Jumat, 18 Juni 2021

Cerbung : Stroberi (Part 3)




Oleh : Gustyanita Pratiwi
Sifat : Fiktif belaka




Sembari meraba dalam gelap dan hanya bertemankan cahaya lampu di kepalanya, Agus mulai berpikir tentang bagaimana caranya menolong Van Hellen. Ia memang sudah beberapa kali naik gunung, tapi baru sekali ini tersasar. Itupun karena menolong teman kecilnya yang jatuh ke lereng ini. Lereng yang dipenuhi pohon-pohon cemara dan tumbuhan paku-pakuan. Mungkin sekitar Cemoro Kandang sebelum Kalimati. Tapi ia belum memastikan posisi tepatnya ada di sebelah mana. Sebagai orang terakhir yang melihat Van Hellen jatuh, maka ia tak bisa meninggalkannya begitu saja. Toh, ia punya tanggung jawab moral atas kelompoknya jika terjadi hal-hal yang tak diinginkan. Terutama karena abangnya Alan sudah memasrahkannya padanya sesaat sebelum mendaki.

Cerbung : Stroberi Part 1
Cerbung : Stroberi Part 2

"Ah! Harus mulai dari mana ini?" Agus mencoba berpikir jernih, sebab cuaca masih gelap sekali. Kalaupun sudah pagi tentu akan lebih mudah karena paling tidak ia akan tahu kondisi di lapangan seperti apa. 

Tanpa menunggu waktu lama, segera diurusnya Van Hellen, gadis yang ditemuinya dalam kurun 1 × 24 jam yang kini terkulai lemas usai pingsan beberapa saat yang lalu. Kedinginan ia  sampai kulitnya pucat, sepucat putri salju yang tertidur panjang usai menggigit sekerat apel beracun. Mata bundarnya yang sering mengingatkannya pada sorot mata burung celepuk itu hampir-hampir melebar pada bagian pupilnya, di saat lain juga terpejam diantara beberapa helai rambutnya yang terurai berantakan, meninggalkan memar dan goresan luka di beberapa tempat, juga bibir yang bergetar hebat seperti orang kedinginan. 

Saat ia pastikan detak jantungnya, debarannya kuat sekali. Tangannya membentuk posisi seperti orang menggigil, badannya pun gemetaran. Celana jeans belelnya kini compang-camping, jaket parka birunya juga robek di sekitar siku, sementara kaos dalam warna merah yang ada di sebaliknya belepotan lumpur sisa hujan saat menggelinding di kemiringan dan menabrak semak-semak. 

Kakinya yang terkilir, sementara ia topang dengan carrier supaya lebih tinggi dari posisi jantung. 

Lama Agus perhatikan, badannya tak kunjung berhenti gemetar. Setelah ia raba suhu tubuhnya, ia pun terperanjat karena gadis itu seperti menunjukkan gejala hypotermia.

"Brrrrrrrb...." anak itu terus meracau. Sementara gerimis yang tak diundang mulai datang sekonyong-konyong membuyarkan lamunan Agus yang dipenuhi dengan banyak pikiran. Ia pun harus berpacu dengan waktu, jika tak ingin semuanya terlambat. 

Dibongkarnya Rei Carrier Toba 60L-nya yang berwarna biru layer kuning dan sudah dilengkapi dengan kompartemen hujan. Ia dirikan tenda dalam satu kali tarikan, dan ia siapkan segala hal yang bisa membantu Van Hellen agar segera mendapatkan kehangatan.

Segera ia ingat-ingat lagi bagaimana prosedur penanganan korban hypotermia.

"Maaf ya Hellen...," Agus mulai membuka baju Van Hellen yang basah, mulai dari baju terluar hingga baju terdalamnya supaya tidak kedinginan. Ia selimuti tubuhnya yang putih dan sintal itu dengan selimut darurat. Setelahnya, ia gendong gadis itu untuk ia rebahkan ke dalam tenda dan ia bungkus dengan sleeping bag. Ya, tak lain supaya gadis itu segera mendapatkan panas tubuhnya yang hilang dalam sekejap. 

***

Berangsur-angsur Van Hellen pun mendapatkan kembali kesadarannya. Meski masih gemetar, ia harus segera diberi cairan supaya tidak sampai dehidrasi.

"Aku pegangin ya gelasnya."

"Gimana sudah enakan sekarang?" tanya Agus.

"Mmm..." sahut Van Hellen masih dengan badan gemetar.

"Pelan-pelan saja minumnya..." Agus mulai memposisikan diri membantu Van Hellen meneguk teh hangat yang sudah ia bikinkan sedikit demi sedikit supaya badannya segera baikan. Yang ditolong pun manut saja. Bahkan karena kedinginan tiba-tiba ia reflek saja memeluk lelaki yang usianya terpaut 8 tahun lebih tua darinya itu.

"Kenapa? Masih menggigilkah?" tanya Agus lagi.

"Em...he emmmb." Van Hellen mengangguk lemah.

"Dihabiskan dulu minuman angetnya. Biar ada energi."

"Maaf ya... Mas..." ujarnya setengah terisak. Ia takut merepotkan rupanya. Tapi di sisi lain, dirinya benar-benar kedinginan.

"Iya...iya." balas Agus dengan sikap tenangnya meski hatinya pun sedikit berdesir karena bagaimanapun ia lelaki. Tapi murni, ini semua untuk pertolongan pertama saja. Ia tak ingin gadis ini mati muda, di gunung pula. Tidak! Maka direngkuhnya tubuhnya yang kini hanya berbalut sleeping bag itu dan disibakkannya sebagian rambutnya yang menutupi pipi chubby-nya hingga ia jatuh tertidur. 

Saat itu pula ia perhatikan lagi wajahnya yang merem amat sangat mirip dengan wallpaper ponselnya meski di sana yang ada adalah dirinya dalam format tubuh yang lebih kecil. Pikiran Agus pun seolah mengembara ke beberapa waktu lampau, saat dirinya masih usia 17 dan mempunyai tetangga yang manis dan lucu, mungkin bisa dibilang mirip sekali dengan foto yang ada pada wallpaper itu. Gadis umur 9 tahun, penyuka stroberi, juga es krim dengan rasa yang sama.

***

Tak terbayangkan sebelumnya dalam benak I Gde Agus Raka Dana (17) ketika ia harus berpindah-pindah domisili lantaran mengikuti dinas ayahnya yang seorang peneliti bioteknologi dan kultur jaringan. Bermula dari tinggal di Bali kemudian hijrah ke Bandung karena ayahnya ditempatkan di sebuah instansi pemerintahan di Lembang. Sebenarnya ia juga pernah tinggal di Tegal namun tidak lama. Terlamanya itu di Bandung, walau awal-awal ia harus beradaptasi dulu dengan suasana sana yang tentunya sangat berbeda dengan tempat kelahirannya yaitu Denpasar.

Agus, demikian ia lebih senang disapa, akhirnya tinggal di rumah dinas tua yang bangunannya model peninggalan Belanda. Ia yang sudah piatu sejak dini hanya tinggal berdua dengan ayahnya yang sibuk bekerja. Cukup sulit juga menemukan teman sebayanya di lingkungannya itu, paling-paling hanya di sekolah, dirinya bisa konko dengan konco-konconya yang bisa dibilang Anak Gaul Bandung. 

Tapi terlepas dari itu, ia tak begitu menyukai model pergaulannya. Ia lebih senang menyendiri, meski aslinya sifatnya sangat supel. Terlebih dengan anak kecil, rasanya ia senang saja bercengkrama dengan mereka.

Suatu ketika, di siang yang sedang berhujan, Agus yang sedang banyak menghabiskan waktu seorang diri di rumah merasa sangat bosan dengan kegiatannya. Karena masih terbilang baru menempati rumah ini, maka iapun mencoba menjelajah bagian rumahnya yang lain. Ia naiki rooftop yang terdapat di atas loteng sebab di sana ada area untuk duduk-duduk. Atasnya masih dinaungi kanopi jadi masih aman dari serangan hujan. 

Rupanya pemandangan dari atas lumayan juga. Rumah ini terasa besar walau mungkin saja usia bangunannya sudah sepuh. Cat hijaunya sudah mengelupas di sana-sini dilengkapi dengan sulur-sulur tanaman rambat yang mengingatkannya pada menara tempat Rapunzel menjatuhkan rambutnya yang panjang agar bisa bertemu dengan pangeran. Rumah yang sangat cantik, meski banyak yang mengatakan bahwa eksteriornya seram. 

"Sraaaaakkkk!!!! Sraaaaakkk!!!! Sraaaakkk!!!!" sebuah suara tiba-tiba mengusik ketenangan Agus yang baru saja menjatuhkan pantatnya di atas kursi rotan di muka rooftop. Pandangannya langsung tertuju pada asal suara yang rupanya dari arah balkon tetangga. Seorang gadis kecil dengan gaun merah berimpel selutut dan rambut dikuncir 2 seperti Candy-Candy tampak sedang mengarahkan tongkat untuk mengambil bola yang tersangkut di sekitar genting rumahnya. Rupanya bola itu mental sampai ke genting rumah Agus. Dengan susah payah ia jolok-jolokkan tongkatnya agar bolanya berpindah.

"Hay! Adik kecil! Hati-hati. Sudah tunggu di situ saja! Biar kakak yang ambilkan." Agus mencoba menyapa tetangga barunya itu. 

Yang dipanggil pun kaget dan langsung membulatkan matanya yang pada dasarnya sudah bulat. Tapi kemudian ia arahkan lagi tongkatnya agar bola tersebut teraih oleh tangan kecilnya. Oh...terlihat berbahaya sekali. Agus tak ingin anak itu celaka. Tak ingin tinggal diam saja, Ia pun segera memijakkan kakinya pada bagian atas pagar balkon dan mengambilkan bola itu. Kebetulan balkon rumah model begini tiangnya tinggi sekali. Jadi takut anak itu jatuh. Makanya ia datang membantu. 

"Syuuuut!" 

Berhasil!!

Kini bola itu sudah ada di tangannya. Lalu dengan senyum yang ia sunggingkan seramah mungkin ia lemparkan bola itu ke arah si anak tadi. 

"Kakak lempar bolanya ya. Adik siap-siap tangkap!" 

Gadis itu pun terdiam sejenak. Tapi kemudian tangannya seperti menuruti instruksi dari Agus untuk menangkap bolanya. Ada sinar kegembiraan dalam matanya, karena sebentar lagi bolanya akan kembali dalam genggaman.

"Hooop?!" Bola pun berpindah dari balkon rumah Agus ke balkon rumah gadis kecil bergaun merah itu.

Dengan kenesnya ia pun anggukkan kepalanya ke arah Agus. Lalu ia masuk kembali ke rumah yang sama tuanya dengan rumah yang Agus tempati sekarang.

Agus pun tersenyum dengan penuh kebersahajaan. 

"Hmm....seorang tetangga kecil yang lucu." gumamnya lirih.

***

Kini sudah sehari Agus dan Van Hellen terpisah dari rombongan. Namun posisi mereka masih stag, mengingat Agus masih mempertimbangkan kaki Van Hellen yang sempat terkilir dan belum bisa dibawa jalan terlalu jauh. Maka, dengan memperhitungkan sisa perbekalan yang ada, ia pun mengecheck lagi apa yang masih ada dalam carriernya. Tinggal air mineral 1 botol aqua besar, sebungkus roti sisir, dan camilan keripik. Kira-kira bisa untuk bertahan beberapa hari saja. Sebab manusia bisa bertahan tanpa makan mungkin sampai 3 mingguan, tapi tanpa minum? Rasanya akan sulit. Jika dalam 4-7 hari tidak terhidrasi dengan baik, maka bisa-bisa nyawa yang akan melayang. 

Ia yang semalaman tak sadar tertidur bersebelahan dengan Van Hellen pun perlahan-lahan mulai bangun. Dilepaskannya tangannya yang  ternyata melingkari badan Van Hellen dengan posisi membelakangi karena ia akan bersiap mencari sumber mata air terlebih dahulu. Sungguh bukan suatu hal yang disengaja.

Disibakkannya pintu tenda parasut itu sepelan mungkin karena tak ingin membangunkan Van Hellen. Setelahnya udara luar menyeruak masuk dan dinginnya seperti menghantam pipi berulang kali. Angin kencang menghantarkan hawa basah sisa hujan semalam hingga permukaan daun-daun di sekelilingnya masih tampak lembab dengan titik-titik embun yang menetes di ujung-ujungnya.

Agus memasang sarung tangannya dengan khidmat. Ia lalu berjalan ke sekitar untuk mengecek sikon. Jalan di udara yang masih sebersih ini paling tidak membantu pikirannya tetap jernih sampai akhirnya bisa memutuskan sesuatu.

Setelah melewati padang rumput yang diselang-selingi cemara mentigi dan kelompok bunga edelweis, langkahnya pun menjadi lebih terasa ringan. Sepertinya sudah ada sedikit petunjuk agar bisa mencapai pos berikutnya. Barangkali jika sudah mencapai shelter Kali Mati, tentunya ia akan melewati satu sumber air yang bernama Sumber Mani yang meski airnya tak seberlimpah di Ranu Kumbolo tapi setidaknya bisa untuk bertahan hidup. Syukur-syukur jika pindah ke sana, maka besar kemungkinan akan bertemu dengan pendaki lainnya atau bahkan Tim SAR Gabungan. 

Urusan membawa Van Hellen yang masih belum pulih benar badan serta kakinya, mungkin bisa dipikir sambil jalan.

***

"Knock!!! Knock!! suara ketukan pintu mengagetkan Agus yang tengah terjaga dari tidurnya. Siapa kah tamu yang datang sore-sore saat hujan deras begini? Segera dilongoknya tamunya itu lewat lubang angin, dan ternyata tak ada siapapun di sana.

"Knock! Knock!!! Knock!!!" lagi-lagi suara itu terdengar. Saat pandangan matanya menyapu seluruh penjuru ruangan, ternyata posisinya agak ke bawah. Di sana sudah berdiri tubuh kecil dengan jas hujan merah dan sepatu bootsnya. Tangan kirinya memegang payung warna merah jambu, dan tangan kanannya memegang sekeranjang stroberi yang habis dipetik dari kebun. Stroberinya ranum-ranum lagi besar.

Terperangah Agus mendapati tamu kecilnya main sore-sore, akhirnya dibukanya pintu itu dan dipersilakannya ia masuk dengan sangat baik.

"Hayyy!!! Halo Dik! Kenapa hujan-hujanan kemari?" tanya Agus ramah.

Anak itu masih terdiam tapi tangannya menjulurkan keranjang stroberinya ke arahnya.

"Untukku?" tanya Agus lagi.

Anak itu mengangguk cepat. Kepalanya yang terbungkus penutup jas hujan membuatnya terlihat seperti si tudung merah yang akan pergi ke rumah nenek walau dalam perjalanannya harus bertemu dengan serigala.

"Oh...ayolah...masuk dulu! Siapa namamu?"

Anak itu mendekati Agus yang sedari tadi memposisikan diri supaya sejajar dengan lawan bicaranya dengan cara setengah berlutut. Ia pun tiba-tiba membisikkan sesuatu ke telinga Agus, hingga pemuda 17 tahun itupun agak sedikit terlonjak mendengarnya.

"Sungguh?! Namamu panjang sekali, Sayang. Ayo kemarilah, jangan pulang dulu akan aku buatkan teh untukmu." 

Anak itu masih tetap diam saja, namun kali ini senyumnya malu-malu. Baru Agus amati ternyata ia anak blasteran. Meski mata dan rambutnya hitam tapi memang garis wajahnya ada darah Eurasia. 

"Baiklah! Kenalkan! Namaku Agus. Namaku tak kalah panjang darimu lho. Namaku I Gde Agus Raka Dana, bagaimana....Draw kan kita?" Agus pun mengulurkan tangannya pada anak itu dan segera disambutnya telapak tangannya yang besar dengan cepat.

Keduanya pun sama-sama tersenyum dan akhirnya bertetangga dengan baik.

***

Pukul 16.00 WIB, Agus telah kembali dari perburuannya. Di tangannya terjinjing jerigen berisi air yang berhasil ia himpun dari Sumber Mani, sekitar 1 kilometer dari Kalimati ke arah barat. Ia juga mendapat beberapa macam buah-buahan hutan, setidaknya bisa untuk tambah-tambah sumber energi supaya keduanya nanti tidak ada yang lemas kekurangan cairan. Sebab bekal gula jawa yang mereka bawa sudah semakin menipis. 

"Hellen kamu sudah bangun?" Agus menghampirinya ke dalam tenda yang resletingnya telah terbuka. Di sana Van Hellen sudah duduk biasa tanpa sleeping bag yang membungkusnya seperti semalam. Bajunya yang basah, meski belum kering benar masih dijemur diantara ranting-ranting pohon. Ia kini telah berganti baju dengan yang lebih hangat, long sleeve hitam dan celana windproove.

Van Hellen pun tersenyum pada pemuda itu. Ia cukup terkejut juga karena di tangan Agus kini tergenggam kantung plastik berisi berry berryan hutan.

"Stroberi?"

"Iya. Aku dapat agak jauh. Dekat tempat ngambil air. Lumayan buat nambah energi." Agus mulai melepaskan bawaannya dan ia duduk di sebelah Van Hellen. 

"Bagaimana kakimu? Masih sakitkah?"

Van Hellen menggeleng. "Tidak terlalu. Sudah jauh lebih baik."

"Boleh aku lihat?" Agus mengulurkan tangannya untuk mengecek cidera Van Hellen. 

Gadis itupun tersenyum ke arahnya. "Terima kasih ya Mas, sudah diperban segala."

"Iya lah. Itu kan pertolongan pertama pada cidera. Sayang saja tidak ada esnya untuk mengompres." ujar Agus kalem.

"Ini juga sudah lebih dari cukup Mas." sahut Van Hellen.

"Iya, untung kotak P3K ada sama tasku." ujar Agus lagi.

Keduanya pun larut dalam obrolan dan membicarakan rencana-rencana ke depan akan bagaimana. Tapi sementara mereka terpaksa bermalam sekali lagi di sana, karena kaki Van Hellen masih belum bisa diajak kompromi untuk jalan agak jauhan. Takutnya di jalan malah tambah parah. Sementara di luar tenda suara nyanyian alam sudah berebut dengan udara dingin yang menusuk-nusuk tulang. Tidak terjadi apa-apa di dalam tenda, namun karena penerangan sudah semakin minim, keduanya pun sepakat untuk berada dalam satu naungan yang sama. Ya diatur saja jarak tidurnya nanti.

"Bagaimana dengan luka di dahimu?"
tiba-tiba Agus teringat bahwa lecet-lecet di beberapa bagian wajahnya belum ia obati sama sekali. Kemarin itu ia masih sibuk dengan upaya penyelamatan Van Hellen dari gejala hypotermia. Sedangkan wajahnya yang terkena goresan belukar di samping alisnya yang tebal bagaikan ulat bulu masih belum mendapatkan penanganan yang tepat.

"Ah...Hellen malah lupa Mas, kemaren Hellen kira Hellen bakal mati. Dinginnya seperti udah mau mati saja?" ungkap Hellen dengan jujur. 

"Tapi sekarang sudah enakan kan? Kan hangat dipeluk semalaman?"

Yang diajak bicarapun tiba-tiba mukanya merah padam.

"Bercanda saja Hellen. Cuma biar Hellen tidak menggigil saja kok. Cuma sampai Hellen tertidur..." Agus memperjelas.

"Iya, Mas, Hellen tahu. Malah, kalau ga ada Mas, mungkin Hellen sudah almarhum...."

"Huss...ga boleh begitu ya, pamali! Ini gunung! Lebih baik kita berpikir yang baik-baik saja ya." nasihat Agus.

Gadis itu pun mengangguk. Lalu tak lama kemudian Agus mengambilkan alkohol dan plester untuk menutupi luka Van Hellen. Saat memasangkan plesternya itu, entah kenapa jarak keduanya sangat dekat. Dan Agus jadi bertambah yakin bahwa gadis yang ada di depannya ini adalah...

"Hellen.............................." kata Agus tiba-tiba.

Van Hellen pun mendongakkan wajahnya sesaat ke arah lawan bicaranya.

"Hem?"

Agus mulai menata kalimat apa yang sekiranya akan ia utarakan sebentar lagi.

"Sebenarnya........masih ingatkah kau padaku ?" Tangannya tak kuasa menyibakkan sebagian rambut gadis itu di belakang telinganya....

***

Usai kehilangan jejak sang leader dan si bontot Van Hellen, rombongan yang dipimpin Satria kini berhasil turun ke pos 1 untuk mencari bantuan. Sebelumnya ia dan yang lain melakukan pencarian di sekitar Ranu Kumbolo namun tidak berani melebihi dari tempat itu karena takut terpencar semua. Oleh karenanya, jalan satu-satunya yang ia putuskan (usai didukung oleh yang lain) adalah melaporkannya ke Tim SAR sebab terhitung sudah 2 hari kedua rekannya itu menghilang. 

"Monitor ganti, check..check..dilaporkan 2 pendaki hilang atas nama, I Gde Agus Raka Dana, satunya lagi Lissette Anita Frederica van Hellen."

"Oke! Segera instruksikan penyisiran. Roger!!"

Bersambung...










44 komentar:

  1. Wah tumben episode 3 agak pendek, kayaknya biar panjang kayak sinetron tersanjung nih.πŸ˜†

    Jadi kayaknya Van Hellen itu gadis kecil yang ditemui Agus di Bandung ya, ataukah mungkin kembarannya ya? πŸ€”

    Namanya keren amat, i gede Agus Raka Dana Ovo Shopeepay.🀣

    BalasHapus
    Balasan
    1. masih mbul edit edit nih mas, takut ada typo atau kalimat yang wagu wkkwkwkw...


      iya biar jadi kayak series kali ya hihihi..., biasa buat latihan mbul nulis mas, maklum masih nubie

      (´・ο½ͺ・`)

      mungkinkah??? mungkin ga ya? kasih tau ga ya? 🀭

      keren kan? wkkwkwk...daripada adam levin masuk masuk cerpen hahahhaha...mending taknamain ini aja lah 🀣

      Hapus
    2. Ah masa sih masih newbie, padahal naskahnya mau dikirim ke editor nih.πŸ˜„

      Oh berarti nanti ada tokoh Adam Levine juga ya.πŸ˜†

      Hapus
    3. aturan langsung direcruit penulis naskah film atau minimal ftv ya mas, spesialis kayak modelan dorama yang ceritanya sweet sweet wakakkakakkak

      Adam levine itu siapa sih? Bukannya vokalis maroon five ya?

      🀣😁

      Hapus
    4. Sejujurnya aku juga ngga kenal Adam Levine, cuma pas ketik Adam di Gboard, kok muncul kata Levine juga, bukan kata Suseno.πŸ˜‚

      Hapus
    5. Gboard ntu apa mas? keyboard yak? 🀣

      adam levine mas penyanyi pokalisnya maroon five hihihi...

      haha mas agus mah hapalnya sama Rhoma 🀭

      Hapus
    6. wkwkwk pake embel2 ovo shopeepay..

      Hapus
    7. hihihi....padahal dana itu bagus loh namanya wkwkwkkw...

      Hapus
  2. Waahh sudah ada part 3 nih si Stroberry...😊😊

    Ntar malem aja mbul komennya belum sempat...Lagi ngelonin siayank Vina dulu.πŸ˜†πŸ˜†

    BalasHapus
    Balasan
    1. biasa sutradara lagi kejar tayang striping wkwkwk kang

      iya kang satria monggo kang, ntar malam komen yang panjang ya, ni lagi buntu ide jadi agak mentok penulis scriptnya hahahhahahah...

      Hapus
  3. what, udh part 3 aja... skip dulu deh ke part 1 biar tau ceritanya, hehe... :D

    kira2 ampe part brp ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. coba tebak?


      yang bisa nebak ga dapat hadiah giveaway sich 🀭

      ayo mas ke part 1, part 2, lanjut part 3 ya...ntar komen lagi. yang puanjaaaaaaaaaaaaaaaaaang sekali 🀭🀭

      Hapus
  4. gils sih namanya keren-kerent, pinter banget mbak mbul ngarang namanya D.. jadi di part 2 ini menceritan masa lalu van helen waktu kenal sama mas agus ya..., btw di masalalu nya mas agus umurnya 17 tahun, si helen umurnya 7 tahun, harusnya panggilnya om :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. wkwkwk paling pinter kalau suruh ngarang nama mbul mas khanif hehehe

      iya, part 2 lebih menceritakan sosok masa kecil dan masa belia kedua tokoh utamanya

      ya Alloh dipanggil om...(((om)))

      bukan mbul yang bilang loh...

      πŸ™„πŸ€­

      δΈ‰δΈ‰α••( ᐛ )α•—

      Hapus
    2. Om khanif, apa kabar? πŸ˜„

      Hapus
    3. πŸ‘†πŸ‘†πŸ‘†

      (。・Ο‰・。)

      ꉂ(ΛŠα—œΛ‹*)

      Hapus
    4. aku masih kecil kali belom pantes di panggil om wkwkwk :D

      Hapus
    5. xixixi...masih tk ya mas khanif 😜

      Hapus
    6. iya kan masih imut-imut tu tk :D

      Hapus
    7. waaakkk umur umur 6 tahun dong mas khanif? πŸ™„πŸ€­

      Hapus
  5. erita part yang ke 3 agak pendek yee mbul, Tapi nggak apa2 tetap menarik kok ceritanya.😊😊

    Pada part 3 ini dikisahkan Agus jambepun akhirnya bisa menyelamatkan Van Hellen yang terperosok dari sebuah tebing yang akhirnya dapat ditemukannya diantara semak-semak belukar gunung Semeru. Walau kondisi yang dialami Van Hellen cukup memprihatinkan ditambah kondisi cuaca juga yang tidak bersahabat kala itu.😊 Namun apapun yang terjadi Agus jambepun tak berusaha mati-matian demi menyelamatkan Van Helen. Agar kondisi yang ia alami bisa stabil atau bisa membaik. Meski begitu Agus jambepun tetap tak mau rugi, Sambil menyelam minum air...Begitu kata pribahasa.😊😊 Jadi Agus jambepun menolong Van Helen sambil menggrepe2 tubuh Van Hellen dengan alasan bajunya basah, Dan kotor...Emang sialan juga yee si Agus jambe.😬😬😬

    Sadar dan tidak sadar akhirnya Van Hellen menurut saja apa yang telah dilakukan oleh Agus jambe, Sampai akhirnya si Agus menerawang kemasa silam kala dirinya masih tinggal diBali...Wuuaaallaaa bukannya di Cikande.🀣 🀣 🀣 Sewaktu di Balipun dirinya bergelar I Kentut Agus Rayap Dengklok, Berat amat tuh nama.🀣 🀣 🀣 🀣

    Karena orang tuanya yang berpindah-pindah akhirnya Aguspun mengikuti orang tuanya untuk tinggal dikota Bandung, Disanapun ia dan orang tuanya berjualan Cireng dan Odading.πŸ˜†πŸ˜† Hingga di Bandung Agus tinggal sebuah rumah tua yang berbentuk bangunan Belanda. Disanapun ia sering melihat anak kecil yang hampir mirip dengan Van Hellen, Orang yang ada dihadapannya sekarang. Apa mungkin itu orang yang sama...Nggak tahu tanya saja sama rumput yang bergoyang.πŸ˜†πŸ˜†

    Untung persedian makanan serta air sudah tinggal sedikit, Akhirnya hal itu yang menyadarkan Agus untuk melepaskan tangannya yang tidur melingkari tubuh Van Hellen...Suuee juga emang si Agus itu. Biasa ada udang dibalik bakwan.πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜† Malah makin menjadi2 kala melepas plester luka si Van Hellen, Langsung dah ia mau mulai grepe2 lagi, Dengan alesan miriplah sama sianu yang katanya dulu sempat tinggal bersama sewaktu kecil. Huuuhuu..πŸ™ πŸ™

    Dan yang terakhir akhirnya si Satria bikin pengumuman, Tentang hilangnya si Agus dan Van Hellen...Si Satria repot2 amat buat pengumuman...Udah tua bangka ngapain dicari ntar juga pulang sendiri, Udah gede ini.🀣 🀣 🀣 🀣 Monitor2..Roger2!!..Tolong cari anak hilang yang bernama 'Lissette Anita Frederica van Hellen'....Wuuiihhh nama tuh, Udah kaya kereta Jakarta Surabaya panjangnya...🀣 🀣 Bagaimanakah kisah selanjutnya nantikan semuanya setelah iklan koyo cap cabe berikut ini.πŸ˜†πŸ˜†

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih makasih ꉂ(ΛŠα—œΛ‹*)

      #kang satria emang paling bikin semangat kalau udah komen deh ah, soalnya komennya panjang hahhahahah

      saya suka saya suka wkwkkw

      hahhahahaha....tapi ampun deh jadi ga berhenti ngakak huh...asem lah..
      nama Agusnya uda aku bikin cakep cakep loh kok jadi rayap dengklok wkwkkwk πŸ₯΄πŸ™„ paraaaah hahhahah

      tapi kenapa musti odading siiih?

      hmmm...kan itu lagi nyelametin Van Hellen kang, ga bermangsud gitu awalnya, ga sengaja aja megang megang #nah loooooooh piyeee sih nih sutradaranya, apa perlu wajib didemo wkkwwk

      ya...jawabannya nanti akan ada di part 4, masih aku godog dulu di tungku pembakaran ide nih kang, agak runyem rumit soalnya pengen bikin kata-katanya itu jadi agak 'dalam' dan puitis, tapi kok angel nemen yooo wkkwkwk....ntar aku harus dalam keadaan tenang dulu nulisinnya, biar ga kedistract apapun dan ide mengalir lancar...soalnya belum nemu lanjutannya musti gimana...

      oh haduduuududuhhh kenapa sih iklannya musti koyo cabe? apa lagi pada pegel linu dan sakit kepala ya hahhahahah...

      Hapus
  6. Hmm, Mulai ada alur maju adan mundurnya ya Mbak? satu cerita dua setting waktu. Jadi rada mikir membacanya. Cuman seru. Akhirnya tahu nama panjang agus. Ynag ternyata seorang dari Bali, juda dengan Hellen. Cuman saya masih agak aneh dengan nama Van sebagai seorang wanita. Kebiasaan dengar nama pemain bola Cowok Van. Kaya Van dee Sar. Ditunggu lagi ya sambungannya hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. hu um mas supriyadi...alur maju mundur

      agak keder kemarin bikin part yang ini

      makanya part 4 mau banyak baca dulu biar perbendaharaan kataku banyak n terasa puitis huahahhahaha...

      Hapus
  7. Hmm, Mulai ada alur maju adan mundurnya ya Mbak? satu cerita dua setting waktu. Jadi rada mikir membacanya. Cuman seru. Akhirnya tahu nama panjang agus. Ynag ternyata seorang dari Bali, juda dengan Hellen. Cuman saya masih agak aneh dengan nama Van sebagai seorang wanita. Kebiasaan dengar nama pemain bola Cowok Van. Kaya Van dee Sar. Ditunggu lagi ya sambungannya hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. awalnya aku juga mikirin ini sih hihi penamaan belanda kan ya wkwkwkk...tapi van hellen uda dikasih nama begitu ama kang satria jadi kupake aja hihihi..aslinya emang kayak marganya ya kalau van nya itu πŸ˜‚πŸ€£

      Hapus
  8. Nama panjang si Agus keren banget itu nama dapat dari mana, hasil searching di google kah?

    Oh nama lengkap Van Hellen itu Lissette Anita Frederica van Hellen ternyata ngga ada Gusty sama Ningsihnya..hihihi

    Akhirnya di part 3 ini diceritakan tentang masa lalu Agus dan Van Hellen yang ternyata tetanggaan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi ngarang indah tapi cek cek nama nama di internet juga, gabung gabungin aja hahahhahaha

      hahaha...gusty ningsih kapan kapan aja ya? lha hahahhaaj...ntar ningsihnha mara sama mbul kalau digabung nama gusty lagi mas her hihihi

      hu um begitu lah...asli...ngarangnya niat banget kan aku...uda macam mau bikin film rasa rasa eiffle im in love hihihi

      Hapus
    2. Berarti hasil kolaborasi dong..hihihi

      Ningsih marah? Biarin aja dia marah jadi pengen tau kalau dia marah..hihihi

      Bagus kalau bener-bener niat ngarangnya jadi ceritanya ada rohnya..hihihi

      Hapus
    3. kolaborasi?

      hahahha...waduh gawat kalau sampai ningsih marah mas her, ntar mbul dicubit hwahahha

      iya ya...biar kerasa ada nyawanya ya ni cerita wkwkkwkwk

      Hapus
    4. Dia mulai bingung..hihihi

      Ngga apa-apa cuma dicubit doang ..hahaha.. kasih aja nanti juga kalau ada geledek dilepas.. hahaha

      Hapus
    5. karena bingung ku pegangan tohor listrik aja deh hahahhahah

      dicubit merah tar aku hahhaha

      oh gledeg? apa hubungannya? kok gledeg?

      Hapus
    6. Tohor listrik, tohor itu dangkal kan, kalau tohor listrik berarti dangkal listrik dong?

      Soalnya kalau belum ada geledek belum dilepas..hihihi

      Hapus
    7. owalah maksudku togor, salah ngetik wkwkkw

      hahaha..aku bingung deh kenaoa ada gledeg

      Hapus
  9. Mbak Mbul.. Part 4 ditunggu Pronto..! Wkwk πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…πŸ€£
    Sumpah Mba.. aku baca ini. Otakku langsung ngebayangin setiap adegan di kepala.. ahah..
    Suka banget sama sosok Agus. Berwibawa banget..
    Dab ternyata mereka berdua pernah bertemu ya Sebelumnya..

    Lucu banget pasti, si Hellen malu2 pas ketemu sama Agus pertama kali. Hehe.
    Nama panjangnya Van Hellen bagus juga ya.. wkwk πŸ˜†πŸ˜†

    Penasaran aku sama lanjutan ceritanya.. πŸ˜†

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pronto tuh apaan Bay?

      hahhaha...adegan adegannya kayak film film yak wkwkwk

      iya bayu, mbul kan baik hati bikin tokohnya selalu dibikin keren keren wkwkkwkwkkwkwkw....

      iya ga ya kira kira si hellen ini tetangganya pas masih kecil bukan hihi

      si Hellen memang karakternya pemalu dan sedikit misterius bayu wkwkwk

      ditunggu ya bay, part 4 bingung mau gemana ya ceritanya...ampun deh harusnya aku mah bikin cerita ditamatin dulu ya baru abis itu publish wkkwkwkw

      Hapus
    2. Pronto artinya cepat.. hahaha

      Berrti bukan ya..?? ahhhh nggak mau berspekulasi dlu.. hahaha..

      Nggak papa mba. Biar partnya jadi banyakk..

      Hapus
    3. ow aku baru tau bayu
      bahasa walkie talkie kah? 😜

      kayaknya sih orang yang sama


      ini aku lagi bingung mau bikin sad ending apa happy ending ya wkwkkwkw

      kayaknya part 4 udah tamat ☺😊

      Hapus
  10. Kok bisa beepisah dengan rombongannya, kan jalnnya slalu bareng...

    Si agus beruntung banget dahh hehe dapat kesempatan dalam kesempitan, bisa berduaan dgn hellen...
    Hebatnya lagi bisa dapet stroberi diatas gunung

    Ditunggu lanjutanny mbull

    BalasHapus
    Balasan
    1. kan ngikutin jurig yang nyamar jadi temannya lul...hihi

      hehe...bener bener deh ya tokoh tokohnya wkkwkwk

      iya lul aku searching di satu artikel ada stroberi hutan di Semeru...nemu satu artikel itu sih inspirasinya wkwkkw...kuhubung hubungin aja biar ada kaitan ama judul dan kenangan masa kecilnya dengan πŸ“πŸ“πŸ“

      siyappp....

      bentar lul...ntar aku pasti blogwalking tempatmu kalau uda rada selau...tungguin yaaaakk

      Hapus
  11. strawberry liar ternyata ada di Indonesia....
    mantul

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya pak tanza...menurut salah satu artikel yang kubaca begitu ☺

      Hapus
  12. Wkwkwk. Mbak, Kenalin aku dengan Hellen, Pliss! wkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihihi...boleh...salam dari hellen ya buat mas ozy ☺😊

      Hapus

Komenin dong...tanpa kehadiran kalian apalah arti aku menulis....
kalian penyemangat setiap bulir kalimat dalam blog ini :*
Namun jangan komentar SARU atau SARA ya, jika ada komentar dengan unsur tersebut, dengan berat hati akan aku HAPUS .

Oh ya, Dilarang juga mengambil gambar/foto atau menyadur tulisan tanpa mencantumkan sumber atau seijin pemiliknya. Apalagi untuk kepentingan komersial atau lomba. Thx ^____^