Minggu, 07 Maret 2021

Cerbung : The Goddess (Sang Dewi) Part 2








Ilustrasi digambar langsung oleh non admin Gustyanita Pratiwi




Cerbung : The Goddess (Sang Dewi) Part 2

Oleh : Gustyanita Pratiwi
Sifat : fiktif belaka



"Young. Nama saya Young. Saya seorang fotografer."

Aku bercakap sendiri di antara kaca-kaca etalase beberapa buah toko pecinan. Seorang wanita kantoran mengarahkan pandangannya kepadaku. Dia pikir, aku mungkin sudah gila. Kulihat sekilas tatapannya sungguh mendramatisir. Aku palingkan lagi mukaku ke arah kaca. Ah, mungkin aku sudah keren. Kurapikan bajuku sebentar dan aku yakin sebentar lagi cewek-cewek bakal pingsan saat berpapasan dengan orang tampan sepertiku.



Sebuah busway berhenti di depanku. Beberapa penumpang turun. Diantaranya, seorang guru SD yang tengah tergesa-gesa sambil menyisir rambutnya yang acak-acakan. Adapula cewek-cewek ABG yang entah mau pergi ke mana. Yang pasti tujuannya adalah bersenang-senang baik di mall maupun tempat-tempat nongkrong asyik lainnya. Aku hapal betul tabiat anak-anak muda sini, lebih suka menghabiskan waktu dengan hal-hal yang kurang bermanfaat, nongkrong-nongkrong, ngobrol, ngrumpi, trek-trekan motor, belanja. Yah, pokoknya sesuatu yang cepat menghabiskan duit lah. Padahal, aku yakin sekali, tidak semua dari mereka adalah kaum berada. Malah banyak yang secara ekonomi jauh di bawah. Akan tetapi karena kegesitan mode, mereka seolah tak peduli dengan apapun. Berlomba-lomba menjadi yang terbaik versi zamannya, meski harus utang sana-sini atau bahkan sampai mengorbankan harga diri. 

***

"Jalanan indah ya?"

Aku menoleh. Sebuah tatapan jernih menghujam kedua bola mataku yang nampak segaris. aku memang punya mata sipit. Sementara alisku tebal, dan hidungku mbangir ke atas. Tapi aku rasa itulah daya tarikku. Banyak yang bilang aku itu berkharisma. Walaupun aku tak secara gamblang mengatakan demikian. Tapi, banyak wanita yang betah bekerja denganku hanya karena aku memperlakukan mereka dengan sangat nice. Mungkin bisa dibilang aku pria gentleman. Jika sedang bersanding dengan wanita, entah dalam hal pekerjaan atau apapun, tentu aku akan selalu mengutamakan prinsip ladies first. Aku sangat memahami bagaimana mereka ingin diperlakukan. Meskipun sampai dengan saat ini belum ada yang benar-benar spesial dan sanggup untuk kubawa ke jenjang yang lebih serius. Ada sih satu dua yang menarik. Gadis di sampingku ini misalnya. Tapi dia sudah aku anggap sebagai adik sendiri. Walaupun kadang-kadang aku tak tahan juga melihat bodynya yang menggemaskan dan sifatnya yang masih sangat kekanak-kanakan itu. 

"Hay Mas..."

Aku nyengir. Kusibak rambutku yang terkena  angin agar menuju ke belakang. Ia berdiri sambil bersedekap menanti sebuah bus datang.

"Sudah lama berdiri di situ?" Aku melayangkan sebuah pertanyaan. Dan gadis itu menggeleng. Ia tersenyum kecil.

"Dasar kurang kerjaan. Kenapa menyusulku sampai sini? tanyaku. 

Lalu gadis itu menoleh. Yang kulihat darinya adalah senyum antik dan tatapan menantang. 

"Aku? Menyusulmu? Ha...ha......ha.....Siapa yang menyusulmu?" 

"E...tidak. Tadi aku bicara sendiri...!" ujarku kikuk.

"Ciiiit!" Sebuah bus kemudian datang dan membuatnya menoleh. Lalu ia melihatku kembali. "Maaf Mas, aku harus pergi dulu ya. Sampai jumpa!" Ia membungkukkan badan kemudian masuk ke bangku haluan. Aku bengong. Ia melambai dari balik kaca  jendela bus.

***

Modelku. 

Namanya Rembulan. Pose 'nude'-nya ada di salah satu sudut ruang cuci cetak, tepatnya di balik rak buku. 

Tenang saja, dia masih ingusan. Baru umur-umur SMA, walau sayangnya sudah putus sekolah. Dia tercebur dunia 'hitam' sudah setahun yang lalu. Maksudnya jadi salah satu alternatif pengisi rubrik foto hot khusus untuk yang tipikal model unyuk-unyuk. 

Ah...Rembulan... 

Saat pertama kali bertemu dengannya, dia anak yang hancur. 

Hatinya itu serapuh kristal.

***

Satu tahun yang lalu...

Lensa kameraku memantulkan satu objek di sudut sebuah tembok. Kurasa itu tidak jauh dari tempat dimana sekarang aku berpijak.

17.00 WIB, sebuah taman di daerah Jakarta Selatan.

"Kau baik-baik saja?" Aku jongkok. Di hadapanku sudah ada seorang anak sekolah yang masih lengkap dengan seragam di tubuhnya. 

"Hmmm...SMA HIJ...." Aku membaca bordiran logo sekolah di area dada anak itu.

"Membolos?"

Kulihat reaksinya cepat. Ia memperlihatkan wajahnya yang masih bocah betul itu. Matanya merah. Basah. Dan sembab.

Dia habis menangis. 

Aku mengernyitkan dahi.

"Aku duduk di sini ya?"

Aku dekatkan diriku di sampingnya. Kulihat ia sedikit keberatan. Lalu agak menggeser letak duduknya.

Aku pura-pura sibuk membersihkan kamera. Sementara anak itu mulai tertarik padaku. Maksudku, pada apa yang aku lakukan. Dia mengusap sisa air mata yang masih menggenang di kedua matanya. Lalu tiba-tiba dia menyandarkan kepalanya di bahuku. Aku kaget tentu saja.

"Aku pinjam bahumu." katanya.

***

Young. 

Sekali lagi namaku adalah Young. 

Entah pemberian siapa, yang jelas orang tua telah mati semenjak aku masih bayi. Entah juga karena apa. Mungkin mati betulan atau mati dalam bentuk kiasan. Karena aku belum pernah bertemu sekalipun dengan mereka. Sebuah kabar burung mengatakan bahwa aku ditemukan oleh suster panti, tiba-tiba saja  tergeletak di dekat meja resepsionis. Dengan tangisan bayi merah yang menyayat hati. Menyeruak dari dalam keranjang, hanya berselimutkan kain bedong seadanya. Para suster kemudian datang tergopoh padaku. Panik dan menaruh rasa belas kasihan tapi juga kemudian seperti mendapat berkat karena kehadiranku. Mereka lalu mengopeniku dengan sangat telaten supaya aku tidak kedinginan lagi, membelikanku susu formula, mengganti popokku, mengganti bajuku, serta bedongku, setiap harinya. Menyuapiku dengan bubur, melatihku bicara, melatihku berjalan, dsb. Ya, meski lambat laun didikan mereka agak semakin keras, tapi kuakui tanpa mereka, mungkin sekarang aku hanya tinggal nama. 

Tapi aku senang diberi nama Young. Nama itu seperti memberiku energi bahwa aku adalah orang yang selalu kelihatan muda, berjiwa muda, bersemangat muda dan menggelora. Sampai kapanpun. Tak peduli esok, lusa, atau kapan. Saat rambutku mulai menguban, gigiku mulai rontok atau pipiku kelihatan peyot. Aku tetap saja Young. Young yang selalu muda.

Tapi, sebentar. Sebenarnya itu nama kecilku saja. Nama asliku di akte tentu saja berbeda cerita. Suster Kepala yang mengurus akte lahirku dan segala macam administrasi kemudian menganugerahiku sebuah nama Bali yang sangat panjang. I Gde A.R.D. Terdiri dari 5 huruf. A.R.D-nya siapa, nanti kalian akan tahu. Panjang sekali bukan. Ya, karena kebanyakan nama Bali memang panjang-panjang. Tapi biarpun panjang tetap saja luwes didengar maupun diucapkan. Meski mataku sipit dan curigaku adalah aku tidak ada Bali-Balinya sama sekali, tapi aku merasa amat sangat bangga menyandang nama Bali. Mungkin aku berasal dari negara dalam lingkup Asia Timur atau Tenggara yang mana pada saat orang tuaku membuangku ke panti, aslinya mereka adalah turis yang sedang berlibur ke Bali. Entah dari pihak ayah atau ibu, atau bahkan keduanya. Tapi jelas itu hanya asumsiku saja.

Dan sekarang cuaca sering berangin di belahan bumi selatan, tempatku bermukim saat ini. Daun-daun dari pohon trembesi dekat pondokku tinggal sudah mulai berguguran. Untung saja tak sampai mengangkut ulat-ulatnya sekalian yang menyebabkan daunnya tampak bolong-bolong. Kadang-kadang cuaca dingin begini semakin mempertegas kesendirianku di dalam sebuah pondok yang kulabeli 'kandang buaya' ini. Kesendirianku yang ngenes. Oh c'mon!! Tidak juga sih. Kenalan wanitaku banyak. Ya, biar kata aku masih bujang di usiaku yang sudah menginjak kepala 3 ini. Tapi aku tidak sengenes itu. Aku single karena pilihan. Bukan nasib. That's it!

Sebenarnya cerita yang ada di atas adalah kehidupan masa kecilku di Bali. Kehidupan masa kecil yang kuhabiskan belasan tahun di panti. Bersama dengan beberapa pesakitan lainnya. Maksudku, anak-anak yang bernasib sama sepertiku. Yang ditinggal mati kedua orang tuanya. Atau dibuang. Lalu kami hidup dengan penuh aturan yang telah diterapkan panti. Sumpah! Waktu itu aku seperti sebuah robot kosmik yang gerak-geriknya selalu dicekal dengan sebuah remote control. Bertahun-tahun lamanya, aku harus berdiam diri, menekuri segala hal yang sudah dijadwalkan oleh mereka. Makan, main, belajar sampai tidur pun mereka yang atur. Dan yang paling membuatku kesal adalah saat Suster Cen, seorang wanita galak dengan baju terusan melambai-lambai itu menamparku karena aku coba-coba melanggar aturan panti. Ya, saat itu aku baru berusia 9 tahun. Seorang dari kamar lain mencoba mengambil jatah makan siangku. Padahal yang selalu kunanti-nantikan saat jam 12.00 siang itu adalah semangkuk kecil sayur sawi asin dengan potongan daging sapi berbumbu pedas. Dan saat perut sedang lapar-laparnya, tiba-tiba si moncong besar, tinggi tegap itu mengambil piringku dengan sigap. Aku pun tak mau tinggal diam dan langsung berontak. Tanganku hampir saja memukul pipinya kalau saja Suster Cen tak datang tergopoh-gopoh karena mendengar suara ribut-ribut yang kutimbulkan. Alhasil aku diberi berpuluh-puluh kalimat nasihat panjang dari suster-suster berbaju putih itu selama 1,5 jam. Mulai saat itu jiwa pendendam tumbuh dan melekat di otak kananku dan kubawa sampai sekarang. Sampai saat aku berusia 30 tahun pada akhir Maret lalu. Aku merasa kesal saat orang lain yang membuat kesalahan, tapi orang itu tak diberikan satu sangsipun. Aku juga emosional jika kebenaran yang ingin kutegakkan dihalang-halangi oleh seseorang yang bagiku tidak penting. Maka, jadilah aku yang sekarang. Sesosok brutal, tapi sebenarnya penyayang. Terutama pada wanita. Dan menurutku itu masih sah-sah saja karena aku rasa aku masih punya akal yang jernih. Meskipun cuma sedikit. Termasuk saat aku harus berpikir 2 kali untuk mengambil pekerjaan sebagai fotografer majalah pria dewasa. Yang di sisi lain bertentangan dengan kebanyakan opini masyarakat. Namun di sisi lain juga merupakan ekspresi yang menurutku adalah 'gue banget'. Apakah mungkin ini dipengaruhi oleh hal-hal di masa lalu.

Young kecil, kata orang aneh. Sosok Young benar-benar berbeda dengan anak lain. Cenderung temperamental. suka berantem, dan susah sekali memaafkan orang. Hobiku juga lumayan tabu. Agak berbau-bau 'biru'. Mungkin karena banyak buku stensilan yang sudah kubaca sebelum umur yang seharusnya. Buku tersebut biar kata sudah bapuk dan kertasnya  berwarna kuning, tapi pernah kutemukan berkardus-kardus di sebuah rental bacaan tua yang berdiri tak jauh dari panti, terpisah dari buku lainnya yang disusun manis di dalam rak. Mas-Mas penjaganya tidak tahu kalau aku memperhatikan kardus berisi 'harta karun' itu karena toh biasanya yang kutongkrongin hanya serial silat Kho Ping Ho dan juga Wiro Sableng. Bukan bacaan dewasa kayak gini. Aku sebenarnya ingin tanya apakah yang ini bisa dipinjam atau tidak. Karena tak enak hati mengingat umurku yang belum akhil baligh, maka tanpa sepengetahuanya, biasanya kubaca colongan saja. Ketika mas-mas penjaga rentalnya agak meleng sedikit, maka aku akan mengambil 1-2 judul dengan cara kututupi cover luarnya dengan buku yang lebih lebar. Bisa majalah, bisa pula ensiklopedia. Padahal di dalamnya yang kubaca adalah macam-macam judul yang agak 'panas'. Kelakuan. Tapi toh semua lelaki, akan menuju ke arah sana bukan, cepat atau lambat. Ini hanya masalah waktu saja. Aku hanya terlanjur tahu hal-hal dewasa sebelum waktunya. Jadi mungkinkah itu semua yang mengantarkanku pada sosok yang sangat mengagumi tubuh wanita. Benar lho. Tubuh wanita itu kalau diperhatikan betul memang seperti laiknya mahakarya agung yang detailnya sangat indah dan 'membahayakan'. Membahayakan karena bisa membuatmu berfantasi yang bukan-bukan, bukan? Tapi itu menyenangkan sih, terus terang saja. Aku tidak menafikkan hal itu. Bahkan kini malah menjadi makananku sehari-hari sejak beberapa tahun terakhir mencoba peruntungan dengan menjadi fotografer Majalah si Boss Kakehan Cangkem, Ataki.

Tapi hidup itu lucu. Kadang aku juga ingin tertawa. Pasalnya buruanku yang biasanya untuk mengisi laman post fotografi jalanan yang setidaknya harus ada portrait wanita cantiknya tidak pernah memuaskan Bossku dalam satu kali koreksi. Dia ingin aku bekerja dua kali. Di sisi lain, seringkali aku menemukan yang lebih stunning, tapi juga merasa sayang untuk kuajukan pada Bossku. Inginku malah menyimpannya rapat-rapat karena tak ingin dia menjadi pemandangan bagi siapa saja yang melihatnya di majalah laknat itu. Sungguh kontradiktif bukan? Sebenarnya aku sudah mendapatkannya, tapi justru aku tak ingin dia menjadi modelku. Aku inginnya dia tidak untuk dipamerkan. Ya figur model yang dimaui Ataki ada pada satu paket seorang wanita cantik yang kutemui baru-baru ini

Dua pekan lalu, untuk pertama kalinya kudapati si cewek yang pada dasarnya bermuka fierce ini sedang duduk termangu sendirian di sebuah bangku cafe sambil menghisap rokok elektriknya, entah tak kuperhatikan betul apa mereknya, tapi yang jelas dia cantik. Es lemon di hadapannya sudah mengembun pada bagian luar gelasnya. Ia tampak gelisah. Sepertinya sedang merasa diperhatikan dari arah sini meski penampilanku sudah kukamuflase sedemikian rupa sehingga aku berharap tak ketahuan. Kalau saja aku tak menggunakan kaca mata kuning sialan ini. Sebab justru kacamata inilah yang jauh lebih mencolok dari apapun juga di dunia ini, pun demikian dengan outfitku yang hanya mengenakan rompi jeans belel dengan 2 kancing atas yang sengaja kubuka sehingga membiarkan rajah kobra pada dada bidangku ini terekspouse dengan sangat gamblang. Aku yang berbeda diantara wajah lokal lainnya tentu saja lebih dari sekedar mencolok.

Tapi tetap kulanjutkan aktivitasku mengamatinya.

Cewek ini berbeda 180 derajat dengan si mungilku Rembulan. Tingginya ada lebih beberapa centimeter dari modelku yang masih bau kencur itu. Garis wajahnya bagus. Proporsional seperti bulat telur. Kuprediksikan dia akan menghasilkan banyak angle bagus dari sisi manapun. Bahkan manyun saja mungkin akan terlihat cakep. Dia punya mata belo, bibir mungil, pipi sedikit berisi walaupun tidak segembung pipi Rembulan dan rambutnya tebal sebahu. Kulitnya bersih kuning langsat namun badannya tidak sesintal badan Rembulan. Usianya kutaksir sekitar 25-27 tahun. Sedangkan Rembulan 17 tahun. Ah! Gadis ini content sekali untuk foto editorial atau iklan. Ya, mungkin tinggal dipoles sedikit saja akan jadi 'sesuatu'. 

Belum kutahu siapa namanya. Masih kuraba-raba dulu siapa dia, pekerjaannya apa, dll. Ya, katakanlah aku menjelma sebagai Hercule Poirot dalam sehari untuk menggali info. Jarang-jarang kan aku bisa seniat ini. Biasanya kalau ketemu wanita cantik langsung 'tembak'. Jeder!!! Tapi kali ini tidak. Sepertinya aku harus main alus. Aku tak mau terburu-buru dan dicap sebagai kadal buntung. Apalagi dia begitu mempesona, takut malah kabur. Ya setidaknya dapat dulu, entah nanti kujadikan rekan kerja karena alasan profesional saja atau mungkin lebih. Ya siapa tahu kan? Maka tepat setelah isi gelas es lemonnya habis aku pun ikut menjalankan aktivitas yang sama dengan menyerahkan credit card kepada pelayan untuk selanjutnya gerak cepat membututinya dari belakang. 

Motor kuparkirkan sebentar di muka cafe sampai aku tahu cewek ini jalan ke mana. Sepertinya ia tidak akan naik kendaraan umum untuk rute jarak jauh. Tidak ada pula tanda-tanda ia akan menyetop taxi. Ia jalan dengan tampang penuh pikiran. Entah apa yang dipikirkannya, jelas aku tak tahu. 

Saat melewati warung tenda dengan ayam utuhan gemuk yang dikipas oleh seorang Bapak-Bapak, ia memang tertarik sejenak. Namun kemudian melanjutkan langkahnya lagi dalam hitungan detik. Dari belakang, bokongnya meliuk-liuk bagaikan gitar Spanyol. Ketukannya rapi, seirama dengan betis yang bagaikan kaki menjangan. Setelah jalan ratusan meter, kakinya kemudian tertambat pada satu ruko tingkat 3 yang menjelma sebuah binatu. Seorang pria bertubuh gempal kemudian menghampirinya dan menyerahlan bungkusan baju yang telah dicuci. Habis itu ia menyerahkan selembar uang warna merah kepada pria gempal tadi dan mohon pamit untuk selanjutnya menuju ke tempat kedua. 

Supermarket. Ini adalah tempat favoritku. Tempat dimana aku bisa sekedar ngadem di depan kulkas showcasenya. Memilah dan memilih diantara minuman dingin mana yang bakal mencuri hati. Apakah yang berbahan dasar susu atau soft drink. Dan yang biasanya menjadi pilihan terakhirku adalah soft drink. Fanta rasa strawberry dingin yang membuat lidahku jadi merah jambu gonjreng dengan rasa manis yang menyengat. Oh!! Kurasa itu akan menjadi sesuatu yang sangat sempurna untuk hari yang panas di luar sana! Tapi kali ini kulkas showcase ini pun bisa kugunakan untuk bersembunyi dari cewek yang sedang kuintai ini. Kuamati ia bergerak menuju rak sayur yang di satu sisi berjajar timun jepang dengah warna hijau tua, dan di satu sisinya lagi berjajar suku terung-terungan. Tapi di sana ia sebentar saja, karena ia langsung menggeret langkahnya ke stand makanan instan, apalagi kalau bukan mie. Setelah memasukkan beberapa bungkus mie instan yang sepertinya untuk stok bulanan, ia berjalan ke meja kasir dan segera menggoyang kartu debetnya sebagai bentuk pembayaran.  Setelah transaksi selesai, ia keluar pintu supermarket dengan menjinjing tas kartonnya. Jalannya agak sedikit kepayahan karena menyesuaikan bawaannya yang banyak. Ada kantong cucian bersih dari binatu, karton isi mie dan juga clucth-nya. Kasihan sekali! Seandainya di cafe sudah kuajak salaman, tentu aku bisa bantu membawakan barangnya sekarang. Tapi tidak. Aku pelan-pelan saja dulu. Kulihat cewek itu terus berjalan mengikuti panjang pedestrian yang ada hingga mentok di muka gerbang sebuah apartement butut yang lebih cocok kusebut sebagai rumah susun. Satpam yang menungguinya sedang asyik bermain gaple dengan rekannya yang berseragam kamtibnas. Keduanya lalu menyapa si Mbak Cantik yang berjalan melewatinya dengan sebutan : "Mbak Dhy...." Oh...okey, namanya ada unsur Dhy-nya. Tapi Dhy siapa, aku tak tahu. Aku terus mengekorinya dengan mengambil jarak sekian meter dan berpura-pura menjadi penghuni apartement juga sambil bersyukur karena satpam bertampang seperti Restu Sinaga tersebut tidak curiga sedikitpun padaku. Ya, mungkin saking banyaknya penghuni apartement ini, jadi wajah-wajahnya ia tak hapal.

Dhy kemudian berjalan menaiki tangga karena sudah bisa kupastikan unitnya ada di lantai atas. Lantai berapa? Ia berhenti di lantai 3. Tapi aku tak mengikutinya sampai ke lantai 3. Aku hanya mengamatinya dari anak tangga di lantai 2. Beruntung pintu unitnya tertangkap jelas dari angle ini. Tak perlu waktu lama bagiku untuk segera mengabadikan apa yang musti kuabadikan, ya setidaknya candid begini aku bisa mengoleksi berbagai macam angle wajahnya untuk kuteliti lebih dalam. Lagi pula dari sini aku sudah  mengantongi nomor unit apartemennya itu. Jadi itu sudah lebih dari cukup. Kalau orang bilang aku freak, mungkin ada benarnya. Membuntuti cewek sampai sedemikian memasuki ranah privacynya.  Sebenarnya itu termasuk kurang ajar sih. Tapi aku belagak bego saja. Toh dia tidak sadar. "Jepret! Jeprett!!!" cewek itu membalikkan badan seakan tersadar ada seseorang yang membidiknya. Matanya celingak-celinguk memastikan apakah ada sesuatu yang janggal. Dan tepat saat memandang ke arah anak tangga dimana aku berdiri, matanya dengan tegas  memperlihatkan sorot ketakutan untuk kemudian langsung mengunci diri dalam apartementnya. "Blam!!!"

***

Tak kusangka, keesokan harinya aku bakal bertemu lagi dengan si Dhy ini. Aku belum tahu siapa nama panjangnya. Kupikir akan sama cutenya dengan tampangnya. Dhy...kita bertemu lagi di sebuah acara peluncuran lipstik. Tidak sebelumnya memang aku tidak mengetahui akan hal ini. Bahwa Dhy diundang lantaran mungkin profesinya berkaitan dengan brand ini. Tapi ia tidak datang sendiri. Ia datang bersama kunyuknya yang yah....mungkin itu Bossnya. Penampilannya rapi sih. Licin dari ujung kepala hingga ujung kaki, berbeda style dengan aku yang 'laki' banget tapi dari sudut pandang busana yang lain. Aku lebih senang berpenampilan kasual. Dengan celana denim dan kaos polo atau malah jaket bomber. Tak neko-neko, atau barangkali disesuaikan dengan isi dompet? Entahlah.

Tapi aku menemukan satu moment yang pas untuk membidiknya kembali. Saat sambutan berlangsung, Kunyuknya itu...eh maksudku Bossnya itu sedang bersenda gurau dengan kolega bisnisnya. Nah, saat itulah si dia sedang sendirian, menyendoki pudingnya dengan tampang malas tapi lucu, maka saat itu pula kuambil kesempatan ini dengan seksama "Cteeeet!!! Cteeet!! Cteeet!" Dia pun terlonjak dari lamunannya. Memastikan siapa yang lagi-lagi mengisenginya itu. Ah, aku cuma tertawa dalam hati.

Dia masih tidak sadar juga aku mengambil gambarnya dalam jumlah banyak. Sungguh aku sudah seperti seorang sniper yang ada di film-film keluaran Warner Bross.

***

Pulang acara aku mengendarai motorku dengan kecepatan tinggi. Ingin rasanya aku rebahan saja begitu sampai pondokan karena capeknya luar biasa. Seluruh persendian pegal. Mungkin  butuh belaian balsam atau minyak angin. Lagipula hari juga sudah malam sekali. Sudah menuju pukul 22.00 WIB, dan lagi cuaca sangat berangin. Untung aku pakai jaket. Kalau tidak takut pulang-pulang meriang. Kalau meriang kan tidak ada yang mijitin. Haaaah! Nasibku cuma bisa ditemani oleh foto-foto gadis modelku saja setiap malam. Tinggal pilih mana yang tercantik. Dan aku menjelma bagaikan raja. Tapi sejauh ini sih rekornya masih dipegang oleh yang terbaru. Ya 'Dewiku' ini. Dia yang dipanggil dengan awalan Dhy oleh satpam apartementnya yang bertampang seperti Restu Sinaga. 

"Hoammmm!" 

Aku menguap saat akhirnya diri ini tiba juga di muka pondokan. Kubuka selot pagar yang bunyinya berkerit membuat gigi geligi linu karena besinya yang sudah berkarat dan setelah nyampe di teras kudapati sesosok gadis mungil sedang duduk di situ memeluk lutut kedinginan. Saat ia dongakkan wajahnya ke atas, sorot matanya tampak berkaca-kaca....

Bersambung











46 komentar:

  1. Akhirnya ada juga sambungannya, kirain nunggu mas Herman update baru bikin part 2 nya.πŸ˜„

    Wah namanya siapa itu i gde A.R.D, kalo D nya tahu sih, Depok, iya kan.😁

    Jadi si D ini suka nguntit juga ya, mungkin ini pengaruh dari buku buku Eny Arrow yang banyak di koleksi nya, pantesan katanya punya koleksi satu lemari.😱

    Dhy itu siapakah? Kalo hermindhy sepertinya kurang pas ya.

    Kira kira siapakah gadis kecil mungil yang ada di rumah D itu, apakah rembulan yang punggungnya bolong, tunggu saja episode selanjutnya di NitaTv.πŸ˜„

    BalasHapus
    Balasan
    1. nunggu mas her mah sampai 1 abad nda update update ntar huhuhu

      mbul biar tambah produktif lah mas bikin cerbung atau cerpennya, biar sedikit latihan nulis bener ga celelekan muluk wkwkkw

      tet! salah! wkwkwkkw..kenapa yang dihighlight yang D doang, huruf lain ga tuh wkwkwkwk?

      hihi...masa mas agus pura pura lupa...dhy dan tebak tebakan tokoh lainnya kan agak sedikit kebaca cluenya ada di part 1 nya wkwkkwkwk

      hmmmm....siapakah gadis kecil yang cengeng ini? kenapa dia ke pondok sang fotografer cakep tersebut? apakah ada kemalangan yang menimpa dirinya? sanggupkah ada seseorang yang melindungi gadis kecil ini dari godaan syetan yang terkutuk...eh maksudnya dari segala sesuatu yang membuatnya gundah gulana #ayeay ayeaaa...nyanyik lagu blackpink si mbul wkwkkwkw πŸ˜†πŸ˜‡πŸ˜πŸ˜‚

      Hapus
    2. Iya yah, akhir akhir ini mbul produktif banget sehari buat postingan sanggup, kalo aku mah ngga sanggup, biar dilan eh Nita saja.πŸ˜„

      Oh nama I Gde ya, mungkin karena panti asuhan nya dari Bali kan jadinya namanya gitu.πŸ˜ƒ

      Gadis kecil itu siapa lagi kalo bukan xxxxxxxx.

      Lho, kok jadi eror gitu, coba aku tulis lagi xxxxxxxx. Lho kok tetap eror.😱

      Kayaknya ada penghuninya nih blog, kabur ah.πŸšΆπŸƒπŸ’¨

      Hapus
    3. Iya mas....

      biar nita latihan merangkai kata yang agak terstruktur lah mas...hihi..biar kata aku bukan pujangga #lah setel lagu basejam aku bukan pujangga...

      mungkin nita lagi on fire mas pengen sering nulis cerpen atau cerbung (biar kata masih jelek) yang penting nita suka xixixi...biar bisa sebagus cerpen cerpennya Mas πŸ˜πŸ˜ƒπŸ˜†

      abis kata Gde...kan hurufnya A...kenapa ga A aja? kenapa D? bukannya D ga cocok dengan nama Bali wekekekkeke...eh ini ngomong apaaaa sih mbul hahahha

      x-nya itu jumlahnya ada 8 ya...hemmmmm...apakah dia adalah...bahasa inggrisnya Moon itu #hwahahahhahahah

      hayo yang ciri cirinya seperti itu...cengeng, ingusan ((e kok ingusan ya)), childish itu si Rembulan atau bukan ya? Ngapain dia malem malem ke situ ya? hahhahahah

      jadi tokoh utama ceweknya si Dhy apa R ya? mari kita lihat di Gustyanita Embul TV 😝😜😱

      Hapus
  2. whew agak lama ya mbak part dua nya, nunggu wangsit dulu ya :D

    oke, ceritanya cukup fresh, seorang fotografer majalah dewasa terjebak dengan rembulan seorang cwe yang mempunyai segudang masalah dan hancur, juga seorang yang bernama dhy yang baru di temuinya, entah siapa dia

    yang jelas ceritanya seru, semoga nanti ada sisi misteriusnya supaya tiap part jadi lebih menegangkan hoho :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. hu um mas khanif, bikin cerbung yang ini agak susah aku ngehubung hubunginnya wkwkwk #cari perkara sendiri sih si mbulnya....besok deh cerpen berikutnya kubikin simpel aja hahhahah...mau mandeg tapi uda terlanjut jalan...jadi show must go on hahhaha...cari wangsitnya nunggu nyampe ganti bulan hahhah

      dhy ini si tokoh aku part 1 kan mas...masih inget kan? wkwkwkwk

      pengenku begitu...ntar deh takcari celahnya dulu mau kusisipin misterinya di sebelah mananya...biar kerasa romance campur tegang ya πŸ˜„πŸ˜ƒπŸ˜

      Hapus
    2. nasih inget dong hihihi :D.. daya inget gw kan masih cring hahaha

      gausah terburu-buru mbak mbul, nikmati saja membuat cerpen ini biar enjoy waktu penggarapanya hoho:D

      Hapus
    3. asyikkk masih ada yang inget

      bikin aku semangat nulis kalau masih ada yang sudi mbaca...biasanya kalau mbul bikin cerbung banyak yang pada skip...

      kuterharu kalian masih pada mau baca, alhamdulilahnya pin sampai komen xixiixixi...

      kadang kalau yang cuma sekedar blogwalking begitu aku update cerbung langsung pada skip cari yang bacaannya pendek hhahahhahahhahahhah...

      berarti kalian-kalian yang dah komen di cerbung aku termasuknya adalah pembaca aku yang spesial

      (✪Ο‰✪)/

      #tissue mana tissue...

      Hapus
  3. Ntar malam aja bacanya mbul...Mau baca ulang kisah yang pertama dulu...Soalnya bab 2 nya agak lama terbitnya..😊😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. asyiikkk!!!

      tar malam komennya yang panjang ya kang wkakakak...ini aku juga masih ngedit sambil jalan takut ada typo wekekekkeke

      Hapus
    2. Ohh sang Photografer itu bernama young meski nama aslinya I-Gede Agus Jambe...Padahal lahir dikeranjang parsel dan ditelantarkan orang tuanya..Apa mungkin dipungut sama I-nyoman Herman Dwipa. Jadi dinamakan I-Gede.🀣 🀣 🀣

      Sempat bingung nih dicerita yang kedua...Karena menurut saya si Young Jambe akan ada hubungan cinta dengan Dhy ( sang dewi ) yang tukang Lipstik keliling, Eehh salah yee foto model Lipstik merek apa gincu kali yee..🀣 🀣 🀣

      Dan kemuculan Rembulan yang jadi tanda tanya justru, Kan nggak mungkin dia kloningan si Dhy..😁😁

      Dan anak Smu yang nangis dipundak Young Jambe mungkin saudaranya kali yee yang sama2 dibuang dikeranjang parsel.🀣 🀣

      Karena sewaktu Young kembali kepondoknya Ada seseorang yang menangis terseduh-seduh entah siapa, Yang jelas bukan Jaey dan Hermansyah kan..🀣 🀣 🀣

      Lalu apa yang akan terjadi dengan Young dan Adhyanita...Dan apakah hubungan Rembulan dan wanita smu cengeng itu dalam kehidupan Young Jambe...Masih bingung..πŸ™„ 😳

      Hapus
    3. iiiiiiii kang sat....sini aku jelaskan dengan lebih terang benderang 😣

      jadi dari part 1 ama part 2, si Agus jambe ini lagi coba ngarah si Dhy (((lho kok aku ikutan jadi ngomong si Agus jambe ya hahahhahah...jambe kan pinang ya kang wkwkkw)))

      maksudnya I Gde agus jambe (((e kok agus jambe lagi))) bwakakkaka...dia ini lagi disuruh boss majalah xyz yang which means majalah pria buat nyari model random gitu kang...dan tak terasa dia ketemu si Dhy ini...tapi baru lagi diperhatikan begitu loh kang, kira kira kalau nantinya akan jadi model doi okey ga...walau dalem ati dia tak rela kalau si Dhy ini jadi model majalah dewasa,cuma doi ada tertarik pengen tahu makanya dikuntit kan?

      nah sebelum kenal si Dhy.. I Gde agus jambe (((e maksud ku si gde a.r.d ini uda punya model lain yaitu si montok rembulan #eh kok montok ya??))). Walau si fotografernya ini tadinya nganggep rembulan adik sendiri..ga tau rembulan nganggep doi abang atau yang lain (???)...Ntar maybe si Rembulannya ini bakal cembokur dengan adanya Dhy...e tapi ga tau juga deng...belom ngarti juga nih sutradara beby mbul mau nerusin ceritanya gimana #tepok zidat

      beydewey...itu yang nangis di pundak si fotografer adalah rembulan satu tahun yang lalu sebelum jadi model


      nah yang pas malem malem nangis ini siapa ya...kayaknya sih rembulan ya..tapi ga tau kenapa doi ke pondokan si Gde ARD ini malam malam? jawabannya ada di edisi mendatang? hahahhaha

      btw kerajang parsel boleh kah aku ngukuk πŸ˜‚πŸ€£

      Hapus
    4. Oohhh giituuu...🀣🀣🀣

      Yaa tapi intinya si Young Agus Jambe Suue tetap ada rasa sama si Dhy...Karena masih banyak pertimbangan bisa saja Si Young Agus Jambe Suuee Nganu..πŸ™„πŸ˜”


      Yaa mungkin yang nangis dipojokan dipondok si Jambe itu si Rembulan jadi2an berpunggung bolong penunggu pohon Pete kali yee..🀣🀣🀣🀣

      Hapus
    5. sampai sini mudeng tidak kang

      eh beydewey si Dhy bukan model brand gincu tau kang, tapi deseu anak buahnya boss don juan pacarnya nana hahahhaha

      cuma kalau dilihat dari segi tampang, si dhy kan kek punya tampang high fashion gitu kang, jadi diarah ama si fotografer tsb...ga tau ntarannya beneran dijadiin model apa ga

      nganu apaan tuh wkwkwk

      wadidaw...og bolong sih kang rembulannya? hahahhahahahhaha

      Hapus
    6. Iyaa benar Dhy bukan model brand Gincu.😊😊

      Tetapi karena diera pademi semuanya serba sulit akhirnya Dhy mencoba berbisnis online dengan memasarkan produk Gincu.😁😁

      Hingga akhirnya setelah toko onlinenya laris manis Dhy memilih berhenti bekerja pada Jaey Betet yang berjiwa play boy tengik.😁😁

      Hingga akhirnya Dhy mempunyai produk lipstik yang bernama Dhy Gincu Merah Pasti Merona.🀣🀣🀣

      Hapus
    7. iya Dhy mah bagian humas perusahaan kosmetik jadi pas ada peluncuran lipen dari perusahaan sebelah doi diundang deh bareng bossnye? Bossnya yang playboy cap aligator wkwkwkkw

      jaey betet? kok isa kang sat bilang jaey betet...sebenernya mbul pengen sih pake nama temen temen blog kayak kalian seperti biasanya termasuk mas jaey...etapi kayaknya mas jaey ga mau temenan sama mbul kali yeay hohohooooo

      jadi siapa itu ya bossnya si dhy yang pacarnya nana ya hahahhahhahaa

      bwahahahha..akhirnya dhy akan mencoba gincu merah itu sehingga bibirnya nampak penuh seperti bibir mer...eh seperti bibir artis holiwud Scarjo Scarlett Johansson

      Hapus
    8. Playboy cap aligator serem amat kenapa ngga diganti aja sama Pterosaurus biar keliatan sedikit lucu..hihihi

      Hapus
    9. aligator = bajul putih 🐊🐊🐊 (tapi stok emotnya adanya warna ijo) hahhahahh

      pterodatyl aku taunya mas herman πŸ™Š atau velicyraptor wekekekeek...

      Hapus
    10. Iya, tau saya Aligator itu sejenis buaya kan serem kalau buaya..hahaha.. kalau Pterosaurus itu kadal bersayap jadi lucu.. hahaha

      Hapus
    11. pterodatyl kali mas wkwkwkwk

      pesti jadi kebayang film jurasic park atau the lost world nih πŸ¦–πŸ¦–πŸ¦–

      Hapus
    12. Ya sinonimnya Pterodactyl..hihihi

      Jurassic Park sama The Lost World beda film.. hihihi

      Hapus
    13. tapi satu sekuel kan..ntar kapan kapan aku buat sinopsisnya hihihi

      selain anaconda, mbul suka jurassic park yang jadoel mas herman

      Hapus
    14. Iya masih satu sekuel, sekuel Jurassic Park. Dan Jurassic Park yang terakhir saya belum nonton.

      Hapus
    15. aku yang baru baru malah ga ngerasa feelnya

      lebih suka yang 1, 2, 3

      Hapus
    16. Yang 1,2,3 memang bagus tapi yang paling bagus menurut saya yang ke 2.
      Coba nanti saya cari link streaming yang terakhir semoga aja ada.

      Hapus
    17. kalau aku yang ke 3 mas yang anaknya ilang di isla sorna wkwkwk

      Hapus
  4. Pas lihat part 2 langsung scrolling cari part 1-nya biar bisa nyambung setelah baca part 1 si Dhy ini adalah Adhyanita yang tomboy di waktu kecil dan dipanggil Adhy dan si Young ini tokoh aku yang ada di part 1 yang ternyata bocah yang di taruh orang tuanya di dekat meja resepsionis panti.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lhaa ente kan Huu yang mungut si Young Agus Jambe Suuee..πŸ™„πŸ™„ Masa lupa sih..🀣🀣🀣🀣

      Hapus
    2. nah....pinter! 100 buas mas herman πŸ˜ƒπŸ˜

      betyulll sekali...si Dhy tapi tomboynya kecil doang...gedenya feminim xixixiix

      si Young ini cara bacanya yank...eh yang...hahhaha..tapi beda dengan nama di aktanya...sebab dicurigai dia adalah eng ing eng mungkin bukan orang Bali..karena matanya sipit xixixi

      Hapus
    3. kang satria....kan yang mungut suster panti kang?

      bukannya mas her laki? πŸ™„πŸ™„

      Hapus
    4. Iya, gedenya seperti feminim abis..hihihi..dan tinggal di flat dan sepertinya bakal jadi modelnya si Young alias Agus Jambe (versi mas Satria..hihihi)

      Di atas juga sudah diceritakan tapi itu baru asumsi si Young aja kalau dia keturunan dari negara tetangga karena bermata segaris..hihihi

      Iya, waktu itu saya yang pungut tapi saya buang lagi, mas..hahaha.. abisnya kesel saya.. hahaha

      Hapus
    5. ealaaah kok aku tadi ngetik buas ya hahhahahah...maksudku buat wkwkwkkw...

      100 buat mas herman...begitu

      mungkin juga ya, hahhaaahah...siapa tahu si Dhy pengen njajal peruntungan sebagai model, model apaan tapi ya? muahahahhaha...doi kan cewek yang ga neko neko, apakah dia akan tergerak hatinya untuk mencoba sesuatu yang 'berani' seperti si montok yang satunya, muahhahahahha

      #monmaap ya mas herman, mbul kalau uda nulis fiksi emang suka totalitas tanpa batas

      iyapps....benul...e betul...hal tersebut baru sekedar asumsi si fotografer tersebut yang menduga-duga matanya yang segaris dan terkesan oriental ini apakah ada hubungannya dengan darah kedua orang tua yang selama ini belum pernah dilihatnya ...hiks

      bhahhahaha...kenapa kesel ?

      Hapus
    6. Mungkin saja yang mungut suster hermini waktu young kecil.πŸ˜‚

      Mungkin dibuang lagi kesal karena itu anak selingkuhan satria di pangkalan lampu merah.πŸ˜‚

      Hapus
    7. bwakkakakak...mas agus...kok suster hermini? hihi..jadi ingat cerita yang di monas mbul...

      anak satria di pangkalan lamer? bwakakakak πŸ˜‚πŸ€£ sama nana kah? ooopsss canda kaboooorrrrr

      Hapus
    8. Cocok banget kalau Dhy jadi model soalnya diihat dari sudut manapun si Dhy terlihat bagus bahkan lagi manyun pun masih cakep kan pas banget kalau jadi model.

      Ada cerita apa di Monas, mbak?

      Dan Nana itu siapa, mbak?

      Hapus
    9. cerpennya kang satria yang mas agus ngejer hermini pake sepeda trus ketemu inspektur ajay gupta mas her...inget ga xixixiix

      aw makasi makasi...

      lho yang dipuji kan si dhy...kok mbul yang makasih wakkakaka

      nana itu sekertarisnya boss don juan di part 1 mas herman πŸ˜ƒπŸ˜

      Hapus
    10. Oh cerpen yang kehilangan sepeda itu..hihihi

      Itung-itung perwakilan..hahaha

      Hapus
    11. oya mas...yang bikin ngikik ampe perutku kram gegara hermininya ilang...loh kok jadi nostalgia cerpennya kang satria ya hahhahahah

      ayo mas her kasih aku ide lanjutan cerita yang ini dong mas, ada ide ga buat aku..aku mentok nih

      Hapus
    12. Gimana lanjutannya dibuat cinta segitiga, Young, Dhy dan Rembulan tapi akhirnya ngga jadi dan nongol tokoh baru lagi..hihihi

      Hapus
    13. eeee tapi salah satu harus jadian sama si Young dong xixixi

      Hapus
    14. Tokoh barunya itu cewek, kalau inisialnya H berarti Heny dong..hihihi

      Hapus
    15. kalau gitu sarannya langsung kutolak hahahhaha

      soalnya tiap tokoh cewek di cerbung dan cerpen mbul harus ada nyrempet2 dengan branding si mbul...bukan nama tokoh cewek lain hahhahahah...

      kalau pakai nama H cewek monggo di hermansyahmywapblog saja. di sini tokohnya adalah ciptaan mbul ndiri πŸ˜‚

      Hapus
    16. Waduh, langsung ditolak tanpa syarat..hahaha

      Diskriminasi nih namanya harus di demo berjilid-jilid nih..hihihi

      Hapus
    17. nah loh mas her saja yang bikin cerpennya dengan tokoh beliau hihi

      Hapus
  5. Jujur deh, gadis kecil itu bukan daku. Walau mata daku memang berkaca-kaca, tapi itu karena melihat duit warna merah lagi berada di depan mata 😍

    Tapi ya Young, walaupun single adalah pilihan tapi jangan kelamaan mumpung lagi pandemi ya kan kan, buat nge-dekor pelaminan gak pakai resepsi lagi, wkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. tul juga tuh ga ada resepsi jadi duit amplopan bisa buat tabungan abis kawinan #jyahahhahahha

      Hapus

Komenin dong...tanpa kehadiran kalian apalah arti aku menulis....
kalian penyemangat setiap bulir kalimat dalam blog ini :*
Namun jangan komentar SARU atau SARA ya, jika ada komentar dengan unsur tersebut, dengan berat hati akan aku HAPUS .

Oh ya, Dilarang juga mengambil gambar/foto atau menyadur tulisan tanpa mencantumkan sumber atau seijin pemiliknya. Apalagi untuk kepentingan komersial atau lomba. Thx ^____^