Rabu, 01 Desember 2021

Sinopsis The Chase (2017)




Oleh : Gustyanita Pratiwi

Suatu hari hujan turun dengan derasnya. Di sebuah rumah kecil yang kumuh, seorang kakek tua tampak sedang batuk-batuk. Suara batuknya membahana seperti batuk rejan. Rumahnya sudah sangat memprihatinkan. Atapnya bocor dimana-mana hingga baskom bertebaran di atas lantai untuk menampung tetesan air hujannya. 

Tiba-tiba tampak seorang berbusana hitam sudah berdiri di sana. Si kakek tua yang hendak minum air putih dari dalam cereknya tiba-tiba dicekik dari belakang. Pelakunya tak  tampak bagaimana rupanya tapi yang jelas ia mengenakan topi hitam. Usai korbannya tewas, ia tata kembali posisi gelas dan cereknya seperti semula supaya tidak menimbulkan kecurigaan. Mayat kakek itu juga dirapikan lagi seakan-akan terlihat seperti sedang tertidur. Kepalanya dialasi bantal, tubuhnya diselimuti, dan tangannya ditelungkupkan di atas perut. Ia pun tak lupa membersihkan apa yang tersisa supaya tidak meninggalkan jejak. Kota pun masih diguyur dengan hujan yang dari kejauhan tampak bercahaya karena lampu-lampu. 


Film : The Chase
Native Title: 반드시 잡는다
Juga dikenal sebagai : Aridong, Bandeusi Jabneunda
Sutradara : Kim Hong Sun
Screenwriter: Yoo Kab Yeol
Genre : Mystery, Drama (Murder, Serial Killer, Diadaptasi dari A Webtoon, Detective Male Lead, Cold Male Lead, Skilled Killer, Investigation, Thriller
Negara : Korea Selatan
Type : Movie
Tanggal Rulis : 29 November 2017
Durasi : 1 jam 50 menit

***

Keesokan harinya, kehidupan berjalan seperti biasanya. Sebuah kereta tampak melintas di rel. Dan pagi itu,  langit tampak cerah dengan latar belakag sebuah apartemen bobrok milik seorang Pak Tua. Seperti biasa, tiap memulai aktivitasnya, ia selalu menggosok giginya dengan khidmat dan streching sebentar. Setelahnya, ia memeriksa kesehatannya dan mengenakan jaketnya karena akan pergi ke suatu tempat. Tak lupa ia membawa 2 batang cokelat untuk bekalnya di jalan. 

Saat akan meraih helmnya, tiba-tiba ia perhatikan parkiran rusunnya penuh dengan sepeda dan kendaraan lain. Ia pun menuju ke salah satu rumah yang disewa oleh Paman berambut kelabu bernama Choi. Rupanya paman tersebut sedang kedatangan 2 orang petugas dari lembaga sosial. Pak Tua tadi masuk usai dipersilakan Paman Choi. Tak tahunya hari itu ia akan menagih uang sewa bulanan yang naik dari $250 dengan total tunggakan $1000 dengan sikap ketus. Ia mendamprat Paman Choi di depan kedua petugas wanita tadi. 

Paman Choi sendiri saat ini sedang kesusahan dan belum dapat pekerjaan. Ia meminta keringanan agar diberikan waktu untuk membayar tapi Pak Tua itu tidak mau tahu. Ia menyuruh Paman Choi tetap membayarnya lalu berseloroh kenapa ia tak menjual saja trucknya itu untuk mendapatkan uang. Tapi Paman Choi menolak karena itu satu-satunya sumber pendapatannya saat ini. Pak Tua itu kemudian menyindir lagi apa anaknya yang tinggal di Amerika sekarang tahu kehidupan ayahnya saat ini. Melihat Paman Choi disudutkan, maka salah satu dari petugas wanita tadi ikut nimbrung. Ia bilang perkataan Pak Tua itu terdengar sangat kasar. Ia memang pemilik rumah sewa ini tapi ia juga diminta untuk menaruh belas kasihan sedikit terhadap orang yang sedang kesusahan. Bukannya luluh, Pak Tua itu malah menadahkan tangannya ke arah petugas wanita tadi. Ia bilang, apa kalian yang akan membayarnya? Membawa makanan sebanyak ini, dipikirnya kedua petugas wanita itu pastilah mempunyai cukup uang. Pak Tua itu kemudian mengultimatum Paman Choi supaya bagaimana caranya, entah meminjam atau mencuri yang penting ia harus membayar uang sewanya. Kedua petugas sosial tadi pun mengumpat betapa jahatnya Pak Tua itu. Sungguh pelitnya melebihi Paman Gober...

Sim Deok Su. Begitulah nama Pak Tua pemilik apartemen yang berdiri sejak tahun 1950-an. Ia memiliki banyak properti di Kota Aridong. Ia pun memulai patrolinya dengan mengendarai motor tuanya melintasi gang-gang penuh turunan di kota itu. Ia memiliki watak yang sangat arogan dan pemarah sehingga orang-orang selalu menghindarinya. Bahkan seorang Bibi yang sedang menjemur dagangannya di aspal diterabas motornya begitu saja tanpa perasaan bersalah sama sekali. Ia tetap mengendarai motornya dengan PD-nya. Saat berhenti di lampu merah, ia sekilas memperhatikan dari kejauhan, sebuah kedai kopi milik seorang wanita. Padahal lampu bangjo sudah berganti warna, tapi ia tetap diam saja sampai diklakson kendaraan belakangnya beberapa kali. Ia pun melanjutkan perjalanannya hingga sampai di sebuah jembatan yang bawahnya adalah sungai. Sungai itu sedang ramai dirubung warga. Banyak mobil polisi berjajar di situ. Tampak pula garis kuning yang melingkari satu area. Rupanya sedang ada penemuan mayat hingga membuatnya penasaran juga. Tanpa rasa empati ia malah berseloroh bahwa kenapa orang itu harus mati di tempat ini karena hal tersebut akan menurunkan nilai jual properti saja. Salah seorang petugas polisi kemudian mendekatinya. Ia menegurnya supaya tak usah menambah masalah. Ia pun berteriak pada warga lainnya supaya tidak mengganggu TKP karena Tim Forensik akan segera datang sehingga tidak ada yang boleh menyentuh apapun di TKP. Saat akan pergi, Pak Tua itu tak sengaja melihat gadis manis yang bening seperti Mbul melintas di kejauhan. Gadis itu begitu melihat si Pak Tua langsung menunduk dan hendak pergi. Tapi kemudian Pak Tua memanggilnya. "Hoiii! Apartemen 205!" Begitu panggilnya. Ia mencegatnya karena dipikir gadis muda itu akan lari darinya. Tapi gadis muda itu bilang kenapa ia harus lari dari si Pak Tua. Tak lama kemudian Pak Tua itu menadahkan tangannya sambil bilang uang sewa. Gadis itu pun menjawab taktis bahwa saat ini belum ada dan ia akan membayarnya besok. Pak Tua itu pun menggerutu. Katanya kau tak pernah membayar tepat waktu wahai Apartemen 205. Lalu dengan muka polosnya yang masih seperti bocah, gadis itu protes supaya ia jangan dipanggil begitu karena ia punya nama. Namanya adalah Mbul Nita Ji Eun. Lalu ia pamit undur diri hingga membuat si Pak Tua bertambah sewot saja. Ia kemudian menerima telepon dari seseorang. 

Ji Eun rupanya bekerja di sebuah pabrik tekstil. Ia tipically gadis yang ramah dan pekerja keras. Juga wajahnya manis seperti Beby Mbul. Ia menyapa setiap orang yang ditemuinya dengan senyuman. Lalu ia mendekati rekan kerjanya yang seumuran dengan ibunya. Rupanya ibu itu sedang mengeluh karena boss mereka sangat perfeksionis hingga ia tak sanggup menyelesaikan beberapa pekerjaannya. Nah, si Ji Eun ini tanpa sungkan menawarkan diri biar ia saja yang mengerjakan. Ibu itu pun merasa tertolong. 

***

Pak Tua tadi kemudian menambatkan motornya di halaman parkir apartemennya. Ia lalu melanjutkan aktivitasnya memperbaiki kunci pintu dan menyerahkannya pada seorang anak muda.

Di tempat yang lain, seorang anak kecil yang sedang bermain bola tiba-tiba saja bolanya itu terlempar ke halaman sebuah rumah bobrok. Nah, saat jendelanya didekati, ia melihat sesuatu yang aneh karena banyak lalat yang hinggap di sana. Ia pun mengetok kaca jendelanya hingga lalatnya bubar, tak tahunya ada pemandangan yang sangat mengerikan di sana. Seorang kakek tua terbujur kaku dan sudah setengah membusuk dipenuhi ulat. 

Pak Tua yang kembali dari tugasnya sebagai tukang reparasi kunci kemudian mampir sejenak untuk ngopi-ngopi di kedai depan lampu merah (lamer). Ia menyapa sang wanita pemilik kedai dengan senyuman. Dan wanita itu lalu menyerahkan uang sewa bulanannya kepada si Pak Tua. Saat akan pamit, wanita itu menawarinya untuk makan sandwich terlebih dahulu. Tapi ia bilang tepung kurang baik untuk kesehatannya jadi ia menolaknya dengan halus. Meski demikian wanita tersebut tetap menawarinya jamuan yang akhirnya tidak bisa ditolak oleh si Pak Tua. Akhirnya ia mau juga dibakarkan setangkup roti untuk sarapan. 

Saat wanita itu sedang membakar rotinya, si Pak Tua bertanya bagaimana perkembangan usahanya. Ia harap dapat berjalan dengan baik sehingga ia dapat menaikkan biaya sewanya. Kata si wanita, datang kembali ke sini setelah beberapa puluh tahun yang lalu sebenarnya membuatnya khawatir jika harus mencari uang sendiri. Tapi beruntung pendapatannya selalu cukup selama ini. Tak lama kemudian, pintu kacanya diketuk oleh seseorang. Ternyata itu adalah Dokter Na. Si Wanita Pemilik kedai pun langsung hapal dan bilang apa Dokter Na memesan 2 sandwich seperti biasa untuk berkeliling. Orang tua itupun mengangguk sambil tersenyum ramah. Di luar, rupanya ia datang bersama istrinya yang lumpuh hingga harus mengenakan kursi roda. 

Sementara itu Pak Tua Sim Deok Su menyantap sandwich dan jus jeruknya dengan nikmat. Si Wanita pemilik kedai lalu memuji Dokter Na yang sangat manis terhadap istrinya. 10 tahun wanita berusia 50-tahunan itu lumpuh. Tapi Pak Tua Sim malah sewot dan mengatakan bahwa merawat orang sakit memerlukan banyak biaya. Jika dia miskin pasti hidupnya akan hancur. Si wanita pemilik kedai hanya bisa menatapnya dengan heran, ia berpikir kenapa Pak Tua Sim orangnya nyinyir sekali ya, hahhaha...Lalu tiba-tiba HP Pak Tua itu berdering. Ternyata dari Petugas Kepolisian Lee. 

Pak Tua Sim pun menuju lokasi dimana Petugas Lee menyuruhnya datang. Dimana lagi kalau bukan rumah kakek tua yang meninggal sendirian tanpa orang lain tahu. Kata Pak Polisi kemungkinan ia meninggal dalam keadaan tidur. Tapi kebetulan sekali kejadian ini tepat setelah Lee Man Seok diketemukan tewas di sungai. Pak Tua Sim pun terkejut. Ternyata yang tewas itu adalah pemabuk itu. Ya, si Bodoh Man Seok. Asumsinya adalah dia mabuk dan tergelincir dalam hujan musim dingin yang lalu. Tapi lagi-lagi Pak Tua Sim mengeluarkan kata-kata nylekit yang sama sekali tak berempati, katanya syukurlah orang itu mati. Memang selayaknya ia mati. Petugas Polisi Lee sampai heran kenapa Pak Tua Sim senyinyir itu. Saat ia hendak cabut, ia sejenak memperhatikan jendela yang tadinya dikerumuni lalat, lalu habis itu balik ke apartemennya lagi ketika hari sudah petang. Ia kemudian teringat tentang perkataan Paman Choi bahwa saat ini ia sedang kesusahan karena belum mendapat pekerjaan dan meminta keringanan untuk membayar sewanya. Pak Tua Sim pun seperti merenungkan sesuatu. Sepertinya hati nuraninya mulai melunak. Ia kemudian mengetuk pintu rumah Paman Choi. Tapi tak ada jawaban. Saat dibuka gagang pintunya, ternyata tidak dikunci. Ia menggerutu kenapa Paman Choi merusak gagang pintunya. Ia pun masuk ke dalam. Suasana rumah tampak sepi. Tak terlihat dimana keberadaan Paman Choi. Sementara di meja makan masih terdapat makanan lengkap. Tak lama kemudian Paman Choi datang. Ia pikir Pyung Dal yang datang ternyata Pak Tua Sim. Si kikir itu kembali nyinyir karena Paman Choi datang membawa bir. Ia bilang Paman Choi tak bayar uang sewa tapi malah makan seperti raja. Ia mengancam jika Paman Choi tak segera membayarnya, ia tak segan-segan akan mengusirnya. Tapi tiba-tiba Paman Choi meminta Pak Tua Sim untuk singgah sejenak. Keduanya kemudian ngobrol-ngobrol ringan. Ia ditanya siapa yang bakal datang hingga jamuannya semewah ini. Katanya mantan rekan kerjanya dulu. Pak Tua Sim pun jadi kepo dimana Paman Choi dulu bekerja. Ternyata Paman Choi seorang detektif polisi. Pak Tua Sim pun menasihatinya agar ia meninggalkan pekerjaannya itu dan menikah saja. Ternyata jawabannya dijawab santai oleh Paman Choi. Katanya separuh hidupnya digunakan untuk memburu buronan dan itu sudah jadi jalan hidupnya. Ia lalu bertanya orang yang meninggal baru-baru ini (Lee Man Seok di sungai dan Song Jang Su di rumah, ternyata keduanya sangat dikenalnya. Tapi Pak Tua Sim bilang untuk apa mengingatnya karena itu tak ada gunanya. Lalu Paman Choi menjelaskan bahwa gereja menyediakan jatah makan siang gratis setiap Selasa, Rabu, dan Kamis. Kemarin mereka datang pada hari Selasa dan Rabu. Tapi tak kelihatan di hari Kamisnya. Kemungkinan mereka meninggal di Rabu malam. Masih ada satu lagi yang hilang, Han Si si orang tua yang tinggal sendirian di kandang itu. Sedangkan hari ini adalah Hari Rabu juga. 

Sementara itu, di jalanan Ji Eun yang manis seperti Mbul sedang bertelepon dengan temannya Su Kyeong. ia mengajaknya minum bir bersama. Tapi ternyata tak bisa dan membuat gadis itu kecewa. Tak tahunya di belakangnya seperti ada sosok yang sedang memperhatikannya dari jauh.

Kembali ke kediaman Paman Choi. Kata beliau, hal yang sama terjadi puluhan tahun yang lalu. Pertama terjadi pada lansia yang tinggal sendirian, kemudian wanita muda yang meninggal atau hilang. Dan pembunuhnya belum terungkap. Kasus ini ditutup karena semua korban terlihat seperti kematian yang tak disengaja. Pak Tua Sim pun menasihati Paman Choi supaya berhenti memikirkan masa lalu pekerjaannya. Lebih baik beristirahat, makan, dan cari uang yang banyak supaya tak lupa membayar tunggakan uang sewa. Tapi sebelum pergi, Pak Tua Shim berkata apakah Paman Choi bersedia rutin menemuinya supaya terkesan Paman Choi ini tidak lari dari tanggung jawab. Ia tak ingin ada tunggakan sewa lagi karena kalau iya maka ia akan makan apa. Lalu saat akan menutup pintu, ia bilang besok pagi ia akan kembali untuk memperbaiki gagang pintunya. Saat itulah Paman Choi seperti mengangguk tapi dengan senyuman aneh yang tak seperti biasanya. 

***

Ji Eun pun sampai di depan rumahnya. Ia membuka pintunya dengan sebuah kunci. Setelah masuk ke dalam, tiba-tiba seseorang menyergapnya dari belakang. Ternyata itu adalah temannya Su Kyeong yang seksi seperti Tiwi #eh. Ji Eun sudah setengah mati ketakutan karena dipikirnya itu pencuri. Su Kyeong bilang apa yang bisa dicuri dari temannya yang miskin itu kecuali ini (sambil menunjuk dada (????) maksudnya baju kali ya apa behaaaa aku ga tau soalnya di situ kan lagi banyak rumor tentang penguntit). 

Pak Tua Sim pun melewati depan pintu nomor 205. Di sana ia mendengar gadis-gadis sedang membicarakan penguntit. Ia ingin menemuinya karena kedengarannya mereka sedang minum bir. Tapi sebelum mengetuk pintu tiba-tiba ia mendengar bahwa Ji Eun dinasihati temannya supaya memikirkan dirinya sendiri juga selain mengirimi ibunya uang, termasuk jangan lupa membayar uang sewa supaya tidak diusir. Dari situ hati Pak Tua Sim kembali maknyes. Tiwi eh...Su Kyeong bilang Mbul Ji Eun selalu bekerja keras semenjak SMA namun memberikan semua uangnya untuk orang tuanya. Kapan ia bisa bahagia? Tapi dengan bijak Ji Eun berkata, mereka sangat membutuhkannya dan ia tak bisa mengabaikannya. Su Kyeong pun gemas dengan kebaikan temannya itu. Hingga di luar Pak Tua Sim tidak jadi menagih uang sewanya. 

Malam harinya, angin bertiup sangat kencang. Listrik di rumah Paman Choi tiba-tiba padam. Pintu rumahnya pun terbuka. Orang tua itupun terpaksa bangun untuk menutup pintunya. Ia tak sadar di depan sana sudah ada sepatu orang asing yang bertengger di situ. Saat hendak menutup gagang pintunya, tiba-tiba seseorang menjeratnya dari dalam. 

Keesokan harinya, Pak Tua Sim bersiap membawa gagang pintu baru untuk Paman Choi. Ia kemudian bertemu dengan Ji Eun yang hendak berangkat kerja. Gadis muda itu mengangguk sopan pada pemilik apartemennya. Tetap saja Pak Tua Sim bertanya kenapa sampai hari ini ia masih belum membayar uang sewanya. Tapi saat hendak menjelaskan, Pak Tua Sim bertanya kenapa Ji Eun tidak memberitahunya tentang teman sekamarnya itu. Ji eun bilang ia hanya datang sesekali kok. Pak Tua Sim menghardiknya supaya jangan berbohong karena ia mendengarnya di malam hari cause ia tinggal di bawahnya. Ia dengan semena-mena lalu bilang bahwa Ji Eun harus membayar uang tambahannya. Ji Eun pun minta maaf dan segera berangkat kerja. 

Pak Tua Sim lanjut menuju ke nomor 202 kediaman Paman Choi untuk memasang gagang pintu. Dari luar ia hanya melihat kaki Paman Choi saja seperti sedang duduk di lantai. Karena tidak digubris, akhirnya Pak Tua Sim masuk ke dalam. Betapa terkejutnya ia karena Paman Choi telah tewas dengan leher tergantung di gagang  pintu kamar mandinya. Tak lama kemudian 2 orang petugas wanita dari dinas sosial datang dan ikut shocked juga atas kejadian itu. 

Apartemen Aridong pun geger. Petugas kepolisian Lee datang meminta keterangan. Ia bertanya bukankah Pak Tua Sim semalam datang ke tempat Paman Choi untuk menagih uang sewa. Semua pun menjadi rungsing karena pada hari sebelumnya kedua petugas wanita itu mendapati Pak Tua Sim membentak Paman Choi karena menunggak jadi kemungkinan besar ada motif untuk membunuh. Pak Tua Sim jelas kesal karena dituduh seperti itu. Eyel-eyelan pun terjadi hingga disaksikan seluruh penghuni apartemen. Karena kejadian ini semua jadi tidak ada yang mempercayainya. Bahkan mau makan di warung saja, ia diusir. Lalu saat ingin ke kedai Sandwich rupanya di sana juga sedang tutup. 

Pak Tua Sim kembali ke rumahnya. Ia memasak nasi dengan lesu. Sementara itu Ji Eun meminta ijin dipinjamkan uang muka kepada bossnya untuk membayar uang sewa apartemen. Sayangnya ia malah diomelin karena Bossnya memang galak. 

Pak Tua Sim sendiri kini jadi sering melamun. Saat sedang di ruang kerjanya untuk mereparasi kunci, Ji Eun datang menemuinya. Ternyata ia ingin meminta ijin untuk pindah dari apartemen 205. Pak Tua Sim berkata mengapa tiba-tiba sekali. Apa Ji Eun berpikir bahwa ia juga yang membunuh Paman Choi. Ji Eun pun menjawab bahwa ia tidak berpikir seperti itu. Mungkin Pak Tua itu memang memiliki watak pemarah, tapi ia tidak melihat keburukan dalam hatinya. Ia tak pernah melihatnya mengusir siapapun walaupun mereka tak membayar uang sewa. ia hanya bilang akan pindah secepatnya setelah membayar tunggakan uang sewa. Pak Tua Sim pun trenyuh atas kebaikan hati gadis itu. 

Pak Tua Sim lalu pergi ke kediaman Alm Paman Choi. Disibaknya garis polisi yang menghalangi pintunya lalu masuk ke dalam. Ia lalu menemukan foto anak Paman Choi yang sekarang tinggal di Amerika bersama keluarganya. Ia menyayangkan kematian Paman Choi begitu cepat sebelum ia bisa bertemu dengan cucunya. Namun tiba-tiba seseorang menyerangnya dari belakang. Seorang pria tua juga namun dengan kondisi masih bugar. Ia bertanya dimana Paman Choi dan ketika dijawab sudah meninggal jelas ia tak percaya...Lalu ia malah dengan panik mencari sesuatu. Ia menjelaskan tidak mungkin Choi bunuh diri karena sebentar lagi dia akan segera berjumpa dengan anaknya setelah 20 tahun lamanya. Itu artinya tak ada alasan untuk mati karena ia sedang berbahagia. Simpulannya pasti ia dibunuh. 

Malam harinya, Ji Eun pulang dari kerjanya. Iapun sejenak berhenti di depan rel karena ada kereta yang melintas. Saat kereta berlalu, di sebelahnya sudah berdiri seseorang di sana. Ia pun terus melangkah menuju apartemennya. Di depan, ada sepatu Tiwi Su Keyong berserakan di sana. Kata Ji Eun dasar si berantakan. Ia pun menatanya hingga rapi. Sambil bilang pada temannya jangan katakan kau cantik jika masih suka berantakan, karena dilihatnya tasnya ada di lantai, mantel bulunya juga di lantai, dll. Lalu ia mendapati temannya itu sedang ada di depan toilet dengan kepala menghadap closet. Saat mendekat, ia bertanya apa Su Kyeong sedang muntah sekaligus tidur. Kenapa tidak menjawab pertanyaannya. Betapa terkejutnya ia karena setelah badannya dibalik, ternyata lehernya sudah digorok dan berlumuran darah. Saat hendak menelepon polisi, seorang berbusana hitam langsung membekapnya dari belakang. Sementara Pak Tua Sim yang tidur di bawahnya menjadi terganggu karena lampu di langit-langitnya bergemerincing. Ji Eun sendiri tiba-tiba pingsan karena kepalanya dihantam pecahan beling. Si pelaku pun segera menggeret tubuh Ji Eun ke suatu ruangan. Tapi belum kelar membereskan semuanya, pintu pun diketuk. Terdengar dari luar suara Pak Tua Sim berkata : "Apartemen 205, apa kau ada di rumah? Jangan pura-pura tidak di rumah. Kalau tidak dibukakan pintu, aku akan masuk dengan kunciku." Saat itulah tetangga sebelah, seorang pria muncul dan mendapati Pak Tua Sim membuka pintu apartemen Ji Eun. Ia kesal karena kok ada orang tua malam-malam main masuk aja ke apartemen gadis muda seunyuk-unyuk Mbul. Yang lain pun pada keluar dan bilang Pak Tua Sim jangan berbuat yang aneh-aneh setelah membuat Paman Choi mati. Ia pun murka dituduh begitu. Tapi warga tetap menyuruhnya turun saja kembali ke rumahnya jika tidak ingin dihakimi massa. Karena kesal ia pun memilih pergi. Sementara si pelaku yang ada di rumah Ji Eun selamat. 

Keesokan harinya, di kedai sandwich, Pak Tua Sim ingin menenangkan diri. Ia menyapa wanita pemilik kedai dengan ramah. Ia pun meminta wanita itu jangan memanggilnya Pak karena mereka seumuran. Panggil saja Deouk Su dan ia akan memanggilnya Young Sook. Wanita itu kemudian menawarinya sandwich dan ia setuju saja. Rupanya di meja lain sudah ada seorang pria yang kemarin ada di rumah Paman Choi dan mengaku sebagai rekan kerja detektifnya. Ia mempersilakan Pak Tua Sim untuk duduk menemaninya. Ia minta maaf sudah menyerangnya kemarin dan memperkenalkan diri sebagai Pyung Dal. Ia kembali membicarakan kasus pembunuhan yang terjadi akhir-akhir ini. 2 orang pria tua ditemukan tewas beberapa waktu itu lalu, tiga termasuk Choi. Si pembunuh jelas akan sangat mudah membunuh para pria tua yang tak berdaya seperti beberapa puluh tahun yang lalu, tapi untuk membunuh Choi~seorang detektif berpengalaman, pastilah pembunuhnya orang terlatih. Ia menyimpulkan bahwa pasti akan ada seorang gadis muda ditemukan mati setelah ini persis seperti kasus yang dulu pernah ada. Pak Tua Sim pun jadi teringat kejadian semalam dimana lampu kamarnya berdenting seperti apartemen atasnya sedang terjadi sesuatu. 

Sinopsis dan review The Chase 2017 


Pak Tua Sim pun penasaran dan ingin segera memastikan apa apartemen 205 baik-baik saja. Tak tahunya setelah sampai sana ada seorang pria sedang mendongkel pintunya tapi kemudian ia lari menuruni atap dan terjadi kejar-kejaran. Pak Tua Sim mengejarnya dengan motor. Sayangnya orang itu berhasil kabur ke gang-gang sempit dan menanjak di Kota Aridong.  Akhirnya Pak Tua malang itu malah pingsan karena kepalanya dipukul oleh pemuda yang ternyata kawanan berandalan. Setelah bangun, ia malah ditodong dan dipalak tapi kemudian diselamatkan oleh Pyung Dal. Salah seorang yang mengintip tadi kemudian diinterogasi kenapa mengintip apartemen 205. Katanya sih itu tempat teman pacarnya. Su Kyeong tak mengangkat teleponnya. Jadi ia pergi ke sana. 

Singkat kata, Pak Tua Sim dan Pyung Dal pun kembali ke apartemen untuk mengecek apartemen 205. Saat masuk ke dalam, suasana tampak begitu rapi. Pyung Dal membuka kamar mandi dan seperti melihat bekas darah di lantai. Tapi bak mandi bersih. Anehnya, ia menemukan sesuatu yang sangat mencurigakan. Saat menuju kulkas, ia terdiam karena di lantai ada genangan darah segar. Ia pun membuka freezer dan mematung di sana. Pak Tua Sim yang datang mendekat bertanya, mengapa ia diam saja sampai akhirnya ia terpeleset genangan darah itu. Ia pun tercengang karena di freezer ada potongan kepala yang membeku. Sementara di kulkas bagian bawah (tempat sayur) baru ada potongan-potongan sisa tubuhnya yang sudah diplastik. 

Oh semprullll...sangar banget ceritanya. Tapi sumpah Korea tuh ya kalau ngegarap thriller emang juara. Termasuk The Chase ini. Aku bilang sih puas banget nontonnya karena menuju ke klimaksnya tuh kayak ada adegan aksinya juga hahhahaa...Dan kejutan di ending tentang siapa pelakunya juga bikin pengen mengumpat kok bisa hahahhaha...Ya udah lah pada nonton sendiri aja ya. Yang jelas sih aku bilang untuk genre thriller, The Chase ini bagus (menurutku pribadi loh ya).

Okey, sekian dulu updateanku kali ini. See you di sinopsis film berikutnya (Sinopsis by Gustyanita Pratiwi)

Xoxoxo
Mbul

6 komentar:

  1. bagus ilustrasinya... 👍👍

    synopsisnya ditulis dengan menarik...

    thank you for sharing

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih pak tanza...aku kalau nulis sinopsis biasanya takbikin panjang hehehe

      Hapus
  2. Aku langsung masukin ke list kuuuu nit. Memang lah Korea ini kalo utk thriller kereeeeen byangettttt . Seremnya itu selalu dapet!

    Mau film atau serial, mostly baguuuus. Udah lama juga aku ga nonton thriller yg berdarah2 gini. Trakhir nonton voice 😁. Tapi itukan serial. Tengkiuuu referensinya niiit 😄. Mau lagi kalo ada thriller keren lain

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mba faaaaaan... asyikkkk ah!!! tungguin ya mba fan...aku masih ada list sinopsis lagie...ada korea thriller dan barat...yang thailand juga ada mba ahahhah...jadi ga sabar mo marathon filmnya...

      kalau khusus yang the chase 2017 ini asli kusuka banget mantenginnya karena sinematographynya bagus...gambarnya bening dan ada kayak adegan aksinya juga.

      Aku sampe ga nyangka ternyata pelakunya si itu.. padahal awalnya ga kepikiran sama sekali xixixixi...kasihan sebenernya ama pemain utamanya aka pak tua simnya terlepas dari orangnya yang galak dan pelit wkkwkwkw

      boleh aku maraton filmnya dulu ntar aku tulis sinopsisnya soon ya mba 😘🥰

      Hapus
  3. Impecable reseña, Gustyanita. La buscaré para verla. Me están gustando mucho el cine y las miniseries coeranas...

    Abrazo agradecido.

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih atas apresiasinya Sahabatku Carlos...sesungguhnya salah satu hal yang membuatku semangat saat mengisi blog ini adalah melengkapinya dengan ulasan sinopsis film...kalau film karena umumnya 2 jam kelar jadi cepet kubikin review dan sinopsisnya tapi kalau buku aku agak lama karena halamannya tebal belum harus menghayati isi ceritanya...

      salam ☺😊

      Hapus

Komenin dong...tanpa kehadiran kalian apalah arti aku menulis....
kalian penyemangat setiap bulir kalimat dalam blog ini :*
Namun jangan komentar SARU atau SARA ya, jika ada komentar dengan unsur tersebut, dengan berat hati akan aku HAPUS .

Oh ya, Dilarang juga mengambil gambar/foto atau menyadur tulisan tanpa mencantumkan sumber atau seijin pemiliknya. Apalagi untuk kepentingan komersial atau lomba. Thx ^____^