Sabtu, 09 Januari 2021

Cerbung : Gadis Kecil yang Sedang Belajar Jatuh Cinta (Part 6)



Oleh : Gustyanita Pratiwi

Cerbung ini hanya bersifat Fiktif belaka

(sebagai latihan menulis dan hiburan semata)



Di bawah langit petang yang bertabur bintang, tapi tetap saja rembulan yang jadi primadonanya, 2 orang anak manusia duduk berdampingan. Menikmati sepiring siomay yang dinaungi pohon jambu darsono. Pohonnya rungkut sekali hingga buahnya yang merah bergelantungan agak kurang terlihat kalau saja tidak diperhatikan dengan detail. Tapi itu tak mengapa, sebab justru indahnya bukan terletak pada pohon jambu darsononya, melainkan pada rembulannya. Rembulan yang sebenarnya sedang dipandangi oleh Rembulan lainnya, namun kali ini dalam wujud manusia. Rembulan yang sedang bulat-bulatnya yang untung saja tidak ada siluet ETnya--- lewat dengan menggunakan sepeda, rembulan yang bermandikan sinarnya yang keperakan diantara kabut tebal yang membentuk gugus lingkaran, walaupun sebenarnya ahli fisika bilang bahwa sinar rembulan tidak berasal dari dirinya sendiri melainkan hasil pantulan sinar matahari. Tapi persetan dengan ahli fisika! Sekarang saatnya bersentimentil-sentimentil ria...Terlebih background suaranya juga sudah ngepas bener : Orkes jangkrik yang berbunyi 'krik-krik-krik' dan bersahut-sahutan dari satu semak ke semak lainnya. Mengingatkan pada suasana pegunungan meski ini di pinggiran Jakarta yang bersebelahan dengan hutan kota. Sebab kalau di gunung masih ada tonggeret, sedangkan di halaman belakang rumah Mas Agus ada jangkrik. Yang kalau diresapi merdu betul suaranya! 

"Rembulan...."

Mas Agus tiba-tiba memanggilnya dengan lembut di tengah aktivitas gadis bermata bulat itu mengudap siomay yang berlumuran saus kacang pedas. 

"Iya Mas..."

"Kok tadi aku lihat, rumah kelihatan bersih. Apa Rembulan yang sudah bersihkan?" tanya Mas Agus.

Rembulan mengangguk lalu diiringi dengan raut muka terkejut dari Mas Agus.

"Kan Rembulan masih sakit. Kenapa malah mengerjakan pekerjaan berat? Nanti kalau Rembulan ga sembuh-sembuh kapan bisa aku pulangkan ke Abangnya?"

"Ha........" (seperti ada nada kecewa dari ekspresi Rembulan). Dan lawan bicaranya itu pun menyadarinya. Cepat-cepat ia segera mencadainya. Supaya suasana cair kembali.

"Bercanda. Gitu saja ngambek. Nanti kukasih permen deh." bujuk Mas Agus.

"Ogaaaah!!! Aku ga suka permen. Aku benciiii sama permen!!! Huft." sungut Rembulan. Ekspresinya persis seperti anak kecil yang sedang merajuk. Tapi kalau dilihat secara fisik memang wajahnya masih pantas jika disebut sebagai anak kecil, walau sebenarnya usianya sedang 'sweet-sweetnya seventeen'.

"Hahahhahah...." Mas Agus tertawa.

"Ya sudah pete sama jengkol saja gimana?" tawar Mas Agus lagi.

"Ga ah!" tolak Rembulan dengan cepat.

"Lha kok gitu?" tanya Mas Agus.

"Hmmmmb ga pa pa." kata Rembulan lirih.

"Iya...iya...Mas bercanda kok." ujar Mas Agus lagi-lagi dengan nada membujuk.

"Hu..." sungut Rembulan

"Kenapa sih?" tanya Mas Agus.

"Ga kenapa-napa sih." jawab Rembulan pendek.

Wah ambekan juga nih anak. Ya, maklum masih bocah bau kencur. Selisih 10 tahun dengannya. Tapi masih sama-sama sendiri. Yang satu perawan, yang satu perjaka. Jadi tidak ada yang salah.

"Ahhh! Iya iya terima kasih deh sudah dibantu bersihkan rumah. Padahal Mas orangnya santai. Kadang malas juga bersihin sendiri. Jadi aku biarkan saja berantakan apa adanya. Hahahhahah!" kata Mas Agus santai.

"Ya itu bentuk terima kasih aja karena sudah tolongin Rembulan." timpal Rembulan.

"Loh memangnya aku sudah ngapain sih?" tanya Mas Agus.

"Ya sudah kasih tumpangan aku waktu malam-malam itu lah, masa lupa." jawab Rembulan.

"Ah santai saja. Rakpowpow! Kan sudah kewajiban sebagai sesama manusia, saling tolong-menolong." kata Mas Agus.

"Haaaaa.. jawabannya kayak text buku PPKN, ga ada manis-manisnya. Huft!" sahut Rembulan bete.

"Hahahahaha!" 

"Tapi biarin deh, Rembulan tetap akan berterima kasih sama Mas." ujar Rembulan lagi. Dengan ekspresi macam karakter anime genre ecchi yang adorable ia mengepalkan tangan seperti orang yang hendak meneriakkan kalimat : Ganbatte! Semangat! Jadi tingkahnya memang dilihat-lihat cukup teathrical juga, di samping memang lucu bawaan lahir.

"Masa gitu doang cara berterima kasihnya?" timpal Mas Agus masih dengan nada bercanda.

Rembulan kemudian menghentikan polahnya. Ia memandang heran kepada Mas Agus.

"Loh memang bagaimana?" tanyanya penasaran.

"Ya coba saja dipikir sendiri, ada cara lain tidak ?" 

"Apaan tuh ya?" tanyanya agak loading.

"Hahahahaaa...polos betul jadi anak. Dasar anak 17 tahun!" Mas Agus tertawa.

"Makanya kasih tahu caranya gimana?!!!" 

"Ga ah, cari saja sendiri!" 

"Hohoho." (ekspresi penuh tanda tanya dalam kepala)

***














"Tunggu!!!!"

"Coba Mas lihat tuh ke atas, ada apaan tuh?" suruh Rembulan

"Ada apaan sih?" Mas Agus pura-pura bingung.

"Coba lihat aja dulu! Tuh!!!" Ujar Rembulan lagi.

Dalam sekejap laki-laki itu mengikuti arah pandang yang ditunjukkan Rembulan dan kemudian dirinya diberikan kejutan kecil yang manis namun bikin shocked.........



Baca juga : 


***


















"Cups!"

Pipi pemuda itu diberikan istilah yang menyerupai salah satu merek bubur bayi instan dengan harga terjangkau.  Cukup singkat. Tapi seperti memberikan setrum kecil yang menggelitik. Kyaaaaaa......Dan sinar rembulan di balik awan pun seakan ikut mengedip genit. Dengan malu-malu Rembulan akhirnya menundukkan wajahnya yang entah kenapa mendadak menjadi merah seperti buah stroberi, lalu setelahnya ia beranjak lari masuk rumah, meninggalkan 'korban'-nya yang terbengong-bengong tak percaya atas apa yang diperbuatnya.

****























Pukul 20.00 WIB, listrik masih setia pada pendiriannya, padam yang tak berujung. Hampir sama dengan lagu Agnes Monica. Tapi itu judulnya Cintaku di Ujung Jalan :D. Bukan padam yang tak berujung. Ya, sama-sama pakai kata 'ujung' sih, tentu itu tak masalah bukan? Tapi karenanya Rembulan jadi urung masuk ke dalam kamar. Sebab kamarnya sungguh sangat gelap. Mana hawanya lembab lagi. Lilin pun hanya ada satu yang diletakkan di atas meja keramik dapur, walau sinarnya masih menyorot sampai ke ruang teve tempat dimana kasur lipat isi kapuk randu yang permukaannya bergelombang itu direbahkan. Ia pun jadi berdiri terpaku saja di sana... Sebab atas kejadian sebelumnya yang ia lakukan secara spontanitas, sesungguhnya ia jadi malu sendiri, jangan-jangan nanti ia dicap agresif, jangan-jangan nanti ia dicap binal, aarrrrrrrrrrggghh!!!!!!!...Tapi apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur. Apa yang sudah terjadi tidak dapat ditarik kembali. Istilah bahasa Inggrisnya 'show must go on', sudah kadung. Paling nanti ia akan pura-pura amnesia saja. 

"Jegeeeeeeer!!!!! Gludug!! Gludug!! Gludug!!!" 

Tiba-tiba bingkai jendela yang belum ditutup gordinnya melukiskan kilatan putih disertai sambaran geledeg yang membuat kacanya bergetar. Setelahnya rintik hujan turun menimbulkan bunyi-bunyian ramai yang lama-kelamaan intensitasnya mengencang juga meninggi. Tak sampai 10 menit Mas Agus masuk dan segera menutup segala pintu dan juga jendela. Gordin juga ia sibakkan supaya pemandangan yang menakutkan di luar sana tak kelihatan lagi. Lagipula sudah malam, takut nyamuk kebon pada masuk, jadi lebih baik dikunci sekalian. "Ceklek!" 

Rembulan dan Mas Agus kini saling berhadap-hadapan. Waduh!! Salah tingkah seperti anak SMP yang baru mengenal cinta. Monyet mana monyet? Sebab Rembulan ingin bertanya padanya apakah ini masih ada hubungannya dengan dia? Tapi jelas itu tidak berlaku untuk Mas Agus yang sudah jauh lebih dewasa di atasnya. Meski tak memungkiri juga bahwa ada perasaan lucu yang kemudian hinggap di hatinya. Ya, maklum saja dirinya kan sudah lama membujang jadi baru merasakan kembali adanya getar-getar....  ah sudahlah. Mana ceweknya masih inosen pula lagi, walau ia gadis kampung. Gadis kampung yang malang dan ia pungut di jalanan waktu hujan kemarin malam. Ya, apapun itu tetap saja hal tersebut membuatnya grogi setengah mati. Bahkan satu sama lain kini masih saling salah tingkah---meski tokek gendut di atas tembok pun turut menjadi saksinya, meski jam di dinding detiknya turut merecoki, keduanya tampak saling bergeming. Tapi kemudian salah satunya mencoba untuk memulai obrolan. Supaya kejadian di bawah pohon jambu darsono tadi teralihkan. Supaya tidak ada rasa tidak enak yang tertinggal dalam hati. Walaupun tentu saja hal tersebut tidak bisa dilupakan begitu saja. Atau malah tidak mau dilupakan?

"Maaf Rembulan, kalau sedang hujan, rumah Mas memang bocor. Tuh...satu...dua...tiga, banyak ya?" Mas Agus berkata sambil tersenyum. Ia ingin gadis yang ada di depannya itu kini merasa relax kembali. 

"Mmmm.....hu um....." gumam Rembulan, tapi belum berani menatap lama mata lawan bicaranya.

"Tik! Tik! Tik!!!" 

Lalu terdengar bunyi tik tik tik teratur membuyarkan lamunan mereka. Tertangkap di beberapa sudut plafon yang warnanya sudah tidak putih lagi terdapat motif rembesan air yang menyerupai gambar amoeba. Pinggir-pinggirnya coklat muda dan sekelilingnya bahkan bercendawan. Langit-langit yang sudah sangat jelek. Kalau saja ia sudah tidak kuat kerangkanya, tentu sudah diganti sejak lama. Toh nyatanya ia belum jebol. Jadi masih tetap dipertahankan sampai dengan saat ini.

"Sebentar Mas ambil ember dulu ya. Hati-hati licin."

Rembulan hanya mengangguk, sementara Mas Agus tak lama kemudian menenteng kedua ember di tangan kanan dan kirinya. 

"Satu lagi embernya. Tunggu ya." ujar Mas Agus lagi. Dan Rembulan pun hanya bisa menyaksikan sendiri bagaimana telatennya lelaki yang di matanya memiliki kharisma ini. Seperti memiliki aura melindungi begitu. Hmmmm...ingin rasanya ia dilindungi olehnya. 

"Sini Mas aku bantuin..." Rembulan akhirnya membuka suara. Melihat Mas Agus agak kepayahan menata ember supaya tidak keburu becek pada pijakan lantainya, maka mau tidak mau ia pun harus membantu. Sebab memang ini sudah rumah tua. Jadi belum sempat diperbaiki bagian yang bocor-bocornya. Mau direnovasi belum ada dananya. Jadi ya sudah apa adanya saja.

"Iya Rembulan...tolong ya. Tapi hati-hati lantai masih licin ya. Maklum rumah mas masih tegelan. Belom sempat ganti keramik, hahaha.." kata Mas Agus sambil tertawa.

"Duh Mas...Rembulan mah kontrakannya lebih parah. Ini masih jauh lebih baik." Rembulan menanggapinya sambil tersenyum manis. Badannya agak membungkuk yang menyebabkan pemuda itu mendadak jadi gugup walaupun kerah gadis yang berbentuk 'u neck' rendah itu ditutupnya dengan sebelah tangan supaya tidak terekspouse bagian dalamnya. 

"Oh ya...memangnya rumah Rembulan dimana?" tanya Mas Agus penasaran.

"Ada sih di belakang area pasar Mas, tapi di kampung. Jalannya agak jauh. Tapi aku biasanya jalan kaki sih ke sana. Kalau ga nebeng dibonceng temen." jawab Rembulan ringan.

"Mmmmm..." Mas Agus mengangguk-angguk menanggapi jawaban gadis itu.

"Rembulan...."

"Iya Mas..."

"Apakah Rembulan sudah punya pacar?"

Ha? Dalam sekejap Rembulan membelalak kaget. Punya pacar? Pertanyaan macam apa itu? Maklum Abangnya Satria orangnya sangat protektif. Siapa laki-laki yang mendekat biasanya langsung dipantau 1×24 jam, macam cara kerja cctv. Praktis di umurnya yang harusnya dipenuhi bunga-bunga cinta tak banyak memberikannya pengalaman ditembak cowok. Tak pernah ada satupun cowok yang diijinkan Satria jadi pacarnya. Paling yang jadi teman dekatnya hanya Khanif, orang yang ikut kerja dengan Satria sekaligus tetangga di samping kontrakan. 

"Kok belum dijawab pertanyaan Mas?" Mas Agus kembali bertanya sambil tersenyum.

"Jangan-jangan sudah punya ya?"

Lah bagaimana ceritanya sudah punya, tadi itu apa arti dari sun di pipi? Rembulan berkata dalam hati. 

"Mmm......belum Mas..." ujar Rembulan malu-malu.

"Ah masa sih? Kan Rembulan manis begini...sepertinya banyak yang antri. Paling pada tidak diterima kali ya?" Mas Agus menggodanya.

"Hmmmm...bener kok Mas, Rembulan belum pernah ditembak cowok." jawabnya lagi. 

Mendengar hal itu Mas Agus tentu saja bersemangat. Dipandangnya mata bulat gadis itu lekat-lekat.

"Kalau begitu, biar Mas saja ya yang tembak Rembulan...Dor!!!!" candanya.

"Owh!" Rembulan reflek memegang sebelah dadanya sembari memperagakan orang yang seperti habis terkena letupan timah panas.

"Takiiidd!"

"Hahhahahah...lucu betul kamu ya!" kata Mas Agus sampai bengong.

"Kan sudah bawaan dari lahir Mas...he he he..."

Karena jadi guyon tak jelas, acara menata ember pun jadi sedikit agak berantakan. Ya, meskipun demikian akhirnya semuanya selesai, dan keduanya lebih memilih duduk-duduk saja di atas kasur lipat yang dikelilingi oleh 3 ember itu. Ember yang dasarnya dijatuhi bunyi tik-tik-tik teratur menyaingi detik-detik jam yang terpasang di dinding. Keduanya duduk saja, tidak melakukan apapun. Sungguh. Ya, paling diselingi oleh obrolan-obrolan kecil saja yang membuat Rembulan akhirnya menguap dan jatuh tertidur pada saat malam sudah terasa semakin larut. Sementara Mas Agus.....hmmmm...dia tetap duduk di situ kok sampai kira-kira pukul 02.00 WIB, menanti listrik kembali menyala, dan lilin dalam tatakan piring tinggal lelehannya saja.

****

"Ciiiiit ciiit ciit ciciiit cuit...ciciiiiit cuit....cruwiiiiiit ciiittt cittt ciiit ruuuuuung...ruuuuuung !" Gema suara burung hutan yang ada di belakang rumah Mas Agus saling bersahut-sahutan memecah fajar, bertengger di pucuk-pucuk tertinggi dari pohon-pohon liar berkanopi rindang. Bunyinya yang riuh rendah menghasilkan gubahan koor yang indah. Melengkapi hawa basah sisa hujan semalam yang udaranya berkabut tebal juga tanahnya becek tempat kodok bernyanyi pula saat jelang musim kawin.

"Ciiiiit ciiit ciit ciciiit cuit...ciciiiiit cuit....cruwiiiiiit ciiittt cittt ciiit ruuuuuung...ruuuuuung !"

"Kung kung kung kung kung!!!" 

Indah sekali pagi itu. Udaranya masih bersih betul namun dinginnya tidak ketulungan.

Sementara itu....

Di ruang tengah rumah bercat hijau buram yang dikelilingi bunga-bunga hias seperti nusa indah merah jambu dan alamanda kuning yang bagaikan terompet, Rembulan dan Mas Agus terbangun bersamaan sambil mengucek mata terlebih dulu. Setelah benar-benar kumpul nyawanya, barulah salah satu diantaranya agak terkejut dengan posisi tidur masing-masing. Loh kok sama-sama tertidur? Rembulan buru-buru mengecek bajunya. Tapi semua aman kok. Kancing bajunya tertutup. Masih lengkap semua ditempatkan pada lubangnya. 

"Oh...maaf...Mas ketiduran juga. Tapi suwer, Mas tidak berbuat macam-macam." Mas Agus berusaha menjelaskan walau lawan bicaranya itu sempat mengambil jarak seperti posisi ancang-ancang, mempertahankan diri tatkala hendak diserang musuh.

"Sumpah deh. Tadi jam 2, aku sih masih melek, tapi mata payah lah. Akhirnya mengantuk juga...." ujar Mas Agus lagi.

"Hmmmm...benarkah? Kenapa tak bangunkan Rembulan? Kan nanti Rembulan bisa pindah ke kamar kalau dibangunkan Mas........hohoho..." Rembulan menatap penuh curiga.

"Maaf deh...habis tidurnya pulas banget. Aku jadi tidak tega mau bangunkan." kata Mas Agus lagi.

Namun berhubung setelah memastikan tidak ada yang janggal pada bagian-bagian tubuhnya, maka perlahan Rembulan mulai melunak kembali. Sementara Mas Agus malah jadi teringat bahwa ia lupa membuat siomay. Ah! Ya sudah ngalamat libur dagang hari ini. 

Pemuda itu lantas beranjak dari tempatnya karena tahu bahwa belum ada sarapan untuk menyuguhkan tamu kecilnya pagi itu. Makanya, ia bilang pada Rembulan akan mengambil sayur dan lauk dulu di warung nasi tempat kakaknya dengan mengendarai sepeda motor. Ya, mandi bebek 5 menit cukuplah, baru setelahnya cabut sampai pinggir jalan raya tempat dimana warung nasi tersebut berada. Kali ini tidak berniat makan di tempat karena ingin makan di rumah bersama Rembulan.

"Sebentar ya Rembulan. Mas mau ambil sarapan dulu di warung Kang Dahlan. Kamu di dalam rumah saja. Jangan kemana-mana." saran Mas Agus sembari siap menghidupkan Honda Astreanya.

"Hu um iya Mas..." ia pun menutup kedua daun pintu ruang tamu usai motor mas Agus menghilang dari balik pagar.

***

Kios warung nasi itu masih tutup. Jelas saja! Sebab sekarang masih pukul 06.30 WIB sehingga menunya masih otw dimasak. Meski demikian, tak butuh waktu lama bagi Mas Agus untuk bisa masuk ke dalam warung, karena warung ini kan sebenarnya adalah miliknya, sebab yang invest sedari awal ya memang dia. Cuma yang mengelola adalah kakaknya dan juga sang istri. 

"Assalamualaikum Kang, Mbak!" Wajah Mas Agus sudah menghiasi sibakan gorden pembatas antara etalase dagangan dengan dapur yang penuh dengan asap. Di sana sudah ada Mbak Ratna yang tengah menuntaskan sisa gorengan tahu tepung dalam wajan yang penuh kubangan minyak. Diseroknya tahu-tahu yang telah berwarna cokelat keemasan itu agar minyaknya tiris, lalu dirinya menoleh ke sumber suara. Adik iparnya yang seperti biasa ia prediksi bakal numpang makan. 

"Waalaikum salam Gus! Tumben pagi amat udah mampir! Ga ke Pasar Induk toh sampean?" Mbak Ratna menjawab salam Mas Agus lalu mengelap tangannya dengan serbet, siap mengambilkan piring untuknya. 

"Lagi libur sementara ngulinya Mbak. Oh ya, aku mau lauk sama sayurnya dibungkus saja deh. Yang sudah matang sudah ada apa saja ya Mbak?" ujar Mas Agus kepo.

Mbak Ratna sejenak keheranan melihat tingkahnya hari ini. Minta dibungkus? Tumben amat? Biasanya juga makan di tempat. Tambah sampai 2 piring lagi. Belum teh manisnya. 1 cangkir gede. Cangkir andalannya, itu loh yang warna hijau dengan lurik putih dari bahan enamel. Cangkir model jadoel.

"Yang udah mateng ya tangkil melinjo, sop, sama orek tempe. Gorengannya otw ini. Tapi baru dikit. Mau dibungkusin juga?" Mbak Ratna menawarkan. Tak lama suaminya Kang Dahlan muncul dan langsung menyapa adik laki-lakinya itu.

"Gus! Pagi amat udah nyampe sini? Numpang makan doang?" gurau Kang Dahlan sekenanya.

Yang ditanyapun hanya senyum-senyum saja. Tahu betul dia akan kebiasaan adiknya itu.

"Makanya Gus, cepetan kawin! Kawin itu enak loh. Kok malah ditunda-tunda. Biar ada yang masakin, xixixixi.." seloroh Mbak Ratna yang lantas mengambilkan pesanan sayur plus lauk tadi ke dalam tupperware untuk diberikan pada adik iparnya itu.

"Hehehe...pengennya sih gitu Mbak.....tapi...jodohnya sedang otewe..." ujar Mas Agus mesam-mesem.

"Lak yowes, ndi dikenalke calone?" Mbak Ratna menimpali diiringi seringai tawa sang suami.

"Nah tuh Gus, mana calon luh! Cepet bawa kemari! Jangan sampe keduluan anak gw si kembar Intan dan Sudibyo yang bentar lagi lulus kuliah." Kang Dahlan tambah mengompori.

Yang dibombardir pertanyaan 'kapan kawin' itupun lantas garuk-garuk kepalanya yang tak gatal. Wah asem sueeee nih, gw malah dijatuhi 'pertanyaan keramat'. Tapi ia hanya bisa sambat dalam hati dan malah teringat pada gadis yang sedang berada di rumahnya kini. Rembulan yang berpipi tembem dan bermata bagai tarsius. Kalau mau dijawab calonnya ada...Ada sih ada......tapi gimana, belum dipepet. "Ah...pikiran macam apa ini!" Buru-buru ia menghalau khayalannya barusan karena bisa jadi nanti ia malah kepengen kawin beneran, hahahha...

"Nih..di tupperware yang ijo ada sayur tangkil melinjo, di tupperware yang ungu ada orek tempe, taksisain juga ikan pindang gorengnya 5. Mau sekalian tambah nasi ga?" Mbak Ratna menawarkan. 

"Boleh Mbak." Ujar Mas Agus malu-malu. 

"Duh dasar bujang...bujang...wes ndang goleko perawan Gus!" seisi dapur pun kompak ketawa, dan Mas Agus pun hanya bisa pasrah saja...

"Nek ora ono Rondo yo keno!"

kemudian tawa semakin membahana...

***

Setelah berkutat sekian menit di warung nasi kakaknya, Mas Agus pun kembali lagi ke rumah. Ya, apalagi kalau bukan sarapan bareng Rembulan. Karena setahu dia, semalaman mereka cuma makan siomay. Gara-gara mati lampu lama, makan berat jadi malas. Hingga balas dendamnya diganti pas jam makan pagi. Rasanya perut sudah meronta-ronta minta diisi. Terlebih makanan yang dibungkuskan Mbak Ratna juga masih panas, baru saja mentas dari wajan. Jadi supaya lebih nikmat ya langsung saja makan. Ketimbang dibiarkan sampai lama, takutnya malah jadi berkeringat lalu basi. Sayang kan?

"Wah Mas sudah pulang?" Rembulan membukakan pintu begitu mendengar suara khas honda astrea milik laki-laki itu sudah kembali tak sampai sejam. Bunyi businya memang agak melengking jadi biar kata belum nyampai halaman juga sudah terdeteksi dari jauh. Ya, maklum saja motor tua. Belum minat ganti lagi. Sebab setidaknya motor inilah yang menemaninya menjemput rejeki setiap hari. 

Usai menggerendel pintu pagar, Mas Agus segera menepikan motornya ke halaman lalu masuk ke dalam. Di tangannya kini ada tentengan oleh-oleh tupperware berisi masakan Mbak Ratna yang ingin ia nikmati bersama Rembulan.

"Ayok sarapan dulu. Kasihan Mbulan semalam cuma Mas kasih siomay. Tentu sekarang sudah lapar bukan?" tanya Mas Agus penuh semangat yang langsung diiringi anggukan kepala Rembulan.

Ia lantas membuka tutup tupperware itu dan meletakkan isiannya ke dalam piring yang sudah disiapkan sebelumnya. 

"Wah wangi betul masakan Mbak Ratna iparnya Mas?" ujar Rembulan memuji tulus hasil masakan Mbak Ratna.

"Ga kalah juga kok dengan masakan Rembulan..." laki-laki itu mulai menggombal.

"Ah ga Mas...yang ini jauh lebih enak. Uda pro! Rembulan mah bisanya masakan tertentu aja." jawab Rembulan.

"Iya, makanya Mas percayakan warung nasinya Mas sama kakak Mas yang pertama soalnya istrinya pandai memasak." ujar Mas Agus bercerita.

"Kakak Mas yang pertama? Berarti ada kakak Mas yang lain dong?" tanya Rembulan.

"Iya Mas ini anak bungsu dari 3 bersaudara. Satunya lagi Kang Djangkaru yang Mas kasih kepercayaan ngopeni sapi dan kambing ternaknya Mas di Wonosobo. Soalnya Mas memang niatnya hijrah ke Jakarta sih sepeninggal Bapak Ibu...ya itu nerusin warung nasi. Tapi Mas cuma kasih dana saja. Nanti yang ngelola Kang Dahlan dan Istri. Sementara Mas cari objekan lain, ya...supaya duit terus muter gitu." ujar Mas Agus panjang lebar.

"Mmmmm..." Rembulan mengangguk-angguk. Entah mengerti atau tidak hanya ia dan Tuhan yang tahu.

Lalu ia malah jadi teringat dengan kata-kata Wonosobonya.

"Wonosobo? Sepertinya tempat yang bagus itu Mas? Yang ada Diengnya bukan sih? itu loh Mas.....Dataran Tinggi Dieng.....Ih asyik kali ya kalau bisa tinggal di sana...." Rembulan mulai berkhayal.

"Oh...Rembulan mau tinggal di sana?"

Rembulan mengangguk.

"Yakin nih?"

"Mmmmm...namanya juga cuma bilang pengen kan Mas, belum tentu kesampaian, hihihi.."

"Boleh kok, asal nanti tinggalnya sama Mas.....habis kita nikah...Tempatnya dingin. Asyik pasti..."

"Ehhhh????"

****

Jack tampak melamun memikirkan sesuatu. Mungkin tentang kepergian Rembulan pasca ulah brutalnya tempo hari yang pasti membuat gadis itu trauma lalu memutuskan untuk kabur. Sungguh Jack menyesal dan sudah merenungi perbuatannya salah. Ia juga sadar bahwa selama ini ia cukup dingin dengan gadis itu. Bukan cukup lagi. Tapi sangat dingin. Dan terkadang menyebalkan. Padahal di saat genting seperti saat keduanya terjebak dalam lift, sementara ia menderita claustrophobia, Rembulanlah yang dengan rasa keibuan memegang erat-erat tangannya layaknya ia adalah bayinya sendiri---sekedar untuk menenangkannya yang tiba-tiba panik seperti mau mati. Terekam jelas dalam benaknya....

"Anda tidak apa-apa Tuan?" Rembulan tiba-tiba memberanikan diri untuk bertanya karena bulir-bulir keringat pada dahi Jack mulai bercucuran. 

"Saya claustrophobia Rembulan. Saya takut ruangan tertutup!" Jack membuka alasan mengapa ia segitu paniknya saat ini. Panik yang betul-betul seperti ketakutan akan mati hingga setiap kali berada di lift ia selalu memakai kacamata hitamnya.

"Tuan pegang tanganku saja. Tenang ya! Tidak akan apa-apa. Sebentar lagi keamanan akan datang!" tanpa diminta   Rembulan kemudian menggamit tangan Jack yang kini sedingin es, berkeringat.

Ya, saat itu genggaman tangannya terasa begitu menenangkan.

Arrrrrgh! Jack kemudian menonjok angin. Ia seperti kesal pada diri sendiri. Terlebih ia jadi ingat kejadian-kejadian lucu saat bersama Rembulan, termasuk saat memorinya berhenti di moment jacuzzi sialan itu. Moment yang harusnya ia ngamuk tapi diurungkannya niatnya itu sebab saat itulah ia seperti merasa Rembulan menarik. Ada sesuatu yang lain pada diri gadis lugu itu. Sosoknya yang basah kuyup dengan seragam pelayan yang masih melekat pada tubuhnya... memunguti sisa-sisa sarapan paginya yang koyak berceceran mengapung dalam jacuzzi. Menahan takut akan dimarahi, tapi tetap dengan ekspresi polos dan mungkin...menggemaskan. Ah! Sial kenapa ia mulai merindukan tingkahnya yang kadang suka bikin naik pitam itu ya?

Dibukanya laci meja kerjanya itu untuk mengecek HP Samsung J1 milik Rembulan yang sudah ketinggalan jaman. Layarnya tidak ada kata sandi sehingga dengan mudahnya ia bisa menelusuri isinya. Terutama bagian galeri foto. Hmmmm.....foto jadul...tapi ya memang foto dia sih. Ada sedikit perbedaan yang mencolok pada foto itu, dulu agak cungkring seperti lidi-lidian, sedangkan yang sekarang bisa dibilang jauh lebih montok dan juga lucu.

Tak berapa lama kemudian Jack mengontak kembali Hermansyah supaya segera menghadapnya.

"You bisa ke ruangan saya sekarang. Saya pengen ada progress tentang Rembulan! Saya ada hal yang mungkin bisa sedikit menekan dia agar kembali  bekerja di sini." Jack membolak-balikkan sebuah surat kontrak kerja bermaterai dan juga KTP gadis itu.

****

Hari ini jadwal Mas Agus free seharian. Hal tersebut tentu saja membuat hati Rembulan senang. Walaupun awalnya cukup bikin nyesek lantaran lupa membuat siomay gara-gara listriknya lama nyala. Hmmmb, padahal jujur saja Mas Agus jarang telat bayar listrik. Bahkan bisa dibilang selalu on time. 

"Rembulan tidak apa-apa kan kalau Mas Agus ada seharian bersamamu?"

Rembulan tersenyum lebar dan bahkan menggangguk cepat.

"Ya ga apa-apa atuuuh...kan yang punya rumah ini Mas..." kata Rembulan.

"Loh siapa tahu nantinya rumah ini juga akan menjadi milikmu."

Keduanya pun tertawa lalu gotong royong membersihkan sisa-sisa ceceran air hujan dari plafond yang bocor. Setelah itu mengepelnya dengan kain yang teronggok di pojokan. Memerasnya dan membuangnya ke selokan yang ada di sumur. Baju kotor juga sudah menggunung. Jadi sebaiknya dicuci sekalian. Karena kalau ditunda lagi ngalamat tidak ada baju bersih...

Akhirnya dengan ditemani Rembulan, Mas Agus mencuci baju bersama. Rembulan yang menimba airnya, Mas Agus yang menguceknya. Dan detergen bubuk merek Daia kemudian ia tuangkan kira-kira sebanyak 2 takaran sendok detergen sampai akhirnya larut dan isi ember itu penuh dengan gelembung-gelembung sabun yang wangi bunga-bunga.

"Eh bisa nimba tidak sih?" Mas Agus jadi tertawa saat memperhatikan Rembulan kesusahan menaikkan katrol yang sudah penuh dengan air. Gerakannya lama betul seperti tokoh kurcaci dalam game gold miner yang niatnya ingin mengambil berlian, eh yang diambil malah tikus cecurut.

"Susah tauk. Berat!" gerutu Rembulan.

Mas Agus jadi ingin ketawa dan mengambil alih pekerjaan yang baginya tidak ada apa-apanya itu. Timbang nimba air doang loh pake timba kerekan. Bukan timba manual.

"Biar Dylan saja kalau gitu yang nimba kalau Bul tak kuat." Mas Agus mulai mengajaknya guyon.

"Heuuu..bantuin atuh Amaaaas!"

"Ya sudah, sini. Tapi gantian Rembulan yang ngucek bajunya!"

"Hokeyyy baiklah!!!'

Akhirnya keduanya tukar peran. Tapi dasar iseng setelah menyentuh gelembung sabun dan Mas Agus mengisi air yang sudah ditimbanya ke dalam ember kecil yang ada di samping bak besar tempat untuk merendam baju, gadis itu malah membasahinya dengan sabun-sabun tadi.

"Waduuhh! Iseng sekali nih anak!!!"

"Hahhaah!!!"

"Terimalah serangan dariku!!" 

"Ctakkkk ctakkkk weerrrrr blubug blubug...!!!

Waduh keduanya jadi lempar-lemparan air dan gelembung sabun.

Sampai tiba-tiba dari arah ruang tamu terdengar suara....

"Om...Agus!!! Om dimana? Kami mau nganterin makanan ibu lagi nih buat Om Agus!"

Kedua keponakan kembarnya yaitu 2 cowok umur-umur kuliah, Intan dan Sudibyo tiba-tiba sudah mengetuk pintu depan...

****

Karena kepikiran laporan Hermansyah sebelumnya yang katanya Rembulan belum kembali ke rumah, Jack jadi ingin mengecek sendiri kebenarannya. Maka dari itu diputuskanlah ia untuk ikut ajudannya sekali lagi menyatroni lapak Satria di Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur. Siang sekitar pukul 13.41 WIB, ia nebeng mobil BMW Hermansyah ke tkp karena chevroletnya sendiri masih ada di bengkel.

Hermansyah pun sebenarnya sama berharapnya dengan Jack agar Rembulan dapat kembali. Biar bagaimana pun kehadirannya di rumah tawang Jaey membuat suasana baru, karena setidaknya selama ini hanya ada 2 orang lelaki yang tinggal bersama--namun dalam wujud Boss-Anak Buah. Nah, setelah adanya Rembulan tentu hal tersebut menjadikan hari-harinya tampak berwarna. Terlebih karena kepolosan anak itu yang membuat dirinya jadi lebih sering tertawa.

Pernah sekali dalam kelas kepribadian yang ia ajarkan privat kepada Rembulan, dirinya malah jadi diinterogasi sudah punya pacar atau belum. Coba cewek mana yang seberani dan sefrontal itu kepadanya. Menanyai lelaki yang mirip bintang Korea  macam So Ji Sub dalam serial Memoirs Of Bali itu? Cuma Rembulan. 

"Tuan Hermansyah kelihatannya sangat tertata ya hidupnya. Sangat care dan memperhatikan orang lain. Terutama pada Tuan Muda Jack. Tapi...aku belum pernah tahu secara personal dirimu seperti apa. Hmmm...pasti orang setampan Tuan sudah punya tambatan hati, hihihi.."

Mulanya Hermansyah hanya tersenyum dan berusaha menutupi hal-hal yang menjadi privacynya. Tapi entah kenapa dengan gadis yang bertampang komikal itu tahu-tahu ia malah cerita dengan lancarnya tentang kekasihnya Ningsih yang kini sudah tidak bisa bersamanya lagi. Dan anehnya, Rembulan yang jauh lebih muda darinya malah mengangguk-angguk sambil mendengarkan penuh khidmad seluruh curhatan Hermansyah kala itu. Sampai kalau diingat lagi, mendadak ia jadi malu. Entah kenapa. Sebelumnya ia tidak pernah seberterus terang ini dengan orang lain. Tapi dengan Rembulan bisa...hmmmm...

"Tuan Hermansyah! Jangan patah arang! Kalau sudah tidak bisa dikejar lagi karena dia telah menjadi milik orang, segera move on! Cari yang lain! Semangat!!!!!" Lalu tahu-tahu bocah itu menepuk-nepuk pundak Hermansyah dengan tulus dan itu membuat lelaki itu terkesima. Kenapa adegan itu jadi lebih mirip dengan adegan-adegan dalam drama Korea dimana seolah-olah ia adalah ahjussi-ahjussi gantengnya dan Rembulan adalah perempuan kecil usia belasan tahun--mungkin lebih mirip keponakannya tapi kok keponakan rasa pacar? 

Sementara Jack yang walau kelihatan angkuh juga sebenernya lumayan merindukan juga kesembronoan Rembulan. "Sungguh sangat complicated hati ini dibolak-balik. Fuck !!!"

"Jack, kamu serius ingin mengancam Rembulan dengan surat kontrak bermaterai itu?" Hermansyah membuka percakapan setelah setengah jam berlalu dan keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.

"...Owh itu. Yah bisa jadi." ujar Jack pendek.

"Apa sebaiknya dipikirkan lagi Jack. Sebenarnya saya tidak tega dengan anak itu. Dia baik sih." kata Hermansyah yang sebenarnya ingin interupsi pada Bossnya.

Jackpun melirik malas ke arahnya. Ia tahu dirinya pun sebenarnya tidak sejahat itu, terutama pada cewek. Bahkan bisa jadi ia adalah modelan cowok romantis. Tapi bagaimana? Jika tidak diancam. Bisa-bisa Rembulan tidak akan kembali lagi mengiringi hari-harinya. Tunggu? Mengiringi hari-harinya?

"Ya, apa boleh buat. Saya cuma menyodorkan fakta bahwa dia ada kontrak yang harus dipatuhi. Ya, kalau tidak, siap-siap saja saya bawa ke meja hijau."

"Tapi Jack....."

"Sudahlah You nyetir saja yang fokus. Saya ingin anak itu kembali. Bagaimanapun caranya!"

Dan BMW itu pun terus meluncur menghantam angin yang melawan arah mobil, berhembus kencang menerbangkan bunga-bunga bougenville pink yang ditanam di pinggir jalan.

***

"Om!!!! Om Agus!!! Ini kami nih...Intan sama Sudibyo."

"Tok! Tok!Tok!" kedua ponakan kembar Mas Agus yaitu Intan dan Sudibyo mengetuk pintu depan. Tandanya mereka sudah membuka pagar sebelumnya. Duh teledor betul pagarnya belum digerendel. Jadi si kembar itu muncul deh. Bahkan di tangan salah satunya kini tergenggam pegangan rantang susun yang berisi aneka lauk pauk untuk makan Omnya sampai malam mengingat hari ini Omnya tidak dagang siomay atau ke pasar seperti biasanya jadi tidak bisa makan di luar.

Sementara di area sumur, tiba-tiba Mas Agus dengan reflek (sebenarnya malah tidak sadar) langsung membekap mulut Rembulan agar tidak bersuara. Tangan satunya juga kok tahu-tahu sudah melingkar ke perut singset gadis itu dimana area bawahnya memiliki pinggul besar bagai gitar Espanyola.

"Sssssttt! Rembulan diem ya. Itu keponakan Mas...cepat..ayo sembunyi dulu di lemari. Biar tidak berabe dan ditanya macam-macam. Sebab kan kita belum laporan RT RW." Mas Agus berbisik ke telinga Rembulan. Dan gadis itu hanya manut saja lalu ia diarahkannya ke kamar dengan langkah kaki sepelan mungkin, kalau bisa jangan sampai menimbulkan suara. "Cklek!" Dan iapun disuruh bersembunyi sebentar di dalam lemari yang ada di sana. Setidaknya sampai kedua keponakannya itu pamit pulang. 

"Kamu di sini dulu ya Rembulan. Mas mau nemuin ponakan kembar dulu. Paling dia cuma mau nganterin makanan." ujar Mas Agus pelan-pelan.

Dan gadis itupun hanya mengangguk sementara Mas Agus bergegas ke depan membukakan pintu depan.

"Oh kalian berdua. Ayo masuk!" ujar Mas Agus menemui Intan dan Sudibyo yang hampir 10 menit tidak dibukakan pintu. Hmmmm mencurigakan...

"Ini Om...ibu kayaknya masaknya kebanyakan. Kata Ayah mending didrop ke Om Agus saja. Kan Om Agus hari ini libur. Daripada mubazir."

Intan menyorongkan rantang itu ke arah Mas Agus yang lantas diterimanya dengan senang hati. Lumayan kan bisa buat sampai malam, ga kemana-mana ngendon dengan Rembulan yang manis. Hohoho...

"Masak apa lagi ibu Mas Intan?"

"Itu Om, teri kacang yang rantang atas, ikan kembung yang rantang bawahnya, lalu yang ketiga ada telur balado bulet...sama semur ati." terang Intan. 

"Om, saya numpang pipis dulu ya. Udah kebelet nih.." Kembarannya Sudibyo langsung tanpa tedeng aling-aling menuju arah kamar yang terdapat lemari tempat persembunyian Rembulan. Ya karena di sana ada kamar mandi paling dekat dengan ruang tamu. Kamar mandi lain ada sih, tapi letaknya jauh di dekat sumur. Bocah laki-laki itu sudah tidak tahan. Karena menahan kencing dari tadi.

"Hmmm! Anu Mas Dibyo, kamar mandi Om Agus yang depan belum dibersihkan pakai WPC. Pakai yang belakang saja."

"Ah..jauh Om...saya ga masalah dah. Yang penting kencing dulu." Iapun berlari ke sana tanpa bisa dicegah lagi, sementara Mas Agus terus berdoa supaya cewek yang ia sembunyikan dalam lemari aman sentausa.

***

Duo berjas mengkilat Jack-Hermansyah tiba di lapak Satria kira-kira 1 jam kemudian karena tumben jalanan memang lengang. Keduanya langsung masuk ke pasar dengan puluhan pasang mata menatap heran ke arahnya atau mungkin takjub?  Sebab hal tersebut menjadi pemandangan cukup mencolok di pasar yang penuh dengan orang-orang biasa. Sementara di hadapan mereka kini ada 2 manusia ganteng yang satu darah India, dan yang satu (seperti) darah Korea yang blusukan sampai ke pasar bagai adegan dalam dongeng-dongeng Andersen. Pangeran beserta ajudannya berbaur dengan masyarakat awam, mungkin sedang mencari Cinderella yang kemudian akan diperistri. Ah! Ralat, maksudnya mencari Cinderella yang tetap akan dijadikan upik abu karena memang tugasnya tetap untuk bersih-bersih. Penyertanya bukan lagi sepatu, melainkan surat kontrak yang sudah dibubuhi materai senilai Rp 6000.

"Ehm!!!" Hermansyah mengkode penunggu kios sayur yang sepertinya sedang melamun itu dengan deheman keras.

Laki-laki yang umurnya masih sangat hijau dan sepantaran dengan Rembulan itupun menoleh. Ah orang yang kemarin mencari Rembulan! Dan...satu lagi...Jack Gupta? Ada apa lagi ini? Khanif tiba-tiba menjadi was-was sebab katanya kemaren si laki-laki yang matanya sendu itu mengatakan bahwa ia sedang mencari Rembulan. Sedangkan sekarang ia datang bersama Jack Gupta? Loh berarti Rembulan sedang tidak bersama mereka dong? Khanif langsung bergegas ke arah orang-orang kaya itu untuk mencari penjelasan.

"Ada apa ya?" tanya Khanif. 

"Mas...kami datang memastikan lagi apakah Rembulan benar-benar belum pulang. Benar dia tidak sedang disembunyikan?" Hermansyah memulai pembicaraan yang sudah dibumbui  berbagai macam kejanggalan.

"Sebentar...sebentar...maksudnya...???!" Khanif begitu sulitnya mencerna maksud omongan orang di hadapannya itu apa.

"Sudah beberapa hari ini Rembulan kabur. Kami pikir kemana lagi dia akan pulang kalau bukan ke rumahnya. Jadi kami hanya ingin memastikan apakah benar pernyataan Mas kemarin bahwa dia belum pulang sama sekali ke rumahnya. Atau malah disembunyikan?" terang Hermansyah lagi. 

Khanif semakin bingung mendengar penjelasan laki-laki itu. Ia ingin cepat-cepat Satria datang dan menghadapi sendiri kedua orang parlente ini agar semuanya jelas. Tidak ada teka-teki lagi.

Jack yang sedari tadi diam saja dan diwakili Hermansyah akhirnya angkat bicara. "Mas kita ketemu lagi. Oh ya Mas bukan yang punya lapak ini kan?" Jack memastikan pertanyaannya dengan diiringi oleh anggukan Khanif walaupun pemuda itu masih saja bingung.

"Tolong sampaikan pada Abangnya Rembulan, jangan sembunyikan anak itu karena dia sudah tanda tangan kontrak kerja yang ada kekuatan hukumnya. Jika dia tidak kembali pada saya, nanti urusannya akan saya bawa ke pengadilan." ancam Jack.

Pemuda kaya itu tanpa tedeng aling-aling langsung menunjukkan lembaran kontrak tersebut ke arah Khanif tanda ia tidak main-main.

"Lekas pikirkan kata-kata saya. Cepat suruh Rembulan menghadap, atau ya terpaksa saya akan lakukan semua ini!" ancam Jack untuk terakhir kalinya sebelum ia mengajak rekannya cabut dari sana.

***

"Om...Om Agus...kayaknya di lemari ada tikusnya deh...barusan saya lewat kayak ada yang gradak-gruduk di situ." Sudibyo yang baru selesai menuntaskan hasrat kencingnya tiba-tiba berkata demikian.

"Oh...apa iya ya...Nanti Om periksa deh. Kalian tidak kuliah?" Mas Agus bertanya seolah-olah ingin cepat-cepat mengusir 2 keponakannya itu pergi.

"Ada...nih bentar lagi mau berangkat." ujar si kembar itu kompak.

"Ya sudah..apa lagi yang ditunggu! Sana berangkat. Nanti telat bisa repot!"

Kedua keponakannya hanya bisa berpandang-pandangan. Tumben nih Omnya bertindak sangat mencurigakan. Hmmmm....

****

Bagai disambar gledeg, Satria blingsatan mendengar informasi yang disampaikan oleh Khanif bahwa sudah beberapa hari ini Rembulan tidak bersama Jack Gupta.

"Bajingaaaaan!!!! Pasti tuh orang India sudah sewenang-wenang sama adek gw! Tidak akan gw ampuni dia. Kalau perlu tarung tarung dah! Gw habisi nyawanya sekalian kalau berani macem-macem sama adek gw!" Satria berang bukan main. Matanya merah menandakan emosinya sudah mencapai ubun-ubun, tanpa pikir panjang lagi ia segera mengejar Jack dan Hermansyah yang baru keluar dari pintu masuk pasar dan menuju ke mobil BMW mereka. 

"Hoooy bangsatttt berhenti kata gw!" Satria berteriak ke arah mereka. Namun terlambat keduanya sudah keburu masuk mobil dan tak lama kemudian mobilnya jalan.

"Hoooy!!! Berhenti!!! Setannnnnn !!!!!!" Satria berlari mengejar mobil tersebut sampai ia nekad turun ke jalan raya. Ia berlari tunggang langgang kesetanan mengejar BMW itu tanpa sadar sebuah minibus dengan kecepatan tinggi melaju ke arahnya tanpa sempat mengerem dan.....

"Ciiiiiiiiiiiiiiiiitttt!"

"Glodaaaaaaag!!! Bruuuugh!!!"

Tubuh Satria terpental jauh sekian meter, bersimbah darah pada bagian kepala. Ia anfal di tempat...

****

Malam-malam pukul 21.00 WIB, hari ke-3 Rembulan bersembunyi di tempat Mas Agus. Kali ini ia sedang mengiris bawang untuk keperluan membikin nasi uduk untuk besok pagi. Ya dicicil dulu, sebab besok Mas Agus sudah tidak ada libur lagi. Saatnya kerja keras bagai quda!

Namun entah karena melamun atau kurang konsen, tiba-tiba saja telunjuk rembulan tergores pisau. Darah segar pun mengucur deras dari jarinya diiringi dengan pekikan kecil. "Uuuuuch!" 

"Kenapa Rembulan?" Mas Agus yang kebagian melepas helai demi helai  kubis untuk keperluan siomay pun menengok ke asal suara yang ada di belakangnya.

"Kena pisau Mas..." 

Tanpa menunggu lama Pemuda itu langsung sigap menuju ke arah Rembulan dan menghisap jari telunjuknya tanpa diminta. Gadis itu pun bengong.

"Maaf ya...supaya lekas berhenti darahnya...sebentar aku ambilkan betadine!" 

Rembulan pun mengekor pandangnya pada lelaki yang sudah banyak membuat dirinya deg-degan akhir-akhir ini.

"Nih dikasih betadine dan hansaplast dulu. Kalau masih perih, sudah berhenti saja ngiris bawangnya. Biar nanti Mas yang lanjutkan." kata Mas Agus dengan penuh perhatian. Bahkan ia sampai memasangkan hansaplastnya ke jari telunjuk Rembulan.

"Memangnya lagi mikirin apa sih? Kok bisa sampai kurang konsentrasi gitu? tanya Mas Agus.

Rembulan yang gundah gulana tanpa tahu apa sebabnya lantas berkaca-kaca...

"Entahlah Mas, sepertinya perasaanku tidak enak. Aku jadi ingin pulang...." gadis itu berkata lirih.

Di luar jendela terdengar bunyi burung yang nadanya : "Piit..pit...pit...piiit ping piiwiwiwiiiiiiiiiit." Suara burung sir kedasih yang bikin merinding.

Mas Agus yang mendapati kegelisahan hati Rembulan langsung pasang badan.

"Ingin pulang?"

"Hu um."

"Kenapa sayang...eh...maksudku kenapa Rembulan tahu-tahu memutuskan ingin pulang? Berarti sudah siap dengan semuanya, termasuk jika didatangi mantan Boss Rembulan?"

"Emmmmm...mungkin. Habis Rembulan tiba-tiba kepikiran Abang kenapa ya...huhuhu..."

Melihat gadis itu semakin sendu Mas Agus pun tanpa ragu langsung memeluknya supaya ia agak tenangan. Dielusnya rambut gadis itu dengan lembut. Rambut yang wangi shampoo clear.

"Iya besok sekalian Mas nguli, Rembulan akan Mas antarkan ke Abangnya ya. Sudah sekarang jangan manyun begitu. Mudah-mudahan semua baik-baik saja."

Dan Rembulan terbenam dalam pelukan Mas Agus walau hatinya tak kunjung berhenti memikirkan sesuatu yang entah apa.

"Piit..pit...pit...piiit ping piiwiwiiwiiiiit." Suara burung sir kedasih itu masih ajeg   memecah keheningan malam. Menyanyat seperti ingin mengabarkan akan ada orang meninggal.

 ****

Satria kritis. Banyak alat yang terpasang di badannya dengan bunyi 'bip-bip-bip' mengerikan di ruangan  serba putih itu. Keadaannya semakin memburuk. Sempat sadar tapi kemudian unconcious lagi. Sepertinya tinggal menunggu waktu saja. Sebab cedera di bagian kepalanya lumayan berat. Hanya ada Khanif yang menunggu. Tapi di luar. Sebab Bossnya itu kini terbaring di ruang ICU, sebuah RS Swasta di bilangan Jakarta Timur. Tentunya dengan memanfaatkan fasilitas BPJS.

Sebelum benar-benar koma sebenarnya Satria sempat ngobrol empat mata dengan Khanif. Meski hanya sebentar. Dan tentunya agak sulit dicerna. Sebab kalimatnya patah-patah seperti balita yang baru belajar mengeja kata... kesadarannya juga masih 50 : 50, mungkin pengaruh dari obat bius usai operasi.

Saat itu Satria seperti menyampaikan sesuatu pada anak buahnya tentang bagaimana Rembulan ke depannya, andai ia tiada.

"Nif...pe....sen gu...we... cu...ma ..sa..tu..., pas...ti.. kan a de...k gu...we..be ra da di or...ang...ya...ng te...pat. Ja...ng.a..n...bi..ar..k...an di..a di..si..a-sia..kan...Bi...ar..ka...n di..a ba...h...a..gia...de...ng..an...o..ran..ng..ya...ng bi...sa...me...lin...du...ngi...nya. Pas...ti...kan...di..a...de..ng..an..or..ang...ya...ng ...le...bih de..wa...sa...da..ri..nya...yan...g bi..sa me...mbaha..gi..a...ka....nnya.."

Habis itu ia diam... terpejam tapi dengan mulut sedikit menganga. Wajahnya sudah pucat. Putih bahkan hampir membiru. Khanif yang ada di sampingnya terang saja kalang kabut bingung harus berbuat apa. Seorang suster dengan id card bernama Pratiwi kemudian muncul setelah dicalling Khanif beberapa kali dengan memencet bell. Suster tersebut dengan tergopoh-gopoh datang dan mengecek semuanya lalu bergegas memanggil dokter spesialis neurologi yang sedang berjaga pada jam itu. Lalu setelahnya ada beberapa tindakan medis yang dilakukan seolah sudah tidak ada harapan lagi.

****

Rembulan yang sudah membulatkan tekad untuk pulang setelah beberapa hari menginap di tempat Mas Agus akhirnya subuh itu bersiap dibonceng dan jalan. Sengaja berangkatnya saat langit masih gelap, sebab takut dilihat orang mengingat pemuda itu belum sempat laporan RT RW. Yah, apapun itu tak masalah...sebab hatinya kini telah siap untuk kembali ke perasalannya meski agak berat juga sebab tahu-tahu dirinya sudah sangat nyaman berada di dekat Mas Agus. Pemuda itu pun sejujurnya berpikiran sama, tapi apa boleh buat. Kalau Rembulan sendiri yang sudah minta dipulangkan bagaimana? Ah...masih ada kesempatan...paling jika ia ingin terus mendekatinya, tinggal siapkan saja seribu satu jurus agar bisa diterima Abangnya yang galak itu andai-andai ingin ngapel....

Singkat cerita, Honda Astrea Mas Agus sudah sedari tadi dipanaskan, jadi siap untuk dikendarai. Rembulan dimintanya untuk naik ke jok belakang dan melingkarkan tangannya ke pinggang pemuda itu. Soalnya ia akan menjalankan motornya agak banter, jadi supaya aman Rembulan dihimbau untuk pegangan erat-erat.  

"Breeeemmmm bremmm breeemmm!! Wuuuusssh!!!" dan mereka pun melalui jalanan Jakarta Timur di pagi buta yang penuh kabut ini tanpa banyak kata.

***

Motor Honda Astrea itu sengaja tidak ke pasar, tapi ke arah jalan yang menuju ke kontrakan Rembulan. Tapi....aneh sekali...belum sampai di mulut pintu bahkan halaman yang ada pohon rambutannya....kok di gang yang menuju ke situ sudah tertancap bendera kuning. Perasaan Rembulan semakin tidak enak. Hatinya bergejolak. 

"Mas...cepatlah sedikit...Rembulan jadi ngerasa aneh begini ya......mmmmm.." Ia menepuk pundak Mas Agus agar segera memasuki gang itu. Benar saja setelah sepeda motornya maju ke depan.........yang ada adalah pemandangan kursi-kursi plastik berwarna hijau tosca yang sudah dipenuhi oleh tetangga kontrakan Rembulan. Ada yang duduk, ada pula yang wara-wiri. Pasang tobong, membawa bunga tabur dan juga....di halaman yang terdapat pohon rambutannya malah terparkir mobil jenazah? Siapa yang meninggal? Perasaan Rembulan semakin berkecamuk. Ia turun dari boncengan motor Mas Agus dan berlari, mendapati rumahnya sudah ramai. Di ruang tengah tampak jasad Satria sudah terbujur kaku diselimuti kain jarik hingga kaki Rembulan tiba-tiba lemas bukan main, mulutnya tak sanggup mengucapkan sepatah katapun. Ia shocked lalu jatuh tak sadarkan diri...sampai akhirnya Khanif dan Mas Agus yang berlari menyusulnya tidak terlambat untuk memeganginya.

Bersambung !!!!














Note : lagi colab sama temen temen blog bikin cerita sesuai genre masing-masing kebetulan aku pilihnya romansa jadi sebagian besar isinya romansa. Link hidup untuk temen-temen yang kupinjam namanya ntar ya di episode final...yaitu part 7.

kebiasaan ini aku ikuti karena adat teman teman eks blogger mwb memang sering memakai nama teman untuk keperluan menulis cerita fiksinya. Jadi aku menggunakan nama-nama tokohnya sudah dengan persetujuan yang bersangkutan atas dasar sumber inspirasi semata karena mereka semua kuanggap mentor dalam kepenulisan fiksi dan salah satunya adalah orang yang sangat kukagumi, juga supaya jagad fiksi di media blog lebih hidup saja. Tidak ada maksud lain karena cerita ini hanya bersifat fiktif belaka. Anggap saja kayak fans fiction hahhahaha

Cerita ini hanya diperuntukkan untuk pembaca yang paham akan bagaimana fiksi itu dibuat serta tidak pernah mengekang kebebasan dan daya imajinasi penulis saat mendeskripsikan sesuatu yang berhubungan dengan cerita entah itu perwatakan, alur, setting, ending, dsb.

Berhubung sudah mendekati chapter final minggu depan di part 7, silakan kalau ada yang mau tebak-tebak buah manggis endingnya bagaimana? Atau mengomentari alur ceritanya juga boleh...silakan ramaikan kolom komentar hehehe...








58 komentar:

  1. Nitip absen dulu mbul ntar malem mungkin baru bisa komen...Maklum jadwal kesibukan lagi padat....Termasuk jadwal kelonan juga..😊😊😁😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. wasyeg...siap kang, nanti seperti biasa disarikan ala ala istilah istilah suenya yaaa hahhahahhaha

      Hapus
    2. Satria kenapa masih bisa komen, bukannya sudah terbujur kaku.😱

      Hapus
    3. nah loh kang satria....ni diledek mas agus....ni dijitak aja mas agusnya kang sat...hihi
      (" `з´ )_,/"(>_<')



      mas agus...kangen tilik umah mungkin 🙄🤭

      ~ (Û³˚Д˚)Û³

      Hapus
    4. tenang kang satria, nih gw jitakin mas agus nya hihihi.. kamu tenang saja di alam sana, gak usah balik pulang tilik umah, lagian ga ada yang kangen wkwkwwk kaboor :D

      Hapus
    5. wakakakka ibarat kata abis diterbangin ke tempat tertinggi abis itu dihempaskan ye mas khanif...#jeruuu

      😂🤣🤣

      Hapus
    6. Suuueee luh nif...Gw nggak kasih warisan kios dah..🤣🤣🤣

      Hapus
    7. astaga ngakakak 😂🤣🤣🤣🤣

      Hapus
  2. Maaf baru datang, seperti biasa telat soalnya habis jualan siomay dulu.😆

    Wah ini gara gara jaey nih jadinya Satria koit. Tapi untungnya Agus jadi bisa bebas sama adiknya sih, coba kalo masih hidup, pasti ia ngga mau adiknya sama tukang siomay.😄

    Waduh, jadi kejutannya itu adalah Agus dikasih itu ya.😱

    Oh jadi Dahlan sama Ratna ya, padahal sudah tahu foto waktu kecilnya ya. Etdah, itu mah cerpen blog sebelah ya.

    Intan itu cowok ya, kirain aku cewek mbak.🤣

    Kira kira apa yang akan terjadi selanjutnya ya, apakah rembulan akan mengamuk kepada jaey gupta, apakah ia akan berubah menjadi wonder woman agar bisa membalas dendam, silahkan tunggu episode selanjutnya di Gustianita tivi.😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. bagaimana hari ini mas? siomaynya habiskah? kalau masih ada hayukkkk kita maem sama-samaaaaa...

      (ˆڡˆ)

      nyem nyem nyem...amankan kobis dan juga parenyaaaa!! Telur dan siomaynya ughaaa 🥟🥟🥚🥬


      masa sih mas...hihi

      tukang siomaynya aslinya padahal juragan sapi 🐮🐄🐄 loh di kampung...satrie nyesal kalau baru tahu luarnyah ajaaah wekekeke

      di kasih merek bubur bayi ya mas 😙


      ((o(*>ω<*)o))

      intan cowok mas...kalau cewek ntar bisa dicubit mas intan loh mas agus hahahhaha

      >(´▽`) - c<ˇ εˇ)

      nahhh apa yang akan terjadi selanjutnya? benarkan ia akan berubah menjadi ksatria bulan alias sailormoon dan berganti kostum dengan rok mini kayak ushagi tsukino (eeeeh)

      lalu memiliki kekuatan???

      ヾ(❀╹◡╹)ノ゙❀~


      mari kita sama sama menunggu di channel gustyanita prikitiuw...jangan sampai pindah channel...karena di sini semua akan diceritakan dengan sweet sweet...hahahhahahhaha

      (*´︶`*)ฅ♡

      Hapus
    2. Soalnya ada teman saya namanya intan Nuraini mbak, jadinya kalo nama intan seingatku cewek.🤣

      Waduh senang nya pare juga ya, hidup udah pahit mbak, ngga usah makan yang pahit-pahit.😁

      Itu si Agus malas amat, genteng bocor saj ngga dibetulin, harusnya mah naik ke atas atap betulin genteng, bukannya naik ke atas...😱

      Hapus
    3. mas agus nama temannya mirip mantannya sahrul gunawan dunk

      (✪ω✪)/

      biar yang pahit ditelan netijen saja ya kak...modelan netijen bawel wakakakka....

      tapi pare kalau tahu ngolahnya ga pahit loh..kasih garem ama gula yang banyak mas ntar pahitnya nda kerasa ena loh dimaem ama nasi putih

      mungkin cape gawe mulu dari pagi buta nyampe magrib jadi lupa benerin genteng hhahahhaa

      waduh naik apaan tuh ya? 😱😳😱😱😱

      Hapus
    4. nama tokoh jaeynya sudah aku ganti mas agus hehe...ganti nama...biar ga ada rasa ga enak di hati...mungkin orangnya ga terima ☺😊

      Hapus
  3. Komentar 1..Heemm sepertinya perasaan gw nggak enak nih baca cerpen yang ke 6 benar2 suuueee...🤣 🤣 🤣 Bagus sih cerita yang ini para pemainnya aktif semua..😊😊

    Dimulai dari keromantisan si A yang mulai bertingkah tengik dihadapan Rembulan, Dan mendapatkan kecupan gratis dari Rembulan....Mungkin si A dibantu setan kuburan kali sehingga sih Rembulan mau mengecupnya...Benar2 Suueee emang tuh si A..😬😬

    Sampai pada akhirnya hujan pun turun membasahi rumah si A yang memang sudah teramat butut.🤣 🤣 🤣 Jadi wajar saja kalau bocor mah, Terlebih kasur bututnya juga sudah penuh iler si A, Bahkan hampir 3 tahun nggak pernah dicuci sama si A yang suueee itu.🤣 🤣 🤣 Mauan amat si Rembulan tinggal di situ berhari2..🤣 🤣 Sampai pagi menjelang Rembulan pun dibuat kaget karena ketiduran. Dan sialnya si A nggak ngebangunin....Biasa modus si A memang begitu biar bisa mandangin tubuh si Rembulan sambil berkhayal. Emang suuuee tuh orang..😬😬

    Akhirnya lupa segalanya dan nggak sempat jualan siomay, Hingga nebeng makan dirumah abangnya dengan alasan bujangan, Padahal umur sudah 60 tahun..🤣 🤣 🤣 Hingga akhirnya setelah makan keduanya nyuci bareng dan si A suuuee pun semakin menjadi2 karena bisa memanfaatkan Rembulan untuk nyuciin bajunya yang hampir sebulan nggak pernah dicuci.🤣 🤣

    Baca kisah nyuci gw jadi ingat dirumah kalau nyuci suka semprot2tan air pake shower sama si Vina...Haaahaaaa suuueeee..🤣 🤣 🤣

    Hingga akhirnya 2 keponakan si A yang kembar datang membawa rantang isi nasi dll... Intan & Sudibyo...2 orang kembar????🤔 🤔 Gw lagi mikir ngebayangin kembar si Intan dan Sudibyo...Mana yang laki dan mana yang cewek.🤣 🤣 🤣 🤣 Meski pada akhirnya tatik si A suuueee berhasil juga ngusir 2 ponakan kembarnya agar segera pergi kuliah. Walau sempat dicurigai juga oleh 2 orang kembar itu.😳😳

    Sekarang kita kembali ke Jaey betet yang baru mikir atas kejadian yang menimpa Rembulan karena ulahnya, Meski akhirnya ia menyesalinya dan kembali membuat ultimatum agar rembulan mau kembali lagi bekerja dengannya, Dan tentu Hermansyah betet lah orang yang bisa ia andalkan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. asyiiiiiikkk!!!! Komen kang satria dibagi jadi 3 sesi...kan gw seneng kolom komentar gw jadi kelihatan ramai hahahahahhaa

      (*・ω・ノノ゙☆゚゚

      ya itu ucapan terima kasih luhrembulan kang wakakakkakakakkk...maksudnya biar ada sweet sweetnya gitu deh...biar kayak di pilem pilem...

      dibantu setan kuburan? Waduhhh tatud 😱

      ~ (Û³˚Д˚)Û³

      wakakaka sengaja kang...soalnya kalau yang settingnya tempat orang kaya mulu jadi kurang syahdu, sekali kali yang rumahe mirip mirip rumah admin di dunia nyata lah banyak gambar amoebanya plafondnye wkwkkww

      tapi kang...tu kasur aslinya baru dibeli loh...kalau yang kasur lama ada di kamar yang ranjangnya besi #sailaaah semua penuh dengan hal hal detail ya kalau di cerbung si Mbul

      biase....biar ada part uwuwu nya kan sesuai genre yang kuambil romansa...jadilah ada part bobok bobok manjah (bobok biasa saja loh ini) sama cuci mencuci yang sangat sueee sekali hahahhahahanjeeeeer

      iya kesempatan rehat bentar ga jualan biar bisa asyik asyik...maksudnya asyik asyik gotong royong kebersihan kang biar rumah ga lembab

      dua duanya cowok kang...kembar cowok identik jadi mirip percisss cisss ciiiisss, Intan dan Sudibjo...tadinya malah mau pake kal dan el...tapi dia uda ada hermansyah yaudah kukasihlah ke intan dan sudibjo

      pokoknya yang sering komen di mari dan komennya nyenengin sang admin niscaya bakal dimunculin di cerbung akoooooh hahahhahahahah

      yups...benar semua akhirnya menyadari arti penting sebuah rembulan...sebab Evie tamala bilang rembulan malam bisa menjadi penerang hati #suweeee #gombal gambil #guyon hahahhahahahahaa

      Hapus
    2. udah ga oake na jaey lagi...nita ganti ama yang lain 🙏🙏🙏☺😊

      Hapus
  4. Komentar 2

    Atas kejadian itu Hermansyah betet pun menyesali atas apa yang telah dilakukan oleh Jaey betet.. Hingga iapun juga sangat merasa kehilangan Rembulan, Karena merasa klop dan bisa dijadikan teman curhatnya....Aneh yaa sih Hermansyah betet ini, Tampang Korea mantan pacarnya Ningsih..🤔 🤔 🤔 ...Nggak sekalian Maymunah.🤣 🤣 🤣 🤣

    Dan terakhir...Yaaa nggak usah gw tulis dah..🤣 🤣 🤣 Suuueeee kan gw punya ilmu lari secepat The Flash...Masa bisa ketubruk minibus.😳😳🤪 🤪 Sebentar amat peran sih Satria..🤷‍♀️🤷‍♀️🤷‍♀️🤷‍♀️

    Khanif mah nggak bisa diandalin...Kalau gw nggak ada siapa yang ngurusin tuh kios akhirnya, Bisa diambil alih si A Suuueee yang lagi ngarep2 kegatelan..🤣 🤣 🤣

    Akhirnya bersambunglah...Tapi si Satria udah nggak ada lagi di Episode 7..🤣 🤣 🤣 🤣

    BalasHapus
    Balasan
    1. hermansyah biar kata tampang korea nama juga masih lokal poenya kang satria hahahhaha (。>ㅅ<。)💦sorry…mas herr...takbayangine malah orang korea macam ahjussi ahjussi wakakaakk..tuh ningsihnya aku munculkan juga hahaaa

      yang terakhir ada gantinya kang..yaitu jeng jeng jeng...digantikan sama dahlan 😆😂🤣🤣


      jadi ngebayangin kalau Mas A ambil tuh kios yesss..🙄🤔🤔

      adaaa...masih ada jadi dahlan

      apa malah jadi arwah yang jasadnya dikuburkeun di belakang rumah cijantung? hwaaaaa sue emang scriptnya admnin beby mbul ya..

      ฅ(๑⊙д⊙๑)ฅ!!

      Hapus
    2. Tenang saja kang, kan sudah ditulis tuh arwahnya Satria masih akan nongol di episode 7, mungkin nongol kalo khanif ngga bisa jaga kiosnya, atau muncul kalo Herman ngajak mangkal.🤣

      Lebih tepatnya sih kalo arwahnya gentayangan ngejar jaey, kan gara gara dia kang Satria ketabrak.

      Aneh kok bisa ketabrak minibus sih, bukannya kang Satria bisa lari cepat sama Gundala, jangan-jangan pas ngejar ada Ratna di lampu merah, kang Satria terpesona jadi meleng dan ketabrak, koit deh.😂

      Hapus
    3. nah lo nah lo selama 7 hari jangan jangan arwah satrie belom tenang sebelum membalaskan dendemnye kepade jaey gupta and de genks hahahhaahah

      coba tebak? tu kios sayur sepeninggal satrie akan digimanakan? dan bagaimanakan nasib khanif selanjutnya? juga rembulan yang sebatang kara? akankah seorang pangeran berkuda lumping ...e berkuda putih akan mengambil alih dirinya supaya ada yang jagain tiyep hari? saksikan saja di....di....#kemudian masuk iklan 🤪

      the flash? sik..sik..sik...mas..kok? aku malah inget karakter the flash yang di animasi zootopia..itu loh sejenis hewan yang di kartun ice age..kukang...yang bukane bisa lari cepad malah luambateeeee ampun dijey hahahahhahahah


      三三ᕕ( ᐛ )ᕗ

      ya..jangan jangan karena ada ratna di lampu merah ya...eh mas tapi aku kadang belom bisa muvon loh dengan karakter ratna di cerpennya mas 😂🤣🤣🤣🤣🤣

      Hapus
  5. turut berduka cita untuk kang satria, semoga tenang disana :D

    tapi agak di sayangkan, sosok kang satria yang gagah berani yang bisa menjaga si mbul malah koid di tabrak bis... yang sabar ya kang, peranmu cukup sampai disini :D

    oh jadi hadiahnya itu tow, mas agus dapet sun "bubur bayi", tenang saja mas agus, sun nya bisa di simpan dulu di lemrai sampai kalian menikah nanti dan punya bayi :D.. ah garing..garing bcandanya :D

    jadi sampai episode tuju aja tow mbak nanti cerbungnya, yah semoga kedepanya nanti masih ada cerbung-cerbung lagi ala mbak mbul hehehe :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. wahhhh hua ce lei khanif sudah datang...mari kita semua kendurian dulu untuk penghormatan trahir kang satria 😆😅😂😌

      ya begitulah akhirnya ide itu mengalir begitu saja..tapi tenabg mas khanif gantinya adalah oooooh masih ada dahlan yaitu masih orang yang sama dengan satria (aslinya) hahhahah sueee

      kalau garing uda macam kacang 2 🐰 dong mas nif hahhahaha...

      hu um episode 7 aja yang cerbung ini. tapi tenaaaaang!!! sudah ada judul judul baru entah cerpen atau cerbung lain yang antre...dan maybe pemainnya juga masih kaliyan kaliyan ini lah yang selalu ngramein kotak komen akoooh...syaratnya gampang kalau mau mau nampang di cerita fiksinya si mbul..terlebih untuk peran utama...yaitu....sering seringlah komen yang bikin adminnya senang..na itu pasti bakal dipertimbangkan untuk cerpen atau cerbung ke depan...hihihi
      maybe ke depan akan ada suster tiwi, penjual yakul, rembulan jilid 2..atau justicia...atau yang lainnya huahahhahahha suwe yee sutradara beby mbul 😂🤣🤣

      Hapus
    2. waa gw ngefans banget ma yakult lady :D.. bukanya yakult lady tapi mbak-mbak yang jual minuman keliling, pernah sekali pas di jakarta, ada mbak-mbak dateng nawarin produk minuman semacam hemaviton dan kuku bima, gila mbak yang jual genit banget, di rayu macem ini itu supaya beli minumanya.. tapi akhirnya gw tinggal ngumpet aja di kontrakan hahaha

      Hapus
    3. ngefansnya sama yakult lady di cerpen apa di dunia nyata mas khanif? hahahahahha


      eyasalam itu ditawarin gitu berarti deseu kayak dagang jamu apa gimana hihihi

      Hapus
    4. ngefans dua-dua nya, di dunia nyata dan cerpen hohoho :D

      iya semacam seles kayak yakult lady gitu, jualnya ke toko-toko dan rumah, tapi khusus cwo yang jadi targetnya hohoho :D

      Hapus
    5. asyiiique ...

      kantongin dulu peran di edisi mendatang eaaa hahahhahah

      kok serem juga ya mas khanif ada gitu yang narget khusus cowok hahahhaha

      Hapus
    6. Berarti yang kemarin pegang tangannya dan ngajak kawin langsung cocoknya mas khanif ya.😆

      Hapus
    7. nah loh gimana tuh...hayo mas khanif bikin cerpen juga

      mas agus bikin cerpen juga

      mbul bikin cerpen juga

      mari kita berkhayal bersamaaaa hahhahahahahhahahaha

      Hapus
    8. 🙄🙄🙄🙄🤔🤔🤔🤔🤔🤔🤔🤔

      Hapus
    9. 😆😅😂😂

      Hapus
  6. wah mantul ada khanif, intan, sudibyo dobel tuh untung ada nama agus juga meski agus warteg wk wk he , tapi aku tetap fokus waktu ada adegan apa tuh bahasa indonesianya gelas, jadi inget first love malu-malu tapi suka

    BalasHapus
    Balasan
    1. hayo mau gabung juga ga mas rusdi biar rame shooting filmnya cerbung si mbul...gampang saja audisinya hahahha

      iya intan dan sudibjo double nih komisinya..sama kayak satria dan dahlan..

      asyiikk...makasih uda suka ama ceritanya..maklum adminnya suka nyanyi lagunya peterpan...yang judulnya khayalan tingkat tinggi 😁😂🤣

      Hapus
    2. baru ngeh namanya mas rusdi ada unsur 'agusnya' 😱

      Hapus
  7. Itu emang sengaja setelah bintang spasinya dibikin jauh banget, Mbak? Setahu saya dengan dikasih bintang pun biasanya udah jadi tanda itu ganti suasana atau alurnya berubah gitu, sih. Atau cara lainnya 2-3x enter.

    Sebetulnya masih bingung saya sama cerbung ini karena tokoh-tokohnya kebanyakan dari yang pada komentar alias bloger juga. Cuma ya saya kurang kenal, jadinya agak susah membaca tiap karakternya. Haha.

    Ceweknya agresif juga ya langsung ngecup. Klasik banget pula suruh lihat ke atas itu caranya mengalihkan perhatian.

    Hm, itu mandi bebek 15 menit sama kayak mandi normal saya yang tanpa sampoan. Bahkan 10 menit kayaknya cukup juga. Mandi bebek yang saya tahu enggak sampai 5 menit. XD

    BalasHapus
    Balasan
    1. uda gw ganti 15 menit jadi 5 menit...awalnya 5 menit sih...tapi gw sempet galau gw tambahin angka 1 e malah ga masuk akal ya..untung loe komen deh jadi bisa gw edit lagi hahhahahhaah



      masa iya sih terbacanya agresif...jadi gini Yog..gw sengaja bikin ni karakter Rembulan justru anaknya polos dan apa adanya, suka spontanitas gicyuuuu...hahhaha sue #kebanyakan alasan luh Mbul

      soalnya usianya masi 17, mungkin hormon lagi 'kenceng2nya' kali yeeee...jadi ya begitulah wkkk...terlebih di sini doi baru pertama kalinya tertarik sama lawan jenis...jadi suka reflek begitu deh

      klasik ya? iya soalnya mungkin bukan modelan tokoh anak jaman now

      o belum begitu ngeh gegara tokohnya banyak ya, sebenarnya ini janji gw waktu nyemlong pengen ngebikinin beberapa temen blogger cerita fiksi sih.....jadi ya begitu...bisanya gw bikin ceritanya seperti ini hahhaha, lagipula kalau boleh jujur gw bikin cerbung ga seserius orang mau bikin buku yang saklek dengan aturan ini itu kok...ini cuma buat hiburan semata alias seneng seneng di blog aja biar akrab sama temen2

      kenalan gieh sama mereka yog....😄😃😁

      mas agus, kang satria, mas herman, mas khanif, jaey, intan sudibjo, mas djangkaru, orangnya baik baik kok, siapa tahu nambah seduluran n memperlancar rejeki loe ☺😄

      Hapus
    2. nah tuh ayo pada saling kenalan, biar ramai dan makin banyak teman 😃😄☺😊

      Hapus
  8. Darsono? kok mirip nama temen saya waktu smk yah wkwkwk

    memang ada buah jambu namanya darsono yah? hmm

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya Alloh temennya masa disamain ama jambu hahhahahahha...

      ada mas adaaa...

      itu loh yang bentuknya lonjong warna merah ..agak mirip jambu bol tapi yang ini rasanya asem 😂🤣🤣

      Hapus
    2. Percaya ngga, adik ipar saya namanya Darsono mbak.🤣

      Hapus
    3. Terus ntar kakak iparnya...Darsini yee kang kan jadi kembar..🤣🤣🤣

      Hapus
    4. Bukan darsini tapi dahlani.😆

      Hapus
    5. kang satria....darsono darsini 😂🤣

      Hapus
  9. mb Nit kok awal2 udah kasih disclaimer sbg cerita fiktif. Takut dianggap pengalaman pribadi ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. fiktif bang

      biasa ikutan seseruan temen temen eks blogger mwb yang jago fiksi, biar rame lah kolom komentarku 😂🤣🤣🤣🤣, kalau cerita temen temen blogger kan pasti pada silaturahmi soalnya yang diceritain kan mereka

      kalau cerita diri sendiri kadang ga banyak yang mampir blogku bang hahahhahah

      Hapus
    2. Padahal ngga usah dikasih tahu fiktif ya bang, biar disangka pengalaman pribadi.😄

      Hapus
    3. kalau ga dikasi tau gitu bala bala blognya mas agus yang ibu ibu ntar pada demo ama embul mas hihi

      Hapus
    4. Lha, emang kenapa blog mbak mbul di demo ibu-ibu? 🤔

      Oh mungkin karena ada pembagian sembako gratis ya.😆

      Hapus
    5. kayaknya mau ada demo masak mas 😆😁😂🤣

      Hapus
  10. Aku agak ga terima kenapa tokoh satria malah dimatiiiinnnnnnn :D. Padahal udah minggu2 si jaey dihajar Ama satria Krn udh bikin rembulan kabur.

    Isssh, makin seruuuuu nih nit. Jd penasaran gimana nasib rembulan stlh kepergian abangnya. Harapan jd jatuh ke Agus utk ngadepin jaey :D . Bener2 deh, gedeeeg banget liat tokoh si jaey itu hahahahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. udah kuganti nama jaey jadi jack hehe

      (^ω^)

      Hapus
  11. Udah seru2 baca Rembulan sama Agus yang lagi asik2ny, sampe dpt satu kali cup lg Agus 😆😆
    Eh abis itu akhir2 kenapa jadi sediiihh 😭😭 Bendera kuning n mobil jenazah. Huhu.. Semoga mas Satria tenang di sisiNya.
    Kelanjutannya jangan2 pas rembulan bls dendam ya? Pokoknya Jae Gupta jngan diberi ampun 😆😆 (pembaca kebawa emosi 😅)

    BalasHapus
  12. Ahh.. kontrak Bang Satria di cerbung ini dah abis.
    Semog tenang di alam sana ya Bang. Semoga amal ibadahnya diterima.

    BalasHapus
  13. nama tokohnya ada yang berubah jadinya : Mas agus, satria, khanif, herman dan jack 😳🙏😉

    BalasHapus

Komenin dong...tanpa kehadiran kalian apalah arti aku menulis....
kalian penyemangat setiap bulir kalimat dalam blog ini :*
Namun jangan komentar SARU atau SARA ya, jika ada komentar dengan unsur tersebut, dengan berat hati akan aku HAPUS .

Oh ya, Dilarang juga mengambil gambar/foto atau menyadur tulisan tanpa mencantumkan sumber atau seijin pemiliknya. Apalagi untuk kepentingan komersial atau lomba. Thx ^____^