Rabu, 10 Maret 2021

Cerpen : Cempedak




Oleh : Gustyanita Pratiwi

Sifat : fiktif belaka



Sudah hampir satu minggu cempedak yang bergelayut ranum itu membaui penciumanku. Lebih tepatnya setiap kali aku melewati 7 buah rumah petak dekat kali. Rumah yang ketujuh-tujuhnya berdinding tripleks sebagai pondasi utama~yang kedua ujungnya terdapat sebuah persimpangan. Maka aku akan ke sana, pada salah satu ujungnya--paling kiri, melangkah barang 10-15 meteran hingga sampailah aku pada sebuah pekarangan yang tidak terlalu besar. Hanya sepersepuluh dari ladang Bapakku yang ada di kampung. Pun di situ bisa kujumpai 5 pohon besar nan tinggi menjulang. Beberapa diantaranya ada yang seperti sarang demit. Singup, besar, wingit. Dengan beberapa juntai dahan yang menggamit pada kanan kiri batang, serta dedaunan yang membentuk kanopi, lebar. Satu-dua menggantung cempedak yang cukup sedang sebesar pepaya. Ada pula yang masih cikal bakal. Juga pohon yang masih lencir. Mungkin baru 3 tahunan ditanam pemiliknya. Atau malah tumbuh sendiri. Liar. Tapi, pohon-pohon itu tumbuh begitu subur. Jikalau liar, rasanya tak akan mungkin seperti itu. Cepat mendatangkan buah merupakan salah satu ciri dari sistim vegetatif.

Namun sudah kutanyakan beberapa kali, tidak ada yang tahu siapa pemilik pohon-pohon itu. Pemilik pekarangan wingit itu. Salah satu dari ketujuh rumah petak juga sudah kujadikan sasaran pertanyaanku. Bapak yang bermukim di rumah paling ujung sebelah kanan misalnya. Seorang Bapak dengan jenggot lebat di dagunya yang sigar dua. Ia tukang es bon-bon keliling. Saban hari memutari kampung, meneriakkan dagangannya dengan suara lantang hingga kanak-kanak yang mendengar akan datang mendekat, berlarian ke arahnya, menyodorkan 2 keping logam Rp 500-an dan es warna-warna itu sudah berada di tangan dan menjadi hak milik yang sah. 

"Es yang saya buat memang dicampur dengan buah. Tapi bukan cempedak." ujar laki-laki itu dengan raut muka lugu, khas rakyat kecil pinggiran kota. 
"Lalu apakah pohon itu tumbuh liar, Pak?" tanyaku kemudian.
"Entahlah. Setahu saya pohon itu sudah ada sebelum rumah petak ini dibangun. Saya baru sewa sekitar 3 tahun yang lalu. Tepat ketika rumah petak ini diresmikan oleh yang empunya rumah. Memangnya kenapa?"
"Ah tidak. Sekedar bertanya. Maaf sudah merepotkan." Aku pamit dengan langkah lunglai. Tak kuutarakan maksudku bertanya. Karena kata Bapak itu, pohon cempedak yang ada di belakang rumahnya sudah tumbuh bertahun-tahun semenjak ia pertama kali ia menghuni rumah itu. Bertanya pada rumah di sebelahnya, kupikir akan mendapatkan jawaban yang sama. Mereka juga pasti angkat bahu. Mengatakan  bahwa tak ada yang tahu siapa pemilik pohon-pohon cempedak itu. Tak ada yang tahu siapa yang berkuasa atas pekarangan wingit itu.

***

"Pulang dengan tangan kosong lagi, Kang?" cibir istriku dari bale-bale yang ada di ruang depan. Mukanya kecut saat tahu aku memberinya harapan palsu. Harapan yang sudah satu minggu ini ia utarakan padaku. Ia idam-idamkan dengan amat sangat, sampai merengek-rengek segala  layaknya bocah kecil yang minta dibelikan mainan. 

Ya, karena ini Bulan November. Saat-saat dimana kandungan istriku menginjak usia yang ke-7 bulan~jalan. Dan itu membuatku semakin jengah duduk di rumah. Meratapi keluh kesahnya setiap hari yang lebih mirip kawanan lebah. Rasanya apa yang kulakukan selalu salah di mata dia. 

Pernah suatu kali saat perutnya masih kempis~~sekitar 3 bulanan, ia minta dibelikan karedok. Dengan ogah-ogahan aku bangun dari mimpi yang belum tuntas. Malam-malam jam 01.00 dini hari, coba bayangkan! Kudengar, ia mimpi makan karedok di warung dekat perempatan lalu mengigau hingga membuat kupingku pekak. Sempat diselingi dengan acara ngambek segala istriku itu karena aku tak segera beranjak dari tempatku berbaring. 

Lalu dengan segan kukayuh sepeda ontlong warisan Bapak menuju ke perempatan jalan. Di sana tukang karedok yang biasa mangkal hanya menyisakan meja bangku yang ditumpuk. Tak ada karedok yang dipajang bersamaan dengan menu lainnya. Lotek, ketoprak maupun gorengan bakwan. Tentu saja karena ini malam hari jam 01.00. Adanya jelas-jelas di siang hari saat terik mentari masih menggantung di atas kepala. 

Berulang-ulang istriku itu kujelaskan bahwa mana mungkin pada hari yang sudah selarut ini ada mahluk yang bernama manusia. Terlebih yang namanya tukang karedok. Paling-paling yang ada cuma pemuda mabuk dengan botol minuman di tangan. 

Tapi, dasarnya kepala batu, istriku itu tak mau tahu. Tutup mata, tutup telinga. Pokoknya jika tak dikasih keinginannya, aku lah yang bakal disepaknya keluar kamar.

Aku pun berputar-putar ke seluruh muka jalan. Barangkali masih ada keajaiban, warung yang buka satu-dua misalnya. Namun, kenyataannya lain. Warung-warung yang buka jelas bukan warung yang menjual karedok, melainkan botol-botol beraroma menyengat dengan busa yang menyembur-nyembur saat isinya dituangkan ke dalam gelas berukuran jumbo. 

Maka kuputuskan untuk tidak segera pulang. Aku jengah mendengar gerutuannya sepanjang hari, lebih-lebih jika sampai keesokan harinya tak kudapatkan apa yang diinginkannya itu. Uh....bisa budek seluruh kupingku. 

Tetapi, setelah kupikir-kupir tak lebih baik juga aku masih berada di jalanan seperti ini. Kupu-kupu malam banyak berkeliaran, memperlihatkan tubuh semok mereka yang terbalut busana ngejreng dengan bagian dada terbuka, meskipun setengahnya adalah sumpalan kain. Berlenggak-lenggok dengan bulu-bulu ayam warna-warni yang disampirkan pada lengan yang berotot, seolah tak sadar bahwa sebenarnya mereka adalah lelaki. Lelaki yang mempunyai 2 sisi. Sisi satunya berdarah maskulin, namun sisi satunya lagi kemayu. Sungguh kehidupan yang sangat keras demi sesuap nasi. Aku tidak akan komplain akan hal itu. Sebab aku pun sama-sama susahnya dengan mereka. Aku hanya ingin menghindarinya. Maka sebaiknya kusinggahi saja surau dekat pos kamling. Di sana, kurebahkan tubuh ini yang terasa betul capeknya. Akhirnya tertidur beralaskan sajadah beraroma apak di bawah baling-baling kipas angin tua yang terus berputar.

Pulang-pulang istriku marah luar biasa. Mukanya cemberut. Tak ada senyum yang menghiasi bibirnya. Ia menyambutku dengan berkacak pinggang. Alisnya naik beberapa centi, menegaskan bentuknya yang bagai celurit. 

"Akang ini kemana saja?! Ditungguin semalaman nggak pulang-pulang. Akang cari apa lagi di luar? Aku kurang apa Kang? Istri lagi hamil begini malah ditinggalin! Akang punya perasaan nggak sih?" berondong istriku tanpa ampun.

"Heh! Kalau bicara jangan asal njeplak saja. Saya keluar kan nyari pesanan kamu. Nggak ingat? Tadi malam sudah menyusahkan orang? Minta karedok selarut itu. Mikir nggak kamu?! Bisanya marah-marah doang. Capek nih saya!" 

"Karedok?" istriku berubah ekspresi. Ia jadi kelihatan seperti orang linglung  Lalu tertawa kecil yang membuatku bertambah jengkel. 

"Oh itu...Akang ini gimana sih. Aku kan lagi ngigau. Malah ditanggepin serius." tertawanya semakin lebar, sedangkan emosiku naik ke ubun-ubun. Kubanting pintu kamar dan istriku merasa bersalah telah mempermainkanku.

***

Menginjak bulan yang ke-4, lagi-lagi aku dibebankan tugas yang sama. Kini giliranku yang kena. Aku, laki-laki dari istriku ini ternyata mengalami juga yang namanya ngidam. Yang ini lebih parah. Pasalnya ngidamku ini di luar dugaan. Kukira ngidam itu hanya sebatas makanan. Ternyata tidak. Kata mertuaku, jabang bayi dalam kandungan istrikulah yang memberi isyarat berupa telepati untuk melakukan segala hal yang diinginkannya. Meskipun  terkadang aneh dan nyleneh, juga merepotkan, tapi mertuaku bilang, penuhi saja keinginannya. Sebab jika sampai dilanggar maka akan terjadi sesuatu hal yang di luar rencana. Pun sebaliknya jika keinginan itu muncul lalu ditanggapi dengan cara yang salah, maka tak ayal hal-hal serupapun dapat terjadi. 

Aku sempat bergidik mendengar ceritanya itu. Maklum, aku termasuk orang yang gampang terbawa oleh cerita-cerita macam itu. Antara percaya dan tidak, namun tetap saja rasa percayaku melebihi ambang batas. 

Beginilah akhirnya diriku terombang-ambing dalam arus kegelisahan. Dan kegelisahan ini makin menjadi-jadi tatkala otakku sudah dipenuhi oleh hasrat untuk memiliki kendaraan roda dua. Keluargaku memang notabene kurang mampu. Katakanlah fakir. Setiap hari aku bolak-balik naik bus bobrok jurusan Cirebon-Karawang hanya untuk membantu bisnis Bapakku soal ternak kambing dan kebun sayur. Bisnis ini telah dirintis Bapak semenjak kami 5 bersaudara masih kecil-kecil. Dan aku di Cirebon tak punya usaha satupun, sedangkan ke empat lainnya sudah sukses di bidangnya masing-masing. Mungkin benar kata orang, anak ragil susah lepas dari cengkeraman orang tua. 

Kembali ke masalah ngidam. Ternyata aku ingin sekali punya motor. Entah bagaimana caranya, pokoknya itu motor harus bisa kudapatkan sesegera mungkin. Lalu dengan semangat menggebu-gebu kulirik isi tabungan yang ada di bank. Dan ternyata hanya berkisar Rp 3 jutaan. Sudah pasti kurang. Meskipun hanya beli joknya saja.

Aku pulang dengan tangan hampa. Namun saat melintas di jalan raya, aku melihat sebuah harley davidson milik Jampang Bogel, preman pasar yang sering mangkal di tikungan gang. Kerjanya merampas harta orang atau menyuiti gadis-gadis lewat. Ah, saat itu kulihat yang bersangkutan sedang tidak ada di tempat. Langsung saja kuhampiri miliknya itu. Sebuah motor yang cocoknya untuk orang macho, gagah, lagi perkasa persis seperti yang empunya barang. Motor itu kupegang bagian joknya, empuk dan lumayan lebar. Belum lagi tampangnya. Masih kinclong dan spionnya berkilat-kilat ditimpa sinar. Tiga buah lampu yang super besar menghiasi bagian atas plat motor. Wah, kelihatannya memang 'wah'. Apalagi jika aku masih muda, masih gondrong, juga perut belum berbantalkan lipatan lemak seperti ini, pastilah memang kelihatan 'wah'.

Namun belum sempat kunaiki, tiba-tiba Jampang Bogel datang bersamaan dengan kawannya. Dengan garang, matanya seperti mengulitiku hidup-hidup. Rambutnya yang kriwil-kriwil dihempas angin menambah keseraman pada tulang pipinya yang bopeng. Apalagi saat kulihat lengan itu, lengan yang gembung berisi, penuh dengan rajah ular yang melilit-lilit. Aduh! Apa aku sedang cari mati? Kudengar baru sebulan ini ia bebas dari rutan Salemba akibat skandal pembantaian seorang bocah berusia belasan tahun. Aduh! Nyatanya memang aku sedang cari mati! 

Tiba di rumah, istriku memekik nyaring. Matanya nanar melihat wajahku bonyok-bonyok biru lebam tidak karuan.

***

Kembali lagi ke Bulan November. Istriku makin hari makin sentimen dan sering uring-uringan. Tubuhnya semakin melar dengan perut melendung seperti menggembol buah semangka di depan. Ia sering putus asa saat mengenakan baju-baju kesayangannya yang kesemuanya sudah tidak muat lagi di badan. Kadang juga marah melihat mukanya sendiri. Mungkin perubahan hormon. Katanya : "Aduh Akang! Wajahku jadi berminyak, pipiku tembam, sering keringatan, bibirku jadi ndower. Pokoknya jadi nggak kayak dulu. Huft!" Ia berteriak-teriak seorang diri sambil berputar-putar di depan kaca. Semakin mengaca, semakin kesal dirinya. 

Sampai pada suatu hari, ia ngidam hal-hal yang aneh-aneh lagi. Kalaupun itu rujak mangga masih bisa kutoleransi. Tapi kali ini ia ngidam cempedak. Buah yang semakin jarang tumbuh di kota ini. Tergusur oleh lahan swasta atau orang kaya berduit. Tak ada lagi lahan yang cocok untuk ditanami pohon-pohon ini. Lebih baik dibangun sesuatu yang sifatnya komersil, begitu kata pejabat setempat yang mengesahkan perizinan dan nyatanya membuat suasana semakin susah. 

Hingga kini ia terus saja menggerutu karena aku belumlah meluluskan permintaannya. Ini memang paling parah dari sekian permintaannya yang sebelumnya. Mungkin di Jakarta banyak. Tapi untuk ke Jakarta saja butuh ongkos tidak sedikit. 

"Untuk apa jauh-jauh dan susah-susah hanya untuk beli buah sepele begini?" Aku mendengus dalam hati.

"Coba cari di pasar sini Kang!" Istriku merajuk. 

Lalu aku putari seisi pasar, pedagang buah pinggir jalan, juga simbok-simbok penjaja sayur yang biasa keliling setiap pagi. Tapi semua nihil. Memang dasarnya buah langka. Jadi setiap sudut manapun tak jua kutemukan buah yang bernama cempedak itu. 

Pernah aku protes padanya. "Kenapa sih kamu ngidam yang aneh-aneh saja? Kenapa tidak nangka saja? Cempedak kan susah. Nangka kan lebih manis rasanya," kesabaranku mulai pupus.

"Akang nggak tahu sih rasanya hamil itu bagaimana? Pegal Kang, capek...kesel...bawaannya pengen muntah. Kalau seandainya Akang yang jadi aku, pasti Akang juga akan merasakan hal yang sama seperti aku. Akang mau kalau sampai terjadi apa-apa sama jabang bayimu ini?"

Ya begitulah. Selalu pada akhirnya aku yang mengalah. Menelan ludah--kehabisan kata-kata. Pasrah saja ditelanjangi kalimat-kalimatnya yang penuh dengan pembelaan diri.

***

Aku teringat akan pekarangan wingit itu. Pekarangan yang ada pohon cempedak sebanyak 5 buah itu. Ah! Benar juga. Kenapa tidak terpikirkan olehku? Kenapa tidak dari kemarin-kemarin saja pekarangan itu muncul dalam benakku?

Sesegera mungkin aku harus kembali ke tempat itu. Mana tahu ini bisa jadi jalan pintasku untuk mengabulkan keinginan ngidam istriku. Tekadku pun bulat. Tepat setelah asyar, aku pamit kepada istriku dengan alasan mau main ke rumah sejawat. Tanpa prasangka apapun istriku pun mengangguk lalu ia berlalu menuju ke kamar untuk istirahat siang.

Dengan hati berseri kulangkahkan kaki menuju ke kampung sebelah yang jauhnya tak seberapa. Pikirku, karena tanah ini tak bertuan, maka siapapun bebas untuk memetik buah-buahan yang ada di situ. 

Langkahku semakin ringan manakala ke-7 rumah petak yang menjadi patokan pekarangan itu sudah terlihat di depan mata. Tinggal belok ke kiri lalu masuk ke persimpangan. Sampailah aku ke pekarangan yang dimaksud. Yah, suasana sekitar situ begitu sepi. Tak ada orang yang biasanya lalu lalang tak jelas arahnya. Dengan demikian, inilah kesempatan terbaik untuk memetik cempedak itu. Maka tak berlama-lama lagi akupun mengambil sebuah galah bambu yang ujungnya sudah kuselipkan pisau--kubawa dari rumah, saat istriku sedang tidur. 

Lalu galah kuayunkan ke tangkai dahan. Kuusik-usik sampai tangkai itu tak kuat lagi menahan bobot cempedak. Dan...Blugh!!! Suaranya nyaring sekali, jatuh ke atas tanah yang berdebu, mengakibatkan terbentuknya tapak bulat lonjong yang cukup besar. 

Dengan gopoh kuangkat buah ranum itu dan membawanya dengan sebuah kantong plastik besar. Baunya harum seperti permen karet, membuatku yang sedang berpuasa ini hampir-hampir tidak kuat. Kalau saja akulah sang pemilik pohon, maka sudah dari kemarin-kemarin kubawa pulang buah itu. Biarkan matang dalam timbunan daun sengon, hingga mendatangkan aroma khas yang menyengat disertai dengan warna kuning gading yang mencolok. 

Jika sudah masanya dibelah, maka akan kuundang bocah-bocah kampung barang satu-dua orang untuk berpesta menghabiskannya. Duduk bersila, melingkar sambil menatap nanar ke arah cempedak yang ditaruh di tengah-tengah mereka. Memakan sesuatu akan terasa lebih afdol jika disantap secara bersama-sama bukan?

Tiba-tiba dari ujung jalan, seorang bocah dengan sepeda mini merahnya menumbukku dengan laju kecepatan sedang. Ia seakan-akan muncul begitu saja tanpa tahu ada aku di depannya. Mungkin matanya sudah rabun sehingga dia bukannya melewatiku, malahan menumbukku. Ia jatuh, begitu pula aku. Kami sama-sama terjengkang. Cempedak yang kupegang lepas dari tanganku. Benda itu bergulir dari kantong plastik yang membungkusnya. Buru-buru anak itu merapikan diri. Ia minta maaf lalu berdiri ke tempat semula. Saat akan menegakkan sepedanya, ia melihatku mengejar cempedak yang berguling di tanah. Tiba-tiba ia berseru, "Paman habis memetik nangka kecil yang ada di seberang sana?" tanyanya dengan nada menginterogasi.

"Benar. Sebab yang Paman tahu pohon itu bukan milik siapa-siapa. Jadi ya Paman ambil saja," jawabku enteng.

Anak itu terus menatap ke arahku. Matanya yang bulat hitam memperlihatkan sebuah jurang tanpa dasar. Ekspresi seperti memperingatkan.

"Ati-ati lo, tempat itu serem. Angker!!! Kalau ada apa-apa, pasti karena jin pohon itu murka," si anak berkata lagi dengan nada naik turun. Intonasinya dilebih-lebihkan membuatku sedikit geli.

"Ah, sudahlah! Paman nggak percaya sama hal-hal begituan. Itu cuma cerita Makmu saja," bantahku sambil mesem.

"Ih!!! Nggak percaya ya udah! Ingat ya, Paman sudah aku peringatkan!" Anak itu bangkit. Ia berbalik sambil menuntun sepeda mini merahnya itu. Ia meninggalkanku dengan muka mewanti-wanti--yang sayangnya bagiku hanyalah lelucon belaka. Ya lelucon untuk membodohi orang. Semua orang toh akan berpikikiran sama, lha wong pohonnya tinggi gede. Tentu mungkin benar bahwa pohon itu ada penunggunya. Tapi toh aku akan lebih tenang jika istriku tak lagi menggumam dan merengek-rengek meminta cempedak sampai berbusa-busa. Aku akan membuat istriku lega karena ngidamnya terpenuhi.

Kulihat si bocah itu kemudian menghilang. Dan akupun memilih untuk mengabaikannya lalu pulang ke rumah.

***

"Idaaaah! Idaaah! Ini Akang bawakan hadiah untukmu!" teriakku seraya melangkah mencari-cari keberadaan istriku. Kulihat dapur tampak kosong, kamar kami, begitu pula ruangan yang lain. Suasana rumah cukup lengang. Yang ada hanya derik-derik jam dinding hadiah dari bank saat kali pertama membuka rekening.

Tiba-tiba Jarwo tetanggaku yang tukang ojek buru-buru masuk tanpa mengucap salam. Langkahnya terengah-engah layaknya habis dikejar macan. Ia berteriak-teriak memanggil namaku.

"Wan! Istrimu Wan!" Serunya sambil terengah-engah. Bicaranya pedot-pedot membuatku semakin bingung.

"Ada apa Wo, ngomong yang jelas!"
"Anu....e...ini......Wan...e...itu...em...ah..." Katanya tambah bertele-tele.
"Anu...anu apa sih Wo, yang jelas dong!"

"Istrimu Wan. Si Idah...anu...Wan..."

"Iya si Idah teh kunaon?"
"Alah...susah ngejelaskeunnya."
"Cepet atuh Wo. Mau kutempeleng biar sadar?"
"Istri kamu Wan....Idah melahirkan!"

Bagai tersambar petir di siang bolong, betapa terkejutnya aku atas perkataan Jarwo. Sejenak aku bengong. Masih belum percaya apa kata tetanggaku barusan.

"Di mana si Idah sekarang?" tanyaku buru-buru.
"Rumah Bidan Kasim. Tapi Wan...e..anu..."
"Ada apa lagi sih?"
"Itu ...e..." Jarwo kembali berteka-teki.
"Ah, sudahlah! Nggak usah dibahas dulu. Cepat antarkan aku ke sana!"
"Tapi Wan...ini soal...."
"Sudah, cepat!!" perintahku tegas. Aku sudah bosan mendengarnya ber-ah-eh-oh-anu.

Kami melaju dengan sepeda motor Jarwo. Tujuan kami hanya satu, rumah Bidan Kasim yang terletak di dekat jalan raya kota kami. Seorang bidan paruh baya yang setiap bulan selalu mengontrol kandungan istriku. Bidan yang raut mukanya segar dengan lesung pipit di kedua pipinya. Ia sangat dikagumi oleh istriku. Mungkin saat ini istriku sedang berjuang antara hidup dan mati dengan bantuannya.

Sementara itu, aku dan Jarwo terus melesat. Tanpa tedeng aling-aling tancap gas motor, sampai-sampai rumah kubiarkan terbuka begitu saja. Ah, biarlah! Yang penting aku harus melihat si Idah dulu. Lagi pula paling mertuaku nanti singgah sebentar untuk menjaga rumah kami. Namun, di lain pihak, aku masih belum siap sama sekali. Bagaimana nanti bayarnya. Bagaimana nanti bayinya. Laki-laki atau perempuan. Bagaimana proses persalinannya? Bagaimana keadaan bayiku? Istriku? Selamatkah kedua-duanya?

Ah...ribuan pertanyaan ini terus saja menohokku. Padahal uang belum ada. Segala peralatan bayi belum kusiapkan. Bagaimana pula kendurinya? Semua itu masih blank di pikiranku. Belum ada perencanaan sama sekali. Semua terjadi begitu saja. Tepat ketika usia kandungan istriku baru berjalan 7 bulan. Ah...apa anakku akan lahir sehat, meski ia prematur?

Suasana kemrungsung ini sempat melingkupi pikiran. Dalam hati yang terdalam, kurasakan akan ada sesuatu yang tak beres akan menimpa. Entah dalam bentuk apa. Namun kucoba untuk bersikap wajar, seperti tak terjadi apa-apa.

Hingga pada akhirnya, suara mesin motor merendah. Kami sudah sampai pada pelataran rumah bidan Kasim yang sederhana. Tanpa ba-bi-bu lagi kutinggalkan Jarwo yang sibuk menambatkan motornya di parkiran. 

Aku memasuki ruang bersalin dengan peluh berleleran. Keringat yang membanjiri dahiku semakin membuat wajahku tampak kinclong dan berminyak. Saat kulintasi ruang tengah, Bidan Kasim langsung berjalan ke arahku.

"Bu Bidan, istri saya dan bayinya?"
"Pak Wawan, syukurlah Anda segera datang. Mengenai bayi Anda, Anda dapat bernapas lega Pak, bayinya laki-laki, tapi sedang dibawa ke ruang khusus karena prematur," katanya sambil tersenyum.
"Lalu istri saya?" tanyaku lagi.

Sejenak Bidan tua yang kelihatan masih bugar itu terdiam. Dahinya mengernyit seperti sedang menyiapkan kata-kata yang pas untuk diutarakan.

"Pak Wawan. Istri Bapak....Ibu Idah meskipun selamat, namun ia jadi seperti orang itu .... Mungkin karena habis melahirkan...jadi..."

"Memang kenapa Bu?"

Ada keheningan sejenak.

"Pak Wawan lihat saja sendiri." katanya sambil menuntunku masuk ke sebuah kamar, tempat dimana istriku baru saja melahirkan. Bidan Kasim meninggalkanku.

Kulihat istriku sedang tergolek lemah di tempat tidur klinik bersalin. Mukanya pucat. Rambutnya berantakan. Istriku agak lain dari biasanya. 

"Mana cempedakku Kang?!! Mana?!!" tiba-tiba aku dikejutkan oleh suaranya yang terdengar berat dan serak. Aku kaget luar biasa. Sudah melahirkan mengapa masih ingat cempedak? 

"Jawab Kang? Mana cempedak yang kupesan?!!!!" teriaknya lagi kasar. Ia mengacak-acak rambutnya lalu mencakar-cakar sprei kasur. 

"Cempedakku mana???!!!" 

"Tenang Idah!!! Tenang!! Kamu baik-baik saja kan?" 

"Akang cempedaknya mana???!!" Ia mulai membabi buta, matanya mendelik kesetanan. Aku seperti tidak dihiraukannya. Kata-kata cempedakku mana-cempedakku mana terus bergulir dari mulutnya. Bahkan bayi yang baru saja dilahirkannya tak ditanyakannya. 

Pikiranku ruwet. Aku syock melihat istriku jadi begini. Sayup-sayup kudengar penjelasan Bidan Kasim bahwa istriku harus diterapi dulu supaya emosinya stabil.  Kusaksikan ia kemudian dioper ke ambulan untuk dirujuk ke rumah sakit dan diberi serangkaian tindakan. Meninggalkanku bersama anak yang baru saja dilahirkannya.

Apakah ini karena buah dari mencuri cempedak di pekarangan wingit itu? Apakah aku telah melalaikan peringatan dari si bocah bersepeda mini itu? Ah...kupandangi raut muka bayi laki-laki yang masih merah itu dari balik kaca inkubator. Kasihan...Sekecil itu sudah harus dipisahkan jarak dengan ibunya karena buah simalakama itu. Cempedak.  


TAMAT

#cerpen yang kubuat saat aku masih duduk di kelas 2 SMA dulu, hehe..





82 komentar:

  1. Huh ... Istri ngidamnya aneh. He he ... Ternyata rada-rada stress. Certsnya menarik, selamat idul fitri, ananda Nita.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihi masih taraf latihan bunda...biar sebagus cerpen cerpen gurunya nita...

      makasih atas apresiasinya bunda ☺😊😍

      Hapus
  2. kok bisa-bisanya ngidam motor? wkwkw, |itu ngidam apa pengen beneran,,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. jangan jangan pengen beneran πŸ˜‚πŸ€£πŸ€£

      Hapus
  3. buah cempedak emang mirip kayak buah nangka ya, gw pikr emang sama :D

    hahah gw jadi mikir samday kalo punya istri dan lagi hamil ngidam yang engak-enggak pasti sambatnya kayak gini juga ya, pasti isinya cekcok mulu :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahah iya...buah cempedak mirip nangka tapi kecil..

      padahal aku bikin ni cerpen kelas dua SMA loh wkwkkw..berarti dulu pengetahuanku lumayan juga ya bisa bikin cerita tentang orang ngidam wkwkw....

      Sebenernya ni cerpen dulu pas masih sekolah pengen aku kirim ke Majalah sekelas Horison atau koran...etapi ga jadi hahahha...akhirnya cuma bisa kutulis di buku tulis aja pake bolpoin...#uda takut ga dimuat duluan

      tadinya mau kubikin misteri...kerasa misterinya ga?

      Hapus
    2. iya gw pikir juga ceritanya bakal ke misteri, asal usul pohon cikandek tu punyanya siapa yang tumbuh di pekarangan wingit :D.. tapi malah jatuhnya ke komedi ya :D

      Hapus
    3. Kalo istri mas khanif minta cempedak mah ngga apa-apa, harganya murah ini, kalo ngidamnya minta Lambo gimana.πŸ˜‚

      Hapus
    4. hah serius jatohnya komedi mas khanif wakakakkak...gagal termisteri deh ni cerpen wakkakakak....

      Hapus
    5. kalau mas khanif ngidam lambo tinggal beli di raffy ahmad kali ya mas agus πŸ˜‹πŸ€­

      Hapus
    6. Khanif yang ngidam bukan istrinye ...Tapi kebalikannya, Khanifnya yang ngidam kepengen tinggal diplanet Pluto..🀣🀣🀣🀣🀣

      Hapus
    7. nah loh mas khanif diledek kang satria nih πŸ˜„πŸ€£

      Hapus
    8. gpp di planet pluto asal ada asmirandahnya, tinggal berdua di planet berasa planet rumah sendiri hahaha :V

      Hapus
    9. husss jangan asmirandahnya mas nif, kalau yang mirip bolehlah..kalau asmirandahnya tar didatangin ama yang punya hihihi

      Hapus
    10. hehehe yang ke juga gpp sih sebenernya, asal masih single :D

      Hapus
    11. Oh ada yang mirip Asmirandah mas khanif, cakep lho. Tapi sayangnya ia tinggal di pohon cempedak dan nongol nya kalo malam doang.😁

      Hapus
    12. wkwkwk maksut gw yang "kw" typo jadi "ke" gak maksut kali ya :D

      Hapus
    13. yailah mas agus, kalo yang suka nongkrong di pohon cempedak meski canyinya banget mending buat mas agus aja, gw iklas dunia ahirat :D

      Hapus
    14. mas khanif 1 : nah loh mas nif swring kepleset jarinya wkwkwk

      Hapus
    15. mas agus : waduh langsung dibikinin tokoh penghuni pohon cempedak ama maa agus 🀭🀭

      Hapus
    16. mas nif : pantasan tadi aku agak loading hihi..taunya salah ketik 😝

      Hapus
    17. sekarang canyinya...aturan mas nif mau nulis cantiknya wkwkwkkwk

      Hapus
  4. Istri kalo ngidam aneh-aneh ya, apa ini terinspirasi dari kisah mbul waktu ngidam dulu.😱

    Kalo pohon cempedak aku belum pernah lihat, tapi kalo nangka sering bahkan dulu di belakang warung ada dua, cuma kalo malam memang agak serem, kadang ada suara gitu apalagi kalo nangkanya mau matang, bau nya harum menyebar kemana-mana dan ngundang sesuatu.πŸ˜‚

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihi mbul ga pernah ngidam aneh aneh mas....

      (。•́ωก̀。).。oO

      ini aja mbul bikin waktu SMa...kan ceritanya tugas bahasa indonesia gurunya ngasi pe er bikin cerpen, ntar cerpen yang menurut beliau okey katanya mau dikirim ke Majalah Horison wkwkwkkw....e tapi ga jadi mbul kirim uda minder duluan soalnya takut ditolak hahahhahah

      iya mas, mbul juga ngerasa kalau malem ngliwatin pohon nangka agak agak gemana gitu...hahahha...padahal kalau nangkanya mah doyan

      πŸ˜‹

      ψ(ΰΉ‘'Ϊ‘'ΰΉ‘)ψ

      sama 2 lagi yang agak serem, pohon pisang ama bambu mas, ntah kenapa ku merasa buluku merinding klo lewat situ, bulu kuduk berasa berdiri

      ΰΈ…(ΰΉ‘⊙Π΄⊙ΰΉ‘)ΰΈ…!!

      kalau cempedak banyaknya di jakarta kayaknya ya kaaan hihi. di pasar rebo 🀭

      Hapus
    2. @Agus Nangka kalau mateng mah jarang wangi...Nggak ngambreng kaya wangi cempendak.🀣🀣🀣


      Meski sejenis tetapi beda pula kalau diolah...Nangka mateng kalau dicampur terigu digoreng pasti uuunnaaakks!..🀣🀣🀣


      Kalau cempendak enaknya dibuat kolak pasti maknyus.🀣🀣 Meski dicampur terigu juga bisa sih, Tetapi lebih enak dikolak..😊😊😊


      Makanan Favorit gw tuh Nangka sama cempedak..Karena sering ada yang kirimin Nangka dari bogor kalau sudah panen...Gara2 itu jadi suka yang namanya nangka dan es dawet...Karena es dawet air gulanya akan terasa nikmat dan segar kalau campur buah nangka mateng..😁😁


      Lhaa kok Jadi ngomongin Gegaresan romannye gw..🀣🀣🀣🀣🀣

      Hapus
    3. Kalau saya lebih suka nangka daripada cempedak tapi nangkanya nangka salak bukannya nangka bubur kalau nangka bubur juga kurang begitu suka karena baunya yang lumayan tajam dan daging buahnya tipis dan agak lembek.

      Hapus
    4. Betul Huuu...Gw juga paling jijik sama nangka Bubur...🀣🀣🀣

      Hapus
    5. kang satria 1 : cempedak emang baunya lebih kuat menusuk ya kang daripada jack sparrow...eh jackfruit alias bahasa inggrise nangka 🀣

      nangka digoreng tepung...enak memang...tapi lebih kerasa manis kalau dimakan langsungan aja kataku πŸ˜„, kalau diolah pernah menangi nangka yang dimodel piscok...pisangnya diganti nangka...nah itu enak juga tuh

      cempedak dikolak? wow ku dapat ilham resep dessert baru

      (*・Ο‰・οΎ‰οΎ‰οΎž☆゚゚

      kalau dawet aku ga gitu doyan sih kang, aku mending es teler kalau ada nangkanya...jadi ntar dia collab ama alpukat πŸ₯‘πŸ₯‘πŸ₯‘ (((collab w kata hihihi)))

      Hapus
    6. aduh horror kang sat kalau dibayangin jadi bubur

      ΰΈ…(ΰΉ‘⊙Π΄⊙ΰΉ‘)ΰΈ…!!

      Hapus
    7. Mas Herman : aku juga lebih suka nangka ketimbang cempedak...secara dia kan lebih manis dan besar ukurannya kan...juga getahnya ga terlalu selengket cempedak... iya ga sih? 🀭🀭🀭

      Hapus
    8. Memang tak banyak yang suka nangka bubur, penyuka nangka salak belum tentu suka dengan nangka bubur, mas

      Kurang tau juga getah cempedak lebih lengket daripada nangka apa ngga karena hanya beberapa kali makan cempedak itu juga udah dikupas dan cuma makan satu mata buat ngilangin pengen..hihihi

      Hapus
    9. kalo gw lebih suka buah pepaya :D

      Hapus
    10. kok aku malah baru tahu ya ada kategori nangka bubur dan nangka salak...

      jadi penasaran gimana bentuknya hihihi

      hahhaha uda kayak ngidam aja mas herman makan sebiji ngilangin pengen wkkwkw

      Hapus
    11. pepaya juga enak sih...pepaya jinggo tahu ga mas khanif yang oranye banget tur legi hihihi

      kalau pepaya california yang kecil kecil itu kan ya...πŸ˜„

      Hapus
    12. Dari balasan komentar mbak ke mas Satria saya sudah tau kalau mbak Nita ngga tau ada kategori nangka bubur dan nangka salak..hihihi.. ngga usah penasaran sama bentuknya, cempedak itu masuk kategori nangka bubur..hihihi

      Kan ngga buang dari cerita tentang ngidam..hahaha

      Hapus
    13. wakakakka...nangka bubur...kukira tadi beneran nangka dijadikan bubur loh ternyata itu varietas toh mas herman...ya Alloh baru ngeh aku 🀣

      ngga buang? πŸ€”πŸ€”

      Hapus
    14. Nangka dijadikan bubur ngga kebayang bakalan seperti apa rasanya..hihihi.. yang saya tau jenis nangka ada dua nangka salak dan nangka bubur tapi ada satu nangka yang saya bingung masuknya ke jenis nangka yang mana nangka salak apa nangka bubur nangkanya itu bernama nangka landa? Hihihi

      Bingung dah.. wkwkwk

      Hapus
    15. Wah keren, waktu SMA saja sudah bisa bikin cerpen horor yang menyeramkan, tak heran kalo mbul jadi wartawan majalah misteri untuk mewawancarai bisnis pocong.😱

      Hapus
    16. yang ada serem ga sih mas her...bubur warna... ahhh sudahlah ha ha ha

      nangka landa berarti nangka londo alias belanda dunk 😱

      karena bingung, makanya pegangan togor listrik aja ha ha ha

      Hapus
    17. hihihi majalah misteri? mas agus yang jadi redaktur atau pemrednya yak wakkakakak...ngegantiin pak dahlan 🀣

      Hapus
  5. Very fine post;) have a nice day;)

    BalasHapus
  6. Luupaaa mau komen...Padahal sudah baca dari siang..🀣🀣🀣🀣 Maklum lagi ajak-ijik di Bekasi.

    Gw kira istrinya bakalan mati jadi tumbal buah cempendak...Ternyata hanya kesurupan Jin penunggu pohon Cempedak...Meski menurus medis istri si Anu yang bernama Ida..Harus diterapi. Meski terkesan aneh yang diocehkannya.


    Awalnya minta Karedok malam2 buta dan si Anu menurut saja, Walau ia tahu mana ada orang jual karedok malam2..🀣🀣🀣


    Meski awal kisahnya si Anu melihat pohon cempedak yang berbuah ranum tetapi tak bertuan atau tanpa pemilik...Karena angker kali yeee atau pohon cempedak itu sudah ada sejak zaman kompeni kali yee mbul..🀣🀣🀣🀣🀭🀭

    Jika si istri ngidam aneh2 si Anu ngidam beli motor yang nggak kesampean...Sampai2 motor Harley Davidson preman dielus2...Yang ada bonyok..🀣🀣🀣

    Berarti seri yee si Anu bonyok karena ngidam motor....Sang istri Bonyok sampai melahirkan prematur karena ngidam Cempendak yang ada hantunya..πŸ€£πŸ€£πŸ˜‹πŸ˜‹ Mungkin kalau bukan buah Cempendak hantu nggak mungkin lahir prematur kali yee...πŸ™„πŸ™„πŸ™„πŸ™„


    Yang repot kalau istri ngidam artis cowok Korea dan kita disuruh membawanya kehadapannya...Itu gimana Mbul.😳😳😳

    BalasHapus
    Balasan
    1. kang dah kuedit edit sebagian yang typo hahhahhah

      nah loh lupa kan mau komen apa xixixixi

      ajak ijik jalan jalan ya kang...apa mutet lebaran ? 🀣

      betul kang...ada benernya sebenernya terkait kewingitan tuh pohon cempedak...soalnya emang awalnya kubikin misteri gitu kan wkwkwk...walau kalau kata medis diistilahkan semacam baby blues...atau kalau berkepanjangan ppd. Tapi karena aku sutradaranya...ya bisa dibilang ini karena tuah dari si pohon cempedak di pekarangan angker itu ha ha ha ha..nah...loh...jangan jangan tuh pohon udah ada sejak jaman kumpenih kang...sapa yang nandur...senor senor berambut pirang kali yeeeay...serdadu serdadu walandi hihihi

      si Idah mah seleranya bukan cowok korea kang, dia suka tampang lokal aja hihihi...kan pecinta ploduk ploduk Indonesia diaaaa 😜

      Hapus
  7. Sumpah saya Merinding baca bagian istrinya kayak kesurupan mungkin karena saya bacanya dikamar sendirian sambil matiin lampu,,


    itu azab karena selama ngidam si istri terlalu banyak tingkah hihi minta ini lah minta itulah,,,

    Hebat yah bisa bikin cerpen dr sudut pandang pria pdahal mbulnya cewek,,, saya sering mau coba teknik gitu tp sulit,, sulit memposisikan jd seorang cewek hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah apa lagi kena pemadaman bergilir ya? πŸ˜…...iya juga ya aku yang bikin cerita aja merinding sendiri...secara otomatis terbayang adegan di pekarangan itu hihihi

      wahahahha...uda macam senetron ikan terbang dong 🀣

      iya beberapa kali justru aku nyoba bikin cerita dari sudut pandang cowok ...meski agak susah memang allu...πŸ˜„, soalnya musti berandai andai meresapi karakteristik cowo beserta isi pikirannya yang lebih logic kan?

      Hapus
    2. Mbul kebanyakan nonton sinwtron azab mungkin hihi...


      Iya susah banget mbull, kayak melihat dia jalan dengan orang laen *ehhh kok curhat

      Hapus
    3. hahaha cuz allu cari gebetan biar ga ngenes dirimu wkwkkwkw

      Hapus
  8. Cempedak itu kalau di sini disebutnya "nangka beurit", ga tau kenapa nangkanya disamain kayak tikus. Ada2 saja yg ngidam, padahal enakan nangka aja sekalian biar manis. Tapi ini juga harus dibatasi sih, soalnya sering bikin kembung kalau kebanyakan, apalagi pas hamil. Kalau punya istri semoga ngidamnya jangan yg aneh2 deh haha.

    Sebagai sarjana keperawatan, tentu saja bagian akhir cerita itu adalah gejala depresi postpartum alias baby blues, kasihan setan yg disalahin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. o itu bahasa Sunda teak ya Rip? baru tahu loh aku..beurit itu tikus...ah apa mungkin karena cempedak lebih lonjong memanjang kayak tubuh tikus atau clurut kali rip? πŸ€πŸ€πŸ€πŸπŸπŸ

      betul rip, nangka kan tunggalnya durian, banyak gasnya...kalau kebanyakan ngalamat bikin kembung dan begahm

      ho oh...itu memang secara medisnya begitu rip. Tapi cerita ini aslinya emang topiknya misteri sih. Jadi opsi pengaruh cempedak yang bertuah itu ada benernya juga sebenernya wkwkwkw

      Hapus
  9. Ceritanya menjurus ke cerita misteri tapi pas baca bagian yang pengen keredok yang ternyata hanya ngingau jadi ketawa dan hilang kesan seremnya tapi pas ketubruk anak kecil sehabis metik cempedak kesan horornya nongol lagi dan saya pikir istrinya bakalan mati pas sampai rumah dipanggil+panggil ngga nongol apalagi pas tetangganya datang tambah yakin istrinya pasti bakalan mati eh ternyata cuma melahirkan prematur dan sepertinya sama kesurupan aja.

    Cempedak, entah sudah berapa tahun belum pernah lagi dapati buah cempedak, dulu sebelum negara api menyerang di kebun ada pohon cempedak pas buahnya matang baunya tajam banget kadang bikin pusing.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hu um mas herman, sesungguhnya mau kubikin misteri kala itu.tapi tengah tengah malah agak agak komedi satir yak wkwkwkkwkw

      Istrinya si tokoh Wawan ini ternyata malah agak-agak...hu hu...kasihan ya...

      negara api menyerang ? apakah yang dimaksud negara api itu mas her ? hihihi

      πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯

      Cempedak emang kalau uda matang uda mirip-mirip ama durian baunya, kalau yang ga kuat bisa mabuk yak hahhahah

      Hapus
    2. Padahal alur misteri udah dapat banget tuh andai tak ada kesan komedinya cerpennya saya rasa cukup membuat ngeri walau endingnya kurang tragis.

      Penggusuran, kebun jadi rumah..hihihi

      Salah satunya saya, nyium bau cempedak matang bikin pusing dan mual seperti nyium bau buah durian walau baunya tak sekuat buah durian.

      Hapus
    3. sebenernya mau kubikin lebih tragis lagi mas herman, bukan si tokoh idahnya mati tapi anak yang dilahirkan ternyata bukan manusia melainkan buah cempedak. Tapi aku ngeri sendiri akhirnya ga jadi...kalau jadi begitu aturan akan jadi ending yang mencengangkan ya hahahahhaha


      nah betul itu penggusuran lahan pertanian atau perkebunan yang kini malah didominasi oleh pembangunan perumahan atau lainnya. Walhasil yang dulunya tanah atau rumput, lambat laun menjadi aspal semua...ga semua deng, tapi sebagian besar iya wkwkkwk

      iya sih lama lama ya pusing memang kalau baunya menyengat meski tergolong wangi hahhaha

      Hapus
    4. Kalau anaknya yang dilahirkan si Idah jadi cempedak ceritanya benar-benar jadi cerita misteri bahkan melebihi cerita misteri jadi dongeng..hihihi

      Tapi ada bagusnya juga karena ada penggusuran Jakarta akhirnya jadi hutan, hutan beton..wkwkwk

      Hahaha..masih aja ada pembelaan.. hahaha

      Hapus
    5. wekekekke..imajinasi cita cita seorang sineas film horror dan romansa ya gini deh diriku mas herman wakkakakka, tulung dimaklumi ya wkakakakkakak

      hutan beton...hwahahahaha...panas dong ga ada resapan air jadinya...

      Hapus
    6. Sangat sangat dimaklumi.wkwkwk..semoga akan ada cerpen misteri berikutnya.

      Ya panas lah kan betonnya baru mateng direbus dalam panci.. hihihi

      Hapus
    7. Seharusnya memang mbul jadi sutradara film horor karena idenya brilian sebabnya ada cempedak berbuah nangka, eh ada orang anaknya cempedak.🀣

      Kalaupun tidak jadi sutradara, minimal jadi penulis skenario di sinetron ikan terbang lah.πŸ˜‚

      Hapus
    8. sepertinya stok ide cerpen misteri masih ada banyak untuk ke depannya mas herman ha ha ha

      e astaga bentonnya direbus?
      mungkin buat bikin jenangan gedung yak mas herman 🀣

      Hapus
    9. hihihihi...kebayang kan mas kita kita yang suka iseng bikin cerpen sebenernya kayak lagi bikin film sendiri dengan ide ide cerita hasil imajinasi kita sendiri as sutradaranya πŸ˜‹πŸ€­

      seru bikin cerita khayalan wakakakak...otak kananku lebih joss ketimbang otak kiriku soalnya hihihi

      Hapus
    10. Otak kanan dan otak kiri, memang ada bedanya ya? πŸ€”

      Hapus
    11. kayaknya sih ada mas, coba aku cek buku biologi lagi bab sistim saraf hihihi

      😜

      Hapus
  10. buset dah lama banget dong ya, nih cerpen.

    BalasHapus
  11. Sungguh kasihan si Idah.. ngidam cempedak tapi akhirnya kok sampai jadi agak stres ya? Apa karena pohon cempedak tsb jin penunggu nya marah ? Memang kalau ngambi buah di pohon dari tanah tak bertuan begitu ya mbak Nita?
    Harusnya suaminya Idah minta ijin dulu kulonuwun dulu kali ya sama jin-jin di pohon itu. Wah mantap ternyata cerpen ibidibuat saat mbak Nita masih SMP dulu. Memang bakatnya mbak Nita dalam nulis artikel dan cerpen luar biasa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul sekali mba fidy...

      berarti ni cerpen ada pesan pesan moralnya yak hihihi

      pas uda SMA mba fid...

      ga kok masih newbie aku πŸ˜πŸ˜„

      Hapus
  12. Wah, seru sekali ceritanya. Namanya ngidam suka aneh-aneh ya. Aku aja yang gak hamil kadang suka kepengen makan yang gak ada pas tengah malam dan merepotkan suami xD Ending sedih juga, mungkin gara-gara gak keturutan ya. Ayo dong dibikin lanjutannya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. wow makasih kak indi buat apresiasinya, jadi semangat bikin cerpen aku 😍πŸ₯°πŸ˜˜

      Hapus
  13. Suka gaya bahasanya mbak Mbul. kirim ke koran deh. Ini bikin saya teringat baca-baca cerpen di koran Nova milik ibu saat masih piyik. Btw cempedak itu salah sagtu buah favorit saya. Senangnya di Kepri dulu ada eskrim stik yang harganya cuma 3 ribuan aja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. awww jadi pengen malu...makasih mba nisa...mbul jadi semangat bikin cerpen...mudah mudahan next ceritanya bisa lebih baik lagi dari yang ini..aku juga suka cerpen nova...dulu mbah aku langganan dan aku sering nemu yang mistri juga hihihi

      wow aku jadi kebayang es krim stiknya apa rasa nangka jugakah?

      Hapus
  14. Seperti biasa Mbak Mbul.. buaaagussss beuuuddd πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜„
    Aku suka jalan ceritanya.. bahasanya juga.. majasnya terutama.. hebatt ihhh πŸ˜„

    Btw, gegara baca ini aku langsung kepengen es bon bon. Haha. Kenapa ya.. 😁
    Udah lama banget nggak makan. Hihi

    Aku smpet bingung sama bentukan buah cempedak. Sering dengar, tapi nggk pernah lihat. Pas cari di google ternyata nangka.. tapi pas baca ternyata beda buah. Haha 😬🀣 pantes susah buat dicari..

    Tapi seram banget akhirnya.. istrinya smpe ngidam cempedak meskipun udh lahiran..πŸ₯²

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aaasssssyiiikk...jadi semangat mau nambah konten cerpen atau dongeng maybe someday aku bay hahahhaha

      tapi ga kok...bahasaku masih nubie banget

      hihi iya cempedak asa kayak adeknya nangka hwhwhhwhw

      Hapus
  15. dulu aku mikir cempedak ini tanaman yang tumbuh di kuburan, kayaknya temen aku yang bilang, jadi kan aku mikirnya gimana gitu

    BalasHapus
    Balasan
    1. komenin alurnya juga dong mba ai...gimana menurutmu cerpenku?

      Hapus

Komenin dong...tanpa kehadiran kalian apalah arti aku menulis....
kalian penyemangat setiap bulir kalimat dalam blog ini :*
Namun jangan komentar SARU atau SARA ya, jika ada komentar dengan unsur tersebut, dengan berat hati akan aku HAPUS .

Oh ya, Dilarang juga mengambil gambar/foto atau menyadur tulisan tanpa mencantumkan sumber atau seijin pemiliknya. Apalagi untuk kepentingan komersial atau lomba. Thx ^____^