Minggu, 26 April 2015

Cah Purworejo Perantauan


Sebagai pendatang, terkadang aku berpikir....kenapa ya aku ga buka bisnis makanan aja dari kampung? Aku emang anak daerah yang kudu meneruskan idup dengan mengais (emang ayam) rezeki di ibukota... Sementara untuk tinggal, aku memilih kota (pinggiran) Jekarda. Karena rumah di Jakarta udah ga mungkin lagi kejangkau isi dompet.... Walhasil, tiap hari aku musti jadi penglaju yang bolak-balik pakek kereta.


Kamis, 23 April 2015

Ngejawab Pertanyaannya si Wahyu...


Hari ini sore terasa begitu cepat. Tau-tau bentar lagi magrib... Klo itu terjadi, aku bakal teriak HOREEEH !!! Selain bakal pencet bel jam 6, aku juga pengen abis dari stasiun ditraktir makan. Makan di luar lah yaa.... ((Pak Suami, plis baca postingan ini, hiks).... Akoohh lagi capee masaagh...324r7555776542 47 Super cute pig emoticons gif pig emoticons



Sabtu, 18 April 2015

Ngeteng Sayuran



Pete yang ranum-ranum itu tampak menggantung indah di sisi kiri dan kanan aneka pisang-pisangan. Hijaunya yang mencolok mata langsung membetot perhatian kami tatkala sekelebatan melintas di pinggir kede-kede sayuran. Kami pun turun. Sejenak menawar harga untuk dijadikan buah tangan. Hahaa...terdengar kampungan memang. Tapi biarlah. Kami berdua pecinta pete.



Jumat, 17 April 2015

Filosofi Teh

Menyesap teh tiap pukul 6 tak lagi rajin kujalani. Sebabnya??? Banyaaakk.. Mulai dari kesiangan, malas nuang gula yang seringnya tumpah-karena tak muat menyesaki diameter sendok yang demikian mungil, atau karena mau lebih intim sama air putih.

Tapi...tetap saja aku suka teh. Dulu, zamannya masih gadis, tak kurang dari 1 botol sosro plastik habis kutenggak tiap harinya. Kalau nggak yang kemasan tetrapact macam teh kotak. Sungguh kebiasaan yang tak pro diabet bukan ? Biasanya habis naik turun angkot, bekerja siang malam bak kelelawar karena terdoktrin deadline laporan, akhirnya teh lah yang jadi pelarian. Jadi ngeteh...bukan ngebir kayak bule-bule itu...

(Ditulis oleh Gustyanitaaa  pemilik Gembulnita)

Minggu, 12 April 2015

Nge-mie di Gunung




Sore-sore ditemani gerimis tipis yang membingkai langit...
Kusibak jendela hotel dan di sana muncul pelangi.. Iyaaa...pelangi di bola matamu sayang ...(dikeplak jomblo)

Abis tidur siang, lagi-lagi kami lapar. YA ALLOH, ini perut apa karet. Nafsu memamah biaknya kok ga abis-abis? Akhirnya kami putuskan buat cari makan di sekitar situ dengan jalan kaki.

Kami muter-muter sampe tanjakan. Tapi di sana ga ada apa-apa. Cuma ada kebun kol.
Akhirnya kami balik lagi.

Eh pas nyampe depan hotel, kami baru ngeh kalo di deket situ ada warung kecil. Laah kan, malah ada sate, jagung bakar, baso dan mie ayam. Siapa coba yang ga ngiler di tengah gentingnya isi perut yang mendapat kudeta dari cacing-cacing kami.

Bagai konsumen yang terpikat daya tarik lambaian kucing maneki neko, kami pun bertandang ke kede itu. "Mangga, masuk aja ke dalam," sapa bapak penjualnya ramah sembari tangannya tak henti-hentinya mengipas sate yang telah dibalur bumbu.

Tercium aroma bakaran. Dan asap langsung mengepul. WUSSSHH!!! Tanpa dikomando lagi kami masuk dan langsung jagongan di bangku kayu yang agak panjang. Terdengar bunyi kriet...perlahan seiring dengan jatohnya pantat kami secara bersamaan. Uh sempit juga ini tempat.