Senin, 14 Juni 2021

Cerbung : Stroberi (Part 2)



Oleh : Gustyanita Pratiwi
Sifat : Hanya fiktif belaka

Ilustrasi digambar langsung oleh Admin Gustyanita Pratiwi


Ponsel di saku celana Van Hellen bergetar. Bandul stroberinya yang bertumpuk 2 terantuk padu, menimbulkan bunyi-bunyian yang bergemerincing. Menambah meriah suara kantong celana Van Hellen hingga ingin rasanya ia matikan saja ponselnya itu atau minimal meneriaki si penelepon agar sabar menunggu karena ia sedang dalam posisi repot. Berdiri di pelataran Indomaret dengan 2 kantong kresek berisi air mineral seberat 1500 ml yang ia letakkan di atas lantai juga sisa es krim di tangan yang tinggal separuh, membuatnya tampak seperti orang tolol~ sendirian, mencolok dengan tas gunung segede gaban yang menenggelamkan badannya yang masih seperti anak sekolah berseragam putih-merah.


"Derereeetttt!!! Dreeett!!! Dreeeettt!" Akhirnya dirogohnya ponselnya itu dan di sana sudah terpampang nama Alan pada layar ponselnya.

"Hallo Bang!" Van Hellen membuka suara.

Terdengar di seberang sana, suara di sekelilingnya dipenuhi oleh senda gurau cowok. Mungkin calon peserta pendakian. Ada yang bertimbre suara berat~ mirip-mirip vokal Jason Statham, ada pula yang gombal dan jago nyanyi karena ia sedang gitaran walau akhirnya dibarengi dengan sorakan 'huuu' dari yang lain. Ditambah di luaran sana juga terdengar jargon khas anak kehutanan : "Salam Rimba!" beberapa kali yang menegaskan bahwa selain kompak, konon katanya mahasiswanya juga ganteng-ganteng. Sarangnya anak-anak berambut gondrong. Hmmm...tentu ini pemandangan menarik bagi Van Hellen. Terlebih kelak ia akan kuliah di program studi ini. Dan mengenai kumpul untuk pendakiannya, mungkin briefingnya juga sudah usai, mengingat aturan ketemuannya juga sudah sejak 2 jam lalu, dan ia baru tiba di muka kampus (lebih tepatnya Indomaret seberangnya) beberapa menit yang lalu. Turun dari bus bodol yang diakhiri dengan siulan kondektur yang mengatai bokongnya seksi. Lengkap!

"Dek! Kamu masih di situ?" suara Alan akhirnya nongol dari ujung pesawat telepon genggamnya. 

Van Hellen melompong. Ia tergelak sedikit mendengar Alan memanggilnya dengan sebutan Dek. Tak biasanya ia begitu. Pasalnya tiap kali komunikasi jarak jauh, Alan kerap ber-elo-gw-elo-gw ria kepadanya layaknya ngobrol dengan sohib kentel. Tapi entah kenapa, kali ini dipanggilnya ia dengan sebutan Dek. Mana dengan nada lembut lagi. Mungkin karena ini kali pertama mereka akan bertemu lagi, jadi supaya tidak terkesan sok begitu. 

Tapi, terus terang Van Hellen lebih suka diperlakukan seperti itu sih daripada style ngomongnya yang agak kasar meski ia hapal betul kalau abangnya itu sebenarnya berhati Hello Kitty.

"Dek? Hallo?!!" Alan kembali memanggilnya yang akhirnya membuyarkan lamunan Van Hellen.

"Iya Bang, aku udah di Indomaret depan." kata Van Hellen.

"Oh udah di Indomaret depan? Langsung nyebrang saja ya. Sebenarnya aku mau ngomong sesuatu nih. Agak penting! Kamu cepetan ke sini ya. Apa perlu kujemput?" nada suara Alan seperti sedang diburu-buru sesuatu.

"Ga usah Bang, aku ke sana sendiri aja. Ruangan briefingnya yang ada di dekat perpustakaan itu kan?" tanya Van Hellen memastikan.

"Ho oh!! Cepetan ya." sahut Alan lagi.

"Oke!" 

Van Hellen pun segera bergegas menuju ke meeting point dimana Alan sudah menunggunya di sana. 

***

Basecamp anak mapala kampus X menyisakan pemandangan menarik dengan koleksi mahasiswanya yang ganteng-ganteng. Benar saja, kebanyakan dari mereka memiliki potongan rambut gondrong juga badan tinggi tegap, meski terhitungnya masih kurus karena tentu usianya baru awal-awal 20-an, usia yang belum rentan diganggu oleh ancaman perut buncit macam perut bapak-bapak. 

Van Hellen mengambil jalan ke sisi samping bascamp dimana 4 orang telah menunggu di sana termasuk Alan. Tapi sebelum mencapai tempat itu, dari arah bersamaan, seorang lelaki yang masih ia ingat betul siapa dirinya berjalan cepat, bersisihan dengannya. Ah! Benar saja. Lelaki kurus-cakep yang membelikannya es krim stroberi di Indomaret lalu ternyata adalah salah satu dari calon pendaki dari kelompoknya Alan. Hati Van Hellen pun berdesir entah karena apa. Saat mata mereka beradu, seolah ada jeda sekian detik sampai akhirnya mereka saling mengangguk dan tersenyum satu sama lain.

"Mbak...!" Angguknya sopan.

Van Hellen pun balas mengangguk canggung. Tapi ia segera melihat ke depan, dan di sana sudah berdiri seseorang yang cukup mirip dengannya sedang melambaikan tangan. Tentu itu Alan. Abang satu-satunya yang baru bisa ia temui dalam keadaan sudah gede seperti ini. Tinggi bongsor juga rupanya ia sekarang. Rambutnya masih sedikit blonde hasil dominasi dari gen kakek mereka yang memang orang Belanda.

"Hellen! Ke sini!" Ia memanggil.

Tak butuh waktu lama bagi Van Hellen untuk segera menyusul kumpulan itu meski kemudian terdengar kecengan dari yang lain : "Hemmmmmb Gus! Lu bisa barengan gini sama adeknya Alan?" salah satu dari mereka kemudian meledek lelaki yang mereka sebut dengan panggilan Gus itu. Cowok yang rambutnya agak keriting dan sedang memegang gitar itupun menyebutkan lagi namanya dengan lebih terang benderang. "Agus, Lu udah kenal duluan sama Adeknya Alan?" selorohnya yang langsung ditimpali Agus sambil tertawa. "Hus!!" 

Sebentar...

Agus? 

Van Hellen seperti mengingat-ingat sesuatu. 

"Udah kenalan aja yuk semua. Lan? Adek Lu boleh kan kenalan ama kita-kita?" Cowok keriting yang rupanya bernama Satria itu kembali memecah suasana dengan suara cemprengnya. 

"Boleh, tapi ga boleh dideketin ya!!!" ujar Alan sok galak.

"Pelit amat Lu jadi Abang! Kenalin Dek, Satria!" ujar cowok yang kelihatan playboy itu sambil mengulurkan tangan.

Van Hellen pun menjabat tangannya dan juga seluruh kawan Alan yang sudah ada di situ. Ada Satria si Playboy, Khanif yang potongan rambutnya agak gondrong, juga Agus yang dijumpainya di Indomaret lalu. Yang terakhir ini entah kenapa membuat telapak tangannya jadi dingin. Mungkin grogi.

"Hellen." ujarnya sambil menundukkan wajah, disembunyikannya pipinya yang kini merah dadu.

Alan kemudian menanyakan kabar Van Hellen dan rencana-rencananya ke depan. Ya, lepas kangen kakak beradik yang terpisah lama. Sebab masih ada sisa waktu beberapa jam sebelum keberangkatan

"Herman kok belom sampai ya?" Satria bertanya pada yang lain.

"Lagi otw katanya. Biasa boncengan sama gebetannya Ningsih." ujar Alan.

"Oh baru jadi gebetan ya? Kirain udah pacaran?" Satria bertanya lagi.

"Belom lah, baru juga pedekate doang tuh anak. Tuh Gus masih ada kesempatan tuh. Kan belom diikat sama Herman!" Satria kembali meledek Agus, tapi Agus cuma terkekeh saja. 

"Husss...Aku belum pastiin isi carrier lagi nih Kang. Bentar ya." Ia pun menurunkan bawaannya itu ke lantai dan saat itu juga Van Hellen kedapatan memperhatikannya. Sementara Khanif, sebenarnya ia tampak seperti seorang yang misterius terutama dengan potongan rambut emonya yang mirip tokoh-tokoh anime bernuansa gelap.

Kabarnya masih ada beberapa orang lagi yang masih mereka tunggu. Jumlahnya 2 orang. Tapi posisinya masih OTW. Sampai akhirnya Alan mengabarkan sesuatu yang membuat semuanya menjadi gempar.

"Temen-temen, sebelumnya sorry gw mau ngabarin sesuatu". 

Anak-anak yang tadinya santai, tiba-tiba memfokuskan pandangan ke Alan seorang. Akan pengumuman apakah dia?

"Jadi dosen pembimbing gw tiba-tiba ngajak ketemuan buat rencana revisian sore ini." ucap Alan hati-hati.

"Hah?!!! Serius Lu!" Satria memotong pembicaan Alan sampai-sampai hampir berdiri. Gitar yang dipegangnya hampir saja kebanting kalau tidak dipegangi oleh Agus. Secara dipikirnya sohibnya itu yang paling prepare urusan mendaki gunung, eh begitu dapat tanggal yang pas, kenapa tiba-tiba ada kabar mau bimbingan. Rombongan pun geger.

"Iya makanya gw bilang sorry. Gw ngabarin ini dadakan ke Lu semua. Terutama ke adek gw Hellen yang mungkin baru tau juga tentang hal ini. Sorry ya Hell... Sorry semuanya.. Soalnya dosbim gw ngabarinnya juga dadakan parah bro. Masa ngabarin revisiannya sore ini. Tau sendiri, dosbim gw killer, mana jadwalnya kalau mau bimbingan udah macam kayak mau ketemuan ama pejabat tinggi lagi. Susah!" terang Alan panjang lebar.

Van Hellen sendiri masih cukup syocked dan belum bisa berkata apa-apa. Tadinya ia sudah gembira bisa jumpa lagi dengan Abangnya dan sekalinya ngobrol langsung nyambung. Eh, sekarang dapat kabar batal ikut.

"Dek lu ga pa pa kan kalau gw ga jadi ikut? Tapi temen-temen gw orangnya baik kok. Ya terserah Lu sih mau ikut mereka atau ga? Tapi kalaupun ga gw juga bakal sibuk di minggu-minggu ini, terancam ga bisa nemenin Lu jalan-jalan." Alan mencoba menjelaskan panjang lebar namun masih dibarengi dengan ekspresi kaget dari semuanya.

"Ya udah Kang, kalau sampeyan ga bisa ikut karena ada yang lebih urgent menurutku sih ga masalah. Toh ini urusannya skripsi kan? Kalau sampai ketunda lagi...ngulang setahun kan sayang duit SPP." Agus tiba-tiba bersuara dan seperti memberikan angin segar bagi Alan agar tak terlalu merasa bersalah.

"Iya Bro....gw juga ga enak hati sih sama kalian. Padahal selama ini gw yang paling rame di grup ngumpulin jadwal pendakian...Eh kenyataannya musti gini." Wajah Alan bertambah lesu. Terutama ia tak berani menatap mata adiknya yang tentunya agak kecewa dengan kabar yang ia bawa.

"Dek....Lu gimana? Masih mau ikut ga?"
Alan bertanya pada Van Hellen.

"Udah Adek Lu biarin aja Lan jalan ama kita-kita. Ga bakal diapa-apain juga kok. Tenang!" Satria mulai menunjukkan jurus gombalnya.

"Iya ikut saja Hellen...kita-kita ga buas kok. Toh masih ada anak perempuan lainnya kayak Ningsih dan Ratna." Agus menimpali yang entah kenapa membuat Van Hellen agak tak berani menatap wajahnya. Sementara Khanif hanya menampakkan kode ekspresi terserah dengan sikapnya yang misterius.

"Anu Bro....Ratna juga ga jadi ikut. Katanya dia tadi WA gw, mau liburan ke Thailand katanya." Alan kembali mengabarkan hal yang bikin tambah syocked saja. 

"Jadi siapa aja nih yang pasti ikut?"

"Okey absen dulu deh... Satria, Agus, Khanif, Herman, Ningsih....

"Hellen gimana?" Semua mata tertuju padanya menanti jawaban ya atau tidak.

"Hellen juga..." Akhirnya Hellen bersuara dan disambut lega oleh semuanya termasuk juga abangnya Alan.

"Makasih atas pengertiannya ya Dek, pokoknya nanti kalau kamu abis pulang dari mendaki Gw ajak jalan-jalan keliling kota Surabaya." janji Alan dengan wajah memelas.

"Hu um santai aja Bang!"

"Beneran loh!! Yang penting ati-ati, pulang dengan selamat. Nanti abis itu mau jalan-jalan kemana terserah deh! Dan buat Lu semua, tolong jaga adek gw ya!" Alan berkata tegas yang kemudian ditimpali dengan jawaban siap yang mantab, berbarengan dengan itu pula muncul pasangan ter-sweet abad ini yaitu Herman dan Ningsih.

"Okey ya deal!!! yang akan berangkat itu berarti Gw, Agus, Khanif, Herman, Ningsih, dan Hellen!" Satria kembali memastikan.

"Deaaaalllll!!!" jawab semuanya.

****

Aroma kopi pagi menguar dari bilik warung kecil yang ada di pos awal, Ranu Pani. 5 cangkir untuk 5 orang. Seorang yang lain tidak ngopi. Pisang goreng panas yang masih mengepul lah yang akhirnya jadi sasaran. Maka tidak kurang dari 5 menit piring itu tandas, hanya menyisakan minyak-minyaknya saja. Harus segera diganti dengan pisang yang baru. Pisang panas memang  paling nikmat jadi teman minum kopi di pagi yang sudah sedingin ini. Cuaca berkisar 15 derajat celsius. Angin berhembus kencang membelai wajah. "Brrrrrbbb!!!" Van Hellen makin merapatkan jaket parka birunya. Menutupi dalaman merah yang ia pakai ~yang sebelumnya telah ia ganti karena ketumpahan es krim stroberi saat belanja di Indomaret lalu. Sementara itu, rombongan cowok memilih ngudut-ngudut santai sembari melemaskan dengkul. Khanif dan Satria berlomba-lomba mengepulkan asap siapa yang paling tebal. Ningsih dan Herman masih mengecek carrier terakhir usai diturunkan dari truk pengangkut sayuran yang mereka tumpangi dari Pasar Tumpang menuju Ranu Pani. Apes memang, jeep sewaan pada jam-jam ketika mereka tiba sedang terpakai semua. Jadi hanya bisa menyewa truk pengangkut sayuran. Terpaksalah mereka berjejalan dengan tumpukan sayur yang akan didrop ke beberapa tempat seperti Gubugklakah, Ngadas, dan Jemplang. Toh harganya lebih murah dari sewa jeep sudah dengan bonus semilir angin pula. Belum pemandangan di kiri kanan yang tiada duanya. Sisi satu jurang, sisi lainnya lautan pasir Bromo. 

Saat melintas Gubugklakah, pemandangan kebun apel menghampar luas dengan cuaca pagi yang masih tersaput kabut. Lurus ke Ngadas, medannya semakin berkelok, menanjak, dan menembusi hutan. Dari sini mereka akan bertemu dengan pertigaan Jemplang, yang jika lurus terus akan membawa ke Desa Ranu Pani yang akan menjadi titik awal pendakian Gunung Semeru.

"Gus!! Kopi dulu! Satria mengacungkan cangkirnya ke arah Agus yang masih sibuk melengkapi data-data di pos pemeriksaan. Ia menjawab sapaan Satria dengan jempol yang diarahkan kepada sohibnya itu. Namun beberapa saat setelahnya, seorang Mas-Mas yang bertugas menjaga pos kemudian menghampiri Agus dan seperti bercakap sesuatu. Air muka Agus tampak tegang. Ia kemudian memanggil Van Hellen supaya mendekat.

"Hellen ke sini sebentar!" panggil Agus kepada gadis yang tengah bersedekap erat menahan gigil. Ia pun merapat ke lelaki bertinggi badan 160 cm itu. 

"Hellen, coba pinjam KTP-nya sebentar." Agus meminta Van Hellen untuk mengeluarkan tanda pengenalnya. "Hmmm, ada apa ya?" begitu pikir Van Hellen dalam hati, tapi tak ditanyakan lagi apa alasannya. Segera ia tunjukkan e-ktpnya pada Agus yang langsung diperlihatkan pada Mas-Mas penjaganya.

"Yang ini salinan fotokopinya."

"Ini salinan fotokopinya Mas. Surat keterangan sehat, dan checklist barang bawaan sudah tadi ya." kata Agus.

Sejenak Mas-Mas itu menerawang data yang tertulis di e-Ktp Van Hellen lalu menekuri posturnya dari atas sampai bawah. 

"Oh iya, Mas...maaf...maaf..takkirain Mbaknya ini bule. Kalau bule, biaya masuknya beda sama yang lain," Mas-Mas penjaganya itu garuk-garuk kepalanya yang tak gatal. Ia cengengesan lalu mempersilakan Agus dan Van Hellen melanjutkan aktivitasnya kembali.

Sambil Mas Penjaga itu mengembalikan KTP- aslinya, Agus melirik data Van Hellen dan pikirannya seperti mengawang-awang entah kemana. Usianya masih 17. Nama lengkapnya adalah......

"Okey, data rekapan peserta pendakinya sudah semua. Hellen juga sudah kan?" tanya Agus.

Van Hellen mengangguk. Tangannya masih memainkan jari-jemarinya. Sepertinya kedinginan. Tapi kemudian Keduanya langsung membaur ke arah yang lain yang masih bercokol di warung sambil ngudut dan mengudap gorengan.

"Udah beres Gus? Lama amat? Kenapa sama si Hellen?" tanya Satria.

"Dikira pendaki mancanegara...hehehe...Ya kan tahu sendiri si Alan aja rambutnya blonde...kakeknya Londo...ya jelas adeknya blasteran juga lah....hehe." Agus terkekeh yang langsung disambut mesem oleh Van Hellen. Meski ia sadar, posturnya tidak setinggi semampai bule-bule cewek pada umumnya. Tapi terbilang masih proporsional. Posturnya mungil. Tingginya 155 cm, berat badannya 48 kg. Agak chubby di pipi, rambutnya hitam lebat, panjang sebahu seperti polwan, tapi kulitnya memang bersih sih meski agak pucat.

"Ealah....bener gitu?"

"Tapi ga ya Hellen? Hellen WNI asli, kalau ga bayarnya bisa lebih dari cepek sendiri, hahahhaha..." Agus menimpali. Van Hellen lagi-lagi tersipu malu. Perlahan-lahan ia mulai nyaman juga dengan mereka, terutama Agus yang sepertinya memiliki pribadi yang hangat. 

"Sudah semua kan? Sudah yuk, sebelum mendaki, ada baiknya kita berdoa dulu menurut agama dan kepercayaan masing-masing supaya diberikan kelancaran dan keselamatan! Agus kemudian memanggil satu-persatu dari yang lain yang masih duduk di muka warung untuk berdoa bersama.

"Pokoknya berangkat sama-sama, pulangnya juga harus sama-sama! Saling mengecek satu sama lain. Jangan egois. Satu istirahat, yang lain juga istirahat. Ingat ya teman-teman! Kita harus kompak! Di gunung kita harus jaga perilaku, jaga ucapan. Jangan tinggalkan sampah di sembarang tempat. Nanti sampahnya dibawa turun!"

"Siaaaaaaaap!!"

Setelah itu, rombongan memulai pendakian dengan bawaan masing-masing. Berbaris satu-satu melewati 2 buah danau di pos pertama yang masih berkabut. Ranu Pani yang memiliki luas 1 ha dan Ranu Regulo yang memiliki luas 0,75 ha. Tapi keduanya hanya kulonuwun lewat, karena rute yang dilalui masih panjang. Satria memimpin di depan, disusul Herman dan Ningsih, belakangnya Khanif, Van Hellen, baru paling belakang Agus.

"Mas Her, iseng ih, carrier Ningsih berat tauk...jangan didorong tasku." Ningsih, satu dari 2 peserta pendaki cewek yang menjadi primadona dalam rombongan merajuk karena digoda Herman. Orangnya tinggi langsing seperti model dan pembawaannya pun feminim. Berbeda dengan si kecil Van Hellen yang tampangnya masih polos seperti anak-anak. Kadang Ningsih menjadi sasaran gombalan para cowok. Satria, Herman, dan Agus yang notabene orangnya supel tentu mengobrol dengan tipikal wanita seperti ini bukanlah hal yang sulit. Guyonannya nyambung. Ya, mungkin karena  sudah lama kenal. Kan teman satu kelas juga. Sebenarnya ada yang lebih pendiam dan misterius dari semuanya. Siapa lagi kalau bukan si gondrong bertubuh ceking dan paling muda diantara rombongan cowok lainnya, Khanif.

"Sudah Her...sudah...bawakan saja itu tasnya! Nanti luh dikasih bonus ama Ningsih sesampainya di puncak sana!" Satria mulai meledek kedua sejoli yang sebenarnya masih dalam tahap PDKT itu. 

"Nah, tuh bawain Kang! Kalau sampai aku yang bawain, bisa-bisa sampeyan nyesel. Mumpung belum terlambat?!" Agus tambah mengompori. 

"Cakep Gus!" sahut Satria girang.

"Coba kalau Ratna ikut ya Kang, pasti tambah semangat lagi kita-kita." ujar Agus.

"Yoi Gus. Btw emang ngapain doi ke Thailand dadakan gini? Satria bertanya kepo.

"Kurang tahu sih. Coba tanya saja sama si Alan."

Sementara Khanif di tengah-tengah sibuk dengan walkmannya. Dan Van Hellen mengekor seperti anak bebek.

"Kalian tuh ya, kompor aja kerjaannya." Ningsih berpaling sambil pura-pura ngambek. Lalu ia mulai dijajari Herman lagi dan diajak bercanda. Aduh! Memang pasangan romantis. Tapi ia juga luwes sih sehingga membuat Van Hellen semakin minder. 

"Hellen! Masih kuat jalan tidak? Kalau capek bilang ya?" Agus mengecek si kecil Van Hellen yang jalannya memang lebih lambat dari yang lain. 

Van Hellen hanya mengangguk saja.

Setelah sampai di gapura "Selamat Datang", perjalanan berlanjut ke arah bukit. Jalur awal hitungannya masih landai. Lerengnya banyak ditumbuhi alang-alang dan ranting-ranting yang membayang di atas kepala. Sesekali mata juga dimanjakan oleh koloni bunga edelwise yang berayun-ayun disapu angin.

***

Dari Ranu Pani menuju Ranu Kumbolo masih sekitar 5-6 jam lagi. Ini masih jam 9 pagi. Mungkin sampai sana sekitar jam 1 siang. 

Bulir-bulir keringat sebesar biji jagung mulai membasahi dahi Van Hellen. Padahal perjalanan masih jauh. Belum ada separuhnya. Maklum saja, ia masih sangat pemula. Sekalinya mendaki, sudah harus menjajal track setinggi ini. Yang lain, karena sudah anak Mapala, tentu jauh lebih strong dan pengalaman. Terutama Agus sang leader dan juga Satria. Khanif pun demikian. Tidak tahu dengan Herman dan Ningsih. Tapi keduanya enjoy saja. Mungkin karena ada bumbu-bumbu romansa diantara mereka. Jadi menambah semangat. Tak terbayang muka capek atau sedikitpun ingin mengeluh dari para senior-senior Van Hellen ini.

Setelah berjalan sekitar 5 km menyusuri lereng bukit hingga Watu Rejeng, sampailah mereka pada batu terjal yang menghadap ke arah lembah dan bukit-bukit yang penuh cemara. Pemandangan yang indah sekali. Sesekali rombongan berhenti untuk ngaso atau melakukan posisi stretching. Ya, sambil memotret untuk dokumentasi. Beberapa kali Ningsih menjadi target potret cowok-cowok. Mungkin karena wajah ayunya yang photogenic. Pantaslah bila ia dikerubuti kumbang-kumbang. Meski Herman terlihat jauh lebih unggul dalam hal mendekati, namun ketika Agus ikut-ikutan memuji Ningsih, entah kenapa hati Van Hellen terasa perih. Padahal bertemu juga baru sekali. Rasanya aneh sekali. Sementara itu Khanif memilih melipir dan melihat pemandangan lain. Matanya menerawang ke arah puncak Semeru dan Gunung Kepolo dari arah kejauhan. Bagaimana pun sudah sampai sini. Sayang saja kalau tidak ada foto-fotonya. Dari sini kira-kira masih 4,5 km menuju Pos Ranu Kumbolo.

Pukul 14.15 WIB, rombongan tiba di Ranu Kumbolo. Melenceng 1 jam dari perkiraan. Memang rencananya akan mendirikan tenda di sini. Terlebih cuaca juga sudah mulai berangin. Entah kenapa tiba-tiba mendung terlihat begitu tebal. Gumpal-gumpal awan berarak di angkasa raya menjadikan siang itu terasa gelap. Gelapnya seperti ada terpal hitam yang memayungi langit. Karena takut keburu hujan, maka segera saja mereka memasang pasak dan tali-temali. Mengingat ini bukan Sabtu Minggu, maka tidak ada banyak tenda ada di sana. Hanya ada 3 tenda saja. Posisinya agak ke pinggir. Tapi penghuninya tidak kelihatan, mungkin beberapa meter saja dari tanjakan cinta. 

Di Ranu Kumbolo sebenarnya ada  pondokan yang dibangun untuk istirahat para pendaki. Tapi Agus dkk sepakat untuk mendirikan tenda. Biar lebih terasa kempingnya. Maka demi berebut waktu dengan gerimis, segera saja rombongan cowok menurunkan carrier dan segala macam peralatan. Yang cewek diminta bersiap-siap untuk memasak. Paling tidak mengolah segala macam sayuran yang telah dibeli dari Pasar Tumpang sebelum menyewa truk saat akan menuju ke Pos Ranu Pani tadi. Untuk mereka ber-6 cukuplah makan malam dengan sop-sopan, telor dadar, dan kopi panas. Mie instan tersedia beberapa bungkus, jika ingin, tinggal kombinasikan saja dengan telor atau korned beef.

Diantara yang lain, Agus paling cekatan memasang tenda. Meskipun Satria dan Herman turut membantu, tapi sebagai leader Agus seperti menunjukkan kemampuan terbaiknya. Ia juga menolong kubu cewek memasangkan tenda yang diambil dari carrier Van Hellen. Karena tas Ningsih kebanyakan berisi cemilan dan bahan makanan. Sementara Van Hellen kebagian tendanya. Khanif sendiri sibuk mengeluarkan cooking set, gas kaleng dan kompor lapangan. Bagi-bagi tugas sekalian berburu waktu karena hujan semakin menderas. 

"Nah, seperti ini ya Hellen...sudah berdiri nih!" ujar Agus dengan senyum terkembang membuat Van Hellen semakin kagum saja padanya. Seperti sulapan, apa yang dikerjakan Agus dalam sekejap langsung berdiri.

"Udah tuh, tinggal dimasukkan aja sama barangnya Hellen." 

"He-em." jawab Hellen. Ia pun segera memasuki tenda hasil rakitan Agus dan menata dalamnya agar bisa ditiduri dengan nyaman meski sleeping bag tetap ia gelar.

Tak lama kemudian, 6 tenda telah berdiri. Masing-masing tenda akan diisi oleh 2 orang. Tenda 1 Satria dan Agus, Tenda 2 Khanif dan Herman, Tenda 3 Ningsih dan Van Hellen. Jarak tenda mereka sendiri berseberangan dengan 3 tenda lain yang mereka lihat sebelumnya. Ya tenda yang penghuninya belum kelihatan sama sekali itu. Mungkin sedang tidur. Anehnya warna tenda mereka bisa sama persis dengan 3 tenda itu.

Semakin petang, suasana semakin syahdu. Kesepian yang dipantulkan lereng-lerengnya yang basah berdampingan dengan gemerisik cemara gunung yang diguyur hujan angin. Sebenarnya di depan sana terdapat danau seluas 14 ha yang airnya sangat jernih. Konon ikan-ikan di dalamnya tumbuh sehat dan melimpah ruah berdampingan dengan vegetasi danau yang ada di sekitarnya. Kadang belibis liar juga banyak yang beterbangan di atasnya, sekedar mengincar ikan atau bahkan kunkum kaki. Indah sekali. Tapi berhubung gerimis sudah turun sedari siang, maka mereka lebih memilih kumpul saja di dalam tenda.

Satu tenda paling besar dibuka resletingnya. Tenda ini adalah tenda untuk menampung barang-barang sekaligus untuk tidur Agus dan Satria. Istilahnya tenda untuk basecamp.

Karena belum ada yang mengantuk, maka semuanya ngumpul di situ, meski hanya cewek-ceweknya yang duduk di dalam. 4 yang lain duduk melingkari di luar yang atasnya masih dinaungi parasut. Alas yang mereka duduki sudah rumput yang untung saja tidak sampai becek terkena hujan. 

Malam itu, seperti biasa Ningsih yang menjadi pusat perhatiannya. Ya, mungkin karena cowok-cowok selalu suka dengan wajah perempuan yang dewasa. Van Hellen yang tampangnya masih kekanak-kekanakan ini pun lebih memilih banyak diam dan mendengarkan. Satria sendiri menggenjreng gitarnya sebab dulunya ia adalah anak band, Herman dan Agus duduk bersila di sampingnya, Khanif, seperti biasa memilih merokok di pojokan. Di hadapan mereka kini sudah terhidang 6 cangkir plastik berisi kopi seduh sachetan dan makan malam nasi goreng korned dan telor dadar. Sop-sopan rencananya untuk sarapan pagi saja karena lebih ribet. Kegiatan masak-memasak tadi rupanya berhasil dirampungkan sesaat sebelum matahari tenggelam sehingga jam segini sudah tinggal menikmatinya saja. Agus sendiri menenangkan semuanya bahwa asal ada Ningsih, maka semuanya beres. Ya, karena Ningsih memang telaten dan jago masak. Yang dipuji pun langsung terbang tinggi sampai ke awan meski Herman sedikit sewot karena selalu kalah set dalam hal menggombal ketimbang Agus. "Iya Ningsih kan calon istri idaman!" samber Herman yang langsung diledekin yang lain. "Makanya Her, cepetan dilamar kan bentar lagi wisuda. Udah nyambi kerja juga kan Sampeyan?" Agus kembali menggodanya jahil. "Nah tuh Her...biar ga kesamber ama yang lain!" Satria menimpali. Ia cukup menyayangkan mengapa yang mesra-mesraan hanya Ningsih dan Herman saja. Harusnya Ratna juga ikut biar suasana tambah ramai. Sayangnya ia pergi ke Thailand tanpa mengabari semuanya lewat grup. Atau Seravina gebetannya. Atau si A, si B, dan si C, karena ia memang Don Juan. Mau godain Van Hellen, Satria merasa anak itu bukan typenya. Berbincang dengannya malah terbayang seperti berbincang dengan anak-anak saja. Ah, sayang semua cewek di kampus yang menjadi gebetannya susah diajak mendaki. Kebanyakan dari mereka tidak mau ribet dan takut ini itu. Ningsih sendiri, andai Herman tidak bilang berangkat, belum tentu ia mau ikut.  

Sambil terus bersenda gurau, Ningsih makin bersinar dan seolah menjadi bintangnya. Tipikal cewek populer. Entah kenapa melihat salah satu dari cowok itu ada yang ikut menyanjungnya membuat hati Van Hellen terasa sesak. Ia pun tiba-tiba berdiri dan ijin pamit ke tendanya. Agus yang paling ngemong diantara yang lain tentu kaget. Apakah dari tadi Van Hellen merasa terabaikan. Ia pun mencoba menanyakannya.

"Lho...memangnya Hellen sudah mau tidur?"

"He em." 

"Sudah ngantuk gitu?"

"Iya." 

Van Hellen berdiri sambil menunduk dan melewati yang lain untuk kembali ke tenda diiringi dengan tatapan penuh tanda tanya dari mata lelaki itu.

Padahal masih jam 20.00 WIB. 

Masih terlalu 'sore' untuk tidur.

***

Entah kenapa Van Hellen selalu terjebak dalam suasana seperti ini. Dan ia selalu merasa kesal karenanya. Apakah ini salahnya karena ia terlalu perasa? Ya, kadang ia merasa kesepian di tengah keramaian. Ia tidak tahu apakah ia menyesal telah memutuskan untuk ikut dalam rombongan yang belum pernah dikenalnya sama sekali. Seandainya Alan ada di sini tentu ia tidak akan merasa seperti ini. Terlebih ada satu orang yang kelihatannya menjadi pusat perhatian terus. Dan satu orang lagi yang selalu menyanjungnya.

Sambil menyeka air mata yang entah kenapa tiba-tiba menggenang, seseorang mengagetkannya dari belakang. Suara yang sejak pertama kali bertemu baru kali ini didengarnya. Sebelumnya yang empunya nama memang banyak diamnya, mungkin sama seperti dirinya yang cenderung pasif. Ah, ia membalikkan badan dan telah mendapati pemuda berambut gondrong itu berdiri di sana. Khanif datang sambil menyodorkan cangkir plastik berisi kopi panas.

"Kopinya ketinggalan belum dibawa Hellen!" Khanif menyapanya dengan senyum tipis yang penuh makna. 

Sial juga. Jangan sampai ia melihatnya menangis begini. Bisa turun reputasi. Dengan agak brutal diusapnya air mata yang sudah keburu berlelehan itu dengan tangan.

"Oh...he em...makasih, ya!" ucapnya parau. Sial!!! Sial!!! Sial!!! Jangan sampai ketahuan menangis! Namun sayang, semua sudah terlanjur. Terang saja. Air matanya juga sudah tak terbendung lagi jatuh di atas pipi.

"Ya sudah tidur gih!" Ia pun tersenyum dan membalikkan badan. Mungkin akan melanjutkan acara merokok.

Dengan tanpa bisa berkata apa-apa lagi, Van Hellen pun hanya memegangi cangkirnya erat-erat dan merasakan ada sedikit kehangatan yang menyusup di hati.

***

Pukul 01.00 dini hari, Van Hellen merasakan hawa dingin luar biasa mencubiti kulit jangatnya. Di sampingnya Ningsih telah tertidur pulas dan sialnya ia ingin pipis. Fyuh! Jam segini bagaimana ia akan pergi ke semak-semak. Yang ada takut dan ngeri karena ini gunung, bukan rumah sendiri. 

Tapi hasrat ingin pipisnya sudah tak terbendung lagi. Dibukanya resleting penutup tenda sepelan mungkin supaya partnernya itu tidak terbangun. Ternyata saat keluar, masih ada yang duduk di sana, meski ia sendirian saja. Laki-laki kurus dengan buff di kepala dan sweater cokelat itu siapa lagi kalau bukan Agus. Ia pun mendadak salah tingkah karena ingat sebelumnya sempat menangis tanpa sebab, entah karena apa.

"Hellen? Kok bangun?" Agus yang ternyata sedang mengamati rasi bintang di langit usai hujan reda pun menyapa. 

Yang ditanyanya jadi sedikit agak kebingungan menjawabnya. 

"Iya Mas, Hellen mau pipis."

"Oh mau ditemenin ga?" tanya Agus.

"Kalau boleh sih, soalnya Hellen takut gelap."

"Hmmm...ayok deh. Santai saja ya. Aku tunggu di luar kok. Pipisnya di kamar mandinya pondokan saja ya. Biar ga terlampau seram seperti di semak-semak." Agus menenangkan.

Van Hellen pun bisa sedikit bernafas lega karena akhirnya ia tidak sendirian menuju kamar mandi. Ya, walaupun sempat malu juga, tapi apa boleh buat karena sudah tidak tahan lagi, maka ia paksakan juga untuk pergi. Sebab kalau ditahan-tahan tentu tidak bagus untuk ginjal. 

***

Suasana pondokan begitu suram. Kamar mandinya agak remang-remang membuat bulu kuduk berdiri. Van Hellen merasa ingin cepat-cepat menuntaskan acara buang air kecilnya karena seperti tidak nyaman dengan suasana di sekitarnya. Usai membersihkan diri sekalian mencuci muka, akhirnya ia cepat-cepat cabut dengan setengah berlari. Mungkin karena agak terburu-buru, maka Agus yang ada di depannya diterjangnya begitu saja hingga ia terjatuh dalam dekapannya, meski bisa dipastikan ini bukan dekapan yang disengaja.

"Kenapa Hellen?" tanya Agus bingung.

"Mmm...ga kenapa-kenapa sih Mas, Hellen cuma agak takut tadi..."

"Oh ya sudah, kalau ada sesuatu lebih baik ceritanya disimpan dulu sampai turun besok ya. Sekarang yuk kita kembali ke tenda." ajak Agus menenangkan.

***

Keduanya pun akhirnya kembali ke tenda. 

Tapi sebentar...

Sesampainya di sana, kok tahu-tahu ia melihat Satria sudah mencabuti pasak-pasak dan segala macam peralatan. Tampangnya terlihat serius tanpa menoleh sedikitpun ke arahnya ataupun Van Hellen. Ia terus saja meneruskan aktivitasnya sampai-sampai carrier yang ia bawa ia kemas pula. 

Ini kan baru jam 1 lewat 15? Apakah akhirnya sepakat jalan lagi tidak menunggu sunrise di Ranu Kumbolo dan sarapan pagi.

"Kang? Memang sudah mau lanjut lagi? " tiba-tiba Agus membuyarkan konsentrasi lelaki berambut keriting itu yang kemudian dijawabnya tanpa ekspresi.

"Lanjut saja Gus. Kita lihat sunrisenya di Arcopodo saja. Makanya lebih baik jalan sekarang." ucapnya dingin.

Tidak hanya itu, Herman, Khanif, dan Ningsih ternyata juga sudah ikutan bangun dan tahu-tahu satu per satu tenda mereka lipat lalu mereka masukkan ke dalam carrier. Lho.....jadi benarkah akan jalan malam ini juga? Apa boleh buat karena semuanya sudah berkemas, maka ia dan Van Hellen pun ikut saja.

Dini hari yang begitu gelap, rombongan akhirnya memutuskan untuk berangkat lagi. Kali ini dengan formasi Satria di depan, disusul Herman, Ningsih, Khanif, baru paling belakang Agus dan Van Hellen. Kurang lebih berjalan sekitar 1 jam, sebenarnya Agus mulai merasa keheranan dengan suasana yang dirasakannya saat ini. Jika kanan kiri pepohonan yang dilintasi semakin rapat (mungkin karena sudah masuk ke wilayah hutan vegetasi), juga suara binatang malam yang bagai koor bersahut-sahutan dari pucuk dahan satu ke pucuk dahan lainnya tidak terlalu aneh baginya, maka yang satu ini agak di luar nalar. Ia perhatikan lagi, cara jalan keempat temannya yang lain cepat sekali. Langkahnya beberapa kali lebih panjang dari biasanya. Seperti kaki mereka tiba-tiba jadi jenjang sekali. Pokoknya berbeda dari biasanya. Wajah mereka pun tampak dingin, meski dalam hati masih berbaik sangka mungkin karena masih setengah mengantuk jadi air mukanya tidak seceria saat siang. 

Masih belum hilang rasa herannya, tiba-tiba  Van Hellen menjerit kesakitan karena kakinya terkilir. Agus seketika menyuruhnya berhenti sejenak. Ia ingin gadis itu menunjukkan bagian mananya yang sakit. Tapi nafas Van Hellen seolah tercekat karena merasakan nyeri yang luar biasa. Ia pun mencoba berjalan agak tertatih tapi segera distop Agus. 

"Jangan dipaksakan kalau sakit." saran Agus.

"Tapi nanti ketinggalan." 

"Ga pa pa. Daripada nanti tambah parah..."

"Itu...yang lain udah pada jauh..." Van Hellen menunjuk keempat kawan mereka yang tiba-tiba sudah berjarak beberapa puluh meter dari tempat mereka berdiri.

Tak ingin hal itu kejadian, Agus pun memanggil yang lain agar tahu kondisi di belakang. Tapi, setelah dipanggilnya sekali, mereka seolah tidak ada yang mendengarnya. Keempat-empatnya jalan terus tak menengok lagi. Padahal suaranya sudah kencang sekali seakan membelah malam.

"Woooyyy, Kang!!! Berhenti dulu. Hellen terkilir kakinya. Ngaso dulu kita!" 

Hening.

Tidak ada jawaban.

"Kang Satriaaaaa!!!!"

Suara Agus terpantul-pantul lewat bebatuan cadas dan tebing yang mengitarinya.

"Herrrr..Nif...Niiiiing!!! Berhenti dulu!!!!" teriak Agus untuk yang kesekian kalinya namun tetap saja mereka jalan terus. Mereka tak menoleh sama sekali hingga hilang satu persatu punggung-punggung itu dari balik gelapnya hutan. 

Aneh.

Belum hilang perasaan ganjilnya, tiba-tiba gadis yang ada di sisinya ini oleng dan....craaaaaaaakkkk !!!!! Craaaaaaaaaaasssss!!!!!

"Maaaaaaaassss!!!" 

Van Hellen tergelincir di sisi jurang sebelah kiri dan berteriak. Beruntung Agus masih bisa menangkapnya meski harus dijabanin dengan sekuat tenaga. Digenggamnya jemari itu dengan erat seolah memintanya agar jangan sampai melepaskan. Headlampnya menyorot jelas ke arah bawah dan ia pun berspekulasi. Dasarnya lumayan dalam juga, meski kemiringannya masih bisa ditolerir.

"Tahan ya!!!!! Jangan lepaskan tanganku!!!" Agus mengkomandonya agar tetap tenang meski kemudian anak itu menangis ketakutan. Ia takut jatuh ke jurang.

"Masssss...Hellen ga kuat..."

"Tahan Hellen!!! Sebentar lagi Mas tarik dulu. Jangan dilepas tanganku!!" teriak Agus.

Tapi sungguh sial, medan yang agak menyulitkan ini membuat genggaman tangan keduanya merenggang. Tanah sekitarnya yang masih basah sisa hujan semalam, juga beberapa ranting pohon yang licin menyebabkan pertahanan Van Hellen ambrol juga. Ia terguling di lerengnya diiringi bunyi brug....brug..brug seperti menabrak semak-semak. 

"Helleeeen!" Agus berteriak. Tapi ia tidak mau putus asa. Di tengah suasana genting seperti ini yang dibutuhkannya hanyalah ketenangan. Panik sedikit bisa ambyar semuanya. Maka dengan hati-hati ia mulai merambat ke sisi-sisi lereng untuk mengejar Van Hellen, meski suasana sekitar begitu gelap gulita. 

"Helleeeeen!!!" teriak Agus berulang kali. Sampai akhirnya ia mencapai dasar lembah. Dan di sana ia melihat ada cahaya berkedip seperti berasal dari ponsel seseorang. Buru-buru ia berlari ke sana. Diarahkannya headlampnya itu agar fokus ke satu titik. Sebuah ponsel berbandul stroberi mungil menampakkan layar yang diambil dari foto pemiliknya saat masih kecil dulu. Ponsel Van Hellen.

"Helleeeeeen!!!" panggil Agus berulang kali. 

Dengan dibantu keremangan lampu kepalanya, ia terus melakukan penyisiran.

"Helleeeeeeen!!!"

Tak ada sahutan. 

Diperhatikannya wallpaper yang ada pada ponsel Van Hellen. Lalu seketika itu juga Agus mengernyitkan dahinya. Foto ini mengingatkannya pada....

Belum juga ia tuntaskan memorinya untuk mengingat-ingat lagi wajah kecil yang familier itu, tiba-tiba matanya menangkap tubuh seseorang seperti tertelungkup di antara semak-semak dan ranting yang patah. Tak salah lagi itu tubuh Van Hellen yang tergeletak 10 meter dari tempatnya berdiri sekarang. Ia pun berlari ke arahnya dan berharap semua masih baik-baik saja. Ia turunkan tubuh Van Hellen dengan hati-hati sekali supaya meminimalisir cedera, setelah itu ia rebahkan dalam posisi yang lebih nyaman. Ia raba denyut nadi gadis itu, ia dekatkan pula telinganya ke arah dadanya....oh syukurlah! Van Hellen masih hidup, meski sekarang ia pingsan.

***

Fajar mulai menyingsing. Semburat warna jingga yang seperti pepaya menyeruak dari balik bukit kembar Ranu Kumbolo pukul 05.41 WIB. Langit di atasnya pun menjelma warna keunguan pudar dengan pemandangan air danau di bawahnya yang tampak seperti kaca raksasa dengan akar-akar pohon berkerut yang mengelilingi. Keindahan yang tak dibarengi oleh pekikan suara yang berasal dari 2 buah tenda yang kehilangan 1 penghuninya secara bersamaan. Agus dan Van Hellen sudah tidak ada di tempat.

Sementara itu, Satria dkk yang masih bercokol di camping ground Ranu Kumbolo sejak semalam kini mendapati 3 tenda yang ada di seberang mereka sudah tidak ada lagi.

Bersambung...


Note : Cerbung ini merupakan kolaborasi bareng dengan teman-teman eks blogger MWB yang adatnya sering pakai nama teman (buat seru-seruan aja dan menambah akrab sesama blogger khususnya niche fiksi macam cerpen dan cerbung)

soundtrack penambah semangat menulis : Lady Antebellum (Need You Now), Daugthry (The World We Knew), Daughtry (Witness), silakan dengar dari headset masing-masing :D





66 komentar:

  1. aku kira van hellen ada hubunganya ya sama ms agus waktu kecil, sewaktu lihat ktp nya maa agus inget sesuatu, terus pas hellen jatuh di jurang lihat wallpaper hape juga teringat sesuatu, mungkinkah hellen adalah adik mas agus yang tertukar wkwkwk :D

    whaha aku banget itu sbenernya, dikeramain tapi rasa sepi, kenapa part itu gak aku aja mbak yang ngalamin, lebih dapet kayaknya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah kira-kira bener ga ya tebakannya mas khanif? kalau adik kandung kayaknya kok??? bentar ...tokoh mas Agusnya ga ada darah londonya xixixi...

      apa jangan-jangan....adek adekan kalik ??? wkwkkwkw

      kan mas khanif dah masuk ke part waktu Van Hellen nangis 😜?

      Hapus
    2. hehehe aku cuma becanda ko nebaknya, ga mungkin keknya adik yang tertukar :D.. kalo adek-adekan mungkin sih iya :D

      Hapus
    3. adek-adekan berarti bukan adek beneran ya?

      sengaja bikin konfliknya agak agak rasa film-film romantis atau drama korea

      siapa tau dilirik produser pilm wkwkwk..

      mbul memang berbakat bikin cerita ginian kan #plaaaaaaaks si embul uda memuji diri sendiri...#canda 🀭

      Hapus
  2. 1.. Ciieee giillee menarik banget kisah part yang ke2nya...Beb mbul memang luar biasa, Memang harus Sungkem nih sama Suhu Mbul...Sungkem Guru.πŸ™πŸ™πŸ™ Awal baca dari pertama sampai akhir gw langsung teringat sama kenangan gw sewaktu di pulau Bali. Tepatnya di Gianyar, Memang bukan kisah tentang mendaki gunung tetapi entah mengapa gw jadi teringat dengan seorang gadis Bali yaitu Niluwati, Ntar kalau sempat gw tulis deh diblog tentang kenangan dipulau Bali.😊😊 ( Langsung cek gudang buku dan album jadul dirumah syukur2 masih nyimpen photo sewaktu di Gianyar )

    Nah untuk gunung Semeru, Atau Mahameru. Ini kenangan sewaktu masih kuliah, Meski sudah beberapa kali kesana, Cuma nggak ada kenangan manis dan menarik, Yaa semua biasa2 saja, Laki semua yang ikut nggak ada ceweknya.🀣 🀣 🀣 Kenangan pahit malah banyak, Dari ngelihat hal mistis sekitar gunung tersebut. Sampai berantem sama anak mahasiswa lain karena beda pendapat. Gw dulu ke Mahameru cuma untuk pelarian kala diomelin bokap dan nyokap gw karena bandel.πŸ˜†πŸ˜† Selain itu juga untuk menghilangkan kegalauan kala diputusin si Anu. Eehh malah curhat gw yeee!!.πŸ₯Ί πŸ₯Ί 🀣 🀣 🀣

    Ok sekarang kita kembali ke Laptop, Eeh salah ke Cerpen si Mbul.😁😁 Diceritakan pada part kedua ini akhirnya Van Hellen pun bisa ikut mendaki gunung berkat Alan sang kakak, disana mereka dapat bertemu dan berkenalan dengan berapa orang teman Alan yang akan mendaki gunung Semeru, Meski pada akhirnya Alan tidak bisa ikut mendaki, Karena ada janji dengan sang Dosen pembimbingnya untuk urusan anu, Padahal sebenarnya mau ketemu si Anu.πŸ˜†πŸ˜†

    Tetapi meski begitu Van Hellen tetap ikut mendaki, Setelah dipaksa oleh si Agus Jambe pria yang nubruk ia di Indomaret kalau nggak salah yee..🀣 🀣 🀣 🀣 Selain itu Van Hellen juga bisa melihat orang paling tamvan sedunia yaitu Satria, ( Maksa amat gw yee.🀣🀣 ) Dan teman2 lainnya seperti Khanif serta H & N ( Mau nyaingin H & R mungkin Herman punya perusahaan kaos kali yee, Makanya ia gaet Ningsih, Walau manja tetapi pinter masak katanya.πŸ˜† ) Pendakian pun dimulai meski jalur yang ia lalui jalur umum. Buka jalur sendiri dong Gus, Biar lebih menantang.🀣 🀣 Gimana nih ketua.πŸ˜†πŸ˜†

    Sampai pada akhirnya Agus minta Ektp Van Hellen, Untuk didata, Karena tampang Chuby nama Londo.🀣 🀣 Beruntung Van Hellen tidak bayar mahal karena tampang Chubynya akhirnya ia cuma bayar Chepeceng saja.🀣 🀣 Padahal itu alesan si Agus saja biar bisa tahu nama si Van Hellen.πŸ˜†πŸ˜† Pendakian terus berjalan meski si Agus selalu berkhayal jika Si Ratna ikut mungkin ia akan bahagia.🀣 Tetapi sayang sekali si Ratna tidak ikut karena ia sedang ke Thailand, Untuk melamar menjadi seorang Biksu agar bisa menaklukan Harimau.🀣 🀣 Untuk pendakiannya berikutnya di Gunung Singgalang Sumatra.🀣 🀣

    BalasHapus
    Balasan




    1. Alhamdulilah kalau kang satria bilang gitu...πŸ˜ƒπŸ˜

      soalnya kalau mbul bikin cerpen jarang ada yang mampir apalagi komen panjang selain kalian-kalian ini huhuhu....jadi kalau dapat apresiasi gini ku merasa ada yang support πŸ₯ΊπŸ˜ Kan Mbul pengen bisa nulis fiksi sebagus kalian juga #mbul terharu wkwkkw ΰ²₯‿ΰ²₯

      malah jadi keinget sama memori waktu kang satria muda dulu ya pas ada di Gianyar dan Mahameru ya...xixixiix...berarti cerbung mbul bisa dikatakan berhasil masuk ke hati pembaca dong #eh pede amat ya gw hihi...iya soalnya nulisnya pake hati sih (ama tangan deng hahahhaha) biar kerasa feelnya..biar kerasa suasana kemah dan kumpul bareng pendakinya 🀭

      Ayo Kang Satria, ditulis pengalamannya, pasti seru banget, terutama yang di gunung tuh, kok bisa berantem sama mahasiswa lain? ga di jalan ga di gunung, kok tetep tawuran? wekekkekek! Pantesan diliatin hantu kang hahhahah...bikin ribut gunung kali, jadi medinya senewen 🀣

      Iya Kang, Van Hellen akhirnya ikut ke gunung soalnya terlanjur bawa tas segede gaban dan tenda, masa ga jadi kemping. Lumayan kan refresing lihat pemandangan Ranu Kumbolo...siapa tahu dapat kenangan manis di sana πŸ˜ŒπŸ˜‹

      Haha...yooooooyoooooii seperti biasa ya, peran double bayaran double ya...Alan ga ada, Satria keluarkan. Ga ada Satria cerpen tuh berasa ga rame. Kan dia yang ngehebohin biasanya wkwkwkkwk....

      Kang...Kang...H & M mereun kalau merek kaos...kok H & R ? hahahhaha
      ꉂ(ΛŠα—œΛ‹*)

      Hu um ya harusnya sang leader yaitu Mas Agus Jambe...eh kok Agus Jambe sih...Mas Agusnya maksudku...harusnya dia buka jalur trek baru ya biar kesasar semua #lho kok kesasar? Iyalah kan kalau kesasar ceritanya jadi panjang wkkwkwk

      Tampang chubby menyelamatkan dirinya ya ha ha ha...
      kang tapi karena WNI, Van Hellen ga bayar di atas cepekceng....dia cuma bayar ga ada 20 rebu x berapa hari kira kira di sana...sama kayak yang lain πŸ˜„πŸ˜

      wkwkwk..iya ya dilirik dikit ternyata nama lengkap walandinya van hellen puanjang banget...

      ha ha haaa...si Ratna mau naklukin harimau Singgalang? Kang ini kan sebenernya Ratna yang di cerpen Mas Agus yang di Toko buku ketemu ama tokoh Satria...berarti di sini uda jadi mantan kali ya si Ratnanya wkwkwk...🀣 #canda #sungkem suhu Satria πŸ™πŸ™πŸ™




      Hapus
    2. Ini mbul komen sama siapa sih, kok namanya agak kabur gitu, soalnya pakai mode gratis.😁

      Hapus
    3. sama siapa yuaaaa Κ• γ…‡ α΄₯ γ…‡Κ”

      lho kalau pakai mode gratis...gambar ilustrasinya ga kelihatan dunk? 🀭🀭

      Hapus
    4. Memang ngga keliatan, biarlah ngirit kuota.🀭

      Hapus
    5. waaaaaduuh...sayang banget mas, ga kelihatan. padahal gambarnya bagus loh #eh si mbul sontolohom ya mas malah memuji gambar ilustrasi bikinan diri sendiri πŸ€ͺπŸ₯΄πŸ€­

      Hapus
  3. 2.. Sampai pada akhirnya mereka sempat beristirahat dan memotret keadaan alam sekitar untuk dijadikan moment kenangan yang menarik. Meski kamera yang mereka miliki cuma 1/2 pixel, Dari pada kaga yee.🀣 🀣 Selain itu kecantikan Ningsih yang bah seorang Fotomodel di Sunset Modelling. Memberikan semangat bagi Agus, Knanif, dan Satria. Meski mereka tahu wanita tinggi semampai itu sudah menjadi milik Herman.πŸ˜†πŸ˜† Berbeda dengan Van Basten, Eehh salah Van Hellen.🀣 🀣 🀣 Melihat kejadian itu entah mengapa hati Van Hellen serasa tersayat2 sembilu yang menyakitkan, Waalaahh! biasa aja Keleus, 🀣 🀣 🀣

    Hingga akhirnya pada pendakian pertengahan mereka mendirikan tenda dan lagi2 Ninggsihlah yang menjadi pusat perhatian, para kaum Adam itu, dan melihat hal itu Van Hellen mencoba tegar menghadapinya.😁😁 Sampai pada pertengahan malam si Van Hellen mendadak pengen boxer, Beruntung Agus jambe belum tidur dan mau mengantarnya...Saat Agus dan Van Hellen sedang tidak ditempat, Kala Satria memainkan melodi syahdu untung penghantar tidurnya, Telinganya sempat mendengar suara Gamelan misterius, Selain itu dihadapan Satria kini tampak terlihat jelas sebuah kerajaan yang para penghuni serta prajurit2nya sedang melakukan aktifitas keseharian. Bingung dan merasa aneh Satria buru2 melipat tenda dan berkata kepada Khanif, Herman serta ningsih untuk meneruskan pendakian saja.

    Kepergianya membuat Agus dan Van Hellen, Binggung meski tertinggal Agus berusaha menyusul bahkan memanggil sambil berteriak, Tetapi karena tertinggal jauh atau ada setan budek, Satria dan dkk tak mendengarnya. Dan malang juga bagi Van Hellen tiba2 kakinya terkilir dan iapun terjatuh disebuah lereng, Aaaahhhh tuuulluuunggg!! Aguspun berusaha menolong, Tetapi akhirnya Van Hellen tetap terjatuh...Agus berusaha menuruni lereng tersebut beruntung ia menemukan ponsel Van Helen yang berbandul anak bagong, Eehh Stroberry.🀣 🀣 Pada gambar walpaper ponsel itu terlihat sebuah gambar.....Heemm mungkin Gambar Cover Enny arrow kali yee.🀣 🀣 🀣 Akhirnya Van Hellen pun berhasil Agus temukan. Dan juga akhirnya Agus menemukan seorang pendekar sakti yang bernama Bujang Tapak Sakti...Sejak saat itu Agus & Helen dianugrahkan sebuah pukulan Telapak Mahameru dan Ajian Tapak Bromo.🀣 🀣 🀣

    Bagaimanakah kisah selanjutnya silahkan ikuti terus cerita ini setelah pesan2 berikut dan iklan Antimo.🀣 🀣 🀣 🀣 πŸ˜†πŸ˜†

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kang..Kang..ralat...tokoh Khanifnya justru karakternya ga ikut ikutan kayak yang lain, justru dia melipir liat apa entah tapi ga ikut guyon sama sang pusat perhatian yakni calonnya Mas Her di cerbung ini xixixi

      Kalau Van Hellen ini limited edition ceritanya Kang, ya meski tampangnya masih kekanak-kanakan tapi manis juga loh dia, manisnya ga ngebosenin lagi #eduuuuuuh gula kali ya manis wkwkkwk......(Van Hellen yaaaa...catet..bukan Van Basten...kalau Van Basten itu bapaknya...lha ganteng amat bapaknya Van Hellen ya...malah kebayang Marco Van Basten yang jadi Bapaknya wkwkwk #canda). Tersayat sembilu....kayaknya malah lebih dari itu bagai tersayat oedang samurai wkwkkwkw...tajem banget kan tuh pedang samurai hihihi...#pedih

      Pengen pipis kaliiiiiikkk...wkwkwk...iya kepaksa ke pondokan untung ada yang mau nemenin...aturan abis kelar pipis, duduk duduk dulu kali ya di depan api unggun, berdua liat milky way atau rasi bintang di langit....e keburu ngliat Satria bongkar bongkar tenda sih...jadi.......ah...sudahlah wkwkwkkw

      drama deh selanjutnya hihihi

      #dah cocok jadi sutradara film romantis kan gw kang, cita-cita jadi sineas muda lom kesampaian #hiks hiks...

      bandul ini kaliiikkk πŸ“πŸ“πŸ“, kan kata πŸ“πŸ“πŸ“ ini yang jadi kontjiannya

      (*・Ο‰・οΎ‰οΎ‰οΎž☆゚゚

      moment telapak mahameru? 🀭

      kenapa musti eklan antimo sih???? wkwkkwkw

      🀣🀣🀣

      Hapus
  4. Duh, mbak nitaku , ceritanya menakutkan sekali sih ?bikin saya bacanya jadi dek - dekan, buat lah novel lain lah mbak novel anak - anak yang lucu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jangan fokus ama bagian horrornya aja Tari...itu kubikin banyak part romantisnya juga loh...bertebaran dimana-mana malah πŸ˜‚

      #eh tapi aku pas ngedit cerbung ini juga pantaran jam 3 pagi deng..mantab kan? πŸ€£πŸ˜‚

      Hapus
  5. Haha nama alan gak ada belanda2 nya sama skli yah mbull beda dengn adiknya van helm eh van hellen tp kayaknya nama aslinya bukan itu deh saat dilihat di ktp nya...

    Part 2 nya drama banget mbull pake acara jtuh sgala si hellen...

    Tp kalau kisah nyata dn sy ad disana psti sy godain si hellen lahh dr pd ningsih, biar kata ningsih primadona tp hellen pasti lebih waow kan ad bule2nya hehe walaupun masih bocil...

    Part 3 nya gak bisa saya tebak tp menurutku sihh bakal ada 2 pasangan yg jadian sepulang mendaki hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin nama panjangnya Ambrossius Alan De Jong kalik wkwkwkkw

      kalau van hellen nama panjangnya adalah.....jeng jeng jeeeeng....(hanya Keluarga Hellen, Agus, dan Tuhan yang tau....penulis cerbungnya juga deng wkkwkwk)

      drama dong, kalau ga drama, ntar ga ada moment manisnya

      ((* ̄(エ) ̄)οΎ‰

      nah...nah...memang pesona si Van Hellen ini sebenernya antimenstrim ketimbang cewe lain wkwkkw...dia berbeda, selain manisnya ga ngebosenin dirinya juga ada sisi misteriusnya juga #asyik! 🀣

      hmmm part 3 digodognya agak lama ini
      musti cari wangsit dulu πŸ˜„

      Hapus
  6. hmmm, musti baca yg part 1 nya dulu nih biar mudeng

    BalasHapus
    Balasan
    1. bole bole
      bole banget..

      abis dari part 1, lanjut lagi ke part ini ya..ntar biar komen lagi

      btw bagi resep menggapai sehatnya dong 😁

      Hapus
  7. haaa lanjut Mbulll.. makin seru nih

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihihi siaaap kak...mau bertapa dulu cari wangsit buat part 3 ya, semoga masih semangat membara nyari ide 😜🀭🀭

      Hapus
    2. Seru ada bumbu mistisnya.. Hehehehe.. jadi inget waktu masih jadi MABA, ada pengalaman serem juga.. wkwkwk

      Hapus
    3. iya kak nai...

      mbul lagi seneng bikin cerpen horror..sejak sering dolan blog mas agus dan blogger yang suka bikin cerpen, si mbul jadi ikut-ikutan pengen bisa nulis cerpen juga, walaupun cerpenku masih agak kacrut alias pemula, wkwkkkk, belom semastah mas agus dan lainnya 😜🀭

      iya aku pas jadi maba sebenernya ada stok cerita creepy kak...secara dulu tingkat 1 setahun wajib tinggal di asrama kan...nah asramaku itu gedung tua, dekat fakultas kehutanan...dan ya...otomatis dikelilingi hutan..atau area kampus yang jarak antar gedungnya emang dikelilingi hutan...Nah di asrama itu sering bener deh temen temenku mengalami hal hal aneh. Aku ndiri ada beberapa kali sih ngalami, ga tau aku yang lagi banyak pikiran atau emang beneran ada 'sesuatu' pas ke kamar mandi mau mandi sambil nyuci malam malam biar ga antri ya gitu deh kayak ada sesuatu gitu di kamar mandi sebelah...soalnya model kamar mandi per lorong asramanya ada 5 deret gitu wkwkw...jadi nostalgia saat masih asrama deh si mbul hahahha

      Hapus
    4. Wah mbul tinggal di gedung tua fakultas kehutanan ya, enak dong bisa gelayutan dari satu pohon ke pohon lainnya kayak Tarzan.🀣

      Hapus

    5. (`・Ο‰・´) weduuwww...kayak onye' dung si Mbul Mas...

      onye πŸ‘‰ tenyom (tapi bacanya dibalik) πŸ‘‰ πŸ™ŠπŸ’πŸ™ˆ

      ( ˘⌣˘)γ₯)˚Π·°)


      🀣🀣🀣

      Hapus
    6. enggak kacrut mbak cerpennya. Dari segi kerangka, Setting, Dan alurm saya merasa jelas-jelas di konsep. keren! ga kaya saya, Ynag bikin sekali tulis ngalir aja tanpa mikir tokoh setting alur. Kadang masih bingung ngasih konflik hehe. Jadi belajar saya harus ngonsep dulu kaao bikin cerpen. KEREn.

      Oiya, Penditailan Lokasi saya suka, cukup akurat seperti Ranu pani, dan nama-nama pos yang lain.

      Namun, kritis saya perihal membuat api unggun di Ranu Kumbolonya, setahu saya sudah tidak boleh, selain hanya warga asli/wong tengger saja. meski sebenarnya itu juga sebenarnya dilarang.

      Tapi asli, keren Mbak mbul. Saya suka. Mungkin, karena saya Mapala juga ya wkwk

      Hapus
    7. Nah mbul, cerita pas jadi maba boleh tuh dibagi di blog ini.. Lebih seru kalo baca pengalaman sendiri kan

      Hapus
    8. wah makasih ya atas koreksinya mas supriyadi...hihihi...bagian api unggunnya uda aku edit πŸ˜πŸ˜„πŸ™, soalnya tadinya ga tau πŸ˜†

      ah ga kok, cerpen mas supriyadi menurutku justru bagus banget karena kaya di diksinya. Kalau si mbul emang masih belajar dari kalian kalian ini hehehe...jadi semangat nih aku dikomen para blogger cerpen yang udah πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘, jadi semangat belajar nulis lagi aku...makasih ya πŸ˜ƒ

      Hapus
    9. kak nai...bole bole...ntar mbul kapan kapan cerita horror saat masih tinggal di asrama yak wkwkwk

      Hapus
  8. Balasan
    1. Ok..

      Jawabannya pendek amat.🀭

      Hapus
    2. okkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk....



      tu
      udah
      panjang
      mas...

      ᕦʕ •α΄₯•Κ”α•€

      Hapus
    3. πŸ™„πŸ€£πŸ€£

      Hapus
    4. Κ• •α΄₯•Κ”ゝ☆

      \Κ• •α΄₯•Κ”/

      \Κ• •α΄₯•Κ”\

      Κ•ΰΈ‡•α΄₯•Κ”ΰΈ‡

      ⊂( ̄(エ) ̄)⊃

      ((* ̄(エ) ̄)οΎ‰

      ⊂(● ̄(エ) ̄●)⊃


      dan beruangnyapun terus membesar

      (((terus membesar)))

      (((terus membesar)))

      🀭

      Hapus
  9. Asik kalau gini baca cerbungnya

    BalasHapus
  10. Kemarin sebenarnya sudah baca tapi cuma bagian awal, mau dilanjutkan tapi disuruh kuli dulu. Baru siang ini kelar bacanya.

    SiAlan alesan saja ya dosen pembimbing nya mau revisian skripsi nya, padahal aslinya mau mangkal bareng Ratno eh Ratna di lampu merah, bukan di Thailand.πŸ˜‚

    Untung juga wajahnya Van Hellen mirip Saodah, jadi biarpun namanya bule tapi tetap bayarnya lokal.😁

    Wah si Agus jadi leader di pendakian ini, kayaknya itu karena ada si Hellen, coba kalo ngga ada, pasti masa bodo.

    Nah lho, jadi siapa itu sebenarnya yang diikuti Agus dan Hellen, jangan-jangan...😱

    Jangan asem.πŸ˜‚

    BalasHapus
    Balasan
    1. hmmm kepanjangan kah mas?

      gimana? kasih saran atau apa gitu? πŸ₯΄

      kurang horror ga kira-kira, apa kurang romantis?

      (。・Ο‰・。)

      lha tenyata Ratna ga jadi ke Thailand tapi cuma mau nyebrang perempatan bangjo ya? 🀣

      cantikan Mbul kali dari pada Saodah...πŸ₯ΊπŸ₯Ί eh maksudnya Mbul Van Hellen lebih cakep kemana mana lah daripada Saodaaaah hohoho...saodah kan komplotan kan tipyuuu pake ringtone ketawanya mba kukun di cerpen blog tetangga sebelah 😜

      tetiba si Agus bisa jadi leader naik gunung ya mas πŸ˜‹

      nah....gemana tuh
      siapakah yang jam 1 malem terlihat seperti si S, H, N, dan K? wadidawwww...apakah itu si S, H, N, dan K yang asli atau palsyuuuh?

      jangan asem itu keahlian dari admin blog ini yaitu membuat jangan asem mas wkwkwk πŸ€£πŸ˜™πŸ€£

      Hapus
    2. Iya agak panjang sih, tapi karena jalan ceritanya bagus jadinya dibaca sampai tuntas tas tas, tas ransel.πŸ˜‚

      Sarannya gimana ya, itu tokoh Satria dan khanif tiba-tiba kepleset jatuh ke jurang atau dibawa jurig aja, soalnya nyebelin.🀣

      Dipanggil panggil ngga mau nengok.πŸ˜‚

      Van Hellen sama Saodah ceritanya saudara kembar yang terpisah, makanya mirip, cuma Saodah lebih pintar, ringtone bisa jadi duit, kalo Van Hellen pakai ringtone ngeluarin duit.🀭

      Kaboorrr πŸšΆπŸƒπŸ’¨

      Hapus
    3. ΰ²₯‿ΰ²₯ masa sih mas..jadi terbang nih kalau dibilang bagus ma mas yang dah malang melintang nulis cerpen

      (✪Ο‰✪)/

      asyik...uda dibaca sampai tuntas, jadi semangat nulis si mbulnya mas

      (。・Ο‰・。)

      πŸ’ͺ('Ο‰'πŸ’ͺ)

      wakakkakak sarannya kok kayak lagu alm eyang meggie z mas, sungguh teganya teganya teganya hwahahhaha...masa dibawa jurig? 🀣

      ga mauuuu kembaran ama saodah weeeeek πŸ˜‹πŸ˜œ

      van hellen pakai ringtone ngeluarin duit...hihi..nyedot pulsa yaaaa..ringtonenya buat musikan pulaaak πŸ˜‚πŸ€­

      memang kudu ditabok si Van Hellen tuh..🀣

      Hapus
    4. Oiya, Bener kata mas Agus kepanjangan. Tapi karena ide ceritnaya asik, jadi gak kerasa.

      Hapus
    5. iya ya...bolak-balik kemaren aku ngitung jumlah katanya nyampe berapa ribu wkwkkw...ternyata lumayan dowo juga ya 🀭🀭

      Hapus
  11. Huaaa suka bangettt.. 😁😍 bagus Mba Mbul ceritanya..
    Btw Mbak Mbul sendiri pernah muncak ke Semeru Mba? Ko fasih banget cerita perjalanan ke Semerunya sampai hapal Ranu Pani segala... πŸ˜†

    Aku baca ini ngebayangin wajahnya Van Hellen yg dikira Pendaki Mancanegara.. haha 🀣 cantik banget pasti.. kecil dan Imut-imut..
    Tapi kasihan, di cuekinn karena kalah pamor dari Ningsih. Haha. Dan aku banget sering merasa kesepian di tengah keramaian.. lohh malah curcol..

    Endingnya Twist ya Mba.. aku smpe baca kalimat terakhirnya berkali-kali πŸ˜….. jadi yang dilihat Agus dan Van Hellen pasca pipis itu siapa??
    Dan walpaper di Hapenya Van Hellen mengingatkan agus pada siapa?
    Akankah ini terjawab pada part 3.. let's wait..

    Tegang banget pas bagiam Agus berusaha nyelamatin Hellen.. feelnya dapet gitu... πŸ™‚πŸ˜† ditunggu kelanjutannya ya Mba..

    Alan pasti marah2 pas tahu adeknya jatuh di lereng.. 😒

    BalasHapus
    Balasan
    1. Asyikkkk jadi semangat nulis cerpen ✧*。Ω©(ΰΉ‘˙╰╯˙ΰΉ‘)و✧*。

      sebenernya belom pernah naik gunung sih bay...ada tapi cuma bukit di deket sekolah wkkwkw...waktu wide game pramuka atau PMR atau olahraga lari....aku pas bikinnya liatin dulu vlog vlog para pendaki sambil ngematin pemandangannya hahahhaha...#thanks God ada youtube wkkwk

      van hellen ini kan jelmaaannya....wkwkw...pokoknya imut imut lah wkwkwkkw #geje si Mbul
      ya meski kasihan soalnya ketutupan ama pamor Ningsih hihihi...jadinya doi mlempem deh kayak krupuk...kan pengen ada yang kasih perhatian juga...#duduuddudduwww

      soundtracknya si Van Helen uda macam lagunya Dewa ya Bay wkwkwk
      apa lagu Peterpan...hari yang cerah untuk jiwa yang sepi

      nah itu dia...kira kira menurut bayu pas settingan siang siang gerimis di situ ada tenda 3 yang warnanya eng ing eng uda kerasa aura auranya blom ? hihihi

      asyik...tak bertapa dulu ya Bay....soalnya belum nemu ide lagi wkwkwkkw

      nah ga tau nih besok gimana endingnya? selamat ga kira kira pendakinya? dan Alan akan gimana ya reaksinya πŸ™Š

      Hapus
  12. Tinggalin jejak dulu ya kak.. nanti aku baca sepulang kerja

    BalasHapus
    Balasan
    1. Boleh ...
      (*・Ο‰・οΎ‰οΎ‰οΎž☆゚゚

      Hapus
  13. Jangan-jangan nama lengkap Van Hellen itu Van Hellen Gusty Setyaningsih.. hihihi.

    Semakin ketebak Van Helsing adalah lelaki yang ada di masa lalu Van Hellen dari foto yang dilihat sudah mengingatkan ke masa lalu.

    Yang diikuti Van Hellen dan Van Helsing sepertinya penghuni tenda yang sudah ada dulu bukanlah teman-temannya makanya jalan pada cepat-cepat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. wakakkak...kan ningsihnya yang tinggi mas her..kalau van hellen itu pendek kayak anak kecil, chubby pipinya wkwkkwkw..kalau ningsih diceritakan di sini tirus bak putri Indonesia hahahahha

      Nah kan? berarti misteri selanjutnya penghuni tetangga sebelah di masa lampau dong wakkakakaka?

      Hapus
    2. Oh, berarti salah dong atau jangan-jangan Van Hellen Gusty Septyaningsih (semoga aja benar)..hihihi

      Aroma horornya udah terasa nih tapi aneh juga kalau semuanya bisa melihat 3 tenda yang sudah ada duluan biasa kalau mahluk halus yang lihat hanya beberapa orang aja.

      Ceritanya yang ini walau panjang tapi dibacanya enak mengalir banget tau-tau udah sampai di kata bersambung aja. Kayaknya ada riset dulu nih sebelum bikinnya?

      Hapus
    3. Nah bener kan, memang cerita yang ini enak dibacanya, jadi biarpun panjang kayak sosis tapi ngga terasa tahu-tahu bersambung.πŸ‘

      Ya bisa sajalah mas semuanya bisa lihat makhluk halus, soalnya yang lihat juga sama sama makhluk halus.😁

      Hapus
    4. mas her...wkwkwkkwk dia ngeyel ada ningsihnya....ga ada ningsihnya lah van hellen wkwkwkkw

      iya kan biar terasa horrornya mas her...tendanya duluan yang kelihatan...penghuninya belom tentu bisa ngeliat semua 😌


      wah jadi tersanjung jilid 10 nih dibilang mengalir amancerpenis yang udah kawakan seperti mas her wkkwkw

      semua ini berkat banyak baca cwrpen cerpen kalian kokx cerpen mas her, mas agus, kang sat, mas supriyadi, si allul, dan lainnya xixixi #ijin nyerap ilmu dulu si mbul mah 😜

      Hapus
    5. mas agus, kok kayak sosis mas ?
      (´・ο½ͺ・`), panjang beneran dong 🀭

      hu um...halus karena si mbul pakenya nivea dan juga vaselin.....eh itu mah penulis cerbungnya yak πŸ˜™πŸ™ƒπŸ€ͺ

      Hapus
    6. Oke ngga ada Ningsihnya tapi masih boleh nebak lagi kan, saya tebak nama lengkapnya Gusty Van Hellen Fitrianing Sih..hihihi

      Oh biar terasa horornya makanya semua bisa melihat 3 tenda yang sudah ada lebih dulu dan korban pertama Hellen sama Agus dan selanjutnya pasti khanif, dia kan penakut jadi gampang ditakut-takuti.. hihihi

      Hapus
    7. wkwkwkw tetep ga nyerah ya mas her 🀣

      hahahha...mas her ternyata apal mas khanif luar dalam loh 🀭

      Hapus
  14. wajah lokal bayar lokal.... asiik juga ....

    jalan ceritanya mengalir.... mantul

    BalasHapus
    Balasan
    1. wajahnya pokoknya mantul pak tanza...semantul admin blog ini....#eh gimana gimana wkwkkw

      iya makasih atas apresiasinya Pak Tanza, suatu kehormatan buatku yang masih pemula 😊☺

      Hapus
    2. Have a wonderful too Mr Tanza ☺😊

      Hapus
  15. dereettt derett derett... kirain suara senapan di game PUBG wkwkwk rupanya suara getar handphone dalam saku yah

    BalasHapus
    Balasan
    1. hu um mas intan...ketahuan nih mas intan sering main Pugb...si mbul mah ga iso main game mas intan...bisanya main yang lain

      #main wajan ama spatula...(biar kayak sponge bob bikin crabby pattie wkwkwkk)

      Hapus
    2. Wah tumben intan muncul, apa kangen sama adminnya ya.πŸ˜†

      Hapus
    3. hahaha...kangen sama semua temen blogger kali mas intan, mungkin mas intan kangen mas agus juga ☺

      Hapus
    4. Tapi dia ngga main ke tempatku, berarti ngga kangen. :D

      Hapus
    5. waaaakkk..bentar mas...mbul lagi ngetik part 3, cep cep cuup ampun ngambeg mas, ntar mas intan takbilangin suruh mampir tempat mas agus po? bentar dulu ya mas mbul lagi ngedit part 3 🀭

      Hapus
  16. Very nice short story but abit complicated. On the other hand it is so excited, thanks.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thank you Dear, very glad you like it ☺😍

      Hapus

Komenin dong...tanpa kehadiran kalian apalah arti aku menulis....
kalian penyemangat setiap bulir kalimat dalam blog ini :*
Namun jangan komentar SARU atau SARA ya, jika ada komentar dengan unsur tersebut, dengan berat hati akan aku HAPUS .

Oh ya, Dilarang juga mengambil gambar/foto atau menyadur tulisan tanpa mencantumkan sumber atau seijin pemiliknya. Apalagi untuk kepentingan komersial atau lomba. Thx ^____^