Kamis, 30 Juli 2015

Test Pact itu Sempat Positif


http://heydeerahma.com/index.php/2015/07/13/kontes-blog-giveaway-lebaran-bersama-heydeerahma/


Ramadhan dan Syawal kali ini harus kulalui dengan skenario yang berbeda dari biasanya. Semacam tragedi kalau diibaratkan drama dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Masih ingat tulisanku tentang 'kado spesial buat suami' di postingan sebelumnya? Ya, kado janin yang dititipkan Alloh sejak sepekan sebelum hari jadi kami itu rupanya harus bertahan hingga 3 bulan saja.

Kalau ditanya bagaimana rasanya? Entahlah, aku sendiri cukup bingung mendefinisikannya. Mungkin di depan orang-orang yang kutemui saat mudik-- pun yang bertanya kepo 'sudah isi atau belum' padahal dia sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi -- aku hanya bisa menjawabnya dengan nafas tertahan juga sedikit air mata yang menggenang. Boleh jadi aku tersenyum. Tapi mata ini tidak bisa bohong. Biar bagaimanapun test pact itu sempat positif. Dua garis merah jelas (bukan samar-samar lagi), tercetak rutin per tanggal 23, 24, 25, 26, 27,28, sampai 29 Mei 2015 dimana waktu itu aku sudah telat haid 1 minggu. Kebayang dong, gimana getolnya aku sampe test pact tiap hari karena ada rasa bahagia yang membuncah manakala 2 garis itu bertengger manis pada tiap strip-nya. Resminya, kata-kata hamil itu sudah meluncur dari mulut dokter saat cek up pertama dan itu menjadi kado terindah buat suami yang ultah sekaligus di bulan yang sama. 


USG pertama..usia 4 minggu sudah nampak kantong janin

Test pact itu sempat positif....

Hari demi hari kulalui dengan ekstra hati-hati. Maklum ini kehamilan pertama. Aku masih sangat awam. Aku tak mau kesalahan sedikit saja bisa berakibat fatal. Jadilah aku memprioritaskan kandunganku dan menomorduakan pekerjaan. Aku jadi sering telat karena menunggu kereta paling sepi supaya tak ada baku hantam dengan penumpang lain. Memang di kereta ada kursi prioritas. Tapi aku trauma. Seringkali, saat pantatku baru saja mendudukinya, begitu kloter kereta berikutnya datang menyerbu, lalu jika ada golongan prioritas lain yang kebetulan menghampiri, biasanya mereka akan tak percaya melihat perutku yang masih kempis. Walau sudah kujelaskan, tapi begitu ada petugas lain yang lewat selalu saja ditanya apa sedang hamil? Begitu seterusnya. Jujur capek sekali ngejelasinnya. Makanya hasil test pact dan buku kehamilan selalu kuselipkan dalam tas sebagai bukti kalau-kalau ada yang tak percaya aku termasuk golongan prioritas. 

Masalah makanan juga aku awas betul. Bahkan buat nenggak teh manis saja musti aku hindari. Karena konon teh banyak mengandung tehin yang kurang bagus untuk janin. Aku lebih memilih air putih hangat yang kukonsumsi bergelas-gelas hingga aku rajin pipis di sela-sela waktu. Makanan mentah, bakar-bakaran, atau yang biasanya jadi pantangan ibu hamil aku stop. Pernah waktu itu pengen banget makan mie instan dan bakso, ya akhirnya kutahan-tahan aja. Jadi gatel sih lidahnya, tapi buat mendapatkan yang terbaik, apapun rela kulakukan. 

Yang paling sedikit kusesalkan adalah saat Ramadhan tiba. Bukan, bukan aku menyalahkan puasanya. Tapi nekadnya puasa sebelum konsul ke Dsog-ku. Aku memang masih bodoh bab kehamilan. Aku bertanya pada ibu di kampung apa saat hamil muda bisa puasa? Lalu ibu jawab, dulu pas hamil aku, adik, maupun kakakku, ibu enjoy-enjoy aja puasa. Ya selama kondisi badan baik, tidak mual, muntah, pusing atau lemas. Apalagi dengan puasa, janin akan dilatih beribadah sejak dalam kandungan. Berbekal opini itu akhirnya aku puasa juga. Suami juga santai-santai saja. Katanya selama kita niat, insyaalloh kuat. Hmmm...aku masih ragu. Sebab aku pikir kondisi badan tiap ibu hamil berbeda-beda. Aku memang tidak mual-mual banget sih selama awal-awal. Paling 'hoek-hoek' doang cuma pas pagi hari. Itupun ga sampe muntah. Hingga kusimpulkan itu cuma hamil kebo. Apa aja masuk. Mual muntahnya juga dikit. 

Tapi pas kujalani hari kesatu, kedua, ketiga, memang sih rasanya beda. Jadi gampang laperan. Apalagi pas jam-jam makan siang. Parahnya rasa ngidam itu muncul justru di jam-jam itu. Pernah aku pengen makan kue lidah kucing, buah lontar, kue kacang, cakue, bakso goreng yang ada di depan BNI Dramaga, Bogor, dsb. Hahahah...ini ngidam apa kemaruk ya?? Sudah gitu pas menjelang magrib juga sering kliyengan. Kondisi jalanan yang macet membuat aku terkadang telat sampai rumah. Alhasil makanpun ikut telat. Aku jadi paham, kondisi yang biasanya gampang kita lewati bisa jadi sangat sulit bagi ibu hamil. Bahkan untuk jalanpun, aku musti menirukan gaya siput. Aku juga anti naik tangga. Duh mungkin aku lebay. Abis takut kenapa-napa kalau kehebohan, heheh...

Pernah ada kejadian yang cukup bikin syock saat awal Ramadhan. Yaitu hari Minggu naas saat akan mengantarkan paket kasur ke kampung via kereta. Tak seperti biasanya kami lewat jalur Mangga Dua. Dari rumah sudah ada firasat sih, kalau itu jalur bakal banyak dilalui angkot dan kontainer. Mana pada brutal-brutal pula. Eh, bener aja, di lampu merah kendaraan kami diseruduk KOPAMI JAYA dengan seenak udelnya. Padahal itu lagi posisi berhenti loh. Bisa-bisanya Kopami tersebut main belok dan menyebabkan kendaraan lain (kayak punya kami dan 1 motor lainnya kena imbas). 

Bunyi jedug keras sempat membuat jantungku hampir copot. Kuelus cepat perut ini dan menenangkan yang di dalam. Semoga tidak terjadi apa-apa. Hmmm....tapi saat menengok ke belakang, kaca dan bagasi sudah ringsek parah. Suami pun mengejar pake ojek tapi Kopami keparat itu kabur. Ya, apa boleh buat dalam kondisi terguncang, namun malas jika mobil harus ditahan di kantor polisi untuk dijadikan barang bukti, kami lebih memilih servis sendiri. Cukup banyak budget yang harus melayang buat memperbaikinya. Belum lagi paketan tipi yang cukup menguras kocek. Lagi-lagi kami sedang diuji. Kami menghibur diri bahwa akan ada rejeki yang lebih besar setelah ini.

Siang berganti malam, dan malampun berganti siang. Satu bulan terlewati. Jadwal kontrol ulangpun tiba. Kami mendatangi RS Hermina Tangerang dan memeriksakan kondisiku ke sana. Kata dokter, usia kehamilanku sudah menginjak 7 minggu. Janin kecil berwarna putih itu sudah nampak dalam kantung kehamilan. Tapi detak jantung belum ada. DEG !!!!! Berasa ada peluru yang tiba-tiba tembus ke ulu hati. Dokter bilang ini udah over borden alias batas maksimal musti ada detak. Mataku mulai berkaca-kaca. Aku pun bertanya dengan nada super lirih dan agak tersendat. Apa ini karena 11 hari puasa yang kujalani saat awal kehamilan? Atau rasa stres dan semacamnya? Dokter bilang tidak ada hubungannya. Kehamilan tidak berkembang bisa disebabkan karena kegagalan kromosom saat pembuahan. Tapi aku disarankan untuk tidak puasa dulu mengingat keadaan janin yang demikian. Akupun mengangguk pasrah. Untunglah suamiku selalu berpikir tenang. Dia mencerna penjelasan dokter dengan logika. Kata-kata dokter yang bagiku tadinya sangat menakutkan, dijelaskan ulang oleh suamiku dengan intonasi yang lebih menenangkan. Akhirnya kami disuruh balik 2 minggu lagi untuk mengecek perkembangannya. 


Usia 7 minggu, sudah nampak janin, tapi detak jantung belum ada???

Dua minggu kemudian, eh...tidak, sebenarnya 11 hari sejak kontrol kedua, kami pun kembali ke RS. USG Trans V pun berulang kali harus kujajal demi mengintip adakah perkembangan yang terjadi. Dan.........kata-kata menggantung (yang sebenarnya lebih banyak sisi negatifnya) keluar dari hasil diagnosa dokter. "Belum ada detak, kemungkinan kalau benar-benar tidak berkembang akan ada flek-flek selama 4-5 hari ke depan. Jadi Mbak nggak usah takut atau merasa bersalah misal pas mudik keluar. Itu bukan karena kecapean. Tapi memang tidak ada perkembangan," jelas dokter. 

Lalu kemungkinan apa yang bakal terjadi setelah itu ????
Satu-satunya cara adalah kuretase. Dokter berkata bulat.

Aku hanya terpaku. Di umur kehamilan ke-10 minggu yang seharusnya sudah dijumpai detak, malah di aku kenyataannya lain. Jikalau memang ini harus diambil, hanya pasrah dan ikhlas yang bisa kuucap. Suami membesarkan hatiku dan tetap berpikir logis. Dia support apapun yang terbaik bagiku. Sebagai jaga-jaga dokter meresepkan obat penguat kandungan (Preabor) dan Folamil Genio (Vitamin) kepadaku. Sebenarnya aku sempat bertanya-tanya, kalau kemungkinan sudah tidak bisa dipertahankan kenapa pula masih diberi penguat? Entahlah...

Usia 10 minggu, kantong kehamilan tak berbentuk, janin kecil, tak ada detak

Sehari menjelang mudik aku layu bagai kuntum yang tak disiram. Seharian tiduran ga jelas sembari menunggu suami pulang dari kantor. Pikiran bengong yang melandaku acapkali membuatku tiba-tiba ingin menangis. Menangis menunggu sesuatu yang menggantung. Menangis mencoba mengumpulkan harapan yang sebenarnya hampir 90% kosong. Menangis karena aku sebenarnya masih sangat bingung dengan ini semua. Memikirkannya, membuat selera makanku drop. Aku pasrah jika di kampung banyak pertanyaan reseh yang menghampiri. Kuputuskan untuk diam saja dan biar suami yang menjelaskan. 

Tiba saatnya kami mudik. Perjalanan ke Stasiun Gambir membuat kami harus diantar dengan mobil. Pak Agus, rekan kantor suamilah yang akhirnya bersedia mengantarkan. Maklumlah kami bawa tipi pesanan mertua yang gedenya minta ampun. Sempet terpikir buat sekalian dipaketin aja pas kirim kasur kemaren, eh suami ngeyel, katanya ga papa dibawa aja, takut rusak kalau kebanting-banting. Ah....sudahlah...aku ga mau tau kalau nanti bakalan susah apalagi bawaan tas kami lumayan banyak.

Di mobil suami menemani Pak Agus di depan. Sedangkan aku duduk di bangku tengah sambil pijakan kaki ini harus berbagi dengan tipi. Sungguh keadaan ini membuatku tak nyaman. Apalagi di luar macet. Rupanya aku sudah mulai mabuk dan berkunang-kunang. Sepanjang perjalanan itu, aku memutuskan untuk tiduran saja. Siapa tahu dengan memejamkan mata rasa pening itu hilang. Ternyata tidak. Aku justru makin pucat dan seperti mau mati. Hmmm....apakah sudah waktunya keguguran? Dalam hati aku terus melafalkan doa supaya mendapat perlindungan dari Alloh.

Syukurlah, jam 5 sore kami tiba di Gambir. Pak Agus pamit pulang. Lalu aku dan suami segera masuk ke stasiun. Waktu keberangkatan sebenarnya masih lama. Aku merengek minta makan karena seharian penuh perut belum keisi. Suami agak ngomel, kenapa aku sampe kelupaan makan. Dia pun mengajakku ke CFC buat makan ayam sekaligus bawa bekal buat malam. Belum 'teng' bedug magrib sih, tapi aku sudah makan duluan hehehe, sementara suami tetap melanjutkan puasa sembari menunggu waktu buka.

Selesai makan, perut lumayan mual. Ya rasanya agak-agak seperti mau dapet gitu. Buru-buru aku ngibrit ke kamar mandi buat ngecek CD. Takutnya ngeflek. Alhamdulilah ternyata belum. Akupun ambil air wudhu sekalian sholat Magrib dijamak Isya.

Kereta Taksaka yang kami naiki masih amat lama datangnya. Sekitar jam 9 malam. Sambil menunggu akhirnya kami pilih duduk di lantai sembari mengamati para pemudik lain.Tak kupungkiri rasa mabok ini sebenarnya masih menggelayuti badan, tapi demi melihat kebahagiaan suami pulang kampung, ya aku ikut. Lagipula mungkin di kampung nanti aku bisa curhat pada ibu tentang kesedihanku ini. Kuharap dengan berkumpul dengan orang-orang terkasih aku bisa lekas move on dari kehamilanku ini.

Detik-detik menjelang kedatangan Taksaka, tiba-tiba satpam stasiun mencegat kami di pintu masuk. Apa pasal? Tipi segede gaban itu masalahnya. Katanya terlalu besar dan melebihi kapasitas muat. Mau ga mau harus ditinggal. Hmmm...bingung kan? Kan? Kan?? Kubilang juga apa. Akhirnya Tipi tersebut dititipkan ke penitipan barang. Besok biar Mas Agung, saudara suami yang ambil buat dipindah ke Ekspedisi di Stasiun Senen. Ah...aku mah sebodo teuing...kan uda kusaranin jauh-jauh hari biar dipaketin sekalian sama kasur. Hoho...ngeyel sih :*

Tiba saatnya kami naik kereta. Hmmmm...baru sekalinya aku naik yang eksekutif kayak gini nih, heheheh...Ya jelas aja nyaman. Kursinya aja bisa dimaju mundurin. AC-nya ga sedingin yang kelas bisnis maupun ekonomi, dan di tiap-tiap kursi sudah disediakan bantal juga selimut. Sepanjang perjalanan suami banyak menghiburku dan membesarkan hati supaya di kampung aku tidak larut dalam kesedihan. "Pokoknya dedek berada di bawah lindungan tamas, ukey??? Dia mengelus kepalaku dengan sayang. 

Dua pekan berada di kampung, kami sepakat ganti-gantian tempat menginap. Dua hari di tempat mertua, dua hari di tempatku. Tiga hari di tempat mertua, tiga hari di tempatku. Begitu seterusnya. Biar adil gitu. Maklumlah tempatnya deketan. Cuma beda kabupaten tapi persis di perbatasan masing-masing kota. Tempat suami di Butuh, Kutoarjo, tempatku di Prembun, Kebumen. Jadi sama-sama enak. Bisa menikmati kebersamaan dengan masing-masing keluarga secara lengkap. 

Lebaran di 2 tempat yang berbeda membuatku sedikit banyak belajar hal baru. Kebetulan hari pertama dan kedua diputuskan untuk masuk ke lingkungan suami. Duh...yang aku kaget, sholat Ied-nya pagi banget. Sebenarnya 2 kali Lebaran sih ngalamin di sana. Tetep aja, ada efek lumayan aneh karena musti mandi jam 4 pagi dan setengah 6 sudah harus tiba di masjid. Walhasil aku rada ngantuk dan sedikit masuk angin karena suhu di kampung bener-bener duingiiinnnn. Sementara di tempatku biasanya sih jam setengah 8 baru mulai dan setelah bubar ada bagi-bagi sodaqohan (makanan yang dimasak warga buat dituker-tuker). Ini sih yang aku kangenin selama 2 kali ga lebaran di Prembun. 

Di tempat suami makanan kasnya tahu kupat. Di tempatku malah kali ini bikin bakso sama pepes nila. Terus kalau masalah muter silaturahmi, hmmmm.... lebaran kali ini lebih banyakan di tempat suami. Sedih sih, sementara di tempatku uda kelewat karena baru ke sana pas Lebaran ke-3 dan ke-4 dimana yang berkunjung uda makin sepi. Yang sama adalah pertanyaan atau basa-basi yang muncul waktu kami maen ke kerabat. Duh.....tetep ya yang ditanya : "Uda isi belum?" La la la.....

Guys kalau aku boleh teriak sambil nangis kenceng-kenceng si uda aku lakuin tuh... mang pada ga tau aku lagi dirundung kesedihan karena diagnosa dokter yang mengatakan bahwa aku bakal keguguran sewaktu-waktu???

Mang pada ga paham aku sedang digantung bab kehamilanku bisa selamat atau ga??? Pun flek yang ternyata ga datang-datang paska dinyatakan akan keluar setelah 4-5 hari dari kontrol ketiga???

Tapi aku cuma diam. Diam. Diam. Dan diam. Dalam hati, inilah saat aku harus berdoa sebagai hamba yang teraniaya akibat pertanyaan yang tanpa sadar bisa melukai orang lain itu. Untunglah, suamiku selalu berada di garis depan untuk melindungiku. 

Jika aku menjadi Brown...mungkin beginilah tampangku saat itu

Selagi di kampung, kami tak mau putus usaha. Kami ingin mencari second opinion dari dokter lain. Walhasil, surveylah kami ke RS yang dirasa cukup bagus di Purworejo, yakni RS Kasih Ibu. Ditemani dengan ibu dan suami, kami meluncur ke sana. Setidaknya buat jaga-jaga dan menenangkanku jika hasilnya tetap sama dan langsung kuretase di tempat. Yang ingin kupastikan lagi adalah kenapa belum ada flek juga sementara kata dokter yang pertama ketika janin dinyatakan sudah berhenti berkembang akan luruh dengan sendirinya disertai dengan flek atau pendarahan sejak seminggu yang lalu. Kedua kami masih mencari keajaiban, siapa tahu detak janin sudah ada.

Lama kami menunggu antrean panjang di lobi RS. Akhirnya tiba juga namaku disebut. Suami ikut ke dalam, karena biasanya kalau sudah berhadapan dengan dokter aku blank dengan apa yang seharusnya mau aku tanyakan. Nanti suami saja yang menjelaskan point-point hasil periksa sebelumnya. Setelah cerita ngalor ngidul gimana kronologinya, akhirnya dokter langsung mempersilahkan aku USG. Kali ini USG perut. Bukan TransV lagi seperti yang dilakukan kemarin-kemarin. Jujur aku malah jadi pesimis, karena USG perut ini kan tidak sejelas Trans V. Apa boleh buat, namanya juga usaha buat memastikan. Sebelum final benar-benar dilakukan kuretase aku harus memastikan janinku ada detak atau tidak. Ga mau kan kecolongan?

Lama perut ini diotak-atik. Dan....mungkin inilah yang disebut ujian naik kelas. Dokter kedua ini lebih banyak mengacu pada hasil dokter pertama. Meskipun dia punya 2 kemungkinan. Jika aku salah sebut tanggal mens, bisa jadi kehamilanku (sesuai USG masih normal yakni 8 minggu). Tapi jika aku yakin dengan tanggal mens terakhir, maka hasil USG tidak sesuai dengan umur kehamilanku yang sebenarnya sudah mencapai 12 minggu. Dia mengembalikan keputusan kami dan kembali ke dokter pertama, karena yang menangani kami dari awal adalah dokter pertama. Alhasil, sekarang kami ikhlas dan pasrah menunggu apa yang terjadi selanjutnya. 

Tanggal 25 Juli kami kembali ke Tangerang via pesawat. Kami tahu, minggu-minggu sangat riskan untuk pergi jauh-jauh dari dokter pertama.

Tindakan kuretase akhirnya menjadi jawaban. Semalam, tertanggal 29 Juli 2015, kami sepakat cek up sebab siangnya sudah kutemui spot-spot coklat dalam CD-ku. Meski sudah kuantisipasi akan hal ini, tetap saja rasa tegang hinggap menjalari. Bahkan alergiku kumat meski tak sampai parah ke sekujur tubuh. Kami berangkat pukul 8 malam selepas sholat isya. Dalam doaku, semoga ini adalah yang terbaik. 

Semula kami pikir paling habis kontrol, kutretase baru dilakukan 2 hari kemudian. Paling tidak Jumat saat Dsog ku praktek. Ealah dugaan kami salah, mengingat keadaan sudah genting paska usg trans v yang terakhir, akhirnya diputuskan besok pagi harus kuret. DEG !!!!! Kebayang dong gimana pucatnya aku sebab seumur-umur aku tak pernah rawat inap kecuali saat umur 5 tahun karena diare, heheee.. Ditambah lagi aku takut darah dan jarum suntik. Tapi setelah mendengar penjelasan dokter bahwa ini solusi terbaik supaya bisa lekas hamil lagi dengan keadaan rahim bersih, akhirnya aku buang jauh-jauh rasa takut itu. 

Malam itu juga sang suami tercinta sudah siap siaga pesan kamar. Segala bentuk administrasi diurusnya dengan tanggap. Aku diminta tenang dan jangan memikirkan yang tidak-tidak supaya proses operasi berjalan lancar. Sembari menunggu beres, aku digiring suster untuk diambil darah. Haaaaaa..... aku paling takut urusan beginian. Dalam hati terus kuucap Surat Al Ikhlas untuk meredam rasa tegang.

Saat diambil darah, aku sengaja tutup mata. Suster sampe ketawa karena polahku yang mirip bocah. Pas kuceritakan hal ini, tamas malah makin ngakak. Katanya aku cemen. Disedot darahnya aja mringis-mringis. 

Lalu kami menuju lantai atas. Tau ga? Ternyata malam itu juga aku musti bobok di ruang bersalin. Hmmmmm...1 ruangan ada 4 dipan. Awalnya sih kosong. Cuma gimana ceritanya kalau nanti ada pasien lain mau lahiran??? Bisa-bisa aku tegang karena denger orang mules-mules. 

Jam 10 malam, suster memberiku nasi goreng dan air minum supaya nantinya bisa menelan obat untuk membuka rahim. Suster bilang, jangan panik kalau nanti bakal mules dan pendarahan. Sebab memang itulah fungsi obat induksi. Hohooo...aku pasrah menantikan rasa melilit itu datang. 

Saat suami pamit ke bawah cari makan, tiba-tiba ada rombongan pasien lain masuk. Seorang ibu paruh baya yang sedang hamil besar. Sekelebatan kudengar ini kehamilannya yang kelima. Dan tanpa suami, sebab suaminya sudah tiada. Hanya ditemani ibu dan mungkin anaknya yang besar. Dalam hati aku bersyukur, sungguh suamiku selalu ada setiap saat dimanapun saat aku membutuhkan. 

Tapi, tunggu??? Duh.....gawat. Apa ibu itu akan melahirkan di sebelahku??? Aku sudah harap-harap cemas. Apalagi saat paramedis itu langsung melakukan tindakan dimana dari balik tirai aku harus mendengar suara mengejan. Untunglah itu cuma tahap persiapan untuk mengetahui kondisi dalam. Selanjutnya ibu itu pindah ruangan dengan diantar kursi roda.

Belum cukup lelap aku mencoba terpejam, rupanya dipan sebelah kiriku diisi lagi oleh ibu yang berbeda. Kali ini kasusnys pendarahan namun janin masih bisa diselamatkan. Hmmm...di bilik ini aku jadi fasih kasus-kasus kehamilan, heheee... Sayangnya karena rada berisik, akhirnya aku agak kurang bisa istirahat dengan tenang. Ditambah batukku yang memperparah suasana juga alergiku yang semakin gatal. Jam 1 an malam, dimana aku sudah mulai puasa untuk operasi besokannya, tiba-tiba rasa mulas yang luar biasa itu datang. Oh sudah tiba waktunya pendarahan, aku terus berdoa dalam hati.

Pagi-pagi saat pipis, benar saja darahku sudah membanjir. Suster datang dan memberiku infus. Huft lagi-lagi harus ditusuk sana-sini. Beginilah kodrat seorang wanita ternyata. Belum apa-apa, pengorbanannya sudah luar biasa. Lalu kudengar suster sedang bertelepon dengan dokter tentang kesiapanku untuk operasi. Sebelumnya aku disuruh buka semua dalaman dan ganti baju operasi yang pinggirnya cuma ditali. Lalu aku dikenai periksa dalam, dimana suster mengecek rahimku dengan jari supaya tahu apa sudah terbuka atau belum. Mungkin karena ga relax, suster bolak-balik kepayahan. Dia bilang supaya pahaku jangan tegang-tegang. Duh, gimana ga tegang, namanya juga lagi diobok-obok bagian bawah. Huhuhuhu......

Jam 8.47, aku dioper ke kereta dorong untuk dibawa ke bilik operasi. Rasanya udah kayak di film-film nih....orang-orang di luar sampe ngelihatin cuma aku pasrah aja bentar lagi mau dioperasi. Hmmm....tegang dan super tegang. Akhirnya suster malah ngajakin selfie biar aku relax dikit, hahaha....

Setelah diukur denyut jantung, tekanan darah, dan dipasang selang oksigen, dokter masuk beserta asistennya. Dua orang suster mengatur posisi pahaku agar mengangkang sempurna. Lagi-lagi aku merasa ga nyaman, sampe berulang kali suster bilang, yang relax aja ya pantatnya...huhahaaaaa. (maaf pantatnya susah diajak kompromi, sus). Lalu seorang asisten dokter memberikan bius total dalam infusku, hingga dalam sekejap aku tak sadarkan diri agar bisa segera dilakukan tindakan.

AJAIB!!!! Cukup singkat kuretase dilakukan. Mungkin hanya dalam hitungan menit dan tau-tau kereta dorongku sudah dipindah ke kamar lagi. Sisa kantuk masih menggantung, sementara sama-samar kulihat suster membawa plastik berisi jaringan yang tadi dikeluarkan untuk diteliti dan diambil Patologi Anatominya. Hasilnya akan keluar 7 hari lagi. Sambil menunggu kesadaranku pulih, suami beberes biaya administrasi.

Makin siang makin banyak pasien lain yang menyambangi kamar bersalin. Lalu Om dan Bulek suami datang membesuk. Sementara itu pula, tepat saat jam makan siang nasiku datang sebagai perantara minum obat. Tadinya nasi goreng lagi, tapi karena itu buat makan pagi akhirnya diganti dengsn yang baru yakni nasi putih, sayur buncis wortel, seiris daging juga jeruk. Suster juga memberiku 3 jenis obat yakni paracetamol, antibiotik, dan pereda nyeri dan pendarahan pasca kuret. Kutanya suster, berapa lama pendarahan yang akan terjadi? Katanya sekitar 3 sampe 7 hari. Awal-awal banyak tapi nanti akan reda sendiri seperti mens biasa. Benar juga sebab waktu pipis, darahku masih mengucur segar sampe-sampe aku tak berani menengok kloset saat menyiram. Ngeriii. Alhamdulilahnya sih ga sakit....

Setelah Om dan Bulek pulang, lalu 3 obat tadi sukses kutenggak, suster datang sembari mencabut segala macam atribut medis yang melekat dalam tubuhku. Aku dipersilakan memakai dalaman dan baju lengkap untuk bersiap pulang. Dengan dibantu kursi roda aku diantar ke lobi sampai mobil stand bye di depan. Alhamdulilah semua berjalan dengan lancar. Aku tahu, Alloh sangat sayang padaku dan tahu aku bisa melewati ini semua dengan ikhlas.

Aku juga berniat rehat dulu dari dunia kerja. Aku ingin kehamilan yang sehat di hari-hari ke depan. Tanpa stress, tekanan atasan, jauhnya kantor, polusi, asap knalpot, kemacetan, dll. Aku ingin kehamilan yang bahagia sehingga minim bahkan tak ada risiko. Doakan supaya kami cepat dapat ganti yang jauh lebih baik ya teman-teman.......Amiinn.


Artikel ini diikutsertakan dalam #GiveAwayLebaran yang disponsori oleh Saqina.comMukena Katun Jepang Nanida, Benoa KreatiSanderm, Dhofaro, dan Minikinizz

127 komentar:

  1. mungkin mba terlalu capek kali mba dengan pekerjaan nya bolehlah minta cuti dulu buat istirahat agar tidak menganggu kehamilannya nanti ,,,
    amiiiin mudah-mudahan cepet dapet gantinya ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukan mb, dokter bilang ga ada kaitannya dg kecapean, tp kemungkinan kegagalan kromosom saat pembuahan (wallohualam)aminnn semoga cepat mendapat ganti yg lebih baik

      Hapus
    2. Bukan cuti lagi mb, lagian pas itu juga aku dah sering ijin heheee
      bentar lg aku mlh resign ni

      Hapus
    3. oh begitu ya mba, semoga ajah secepatnya dapat penggantinya yang lebih baik lagi ...

      Hapus
  2. Mungkin bener tu kata mbak ipah terlalu capek, udah puasa di tambah kerja, (gak tau juga ci,...)
    Kesabaran mbak di bulan ramadhan thn ini bener2 di uji... Semangat "buat lagi...." hehe
    Minal aidzin walfaidzin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mmm..dokterku sih bilang bukan nur..kerja ma pola makan ga ada ngaruh ke situ.
      iya ni ujian naik kelas, amiiiiin

      Hapus
    2. Jempol deh buat mbak_nya.... :)

      Hapus
  3. Tuhan pun memberikan malam hari, agar kita ingat jika tubuh butuh waktu untuk diam, mba perlu istirahat, kasian.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hu um benar sekali mas, tubuh punya alarm sendiri ya

      Hapus
  4. Mungkin Tuhan punya rencana lain buat Mbak Gustiyanita. Insya Allah nanti akan diberikan yang lebih baik lagi nantinya. Tetap sabar Mbak dan jangan berhenti untuk meminta.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aminnn makasi mas atas doanya..

      Hapus
    2. Sama-sama Mbak. Kasusnya beda tipi dengan kakak saya yang kembar, bedanya kalau kakak saya bayinya sempat lahir. Namun takdir berkata lain.

      Hapus
  5. setelah membaca.. mungkin rehat dari dunia kerja adalah keputusan yang tepat. entah itu ada urusannya dengan kecapean atau enggak, rehat itu sudah tepat. menurut saya loh..

    BalasHapus
    Balasan
    1. That'S The point jev..
      itu keputusan finalku...

      Hapus
  6. Semoga dengan break bisa memperlancar kehamilan ya :)

    BalasHapus
  7. Insya Allah akan diberi ganti yang lebih baik, dan untuk mengganti, tempatnya harus dikosongkan dulu. Yang sabar.. Allah selalu tau yang terbaik untuk kita. Saya ikut mendoakan ^^

    BalasHapus
  8. akan mendapatkan dede bayi yang lebih baik dan lebih sehat, adik saya juga di kuret, selang 6 bulan sudah hamil lagi dan alhamdulillah bayinya sehat sekarang sudah usia 8 bulan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasi kak evrina....
      hmmm,...adeknya jauh lebih nyesek daripada aku ya kak..alhmdulilah setelahnya dapat ganti yg sehat

      Hapus
  9. insyaaAllah akan dikaruniakan yang lebih baik dan semoga sehat kedepannya.

    resign mungkin pilihan terbaik, biar fokus jadi ibu rumah tangga aja, apalagi dimasa-masa awal :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aminnn makasi mas ^___^
      Iya saat ni itulah fokusku..

      Hapus
  10. Amin, focus ke rumah tangga. jika gaji suami udah cukup buat apa kerja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mas djangkaru, kembali ke peran wanita asal

      Hapus
  11. semoga nanti Allah SWT berikan ganti lagi ya mba. saya juga pernah kuret saat hamil kedua :(

    BalasHapus
  12. Sabar dan ihklas ya nita dan suami. Insya Allah ada hikmahnya, dan segera dikaruniai dengan yg jauh lebih baik dan sehat lagi. Aamiin yra.. :*

    BalasHapus
  13. Allah tau yg terbaik buat kita, kita tidak tahu, semua sesuai dgn khendaknya, smga sgra dpt ganti yg lbh baik, salamke nggo bojomu ya, Sowam Fatchul Mubin, he3

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eh ni temen mas sowam kah??? Sudah disampaikan..
      Amiiinn matur nuwun atas doanya :)

      Hapus
    2. Hahahaa, iya mksh dh d smpekan, dah lupa to? tau ga dia dr spa?

      Hapus
    3. Setelah diterawang terawang, kayae ini ms tejo waluyo yaaaa heheheeee

      Hapus
  14. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  15. yang sabar yah mba,. pasti ada hikmah dibalik itu semua :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiiiin makasi y mas :) mohon doanya

      Hapus
  16. Mbakk Nitaaa ya Allah, aku kok pengen nangis ya baca ini. Cengeng banget aku ya mbakk :(
    Sabar mbak nita. Rehat dr dunia kerja, mungkin itu lebih baik ya mbak..
    Jangan down mba, tetep semangat ya. Allah pasti bakal ngasi yg terbaik buat keluarga mbak.
    Amin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Laaaan ga bisa berkata2...#needabighug..

      Hapus
    2. ya Allah, padahal di postingan ''contoh menu berbuka'' itu, aku udah yakin mbak bakal baik2 aja sama calon debaynya.
      Yang kuat ya mbak..

      #hug :(

      Hapus
  17. Insyaallah Allah akan memberikan terbaik mbak..percayalah..karena ALLAH Maha Sutradara :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mb dwi.., tetep smgt n positif thinking #injek jempolkaakiku mb biar cepet ketularan hihihi

      Hapus
  18. yg sabar ya mba :) semoga Allah cepat kasih kembali,aminnnn
    jadi mba mbul harus tetap semangattt \m/ ,dan ambil hikmah dari semua itu.

    BalasHapus
  19. Sedih banget nih ceritanya, tapi pas baca bait yang di obok-obok terus tegang gue malah jadi ketawa. Sabar ya mb Nita, Allah mungkin lagi kasih ujian, pasti akan ada hikmah dibalik semua masalah.

    Semangat, usaha terus, dan semoga bisa hamil dengan sehat. Amin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih ziz...doanya..
      iya bagian ntu yg plg menyebalkan hahahaaa, rada trauma juga tu periksa dalam

      Hapus
  20. mbakkkkk,, don't you know that you have the same story with me!!!!
    abis mudik lebaran aku langsung pendarahan hebat 5 hari abis itu pendarahan kecil hampir 2 minggu, aku uda hopeless, akhirnya ketemu dokterku dinyatakan positif keguguran di usia jalan ke 11 minggu.. tapi alhamdulillah aku gak pake kuret, cuma dikasih obat buat bersihin rahim aja.. krn aku tau kuret itu sebaiknya dihindari kalo gak saking mendesaknya.. semoga sehat selalu ya mbakkk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya alloh yu......sedih banget dengernya #pelukkkk...
      Mudah2an ini menjadi tabungan kita di akhirat nanti ya....
      dan segera pulih untuk mendapatkan ganti yg lebih baik....

      Hapus
    2. aamiin.. semangat buat kita :)

      Hapus
  21. MasyaAlloh semoga ikhlasnya semakin menambah, dapat gati yang terbaik. Aku juga lagi njalani kehamilan T Pertama..

    BalasHapus
  22. Amiinnn Mbak.. Jadikan pengalaman sebelumnya sebagai pembelajaran... Semoga mbak dan suami mbak segera punya bebi ya... :)

    BalasHapus
  23. sabar ya dengan ujian ini, Ikut mendoakan semoga segera ada penggantinya

    BalasHapus
  24. Sedih kak Nita.. aku gakuat baca seluruhnya. Ini cobaan mba, semoga cepat-cepat ada penggantinya dan semoga aja anak kembar :).. ah jadi iri sama yang udah nikah ._.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiiin nurul....makasi uda didoain yg baik2...

      Hapus
  25. wah gak nyangka seberat itu purjuanganmu mbak nita..

    coba deh mbak waktu hamil pulang kampung, mungkin bakal lebih baik, kondisi lingkungan kota ama dikampung mungkin lebih sehat dikampung..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hmmm...ga mau di kampung mat, heheee...
      Kn maunya brg suami

      Hapus
  26. Tetap sabar dan semangat.
    Semoga Tuhan memberi yang lebih baik
    Salam hangat dari Jombang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasi pakdhe
      slm hangat dari tangerang :)

      Hapus
  27. semoga segera mendapat gantinya kak. aamiin... tetap semangat dan berusaha!

    BalasHapus
  28. mungkin orang lain bisa mulia dengan banyak amalnya,dan mudah mudahan kita punya bekal dengan sabarnya :-)

    tetap semangat yaaa

    BalasHapus
  29. Baca tulisan ini berasa kyak lg baca novel kak, detail banget.. Tapi kalimat yg dipake juga enak, jd gak ngebosenin, berasa novel bangetlah! Asiik pokoknya! :D

    Untuk menjadi seorang ibu emg butuh perjuangan yg keras ya :( Tinggal 5 atau 6 tahun lagi mgkin aku akan mrasakan yg namanya nikah, trs pnya anak... Ahhh.. Takut:( Tapi pnasaran jg._. Baca ini nambah deh ilmu ku soal kehamilan, jd gak kaget2 amat nantinya. Hehe..

    Yaa.. Mungkin ini memang udah jalan yg terbaik kak, mungkin sebentar lagi Allah akan memberikan penggantinya.. Aamiinnn.. Memang kalau hamil itu ga boleh capek kak, tante aku jg wktu itu prnah keguguran krna dia msh kerja, stlah resign dri pkrjaannya dan rehat dirumah, Alhamdulillah bsa hamil lagi :) Mudah2an Kak Nita juga begitu ya:)
    Semangat kak! Jangan bersedih lagi! :)

    Suaminya juga soswit bangeet... Aku jd trharu:') dimasa2 sulit sprti itu suaminya slalu ada untuk menemani dan melindungi.. So sweet :'( Pas awal2 baca sedih, tp pas udah mau ending2nya malah kocak banget wktu prsiapan mau operasi, wkwk.. Ikutan tegang loh pas baca menjelang operasi, apalagi pas di obok2 sm suster..... Hahahaa..
    Oya itu pas pendarahannya kyak mens gtu kak? Apa ini lebih parah? Duh, maap nanya nya bgtu.. Abisnya pnsaran:(
    Kak Nita dari Tanggerang? Kalo gitu salam hangat dari anak planet Bekasi! :D Hahaa..

    BalasHapus
    Balasan
    1. hay lulu, salam kenal juga ya ^________^
      hihiii makasi makasi, ini padahal isinya curhatan banget...

      aminnn moga-moga seperti tante lulu ya :)

      Nah, emang pas menjelang operasi banyak kejadian kocak yang aku alamin sampe-sampe jadi ide buat tulisan...

      Sama kayak mens cuma kadarnya lebih banyak dan darah merah seger...bukan gumpalan lagi...
      duh ngeri ya bahasanya..

      salam hangat juga dariku...:)

      Hapus
  30. sabar ya mbak..mungkin blum rejekinya...smoga lekas dikasih lagi...:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mb...mungkin bebynya blum jodoh :(
      Amin makasi mb ningrum atas doanya ^___^

      Hapus
  31. Sedih aku bacanya, Mak. Yang sabar, ya. Pasti akan ada dede pengganti. Dan dede yang sudah tiada, kini sudah bersama Allah. Dia menjadi tabunganmu di akhirat kelak, Mak. :')

    BalasHapus
  32. Keep strong kak Nitaaaa '-'9
    Semoga cepat dapet pengganti yang lebih baiikkk :)) Yang penting kakak sehat sehat aja sekarang. Semangatttt :)) \m/

    BalasHapus
    Balasan
    1. #huugg
      iya nis tetep semangad !!! Amiiinnn

      Hapus
  33. Gue baru baca nih. Panjang banget. Ngeri banget ngebayanginnya. Duh, jadi mellow gini. :(
    Ini tulisan yang dimaksud, ya?

    Ya, Allah. Jadi inget pas adik gue meninggal. :')

    Tetap semangat. Semoga segera punya momongan di kemudian hari. Aamiin. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya nih, maklum lagi sedih sedihnya jadi panjang bgt penjabarannya

      hmmm moga adikmu tenang di sisiNya ya :)
      smangattt 'bikin lagi' ehhh apaan ni hahahhaa

      amiinn

      Hapus
  34. Duh....

    Insya allah akan ada dede pengganti. Yang sempat hadir sekarang jadi tabungan orangtuanya di akhirat nanti mba

    BalasHapus
  35. Wah, good storystory, Iya, aku doain ya kehamilannya lancar, sehat. Aminnn

    BalasHapus
  36. Nita turut berduka ya u.u sedih... dalam bulan ini aku membaca 3 kasus keguguran dari teman-teman blogger, padsahal ini baru tanggal 3. Yang sabar ya~ (aku gak tau mau ngomong apa lagi)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyak kak dwee...inshaalloh sabar, amiiin :)

      Hapus
  37. Ikhlas ya mbak nita, Allah punya rencana lain yang lebih baik untuk mbak nita dan keluarga

    BalasHapus
  38. Gusti... baru baca berita tentang ini..peluuuukk :* :*

    BalasHapus
  39. alhamdulillah...yang di tunggu datang juga...selamat ya mbak...

    BalasHapus
  40. sabar yaa mba :) allah punya rencana yang lebih indah dari ini :)

    BalasHapus
  41. ikut prihatin, mak. semoga diberi ganti yang lebih baik oleh alloh. amin. yang sabar ya, mak

    BalasHapus
  42. Wah syukur yah, semoga lahirannya lancar yah....

    BalasHapus
  43. Kita hidup di dunia ibaratnya sebagai peran atas sebuah lakon. Dan Allah-lah pembuat skenario hidup kita. Kita tidak tahu akan seperti apa rentang perjalanan yang akan kita lalui. Sabar, ikhlas dan berdoa sambil berusaha adalah cara kita menghadapi sebuah keadaan, apapun itu. Saya malah dua tahun menikah baru isi, skrg anak sy sdh 10 tahun usianya dan belum isi lagi. Banyak pertanyaan kenapa kok gak hamil lagi, kenapa kok cuma punya anak 1, dll...nyesek klo ngurusin pertanyaan2 itu. saya hanya bisa pasrah dan menjalani semuanya dengan ikhlas dan sabar, karena hidup saya Allah-lah yang mengatur. Yang sabar ya mba semoga cepat diberi momongan...amin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget mb, ga akan ada habisnya kalo nurutin perkataan orang...
      Hidup kita Alloh yang tentukan
      mau dikasih cepet atau ga itu hak Alloh...:)
      Inshaalloh sabar mb, makasih doanya :)

      Hapus
  44. duh, ikut sedih. sabar ya. semoga lekas diberi amanah u bs hamil kembali, aamiin.

    BalasHapus
  45. ikut sedih Mbak. Kehamilan pertama saya juga enggak berhasil, alias keguguran. faktor kecapekan yang menjadi penyebabnya. tapi apapun itu, itu adalah ujian Allah. Tenangkan pikiran, dan sabar. insha Allah, biasanya cepat isi lagi kalau kuretnya bersih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak #pelukk
      Inshaalloh sabar,
      Amiiin doanya :)

      Hapus
  46. Sabar aja yah, mbak.
    sepertinya gak mudah bikin bacaan panjang ini..

    Tetap semangat!

    BalasHapus
  47. ikut sedih bacanya...mudah-mudahan segera di beri rejeki hamil lagi dan sehat sampai melahirkan..Amiinn

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih mba Widhi :))
      Amin semoga doa tersebut diijabah Alloh

      Hapus
  48. yaampun baca ini ampe terakhir, aku ikutan ngilu :(

    Nggak kebayang sakit dan sedihnya gimana. :(


    Semoga nanti diberi rejeki hamil lg dan punya dedek bayi ya mbak, jadi bisa melengkapi kebahagian keluarga kecilmu ({})

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mita, makasi ya doanya :)

      Mpe sekarang aj masih trauma ke rumah sakit lo aku

      Hapus
  49. Aku bacanya sampe lemes, Mak *mewek
    Semoga cepet digantikan yang terbaik ya Mak setelah ini..

    Makasih udah ikut #GiveAwayLebaran, main2 ke blogku juga ya Mak..

    =Dee=

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ammiin mak doanya:))
      Hihi iya mak dee, tp ini ceritaku melow melow sesuai ga ya ma tema cerita GA nya?
      Ditunggu pengumumannya ya mak
      Siiip siapp2 meluncul maen.

      Hapus
  50. alhamdulillaaaah Allah kasih kesempatan untuk ketemu dengan yang bernasib sama. Saya juga ngalamin mbak, kata dokter janin nya ga berkembang. Udah tiga hari pendarahan terus, kayak darah haid. Beberapa bilang itu udah keguguran, tapi kata dokter cek dua minggu lagi.

    Huhuuhu lagi debar-debar nunggu hasilnya... klo ga bisa dipertahankan ga apa sih, pasrah aja. Cuma sekarang takut bangeeet dengar kuret kuretan ituuu. Pengennya pake obat aja

    Thank you for sharing yaaa duuh jadi curhat kan ya XD

    BalasHapus
  51. hiikkss, sedih bacanya :(
    semoga segera hamil lagi yaaahhh, Aamiin

    BalasHapus
  52. Semangat mbaa....
    saya juga sempat kuret, bahkan 2x. Alhamdulillah sekarang hamil ke-3. Semoga segera diberi pengganti momongan yang shalih/shalihah :)

    https://anyseptiani.wordpress.com/

    BalasHapus
  53. Semangat mbak.. aku juga pernah ngalamin kaya mbak, dua kali malah :) .. blighted ovum kalau istilah dokter.. dan memang biasanya dokter akan nunggu sampai minggu ke 10-12 baru melakukan kuretase, meski sejak awal minggu sudah terdeteksi ada kelainan kromosom itu..

    Insya Allah, terus berikhtiar ya mbak.. aku hamil ketiga baru sukses, itu pun di awal juga pake acara spot, bleeding, dan di USG malah nggak nampak janinnya, cuma ada kantong rahim... alhamdulillah pas minggu ke 10 janinnya keliatan :)

    Oya, waktu itu aku dibisikin teman untuk berpuasa selama seminggu berturut2, dan setelah magrib baca asmaul husna yang ya mushawiru (sang maha pembentuk) 100x.Namanya ikhtiar ya dicoba aja.. pikirku waktu itu, tapi alhamdulillah Allah ijabah.. selang sebulan setelah kuretase yang kedua, aku positif lagi dan lancar sampai 9 bulan...

    Tetap semangat ya mbak!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huaaaaa makasih mb, sarannya, akan aku cobs, smangaaad

      Hapus
  54. Lagi gugling kantung kehamilan tidak bulat tiba2 dimari. Jadi baca kisahnya
    *pelukkkkkkkkkkkkkkk

    BalasHapus
  55. ah..tante Mbul.. aku baca yg ini akhirnya. :(

    ikut sedih..

    sabar ya tante, insya Allah jadi tabungan di akhirat sana. dan semoga, di tengah-tengah kalian, akan segera hadir makhluq mungil nan lucu dan menggemaskan itu. aamiin.. :)

    BalasHapus
  56. Sy jg begitu bun.. sedih banget.. sy hamil 9w1d dan flek kluar dluan bru sy cek k dokter ada janin tp denyut jantung tdk ada.. sdh k 3 dokter.. sedih sx rsanya.. Smua ada hikmahnya.. Tuhan selalu berikan yg terbaik..
    Apakah mmg dipastikan krn kromosomnya? Soalnya sedih sx..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tetap semngat yuk bund, mari kita saling menguatkan, yakin Yang di Atas telah menyiapkan skenario yang terbaik untuk hidup ini

      Yang terpenting tetap ikhtiar dan berdoa, begitu pula denganku amin
      Semoga kita segera diberikan apa yang kita inginkan selama ini, amiiin

      Hapus
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...