Sabtu, 19 Juni 2021

Cerbung : Stroberi (Part 4)






Oleh : Gustyanita Pratiwi
Sifat : Fiktif belaka





Ini sudah cangkir ke-5 yang Satria teguk dengan tangan gemetar. Kuyu pada wajahnya tak lagi menggambarkan rasa lelah usai menuruni track post 1 yang penuh lumpur. Lima jam perjalanan sebelumnya dilaluinya dengan keheningan. Ia dan keempat kawannya lebih banyak diam, menyimpan segala macam kabar jelek tentang hilangnya Agus dan Van Hellen. Maka, pada kopi hitamlah, akhirnya ia lampiaskan semuanya. Ia sesap sekalian dengan ampas-ampasnya, meski itu akan sering membuatnya batuk. Lalu sikap duduknya menjadi gelisah. Sebentar-sebentar ia mampatkan resleting jaketnya. Ia dekap erat panas tubuhnya sendiri di suhu udara yang sedingin ini~ mungkin ada beberapa derajat celcius. Lalu setelahnya gagang cangkir itu ia genggam erat hingga isinya mencapai dasar gula. Matanya tak lepas dari seorang Mas-Mas berambut gondrong kriwil yang kelihatannya masih tergabung dalam tim pencari yang tampak sibuk dengan walkie talkie di tangannya. 


A : "Kontak, Bossque....!!"

B : "Oke, masuk. Ganti...!!!"

A : "Selamat malam Mas Anto. Ganti...!!!"

B : "Ganti kembali. Dengan operator siapa, mohon diinfo. Ganti..."

A : "Eko Prast Mas yang biasa ikut nimbrung dengan Tim Pencari X. Ganti...

B : "Oke, malam Mas Eko. Mohon diberitahu 10-2? Ganti...

A : "10-2 di jalur menuju Pos 2. Ganti...

B : "Jalur 2? Ganti..."

A : "Gantinya kembali... Mohon maaf Mas Anto, saat ini saya infokan cuaca tidak kondusif, ada indikasi badai, roger...ganti!"

B : "Gantinya kembali, Mas Eko, baik info diterima, nanti yang di markas rapat dulu untuk penyisiran pagi...begitu roger...?"

A : "Roger..... Siap Mas.... 8-6."

Satria menguping. Anggota tim pencari itu kebetulan memang ngomongnya agak keras. Katanya suasana baru kondusif sekitaran pagi~saat hari sudah mulai berganti~dan diusahakan paginya yang membawa matahari. Bisa celaka kalau dipaksakan mencari saat kondisi begini. Ia hanya bisa berharap kalau 2 rekannya yang hilang masih baik-baik saja, meski kemungkinan terburuk masih selalu datang menghantui. Tapi setidaknya, ia berharap esok itu belum terlalu terlambat untuk dilakukan pencarian.  Sebenarnya ingin sekali ia teriakkan kata sialan pada jam dinding tua yang bunyinya terpantul-pantul diantara tembok-temboknya yang bercendawan. Tapi kemudian ia sadar bahwa ini gunung. Ia harus menjaga ucapan. 

Sementara itu, Khanif, seorang kawannya yang lain hanya bisa duduk terpaku. Melemaskan sebagian persendiannya yang semula kaku. Namun ia belum tertarik ngopi seperti Satria. Ningsih sendiri memilih ijin pulang dengan diantarkan Herman. 

***

Pukul 23.05 WIB. Basecamp post 1 penuh lautan manusia. Tapi pencarian ditunda sampai besok pagi. Personel tim SAR yang ditunjuk, sementara ini hanya bisa memantau keadaan sembari rapat kecil. Menunggu sampai kira-kira cuaca membaik. Di luar sana, angin dingin berhembus kencang, membuat pohon-pohon seperti menari dengan permukaan daunnya yang kebat-kebit. Tidak ada bulan yang disisakan oleh malam ini. Tidak ada sinarnya yang kekuningan macam lampu teplok raksasa bundar yang menerangi langit. Hanya ada angin. Hanya ada hujan. Hanya ada lumpur yang membuat segalanya menjadi sangat becek dan cokelat tua.

***

Nun jauh di atas sana, 2 anak manusia yang sedang terjebak badai, hanya bisa duduk berhadap-hadapan di dalam tenda. Tidak terjadi apa-apa, namun karena penerangan sudah semakin minim, maka keduanya pun sepakat untuk stay saja, tidak melanjutkan perjalanan atau mencari jalan pulang. Urusan tidur, nanti bisa diatur sambil jalan.

Tiba-tiba Agus teringat bahwa lecet-lecet di beberapa bagian wajah Van Hellen belum ia obati sama sekali. Kemarin ia masih sibuk dengan upaya penyelamatan Van Hellen dari gejala hypotermia. Sedangkan wajahnya yang terkena goresan belukar di sekitar alisnya yang tebal belum ia tangani dengan benar.

"Bagaimana dengan luka di dahimu?" tanya Agus.

"Ah...aku malah lupa, kemaren aku kira aku bakal mati. Dinginnya seperti udah mau mati saja?" ungkap Hellen dengan jujur. 

"Tapi sekarang sudah enakan kan? Kan hangat dipeluk semalaman?"

Yang diajak bicara pun tiba-tiba mukanya merah padam. Buru-buru Agus mencairkan suasana.

"Bercanda Hellen. Cuma biar Hellen tidak menggigil saja kok. Habis Hellen tertidur, sudah......." Agus menjelaskan.

"Iya, aku tahu. Malah, kalau ga ada Mas, mungkin aku sudah almarhum...."

"Huss...ga boleh begitu ya, pamali! Ini gunung! Lebih baik kita berpikir yang baik-baik saja ya." nasihat Agus.

Gadis itu pun mengangguk. Lalu tak lama kemudian Agus mengambilkan alkohol dan plester untuk menutupi luka Van Hellen. Saat itulah jarak keduanya menjadi sangat dekat. 

Agus pandangi wajah itu lekat-lekat. Sebagian otaknya  seperti diajak piknik ke masa lalu. 

Van Hellen ini....apakah dia adalah ???

"Hellen.............................." kata Agus tiba-tiba.

Van Hellen pun mendongakkan wajahnya sesaat ke arah lawan bicaranya.

"Hem?"

Agus mulai menata kalimat apa yang sekiranya akan ia utarakan sebentar lagi.

"Sebenarnya........ ?" Tangannya tak kuasa menyibakkan sebagian rambut gadis itu ke belakang telinganya....

Kedua bola mata Van Hellen tampak semakin jernih dan membulat. Warna hitamnya cukup kontras dengan darah Eurasia yang ia miliki.

Angin dingin yang mengambang di luar jendela selalu menghadirkan bau paling sensual yang bisa dinikmati sambil terpejam. Begitu pula dengan bau laki-laki ini. Feromon. Bau laki-laki yang pernah bersamanya dulu dan seperti menyulap diri dalam hitungan satu-dua-tiga bahwa kini ia sudah ada dalam radius sekian centi saja dan tinggal diberikan ciuman. Abang tetangga masa kecilnya yang ia simpan hatinya untuk selalu dilimpahi dengan rasa kangen yang bertumpuk-tumpuk.

"Cups!!" 

Gadis itu menciumnya lembut dan dalam. Percik-percik setrum kecil pun menjalar dari bibir merah dadunya yang basah menuju ke bibir laki-laki itu. Dari bibir naik lagi ke otak, lalu menyeruak turun ke perut yang dipenuhi dengan jutaan kupu-kupu.

"Aku sayang Kakak..." ucapnya lirih.

***

Tamu-tamu sudah berhamburan pulang dari kediaman Agus yang pilarnya besar-besar karena ini rumah Belanda. Rumah yang kini ditinggalinya seorang diri setelah ayahnya mangkat dalam usia yang tak muda lagi--usia-usia orang pensiun, dan ini sudah berjalan sepekan sejak kepergiannya. Seperti kado tahun baru paling buruk. Mungkin begitulah yang dirasakan oleh pemuda 17 jelang 18 ini yang paradoksnya adalah ia baru saja merasakan euforia paling menggembirakan yaitu kelulusan sekolah di tingkat atas. Harusnya setelahnya ia bisa habiskan waktu dengan sang ayah, berdiskusi tentang masa-masa memilih jurusan, tapi kenyataannya lain. Apakah ia akan teruskan kuliah di Bandung saja atau kemana, ternyata semuanya harus ia putuskan seorang diri karena ia sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Ia kini harus menjadi lebih mandiri dibanding teman-teman seusianya. Sempat terlintas dalam pikirannya apakah ia akan kembali ke Bali saja, tempat perasalannya dan tinggal dengan saudara jauhnya karena sempat ada yang menawari, tapi ia pikir kesempatan kuliah akan lebih banyak jika ia tinggal di Jawa. 

Hari-hari pun berlalu, rumah ini semakin sepi saja kelihatannya. Sepi yang menelikung seenak jidat seperti hantu kelaparan yang memberikan cekam tanpa ampun. Cat hijaunya yang sudah pudar terpapar panas dan hujan menjelma menjadi menara tua dengan sulur-sulur tanaman rambat yang mengerikan seperti kandang Shrek, tidak lagi seperti rumah Rapunzel yang ikonik dengan rambut emas panjangnya yang ia julurkan lewat jendela. Maka, terkadang ingin rasanya ia mencari teman saja yang bisa diajak bercanda. Ada satu tetangga kecil yang akhir-akhir ini sering main ke rumah. Memberinya sekeranjang stroberi dari kebun dan setelahnya pulang dengan langkah riang tapi malu-malu. Sebenarnya sangat pendiam betul anaknya. Tapi karena sikapnya yang manis, maka ia biarkan saja tingkah lakunya seperti itu. Paling ia mengajaknya ngobrol sebentar lalu buru-buru anak itu membungkukkan badan, dan berbalik untuk mengucapkan 'sampai jumpa lagi.' 

"Sudah mau pulang?" tanya Agus seperti ingin menahan kepulangan anak itu karena ia sedang butuh teman pada suatu sore di sepekan setelah  ayahnya wafat. Paling tidak ia ingin ngobrol apa dulu begitu, bukan hanya diberikan sekeranjang stroberi merah ranum-ranum lalu ditinggal pergi.

Anak itu terpaku sesaat. Ia memang sangat pendiam.

"Tolong temani Kakak sebentar saja." pinta Agus sambil tersenyum penuh harap.

"Temani kakak?" tanya anak itu polos.

"Semalaman ini saja. Nanti Kakak bikinkan jus stroberi dari buah yang sudah kau bawa...bagaimana?" tawar Agus lagi.

Anak itu pun menganggukkan kepalanya. Lalu ia batal membuka kenop pintu dan berjalan pulang. Lagi pula tadi ia sudah pamit pada Grandma  kalau ia tidak ada di kamar, paling tidak ia hanya mampir sebentar ke tempat Kakak tetangga yang baik hati dan ganteng ini. Grandma bukanlah orang sepuh yang galak seperti Mendiang Grandpa. Jadi ia akan oke saja asalkan cucunya itu tidak main terlalu jauh. 

Agus pun akhirnya bisa bernapas lega. Ia memang ingin mengobrol saja dengan seseorang. Dengan anak umur 9 tahun, tak apalah. Setidaknya ia bisa menghilangkan rasa sepi ini sesaat. Sebenarnya, ini tak akan lama, karena bulan depan, kampus yang ia daftar sudah memanggilnya untuk proses daftar ulang. Maka setidaknya, ia masih harus bersabar dengan kesepian ini karena toh sebentar lagi ia akan disibukkan dengan dunia perkuliahan. Ya, ia diterima di salah satu kampus swasta di Jawa Timur untuk Program Studi Kehutanan.

"Baiklah, Sayang. Sekarang duduklah di sofa. Dan ceritakan apa saja padaku, mungkin sesuatu hal yang bisa membuatku tertawa. Nanti sebagai bonusnya, akan aku buatkan jus stroberi untukmu."

Mata anak itu berbinar. Kuncir di kanan kirinya bergoyang-goyang. Dikerjakannya apa yang diperintahkan Agus tanpa banyak protes.

***

Agus tersentak dari lamunannya. Wajahnya yang kini terpaut sekian centi saja dari wajah Van Hellen rupanya masih terdapat jarak. Meski bibir merah dadunya yang mungil itu teramat sangat dekat dengan bibirnya, namun itu belum menjadi sebuah ciuman. Sadar bahwa dirinya sedang berada di gunung, maka ia pun cepat-cepat menata sikap. Pikirannya ruwet, karena ia merasa Van Hellen tadi benar-benar menyatakan perasaannya padanya, ataukah itu hanya sebuah ilusi?

"Iya Mas?"

Agus agak gelagapan. Tapi ia berusaha bersikap senetral mungkin, usai menempelkan plester ke dahinya yang terluka, tangannya agak keder juga apakah ingin menyentuh atau membuangnya ke udara. Tapi tanpa disangka-sangka, ia sentuh juga pipi itu. Ia belai pipi Van Hellen dengan lembut.

Dipandangnya sekali lagi gadis itu...

"Sudah selesai. Lihat! Plesternya sudah aku tempel!" Agus pun berusaha tersenyum sewajarnya ke arah Van Hellen

Sedangkan gadis itu....entah kenapa tatapannya berubah menjadi sendu. Matanya yang bulat seperti menyimpan air mata di sudut-sudutnya, meski ia tahan-tahan supaya jangan sampai pecah dan berleleran membasahi pipinya yang gembil.

Sampai akhirnya, di luar tenda terdengar bunyi srek....srek...srek seperti langkah kaki seseorang yang tersaruk-saruk tumpukan dedaunan kering dari pohon-pohon di atasnya. Srek...srek...srek! Tidak! Bukan hanya seseorang. Tapi beberapa orang.  Mereka berjalan mendekat ke arah tenda. Sementara angin berhembus dengan kencangnya meski hujan masih belum turun juga. 

Agus terkesiap. Tangannya yang semula berada di lengan Van Hellen kemudian ia lepaskan dan ia ingin memfokuskan pendengarannya sekarang.

"Srek! Srekkk!! Srekkk!" Semakin lama semakin jelas bunyi langkah itu. Dan dari siluet yang terpantul dari permukaan tenda, bentukannya seperti perawakan kedua temannya.

"Sebentar Hellen!" Agus mulai berinisiatif memantau keadaan luar.

"Hellen tunggu di dalam saja ya!"

Dibukanya resleting parasut oranye itu hingga kepalanya menyembul keluar. Ia dapati Satria dan Khanif ada di sana. Jelas betul itu mereka. Karena wajahnya menghadap ke depan. Satria dengan kemeja flanel kotak-kotak birunya dan Khanif dengan jaket hitam yang tertutup sampai leher. Keduanya sekarang duduk di bebatuan. Tidak ada Herman maupun Ningsih. 

"Kang Satria! Khanif!!!" teriak Agus ke arah mereka meski jarak mereka tidak lebih dari beberapa depa.

Aneh.

Keduanya tetap diam dan tidak ada tanda-tanda seperti melihat Agus yang kini sudah berada di depan mata karena ia keluar dari tenda.

Agus menggerak-gerakkan tangannya seperti memberi aba-aba, tapi sikap Satria dan Khanif benar-benar tidak sewajarnya seperti saat hari-hari biasa. Mereka seperti mahluk asing dari negeri antah berantah. 

"Kang!!! Nif?!!!!" Kembali Agus memanggil mereka. Dan tanggapannya tetap sama. 

Lama Agus perhatikan, saat salah seorang diantaranya berdiri, ternyata kakinya tidak menapak tanah. Bagian kaki Satria membentuk bayangan buram yang tidak utuh. Agus pun langsung merapal doa-doa dalam hati. Kini ia yakin bahwa yang ada di hadapannya kini bukanlah teman mereka. Dengan perlahan ia mundurkan langkah dan memutuskan untuk kembali ke tenda.

"Sleeereeekk!!" Pintu tenda dibuka. Tapi setelahnya ditutup lagi dengan cepat karena 2 kawan jadi-jadiannya itu masih ada di sana. Meski diam saja, tapi Agus merasa itu tetap mengganggu. Maka ia putuskan untuk tidak keluar-keluar lagi.

"Mas....mereka??"

"Iya Hellen...mereka bukan Satria dan Khanif. Sudah kita di sini saja." Agus memberi tahu yang langsung dibarengi dengan ekspresi terkejut dari wajah Van Hellen.

"Sssttt...sudah-sudah. Jangan dipikirkan. Santai saja ya!" Agus kembali menenangkan meski dalam hati ia agak cemas juga.

"Creppp...creppp...creeepppp!!" batere headlamp yang menjadi satu-satunya penerang dalam tenda makin lama makin menyusut. Sorotnya pun mengecil, hingga akhirnya angin di luar kembali berbunyi wus wus wus!!! Kencang sekali seperti menerbangkan dedaunan kering ke segala arah. Satu kilatan cahaya menggelegar bersamaan dengan air cucuran dari langit yang tumpah ruah dengan derasnya.

"Blaaarrrrrrr!!!Blaaarrrr!!!Jegerrrr!!! Gledeg!!!! Gledeg!!! Gledeg!!!" 

Van Hellen dan laki-laki yang ada di sampingnya itu kini hanya bisa berpegangan tangan, saling menguatkan, sekedar untuk menepis rasa takut. Mereka lalu memilih bercerita tentang masa kecil masing-masing meski itu dalam gelap. 

***

Stroberi-stroberi ranum itu masih bergelayut pada tangkai-tangkainya yang saling membelit. Bentuknya lucu, membulat panjang agak segitiga dengan titik-titik hitam di permukaannya yang merah. Pasti rasanya manis-manis asam. Mungkin. Ya, apapun itu, stroberi memang buah yang unik. Anak itu suka sekali dengan stroberi. Pernah ia habiskan satu keranjang penuh stroberi yang dipetik dari kebun sendiri. Stroberi-stroberi itu, tadinya ditanam oleh Grandpa. Tapi semenjak Granpa berpulang, stroberi-stroberi itu dibiarkan tumbuh liar, tidak terawat, bahkan ia tidak pernah menengoknya lagi. Ia hanya senang memakannya saja, sedangkan untuk menanamnya, ia tidak akan sanggup.

"Kok bengong saja? Nggak dipetik stroberinya?" suara Agus mengagetkan lamunan anak itu. Matanya sedang asyik mengamati tanaman stroberi yang tumbuh di samping rumah. Tanaman itu memang tumbuh sendiri. Tepatnya stroberi liar, tapi tanamannya tampak eksotik.

"Hey?! Ditanya kok diam saja? Emang Kakak patung ya?" ujar Agus sambil membelai rambutnya. Sekali lagi anak itu tak menyahut. Matanya kosong menatap tanaman yang menjulur-julur itu. Wajahnya sedikit cemberut. Agus yang merasa tidak dihiraukan kemudian ikutan berjongkok di sampingnya.

"Mau kakak belikan es krim stroberi tidak?" tawarnya lagi. Dan benar saja, begitu mendengar kata 'es krim' dengan embel-embel stroberi, maka mata anak itu pun langsung berbinar. Mata yang bulat besar memancarkan cahaya yang berkilauan. Ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Lucu sekali seperti boneka putar.

"Ayo!" ajak Agus, ia lalu menggamit tangan mungil anak itu dan mereka beranjak pergi ke kedai es krim di ujung jalan.

***

"Wah, adiknya manis sekali!" sapa tukang kedai yang bertubuh tambun itu sambil tersenyum.

"Oh...ini bukan adik saya Pak, tapi......" Agus menghentikan ucapannya. Dan tukang kedai tadi mulai penasaran. Lalu Agus pun membisikkan sesuatu ke telinganya.

"Dia ini pacar kecil saya." ujarnya lirih, hingga yang dibicarakan tak mendengarnya sama sekali. Tukang kedai itu kaget, dan ia pun tertawa. 

"Dasar aneh!" batinnya dalam hati. Ada-ada saja. Ia pun berlalu. Tampaknya ia sedang sibuk membuat adonan es krim kombinasi. Ada rasa kacang stroberi, ada pula rasa cokelat capuccino. Satu diantara pelanggannya berteriak lalu memesan 2 porsi es krim formasi baru tadi.

Di bangku sebelah, terlihat anak itu tampak asyik menghabiskan satu gelas besar es krimnya hingga tak bersisa. Setelah itu ditelannya stroberi yang terpasang di pinggir gelas kristalnya bulat-bulat. Agus yang duduk di sampingnya ikut tertawa.

"Lucu juga anak ini." pikirnya.

Setelah krim-krim itu benar-benar habis, Agus pun berteriak memanggil tukang kedai tadi sembari menepuk-nepukkan tangannya. Lalu si tambun itu berlari ke arahnya. Wajahnya sumringah manakala lembaran-lembaran uang dua puluhan ribu dikeluarkan dari dompet kulit buaya miliknya. Sebelum tamunya benar-benar pergi, tukang kedai itu membisikkan sesuatu ke telinganya.

"Ssssst!!! Sering-seringlah mampir ke sini, traktir pacar kecilmu itu ya?" ujarnya sambil tersenyum.

Ya, setidaknya ini untuk menghibur pacar tetangga kecilnya yang sedang ngambek karena besok ia sudah harus meninggalkan Bandung untuk melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah.

***

Dalam kegelapan, tiba-tiba dari atas seperti terdengar tanah bergetar dan bergulung-gulung menuju dasar lereng. 

"Bruuuuuuuuggggg!!!!! Bruuugggg!!!!"

Tanpa ampun gunungan tanah itu longsor dan sebagian sudah mulai menghantam tenda mereka.

"Gledeg!!! Gledeg!! Gledeg!!! Jegeerrrr!!!" 

Untung saja Agus dengan sigap langsung tahu keadaan. Tanpa pikir panjang, ia persilakan Van Hellen menaiki punggungnya karena ia akan melakukan proses evakuasi sekarang. Carrier dan segala macamnya terpaksa ia tinggalkan karena sudah tidak keburu lagi. Ia pun berjalan cepat dengan Van Hellen yang memeluknya dari belakang erat sekali.

"Sakit tidak kakinya." katanya sambil berjalan cepat. Badan Van Hellen yang terhitungnya agak sintal terasanya enteng saja karena sebenarnya kondisinya sedang drop.

"Hellen...kau masih di situ?" tanya Agus kuatir.

"He em!" jawab Van Hellen pelan.

"Sabar ya!!! Kita harus cepat keluar dari zona bahaya ini. Akan aku usahakan!" ujar Agus mencoba untuk optimis.

"Pegangan yang erat!"

"Iya...." dalam diam, punggung laki-laki itu terus didekapnya dengan erat. Bau laki-laki yang sangat ia sukai ini begitu nyamannya untuk ia sandari seperti dirinya adalah seekor anak koala. Feromon yang sangat kuat. Meski basah kuyup menerjang dan membuat kepalanya bertambah pening. Mereka terus berjalan membelah malam.

***

Kenangan seperti slide-slide kehidupan yang terus berputar. Bocah kecil itu menampakkan wajahnya yang cemberut dengan pipi gembung di kiri kanan yang nyaris terlihat seperti kodok. Membuatnya tak henti-hentinya ditertawakan. "Cup...cup...cup! Sudah-sudah jangan menangis!" Tapi kalimat itu terasa percuma sebab nyatanya tidak mampu untuk menahan Abang Tetangganya pergi meninggalkan Bandung. 

"Kenapa tiba-tiba mau pindah?" Anak itu bertanya polos.

"Aku pindah untuk meneruskan sekolah."

"Tidak di sini saja?"

"Kan sudah keterima di sana."

"Di sini banyak sekolah."

"Iya....iya..."

"Sekolah di sini saja."

"Tidak bisa. Aku sudah keterima di sana."

"Tidak ingin bermain denganku lagi?"

"Hmmm...tentu saja bukan begitu."

"Siapa yang akan menemaniku bermain?"

Agus mengelus rambut bocah itu dengan sayang. Tapi kini ia harus pergi, menyisakan Van Hellen yang terus menangis sampai punggung Abang tetangganya yang baik hati itu sudah tidak nampak lagi. Keranjang stroberinya ia biarkan berserakan di atas aspal.

***

Bangun-bangun Agus sudah berada di rumah sakit. Tapi semalam ia seperti mimpi yang terasa  nyata sekali. 

Dini hari pukul 03.03 WIB, hampir separuh perjalanan mencapai bawah, dengan sisa-sisa tenaga yang ada, Agus gendong Van Hellen di balik punggungnya. Tapi ia rasakan tubuh gadis itu semakin melorot. Ia tahu dari tadi dirinya hanya diam saja, tapi semakin ke sini ia merasa semakin cemas. 

"Hellen....kau masih di sana?" 

Dirasakannya tangan gadis itu kembali melingkari leher Agus tepat di atas dada dan itu membuatnya sedikit lega. 

"Hellen, pegangan yang kenceng. Jangan tidur dulu!" 

Yang diajak ngobrol melepaskan lagi genggaman tangannya di antara bahu Agus dan kini tangannya menjuntai.

"Hellen??? Hellen??!!!!!"

Agus memutuskan untuk berhenti sejenak setelah mendapat tempat yang aman untuk duduk. Diturunkannya Van Hellen dengan hati-hati sekali lalu perlahan mata gadis itu membuka. Van Hellen langsung memeluk Agus tanpa menunggunya berkata-kata.

Agus hanya bisa pasrah menerima. Tapi dirasakannya gadis yang ada dalam pelukannya itu seperti ingin memejamkan mata terus.

"Hey!!! Tunggu!!! Jangan tidur dulu Hellen!" teriak Agus agak keras. Van Hellen pun mendongakkan wajahnya sesaat lalu menatap Agus dengan mata sayu. Didorongnya tubuhnya itu ke depan dengan sisa kekuatan yang ada hingga ia daratkan bibirnya yang merah dadu itu membasahi bibir laki-laki yang ada di depannya.

"Aku sayang kakak..."

Dia menciumnya dengan lembut dan dalam....

Namun semuanya menjadi blur. Kabur. Tidak begitu jelas antara kenyataan atau mimpi. Jam pun terus bergulir. Langit yang tadinya berwarna gelap biru dongker, perlahan mulai berarak menampilkan warna-warna pastel yang menenangkan jiwa mulai dari ungu, jingga, hingga biru muda. Matahari pagi pun menyembul di atas kepala tepat dari ufuk timur. Beberapa jam kemudian datang orang berseragam sama sambil sibuk meneriakkan instruksi-instruksi lewat walkie talkienya.

"Lapor, Mas Eko Prast....target operasi telah ditemukan. Posisi koordinat sekian...agak tertimpa longsoran."

"Posisi bagaimana Mas Bro?"

"Koyo rangkulan Mas, pelukan. Ceweke ning nduwur, sebagian kena longsoran. Sitok kritis...sitoke maneh......... tandu Mas Bro cepet!! Tanduu!!"

Sampai akhirnya mereka dipapah menggunakan tandu.

***

Seorang suster tiba-tiba masuk ke bangsal dimana Agus dirawat untuk mengganti cairan infusnya. Meski belum pulih betul, tapi Agus berusaha mengubah posisinya yang semula rebahan menjadi setengah terduduk. Ia ingin segera mengorek informasi.

"Tuan Agus, selamat pagi! Senyum manis suster itu perlahan membuyarkan lamunannya.

"Saya ganti infusnya dulu ya!" dengan cekatan diraihnya pergelangan tangan laki-laki itu dan dalam sekejap nick name yang tersemat pada dada membusung 34C milik suster itu mengukir indah nama Tiwi di sana. Iapun segera memberikan cairan infus baru untuk dipasangkan kembali ke tangan pasiennya. Meskipun saat diganti laki-laki itu hanya bisa mengernyit menahan perih.

"Suster...boleh aku tanya sesuatu...?" tanya Agus hati-hati.

Suster itu mempersilakan.

"Dimana teman saya yang satunya." 

Suster itu terdiam sejenak. Kulitnya yang kuning langsat serasi dengan potongan tubuhnya yang sintal dan enak dipandang. Air mukanya yang ramah perlahan berubah menjadi ekspresi penuh keprihatinan.

"Lisette? Lisette bukan nama barengan Anda Tuan Agus?"

Agus mengangguk.

"Lisette Ani....Lisette Ani siapa namanya? 

"Anita Van Hellen. Lisette Anita Frederica Van Hellen. Blasteran Belanda." ujar Agus mengoreksi.

"Oh ya ya... van Hellen.....hmmmm"....

Saat itu juga suster cantik itu hanya bisa mendekat padanya di sisi ranjang dan menepuk bahunya beberapa kali...


***


Gadis itu memandang kaca jendela bis yang buram dan menyeka titik-titik uap airnya dengan punggung tangan. Entah kenapa hatinya terasa sepi. Ia merasa bis ini tidak akan membawanya ke mana-mana. Melaju terus dan tidak akan pernah ada ujungnya. Ia memejamkan mata. Menyematkan kembali lagu kesayangannya Everything But Me-nya Daughtry pada kuping kiri dan kanan, sampai bis itu ditelan langit sore yang kemerahan dengan mentari yang tinggal setengah lingkaran.


~TAMAT~


Note : Cerbung ini merupakan kolaborasi bareng dengan teman-teman eks blogger MWB yang adatnya sering pakai nama teman (buat seru-seruan aja dan menambah akrab sesama blogger khususnya niche fiksi macam cerpen dan cerbung)











50 komentar:

  1. Oh I've so enjoyed reading this...thank you so, so much!😊😊

    I really hope all is good with you, and that you're having a great weekend!

    Big Hugs xxx

    BalasHapus
    Balasan
    1. Really appreciate you for taking the time to read my fiction project, Dear Ygraine

      (((o(♡´▽`♡)o)))

      Thank you for thinking of me. I will cherish your best wishes always 😊

      greetings from Indonesia ☺😊

      Hapus
  2. inisih romantis banget, aku sampai ga kuat baca adegan romantisnya hehehe :D. di cerita masa lalunya juga romntis, campur lucu, yah aku bilang ini udah bagus banget sih mbak dari segi cerita :D

    kayaknya ada spoiler nih suster tiwi akan jadi next cerpen bersama mas agus haha :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Whaaahhh...terharu!!! Pagi-pagi baca komentar yang mengapresiasi cerpenku dengan sangat dari Mas Nif bikin ku jadi semangat nih...makasih banget yaaa...(✪Ο‰✪)/

      ((o(*>Ο‰<*)o))

      komentarmu sangat berarti buatku..
      jadi semangat nulis fiksi lagi aku. Itu salah satu impianku sejak sekolah dulu, hehehe...meskipun sekarang aku bukanlah siapa siapa, tapi dengan menjalankan hobi dan kegemaranku ini aku jadi punya semangat!!!!

      mudah mudahan nanti bisa bikin yang lebih greget lagi...hehehe

      ☺πŸ˜ŠπŸ˜„

      Hapus
    2. suster tiwi dimanapun kebagian part ending ya...hihihi


      let me see apakah ntar ada sekuel selanjutnya dengan tokoh suster tiwi? wkwkkwkwkw

      Hapus
    3. Makanya mas khanif cepat cari gebetan biar kalo ada cerpen romantis mbul bisa ikutan praktek.😁

      Hapus
    4. hehehe...

      mbul mah sukanya nulis cerpen genre romantis mas, kalau yang genre lain blum pinter...e nulis romansa juga blom pinter deng si mbul mas 😜🀭

      Hapus
  3. Wuih kereeeeen cerpennya ,πŸ‘πŸ‘πŸ‘ aku sukaaaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sungkem sama mba yang uda lebih senior di rumah fiksi...

      makasih ya mba, it's mean a lot to me

      (´✪Ο‰✪`)♡

      Hapus
  4. wah aku belum baca part awal nih, ninggalin jejak dulu baru ke part awal ya. bye

    BalasHapus
    Balasan
    1. Boleh boleh...ꉂ(ΛŠα—œΛ‹*)♡

      Hapus
    2. @Anggi...Bacanya tahun depan Yee...🀣🀣🀣 Ngeles basi ala MWB..πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†

      Hapus
    3. anggi uda baca part 1 hihihi..ga tau uda balik ke part 4 ini lagi belum 😜🀭🀭

      Hapus
  5. tiap kesini disuguhin stroberi trs :D
    kira2 ampe part brp ya???

    besok2 bikin juga ya judulnya... "Pisang"
    πŸ˜„

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha...itu uda ada kata sakti tamat mas

      ketahuan nih ga baca 🀭πŸ₯΄πŸ˜

      Hapus
  6. Lho kok sudah tamat.😱

    Kirain aku bersambung sampai jilid 7.😁

    Part 4 ini jalan ceritanya maju mundur ya, ada adegan Agus teringat masa lalu dengan tetangga kecilnya, ada juga Agus di gunung dengan pacar kecilnya.πŸ˜„

    Kirain aku agus sama Van Hellen akan dibawa ke alam sana oleh satria dan khanif lalu kawin di alam sana dengan suasana seperti dalam film laut selatan nya Suzanna, eh ternyata enggak, pembaca kecewa.πŸ˜‚

    Endingnya agak nggantung, apakah Van Hellen akan pacaran dengan Agus, ataukah dengan Tiwi? πŸ€”

    BalasHapus
    Balasan
    1. hmmm nyuwune berapa part sih? nyuwune endinge pripun mas? mbul sih seneng seneng aja kalau bikin cerpen sampe part ke-10 atau 1000 wekekekk, tapi itu mas penghuni 10 aja protes bolak balik ke sini suguhannya cerpen, tulisannya panjang mungkin..padahal mbul suka nulis panjang ahahaha...(apa kuterusin aja, nanti deh tapa pati geni lagi cari wangsit, tapi mau pindah setting tempat ya, keluar dari gunung wkwkwk, soalnya kalau di gunung banyak aturan hahahha, ga bebas eeeh salah ya). Biar kayak series, coba nanti kapan waktu kalau sempat kubikin blog khusus cerpen cerbungku aja deh mas...gimana? oke ga ide mbul? πŸ˜±πŸ€”

      (。・Ο‰・。)(*・Ο‰・οΎ‰οΎ‰οΎž☆゚゚

      berarti masih mau ketemu van hellen nih, kalau masih ntar kubikin episode selanjutnya asal kasih seperangkat sembako gula teh mas πŸ˜‹πŸ€­πŸ€­

      pengennya mau fokusin cerita ke tokoh suster cantik bin demplo.. eh maksudnya suster manis atau blasteran belanda manis yang masih sering pengen nemuin walaupun kini sudah....eng ing eng..tar ku spoiller lagi? dah tuh? wkkwkwkwk

      πŸ˜πŸ˜†, ntar kulanjut lagi di episode mendatang. uda cocok kan mbul jadi sutradara pilm romance ala-ala 🀭

      Hapus
    2. kayaknya setelah kupikir-pikir pengen bikin episode lanjutan ah...biar buat tambah-tambah label cerpen cerbung aku hihi...ntar ga tau mau kutulis di sini apa blog sebelah, tungguin ya mas...

      😁(´∧Ο‰∧`*)

      Hapus
    3. Iya sih, setting nya mendingan pindah jangan di gunung karena banyak pantangan, padahal di gunung sebenarnya asyik buat pacaran ya.

      Jadi ceritanya mau di lanjutkan tokoh Agus nya dengan Tiwi atau mungkin dengan Saodah.🀣

      Lanjutannya satria dan khanif berkelahi sampai bacok bacokan demi memperebutkan suster Tiwi.😁

      Hapus
    4. hahahah.....ga ada tokoh lain selain ciptaan si admin apalagi saodah..byuh...siapa tuh saodah wkwkkw...merusak romantisasi cerbung mbul aja wkwkkwkw

      si tiwi ama nita aja tokoh ceweknya lah next episode hahahahhahahhahahhahaha

      Hapus
  7. Ntar komen panjangnya nyusul yee mbul...Lagi nggak enak body udah hampir mau lima hari.😒😒

    Suruh istirahat total sama si Ayank Vina..HP sama Laptop disita,😒😒 Ini pinjam hp anak gw.🀷‍♀️🀷‍♀️

    BalasHapus
    Balasan
    1. Asyiiik...nanti kalau uda fit komen yang panjang tentang alurnya kek biasanya ya kang wkwkwkwk

      Hapus
  8. Sama seperti part 3 di part 4 ini pun alur ceritanya maju mundur dan ada bagian part 1 yang dimasukkan ke part 4 ini.

    Untung itu hantu si Khanif dan Satria ngga galak ya cuma menampakkan diri aja coba kalau galak si Agus dan Hellen pasti udah kabur.

    Endingnya si Hellen mati kah atau semua yang dialami Agus itu hanya ilusi?

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihi jeli aja mas her...emang pinter deh...nih takkasih 100...

      (*・Ο‰・οΎ‰οΎ‰οΎž☆゚゚

      hahaha...iya yah...tapi justru yang diem itu lebih serem loh mas her...
      lha artinya si agus ga dianggep ada padahal uda manggil manggil #pukpuk si agus hihihi

      hmmm...menurut interpretasi mas her di beberapa paragraf akhirnya Hellen meninggal atau ga? coba dikira-kira kalimat kalimatnya hihihi

      Hapus
    2. Cuma seratus, dikit amat kenapa ngga seribu atau sejuta?

      Iya ya yang diem itu lebih serem seperti macan yang diem lebih serem dari kucing yang garang..hihihi

      Kalau lihat dari ekspresi susternya yang penuh keprihatinan sepertinya Van Hellen tewas ketiban longsor.

      Hapus
    3. 1000 dan sejuta? jangankan sejuta..nih takkasih sakmilyar wkwkwkwk

      iya kan yang diem itu jauh jauh jauh lebih seram..kayak orang yang lagi ngambek wkwkkw

      kucing garang dan macan diem...ya jelas lah menang macannya 🐯🐱...macan ga diem dan diem itu sama sama horrible kok wkwkwkkwkw

      kayaknya sih....nah kan...nih takkasih 100 lagi mas, pinter emang kalau baca tuh ngematin banget wkwkwkkw

      sedih ah aku bikin sad ending gini
      #jadi pengen nangis..hiks

      Hapus
    4. Tak kasih atau dikasih nih? Hihihi

      Kalau orang lagi ngambek sama kayak macan sama-sama mengerikan yang enaknya ditinggal aja satu dekade pas balik pasti udah ngambek lagi..hahaha

      Kalau sedih kenapa dibikin sad ending kenapa ngga dibikin mengambang aja?

      Hapus
    5. kenapa tokoh utama ceweknya dibikin mati sama sutradaranya? nah itulah yang masih menjadi misteri sampai dengan saat ini πŸ₯ΊπŸ₯ΊπŸ₯ΊπŸ˜­πŸ˜­πŸ˜’

      Hapus
  9. Sebenarnya sih walaupun bukan di gunung tetap harus jaga ucapan mbull hihi

    Wadawww jiwa jombloku meronta2 nih mbull baca adegan co cweetnya hellen dan aguss.. Huftt... Untungnya gak jadi ciuman hahahaha #hidupjomblo ehhh tapi tak lama kemudian itu ciuman jug njirr #loh kok saya cemburu yah hehe

    Hihi serem juga yahh tp saya pikir itu bukns etan sih tp halusinasi agus saja yang ngeliat satria dn kanif

    Kasian agus dan hellen pengen banget mesra2an tp situasinya gak mendukung hihi

    Wahhh udah tamat tapi saya belum merasa puas mbull,,, gimana kedepannya hubungan mereka, dan juga teman2nya yg lain...

    Tapi sudah emejing kok ceritanyaa hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener juga sih allu...cerdas emang kamu hahahha

      πŸ’ͺ('Ο‰'πŸ’ͺ)

      hahhaha...gini nih kalau penulisnya lagi kerasukan pas nulis fiksi...suka terbawa perasaan aja gitu uda macam menjelma jadi penulis buku beneran aku lul...#deng ga canda...biasa biar totalitas wkwkwk...iya soalnya aku suka bikin fiksi genre romantis hihihi, genre lain belom pinter..kan kalau banyakan cewek me timenya ngedrakor atau baca buku, nah aku timbang nonton drama atau baca yang lamaaaaaa banget aku ga bisa baca cepet, mending aku bikin cerita sendiri aja...bikin scriptnya kan biar bisa sesuai ama keinginan sendiri wkkwkwkw....biar bisa sesuka hati bikin adegan en endingnya hihi...mudah mudahan next cerpen atau cerbungku lebih romantis lagi yak hhahahahhaha...(buru buru banyak tapa cari wangsit dulu)

      makasih allu...komenmu bikin aku semangat nulis loh...hiks...aku jadi pengen nangis terharu gini masih ada yang mau baca ceritaku loh hihihi

      πŸ₯Ί(✪Ο‰✪)/☺πŸ˜ŠπŸ˜‰

      Hapus
    2. Hahaha kenapa gak nerbitin buku aja kalo gitu mbull...


      Haha ahh kmu mbull, pembaca blogmu ada banyak gitu masa gak ada yang baca tulisannu.. Hehe

      Hapus
    3. kayaknya belom piawai lul...maklum masih amatiran hihihi

      perlu banyak latihan biar kosa kata makin terasah 😁☺😊😜

      Hapus
    4. Setuju, mbul sudah cocok untuk buat buku karena cerpennya sudah bagus ya Rul. Tinggal cari penerbit buku seperti Kompas atau Gramedia.πŸ˜€

      Hapus
    5. ga lah masih jauh hihi

      ( ˘⌣˘)γ₯)˚Π·°)

      kalau dikirim ke penerbit takutnya baru dilirik judulnya doang udah masuk keranjang sampah mas ahahhahaha

      biarin ah mbul pajang di blog aja biar bisa dibaca sama mas dan blogger blogger yang lain atau pembaca hawammm mas

      πŸ˜œπŸ˜™

      Hapus
  10. Ok kita berkomentar meski badan masih kurang Fit, Ketimbang bengong wae dirumah mending kita komen2 yee. 😁😁

    Pada Part 4 dikisahkan akhirnya Satria mulai kelelahan karena belum bisa menemukan Agus Jambe Dan Van Hellen. Iapun akhirnya Meriang karena kecapean sampe ampas kopi ( Kedo ) ikut ditelan juga...Perasaan gw dah kaga ngopi??πŸ™„ πŸ™„ 🀣 🀣 Dalam kebimbangannya, Iapun memperhatikan seorang Joe Gimbal yang sedang berrozer2 ria dengan seorang tim relawan, yang bernama Ekoloyo..🀣 🀣 Curang juga yaa si Ningsih sama si Herman, Orang lagi kesusahan dia berdua malah izin pulang dasar sial dangkalan..😬😬

    Jauh disuatu tempat jika orang-orang pada sibuk dengan menghadapi cuaca yang tidak bersahabat, Baik dipuncak gunung maupun dibawah kaki gunung, Berbeda dengan si Agus Jambe dia mah malah mau mulai aksinya lagi yaitu menggrepe2 si Van Hellen dengan alasan masalah luka, Dasar Suuuee.😬😬 Sampai akhirnya dia Ngigau lagi menerawang kemasa silam sewaktu masih di Bandung. Dimana kala itu Agus jambe setelah lulus sekolah iapun sudah ditinggal mampus oleh bapaknya yang memang sudah tua, Dirumah tua itu Agus Jambe sering merasa sangat kesepian, Sampai2 ia sering minta ditemani oleh gadis kecil yang katanya mirip Van Hellen, Entah kalau untuk namanya siapa sigadis yang sering memberi Agus Jambe Stroberry itu..Mungkin Van Mollen kali yee.🀣 🀣 🀣 Dan karna itu pula mungkin si Agus jadi pria yang hobi Grepe2 kali yee...Makanya pas kuliah ngambil jurusan kehutanan.πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†

    Dan akhirnya Agus Jambe kualat juga yee, Didatengin hantu mirip Satria dan Khanif...Masih untung mirip temennya, Coba kalau Lowo Ijo yang datengin dicekek mencret dah langsung ente Gus.🀣 🀣 🀣 Bahkan secara mendadak petirpun datang bersahutan...Djeegeerrrr untung Agus Jambe nggak kesamber gledek.πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†

    Meski keadaan kaya gimana jiwa grepe2 Agus jambe tetap tak mau hilang, Ditambah lampu butut yang ia bawa pencahayaannya sudah sekarat. Kesempatan itu digunakan lagi oleh Agus Jambe untuk memulai aksinya kembali...Mereka saling berpegangan tangan dengan alasan agar bisa saling bercerita tentang masa lalunya.πŸ™„ 😳😳😳

    Dan para pembacapun disuguhkan dengan cerita pada episode pertama dimana ada anak kecil yang berpura2 gagu akhirnya tersenyum setelah dibelikan sebuah es Krim cap unyil, Eh salah stroberry.🀣 🀣

    Akhirnya tanah longsor itu membuat keduanya terpendam dan jatuh pingsan, Sampai team SAR menemukan mereka dan membawanya kerumah sakit. Walau dirumah sakit Agus Jambe sempat bingung karena ia tak bersama Van Hellen...Ia bertanya kepada Suster Pratiwi yang kala itu ingin mengganti cairan infusannya...Tetapi suster Pratiwi hanya menjawab..."Nggak usah Kepo deh luh, Mending luh diem aja ok"..πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†πŸ€£ 🀣 🀣 Dan akhirnya baik Agus Jambe dan Van Hellen kini kembali berpisah untuk yang kedua kalinya...Dan Saksikan pula kelanjutan cerita Stroberry dengan judul yang berbeda yaitu.πŸ‘‡πŸ‘‡

    'TITISAN ROH NYAI KEMBANG' ...πŸ˜†πŸ˜†

    BalasHapus
    Balasan
    1. lha kang leptop ama henpunnya udah ga disita mbak vin lagi tah 🀭🀭

      ow iya lupaaa si mbul kang satria uda stop kopi dan rokok ye kang hahaa

      eh buseeed jangan ganti jadi sembarangan dong kang...eko prast kok eko loyo sih hihi...hah yang gimbal gondrong kriwil kok jadi joe gimbal? πŸ€”πŸ₯΄

      wadidaw ngakak ada kata sial dangkalan hahahaha...sue deh komennya selalu bikin ku ngangis ngakak

      lowo ijo tuh apaan ya?
      kelelawar ijo tah?

      jangan sampe kesamber gledeg dong kang tar tokoh utama prianya sapa ? 😜😱😳🀭

      hmmm kesempatan dalam kesempitan kah?

      πŸ™„πŸ™„πŸ™„

      kok cap unyil sssssseeeeeech?


      suster cantik itu bernama pratiwi toh ternyata? kok sampeyan tau kang? πŸ€£πŸ˜‚ apa ada dalam tkpnya si agus?

      duch ilaaaaaah masa titisan roh nyai kembang sich...haduch haduch...bukanlah hihi

      nanti judul episode selanjutnya Cinta Bla Bla Bla....nah scriptnya masih diketik di otak nih...

      ᕦʕ •α΄₯•Κ”α•€

      #btw grepe grepe tuh apaan sih
      #pura pura belagak pilon deh gw hihihi

      Hapus
  11. Si AGus heboh banget banget. Banya jedar jeder gladak gluduk. Hahaha
    Seru, Mbak. Gaspoll

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe...

      dilatari bunyi gludug dan baday..akhirnya ehem ehem ya hahahahahah

      Hapus
  12. I always expect happy ending stories ❤

    BalasHapus
    Balasan
    1. Agak-agak feeling blue kak evi

      πŸ₯ΊπŸ₯Ί

      penulisnya aja pas nulisin endingnya sambil berlinangan air mata hohoho

      😱😭😒

      (。>γ……<。)πŸ’¦sorry…

      Hapus
  13. Meninggal si Hellen? sedih beud. Atau mudik ya ke Belanda? tapi keren sih ya ceritanya kak.Saya padahal berharap kakak si Helen dipanggil lagi ke cerita yang terakhir ini. Tapi ternya tidak. wkwk Ngarep. Tapi paragraf terakhirnya memang membuat kita penasaran ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kayaknya sih meninggal mas...hiks


      sedih ya...

      paragraf terakhir lumayan 'dalam' yak....

      adminnya aja ga kuat buat neruskan hahahha...ntah ia akan dibawa kemana dengan lagu kesayangannya yang diputar terakhir kali ☺πŸ₯ΊπŸ˜­πŸ˜’

      Hapus
  14. jadi mellow kan aku bacanya huwaaa
    kalau mendaki ini kudu siap lahir batin pokoknya.
    terakhir april kemarin naik gunung aja was was takut hipotermia

    BalasHapus
    Balasan
    1. hiks....penulisnya aja pas nulison endingnya berasa sendu hahahaha

      gini nih tiap bikin sad ending selalu mellow aku hmmmb

      Hapus
  15. Ihhh uwu bangett .. Agus dan Van Hellen 😍😍. Aku langsung ngebayangin gimana susahnya Agus yg harus jadi penanggung jawab nyawanya sendiri dan nyawa Van Hellen..

    Btw Mba Mbul. Aku mau nanya. Ini nih Van Hellennya meninggal ya πŸ€”? Apa dia udah pulang dan nggak izin sama Mas Agus?
    Aku mikirnya Van Hellen meninggal sih karena Bahu Agus ditepuk suster mengibaratkan "sabar ya Mas"

    Tapi akhir cerita ada scene dalam bis. Tapi bisnya "melaju terus tanpa tujuan" kaya ibarat "Eternal Road" atau Jalan Keabadian di alam lain..hehe 😁 kok aku mikirnya bisa kaya gitu ya..

    Well apapun itu. Aku nikmatin fiksi Stroberi Sampai part 4 ini Mba Mbul 😍.. suka banget sama peremajaan kata yg dipakai sama Mbak Mbul. Its so sweet and warm at the same time..

    Terimakasih ya.. udah buat ini Mba.. πŸ₯°πŸ₯° ditunggu cerbung fiksi romantis lainnya. 😚

    BalasHapus
    Balasan
    1. bayuuuuuu...terharu diriku...kamu memang smart reader tahu aja bagian bagian pentingnya...ah jadi ga bisa berkata kata lagi, sangking analisisnya tepat semua hiks hiks

      your comment very made my day..

      iyap serasa dibawa ke long road to heaven huhuhu...sedih

      (❁´◡`❁)

      (。•́ωก̀。).。oO

      Hapus
    2. Huhuhuhu jadi Van Hellen Meninggal. Mendadak mata langsung berkaca2. Meskipun ini hanya cerita tetapi tetap saja setiap scenenya berasa nyata. 😭😭😭

      Aku malah jadi mikirin perasaan kakaknya si Alan pas tahu kalau adeknya Meninggal. 😒 tenang di sana Dek Hellen. 😊

      Hapus
    3. Rest in Peace Hellen :'(

      perlu dibuat sekuelnya ga ya...hihihi

      Hapus

Komenin dong...tanpa kehadiran kalian apalah arti aku menulis....
kalian penyemangat setiap bulir kalimat dalam blog ini :*
Namun jangan komentar SARU atau SARA ya, jika ada komentar dengan unsur tersebut, dengan berat hati akan aku HAPUS .

Oh ya, Dilarang juga mengambil gambar/foto atau menyadur tulisan tanpa mencantumkan sumber atau seijin pemiliknya. Apalagi untuk kepentingan komersial atau lomba. Thx ^____^