Selasa, 26 Januari 2021

Es Oyen Bandung



Oleh : Gustyanita Pratiwi

Aku pikir es oyen itu adalah es yang warnanya oranye. Ternyata bukan ya? Ga ada hubungannya malah ama warna. Soalnya dia dominan pink karena pacar cinanya. 

Eh bentar, sebelum lanjut ke hal-hal yang lebih jauh lagi, kalian sendiri tahu ga ama yang namanya es oyen ini? Jadi gini loh Sayangku.....es oyen itu konon kabarnya berasal dari Bandung..... Mirip es teller tapi ternyata beda. Es oyen ciri khasnya ada di isiannya yang seputar pacar cina, kelapa muda, kolang-kaling, alpukat, blewah, tape singkong, dan nangka. Ntar dia ditambahin lagi dengan kental manis dan sirop biar warnanya semakin semarak. Rasanya? Tentu saja maniiiiis seperti senyum admin untuk kamu...iya kamu hohoho...



Hore!!! Nita akhirnya bisa ngicip es oyen dari kotanya langsung!

Sabtu, 23 Januari 2021

Bandung dan Kenangan Akan Pohon-Pohon Besar





Oleh : Gustyanita Pratiwi

Hey kamu!

Apa yang membuatmu selalu merasa Bandung itu punya tempat di hati?

Karena Bandung kayak pernah mengantarkanku pada sebuah dejavu panjang dimana aku menjelma sebagai tokoh Elektra dalam Novel Supernova Petir dan kamu adalah tokoh Mpretnya yang bertubuh kurus cungkring tapi selalu memperhatikanku dengan manis, lalu kita berjalan bergandengan tangan di antara pepohonan besar yang meneteskan embun, dan tiba-tiba kakimu yang kecil jenjang itu iseng menggoyangkan dahannya supaya air tetesan embunnya jatuh di atas kepalaku, sementara di depan kita adalah rumah bergaya Belanda bernama Eleanor yang kini disulap menjadi semacam warung internet, bahasa jadoelnya warnet, haha. Ga aku bertjanda. Bercandaaa... Maksudku, benar bahwa Bandung memang selalu punya tempat di hati, tapi sayangnya aku bukan tokoh Elektra yang punya kekuatan super bisa menyetrum orang. Sebab aku tetaplah Nita yang merasa bahagia ketika menulis. Walaupun tulisanku baru sekedar bisa diunggah di blog gratisan.


Digambar oleh Non Admin Gustyanita Pratiwi

Jumat, 22 Januari 2021

Telor Ceplok vs Telor Dadar




Oleh : Gustyanita Pratiwi

Ini adalah hari yang lumayan mendung. Baru saja aku berhasil menggoyang wajan untuk menciptakan bentuk telur mata sapi yang proporsional dengan kuning telur yang tidak pecah dan berantakan. Aku menempatkannya di atas saringan supaya minyaknya lekas turun. Dan aku memandangi jendela dengan pemandangan di luar sana sudah sangat gelap seperti mau menangis langitnya. Prediksiku sih bakal hujan gede kayak tangis gadis kecil yang habis patah hati. Tapi, hal yang paling krusial untuk hari mendung  buatku adalah segelas susu cokelat Milo panas kental yang airnya baru saja dijerang dari cerek. Serius deh, entah kenapa aku selalu suka nyeruput Milo panas-panas pas hari hujan. Kalau ga ada itu rasanya kayak ada yang kurang...huhu..

This babik seperti biasa digambar oleh Non Admin Gustyanita Pratiwi

Kamis, 21 Januari 2021

Sebulan Tanpanya :'(.....




Oleh : Gustyanita Pratiwi

Huwa huwa huwa....

Judul yang sangat embuhlah sekali. 

Tanpanya siapa...teuk sami saha...? 

Tenang tenang tenang sebelum semua pada brutal...ijinkanlah aku menerangkan dulu keadaanku ketika hidup sebulan tanpanya. 


Oink Oink will be back again :D, digambar oleh Non Admin Gustyanita Pratiwi

Rabu, 20 Januari 2021

Sepotong Memori ...



Oleh : Gustyanita Pratiwi

Waktu ngetik ini posisi lagi muter lagu Coldplay yang judulnya Trouble. Enak banget di kuping, pas ama suasana hening....

Terus aku jadi pengen cerita sesuatu. Masih berhubungan dengan memori inti yang kayak di pilem Inside Out masa kecil sih. Kali ini mau ngomongin tentang rumah kakek dari bapaknya bapak yang tinggal di Kebumen. Karena kan yang pernah aku ceritain di sini tempat nenek dari ibunya ibu. Nah sekarang saatnya cerita Mbah yang dari bapaknya bapak. Sekarang sih udah almarhum (udah lama juga sebenernya ninggalnya), jadi memori akan rumah Mbah Kebumen ini uda agak slamat-slamat inget dan ga inget. Tapi ya tetep inget sih garis besarnya. 


seperti biasa ilustrasi digambar oleh sang admin Gustyanita Pratimbul yang seleranya masih ala ala anak Paud huehehe

Selasa, 19 Januari 2021

Diantara Membaca dan Menulis



Oleh : Gustyanita Pratiwi

Diantara aktivitas membaca dan menulis, yang sedang getol aku lakukan adalah yang nomor dua. Membaca sebenernya juga suka sih, cuma lagi ga nyukup waktunya. Jadi sebagai gantinya ya bisanya baru menulis walaupun dalam bentuk cerita-cerita singkat, fiksi ala kadar, dan mungkin pemikiran. Seperti yang kulakukan sekarang ini. 


kartun digambar ndiri oleh Admin Gustyanita Pratiyem

Minggu, 17 Januari 2021

Cerbung : Gadis Kecil yang Sedang Belajar Jatuh Cinta (Part 7)




Oleh : Gustyanita Pratiwi

Genre : Romansa

Hanya bersifat Fiktif belaka





Rangkaian bunga anyelir dan gladiol putih yang terselip diantara daun palem pada sudut rumah Rembulan kini rembes diguyur hujan. Ini adalah hari ke-7 setelah kematian Satria dan rumah itu masih tampak sendu. Beberapa karangan bunga yang belum sempat dipinggirkan nyaris kuyup,  menyisakan sisa-sisa sampah yang tadinya sudah layu, kini basah dan teronggok kesepian mengenaskan diterjang hujan. Hujan Bulan Januari memang tidak pernah main-main. Matahari seakan malas beranjak dari tempatnya bahkan untuk sekedar menyapa siang di sepanjang minggu pertama bulan ini, menyebabkan langitnya ajeg berwarna kelabu, bahkan kerap mengarak gumpal-gumpal awan hitam yang siap bergandengan tangan menumpahkan segala isinya kapan saja ia mau.

Senin, 11 Januari 2021

Gustyanita Pratiwi





 
Mengenal Lebih Dekat Admin Blog Gembulnita : Gustyanita Pratiwi

Hallo...assalamualaikum semua....

kali ini sengaja bikin laman khusus buat ngomongin diri sendiri ga pa pa kan ya...#lha yo sakkarepmu toh Mbul ini kan blog blogmu dewe toh hahahha...mau aku ngapain juga terserah kan ya wkkwk..

Ya buat nostalgia aja (kan blog aku emang isinya kebanyakan nostalgia) sekalian mau nyimpan foto-foto jaman kumpeni...eh maksudnya foto-foto rikolo zaman semono sampai yang tergress dan terupdate....#bagi yang ngerasa ga tertarik...monggo itu tanda x pojok kanan bisa dipencet kok heheehhee....

Gustyanita Pratiwi (Si Mbul)

Sabtu, 09 Januari 2021

Cerbung : Gadis Kecil yang Sedang Belajar Jatuh Cinta (Part 6)



Oleh : Gustyanita Pratiwi

Cerbung ini hanya bersifat Fiktif belaka

(sebagai latihan menulis dan hiburan semata)



Di bawah langit petang yang bertabur bintang, tapi tetap saja rembulan yang jadi primadonanya, 2 orang anak manusia duduk berdampingan. Menikmati sepiring siomay yang dinaungi pohon jambu darsono. Pohonnya rungkut sekali hingga buahnya yang merah bergelantungan agak kurang terlihat kalau saja tidak diperhatikan dengan detail. Tapi itu tak mengapa, sebab justru indahnya bukan terletak pada pohon jambu darsononya, melainkan pada rembulannya. Rembulan yang sebenarnya sedang dipandangi oleh Rembulan lainnya, namun kali ini dalam wujud manusia. Rembulan yang sedang bulat-bulatnya yang untung saja tidak ada siluet ETnya--- lewat dengan menggunakan sepeda, rembulan yang bermandikan sinarnya yang keperakan diantara kabut tebal yang membentuk gugus lingkaran, walaupun sebenarnya ahli fisika bilang bahwa sinar rembulan tidak berasal dari dirinya sendiri melainkan hasil pantulan sinar matahari. Tapi persetan dengan ahli fisika! Sekarang saatnya bersentimentil-sentimentil ria...Terlebih background suaranya juga sudah ngepas bener : Orkes jangkrik yang berbunyi 'krik-krik-krik' dan bersahut-sahutan dari satu semak ke semak lainnya. Mengingatkan pada suasana pegunungan meski ini di pinggiran Jakarta yang bersebelahan dengan hutan kota. Sebab kalau di gunung masih ada tonggeret, sedangkan di halaman belakang rumah Mas Agus ada jangkrik. Yang kalau diresapi merdu betul suaranya! 

"Rembulan...."

Mas Agus tiba-tiba memanggilnya dengan lembut di tengah aktivitas gadis bermata bulat itu mengudap siomay yang berlumuran saus kacang pedas. 

"Iya Mas..."

"Kok tadi aku lihat, rumah kelihatan bersih. Apa Rembulan yang sudah bersihkan?" tanya Mas Agus.

Rembulan mengangguk lalu diiringi dengan raut muka terkejut dari Mas Agus.

"Kan Rembulan masih sakit. Kenapa malah mengerjakan pekerjaan berat? Nanti kalau Rembulan ga sembuh-sembuh kapan bisa aku pulangkan ke Abangnya?"

"Ha........" (seperti ada nada kecewa dari ekspresi Rembulan). Dan lawan bicaranya itu pun menyadarinya. Cepat-cepat ia segera mencadainya. Supaya suasana cair kembali.

"Bercanda. Gitu saja ngambek. Nanti kukasih permen deh." bujuk Mas Agus.

"Ogaaaah!!! Aku ga suka permen. Aku benciiii sama permen!!! Huft." sungut Rembulan. Ekspresinya persis seperti anak kecil yang sedang merajuk. Tapi kalau dilihat secara fisik memang wajahnya masih pantas jika disebut sebagai anak kecil, walau sebenarnya usianya sedang 'sweet-sweetnya seventeen'.

"Hahahhahah...." Mas Agus tertawa.

"Ya sudah pete sama jengkol saja gimana?" tawar Mas Agus lagi.

"Ga ah!" tolak Rembulan dengan cepat.

"Lha kok gitu?" tanya Mas Agus.

"Hmmmmb ga pa pa." kata Rembulan lirih.

"Iya...iya...Mas bercanda kok." ujar Mas Agus lagi-lagi dengan nada membujuk.

"Hu..." sungut Rembulan

"Kenapa sih?" tanya Mas Agus.

"Ga kenapa-napa sih." jawab Rembulan pendek.

Wah ambekan juga nih anak. Ya, maklum masih bocah bau kencur. Selisih 10 tahun dengannya. Tapi masih sama-sama sendiri. Yang satu perawan, yang satu perjaka. Jadi tidak ada yang salah.

"Ahhh! Iya iya terima kasih deh sudah dibantu bersihkan rumah. Padahal Mas orangnya santai. Kadang malas juga bersihin sendiri. Jadi aku biarkan saja berantakan apa adanya. Hahahhahah!" kata Mas Agus santai.

"Ya itu bentuk terima kasih aja karena sudah tolongin Rembulan." timpal Rembulan.

"Loh memangnya aku sudah ngapain sih?" tanya Mas Agus.

"Ya sudah kasih tumpangan aku waktu malam-malam itu lah, masa lupa." jawab Rembulan.

"Ah santai saja. Rakpowpow! Kan sudah kewajiban sebagai sesama manusia, saling tolong-menolong." kata Mas Agus.

"Haaaaa.. jawabannya kayak text buku PPKN, ga ada manis-manisnya. Huft!" sahut Rembulan bete.

"Hahahahaha!" 

"Tapi biarin deh, Rembulan tetap akan berterima kasih sama Mas." ujar Rembulan lagi. Dengan ekspresi macam karakter anime genre ecchi yang adorable ia mengepalkan tangan seperti orang yang hendak meneriakkan kalimat : Ganbatte! Semangat! Jadi tingkahnya memang dilihat-lihat cukup teathrical juga, di samping memang lucu bawaan lahir.

"Masa gitu doang cara berterima kasihnya?" timpal Mas Agus masih dengan nada bercanda.

Rembulan kemudian menghentikan polahnya. Ia memandang heran kepada Mas Agus.

"Loh memang bagaimana?" tanyanya penasaran.

"Ya coba saja dipikir sendiri, ada cara lain tidak ?" 

"Apaan tuh ya?" tanyanya agak loading.

"Hahahahaaa...polos betul jadi anak. Dasar anak 17 tahun!" Mas Agus tertawa.

"Makanya kasih tahu caranya gimana?!!!" 

"Ga ah, cari saja sendiri!" 

"Hohoho." (ekspresi penuh tanda tanya dalam kepala)

***














"Tunggu!!!!"

"Coba Mas lihat tuh ke atas, ada apaan tuh?" suruh Rembulan

"Ada apaan sih?" Mas Agus pura-pura bingung.

"Coba lihat aja dulu! Tuh!!!" Ujar Rembulan lagi.

Dalam sekejap laki-laki itu mengikuti arah pandang yang ditunjukkan Rembulan dan kemudian dirinya diberikan kejutan kecil yang manis namun bikin shocked.........

Jumat, 01 Januari 2021

Cerbung : Gadis Kecil yang Sedang Belajar Jatuh Cinta (Part 5)





Oleh : Gustyanita Pratiwi

Cerbung ini hanya bersifat fiktif belaka (buat latihan menulis dan hiburan)

Genre : romansa


ilustrasi digambar oleh sang adminnya langsung alias Gustyanita Prikitiuw hohoho...




"Jegerrrrr jegerrr jegerrrrr!!!! Gludug!!! Gludug!! Gludug!!!" Bunyi guntur menyalak di angkasa raya seperti anjing herder yang kesetanan. Hujan deras pun tak terelakkan lagi mengguyur basah kota ini. Mengantarkan derap langkah kaki Rembulan yang susah payah melewati genangan air diantara tempat-tempat persembunyian hewan-hewan pengerat yang menghuni selokan mampet.

"Bressssh!! Breshh!!! Bresshh!!!" Semakin bertambah deras. Semakin hujan angin. "Syiiiiiiutttt! Weeeeeesssss!!! Gludug! Gludug!! Gludug!!! Jegerrrrrr!!!" 

Tapi tubuh kecil dengan seragam berenda hitam putih yang basah kuyup itu tetap terus berlari menerjang angin. Kedinginan dan menggigil melewati mobil yang lalu lalang. Melewati pendar-pendar lampunya yang kuning blur membuat silau. Bahkan sebuah BMW seri i8 yang dikendarai Hermansyah sebenarnya berselisih jalan dengan gadis itu. Sayangnya pria tersebut belum begitu 'ngeh' karena hujan yang menimpa kaca depan mobilnya cukup mengaburkan pandangan. Ia hanya sepintasan saja melihat ada sosok lewat tapi tidak begitu jelas mukanya. 

"Brrrrbbb.....bagaimana caranya aku bisa pulang, sudah malam begini?" Rembulan berkata dalam hati, sebab bibirnya masih bergetar menahan tangis yang bercampur hujan. Ia kedinginan.

"Drap! Drap! Drap!!!! Breeeeshhhh!!! Breeeeesh!! Kecipak!! Kecipak!! Kecipak!!"

Langkah kaki Rembulan berkecipak diantara air yang sudah setinggi mata kaki. Alas kakinya yang telanjang ditopang betis kecil putih mulus bagaikan rusa berjuang menahan suhu dingin ibukota yang menggigit, sunyi sepi seolah tak berpenghuni, kecuali dirinya sendiri. Namun ia terus berlari serampangan tak tentu arah. Memasrahkan insting kakinya mau kemana. Terserah......

"Tiiiiien tiiiieeennn tiiiiiiieeennn !!!!!" Tiba-tiba sebuah mobil pick up mengerem mendadak karena pengemudinya seperti melihat sosok perempuan muda yang tengah berlari menembus hujan dengan penampilan seperti habis dijahati orang. Karena jatuh kasihan akhirnya ia hentikan juga aktivitas menyetirnya itu. 

Laki-laki 27 tahun itupun segera keluar sejenak dan mendekati perempuan yang ternyata adalah........."Luhrembulaaaan???!"

Rembulan kaget. Tapi bibirnya kelu mendekati biru. Hampir kesulitan mengucap satu katapun karena hujan sudah menampar habis-habisan wajahnya. Derasnya seperti mengamuk.

"Mas.........!!"

Laki-laki itu kini mendekatinya yang bahkan jadi ikut hujan-hujanan juga. Menanyai gadis yang sudah satu minggu tak bisa dihubunginya lewat telepon seluler usai kencan dadakan di kawasan pelataran Polda Metro Jaya pekan lalu.

"Rembulan, kenapa hujan-hujanan begini? Ada apa?"

"Mas...........tolong aku.....tolong aku mas........"

"Kenapa bisa ada di sini Rembulan?"

"Tol....o....ng...."

"Bruuuuggh!"

"...Rembulan Bullll?! Re...mbuu...l....Rembulan?!"

Rembulan jatuh tersungkur ke dalam pelukan Mas Agus. Tubuhnya rubuh--limbung seperti kartu domino yang disentil ujung jari, tapi untung saja tak sampai jatuh ke atas aspal karena tubuhnya keburu ditangkap oleh lengan pemuda itu. Selanjutnya, digendongnya ia menuju pick up yang diparkirkan tak jauh dari tempat mereka berdiri. Diletakkannya satu lengan Mas Agus mengelilingi punggung Rembulan, sedangkan lengan lainnya di belakang lutut yang ditekuk. Lalu diangkatnya gadis itu untuk segera direbahkan pada jok depan bersisihan dengan kursi driver alias kursinya sendiri. 

Rembulan yang cantik kini pucat pasi tak karuan, terkulai lemas menyimpan kesedihan. Membuat Mas Agus bertanya-tanya dalam hati sambil mengamati pakaian Rembulan yang basah sebadan-badan.

"Kenapa bisa begini, Nduk?"

Tapi karena hari sudah terlampau  malam, tentu yang ada dalam pikirannya adalah lekas memberikannya tempat ternyaman. Kasur empuk dan selimut hangat, juga pakaian ganti yang layak. Mengembalikan ke lapak Abangnya di Pasar Induk Kramat Djati jelas tak mungkin. Sebab sudah tutup. Jadi sebaiknya.......

"Bremmmm!!!" mesin pick up itu kemudian dinyalakan.

Dan kali ini tujuannya adalah membawa pulang gadis itu ke rumahnya.

Minggu, 27 Desember 2020

Ngadem.....


Oleh : Gustyanita Pratiwi

Lagi pulang di rumah orang tuaku, kangeeeeeen.......uda setahun ga ngirup udara Prembun. Uwah seger banget kayak Switzerland huehehe....... Kangen liat sawah, kangen liat gunung!!! Kangen liat bebek lari-larian di pinggir kali, kangen liat domba pada ngerumput, kangen liat burung blekok yang uda langka tapi masih ada sih di tempatku.... Terus barusan aja malem-malem ada burung yang bunyinya hug..hug...hug..(eh burung apaan tuh ya? Tentu saja itu burung hantu atau celepuk, bahasa Inggrisnya Owl).

Makanya postingan kali ini pendek aja ya. Mungkin akan dibanyakin fotonya doang. Awas tak kasih warning dulu..sapa tau mabok liat foto-fotonya Mbul lalu abis itu pengen misuh-misuh #cepalango tak sodorin kresek satu-satu nih nyoooooh, takutnya pada gumoh...wkwkw, deng ga...aslinya ntuh kresek ada gorengan bakwannya loh padahal..hohoho..

#uda ge er aja kan kalau tulisanku ada yang baca.. :D.


Senin, 21 Desember 2020

Cerbung : Gadis Kecil yang Sedang Belajar Jatuh Cinta (Part 4)





Oleh : Gustyanita Pratiwi

Sifat : Hanya fiktif belaka dan untuk latihan menulis plus hiburan

Genre : Romansa



"Creeeeeshhhh...Cresssshh cesss cess!!! Nguuuung!!" 

Tiba-tiba terdengar bunyi berisik dari arah dapur. Celaka dua belas!!!! Air rebusan mienya!!!! Rembulan pun berlari ke arah pantry dan keadaan sudah tampak amburadul. Panci mahal itu gosong dengan air yang telah surut pada bagian dasarnya. Asap mengebul menghalangi sebagian pandangan. Kompornya pun bunyi kenceng betul...

"Waduh matiii aku!"

Ia pun buru-buru mematikan kompornya walau semua sudah terlambat sampai kemudian terdengar bunyi : "Petttttt!" Giliran listrik kini yang mati. Keadaan berubah menjadi gelap gulita. Gadis itu pun sontak meraba-raba sesuatu yang kiranya bisa dipegang sampai akhirnya sosok tinggi tegap itu masuk ke dalam ruangan dan menghampiri Rembulan. Belum kelihatan jelas siapanya tapi yang pasti tercium aroma parfum yang lembut dan sepertinya sudah tak asing lagi baginya.

Aroma jeruk.

Baca juga :





Kamis, 10 Desember 2020

Cerbung : Gadis Kecil yang Sedang Belajar Jatuh Cinta (Part 3)




Oleh : Gustyanita Pratiwi

Note : Fiktif belaka untuk latihan menulis dan hiburan

Genre : Romance



"Syut!!! Syuttt!! Syuuut!!!"

Diantara tronton bermuatan besar yang bergerak sepagian menuju kawasan Cikampek dalam rentang kilometer 19 jalan Raya Bogor, Khanif dan Rembulan yang sedang diboncengnya laksana Dom dan Letti dalam sekuel Fast n Furious (tapi kali ini dengan versi lain, versi motor bebek). Keduanya melesat zig-zag menembus pendar lampu kekuningan yang menyorot pada moncong-moncong raksasa kendaraan beroda ganda itu sembari memicingkan mata menahan silau. Memang agak sial sebenarnya. Sebab jalanan yang mereka lalui sangatlah rapat. Rapat dengan kendaraaan besar tentu saja. Jadi harus jeli mencari celah supaya bisa stay on the right track. Sebab moda transportasi yang mereka tunggangi jauh lebih kecil ketimbang kawannya yang lain yang tersebar di seluruh penjuru jalan raya ini. Ibaratnya jika disejajarkan dengan tronton ya raksasa vs kurcaci. Tapi memang sudah lumrahnya kendaraan-kendaraan besar macam begini beraktivitas di jam-jam segini. Jam-jam malam menuju subuh sampai akhirnya matahari bergerak dari peraduan, menerbitkan semburatnya yang berwarna keoranye-oranyean laksana buah jeruk. 

Apes. Itulah satu kata yang menggambarkan keadaan Khanif dan juga Rembulan. Keduanya harus tersendat beberapa kali. Padahal titik point yang mereka tuju juga tidak jauh-jauh amat. Muka pasar yang biasa mereka jadikan tempat mengais rejeki. Bedanya, Rembulan saja yang akan didrop di situ, sementara Khanif bablas masuk ke dalam pasar menjalankan aktivitas ekonomi seperti biasanya. Rembulan akan kemana? Tentu saja akan membayar janjinya kepada Mas 'A'. Janji traktiran walaupun belum tahu akan kemana, mungkin bisa dipikir sambil jalan. 

Tapi sayang, sudah sekian lama mereka boncengan, tetap saja macet menjebak dari sisi kanan, kiri, depan, maupun belakang. Seperti tikus yang terjebak karena godaan keju. Mampus! Tak bisa kemana-mana. Seandainya saja Rembulan mau berjalan kaki saja dari kontrakan hingga pintu masuk bagian belakang pasar, pasti sudah nyampai dari tadi. Tapi karena ia takut diganggu preman yang suka mangkal di sana--terlebih dengan penampilannya yang sudah dibikin semanis gula-gula kapas ini, maka dimintailah Khanif untuk mengantarkannya sampai ke lokasi kencan. Yang itu artinya mereka akan jauh memutar beberapa kali.

Sampai akhirnya 2 kendaraan besar tadi tahu-tahu sudah menghilang dari pandangan. Khanif pun bersiap-siap untuk gas pol walau saat sudah menjalankan motornya, hal yang tak diinginkan malah terjadi...

"Jeduuuukk!" 

Naas, motor bebek Khanif tiba-tiba telat mengerem dan akhirnya malah menubruk mobil yang ada di depannya pas. Kampretnya adalah mobil tersebut sudah memberikan sinyal supaya tetap jaga jarak aman dari beberapa meter sebelumnya sehingga yang sudah pasti disalahkan adalah Khanif. Pemuda bertubuh kurus itu kurang konsentrasi. Atau malah sedang melamun? Yang pasti Rembulan yang kaget pun ikut terdorong ke depan. Bagian tubuhnya yang agak membusung mengenai punggung pemuda itu. Sesuatu yang tak sengaja namun cukup menyenangkan seandainya tidak terjadi pada situasi macam begini. Sontoloyo! Ya itu semua karena mobil yang ditubruknya jelas penyok di satu sisi. Tidak nampak besar. Tapi sangat kentara dan lumayan dalam. Terlebih sasarannya adalah body mobil mewah macam Chevrolet Corvetter Stingray warna abu berpelat B 743Y ZN. Mobil 'kelas' 1. Sangat kontras dengan kendaraan lain yang ada di samping-sampingnya, depan maupun belakang. Sungguh kondisi yang sangat ironis bukan? Terlebih penabraknya hanyalah bagian dari kaum proletar, 2 orang manusia biasa yang siap-siap kena damprat seorang Tuan Muda.

Lepas dari tubrukan itu, sang empunya mobil pun tak ayal bergerak meminggirkan kendaraannya, memberikan sinyal kepada Khanif untuk mengikuti. Keduanya manut saja walaupun dalam hati jelas ketar-ketir, banjir keringat dingin. Dilihatnya dari balik kaca jendela, sosok pengemudinya adalah seorang pria bertampang menawan dengan pantulan kaca mata branded Emporio Armani yang bertengger diantara hidungnya yang mancung mirip potongan wajah India. Badannya tegap, dadanya bidang proporsional dengan kisaran tinggi di atas rata-rata orang Indonesia. Pokoknya apa yang menempel padanya terlihat clean. Enak untuk dilihat.

"Siiiiing!!!" 

Swan doors chevrolet itupun dibuka. Kini terlihat jelas gambaran laki-laki itu seperti apa. Kisaran usianya masih muda. Mungkin perempat abad. Borju dan berduit. Itu sudah pasti. Terlihat dari busananya yang licin, kombinasi antara kemeja formal warna putih tulang dipadu dengan celana chino warna krem susu. Rambutnya bergaya brushed on top yang terlihat seperti model spike di awal tahun 2000-an. Dominan brown. Kontras dengan kulitnya yang kemerahan namun agak berbulu di beberapa bagian terutama rahangnya yang tegas. Mungkin dadanya juga begitu. Sementara di pergelangan tangan kirinya melingkar jam tangan merek Mont Blanc yang berkilat-kilat. Tapi di luar tampangnya yang keren itu, ada ekspresi kurang bersahabat yang  sebentar lagi bakal diledakkan. 

Baca cerita sebelumnya di :





Jumat, 04 Desember 2020

Pengalaman Menggunakan Produk Wardah ala Si Mbul Nita




Oleh : Gustyanita Pratiwi

Assalamualaikum...

Apa kabar semuanya? 
Semoga sehat-sehat selalu ya...

Eh lha kok balik lagi si Mbul? Cepet amat? Perasaan baru kemarin update? Kok sekarang uda update lagi? Hihihi...

Biasaaaa lagi on fireeeee ini.... sebelum taktinggal tapa lama buat nyelesain cerbung part 3 ku, maka kali ini aku akan ngecuprus lagi tentang sesuatu yang beda dari biasanya, yaitu tentang dunia permik-apan....alias perdengdongan alias perlenongan or terserah lah lu mau nyebutnya apaan. Yang jelas isinya bakal ada lipen, foundation, bedak dkk-nya itu. Tapi ini cuma iseng nulis aja sih bukan sebagai pereview pro layaknya beauty blogger. Cuma review suka-suka ala Mbul dan semuanya aku beli by duid sendiri alias bukan iklan bukan endorse :D.

Kamis, 03 Desember 2020

Mie Nyemek ala Si Mbul Nita





Oleh : Gustyanita Pratiwi

Bismilahirohmanirohim

Assalamualaikum semua....

#dijawab dong salamnya.....hehehe

Kali ini aku mau cerita apa ya?

Kadang tuh ya saking kepala banyak banget uneg-uneg rasanya sampek bingung mana yang mau didrop duluan di blog. Kalau didrop semua kan ga okey ya....soalnya kadang ya berasa sampah aja masa didrop semua di blog, ntar dikepoin orang lagi hohoho #eh siapa juga yang mau ngepoin gw ya Coeg, ge er banget deh gw #sayang juga niiih kalau ge er #sayangin diri sendiri maksudku wkwkwk. Muaaach... (muaaaachnya ke diri sendiri, hahahha...su tu the we...suweeeeee)

Rabu, 02 Desember 2020

Cerbung : Gadis Kecil yang Sedang Belajar Jatuh Cinta (Part 2)



Oleh : Gustyanita Pratiwi

Genre : Romantis

Note : hanya bersifat fiktif belaka sembari untuk latihan menulis dan bersenang-senang

Gadis berpipi chubby, pemilik bola mata hitam dengan rambut kuncir kuda yang bergoyang-goyang seirama dengan gerakan bahunya itu lalu duduk bersisihan dengan Khanif, menyortir puluhan kubis yang bagus dan yang tidak. Sesekali badannya menggeliat sedikit karena menemukan beberapa ulat sayur yang ngumpet dari balik helai-helai kubis yang bolong-bolong. Cukup menguras energi tapi lumayan jika dikerjakan berdua. Pekerjaan jadi cepat selesai. Sampai akhirnya, Abangnya Satria melongokkan wajahnya karena ingin memberitahukan sesuatu.

"Mbul? HP luh dibalikin sama seseorang nih."



Jumat, 27 November 2020

Iklan Jadoel yang Membuatku Berimajinasi Tinggi



Oleh : Gustyanita Pratiwi

Hellaaaaaaaaaaaaw semuanya...

Aku kembali. Soalnya abis nemu ide brilian nih. Jadi biar ga keburu nguap langsung aja lah kutulis di mari. Postingan pendek aja kok, jadi kalian ga usah khawatir bakal ngos-ngosan bacanya wahai kakak-kakakku semuanya baik yang tampan-tampan maupun yang cantik-cantik. Cogan-cogan di ujung sana juga boleh ikut....Yuk mari merapat...kita kupas tuntas segala macam iklan jadoel yang ada, sekalian bernostalgia #iki pembukaan macam opo siihh..huhu..

Bahasan kali ini terinspirasi dari postingan abang blogger kita yang paling tampan weleh-weleh kesayangannya Mbak Vina yaitu Udha Satria Mwb, utamanya tatkala Beliau mengulas soal iklan Jadoel

Nah...karena dulu pas komen di postingannya si Udha ini aku udah janji mo nulis tema serupa, jadi ya sekarang saatnya lah aku bakal tuliskan iklan jadoel versiku kek gimana. Iklan yang pada masa kanak-kanak dulu begitu membuatku berimajinasi tinggi (itu baru iklan yang di TVC ya), kalau yang liat di majalah jadoelnya juga lain lagi sih. Cuma nemunya emang dikit. Yang juadoelnya kebangetan juga ada, sebab biar kata aku besar di era 90 an dan 2000 an awal, tapi tetep aja koleksiku bisa dapet yang tahun-tahun jauh sebelom aku lahir muehehehhe...Soalnya aku emang kolektor majalah jadoel. Jadi tetep tau penampakan kejadoelannya kayak apa..

Okey, langsung saja ya, ini dia iklan-iklan jadoel yang paling membekas di hatiku :

1. Iklan Obat Batuk Rasa Apel Hijau (tapi lupa mereknya apa)

Pokoknya iklan obat batuknya itu ada adegan apel hijau yang lagi hanyut di aliran sungai. Perjalanan si apel ketika menyusuri sungainya itu panjaaaaang banget dan penuh aral rintang. Tapi akhirnya bisa bermuara di air yang bening, kalau ga salah deket air terjun. Aduh aku lupa-lupa ingat. Tapi kalau ga salah ya apelnya warna hijau gitu. Ntah ikadryl atau bukan sungguh aku lupa...soalnya yang kulihat di youtube beda konsep dengan yang kuceritakan ini Hiks...#monangis deh kalau lagi nginget-nginget sesuatu tapi blank atau cuma inget separuh-separuh :D.

Kamis, 26 November 2020

Akhir-Akhir ini....


Oleh : Gustyanita Pratiwi

Hoy...hollaaaa !!!

Apa kabarnya?

Semoga masih pada sehat-sehat aja ya...

Mana senyumnya.....????

Nyuuuuuumm #etdah..

(Anda panas ya Bulll...hohoho).

Ya, memang sedikit agak meriyang...pala kliyengan...dan membutuhkan tatih taaayaaankk...... mungkin harus ketemu ama yang namanya belaian mesra dari minyak Gondopuro atau bisa juga GPU...hohoho...

Kali ini aku mau posting pendek aja. Postingan panjangnya disimpen dulu buat ntar bikin lanjutan cerbung. Soalnya aku mau ngepost random dengan kata 'akhir-akhir ini', bahasa Inggrise lately atau recently...Loh kok bisa tercetus ide gila pengawuran begituh Mbul. Ya bisa aja sih, apa sih yang ga bisa ditulis di blog ini hahahhahanjeeeer...

Oke langsung aja lah ya....

1. Akhir-akhir ini perasaan masakanku tambah kacrut aja. Pernah kemarenan sampe goreng udang kok ya asinnya macem lu olang pengen 'blaem-blaem'. Numis kangkung pun demikian... Asin lekak, ckckckckckck.... Bisa-bisa score 2,5 yang diberikan sama ku kemaren downgrade lagi jadi angka 1.....Ha...ha ha...

2 dari 1 menu sangat keasinan Cuy (masakankuw)

Selasa, 24 November 2020

Cerbung : Gadis Kecil yang Sedang Belajar Jatuh Cinta (Part 1)



Oleh : Gustyanita Pratiwi

Kategori : Romance sifatnya hanya Fiktif belaka

S.A.T.U

Bagaimana bisa ketika jatuh cinta tingkah lakumu terasa demikian lucu 
Auramu dikelilingi oleh warna merah jambu,
Sementara senyumanmu seribu kali lebih manis dari biasanya... 
Terkembang dari sudut bibir
Meski kadang isak tangis nyelonong begitu saja karena ditampar oleh rasa kangen yang teramat sangat 
Bukankah itu sebuah kombinasi perasaan yang sangat menjengkelkan?

Bagaimana bisa dijatuhi sesuatu tapi rasanya malah menyenangkan,  
bukannya sakit, tapi malah menyenangkan
Ya mungkin sekali lagi karena itulah yang dinamakan jatuh cinta
Walau bisa jadi di lain waktu terasa pahit
sebab yang dijatuhi cinta adalah orang yang salah

Bagaimana bisa jatuh cinta akan berbeda makna dengan jatuh hati
Karena Raisa bilang jatuh cinta harus saling memiliki sedangkan jatuh hati tidak
Cukup dengan mengaguminya dari jauh (atau bahkan lebih dari sekedar kagum)
Dan kau pun tak perlu muluk-muluk untuk berharap mendapatkan perasaan yang sama. 
Karena, melihatnya bahagia itu sudah lebih dari cukup....


Kamis, 19 November 2020

Resep Sambel Sereh ala Pak Wawan


Oleh : Gustyanita Pratiwi

Di kantor si Mas ada karyawan yang bisa ngrangkap sebagai koki. Namanya adalah Pak Wawan. Usianya udah cukup sepuh, ya sepantaran ama bokap gw lah.. tapi beliau termasuk orang yang gigih dan ulet ngerjain segala sesuatunya. Jadi biarpun udah ubanan, tapi semangatnya tetap 45. Apalagi anak-anaknya juga banyak dan belum mentas semua. Kata Mas sih dulunya Beliau adalah pemain musik yang handal karena bisa memainkan gitar sekaligus organ tunggal...huehehe.. Namun setelah tercatat sebagai karyawan kantor ya ternyata Beliau piawai juga dalam hal memasak. Si Mas sering cerita kalau masakannya Pak Wawan enak-enak dan tak jarang jauh dari resep nerakanya Beby Mbul (((whoooooottt?))). Ya, kalau dirange dari 1-10, masakan Pak Wawan 9, sedangkan masakan Beby Mbul 2,5 #posisi bibir langsung 'nyun' menyerupai paruh platypus. Jadi ketimbang makan siang pada di luar, mending Pak Wawan aja yang suruh masakin. Kan sekaligus menghindari paparan lingkungan luar selama masa pandemi ini. Apalagi, masakannya Pak Wawan ini jauh lebih enak ketimbang Bibi Office Girl satunya. Lebih miroso. Jadi kalau soal bikin masakan, karyawan kantor sepakat pilih Pak Wawan yang ambil bagian. 

Tapi ya seperti biasa si Mas mah cuma pamer doang ke Beby Mbul kalau tiyep hari Pak Wawan masakinnya enak-enak, mulai dari sayur, lauk, sampai persambel-sambelan, sedangkan Beby Mbul cuma dibagi ceritanya duank hahhahahahasemb....

"La mbok aku dibontotin pake tupperware yo mas." 

Terus dijawab : "Tengsin...masa sebagai cowok aku harus nenteng-nenteng tupperware trus mbungkusin lauk atau sayur yang dimasak Pak Wawan buat Beby Mbul. Beby Mbul mah suruh masaaagh sendiri lah ya.

#kawoooos ora kawooos ora 
#hohoho (arti tawa penuh kekuciwan padahal ngarep).

Petenya uwuwuw sekali, mengintip manja pingin diceplus...nyummm!!

Rabu, 18 November 2020

"Pergi Memancing"


Oleh : Gustyanita Pratiwi

Akan selalu menyenangkan ketika menceritakan tentang masa kecil. Lalu aku mengingat-ingat bahwa aku belum pernah bercerita tentang pergi memancing bersama bapak. 

Saat aku masih kelas 3 SD, sekolahku bubar sekitar jam 10 pagi. Atau lebih gasik (awal) dari itu jika ada pelajaran mencongak dimana Bapak Guru yang menjadi wali kelas kami akan memberikan pertanyaan kepada murid-muridnya dan bagi siapa saja yang bisa menjawab dengan cepat maka dia diperbolehkan pulang lebih dulu. Kebetulan aku as Beby Mbul yang kala itu lumayan hapal beberapa materi pelajaran bisa menjawab pertanyaan dengan cepat jadi ya aku diperbolehkan untuk go home lebih cepat. Asyik! Tapi aku ga mau mengatakan diri sendiri punya otak encer sih, atut jatohnya syumbuung.....melainkan memang aslinya ga terlalu pintar ning cuma rajin aja muahahhahahah....#podo ae ga sih #gibenk juga nih BebyMbul.


Senin, 16 November 2020

Sketsa Cogan


Oleh : Gustyanita Pratiwi

Aku baru tahu istilah 'cogan' yang menurut kamus bahasa slang artinya cowok ganteng. Lagian aku ngerti ini justru dari Pak Su yang emang hobi baca anime sejak dulu, terlebih kalau udah menyangkut One Piece maka bisa dikatakan dia termasuk fans militan. 

Lalu apa hubungannya sama cogan? Ya kan di anime banyak cogannya Cuy! Cogan yang membuat lemah jantung, ati cenad cenud dan klepek-klepek #ebuced. Tapi ya jauh sebelum ketemu Pak Su aku uda doyan anime sih. Sedudul-dudulnya aku pas belom paham anime dan segala istilah-istilahnya macam otaku anime or manga, ya aku ga pernah absen nonton kartun jepang dan baca komik serial cantik. Cuma karena baru-baru ini akses ke aplikasi manga online semakin dipermudah, ya akhirnya aku jadi tau sedikit tentang perotakuan anime ini. Bahkan kadang menelusuri genre-genre tertentu yang bikin ku sampai ternganga-nganga...sebab imajinasinya memang sungguh warbiasa bwahahha...tapi ya ga deng biasa aja...kan aku kalau ama gambar begituan uda biasa juga huahhaha. Namanya juga hal-hal yang berhubungan dengan proses kreatif. Fiksi pun sama. Jadi ya aku ngarti lah it's just entertaint !! #sok nginggris jaksel deh gw.

Mungkin karena otak kananku lebih cepat konek ketimbang otak kiriku, jadi untuk setiap proses kreatif jenis apapun baik itu gambar maupun fiksi, ya pada akhirnya selalu bisa aku nikmati dari sisi keindahannya (walaupun tak jarang nemu juga yang rada nganuuu #uhumb....). Tapi sekali lagi aku hanya berperan sebagai penikmat karya yang mencoba menikmatinya dengan caraku sendiri.