Sabtu, 27 Maret 2021

Cerpen : Kedai Bunga





Oleh : Gustyanita Pratiwi


ilustrasi digambar sendiri oleh si admin Gustyanita Pratiwi


Baca juga : Kebun Mini

Cerek yang kujerang telah menjerit. Tergopoh aku mematikannya agar tak sampai 1 menit mencapai kompor. Pagi-pagi betul aku sudah bangun. Aku tidak tahu apakah barusan tidurku ngorok atau tidak. Tapi kepalaku jelas nyut-nyutan. Aku kedinginan luar biasa seperti berada di antara tumpukan salju yang menyerupai gula halus pada permukaan kue tart ulang tahun. Tapi kemudian aku teringat, bahwa aku tidur hanya mengenakan kaos oblong tipis  kebesaran dan celana pendek sepaha. Jadi kemungkinan besar aku kedinginan karena itu. Aku lupa keberadaan sarung yang biasa kupake ada dimana. Aku tidur dalam keadaan meringkuk seperti udang, bertemankan guling yang biasa kudekap dengan erat sampai kemudian aku terpejam.


Paginya, Aku berjalan diantara keramik dapur karena bunyi cerek sialan itu sungguh sangat memekakkan telinga. Entah kenapa tubuhku terasa ringan sekali. Aku tak tahu apa aku sedang kurusan? Tapi sebenarnya aku sedang malas mencari timbangan.  Akhir-akhir ini memang aku kehilangan selera makan. Aku hanya sering menghabiskan hari dengan menyesap teh herbal saja yang di dalamnya berisi irisan lemon. Irisannya 1. Supaya tidak pahit. Dan tidak usah memakai gula. Jadi cukup dengan air panas saja. Diaduk pelan sampai airnya memerah. Seperti air panas yang kujerang hari ini. Calon penyeduh teh herbalku yang sudah kutuangkan ke dasar gelas bersamaan dengan irisan lemon yang masih terbungkus kulitnya. Tapi aku juga tak paham kenapa cerek ini logam enamelnya agak sedikit koyak dan menjadikannya tak lebih buruk dari ketel yang ada di pawon rumah nenek ~yang setiap pagi selalu kucungkili kerak nasinya karena itu adalah sarapan paling nikmat sedunia setelah digulingkan di atas parutan kelapa. 

Aku kemudian jadi mengingat-ingat tentang hari ini. Ini hari apa ya? Kok rasanya agak lama untuk mencapai hari Jumat. Kusibak kalender yang permukaannya telah menguning, lalu kudapati angka tanggalannya menunjuk angka 11. Harinya Selasa dan seperti yang kubilang tadi, masih terasa lama untuk mencapai Hari Jumat. 

Aku memunguti sisa-sisa semangatku untuk berangkat ke suatu tempat seusai mandi. Aku sudah berdandan rapi dengan mengenakan blouse dan rok span gelap yang sudah licin karena aku pandai menyetrika. Aku ingin busanaku nanti tampak serasi dengan buket bunga yang aku bawa. Aku sengaja mengatur waktu sepagi mungkin karena ada beberapa tempat yang ingin kukunjungi pagi ini. Aku ingin mampir sebentar ke kedai bunga, bercakap-cakap dengan pemiliknya, lalu ke ATM untuk menarik beberapa lembar uang tunai, baru setelahnya ke tempat tujuanku yang terakhir. 

Sebuah taxi berhasil kucegat walau sebelumnya sopirnya agak kebingungan. Beruntung, ia mau menepikan mobilnya. Ia turunkan kaca jendela dan matanya seperti menilai penampilanku. Dari ujung kepala hingga ujung kaki. Dari potongan rambut bobku hingga flat shoesku yang menyerupai sepatu balet. Mulanya ia diam saja. Mulutnya yang menghitam karena kebiasaan merokok ikut melompong, tapi kemudian ia memberiku isyarat supaya lekas naik. "Ayok deh!" Begitu katanya. Aku pun membuka pintu belakang mobil dengan perasaan ringan, mendaratkan bokongku ke joknya yang bau kamper, lalu kuutarakan kemana tujuanku yang pertama : "Kedai Bunga pertigaan ya Pak!" Sopir taxi itupun mengangguk, mungkin sudah hapal daerah sini. Jadi aku tak perlu repot-repot menjelaskan. Bersyukur sekali tak dapat sopir yang buta arah. la juga tak banyak bertanya  walau sesekali matanya tertangkap spion seperti menekuri lekuk tubuhku yang agak sintal. Tapi aku tak ambil pusing. Asalkan dia tidak macam-macam, itu sudah lebih dari cukup. Lebih baik kuarahkan pandanganku ke kaca jendela. Ya supaya tidak diajak ngobrol. Karena jujur aku sedang malas ngobrol. Terutama dengan orang asing.

Tak lama kemudian, taxi pun melaju. Kami melalui jalanan yang cukup sibuk di suatu pagi yang cukup mendung. Usai lampu bangjo di perempatan jalan berubah warna, sopir taxi agak sedikit menggerutu. Apalagi kalau bukan kelakuan dari beberapa pengemudi di belakangnya yang bolak-balik membunyikan klakson. Sungguh tidak beratittude. Dipikirnya ini jalan punya Mbahnya. Begitu katanya. Hal yang lumrah terjadi di jalanan yang tak ayal membuat jengkel hingga akhirnya deretan isi kebun binatang keluar semua. Aku sendiri masih membuang muka ke arah jendela. Tak ingin terlibat obrolan kecil yang berujung panjang. Malas berakhir jadi tempat curhat. Bukannya aku sombong atau apa, cuma memang aku sedang tidak berselera ngobrol. Lebih baik aku melamunkan hal-hal yang kutemui di sepanjang jalan. Deret pemandangan toko-toko yang menyimpan ceritanya masing-masing. 

Pada arah jam 12, kulihat warung tenda yang belum buka namun spanduknya dibiarkan berkibar. Di sana tercetak sablonan menu yang tak biasa. Ada sate kobra, sate biawak, sop kobra, dan sop biawak. Seorang pemuda tanggung keluar dengan membawa baskom berisi bahan mentahnya. Wujudnya melungker panjang. Tentu itu ular yang sudah dikuliti. Mungkin sebentar lagi akan dimarinasi dengan bumbu-bumbu. Wow! Aku tak berani membayangkannya. Tentu yang ada dalam benakku adalah kulit mereka yang licin dan juga basah. Jelas bukan menu favoritku. Walau menu-menu ini bisa jadi salah satu obat alternatif bagi penderita penyakit tertentu, tapi membayangkannya terhidang di atas piring tentu saja ogah. Meski bertemankan dengan nasi putih yang bertabur bawang goreng, lalu ada sambal kecap yang penuh potongan rawit seperti laiknya sate ayam maupun sate kambing pada umumnya, juga acar mentimun dalam tatakan ditambah pula adanya kerupuk~ tentu itu sulit. Karena jelas yang ada dalam bayanganku adalah bentukan mentahnya.

Tak jauh dari situ, ada pula warung nasi yang baru saja buka. Sayur dan lauknya masih tampak hangat dan mengepulkan asap. Wangi masakannya tercium sampai tempatku. Pasalnya kaca jendela aku buka sedikit sementara taxi agak tersendat karena ada truk yang hendak atret di depan sana. Oh, aku mendadak jadi sangat lapar seperti sudah tidak makan berhari-hari. Melihat seorang ibu paruh baya mengenakan bergo putih kusam pendek yang memperlihatkan beberapa helai uban yang keluar dari padnya membawa nampan berisi gunungan tempe orek dan balado terung membuat perutku semakin keruyukan. Tapi kemudian taxi kembali melaju walaupun tipis-tipis saja hingga mataku kembali mengekor pada sebuah tukang fotocopyan yang tampak suram dengan seorang karyawan yang sedang sibuk mainan hp. Sesekali deretan giginya yang putih dan rapi itu menyeringai lebar mengingatkanku pada tokoh kucing nyengir ungu loreng-loreng yang ada di dongeng Alice di Negeri Ajaib. Mungkin ia sedang facebookan atau bahkan menekuri berita viral yang menghebohkan satu Indonesia. Sepinya pelanggan yang memfotocopy pada era sekarang cukup membuat karyawan tersebut berleha-leha.

Sekitar 1 kilometer dari tukang fotocopy, berdiri sebuah toko peti mati milik seorang Engkoh-Engkoh yang berkaos singlet dan berkaca mata silinder tebal. Di hadapannya kini tengah tergarap sebuah pesanan peti mati yang sedang dipelitur oleh tukang kayunya. Pengerjaannya sudah tahap 70 %. Peti mati lainnya yang sudah jadi ada di sudut toko sebelah kiri. Sang Engkoh-Engkoh tampak mengawasi betul kinerja dari sang tukang sambil sesekali mensupervisi apa yang musti ditambahkan maupun dikurangi. Tiga kerutan di dahinya tampak menonjol, seiring dengan ceramah yang mempertegas sikap bossy-nya. 

"Eh lu olang kelja yang benel....kalau males-malesan owe ogah bagi duit. Lu kelja buat kasi makan anak bini kan? Kudu lajin! Ini peti mati pesanan owe punya klien, dia olang kaya dali Depok! Minggu depan katanya kudu udah jadi. Jadi kita antalkan langsung ke tempat dia olang mau pake peti! Ngelti lu pada?" Himbau Engkoh-Engkoh tersebut galak yang diakhiri dengan anggukan patuh dari sang tukang kayu. 

Tak lama kemudian Pak Tua itu tampak sibuk bertelepon ria dengan beberapa calon pembeli lainnya. Sesekali tangannya memain-mainkan biji sempoa, sementara telepon ia sangga dengan menggunakan bahu kiri. Lintingan rokok mbako yang terselip di telinganya pun ikutan gerak. Dengan mimik muka yang sumringah ia mulai menghitung keuntungan. Akhir-akhir ini banyak sekali orang mati, dan itu menjadi berkah bagi Engkoh-Engkoh yang tokonya menjadi bertambah sibuk ini. Cuan terus mengalir deras tak ada putus-putusnya. Lalu aku membayangkan jika tiba saatnya aku yang tertidur di dalam sana, di satu kotakan berukuran panjang 192 cm, lebar 42 cm, dan kedalaman 62 cm dari kayu eboni berukir cat emas, hmmm....rasanya akan bagaimana? Biarpun nantinya aku akan dirias seperti pengantin, tentu yang ada bukanlah hari bahagia. Yang ada mungkin tangis dan air mata. Oh, aku tak mau membayangkannya untuk sementara ini.

Taxi terus melaju hingga kedai bunga tujuanku sudah ada di depan mata. Kukatakan pada sopirnya supaya tetap menunggu karena aku hanya ingin membeli lily putih sebentar saja. Ia pun menggangguk dan tersenyum. Dalam benaknya argo taksi yang terus berjalan sembari menunggu penumpangnya diajak ghibah oleh pemilik kedainya mungkin akan menjadi tambah-tambah uang saku karena penumpang akhir-akhir ini mulai sepi. 

Baiklah, sekarang aku akan menemui Cik Nana pemilik kedai bunga langgananku yang terkenal ramah dan supel meski dandanannya agak sedikit menor. Kami sudah berinteraksi sejak lama jadi biasanya ia memberiku harga teman untuk moment-moment tertentu. Ya, aku memang senang sekali dengan bunga-bunganya. Kadang aku banyak menghamburkan uang untuk keperluan remeh-temeh seperti membeli sebuket bunga mahal hanya untuk menghiasi meja makanku. Meja makan kontrakanku yang luasnya tak seberapa. Padahal aku makan seorang diri. Karena memang aku tinggal seorang diri di pinggiran Kota Jakarta yang kejam ini. Tapi untuk membeli bunga aku tidak masalah. Bunga mawar merah segar yang kelopaknya besar-besar, bunga krisan oranye, bunga sedap malam, bunga anyelir putih atau gladiol. Aku suka semua. Lalu ibuku akan meneleponku dan marah-marah karena putrinya ini banyak menghambur-hamburkan uang untuk membeli bunga segar yang beberapa hari kemudian jelas layu. "Gaji ki ditabung Nduk, ojo mbok tumbaske barang sing ga penting. Kembangan neng omah akeh kok mbok tumbas atusan ewu ning toko kembangan. Jan...tobat!" Aku hanya tertawa kecil karena ibuku begitu rewel masalah finansialku. Dipikirnya aku tidak pandai mengatur keuangan. Ia takut aku tidak bisa memanaje tabungan sebelum akhirnya aku benar-benar menjadi milik orang. Ya, realita seorang gadis berumur hampir separuh abad yang merantau di ibukota, beginilah adanya. Selalu dipantau dan diceramahi orang tua. Setiap hari. Lewat telepon. Tapi tidak. Sebenarnya umurku masih cukup muda. Aku baru 22 tahun. Masih jauh dari target ibu mengoyak-oyakku agar segera memperkenalkan calon mantunya. "Aku baru lulus kuliah Buk, baru mulai kerja, sudah deh tunggu saja tanggal mainnya." Ya, begitulah ibuku, sama seperti ibu-ibu anak gadis lainnya.

Kulangkahkan kakiku memasuki etalase kedai bunga Cik Nana. Di sana yang ada adalah seorang Mamang-Mamang bertubuh kurus ceking tapi berwajah menyenangkan. Ia tersenyum ramah padaku. Orang baru sepertinya. Karena jujur aku belum pernah melihatnya. Selama ini yang melayaniku langsung adalah Cik Nana.  

"Permisi, Cik Nananya ada?" Tanyaku padanya yang langsung dijawab dengan ekspresi seperti mengingat-ingat sesuatu. 

"Wah, Bu Nana baru saja pergi, Neng. Katanya sih mau layat. Salah satu kenalannya meninggal beberapa hari yang lalu. Lagi disemayamkan di rumah duka. Anaknya masih muda....kasihan sekali." 

"Oh...." Aku ber-o panjang dan tak jadi meneruskan kata-kataku. Aku langsung memilah-milah saja bunga yang ingin kubeli.

"Mau yang mana? Sini Mamang bungkuskan." 

Aku menunjuk lily putih untuk 1 buket dan minta tolong dirangkaikan sekalian dengan pitanya. 

Tanpa banyak cakap Mamang penjaga kedai bunga ini langsung dengan sigap memilihkan bunga lily putih paling segar untukku dan dalam hitungan menit sudah jadi rangkaiannya. Cantik sekali. Ada selipan bunga lainnya juga diantara kelopaknya yang bagai terompet.

"Ini Neng Geulis." Mamang tersebut menyerahkan bunga itu padaku. Oh, sungguh lucu. Baru sekali ini aku dapat sebuket bunga dari laki-laki persis seperti adegan dalam film-film romantis, tidak sampai seperti romeo and juliette sih, tapi sial...dia ini menyerahkan bunga karena alasan profesionalisme saja kan, antara penjaga kedai dan pelanggan. Coba kalau skenarionya lain...

"Berapa semuanya?" Aku bersiap mengeluarkan lembar uang ratusan ribu dari dalam dompetku.

"Rp 350 ribu Neng....Tapi Buat Neng cukup Rp 300 ribu saja. Bonus karena Neng cantik." Ujarnya dengan senyuman yang tak kumengerti apa artinya. Tapi anggap saja ini memang harga asli yang sok dikamuflasekan dengan kata diskon. 

"Apa karena saya sudah langganan ya, Mang. Makanya dimurahin?" Aku mencoba menggurauinya. Lesung pipi yang ada di sudut bibirku membentuk cekungan yang agak dalam. Ia pun garuk-garuk rambutnya yang tak gatal.

"Oh ya? Memang Neng sudah sering beli di sini?" tanya Mamang tersebut sedikit kaget.

"Iya. Cik Nana sendiri yang biasanya pilihkan  bunganya untuk saya. Tanya saja sama Cik Nana,  pasti dia hapal sama saya." ujarku panjang lebar sambil menyebutkan namaku. 

Lelaki di hadapanku itu kemudian mengangguk-anggukkan kepala. Matanya tak pernah melepaskan gerak-gerikku barang sebentar saja. Gesturenya mengatakan bahwa ia menaruh minat dalam obrolan perdana yang ringan ini. Dan aku sangat senang karenanya.

"Hmmmm...nama yang indah." ujarnya lirih.

"Baiklah, ini uangnya. Terima kasih ya."

Aku tersenyum padanya. Dan saat aku mulai meninggalkan kedai, sayup-sayup kudengar gumamannya yang mengekor pada caraku berjalan yang agak seperti entok.

"Duh, manisnya udah ngalah-ngalahin gula euy!!!!" 

Akupun berlalu dan segera menghampiri taxiku yang telah menunggu lama di bawah pohon beringin. Tapi baru saja tanganku meraih gagang pintu mobil, sedan Cik Nana melintas. Kusapa dirinya dari arah kaca jendela yang terbuka. Cik Nana diam saja. Tak menghiraukan sapaanku sama sekali. Ia keluar dari dalam mobil dan malah melewatiku seolah aku ini hantu. Aku perhatikan terus Cik Nana walau taxiku mulai jalan. Saat berbincang dengan Mamang yang melayaniku barusan, kulihat ekspresi Cik Nana berubah 180 derajat dari terakhir kali saat keluar dari mobil. Seperti orang kaget, tapi entah karena apa. Apalagi ditambah perangainya yang tiba-tiba saja seperti menunjukkan sesuatu kepada Mamang tersebut lewat HPnya.

***

Taxi kami terus melaju ke arah utara. Sampai sebelum masuk exit tol, sempat terlintas dari kaca jendela hamparan taman pemakaman umum yang luasnya ada sekian belas hektar. Aku terpekur dan memandanginya. Pikiranku kembali carut marut entah karena apa. Aku menangkap di kejauhan sebuah lubang baru saja digali lengkap dengan beberapa karangan bunga yang tak begitu kelihatan siapa nama almarhum atau almarhumahnya. Tapi yang pasti tukang gali kuburnya sedang sibuk mempersiapkan segala sesuatunya karena sepertinya prosesi pemakaman akan dilakukan hari ini.

"Tujuan selanjutnya kemana, Neng?" Sopir taxi di depanku membuyarkan lamunanku. 

Aku baru teringat bahwa aku belum mengutarakan tujuan akhirku kemana. Tadi baru bilang ke kedai bunga saja. Padahal ada beberapa tempat yang harus kukunjungi lagi. Walau opsi ATM tiba-tiba saja kucoret dari daftar karena kurasa uang dalam dompet masih cukup banyak. Jadi aku lanjut saja ke...

"Lurus saja Pak....dikit lagi nyampe." Aku menginstruksikan pada sopir taxi yang diiringi oleh anggukannya. Ia terus mengendarai taxinya  tanpa banyak cing-cong.

"Maaf, tolong berhenti Pak. Saya mau turun di sini." 

"Ctiiiiiit!!!" Taxipun berhenti mendadak dan Sopir Taxi itu agak sedikit bingung walau akhirnya terus berlalu setelah kujejali 2 lembar uang ratusan ribu tanpa perlu memberikan kembalian.

Aku lalu berjalan ke sebuah bangunan yang tampak ramai oleh beberapa pengunjung dengan busana hitam-hitam sepertiku. Aku tidak mengerti kenapa aku pergi ke sebuah rumah duka. Ada sedikit spasi kosong dalam memori otakku untuk mengingat-ingat semuanya. Tapi aku terus berjalan dan berjalan hingga kudapati pemandangan yang tak lazim di depan pintu hall utama. Sebuah peti mati dari kayu eboni yang bersepuh emas dengan ukuran panjang 192 cm, lebar 42 cm, dan kedalaman 62 cm dengan gadis cantik yang terbujur kaku di dalamnya. Wajahnya jelas aku kenal betul siapa dirinya, begitupula foto yang tersemat di muka peti.. juga nama yang tertera dalam karangan bunga....

Kulihat, di dekat jenazah gadis itu, seorang ibu yang juga kukenal betul siapa dirinya tampak menangisi kepergian putrinya. Putrinya yang meninggal dalam keadaan tidur dengan wajah seperti bayi. 

Wajah yang sangat kukenal betul siapa dirinya....

Manis.. 

dan kini dirias seperti pengantin yang sedang tertidur panjang.


Tamat





100 komentar:

  1. Menarik ceritanya, mbul...
    degdegan pas bacanya. hihihi...

    BalasHapus
    Balasan
    1. tadi malam masih aku edit sambil jalan kak takut ada typo...n ada kutambahin sedikit dialognya di beberapa part


      makasih kak pit, masih taraf latihan ini :)

      (((o(♡´▽`♡)o)))

      Hapus
    2. Wow, sepertinya mba Gus lagi belajar buat cerita untuk di terbitkan nih,..heem, menarik ☺πŸ˜€

      Hapus
    3. cuma iseng iseng aja koh, buat hiburan πŸ˜„πŸ˜Š

      Hapus
  2. Semalem mau komen tapi ga bisa, akhirnya skrg bisa komen πŸ˜…

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya ya Do, apa karena susah dipencet tombol komennya yak..tapi kalau diklik versi mobile cepet do kolom komennya kebuka πŸ˜„

      Hapus
  3. Cerita penuh deg degan, ternyata nyoss di akhir.
    Ada bagian yg menurutku lucunya jg mbak, bagian orang yg jualan sate biawak, sate kobra, sop biawak jg sop kobra πŸ˜…
    Cukup menyeramkan makanan seperti itu πŸ˜…πŸ˜…

    BalasHapus
    Balasan
    1. nyoss di akhir ya do...hehehe

      iya ya..aku terinspirasi sama warung tenda makanan ekstrem soalnya wkwkwk

      iya menyeramkan memang πŸ˜‚

      Hapus
  4. ininih cerpen misteri yang masih tanda tanya meski tamat, gw suka bagian akhirnya :D

    tanpa tau kenapa pergi kerumah duka, gw kira yang meninggal adalah cik nana yang di toko bunga, jadi tokoh aku ketemu cik nana pas dia udah meninggal di toko bunga.. tapi ga dijelasin ya siapa yang meninggal itu :D

    terus yang kedua, menurut gw bakal epik kalo yang meninggal itu diringa sendiri, si tokoh aku, datang kerumah duka tanpa sebab dan melihat dirinya sendiri di peti mati yang akan dikuburkan :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. wahhhhh!!! Jadi semangat bikin cerpen kalau ada yang komen gini..

      makasih mas khanif

      α••( ՞ α—œ ՞ )α•—

      nah kira kira feelingnya opsi satu apa opsi dua hayooo?

      kayaknya sih opsi yang ke.....

      ΰΈ…(ΰΉ‘⊙Π΄⊙ΰΉ‘)ΰΈ…!!

      Hapus
    2. Yang ada di peti mati itu gadis yang beli bunga mas khanif, makanya cik Nana kaget saat mamang Agus kasih tahu namanya pada cik Nana.😱

      Hapus
    3. lha...kok pinter mas agus?

      iya lah gurunya mbul sih...jelas uda tau modelan endingnya kayak gimana ya amas aguuuus

      nih mbul kasih nilai 100 mauk ga maaaas aguusss

      (*・Ο‰・οΎ‰οΎ‰οΎž☆゚゚

      Hapus
    4. oh gadis yang di omongin sama mang agus sama tokoh akunya waktu mau beli bunga itu ya, hehe gw gak mikir kesitu sih, setelah baca part ahirnya gw kepikiran yang enggak2 :D

      Hapus
    5. hihi iya mas khanif berarti tebakan terepiknya kan endingnya 🀭🀭

      Hapus
    6. Oiya, ini juga boleh. ternyata dia sendiri yang mati. serius mbak. aku penasaran sama endingnya!

      Hapus
    7. exactly! that's the point mas supriyadi hihi


      kuharap endingnya ga terlalu buruk ☺😊

      Hapus
    8. ga buruk ko mbak, malah epik banget endingnya :D

      Hapus
    9. whoah terharu aku dibilang endingnya epic...(✪Ο‰✪)/

      makasih mas khanif..
      mudah mudahan cerpen ke depan bisa makin lebih baik lagi dari yang ini πŸ˜„

      Hapus
  5. Thanks for sharing! Seems quite interesting. Happy Sunday!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thank you Angie for appreciation my short story 😍

      Hapus
  6. Aku sendiri dalam kedinginan tanpa hangat api...😁😁 ini yang jadi si Aku siapa Van Hellen atau Van Helsing.🀣 🀣 Mungkin si Aku ini seorang penikmat bunga2 termasuk bunga bank..🀣 🀣 🀣

    Sampai akhir kisah perjalanan hidupnya yang menjadikan dirinya pengantin...."Pengantin Kematian".😳😳

    Ini kok ada segala sate Buaya, Sate Naga, Sate ikan Paus. 🀣 🀣 Dan ada pula tukang Fotocopy yang dikelola oleh Agus Jambe...Eehh salah si Agus mah tukang peti kematian yang berukir, Mungkin si Herman kali tukang Fotocopynya.🀣 🀣 🀣 🀣

    Bermacam-macam aneka bunga itu ia rangkai menjadi indah bah seolah taman pengantin yang merona...Sampai akhirnya ada satu bunga yang tertinggal di Kedai Bunga tempat dimana ia sering berlangganan disana. Namun orang yang bernama Amrana mantan blogger Mwb yang kini jadi Youtuber sedang pergi nyelawat...Si Aku nampak bingung.

    Eehh salah bukan Amrana...Cik Nana maksud gw, Ngacoo kok..🀣 🀣 🀣 🀣

    Berhubung ada mamang Agus jambe yang bermata bongsang, si aku alias Van Helen masih tetap bisa membeli bunga Lily kuncup, Eehh Lily putih apa Lily Kasoem.😳😳 Atau mang Lily mungkin..🀣 🀣 πŸ€ͺ

    Setelah itu si Aku alias Van Helllen pun berlalu dengan tenang, Meski ia terus diperhatikan oleh Mang Agus Jambe bermata bongsang. Sampai akhirnya si Aku sampai pada tempat yang ia tak tahu, Mengapa harus kesitu. Nampak penuh orang dan para pelayat sebagian ada yang ia kenal semua nampak aneh. Yang lebih menganehkan gadis dalam peti itu nampak seperti dirinya.. Dan seorang wanita tua yang terus menangis, Seperti memandang kedirinya yang kini telah berdandan cantik bah seorang pengantin berias bunga putih dalam sebuah taman...Taman menuju kematian.😳😳😒😭

    Bagus cerpennya mbul...Meski bikin merinding tapi alurnya enak dibaca, Gambar animasinya juga masuk sama ceritanya.πŸ˜ŠπŸ‘πŸ‘πŸ‘

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang bikin merinding bagian apa kang? Masa sih bikin merinding pas bagian peti mati yang isinya gadis itu. πŸ€”

      Oh aku tahu, yang bagian meluk anak dosen itu ya.😱

      Kaboorrr πŸšΆπŸƒπŸ’¨

      Hapus
    2. siapa yang kedinginan kang? van hellen yak? wkwkwkkw...bisyaaak aja bikin ku ngakak

      penikmat bunga beneran kang, bunga segar yang ada di kebon...eh di kedei cik nana, tapi yang jaga harus mamangnya ya hhahahaha
      biar aja cik nana layat, biar bisa adegan romi n juli walau cuma sekejap mata #eh ini sih van hellen yang haluw...eh maksud mbul gadis itu wkwkkw

      wait wait wait....

      sek sek...

      kok ada sate ikan paus, sate naga, dan sate buaya...bwahhahaha nda sekalian kang sate pterodactil dan veliciraptor πŸ¦•πŸ¦– wkwkwkkwk..isi jurasic park ama film kingkong aja keluarin yeay πŸ˜‚πŸ€£


      coba yok direka reka siapa yang paling cocok jadi aktor pemeran tukang fotokopy, engkoh peti mati, ama klien horang kaya dari depok city, wkwkkwk tukang taxinya juga kan masih misteri tuh hahhahahh

      bongsang ntuh apaan yak? kubuka kamus kbbi kok artinya keranjang kang?

      πŸ™„πŸ€”

      ya Alloh kang ampun jadi ngakak dong ah masa lilynya diplesetin macem macem, lily bunga beneran dong wkwkkwk

      begitulah kang, pengantin kematian yang dirias cantik dengan jubah putih dan bunga dalam dekapan dada yang sama dengan yang digenggam van hellen eh si 'Aku' maksudnya πŸ˜‚πŸ€£

      asyik makasih kang, sering nongkrong tempat mas agus lama lama mbul jadi pede nih bikin cerpen walau masih harus banyak latihan lagi, jadilah kuputuskan blig ini akan ada label atau kategori baru yaitu jeng jeng jeng cerpen, cerbung wkwkkwkw (malah ku peluncuran) 😁

      Hapus
    3. mas agus : bagian mananya hayo mas? Mbul bikin cerpen ini jam jam malem loh kemaren wkwkwkkw

      kalau kang satria mungkin lagi teringat mantan mantannya yang berjibun ya mas....πŸ˜‰πŸ˜‚πŸ€­

      Hapus
    4. Oh bikinnya malam malam sambil bakar menyan biar kerasa aura horornya ya.😱

      Ya memang setelah baca ulang lumayan horor sih soalnya ada SMS masuk kuota Anda tinggal 90 MB, padahal paketnya sampai tanggal 5 April.πŸ˜‚

      Selain mantannya, buku stensil nya juga bejibun.😁

      Hapus
    5. bakar menyan itu buat apa toh mas? buat nglinting rokok pow? wkwkwkk...#rokok lintingan hahhaha

      nah itu lebih horror lagi ya mas, sms kuota kok tau tau tinggal seiprit..hilang kemana padahal ga pernah ngeklik yang berat berat...biasa suka ngilang secara gaib emang tuh pulsa wkwkwkkw

      eh mas agus, ngomongin buku stensil...eh kok kita malah bahas ini ya, kujadi pengen baca buku abdullah harahap deh #nahloh...ga stensil itu ya..tapi lebih ke horror..hihi..liat di akun belanja warna ijo ada lumayan tuh judul judul bukunya 😜🀭

      Hapus
  7. Cerpen yang ini enak dibaca mbul, mengalir lancar seperti air, tak terasa tahu tahu sudah tamat.

    Jadi si aku itu sudah jadi hantu tapi ngga sadar ya mbul, terus jalan jalan naik taksi. Tapi kenapa supir taksinya bisa melihat hantu ya. Ah lupa, pasti supir taksinya sudah berguru sama Mbah Dahlan biar Indra keenam nya tajam.😁

    Aku rasa bagian gadis itu melihat tukang fotokopi yang main hape karena sepi terinspirasi dari Don Juan.πŸ˜„

    Itu klien yang pesan peti mati orang kaya dari Depok, apakah dia raja sue.😱

    Bagus ceritanya suhu, ijinkan aku berguru biar tambah ilmu.

    BalasHapus
    Balasan

    1. iya mas....si 'Aku' ga sadar bangun bobo eh malah bablas...lha lha...takbuka spoilere sekarang ki...

      nah bisa jadi si pak sopir taksinya ini punya kemampuan indihom mas...eh maksud mbul punya mata batin tapi ga sadar si 'Aku' ini udah jadi mahluk halus, walau aslinya kulitnya uda halus karena sering pake vaseline... tapi pak sopirnya lihat...walau tetep mbatin ada keanehan sama polah tingkahnya penumpangnya sih...mungkin karena kulitnya putih pucet walaupun badannya tetep demplon sih #ehhh mulai kumat si Mbul

      ΰΈ…(ΰΉ‘⊙Π΄⊙ΰΉ‘)ΰΈ…!!

      lumayan juga mas ada juga inspirasi dari post fotokopi don juan kemaren wkwkwk #punten ya kang satria piningit dari kerajaan halimun pethak wkwkkw

      horang kaya dari depok jangan jangan yang hobinya mandi pake galon air beli dari aquaman ya mas....

      hwaaaaa dikomenin guru aku dalam hal cerpen sungguh bikin ku pengen terhuraaaa...tissue mana tissue

      (。>γ……<。)πŸ’¦…#mbul mewek terharuw

      masa sih mas agus....??

      mbul kan jadi berbunga bung.. πŸ˜†πŸ˜œ). Maksudnya mbul jadi tambah semangaaaaaaaaaad membara bikin cerpen atau cerbung lainnya...hehe...sedikit banyak ini terpengaruh dari seringnya mbul baca cerpen mas agus juga

      ((o(*>Ο‰<*)o))

      yuk mas kita saling belajar bersama, biar bisa lempar lemparan ide nyerpen wekekekkekek πŸ˜ŠπŸ€—☺😁

      tapi ilmuku masih cetek mas belom ada seujung kukunya mas agus yang udah mastah di bidang tulis menulis fiksi #sungkem mas πŸ˜ƒπŸ˜

      Hapus
    2. gw ikut belajar juga ah hihihi :D

      Hapus
    3. boleh kok mas khanif

      ayok mas khanif dan mas agus kita belajar sama-sama biar produktif bareng ☺😊😁

      Hapus
  8. maaf tari bacanya cuma paragraf awal saja , habis paragraf akhirnya ceritanya gitu terlalu horor sih ? dan berbicara akan komentar, itu kenapa ya teman - teman komentarnya malam - malam apa gak ngantuk ?''

    BalasHapus
  9. Wait a minute? bola mataku terbelalak..Olala..!! Sate kobra? sate biawak? Alamak..bagaimana ya mbak rasanya? Terutama biawak apa.nggak sate komodo sekalian wkwkwkw.πŸ˜‚.secara penjual sate nya ntar bisa ditangkap wong komodo kan kan termasuk satwa langka yang dilindungi pemerintah.
    Aku yo senyum-senyum.baca tulisan saat saang Ibu ngomelin anakya yang beli bunga terus.. kata terakhirnya itu... Jan.. tobat..!! wkwkwkwkπŸ˜‚πŸ€£ astaga kayak habis ngelakuin dosa aja kok disuruh tobat nasuha wkwkwkπŸ˜‚
    Btw... jadi adegan terakhir gadis yang membeli bunga itu sebenarnya sudah tiada? Tapi dia tetap melakukan kebiasaannya membeli bunga di kedai bunga nya Cik Nana. Ooh pantesan Cik Nana diam aja saat ditegur sapa. Lah kan nggak kelihatan siapa yang negur. Yang negur itu ternyata arwah gadis pembeli bunga langganan setia kedai bunga nya Cik Nana.
    Sebentar.. lah pak sopir taxi itu kok bisa ngelihat sarwah ang gadis ya?.apa karena memang menampakan dirinya ke pak sopir taci dan Mamang pegawai kedai ?
    bunga?
    Wah bagus mbak Nita cerita nya.. endingnya yernyata ada horrornya..bagi aku sich..hehehe..

    BalasHapus
    Balasan
    1. just info, di tangerang ada tapi mba fidy sate kobra dan sate biawak, aku sering lihat sih warung tendanya wkwkwk tapi cuma lewat doang...dan terinspirasi cerita dari situ. Kalau makan tentu ga boleh yekan 🀭🀭, kecuali mungkin buat obat penyakit tertentu kali ya...

      iya mba fidy, di sini tokoh sang ibu sayang banget sama putrinya yang merantau di pinggiran jakarta sendirian seusai lulus kuliah dan mengadu nasib di sana. Jadi hampir saban hari ditelepon sambil diinterogasi udah punya calon apa belom, biasa lah emak emak kan suka begitu ya ke anak gadisnya hahhaha...dan si ibu juga baru baru ini aja ngeh bahwa salah satu kebiasaan putrinya ini adalah beli kembangan buat ditaruh di pot atau jambangan sebagai penghias meja makan, uda macam di hotel aja yak wkwkwkkw...musti ganti kembangan tiep uda layu..pantas si ibu ngelus dodo takut putrinya itu beli hal-hal yang ga penting. Tapi tetep si anak suka beli. Kalau uda suka susah dibilangin sih anaknya hahahhaha...

      iya kira kira seperti itu mba fidy, dia kayak reflek pergi gitu aja ke tempat-tempat yang biasa ia kunjungi beberapa hari sekali tiap pagi. Sayangnya di pagi yang mendung nan syahdu itu pada Hari Selasa tanggal 11, ia tak menjumpai Cik Nana sahabatnya berjaga seperti biasanya di oultlet bunga segarnya, eh yang ada seorang mamang-mamang berwajah menyenangkan yang ternyata mengajaknya ngobrol walau sebentar aja...dan dia belom sadar bahwa yang diajaknya ngobrol itu sebenarnya adalah si aku yang belom ada ninggal 7 hari hihihi

      iya mba fidy...aku lagi coba latihan bikin cerpen misteri biar ada variasi cerita. Nyoba nulis di luar zona nyamanku nulis romance seperti biasa, alhamdulilah dapat apresiasi dari temen temen 😍πŸ₯°πŸ˜☺

      Hapus
    2. Iya bener juga di Jakarta semua kuliner ada sampai kuliner yang ekstrim juga tersedia.seperti sate kobra dan sate biawak.. Benar kita yang muslim nggak boleh makan kecuali terpaksa karena untuk menyembuhkan penyakit.
      Ooh apa ini cerpennya diambil dari sedikit dari kehidupan sehari-hari mbak Nita? Misalnya katanya sang ibu yang dengan perhatiannya menelpon tiap hari putrinya yang merantau di Jakarta. Berarti mbak Nita sekarang hiddup di perantauan di Jakrta jauh dari ortu ya? Apa ngekos sendirian di Jakarta? Wah salut.. aku nggak berani kalau ngekos di Jakrta. Aku pernah nyoba merantau beberapa bulan di Jakartta tapi tinggalnya di rumahnya pakde dan bude..wkwkkwkπŸ˜‚
      Wis kurang lebih selama 5 bulan aku balik maning pulang kampung. Ternyata aku nggak bisa hidup di Jakarta kotanya keras dan kejam... aku lebih senang hidup di daerah.. tapi setiap orang beda-beda ya mbak? Yang penting aku pernah nyoba hidup di ibukota beberapa bulan.
      Btw... cerpen nya bagus kok mbak bertema misteri...πŸ‘ŒπŸ‘ meski bikin aku agak merinding sedikit bacanya..hehehe.. ayo mbak Nita jangan mau kalah dengan mas Agus yang pinter bikin cerpen spesialis misteri dan hantu..wkwkw.. Aku malah nggak bisa ngarang cerita fiksi.. hehehe...

      Hapus
    3. ceritanya pure fiksi semua mbak...cuma kalau inspirasi warung tenda makanan ekstrem memang ada... ...

      lainnya mah imajinasi belaka..biasa mba, ngekhayal jadi sineas muda...(sineas muda...hellow si mbul mulai halu hahhaha). penulis maksudku...tapi masih amatiran kalau aku mah..blom pro..:XD

      wah ternyata mba fidy pernah tinggal beberapa bulan di jakarta ya? Memang di sana apa-apa serba mahal jadi ya bisa dikatakan keras. Dibanding dengan daerah lain memang kehidupan di jakarta agak butuh sedikit effort supaya bisa makan :D yaitu dengan cara kerja..tapi kerja yang halal tentu saja supaya barokah :D

      aku masih latihan mba kalau nulis cerpen, masih harus banyak baca buku atau tulisan senior lainnya, supaya makin lancar mengolah kata hehehe

      kalau mas agus, beliau memang guru saya kalau urusan fiksi mba...makanya blognya selalu ramai ya πŸ˜πŸ˜„

      Hapus
    4. Ngga juga ya mba fidy, bisa jadi muridnya itu lebih pintar dan lebih hebat dari gurunya, kan ada pepatah, guru kencing berdiri murid kencing berlari.πŸ˜‚

      Sebenarnya Jakarta ngga keras dan kejam kok mbak, tanya saja para anggota DPR yang betah bertahun-tahun di Senayan bahkan pengin nambah lagi.😁

      Hapus
    5. bisa begitu juga mas, tapi kalau mbul sih masih jauh skillnya dari mas agus 😁🀭

      naini...semakin tahun ada aja yang nyaleg ya mas? hihi...
      tambah sesek aja kali senayan yak penuh dengan anggota dewan..😝🀭

      Hapus
  10. Cantik illustrasi, macam manga tetapi lebih professional. You are very talented

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih kak atas apresiasinya..

      iya nita bikin sendiri ilustrasinya tapi masih belum terlalu halus kak menurutku πŸ˜„☺😊

      Hapus
  11. Thank you for commenting on my blog. Best wishes and stay safe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. same with you Linda, have a good day 😍

      Hapus
  12. Waahh cerpen horor rupanyaaaa. Kenapa sih yaaa kalian pada suka nulis kisah seraaam.

    BalasHapus
    Balasan
    1. kan biar beda biasanya aku nulis romansa soalnya kak ☺😊

      Hapus
    2. Ada lagi yang komen horor, memang nya seram ya? πŸ€”

      Bukannya lebih seram tanggal tua kuota tinggal dikit.πŸ˜‚

      Hapus
    3. hahaha...ada ga mas yang komen begitu kira-kira di cerpen mbul? ajarin mas biar cerpenku banyak yang baca lah mas..


      masa tiyep aku setor cerpen, kebanyakan temen yang mampir langsung pilih opsi bacaan tema lainnya hihi...padahal uda kutaruh paling atas ni cerpen. Maksudnya yang beneran kugarap dengan niat justru tulisan macam ini, tapi pesti tiap yang kusetor cerpen temen yang mampir banyak pilih komen di lain topik cerpen hahaha

      beda ma mas agus, mas agus setor cerpen apapun selalu rame yang komen wkwkkw...



      makanya aku selalu seneng ma temen yang dah bersedia mampir dan nyemangatin aku tiap aku bikin cerpen. Karena itu udah jadi jalan ninjaku....eh maksudku penyemangatku ketika ngeblog di luar tulisan kuliner...πŸ˜†πŸ˜πŸ˜

      Hapus
    4. Lha memang tulisanku kebanyakan ya cerpen makanya orang mau ngga mau baca cerpen karena memang ngga ada pilihan lain, kalo mbul kan ada kuliner sama lainnya.😁

      Hapus
    5. kayaknya pengaruh jam terbang juga kali ya mas....kan mbul jam terbang nyerpennya belum tinggi kayak mas jadi yang mau baca n syukurnya komen cuma sedikit, alhamdulilah masih ada mas agus, kang sat dan kalian kalian ini yang menyemangati 😝🀭🀭

      sebenernya kalau nulis cerpen justru paling mikir keras lho si mbul tuh... paling niat..sampe banyak buka kamus segala wkwkkwkw...ketimbang tulisan kuliner yang banyak haha hihinya wkwkkw...

      jadi kadang kadang ya pengen juga dimampirinnya yang cerpen..sengaja masih takpajang di atas ini lho cerpennya wkwkkw...tapi ternyata banyak yang pilih mampirnya di tema lain 😱πŸ₯Ί #ga bisa dipaksa ugha sih emang pembaca maunya menclok dimana ya mas ya, wkkwkwk

      cuma jujur aja kalau ada yang komenin cerpen aku, aku seneng banget 😁😝

      Hapus
    6. Lha lebih banyak jam terbang mbul kayaknya, aku di blogger mulai tahun 2018, kalo mbul kan sejak zaman pak Karno.😁

      Lha sama, menulis cerpen aku juga mikir dong, orang duduk saja mikir jangan di tengah jalan, nanti ketabrak dong, apalagi bikin cerpen.πŸ˜‚

      Yah, memang kalo banyak yang komentar jadi makin semangat menulis, baik menulis cerpen maupun lainnya, tapi kalo saya lebih semangat lagi kalo banyak yang klik iklannya.🀣

      #dasarbloggermatre

      Hapus
    7. bwahahhahah mbul jaman pak karno masih tercatat di laufulmahfudz kali ya mas...πŸ˜‡πŸ˜‹

      ah mas agus kan mulai 2018 nya di blogspot..kalau di mwb uda terbukti nyata jam terbangnya tinggi...(dikata πŸ¦…πŸ¦… kali ah jam terbang) apa malah ✈πŸ›«πŸ›« montor mabur wkwk?

      iya juga ya, selama masih bernapas dan juga waras, otomatis tetep mikir terus di segala kondisi ya mas :D

      tapi mas beneran lho...pas bikin cerpen, ketimbang tulisan lainnya yang asal ngarang aja jadi, mbul lebih mikir keras bikin cerpen atau cerbung.. jadi semangat kalau ada yang baca atau komen
      wkwkkw, makasih yaaaa...πŸ˜πŸ˜ƒπŸ˜Š

      ((o(*>Ο‰<*)o))

      ya memang mas, tak dipungkiri jika banyak yang komen terlebih sambil diklik iklannya itu yang bikin betah ngeblog ya (bagi yang dah punya iklan kayak blognya mas agus atau yang lainnya).

      Makanya tipe pembaca kayak mbul (karena dia ga pernah etang itung urusan meramaikan blog orang alias suka mampir dan njejak, temen ikut lomba atau lagi nulis tulisan berbayar pun mbul bersedia meramaikan ya walau sebage tim hore horenya, sering pula sambil ngeklikin iklannya harusnya kudu dipiara eh dijaga baik-baik ya, bukannya malah dinyolotin eeeeeh maksudnya diabaikeun or dikatain yang gimana, mentang2 dah punya circle atau kawan baru wkwk, kawan lama dilupakan hihi)

      soalnya aku kalau ga dicubit duluan orangnya ga pernah nyubit mas...serius..!!

      e tapi ga deng ya yang kayak gitu...mungkin cuma pengandaian πŸ˜‚πŸ€£

      tapi mas agus biar kata matre (bukan mbul yg bilang loh, tapi mas agus ndiri yang bilang πŸ™ˆπŸ˜œπŸ€­) eh...tunggu bukan matre kali mas, sini kukasi padanan kata yang lebih alus lagi...mungkin matrenya diganti business oriented kalik ya mas, hihi...tapi yang kusuka dari mas agus adalah karena mas agus kalau komen memang bermutu sih, sesuai konteks dan ga melenceng kemana-mana :D

      jadi bikin semangat ngono loh Mas...😁

      Hapus
    8. Di mwb aku juga mulai tahun 2013 kalo ngga salah, masih kalah sama mbul yang jam terbang nya sudah tinggi karena sudah ngeblog dari jaman Belanda.πŸ˜‚

      Ayo makanya pasang adsense dong mbul, aku yakin diterima blognya. Biarpun sehari cuma 2-3k lumayan buat jajan cilok.😁

      Kalo aku malah komentarnya suka ngacau dan diluar topik, contohnya saja tuh di blog kang satria, artikel nya masalah pekerjaan, lha komentarnya malahan masalah VCD.🀣

      Hapus
    9. 2013 uda lamaaaa kan maaaasss...

      biarin aja lah mbul tetep mau belajar nulis ma mas agus wkwkwk..biar kata mbul jadi nonik nonik walandi #eh kwkwkwkkw

      pingin mas, bikin tutorial cara pasang adsense mas, yang mudah dipahami orang seperti mbul atuw mas 😝🀭

      tapi itu kan komen yang kedua dan seterusnya, kalau komen mas yang pertama tetep masuk kok masss...(dimasuk masukin aja...ama temanya)
      contohnya yang di artikel kang sat, kan tetep ada bahas dagang vcdnya mas wekekekke...

      yang jelas paling seneng dikomen mas agus soalnya komennya panjang dan beneran baca

      (*・Ο‰・οΎ‰οΎ‰οΎž☆゚゚

      ((o(*>Ο‰<*)o))

      Hapus
  13. Terakhirnya, jadi salah kira mbak. Saya kira mau kencan. Dan konfliknya naiknya pelan tapi kerasa "Mbrebes Mili" di ending. Keren

    BalasHapus
    Balasan
    1. whoaahhh...terima kasih buat apresiasinya ya mas supriyadi...terus terang kalau dapat komen seperti ini aku jadi semangat nulis cerpen atau fiksi lainnya lagi ☺πŸ˜ŠπŸ˜„

      Hapus
  14. kok sudah tamat, cepat sekali.. eh ternyata saya baca nya dari bawah wkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. iiiish...baca ulang lagi atuh mas intan

      dari atas

      jangan dari bawah huhu πŸ˜‚πŸ€£

      Hapus
    2. wkwkwk maklum mbak efek masih lapar yg penting komen :D

      Hapus
    3. baca lagi dong mas ntan....trus tanggapannya tulisin lagi 😁☺πŸ˜„

      Hapus
  15. Sayapun seringkali tertidur pulas tanpa selimutan, awalnya niat bikin tulisan lewat hape, sambil rebahan kususun kata demi kata sambil sesekali melihat acara TV yang samar-samar menampilkan entah gambar apa.

    Akhirnya aku pun terbangun saat alarm berbunyi dengan badan menggigil dan tak tahu sampai mana tadi malam aku menulis.... :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihihi akhirnya ga jadi cerpen tapi ya Mang?

      alarm mengacaukan segalanya iya ga sih πŸ˜‚

      Hapus
  16. Dan yg terbaring dipeti mati itu..... adalah aku.


    bener gak kalo saya terusin baris akhirnya seperti itu??? hehe... :D
    merinding juga bacanya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah 100 buat penghuni 60 !!!

      Makasih yah uda beneran baca, alhamdulilah ya Alloh masih ada yang sudi baca cerpennya mbul #terharu si mbul

      wkwkwkkw

      makasih ya 😁☺

      Hapus
  17. Wokey, ini story ning cerpen ..., masih bolehlah tergopoh lari ke arah kompor, tapi kalo di keseharian, hahaha ...ojooo .., mengko ndakn mlayu nyungsep tak syantik ning cedar kompor ♨️πŸ˜‚.

    Astaga, kujadi keingetan di kotaku juga ono warung makanan ekstrim nyedian aneka olahan masakan daging nyleneh kayak kuda, ular, biawak ..., aku cuma ngliatinnya sekilasan, ora wani nyedak , gahaha ..., gilo ndisik delok kumpulan ular ning kotak kawat ketok podo usil gronjalan 😱

    BalasHapus
    Balasan
    1. haruse mlakune thimik thimik ya mas him ben ga kejungkel wkwkkwkw

      gilo banget ngliat something mlungker yang bergerak gerak di kotak kawat...😱

      Hapus
  18. Untung lagi gak sedang makan sate atau sop daku kak baca ini, soalnya ada nama-nama makanan yang bikin merinding hihi.

    Jadi kembangnya, lalu yang ada di dalam taxi? Mereka tidak menyangka termasuk si tokoh aku bahwa si akunya itu sedang jalan-jalan menuju peristirahatan terakhir 😭

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau lagi makan sop daging kebayangnya jadi daging reptil ya? 😜

      hu um, akhir ceritanya agak kubuat sedikit menyayat hati hihi

      kasihan dia, belum ketemu oangeran hatinya eh udah dipanggil duluan oleh-Nya 😱😭

      Hapus
  19. Dialog engkoh-engkoh nya bernada wkkwkwk
    Pas banget kata-kata nya Mbak Mbulll

    Awesome story

    P.S.
    Bukannya gak mau dikubur, tp kok kayaknya dipetiin dan dirias dan jadi tontonan orang-orang datang itu menyenangkan juga ya kayaknya wkwkwk #LaluDigamparMbakMbul

    BalasHapus
    Balasan
    1. sambil disulihsuarakan pas scene engkoh-engkohnya ya Ul wkwkwkk

      plak-plak! gamparan sudah mendarat πŸ˜‚πŸ€£

      Hapus
  20. Cerita yang sangat menarik
    Sampai saya bingung mau komen apa
    emang dimana mana, kalau cewek cantik sering dapat diskon.
    Soal ular, saya pernah makan
    Kadang memang ada orang yang menganggap beli ini dan itu, dikiranya foya-foya, dianggap membeli barang yang tidak penting.
    Tapi tidak memandang dari sisi lain, bawah roda ekonomi berjalan. Penjual bunga jadi punya duit, karena ada yang membelinya. Sehingga anak dan keluarganya bisa tercukupi kebutuhannya.
    Nah, saya jadi penasaran, siapa itu yang meninggal?

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulilah trims apresiasinya mas djangkaru


      dapat pandangan lain soal beli sesuatu yang ga dipandang dari sisi pemborosan semata, karena ternyata menghidupkan arus perputaran uang dari sisi penjualnya yang mana bisa mencukupi kebutuhan anak istri πŸ˜„☺

      sekarang yang lebih mengherankan lagi bukan siapanya yang meninggal, tapi meninggalnya karena apa? nah itu yang masih misteri juga πŸ€”

      Hapus
  21. Di bagian Cik Nana muncul dengan sedan sudah bisa mengira kisah akhirnya bakal seperti apa, dan ternyata benar.

    Saya cuma bingung kisah-kisah hantu semacam ini atau sosok yang baru meninggal apakah benar bisa menunjukkan dirinya ke orang lain untuk pamitan atau apalah, atau justru ada jin yang menyerupainya.

    Masalahnya, dari cerpen-cerpen yang pernah saya baca termasuk tulisan ini, si 'aku' pasti tuh belum sadar bahwa dirinya sudah mati. Serupa twist begitulah. Yang sialnya semakin enggak mempan buat saya. Meski begitu, saya senang bisa terhanyut dalam membaca cerpen lagi tanpa peduli kisahnya akan bergulir ke arah mana, sebelum di bagian Cik Nana yang akhirnya mulai membatin: Oh, arahnya ke sini ternyata. Pendek kata: keren cerpennya, Mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul memang kalau udah sering baca dan bikin cerita endingnya udah kebaca seperti apa, wkwkwkwk

      masih harus kudu banyak belajar lagi bikin kejutan di lain hari berarti gw yog

      πŸ˜€

      kalau yang itu jujur aja gw kurang tau, soalnya nulis cuma berdasarkan imajinasi aja :D

      okey, thengs yoga uda baca ☺😊

      Hapus
  22. Ah pantas saja supir taxinya memberikan tatapan penuh tanda tanya..
    #sudahkuduga

    Sama dgn Dodo, yg menarik perhatian adalah warung tendanya. Kalau ada di daerahku bakal laris sama yang mau nitip jual biawak Mbak Nit, masih banyak berseliweran soalnya hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mba annisa...sebenarnya dari awalpun uda memberi sinyal sinyal menuju ke horror yak hihihi


      biawak memang masih dipercaya sebagian orang untuk obat oenyakit kulit ya mba nissa...begitupula ular. Minyaknya juga πŸ˜„

      Hapus
  23. Otak saya terlalu lelet untuk bisa memahami cerpen ini kak. πŸ˜…
    Untung banyak yang komentar dan menjelaskan benang merahnya. Jadi saya baca dua kali dan lumayan pahamlah. Ternyata ada plot twistnya. Cerpennya keren, saya suka.

    BalasHapus
    Balasan
    1. berarti artinya saya kudu belajar bikin sesuatu yang lebih wow lagi ke depannya ya kak nandar ?

      masih harus banyak belajar saya

      trims sudah mengapresiasi cerpen saya kak πŸ˜ƒπŸ˜Š

      Hapus
    2. Gak bisa jawab sih kak, soalnya saya juga masih awam hehe.
      Btw saya manggil kakaknya apa ya? Kak gusty, kak Nita, atau Kak mbul. Saya panggil kak Gusty aja lah, biar beda sendiri. πŸ˜…

      Hapus
    3. ah masa sih, cerpen kak nandar juga bagus bagus πŸ˜„

      iya boleh kok dipanggil kak gusty ☺

      Hapus
  24. Halo Mbul manis apa kabar? Hahahha.... cerpen enak dibaca pas santai sambil nonton tipi wkwkwkwk plus ngopi ditemenein roti bakar juga. Btw, kalau orang meninggal mukanya kayak bayi tanpa dosa semoga masuk surga ya aamiin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hallo juga mba nurul syantik 😍

      alhamdulilah kabar baik πŸ˜πŸ˜ƒ

      iya mba nurul asal ga pas mode malem banget hihi agak creepy dikit soalnya...

      amin mudah mudahan begitu πŸ˜‡☺😊

      Hapus
  25. mbak nita maaf aku ngetes komen dulu ya kok beberapa hari ini mau mengunjungi blog dikau selalu error huhu

    aduh endinge nyesek
    tapi kukasih jempol jempol dulu soalnya engga sesuai dengan apa yang aku kira
    mbak nita sudah berhasil mengelabuhiku

    penggambaran suasana sepanjang perjalanannya juga bagus dan hampir nyata

    apalagi yang pas di fotokopian..
    lanjutkeun..
    lanjutkan

    BalasHapus
    Balasan
    1. eh apa angel diklik ya mas ikrom? apa angel dipencet kolom komentare..tapi kalau versi mobile gampang mas, lebih responsif..suwun wes mindogaweni dolan blogku mas...ntar ke blogmu takrapel seperti biasa yak

      ah bisa aja nih mas ikrom, esih perlu akeh sinau dari cara bikin cerpene mas ikrom sik wes rasa rasa koyok cerpen majalah horison xixixiix

      Hapus
  26. "... Lu olang kelja yang benel ... he he ... Lu bikin celita tu bikin olang pada teltawa ... Ceritanya bagus dan kocak.Selamat istirahat, ananda Nita.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya bunda, biar ada sedikit hiburannya bunda, nita harus belajar banyak dari cara menulis bunda juga yang elok dan indah kiasan kiasannya ☺

      selamat istirahat juga bunda 😍☺😊

      Hapus
  27. Baca komen banyak yg heran sama sate kobra & biawak deneng yo?

    Aku ga heran sih, soalnya ditempat tinggalku yg di Bekasi itu banyak bgt penjual sate biawak berjejer sepanjang jalan.

    Dan suamiku juga penggemar sate biawak, katanya sate ini bisa buat pencegah dan obat gatal atau apa mbuh aku yo ora mudeng. aku ngeri bgt ngebayangin biawak hidup, tapi kalau suamiku makan sate biawak aku pasti ikutan nyicip sih hahahha.

    Yang paling bikin ngeri itu penjualnya lagi motong2 daging biawak itu ditempat, ngeri banget sih ini, wlpn biawaknya udah ga ada kulitnya, tetep aja geli mbul.

    Kalau sate kobra suamiku jg udah penasaran banget pengen cobain, cuma belum aja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. piye sayy rasa biawak ? wkwkwk...apakah sekenyal daging yang umum ada di pasaran wkwkkw

      iya biasanya reptil ginian jarene bisa untuk obat gatel say...ular juga...ya agak agak ngeri bgeri sedap nek bayangin mentahane wkwkkwk...

      Hapus
  28. Mba Nita... kemarin beberapa hari yg lalu. Aku ndak bisa komen di blog mba.. huhuhuπŸ₯²

    Btw, Ya Ampun Mbak... Mbak Mbul tuh pinter banget sih kalau bikin cerpen.. haha. Kalimatnya itu lohh, pilihann katanya juga. Aku smpe termenung.. hahah πŸ˜†πŸ˜†

    Mba tadinya aku smpet error sama kata2 cerek. Haha. Nggak ngerti maksudnya apaan.πŸ˜…πŸ˜… cerek itu teko ya ternyata.. hahah.

    What 😱 horror banget ular kobra biawak dikulitin. Haha.

    Ternyata bunga Lili putihnya buat si Putri Ibunya ya..πŸ₯² sedih banget.. tapi seperti biasa bagus mbak mbul cerpennya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya iyalah bagus cerpennya, soalnya mbul kan guru aku dalam membuat cerita, jadi pastinya bagus dan detil kata kata nya mas Bayu.πŸ˜ƒ

      Hapus
    2. bayu, sa ae loh xixixi

      belom seberapa dibanding mas agus guru ku bayu wkwkkw...

      kalau mas agus sekali bikin cerpen sambil merem juga jadi...mana stok judulnya banyak..kalau aku luamaaa banget...mana editingnya berhari hari pula wkwkkw

      tapi seneng kalau temen temen mau baca.jadi semnagat lagi

      waduh kenapa error ya? apa dari sononya ya...ga aku apa apain sih ni blog huhu

      Hapus
    3. mas agus, kebalik atuh amaaaas aguuss wkwkwkwk

      bukannya si mbul yang muridnya hahhahaha

      kata katanya itu sambil takresapi mas biar kerasa feelnya gitu

      #ΰΈ…(ΰΉ‘⊙Π΄⊙ΰΉ‘)ΰΈ…!!(✪Ο‰✪)/

      Hapus
  29. Lah, kok belum ada afdetan baru biasanya cepet ??? Lagi dapet mungkin atau lagi liburan ??? Ya, dah tar tari balik lagi. πŸ™ŒπŸ™ŒπŸ™ŒπŸ‘πŸ‘πŸ‘

    BalasHapus
    Balasan
    1. bentar tari, lagi ngedraft 2 postingan sekaligus...tungguin yak 😍☺😊

      Hapus
  30. Waduhh kak mbul aku telat koment, baru sempat, kesibukan selalu menyita waktu. Dari dulu saya pengen buka kedai bunga meski saya seorang laki-laki tapi saya suka sekali sama bunga-bunga. Gak tau kenapa. Haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. hayo monggo buka kedai bunga saja mas eko, buat penyaluran hobi πŸ˜„

      kayalnya ga pa pa kok laki atau perempuan suka bunga hehehe

      Hapus
  31. Very interesting! During the day, we do many different things but when we go to bed for sleep. We forget all things. Have a great Friday to you and your family.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thank's a lot. Have a great day too dear ☺😊

      Hapus

Komenin dong...tanpa kehadiran kalian apalah arti aku menulis....
kalian penyemangat setiap bulir kalimat dalam blog ini :*
Namun jangan komentar SARU atau SARA ya, jika ada komentar dengan unsur tersebut, dengan berat hati akan aku HAPUS .

Oh ya, Dilarang juga mengambil gambar/foto atau menyadur tulisan tanpa mencantumkan sumber atau seijin pemiliknya. Apalagi untuk kepentingan komersial atau lomba. Thx ^____^