Laman

Selasa, 26 Januari 2021

Cerbung : The Goddess (Sang Dewi) Part 1



Oleh : Gustyanita Pratiwi

Bersifat Fiktif Belaka


ilustrasi digambar langsung oleh Non Admin Gustyanita Pratiwi




Bab 1 

'Aku' as Sudut Pandang Tokoh Wanita


Aku menghirup De Marco lekat-lekat. Di sisiku sudah berdiri seorang cowok dengan singlet garis-garis biru tua. Cowok itu menghadap tanpa kedip ke arahku. Ya...tepatnya menghujam langsung ke kedua bola mataku yang besar. Aku kikuk. Sedikit panik. Paling banter....deg-degan.

Emmm, apa ya? Kelihatannya cowok nyentrik. Kulihat aksesoris gotik naga melekat di sisi kiri lengannya yang gembung berotot. Belum lagi dadanya. Di sana tergurat sepasang rajah kobra yang menganga melambangkan simbol keperkasaan. Tentang wajah, cowok itu lumayan keren. Ah, bukan. Dia ganteng. Sebuah tindik kecil menghias di hidung mbangirnya yang condong ke atas. Membuatnya lebih mirip seperti babi. Oops...babi. Itu membuatku sedikit mual. Setidaknya aku sempat membayangkan wujud jenderal Tien Pien dari legenda "Perjalanan ke Barat bersama Raja Kera Langit."

Aku menyesap segelas air lemon dingin yang sudah 15 menit lalu datang bersama seorang pelayan. Dalam sekejap air lemonku itu habis tak bersisa tinggal sejumput ampas jeruknya saja yang masih tertinggal di dasar gelas. Aku benar-benar gugup. Kulirik cowok tadi. Ternyata ia masih melihatku, seakan-akan aku ini seorang tawanan pidana yang sedang diawasi oleh reserse. Oh...tidak. Aku sekarang bertambah gugup. Cowok itu tetap kekeuh dengan stylenya. Mematung, bersedekap dan bersandar pada tembok. Sebuah kaca mata warna kuning norak bertengger di hidungnya yang lancip sempurna. Aku sempat berpikir. Apa dia (mohon maaf) buta? Seandainya iya, apa tidak sia-sia aku sampai nervouse begini. Tapi jika tidak? Aku jadi takut dia mau berbuat macam-macam. Mau coba-coba kenalan mungkin. Cowok kayak gitu kan tipenya sok akrab, sok gaul. Tapi...sudah berapa lama aku duduk di sini. Kira-kira setengah jam. Masa mau kenalan saja mesti pakai lama-lama begini. Nggak lucu ah..

Atau mungkin.....dia itu penguntit? Seseorang yang ditugaskan oleh rivalku untuk membuntutiku, mengikuti kemanapun aku pergi, mencatat apa-apa saja yang aku lakukan. Ya ampun! Siapa yang tega melakukan ini? Tapi mana mungkin. Selama ini aku hidup adem ayem saja. Tidak punya rival atau musuh. Aku hidup dengan caraku sendiri yang enggan menjadi parasit bagi orang lain. Aku selalu menjaga sikap. Jika tak akrab sekali mana mau aku cerita ini itu tetek mbengek segala hal. Aku hanya percaya pada diriku sendiri. Aku tak percaya pada siapa pun. 

Di tempat kerja juga. Aku adalah sebuah lemari usang yang terpasang di ruangan paling pojok dekat gudang. Aku pendiam. Orang-orang maklum. Karena aku bukan orang yang low profile. Aku juga heran sendiri kenapa orang sepertiku bisa diterima kerja di bagian hubungan masyarakat sebuah biro perdagangan kosmetik. Apa karena bossku melihat secara phisicly saja? Karena posturku yang mungil dengan seraut muka yang yah...sebetulnya biasa-biasa saja. Tapi orang bilang aku punya ciri khas tersendiri. Wajahku lucu.

***


Jam dinding beraroma tua yang terpasang di ujung koridor berbunyi. Seorang teman dengan sigap menyikut kepangku. Ups, ia mengambil pita merahku. Ia bawa lari pita itu. Katanya : "Ayo, kejar aku kalau bisa Adhy!" 

Aku menangis. Tanganku menggapai-gapai ingin meminta kembali pita merah yang telah dirampas oleh si Badung itu.

"Ayo Adhy, cepat tangkap kalau bisa, weekkk!" Ia berlari-lari kecil mengitariku. Tawanya terkekeh-kekeh seperti nenek sihir di pesta Hallowen. Ia semakin senang tatkala aku gagal meraih pitaku. Ia mengejek. "Uh Adhy, tanganmu terlalu pendek. Kau tak kan bisa menangkapnya."

"Hu...hu...hu!" Tangisku menjadi-jadi. Bu guru lewat dan menghampiri kami. Mukanya tampak prihatin saat melihatku dijahili oleh si Badung itu. Bu Guru lantas menepuk pantatnya. Ia nyengir. "Kau apakah Adhyanita, ayo minta maaf!" Bu guru meraih pita merahku dan menggenggamkannya ke tanganku. Akupun berhenti menangis. 

"Jangan diulangi lagi ya. Mengerti kan?"

Anak itu hanya nyengir kuda. Ia tidak menggubris perkataan Bu Guru. Soalnya aku tahu. Ia tak bakalan menyerah untuk menggangguku.

***


Pulang sekolah kala itu hujan deras. Aku baru sadar, Ayah telah membekaliku sebuah payung merah jambu berukuran kecil. Mulanya aku tolak. Tapi ayah paksa. Katanya : "Bulan September rawan hujan Adhyanita. Kau tak usah ngeyel. Aku berani bertaruh kau bakal kehujanan jika tak bawa payung." Kulihat mata Ayah mulai memerah. Gawat! Tandanya ia mulai marah. Padahal aku selalu bilang pada ayah, aku benci warna pink. Aku tahu itu soalnya aku nggak mau disamakan dengan anak-anak perempuan lain. Ya, ya. Teman-temanku. Semuanya mengoleksi barang-barang berwarna pink. Tas tangan, jepit rambut, tempat pinsil, uh....bagiku itu terlalu kewanitaan. Jujur saja aku benci dibilang wanita. Tapi harus bagaimana Ayah bilang itu bukan salah ibu telah melahirkanku dalam sosok perempuan. "Lantas apa itu salah Tuhan, Ayah?" tanyaku suatu kali. Tanpa diduga Ayah langsung berkacak pinggang dan memukul bokongku. "Adhyanita!!! Jangan lancang!" Ayah marah.

"Kenapa Ayah? Bukankah Tuhan yang membuatku menjadi seorang wanita?" kataku penuh kepolosan. Seolah-olah aku berhak tahu mengapa Tuhan tak menciptakanku sebagai lelaki saja. "Ini bukan salah siapa atau bagaimana. Ini kodrati Adhyanita. Ini sudah menjadi kuasaNya." suara Ayah mengeras. "Tapi Ayah...." Aku memotong kalimatnya yang lantas dipotong kembali oleh Ayah dengan cepat. "Tidak! Kau tidak seharusnya tanya-tanya atau protes seperti itu. Kau tahu? Aku paling benci dengan anak yang suka membantah!" Ayah meninggalkanku dengan sebatang rokok yang tinggal puntungnya saja. Ia masuk ke dalam dan meninggalkanku dengan rasa tidak puas. Aku kesal.

***




Dan, apakah sekarang aku musti berterima kasih pada Ayah karena hari ini hujan? Ayah memang selalu menang.

Dengan segan aku lebarkan payung merah jambu pemberian Ayah. Aku heran. Kenapa sih warna pink? Kayak nggak ada warna lain saja? Ayah kira aku suka warna pink apa? Nggak! Aku benar-benar nggak suka. Aku muak. Aku ingat satu hal : waktu itu teman-teman perempuanku sedang sibuk merumpikan sesuatu. Mereka duduk melingkar dalam satu meja dan seperti berlomba-lomba memonyongkan bibir untuk membikin suasana semakin panas. Aku masuk. Dan sejenak mereka berpaling, lalu meneruskan diskusi mereka. Aku menyeruak dan bertanya : "Kenapa sih? Ada apa?" kepalaku nongol diantara wajah-wajah teman perempuanku yang kelihatan sangat antusias dengan materi yang sedang diperbincangkan. Satu dari mereka menerangkan padaku : "Modelling show Adhy. Ada modelling show di Tirta Kencana minggu depan. Lomba ini sangat bergengsi. Hanya kaum elit saja yang bisa mendaftar. Eh...maksudku elite dan posisi yang tepat untuk menjamah sebagai Ratu Valentine. Ya...kau sendiri tahu lah...bagaimana kriterianya. Cantik, elegan, berwibawa, anggun, dan cerdas. Kau mau ikut Adhy?"

Aku kaget dan menjawab. "Ah tidak. Aku......tidak lah. Kalian saja. Kalian kan cantik-cantik." Elina salah satu dari temanku memproklamirkan diri. "Adhyanita benar, rasanya yang paling cocok ikut itu ya...aku. Bagaimana?" ia seolah meminta pertimbangan dari yang lain. Tapi langsung disambut dengan koor serempak "Huuuu!" 

Apa sih menariknya pesta Valentine. Kudengar samar-samar Elina meraung-raung histeris. "Ya ampun! Valentine loh! Valentine kau tahu?" Aku suka sekali pink. Aku gemas begitu melihat barang-barang dengan nuansa pink. Aku ingin beli. Tapi...aku tidak punya uang. Bagaimana dong?"

Tuh kan? Pink lagi. Aku rasa warna pink itu pasaran. Sudah banyak yang tergila-gila padanya. Seolah warna itu telah menjadi warna paling seksi dan manis dari seluruh warna yang ada. Cih!

Aku kibarkan payungku dengan perasaan mual. Aku takut kalau tiba-tiba temanku mendekat dan bertanya : "Katanya benci warna pink?" Oh tidak!!! Semoga saja tidak!

****


"Rain rain go away...come again another day.......na na ...na na..." Aku bergumam dalam kecipak air cokelat tua. Bunyinya berisik. Lagipula air ini kan air kotor? Kenapa aku malah bernyanyi di saat aku sedang kesal? Aku heran. Jadi sekarang aku sedang kesal. Ya, perasaan kesal. Kesal terhadap diri sendiri, terhadap Ayah, terhadap hujan. Kenapa hujan? Karena hujannya setengah-setengah. Deras nggak, gerimis juga nggak. Bikin kepalaku tambah sakit saja. Apa tidak sebaiknya sekalian deras saja. Biar aku pulang dengan kondisi basah dan sekalian dimarahi Ayah? Biar aku tambah lega. Biar semuanya cepat reda. Dan aku bisa tidur nyenyak tanpa harus mimpi buruk di siang bolong. Ugh!

***


Mataku tertambat pada sepasang kaki telanjang di depanku. Siapa? Ternyata si Badung. Aku jadi kesal. Pengen lari. Tapi gengsi. Kenapa harus lari? Entar dikiranya aku takut lagi. Si Badung itu berputar-putar mengelilingiku sambil memain-mainkan ujung payung merah jambuku. Aku pusing. 

"Hey! Dhyanita! Payung ini bagus sekali. Buatku saja ya?" Aku melirik ke arahnya. Di sana aku melihat si Badung tengah mengutak-atik bulatan-bulatan penutup kawat kerangka payung. Ia hendak melepasnya. Lalu aku teriak. 

"Jangan dilepas, Tolol!" Ia berhenti sejenak, kaget karena aku mengatainya Tolol. Lalu ia nyengir. "Oh Adhyanita marah. Aku takut...aku takut.......takut sekali. Hiiiy...syeram!" Dia semakin mengutak-atik payungku hingga satu diantara bulatan-bulatan tadi terlepas dari tempatnya dan aku menjerit. "Hey!" Ia berlari-lari. Sepertinya ia ingin aku mengejarnya. Tapi aku tetap diam sambil memandangi payungku yang cacat karena ulahnya. Aku benci dia. Aku benci....!!!

"Sini kau, Tolol! Anak Setan!! Kemari Kau!" Biar aku masukkan ke dalam neraka!" teriakku kencang. Membuat langit bergetar dan petir berkelebatan di udara. Anak itu berhenti lari. Menoleh ke arahku lalu terkekeh menyebalkan. Giginya yang panjang-panjang kayak kelinci tersembul keluar.

"Aku akan ke situ jika kau berikan payungmu untukku!" Serunya tiba-tiba. Apa-apaan? Menyerahkan payung ini? Dia mau menyiksaku di bawah kucuran air hujan, begitu?

Aku kehabisan rasa sabarku. Lalu melangkah besar-besar ke arahnya untuk mengasihkan pelajaran kepadanya. 

"Iniiiih!!! Puas??!!!!" Aku ngamuk dan anak itu ketawa. Ketawanya sarkasme banget. Menghina banget. Aku berjalan melangkahinya dengan tatapan benci. Benar-benar benci. Lalu dengan secepat kilat si Badung itu mencegatku lagi. Kali ini dia kelihatan lebih serius. "Kenapa lagi? Belum puas?!!"

Dia diam sambil memilin-milin ujung bajunya. Payungku diletakkan begitu saja di atas tanah. Kami hujan-hujanan. 

"Kenapa kau selalu menggangguku? Kenapa?"

Dia masih memilin-milin ujung bajunya. Seperti menahan sesuatu dari mulutnya yang mulai menghitam.

"Oooo...apa karena aku perempuan? Jadi kau bisa seenaknya menindasku, mempermainkanku? Menjahili aku? Begitu? Harusnya aku jadi laki-laki saja. Biar kalau kau mengganggu aku bisa menonjokmu. Berkelahi denganmu. Merusak apa yang kau miliki dan...aku bisa balas mengganggumu!" ujarku serak.

Hujan terus mengguyur kami dan jalanan banjir semata kaki.

"Kenapa tidak dijawab? Kenapa kau selalu menggangguku? Kenapa?" 

Ia berhenti ketawa. 

"Kenapa aku selalu mengganggumu?" 

Ia garuk-garuk kepala. Aku hentakkan kakiku ke tanah. Jengkel yang bukan main. Aku hendak pergi karena merasa tak penting berlama-lama harus ngobrol dengan seonggok batu. Tapi tiba-tiba ia mengejar dan kembali mencegatku.

"Kau bilang harusnya kau jadi laki-laki?"  iya menanyakan pertanyaan itu seolah-olah belum dengar alasan-alasan yang telah kujabarkan barusan.

"Kenapa? Padahal aku lebih suka kau yang seperti ini."

Aku tercengang.

"Hey dijawab dulu kenapa kau selalu menggangguku?" Dia bengong barang 5 detik. Lalu ngomong dengan nada sedikit tergagap.

"E...kenapa? Kenapa ya? Mmmm.....karena............karena kau perempuan. Dan aku mengganggumu terus karena aku suka padamu."

Kini giliranku yang shocked. Dengan terbata-bata aku tanya kembali.

"Kalau suka kenapa selalu menggangguku?"

"Tidak tahu. Suka ya suka saja."

***


"Djavu". 

Kenangan masa SD saat kelas 5. Dan si Badung itu, entah sekarang dia dimana, namapun aku tak tahu. Ya, dia selalu muncul saat bel pulang sekolah berbunyi. Saat aku tiba di ujung koridor dan dia menghadangku untuk mengambili segala macam benda yang aku punya. Sudah lusinan barangku rusak karenanya. Sebagian lagi hilang. Aku sempat berpikir apa dia itu tuyul. Setan gundul hitam dekil dalam balutan tubuh seorang bocah. Ya terang saja, orang dia selalu muncul setiap aku pulang sekolah dan melewati jalanan yang sama. Tiba-tiba kepalanya nongol begitu saja mengagetkanku. Tapi lama-lama aku terbiasa. Kebetulan kepalanya gundul, matanya agak sipit, dan punya gigi kelinci di  tengah yang seringkali membuatku tertawa geli sambil membayangkan tokoh kartun Bunny kelinci di serial WB.

***




Aku tengok jam tangan. Ternyata sudah sore. Pukul 16.00 pas. Dan aku buang-buang waktu di tempat seperti ini. Seharusnya aku bisa mengambil pakaian di laundry, bukannya bengong dan nggak ada kerjaan begini. Aku ingat, sudah 3 hari setumpuk pakaian termasuk di dalamnya long dress buat kerja kutitipkan pada Jem, lelaki gemuk, tetanggaku yang kerja part time di laundry pusat kota. Oh...sangat ceroboh! Pasti di rumah nggak ada satu stelpun pakaian untuk kerja besok. Masa aku harus pakai T-shirt lagi. Kan nggak lucu. Bisa-bisa Bossku jadi konak. Aku paling kesal kalau sudah seperti itu. Pernah suatu kali seisi kantor saling senyum dan memandangiku dari atas sampai bawah. Gara-gara aku cuma pakai T-Shirt berbahan tipis dan rok mini yang pastinya bikin orang-orang pada melompong. Apalagi Boss. Ngomong-ngomong orangnya rada 'gini'. Miring. Suka lirak-lirik cewek. Maklum, lajang tapi kacangan. Umurnya sudah kepala 3 dan ia masih asyik dengan petualangan-petualangan asmaranya. Bossku emang playboy . Tukang rayu kelas kingkong. Sekertatisnya si Nana kalau habis diantarkan Boss pulang-pulang pasti keramas. Gila kan? Oh...kenapa juga ngomongin si Don Juannya kantor? Lebih baik aku berkemas. 

Aku ambil tas tanganku dan ah ya ampun, cowok itu masih setia dengan stylenya. Tapi saat aku hendak berdiri, tiba-tiba ia berteriak : "Mas-Mas!' Kemudian seorang cowok lain dengan dasi kupu-kupu dan jas merah tua agak ngatung datang. Posisinya sedikit membungkuk dan mengusungkan sebuah catatan harga. Cowok itu lantas mengeluarkan kartu kreditnya dan ia turut berdiri siap 'menguntit'. 

Aku bergegas keluar dari cafe. Jalanku buru-buru. Sore-sore begini aku harus cepat sampai apartemen. Dan cucianku harus buru-buru diambil jika tak mau besok pagi repot. Apalagi besok aku harus cari kolega di cosmetic centre. Jadi aku harus  benar-benar siap dari sekarang. Aku harus fit.

Jalanan ibukota mulai bercahaya. Lampu di sana-sini berkedip warna-warni menyilaukan pemandangan metropolis. Di kanan kiriku mulai berseliweran anak-anak ABG yang kencan dengan pasangan masing-masing. Mereka berbondong-bondong memasuki banyak tempat makan yang tergelar penuh di sisi sepanjang jalan. Aroma ayam bakar pedas manis sempat menggelitik penciumanku. Kulirik di sana telah terpampang sepotong besar dada ayam yang lumayan hangus oleh arang seorang bapak yang tengah mengayun-ayunkan kipasnya.

Aku sadar, perutku lapar. Padahal di rumah persediaan makanan sudah mulai habis. Tadi pagi saja aku dibuat bingung setengah mati. Kulkas yang biasanya 24 jam terisi penuh kini tinggal tersisa 2 butir telur dan satu kantung tomat merah saja. Akhir-akhir ini aku malas belanja. Mungkin karena tanggal tua. Dan dompetku 'bolong'. Aku lagi minim duit. Kalau mesti ke bank rasanya repot. Yah, soalnya tabunganku sedikit. Depositoku juga nggak seberapa. Cuma berapa puluh juta. Itupun masih harus kutransfer untuk bolak-balik check up ayahku yang terkena serangan stroke. Ibu sudah tua. Kadang-kadang pikun. Jadi agak susah juga mengurus ayah. Kadang aku kasihan melihat mereka. Suatu kali pernah kusarankan apakah mereka mau kuboyong saja. Tapi Ibu bilang : "Tidak perlu Geg, Aku dan Ayahmu masih betah tinggal di desa. Lagi pula hidup di Jakarta itu susah. Aku tidak mau merepotkanmu. Aku pikir menghabiskan masa tua di sini adalah menyenangkan." Aku hanya mengangguk patuh. Serba bingung. Mereka susah diatur. Tapi aku juga tak bisa memaksa atau bagaimana. Ini sudah keputusan. Sebagai wujud baktiku, aku cuma bisa kasih sedikit uang setiap bulan ke desa. Kupikir ayah dan ibu tak pernah menuntut apapun selain keinginan untuk segera menimang cucu. Saat ayah masih waras betul dan masih ingat segalanya, ia pernah berkata : "Dhyanita, cepatlah kau kawin. Ingat usiamu sudah hampir kepala 3. Sudah 27 tahun. Kau tak mau keluargamu ini malu kan?" Ya-ya-ya. Aku tahu Ayah, aku memang sudah tua. Jadi aku harus cepat-cepat berburu cowok untuk diajak kawin. Begitu kan?

Tapi Ayah tidak tahu bagaimana sulitnya menjaring cowok. Terus terang aku belum pernah menjalin suatu komitmen dengan lelaki. LELAKI. Benar-benar rangkaian kata dengan huruf kapital. Aku orangnya rada idealis. Punya ambisi tinggi soal karir.  Terlalu fokus. Terlalu serius. Ayah jadi gemas setiap kali bertanya : "Kau selalu pulang dengan membawa pikiran kantor terus Dhyanita, lalu kapan kau mau pulang bawa laki-laki yang siap mengawinimu?" Uh...lagi..lagi. Kalimat ayah itu sangat menyindirku. Aku terpojok dan tak bisa menjawab. Hanya senyum-senyum yang aku sendiri tak tahu apa maknanya. Pernah suatu kali ayah berniat menjodohkanku dengan pemuda dari desa tetangga. Masih ada kerabat, namun jauh. Saat pertama jumpa, Ayah sangat senang dan benar-benar mendorong-dorong kami. Begitu pula dengan calon besan. Sebaliknya, aku dan si 'korban', Komang Wicana namanya, tampak terlihat kurang sreg dan malu-malu sedikit. Keluarga Komang berasal dari Batu Bulan, sedangkan rumah kami di Ubud. Ayah sangat akrab dengan Ayah Komang. Bahkan menjalin bisnis pembutan ogoh-ogoh sebagai upaya pelestarian seni tradisi Bali. 

Sebetulnya Komang anak yang baik. Ia sopan bahkan terlalu sopan menurutku. Aku simpati padanya. Namun aku belum pernah pacaran, bahkan saat SMA. Jadi rasa-rasanya ada ganjalan saat ada pemuda yang berniat mendekatiku. Aku ingat suatu kali saat kencan dengannya, aku benar-benar terlihat kikuk begitupun dengannya. Sama-sama belum tahu pacaran itu kegiatan yang bagaimana dan ngapain.

Sore itu aku mondar-mandir di dekat pura tempat Ayah selalu meletakkan sesaji. Kerjaku hanya merapikan kepangan rambut yang telah dijalin rapi  oleh ibu. Oh iya, sejak kecil ibu telah mengajariku untuk berlatih menjadi seorang perempuan yang berbakti pada suami dan selalu ada di saat suami pulang kerja. Menyiapkan minumnya, memasakkan makanannya, mencucikan bajunya, merawatnya, termasuk memanjangkan rambut untuknya agar terlihat enak untuk dipandang. Ibu bilang rambut gadis Bali adalah mahkota. Jadi akan lebih indah jika dipanjangkan hingga sepantat. Sampai saat ini aku belum bisa memanjangkan rambutku hingga demikian panjang. Baru juga sebatas lengan.

Bolak-balik aku menunggunya. Mungkin sudah ada setengah jam. Dan wajahku sudah mulai berantakan. Bedakpun luntur, gincu merahku sudah memudar terkena ludah. Aku gugup. Mungkin karena kencan pertama.

15 menit kemudian, Komang Wicana datang dengan sepedanya. Ia tersenyum sambil minta maaf. Aku bilang tak apa. Aku maklum. Lalu kami pamit pada Ayah dan ibu untuk pergi ke suatu tempat.

"Maaf Dek. Baru bisa datang. Bli baru saja pulang dari Uluwatu mengurus ogoh-ogoh pesanan tiyang." 

"Tak apa Bli, Adhy pun baru beberes rumah. Sekarang kita akan kemana?" Aku berusaha mencairkan suasana. 

"Adek mau kemana?"

"Emm...terserah Bli.. Adhy menurut saja."

"Betul, terserah Bli? Adek mau menurut?" 

"Iya."

Sepeda kami meluncur gesit di sepanjang aspal desa. Rupanya mau jalan-jalan ke kota. Seperti yang sedang kami lewati sekarang. Di depan sana terbentang jalanan besar yang sarat akan lampu-lampu kota kelap-kelip kemilauan seperti gugusan ursa mayor. Cantik sekali. 

Kawanan turis berseliweran sambil menenteng kodak. Ada pula perempuan paruh baya yang sibuk memanggul rangkuman kembang untuk bahan sesaji di atas kepala. Yang lebih indah lagi adalah suara gamelan Bali yang mengalun sakral dari pintu masuk sebuah hotel berbintang. Komang Wicana membelokkan sepedanya. Lalu berhenti di sebuah taman yang elok rupawan dengan beberapa ayunan yang telah terisi oleh pasangan muda-mudi. Ia menoleh dan tersenyum ke arahku. 

"Bagaimana? Adek suka?"

Aku mengangguk dan membalas senyumnya. 

"Mari!" Ia menggamit tanganku. Kami bergandengan menuju ke sebuah ayunan yang terletak di ujung taman dekat pancuran dengan patung yang ada di tengahnya.


***

Pink, swing, park..

Di sana Komang Wicana hanya diam, jarang bicara dan mengajakku menikmati sinar bulan. Saja. Lalu tiba-tiba tangannya meraih setangkai wora-wari bang dan menghiaskannya di selipan telingaku. Dia bilang : "Wajahmu lucu, Dek!"

***


Aku memutar arah ke selatan. Laundry tempat aku menitipkan cucian masih buka. Di sana Jem menungguku dengan sekantung besar pakaian yang telah digiling. Ia tersenyum ramah. Perut buncitnya ikutan gerak. "Sore amat Adhy, baru pulang ngantor?" tanyanya penuh selidik. Aku tanggapi dengan tertawa kecil saja. "Berapa Jem?" Aku merogoh sakuku untuk mengambil dompetku yang cuma berisi Rp 150 ribu perak saja. "Untukmu Rp 100 ribu saja lah." ia menepuk bahuku. Dan uang kuserahkan sembari bilang terima kasih. "Duluan ya Jem, mau belanja." Jem lagi-lagi senyum. Dia lambaikan tangannya yang penuh dengan lapisan lemak itu kepadaku. Lalu aku pamit dan meninggalkannya.

Aku berjalan cepat ke shopping center. Mau beli barang-barang dulu. Aku masuk ke lantai dasar dan mengambil sebuah kereta dorong, lalu mengitari rak-rak makanan dan sayur-mayur. Di sisi kiriku telah berjajar timun jepang warna hijau tua dan di sebelah kananku ada kelompok suku terung-terungan. Kayaknya aku sudah salah tempat. Aku putar balik untuk menuju ke rak makanan sehari-hari yang lebih simple. Di sana kutemukan beberapa barang yang aku butuhkan, khususnya untuk makanan instan yang tepat buat hari-hariku yang sibuk. 

***


Uangku habis dan tanganku penuh dengan kantung karton berisi pop mie. Sengaja pilih yang praktis karena aku memang payah soal memasak. Dulu memang jago, sewaktu di desa dan Ibu mengajariku dengan telaten. Namun untuk sekarang-sekarang ini, urusan memasak sering aku abaikan. Hari-hariku selalu dihadapkan dengan sepotong roti tawar dengan olesan mentega yang sudah siap di meja makan dan selebihnya adalah konsumsi mie instan. Tak heran jika lambungku kadang berontak. Maag atau apa lah. Aku sendiri kurang ngerti sama sesuatu yang ada di dalam lambungku. Aku selalu menghadapinya dengan anggapan enteng. "Paling juga sembuh setelah dinetralisir sama tablet dari apotek." pikirku sekenanya.

***


Pukul 19.05 WIB. Aku sampai di depan gerbang apartemenku. Mas Restu--satpam sedang bermain catur dengan seorang lelaki dengan seragam kamtibnas. Mereka menegurku ramah. "Malam Mbak Dhy, mborong ya?"
"Iya Mas. Mau masuk dulu. Mau istirahat."

"Oh ya...ya. Mari..mari. Selamat istirahat." lelaki dengan seragam kamtibnas itu melambaikan tangannya lalu Mas Restu tersenyum sumringah. "Skak!! Ayo nggak bisa jalan kamu!' ia tertawa ngakak. Dan lawannya berubah kecut sambil memutar otak untuk menjatuhkan pion musuhnya. 

***


Aku kewalahan membuka pintu. Satu kantung karton kuletakkan di atas lantai. Dan anak kunci bergemerincing. "BET!!" Tiba-tiba aku merasa ada yang lewat barusan. Astaga! Tadi itu apa ya?

"Bet! Bet!!" Aduh....aku menoleh. Tidak ada siapapun di sana. Aku bergidik. Bulu kudukku berdiri. Anak kunci semakin bergemerincing hebat. Aku panik. Kulihat sekilas di anak tangga terpantul sekelebat bayangan lelaki. Siapa?  Aku tak tahu. Aku benar-benar takut. Lalu setelahnya semua pintu kukunci dari dalam.

***


"Benarkah itu Dhy? lalu siapa dia?" Manajer Personalia angkat bicara. Ekspresinya sungguh sangat penasaran. "Entahlah, saya sendiri tidak begitu jelas melihatnya. Langsung saya kunci semua pintu. Saya nggak berani lihat walau cuma dari kawat nyamuk." ungkapku terus terang. 

"Kau bilang dia itu penguntit kan Dhy?" rekan kerja sejurusanku ambil bagian. Dan aku cuma manggut-manggut. 

"Wah..wah wah...tidak bisa diabaikan. Kau perlu lapor polisi Mbak Dhy. Ini bahaya. Bahaya yang mengancam. Bisa saja itu teroris kan?" Tukang antar-antar teh ikut-ikutan nimbrung. Ia kelihatan antusias menyimak ceritaku. Suaranya paling kencang diantara yang lain. 

"Kenapa-kenapa?" Satu rekan pria muncul dan menyeruak kerumunan. rekan cewek menerangkan.

"Oh ini Dhyanita kedatangan hantu. "

"Hush! Jangan begitu. Cuma orang iseng kok." Aku bersikap tenang. Tapi bapak pengantar teh tadi segera mendebat. Dan agaknya ini akan menjadi sebuah perbincangan alot di pagi hari. Sebuah morning news yang bikin heboh seisi kantor minus Don Juan. 

"Apa kau masih shocked?" rekan kerja cewekku menyodorkan segelas air padaku. Aku tepis dengan sopan dan tersenyum. 

"Ah...sudahlah, aku baik-baik saja. Aku sudah jauh lebih baik." ucapku bohong. Padahal dalam hati aku merasa takut setengah mati. Mungkin sudah termakan tontonan-tontonan sport jantung yang selalu kusetel setiap sebelum tidur. Puluhan keping DVD horror kesayangan macam The Nightmare of Elm Street, The Ring, Scream, Dracula 2000, Jack Carpenter Vampire, End of Days, Tusuk Jaelangkung hingga Bangsal 13. Yah, kayaknya aku sudah mulai kemasukan virus-virus histeria horror. Aku takut sendirian. Dan aku takut pulang.

***


"Khem! Khem!" Suara itu, pasti milik Don Juan. Boss datang. Rekan-rekan kembali ke habitatnya masing-masing. Dan aku berusaha tetap calm

Boss berjalan diantara kami dengan Nana semok sang sekertaris yang asyik mengekor di belakangnya. Aku tertunduk. Boss menatap kami satu persatu dan rekan-rekan mulai memperlihatkan senyum manis mereka dengan tidak ketinggalan sebuah ucapan "Selamat Pagi" yang kompak bukan main karena sudah jadi lagu wajib setiap hari.

Begitu Don Juan berlalu, kami semua kembali ke aktivitas harian. Yang mengetik kembali mengetik, yang menulis kembali menulis, yang lagi asyik telepon kembali telepon. Yang tugasnya antar-antar teh kembali antar-antar teh. Begitu pula aku. Aku sedang sibuk mengutak-atik jadwalku. Hari ini aku akan menemui Direktur Utama di Mecca Centre, sebuah kolega perusahaan Boss. Tentang kecantikan juga. Agaknya ada semacam joint dan tukar informasi mengenai produk baru yang sedang gencar-gencarnya jadi bahan promosi. Sebuah inovasi dari luncuran produk terkemuka. "Lip Chocho" si bibir cokelat. Artinya lipstik dengan rasa dan aroma khas cokelat. Aku baru dengar dan cukup tertarik karena katanya itu bisa jadi penarik cowok untuk making kiss--katanya. Percaya nggak percaya. Rasanya cokelat sih. Siapapun pasti ingin. Yang perlu dikhawatirkan adalah bagaimana jika yang nyium itu semut? Karena manis, bukankah semut suka yang manis-manis? Kalau begitu bibir bisa bentol-bentol dong? Dalam hati aku jadi benar-benar ingin lihat kayak apa sih bentuknya. Kayak gimana sih rasanya? Apa efeknya, dan sebagainya, dan sebagainya. 

Ruang Boss ada di lantai 30. Aku bergegas menyiapkan sedikit laporan untuk kuserahkan padanya. Rencananya aku akan berangkat bersamanya pagi ini. Dan kurasa ia sudah siap. Aku ketuk pintu ruangannya dan suara Boss terdengar dari dalam : "Masuk!" Aku ke sana dan kulihat Don Juan kantor tengah asyik menyeruput hidangan kopinya yang panas. 

"Kau Adhyanita? Bagaimana? Kita berangkat sekarang?" tanyanya.

"Saya rasa begitu." jawabku sopan.

Boss beranjak dari kursi direkturnya. Ia mengambil leptop lalu aku mengekor dari belakang. Hari ini Don Juan tampak keren, jasnya necis banget. Kayaknya keluaran terbaru dari butik ternama. Penampilan yang berbeda dari hari-hari sebelumnya. Apalagi rambutnya. Ditata dengan sensasi ABG yang khas. Rambutnya yang sekarang tampak kokoh menantang langit. Habis dari salon elite rupanya. Aku senyum kecil. Boss pasti nggak tahu aku sedang membatin dirinya. 

Kami tiba di ruang karyawan lalu dengan serempak mereka yang ada di depan kami menundukkan kepala sembari berucap "Selamat pagi Pak!" persis anak SD yang sedang berpapasan dengan gurunya. Kulihat rekanku berbisik pelan sambil memicingkan satu mata. "Sukses ya!" Aku mengangguk. Senyum padanya. Dan kami berlalu. 

Di dalam chevrolet hitam berkumandang aliran musik Testify. Kumpulan rocker berambut gimbal yang berasal dari Amrik sono. Aku duduk di samping Don Juan yang sedang sibuk browsing dengan leptopnya. 

Kupikir hari ini Boss tampak berbeda dari biasanya. Bawaannya lebih tenang, lebih serius, dan parfait. Kalau biasanya rada santai, paling nggak juga makan-makan di tempat mahal. Sambil ngecengin sekertarisnya tentu saja. Gosipnya sih sudah parah banget. Katanya Nana sudah hamil segala. Ya pantas orang keluar masuk sama Boss hampir setiap hari. Pulang kantor dianterin, mau berangkat juga dijemput. Seluruh karyawan sudah pada tahu itu. Tapi soal Nana yang hamil itu nyatanya nggak terbukti.

***




Kami memanggilnya Don Juan. Sesuai dengan karakter yang playboy, tukang rayu, dan mungkin punya jiwa petualang asmara yang hebat. Semua pasti tahu Don Juan Cassanova, tokoh yang legendaris dari negara barat sana yang terkenal sudah tidur dengan ratusan wanita. Gila kan? Begitu pula dengan Boss kami. Namanya yang asli kami jarang menyebutnya, kecuali pas langsung ngomong di hadapan Beliau. 

Sebenarnya Don Juan bukan tipe-tipe Boss yang sok kuasa. Orangnya santai dan membaur di kalangan bawah. Terutama sama wanita cantik. Ramahnya bukan main. Sama aku...yah biasa-biasa saja. Tapi suka usil juga tuh orang. Pernah ngajakin dinner pula. Tapi kutolak karena satu dan lain hal. Dia bilang : "Lain kali kamu harus dinner dengan Saya Adhyanita!" Aku cuma ketawa.

***


Mecca Centre, mobil berputar ke haluan kanan. Kami diantar hingga teras hotel. Kemudian sopir kembali beraksi dan membawa mobil ke tempat parkir. 

Don Juan jalan di depan dengan langkah pasti. Dan seperti biasa aku di belakangnya untuk menjaga kode etik antara atasan dan bawahan.

Kedatangan kami disambut oleh resepsionis hotel. Senyumnya ramah lalu membungkuk dengan tangan kanan yang dijulurkan. Ia mempersilakan kami masuk ke dalam yang selanjutnya tugas digantikan oleh 2 orang pria parlente dengan jas mewah dan sepatu mengkilap. Boss terlihat akrab dan berbincang-bincang dengan keduanya. Sedangkan aku tetap mengekor hingga kami tiba di lift. Satu dari kedua pria tadi menekan tombol dengan angka 50. Lantai yang cukup tinggi untuk sebuah tempat meeting

"Pagi Pak, lama tidak jumpa ya. Sudah berapa tahun kita?"

"Kurang lebih 5 tahun..Pak Johan sendiri apa kabar?"

"Sehat. Seperti yang Anda lihat sekarang..ha ha..ha". 3 orang yang berbicara entah mengenai apa aku benar-benar tidak tertarik. Di dalam lift aku seperti seorang yang sedang sibuk dengan duniaku sendiri. Melamun.

***


Lift terbuka. Di sana sudah ada beberapa teman Boss dari perusahaan sejenis. Pria wanita semua tampak mewah dengan balutan jas dan gaun luxurious. Hanya aku sendiri yang terlihat seperti badut dengan setelan kemeja krem kusam dan celana putih panjang, juga sepatu yang tidak terlalu istimewa. 

Kami jalan di antara mereka dan bersama-sama memasuki ballroom

Ruangan ditata sedemikian rupa. Puluhan kursi beralaskan kain putih berjajar rapi membentuk formasi melingkar. Di sudut-sudut dinding sudah terpasang hasil karya teknik ikebana yang indah. Rangkaian berbagai bunga yang telah dijadikan satu kesatuan. 

Mataku tertuju pada sesosok pria jangkung dengan sebuah alat perekam di tangan kirinya. Ia berjalan mondar-mandir mengikuti orang-orang penting yang ada di ruangan ini. Seorang kameramen televisi swasta.

Tak lama setelah itu, seorang wanita cina dengan baju oranye mencolok berdiri di mimbar. Dia membuka acara hari ini dengan penuh semangat. Lalu terdengar beberapa kali tepukan tangan dari para hadirin.

Boss duduk terpisah. Ia bergabung dengan orang-orang penting lain yang tentu saja adalah temannya. Sedangkan aku cuma bengong dan menikmati acara dengan rasa kantuk. Sampai-sampai suara orang-orang yang sedang pidato terdengar seperti lagu nina bobo di siang hari yang penat. Kulirik Boss tertawa dan sungguh kontras dengan keadaanku di sini. Aku mengutak-atik puding buah di depanku dengan perasaan kesal. Aku dikacangin.

***


Aku silangkan kakiku. Rasanya aku benar-benar menyesal telah bersedia menerima undangan seminar hari ini. Lagipula kalau di kantor siang-siang begini bukankah aku bisa ngobrol-ngobrol dengan sohibku. Tidak seperti sekarang. Sudah 1 jam lamanya aku duduk tanpa ada yang mengajakku berbincang. Sampai tiba akhirnya sebuah blitz kamera menyala...dan kurasa kamera itu mengarah padaku. "Cteet!!!" Oh...siapa itu? Aku menoleh sekitar. Kulihat orang-orang adem ayem saja. Tak ada yang membawa kamera. Semua duduk tenang mendengar pidato Presdir Mecca Centre. Aku mencoba untuk bersikap wajar kembali.

***


Pikiranku melayang. Memikirkan suatu hal. Sampai sebuah tangan mendarat ke pundakku. Don Juan berdiri sambil tersenyum. "Baik Dhiyanita. Mau pulang sekarang?" Aku kaget. Tapi cepat-cepat kusembunyikan keterkejutanku. "Baiklah."

Seminar usai dan aku tak tahu undangan macam apa ini. Lagi pula sebagai humas perusahaan mestinya tadi aku banyak tanya-tanya tentang produk baru yang tengah diluncurkan. Oh...aku benar-benar lupa. Padahal aku sangat ingin melihat 'si Chocho Lip' itu. Kenapa tidak memanfaatkan  seminar ini dengan baik?

"Hey kau terlihat murung? Apa kau baik-baik saja Dhyanita?" Tiba-tiba Don Juan melayangkan sebuah pertanyaan.

"Tidak apa-apa. Saya baik-baik saja." jawabku sekenanya. 

"Dhyanita...maaf tadi saya tidak bisa bersamamu. Saya sedang membicarakan bisnis baru dengan Pak Johan. Sebuah rancangan foundation face yang mutakhir."

"Ya...saya tidak apa-apa."

"Oh Dhy kau tidak ikhlas memberiku maaf kan?"

"Pak...saya benar-benar tidak apa-apa."

"Tapi saya tidak lihat keikhlasan dari sorot matamu Dhy." Ia terlihat serius.

Aku melirik ke arahnya. Ia mencoba tersenyum. Dan semua berakhir dengan cukup surprise saat aku hendak pulang dan hampir tiba di gardu satpam, tempat Mas Restu berjaga. Saat kakiku menginjak tanah, Don Juan tiba-tiba berkata.

"Sebagai ungkapan rasa bersalahku...terimalah ini!" Don Juan menggenggamkan sebuah kotak kecil berpita cokelat ke arahku. Aku terkejut.

"Apa ini?" 

"Buka saja di rumah. Kalau bisa tunjukkan padaku besok pagi." ucapnya dengan senyum yang penuh rayuan.

"Pak ini...ini buat saya? Memangnya saya hari ini ulang tahun ya?" aku mencoba menerka-nerka tanggal berapa sekarang. Tapi Don Juan langsung tertawa. Dia menjentikkan jarinya ke hidungku. "Sudahlah terima saja. Anggap itu kado paling spesial dari orang tampan sepertiku." Aku nyengir. Lalu chevrolet hitamnya berjalan pelan dan menuju ke jalan utama kota. Sambil berjalan aku senyum-senyum sendiri. "Dasar narsis!"

***


Aku rebahan di kamar. Aroma eu de colougne menyengat. Dan aku depresi  Aku bosan dengan rutinitasku seharian. Makanya untuk sekarang ini kamar adalah tempat ternyaman untuk melepas lelah.

Sayup-sayup mataku tertuju pada sebuah kotak segi empat kecil dengan pita cokelat mengkilat yang membungkusnya. Pemberian Don Juan. Kayaknya....em...apa ya? Aku buka jalinan pita itu dengan cukup hati-hati dan ....sebatang lipstik cokelat tersembul dari dalam. Ya ampun! Bukankah ini si Lips Chocho itu? Dan memang benar ini si Lips Chocho yang fenomenal itu. Aku langsung terkejut sembari menimang-nimangnya di depan cermin dan siap mencoba lipstik baruku ini.

***



"Kurasa kau sangat cocok dengan warna ini Dhyanita...yah benar-benar dewasa." Don Juan berkomentar keesokan harinya. 

"Bapak bisa saja  Saya kan jadi malu." Aku mengulum senyum lalu parasku jadi agak merah-merah dadu.

"Terus kapan aku bisa mencobanya?"

(kurang ajar!)




Bab 2 

'Aku' as Sudut Pandang Tokoh Lelaki



Foto itu kutempatkan dalam bingkai kayu cendana yang harum. Sengaja. Supaya ikutan harum dan aku bisa menciuminya setiap saat, sesukaku. Baru 2 pekan tapi nggak tahu kenapa dia bikin aku nafsu berat. Mungkin karena wajah yang eksotik, rambut panjang, kulit Asia yang kuning langsat seperti cangkang kerang yang tersembul dari Pasir Bali. Cewek itu tidak aku kenal. Tapi terus saja menari-nari di kepalaku saat hendak tidur dan nyaris setiap hari bertemu di alam bawah sadar. Aku yakin, kali ini aku sudah terjangkit virus-virus cinta yang kata Meggy Z lebih memabukkan dibandingkan dengan anggur merah sekalipun.

Mungkin aku akan menjadikannya sebuah 'target'  Dan aku yakin aku bisa. Aku akan mendapatkannya. Lihat saja!

***


Aku bersihkan lensa kameraku dari serangan debu. Hari ini aku akan menemukannya lagi. Dan aku akan mencetaknya dalam format yang lebih besar. Lalu aku akan menjadikannya sebagai 'dewi tidur' yang bersemayam tepat di balik pintu kamar dan dapat kupandangi setiap waktu. "Oh Dewiku, siapa namamu sebenarnya?"

"Ya Ampun lagi-lagi cewek asing itu. Kenapa sih Bro?"  

Aku mati kutu. Seorang kawan tiba-tiba masuk dan memergokiku yang sedang memandangi wajah cantik 'sang dewi'

"Kau serius mau ngedapetin info tentang cewekmu ini. Hah?"

"Kalau iya kenapa? Keberatan?" Aku menjawab sembari mengelap kameraku dan mencermati bagian-bagian kecilnya. 

"Bukannya apa-apa. Cuma heran aja. Semangat banget pengen kawin sama cewek ini?"

"Siapa yang mau kawin?"

"Hey hey hey....jangan-jangan cuma mau....'

"Diamlah! Aku sedang sibuk. Sekarang aku musti cabut dan cari objekan kalau tidak Ataki bisa marah padaku."

"Ya..ya..ya....aku mengerti. Eh, ngomong-omong bagaimana kalau dia kita jadikan cover Majalah Xzy bulan ini? Dilihat dari berbagai sudut cewekmu ini lumayan. Seksi juga. Apalagi kalau dalam keadaan........" Dia membisikkan sesuatu padaku. Lalu aku menyikut bahunya serasa tidak rela jika 'dewiku' ini jadi konsumsi publik. Dia ketawa sambil memegangi perutnya kencang-kencang. 'Dewiku' hanya boleh pose 'naked' di hadapanku seorang. Yang lain i don't care!

***

Sehabis meneguk 1 cangkir cokelat panas, aku ambil motorku. Tujuan pertama adalah redaksi 'XYz'. Ataki pasti sudah menungguku dengan serangkaian foto hot yang bakal dicetak lewat sampul majalahnya itu. Ya, begitulah kemarin dia pesan yang rada-rada lokal. Katanya cewek kayak gitu bikin penasaran orang. Stylenya masih polos. Dan natural banget. Ataki orangnya cerewet, pemilih, kalau sudah bilang nggak ya nggak. Tapi kalau urusan atur-atur posisi semangatnya 45. Aku bekerja padanya sudah setahun lebih. Kerja dengan orang macam dia lumayan juga. Maksudnya lumayan capek. Prinsipnya itu yang paling nyebelin. Susah didebat. Terpaksa sebagai bawahan aku mengalah. Dan sering banget harus memenuhi kriteria-kriteria yang dia pilih. Kalau tidak bisa gawat. Selain cepat naik darah, Ataki juga lumayan temperamental. Nyalinya gede. Nggak takut sama siapapun bahkan saat mendirikan majalah berbau-bau 'syur' begini. Dia bilang. "Kebanyakan orang memang munafik. Luarnya saja yang nolak  tapi dalemnya pasti mau kalau disodorin bacaan kayak gini. " tandasnya. Ya..ya ya...begitulah, sebagai orang Jepang yang gila kerja, dia sangat prinsipil dan terfokus pada 1 hal : "Time is money!"


***

"Bagaimana Bro! Apa sudah dapat?"
"Nih!" Aku menyodorkan 5 biji potretku yang kuambil dari sebuah kali tempat perempuan-perempuan pinggiran Jakarta mandi. Ataki memberengut sejenak. Seperti sedang meneliti apakah ada yang salah dengan karyaku. "Apa masih kurang?" aku bertanya meskipun pasti akan dijawab dengan "Sangat benar Bro!"

"Kurasa kurang ekspresif, kurang alami, kurang seksi, kurang hot, kurang explore! Itu saja!" 

Uh. Itu saja katanya? Susah payah aku membidik kegiatan ini, dia bilang 'itu saja' ? Ya...ya ya...Seperti tidak kenal Ataki saja  "Baiklah, aku akan mencari-cari dulu. Mungkin ada kejadian menarik. Oke! Beri aku waktu."

Ataki tersenyum. Dia tepuk pundakku dengan mantab. Seolah meyakinkanku bahwa aku akan pulang dan membawa hasil.

"Sukses Bro! Waktumu 1/2 jam dari sekarang. Ingat! Hanya setengah jam! Let's go on!" ia menjentikkan jarinya membentuk sebuah tembakan jitu ke jidatku. Dan aku langsung tancap gas . Hari ini adalah perjuangan. Semoga berhasil! (Cerbung Gustyanita Pratiwi)

***

Bersambung...




*Lagu penambah semangat waktu nulis : XD :XD

Bailando feat. Descemer Bueno & Gente De Zona (Spanish Version) - Enrique Iglesias

Try, Colbie Caillat

Seperti Kekasihku, Padi

Dirt, Florida Georgia Line 

Witness, Daughtry

Someone You Loved, Lewis Capaldi








44 komentar:

  1. Seru juga ceritanya ๐Ÿ˜

    Adhyanita??? ๐Ÿค” ๐Ÿค” Sempat bingung awal pertama baca. Gw pikir Adhyanita seorang lelaki yang hobi bergaya seperti perempuan ( Banci Kaleng ) ๐Ÿคฃ ๐Ÿคฃ Ternyata dia murni cewek tulen toh, Pantas saja sikrempeng sering mengganggunya.

    Dan gw pikir lagi ini cerita tentang hari Valentine karena ada ngepink2nya dan dikit lagi kan bulan Febuari.๐Ÿ˜๐Ÿ˜ Ternyata tidak juga yaa..

    Sebuah kisah seorang Adhyanita dari sekolah hingga bekerja dan mempunyai boss Ganjen yang punya sebutan Don juan... Meski begitu tetapi Adhyanita tetap senang, Terlebih setelah dapat lipstik gratis yang katanya ada aura pelet pemikat sukmanya..๐Ÿคฃ ๐Ÿคฃ ๐Ÿคฃ

    Sampai pada akhirnya di Bab 2 apakah Adhyanita benar2 jadi laki2...Nggak tahu juga...Apakah Adhyanita ingin menjadi seorang Waria.๐Ÿ˜ณ๐Ÿ˜ณ Dan dengan begitu apa yang ia cari mudah terwujud nggak tahu??..๐Ÿคท‍♀️๐Ÿคท‍♀️

    Lalu apakah Adhyanita akan cepat menikah karena desakan orang tuanya....Atau memang akan menikah bersama Komeng eehh salah Komang..๐Ÿคฃ ๐Ÿคฃ ๐Ÿคฃ

    Atau mungkin bab 2 bisa dikatakan masih jadi misteri, Karena itu kisah orang pertama si Badung atau si Krempeng yang akhirnya mendapatkan target pemotretan dari seorang Adhyanita yang diberi gelar sang Dewi.....Nggak tahu juga??๐Ÿคท‍♀️๐Ÿคท‍♀️๐Ÿคท‍♀️

    Ok kita tunggu saja lanjutannya setelah iklan Mie nyemek & Es Oyen beeriiikkuutt ini..๐Ÿคฃ ๐Ÿคฃ ๐Ÿคฃ ๐Ÿคช๐Ÿคช

    BalasHapus
    Balasan
    1. Horeeeeee sudah ada yang absen komen wkwkwkwk...Kang Sat seperti biasa komennya panjang dan bikin semangat ๐Ÿ˜‚๐Ÿคฃ๐Ÿ˜„

      Tokoh 'aku' pada Bab 1 dan Bab 2 beda orang. Bab 1 cewek (tulen), bab 2 cowok (tulen). Dua duanya straight. Tidak ada yang 'belok', normal...hanya saja pas masa kecilnya si cewek sedikit tomboy...tapi pas uda gede feminim sih dengan segala kemisteriusannya #halah hahhaha...

      Coba kita tunggu saja...
      siapakah itu :

      1. Cowok bertato yang ngamatin di cafe
      2. Si Badung saat tokoh ceweknya masih SD dan sering mengganggunya
      3. Komang wicana hanya selipan alias cameo
      4. Boss Don Juan yang ganjen
      5. Bayangan lelaki di apartemen
      6. Yang nyalain blitz kamera dan moto si cewek pas peluncuran prodak lipstik
      7. Fotografer majalah XYz...

      apakah diantara lelaki ini ada yang sama ?

      mari kita nantikan setelah iklan es oyen dan mie nyemek ๐Ÿ˜†๐Ÿ˜‚๐Ÿคฃ

      Hapus
  2. wah ada cerpen baru nih :D

    jadi nanti di cerita ini ada dua bagian bab ya mbak, satu cerita sbg cwe dan satu cerita sbg cwo.. gw kira ceritanya akan sama, atau beda ?, cuma yang gw tangkap, mungkin cerita akan dibuat dari sudut pandang sbg cwe, dan sbg cwo.. mana yang lebih seru, cerita adyanita sebagai cwe atau adnita sbg cwo :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. bukan hihi

      adhyanita itu mah cewek tok
      ga ada adhyanita cowok mas khanif

      maksudnya bab 2 itu adalah calon tokoh prianya cuma tokoh prianya siapa blom ketahuan namanya...apakah dia yang ngamatin di cafe, atau yang nampak bayangannya di teras apatemen, atau fotografer majalah itu...atau ketiga ciri2 ini merupakan ciri pria yang sama? Tapi blom keluar siapa nama cowoknya hahhahahah

      Hapus
    2. oo gituu, tak kirain nanti akan ada ceritanya dua versinya, adynita versi cwe dan versi cwo :D

      Hapus
    3. enda xixixi

      adhyanitanya tetep 1...cewek tok till hahaha

      Hapus
    4. kenapa ga dibuat gitu aja mbak, sepertinya menarik :D, adyanita yang di awal cerita pengen jadi cwo, kemudian ada cerita versi dirinya yang menjadi cwo hehehe :D

      Hapus
    5. wakakakka aku malah agak wedi kalau cerita cewek maskulin mas khanif, jadi cuma pas kecil aja dia gitu..pas udah gedenya bertransformasi dong jadi cewek feminim tapi misterius dikit seenggaknya lebih dewasa dari tokoh rembulan hahhahahahhahahah


      tokoh cowoknya biar cowok beneran...wkwkk

      ntar namanya masih digodog siapa yang bakal jadi tokoh cowoknya tuh ๐Ÿ˜๐Ÿ˜ƒ

      Hapus
    6. wow kira-kira siapa mbak yang jadi tokoh-tokohnya, apakah masih pake nama temen-temen bloger heheh :D

      Hapus
    7. hayo kira kira akan ada siapa sajakah nanti

      pengennya sih masih pakai nama nama temen blogger kayak kalian kalian ini...tapi yang masih bersedia..kalau yang keberatan ga akan dipajai lagi hehehe :D

      Hapus
  3. Hey dear! Loved your post and allready followed your blog, i want invite you to visit and follow my blog back <3

    www.pimentamaisdoce.blogspot.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. okey thank's for visiting my blog...

      ☺๐Ÿ˜Š

      Hapus
  4. Asyik bacanya, wahhh Pinter buat cerpen nih, bagus cerpennya, Ada dua sisi

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe iya...sengaja dibikin begitu.
      terima kasih atas kunjungannya ๐Ÿ˜ƒ

      Hapus
  5. Karena dipanggilnya Adhy mungkin yang membaca ini kalau kurang menyimak sangkanya cowok. Eh ternyata namanya Adhyanita.

    Pas pakai nama bebernya Adhyanita, daku pikir si tokoh itu adalah yang membuat ini cerita, karena sama-sama pakai nama "Nita" hahaha.. ngarang dah daku kak ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

    Kalau membaca kisah keseluruhan masih belum ketebak arahnya, nunggu part selanjutnya dulu biar ketahuan arah hidupnya, eh arah ceritanya antar tokoh ๐Ÿคญ

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihihi biasa fenny kalau tokoh fiksi di blognya kakak embul pasti ada nyrempet nyrempet dikit ama nama empunya blog, walaupun cwritanya halu semua alias fiktif hahahahhaa...biasa sekalian branding...biar gampang diingat orang ๐Ÿ™„๐Ÿคญ๐Ÿคญ


      asyiiikk ntar aku bertapa dulu yak, agak lama kayaknya aku mau ngendonin nih postingan hihihi

      Hapus
  6. Mbak ??? Cerpennya bagus banget habis ini bikin lagi cerpen yang lebih romantis dan lebih mengena oke ??? Ada pemerannya gitu lho kayak sinetron Indosiar yang judulnya diantara dua pilihan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. asiyaaaap tari...nanti aku taksemedi dulu ya menyiapkan selanjutnya ๐Ÿ˜๐Ÿฅฐ☺๐Ÿ˜Š

      Hapus
    2. Oke ??? Dak tunggu mbak, oh ya mbak sekalian saya mahu saran nih kalau bisa blognya dikasih formulir kontak atuh mbak jadi jika pembaca ingin bertanya apapun lebih mudah. Terima kasih. ๐Ÿ’Œ๐Ÿ’•๐Ÿ’•๐Ÿ’•๐Ÿ’•

      Hapus
    3. ☺๐Ÿ˜Š๐Ÿ™๐Ÿ™

      Hapus
  7. selain ceritanya yang selalu menarik, ilustrasinya juga yg kawai semakin mempercantik tulisannya.. keren sangat mbak mbul yang makin gembul

    BalasHapus
    Balasan
    1. asyiiik akhirnya ada yang fokus ke ilustrasinya ๐Ÿ˜„๐Ÿ˜
      sekawai adminnya kan? hahahhaa

      #tabok si mbul

      Hapus
    2. wahh kalo itu sih saya ga bisa jamin, mungkin ilustrasinya yang menang kawai haha

      Hapus
    3. berarti tangan saya yang ajaib ๐Ÿ˜‚๐Ÿคฃ

      Hapus
  8. Diluar storynya yang melow tapi asik disimak, aku salut dengan kepinteran bikin ilustrasinya.
    Kira-kira wajahnya terinspirasi dari wajah blogger siapa ya ?.

    BalasHapus
    Balasan
    1. blogger bernama gembul kayaknya mas him hahahahahah #monmaklum diri ini narsisnya minta ampun hhahahha

      Hapus
    2. Yuhuuuu ..
      NdaK apa-apa kok narsis, daripada malu-malu kucing loh, hahaha ...

      Yang komen ini jugaaak ngga kalah narsis ..., Wwkkkkkk ��[nunjuk ke diri sendiri]

      Hapus
    3. sesama wong narsis harus saling support ya mas him ๐Ÿ˜‚๐Ÿคฃ

      Hapus
  9. Sungguh luar biasa panjangnya
    Sampai saya lupa mau komentar apa
    Yang jelas wajah saya juga punya ciri khas tersendiri. Tampan.
    Soal berontak jiwa dulu saat saya masih SD juga begitu, kenapas saya dilahirkan sembai lelaki, kenapa tak sebagi perempuan.
    Ya namanya suka, pastinya jadi pengganggu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. biasanya gitu ya mas bumi, kalau suka jadinya sering ganggu soalnya biar bisa deket deket :D

      Hapus
    2. wkwkwk iya bener, gw juga sering gitu, di awal sampei pertengah udah nemu mau komentar apa, pas sampai alhir malah lupa :D

      Hapus
    3. aku juga kadang kadang begitu mas nif...maklum kadang lagi serius baca uda ngerange ngerabge tar mau komenin bagian mananya eee nyampe paragaf terakhir tiba tiba blank...wkwkkw

      Hapus
  10. Fantastic! It is a cool story!
    Untung aja ngebacanya dari awal gini, ntar jadi asik nerusinnya.
    Ditungguin kelanjutannya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. asyikkk...terima kasih kak evi ๐Ÿฅฐ๐Ÿ˜

      Hapus
  11. wah mbak mbul bikin cerpen lagi
    aku masih antara ya dan tidak buatnya wkwkw
    tetep konsisten mbak...

    sosok macam Don Juan juga bikin asyik cerita
    hmmm masih tak tunggu kelanjutannya ya mbak....

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mas ikrom pengen nyobain sesuatu yang lain...maksude di luar nulis awur awuran kalau nyerpen atau nyerbung seenggaknya bisa belajar kalimat yang lebih tertata (sedikit) wkwkkww

      Hapus
  12. Wah wah... ada yang baru.. Part 1 ini sepertinya butuh waktu buat saya memahami jalan ceritanya.. Keep Spirit ya!!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. hasiaaap bang ancis..harus sering sering isi bensin nihbsaya biar semangat menulis berkobaaaar dan membaraaaa ๐Ÿ˜๐Ÿ˜„๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ

      Hapus
  13. Mbak Mbul.. gambar covernya bagus banget.. dan kali ini gambar ceweknya ada kesan tersenyum2 malu... ekekek ๐Ÿคฃ

    Awal baca, aku smpet bingung.. cewek Nama Adhy.. ehh ternyata Dhyanita.. wkwk bisaan Mba nyari namanya.. hehe

    Seperti biasa.. ciri khas Mbak Mbul itu kalau bikin cerpen selalu dikiasi dengan majas. Jadi efeknya lebih ngena ke yg baca.. hehe aku sih penasaran sama cowok bertato itu..

    Semngat terus yah mba.. ๐Ÿ˜ ditunggu kelanjutannya.. tapi Cerbung yg mncoba jatuh cinta. Aku belum selesai bacanya.. bru smpe bab 5.. nnti aku tak bacanya ahh. ๐Ÿ˜‰

    BalasHapus
    Balasan
    1. bayuuuuu your comment very made my day uwuwuuwuwuw...makasih bayu aku jadi ngerasa semangat kalau ada yang beneran baca kayak bayu deh huaaaa...pengen nangis terharu saia

      tapi bay...sebenernya ilustrasi cwweknya bukannya kelihatan kayak mo nangis ya xixixiixixi...agak berkaca kaca gasih?

      Hapus
  14. Seperti biasanya, mbak mbul kalo bikin cerpen pasti panjang, karena panjang begitu selesai baca malah lupa mau komentar apa.๐Ÿ˜‚

    Oh jadi tokohnya ada dua yaitu adhyanita dan satunya lagi dari sudut pandang cowok cuma namanya belum tahu. Kalo boleh aku tebak namanya Agus.๐Ÿคฃ

    Kalo bos Don Juan aku tahu namanya yaitu Satria, soalnya pacarnya namanya Nana.๐Ÿ˜

    Oh Nita kerja di bagian humas biro perdagangan kosmetik ya, pantesan soalnya orangnya cantik dan di suit suitin sama tukang tempe di pasar.๐Ÿ˜†

    Kabuurrr ah.๐Ÿƒ๐Ÿ’จ

    BalasHapus
    Balasan
    1. mas agus aaaaaaaaaakkk....mas agus kemana aja? hihihi

      (✪ฯ‰✪)/เธ…(เน‘⊙ะด⊙เน‘)เธ…!!

      (。>‿‿<。 )

      kepanjangankah mas? nita juga ngerasa gitu sih hihi..nita bingung mau motong di sebelah mananya huahhahahah


      mas...bentar.. jangan-jangan mas agus punya indra ke-6 ya...kok tebakannya.....tokce...r...huahhahahahha...eh tapi kita tungguin aja yuk part berikutnya akan bagaimana si cewe dan tokoh pria yang masih misterius ini, juga don juan pacarnya nana hahaha....sini tapi transferin nita ide untuk lanjutannya mas..๐Ÿ˜†๐Ÿ˜๐Ÿ˜ƒ๐Ÿ˜‰

      Hapus

Komenin dong...tanpa kehadiran kalian apalah arti aku menulis....
kalian penyemangat setiap bulir kalimat dalam blog ini :*
Namun jangan komentar SARU atau SARA ya, jika ada komentar dengan unsur tersebut, dengan berat hati akan aku HAPUS .

Oh ya, Dilarang juga mengambil gambar/foto atau menyadur tulisan tanpa mencantumkan sumber atau seijin pemiliknya. Apalagi untuk kepentingan komersial atau lomba. Thx ^____^