Minggu, 27 Desember 2020

Ngadem.....


Oleh : Gustyanita Pratiwi

Lagi pulang di rumah orang tuaku, kangeeeeeen.......uda setahun ga ngirup udara Prembun. Uwah seger banget kayak Switzerland huehehe....... Kangen liat sawah, kangen liat gunung!!! Kangen liat bebek lari-larian di pinggir kali, kangen liat domba pada ngerumput, kangen liat burung blekok yang uda langka tapi masih ada sih di tempatku.... Terus barusan aja malem-malem ada burung yang bunyinya hug..hug...hug..(eh burung apaan tuh ya? Tentu saja itu burung hantu atau celepuk, bahasa Inggrisnya Owl).

Makanya postingan kali ini pendek aja ya. Mungkin akan dibanyakin fotonya doang. Awas tak kasih warning dulu..sapa tau mabok liat foto-fotonya Mbul lalu abis itu pengen misuh-misuh #cepalango tak sodorin kresek satu-satu nih nyoooooh, takutnya pada gumoh...wkwkw, deng ga...aslinya ntuh kresek ada gorengan bakwannya loh padahal..hohoho..

#uda ge er aja kan kalau tulisanku ada yang baca.. :D.


Senin, 21 Desember 2020

Cerbung : Gadis Kecil yang Sedang Belajar Jatuh Cinta (Part 4)





Oleh : Gustyanita Pratiwi

Sifat : Hanya fiktif belaka dan untuk latihan menulis plus hiburan

Genre : Romansa



"Creeeeeshhhh...Cresssshh cesss cess!!! Nguuuung!!" 

Tiba-tiba terdengar bunyi berisik dari arah dapur. Celaka dua belas!!!! Air rebusan mienya!!!! Rembulan pun berlari ke arah pantry dan keadaan sudah tampak amburadul. Panci mahal itu gosong dengan air yang telah surut pada bagian dasarnya. Asap mengebul menghalangi sebagian pandangan. Kompornya pun bunyi kenceng betul...

"Waduh matiii aku!"

Ia pun buru-buru mematikan kompornya walau semua sudah terlambat sampai kemudian terdengar bunyi : "Petttttt!" Giliran listrik kini yang mati. Keadaan berubah menjadi gelap gulita. Gadis itu pun sontak meraba-raba sesuatu yang kiranya bisa dipegang sampai akhirnya sosok tinggi tegap itu masuk ke dalam ruangan dan menghampiri Rembulan. Belum kelihatan jelas siapanya tapi yang pasti tercium aroma parfum yang lembut dan sepertinya sudah tak asing lagi baginya.

Aroma jeruk.

Baca juga :





Kamis, 10 Desember 2020

Cerbung : Gadis Kecil yang Sedang Belajar Jatuh Cinta (Part 3)




Oleh : Gustyanita Pratiwi

Note : Fiktif belaka untuk latihan menulis dan hiburan

Genre : Romance



"Syut!!! Syuttt!! Syuuut!!!"

Diantara tronton bermuatan besar yang bergerak sepagian menuju kawasan Cikampek dalam rentang kilometer 19 jalan Raya Bogor, Khanif dan Rembulan yang sedang diboncengnya laksana Dom dan Letti dalam sekuel Fast n Furious (tapi kali ini dengan versi lain, versi motor bebek). Keduanya melesat zig-zag menembus pendar lampu kekuningan yang menyorot pada moncong-moncong raksasa kendaraan beroda ganda itu sembari memicingkan mata menahan silau. Memang agak sial sebenarnya. Sebab jalanan yang mereka lalui sangatlah rapat. Rapat dengan kendaraaan besar tentu saja. Jadi harus jeli mencari celah supaya bisa stay on the right track. Sebab moda transportasi yang mereka tunggangi jauh lebih kecil ketimbang kawannya yang lain yang tersebar di seluruh penjuru jalan raya ini. Ibaratnya jika disejajarkan dengan tronton ya raksasa vs kurcaci. Tapi memang sudah lumrahnya kendaraan-kendaraan besar macam begini beraktivitas di jam-jam segini. Jam-jam malam menuju subuh sampai akhirnya matahari bergerak dari peraduan, menerbitkan semburatnya yang berwarna keoranye-oranyean laksana buah jeruk. 

Apes. Itulah satu kata yang menggambarkan keadaan Khanif dan juga Rembulan. Keduanya harus tersendat beberapa kali. Padahal titik point yang mereka tuju juga tidak jauh-jauh amat. Muka pasar yang biasa mereka jadikan tempat mengais rejeki. Bedanya, Rembulan saja yang akan didrop di situ, sementara Khanif bablas masuk ke dalam pasar menjalankan aktivitas ekonomi seperti biasanya. Rembulan akan kemana? Tentu saja akan membayar janjinya kepada Mas 'A'. Janji traktiran walaupun belum tahu akan kemana, mungkin bisa dipikir sambil jalan. 

Tapi sayang, sudah sekian lama mereka boncengan, tetap saja macet menjebak dari sisi kanan, kiri, depan, maupun belakang. Seperti tikus yang terjebak karena godaan keju. Mampus! Tak bisa kemana-mana. Seandainya saja Rembulan mau berjalan kaki saja dari kontrakan hingga pintu masuk bagian belakang pasar, pasti sudah nyampai dari tadi. Tapi karena ia takut diganggu preman yang suka mangkal di sana--terlebih dengan penampilannya yang sudah dibikin semanis gula-gula kapas ini, maka dimintailah Khanif untuk mengantarkannya sampai ke lokasi kencan. Yang itu artinya mereka akan jauh memutar beberapa kali.

Sampai akhirnya 2 kendaraan besar tadi tahu-tahu sudah menghilang dari pandangan. Khanif pun bersiap-siap untuk gas pol walau saat sudah menjalankan motornya, hal yang tak diinginkan malah terjadi...

"Jeduuuukk!" 

Naas, motor bebek Khanif tiba-tiba telat mengerem dan akhirnya malah menubruk mobil yang ada di depannya pas. Kampretnya adalah mobil tersebut sudah memberikan sinyal supaya tetap jaga jarak aman dari beberapa meter sebelumnya sehingga yang sudah pasti disalahkan adalah Khanif. Pemuda bertubuh kurus itu kurang konsentrasi. Atau malah sedang melamun? Yang pasti Rembulan yang kaget pun ikut terdorong ke depan. Bagian tubuhnya yang agak membusung mengenai punggung pemuda itu. Sesuatu yang tak sengaja namun cukup menyenangkan seandainya tidak terjadi pada situasi macam begini. Sontoloyo! Ya itu semua karena mobil yang ditubruknya jelas penyok di satu sisi. Tidak nampak besar. Tapi sangat kentara dan lumayan dalam. Terlebih sasarannya adalah body mobil mewah macam Chevrolet Corvetter Stingray warna abu berpelat B 74CK ZN. Mobil 'kelas' 1. Sangat kontras dengan kendaraan lain yang ada di samping-sampingnya, depan maupun belakang. Sungguh kondisi yang sangat ironis bukan? Terlebih penabraknya hanyalah bagian dari kaum proletar, 2 orang manusia biasa yang siap-siap kena damprat seorang Tuan Muda.

Lepas dari tubrukan itu, sang empunya mobil pun tak ayal bergerak meminggirkan kendaraannya, memberikan sinyal kepada Khanif untuk mengikuti. Keduanya manut saja walaupun dalam hati jelas ketar-ketir, banjir keringat dingin. Dilihatnya dari balik kaca jendela, sosok pengemudinya adalah seorang pria bertampang menawan dengan pantulan kaca mata branded Emporio Armani yang bertengger diantara hidungnya yang mancung mirip potongan wajah India. Badannya tegap, dadanya bidang proporsional dengan kisaran tinggi di atas rata-rata orang Indonesia. Pokoknya apa yang menempel padanya terlihat clean. Enak untuk dilihat.

"Siiiiing!!!" 

Swan doors chevrolet itupun dibuka. Kini terlihat jelas gambaran laki-laki itu seperti apa. Kisaran usianya masih muda. Mungkin perempat abad. Borju dan berduit. Itu sudah pasti. Terlihat dari busananya yang licin, kombinasi antara kemeja formal warna putih tulang dipadu dengan celana chino warna krem susu. Rambutnya bergaya brushed on top yang terlihat seperti model spike di awal tahun 2000-an. Dominan brown. Kontras dengan kulitnya yang kemerahan namun agak berbulu di beberapa bagian terutama rahangnya yang tegas. Mungkin dadanya juga begitu. Sementara di pergelangan tangan kirinya melingkar jam tangan merek Mont Blanc yang berkilat-kilat. Tapi di luar tampangnya yang keren itu, ada ekspresi kurang bersahabat yang  sebentar lagi bakal diledakkan. 

Baca cerita sebelumnya di :





Kamis, 03 Desember 2020

Mie Nyemek ala Si Mbul Nita





Oleh : Gustyanita Pratiwi

Bismilahirohmanirohim

Assalamualaikum semua....

#dijawab dong salamnya.....hehehe

Kali ini aku mau cerita apa ya?

Kadang tuh ya saking kepala banyak banget uneg-uneg rasanya sampek bingung mana yang mau didrop duluan di blog. Kalau didrop semua kan ga okey ya....soalnya kadang ya berasa sampah aja masa didrop semua di blog, ntar dikepoin orang lagi hohoho #eh siapa juga yang mau ngepoin gw ya Coeg, ge er banget deh gw #sayang juga niiih kalau ge er #sayangin diri sendiri maksudku wkwkwk. Muaaach... (muaaaachnya ke diri sendiri, hahahha...su tu the we...suweeeeee)

Rabu, 02 Desember 2020

Cerbung : Gadis Kecil yang Sedang Belajar Jatuh Cinta (Part 2)



Oleh : Gustyanita Pratiwi

Genre : Romantis

Note : hanya bersifat fiktif belaka sembari untuk latihan menulis dan bersenang-senang

Gadis berpipi chubby, pemilik bola mata hitam dengan rambut kuncir kuda yang bergoyang-goyang seirama dengan gerakan bahunya itu lalu duduk bersisihan dengan Khanif, menyortir puluhan kubis yang bagus dan yang tidak. Sesekali badannya menggeliat sedikit karena menemukan beberapa ulat sayur yang ngumpet dari balik helai-helai kubis yang bolong-bolong. Cukup menguras energi tapi lumayan jika dikerjakan berdua. Pekerjaan jadi cepat selesai. Sampai akhirnya, Abangnya Satria melongokkan wajahnya karena ingin memberitahukan sesuatu.

"Mbul? HP luh dibalikin sama seseorang nih."