Senin, 21 Desember 2020

Cerbung : Gadis Kecil yang Sedang Belajar Jatuh Cinta (Part 4)





Oleh : Gustyanita Pratiwi

Sifat : Hanya fiktif belaka dan untuk latihan menulis plus hiburan

Genre : Romansa



"Creeeeeshhhh...Cresssshh cesss cess!!! Nguuuung!!" 

Tiba-tiba terdengar bunyi berisik dari arah dapur. Celaka dua belas!!!! Air rebusan mienya!!!! Rembulan pun berlari ke arah pantry dan keadaan sudah tampak amburadul. Panci mahal itu gosong dengan air yang telah surut pada bagian dasarnya. Asap mengebul menghalangi sebagian pandangan. Kompornya pun bunyi kenceng betul...

"Waduh matiii aku!"

Ia pun buru-buru mematikan kompornya walau semua sudah terlambat sampai kemudian terdengar bunyi : "Petttttt!" Giliran listrik kini yang mati. Keadaan berubah menjadi gelap gulita. Gadis itu pun sontak meraba-raba sesuatu yang kiranya bisa dipegang sampai akhirnya sosok tinggi tegap itu masuk ke dalam ruangan dan menghampiri Rembulan. Belum kelihatan jelas siapanya tapi yang pasti tercium aroma parfum yang lembut dan sepertinya sudah tak asing lagi baginya.

Aroma jeruk.

Baca juga :






"Nona kau tidak apa-apa?"

Rembulan terdiam. Tapi sosok itu bergerak ke arah lain seperti sedang mencari sesuatu.

"Sebentar saya periksa MCB-nya dulu. Tunggu di sini ya!"

Sebuah suara pria yang jelas berbeda dengan suara Tuan Mudanya Jack Gupta.

Siapa?

Rembulan mematung dan pikirannya berkelana kemana-mana. Antara takut pria tadi maling atau orang yang disebut sebagai ajudannya Jack? Sebab kalau bukan ajudan Jack, bagaimana bisa ia masuk dengan pintu yang masih terkunci dengan sandi rumit melalui 2 buah kartu yang hanya dipegangnya dan Jack, atau mungkin juga ajudannya. Tapi kalau pun maling, harusnya dibutuhkan keahlian khusus untuk membobol pertahanan pintu yang sedemikian berlapis-lapisnya itu. Mungkin harusnya bukan sekedar maling, tapi sudah kelas penyusup seperti yang terjadi dalam adegan film-film action.

Okey lupakan tentang maling, penyusup, atau apalah. Karena tadi pria tersebut justru sangat sopan telah menyapanya Nona hingga gadis itu pun makin mengerucutkan kesimpulannya bahwa pria tersebut adalah orang yang tinggal di penthouse ini selain Jack.

Tak lama kemudian...

"CTET!!" 

Listrik kembali menyala. Segenap ruangan kembali terang benderang. Rembulan masih tegang lantaran dapur acak-adut, sebagian airnya tumpah kemana-mana, sedangkan panci Brund Energy Dutch di hadapannya sudah hitam legam terpanggang api yang sudah overheat. "Duh! Matiiii betul ini! Bisa disate Tuan Muda Jack aku, huhuhu." Rembulan meratapi panci itu laksana sedang kehilangan kekasih hati yang pergi menghilang entah kemana.

"Ehem!" 

Tiba-tiba suara pria tadi mengagetkannya. Berdehem sedikit yang bukan berarti selalu gatal tenggorokannya. Mungkin lebih kepada mencoba untuk memulai suatu obrolan dengan lawan bicara yang baru pertama kalinya ditemui. Tapi Tunggu? Baru pertama kali? Tidak! Sepertinya tidak seperti itu. Pria tersebut memicingkan matanya yang sendu seperti orang mengantuk hingga nyaris terlihat seperti garis lurus saja ke arah Rembulan. Gadis berkostum dress apron lolita hitam putih renda-renda khas seragam pelayan di rumah Bossnya Jack Gupta itu tentu masih diingatnya dengan jelas. Ya, gadis yang ditemuinya kurang lebih setengah jam yang lalu saat berada di minimarket lantai bawah apartement. Menjatuhkan gunungan bungkus bihun instan ke atas lantai, bersimpuh di situ dan memungutinya dengan susah payah. 

"Nona!" 

Rembulan yang sama-sama kagetnya pun ikutan terbengong. Matanya membulat macam burung celepuk yang masih bayi. 

"Tuan yang di minimarket?" Gadis itu sampai kebingungan menjawab sapaannya saking kagetnya. 

Lawan biacaranya pun akhirnya tertawa.

"Haha...ya benar. Saya tadi yang di minimarket itu." Ia pun akhirnya mendekat. Jarak mereka kini hanya 2 langkah kaki orang dewasa. Lalu si pria tadi berinisiatif untuk mengajaknya bersalaman. Tanda perkenalan.

"Saya tangan kanannya Jack Gupta yang diutus untuk membimbing anak muda itu selama terjun ke bisnis keluarga. Maklumlah, dia kan baru kembali dari Amerika, jadi butuh banyak training. Dan kebetulan saya yang diutus untuk mengajari dia. Perkenalkan, nama saya Hermansyah."

Rembulan ganti menyambut uluran tangan pria itu dengan sedikit kikuk. Maklum di hadapannya kini berdiri sosok yang ia lihat seperti bintang film asal Korea kesukaannya, So Ji Sub. Si pria dengan mata sendu yang seperti mata orang mengantuk. Tapi ia akui wajahnya memang good looking sih. Kulitnya bersih dengan garis hidung yang bagus. Dan penampilannya rapi plus wangi. Jas single breasted double kancing warna biru dongker yang kelihatan licin mengkilap itu masih membungkus tubuhnya yang menjulang. Okey, Rembulan sadarlah! Kamu tinggal menjabat tangannya saja kan? Setelah itu selesai. Begitu kata hati Rembulan yang seakan ingin meneriakinya supaya tidak terlihat norak-norak amat ketika berhadapan dengan orang cakep. 

"Ahaha! Iya ya...maafkan tadi yang di minimarket ya. Dan terima kasih juga sudah dibantuin. Oh iya, namaku Rembulan Tuan." Dijabatnya permukaan tangan pria yang nyaris sama halusnya dengan tangannya yang seorang cewek ini dengan sikap spontanitas. Bedanya satu, jelas tangannya jauh lebih kecil dibandingkan dengan tangan pria itu. Setelah itu dilepaskannya dengan cepat karena ia tak ingin mengesankan bahwa dirinya adalah seorang cewek yang gampang terpesona.

"Ah..iya Nona Rembulan. Tapi Nona tidak apa-apa kan? Tidak terkena percikan api atau air panas yang dari panci?" Hermansyah memastikan keadaan Rembulan pasca insiden panci gosong gara-gara ditinggal hapean itu. 

"Oh aku tidak apa-apa Tuan Hermansyah. Aku baik-baik saja. Tapi iniiii...ini loh pancinya, uhuhuhu..." Rembulan mulai menunjukkan muka paniknya karena panci mahal majikannya sudah berubah warna menjadi sehitam jelaga. 

"Ini jadi rusak begini, aku takut dimarahi Tuan Muda Jack Gupta, Tuan Hermansyah."

"Hmmm...benar juga ya. Pancinya jadi tidak bisa dipakai lagi. Apakah Nona lupa mengecek saat airnya mendidih?"

Air muka Rembulan berubah menjadi down. Sebab ia malah jadi seperti diinterogasi. Bukannya dibantu  menjelaskan bagaimana kata-kata pembelaan diri yang tepat jika nanti ditanya majikannya. Huft. 

"Aku tidak sengaja Tuan. Sungguh........" (ekspresi ingin menangis).

"Baiklah. Itu tidak masalah. Tapi untunglah Nona tidak apa-apa kan? Itu yang lebih penting."

Dalam sekejap seperti ada kalimat 'so sweet' yang tiba-tiba muncul di udara. Tapi tentu saja itu hanya imajiner belaka.

"Memang sih aku tidak apa-apa. Cuma gimana ya masalah pancinya ini. Ini pasti mahal banget. Aku takut dimarahin Tuan. Tuan Jack kan orangnya dingin....hmmmmb."

Hermansyah masih mengamati cara gadis berpostur mungil tapi berisi pada beberapa bagian (misalnya pipinya yang seperti bakpao) itu bicara.  Anak yang sangat apa adanya. Sepertinya memang polos. Dan masih muda sekali. 

"Padahal kejadian nubruk mobilnya sampai penyok tadi pagi saja sudah bikin aku berhutang Rp 10 juta...masa nanti harus ditambah lagi...hohoho...." Rembulan membuka cerita tanpa diminta.

"Ah...ya...ya.....jadi Nona yang ternyata terlibat insiden tubrukan dengan chevroletnya Jack tadi pagi ya? Jack sudah cerita sedikit ke saya sih.." balas Hermansyah yang mulai menangkap benang merah antara info yang didapatnya dari Jack dengan keterangan Rembulan yang sekarang sudah berada di sini. Tapi ia yakin bukan Rembulan yang menyebabkan chevrolet itu penyok, melainkan pemuda yang memboncengnyalah yang menyebabkan demikian. Namun, anehnya justru Rembulan yang disuruh Jack untuk menanggung segalanya, memperkerjakannya sebagai house maid ketimbang memperkerjakan pemuda itu padahal list pekerjaan untuk kategori cowok di kantor juga sebenarnya banyak. Entah apa yang menjadi alasannya, Hermansyah jelas belum tahu. Tapi menilik postur Rembulan dari ujung kepala hingga ujung kaki dari sepintas mata memandang, jelas ia sedikit memahami alasan itu.

"Tenang. Nanti saya bantu jelaskan kalau Jack komplain." ucap Hermansyah menenangkan Rembulan hingga gadis di hadapannya itu tidak sepanik tadi.

"Benarkah?"

"Iya. Akan saya bantu sebisanya."

"Kalau gitu mohon bantuannya ya," ujar Rembulan yang kemudian menunduk diiringi dengan tangan yang siap bekerja membereskan segala sesuatunya, paling tidak sampai dapur kembali bersih. Walaupun ia masih belum terbayang seberapa murkanya Jack jika mengetahui barang-barang mewahnya dirusakkan oleh orang udik macam dia. Tapi setidaknya masih untung kompor listrik yang harganya jutaan itu tidak ikut kenapa-napa. Fyuh!

***















Rembulan mengusap setitik peluh yang meluncur dari dahinya. Rasa lelahnya masih belum seberapa dibandingkan dengan rasa khawatir akan kepulangan Jack yang sepertinya sebentar lagi bakal tiba tepat di jam-jam 19.00 WIB. Memang kata Hermansyah kali ini Jaey batal janjian dengannya karena mengurusi agenda lain sesaat setelah kejadian tubrukan dengan motor Khanif tadi pagi. Padahal sebelumnya mereka sudah janjian meeting untuk mengurus 1 proyek film baru yang rencananya bakal rilis tahun depan. Ya ngobrolin hitung-hitungan budget produksi dan sebagainya. Sayangnya agenda tersebut pending karena Jack keburu badmood. Memang anak muda itu sifatnya masih seperti bocah. Maklum masih 25 tahun. Masih 'hijau'. Jadi harus benar-benar digembleng agar bisa menjadi penerus bisnis yang mumpuni. Meski dengar-dengar kabar, yang dalam hal ini juga dibenarkan oleh Hermansyah bahwa Jack adalah seorang badboy. Koleksi ceweknya banyak. Malah sebagian berasal dari artis-artis film yang diproduserinya. Hmmmm...Rembulan jadi teringat beberapa nama artis film horror agak panas yang di bungkus kaset dvd tempat rental film langganannya ada tulisan Jack Zone Production Housenya. 

"Ah jadi berpikiran yang tidak-tidak." Rembulan berusaha menepis pikiran kotornya. Ia tak ingin berburuk sangka perihal artis mana yang menjadi pacar-pacar majikannya itu. Iapun kembali fokus menuntaskan satu cucian peralatan masak terakhir hingga akhirnya dari dalam perutnya terdengar bunyi "Kruyuk kruyuk kruyukk..."

"Lapaaaaaaaaaar!!!" Rembulan teriak dalam hati, tapi satu masakan pun belum sempat ia bikin bahkan mie nyemek yang tadinya ingin ia hidangkan sebelum Tuan Mudanya pulang. Padahal sedikit perintilan sayurnya sudah terlanjur ia iris. Cuma memang mienya belum sempat diolah karena sudah keburu mengembang sehingga tidak layak makan. Lalu apa sekarang ia akan mengulang proses yang sama. Tentu saja malas. Rasanya masih trauma. Takut menggosongkan alat masak lagi, hohoho. 

Di tengah kegalauan hatinya yang belum tuntas mengerjakan list pekerjaan terakhirnya itu, Hermansyah tiba-tiba datang menghampiri bocah cewek yang pikirannya sering tidak praktis itu. Sebelumnya ia memang melipir sebentar saat Rembulan bersih-bersih, mungkin mandi karena kini ia telah berganti pakaian dengan  yang lebih santai. Sweater katun warna abu-abu dan juga bawahan celana linen putih susu. Wajahnya kelihatan lebih segar dari yang sebelumnya dan permukaan rambutnya masih sedikit basah. 

Ia lalu berjalan ke arah pantry menuju mesin pembuat kopi.

"Kruyuk...kruyuk...kruyuk!" Terdengar lagi bunyi perut Rembulan yang kali ini tertangkap indera pendengaran Hermansyah tatkala selintasan lewat untuk menyeduh kopi. Pria itupun membuka suara.

"Nona kamu lapar ya?"

Rembulan kaget. Sedikit malu juga karena cacing di perutnya konser terlampau kencang. Membuatnya seperti tertangkap basah kelaparan di jam yang seharusnya orang sudah makan sebanyak 3 kali ini.  Sayang, seharian perutnya baru diisi oleh sepiring siomay hasil kencan dadakannya dengan Mas Agusnya tersayang tadi siang. Dan jedanya dengan jam sekarang tentu sudah lumayan lama. Ngalamat lapar lagi tentu saja.

"Kalau belum makan, mau saya masakkan sesuatu?" Hermansyah sepertinya paham betul gadis di depannya ini sudah sangat kelelahan dan maunya tinggal makan saja. Kok tiba-tiba pria yang kelasnya jauh lebih tinggi ini mau menawarinya hasil masakannya? Rembulan tentu saja surprise. Ekspresinya yang bagai Masha and the Bear itu makin kentara. 

"Serius Tuan? Memangnya Tuan bisa masak?" Rembulan bertanya keheranan.

"Bisa lah...masa masak saja tidak bisa. Itu kan kunci orang bisa survive. Betul tidak?" Ia terkekeh memperlihatkan deretan giginya yang rapi. 

"Benar juga sih. Tapi di kulkas ga ada bahan makanan lagi. Mie yang tadi aku beli udah mengembang.... sebenarnya ada stok mie lagi yang udah aku simpan, cuma itu untuk jatah makan aku besok...kali aja Tuan Jack lupa ga ngasih aku uang belanja lagi, hmmmmmmmmmbbbt." Rembulan berkata sambil memainkan ujung jarinya...mengesankan dirinya begitu ngenes dalam kurun 24 jam terakhir kehidupannya yang terasa sangat paradoks. Ia tinggal di hunian yang super duper mewah namun dengan kondisi perut yang sangat kelaparan. Menjadikan pria di hadapannya itu sampai melongo seolah tak percaya. Atau lebih tepatnya syock. Masa iya Jack begitu saja sampai lupa. Kelewatan betul?

"Nona belum dikasih uang belanja?"

Rembulan mengangguk sedih. Tapi justru dari situlah kesan lucu anak itu mulai ditangkapnya karena memang gayanya yang apa adanya.

"Kasihan betul."

"Ya memang sangat kasihan bin ngenes bin melas. Hohoho... Aku aja beli makan malam ini pake uangku yang cuma nyisa Rp 150 ribu di dalam dompet." Rembulan hanya bisa membatin pilu. Dan perutnya yang langsing terasanya semakin langsing saja di situasi macam begini. Ia benar-benar lapar tingkat dewa.

"Nanti masalah uang belanja buat mingguan atau bulanan saya yang atur deh."

"Benarkah?" 

"Tentu saja. Saya kan ada kewenangan soal itu di rumah ini." ujar Hermansyah meyakinkan.

"Lalu sekarang mau masak apa?" tanya Rembulan.

"Ah iya! Saya ada ini! Mari saya buatkan sesuatu untuk kita makan malam." Ia menunjukkan sekantung bahan makanan yang depannya tercetak logo minimarket tempat mereka bertemu di lantai bawah.

"Untuk Tuan Muda Jack bagaimana? Akupun belum sempat masak untuknya...Padahal itu yang paling penting, huhuhu.."

"Iya sekalian buat dia juga. Baiklah mari apa yang akan saya lakukan terlebih dahulu dengan bahan-bahan ini."

Dan kantung kresek itupun dibukanya di atas table granit dapur yang sudah Rembulan lap dengan sangat kinclong.

Ah! Ternyata dia balik lagi ke rak bihun yang tadi.

***


















Rembulan terpana melihat skill memasak pria di hadapannya ini. Dengan cekatan dan tanpa celemek sekalipun, Hermansyah sudah tampak lihai mengoperasikan wajan dan lain-lainnya. Paling ujung lengan sweaternya saja yang ia gulung sebagian sampai ke siku untuk mempermudah pekerjaannya.

Tak lama kemudian pria tersebut menyalakan kompor. Lalu menyeduh air rebusan untuk kemudian dimasukkan bihun ke dalamnya sesaat setelah airnya bergolak. Ya, karena bihun kan sifatnya cepat lemes ya, jadi supaya tingkat kekenyalannya pas. Tidak sampai kelembekan, tapi juga tidak sampai undercook. Bukan karena bihunnya kurang makan, hihihi....

"Nona tolong kemarikan irisan sayurnya. Saya mau masukkan ini setelah telurnya." Hermansyah mengkomando Rembulan agar ikut membantu. Gadis itu pun menurut saja bahkan jadi ikut belajar bagaimana cara memasaknya. Ahhh!!! Ternyata mau dibikin bihun goreng toh.  Bumbu dasarnya kurang lebih sama dengan mie goreng jawa sih, ya paling letak gurihnya ada pada bawang merah, bawang putih, dan juga kemiri. Merica juga, tapi sedikit saja. Takut kepedasan.

"Ni sayurnya." Rembulan kemudian menyodorkan irisan sayur yang telah ia kerjakan tadi pada saat awal akan membikin mie nyemek namun batal.

"Okey, terima kasih."

"Sreeeeeeeng!!!! Tek! Tek! Tek! Sreeeeeeng!!! Ces...cessss...cessss...Sreeeeeng!!!" Sungguh piawai sekali pria ini menggoyang wajan....

"Hmmmmm... Wangi banget Tuan Herman. Aku laperrrr..." Gadis kecil itu pun tak kuasa menahan kalimat pujiannya sehingga Hermansyah tertawa.

"Artinya sudah lapar tingkat dewa itu..."

"Begitulah...."

"Memang seharian sama sekali belum makan?"

"Sudah dengan siomay sih...tapi itu jam dua dengan gebe....." Belum sempat Rembulan menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba dari arah wajan mengebul asap super tebal.

"Bwuuuuushhh!!!"

Dan wangi racikan bumbu dasar bihun goreng itu reflek bikin gadis itu ingin bersin.

"Ha...hat...hatsyiu...." Syuuuuuut!! Badan rembulan yang ringan kecil lagi mungil itu pun kemudian diputar Hermansyah hingga posisi terbalik. Bahunya dipegangnya supaya menghadap ke arah sebaliknya. Sambil menasihatinya laksana seorang bapak guru yang meminta anak muridnya untuk paham tentang manner. "Nona jangan menghadap makanan kalau sedang bersin ya."

"Iya..iya, tapi tangan udah aku tutup loh. Maapin deh...heu..."

"Hahahah... lucu juga kamu ya! Berapa sih usiamu?" Hermansyah tertawa lepas melihat ekspresi Rembulan yang benar-benar apa adanya. Pure tanpa dibuat-buat.

"Hmmm aku? Masih 17 tahun sih. Tapi aku sudah punya KTP loh. Tapi KTP ku sekarang sedang ditahan Tuan Jack huhu..."

"Ahhhh...pantas." Pria itu mengangguk-anggukkan kepalanya, masih dengan senyumnya.

"Memang Tuan Hermansyah umurnya berapa?" Rembulan balik bertanya.

"Hushh! Tidak sopan tanya-tanya umur."

"Lha tadi kan Tuan Hermansyah juga tanya umur akuuu...hohoho."

"Masa tidak kelihatan. Saya 17 tahun juga sepertimu." guraunya.

Rembulanpun memicingkan matanya tanda tak percaya.

"Lho iya kan. Saya ini cuma menang tinggi doang. Tapi umur masih 17 tahun. Kalau kamu baru....masih harus minum susu pertumbuhan. Wkwkkwkwk..."

Rembulan pun melongo. Tak disangka So Ji Sub kearifan lokal yang ada di hadapannya ini orangnya cukup humoris. Senyumnya pun ikut terkembang walaupun masih ragu perihal umur yang sudah disebutkan pria di hadapannya itu. Masa iya masih belasan tahun. Pembawaannya saja sudah dewasa begini.

"Kok seperti tidak percaya."

"Jelas begituuu..."

"Baiklah saya mengaku. Saya 27 tahun."

Ah.....sama dengan Mas Agusku berarti...hohoho (batin Rembulan). 

Dan tak terasa bihun goreng spesial karya Chef Hermansyah telah jadi. Wanginya benar-benar menggelitik hidung. Dan tiap-tiap untaian bihunnya yang berwarna kecokelatan karena kecap itu seolah memanggil untuk segera dikunyah bersamaan dengan campuran orak-arik telur yang sudah menyatu, irisan kubis, wortel, sawi hijau, serta suiran ayam yang ngumpet di dalamnya. 

"Sabar Nona. Kita plating dulu, jangan langsung nyomot dari wajannya, wkwkwk !" 

Rembulan manyun, tapi dituruti juga kode pria itu untuk mengambilkan piring ceper porselen sebanyak 3 buah. Tentunya untuk ia, sang juru masak, serta Boss mereka, Jack. 

***















Kala keduanya sedang asyik menaruh bihun goreng bersama di atas piring, tiba-tiba pintu depan selotnya terbuka. Jack sudah pulang. Penampilannya masih sama seperti yang tadi saat berpamitan untuk urusan bisnis, sama-sama masih kerennya walaupun kali ini wajahnya tampak sangat kelelahan. 

Ia menuju ke kamarnya sejenak, mungkin untuk bersih-bersih badan. Berendam di atas jacuzzi dengan air yang hangat suam-suam kuku. Jadi masih ada sisa waktu beberapa menit untuk menyiapkan makan malam yang pantas dari sisi estetika maupun rasa. Ya, Rembulan dan Hermansyah akhirnya malah sibuk berduaan sampai akhirnya ketiga piring di hadapan mereka diisi porsi bihun goreng yang sama rata. 

"Icip dikit bolehkah?" iseng Rembulan bertanya karena sudah sangat kelaparan.

Hermansyah pun mempersilahkan gadis itu untuk mencicipi masakannya tapi yang masih nyisa di dalam wajan. Bukannya mengobrak-abrik yang sudah ada di atas piring. Kalau yang itu, nanti tunggu Tuan Rumahnya datang baru boleh dimakan. Tapi tentu saja, yang makan di meja makan utama hanya Hermansyah dan Jack, sedangkan Rembulan yang seorang pelayan ada meja tersendiri yang tidak nyampur dengan majikannya.

"Hahaha...lapar apa lapar?" Hermansyah akhirnya tertawa melihat Rembulan yang mencomot sejumput bihun goreng bikinannya dari atas permukaan sodet. 

"Aku lapar banget...nyem...nyem...nyem.."

"Hushhh!!! Sepertinya besok saya harus  ajari kamu beberapa hal tentang tabble manner."

"Ha.. apa pula itu?"

"Berbagai macam aturan..pokoknya besok saya ajari deh." ujar pria itu sambil tersenyum. 

Belum sempat Rembulan bertanya lebih jauh tentang rencana yang sudah disebutkan Hermansyah, tiba-tiba terdengar derap langkah kaki Jack yang menuju ke arah pantry. Orang turunan India itu sudah berganti dengan mengenakan kimono berbahan satin yang licin dan mengkilat. Menuang air mineral sebentar ke dalam gelas lalu meneguknya sampai ke dasar. Setelah itu ia menghampiri 2 orang yang sudah rampung menyelesaikan menu makan malam agung mereka. 

"Ada makanan apa hari ini?" Tanya Jack tetap dengan style juteknya (setidaknya itu menurut Rembulan---yang juga terus berdoa dalam hati supaya tidak melihat kondisi sang Brund Energy Ducth yang telah bertransformasi dari metalik menjadi hitam). 

"Duh...semoga saja dia ga ngeliat bak cucian piring!" Rembulan harap-harap cemas.

Sayang Jack malah makin mendekat ke tekape. 

"Tap! Tap! Tap!" 

"Saya udah masakin bihun goreng. Kamu doyan kan Jack?" Hermansyah mencoba menjawab pertanyaan Jack tadi.

"Owh...," jawab Jack pendek.

"Bagaimana urusan hari ini?" Hermansyah bertanya lagi.

"Ya...biasa saja." Jack mulai mencermati sesuatu yang agak berbeda terutama setelah melihat bak cuci piring dan di sana teronggok panci mahal koleksinya dalam keadaan sudah sangat menyedihkan. Sudah dirusakin Rembulan.

"Apaan nih!!!?" Tiba-tiba suara ketus yang levelnya naik dari yang tadi muncul lagi.

Oh My God! Rembulan menangkupkan kedua tangannya ke wajah. Tak berani membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.

"Siapa yang sudah membuat alat masak saya jadi begini?"

Kedua orang di hadapannya membisu. Menunggu amarah Jack tuntas dulu. Mungkin beberapa detik. Atau beberapa menit. Atau malah lebih horrornya lagi hitungan jam.

"Kenapa diam semua? Saya tanya itu dijawab? Pada ga punya mulut ya? Apa you Herman yang melakukannya?"

Jack menginterogasi satu persatu penghuni rumah tawang itu dengan pandangan menyelidik.

"Jack...masalah panci saja kecil lah itu. Tinggal beli yang baru saja kan cukup."

"Owh jadi benar ?"

"Bukan Tuan Muda Jack...itu Rembulan yang lakukan..." Rembulan tiba-tiba bersuara yang lantas ditahan oleh Hermansyah supaya tidak melanjutkan pengakuannya. Takutnya Jack malah hilang kendali. Sebab dia kalau sudah marah suka keluar kata-kata ajaib yang kadang membuat hati tercabik-cabik.

"Owh..kamu!" 

Jack kemudian maju dan dirinya berputar mengitari gadis berpipi chubby itu sambil mengarahkan pandangan setajam belati. Rembulan hanya bisa menunduk pasrah. Ia teringat perangai tokoh Lee Young Jae dalam drama korea berjudul Full House yang selalu memarahi lawan mainnya Han Ji Eun. Galaknya sama, huhuhu...

Kini Jack hanya berjarak beberapa inchi saja dari muka Rembulan. Tentunya sambil menunduk karena gadis itu pendek. Ditunjuknya muka Rembulan hingga merasa kehilangan harga diri.

"Hey kamu! Cewek kere yang saya pungut di jalanan dan baru kerja sehari di tempat yang jauh dari kelasmu ini...Kenapa sudah bikin rusak barang saya? Bagaimana kalau sudah kerja 1 bulan...2 bulan? Hah??? Pakai otak itu dipakai! Jangan seksi doang tapi ga ada otaknya! Paham kamu."

Ooopps...Rembulan kaget juga dikatai begitu oleh Tuannya. Tapi jelas ia hanya bisa tertunduk pilu karena memang sudah ceroboh. 

"Maafkan saya Tuan Muda..." gadis itu berkata lirih.

"Maaf?"

Hermansyah lalu pasang badan dan berusaha menengahi. 

"Sudahlah Jack. Dia belum paham kan baru pertama kali kerja di sini. Maklumi saja lah.."

"Hey You. Ga usah jadi pahlawan kesiangan. Cewek kere ini udah bikin saya badmood seharian ini. You paham ga, mobil mewah saya ditabrak temannya...lalu sekarang...apa coba? Bikin rusak barang saya lagi. Itu baru 1. Bagaimana kalau besok-besok rusakin yang lebih mahal lagi."

"Tenang Jack. Nanti saya yang akan ajarin khusus ke dia urusan semua-muanya. Udah sekarang lupakan saja masalah kecil ini. Kita makan saja deh. Kamu ga lapar apa?" Hermansyah lagi-lagi mencoba mencairkan suasana yang semula menegang.

"Enak saja! Ga bisa semudah itu lah! Saya harus kasih hukuman dulu ke anak ini. Hukumannya adalah tidak ada jatah makan malam untuk kamu. Juga terpaksa saya tambahkan draft hutang 1 juta sebagai ganti harga panci itu. Artinya kontrak kerja kamu akan saya tambah, mau ga mau, suka ga suka, sebab ini bentuk dari kecerobohanmu sendiri, paham!!!!" ujar Jack seenaknya.

Rembulan semakin menunduk.

"Tunggu!! Memangnya tadi kamu sedang apa sampai pancinya bisa gosong begini?"

Rembulan berkata dengan terbata-bata. "Maaf Tuan Muda...itu karena saya sedang balasin WA orang rumah yang seharian belum saya lihat...."

"Oh jadi karena mainan HP? Coba mana!!! Mana HP-nya.. sini kemarikan sama saya. Biar besok kerjanya fokus, saya sita HP kamu. Cepat...cepat!!! Berikan sama saya!!!" Jack pun mengintimidasi Rembulan supaya segera menyerahkan HP-nya itu ke tangan majikannya.

"Bagus! HP ini biar sama saya. Kamu kerjalah yang fokus. Sampai 2-3 bulan baru bisa saya kembalikan!" 

"Oh ya satu lagi. You Herman! Besok tolong training anak ini supaya paham segala aturan yang ada di rumah ini. Dan konsekuensi apa yang didapat kalau melanggarnya. Biar bisa pake otaknya dikit. Ga cuma modal badan doang yang dipake!"

Rembulanpun tak bisa berkata apapun. Hanya 2 butir bening saja yang sudah menggenang di pelupuk matanya.

Setelah itu Jack tiba-tiba ngabur ke kamar. Berganti pakaian lagi. Mungkin mau pergi.

"Tidak makan malam dulu Jack!" Hermansyah bertanya.

"Saya lagi malas makan di rumah. Mau cari angin. Oh ya...you jangan kasih dia makan ya! Awas kalau you kasih. Saya bakal bikin you semua jadi perkedel!"

"Blammm!!!!" Pintu depan kemudian dibanting. Dan yang tersisa kini tinggal Rembulan dan Hermansyah dengan posisi mematung pada diri masing-masing. Namun kini salah satunya malah menangis, berlari ke arah lain, menuju tangga yang mengarah ke loteng. Mungkin menenangkan diri ke atap apartement.

****

















Beratapkan langit hitam dengan jutaan bintang sebagai pelitanya, Rembulan duduk sambil memeluk lutut. Menangis sesenggukan seperti anak kecil yang kehilangan selimut. Memunguti keping-keping hatinya yang berantakan karena kata-kata pedas Jack.

"Siapa juga yang mau kerja di sini. Siapa juga yang mau dilahirkan dengan fisik begini. Siapa juga yang mau terlahir bodoh dan miskin." Tapi kata-kata itu tak diucapkannya lewat lisan karena Rembulan lebih suka menyimpannya dalam hati. 

Angin dingin di muka balkon menampar pipinya dengan lembut. Suasana tampak lengang. Memperjelas derik-derik jam junghans germani yang ada di loteng bawahnya. Belum larut betul, tapi sepinya sudah seperti pukul 00.00 WIB. 

"Drap...drap..drap."

Tiba-tiba terdengar langkah kaki mendekat.

***
















"Nih dilap dulu ingusnya..."

Sebuah suara kemudian membuyarkan lamunan Rembulan.

Gadis itupun mendongakkan wajahnya ke atas dan di sana sudah berdiri sosok tinggi tegap itu sambil menyorongkan selembar kacu berwarna biru.

Hermansyah...

Bukannya mereda, tangis Rembulan malah makin menjadi. Cengeng betul rupanya anak ini. Disentil sedikit saja langsung ambyar. Persis seperti tokoh Putri Duyung Shirahosi yang terdapat dalam serial One Piece. Cengeng. Hobinya cirambay. Ya, tapi kata-kata majikannya tadi memang sudah agak keterlaluan sih. 

"Sudah...ayo berhenti nangisnya. Jelek tau!"

Dan kini sapu tangan yang disorongkan ke arahnya diterimanya dengan baik. Langsung digunakan untuk menyeka air matanya dan juga hidung yang penuh ingus.

"Tenang saja Tuan Herman..nanti sapu tangan ini aku cuci dan setrika dulu sebelum aku kembalikan." Akhirnya Rembulan bisa tertawa lagi setelah beberapa saat tenggelam dalam kesedihan.

"Sudahlah pakai saja dulu. Kapan-kapan saja balikinnya. Tuh bermanfaat kan buat ngelap ingus."

"Rrrrrrr!!!" 

"Hahhaaha... Dasar anak kecil memang kamu ya."

"Huft..."

Rembulan mendengus. Dan mencoba bernapas dalam-dalam lalu menghembuskannya supaya lega.

"Sudah? Sudah legakah sekarang?"

Rembulan mengangguk cepat walaupun masih ada sisa-sisa sedikit efek sesenggukan. Dan sejujurnya itu membuatnya sangat capek.

"Maklumi saja si Jack itu. Dia memang wataknya begitu. Tapi aslinya orangnya baik kok." Hermansyah kemudian duduk menjejeri Rembulan.

"Hmmmm benarkah?"

"Ya, dia orang yang baik. Cuma memang agak keras sedikit. Yah.. egonya masih tinggi. Biasalah anak muda. Baru lulus kuliah. Baru balik dari Amerika beberapa minggu yang lalu. Jadi ya begitulah... Makanya saya khusus diutus orang tuanya untuk menggembleng dia agar jadi 'orang' karena kan setelah lulus dia harus meneruskan bisnis orang tuanya."

Rembulan hanya bisa ber-'o' panjang dan memandang Hermansyah yang ada di sampingnya ini dengan serius. Menyimak cara bicara pria itu. Dan ia tertegun. Sungguh laki-laki yang sangat dewasa.

"Berarti aku pelayan pertama yang bekerja di rumahnya dong?"

"Tentu saja Nona. Kan dia baru kembali dari Amerika."

"Mmmmmm.... begitu."

"Yap...makanya saya bilang maklumi saja sikapnya ya. Maklum udah terpengaruh budaya barat dikit. Tapi tenang, kalau dia bersikap kelewatan. Saya yang akan pasang badan untuk kamu. Sudah ya berhenti nangisnya!" Hermansyah kemudian mengelus rambut Rembulan dengan spontanitas. Membuat gadis itu tampak kaget. Tapi sudahlah, mungkin kali ini dia hanya butuh seseorang yang bisa membuatnya tenang. Ya...anggap saja aku jadi punya Abang kedua, hohoho..Begitu batin Rembulan.

"Sudah nangisnya?"

"Sudah dari tadi kali..."

"Hahahhaha...ya ya...baiklah. Kalau sudah selesai nangisnya, makanlah!"

Tiba-tiba laki-laki itu menyodorkan sepiring bihun goreng yang sedari tadi nampannya ia letakkan di belakang punggungnya. Dan lagi-lagi Rembulan dibuatnya terbengong-bengong karena sikapnya yang manis...

"Kok aku dikasih makan? Nanti kalau ketahuan Tuan Jack kita bakal dibikin perkedel..."

"Wkwkwkkwkw!!!! Udah cuekin aja. Saya malah ga tega liat anak orang mati kelaparan di atap apartement, hihihi."

Rembulan yang tadinya tampak kelabu, kini perlahan-lahan mulai ceria lagi.

"Heu...baiklah...tapi aku ga akan bilang-bilang bahwa Tuan Herman udah kasih aku makan malam. Nanti Tuan Herman malah dibikin perkedel sama Tuan Jack lagi, huhu."

"Wkwkwkkwk!!!"

"Sudah nih, makanlah!"

Rembulan lalu menerima piring itu dengan bersemangat karena memang perutnya sudah lapar sekali.

"Tapi Tuan.. HP ku disita Tuan Jack loh. Aku jadi ga tau kabar orang rumah..Aku ga bisa hubungi mereka...."

"Sudah makan saja dulu. Masalah HP kita pikirkan besok ya."

"Benarkah?"

"Iya.."

"Baiklah, aku makan bihunnya ya!"

"Iya...makanlah..."

Keduanya pun duduk berdua di atap apartement dengan sepiring bihun goreng dalam pangkuan masing-masing. Bihun goreng yang sudah sedikit hilang hangatnya, namun masih terasa lezat dikunyah dalam mulut. Berdua, duduk sampai pukul 22.00 WIB, menghabiskan malam, menghabiskan bihun sampai tak bersisa. Sampai keduanya lelah dan juga mengantuk. 

***


















Seminggu sudah Khanif berjauhan dari Rembulan, seminggu itu pula Rembulan bekerja pada Jack Gupta. Rasanya ada yang aneh. Ada yang janggal. Ada yang hilang. Mana petasan yang selama ini membuat hari-harinya lumayan ramai itu? Entah ia yang sedang merasa gloomy atau bagaimana, yang jelas dalam seminggu ini HP Rembulan tidak bisa dihubungi. Tidak aktif sama sekali. Bahkan Satria pun sebagai abangnya tidak pernah dicall selama 7 hari ini. Ya, semenjak WA terakhirnya pada saat Rembulan pertama kali bekerja. Setelah malam itu WA, keesokan harinya HP-nya sudah tidak aktif lagi. Ia ingin menanyakan hal tersebut pada Satria supaya mengecek ke alamat kantor yang terdapat di kartu nama Jack tempo hari, tapi segan. Sebab Satria masih disibukkan dengan agenda pindahan kios baru. Apakah ce-esnya itu tidak diperbolehkan menggunakan HP selama bekerja?  Pikiran pemuda berwajah cakep itupun masih dipenuhi tanda tanya. Dikitarinya pohon rambutan yang ditanam di muka kontrakan usai pulang dari pasar, tempat ia biasa nongkrong menghabiskan malam minggu bersama Rembulan. Ngobrolin hal-hal bodoh atau apa saja yang sekiranya koplak. Atau yang lucu-lucu. Ngomongin Asmirandah misalnya. 

"Eh Mas Khanif kalau ngayal jangan ketinggian. Nanti kalau jatoh sakit. Masa ngarep jadian ama Asmirandah. Mimpi kaliiik, wkwkwk!" Rembulan meledek pada suatu ketika di malam ketika keduanya duduk bersama di dahan pohon rambutan, tapi yang satunya agak ke atas, sedangkan yang satunya di bawah. Rembulan sendiri karena pakai rok, maka ia memilih yang di bawah. Duduk di dahan yang lebih rendah. Kebetulan dahannya memang banyak, dan enak dijadikan tempat untuk panjatan seperti monyet.

"Ye...suka-suka gw dong Mbak Mbul...wkwkwk...Dia kan cantik, hohoho.."

"Tapi uda ada yang punya keleus." Rembulan bertambah rese.

"Biarin aja, cuma ngayal ini, hahaha."

"Hush!!! Terlalu ngarep kamu Mas, hahhahah."

"Bodo amat". 

"Mas Khanif haluuuuw!"

"Mang kenapa sih? Kamu cemburu ya? Lah sama artis aja cemburu wkwkwkkw!"

"Wadidaw...siapa juga yang cemburu, aaaah suweee nih Mas Khanif, bused dah masa gw dikatain cemburu ama Asmirandah wkwkwkwk."

"Alaaaah, ga usah gengsi deh. Ngaku aja deh Mbak, ckckkkkkc."

"Mang antara aku dan Asmirandah cantikan siapa?"

"Ya Asmirandah laaaaah!"

Rembulan cemberut. Sementara Khanif tertawa girang.

"Asem! Telak banget lah Mas Khanif. Ga bisa nyenengin orang dikit apa bilang aku yang lebih cantik, hahahaha. Boong dikit ga pa pa lah ya nyenengin orang."

"Ogah lah. Asmirandah tetep nomor satu di hati gw, wkwkwk...ngayal dikit lah."

"Awas ya!"

"Ayo sini keplak gw kalau bisa! kan kamu pakai rok, mana bisa manjat ke dahan yang lebih tinggi kayak gw, wkwkkwk!"

"Asem ihhh! Eh tapi, bener juga sih, kalau dibandingin ama Asmirandah ya jelas Cantikan Asmirandah kemana-mana lah ya daripada gw hahahhahah. Su to the weeeeee."

Keduanya pun tertawa bareng. Pokoknya hari-hari sepulang kerja memang paling pas untuk celelekan. Entah apa saja yang diobrolkan yang jelas yang bikin pikiran fresh, jauh dari kata mumet, sebab kehidupan ini saja sudah ruwet. Atau bisa juga metikin buah rambutan ketika sudah masuk musimnya. Saat-saat setiap dahan dan rantingnya banyak digelayuti buah yang berwarna merah menyala juga sebagian orens, lalu sebagian lagi hijau. Ya, sebuah kebiasaan iseng antar tetangga kontrakan yang mungkin bisa dibilang dekat. 

****























Genap 7 hari sudah Rembulan berganti status dari tukang bantu-bantu di pasar  kini naik kelas menjadi pembantu di penthouse mewah milik seorang taipan India. Ah, sebenarnya sama saja ya. Bedanya paling ia jadi lebih 'cling' ketimbang saat wara-wiri di pasar. Pakaiannya meski seragam maid yang lucu dan berimple, tapi setidaknya jauh lebih bersih dan wangi ketimbang kaos oblong sablonan. Juga kulitnya lambat laun menjadi cerah karena selalu berada di ruangan sejuk ber-AC, jauh dari panggangan matahari serta beceknya pijakan kios. Jauh dari anyirnya lapak ikan, serta geliat ulat sayur yang bersembunyi diantara daun-daun kubis yang bolong-bolong. Jauh dari aroma kecut keringat dan hiruk pikuk orang-orang yang lalu lalang. Hari-harinya terjadwal dengan runut, terlebih setelah mendapat beberapa arahan dari Hermansyah supaya sikapnya lebih tertata dan tidak serampangan. Ya, dalam 7 hari kerja itu lambat laun pula ia semakin mempelajari karakter Tuannya yang irit bicara walaupun sebenarnya orangnya baik, juga ajudannya yang selalu bersikap efektif dan efisien. Paling 1 yang masih mengganjal di hatinya yaitu HP-nya yang masih ditahan oleh Jack. Karena hal tersebut membuatnya jadi kangen kontrakan. Apa kabar Abangnya, apa kabar Khanif, apa kabar Mas A? Mas Agus...ya ampun, sungguh Rembulan sangat kangen padanya. Apa dia kelimpungan ya, cewek yang sudah ditraktir siomay pekan lalu ini sedang dalam mode tidak memegang HP? Atau jangan-jangan dia sudah melupakannya? Mas A.......apakah dirimu benar-benar belum punya pacar? Rembulan terbawa lamunan sambil mengutuki diri sendiri kenapa tidak sempat ngeprint fotonya agar bisa dipandang-pandang setiap saat, keburu HP-nya sudah diamankan Jack. Haaa....." Sudahlah mari kita kembali bekerja!" Rembulan menyemangati diri sendiri, padahal dalam bayangannya ia masih terkenang senyum Mas A. Senyuman yang bersahaja, tapi hangat dan menenangkan.

Hari ini adalah Hari Rabu. Langitnya lumayan gelap. Padahal masih pagi pukul 09.00 WIB. Pekerjaan Rembulan masih ada beberapa session. Dan Tuannya masih meringkuk di dalam kamar, mungkin kelelahan setelah clubbing. Jelas ia belum bisa merapikan tempat tidurnya. Sehingga pekerjaan akhirnya loncat saja ke aktivitas menyapu atau mengelap dinding kaca.

Masih teringat jelas dalam benaknya bagaimana semalam ia menyaksikan pemandangan tak biasa tatkala sedang menyapu. Ya, Jack Gupta mampir ke unit sebentar dengan membawa tentengan untuk selanjutnya cabut lagi ke tempat clubbing. Dan tentengan yang dimaksud bukanlah tas mahal melainkan seseorang yang serta merta membuat Rembulan syock karena jelas ia sangat mengagumi wanita itu. Ya, artis papan atas yang sedang naik daun dan dipakai terus dalam film-film produksi Jackzone Production House. Artis yang sangat paripurna dari segi fisik dan digandrungi kaum adam, meskipun santer terdengar kabar bahwa ia sekarang sedang dekat dengan aktor pria yang sering menjadi lawan mainnya dalam FTV. Ya, siapa lagi kalau bukan Asyifa Salju. Asyifa Salju??? Ditenteng Jack Gupta? Pikiran Rembulan pun jadi kemana-mana. Ia tak menyangka kemesraannya yang kerap terekspouse di infotainment bareng artis Nazarudin Aris adalah kebohongan belaka. Atau ia yang salah tangkap...

"Nona kamu kaget ya. Begitulah Jack, Nona. Asyifa Salju itu memang pacarnya kok. Pacarnya yang paling cantik diantara pacar-pacar yang sebelumnya." Hermansyah tiba-tiba sudah berdiri di belakang Rembulan dan ia menceritakan sekelumit fakta tentang Bossnya.

"Bukankah dia baru pulang dari Amerika beberapa minggu yang lalu Tuan Herman?"

"Betul. Tapi tiap libur musim tertentu dan balik ke Indo ya pasti ada artis yang dipacarinya. Nah, Asyifa Salju adalah yang paling baru jadi pacarnya. Dan sepertinya yang paling disayang Jack."

"Mmmmmm....begitu."

Rembulan terang saja masih tak percaya. Sebab yang ia sering lihat di acara gossip Asyifa Salju ya ngakunya berpacaran dengan aktor pria lawan mainnya itu. Bukan tayangan lama loh itu. Baru saja kemarin, beberapa hari yang lalu. Kok Asyifa Salju jalan juga dengan produsernya. Aaaahhh...ternyata...Rembulan mendadak jadi ilang respek dengan artis kegemarannya itu. 

"Hey!! Bekerjalah yang fokus! Jangan melamun saja. Nanti bikin salah lagi!" Tiba-tiba Rembulan tersadar dari lamunannya. Iapun menoleh ke belakang dan sudah mendapati Jack berdiri di sana hanya mengenakan piyama berbahan satin motif merak. Kelihatan adem betul bahannya dan lagi bagian kerahnya agak terbuka sedikit memperlihatkan dadanya yang bidang. Matanya masih bengep tanda kurang tidur, dan mulutnya bau alkohol. Mungkin sisa mabuk-mabukan di club tadi malam.

"Maaf Tuan."

"Ya sudah. Tolong buatkan saya sarapan. Tahu kan breakfast kesukaan saya?"

Rembulan mengangguk. Di benaknya sudah ada bayangan akan membuatkan omelet telur yang tidak terlampau kering dan digoreng cepat dengan menggunakan margarin. Juga segelas susu kotak yang tinggal dituang saja ke dalam gelas. Sausnya, saos tomat dan juga mustard dengan taburan peterseli cincang.

"Selain yang kayak biasanya. Cepat buatkan saya potato wedges juga. Tolong buatkan pakai pepper. Dan kulitnya jangan dibuang. Langsung panggang saja semua."

"Baik Tuan."

"Oh ya, satu lagi. Bawa sarapannya langsung ke kamar saya. Saya mau makan sambil berendam di jacuzzi."

Oh...

Rembulan mendadak jadi rempong. Karena takut salah atau kurang cepat. Makanya setelah mendapat instruksi itu, ia segera bergegas ke pantry untuk memproses semuanya.

****





















"Tok! Tok! Tok!" Pintu kamar Jack diketuk. Terdengar suaranya dari dalam mempersilakan pelayan berbody montok itu masuk.

"Masuk!"

Rembulan pun membuka kenop pintunya sembari tangan satunya membawa nampan berisi sepiring omelet telur, potato wedges dengan pepper dan taburan daun bassil di atasnya, saus tomat juga mustard, serta segelas penuh susu vanila. Pelan ia langkahkan kaki dan mendapati kamar Tuan Mudanya lengang, tapi di ruangan sebelah--lebih tepatnya area depan kamar mandi yang terdapat jacuzzi, terdengar suara berisik air pertanda alat tersebut sedang dinyalakan.

"Maaf sarapannya ditaruh dimana ya Tuan?" ujar Rembulan sebelum memasuki ruangan itu. Tapi Jack kemudian menyuruhnya masuk.

"Langsung taruh sini saja. Saya mau langsung makan."

"Drap..drap...drap!" Rembulan masuk dan cukup syock melihat pemandangan di depannya.
 
Ehm.....harusnya dia merem saja. Tapi untunglah Tuan Mudanya ini tidak benar-benar dalam keadaan polos. Cuma bertelanjang dada saja. "Asem, gw harus cepetan nih!" Batin Rembulan grogi. Ia pun dengan hati-hati hendak menyerahkan nampan itu ke tangan Tuan Mudanya, namun sial...gara-gara pinggiran jacuzzinya agak licin maka yang terjadi adalah hal-hal yang tidak diinginkan "Syeeeeettttt...Byuuuurrr!!! Jebuuurrrrr!!!" Aduuuuuh!!!  Gawat!

Rembulan senampan-nampannya tercebur ke dalam jacuzzi dan basah kuyup. Juga potato wedges, omelet telur, gelas dan tumpahan susunya, saus-saus itu.... Aduuuuuuh sial betul!!

Jack tak kuasa berkata-kata lagi saking kadang gemas dengan keteledoran gadis pelayannya ini. Hhhhh...ditahan-tahannya amarah dalam hatinya. Sebab posisinya juga sedang tidak menguntungkan. Dan segenap calon sarapan yang rencananya akan masuk ke dalam perut ikut terapung dalam jacuzzi sialan itu. 

"Mmmmm maafkan saya Tuan!"

"Naik kamu Rembulan! Ambilkan saya handuk!"

Rembulan pun gemetaran. Selain menahan gigil dan lekuk tubuhnya tercetak jelas lewat seragamnya yang basah ia juga bersiap untuk diamuk (lagi). Namun sebelum itu terjadi, ia segera mengambilkan handuk untuk majikannya.

"Ini handuknya! Maafkan saya. Akan saya bereskan semuanya."

Jack naik dari tempatnya berendam dan melilitkan handuk di pinggangnya lalu pergi tanpa kata, walau sebenarnya dalam hatinya sudah muncul berderet makian. Tapi rasanya hari ini ia sangat lelah untuk marah. Lagi pula ada pemandangan indah yang walaupun terasa menyebalkan tapi lumayan juga lah buat hiburan.

Sebelum benar-benar keluar ruangan, Jack menanyakan sesuatu pada Rembulan.

"Oh ya, tunggu! Kamu bisa baca tulis kan katanya."

"Iya Tuan...." Masih bersimpuh dengan pakaian seragam maidnya yang basah kuyup, Rembulan memunguti ceceran sarapan yang jatuh di jacuzzi.

"Okey! Segeralah ganti baju. Nanti ikut saya ke kantor!" 

***




















Jackzone Production House pukul 14.00 WIB masih berada di bilangan SCBD, Jakarta Selatan, sebuah gedung perkantoran yang berada di lantai 17 tak jauh dari penthouse kesayangan, hanya berjarak beberapa kilometer saja dari sana. Rembulan mengekor Jack menuju singgasananya di ruangan paling ujung dengan disambut puluhan mata penuh tanda tanya dari karyawannya yang sebagian kepalanya menyembul diantara partisi kubikel. Batin mereka mungkin siapa yang berada di belakang Jack ini? Apa talent baru yang akan dijadikan artis untuk film yang akan rilis tahun depan? Bukankah itu sudah ditag oleh artis kesayangannya Asyifa Salju? Sebab jikalau gadis yang bersamanya sekarang menjadi pemain film rasanya kok tampangnya masih lugu betul. Kelihatan pure orang kampung dengan wajah manis alami belum ada polesan. Kulitnya jelas belum disuntik vitamin C, bibirnya tidak ada tanda-tanda tanam benang, begitu pula alisnya tebal apa adanya tanpa adanya sulam-sulaman. Hidungnya walau mungil juga tidak ada tanda difiller, pun demikian dengan giginya sama sekali tidak ada unsur veneernya seperti artis-artis jaman now. Jadi siapakah gadis itu?

Tanpa banyak cakap, Jack menyuruh Rembulan menjadi notulennya selama meeting kecil dengan beberapa kolega. Sekertarisnya yang asli bahkan dibiarkan istirahat sejenak mengerjakan pekerjaan yang lain sementara Boss dan gadis muda di sampingnya ini bergegas ke hall yang biasa dijadikan tempat meeting. 

Kurang lebih sejam-an, mereka tenggelam dalam bahasan rapat yang cukup formil. Bahkan Jack cukup bosan sampai-sampai ia menguap beberapa kali. Untung saja ia membawa Rembulan yang bisa diperintah ini itu tanpa melawan. Jadi lumayan juga memberdayakan anak ini sebagai serep asistennya. Walaupun beberapa orang koleganya tentu cukup takjub mengingat ada cewek muda umur 17 tahun yang turut hadir diantara mereka dengan mengenakan hem sederhana dan rok sepan juga sepatu beralas datar atau flat shoes. Dandanannya tidak menor, jadi enak dilihat. Senyumnya apalagi. Adem seperti air terjun Niagara. Lumayan juga ada yang bikin semangat. Begitu pikir tamu-tamu Jack yang kebanyakan sudah daddy-daddy.

Usai rapat, keduanya langsung keluar hall dan bersiap dengan agenda selanjutnya. Namun tiba-tiba Asyifa Salju sudah berdiri di hadapan mereka dan mengkode Jack bahwa ada sesuatu yang ingin dibicarakan. Akhirnya laki-laki itupun mengiyakan permintaan Asyifa dan menyuruh Rembulan menunggu sebentar entah dimana terserah senyamannya dia. 

"Waduhh, aku malah ditinggal pacaran sih gimana......hoho.." Akhirnya Rembulan pilih berdiri saja karena bingung dan tidak tahu menahu bagaimana ruangan-ruangan di kantor ini. Ya, sembari berdoa semoga saja acara pacarannya si Tuan muda berlangsung kilat. Kan kalau di publik begini bukannya Asyifa Salju terekspouse sebagai pacarnya aktor itu ya, bukan pacarnya Jack. Hemmmmb, rupanya doanya itu terkabul cepat karena tak sampai 10 menit Jack sudah datang lagi. Tanpa Asyifa. Dan bahkan raut mukanya kini berubah 180 derajat dari yang tadi. Masalah cool tetap saja cool,  jelas. Siapa juga yang bisa menampik? Namun kali ini tampang kerennya itu harus dihiasi dengan aura mendung yang cukup kentara seperti langit yang berarak di luar sana. Apa habis bertengkar ya? Begitu Rembulan bertanya-tanya dalam hati.

"Ayo kita pulang!" Ujar Jack dingin yang lantas diikuti oleh Rembulan yang mengekor di belakangnya.

***




















Sepanjang perjalanan pulang, Rembulan tidak berani bertanya apapun kepada majikannya. Sepertinya suasana hatinya sedang kacau usai bicara empat mata dengan Asyifa tadi.

"Sriiiing!" Mereka tiba di privat lift yang menuju ke penthouse di lantai puncak. Saat itu pula lah kacamata branded Emporio Armani sang Tuan Muda dipasang kembali diantara hidungnya yang mbangir. Entah mengapa setiap kali berada di lift, ia selalu mengenakan kaca mata itu. Setidaknya itu yang Rembulan perhatikan selama 7 hari bekerja bersama Jack.

"Tuk! Tuk! Tuk!" bunyi detik-detik arloji Mont Blanc Jack terasa mencekam jika diresapi baik-baik. Sebab keduanya memang membisu dalam kotak  sempit berwujud lift. 

"Jegleggg!!! Jeglegg!!!" Sesuatu kemudian terjadi. "Jegleg!! Jegleg!!" Lift mandeg sebelum sampai tujuan. Anjlok!

Jack langsung gelisah. Badannya mengkerut seperti tanda-tanda panik tapi kali ini panik yang cukup ekstrem. 

"Rembulan kau bisa mengoperasikan iphone?"

Rembulan menggeleng.

"Ah!!! Shiiiiit!" 

Jack mengumpat. Tapi percuma juga sinyal di lift tentu saja dalam posisi edge. 

"Tidak ada sinyal." Jack tiba-tiba gelisah berbeda jauh dari sifat tenangnya yang selama ini ia pertontonkan di depan khalayak. Sikap tenang yang menakutkan. Apakah dia ada phobia tertentu?

"Anda tidak apa-apa Tuan?" Rembulan tiba-tiba memberanikan diri untuk bertanya karena bulir-bulir keringat pada dahi Jack mulai bercucuran. 

"Saya claustrophobia Rembulan. Saya takut ruangan tertutup!" Jack membuka alasan mengapa ia segitu paniknya saat ini. Panik yang betul-betul seperti ketakutan akan mati. Ah pantas saja setiap kali berada di lift ia selalu template mengenakan kaca matanya.

"Tenang Tuan Jack, tenang. Aku sudah pencetkan tombol emergency. Nanti mudah-mudahan pihak apartement segera datang mengevakuasi."

Jack tertegun. Tak disangka Rembulan yang ndeso ini cukup cerdas juga di saat kondisi genting begini. Tapi sial ketakutannya akan ruangan sempit dan tertutup tak begitu saja langsung sirna.  Ia pun tak kuasa untuk mepet ke dinding. Bahkan terduduk karena dengkul tiba-tiba terasa lemas sekali.

"Tuan pegang tanganku saja. Tenang ya! Tidak akan apa-apa. Sebentar lagi keamanan akan datang!" tanpa diminta  Rembulan kemudian menggamit tangan Jack yang kini sedingin es, berkeringat.

"Tangannya sampai dingin sekali."

Rembulan membatin seperti induk kucing yang sedang menjaga anaknya.

****



















Usai insiden lift yang memakan waktu hampir 15 menit lamanya sampai akhirnya pihak keamanan datang mengevakuasi, sesampainya di penthouse, Jack dan Rembulan langsung sibuk dengan kegiatan masing-masing. Jack  mengunci diri di kamar. Sementara Rembulan kembali beraktivitas seperti biasa. Tapi tentu saja ia agak khawatir dengan perangai Jack yang berubah dari saat pertama kali berangkat ke kantor. Terakhir mengamatinya memang wajahnya agak sedikit murung. Tidak segarang biasanya. Kalau biasanya bagaikan macan, sekarang jadi kayak anak kucing yang sedang ngambek. 

Tapi apapun yang terjadi tentu saja itu bukan urusan Rembulan. Gadis itupun berusaha membuang jauh-jauh pikirannya sambil menunggu Hermansyah kembali dari aktivitas di luar.

****




















Sudah malam.

Sudah pukul 21.00 WIB.

Dan kamar Jack masih belum ada tanda-tanda dibuka. Dikunci rapat dari dalam. Menyebabkan Rembulan penuh dengan tanda tanya di dalam kepalanya. Sebab sedari siang ia perhatikan majikannya ini belum makan. Sarapan pun sepertinya skip saja karena ada insident jacuzzi. Makanya ia cukup bingung juga ada apa sebenarnya.

Dengan berinisiatif sendiri, akhirnya ia siapkan saja makan malam ke atas nampan untuk ia antarkan ke kamar Tuan Mudanya itu. Ya kan kalau di dalam sekarat malah bahaya. Tidak lucu kan kalau besokannya tertulis di headline koran : "Ditemukan orang kaya yang mati karena kelaparan." Makanya Rembulan nekad saja mengetuk pintu kamar Jack.

"Tok! Tok! Tok!" 

"Permisi Tuan Muda! Apa saya boleh masuk!"

Tidak ada jawaban.

"Maaf Tuan tapi seharian Tuan belum makan, saya hanya ingin mengantarkan makan malam untuk Anda." Rembulan masih berusaha.

Kali ini dicobanya menekan kenop pintunya. Dan yak! Ternyata tidak dikunci. Ia pun tanpa permisi masuk saja, peduli setan bakal dimarahi. Toh ia cuma ingin mengantarkan makanan supaya majikannya tidak sakit.

***



















Suasana kamar Tuan Muda Jack tampak amburadul. Selimutnya acak-acakan dan bantal gulingnya tidak pada tempatnya. Malah bertebaran di lantai. Sementara itu gorden di pintu sliding kaca setinggi 4 meter yang menghadap ke luar tampak berkibar-kibar. Ah, ternyata orangnya sedang ada di sana rupanya. Padahal langit sedang mendung-mendungnya. Siap menumpahkan tangis dari angkasa raya.

"Tuan Muda, saya bawakan makan malam untuk Anda...." Belum sempat Rembulan merampungkan kalimatnya ia sudah syock duluan melihat penampilan majikannya yang tengah menenggak berliter-liter Chivas Regal sampai teler. Jalannya sempoyongan sambil melantur kemana-mana. Begitu melihat Rembulan datang, matanya yang merah langsung blingsatan. "Haaaa akhirnya kamu datang...Asyifa perempuan sundal! Kemari brengsek! Mari kita bersenang-senang!" 

Rembulan kaget. Langkah kakinya reflek mundur dan ingin keluar dari situ. Sekarang juga. 

"Jangan lari kamu Asyifa!!" 

Rembulan siap-siap berlari, tapi ditahan oleh Jack.

"Kemari sayangku! Jangan campakan orang yang sudah membayar mahal untuk peran-peranmu, Sundal. Kamu tidak tahu siapa saya!  Saya ini Boss kamu! Kalau kamu tidak saya kasih duit juga tidak bakalan kamu setenar sekarang. Sekarang mau sok-sokan mencampakan saya. Balik lagi ke pacar artismu itu. Artis sampah. Hahhh. Kemari kamuuu!!!" Jack masih melantur. Dan kini ia mendekat ke arah Rembulan. Dipepetnya badannya yang jauh lebih kecil darinya ke muka dinding kaca sampai tergencet. Kedua tangannya dipeganginya dengan kuat. Korbannya pun hanya bisa meronta-ronta ketakutan.

"Ayo kita bersenang-senang Asyifa!!!"

 Nafas Jack terdengar memburu.

"Tuan Jack!!! Tuan sadar!!! Saya ini Rembulan! Bukan Asyifa!!!"

"Tuan!!! Jangan Tuan!!! Tidaaaakk! Saya Rembulan Tuan, bukan Asyifa!"

Rembulan berusaha menjelaskan namun air matanya tahu-tahu banjir.

"Ah persetan!!!! Saya tidak peduli. Mau kamu Asyifa kek, mau kamu Rembulan kek, ayo sekarang kita bersenang-senang sampai pagi! Temani saya sampai pagi!! Mengerti" Muka Tuan Muda itu tampak merah karena teler, menunduk lalu hampir menyentuh leher Rembulan.

"Hentikan Tuan! Sadar!!! Saya Rembulan!"

"Diam kamu!"

Dicengkeramnya tangan Rembulan dengan kuat. Dan Rembulan hanya bisa memalingkan wajahnya saat muka Tuan Mudanya mendekat sekian inchi saja darinya, menelusuri area lehernya ke bawah yang putih mulus.

"Diam! Jangan berisik!"

Tapi saat cengkeraman tangannya mulai mengendur, hal tersebut langsung digunakan Rembulan untuk menamparnya. "PLAKKKKK!!!!" 

Jack pun mengaduh kesakitan sambil menyentuh pipinya. Gila!! Tamparan tangan gadis mungil itu kuat juga. Ia menjadi berang. "Dasar cewek sundal!!! Kesini kamu! Kita bersenang-senang sekarang!" 

Tapi terlambat, Rembulan sudah lari dan meninggalkan ruangan sambil menangis. Tak sempat berkemas apapun, bahkan hanya bertelanjang kaki ia putuskan untuk kabur. 

***


















"Jegerrrrr jegerrr jegerrrrr!!!! Gludug!!! Gludug!! Gludug!!!" Bunyi guntur menyalak di angkasa seperti anjing herder yang kesetanan. Hujan deras pun tak terelakkan lagi mengguyur basah kota ini. Mengantarkan derap langkah kaki Rembulan yang susah payah melewati genangan air dari tempat-tempat persembunyian hewan-hewan pengerat yang menghuni selokan mampet.

"Bressssh!!Breshh!!! Bresshh!!!" Semakin bertambah deras. Semakin hujan angin. "Syiiiiiiutttt! Weeeeeesssss!!! Gludug! Gludug!! Gludug!!! Jegerrrrrr!!!" 

Tapi tubuh kecil dengan seragam berenda hitam putih yang kuyup betul itu tetap terus berlari menerjang angin. Kedinginan dan menggigil melewati mobil yang lalu lalang. Melewati pendar-pendar lampunya yang kuning blur membuat silau. Bahkan sebuah BMW seri i8 yang dikendarai Hermansyah sebenarnya bersisihan dengan gadis itu. Sayangnya pria itu belum begitu 'ngeh' karena hujan yang menimpa kaca depan mobilnya cukup mengaburkan pandangan. Ia hanya sepintasan saja melihat ada sosok lewat tapi tidak begitu jelas mukanya. 

"Brrrrbbb.....bagaimana caranya aku bisa pulang sudah malam begini? Dingin." Rembulan berkata dalam hati, sebab bibirnya masih bergetar menahan tangis yang bercampur hujan.

"Tiiiiien tiiiieeennn!!!!!" Sebuah mobil pick up tiba-tiba mengerem mendadak karena pengemudinya seperti melihat sosok perempuan muda yang berlari menembus hujan dengan penampilan seperti habis dijahatin orang. Karena jatuh kasihan dihentikannya kemudian aktivitas menyetirnya.

Pemuda 27 tahun itupun keluar sejenak menerjang hujan dan mendekati perempuan yang ternyata...adalah........
"Luhrembulaaaan???!"

"Mas.........tolong aku Mas......"

"Kenapa bisa jadi begini Bul...Bulan....Re...mbulan?"

"Bruuuuggh!"

Rembulan jatuh tak sadarkan diri di dalam pelukan Mas Agus. Tak perlu menunggu lama, laki-laki itupun segera berinisiatif untuk menggendongnya menuju pick up. Diletakkannya satu lengannya mengelilingi punggung Rembulan hingga menelusuri ketiak, sedangkan lengan lainnya di belakang lututnya yang ditekuk. Lalu diangkatnya gadis itu untuk segera direbahkan pada jok depan bersisihan dengan kursi driver alias kursinya sendiri. 

"Kenapa bisa begini Nduk?"
batinnya penuh tanda tanya sambil mengamati pakaian rembulan yang basah sebadan-badan.

Tapi karena hari sudah larut, tentu yang ada dalam pikirannya saat ini adalah lekas memberikan tempat ternyaman untuknya. Mengembalikan ke lapak Abangnya di Pasar Induk Kramat Djati tentu tidak mungkin karena sudah tutup. Jadi sebaiknya...  

"Bremmmm!!!" mesin pick up itu kemudian dinyalakan.

Dan kali ini tujuannya adalah membawa pulang gadis itu ke rumahnya.

Bersambung....








Note : 

Cerbung kolaborasi dengan temen-temen eks blogger MWB dengan cerita beda-beda di masing-masing blognya dengan genre khas masing-masing (kolaborasinya sama Mas Agus, Mas Hermansyah, Mas Khanif, dan Kang Satria....ntar link idup nyusul di episode paling akhir :D)

Fiktif,  untuk sarana latihan menulis dan hiburan (monmaklum kalau banyak part suweenya cz penulisnya juga rada suwee..tapi suwee suwee manis hahah....#mbel). 

Soundtrack part 4 biar nulisnya semangat : 

Home (Switchfoot), I wanna be with you (Mandy Moore), Lovesick Girl (Blackpink), Dissapear (Hoobastank), Kiss and Make Up (Dua Lipa feat Blackpink), Boy with luv (BTS feat Helsey), Dance Again (J-lo feat Pitbul), Pelangi (Boomerang), Hitam (Padi) silakan dengarkan dari headset masing-masing, wkwkwk  >_________<












171 komentar:

  1. Nitip nomor dulu mbul ntar bacanya...Biasa mau tahun baru si Anu minta dikelonin terus..🀣🀣

    BalasHapus
    Balasan
    1. siap mangga kang, selamat berlibur dengan mba vina n keluarge, tapi bener ye ntar dibaceee...aku sudah ngetik panjang loh ini #e sueee pake ngancem gw hahahah...guyon kang...sip sip πŸ˜‚πŸ€£

      Hapus
    2. gw juga titip nomer :D

      Hapus
    3. nomer apaan sik πŸ˜‚πŸ€£

      bukan nomer togel kaaaand mas khanif

      δΈ‰δΈ‰α••( ᐛ )α•—

      Hapus
    4. jhaha nomer togel ?.. gw jadi inget waktu kerja di jakarta, temen-temen gw tiap hari kerjaanya ngeramal mimpi di kait-kaikan dengan nomer buat pasang nomer, selama sebulan kerja disana gak ada satupun yang dapet, kasian amat udah habis duit berapa ratus ribu :D

      Hapus
    5. ow ya amplop mas khanif tapi ga ikutan pasang nomer kan? ntar dinyanyiin ama bang haji rhoma loh πŸ˜†πŸ˜‚

      klo ramal ramal kartu aku malah tahune tarot...tapi cuma tahu karena liat di tipi hihihi, soalnya aku ga percaya ramalan, takut yang diramal yang sewem sewemmmm wekekekekk

      Hapus
    6. Khanif malah bandarnya mbak.🀣

      Jadi ingat jaman dulu, ada porkas sama sdsb, ada tetangga saya yang kerjaannya cuma ngitung nomor saja sampai barang di rumah habis terjual, gara gara gila nomor.

      Menang sekali tapi habis itu bangkrut.🀣

      Hapus
    7. haiiiishhh bukan nita yang bilang hahhahha

      ya makanya pada jangan judiiii judiiii...ntar tetiba ada bunyi gitar jreng jreng jreng 🎸🎸🎸 dari so netaaaaaa

      πŸ‘( 'Ο‰' )πŸ‘( 'Ο‰' )

      Hapus
    8. gw gak pernah kali ikutan, apalagi jadi bandar.. kalo gw pikir-pikir banyak ruginya kalo gak dapet, kalo dapet sih ya untunv hahaha :D

      Hapus
    9. hahhaha masuk akal sih ya mas πŸ˜†πŸ˜‚πŸ€£

      Hapus
  2. Kirain aku waktu luhrembulan mau di grepe grepe sama Jaey, mas Agus datang sambil berteriak." Pahlawan bertopeng datang hohoho." Terus dengan jurus Wiro sableng menghajar Jaey zona itu sampai teler.🀣

    Artis Asyifa salju itu siapa mbak, baru kali ini dengar namanya, jangan-jangan itu adalah satria salju habis operasi agar bisa dekat dengan Jaey Gupta.😱

    Kira kira rembulan mau dibawa Agus kemana ya, apakah ke rumahnya. Terus kira kira apakah yang akan dilakukan Agus padanya? Oh, jangan-jangan seperti Jaey juga, tapi sepertinya... bersambung.πŸ˜‚

    Keren mbak cerpennya, alur nya mengalir lancar, beda dengan cerbung pertama yang aku bingung ngikutin jalan ceritanya, kalo ini mudah dicerna oleh pembaca awam seperti ku.πŸ˜„

    BalasHapus
    Balasan
    1. wakakkakak...caranya mas agus masuk ke apartemennya gimana, kan kudu punya kartu πŸ˜†
      makanya paling masuk akal Luhrembulannya keluar dulu baru ketemu mas agusnya wkwkwkkw...

      eh bisa jadi ya...bisa jadi ntu satria salju weleh weleh yang abis oplas #ooopppppppssss awas mas agus bentar lagi kita pasti dikatain sueee ama yang bersangkutan, ntar tungguin aja paling ntar lagi bilang sue diikuti emot miring dia hahhahaha πŸ˜‚πŸ€£

      hayoooloh..diapain ya ntar tuh si luhrembulan jeng jeng jeng...mari kita tunggu di part 5 wkwkwkkwkw

      makasih mas agus, ini semua tak lepas dari belajarku sama cerpen cerpennya mas hehehe πŸ˜„πŸ˜ƒ☺

      (*・Ο‰・οΎ‰οΎ‰οΎž☆゚゚

      Hapus
    2. Pahlawan bertopeng mah ngga perlu kartu, cukup mengeluarkan sinar laser dari matanya aja ia bisa meleleh pintu besi termasuk melelahkan hati luhrembulan.πŸ˜‚

      Kira kira paling mbul diajak makan siomay lagi plus ngobrol dibawah sinar rembulan dengan suara jangkrik krik krik krik sampai ada suara "jangkrik boss.”

      Waduh, aku sekarang malah perlu belajar bikin cerpen sama mbak mbul. Cuzzz ah, mau nulis cerpen baru lagi.πŸ˜„

      Hapus
    3. @Agus... Yang brnar bukan Asyipa Salju tapi Asyipa Hermansyah...Beehaaahaaa suuueeee..🀣🀣🀣

      Hapus
    4. kang satria baja item : yang empunya nama hermansyah blom muncul hihi

      tapi tetep ya ujung ujungnya kata-kata sakti su to the weee..suweeee wakakak

      πŸ˜‚πŸ€£

      α••( ՞ α—œ ՞ )α•—

      Hapus
    5. mas agus : o iya yaaakkk...tapi kan abis dibelah pake sinar laser ntar liftnya ga bisa naik dong mas πŸ˜†πŸ˜‚? tapi ga pa pa lah meluluhkan hati rembulannya wakakkaka...caranya bagaimana, kasi ide dong πŸ˜†

      uda bener luhrembulannya yang keluar n ujan ujanan biar pas ketemu mas a nya itu terasa dramatis n romantis ala ala drakor hwahahahha #biar sesuai ama genre romansa mas...

      wah leh uga tuh mas idenya buat part 5 hihi, biar syahduan dikit jadi rembulan mandangin rembulannya beneran ditambah hiasan jangkrik bareng mas agus ya, duduk bareng gitu πŸ˜πŸ˜„☺

      ah ga lah nita mah belom seberapa dibanding cerpennya mas agus hahahhaahah, ayo mas semangat bikin cerpen baru lagi

      ❀(*´▽`*)❀

      πŸ’ͺ('Ο‰'πŸ’ͺ)

      Hapus
    6. Bukan Asyifa Hermansyah tapi Ashanty Hermansyah.. wkwkwk.. kaburrrrrrrrr

      Hapus
    7. tapi aku yakin yang komen ini bukan mas anang...hihihi...

      πŸ˜‚πŸ€£

      Hapus
    8. Kayaknya sih kembarannya.. wkwkwk

      Hapus
    9. mas her : bisa ikut acara aspal dong mas hihi...itu acara tipi jaman dulu yang bahas mirip mirip artis πŸ˜‚πŸ€£

      Hapus
    10. nama belakangnya mas her doang yang sama ya mas agus dengan mas anangnya πŸ˜†πŸ˜‚πŸ€£

      Hapus
    11. yes or no hayooo?

      sapa yang mau yes...sapa yang mau no?

      πŸ˜‚πŸ€£πŸ€£πŸ€£

      Hapus
    12. tadi nyinggung2 mas anang, kalo di indobesia idol dia kan gitu, kalo aku sih yes :D

      Hapus
    13. selamat kamu lolos ke babak selanjutnya :XD :XD

      #langsung ngantongin tiket emas

      πŸ‘( 'Ο‰' )πŸ‘( 'Ο‰' )

      Hapus
  3. galak amat si jay gupta marahin mbak mbul, jadi kasian cup cup jangan nangis tar di beliin balon ma permen relaxa sama kak agus :D.. jay kalo marah lagi masukin aja mbak dalam lemari, biar kapok hahaha

    disana sini ternyata gw masih penghayal ya, oh asmirandah.. aku padamu :D

    cerpen ini udah kayak drama korea aja mbak, makin enak mengikuti perjalananya si mbul, sampai episode 10++ pun siap mengikuti :D.. btw mas agus umurnya 27 tow, aslinya kan dia udah 30++ :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salah nif aslinya sudah 72 yang benar itu..🀣🀣🀣🀣

      Hapus
    2. mas khanif : kan biar kayak modelan karakter lee young jaey ala drakor full house..sebenernya die cocokan jadi lee young jae ya ketimbang orang indiahe hahahhahaha suee

      sini sini mas khanif mana balon sama permen relaxanya, mauuuuuu hahaha

      🍬🍬🍬🎈🎈🎈


      iya sengaja naut nautin ama ciri khas tokoh tokoh di blognya masing masing yang mas khanif suka asmirandah biar ada relate relatenya gitu hihi

      iya dibikin umur segituan pada hihi, biar kesannya pas..eh pas ga sih? ahahhahah...dipas pasin aja lah ya..

      ((o(*>Ο‰<*)o))

      Hapus
    3. kang satria : huuusssshh parah kang sat, ntar dibales tuh ntar lagi hihi πŸ˜‚πŸ€£

      Hapus
    4. balom ma permenya minta sama kak agus tu, kan dia yang bopong kamu :D..

      iya si, kalo gw perhatiin jalan ceritanya udah kayak drama korea, dimana cwe desa biasa kenal cwo-cwo ganteng kaya raya :D

      oh mas agus malah udah 72 tow, udah punya cucu berapa kira-kira heheheh :D

      Hapus
    5. bwahhahaa...

      ku mau komen apaan ya ? πŸ˜†☺😝

      ntar kapan kapan mas khanif mau adegan sweet sweet juga ga...(biar takumpulin dulu ide ide sambil tapa geni buat nyiapin judul cerbung atau cerpen selanjutnya hahhaha, yakalau mau tapi hahahhahaha...sueee sok sokan mau jadi blogger cerpen ugha gw hihi)

      iya ya, biasa mas...biar ada gregetnya gitu, hihi tapi makasih loh karena udah siap ditungguin partnya bahkan nyampe episode 10++...#kuterharuuuuw

      #tissue mana tissue

      (。>γ……<。)πŸ’¦…

      γƒΎ(^-^)γƒŽ

      Hapus
    6. nih tisu mbak, hargane lima ribua rupiah, ni juga ada kacang asin, kacang garing, kacang atom, ayok siapa yg mau.. mbak mbul nita nanti yang bayarin tenang aja, huahaha

      Hapus
    7. #lah dagang asongan dong mas khanif

      klo di ep tipi ep tipi biasanya kang dagang asongannya cakep ye ahhahahha

      Hapus
  4. Akhirnya berkat pertolongan Hermansyah betet, Rembulanpun terbebas dari kegelapan gedung apartement yang ia tempati kala memasak mie nyemek.🀣 🀣 Setelah lampu terang Rembulanpun sempat tercengang dan loading beberapa menit memandang pria yang pernah ia jumpai dimini market kala membeli mie nyemek.😁😁 Karena dari aroma wangi parfum cap cabai yang ia pakai.🀣 🀣 Rembulanpun tak menyangka kalau ternyata Hermansyah betet adalah seorang biro konsultannya Jaey betet pemilik Jaeyzone production.🀣 🀣 Meski akhirnya Hermansyah betet tahu kehadiran Rembulan ditempat itu karena sebuah insiden tabarakan antara mobil Jaey betet dan motor si khanif suueee kala sedang membawa Rembulan.

    Akhirnya Hermansyah betet pun akrab dengan Rembulan, Dan Rembulanpun tak menyangka selain mantan dukun, Ternyata Hermansyah betet juga mantan kang masak sewaktu di India sana.🀣 🀣 karena bisa membaca perasaan Rembulan yang sedang lapar. Meski pada akhirnya Jaey betet pun datang dan ngomel2 melihat panci warisan dari bombay nya gosong, Ia pun murka dan menyita hp Rembulan agar tahu etika tata cara masak. Meski sedikit ada problem akhirnya Hermansyah betet pun bisa menenangkan keadaan itu.

    Sampai akhirnya pagi menjelang Jaey betetpun yang masih ileran minta dibuatkan sarapan oleh Rembulan dari minta roti sambel campur ikan peda serta susu cap kuda.🀣 🀣 Dan semuanya harus diantar ketempat ia mandi di empang kamarnya.🀣 🀣 🀣 Meski mengecewakan tetapi semua itu tidak membuat Jaey betet murka..😳😳 Karena Rembulan terpleset kena lumpur empang tempat Jaey ngebak yang persis kerbau.🀣 🀣 πŸ€ͺ Akhirnya Rembulan disuruh jadi asisten Jaey betet kekantornya dikawasan Bojong Gede....Ehh salah Jakarta Selatan.🀣 🀣

    Setelah rapat dikantor akhirnya Jaey betet murka lagi karena kekasih idamannya Maimunah minta putus karena ingin fokus berkarier dan ngeblog di MWB. Bagai disambar petir Jaey betet pun bermuram durja karena Maimunah minta mengakhirinya hubungannya. Akhirnya iapun pulang ke apartementnya dan ngambek kaya sienday eehh salah si Anu..🀣 🀣 🀣 🀣 Karena Frustokat dari keadaan lif mati hingga terbayang2 wajah Maimunah dalam ingatan Jaey betet. Iapun mengurung diri dalam kamar sambil mabuk Limun cap kecap yang ia beli di warung mpok mbul...Dan kala Rembulan menawarkan makan untuknya, Jaey betet mulai ngaco akibat terlalu banyak minum Limun cap kecap.🀣 🀣. Iapun mengira Rembulan adalah Maimunah, Karena sange iapun terus menarik paksa Rembulan untuk nganu....Beruntung Rembulan gesit dan bisa melarikan diri keluar dari apartement menuju jalan raya yang sedang hujan deras...Dan karena itu pula akhirnya Rembulan bisa bertemu si A yang suuueee kala sedang membawa mobil pick-up sehabis ngangkut puing dipasar.🀣 🀣 🀣 🀣 Bagaimanakah kisah selanjutnya kita tunggu saja setelah iklan bakpau isi teri jengki berikut ini...🀣 πŸ€£πŸ˜‹

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seru juga ceritanya...Seharusnya pas adegan Rembulan kepleset dikamar mandi ada terusannya misalnya Jaey betet ngamuk2.... Atau apa..😊😊

      Atau nggak tanpa ada adegan kepleset...Misalnya Jaey Betet salut akan jamuan sarapan yang diberikan oleh Rembulan dengan cepat...Karena itu pula akhirnya Rembulan diajak Jaey betet menemaninya kekantornya..😊😊

      Tapi nggak apa2 sih mbul karena seru ceritanya.😊😊

      Hapus
    2. bwahahhahahahha, beneran deh kalau kang satria uda komen aku tuh langsung siap siap olahraga muka saking abis itu terngakak sengakak ngakaknya karena bener bener penjabaran yang suweeekk tapi sekaligus menandakan beneran baca, nuhunnn kang sat #sungkem hahahhahahah...

      tapi ya itu ada istilah istilah suweeek yang bikin ku ngikik ngukuk ngakak ampe keluar aer mata saking koplaknya hahahhahaa

      parfum cap cabai
      limun kecap
      ngebak kayak kerbau
      empang
      panci warisan dari bombay..
      maimunah
      bakpao teri jengki
      dan tak lupa suweeee sebagai
      pemanisnya behahhahahah

      oh em G....ya rob...hahhahahahah

      eh eh...si tokoh hermansyahnya ga betet india kang lebih ke kayak orang koreyaaaa wkwkwkwkw...itu yang biasa tampil di pilm pilm gangster xixiixi

      tapi beneran aku terhibur nih abis baca komen kang sat..πŸ˜†πŸ˜‚πŸ€£πŸ€£

      ꉂ(ΛŠα—œΛ‹*)

      Hapus
    3. ya Alloh terharu dibilang ceritanya seru ma mastah ahhahaha #sungkem maning ah hahahaha...nuhun kang, ini berkat pati geni 7 hari 7 malem kang makanya kemaren ga nongol nongol hahhahaa...ya ada sue sue dikitnya sebagai pemanis lah ya hihihi

      makasih kang satria, jadi semangat nerusin lanjutannya πŸ˜„☺😊

      (´∧Ο‰∧`*)

      Hapus
    4. sudah kuganti namanya jadi jack ☺😊

      Hapus
  5. Aku tadi iseng-iseng coba ngitung berapa kata yang ditulis, ternyata lebih dari 7000 kata, hampir 8000 malah. Mengalahkan cerpen kang satria yang dulu cuma 6500 kata. Kalo aku bikin 2000an kata udah nyerah, mendingan dibuat untuk part selanjutnya. Biar tambah banyak, tambah pageview juga.πŸ˜‚

    Pantesan setahun baru kelar nulisnya.πŸ˜„

    BalasHapus
    Balasan
    1. cara ngitungnya lewat apa kakak? πŸ˜†

      di ms word kah? aku mah uda mbatin nyampe beribu ribu kata amas AGus hahahhahahhaa, ya soalnya kalau nulis cerpen ngedadak abis bikin range rangean tau tau lancar aja ampe kaya uler kadut panjangnya wakakakaa 🀣

      kalau aku mau aku pecah part partnya nanggung mas, soalnya jadi kepisah pas bagian syahdu2nya hahhahahaha πŸ˜„πŸ˜‚

      Hapus
    2. Pakai situs online wordcounter mbak. Aku kalo ngitung disitu, tinggal copas semua kata lalu nongol jumlah katanya.πŸ˜„πŸ˜ƒ

      Hapus
    3. kalo di android ada tu aplikasi note everyting, udah otomatis ngitung kata :D, gw biasanya pake aplikasi itu buat nulis di blog, setelah selese baru di pindahin ke draft blog :D

      Hapus
    4. mas agus : ahhh makasih mas ...jadi tau ada apps onlinenyaπŸ˜ƒπŸ˜„, ntar kapan kapan aku mau cobain deh biar tau kalau aku nulis cerpen n cerbung nyampe berapa kata wihihi

      (❁´◡`❁)

      Hapus
    5. mas khanif : oh asyiiikk dapat rekomendasi aps note lagi...kalau aku biasanya ngedraft post blognya (termasuk pas bikin cerpen atau cerbung) di aps note colour note yang syimbolnya gambar kertas kuning mas ...πŸ˜„☺

      (´∧Ο‰∧`*)

      Hapus
    6. Pantesan aja panjang banget ternyata hampir 8000 kata. Part 5 bikin sampai 10000 kata, mbak..hihihi

      Hapus
    7. oh my god....nanti kepalaku berasap piye mas her?

      ΰΈ…(ΰΉ‘⊙Π΄⊙ΰΉ‘)ΰΈ…!!

      πŸ˜‚πŸ€£

      Hapus
    8. Saya rasa ngga sampai berasap dari 8000 ke 10000 tinggal nambahin 2000 hihihi

      Hapus
    9. Kalo berasap berarti lagi bakar sate.

      Warbiasayah, nulis cerpen bisa sambil bakar bakaran.🀣

      Hapus
    10. ya Alloh tak terbayang ku mabok huruf ntar mas her, ga mawi num chivas regal uda mabok duluan ntar

      ((((;゜Π”゜)))

      Hapus
    11. mas agus : malah jadi bisa dapat uwit juga ya mas, satenya dijual sekalian hihi...

      tapi yang beli uke... uketi

      (@・Π”・@)??

      πŸ˜‚πŸ€£

      Hapus
    12. Malah bagus kalau mabuk huruf jadi bisa lancar nulisnya..hihihi

      Hapus
    13. pengennya gitu kalau nulis cerpen selancar mas agus n mas herman

      (❁´◡`❁)

      Hapus
    14. Saya malah ngga lancar nulis cerpen, bikin cerpen satu aja sebulan baru kelar..(menyedihkan)

      Hapus
    15. ah boong..hihi πŸ™„πŸ€­

      Hapus
    16. Sama, aku juga lagi ngga ada ide, tidak bisa nulis cerpen.πŸ˜‚

      Hapus
    17. heuuuuu mastah mastah cerpen aku ngapa pada merendah gini siyyy hahahhahaha

      mas agus juga lagi ngikut2 wkwkkwk

      Hapus
  6. woo drama cinta di tengah hujan, kayak pelem pelem korea yak

    kalo denger nama rembulan suka teringat sama lagu jadul, tapi lupa penyanyi nya haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. "Kalau bulan bisa ngomong....pasti dia tak akan boong..."

      lagu doel sumbang apa ya

      apa malah lirik lagu dangdut, ku malah kepikiran lagu evi tamala #wakakakkak

      Hapus
    2. oh aku ingat, rembulan malam (evi tamala), rembulan bersinar lagi (mansyur s), senandung rembulan (imam s arifin) πŸ˜„πŸ˜‚πŸ€£

      Hapus
    3. Rembulan tenang dan bisu, Anak bangsa berjalan... (Untuk Yani - Iwan Fals)

      Hapus
    4. woah aku belum pernah dengar tuh lagu bang iwan fals yang itu πŸ˜±πŸ˜³πŸ˜‚πŸ€£

      Hapus
    5. Jarang yang tau lagu itu kalau bukan penggemarnya Iwan, lagu tahun 1991.

      Hapus
    6. aku baru lahir tahun segituan ahhahahaha...masih beby aku hhahaha

      Hapus
    7. Oh mbak mbul lahir tahun 1991, kirain aku 1919.😱

      Hapus
    8. bwahahhahah sebelum masehi dong amas agus πŸ˜‚πŸ€£πŸ€£πŸ€£

      Hapus
    9. Zaman Fir'Aun yee mbul..🀣🀣🀣

      Hapus
    10. zaman walandi kang...atau zaman londo atau zaman belanda wakakkakakak sueeeeee πŸ˜‚πŸ€£πŸ€£πŸ€£

      Hapus
    11. Jaman si Pitung dong..hihihi

      Hapus
    12. jaman kumpeniii..ntar mbul yang jadi nonik nonik belandanya πŸ˜‚πŸ€£πŸ€£

      Hapus
    13. Duduk di pojokan.. (ngebayangin mbak Nita jadi noni Belanda)

      Hapus
    14. Oh kirain mbul jadi nyai Dasima.πŸ˜†

      Hapus
    15. rembulan malam (evi tamala), rembulan bersinar lagi (mansyur s),

      nah ini yang bener wkwkwk

      Hapus
    16. mas herman : nonik belandanya wajah asia tapie hahahhah

      Hapus
    17. mas agus : nyai dasima whoaaa..jadi berasa pakai kebaya hihi 😌😁

      Hapus
    18. mas intan : nah dah ingat kan sekarang...πŸ˜†πŸ˜‚πŸ€£

      Hapus
    19. terima kasih mba mbu l telah mengingatkan saya jiwa yang sepi ini, butuh re mbul an di malam hari huhuhu

      Hapus
    20. πŸ™„πŸ™„πŸ˜³πŸ˜³πŸ˜³πŸ˜Š

      Hapus
  7. Wah keren cerpennya.. Sudah part 4 ternyata. Mesti cari waktu buat melahap kisahnya ini...

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih dah mampir bang ancis, yup silakan monggo bang dikepoin dulu dari part 1 nya biar urut πŸ˜ŠπŸ˜„

      Hapus
    2. dikira makanan dilahap toh bang, kenapa digerayangi aja sih eh

      Hapus
    3. ng..mas intan mau menggerayangi bang ancis? πŸ˜±πŸ˜±πŸ˜³πŸ˜³πŸ˜±πŸ˜±πŸ˜±πŸ˜‚πŸ€£

      Hapus
  8. Asyik ada lanjutannya.. Request jangan cepet2 tamatin mbak, ini seru, kalah deh script FTVπŸ˜πŸ‘πŸ»

    Hati saya Jd terbelah antara mas A atau mas Hermansyah yang perhatian sama Mbul dan jago masak pula.

    Ah, jangan2 bisa Jaey malah ikutan naksir Mbul jg setelah sadar akan kesalahannya..

    Makin bingung pilih yang mana..

    Btw, Jd penasaran sama panci yg digosongin Mbul, brb mau Googling dulu

    BalasHapus
    Balasan
    1. whoaaaa....mamacih mba annisa kujadi semangadddds 45 86 ngerjain ni cerbung kalau masih ada yang baca hihi....kasih kiss dulu...muaaaach 😚😘😘

      (❁´◡`❁)

      (((o(♡´▽`♡)o)))


      #mendadak ku jadi galaw mau nglanjut sampai episode berapa ya hihihi

      nah kan membingungkan karena tokoh cowoknya tampan tampan yak mba muahahhahahaha

      buru buru check katalog shopiiii hihihi

      Hapus
  9. Bukan karena bihunnya kurang makan.. wkwkwk.. akhirnya jadi juga mienya diganti bihun walau bukan bihun nyemek tapi bihun goreng, beda tipis lah..hihihi

    Gaya masak si Hermansyah kayak tukang nasi goreng keliling, sreeng..tek.. tek.. tek sreeeng..hiihi

    Di hari pertama kerja si Luhrembulan jadi pelampiasan amarah si jaey Gupta yang masih kesal.

    Ah, makan bihun goreng di atas atapnya kurang syahdu ngga ada lilinnya.. wkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah kan kepake juga kan kalimat sakti ini hahhahaha...πŸ˜‚πŸ€£

      bihun nyemek kayaknya horror, jadi bihun goreng aja mas herman, yang uda terjamin rasanya wkwkwk

      lha aslinya bisa masak apa ga? kok meragukan ya, jangan jangan ga bisa masak hahahhahahhaha

      (。>‿‿<。 )

      iya jaey guptanya sedingin es ceritanya di sini hahhahaha 😱😱

      kalau pake acara nyalain lilin bukan pas curcol abis dimarahi gini deh ngepasnya hahahhahahhaha

      πŸ˜‚πŸ€£

      α••( ᐛ )α•—

      Hapus
    2. Ngga nyangka kalimat itu bisa kepakai mungkin karena gara-gara tragedi masak air sampai hangus kalimat itu jadi nongol..hihihi

      Padahal si Hermansyah jago banget bikin bihun nyemek.. hahaha

      Aslinya ngga bisa masak cuma bisa masak nasi goreng itu juga bumbunya bumbu beli jadi bumbu racik nasi goreng.. hihihi

      Tapi bagus si Jaey dibuat sedingin es jadi banyak tokoh dengan karakter yang berbeda-beda.

      Bener juga berarti bakal ada adegan syahdu yang lain nih..asiikkkk

      Hapus
    3. Ada mas, tunggu saja episode selanjutnya hanya di sini, makanya jangan ganti channel ya.🀣

      Hapus
    4. mas herman : oh ya kah? o tapi masak makanan tertentu aja ya mas herman?

      ψ(ΰΉ‘'Ϊ‘'ΰΉ‘)ψ, nasgor? wow aku jadi kebayang..pasti yang dipakein daon mengkudu 🌿

      iya kan, paling mas jaey uda silent readeran wkwkkw...nyoba dimirip miripin ntah sama ga ama karakter aslinya, cuma ngira ngira aja dari model cerbungnya doi model dialeknya

      hu um...ada ntar adegan syahdunya agak banyak kalau di cerbungnya si nita embul wkwkkwkw..

      sekalian klo ngefiksi mah totalitas tanpa bataaas eaaa hahahhaha

      Hapus
    5. mas agus : hihi..hu um mas, nah asyique kan dihimbau mas agus suruh pantengin channel nita ahahhaha

      #channel blog πŸ˜†πŸ˜„πŸ˜ bukan channel tipi hihi

      Hapus
    6. Gw cari chanelnya di TV gw nggak nemu2 yaa malah semutnya semua...UHF apa VHF chanelnya mbul..🀣🀣🀣

      Hapus
    7. antena nya antena zaman zebot dong kang
      😱😱

      masa uhf wkwkwk πŸ˜‚πŸ€£πŸ€£

      Hapus
    8. Kayaknya nasi goreng daun mengkudu bakalan masuk di part 5 nih?

      Aslinya kang Jaey itu orangnya humoris dan santai.

      Asik nih bakalan banyak adegan syahdunya padahal saya sendiri ngga tau syahdu itu yang seperti apa..hihihi

      Oke akan dipantengin terus channel-nya.

      Hapus
    9. masukin ga ya ? πŸ™„πŸ™„

      oiya sih kelihatan kalau komen juga lucu humoris gitu ya orangnya xixixi

      iya dong adegan syahdu bertabur di cerbung si nita, nulis fiksi mah dipuas puasken wae lah ya hahahha..fiksi ini hahhahahah...kudu total dong

      syahdu apaa ya...ku juga bingung sih ngedeskripsiinnya apa
      mungkin yang agak bikjn dag dig dug sernya kali ya wkwkkwk

      asyikkk beneran terus kawal cwrbungku ini ya wakkakaka #ngarep dotcom

      πŸ˜†πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ€£

      Hapus
    10. Masuk aja dah buat dinner sehabis hujan-hujanan..hihihi

      Iya humoris dan bertolak belakang sama tokoh Jaey Gupta yang seperti tempramental.

      Betul harus totalitas biar jadi karya yang bagus yang mengguncang dunia perbloggeran.

      Mungkin apa memang nih?

      Santai aja, akan dikawal terus sampai part terakhir..hihihi

      Hapus
    11. bisa dipertimbangkan itu wkwkw

      haha iya ya...berarti biar maa jaeynya pendalaman peran aja kali ye nyoba karakter baru hahhaha

      nahhh ituuuu!

      mungkin apa memang ya...sepertinya memang πŸ˜†πŸ˜‚πŸ€£

      asyiiikk !! πŸ˜ƒ

      Hapus
  10. Syukur aja ada Mas Agus yang kebetulan lewat.

    Kira-kira apa yang bakal terjadi selanjutnya ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. kira kira apa ya πŸ™„πŸ™„πŸ™„

      yuk pantengin terus sampai episode yang ke 1001 hahahhahaha

      Hapus
    2. Busseettt dah Mbul mau nyaingin sinetron 'TERSANJUNG' 🀣🀣🀣

      Hapus
    3. hu um biar berasa jadi mba luluk tobing hohoho

      tinggal cari aja yang jadi ari wibowonya ea hahahhaha

      sueee πŸ˜‚πŸ€£πŸ€£

      Hapus
  11. masyaAllah kak, kagum sama orang yang bisa nulis cerita sepanjang ini πŸ₯Ί
    semangats terus nulisnya kak, semoga karya - karya nya kelak mendapat balasan rezeki yang setimpal(karena menciptakan karya tidaklah mudah), aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. baru sebatas hobi mbak...amin terima kasih sudah singgah sejenak di blog aku dan membaca ☺πŸ˜ŠπŸ™πŸ™

      γƒΎ(❀╹◡╹)οΎ‰οΎž

      Hapus
    2. Saya ikut aamiin kan juga dan semoga hobinya keterusan dan jadi penulis novel profesional..aamiin

      Hapus
    3. amiiiin ya robbal alamin 😌☺πŸ˜ŠπŸ˜‡

      Hapus
    4. Kalo sudah jadi novelis terkenal jangan lupa sama kita kita ya mbak.πŸ˜‚

      Hapus
    5. kalau jadi novelis beneran kemungkinan kecil amas agus....

      tapi kalau sekedar ngunggah cerita yang rasa novel di blog gratisan aku lah kemungkinan besar iya

      ga mungkin lupa lah,kan mas yang selalu kasih nita semangat menulis lagi, padahal waktu itu uda hampir berhenti ngeblog hehe..dari mas agus nita jadi banyak belajar hal baru di bidang kepenulisan, makasih ya mas πŸ˜ƒ

      (((o(♡´▽`♡)o)))

      Hapus
    6. Biarpun kecil tapi tetap ada kan. Siapa tahu ada produser FTV yang lihat cerbung mbak mbul ini dan niat dijadikan sinetron.

      Sinetron azab.🀣

      Azab jadi ART gara gara temannya nabrak mobil orang kaya.πŸ˜‚

      Sama sama mbak nita, aku juga jadi semangat bikin cerpen karena mbak πŸ˜ƒ

      Hapus
    7. waduw jangan sinetron azab kek indociar atuh lah...seweeeem

      maunya yang romantis kaya drama korea...biar ada adegan cium ciumannya segala eeeh maksudku ada sweet sweetnya ngono loh mas agus...hahhaha

      iyah, mas sama sama...karena mas agus aku jadi semangat ngeblog dan nulis fiksi lagi setelah mati suri jaman SMa dulu hihi..😍☺😊

      Hapus
  12. Agus sama hermansyah yang disebut-sebut, sesekali saya jadi lokon ceritanya.
    Saya jadi ingat yang nabrak mobil, eh umur saya juga baru 17 tahun lo

    BalasHapus
    Balasan
    1. owh mas djangkaru pengen ikut nampang juga di cerpen atau cerbungku...gampang sebenernya, syaratnya sering mampir komen aja fi blog ini, komennya yang nyenengin hati admin ntar kan adminnya tinggal nyeleksi tuh sapa yang mau dijadikan peran utama #langsung nyanyik lagunya raisa, pemeran utama ahhahahahhaa

      masa sih 17 mas bumi?

      πŸ™„πŸ™„πŸ™„

      Hapus
    2. 71,Pasnya..🀣🀣

      Hapus
    3. nahhhhhh tuh

      δΈ‰δΈ‰α••( ᐛ )α•—

      Hapus
    4. ✧*。Ω©(ΰΉ‘˙╰╯˙ΰΉ‘)و✧*。

      Hapus
    5. Itu pakai keyboard apaan kok bisa bikin seperti itu, mbak?

      Hapus
    6. pake emot yang tersedia di hengpon aku mas herman πŸ˜‚πŸ€£

      Hapus
    7. Henpon iPhone memang beda emoticon nya mas Herman.πŸ˜ƒ

      Hapus
    8. butand aipond tapi pephone haghaghag

      (´・ο½ͺ・`)

      α••( ᐛ )α•—

      Hapus
    9. wah pada meragukan umur saya ternyata
      Asek sekali, persyaratannya sangat mudah

      Hapus
    10. nah kalau gitu langsung praktekkan saja mas djang hahhahahhaha

      Hapus
  13. Cerbungnya rapi mbak, aku baru baca cerbung kayak gini setelah sekian lama baca cerbung di majalah Misteri. Ditunggu episode selanjutnya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ok mas ditunggu kelanjutannya yaa... Dan nanti bawa cemilan yaa kalau kesini lagi..🀣🀣🀣

      Hapus
    2. mas aldhi : oke trima kasih atas waktunya mas, nuhun sudah mamoir membaca..masih tahap latihan dengan guru guru saya ini mas ☺πŸ˜ŠπŸ™πŸ™

      Hapus
    3. ebuseddd dipalak cemilan ama kang satria...

      etapi bener ya mas aldhi ntar klo balik ke sini lagi jangan lupa bawa snack kiloannya se-bal-se-bal..

      ¯\_(ツ)_/¯

      Hapus
  14. Ketika mendengar lagu pelangi boomerang dan nyasar kesini

    BalasHapus
    Balasan
    1. bagus kan lagu boomerang yang judulnya pelangi

      (*・Ο‰・*)b♪

      Hapus
  15. Aku juga kadang kalau masak mie, suka meluber airnya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mba elsa naini melubernya mengantarkan pada suatu drama hehe

      Hapus
  16. Ada nama Rembulan dalam cerbung
    Sungguh makin nyambung
    Semenarik bulan di depan mendung

    BalasHapus
    Balasan
    1. asyikk dapat puisi indah dari mba anisa

      (((o(♡´▽`♡)o)))

      Hapus
    2. Wah, aku juga mau buat puisi buat mbak mbul ah, semoga berkenan.πŸ˜ƒ

      Ada rembulan dalam gelapnya malam
      Ada Herman saat lampu padam
      Ada Agus saat mata terpejam
      Ada Satria dalam panci sup ayam

      Eh.😱

      Hapus
    3. Ssuuuuueeeee..😬😬

      Hapus
    4. πŸ™„

      Kaboorrrr πŸƒπŸƒπŸ’¨

      Hapus
    5. puisi yang sangat cute mas agus, rembulan pasti suka dikasih puisi ini

      (((o(♡´▽`♡)o)))

      Hapus
    6. kang sat....berarti ente daging tetelan dalam sop dunk

      #ooooppsss canda

      kaboooooor

      δΈ‰δΈ‰α••( ᐛ )α•—

      Hapus
    7. Kurang satu kata mbak, tadinya mau nulis: ada kol satria dalam panci sup ayam.πŸ˜‚

      Kan satria jadi tukang sayur.🀣

      Hapus
    8. hihi..πŸ˜πŸ™„πŸ™„

      juragan sayur di kramad djati yak amas agus πŸ˜†

      Hapus
    9. Bukan, satria jadi tukang sayur keliling komplek pemakaman mbak.🀣

      Hapus
    10. hihi kayak tokoh fiksi aku yang tukang sayur masuk komplek angker mas ......

      Hapus
    11. Beeehhhaaaaa suuueee...🀣🀣🀣

      Hapus
    12. Haahaaa... Bulan madu dimega mendung demi kamu aku rela mengandung.🀣🀣🀣

      Walau nantinya harus tinggal dikota bandung.🀣🀣🀣

      Hapus
    13. kang sat, emotnya ga encok kan ketawa sambil miring mpe kluar aer mata wkwkwkwk

      Hapus
    14. oh maksudnya kang satria yang rela mengandung gitu ya buahhahahahahha

      Hapus
    15. Begitulah, kang Satria sekarang sedang ngisi 7 bulan, lihat saja perutnya buncit mbak.🀣

      Hapus
    16. bukan mbul yang bilang loh wkwkwkw

      Hapus
    17. Bukan mbul yang bilang, tapi ngaminin kan.🀣

      Hapus
    18. amiiiiin


      #eh

      loh

      ya Alloh ampuni mbul dan mas agus hahhahaha

      kangbsat piece ye bro hahaha

      Hapus
  17. Part ke 4 lebih mantul nih

    BalasHapus
    Balasan
    1. part 5 nanti lebih hoootsss lagiee...eh mantul maksudku hahhaaa
      πŸ˜‚πŸ€£πŸ€£

      Hapus
    2. Ternyata mbak mbul suka cerpen yang hot hot ya.🀣

      Hapus
    3. hot hot pop mas...permen hot hot pop wkwkkw

      🍭🍭🍭🍭

      Hapus
  18. Akh komen out of topics aaaakh ..πŸ˜‰.
    Pokoke kalo soal cerita, karya kak Mbul tuh setara kerennya sama para blogger handal macam mas Jeay, mas Hermansyah, mas Satria, mas Afus, mas Khanif ..., so tak perlu diragukan lagi. Pasti keren!.

    Bedewe, mbok blog sampeyan diajukan adsense, kak.
    Grafik blog sampeyan sampun tinggi loh.

    BalasHapus
  19. Salut bikin cerbungnya berbobot dan panjang sekali. Trafiknya sudah tinggi juga. Cerpen ini mungkin kalau di blog saya bisa dibikin 4 artikel terpisah hehe.. Itupun masih bersambung lagi. Bisa dibikin novel nantinya. Sukses selalu

    BalasHapus
    Balasan
    1. amiin, terima kasih atas apresiasinya pak vicky...

      iya pak lagi menantang diri sendiri menulis di luar kisah sehari hari, biar isi blognya ada variasinya πŸ˜ƒ

      Hapus
  20. Cerpen yang sangat bagus , πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘. Ini masih bentuk novel coba kalau di film kan pasti ceritanya lebih berasa gregetnya. πŸ€«πŸ€­πŸ€­πŸ™πŸ™πŸ™

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihihi makasih ya tari, aku jadi semangat bikin lanjutannya πŸ₯°πŸ˜πŸ˜˜

      Hapus
  21. Woooh, aku kira bakal tamat nih di sini. Tenyata belum yaa, mbak. Siap menunggu kelanjutanyaa.
    Semakin seruu...

    BalasHapus
    Balasan
    1. belummm...

      perjalanan masih agak panjang

      hahaa

      masa sih dah dibaca?
      apa baru absen dulu hhahahahhah

      Hapus
    2. Tahu saja mbak mbul kalo Dodo suka absen dulu.πŸ˜‚

      Hapus
    3. hihi tapi bener kan mas...? πŸ™„πŸ˜‚πŸ€£πŸ˜‰

      Hapus
    4. wowokwkk ketahuan kalo tim absen dulu, kemudian baru baca.. hikss :((

      Hapus
  22. Baca ini lgs pengen nampolin si jaey sampe pingsan ga bangun2🀣🀣. Udahlah ga kasih uang belanja, trus mabok sampe teler πŸ˜‚. Bisa aja Nit, bikin kebawa emosi bacanyaaa :D.

    Tapi seru niiih.... Aku penasaran mau liat jaey di akhir cerita jadi gimana :D. Apalagi kalo satria tau adeknya mau diapa2in 😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. tungguin ya mba part 5, butuh semedi kyusuk buat bikin cerbung aku hahhahah

      Hapus
    2. Kayaknya satria sudah tahu sih rembulan sengsara di apartemen jaey tapi diem saja karena lagi asyik mangkal.🀣

      Hapus
    3. hehe makanya rembulan maunya sama siapa ya ☺😊

      Hapus
  23. Mas Hermansyah... rembulan klepek2 sama kamu Mas.. wkwk

    Ya ampun betul juga dugaan saya yg nyalain listrik adalah mas2 tinggi yg ditemui rembulan di minimarket ..!! πŸ˜‡

    Kesel banget sama jaey. Saya tarik omongan saya di komen sebelumnya yg nganggep kalau Jaey sebenrnya baik.. galak mah iyah..
    Mana udh dingertiin sama rembulan malah balasnya gtu... kasian rembulan nangis smbil lari2. Untung ketemu yayang embeb Agus..

    Mba Mbul bagus banget.. ini kayanya kalau di novelin jadi satu novel deh mba.. tpi sneng banget bisa baca ini geratisss.. hehe. Makasih mbak mbul.. nggk sabar buat part 5.

    Semangat mba Mbul buat kisah cerbungnya. πŸ˜†

    BalasHapus
    Balasan
    1. ahahahaii....sayang ni malah oada vakum mereka...kangen juga deh nita seseruan bareng mereka dek bayu hihi

      jaeynya aku ganti namanya...ga enak hati...takut orangnya ngambek sama aku huhu

      masama bayu...makasih ya komen bayu selalu buat aku heartwarming eh bener ga ya ini tulisannya hahahaha

      ah pokoknya komen bayu bikin aku cumangaaad...makasih bayuuu πŸ˜„πŸ˜†πŸ˜ƒπŸ˜

      Hapus
  24. Aku penasaran sama kecantikan artis Asyifa salju itu mbak. Apa suka ngomong suee juga Haha

    Berhasil lari dari bringas tuan jaey yg salah sasaran. Untung rembulan pingsan ditangan yg tepat.

    Lanjut baca aja dah πŸ˜†

    BalasHapus
    Balasan
    1. mba anggun aku baca komenmu tetiba pingin ngguyu πŸ˜‚πŸ€£πŸ€£πŸ€£....duh jangan jangan iya yang suka bilang sue hahahhaha

      Hapus

Komenin dong...tanpa kehadiran kalian apalah arti aku menulis....
kalian penyemangat setiap bulir kalimat dalam blog ini :*
Namun jangan komentar SARU atau SARA ya, jika ada komentar dengan unsur tersebut, dengan berat hati akan aku HAPUS .

Oh ya, Dilarang juga mengambil gambar/foto atau menyadur tulisan tanpa mencantumkan sumber atau seijin pemiliknya. Apalagi untuk kepentingan komersial atau lomba. Thx ^____^