Minggu, 31 Januari 2021

Review Hotel Horison Bandung




Oleh : Gustyanita Pratiwi

Hola...hola...hola...hoooo....

Sapa yang malam mingguan kemaren kepyur kayak palaku dan harus berakhir dengan nguntal Panadol, cung? Kalau ada toast yuk, sebab Belby Mbul pucing kebayang-bayang ama lipen stip eh lip gloss, gincu dan lain sebagainya abis ngintip-intip manja di akun tokped, hohooo.....Ada Fenty Beauty Bomb Glossnya punya Tangteh Rihanna juga Kiko Milano...lagi pengen lipen akutuh...pengeeeeeeen uuunch #jitaks juga kamu Mbul pake bibir hohoho...

E aku nguntal Panadol gara-gara takid gigi deng #sedih.

Tapi, kali ini aku ga akan ngomongin lipen dulu soalnya aku mau ngreview hotel #sailah...uda matjam traveler or backpacker aja gasih sih gw-nya...hihi...Iyain aja lah biar aku senang.

Ga kok, bertjandaaaa... ini masih ada hubungannya dengan cerita tentang di Bandung kemarin soalnya. Etapi bukan kemaren woooyyyy...uda tahun lalu itu. Dan Baru sempet aku tulis sekarang. Biasalah...faktor 'M'. Males.


Review Hotel Horison Bandung

Selasa, 26 Januari 2021

Cerbung : The Goddess (Sang Dewi) Part 1



Oleh : Gustyanita Pratiwi

Bersifat Fiktif Belaka


ilustrasi digambar langsung oleh Non Admin Gustyanita Pratiwi




Bab 1 

'Aku' as Sudut Pandang Tokoh Wanita


Aku menghirup De Marco lekat-lekat. Di sisiku sudah berdiri seorang cowok dengan singlet garis-garis biru tua. Cowok itu menghadap tanpa kedip ke arahku. Ya...tepatnya menghujam langsung ke kedua bola mataku yang besar. Aku kikuk. Sedikit panik. Paling banter....deg-degan.

Emmm, apa ya? Kelihatannya cowok nyentrik. Kulihat aksesoris gotik naga melekat di sisi kiri lengannya yang gembung berotot. Belum lagi dadanya. Di sana tergurat sepasang rajah kobra yang menganga melambangkan simbol keperkasaan. Tentang wajah, cowok itu lumayan keren. Ah, bukan. Dia ganteng. Sebuah tindik kecil menghias di hidung mbangirnya yang condong ke atas. Membuatnya lebih mirip seperti babi. Oops...babi. Itu membuatku sedikit mual. Setidaknya aku sempat membayangkan wujud jenderal Tien Pien dari legenda "Perjalanan ke Barat bersama Raja Kera Langit."

Senin, 25 Januari 2021

Es Oyen Bandung



Oleh : Gustyanita Pratiwi

Aku pikir es oyen itu adalah es yang warnanya oranye. Ternyata bukan ya? Ga ada hubungannya malah ama warna. Soalnya dia dominan pink karena pacar cinanya. 

Eh bentar, sebelum lanjut ke hal-hal yang lebih jauh lagi, kalian sendiri tahu ga ama yang namanya es oyen ini? Jadi gini loh Sayangku.....es oyen itu konon kabarnya berasal dari Bandung..... Mirip es teller tapi ternyata beda. Es oyen ciri khasnya ada di isiannya yang seputar pacar cina, kelapa muda, kolang-kaling, alpukat, blewah, tape singkong, dan nangka. Ntar dia ditambahin lagi dengan kental manis dan sirop biar warnanya semakin semarak. Rasanya? Tentu saja maniiiiis seperti senyum admin untuk kamu...iya kamu hohoho...



Hore!!! Nita akhirnya bisa ngicip es oyen dari kotanya langsung!

Sabtu, 23 Januari 2021

Bandung dan Kenangan Akan Pohon-Pohon Besar





Oleh : Gustyanita Pratiwi

Hey kamu!

Apa yang membuatmu selalu merasa Bandung itu punya tempat di hati?

Karena Bandung kayak pernah mengantarkanku pada sebuah dejavu panjang dimana aku menjelma sebagai tokoh Elektra dalam Novel Supernova Petir dan kamu adalah tokoh Mpretnya yang bertubuh kurus cungkring tapi selalu memperhatikanku dengan manis, lalu kita berjalan bergandengan tangan di antara pepohonan besar yang meneteskan embun, dan tiba-tiba kakimu yang kecil jenjang itu iseng menggoyangkan dahannya supaya air tetesan embunnya jatuh di atas kepalaku, sementara di depan kita adalah rumah bergaya Belanda bernama Eleanor yang kini disulap menjadi semacam warung internet, bahasa jadoelnya warnet, haha. Ga aku bertjanda. Bercandaaa... Maksudku, benar bahwa Bandung memang selalu punya tempat di hati, tapi sayangnya aku bukan tokoh Elektra yang punya kekuatan super bisa menyetrum orang. Sebab aku tetaplah Nita yang merasa bahagia ketika menulis. Walaupun tulisanku baru sekedar bisa diunggah di blog gratisan.


Digambar oleh Non Admin Gustyanita Pratiwi

Jumat, 22 Januari 2021

Telor Ceplok vs Telor Dadar




Oleh : Gustyanita Pratiwi

Ini adalah hari yang lumayan mendung. Baru saja aku berhasil menggoyang wajan untuk menciptakan bentuk telur mata sapi yang proporsional dengan kuning telur yang tidak pecah dan berantakan. Aku menempatkannya di atas saringan supaya minyaknya lekas turun. Dan aku memandangi jendela dengan pemandangan di luar sana sudah sangat gelap seperti mau menangis langitnya. Prediksiku sih bakal hujan gede kayak tangis gadis kecil yang habis patah hati. Tapi, hal yang paling krusial untuk hari mendung  buatku adalah segelas susu cokelat Milo panas kental yang airnya baru saja dijerang dari cerek. Serius deh, entah kenapa aku selalu suka nyeruput Milo panas-panas pas hari hujan. Kalau ga ada itu rasanya kayak ada yang kurang...huhu..

This babik seperti biasa digambar oleh Non Admin Gustyanita Pratiwi

Kamis, 21 Januari 2021

Sebulan Tanpanya :'(.....




Oleh : Gustyanita Pratiwi

Huwa huwa huwa....

Judul yang sangat embuhlah sekali. 

Tanpanya siapa...teuk sami saha...? 

Tenang tenang tenang sebelum semua pada brutal...ijinkanlah aku menerangkan dulu keadaanku ketika hidup sebulan tanpanya. 


Oink Oink will be back again :D, digambar oleh Non Admin Gustyanita Pratiwi

Rabu, 20 Januari 2021

Sepotong Memori ...



Oleh : Gustyanita Pratiwi

Waktu ngetik ini posisi lagi muter lagu Coldplay yang judulnya Trouble. Enak banget di kuping, pas ama suasana hening....

Terus aku jadi pengen cerita sesuatu. Masih berhubungan dengan memori inti yang kayak di pilem Inside Out masa kecil sih. Kali ini mau ngomongin tentang rumah kakek dari bapaknya bapak yang tinggal di Kebumen. Karena kan yang pernah aku ceritain di sini tempat nenek dari ibunya ibu. Nah sekarang saatnya cerita Mbah yang dari bapaknya bapak. Sekarang sih udah almarhum (udah lama juga sebenernya ninggalnya), jadi memori akan rumah Mbah Kebumen ini uda agak slamat-slamat inget dan ga inget. Tapi ya tetep inget sih garis besarnya. 


seperti biasa ilustrasi digambar oleh sang admin Gustyanita Pratimbul yang seleranya masih ala ala anak Paud huehehe

Selasa, 19 Januari 2021

Diantara Membaca dan Menulis



Oleh : Gustyanita Pratiwi

Diantara aktivitas membaca dan menulis, yang sedang getol aku lakukan adalah yang nomor dua. Membaca sebenernya juga suka sih, cuma lagi ga nyukup waktunya. Jadi sebagai gantinya ya bisanya baru menulis walaupun dalam bentuk cerita-cerita singkat, fiksi ala kadar, dan mungkin pemikiran. Seperti yang kulakukan sekarang ini. 


kartun digambar ndiri oleh Admin Gustyanita Pratiyem

Minggu, 17 Januari 2021

Cerbung : Gadis Kecil yang Sedang Belajar Jatuh Cinta (Part 7)




Oleh : Gustyanita Pratiwi

Genre : Romansa

Hanya bersifat Fiktif belaka





Rangkaian bunga anyelir dan gladiol putih yang terselip diantara daun palem pada sudut rumah Rembulan kini rembes diguyur hujan. Ini adalah hari ke-7 setelah kematian Satria dan rumah itu masih tampak sendu. Beberapa karangan bunga yang belum sempat dipinggirkan nyaris kuyup,  menyisakan sisa-sisa sampah yang tadinya sudah layu, kini basah dan teronggok kesepian mengenaskan diterjang hujan. Hujan Bulan Januari memang tidak pernah main-main. Matahari seakan malas beranjak dari tempatnya bahkan untuk sekedar menyapa siang di sepanjang minggu pertama bulan ini, menyebabkan langitnya ajeg berwarna kelabu, bahkan kerap mengarak gumpal-gumpal awan hitam yang siap bergandengan tangan menumpahkan segala isinya kapan saja ia mau.

Senin, 11 Januari 2021

Gustyanita Pratiwi





 
Mengenal Lebih Dekat Admin Blog Gembulnita : Gustyanita Pratiwi

Hallo...assalamualaikum semua....

kali ini sengaja bikin laman khusus buat ngomongin diri sendiri ga pa pa kan ya...#lha yo sakkarepmu toh Mbul ini kan blog blogmu dewe toh hahahha...mau aku ngapain juga terserah kan ya wkkwk..

Ya buat nostalgia aja (kan blog aku emang isinya kebanyakan nostalgia) sekalian mau nyimpan foto-foto jaman kumpeni...eh maksudnya foto-foto rikolo zaman semono sampai yang tergress dan terupdate....#bagi yang ngerasa ga tertarik...monggo itu tanda x pojok kanan bisa dipencet kok heheehhee....

Gustyanita Pratiwi (Si Mbul)

Sabtu, 09 Januari 2021

Cerbung : Gadis Kecil yang Sedang Belajar Jatuh Cinta (Part 6)



Oleh : Gustyanita Pratiwi

Cerbung ini hanya bersifat Fiktif belaka

(sebagai latihan menulis dan hiburan semata)



Di bawah langit petang yang bertabur bintang, tapi tetap saja rembulan yang jadi primadonanya, 2 orang anak manusia duduk berdampingan. Menikmati sepiring siomay yang dinaungi pohon jambu darsono. Pohonnya rungkut sekali hingga buahnya yang merah bergelantungan agak kurang terlihat kalau saja tidak diperhatikan dengan detail. Tapi itu tak mengapa, sebab justru indahnya bukan terletak pada pohon jambu darsononya, melainkan pada rembulannya. Rembulan yang sebenarnya sedang dipandangi oleh Rembulan lainnya, namun kali ini dalam wujud manusia. Rembulan yang sedang bulat-bulatnya yang untung saja tidak ada siluet ETnya--- lewat dengan menggunakan sepeda, rembulan yang bermandikan sinarnya yang keperakan diantara kabut tebal yang membentuk gugus lingkaran, walaupun sebenarnya ahli fisika bilang bahwa sinar rembulan tidak berasal dari dirinya sendiri melainkan hasil pantulan sinar matahari. Tapi persetan dengan ahli fisika! Sekarang saatnya bersentimentil-sentimentil ria...Terlebih background suaranya juga sudah ngepas bener : Orkes jangkrik yang berbunyi 'krik-krik-krik' dan bersahut-sahutan dari satu semak ke semak lainnya. Mengingatkan pada suasana pegunungan meski ini di pinggiran Jakarta yang bersebelahan dengan hutan kota. Sebab kalau di gunung masih ada tonggeret, sedangkan di halaman belakang rumah Mas Agus ada jangkrik. Yang kalau diresapi merdu betul suaranya! 

"Rembulan...."

Mas Agus tiba-tiba memanggilnya dengan lembut di tengah aktivitas gadis bermata bulat itu mengudap siomay yang berlumuran saus kacang pedas. 

"Iya Mas..."

"Kok tadi aku lihat, rumah kelihatan bersih. Apa Rembulan yang sudah bersihkan?" tanya Mas Agus.

Rembulan mengangguk lalu diiringi dengan raut muka terkejut dari Mas Agus.

"Kan Rembulan masih sakit. Kenapa malah mengerjakan pekerjaan berat? Nanti kalau Rembulan ga sembuh-sembuh kapan bisa aku pulangkan ke Abangnya?"

"Ha........" (seperti ada nada kecewa dari ekspresi Rembulan). Dan lawan bicaranya itu pun menyadarinya. Cepat-cepat ia segera mencadainya. Supaya suasana cair kembali.

"Bercanda. Gitu saja ngambek. Nanti kukasih permen deh." bujuk Mas Agus.

"Ogaaaah!!! Aku ga suka permen. Aku benciiii sama permen!!! Huft." sungut Rembulan. Ekspresinya persis seperti anak kecil yang sedang merajuk. Tapi kalau dilihat secara fisik memang wajahnya masih pantas jika disebut sebagai anak kecil, walau sebenarnya usianya sedang 'sweet-sweetnya seventeen'.

"Hahahhahah...." Mas Agus tertawa.

"Ya sudah pete sama jengkol saja gimana?" tawar Mas Agus lagi.

"Ga ah!" tolak Rembulan dengan cepat.

"Lha kok gitu?" tanya Mas Agus.

"Hmmmmb ga pa pa." kata Rembulan lirih.

"Iya...iya...Mas bercanda kok." ujar Mas Agus lagi-lagi dengan nada membujuk.

"Hu..." sungut Rembulan

"Kenapa sih?" tanya Mas Agus.

"Ga kenapa-napa sih." jawab Rembulan pendek.

Wah ambekan juga nih anak. Ya, maklum masih bocah bau kencur. Selisih 10 tahun dengannya. Tapi masih sama-sama sendiri. Yang satu perawan, yang satu perjaka. Jadi tidak ada yang salah.

"Ahhh! Iya iya terima kasih deh sudah dibantu bersihkan rumah. Padahal Mas orangnya santai. Kadang malas juga bersihin sendiri. Jadi aku biarkan saja berantakan apa adanya. Hahahhahah!" kata Mas Agus santai.

"Ya itu bentuk terima kasih aja karena sudah tolongin Rembulan." timpal Rembulan.

"Loh memangnya aku sudah ngapain sih?" tanya Mas Agus.

"Ya sudah kasih tumpangan aku waktu malam-malam itu lah, masa lupa." jawab Rembulan.

"Ah santai saja. Rakpowpow! Kan sudah kewajiban sebagai sesama manusia, saling tolong-menolong." kata Mas Agus.

"Haaaaa.. jawabannya kayak text buku PPKN, ga ada manis-manisnya. Huft!" sahut Rembulan bete.

"Hahahahaha!" 

"Tapi biarin deh, Rembulan tetap akan berterima kasih sama Mas." ujar Rembulan lagi. Dengan ekspresi macam karakter anime genre ecchi yang adorable ia mengepalkan tangan seperti orang yang hendak meneriakkan kalimat : Ganbatte! Semangat! Jadi tingkahnya memang dilihat-lihat cukup teathrical juga, di samping memang lucu bawaan lahir.

"Masa gitu doang cara berterima kasihnya?" timpal Mas Agus masih dengan nada bercanda.

Rembulan kemudian menghentikan polahnya. Ia memandang heran kepada Mas Agus.

"Loh memang bagaimana?" tanyanya penasaran.

"Ya coba saja dipikir sendiri, ada cara lain tidak ?" 

"Apaan tuh ya?" tanyanya agak loading.

"Hahahahaaa...polos betul jadi anak. Dasar anak 17 tahun!" Mas Agus tertawa.

"Makanya kasih tahu caranya gimana?!!!" 

"Ga ah, cari saja sendiri!" 

"Hohoho." (ekspresi penuh tanda tanya dalam kepala)

***














"Tunggu!!!!"

"Coba Mas lihat tuh ke atas, ada apaan tuh?" suruh Rembulan

"Ada apaan sih?" Mas Agus pura-pura bingung.

"Coba lihat aja dulu! Tuh!!!" Ujar Rembulan lagi.

Dalam sekejap laki-laki itu mengikuti arah pandang yang ditunjukkan Rembulan dan kemudian dirinya diberikan kejutan kecil yang manis namun bikin shocked.........

Jumat, 01 Januari 2021

Cerbung : Gadis Kecil yang Sedang Belajar Jatuh Cinta (Part 5)





Oleh : Gustyanita Pratiwi

Cerbung ini hanya bersifat fiktif belaka (buat latihan menulis dan hiburan)

Genre : romansa


ilustrasi digambar oleh sang adminnya langsung alias Gustyanita Prikitiuw hohoho...




"Jegerrrrr jegerrr jegerrrrr!!!! Gludug!!! Gludug!! Gludug!!!" Bunyi guntur menyalak di angkasa raya seperti anjing herder yang kesetanan. Hujan deras pun tak terelakkan lagi mengguyur basah kota ini. Mengantarkan derap langkah kaki Rembulan yang susah payah melewati genangan air diantara tempat-tempat persembunyian hewan-hewan pengerat yang menghuni selokan mampet.

"Bressssh!! Breshh!!! Bresshh!!!" Semakin bertambah deras. Semakin hujan angin. "Syiiiiiiutttt! Weeeeeesssss!!! Gludug! Gludug!! Gludug!!! Jegerrrrrr!!!" 

Tapi tubuh kecil dengan seragam berenda hitam putih yang basah kuyup itu tetap terus berlari menerjang angin. Kedinginan dan menggigil melewati mobil yang lalu lalang. Melewati pendar-pendar lampunya yang kuning blur membuat silau. Bahkan sebuah BMW seri i8 yang dikendarai Hermansyah sebenarnya berselisih jalan dengan gadis itu. Sayangnya pria tersebut belum begitu 'ngeh' karena hujan yang menimpa kaca depan mobilnya cukup mengaburkan pandangan. Ia hanya sepintasan saja melihat ada sosok lewat tapi tidak begitu jelas mukanya. 

"Brrrrbbb.....bagaimana caranya aku bisa pulang, sudah malam begini?" Rembulan berkata dalam hati, sebab bibirnya masih bergetar menahan tangis yang bercampur hujan. Ia kedinginan.

"Drap! Drap! Drap!!!! Breeeeshhhh!!! Breeeeesh!! Kecipak!! Kecipak!! Kecipak!!"

Langkah kaki Rembulan berkecipak diantara air yang sudah setinggi mata kaki. Alas kakinya yang telanjang ditopang betis kecil putih mulus bagaikan rusa berjuang menahan suhu dingin ibukota yang menggigit, sunyi sepi seolah tak berpenghuni, kecuali dirinya sendiri. Namun ia terus berlari serampangan tak tentu arah. Memasrahkan insting kakinya mau kemana. Terserah......

"Tiiiiien tiiiieeennn tiiiiiiieeennn !!!!!" Tiba-tiba sebuah mobil pick up mengerem mendadak karena pengemudinya seperti melihat sosok perempuan muda yang tengah berlari menembus hujan dengan penampilan seperti habis dijahati orang. Karena jatuh kasihan akhirnya ia hentikan juga aktivitas menyetirnya itu. 

Laki-laki 27 tahun itupun segera keluar sejenak dan mendekati perempuan yang ternyata adalah........."Luhrembulaaaan???!"

Rembulan kaget. Tapi bibirnya kelu mendekati biru. Hampir kesulitan mengucap satu katapun karena hujan sudah menampar habis-habisan wajahnya. Derasnya seperti mengamuk.

"Mas.........!!"

Laki-laki itu kini mendekatinya yang bahkan jadi ikut hujan-hujanan juga. Menanyai gadis yang sudah satu minggu tak bisa dihubunginya lewat telepon seluler usai kencan dadakan di kawasan pelataran Polda Metro Jaya pekan lalu.

"Rembulan, kenapa hujan-hujanan begini? Ada apa?"

"Mas...........tolong aku.....tolong aku mas........"

"Kenapa bisa ada di sini Rembulan?"

"Tol....o....ng...."

"Bruuuuggh!"

"...Rembulan Bullll?! Re...mbuu...l....Rembulan?!"

Rembulan jatuh tersungkur ke dalam pelukan Mas Agus. Tubuhnya rubuh--limbung seperti kartu domino yang disentil ujung jari, tapi untung saja tak sampai jatuh ke atas aspal karena tubuhnya keburu ditangkap oleh lengan pemuda itu. Selanjutnya, digendongnya ia menuju pick up yang diparkirkan tak jauh dari tempat mereka berdiri. Diletakkannya satu lengan Mas Agus mengelilingi punggung Rembulan, sedangkan lengan lainnya di belakang lutut yang ditekuk. Lalu diangkatnya gadis itu untuk segera direbahkan pada jok depan bersisihan dengan kursi driver alias kursinya sendiri. 

Rembulan yang cantik kini pucat pasi tak karuan, terkulai lemas menyimpan kesedihan. Membuat Mas Agus bertanya-tanya dalam hati sambil mengamati pakaian Rembulan yang basah sebadan-badan.

"Kenapa bisa begini, Nduk?"

Tapi karena hari sudah terlampau  malam, tentu yang ada dalam pikirannya adalah lekas memberikannya tempat ternyaman. Kasur empuk dan selimut hangat, juga pakaian ganti yang layak. Mengembalikan ke lapak Abangnya di Pasar Induk Kramat Djati jelas tak mungkin. Sebab sudah tutup. Jadi sebaiknya.......

"Bremmmm!!!" mesin pick up itu kemudian dinyalakan.

Dan kali ini tujuannya adalah membawa pulang gadis itu ke rumahnya.