Jumat, 01 Januari 2021

Cerbung : Gadis Kecil yang Sedang Belajar Jatuh Cinta (Part 5)





Oleh : Gustyanita Pratiwi

Cerbung ini hanya bersifat fiktif belaka (buat latihan menulis dan hiburan)

Genre : romansa


ilustrasi digambar oleh sang adminnya langsung alias Gustyanita Prikitiuw hohoho...




"Jegerrrrr jegerrr jegerrrrr!!!! Gludug!!! Gludug!! Gludug!!!" Bunyi guntur menyalak di angkasa raya seperti anjing herder yang kesetanan. Hujan deras pun tak terelakkan lagi mengguyur basah kota ini. Mengantarkan derap langkah kaki Rembulan yang susah payah melewati genangan air diantara tempat-tempat persembunyian hewan-hewan pengerat yang menghuni selokan mampet.

"Bressssh!! Breshh!!! Bresshh!!!" Semakin bertambah deras. Semakin hujan angin. "Syiiiiiiutttt! Weeeeeesssss!!! Gludug! Gludug!! Gludug!!! Jegerrrrrr!!!" 

Tapi tubuh kecil dengan seragam berenda hitam putih yang basah kuyup itu tetap terus berlari menerjang angin. Kedinginan dan menggigil melewati mobil yang lalu lalang. Melewati pendar-pendar lampunya yang kuning blur membuat silau. Bahkan sebuah BMW seri i8 yang dikendarai Hermansyah sebenarnya berselisih jalan dengan gadis itu. Sayangnya pria tersebut belum begitu 'ngeh' karena hujan yang menimpa kaca depan mobilnya cukup mengaburkan pandangan. Ia hanya sepintasan saja melihat ada sosok lewat tapi tidak begitu jelas mukanya. 

"Brrrrbbb.....bagaimana caranya aku bisa pulang, sudah malam begini?" Rembulan berkata dalam hati, sebab bibirnya masih bergetar menahan tangis yang bercampur hujan. Ia kedinginan.

"Drap! Drap! Drap!!!! Breeeeshhhh!!! Breeeeesh!! Kecipak!! Kecipak!! Kecipak!!"

Langkah kaki Rembulan berkecipak diantara air yang sudah setinggi mata kaki. Alas kakinya yang telanjang ditopang betis kecil putih mulus bagaikan rusa berjuang menahan suhu dingin ibukota yang menggigit, sunyi sepi seolah tak berpenghuni, kecuali dirinya sendiri. Namun ia terus berlari serampangan tak tentu arah. Memasrahkan insting kakinya mau kemana. Terserah......

"Tiiiiien tiiiieeennn tiiiiiiieeennn !!!!!" Tiba-tiba sebuah mobil pick up mengerem mendadak karena pengemudinya seperti melihat sosok perempuan muda yang tengah berlari menembus hujan dengan penampilan seperti habis dijahati orang. Karena jatuh kasihan akhirnya ia hentikan juga aktivitas menyetirnya itu. 

Laki-laki 27 tahun itupun segera keluar sejenak dan mendekati perempuan yang ternyata adalah........."Luhrembulaaaan???!"

Rembulan kaget. Tapi bibirnya kelu mendekati biru. Hampir kesulitan mengucap satu katapun karena hujan sudah menampar habis-habisan wajahnya. Derasnya seperti mengamuk.

"Mas.........!!"

Laki-laki itu kini mendekatinya yang bahkan jadi ikut hujan-hujanan juga. Menanyai gadis yang sudah satu minggu tak bisa dihubunginya lewat telepon seluler usai kencan dadakan di kawasan pelataran Polda Metro Jaya pekan lalu.

"Rembulan, kenapa hujan-hujanan begini? Ada apa?"

"Mas...........tolong aku.....tolong aku mas........"

"Kenapa bisa ada di sini Rembulan?"

"Tol....o....ng...."

"Bruuuuggh!"

"...Rembulan Bullll?! Re...mbuu...l....Rembulan?!"

Rembulan jatuh tersungkur ke dalam pelukan Mas Agus. Tubuhnya rubuh--limbung seperti kartu domino yang disentil ujung jari, tapi untung saja tak sampai jatuh ke atas aspal karena tubuhnya keburu ditangkap oleh lengan pemuda itu. Selanjutnya, digendongnya ia menuju pick up yang diparkirkan tak jauh dari tempat mereka berdiri. Diletakkannya satu lengan Mas Agus mengelilingi punggung Rembulan, sedangkan lengan lainnya di belakang lutut yang ditekuk. Lalu diangkatnya gadis itu untuk segera direbahkan pada jok depan bersisihan dengan kursi driver alias kursinya sendiri. 

Rembulan yang cantik kini pucat pasi tak karuan, terkulai lemas menyimpan kesedihan. Membuat Mas Agus bertanya-tanya dalam hati sambil mengamati pakaian Rembulan yang basah sebadan-badan.

"Kenapa bisa begini, Nduk?"

Tapi karena hari sudah terlampau  malam, tentu yang ada dalam pikirannya adalah lekas memberikannya tempat ternyaman. Kasur empuk dan selimut hangat, juga pakaian ganti yang layak. Mengembalikan ke lapak Abangnya di Pasar Induk Kramat Djati jelas tak mungkin. Sebab sudah tutup. Jadi sebaiknya.......

"Bremmmm!!!" mesin pick up itu kemudian dinyalakan.

Dan kali ini tujuannya adalah membawa pulang gadis itu ke rumahnya.


Baca juga : 


****













Sepanjang perjalanan dari Kebayoran ke daerah Cijantung, tempat kediaman Mas Agus berada hanya dipenuhi oleh bunyi 'dret-dret-dret' teratur dari 2 bilah wiper kaca mobil yang menyeka air cucuran dari langit. Sementara dashboard di sebaliknya menjadi tempat pijakan paling nyaman bagi boneka hias bunga matahari yang bergoyang-goyang lucu pada kedua tangkai daunnya, bersisihan dengan bungkus rokok gudang garam yang tinggal isi 3 batang---Dan hiasan boneka solar tadi mengingatkan kita pada karakter senjata dalam game Plant vs Zombie. Ya, semuanya itu adalah perintilan kecil yang terdapat dalam mobil pick up Mas Agus. Laki-laki bermata sipit itu sebenarnya agak kurang konsen saat menyetir sebab di sampingnya kini telah tergolek tubuh muda seorang kembang perawan yang bajunya agak basah dan tercetak jelas pada beberapa bagian. Tapi demi kepentingan 2 nyawa yang masih ia pikirkan keselamatannya, maka mau tidak mau ia harus memusatkan pikiran pada satu titik. Jalan sudah pasti terus. Tapi yang terpenting adalah hati-hati. Masalah gadis ini mau diapakan nanti itu urusan belakang. Yang pasti ia harus sampai dulu ke rumahnya mengingat perjalanan masih cukup jauh, kurang lebih berkisar antara 1 jam-an.

"Aku inapkan dimana ya kira-kira? Apa di tempat Kang Dahlan dan Mbak Ratna saja ya yang ada perempuannya? Atau di rumahku?" Mas Agus mulai menerka-nerka tujuannya pulang. Sebab memang di perantauan ini ia berdampingan dengan saudara laki-lakinya Dahlan yang ia bantu secara finansial bersama istrinya Ratna dengan menjalankan usaha warung nasinya karena anaknya sudah usia sekolah semua. Sementara ia yang masih bujang memilih hidup terpisah, tinggal di rumah warisan orang tuanya usai hijrah dari Wonosobo ke Jakarta dengan memecah mata pencahariannya menjadi beberapa bagian. Ya mendanai warung nasi usaha keluarga, ya nguli di pasar induk, ya dagang siomay, bahkan kadang menyewakan mobil pick upnya sekaligus menawarkan diri sebagai supir. Semua dijalaninya dengan penuh suka cita karena yang dicarinya adalah berkah. Asal menghasilkan cuan agar bisa ditabung, rasanya tidak masalah. Namun sebenarnya di rumahnya yang di Wonosobo juga masih terdapat investasi lain. Yaitu usaha ternak sapi. Tapi kali ini bisnisnya tersebut dipasrahkan pada saudaranya yang satu lagi yaitu Djangkaru. Ia tinggal setor dana perawatannya saja, maka sudah bisa ditinggal ongkang-ongkang kaki dan terima hasil. Sebab sudah ada yang ngopeni. Jadi ibaratnya biar di Jakarta kerjaannya nyeper kemana-mana, tapi di kampungpun tetap ada cekelan tersendiri yang justru sifatnya paling menjanjikan. Memang bisa dikatakan dari 3 bersaudara ini, dialah yang paling ulet. Apa saja hayuk dikerjakan. Asal halal yang penting roda ekonomi terus berputar.

Kembali ke urusan Rembulan.

"Tapi kalau di tempat Kang Dahlan pasti repot nih. Ramai pula banyak tetangga kanan kiri yang bantuin masak buat dagangan warung. Mana anaknya 2 pula. Sudah besar-besar. Kembar cowok remaja. Ya, sepertinya sih paling pas aku bawa pulang saja ke rumahku yang tak ada orang lain selain aku." Mas Agus tahu-tahu memutuskan sendiri karena beranggapan bahwa rumah saudaranya akan terasa sangat sempit mengingat memang jadi satu dengan ruko tempatnya berjualan yang ia beli dengan jalan mencicil. Jadi ia rasa akan sangat ribet kalau menempatkan gadis ini di sana, terlebih ia malas jika ada yang tanya-tanya. Kan tahu sendiri orang kita sukanya kepo urusan orang! Keponya sudah mengalah-ngalahkan intel lagi. Jadi karena keputusan final akhirnya dibawa pulang ke rumahnya, maka diputarlah pick upnya itu ke arah yang justru menjauhi kediaman saudaranya, sementara rumahnya sendiri berada di ujung gang...mentok paling pol, sekitar 17 km dari tempat kakak laki-lakinya Dahlan yang ada di pinggir jalan raya.

"Ya rasanya begitu saja lebih baik. Lagipula ribet juga kalau ketahuan banyak orang, mana musti lapor RT/RW lagi. Agak malas. Nanti saja lah kalau suasana sudah kondusif, baru aku laporan. Sementara aku inapkan saja dulu di rumahku." Mas Agus meyakinkan kembali keputusannya dengan melewati rumah saudaranya tanpa perlu pikir panjang dan langsung menuju ke rumah yang ia tinggali seorang diri, sebab ia belum beristri.

Sekitar pukul 24.00 WIB, deru suara pick up Mas Agus terdengar di muka rumahnya. Rumah yang kanan kirinya tidak ada tetangga. Bahkan ditumbuhi perdu semua. Juga rumpun bambu di pojok utara dan selatan. Bahkan beberapa ratus meter dari situ terdapat hutan kota. Dan jangan lupa...kuburan.

Dipayungi tanaman bunga alamanda yang berwarna kuning menyerupai terompet, pintu pagar kayu itupun dibuka. Di baliknya terdapat halaman yang sudah berpaving dengan luasan sekitar  36 m2 dan mampu menampung 1 pick up, 1 honda astrea, serta 1 buah sepeda mini yang bahkan masih nyisa banyak, mungkin selebihnya bisa untuk menaruh jemuran portable yang bisa diangkat junjung. Setelahnya baru terdapat rumah warisan orang tuanya yang kecil memanjang bentuknya, walaupun sekali lagi halamannya luas. Rumah yang sebagian dindingnya bercat hijau, namun sebagian lagi berhias batu alam, tampak klasik dengan daun pintu 2 yang diapit tanaman hias nusa indah warna merah jambu di kanan kirinya. Ada pula jajaran pohon cemara yang ujung daunnya telah mengering beberapa. Menjulang sampai ke pucuk, menjadikan halamannya nampak asri dan resik, walau terus terang saja pencahayaannya agak remang-remang. 

Bagian dalamnya umum saja seperti laiknya rumah orang-orang. Ada 1 ruang tamu dengan sofa berbahan dasar rayon warna ungu salem yang melingkari separoh meja kaca rendah dengan jambangan bunga plastik warna merah. Juga sebuah pigura berisi hiasan kristik bergambar gadis penggembala kambing yang terpajang agak mencolok di satu sudut tertentu selain jam kukuk yang berbunyi setiap kali jarum panjangnya berada di angka 12, sementara jarum pendeknya berada di angka manapun. Setelahnya ada kamar yang memang jumlahnya ada 1 dengan ranjang besi yang kasurnya masih berisi kapuk sehingga kadang saat ditiduri agak keras. Juga lemari yang isi bajunya tak banyak. Tadinya kamar ada 4, tapi yang lainnya kosong tanpa ranjang apalagi kasur. Ruang tengah segaris dengan tempat untuk menonton teve, meja makan dengan 2 buah kursi kayu kaki 4, dan dapur mini dengan perabot seadanya. Beberapa ada yang dicantolkan dengan paku, beberapa ada yang ditumpuk di rak piring. Minimalis khas hunian bujangan. 

Sementara bagian belakang yang sekelilingnya dipagar beton tinggi sudah dipaving semua. Di sana terdapat sebuah sumur jadoel yang masih menggunakan katrol sebagai timbanya. Masih mending ketimbang model timba manual sebenarnya. Ya, bisa dibilang cukup mengefisienskan waktu karena pergi ke sana malam-malam juga agak seram mengingat belakang tembok sudah kuburan. Beruntung areanya masih ketutup oleh rimbunnya pohon jambu darsono. Jambu yang pada musimnya sudah bergelantungan merah tua lebat sekali tetapi rasanya asam.

"Krieeeeettt!" Pintu ruang tamu akhirnya dibuka juga oleh Mas Agus. Agak kesusahan karena sembari tangannya membopong tubuh cewek yang sudah lunglai seperti kehabisan darah karena dihisap vampir itu, iapun harus mengunci kembali pintu tersebut dengan mengaitkan selotnya. "Uhm.........Rembulan, diam-diam kamu berat juga ya.." Batinnya yang akhirnya berhasil masuk ke rumah dan menuju kamar walau sebagian lantai harus rela terkena ceceran alas sandal yang berlumpur. 

Ia pun langsung mencari semacam handuk untuk mengalasi tubuh Rembulan sebelum benar-benar ia baringkan di atas ranjang. 

"Hop!" Segera digelarlah itu handuk yang sudah agak pudar warna hijaunya dan untuk selanjutnya ditimpa tubuh Rembulan. Dan ia pun menuju lemari mengambil beberapa baju salin milik ibunya jaman muda dulu yang masih tertinggal di sana. Baju jadoel. Sweater rajut warna pink dan rok pola circular selutut dengan bahan lemes. "Astaga!!!" Dan laki-laki itu baru tersadar bahwa tidak ada yang bisa menggantikan baju dari sang putri tidur ini selain dirinya. SELAIN DIRINYA!! Tangannya pun tiba-tiba gemetaran.

"Okey Gus! Kamu tinggal merem saja kan habis itu tinggal masuk-masukkin beres. Rebes! Kalem Gus! Kalem!" Mas Agus mulai merekonstruksi apa yang seharusnya ia lakukan pada busana Rembulan yang basah kuyup itu. Karena jika tidak diganti maka yang akan terjadi adalah sesuatu yang lebih gawat lagi, masuk angin. Lalu dengan pikiran yang tak keruan ia balikkan badan Rembulan hingga dapat menurunkan resletingnya dengan mudah. "Sreeeeeeet!" Punggungnya pun mengintip sekejap diantara celah-celah resleting yang menganga. Mulus betul. Putih bersih bagai pualam. Belum ia turunkan sampai ke bawah. Mampus!!! 

"Santai Gus! Ini bukan perbuatan mesum kok. Kan aku hanya mengganti bajunya saja supaya tidak sakit!" Lagi-lagi Mas Agus membatin seolah mempertegas bahwa tindakannya ini bukan hal yang buruk. Hanya sekedar menolong Rembulan supaya tidak kedinginan, itu saja. Tapi tunggu. Setelah merem dan kesusahan meloloskan baju luarnya, kenapa masih ada yang mengganjal lagi ya. Ada yang lebih sial lagi. Sebab sisanya juga basah dan mau tidak mau harus diganti. Alamakjang! "Maafkan Mas ya Rembulan...aku tidak bermaksud sungguh....

"Arrrrgh!" 

Untunglah hanya bagian atasnya saja...walaupun tetap saja hal tersebut membuat pikirannya kacau balau karena ia adalah lelaki normal. Apalagi ia sempat kesulitan pada saat menggantikan baju Rembulan dalam keadaan terpejam sehingga yang ada malahan tidak kelar-kelar. Jadi diputuskanlah bahwa......dalam satu kali tarikan saja dilepaskannya tali pengait bra gadis manis itu dengan perasaan grogi.... "JRENG!!!" Pada saat tubuhnya dibalik, terpaksalah ia melihat sebentar pemandangan indah yang terpampang nyata di depan mata..... sepasang bukit kembar yang mencuat sama besarnya, sama menantangnya, sama bulatnya, tampak polosan saja. Ia loloskan sampai ke bawah melewati paha, hingga ujung kaki....jancuk!!! Mulus licin, Cuk!!! Khilapnya itu ia tuntaskan segera karena cepat-cepat ia pakaikan kembali tubuh ranum Rembulan dengan baju yang kering lalu ia selimuti dirinya rapat-rapat sampai ke bawah dagu.

Tapi....

Badan gadis itu hangat. Hemmm.. Bergegas ia siapkan air panas ke dalam baskom dan juga waslap untuk mengompresnya supaya demamnya turun. 

"Ces! Ces! Ces!" Perlahan ia usapkan waslap yang air panasnya sudah diperas itu ke dahi dan area leher Rembulan sambil menyibak-nyibakkan sebagian rambutnya yang basah. "Ces...Ces! Ces!" Kalau diperhatikan inosen sekali wajahnya. "Ces...ces....ces!!" Walaupun biasanya pipinya yang memerah seperti tomat saat malu-malu itu kini tampak pucat pasi bagaikan manequin. Dipandanginya wajah itu sekali lagi, sampai akhirnya ia menggerutu sendiri.

"Duh! Pusing juga lama-lama. Sudah dulu deh...LuhRembulan.......kamu tidur saja dulu ya sampai badanmu enakan." 

Dan iapun memilih melipir ke sofa ruang tamu untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan sembari merapatkan sarungnya yang bermotif kotak-kotak, menyembunyikan kepalanya sekalian seperti burung unta. Meringkuk di depan Teve yang menyala.

****




















Sementara itu, pukul 24.15 WIB, di penthouse singgasana Jack...

"Setan apa yang telah merasukimu Jack?" Hermansyah yang mendapati Jack dalam keadaan berantakan diantara botol-botol chivas regalnya mengaku hampir merudapaksa Rembulan dan kini pelayan berbody montok itu kabur. Hermansyah terang saja berang. Kenapa Jack ingin menguasai cewek di luar pacar-pacarnya yang kebanyakan artis peran itu. 

"Jawab pertanyaan saya Jack?!" Laki-laki bertubuh tinggi tegap itu tak kuasa menahan emosinya hingga mendorong bahu Jack tanda ingin mengajak berantem. Tapi lawannya hanya sempoyongan saja karena selain pipinya masih sakit akibat tamparan Rembulan, perutnya juga mual-mual.

"Hey You! Saya lagi capek tahu? Saya lagi malas berantem! Sudahlah tinggal You susul saja cewek bernama Rembulan itu. Bilang saja saya tidak sengaja karena saya berada di bawah pengaruh alkohol. Lekas bujuk dia kemari lagi."

"Asuuuuu ! Andai saya bukan bawahanmu sudah saya habisi dari tadi!!!" Batin Hermansyah tak juga mereda emosinya.

"Ahh...fuck off!!!"

Jack terhuyung dan malah meninggalkan Hermansyah yang habis kata-kata sambil mengunci diri di dalam kamar.

Kini yang akan dilakukan laki-laki bermata sendu itu jelas mencari lagi gadis yang berselisih jalan dengan mobilnya tadi di tengah cuaca yang sedang berhujan.

***




















"Mas A!!!!! Jangan tinggalkan Rembulan sendiri....biarkan Rembulan tetap selalu berada di dekatmu......" 

Tampak dalam kedua bola mata Rembulan yang bulat bagai Masha and the Bear, sosok Mas A-nya yang menenangkan jiwa itu perlahan berjalan menjauh diantara pekat kabut hitam......tersenyum ke arah gadis itu tapi dengan posisi terus menjauh...

"Mas A........!!!" 

Rembulan terbangun dari mimpinya dengan keringat bercucuran dan mata seperti ingin menangis. Ia rasakan pula kini badannya telah berganti baju, bukan lagi dress apron lolita renda-renda seragam pelayan di tempat Jack Gupta, tapi sweater rajut kebesaran warna pink muda. Sudah agak jadoel tapi lumayan juga, meski ada sesuatu yang aneh karena ia tetap kedinginan di bagian dada. 

"Anjrit! Cuma mimpi!" Gadis berambut sebahu itu pun segera bangun dari posisi rebahan dan mendapati suasana sekelilingnya jelas berbeda dari penthouse mewah sang tuan muda Jack Gupta. 

"Klunting! Klunting! Klunting!" Tiba-tiba terdengar bunyi berisik dari arah dapur.

Rembulan kemudian teringat bahwa beberapa jam yang lalu Mas A-nya lah yang datang menyelamatkannya dari melodrama di bawah hujan. Menyelamatkannya yang hampir putus asa setelah mendapat perlakuan kurang menyenangkan dari majikannya yang sedang mabuk. Kalau saja ia tidak bertemu dengan Mas Agus dan pick upnya, entah apa yang terjadi ia tidak tahu. Dibenamkannya kedua telapak tangan itu ke wajah. Ingin rasanya ia menangis. Tapi diurungkannya kembali niatnya itu karena sekarang ia berada di tempat yang sangat asing.

Jadi ini rumah Mas Agus? Segera Rembulan bangkit dari posisi duduknya yang tadinya bersandarkan bantal namun kini kakinya telah menapak lantai hingga ranjang besi yang ditidurinya agak bergoyang menimbulkan bunyi "kriet-kriet-kriet" yang ramai sekali. Bunyinya selalu begitu ketika ia sedikit melakukan pergerakan. 

Benar. Ini bukan kamar maid di penthouse Jack. Kamar ini sederhana dengan pencahayaan yang remang-remang. Lantainya pun masih tegel, dan dindingnya hijau buram. Ranjangnya model besi dengan kasur isi kapuk randu yang walau keras tapi setelah dialasi seprai motif bunga-bunga jadi nampak ceria. Ah! "Aku sudah merebut ranjang Mas A. Jangan-jangan Mas A tidur di kursi...ehmmmm...Jadi tidak enak hati." Rembulan menggumam dalam batin.

"Mas Agus...." Rembulan akhirnya berdiri dan keluar kamar. Ia berjalan ke dapur sembari memanggil nama tuan rumahnya. 

"Mas......"

"Mas Agus..."

Yang empunya nama pun segera melongokkan kepalanya dari pintu dapur yang hanya ditutup gordin berlipat. 

"Lho sudah bangun ya?"

Terlihat Mas Agus tengah merampungkan sesi terakhir mengadon siomay yang akan ia jual hari ini sekitar pukul 10.00 WIB. Wajahnya seperti biasa hangat dan menyenangkan. Juga pelukable.

"Hu um..." Rembulan mengangguk kecil dan tersenyum ke arah orang yang mencuri perhatiannya sejak pandangan pertama di halte bus tempo lalu itu saat keduanya terjebak hujan. 

"Bagaimana keadaanmu? Sudah baikan kah? Aku sudah buatkan bubur dan teh manis hangat. Dimakan dan diminum ya!" Mas Agus menawarinya dengan tulus. Tapi kemudian matanya menangkap kaki Rembulan yang telanjang masih tampak gemetaran. Pertanda anak itu belum sehat betul.

"Masih kliyengan pasti? Iya kan Bul? Embulan? Luhrembulan....Rembulan maksudku." Mas Agus bolak-balik mengoreksi panggilan gadis itu. Tapi favoritnya tetap menggunakan nama lakon pemeran wanita dalam serial wirosableng kesukaannya,  Luhrembulan. Ya, apapun itu jika Mas A yang memanggil, maka Rembulan akan merasa senang saja.

"Iya Mas, hu um.......masih pusing." ujar Rembulan terus terang. Sweaternya nampak terlihat gombrong di badannya yang mungil. Juga roknya yang selutut model circular membuatnya masih tampak manis walaupun sedang meriang. 

"Duduk dulu. Pelan-pelan. Sambil makan ya. Aku ambilkan buburnya." tawar Mas Agus lagi.

"Ehm.......Mas jadi repot-repot. Maafin Rembulan ya Mas...huhu."

"Sudah...sudah.....sudah kewajibanku menolong orang yang hampir semaput.  Daripada dibawa garong ya kubawa saja kan? Hahahhaha..." 

Rembulan jadi tersipu malu sambil memilin ujung sweaternya...walau terus terang ia jadi kepikiran tentang....ehm...

"Oh ya, Rembulan jangan salah sangka dulu, aku cuma menggantikan bajumu yang basah. Suwer aku tidak berbuat yang macam-macam. " Tanpa ditanya Mas Agus sudah keburu menjelaskan dan hal tersebut makin membuat pipi gadis di depannya memerah. 

Mas Agus kemudian menyurungkan sepiring bubur buatannya juga segelas teh manis hangat agar perut Rembulan tidak kaget. Diterimanya pemberiannya itu dengan senang hati, lalu sambil menyuapkan sendok demi sendok bubur ke dalam mulutnya, Rembulan akhirnya mengobrol panjang lebar dengan Mas Agus yang jauh lebih dewasa usianya di atasnya.

"Ditiup dulu kalau masih panas! Hahaha!!" Mas Agus tertawa saat melihat Rembulan menggembungkan pipinya seperti kodok karena buburnya panas.

"Panyaaaassss tauk, hohoho!"

"Ya makan pelan-pelan, jangan pake nafsu! Hahahhaha!"

"Waduh!"

"Ya iya toh! Jangan buru-buru kayak dikejer setan saja. Nanti takutnya keselek!"

"Emmmmb." (tambah menggembungkan pipinya).

Mas Agus menasihatinya layaknya Rembulan masih seperti anak PAUD

"Sama itu Bul....aku minta maaf karena sebelumnya langsung bawa istirahat di rumahku. Bukannya bawa ke tempat Abangmu malah kubawa kemari. Sebab kan kalau jam segini kiosmu tentu saja sudah tutup. Lagipula aku mau tanya alamat kontrakanmu tapi kan kamu masih semaput, hahhaha."

"Emmmm...iya iya. Rembulan mengerti kok Mas.."

"Iya makanya aku mohon maaf kalau kiranya sudah bikin Rembulan kurang berkenan..."

Rembulan menyipitkan matanya yang tak sipit. Tapi kemudian ia tertawa lebar.

"Dimaafkan!" Lalu ia menjulurkan tangannya mengajak salaman tanda 'deal'.

"Asyik!"

"Tapi ngomong-ngomong aku belum laporan ke Pak RT atau RW loh. Bahkan kakakku saja tidak tahu bahwa aku bawa Rembulan ke sini. Takut digrebek ga Bul?"

"Haaaaa??? Kok serem?"

"Lha iya.. siapa tahu nanti kita digrebeg kan gawat. Apa aku langsung lapor Pak RT atau Pak RW saja ya sekarang? Lalu Rembulan aku pulangin ke abangnya?" Mas Agus menggodanya dengan nada jenaka. Dan hal tersebut membuat Rembulan agak cemberut. Padahal sedang syahdu-syahdunya loh....... Aduh malah diingatkan dengan kenyataan dan segala macam aturan..hahaha..

"Hmmm kenapa itu? Kok ekspresinya jadi jelek begitu? Memang tidak mau dipulangkan ke Abangnya?" Mas Agus bertanya kembali. 

Dan tiba-tiba mata gadis berpipi tembem itu berkaca-kaca..

"Rembulan takut nanti dijemput orang-orangnya Jack Gupta! Kan dia sudah sita KTP Rembulan. Jadi pasti tahu cari Rembulan kemana....mmmm...."

Mas Agus pun langsung bisa membaca situasi. Sepertinya ia paham ketakutan Rembulan. Dan ia pun tidak memaksa gadis itu untuk menceritakannya, kecuali jika ia bercerita sendiri.

"Ya sudah dimakan saja buburnya. Nanti setelah itu tidur lagi. Habis makan tidur...biar makin mbul hahhaha."

"Waaaaduuhh!"

"Bercanda saja..."

"Heu..."

"Pokoknya Rembulan mohon ijin sama Mas, sementara numpang di sini dulu. Sampai Rembulan ga takut lagi dicari orangnya Jack! Heu...beberapa hari aja, sampai aku bisa berpikir bagaimana caranya mengembalikan hutang tanpa harus bekerja di sana...hummmb.."

"Hu um. Apa boleh buat kan kalau Rembulan sudah meminta. Aku bisa apa?" Mas A tetap menggurauinya hingga Rembulan ingin mencubit lengannya dengan gemas tapi ia urungkan karena takut tidak sopan mengingat usianya yang jauh berada di di atasnya.

"Cuma beberapa hari doang Mas..."

"Baiklah. Nanti kuhitung bonnya di akhir. Sekarang habiskan dulu buburnya. Setelah itu tidur. Aku langsung berangkat nguli. Habis itu jam 10 ambil siomaynya. "

"Hu um." (angguk-angguk lucu).

"Bagus. Pinter!"

Hohoho (mengekspresikan diri bagaikan anak lemur)

Begitulah, Mas Agus akhirnya malah meminta maaf karena sebelumnya sudah langsung memutuskan membawa Rembulan ke tempatnya tanpa ijin Pak RT atau RW, bahkan cerita ke kerabatnya yang biasa mengoperasikan warung nasinya pun tidak. Ya, dia tetap berjanji sih bakal mengembalikan gadis itu ke abangnya tapi sebenarnya terserah Rembulannya sendiri mau dipulangkan kapan. Karena terus terang Rembulan masih trauma dicari majikannya sampai ke kios maupun kontrakannya. Jadi sementara waktu, setidaknya sampai ia pulih benar,  inginnya numpang dulu beberapa hari di tempat Mas Agus. Ya dengan cara sembunyi-sembunyi sih juga catatan tidak akan macam-macam juga. Yang dipasrahi tumpanganpun mau tak mau menerima walaupun dalam hati sebenernya deg-degan juga sebab ia sendiri masih berstatus sebagai perjaka ting-ting. Ya paling harus berkorban tidur di ruang tamu untuk sementara waktu. Rembulan sendiri tadinya sedih karena merasa merebut kasurnya. Tapi dengan gentle Mas Agus bilang sudah biasa tidur di sofa, jadi tenang saja.

****


















Jam 04.00 WIB, Mas Agus sudah cabut ke pasar induk seolah berebut pagi dengan ayam agar rejekinya tidak dipatok duluan. Kali ini yang ia kendarai adalah Honda Astreanya, Sebab kebetulan memang sedang tidak nyeperin pick upnya. Sementara Rembulan baru bangun bobok satu jam setelahnya karena badannya sudah terasa jauh lebih entengan, walaupun rasa greges di badan tetap saja ada. 

Dan karena merasa sudah ditolong oleh Mas A, maka Rembulan pun merasa harus melakukan sesuatu paling tidak bantu-bantu membersihkan rumahnya. Toh ia pengalaman jadi pelayan, jadi setelah dirasa agak hafal dengan karakteristik rumah yang baru sekali itu dijelajahi, maka iapun mulai memegang senjata andalannya yaitu sapu. Ya, ia mulai mengagendakan diri dengan menyapu halaman depan, halaman belakang, seisi ruangan, yang deket sumur, cuci mencuci termasuk mencuci bajunya yang basah juga bajunya Mas Agus yang kotor, asah-asah piring, dan terakhir masak. Masak apa? Sepertinya yang ada di kulkas tinggal diolah saja...


***


















Kira-kira pukul 10.00 WIB, suara Honda Astrea Mas Agus sudah kedengaran dari arah pagar. Ah...pasti dia pulang sebentar untuk mengambil dagangan siomaynya. Tak lama kemudian yang empunya rumah sudah mengetuk pintu sambil mengucap assalamualaikum yang kemudian dijawab waalaikumsalam dengan merdu oleh suara Rembulan. Wah....pemandangan langka juga seperti skema pelatihan sebuah konsep berumah tangga, hahahah...sue juga (Mas Agus tertawa dalam hati walaupun sesungguhnya ia takjub juga karena di meja makan kini tersedia masakan sederhana buah karya Rembulan. Walaupun itu cuma telor dadar tumpuk yang agak tebal seperti style telur dadarnya masakan padang yang diisi ranjau cabe di beberapa permukaanya juga bening bayam yang isiannya tak selengkap menu warteg). Kata orang sih menunya tidak  matching, tapi sabodo teuing adanya cuma itu. Terlebih Mas Agus sebenarnya orang yang tidak pernah rewel urusan makan jadi sepertinya ia nrimo-nrimo saja wujud masakan Rembulan bagaimana. Sebab, biasanya ia tinggal makan di warung nasi kakaknya. 

"Kok sudah masak saja? Apa sudah baikan? Masih kliyengan tidak sih?" Mas Agus bertanya tapi sebenarnya ingin memuji masakan Rembulan.

"Sudah enakan Mas....yuk, sarapan dulu sebelum kerja lagi."

"He em. Aku makan nih?"

"Iya lah udah susah payah aku masakin?"

"Hahaha..baiklah!" Tak lama kemudian Mas Agus mulai memotek potongan telur dadar untuk disorongkan ke dalam mulutnya. Hmmmm...

"Bagaimana rasanya?"

"Enak...."

"Benarkah?"

"Iya, chef Luhrembulan."

(senyum-senyum).

Habis itu Mas Agus pamit dines dagang siomay lagi kira-kira nyampai sore, atau sehabisnya saja dagangannya nanti. Namun sebelum benar-benar berangkat, ia berpesan supaya Rembulan diam saja andai ada yang bertamu atau ketok-ketok pintu. Jangan dibukain. Takutnya ribet karena belum laporan ini itu ke sesepuh kampung. Rembulan pun mengangguk oke, seenggaknya ia bisa sembunyi dulu supaya tidak dikejar orangnya Jack. Terlebih saat di pasar Mas Agus bilang sempat berpapasan dengan Hermansyah yang mencari-cari gadis itu sampai ke lapak tapi tidak mengaku Rembulan sudah menghilang sih. Cuma nanya doang layaknya intel yang selanjutnya dilaporkan kepada Jack.

Jack sendiri seperti ada perasaan menyesal karena sudah berbuat semena-mena pada Rembulan. makanya ia ingin minta maaf dan menginginkan gadis itu bekerja lagi di penthousenya. Tentu dengan menyuruh Hermansyah mengecek apakah Rembulan balik ke tempat Abangnya atau tidak, dan ternyata jawabannya adalah yang terakhir. Tidak ada di sana. Kemana ya si pipi bakpao itu?

****















Menyeruak diantara tumpukan terung yang berwarna ungu mengkilat, Hermansyah akhirnya berhasil juga mencapai lapak sayur milik Satria yang berada di blok D kawasan Pasar Induk Kramat Djati, Jakarta Timur. Penampilannya yang necis dan wangi kini harus membaur dengan aroma pasar yang campur aduk dengan segala macam isinya. Tak mengapa, sebab misinya kali ini adalah ingin memastikan Rembulan berada di sana atau tidak. Apakah sudah kembali ke perasalannya atau belum.

"Maaf! Permisi!" Hermansyah berkata dengan sopan santun yang terjaga khas sifatnya saat menjumpai adanya pemuda bau kencur yang kira-kira sepantaran dengan Rembulan. Ia sedang asyik mengurus kerjaannya kali ini yakni wortel yang panjang-panjang lagi sehat berwarna oranye cerah untuk disortir mana yang layak dan mana yang tidak. Matanya lalu menangkap sosok tamu di lapak majikannya sudah berdiri di sana dan meminta untuk segera ditanggapi.

"Iya Mas. Cari apa ya?" Khanif akhirnya menyahut pria parlente tadi dengan mata agak terpicing. Heran saja, ada gitu orang kantoran kelihatan seperti bintang film Korea turun ke pasar dengan mengenakan jas begini?

"Oh tidak...cuma mau tanya, Rembulan ada? Maksud saya, perempuan yang juga biasanya jualan di sini?"

Khanif semakin menatap heran ke arah pria itu. Rembulan? Ia tahu nama Rembulan? Siapa ya?

"Maaf Mas, sudah semingguan Rembulan kerja di tempat lain. Udah ga di sini lagi. Ada apa ya?" Tanya pemuda itu dengan nada menyelidik. Seingatnya Rembulan tidak kenal laki-laki itu. Atau ia yang tidak tahu?

"Oh jadi sudah semingguan ga di sini ya? Belum pernah pulangkah?" Ia kembali bertanya.

"Belum sih. Di kontrakan juga ga ada soalnya."

"Ah...seperti itu." Laki-laki bermata sendu itu lalu mengangguk sopan ke arah Khanif dan segera mohon diri. Sepertinya agak kecewa karena apa yang diharapkannya tidak ada di tempat.

"Kalau begitu saya pamit dulu. Terima kasih untuk informasinya."

Khanif hanya memandanginya dengan penuh tanda tanya sampai punggung itu menghilang bersama aroma parfum Bvlgarinya.

****



















Saat Mas Agus dagang, Rembulan memilih bantu-bantu untuk membersihkan rumah. Sekalian kan ingin memberikan surprise. Nanti begitu Mas A pulang, maka yang ada adalah rumah sudah dalam keadaan kinclong. Ya, kegiatan ringan saja lanjutan dari yang sempat terjeda waktu istirahat siang, karena jujur rebahan terus di atas ranjang malah bikin badan jadi pegal-pegal semua. Mungkin karena sudah terbiasa 'aktivitas', makanya inginnya gerak. Terlebih sore ini paling kegiatannya tinggal menyetrika saja. Ya menyetrika sejumlah pakaian yang telah kering usai dijemur sesiangan di bawah terik mentari. 

Berjingkat Rembulan menelusuri tiang jemuran yang di sana barulah ia tahu bahwa ada sesuatu yang menyebabkan badannya tetap saja menggigil sedari tadi. "Owalah pantes ikutan dijemur sih, sueee." Sambil tangan tak henti bekerja mengangkati helai demi helai pakaian yang ada untuk ia rengkuh bersamaan sekaligus demi mengefisienkan waktu. Sebab setelahnya ia akan langsung setrika saja supaya benda satu-satunya yang menyita perhatiannya tadi ya bisa cepat digunakan supaya tidak ada lagi sesuatu yang mengganjal.

Namun seperti kurang hoki, baru saja menancapkan kabel setrika pada stop kontaknya, yang ada malah listrik padam. Duh! Sial betul...sebab ia kan sedang berada di rumah yang samping-sampingnya pepohonan rimbun tak jauh dari hutan plus kuburan. Mana posisi lilin ia tidak tahu lagi ada di mana. "Aaaaarggggh!!! Mas Agus kok ga pulang-pulang ya." Sudah magrib begini loh. Kemana sih? Aku takut sendirian di rumah". Tapi baru saja ia sambatan, yang diharapkannya pun akhirnya muncul juga. Tatkala pintu depan dibuka, Rembulan bermaksud untuk menyambut, tapi karena ruangan dalam keadaan gelap gulita, yang ada malah ia kejeduk sesuatu. Empuk sih...apaan ya? 

"Mas itu kamu kan? Mas Agus?"

Derap kaki di depannya terhenti, dan benda empuk yang dijinjingnya ia hempaskan ke lantai.

"Iya Rembulan, ini Mas Agus."

Ouh! Lega hati Rembulan, karena ia takut disatroni maling. Kan ia takut diapa-apakan seperti peristiwa tempo hari, hiks. Tapi kalau dengan Mas A sih ia yakin tidak. Mas A kan orangnya baik...hohoho.

"Bawa apaan sih? Tadi aku kejeduk sesuatu?"

"Habis beli kasur. Ya kan biar Rembulan ga mengira sudah merebut kasurku hahaha." Terdengar derai tawa Mas Agus yang spontanitas terjadi begitu saja dan membuat gadis di hadapannya itu cengo.

"Oh iya, sama satu lagi. Ini buat ganti-ganti, aku belikan baru. Ya walau aku tidak tahu ukurannya berapa. Tapi ini buat ganti selama masih ada di sini. Tadi aku sekalian mampir di kiosnya dan bingung karena dipandang aneh sama yang jualnya, semprul hahhahaa." Mas Agus segera menyerahkan sekantung besar sesuatu yang lantas membuat Rembulan hampir kehabisan kata-kata karena sejujurnya ia malu...

Tapi sudahlah! Lupakan saja hal itu. Yang penting, sekarang listrik mati diakalinnya bagaimana?

"Ya sudah, Mas bersih-bersih badan dulu ya, magriban dulu, dan lain-lain. Nanti Mas carikan lilin sebentar lagi. Kalau sudah mandi. Gerah soalnya." 

"Hu um, iya Mas..."

****















Rembulan meneliti panci siomay yang dibawa pulang Mas Agus hari ini ternyata masih tersisa banyak. Saat itu pula, yang empunya rumah sudah wangi karena usai mandi dan telah berganti pakaian dengan yang lebih santai. Ia berjalan ke arahnya sembari membawa tatakan dan sebatang lilin untuk ia taruh di atas meja keramik dapur. 

"Kenapa Rembulan?" tanya Mas Agus yang melihat ekspresi tamu kecilnya itu sibuk menatap siomay-siomay sisa dalam panci.

"Masih banyak ya Mas. Apa hari ini dagangan sepi?"

"Yah begitulah sebuah ketidakpastian Nduk, tapi Mas sudah terbiasa kok. Namanya juga usaha sendiri. Ya segala sesuatu harus dijalani dengan penuh syukur toh? Alhamdulilah berarti rejeki Mas baru segini. Berarti sisanya bisa kita makan."

Kyaaaa...speechless juga Rembulan mendengar kata-kata Mas Agus yang selalu menyejukkan hati. Setidaknya hingga pertemuannya untuk yang ke-3 kali ini.

"Benar kan? Jangan bengong saja. Nanti kesurupan loh. Sebab di belakang itu ada kuburan."

"Aaaaaaak!"

Mas Agus memang hobi betul menggurauinya sampai kadang ia jadi manyun hahaha..

"Ya sudah, biar terang...kita makan siomaynya di belakang saja yuk. Di bawah sinar Rembulan." Tiba-tiba Mas Agus menggandeng tangan Rembulan untuk diajaknya duduk-duduk di teras belakang yang lantainya sudah pavingan semua, tapi atasnya masih kena kanopi pohon jambu darsono setelah sebelumnya menata siomay ke dalam 2 piring untuk dimakan bersama.

"Makan siomay sama-sama?"

"Iya. Yuk!"

Rembulan menatap keheranan ke arahnya.

"Tenang saja belum basi kok siomaynya." Mas Agus memastikan.

"Masih enak gitu?"

"Iya...."

"Emmmm....Baiklah!!!" 
(senyum-senyum karena melihat tangannya digandeng spontan).

***

















Di bawah langit petang yang bertabur bintang, tapi tetap saja rembulan yang jadi primadonanya, 2 orang anak manusia duduk berdampingan. Menikmati sepiring siomay yang dinaungi pohon jambu darsono. Pohonnya rungkut sekali hingga buahnya yang merah bergelantungan agak kurang terlihat kalau saja tidak diperhatikan dengan detail. Tapi itu tak mengapa, sebab justru indahnya bukan terletak pada pohon jambu darsononya, melainkan pada rembulannya. Rembulan yang sebenarnya sedang dipandangi oleh Rembulan lainnya, namun kali ini dalam wujud manusia. Rembulan yang sedang bulat-bulatnya yang untung saja tidak ada siluet ETnya--- lewat dengan sepeda, rembulan yang bermandikan sinarnya yang keperakan diantara kabut tebal yang membentuk gugus lingkaran, walaupun sebenarnya ahli fisika bilang bahwa sinar rembulan tidak berasal dari dirinya sendiri melainkan hasil pantulan sinar matahari. Tapi persetan dengan fisika! Sekarang saatnya bersentimentil-sentimentil ria...Terlebih background suaranya juga sudah ngepas bener : Orkes jangkrik yang berbunyi 'krik-krik-krik' dan bersahut-sahutan dari satu semak ke semak lainnya. Mengingatkan pada suasana pegunungan meski ini di pinggiran Jakarta yang bersebelahan dengan hutan kota. Sebab kalau di gunung masih ada tonggeret, sedangkan di halaman belakang rumah Mas Agus ada jangkrik. Yang kalau diresapi merdu juga suaranya! 

"Rembulan...."

Mas Agus tiba-tiba memanggilnya dengan lembut di tengah aktivitas gadis bermata bulat itu mengudap siomay yang berlumuran saus kacang pedas. 

"Iya Mas..."

Rembulan menoleh ke arah lawan bicaranya.

"Kok tadi aku lihat, rumah kelihatan bersih. Apa Rembulan yang bersihkan?"

Rembulan mengangguk lalu diiringi dengan raut muka terkejut dari Mas Agus.

"Kan Rembulan masih sakit. Kenapa malah mengerjakan pekerjaan berat? Nanti kalau Rembulan ga sembuh-sembuh kapan bisa aku pulangkan ke Abangnya?"

"Ha........" (seperti ada nada kecewa).

"Bercanda saja. Gitu aja ngambek. Nanti kukasih permen ya." bujuk Mas Agus.

"Ogaaaah!!! Aku ga suka permen. Aku benciiii sama permen!!! Huft." sungut Rembulan.

"Hahahhahah...." Mas Agus tertawa.

"Ya udah pete sama jengkol saja gimana?" tawar Mas Agus lagi.

"Ga ah!"

"Lha kok gitu?" tanya Mas Agus.

"Hmmmmb ga pa pa." kata Rembulan lirih.

"Iya...iya...Mas bercanda kok." ujar Mas Agus lagi-lagi dengan nada membujuk.

"Hu..." sungut Rembulan

"Kenapa sih?" tanya Mas Agus.

"Ga kenapa-napa sih." jawab Rembulan pendek.

"Ahhh! Iya iya terima kasih deh sudah dibantu bersihkan rumah. Padahal Mas orangnya santai. Kadang malas juga bersihin sendiri. Jadi aku biarkan saja berantakan apa adanya. Hahahhahah!" kata Mas Agus santai.

"Ya itu bentuk terima kasih aja karena sudah tolongin Rembulan." timpal Rembulan.

"Loh memangnya aku sudah ngapain sih?" tanya Mas Agus.

"Ya sudah kasih tumpangan aku waktu malam-malam itu lah, masa lupa." jawab Rembulan.

"Ah santai saja. Rakpowpow! Kan sudah kewajiban sebagai sesama manusia, saling tolong-menolong." kata Mas Agus.

"Haaaaa.. jawabannya kayak text buku PPKN, ga ada manis-manisnya. Huft!" sahut Rembulan bete.

"Hahahahaha!" 

"Tapi biarin deh, Rembulan tetap akan berterima kasih sama Mas." ujar Rembulan lagi.

"Masa gitu doang cara terima kasihnya?" timpal Mas Agus.

"Loh memang bagaimana?" tanya Rembulan.

"Ya coba dipikir sendiri, ada cara lain ga?" 

"Apaan tuh ya?"

"Hahahahaaa...polos betul jadi anak. Dasar anak 17 tahun!"

"Makanya kasih tahu caranya gimana."

"Ga ah, cari aja sendiri!"

"Hohoho."

***






















"Tunggu!!!!"

"Coba Mas lihat tuh ke atas, ada apaan tuh?" suruh Rembulan

"Ada apaan sih?" Mas Agus pura-pura bingung.

"Coba lihat aja dulu! Tuh!!!" Ujar Rembulan lagi.

Dalam sekejap laki-laki itu mengikuti arah pandang yang ditunjukkan Rembulan dan kemudian dirinya diberikan kejutan kecil yang manis namun bikin shocked.........




 

BERSAMBUNG.....


























playlist kali ini biar nulis cerbungnya lebih semangat dan bikin ide mengalir deres 

Home (Switchfoot)
Roman Picisan (Dewa)
Sepatu (Tulus)
Jika itu yang terbaik (Ungu)
Harmoni Cinta (Gita Gutawa)
Pemeran Utama (Raisa)
Jatuh Hati (Raisa)
Cinta Sejati (Element)
Terlanjur Mencinta (Tiara Andini)

silahkeun dengerin pakek headset masing-masing ?!!! :XD


Monmaap seperti biasa ada part suenya, sebab penulisnya juga emang rada sue bin somplak jadi santuy ae ya pembaca...ojok rewel ojo digawe ribet hahahhaha...cuma fiksi...Fiktif belaka :D.


117 komentar:

  1. Asyiik ada update terbaru *brb mau baca dulu

    BalasHapus
    Balasan
    1. asyikkk kasih kiss dulu ma mba nisa yang dah dapat pertamax

      (γ₯ ̄ ³ ̄)γ₯

      😘😘

      Hapus
  2. Nitip nomor antrian dulu mbul...😊😊 Natar baru komen.😊

    Biasa si anu masih betah dikelonin.😁😁
    🚢‍♀️🚢‍♀️

    BalasHapus
    Balasan
    1. wokey siyap 86 ndan...mau kukoreksi sambil jalan juga takut ada typo atau ada salah ketik wkwkwkkw

      Hapus
    2. Akhirnya setelah gludug jegar-jegeeerr yang mirip pukulan Dewa Topan Menggusur Gunung.πŸ€£πŸ˜‹

      Akhirnya Rembulan pun dibawa naik mobil pick-up oleh si A suuee...Kekawasan Cijantung, Meski A bingung harus membawa kemana, Padahal rumah sakit dekat dikawasan Cijantung... Karena otak belisnya sudah bermain akhirnya si A suueee memilih membawa Rembulan kerumahnya.😬

      Meski Dahlan & Ratna hanya buat basa-basi pikirannya doang...Meski sesungguhnya si A suuee merasa senang bisa membawa Rembulan kerumahnya.😬 Akhirnya dengan bermodalkan bale kayu yang sudah reot karena dimakan Rayap si A suuee membaringkan tubuh Rembulan kebale kayunya. Meski banyak pikiran belis yang mengglayuti jiwa akhirnya si A suuue bisa bertahan dan memilih tidur disofa reotnya yang berada diruang tengah. Hingga Rembulan tersadar dan merasa bangga karena yang menolongnya seorang pahlawan kesiangan yang sudah ia kenal beberapa bulan lalu. Yaitu si A suuee yang telah mengembalikan hp bututnya.

      Sedangkan ditempat Jaey betet, Hermansyah betet pun merasa kesal atas kelakuan Jaey betet yang ingin merudakpaksa Rembulan meski dalam keadaan mabuk akibat kebanyakan minum Limun cap kecap.🀣 🀣 πŸ˜ƒ

      Dengan langkah pasti Hermansyah betet pun mencoba mencari Rembulan walau ia sudah menuju pasar kramat Jati namun ia tak menemukan Rembulan. Hanya Khanif Jones saja yang ia temukan dan semuanya Nihil. Hingga akhirnya Hermansyah betet pun pergi meninggalkan Khanif Jones yang juga merasa bingung atas kehadiran pria perlente yang beraroma parfum cap cabe.πŸ˜†πŸ˜†πŸ€£

      Dan dalam kisah ini posisi Rembulan merasa nyaman yaa karena bisa bertemu si A suuee yang mulai bertingkah tengik, Karena seolah merasa punya sang pujaan hati dan bergaya bah suami istri... Karena setiap pulang dagang siomay selalu ada yang masakin... Meski dagangan siomaynya kadang abis kadang kaga, Bagi si A suueee yang penting ia bisa bergaya dan menari-nari bersama Rembulan mirip film2 India yang selalu bernyanyi bila melihat taman....Meski pada kenyataannya bayground latar belakang rumah si A suuee cuma ada kuburan dan sumur tua.🀣🀣 Benar2 suuueee memang.🀣 🀣 Lalu apakah kejutan yang akan dibuat Rembulan terhadap si A....Apakah ia akan diberikan kodok bancet, Nggak tahu.???😳🀷‍♀️🀷‍♀️🀷‍♀️

      Hapus
    3. wohohohoooo...makasih aka tararengkyu uda disarikan seperti biasa kang satria bwahahha..itulah kenapa aku paling antusias kalau kang sat n mas agus udah komen...hwahahahhahaah...seneng soalnya kelihatan baca #eh yang lain juga sih hihi

      eh beydewey...sik taknumoang ngukuk kang...itu semua cluenya diplesetin jadi hal hal sue astagahhhh tapi kocag ih hahhahah

      oh iya ya...rs di cijantung dan sekitarnya banyak...tapi kok lebih pewe dibawa pulang ke rumahnya mas a ya? hwahahah #mungkin karena sekarang lagi pada takut nyatron faskesvkang kalau ga urgent urgent amat...kan kalau pengsan masih bisa ditambanin pake teh manis panas aja jyahahah #begitulah kang kalau sutradaranya bebymbul pasti skenario dan jalan ceritanya dibikin swsue mungkin #eh sesweet mungkin hhahahha..biar kayak di pilem pilem lah πŸ˜‚πŸ€£πŸ€£πŸ€£πŸ€£

      Hapus
    4. Tumben kang satria ngga nongol lagi, mungkin shok lihat ceritanya full adegan Agus dan rembulan.🀣

      Hapus
    5. sekali kali pemeran utamanya mas agus, kalau di cerpen mas agus kan pemeran utamanya kang satria mulu, kalau di cerbung aku mas agus aja lah ya ahahhaha πŸ˜†πŸ˜ƒπŸ˜„

      Hapus
  3. cie romantis banget cerita cinta rembulan dan mas agus, udah seperti cerita cinta romeo dan juliet :D.. btw, rumahnya mas agus agak jauh dari keramain ya, cocok banget memang hihihi.. deket kuburan juga, apa gak ada cerita penampakan hantu iseng, jadi cerita gendre romantis mistis :D

    baik banget memang mas agus, gantiin baju rembulan sampei merem melek gitu, ketauan kang satrai lho :D,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ngga bakal ketauan satria, orang dia lagi asyik mangkal di lampu merah mas 🀣

      Hapus
    2. lho emang dia mangkal di lampu merah mana mas, pantes gak pernah kelihatan di warung :D

      Hapus
    3. Lampu merah dekat Bekasi mas, kasihan karena suka mangkal jadinya ngga peduli dengan adiknya.πŸ˜‚

      Hapus
    4. mas nif 1 : gemana gemana uda cucok belom ini dibikin pilem romantis

      (*・Ο‰・οΎ‰οΎ‰οΎž☆゚゚ahahhahahaha...

      ((o(*>Ο‰<*)o))

      sengaja sukanya bikin cerita romansa soalnya kalau horror aku ga jago mas khanif, uda ada yang ahli kalau horror xixixi..tapi kalau misteri aku masih mending rada bisa...tapi kalau pure horror sepertinya ini keahlian kangmase agus..iya ga mas agus πŸ™„πŸ˜„

      (❁´◡`❁)

      bwahahahhahahah...ku mo komen apaa ya...biasa mas khanif biar ada 'bumbu bumbu gregetnya' mas khanif πŸ˜†☺😊

      Hapus
    5. mas agus 1 : ya ampun mas.....tetep ya kata kata saktinya itu, mbul jadi tawa tawa lah mas πŸ™„πŸ€­πŸ€­

      (*´>Ο‰<))Ο‰`●)

      Hapus
    6. mas nif 2 : mungkin warung doyong kalik mas nif, e itu mah waru doyong yaaaak ahahhah πŸŒ³πŸπŸπŸ‚

      Hapus
    7. mas agus 2 : adiknya jadi dikawin lari ama orang yak mas...eh #ahahhahah

      πŸ™ˆ

      (⁄ ⁄•⁄Ο‰⁄•⁄ ⁄)

      δΈ‰δΈ‰α••( ᐛ )α•—

      Hapus
    8. nungguin balesan komentar dari mas agus xixixi :D

      Hapus
    9. Oh, berarti part 6 nanti rembulan sama Agus kawin lari ya mbak, asyik.πŸ˜„

      Hapus
    10. 😝 kita tunggu aja seminggu atau dua minggu lagi di part 6

      γƒΎ(❀╹◡╹)οΎ‰οΎž❀~

      gemana konsep kawinannya #eh

      ahhahahahhaha πŸ˜„πŸ˜πŸ˜†

      Hapus
    11. πŸ™„πŸ™„πŸ˜³πŸ€”πŸ€”πŸ€”πŸ€”πŸ€”πŸ€”πŸ€”

      Hapus
    12. kang satria, lagi mikir apaan kang ???πŸ˜‚πŸ€£πŸ€£πŸ€£πŸ€£

      Hapus
    13. mikirin istrinya, minta duit mulu wkwkwk

      Hapus
    14. mas khanif : bukan aku yang bilang πŸ˜‚πŸ€£πŸ€£

      Hapus
    15. Oh pantesan kang satria harus mangkal terus, ternyata istrinya minta duit melulu.

      Kasihan ya.πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

      Hapus
    16. πŸ™‰πŸ™ŠπŸ™ˆπŸ˜‚πŸ€£πŸ€£πŸ€£πŸ€£

      Hapus
  4. nakal sekali ya rembulan malah ujan ujanan, bikin khawatir plus bikin repot mas nya sih

    lain kali suruh bawa payung kalo mau ujan ujanan

    BalasHapus
    Balasan
    1. perlu dicubit atau dijewer kali ya mas intan rembulannya hahhahaha

      (´・ο½ͺ・`) πŸ˜‚πŸ€£πŸ€£

      berarti di tasnya harus dibekelin payung terus tuh anak yak ☔ ☔ ☔ πŸ’§ ⚡πŸ’§πŸ’¦

      Hapus
    2. iya bawa payung lipat aja kalo ada

      kalo ada yah wkwkwk

      Hapus
    3. kalau ga ada? gemana? manngkas daun pisang aja kali ya mas hahhahahaha

      Hapus
    4. bawa jas ujan warna putih, sekalian pake helm dan masker, nanti di sangka petugas anti korona :D

      Hapus
    5. waduuuuw πŸ€ͺ😳😱😱

      hahhaha...jangan lah mas khanif itu kan barang langka xixixi...biar digunakan sama yang berkepentingan aja..rembulan cukup ngiyup aja hihi

      Hapus
    6. Tahu tuh mas khanif, masih mending disangka petugas korona, gimana kalo disangka pisang lemper.😱

      Hapus
    7. nah ntar malah dikira candy ghost lan gaswad πŸ˜‚πŸ€£πŸ€£

      Hapus
    8. Kalau disangka candy ghost tinggal dicocolin sambel aja, mbak..hihihi

      Hapus
    9. hahh??? whoottt,candy ghost kok dicocol sambel mas her? apa itu yang dinamakan otak-otak ya? πŸ˜πŸ˜†

      Hapus
    10. Lah memang candy ghost itu apa, mbak?

      Hapus
    11. candy ghost itu pocong manis wkwkwk

      Hapus
    12. mas her : uda dibantu jawab ama mas khanif mas πŸ˜‚, gampangnya dulu kalau di sinetronnya mandra yang jadi mumun

      Hapus
    13. mas khanif : nah ituuuu pinter wkwk

      Hapus
    14. gw kan penggemarnya kisah tanah jawa :D

      Hapus
    15. mas nif : sama dong updateannya om hao dan om genta ya

      (´・Ο‰・`)

      Hapus
    16. ko thread saya rame sih, bikin sendiri dong wkwkwk

      Hapus
    17. wkwkwkwk hayo bikin thread komen baru lagi di bawah πŸ˜πŸ˜†

      berarti komennya mas intan menarik tuh kan ditimpalin yang lain hahhaahha

      Hapus
    18. Oh, musuhnya Pac Man dong.

      Hapus
    19. pac man tuh apaan yak?

      #loading

      πŸ™„πŸ€”

      Hapus
    20. Pac Man mbak, masa ngga kenal pac Man sih? πŸ€”

      Itu singkatan dari pac Herman.πŸ˜†

      Hapus
    21. lha og aku baru sadar ya masgusss...e lha bener ituw wekekekek

      α••( ՞ α—œ ՞ )α•—

      Hapus
    22. awas ada bebek ucul πŸ¦†πŸ¦†πŸ¦†πŸ¦†

      Hapus
    23. tangkep tuh bebeknya, buat rica-rica ala chef mbak mbul enak nih :D

      Hapus
    24. tangkaaaaappp !!!!

      hooooppp!!! licin banget...ni bebek πŸ¦†πŸ¦†πŸ¦† apa belut 🐍sik

      wkwkwkwk

      Hapus
    25. bukan komenan saya yg menarik, tapi ketampanan saya yang membuat orang tertarik wkwkwk

      Hapus
    26. naaaaini...langsung sambil kibaskan rambut mas intan, awas pengunjung blog ini bakal tersihir oleh kehenseman mas intan hahhahhahhahahha

      Hapus
    27. wkwkwk rambut saya pendek lho plus agak ikal ga bisa kibasin rambut haha

      Hapus
    28. kalau gitu disibakin aja sambil bilang : "Saya keren!" :D

      Hapus
  5. Aduh ??? Ceritanya bagus banget mbak nita, tuh mas Agus pasti habis gantiin baju rembulan pasti ngompol dek celana habis gak nahan lihat kecantikan rembulan yang weleh - weleh . Oh ya mbak nita kalau bisa sering - seringlah buat novel romantis gini dan Tari akan jadi pengomentar pertama ya karena kan tari dah berhenti ngeblog .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh mbak tari seneng banget sama cerita romansa ya. Kalo mbak mbul bikin novel romansa beli ya mbak.πŸ˜„

      Hapus
    2. alhamdulilah kalau tari suka 😘😍

      bhahhaha...bisa aja nih tari...iya aku jadi semangat nulisnya nih, makasih ya tari

      (((o(♡´▽`♡)o)))

      Hapus
    3. bhihihi mas agus bisa aja...pengennya...tapi...kayaknya ga mungkin mas bisa jadi penulis buku beneran hihi..tapi pengen.....

      (。>‿‿<。 )

      (✪Ο‰✪)/

      ♡(*´Ο‰`*)/♡

      Hapus
    4. Insya Alloh menurutku sih bisa mbak. Jalan ceritanya sudah bagus, tinggal nyari penerbit yang mau bikin novelnya, mungkin bisa tanya mbak Ica.πŸ˜ƒ

      Hapus
    5. hmmmm...biar nita nulis dengan cara nita ndiri hihi

      di blog gratisan pun nita uda seneng mas, kali ada yang khilap baca, nita kan ga sehebat mba icha...tapi gapapa nita nulis dengan gaya nita ndiri..ga jadi buku pun tak masalah 😍πŸ₯°

      Hapus
    6. Setuju sama mas Agus, menurut saya juga cerita yang mbak Nita bikin bagus-bagus tinggal dikembangkan aja buat jadi novel dan diterbitkan

      Hapus
    7. Betul Huu tinggal cari penerbit yee..😊😊 Sama pasang iklan adsense diblognye..😊😊

      Hapus
    8. mas herman : masa sih, ah nggak kok..aku merasa masih cupu dan harus banyak belajar dari kalian semua hwaaaaaaa...(。>γ……<。)πŸ’¦…

      Hapus
    9. kang satria : kalau dipasang adsense nanti blog mbul jadi kotor ga kang tampilannya wekekekek

      (´°̥̥̥̥̥̥̥̥Ο‰°̥̥̥̥̥̥̥̥`)

      Hapus
    10. Nah tuh betul kata mas Satria tinggal cari penerbitnya mungkin penerbit mayor susah buat ditembus coba di penerbit indie dulu dan satu lagi sama tambahi PDnya biar tambah yakin sama karyanya dan kalau mbak udah duterbitkan insya Allah saya akan pesan, mbak

      Hapus
    11. wah masa sih mas herman...makasih ya dah dibilang begitu, insyaAloh deh ntar aku perkuat dulu belajar ngolah kata dan alurnya ☺😊

      Hapus
    12. Iya mbak, kalo dibikin novel insya Allah aku pasti baca kalo ada ebook gratisnya.πŸ˜„

      Hapus
    13. kalau begitu sebagai latihan dulu mbul siapkan bikin cerpen atau cerbung di blog ini ya mas ....

      pake nama temen blogger, termasuk mas agus dan yang lain masih bole kaaan ?

      (*´︶`*)ΰΈ…♡

      Hapus
    14. Lanjut pakai namanya, asiikkk nih dapat kontrak baru..hihihi

      Hapus
    15. huaseeeekkk...kontrak ke 2...tetep yeeeay oake nama nama kalian hahahha..mas agus, mas herman, khanif hahhaahaaaahahaaaaa

      Hapus
    16. Kalau bisa sih dipakai terus selamanya kan jadi lumayan dapat honornya..hahaha

      Hapus
    17. bwahahhaha kudu berdompet tebal ni sutradaranya ya...pemainnya oke oke semua sih wkwkwk

      Hapus
    18. Ngga usah banyak banyak, cukup kasih uang buat langganan Indihome tiap bulan mbak.🀣

      Hapus
    19. mau indihome apa merek sebelah?

      πŸ˜‚πŸ€£πŸ€£

      Hapus
  6. Kemarin sore kesini tapi masih belum ada part 5 jadinya balik lagi.

    Ya udah, nitip sandal dulu ya mbak, mau jualan siomay soalnya.🀣
    .
    ..
    ...
    ....
    .....
    ......
    .......
    ........
    .........
    ......... .

    15 menit kemudian...

    ................
    ..............
    ............
    ..........
    ........
    ......
    ....
    ...
    ..
    .

    Oh pantesan kang satria ngambek, rupanya part 5 ini full romansa antara Agus dan rembulan. Lagian adiknya lama kerja di jaey Gupta bukannya ditolong dibawa pulang tapi malah enak enak mangkal.πŸ˜‚

    Wadaw, ada bagian gantiin baju mbul yang basah segala, pas dicopot bajunya, apa si agus ngga kesetrum lihat bodi mbak mbul yang seperti pretty asmara eh pretty Zinta ya.πŸ˜‚

    Udah gitu suka bersih bersih dan masak lagi, masakannya enak, mungkin kedepannya mbul bakal disuruh di rumah itu terus biar bisa masak terus buat Agus.

    Kira kira itu yang ditunjukkan apa ya, Agus pura pura bingung, berarti ia yang ngasih kejutan. Apa yang datang itu karangan bunga dan ada tulisan ”maukah kau hidup bersamaku selama sayang”.🀣

    Cepat amat padahal baru kenalan.πŸ˜„

    Kalo bisa, part 6 itu episode terakhir saja dan akhirnya Agus dan rembulan hidup di pondok itu diiringi suara jangkrik krik..krik...krikkk.

    BalasHapus
    Balasan
    1. pulangnya jangan lama lama ya mas....

      loh kok sandalnya nda dipakai hihi..biar balik lagi maksudnya ya..sandalnya takumpetin hahahha

      πŸ‘žπŸ‘žπŸ‘ž

      bwahahhahahah....bisa aja mas agus bikin aku ketawa

      (^Ο‰^)

      (。・Ο‰・。)

      kan kang satria sibuk berkelir eh berniaga kang, jadi adeknya dikira bae bae aja hwahahahha...untung luhrembulan ketemu pahlawan bertopengnya ya 😍

      (((o(♡´▽`♡)o)))

      sekali kali full adegannya sama tokoh mas agus lah ahahhahahaha

      mungkin aslinya kesetrum tapi ditahan kali ya

      (⁄ ⁄•⁄Ο‰⁄•⁄ ⁄)


      #eh ngomong opo aku barusan ya wkwkwk

      πŸ˜‚πŸ€£ πŸ™ˆ


      hmmmmmb...jadiin ga ya kemungkinan ini ahahahaii...tunggu part 6 nya ntar kali ya hihi...

      hayo coba apakah yang dimaksud dengan kejutan itu...apakah rembulan yang ngasih sesuatu sweet sweet atau mas A nya? coba tebak dan interogasi sutradaranya mas? πŸ˜„πŸ˜πŸ˜†

      hihi...asyiiique dapat tambahan ide buat part 6, makasih ya mas...

      (´✪Ο‰✪`)♡

      Hapus
    2. Waduh, kok sandalku diumpetin, padahal kredit nya belum lunas mbak.πŸ˜‚

      Lha, untuk apa satria sibuk dagang, apakah buat merayu Ratna istrinya Dahlan? Sungguh sueee kalo begitu.🀣

      Mungkin bukan kesetrum tapi ada, ada, ada...

      Bingung aku mau nulis apa.🀣

      Ya udah ditunggu part 6 nya. Tapi tumben bagian 5 tidak sepanjang part 4.

      Hapus
    3. ga pa pa mas, biar balik lagi ke sini jadi sandalnya jadi jaminan #uda kayak pegadaian blognya si embul hahahhahah

      nhaaa jangan jangan satria terpincut ratma waktu ratna beli sayur buat bahan warnasnya muahhahah...ntar dahlan ama satria berhadapan bingung deh soalnya mukanya sama wakakakk #mas bisa aja deh bikin ngakak

      😳😳 ada apaan tuh ? πŸ™„πŸ™„

      iya, mas kemaren tuh apa ya...pengen takbikin sepanjang sebelumnya ternyata kayaknya ntar pembaca malah ga tuntas bacanya hihihi

      ♡(´。•γ……•。`)

      part 6 mau panjang apa pendek? hayoooo πŸ˜†πŸ˜πŸ˜ƒπŸ˜„

      Hapus
  7. Bagus dijadikan buku, Mbak. Ceritanya asik. Salam kenal Mbak Gustyanita

    BalasHapus
    Balasan
    1. wahhh...tiba tiba ku ingin menyanyi...kutersanjuuuung...ku jatuh cintaaa eaaa

      makasih ya mba nursini 😍

      (♡´▽`♡)

      Hapus
  8. Wow, tulisan romantis kayak gini makin cakep dijadiin buku/ novel. Asik lagi kalau makin diperbanyak sekian eposide hahaha yang banyaaaaak ya. Supaya pembaca pada kepo kelanjutan percintaan Rembulan dan Agus hihihi :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. kyaaaaa makasiiih mba nurul, masih banyak taraf latihan aku mba...biasa mengisi sela sela waktu yang sebenernya padet, me time aku latihan nulis gini mba hehe

      γƒΎ(❀╹◡╹)οΎ‰οΎž

      (*´︶`*)ΰΈ…♡

      iya mba, sudah nyampe part 5, kalau lebih puanjang lagi bisa dibaca dari part 1 itu hihihi πŸ₯°πŸ˜

      Hapus
  9. Di part ini ternyata fokus ke Luhrembulan dan Agus tokoh yang lain menepi dulu ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul Huu cuma Ente doang tokoh yang selalu ada dari awal sampai akhir.😁😁🀣

      Hapus
    2. mas herman : biar kata part ini bagiannya mas agus..tapi hayuk lah jangan pada menepi sini sini oada merapat lah di kolom komentar

      πŸ˜πŸ˜„πŸ˜‚

      biar komentar aku ramaiii 😊

      Hapus
    3. siapa kang yang tiyap episode selalu muncul ? πŸ™„πŸ™„πŸ™„πŸ™„πŸ€­πŸ€­

      Hapus
    4. Masa sih, mas Satria. Perasaan di part 101 saya ngga muncul dah?

      Komentator mah ngga menepi kalau menepi jadi ngga seru walau ada beberapa kata yang sedikit bikin bingung tapi tetap kasih komentar.

      Hapus
    5. part 101? kayak anjing dalmation ya, ku jadi ingat qruela ahahahha

      part 0 ada ga mas her?
      coba dilihat lagi dari part 1 yang selalu ada itu siapa ya πŸ™„πŸ™„


      asyikkk ah, walau bentar lagie ku siap siap diedit olehnya

      δΈ‰δΈ‰α••( ᐛ )α•—

      Hapus
    6. Dari part 1 yang selalu ada ya dua tokoh utamanya yaitu Agus dan rembulan.😁

      Hapus
    7. mas agus : asyikkk..mas agus titen ya ternyata πŸ™ˆ

      (。・Ο‰・。)(´✪Ο‰✪`)♡

      Hapus
    8. Si khanif juga selalu muncul tuh di tiap part-nya..hihihi

      Hapus
    9. mas her...always ya kalau cerbung mbul ada tebak tebakanya hahhahahah

      Hapus
    10. Sepertinya begitu btw kira-kira di part 6 tokoh siapa lagi yang bakal nongol masih adakah tokoh-tokoh pendukungnya?

      Oh ya ngomong-ngomong nyeper itu artinya apa sih udah dua kali baca kata nyeper tapi belum tau artinya apa sama satu lagi rungkut juga masih bingung artinya apa?

      Hapus
    11. kayaknya setelah part 6 cuma tokoh pelengkap aja mas her...uda ga ada tokoh utama lagi xixixixi

      nyeper ntuh cari ceperan...nyari objekan maksudnya..jadi selain kerjaan utama ada kerjaan sampingan

      rungkut itu bahasa jawanya rimbun

      (^Ο‰^)

      Hapus
    12. Oh nyeper itu nyari obyekan ya, kirain aku nyeper itu nyeri perhatian mbak. πŸ˜‚

      Hapus
    13. nyeri perhatian? wkwkekkeekekke...bisyaaaa..bisyaaaa πŸ™‰πŸ™ŠπŸ˜‚πŸ€£πŸ€£

      Hapus
  10. Ceritanya panjang banget mba,....luar biasa berapa lama nih ngetiknya, sepertinya berbakat buat jadi novelist atau kalau enggak cerpenis,..asik,...saya cuma baca sampai mas anang, setelah itu pulang, soalnya perjalabannya masih panjang

    BalasHapus
    Balasan
    1. per minggu 1 chapter koh hahhahaha

      ok thengs atas waktunya

      Hapus
  11. Mbul, eh beneran nih cerita fiksi kak? Soalnya nama tokoh sama dengan nama blognya kak Nita ada kata mbul hehe..

    Lanjutkeun mbak ceritane, bahkan kalau bisa diterbitkan nih, soale biar makin mantul si mbul dan Mas Agus

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya ini fiksi .....

      sengaja pinjam nama nama teman blogger niche fiksi mantan pengguna blog mwb termasuk mas agus mbak....ya itung itung biar tambah akrab dan seruuu jagad perfiksian di media blog, juga lebih hidup kayak di watpad hihihi

      Hapus
  12. Hihihi .... untung aku baca ini pagi hari, aku kok malah kepikiran pada setting rmah yang nyempil sendirian di ujung gang sebelah kuburan, hmmm, apa si cewek gak serem pas ditinggal jualan dan ke pasar? Meskipun pagi atau siang, setan itu tetep aja bisa muncul. Weeeih, malah aku ngomonghin setannya? Hahahahahaha ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. xixixiix biasa mba agustina, kalau bikin setting tempat imaginasi uda nyampe level tertinggi akutuw hahhahahah

      naitu...sebenernya dia agak takut juga mana suasananya agak remeng remeng pula kan...tapi kadang kebayangnya adem gitu soalnya banyak bunyi gesekan rumpun bambu kalau pas kena angin :D

      Hapus
  13. Wadidaw, saya jarang banget nih dapet blog begini mba, saya yang cuma ngeblog untuk hal sepele gini gak nyangka dalam kunjungan balasan saya ini bisa dapat konten orisinil yg dikerjain serius, jujur kali ini saya baru baca 3 paragraf dan gak ngerti karena ini memang part 5, jadi skrg saya follow dulu lalu nanti mulai baca part 1 atau may be judul lain karya mba.

    BalasHapus
    Balasan
    1. asyikk.terima kasih sudah difollow dan uda berkenan baca ya mas..silakan dari part 1 heheheh

      Hapus
  14. Ya ampuuuun selalu deh bikin penasaran di akhir ceritaaaa :D. Aku ga sabar pgn tau apa yg ditunjuk Ama rembulan :D

    Makin seru nit, dan sumpah aku penasaran Ama reaksi satria kalo tau adek semata wayangnya kabur dan nth dimanaaa :p. Ga kebayang ngamuknya :D. Semoga si jaey makin blingsatan pas tau rembulan ga pulang ke rumah abangnya dan ga tau di mana. Jd sebel Ama tokoh jaey nyaaa hahahahah .

    BalasHapus
    Balasan
    1. bwahahhahahah apa ya mba, coba tebak itu nunjuk sesuatu atau cuma buat ngalihin aja hihihi

      hahhaha..iya ya...part 6 mari kita lihat reaksi satria dan segala pertempuran yang ada...apakah hampir mendekati ending? ayo mba fans semangati sutradaranya ahhahahahha

      Hapus
  15. seru deh, cerbung nya panjang dan ceritanya kayak lagi baca novel yg di buku buku terbitan 😁
    btw kak ini kayaknya rating 18+ ya kak 🀣

    BalasHapus
    Balasan
    1. tul banget...ini untuk adult romance hahhahahahha

      Hapus
    2. Ternyata mbak mbul suka yang adul adulan ya, awas banyak anak kecil baca.πŸ˜‚

      Hapus
    3. tanggung mas kalau cuma cinta cintaan biasa

      langsung ae gaspol biar ga kentang...

      anak kecil ga ada lah di blog ini hahhahah

      Hapus
  16. Monmaf, belom bisa komen, nitip beberapa huruf aja dulu ya disini, nanti balik lagi kalau udah baca semua ceritanya non mbul, hehee...

    BalasHapus
    Balasan
    1. asyiaaap mang, nuhun...ntar kambek dan dibaca dari part 1 ya :D

      Hapus
    2. Okee, baru baca separoh, sikecil ngerengek minta beliin cilok :D

      Nanti balik lagi ya non...

      Hapus
    3. xixixiix hasiaap mang πŸ˜„πŸ˜πŸ˜ƒ

      Hapus
  17. nama tokohnya ada yang berubah jadinya : Mas agus, satria, khanif, herman dan jack πŸ˜³πŸ™πŸ˜‰

    BalasHapus

Komenin dong...tanpa kehadiran kalian apalah arti aku menulis....
kalian penyemangat setiap bulir kalimat dalam blog ini :*
Namun jangan komentar SARU atau SARA ya, jika ada komentar dengan unsur tersebut, dengan berat hati akan aku HAPUS .

Oh ya, Dilarang juga mengambil gambar/foto atau menyadur tulisan tanpa mencantumkan sumber atau seijin pemiliknya. Apalagi untuk kepentingan komersial atau lomba. Thx ^____^