka mangkal di sana--terlebih dengan penampilannya yang sudah dibikin semanis gula-gula kapas ini, maka dimintailah Khanif untuk mengantarkannya sampai ke lokasi kencan. Yang itu artinya mereka akan jauh memutar beberapa kali.

Sampai akhirnya 2 kendaraan besar tadi tahu-tahu sudah menghilang dari pandangan. Khanif pun bersiap-siap untuk gas pol walau saat sudah menjalankan motornya, hal yang tak diinginkan malah terjadi...

"Jeduuuukk!" 

Naas, motor bebek Khanif tiba-tiba telat mengerem dan akhirnya malah menubruk mobil yang ada di depannya pas. Kampretnya adalah mobil tersebut sudah memberikan sinyal supaya tetap jaga jarak aman dari beberapa meter sebelumnya sehingga yang sudah pasti disalahkan adalah Khanif. Pemuda bertubuh kurus itu kurang konsentrasi. Atau malah sedang melamun? Yang pasti Rembulan yang kaget pun ikut terdorong ke depan. Bagian tubuhnya yang agak membusung mengenai punggung pemuda itu. Sesuatu yang tak sengaja namun cukup menyenangkan seandainya tidak terjadi pada situasi macam begini. Sontoloyo! Ya itu semua karena mobil yang ditubruknya jelas penyok di satu sisi. Tidak nampak besar. Tapi sangat kentara dan lumayan dalam. Terlebih sasarannya adalah body mobil mewah macam Chevrolet Corvetter Stingray warna abu berpelat B 74CK ZN. Mobil 'kelas' 1. Sangat kontras dengan kendaraan lain yang ada di samping-sampingnya, depan maupun belakang. Sungguh kondisi yang sangat ironis bukan? Terlebih penabraknya hanyalah bagian dari kaum proletar, 2 orang manusia biasa yang siap-siap kena damprat seorang Tuan Muda.

Lepas dari tubrukan itu, sang empunya mobil pun tak ayal bergerak meminggirkan kendaraannya, memberikan sinyal kepada Khanif untuk mengikuti. Keduanya manut saja walaupun dalam hati jelas ketar-ketir, banjir keringat dingin. Dilihatnya dari balik kaca jendela, sosok pengemudinya adalah seorang pria bertampang menawan dengan pantulan kaca mata branded Emporio Armani yang bertengger diantara hidungnya yang mancung mirip potongan wajah India. Badannya tegap, dadanya bidang proporsional dengan kisaran tinggi di atas rata-rata orang Indonesia. Pokoknya apa yang menempel padanya terlihat clean. Enak untuk dilihat.

"Siiiiing!!!" 

Swan doors chevrolet itupun dibuka. Kini terlihat jelas gambaran laki-laki itu seperti apa. Kisaran usianya masih muda. Mungkin perempat abad. Borju dan berduit. Itu sudah pasti. Terlihat dari busananya yang licin, kombinasi antara kemeja formal warna putih tulang dipadu dengan celana chino warna krem susu. Rambutnya bergaya brushed on top yang terlihat seperti model spike di awal tahun 2000-an. Dominan brown. Kontras dengan kulitnya yang kemerahan namun agak berbulu di beberapa bagian terutama rahangnya yang tegas. Mungkin dadanya juga begitu. Sementara di pergelangan tangan kirinya melingkar jam tangan merek Mont Blanc yang berkilat-kilat. Tapi di luar tampangnya yang keren itu, ada ekspresi kurang bersahabat yang  sebentar lagi bakal diledakkan. 

Baca cerita sebelumnya di :







"Ceeeeeezzzzz!!! Desiiing!! Desiiing! Wuuuzzzzz!!! Nguuuuuung!! Treng teng teng teng teng." Suara angin subuh yang melawan laju kendaraan besar macam truk di jalanan semakin menambah gelap suasana. Bertiga kini saling berhadap-hadapan---tegang. Rembulan memegang lengan Khanif kuat-kuat. Bersembunyi di balik punggung wangi pemuda itu. 

Sang pemilik chevrolet memandang tajam ke arah mereka berdua secara bergantian, dari kiri ke kanan. Dari Khanif ke Rembulan. Ia maju selangkah-dua langkah, lalu berdiri tepat di hadapan Khanif. Tangannya ia masukkan satu ke saku celana chinonya, sedangkan yang satunya lagi terangkat sambil menunjuk sang tercyduk penabrak. "Sorry, Anda tadi sudah membuat mobil saya lecet. Bisa minta pertanggungjawabannya?" suaranya yang terdengar tajam itu langsung masuk ke ulu hati Khanif. Sepertinya akan memarahi tanpa ampun. Terlihat dari warna suaranya yang ketus, pedas seperti cabai.

"Sebelumnya saya minta maaf Mas. Saya ga sengaja. Beneran. Saya minta maaf banget. Kalau masalah tanggung jawab. Berapa ya yang bisa saya ganti? Tolong sebutkan nominalnya. Tapi jujur saya sedang tidak bawa cash, masih ada di los pasar. Kalau mau ayok ikut saya ambil uangnya dulu." Khanif berusaha menjawab sesopan mungkin walaupun tidak ditanggapi dengan baik oleh lawan bicaranya. Rembulan di belakangnya masih mengkerut takut-takut. Dan dirinya masih ajeg memegang erat lengan pemuda itu.

"10 juta body repair dan cat ulang." Pemuda kaya itu mengumumkan biayanya setelah menaksir kedalaman penyokan hasil tumburan tadi.  Lumayan parah memang. Apalagi ketika dibandingkan dengan bagian yang tidak rusak. Cukup njomplang sekali. Menandakan saat menubruk, kecepatan motor Khanif hingga mencapai 143 km/jam.

"10 juta. Ya itu dia nominalnya."

"JEGERRRR!" Kilatan putih di angkasa menambah tegang suasana.

Gila 10 juta dari mana? Pegang uang jutaan saja Khanif dan Rembulan sangat jarang. Karena memang duit  muter tiap hari. Jarang dikekepin. Kecuali 1, tabungan hasil niatan sewa kios baru. Tapi itu kuasa penuh Satria. Mana mungkin hasil jerih payah yang selama ini dikumpulkan Abang Rembulan sang juragan sayur itu lenyap dalam itungan detik hanya untuk ganti rugi mobil yang ditubruknya. Bisa dikeplak Satria bolak-balik.

Khanif pun mencoba nego. 

"Mas, serius sampai semahal itu? Saya tabunganpun ga nyampe segitu. Ada mentok cuma Rp 4,5 juta itupun buat kiriman ke kampung halaman sebagian. Apa tidak ada keringanan ya?"

Masih dengan suasana yang sama. Kaku, tidak cair sama-sekali. Terlebih korbannya tidak ada niatan untuk damai secara cuma-cuma.

"Kira-kira memang segitu. Ini mobil agak jarang ada yang punya. Dan keluaran khusus, jadi susah kalau cuma ketok magic biasa. Musti di salon mobil langganan saya".

"Anj*ng!" Ingin sekali Khanif mengeluarkan kata-kata umpatan dalam hatinya tapi tentu tak diucapkannya langsung mengingat memang dirinya yang salah. Melamun memikirkan entah apa saat membonceng Rembulan tadi. Dan Rembulan pun masih terdiam seribu bahasa. Bingung.

Sementara Pemuda Kaya tadi semakin di atas angin. Ya, karena selain dirinya tidak salah, nalurinya untuk menekan lawan sudah jadi pembawaan lahir.

"Susah ya. Orang kere macam kalian seharusnya tuh mikir kalau mau nabrak mobil saya.....ckckckck." Pemuda itu meraih sesuatu dari saku kemejanya. Sebuah iphone keluaran terbaru karena dari punggung handphonenya tampak jelas logo apel tergigit yang fenomenal itu.

Ia menelepon seseorang.

"Hallo!...You cepat batalkan beberapa agenda. Saya sedang ada fuc*ing trouble sekarang. Ah...setan memang! Mobil saya lagi kena tubruk, jadi saya mau ngurus ini dulu." Pemuda itu menghubungi entah siapa mungkin rekannya. Sepertinya memang tadinya ada janjian dengan dia.

Khanif dan Rembulan berpandang-pandangan. Memikirkan duit Rp 10 juta sialan itu. 

"Okey...okey..okey..Ya ya. Nanti saya call You lagi." Si Pemuda kaya itu mengakhiri pembicaraan di teleponnya. Lalu memandang 2 orang lawannya lekat-lekat walau tanpa melepas kaca mata Emporio Armaninya.

Kembali ke negosiasi yang alot. 

"Jadi bagaimana Mas dan Mbak? Urusannya mau saya bawa ke kantor polisi atau tidak? Saya sedang tidak punya banyak waktu soalnya. Kegiatan saya padat."

Sekali lagi Khanif ingin mengumpat dalam hatinya. Tapi tentu itu tak dilakukannya mengingat ada Rembulan yang selalu membuatnya eling supaya jauh dari perilaku bar-bar. "But damn shit!!!! Pemuda kaya ini saja kelakuannya lebih bar-bar dari pada gw", begitu batin Khanif.

"Tolong Mas, kalau bisa diomongin baik-baik mah ayok lah. Saya musti gimana. Saya ini buat makan aja susah Mas. Saya cuma buruh bantu-bantu di pasar. Si Mbak ini ga salah apa-apa. Jadi salahin saya aja Mas." Khanif memohon.

Pemuda kaya itu pun menatap tajam ke arah mereka. Berpikir sekian detik lalu mengakhirinya dengan sebuah keputusan sepihak. Namun paten. Dan tidak bisa diganggu gugat.

"Kalau gitu, biar Mbak ini saya pinjam saja sebulan-dua bulan." Katanya kalem tapi penuh intrik. Matanya menekuri tubuh Rembulan dari atas sampai bawah. Sederhana tapi ada sesuatu yang berbeda dibandingkan dengan gadis lainnya yang ia temui selama ini, bahkan deretan pacar-pacarnya yang seksi dan berasal dari kelas yang sama. Mengenakan terusan selutut berwarna merah terang lengan panjang, juga sepatu sendal harga diskon, gadis berbody agak montok itu pun menundukkan pandangannya.

DIPINJAM? "Dipinjam bagaimana ya maksudnya?" Kembali Khanif mencoba mempertanyakan apa arti dari kata dipinjam tadi. Sementara Rembulan masih pada posisi yang sama dan semakin bertambah takut.

"Iya. Itu satu-satunya solusi yang saya tawarkan. Mbak ini ikut saya 1-2 bulan, kerja sama saya sampai bisa ngelunasin biaya mobilnya tadi. Solutif kan?"

"Rembulan tidak salah Mas, biar saya saja yang bekerja sama Masnya." Khanif mencoba nego. Dan kali ini kata-katanya agak panik. Sepertinya tak rela Rembulan yang menanggung semuanya.

"Kebetulan saya butuhnya tenaga cewek Mas. Kalau cowok saya sudah ada ajudan. Saya lagi butuh house maid. You know house maid? Mbak ini nanti akan melayani saya setiap hari. Jadi pelayan di tempat saya. Itu pilihannya. Kalau tidak, silakan siapkan saja pengacara. Kita bawa ke meja hijau. Tinggal pilih?!"

Khanif dan Rembulan pandang-pandangan. Sama-sama bingung. Sama-sama puyengnya. Ini adalah pilihan yang sangat tidak win-win untuk satu pihak. Tapi jika Rembulan dibiarkan ikut pemuda kaya itu maka Khanif sudah tidak perlu lagi susah-payah mencari duit sekoper untuk biaya perbaikan mobil.

"Bagaimana? Tawaran saya masih manusiawi toh?" 

"Jangan libatkan Rembulan Mas....Saya rela deh disuruh jadi pelayan juga di tempat Masnya, asal jangan Rembulan..." Khanif tiba-tiba meggenggam erat tangan Rembulan. 

"Kan udah saya bilang. Saya ga butuh tenaga laki-laki. Kalau saya maunya Mbak ini ya itu harus. Anda tidak tahu siapa saya ya?" Pemuda kaya itu mengancam.

Khanif tentu saja menggeleng dan lantas dalam sepersekian detik diterimanya kertas segi empat cetakan premium dari pemuda kaya itu. Kartu namanya.

Jack Gupta
Founder Jack Zone Production House

Oh God!! Yang punya film-film tenar dan biasa diputar di bioskop itu, walaupun tentu saja sekelas Khanif dan Rembulan hanya bisa menontonnya jika filmnya sudah edar di tukang rental dvd supaya dapat yang lebih murah. Semacam film horror yang banyak adegan panasnya. Anjrit!!! Bossnya PH itu kok orangnya bedebah gini ya. Khanif rasanya pengen menonjok sesuatu tapi tidak bisa. Makanya ia hanya bisa menghela nafas saja. 

"Deal! Mbak ini saya bawa. Nanti kalau urusannya sudah kelar dia baru saya pulangkan. Anda ga perlu repot-repot lagi cari 10 juta tadi."

Rembulan ingin berontak tapi tak bisa berbuat banyak. Genggaman tangannya terlepas dari tangan Khanif, dan sekarang lengannya ditarik Jack Gupta untuk memasuki chevroletnya. 

Swandoor kanan maupun kiri dibuka. Diperintahkannya gadis lugu itu untuk duduk di sisinya. Sementara mesin mobil dinyalakan, pintu serta kaca jendela ditutup. Mobil yang body belakangnya masih penyok parah itupun bergerak maju. Perlahan-lahan meninggalkan tubuh Khanif sendirian yang masih menatap Rembulan menitikkan air mata dari balik kaca jendela.

Sialan!

****












Subuh telah usai digantikan terang pukul 06.30 walaupun matahari masih mengintip malu-malu. Bau harum gorengan tercium dari warung kopi depan pintu masuk pasar. Hawa adem begini memang paling pas menggigit sesuatu yang hangat-hangat lagi berminyak. Pisang kepok goreng yang dimodel kipas, tahu berontak, atau bakwan sayur yang bentuknya nyempluk-nyempluk. Setidaknya sedikit energi sebelum makan siang porsi berat yaitu nasi. Atau udud-udud santai sembari ngopi. Ya itu yang dilakukan laki-laki yang sudah tidak asing lagi namanya (maksudnya inisialnya) sembari menanti kedatangan Rembulan yang katanya ingin bertemu. "Rembulan.....oh Rembulan nama yang indah. Seindah parasmu". Ia pun tersenyum-senyum saja karena agenda kecil yang telah disusun Rembulan paling tidak sedikit menjadi hiburan baginya yang saban hari berkutat dengan hal yang sama. Pagi nguli sampai lepas Subuh, habis itu pulang sebentar ambil dagangan lalu dagang sampai sore atau sehabisnya saja. Ya, biarpun jam kerjanya flexi time dan tidak terpatok seperti orang kantoran yang 8 am to 5 pm, tapi sejauh ini lumayan juga. Lagipula di rumah juga sudah ada usaha warung nasi yang dikelola saudaranya. Ia yang setor dananya dan saudaranya yang tinggal menjalankan. Jadi paling tidak sumber pendapatan berasal dari banyak pintu. Memang tidak memungkiri bahwa ekonomi sekarang-sekarang ini mengharuskan kita untuk pintar-pintar mencari peluang. 

"Tumben jam seginian udah rapi Kang? Uda ganti kostum aja nih? Mau kemana emang. Ntuh parfum wanginye sampe nyegrak bener? Mau ketemu cewek ya?" Tukang warung yang biasa ia sapa Kang Dibyo meledeknya.

"Ah bisa saja Kang. Aku cuma lagi mau ketemu orang saja kok." lelaki yang ternyata Mas A-nya Rembulan itupun tersenyum malu. Dihisapnya udut di sela-sela jemarinya dalam-dalam sekedar untuk mengusir rasa bosan akibat menunggu. Djie Sam Soe yang kepulannya tiba-tiba menjelma wajah Rembulan. si Embul yang lucu dan agak montok itu, hohoho...

"Tapi cewek kan? Ingat bini di rumah Kang ingat?" Kang Dibyo berkelakar.

"Hush..aku ini masih bujangan Kang."

Gelak tawa pun memenuhi seisi ruangan. Satu dua orang pasar yang ikut memungut gorengan tambah meledek. Tapi Mas A pasang tampang kalem saja. Berhubung jam sudah agak lewat dari janjian awal, Mas A pun berinisiatif mengecek HP infinix hotnya untuk memastikan jadi tidaknya mereka bertemu. 

Kemudian dilihatnya layar HP yang mengarah pada aplikasi WA. Kok tidak online ya? Apa sedang di jalan? Ia mencoba menelepon, tapi suara di ujung sana tidak ada nadanya. Tidak terhubung. 

HP-nya tidak aktif.

****
















Roda Chevrolet Corvetter Stingray warna abu menggelinding mulus di atas jalanan beraspal yang bagaikan bermentega. Cuaca di luar sedikit berangin, mungkin sisa gerimis tadi pagi. Pohon-pohon bungur di tepi jalan pun ikut berayun centil menampakkan kuncup-kuncup kembangnya yang berwarna merah jambu atau bahkan sedikit keunguan. Sepertinya wilayah Jakarta Selatan akan digantungi awan kelabu sepanjang hari. Berbeda dengan kawasan pasar tadi pagi. Sebab pasarnya pun berada di Jakarta Timur bukannya Jakarta Selatan. Dan sekarang tujuan mereka adalah apartemen mewah di kawasan Senopati, Jakarta Selatan.

Suasana dalam mobil tampak hening. Tidak, sejujurnya lebih ke tegang. Atau malah menakutkan. 1 orang mengemudi dengan sangat serius, sementara yang lainnya memandang kaca jendela tanpa kata. Di sudut matanya ada titik air yang menggenang tapi ditahan-tahan untuk tidak dikeluarkan. Sejujurnya ia bingung dengan orang asing yang bersikap seenaknya ini walaupun tampangnya dianugerahi ketampanan yang luar biasa. Dan kaca mata baddasnya masih nangkring di hidung mancungnya itu.

"Siapa namamu?"

Tuan muda itu tiba-tiba membuka suara setelah sepanjang perjalanan yang hampir memakan waktu 1 jam-an membisu.

Rembulan kaget. Ia menoleh sejenak ke arah laki-laki yang lebih mirip tokoh devil dalam cerita fiksi tapi punya tampang rupawan. Ia pun bingung sekian detik. 

"Hmm...Sudah tidak usah dijawab. KTP-mu kan sudah saya sita sebagai jaminan." Tuan muda Jack Gupta mengeluarkan KTP Rembulan dari balik saku celananya dan memandang  lekat-lekat namanya.

CT Rembulan....

Cempaka T Rembulan....

Cempaka 

T...

Rembulan....








Hmmmmm....

Perlahan tapi pasti mobil mewah tersebut memasuki halaman muka apartemen dan bergerak menuju parkiran. 

***

















Jack Gupta. Bukan orang sembarangan. Penerus Jack zone Production House generasi ke-3 dari klan Gupta yang berdarah campuran Indonesia-India. Setelah mengemban studi di US selama 3,5 tahun, ia kembali ke Tanah Air dan coba-coba ambil bagian di PH tersebut, walaupun posisinya masih dalam taraf belajar sehingga harus dibimbing oleh seorang tangan kanan, lelaki yang sama-sama masih mudanya, tapi sebenarnya lebih tua 2 tahun darinya. Sungguh manusia-manusia yang berbeda kelas dengan Rembulan.

Jack Gupta sendiri memilih tinggal mandiri di penthouse yang terletak di pusat bisnis SCBD, Kawasan Senopati, Jakarta Selatan. Hal tersebut dipilihnya sebab mobilitasnya sangat padat. Agenda bisnisnya seabreg. Maka dipilihlah rumah tawang khas hunian orang gedongan bukan suite biasa yang dekat kantornya. Tipenya ambil yang 07 dengan luasan 300 m2. Sebuah bangunan dengan kisaran harga mencapai Rp 100 M. Nominal yang mungkin bagi Rembulan bisa berember-ember. 

***
















Usai memarkirkan kendaraan di underground parking, mereka bersiap keluar. Sebelumnya Jack mencontohkan Rembulan bagaimana caranya membuka pintu mobilnya karena ia tahu gadis itu kebingungan melihat tombol-tombol yang kelihatan sangat canggih. Tapi meski agak kagok, ternyata gadis itu bisa juga. Tampaknya daya tangkapnya cepat juga. Jack Gupta tertegun.

"Ikut saya ke atas. Nanti akan saya terangkan aturan kerja sebagai pelayan di penthouse saya." Jack mengkomando Rembulan supaya mengikuti langkahnya. Mereka berjalan menuju pintu kaca yang terbuka secara otomatis dan mengarahkan mereka ke area privat lift yang langsung membawanya ke lantai puncak setelah menekan semacam kartu. 

Dan untuk selanjutnya Rembulan tinggal mengikuti saja instruksi (calon) majikannya ini.

"Mmm...Tuan.." Rembulan tiba-tiba berkata.

"Panggil saya Tuan Muda Jack!"

"Maaf maksud saya Tuan Muda Jack, saya ingin tanya sesuatu boleh tidak?"

Jaey melihatnya heran. Tapi ia mengkode lawan bicaranya supaya meneruskan kata-katanya.

"Mmmmm...itu....sebelum mulai kerja apa saya boleh menghubungi Abang saya dulu. Takutnya dia bingung saya ga balik ke kontrakan?"

Jack berjalan melambat. Tapi ekspresinya tidak berubah dan tetap cool.

"Bisa diatur...bisa diatur."

"Tapi HP saya mati. Dan saya lupa bawa chargeran."

"Oke. nanti kamu bisa pakai telepon yang di penthouse."

"Tring!"

Tak berapa lama pintu lift terbuka. 

Mereka sudah sampai di lantai 45.

Sebuah lorong panjang mengantarkan mereka pada suite mewah yang berdiri sendiri tanpa tetangga. Dari luar dindingnya putih bersih dan pintunya cokelat, besar, lagi kokoh. Sementara di luar suite, pijakannya berupa karpet tebal macam yang ada di ruang tunggu bioskop. Sang tuan rumah segera mengeluarkan semacam kartu lagi, berbeda dari yang tadi digunakan saat di lift. Kali ini kartunya untuk membuka pintu. Crekkk! Ada semacam sandi rumit yang terdapat di dalamnya.

"Sreeeeeeet."

Pintu pun terbuka.

Sungguh suatu pemandangan yang tak pernah Rembulan saksikan sebelumnya. Karena yah sehari-hari ia hanya berkutat dengan kubis, terung, wortel, kentang dan sayur mayur lainnya beserta rumah kontrakan yang jauh dari kata elit. Dan sekarang yang dipijaknya saja adalah lantai marmer dengan langit-langit setinggi 4 meter. Juga lampu kristal yang berayun-ayun indah di poros plafond tengah. Nuansanya serba putih campur metalik. Bagian depan jelas ruang tamu dengan sofa coklat muda yang sangat empuk ketika diduduki. Bentuknya berkelok dengan bantal-bantal punggung warna senada melingkari satu meja kaca bulat yang agak rendah. Di sisi yang lain ada meja makan untuk kapasitas 10 orang. Mejanya hitam dari kayu ebony, memanjang dengan formasi kursi 5-5 saling berhadap-hadapan. Kitchen set juga berada pada satu garis yang sama dengan meja makan. Modelnya jelas sama mewahnya karena ada mini bar yang terbuat dari granit untuk bagian top tablenya. Selain itu segala peranti memasaknya pun hampir semuanya elektronik. Ada kompor listrik yang bisa dioperasikan dengan modal tekan-tekan jari, air fryer untuk proses menggoreng tanpa minyak, bread maker yang dibutuhkan pada saat jam pagi, Kulkas pun modelan yang 3 pintu sudah dengan digital inverter. Kesemuanya ini menghadap pada pemandangan luar yang hanya dilapisi dinding kaca tebal dengan view 360 derajat kota Jakarta yang tak pernah tidur.

Rembulan masih ternganga tatkala dirinya yang lusuh ini (meski sebenarnya sudah berdandan paripurna untuk kencan yang gagal) berdiri di satu bangunan yang mungkin selama ini hanya ada dalam mimpi. Ingin rasanya ia mencubit jangat pada lengannya walaupun kenyataannya memang terasa sakit. Yang itu artinya ini bukan mimpi? Kalau begitu harusnya tadi sebelum masuk ia copot sandal dulu ya, hahaha. 

Sementara itu, Jack berjalan ke arah pantry dan menuang jus jeruk yang ada dalam jar ke dalam 2 gelas piala. Ia menawari Rembulan 1 untuk jenis minuman yang sama dan mengajak 'cheers'. Setelahnya diteguknya jus tersebut dengan penuh penghayatan sebelum memulai kuliah singkat kepada tamu kecilnya ini tentang pengenalan area penthouse dan segala macam rule of the game pekerjaan house maid.

"Okey, bisa saya mulai penjelasannya sekarang ya." Jack membuka suara.

"Ada 3 kamar di sini, 2 kamar utama itu kamar saya dan ajudan saya, nah 1 kamar maid itu untuk kamu yang ada di pojokan sana. Kamar mandi juga 3. Yang utama ada jacuzzinya. Itu ada di kamar saya. Yang jacuzzi itu nanti kamu harus pelajari bagaimana cara membersihkannya. Tapi itu bukan buat kamu ya. Kamar mandimu yang sebelah sana." 

Gadis itupun berusaha merekam semua penjelasan Tuan Mudanya dengan baik. 

"Oh ya pintu di sini semuanya menggunakan kartu. Nanti juga saya ajari kamu supaya tahu bagaimana cara membuka dan menguncinya."

"Cara memasak dengan kompor listrik bisa?"

Rembulan menggeleng.

"Oke itu nanti juga akan saya contohkan. Lalu semua alat-alat kebersihan ada di ruang khusus yang ada di sebelah sana. Pokoknya pekerjaan kamu tiap hari sudah tercatat dalam list ini. Silakan baca. Kamu tidak buta huruf kan? Karena saya lihat tadi di KTP saja SMP kamu tidak nyampai ya?

"Saya bisa baca dan tulis kok Tuan Muda." ujar Rembulan meluruskan. Karena sebenarnya saat sekolah dulu ia memang termasuk pintar, sayang saja nasibnya yang tidak mujur jadi harus putus sekolah di tengah jalan.

"Daya listrik di sini nyampai 10.000 watt. Kamu bisa gunakan sebaik mungkin alat-alat yang ada asal jangan terlampau boros." Jack kembali menambahkan.

"Untuk benefit. Kamu tahu apa itu benefit. Ya, gaji maksud saya. Nanti untuk per 1 bulan akan saya transfer Rp 5 juta. Jadi mungkin dalam kurun 2 bulan kamu sudah bisa saya lepaskan dari pekerjaan ini."

Aaaaah. Begitu? Rembulan akhirnya paham juga apa yang dimaksudkan Bossnya ini dan kini ia berubah menjadi semangat. Tidak semurung yang tadi. Paling nanti hanya butuh adaptasi saja. Setidaknya solusi mengganti kerusakan mobil mewah Tuan Mudanya bisa diakali dengan cara yang tidak terlalu memberatkan. Tidak perlu mengorbankan tabungan Satria.

"Sudah! Sementara segitu dulu. Ada yang belum dimengerti?"

"Anu...tadi Tuan Muda...saya ingin hubungi Abang saya dulu supaya dia tidak bingung dan tahu saya ada dimana. Cuma HP saya terlanjur mati. Jadi saya ingin...", Rembulan menggantungkan kalimatnya. Mencoba menerka respon Jack bagaimana.

"Ya sudah pakai saja telepon rumah saya," jawab Jack pendek.

"Masalahnya saya tidak hapal nomornya. Saya bisa ingat kalau sambil membuka HP ini...tapi saya ga bawa charger..."

"Aduh kamu ini emang ribet ya. Ya sudah HP kamu type apa?" Jack memastikan kembali type HP Rembulan.

"Samsung J1 Tuan Muda..."

Jack Gupta pun melompong..

Masih ada ya yang memakai HP type ini? Tapi ejekan Jack ini hanya ia lontarkan dalam hati.

"Ya sudah itu di atas cabinet dekat TV ada tempat charger berbagai type. Silakan pakai itu dulu dan kabari Abangmu segera. Setelah itu langsung kerja. Oh ya ini seragam kamu. Ada beberapa stel. Dan kamu wajib pakai ini selama berada di sini. Saya tidak mau kamu pakai pakaian bebas." Jack pun menyerahkan beberapa unit seragam yang dimaksud sambil bersiap untuk keluar lagi karena masih ada urusan bisnis. 

Di tangan Rembulan kini tergenggam seragam maid berenda yang mengingatkannya pada tokoh-tokoh cewek dalam kartun Jepang. Seperti modelan kostum cosplay malahan. Dress Apron lolita berenda hitam putih selutut yang malah terlihat jauh lebih manis ketimbang  baju yang dikenakannya saat ini. "Busyet baju pelayan saja jauh lebih bagus dari pakaian terbaikku...." Rembulan tertawa sampai mau menangis.

Tapi ia kemudian tersadar bahwa kaca mata majikannya baru saja dibuka. 

Dan baru kali itu pula ia paham bagaimana garis wajah serta warna matanya.

***


















Suara mesin pemarut kelapa dari lapak sebelah mendesing memenuhi rongga telinga. Beberapa orang hilir mudik mengantrikan belanjaan kelapanya barang sebutir-dua butir untuk diperaskan santannya dalam waktu singkat. Riuh berjejalan berebut giliran. Di lapak depannya, tandan-tandan pisang berjajar rapi, beberapa ada yang digantung, beberapa ada yang dieperkan di atas lantai beralaskan terpal. Mulai dari yang masih hijau sampai yang sudah menguning, matang dan ayu-ayu. Pisang ambon, pisang mas, pisang kepok, pisang barangan, pisang raja, sampai pisang tanduk atau yang biasa disebut dengan pisang nangka dengan ukurannya yang jauh lebih panjang dibandingkan pisang lainnya. Diantara puluhan tandan pisang yang ranum-ranum itu, menyeruak sosok Satria yang kali ini langkahnya terdengar berat. Telepon yang diterimanya dari Rembulan 10 menit lalu membuatnya ingin segera menghampiri Khanif. Bisa-bisanya pemuda itu yang menabrak tapi Rembulan yang disuruh mengabdi kerja kepada pemuda kaya raya itu untuk mendapatkan pembebasan ganti rugi. 

Di sisi lain, Khanif sudah mempersiapkan mentalnya sejak beberapa jam lalu karena ia tahu Satria bakal ngamuk besar.

***




















Hari pertama bekerja di tempat seasing-semewah-lagi secanggih ini, bagaimana pun Rembulan agak keder. Takut salah, takut ngerusakin barang elektronik, atau apapun itu jadi ia berusaha sangat berhati-hati ketika memegang segala sesuatunya. Sebab sekilas memang barangnya tampak mahal dan bling-bling semua. Pertanyaannya adalah... apakah sebelum Rembulan ada, siapa yang membersihkan ini semua. Bahkan sampai sekinclong-kinclong ini. Kalau Jack Gupta sendiri rasanya tidak mungkin. Apa pelayan sebelumnya tidak betah ya...mengingat karakter Tuannya sendiri agak-agak bengis, hohoho. Tapi ah sudahlah! Rembulan toh hanya tinggal menjalankan saja apa yang menjadi tugasnya saat ini. Tugas yang sudah dilistkan dalam bentuk catatan saklek. Jadi semua harus urut dan sesuai dengan step-stepnya. Maka, usai berganti dengan seragam maid renda-renda tadi ia pun langsung menuju ruangan dimana alat-alat kebersihan disimpan. Sepertinya ia akan mulai mempraktikkan task nomor 1. Merapikan kamar Tuan Mudanya, membersihkan kamar mandi, menyapu, mengepel, melap semua peranti yang ada, membersihkan kaca, mencuci baju, melipat yang sudah kering, menyetrika, serta memasak. Busyet! Ternyata banyak bener! Gadis itupun hanya bisa geleng-geleng kepala, entah semuanya bisa dilakukan dalam waktu singkat atau tidak.

Ngomong-omong sambil bekerja, Rembulan jadi memperhatikan banyak hal. Ya, apalagi kalau bukan penthouse ini. Sebuah bangunan mewah terletak di puncak menara, dan tidak ada tetangga. Bahkan yang teratasnya lagi masih ada rooftop garden dan kolam renang privat. Berbeda dengan type suite di lantai bawahnya. Tentu hal ini sangat baru baginya. Manalah dinding kaca yang menghadap ke luar dengan ketinggian sekian kaki ini bawahnya adalah view Jakarta, sungguh apakah ini keberuntungan baginya dapat bekerja kontrak dengan seorang Jack Gupta atau justru sebaliknya.

"Waaaaaah...kamar apa hotel nih? Gede banget!" Rembulan berdecak kagum tatkala sudah mencapai kamar Jack. Sebab ukurannya mungkin seluas kontrakannya. Luas banget bangsat. Dinding depan sampai separoh langit-langitnya saja berlapiskan kaca tebal tansparan hingga membuat birunya langit serta awan-awan gemuk yang ada di luaran bisa dipandangi sepuas hati. Begitu pula jika malam tiba, pastilah tidur berasa selalu ditemani bintang dan bulan. Juga atap langit-langit langsung. Sementara pada sisi dinding yang lain terdapat headboard berbahan dasar kulit yang dibuat memanjang menambah kesan lapang suasana, selaras dengan lantainya yang berupa marmer putih campur abu dengan motif tertentu, namun lebih menyerupai abstrak. Sebuah ranjang ukuran super king 200 cm × 200 cm dilengkapi dengan bed merek Lady Americana yang dilengkapi matrass protector dan seprai putih-putih demikian pula dengan bantal gulingnya tampak kebesaran jika ditiduri hanya untuk 1 orang. Juga satu lemari yang ditanam di dinding dengan pintu sliding dari kaca yang mengesankan kamar seperti tak berlemari pada awalnya. Sebuah smart tv 75 inchi merek Samsung juga tergantung di pojok salah satu dinding dengan menggunakan bracket. Ya, pada intinya, ini kamar seperti milik raja diraja. Dan sekarang tugasnya adalah merapikan selimut, bantal, guling dan blah blah blah-nya...juga kamar mandi yang katanya berwhirpool itu. "Ah seperti apa pula whirpool merek jacuzzi itu, tentu ini akan menjadi pengalaman pertamaku untuk melihatnya." begitu pikir Rembulan.

Gadis berpipi tembem itu pun dengan ringkas memunguti beberapa pakaian kotor milik majikannya yang sebagian berceceran di lantai untuk kemudian ia bawa ke arena laundry.

****

















Dengan tampang angker Satria menuju lapaknya dan ingin segera menemui Khanif untuk meminta kejelasan. Sesampainya di sana, dilihatnya Khanif duduk di pojokan dengan sikap siap dimarahi. Aktivitas tangannya saat menyortir kubis dan juga kentang hanyalah formalitas saja. Sebab sebenarnya ia sudah deg-degan andai saja sebentar lagi akan menerima kemungkinan terburuk, bakal dipecat misalnya.

"Nif! Gw mau tanya sama Luh, bener si Mbul dibawa orang India itu buat kerja jadi house keeper selama  2 bulan supaya bisa ganti rugi mobil yang Luh tabrak."

Khanif pun menunduk pasrah. Kalimat apapun yang meluncur dari bibirnya saat ini tentu tak akan meredakan kemarahan Satria.

"Maafin gw Bang. Gw bingung banget. Tiba-tiba aja orang kaya itu langsung mutusin gitu aja."

"Luh kenapa ga bilang gw?" Satria merasa gregetan.

"Seandainya Luh langsung kontak gw, paling ga Gw bisa talangin dulu tuh dana ganti rugi. Ya, apes-apesnya pending dulu rencana buka kios. Yang penting si Mbul adek Gw jangan dibawa. Sekarang kalau gini caranya, apa yang bisa gw lakukan."

Khanif terdiam sesaat, lantas ia ingat kartu nama orang India itu. Ia pun menyerahkannya pada Satria. Siapa tahu menemukan solusi.

"Apaan nih?"

"Kartu nama orang India itu Bang." Jawab Khanif Ragu.

Diambilnya kertas berbentuk empat persegi panjang itu dan mengamati alamat kantornya.

Hmmmm...

"Gw minta maaf banget Bang. Gw nyesel...Gw salah sama Mbak Mbul."

Satria lama-lama tidak tega juga mengomeli Khanif. Biar bagaimanapun Khanif telah mengaku salah dan meminta maaf. Sikapnya pun berubah tidak seemosionil yang tadi.

"Tapi sebenarnya si Mbul tadi sudah telepon gw sih. Dia bilang dia ga ada keterpaksaan kerja di sana. Ya semata-mata karena dia ga pengen impian gw buka kios kandas gegara tabungan kepake buat ganti mobil. Ya, adek gw ternyata udah tambah dewasa aja."

"Jadi gimana Bang?" Khanif memastikan kejelasan akan dirinya saat ini.

"Maksud Luh?"

"Gw dipecat apa masih boleh kerja di sini?"

Seketika Satria terhenyak. Lalu dengan bijaksana ia berkata.

"Nif...Nif.....Mustinya Luh terima kasih ama Adek Gw si Mbul. Dia mau tuh ngorbanin diri kerja jadi pelayan padahal yang sradak-sruduk nimpa mobilnya tuh orang India Luh. Ya, asal gw ga mendengar kejadian kayak ginian untuk yang kedua kalinya...gw kira Luh masih berhak kerja sama Gw. Gw maafin kesalahan Luh. Tapi sebagai gantinya. Gaji Luh 2 bulan kudu Luh serahkan ke si Mbul buat tabungan dia."

Khanif seakan tak percaya. Tapi tentunya ia sangat bersyukur karena masih dipekerjaan oleh Satria. Ya, walaupun harus merasa kehilangan suara ramai ce-esnya yang berbody montok dan hobi memanggilnya Mas Kurus itu, hohoho...

Ah bersabarlah sampai 2 bulan saja

dan semoga hanya 2 bulan, jangan sampai lebih dari itu...

"Kalau ga, gw bisa....kehilangan suaranya yang mirip petasan...hohoho.."

***



















Jam di dinding menunjukkan pukul 14.05 WIB. Rembulan pun tersadar sedari tadi perutnya belum diisi. "Lah bagaimana aku mau makan Ya Alloh, aku bingung nyalain kompornya. Tempat beras pun tak kelihatan batang hidungnya. Terus kulkas empty Cuyyy...tak ada apa-apa kecuali buah sebiji-dua biji. Apel merah dan jeruk sunkis. Uda itu doang. Apa ni orang lagi diet kali ya? Masa makanannya buah doang. Mie miean juga ga ada lagi. Pokoknya bahan makanan lain ga ada. Yang ada cuma Galon Aqua dan jus jerus dalam jar. Masa gw cuma nenggak aer doang, laper aing laperrrr........Huhuhu..." Rembulan menepuk-nepuk perutnya dengan lucu. Padahal ia sudah berdandan imut begini, tapi masih sempat-sempatnya nglawak. Ya, sekedar untuk menghibur diri sendiri karena lapar.

Ia kemudian menengok isi tasnya. Barangkali dompetnya masih pengertian dan tiba-tiba menyembulkan beberapa lembar uang kertas yang paling tidak bisa untuk membeli jajan di luar sana. Entah bakso atau mie ayam. Atau apa deh, terserah. Sungguh perut ini sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Usus 12 jarinya meronta-ronta ingin segara mengerjakan tugasnya. 

Dan ternyata apa yang diharap-harapkan kesampaian juga. Di dompet masih nyisa Rp 150 ribu walaupun bentuknya kusut masai. Tapi ia tiba-tiba jadi teringat sesuatu perihal kenapa uang itu bisa berada di dompet. "Aaaaaaaahhh ini kan uang yang tadi bakal aku belikan Mas A traktiran. Kenapa aku bisa kelupaan. Aaaaaaaa Mas A sayaaaaaaaaaang !!!! Apa kabar nasibnya udah dikacangin gegara insiden tabrakan tadi. Pasti dia sebel banget ama aku. Ampuni Aim ya Alloh huhu...Pasti dia malas kontakan ama aku lagi. Hiks...." Tak terasa air mata Rembulan siap menggenang. Namun perasaan sentimentil tersebut segera ia acuhkan begitu saja karena cacing di dalam perutnya lebih kencang berbunyi. " Oke, sementara lupakan dulu Mas A. Karena aku mau makan dulu. Ini menyangkut nyawa soalnya, menyangkut hidup dan mati. Sebab jika aku ga makan, maka aku akan sakit. Kalau aku sakit, maka aku ga bisa kerja. Nanti kalau ga bisa kerja, bisa-bisa aku ga dapet gaji dari Tuan Muda Jack yang ganteng itu hahhahaha.... Kalau ga dapat gaji, ntar aku ga bisa ngelunasin ganti rugi mobil. Dan aku ga bisa balik ke kontrakan. Selamanya menjadi pelayan di sini. Aaaah...okey jadi sekarang aku mau cari makan dulu. Ntar kalau udah dapet apaan tau di luar sana, aku janji bakal hubungi Mas A dan jelaskan semuanya. Semoga dia tidak marah sama aku." Rembulan pun segera cabut sebentar dari dalam penthouse

Dengan masih mengenakan seragam maid apron lolita hitam putih berenda yang menyebabkannya lebih mirip tokoh kartun Jepang, Rembulan pun berhasil melalui lift privat menuju ke luar apartement. Rupanya ia pembelajar yang cepat dalam hal mengoperasikan kunci penthouse dan lift dalam bentuk kartu. Ia lalu berjalan agak jauhan dikit karena pesimis bakal susah mencari makanan kelas kaki limaan jika yang disatroni adalah area apartement premium. Nah...paling tidak dia harus jalan agak ke depanan lagi, mungkin dekat halte busway Polda Metro Jaya atau sekitar-sekitar situ lah supaya dapat jajanan idaman. Terlebih ini kan sudah masuk jam makan siang atawa jam istirahat kantor. Karena memang area Tuan Mudanya tinggal adalah tepat di jantung bisnis ibukota yang mana pastinya terdapat berpuluh-puluh gedung perkantoran. Dan kalau jam makan siang tiba, pastilah banyak tukang jualan mangkal.

"Kalau nongkrong di sini kan aku pasti bisa dapat cemilan banyak. Di penthouse biar kata gede, seujung kuku pun ga liat cemilan. Huhu....Uh...tuh kaaaaan....ada gorengan. I'm kamiiiiiiiing gorengan......Sukunnya gede-gede euy. Ada cireng jugaaaa...uuuuw pengen. Tapi aku lagi kemlecer ama bala-bala nih. Hohoho.." Rembulan tanpa sadar sudah melist makanan apa saja yang bakal ia kresekin dan bawa pulang, meski beberapa pasang mata melihatnya dengan tampang keheranan. Ya mungkin karena kostumnya yang kawai ini. 

"Ah iya ya.. pasti aku terlihat aneh. Kayak mau nge-costplay gegara pake seragam maid ini, tapi bodoamat...akuh lapar qaqaaaaa.. hohoho..." Tapi kemudian gadis berbody demplon ini cuek saja dan tiba-tiba ingin menyusuri eperan jalan lebih jauh lagi. 

Siapa tahu nemu.....

Et et et et et....tunggu bentar...

"Barusan itu kayaknya aku lihat sesuatu yang udah ga asing lagi deh...Tunggu...." Dikuceknya mata Rembulan yang bulat bagai Masha and the Bear itu untuk memastikan sekali lagi siapa gerangan yang dilihatnya. Apakah benar memang dia?

Dibukanya resleting ransel kecil yang ditentengnya itu lalu HP jadulnya ia usap dan dekatkan ke daun telinga.

"Nah tuh kan...tu orang ngangkat HP-nya!!!"

Rembulan pun semakin cepat melangkah sambil tetap dengan HP di telinga namun juga berjalan mendekati orang itu.

"Assalamualaikum.." suara di ujung sana terdengar ramah khas suara Mas-Mas yang menangkap tubuhnya saat di halte tempo lalu ketika hampir terjatuh di undakan.

"Waalaikum salam. Mas A..." Mas A sayaaaaaank. Begitu teriak Rembulan dalam hati dan tak bakal ia ucapkan karena ia adalah gadis pemalu.

"Iya.....Mbak Rembulan. Kenapa baru kabarin sekarang. Tadi lupakah? Aku kira ga jadi ketemuan. Aku sekarang malah lagi kerja, tapi sebenarnya tadi ada urusan di Samsat ngurus SIM. Jadi batal deh ketemuan...." 

Ada nada menggantung sedikit di situ.

"Mas A...ini loh aku ada di belakangmu!"

Tiba-tiba Rembulan sudah berada tepat di balik punggung pemuda yang tengah meminggirkan Honda Astreanya. Motor yang ia sulap sekalian menjadi etalase untuk berdagang siomay. Iapun terlonjak kaget dan langsung berbalik badan. Dijumpainya Rembulan yang manis sudah berdiri di hadapannya, berbusana ala-ala cewek costplay walaupun ia tidak tahu bahwa sebenarnya itu adalah seragam maid yang diharuskan Tuan Muda Jack Gupta kepadanya saat bekerja.

"Mbak Luhrembulan...!!!!" Mas A kaget bukan kepalang, tapi gadis di hadapannya ini malah tersenyum dengan kenesnya.

"Hussss...itu mah tokoh pendekar wanita di komik Wirosableng atuh Mas. Mas panggil aku Rembulan aja atau Mbul juga boleh. Biar akrab!" ujar Rembulan malu-malu.

Mas A pun salah tingkah karena sejujurnya ia ingin kencan tapi bukan dalam keadaan begini, saat sepeda motornya berisi dagangan siomay. 

"O iya Mbak Rembulan...eh maksudku Mbak Mbul......"

"Mbul aja lah ga usah pake Mbak..."

"Oh....gitu ya...Hehehe...Eh ini kenapa kita jadinya ketemuan di sini ya. Apa kebetulan atau gimana ya? Aku jadi malu. Sebab aku masih dagang begini."

"Aduh...aku yang harusnya minta maaf sama Mas, soalnya aku tadi ada kejadian buruk pas pagi-pagi mau ke tempat janjian. Motor temanku nyeruduk mobil. Jadilah sekarang aku di sini, hohoho..." 

Lalu berkisahlah Rembulan tentang kronologi kejadian yang menimpanya tadi pagi hingga direkruit Tuan Muda Jack Gupta sebagai pelayannya. Makanya sekarang ia pakai kostum kayak gini. Mungkin agak sedikit aneh...

"Oh iya Mas...A..."

"Agus. Panggil saja Agus."

"Oh tunggu ralat...Mas Agus kedengerannya lebih enak.." (senyum-senyum)

"Oh iya...hemm...Mas Agus...Mas ga marah kan karena jadinya aku yang ga nepatin janji."

"Kenapa musti marah Mbak ..oh maksudku Mbul..kan itu juga ga sengaja. Iya kan. Santai saja ya Mbak..."

"Mbul aja ah..huhu.."

"Hahahahha..iya deh..aku kebiasaan kalau ketemu cewek memang panggilnya Mbak. Mau udah tua atau muda kayak Mbak Mbul juga udah kebiasaan pake Mbak."

"Haaaaa ketemu cewek?......Jangan-jangan Mas udah punya cewek ya? Atau malah istri." Tiba-tiba sorot mata Masha and the Bear itu hampir saja berkaca-kaca kalau saja tak disahut cepat oleh lawan bicaranya ini.

"Oh...ga mbak...aku masih bujang kok. Hahahah.."

"Mmmmmm...gitu toh. Ya kalau udah ada yang punya maka aku akan cepat-cepat mentraktirmu sesuatu sebagai tanda terima kasih karena kemarin aja Mas, hehehe...bukan bermaksud apa-apa loh. Jangan salah paham ya. Hmmmm."

"Tidak. Aku masih bujang kok Mbak. Hahhaha...nih kalau ga percaya tanya saja saudaraku."

"Oh hahahhahah...ya ampun ini kita lagi ngomongin apa sih Mas. Tuh kan iiih panggilnya ga usah pake Mbak Ah..aku masih usia anak SMA aturan mah, wkwkkw.."

"Oh iya ya...kemarin sudah dijelaskan waktu di halte ya."

"Hu um."

Keduanya pun langsung tek-tok dalam obrolan dan tersadar bahwa dari tadi berdiri di pedestrian tempat orang berlalu lalang. Panas. 

"Eh kita ngadem saja yuk Mbak..." Mas Agus menyadari posisi mereka tidak begitu enak makanya lebih baik ia mengajak Rembulan duduk sejenak.

Rembulan manyun. 

Buru-buru Mas Agus meralat panggilan untuknya. "Maksud aku...kita ngadem saja yuk Mbul..di sini panas. Takut anak orang udah cakep bening begini gosong aku ajak panas-panasan."

Rembulan pun tersenyum malu-malu. Ia ikut saja laki-laki itu mengarahkannya kemana. Sembari menuntun Honda Astreanya ia mengajak Rembulan ke tempat yang lebih teduh. 

"Yuk duduk di sebelah sana saja. Lebih enak kayaknya."

Mas Agus mengarahkan ke area bangku semen yang atasnya adalah kanopi pohon trembesi. 

Tak lama kemudian keduanya duduk berdampingan sambil saling mengenal satu sama lain. Tapi Rembulan tiba-tiba teringat akan sesuatu. "Eh tadi kan aku rencananya mau mentraktir Mas loh ya. Kok aku malah jadi nglali begini ya...huhu. Ayok deh Mas, Mas mau makan apa?"

Mbul pun menyusun seribu satu strategi untuk mengajak kulineran murah yang pernah disambanginya dekat situ. Eh...tapi ngomong-ngomong kalau wilayah SCBD dan dekat-dekat Senayan mah mahal-mahal semua ya...huhu. Rembulan ketar-ketir dengan isi dompetnya yang nyaris 'nyap-nyap.'

"Waduh...bukan aku menolak Mbak Mbul..terima kasih sebelumya. Tapi sebaiknya aku yang traktir...karena kan aku lelaki. Ayo Mbul mau makan apa?" Mas Agus gantian malah yang ingin mentraktir.

Lah ini kok malah jadi kebalik. Rebutan siapa mau mentraktir siapa?

"Ah...jadi ga enak. Kan yang ngajak duluan aku mas. Emmm gini aja deh. Berhubung aku lagi pengen siomay..bolehkah aku beli agak banyakan siomaynya Mas? Mas aku traktir juga deh."

Rembulan langsung mengusulkan ide cemerlang sekalian ingin menjadi penglaris dagangannya Mas Ganteng yang kelihatannya masih banyak ini.

"Walahhhh...kok malah siomay aku Mbak? Aduh...ga bisa gitu ah..tetap saja aku cowok Mbak. Cowok pantang ditraktir cewek manis kayak Mbak. Gini aja deh. Aku traktir Mbak Mbul siomayku saja deh. Kita maem bareng-bareng yuk..."

"Tapi mas...biar aku yang bayar...."

"Ga mau.....udah yuk...aku ambilin ya siomaynya. Tadi kan katanya belum sarapan sejak pagi. Nanti sakit loh.."

Rembulan jadi berbunga-bunga karena merasa diperhatikan gini.

Akhirnya ia menurut saja apa kata Mas Agus yang dengan cekatan segera mengambilkan beberapa varian siomay di atas piring belingnya.

"Ng.. ..Mas...aku boleh pilih ga?" Rembulan tiba-tiba melongokkan kepalanya ke arah panci yang terpajang di dudukan jok belakang motornya. Ia kepo ada variant apa sajakah yang ada di dalam sana? Seperti laiknya siomay pada umumnya di sana agaknya masih pada komplet, sebab memang dagangnya tadi ada kepotong acara ngurus SIM segala di Samsat. Jadi di panci masih nyisa banyak. Ada siomay ikan, kubis, kentang, tahu kuning, tahu putih, telur rebus, dan pare. Semua kesukaan Rembulan. Apalagi pas disantap dalam keadaan lapar begini. Atasnya disiram saus kacang sampai membanjir becek. Uuuuuhhh ! Nyum aneth !!!

"Oh...boleh boleh...Mbak Mbul mau rasa apa?"

"Rasa...h mbayar..buleh ndak?....Ehehehe.."

"O itu jelas. Kan memang sekarang sedang aku traktir."

"Hihihi...ya Mas..aku mau minta dibanyakin kubis ama parenya aja. Yang lain dikit-dikit ga pa pa."

"Waduuh? Mentang-mentang juragan kubis nih pesannya minta dibanyakin kubis ?!"

"Habis kubis itu enak tau. Kraus-kraus."

"Kayak terwelu dong."

"Hu um terwelu besar."

"Lalu kok suka sama yang pahit juga sih? Padahal wajah Mbak kan identiknya sama rasa yang lain..."

"Rasa apa Mas...?? Pedes, asin, asem...atau ecuut wkwkw."

"Ga lah Mbak...itu masih ada rasa satu lagi. Nah kayaknya itu deh rasa yang paling pas dengan Mbak."

Ahhahaha...

(kemudian keduanya tertawa bersama dan yang satunya tiba-tiba tersipu malu).

"Ya udah deh, aku banyakin siomay ikan sama telur rebusnya juga ya Mbak. Biar swehatttt!"




Hadirnya tanda tanya
Apakah yang terjadi?
Mengapa kau berubah?
Engkau yang dulu, duhai kasih
Selalu temukan sebuah terang
Dalam setiap malam

Oh Tuhan, apalah cinta
Cinta yang aku tahu indah bahagia
Namun bila jalan takdir-Nya
Kau yang 'kan pergi tinggalkan diri ini
Kucoba 'kan terima

Bukankah kita saling cinta dan percaya
Atau kau merasa terpenjara?
Berputarlah dunia....... teruslah berputar
Jatuh cinta selalu pada putaran sama
Namun titik berbeda

Sayup-sayup suara biduan dangdut pelantun Sambalado ini terdengar dari arah warung tenda penyetan di seberang mereka duduk. Namun kali ini lagu yang didendangkannya adalah lagu romantis, berduet dengan penyanyi Turki yang bernama Keremcem berjudul : "Apalah Cinta", seolah menjadi soundtrack pertemuan mereka untuk yang ke dua kalinya. 

Sungguh lucu. Kalau dipikir aneh juga ya. Sebelumnya malah tidak terpikirkan sama sekali cara berjumpa mereka adalah dengan skenario seperti ini.

Tapi apapun itu, ada perasaan gembira yang terbit di hati Rembulan... 

****




















Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 15.00 WIB. Dan siomay di piring Rembulan sudah tandas. Gadis itu pun teringat akan 1 pekerjaan terakhir dalam listnya. Belum memasak. Padahal Tuan Muda Jack Gupta sudah berpesan bahwa ketika ia pulang nanti, maka makanan sudah harus siap di atas meja. "Lha kepiye carane mau arep masak sih KangMas India...ku aja blom dikasih uang belanja. Haduuuw lieur pala urang memikirkanya. Masa iya pake uangku yang nyisa Rp 150 ribu di dompet buat beli sayur dan lauk makan malam. Tuan Jack lupa opo piye seeeeh...hoho." Tapi itu semua hanya dikeluhkan Rembulan dalam hati, karena di depannya masih ada Mas Agus. Kalau tiba-tiba ngobrolin kerjaannya ini apa ya tidak langsung hilang kesyahduan, huhu.

"Mas...udah sore. Siomaynya juga udah aku habiskan.Rasanya enaaaakk."

"Masa sih?"

#angguk-angguk

"Bikin sendiri ini. Aku jago dunk."

"Bukan. Kamu manusia mas...bukan jago."

"Hahahaha!!!"

"Eh aku garing ya?"

"Bukan Mbak. Kamu bukan garing. Garing itu kan bahasa jawanya kerak nasi. Atau intip."

"Lha terus aku apa Mas?" 

"Mahluk Tuhan Paling Sexy...ea...ahahhaha."

"Duh ada-ada aja. Uda sore nih Mas. Aku harus pulang. Takut majikanku marah kalau aku klayapan."

"Hu um. Mau dibonceng ga? Dimana sih tempat Bossnya?"

Rembulan menunjuk apartement mewah yang tak jauh dari mereka berdiri. Lalu laki-laki itu takjub.

"Wah orang berduit banget tuh Bossnya Mbak."

"Hu um."

"Jadi gimana, dibonceng sampai sana ya? Kasihan kalau jalan kaki. Lumayan loh itu..."

"Ga pa pa Mas, sekalian olah raga...deket kok. Aku jalan kaki aja."

(emot senyum)

"Ya sudah...kalau begitu hati-hati ya."

"Iya Mas."

Laki-laki itupun tersenyum.

"Oh iya satu lagi."

"Apa itu?"

"Pengen ga usah dipanggil Mbak."

"Oh...hahahahhaha..iya iya."

Rembulan tiba-tiba membungkukkan badannya laksana salam hormat ala Jepang."Terima kasih untuk hari ini. Semoga di lain kesempatan bisa bertemu lagi."

"Mudah-mudahan ya...Aminn..."

Lalu Rembulan melangkahkan kakinya dengan riang gembira. Dan Mas Agus menunggu hilangnya punggung mungil itu sampai ditelan angin sore.

****


















Dalam kurun 15 menit, Rembulan sudah sampai di muka apartement, tapi belum sampai naik privat liftnya. Dan aaah... ia tersadar belum beli apapun untuk makan malam. Jadi diputuskanlah untuk mampir ke minimarket yang ada di lantai dasar apartement.

"Baiklah kita bisa beli apa dengan uang yang tinggal Rp 150 ribu ini."

Rembulan berjalan perlahan sembari lengannya mendorong pintu kaca mini market dan Mas-Mas kasirnya otomatis meneriakkan kalimat sapaan : "Selamat datang, selamat berbelanja!!" tentunya dengan senyam-senyum (mungkin karena melihat kostum yang dipakai Rembulan dan mengiranya artis). Sementara suara Ariel Noah mengudara dari pengeras suara mini market. Melantunkan lagu 'Cobalah Mengerti'.

Gadis itu pun segera mengitari rak-rak yang ada, menekuri kira-kira dengan budget yang dibawanya sekarang ia bisa memasukkan apa saja ke dalam keranjang. Ia melewati setumpuk roti kasur dan juga sesuatu yang gampang expired. Tapi ia mencoba skip saja karena ndilalah lidahnya tidak cocok dengan sesuatu yang bergandum, tidak seperti lidahnya orang bule. Ia lebih memilih melipir ke area mie instan dan terpekur di situ cukup lama karena cuma itu yang harganya murah. Jadi beberapa bungkus mie instan boleh lah bawa pulang. Mungkin nanti bisa ia buatkan semacam mie nyemek ala-ala namun bukan jenis yang mie telor, melainkan mie instan biasa yang sudah ada bumbu dan minyak sayurnya. Masalah pelengkap lainnya seperti kecap dan saus sepertinya tadi di minibar dapur ada. "Iya aku ambil ini aja lah agak banyak, siapa tahu besok Tuan Muda Jack Gupta khilap ga ngasih uang belanja lagi jadi aku udah ada stock mie....lha aku kerja og malah tekor begini ya, hohoho." Rembulan mendengus lucu dan segera mengambil beberapa bungkus mie instan merek kesayangannya dengan sedikit bar-bar.

Rasa ayam bawang 3
Rasa soto 5
Yang goreng original 5....

"Sruk sruk srukk!" Bungkus mie instan itu sukses meluncur ke dalam keranjang dengan selamat. Tapi karena  ada beberapa yang jangkauannya agak tinggi dan bersisihan dengan makanan instan lainnya, maka tak ayal lagi gunungan sebelahnya ikut doyong dan jatuh dari raknya. "Brukkkk!!!" 

"Waduh... kalem Mbul! Kalem!"

Rembulan bersimpuh dan memastikan dressnya masih berada dalam posisi aman. Tangannya yang mungil kemudian memunguti bungkusan yang jatuh itu yang ternyata adalah merek bihun instan. Tapi kalau bihun bukan makanan kesukaannya. Ia lebih suka mie kemana-mana.

Di saat kerepotan memunguti bungkusan bihun yang jatuh, tiba-tiba sesosok pria berjas single breasted double kancing ikut jongkok dan membantu. Rembulan terang saja gugup, sebab pria tersebut attitudenya bagus. Terlihat lelaki gentlemen padahal yang ditolongnya sangatlah berbeda kelas dengannya. Tapi meskipun demikian, ia belum berani menoleh ke arahnya. Jadilah yang dilihatnya hanya tangannya  saja yang bekerja meski samar-samar tercium aroma parfum yang lembut dari siku dalamnya. Mungkin aroma citrus dari Issey Miyake.

Pria itu kemudian menjunjung gunungan bungkus bihun tadi dengan kedua telapak tangan yang ditangkupkan dan menempatkannya pada titik semula. Baru saat itulah Rembulan mendongakkan wajahnya ke atas. Dilihatnya orang yang sedang berdiri di sampingnya ini merapikan posisi bungkusan bihun dengan serius sekali seolah agar tampak presisi dan tidak mencang-mencong. Pria yang sangat tinggi. Apakah ada 180 cm ya? Rembulan hanya bisa menerka-nerka dalam hati dan ia baru bisa melihat sosoknya saat menyamping. Kenapa ia malah terbayang So Ji Sub dengan mata sendunya yang seperti orang mengantuk ya, hmmm... atau malah style mafia dalam film-film serial crime Korsel? Entahlah...yang jelas ia harus mengucapkan terima kasih pada pria tersebut.

"Terima kasih Tuan..."

Pria tersebut akhirnya menoleh. Ia memandang sampai ke bawah karena gadis yang ada di hadapannya ini agak pendek hanya 155 cm saja. Berbeda 25 cm darinya? Seperti hadap-hadapan dengan anak SD. Ia pun menundukkan kepalanya dan tersenyum tipis. Sikap santun yang tertata. Setelah itu ia berlalu dan menuju kulkas showcase untuk mengambil softdrink entah pepsi atau colla.

Rembulan sendiri melipir ke kasir dan membayar belanjaannya dengan satu-satunya lembar uang yang tersisa dalam dompet dan tidak meneruskan obrolan selain ucapan terima kasih saja kepada pria itu.

***
















Kembali di kediaman Tuan Muda Jack Gupta yang bagaikan istana, setidaknya bagi orang udik macam Rembulan. Rasanya ingin sekali ia membereskan segala sesuatunya sebelum Tuannya itu pulang. Soalnya kalau tidak cepat beres takut dimarahi.  Tentu saja habis ini ia akan merampungkan 1 pekerjaan terakhirnya yaitu memasak. Ya, sementara bikin mie dulu, karena di kulkas tidak ada bahan makanan lain. 

"Duhh...ini gimana cara nyalain kompor listriknya siih. Huft! Katrok deh gw!" Rembulan merasa agak bete dengan segala peralatan elektronik ini yang segala sesuatunya menggunakan tombol. Takut salah pencet. "Ah...aku lihat dulu lembar petunjuknya kalau gitu. Mana kertasnya...ah ini dia. Pakai bahasa Inggris semua lagi...aduuuuhhh timbang mau rebus mie aja ruwet begini ya, hohoho..." Rembulan mencoba mengingat-ingat beragam kosa kata Bahasa Inggris yang terakhir dipelajarinya semasa duduk di bangku SMP.

"Tit!! triit!" Tak berapa lama kemudian Rembulan berhasil menyalakan kompornya. Setelah itu ia tangkringkan panci merek Brund Energy Dutch yang sepertinya mahal karena bahannya bagus, ke atas dudukan kompor. Habis itu diisinya panci itu dengan 2,5 gelas belimbing air mineral yang ia tuang dari galon. Ia juga mengiris beberapa lembar kubis, wortel dan juga sawi hijau yang terdapat dalam keranjang sayur di atas meja pantry untuk tambahan mie yang akan ia buat. Tak lupa menguleg bumbu dasar selain bumbu asli bawaannya. Yah, biar sedikit lebih bergizi dan semoga tidak kena omel Tuan Muda Jack Hohoho...

Namun di tengah aktivitas masaknya, tiba-tiba mata Rembulan menangkap HP Samsungnya bergetar di atas meja. "Dreret dreret...dreet..dreeet!" 

Siapa ya? Ditinggalkannya sejenak panci yang sebetulnya sudah menuju tanda-tanda mendidih itu untuk melihat HP. Sebab sepertinya ponselnya itu sedang menerima banyak pesan masuk.

Ah! WA dari Mas Khanif! Sial, saking ribetnya dengan pekerjaan baru, ia malah lupa kabar-kabar orang rumah. Seenggaknya tanya apa semua baik-baik saja. Apa ia tidak kena damprat Abangnya Satria? Dsb..dsb.

Rembulan pun segera membuka notifikasi merah dari aplikasi WA-nya. Isi pesan dari Khanif ada 4 biji. Wow rekor! Tumben sekali...

"Hai Mbak Mbul...lagi apa?"

"Mbak Mbul kamu baik-baik aja?"

"Mbak Mbul maafin gw ya...gara-gara Gw Mbak Mbul yang disuruh kerja ama Jaey!" (emotikon nangis)

"Mbak Mbul kok chat gw ga dibalas? Lagi sibuk ya? Ga diapa-apain kan ama orang India itu?" BLS.

WOW!!! Rembulan ternganga sungguh. Sebabnya Mas Khanif yang dikenalnya kalem walaupun terkadang agak cuek bebek itu ternyata sampai mengirim pesan untuknya berderet-deret sebanyak 4 kali. 4 KALI WOOOYYY. Bahkan di akhir kalimat ada kata BLS-nya segala. Apa dunia mau kiamat? Tapi ngomong-omong, pesan ini memang baru centang biru semua sih. Karena dari tadi HP ia offkan supaya baterenya tidak cepat drop. Tahu sendiri charger HP-nya masih pinjam punya Tuan Muda Jack.

"Hmmmm...aku balas dulu deh...kasihan banget, orang rumah pasti pada kuatirin aku." 

Ia pun mengetikkan sesuatu pada layar HP-nya.

"Aku baik-baik saja Mas Khanif. Aman terkendali, hehehe. Mas Khanif ga dikemplang Bang Satria kan?"

tring!

Centang biru.

WOW. Langsung dibaca.... 

Lalu muncul mode mengetik... 

sedetik..dua detik ...tiga detik..menunggu.

Balasan pun diterima.

"Ah syukurlah kalau kamu baik-baik saja. Gw khawatir sumpah. Kalau ga betah bilang saja. Gw siap jemput kalau mau kabur Mbak Mbul, hohoho."

"Hahaha...siyapp."

"Beneran loh.."

"Kenapa gitu?

"Ya ga pa pa."

"Pasti sepi ya ga ada aku di kontrakan?".

"Iyalah! Kamu kan kayak petasan."

"Masa sih?"

"Ah ga jadi lah tadi udah dikange...maksud gw udah dikhawatirin juga hahhahahha...apaan sih gw..hohoho.."

"Iya iya terima kasih banyak..."

"Creeeeeshhhh...Cresssshh cesss cess!!! Nguuuung!!" 

Tiba-tiba terdengar bunyi berisik dari arah dapur. Celaka dua belas!!!! Air rebusan mienya!!!! Rembulan pun berlari ke arah pantry dan keadaan sudah tampak amburadul. Panci mahal itu gosong dengan air yang telah surut di dasarnya. Kompornya pun bunyi kenceng betul...

"Waduh matiii aku!"

Ia pun buru-buru mematikan kompornya dan Petttttt! Giliran listrik yang kini turun. Keadaan pun berubah menjadi gelap gulita. Gadis itu pun sontak meraba-raba sesuatu yang kiranya bisa dipegang sampai akhirnya sosok tinggi tegap itu masuk ke dalam ruangan dan menghampiri Rembulan. Belum kelihatan jelas siapanya tapi yang pasti tercium aroma parfum yang lembut dan tak asing lagi baginya.

"Nona kau tidak apa-apa? Sebentar saya periksa MCB-nya dulu. Tunggu di sini!"

Sebuah suara pria yang jelas berbeda dengan suara Tuan Mudanya Jack Gupta.

BERSAMBUNG....





Note : Cerbung ini merupakan kolaborasi bareng dengan teman-teman eks blogger MWB yang adatnya sering pakai nama teman (buat seru-seruan aja dan menambah akrab sesama blogger khususnya niche fiksi macam cerpen dan cerbung), jadi pinjam nama-nama teman blogger kayak Kak Agus, Mas Khanif, Abang Hermansyah, dan Udha Satria...ntah ntar ada lagi yang kupakai atau ga...tergantung suasana hati ambooo ahhahah...(nulis link aktifnya nanti kalau tokohnya sudah muncul semua mungkin di episode akhir :D)

Cerita sengaja dibuat romantis biar kayak modelan film-film, ftv, atau drakor karena biar sesuai dengan genrenya yang emang Romance. Kalau ga romantis ntar malah jadi genre horror, action atau modelan review blogger kayak punya tetangga sebelah hahahha..

Sudah ya segitu dulu

Selamat berdesember ria teman-teman semuanya...

Yuk aku tak tapa lagi buat bikin sambungannya ^___________^

blogwalking dan lain lain kurapel..













144 komentar:

  1. baru membaca di awal sudah di sajikan percintaan dom dan letti, asik nih, semakin baca semakin seru dan akhirnya bersambung, ea, good story

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah baru balik dari pertapaan ya koh, apa baru ternak labi-labi? πŸ˜‚πŸ€£πŸ˜„

      iya koh pakai majas perumpamaan dan banyak metaforanya, biar mengamalkan pelajaran Bahasa Indonesia jaman sekolah :D

      Kamsia yaaa...😊

      Hapus
    2. Ada gangguan koneksi teh, koneksi internet di tempat saya smpundah, lelet banget akhir-akhir ini, semoga kedepannya bisa makin baik sinyalnya

      Hapus
    3. owalah tempat koh kuanyu di mana sih, di kalimantan bukan?

      Hapus
  2. aku pernah dibuat nangis sama gadis imut jadi teringat sama dia read your story

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah iya kah? apa yang pernah dibikin cerpen pas cerita kak kirana itu? huehehhe 😳😱

      ayo mas rusdy dibikin short story juga, biar ramai jagad perfiksian di media blog πŸ˜„☺😊

      Hapus
    2. ada yang lain mbak malah lebih menyedihkan karena sudah berharap tak berpisah sepenuh hati eh malah lari sama sahabat aku , karena itulah etah jomblo sampai saat ini

      Hapus
    3. nah itu ga kalah menarik dari cerita pas ada disisipin tentang kak kirana, ayo kapan kapan dibikin juga cerpennya mas rusdi ☺😊

      Hapus
  3. hahaha, aku malah ngakak pas baca part siomay mbak mbul, kwkwk
    kok malah bayangin km sm kang agus lg memerankan penjual dan pembeli siomay. kang agus udah serius nanya mau rasa apa, eh dijawab rasaaaaahmbayaarrrr. wkwkwk
    asatga, keren banget kalian bisa bikin cerbung kompakan gini meski beda genre.. menarik nih kalau dijadikan buku, bagus2 cerbungnya.. eh jd bayangin mas Khanif juga yg katanya kalem bngt :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. wakakakka...bu guru ella bisa aja...ku jadi tersipu malu udah bisa menghibur bu guruuw ella di tengah aktipitas pjj murid murid huehhehe
      πŸ˜‹πŸ˜„

      iya mba ella, biar kerasa romance semi humor dikit, biar uwuwuwww lah macam ftv atau drakor ahhahah

      iya mba ella, sengaja aku pilih genre romance karena lebih lancar bikinnya
      kalau genre horror itu mas agus, mas jaey action, bang herman romance juga, dan kang sat juga romance πŸ˜ŠπŸ˜ƒ

      Hapus
  4. sampai detail gitu yahh nama merknya disebutin semua, keren keren

    mont blanc apa tuh, baru denger saya

    BalasHapus
    Balasan
    1. banyak iklannya yak πŸ™ˆ
      haruse aku dibayar yak hahhaa

      #canda

      Hapus
    2. wkwkwk ngiklan gratis dong
      bukan endorse juga hehe
      tapi gapapa mbak, seru kok

      Hapus
    3. hu um mas intan, baik hati kan aku ?
      ☺😊

      Hapus
  5. Eeheee baru bisa komentar nih maklum biasalah sianu minta dkelonin terus apa lagi hari Jum,at double kelonannya.🀣 🀣 🀣


    Yaa akhirnya setelah berdebat pemenangnya adalah Mr Jaeygupta yang suee..🀣 🀣 si Khanif suuee juga cuma bisa pasrah doang setelah si Rembulan dibawa sama JaeyGupta...Mungkin titisannya si Arvin Gufta suuee kali yee..🀣 🀣

    Wuuihh platnya B 743Y ZN ( Zay Nelangsa ) 🀣 🀣 Rembulan yang tadinya sedih kini sedikit lega setelah dibawa ke Apartemen kawasan Senopati milik Jaeygupta...Eehhh bentar2 emang ada Zaeyzone production dikawasan Senopati..Beehaahaaa gw cek pake Gps orang ono mbul..🀣 🀣🀣 Beehaahaaa benar2 Suuee si Gupta itu.🀣 🀣 Yaa nggak apalah mbul ketimbang harus keluar 10 juta buat ganti mobil tuan Jaey yang biasa bilang You2 bau..🀣 🀣

    Meski akhirnya sih Rembulan bertemu dengan si A suuee yang katanya masih bujangan...Padahal anaknya udah 10. Bukannya ngurusin wartegnya malah sok bergaya-gaya mau ketemu anak perawan...Dasar emang si A benar2 suuee..🀣 🀣 Akhirnya mereka bertemu dan joged2 bah orang india sengkeh..🀣 🀣 Meski cuma makan somay kata si A dunia serasa milik berdua...Tai kucinglah..🀣 🀣

    Tuh dengar nif untung gw masih baik cuma kalau gw kesel udah gw phk luh..🀣 🀣

    Akhirnya meski ndeso si rembulan bisa juga masak indomie dengan kompor listrik, Walau sempat hangus gara2 si khanif suuee yang chat WA dengannya..🀣 🀣 Dan insiden mati lampu pun terjadi entah karena kompor listrik yang overheat atau memang siGupta lupa bayar tagihan listrik karena kebanyakan bilang You dan yoo jadinya Yayo-yayo..🀣 🀣

    Siapakah pria India betet yang menolong Rembulan kala Apartemen itu mati lampu..Apakah Herman Gupta atau Arvind-Kha-eL..🀣 🀣 Kita tunggu saja lanjutannya setelah iklan Mie nyemek berikut ini..🀣 🀣

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kayaknya pria itu Dahlan satriani yang lagi mau mangkal kang.πŸ˜†

      Ya udah, kita tunggu saja episode selanjutnya di Gustyanita Channel.πŸ˜„

      Hapus
    2. alhamulilah malem jumuah en saptu kang satria tambah lengket dengan mba vina ye kang...ikutan seneng aku dengarnya, hahhahahhahahnjer

      bentar...ini komen terngakak deh soalnya aku mah kalau lihat emot miring ketawa ampe nangis yagitu ikut terdistraksi buat ketawa mpe guling guling juga...soalnya penjabarannya sungguh sueee sekali kang hhahahahah

      ada segala dicheck di gmaps tuh PH nya si jaey wkwkwkwk...πŸ˜‚πŸ€£, ya jelas fiktip lah ahhahah...namanya juga cerbung hahha

      tapi aku udah agak mirip belom Kang ngaplikasiin dialeknya si jaey di cerbungku ini, mirip mirip dikit lah yaaa hahahhaha..dia gitu kan modelan cara ngomongnya pas di cerpen-cerpen genre action gangsternya wkwkkw

      pas tokoh rembulan ketemu mas A ga ada kalik joged indianya...itu mah cuma denger dari tape rekorder yang dipasang warung ayam penyetan deket mereka duduk di bangku semen bawah pohon kang wakakakakakaka...ya biar kayak film lah.....πŸ˜†

      yang pas mati lampu bukan orang india kali hahhahahahha...yang india mah si jaey doang kang..cuma yang lagi gelap gelapan mati lampu itu orange emang kudeskripsiin tinggi gitu hahahha

      Hapus
    3. kak agus : dahlan satriani temennya ratna ya kak πŸ˜†πŸ˜‚πŸ€£

      hayuk kitah tunggu sama-sama sutradara beby mbul tapa geni nyiapin skenario part 4 nya

      ((o(*>Ο‰<*)o))

      Hapus
    4. Untuk peran si Jaey Gupta sudah sedikit cocok dengan gayanya yang suka berkata You dan Yoo meski akhirnya jadinya Yayoo-Yayoo..🀣🀣🀣

      Kalau perlu ada penambahan bahasa Indianya seperti Ala Nehi2... Sama Aca2..🀣🀣🀣🀣

      Hapus
    5. jhaha gw jadi merasa bersalah..

      Hapus
    6. kang satria : biar makin mirip orang india yaaa..padahal orang kalimantan ya hahhaaha

      Hapus
    7. kan sebagai gantinya gaji khanif diserahkan ke rembulan supaya impas πŸ˜ƒ

      Hapus
    8. Kalo merasa bersalah, kirimin mbak mbul kuota yang unlimited mas.🀣

      Eh, mbak mbul mah udah pasang ya.πŸ˜‚

      Hapus
    9. kirimin dong kiromin aku pulsaaaaa

      πŸ˜†πŸ˜‚πŸ€£

      pasang apa mas agus? hayo pasang apa? 😁

      Hapus
    10. Pasang kuda-kuda kayaknya.

      Hapus
    11. kirain kuda jingkrak πŸ˜‚πŸ€£

      (*・Ο‰・οΎ‰οΎ‰οΎž☆゚゚

      Hapus
    12. Yang penting jangan kuda catur saja

      Hapus
    13. hmmmm knp gitu klo kuda catur? πŸ€”

      Hapus
    14. kalo kuda catur jalanya cuma bisa L

      Hapus
    15. mas khanif pinter main catur nih kayaknya ☺πŸ˜ŠπŸ˜„

      Hapus
  6. Syukurlah tidak terjadi apa-apa saat rebusan mie airnya gosong karena lupa matiin kompor.

    Kejadian seperti ini baru saja dialaminya rekan kerja, yang lupa matiin kompor semaleman, sampe pancinya mental. Untungnya tidak terjadi apa-apa dengan kompornya.

    BTW hebat bgt mbak Gustyanita bisa buat cerita panjang banget, bersambung lagi, saya mah nyerah kalo disuruh bikin cerita model begini πŸ˜†

    BalasHapus
    Balasan
    1. Belum tentu kang Maman, soalnya sepertinya setelah majikannya pulang tokoh rembulannya bakal disate...eh diomelin habis-habisan deh naga-naganya, ntah deh masih kurange-range dulu di part 4-nya coba πŸ˜„

      oiyakah? sampai itu panci mental, berarti kayak adegan film action dong...hahhaha..untung saja ga sampai kobong alias kebakaran ya kang

      ini saya juga masih belajar dengan guru saya di bidang cerpen yaitu Mas Agus, Mas Herman, Mas Jaey, dan Kang Satria Kang Maman, tanpa ada barengannya bisa jadi saya kurang semangat. Nah ini mumpung ada barengannya saya jadi semangat nyerbung πŸ˜„

      Hapus
  7. Wuaa lanjutannya udah muncul lagiii..

    Aku ga ngira loh ternyata lanjutannya Mbul bakal kerja jd maid nya Jaey. Kirain lanjutannya bakal fokus ke Agus n Khanif. Ternyata ada satu lagii.. Banyak nih yg akan memperbutkan mbul nanti.. Trus suara siapakah yg di bagian akhir itu? Feeling aku bakal ada satu lagi nih, ajudannya Jaey. Bener ga yaaa πŸ˜†

    Aku ngebayangin Mbul pake baju maid dg mata imutnya, pasti Agus makin kesemsem liatnyaa..
    Ngakak yg ngobrol kamu bukan jago, tp orang 🀣🀣🀣

    Aku menunggu lanjutannya Mba πŸ’–πŸ’–

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mba Thessa pasti nahan ngekek ya baca cerita suwenya si mbul...bhahahhaha...πŸ˜±πŸ˜‚

      punten ya mba thessa masih taraf belajar banget ini. Kucoba kubikin ala ala modelan cerita cinta kayak ep ti pi biar greget dan seru hahahhaha...

      lumayan nih biar energiku tersalurkan pas latihan bikin fiksi πŸ˜†πŸ™„

      wahahha..iya mba thessa kebayang ga adegannya deket-deket halte bus polda metro jaya ama sekitaran pasific place, tapi di eperannya doang wkwk yang banyak tukang gorengan πŸ˜πŸ˜†

      idenya si mbul mah kadang adaaa aja ya mba thessa...ada kepikiran dress lolita ala ala tokoh cewe jepun hihihi

      asyiaappp kubersiap tapa geni lagi ya mba 😍πŸ₯°

      Hapus
    2. Asikk, menyalurkan energi melalui menulis. Produktif sekali Mba 😍😍

      Btw, aku kirim email ke Mba Nita ya. Kindly cek yaa Mbaa πŸ’–πŸ’–

      Hapus
    3. iya mba thessa lagi pengen belajar nulis di luar kisah sehari hari, biar ada tantangan, soalnya sejak smp aku pengen bisa bikin buku tapi belum kesampaian, sementara mengeluarkannya di blog dulu berharap siapa tahu ada yang khilap baca hihi 😍

      Hapus
  8. Wah panjang banget ceritanya seperti kereta barang saja. Saya juga nyerah kalo disuruh nulis sepanjang ini.🀣

    Wah kenapa malah khanif pasrah saja mbul dibawa Jaey Gupta, harusnya mah teriak-teriak bilang ada culik, pasti orang pada datang dan Ajaey bakal digebukin sampai bonyok. 🀣

    Mantap banget kediaman keluarga Ajaey, soalnya produser film ya mbak terutama film film Indonesia yang judulnya pocong mandi goyang pinggul atau pocong perawan penasaran kali ya.πŸ˜†

    Pelit amat tuh si Agus, masa mbul sudah susah payah cuma ditraktir siomay saja sih. Harusnya dibawa ke restoran bintang lima terus malamnya mbul dibawa ke hotel kayaknya ngga nolak ya.πŸ˜‚

    Kaboorrrr ah sebelum dilempar sandal.πŸƒπŸƒπŸƒ

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mas Agus : mungkin tokoh khanifnya keburu syock diancam 10 juta, jadi pikiran lieur kakak gemana cara nebusnya.....etapi dikasi solusi yang tidak win win aka rembulannya dijadiin jaminan sehingga dipekerjakan as pelayannya alias tukang bersih-bersihnya tuh rumah yang segede gaban hahhahahha πŸ˜†πŸ˜‚πŸ€£
      coba kalau yang punya honda astrea liwat mungkin bisa nyelametin Rembulan kali yaaaa ahahahah πŸ˜‹

      iya amas Aguuus, kan ceritane doi produser film film haaaawt yang dikamuflase genre horror etdahhhh...#abis itu takut dipenting suhu ajaey hahhaha..πŸ€£πŸ˜‚

      owh...apa biar seru episode selanjutnya kalau tokoh mbul ketemu mas A ntar ditraktir siomaynya di resto hotel bintang 5 yaaak..biar sekalian candle light dinner, kan siomay buatan resto hotel itu biasanya udah bentuk dimsum kak πŸ˜πŸ˜†


      (❁´◡`❁)

      ψ(ΰΉ‘'Ϊ‘'ΰΉ‘)ψ

      α••( ՞ α—œ ՞ )α•—

      Hapus
    2. ajak gw juga kalo mau candle lite dinner di hotel, tar gw rusuhin wkwkwwk :D

      Hapus
    3. πŸ˜³πŸ˜³πŸ˜³πŸ˜±πŸ˜±πŸ˜±πŸ™ƒπŸ˜‚πŸ€£πŸ™„πŸ€­

      Hapus
  9. Busyet dah kecepatannya sampai 143 km/jam saat menubruk tapi si Khanif sama Luhrembulan ngga kenapa-napa, jangan-jangan mereka berdua sejenis cyborg?

    Saya pikir di part ini si Khanif bakalan diomelin habis-habisan ternyata ngga cuma di suruh ganti 10 juta aja sama si Jaey Gupta pemilik Jaey Zone Production House

    Tebakan saya pria yang menolong Luhrembulan di apartemen si Jaey itu pria yang sama yang menolongnya di mini market.

    BalasHapus
    Balasan
    1. waduuuuh matiiiikk lah kena kritik mas herman egein di detil kecil...apa kuganti aja kecematan km/jamnya ? normalnya ga ikutan lecet berapa mas her? hahahhahaahπŸ˜†πŸ˜…

      #dia mah jeli n cucok jadi penyelaras akhir emang πŸ˜‚

      iya mas herman, soalnya jaey lagi buru buru jadi ga ada waktu buat debat kusir atau adu otot, maunya dia kan sesuatu berlangsung efektif dan efisien sekali jentik jari urusan beres hahahha

      hayo loh siapakah sosok yang nyusun bihun instan di minimarket segitu detilnya #pertanda orangnya teliti pada hal kecil kayaknya ya apa perfectionis hahhaha πŸ˜‚

      (*・Ο‰・οΎ‰οΎ‰οΎž☆゚゚

      Hapus
    2. Nah, ini yang nolong mbul di minimarket datang.😁

      Hapus
    3. yang nolong pake honda astrea ntar ada tuh di part 4 πŸ˜πŸ™„πŸ€­

      Hapus
    4. 0,5 km/per jam mungkin tapi lebih bagus ngga usah di ganti jadi kelihatan saktinya..hihihi

      Nah mungkin di part ke 4 si Luhrembulan yang bakal jadi obyek penyaluran emosi si Jaey karena keteledorannya membuat listrik mati.

      Kalau tebakan saya sih tokoh yang menolong Luhrembulan itu si H dan tinggi tubuh si H itu sepertinya terinspirasi dari pembahasan tentang Dani Pedrosa..hihihi

      Oh ya kenapa si luhrembulan senang banget ketawa hohoho kalau dibayangkan kayak sinterklas?

      Hapus
    5. Nah, menurutku juga tokoh itu si H, mungkin si H bakal jadi pacarnya mbak mbul, saingan sama Agus.πŸ˜†

      Hapus
    6. mas herman : tapi kok jadi imposible ya kalau sakti begitu...tar diketawain tikus lewat lagi buhahahhaha...coba deh tar aku ganti km per jam nya...ntar klo dah nemu sinyal hahhaha

      ya sepertinya part 4 puncak dihukumnya si luhrembulan padahal baru pertama kali kerja uda bikin murka majikannya hahhaha

      nah itulah cocokloginya mas her...kan si mbul klo bikin deskripsi bisa disangkut-sangkutin ama banyak hal, termasuk inspirasi dari kolom komentar haha

      oiya ya...kenapa bisa suka ketawa hohoho...mungkin karena sebenernya lagi ngarep sesuatu tapi ga jadi kenyataan..nah apa yabg diharepin itu, penulisnya pun kurang tau πŸ˜‚πŸ€£

      Hapus
    7. mas agus : masa sih mas agus...sotoy ayam deh hahhaha...coba tebak kira kira siapa yang bakal kawinan ama si rembulan hahhahahahahahahhaha

      πŸ˜†πŸ˜‚πŸ€£πŸ˜

      Hapus
    8. Sekarang sinyalnya udah ketemu apa belum, mbak?

      Semoga aja si Luhrembulan ngga kabur dari apartemennya di Jaey.. hihhi

      Jadi benar kan?

      Penulisnya aja ngga tau apalagi yang bacanya..hihihi

      Hapus
    9. masih ndlup ndlypan mas her kayak keong

      dirambah adminnya juga lagi tepar hahhahaha

      iya sepertinya kadang penulisnya ga peka isi hati tokoh rembulannya wkwkkwk

      nah, harusnya biar ga kabur diapain tuh luhrembulan? hahhaha

      Hapus
    10. Mungkin karena efek cuaca kali ya sinyal jadi jelek. Di sini sinyal juga ntar ada ntar ngga tapi masih banyakan adanya sih..hihihi

      Lagi kurang sehat kah?

      Bukan ngga peka mungkin tokoh Luhrembulannya terlalu pendiam. Coba karakternya diubah sedikit..hihihi

      Disegel di dalam apartemen.. wkwkwk

      Hapus
    11. ngomongin sinyal tempat gw juga kadang ada kadang ilang, udh beberapa hari ini di php sinyal :D

      Hapus
    12. mas herman : sinyalnya lagi main ci luk ba mas her hahahha,

      iya lagi agak meriang adminnya dan tepar, jadi disambi2 deh nengok blognya, nanti aku beredar ya ke blog kalian semua, tenang tenaaang hahahhaha

      a apa iya ya? luhrwmbulan terlalu pendiam ya, yaudah nanti part 4 coba aku ubah dikit jadi agak ceceruwet eh ceriwis hahhahahah

      waduh disegel di apartemen? πŸ˜±πŸ˜±πŸ˜‚πŸ€£

      Hapus
    13. mas khanif : iya mentang mentang uda hujan sinyalnya pada sering PHP ya hahhahahha...pingin dicubit providernya (`˘⌣˘)-c<´⌣`“)


      πŸ˜‚πŸ€£

      Hapus
    14. bukan cuma di cubit mbak, tapi di geplok aja biar kapok ckckck :D

      Hapus
    15. wkwkwkkw...terlalu sadis atuh mas khanif πŸ˜†πŸ˜‚πŸ€£

      Hapus
  10. Hahaha Mie nyemek ala ala, pengen tau dong rasanya kak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ada mas eko...uda aku post di post bawahnya wardah tuh...tutorialnya uda aku bikin loh 😁☺😊

      Hapus
  11. gw kasian sama diri gw sendiri di cerita, mau di phk kang satria pasrah aja hahaha..

    tapi seenggak nya mbak mbul kerja sama jay tinggal dirumah mewah, bisa buat pengalaman hoho :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahhaa..nasib masih ikut kerja ama kang sayria ya nif? wkkwk

      iya ya, nanti mbak mbul rembulannya bisa kaya pengalaman..pengalaman ngapain ya..bersih bersih dan nyopa nyapuw hahahha πŸ˜‚πŸ€£

      Hapus
    2. yang penting tinggalnya dirunah mewah mbak hahaha

      Hapus
    3. Nah, pemeran utama nya sudah datang, tinggal satu Jaey Gupta. Sepertinya lagi ngga ada sinyal nih, tinggal di apartemen mewah tapi sayangnya seringkali ngga ada sinyal.🀣

      Hapus
    4. mas khanif : bisa pura pura jadi horang kaya yak mas khanif hahahha

      Hapus
    5. kakak agus : masa sih kak, coba tebak sebenernya peran utama yang paling utama tokoh cowokny yang mana coba πŸ™„πŸ€­πŸ˜

      Hapus
    6. Haahaaa saking mewahnya tuh Apartemen bersama isinya sampai sinyal susah masuk yaa..🀣🀣🀣 Jaey Gupta memang luar biasa...🀣🀣🀣

      Harusnya khanif lebih sering nemuin rembulan diApartement agar bisa kerja juga sama Jaey Gupta...siapa tahu dianggkat jadi penulis skenario di PT. Jaeyzone Production atau dijadikan ahli koding..🀣🀣🀣🀣🀣🀣🀣

      Hapus
    7. wah kang satria, gw kan kerjanya sama elu jadi kuli sayuran hahah :D, kerja di jayzone production ga laku, yang di cari tenaga cwe mulu :D

      Hapus
    8. kang satria baja item : kan diceritakan horang kaya 7 turunan 7 tanjaka...mpe nda abis abis hahhahaha

      hayu nif ndaftar di phnya so jaey wkwkwk

      Hapus
    9. bhahahhahah..kan blom dicoba ndaftar mas khanif πŸ˜‚

      Hapus
    10. Kayaknya khanif ngga mau kerja di jaeyzona, soalnya takut dijadikan simpanan Jaey Gupta.🀣

      Hapus
    11. Nyamar aja mas khanif jadi cewek biar diterima.. hahaha

      Hapus
    12. mas agus : kak agus paham banget si jaey gupta nih hihi..kak agus sering sering lewat depan pager apartemennya si jaey ya, sapa tau rembulan butuh boncengan πŸ™„πŸ€­

      Hapus
    13. nanti yang tau duluan malah mas herman lagi klo ada yang nyamar hihi

      Hapus
    14. Tergantung nyamarnya, kalau nyamarnya sempurna saya mungkin ngga tau.. hihihi

      Hapus
    15. gaswat kalau mas her naksir khanif yang menyamar xixiixii

      kabooorrr
      α••( ՞ α—œ ՞ )α•—

      Hapus
    16. gw nyamarnya pake topeng gambar asmirandah hahahah :D

      Hapus
    17. Kenapa ngga gambar Shizuka saja mas, kalo Asmirandah kan banyak yang tahu.🀣

      Hapus
    18. mas khanif : kalau asmirandah langsung ketahuan kalau itu topeng kertas, jangan asmirandah
      ntar diparanin yonas revano loh hahhahahhahah #bercanda

      Hapus
    19. mas agus : nah kalau gambar sizuka malah ga ketahuan ya amasGus? sizuka kartun apa warung langganan mas khanif wekekek πŸ˜†πŸ˜‚

      Hapus
    20. sizuka yang kartun aja mbak, kalo yang warung langganan malah udah tutup warungnya hohoho :D

      Hapus
    21. loh kenapa bisa tutup mas khanif ? 😳😱

      Hapus
  12. Alur ceritanya bagus mbak, apa lagi kalo di buat misal kaya video pake karakter anime pasti lebih bagus nih hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih mas mayuf, tapi kalau dibikin animasi aku belum jago 😁

      Hapus
  13. Cerpen yang sangat sempurna , Tari suka?? Suka banget , dan itu gambar ceweknya juga oke top dah mbak nitaku tersayang ??? πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih banyak ya tari, aku jadi semnagat bikin lanjutannya 😍πŸ₯°☺😊

      Hapus
    2. Kayaknya lagi bikin part 4 nya, tapi kok belum tayang mbak.😱

      Hapus
    3. hu um kakak..lagi otewe ngetik ini

      tapi nita kalau ngetik lama
      ga secepat mas agus 😌😁

      Hapus
  14. Cerita yang sangat menarik Mbak.
    Apalagi nama tokoh-tokohnya dikenal semua.
    Jadi bisa bayangin mereka bertingkah kayak tokoh-tokoh di atas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. masa sih mas rudi ? tenan nih uda dibaca,πŸ™„πŸ€­ biar tambah runut lagi kusarankan dibaca part 1 sampai part 3 biar kerasa urut urutannya πŸ˜„

      Hapus
  15. udh sepanjang itu masih bersambung??? mau dibikin novel kyknya ya? hehe... :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. belum disambungin ama part 1 dan 2 ya kak, pasti super duper puanjaaaaaaaaaaaaaaaaaang banged

      maklum aku memang suka yang panjang panjang, nulis panjang maksudku...klo belum nulis panjang, berasa kurang greget kalau fiksi aku hahhahhaha πŸ˜„

      Hapus
  16. Ya Allah niiit, makin penasaran ajaaa sih :p. Aku tdnya udh pikiran jelek Ama si jae Gupta, jangan2 ini germo hahahhaha. Tp anakny bos PH toh. Kayaknya bakal banyaaak nih yg memperebutkan mbul :D. Udh bukan cinta segitiga lagi bau2nya :p. Jd nebak2 siapa yg akan mbul pilih. Dan feelingku jaey pun bakal suka juga lama2 hahahahaha.

    Pas baca bagian siomay, nth kenapa aku jd lapeeeeer, pengen siomaaay hhahaha. Udah lama ih ga makan itu :D.

    BalasHapus
    Balasan
    1. mba fanny maaciw uda dibaca terus part partnya

      (❁´◡`❁)

      ((o(*>Ο‰<*)o))

      (((o(♡´▽`♡)o)))

      mba fann tauk banget modelan arah arahnya hahhaha...entah ini selanjutnya akan gimana, aku kalau bikin cerita langsungan gitu mba fan...per minggu kalau ada ide menclok ya itu yang ditulis hahhaha...perkara kelihatan halu atau gimana tapi biar seru aja n greget wkkwkw

      aku juga ngedadak ngidam siomay..apalagi yang tahu ama kobis n pare..ma siomaynya juga sih..laper 🀀

      Hapus
    2. Beeehhhaaaa si Jaey memang lebih cocok jadi Germo ketimbang jadi pemimpin Zaeyzone production yang sueee itu..πŸ˜†πŸ˜†πŸ€£πŸ€£πŸ€£πŸ€£


      Kenapa siomay...Kan ada ayam Atung mbul..πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†πŸ€£

      Hapus
    3. (((astagaaaaah tambah lagi testimonih germo)))

      ntar ayam atungnya mau buat maem bareng di episode ke 4 πŸ˜‚πŸ€£

      Hapus
  17. Aku lg membayangkan mas motore khanif nubruk mobil kui mbul, mantep yo bagian yg membusung si rembulan nemplok ke khanif, menang banyak itu orang, apalagi kalau ukurannya 38 C wahahaha

    HPnya rembulan ga bisa bagusan dikit opo mbul? mesakke je masih J1 ngono, jadul hahaha.

    Btw aku juga lagi ngebayangin lagi si rembulan pake kostum ala2 cosplay, seksi bet kali yahahahha.

    AKU BUTUH SETENGAH HARI BUAT BACA CERITA INI MBUL, PANJANG BANGET HAHAHAHAHAHAHAHA
    dan ini yang ceritanya cukup berat dibanding part yg sebelumnya

    BalasHapus
    Balasan

    1. biar ada sue suenya dikit sayy...kan namanya fiksi masa lempeng kayak jalan tol atuhlah ga ada gregetnya tar hahahhahahaha

      ꉂ(ΛŠα—œΛ‹*)♡

      woooyyyy 34c say bukan 38...klo 38 mah melar...kan yang penting cupnya alias abjadnya utowo abcde nya hahhahahhaha bukan ukuran depannya...klo depannya mah lingkaran udu cupnya #eh kita lagi bahas opo seeeeh hahhahahahha...#ampuni Aim ya Alloh

      (。>‿‿<。 )


      biasa...si mbul kalau blom nulis panjang rasanya asa ada yang kurang

      kalau nulis pendek malah review yang lain..kalau fiksi mau taktulis sakpole dowone hahahhahahahhaaha

      (。・Ο‰・。)

      πŸ˜‰

      Hapus
    2. Beeehaaaahaaa lho kok malah bahas kutang mbul..πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†πŸ€£πŸ€£

      Emang mau ngegelarin atau ngejual kutang dipasar mana mbul..🀣🀣🀣

      Hapus
    3. ntar takjual onlain saja πŸ˜‚πŸ€£

      Hapus
  18. Weleh weleh panjang amat
    ini yang seharusnya bisa menjadi 25 lima artikel, terbit dalam satu artikel
    Peninglah kepala ini
    Saya focus ke yang 10 juta itu.
    Kenapa tak kabur aja ya, terus merelakan si rembulan menjadi jaminan

    BalasHapus
    Balasan
    1. #buru buru sodorin panadol πŸ˜‚πŸ€£

      Hapus
    2. Sama bae itu mah mang Djangkar..🀣🀣🀣 Benar2 Suee..πŸ˜†πŸ˜†

      Hapus
    3. sama sama su to the weeee ya kang hahahahhaha

      Hapus
    4. Harusnya tinggal kabur saja khanif dan rembulannya ya kang, mobil penyok dikit bagi jaey Gupta mah kecil.🀣

      Hapus
    5. wakakaka...biar berkurang 1 rival ya kak, ntar ga ada setting penthouse lagie dan balik ke pasar lagi, bisa ketemu mas a tiyap hari deh πŸ˜†πŸ˜‚

      Hapus
    6. Berkurang satu rival, berarti nanti jaey zona akan jadi rival mas Agus nih? �πŸ€£πŸ˜„

      Hapus
    7. bisa jadi...mungkin saja mas agus πŸ˜†πŸ˜πŸ˜Š☺

      makanya mas agus cepetan selametin tokoh rembulannya hahhahahaaaaaha

      Hapus
    8. Oke mbak, nanti aku akan jadi pahlawan bertopeng agar bisa menyelamatkan rembulan hahaha...(jadi ingat Sinchan.🀣)

      Hapus
    9. horeeeeyy...

      ((o(*>Ο‰<*)o))

      nanti rembulan packing packing baju dulu berarti ya sambil nungguin pahlawan bertopengnya hahhahaha

      #nahloh padahal baju yang dibawa waktu pertama kali ke situ cuma satuw πŸ˜ŒπŸ˜‹

      Hapus
  19. Tumben udah seminggu belum ada post barunya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. lagi ngedraft part 4 mas herman πŸ˜ƒπŸ˜‚

      Hapus
    2. Masih ngedraft part 4? Sepertinya part 4 ini bakal lebih panjang dari part 3 nih.

      Hapus
    3. baruuu aja mulai beberapa paragraf ya Alloh trsendat...nyari moment part 4 biar ada syahdu syahdunya gitu...agak lama jadinya bolak balik mandeg hahahahhahah

      Hapus
    4. Bikin adegan syahdunya setelah si Luhrembulan dibantai si Jaey terus ditolongin sama si penolong yang di mini market dan diajak makan di atap apartemen..hihihi

      Hapus
    5. Kayaknya atas saya nih yang ngajak makan di atap minimarket.πŸ™„

      Atap minimarket, bukan atap apartemen.🀣

      Hapus
    6. whoaaaa dapat tambahan ide, makasih mas herman, aku save idenya πŸ˜„☺😊, lagi tapa geni yingkat tinggi biar konsen aku hahahhahah...ntar beredarnya rapelan πŸ˜‚πŸ˜

      Hapus
    7. kakaaaaaak aguuuuss...ahahhaha

      kakak agus sumbang ide part syahdu dongs...hihi..mana mana kasih aku ide part syahdu mas agusπŸ˜†πŸ˜☺

      Hapus
    8. Ide apa ya, bingung aku kalo disuruh yang syahdu, kalo yang horor mah bisa.

      Kalo yang horor, misalnya tanggal tua kuota habis, mau ngutang ditolak.πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

      Hapus
    9. kalau horror mah ntar kayak cerpennya mas agus

      cerpen nita kan maunya syahdu hahahaahaa

      iya nanti aku karang karang ndiri coba gemana kesyahduan yang teruwuwuww #walah wkwkkwkwkw

      πŸ˜πŸ˜†πŸ˜‚

      Hapus
    10. Aku kurang ahli kalo masalah yang syahdu syahdu mbak, makanya jarang buat cerpen yang romantis soalnya ngga bisa.πŸ˜‚

      Hapus
    11. ah kata sapa mas, kataku pribadi cerpen mas agus yang judulnya cara berkenalan dengan wanita dan cinta sampai mati itu buatku terdebest, paling mengaduk aduk perasaan ~eaa haha...bagus kok cerpen romantosnya mas agus yang itu. jareku loh ya hahaha

      Hapus
    12. Memang banyak alasan sih A suuee ini..🀣🀣🀣

      Hapus
    13. Lha memang seperti itu kang, lihat saja, cerpen ku kebanyakan genre horor daripada romansa.🀣

      Hapus
    14. kang sat : πŸ˜‚πŸ€£πŸ€£

      Hapus
    15. ayo mas agus banyakin horrornya tapi yang suereeeeeem pol yak hihi

      Hapus
  20. Kerren kolaborasinya, salam kenal mba πŸ˜ŠπŸ™

    BalasHapus
  21. Wooohh ceritanya ternyata gini. Campur aduk.. Dan eh kenapa Mbul diserahkan begitu saja sama Tuan Muda. Ntar kalo diapa-apain, terjadi hal-hal yang (tidak) diinginkan gimana? Berabe loh hahaha.
    Tapi untungnya Tuan Muda orang yg baik, tidak diapa-apain, kan? Atau malah di episode selanjutnya bener bener terjadi hal yg begitu, krn di apartemennya cuma berdua aja hixixixii

    BalasHapus
    Balasan
    1. lumayan rumit makin ke sindang ya do hahahha

      ya begitulah akhirnya apa yang trjadi, part 4 udah tayang tu do? yuk cuz meluncur ke part 4 πŸ˜„πŸ˜πŸ˜‚

      Hapus
  22. Wuih banyak juga nama iklan bermunculan di pos ini ..,, kebayang gimana tajirnya kak Mbul dapat endorsan segitu banyaknya.

    Keren nih sosok Khanif dan Jaey ditampilin disini pakai branded semua.
    Terus, si pemuda hidung mancung berdada bidang ala aktor India kui sopo, kak ?.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oohh itu namanya mas Hino..🀣🀣🀣🀣

      Hapus
    2. mas him : haruse mas him, ningvsayang seribu sayang nda eneng sing ngendorse eyke hahahah

      itu jaey mas him yang jadi india aca aca πŸ˜‚πŸ€£

      Hapus
  23. Mane nih cerite barunye tentang siGupta suuee..🀣🀣🀣

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tenang kang, paling lama besok juga udah nongol, maklum soalnya panjang jadinya lama ngetiknya.😁

      Hapus
    2. kang satrie : lagi ngetik πŸ˜‚πŸ€£, draft part 4 lagi dapat beberapa paragraf ahhahahahhahahah

      Hapus
    3. mas agus : ayo semangatin si mbul ngetik massss...pegel jariku mas ahahha

      agak panjang emang ini part 4,oh my god...πŸ˜πŸ˜‚πŸ˜†

      Hapus
  24. Waduhhh udah ketinggalan smpe part 5.. Dan part 3 ini ternyata puanjangg banget.. Tapi aku nikmatin banget mba Mbul jalan ceritanya...

    Ya Allah,, mba mbul ngebuat ini berapa lama mba?? Jalan ceritanya sama majasnya itu loh... Ya ampun... Oke Banget.. Tadinya pengen baca pas tahun baru sebagai bacaan awal tahun. Tapi berhubung nggk jadi libur panjang jadi tak undur...

    Seru banget adegan awalnya yang akhirnya malah nyeruduk mobil mewah.. Awalnya aku geram banget sama si Bos Jaey. Masa orang sekaya itu nggk mau ikhlas.. wkwkwk
    Tapi setelah Rembulan ke mansionnya yg di lantai 45 itu.. Aku agak terkesima karena sepertinya Jaey orangnya baik dan sabar.. wkwkw Iyah nggk sih?? Dia cuma pengen kenal lebih dekat sama Rembulan aja apalagi umurnya masih muda...

    Ehh tapi nggk mau nebak2 dulu aahh berhubung sudah ada lanjutannya.. heheh

    Aku baca ini senyum2 sendiri loh mba... Apalagi pas Rembulan makan somay bareng sama Mas A.. heheh Romantis Sekalii...

    Sayang yah,, Niat bikin Mie Nyemek malah berakhir dengan adegan Panci Brund Energy Dutch gosong gegara keasikan chatan sama Mas Khanif. Udah mah Listrik 10 ribu wattnya sampai turun lagi.. Duhh kira2 siapa yah cowok itu.. Apakah orang yg menolongnya saat membeli mie atau.. hmmmm

    FYI,, Bayu sangka nama merk pancinya itu cuma buatan Mba Mbul sendiri, terus aku googling dan nemu di shopee ada yg jual dengan harga 900 ribuan... WOW....

    Tak lanjut part 4 dulu yah Mba Mbul.. Sama terimakasih buat tulisannya yg heboh ini..... heheh

    BalasHapus
    Balasan
    1. bayuuuuuu ga bisa berkata kata lagi selain speechless sama komen bayu yang sangat berarti buat aku yang masih cupu di bidang kepenulisan fiksi ini hihi....bener bener ku terharu pengen mewek πŸ˜‹πŸ˜πŸ₯Ί☺πŸ˜ŠπŸ˜„πŸ˜ƒπŸ˜πŸ˜πŸ˜πŸ˜


      makasih atas supportnya ya bayu...it's mean a lot to me as a nubie dan masih harus banyak belajar lagi dari para senior :D

      ((o(*>Ο‰<*)o))

      (´✪Ο‰✪`)♡

      Hapus
  25. Aku musti menyusul keterlambatan episode cerbungnya ini mbak haha

    Ternyata sialnya si mbul malah asik loh. Pengalaman tinggal di penthouse walaupun jd tukang bersih². Eh jd keinget drakor yg isinya dajal semua itu haha

    Lanjut baca aja deh episode selanjutnya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. mba anggun ini aku merasa kebetulan apa gimana ya...padahal sebelumnya sama sekali aku lom oernah nontin drakor yang satu itu...eh tetiba muncul beriringan dengan cerbungku yang salah satu settingnya penthouse hahahha..padahal tadinya aku blas ga ngerti sama sekali ma tu drakor..ajaib juga ya....

      Hapus

Komenin dong...tanpa kehadiran kalian apalah arti aku menulis....
kalian penyemangat setiap bulir kalimat dalam blog ini :*
Namun jangan komentar SARU atau SARA ya, jika ada komentar dengan unsur tersebut, dengan berat hati akan aku HAPUS .

Oh ya, Dilarang juga mengambil gambar/foto atau menyadur tulisan tanpa mencantumkan sumber atau seijin pemiliknya. Apalagi untuk kepentingan komersial atau lomba. Thx ^____^