Sabtu, 25 Juni 2022

Siang-Siang Mbul Menikmati Indahnya Bangunan Berarsitektur Belanda



Assalamualaikum wr wb......

Hari sudah di penghujung siang menuju pukul 12.00 WIB. Matahari bersinar terik di atas Kota Solo. Kami tidak langsung pulang, tapi mampir dulu ke suatu tempat yang bisa dibilang penuh sejarah. Sebenarnya ini adalah agenda dadakan. Tapi tak mengapa. Sebab, kaki ini sudah terlanjur dibawa ke Kota Solo, kalau tidak putar-putar kota rasanya kok rugi, hehe. Maka, tujuan pertama yang akan kami datangi adalah Gedung Djoeang 45 yang terletak di Jl. Kapten Mulyadi No.113, Kedung Lumbu, Kec. Ps. Kliwon, Kota Surakarta, Jawa Tengah 57133. Depannya banyak stand kuliner juga loh. Tapi kami ga mampir.



Saat tiba di sana, Bapak Satpam memberitahukan bahwa tiket masuknya itu harus melalui kedai Gelatoku yang ada di depan Gedung Djoeang 45-nya. Karena masih dalam suasana puasa, maka praktis yang bisa makan gelato cuma Kakak A. Mas Montogh ga doyan sih, soalnya diicipin juga nda mau. Jadilah yang mam cuma Kakak A. Nah, untuk tiket gelato yang orang dewasanya akhirnya sama Mas dikasihkan ke Pak Satpam aja, nanti begitu buka puasa bisa diambil. Pak Satpam pun langsung senyum sumringah dan mengucapkan matur suwun berkali-kali walau pas milih rasa gelatonya ini lumayan bingung ya karena banyak pilihan. Tapi untuk Kakak A, Mbul pilihkan yang warna biru, soalnya dia ga mau yang acem-acem, sedangkan yang rasa lain kebanyakan buahnya acem hohoho.

Gelato is the Italian word from frozen. Ice cream uses cream, gelato uses milk. it has smoother texture and warmer feeling than ice cream. Gelato also has less fat and more intense flavor such as cokelat kacang, black hawaii, creambrulle, salted caramel, dark choco, black forest, cheese cake, coffee, green apple, ovo crunchy, bubble gum, mint, lychee berry, vanila, yakult, wild berries, kiwi, mangga, strawberry, matcha, durian, cookies ice cream, ginger passion, and lotus biscoff.





Perbedaan Ice Cream vs Gelato vs Soft Serve Vs Frozen Drink vs Custard

Ice Cream : 20% cream, 10% milk
Gelato : more milk than cream, 5-10% less milk fat warmer temperature dense, soft and glossy
soft serve : 20% cream, 10% milk high air incorporation, smooth and light
frozen drink : syrup/flavoring water carbonated or noncarbonated creamy frozen liquid
Custard : 20% cream, 10% milk egg yolk high air corporation dense and thick




Tapi selain gelato, di sini juga ada menu makannya juga loh. Seperti chicken karage, chicken wings, chicken tempura, kentang goreng, sosis, chicken tempura, original nugget, dll. Harga bervariasi antara Rp 15 ribu-30 ribu. 

Oh ya, menariknya Kedai Gelatoku ini adalah di depannya itu ada kereta kencana warna emas loh. Ini ngingetin aku sama kereta labunya Cinderela hehehe. Tau aja Cinderelanya mau datang, jadinya udah disiapin deh kereta kencananya di depan hihihi. Habis pesan gelatonya Kakak A, kami pun masuk ke area dalam. Namun sebelum sampai di pelataran Gedung Djoeang 45-nya, kami harus melewati beberapa bagian ruangan yang unik banget desainnya. Ada bagian untuk duduk-duduk dengan bunga hias di sekelilingnya, patung rusa, gambar pemain bola dari berbagai negara, sampai bagan berisi pengetahuan seputar sejarah Serangan Umum di Surakarta.





Mbul kisahkan bagaimana urutan peristiwanya ya. Serangan Umum Surakarta atau biasa disebut Serangan Umum 4 Hari berlangsung dari tanggal 7-10 Agustus 1949. Serangan ini dilakukan secara gerilya oleh para pejuang, pelajar, dan mahasiswa. 

Berdasarkan catatan Sejarah, serangan ini digagas di Kawasan Monumen Juang 45, Banjarsari, Soli. Untuk menyusun serangan, para pejuang berkumpul di Desa Wonosido, Sragen. Nah, mereka yang melakukan serangan bergabung dalam Detasemen II Brigade 17 Surakarta yang dipimpin oleh Mayor Achmadi. Serangan ini dilakukan dari 4 penjuru Kota Solo. Rayon I dari Polokarto yang dipimpin oleh Suhendro, Rayon II dipimpin oleh Sumarto, Rayon III dipimpin oleh Prakoso, Rayon IV dipimpin oleh Komandan A. Latif, dan Rayon Kota dipimpin oleh Hartono. Menjelang pertengahan pertempuran, Slamet Riyadi dengan Pasukan Brigade V/Panembahan Senopati turut serta dan menjadi tokoh kunci dalam menentukan jalannya pertempuran.





Hari Pertama (07 Agustus 1949)

Dimulai pada pukul 06.00 pagi. Pasukan SWK 106 Arjuna telah menyusup dahulu dan mulai menguasai kampung-kampung dalam kota Solo. Ketika waktu ditetapkan telah tiba, pasukan TNI yang telah masuk kota menyerang dari semua penjuru, memaksa Tentara Belanda terkonsentrasi di markas-markas mereka. Serangan itu meliputi Markas Komando KL 402 Jebres, sebuah pos di Jurug, Kompleks BPM Balapan, serta markas Artileri Medan di Banjarsari. 

Pertempuran berlangsung hingga malam hari. TNI membantu serangan dengan memasang berbagai rintangan di jalan-jalan, namun Belanda mencium rencana itu kemudian menangkapi orang-orang yang ada di sekitarnya. 26 orang termasuk wanita dan anak-anak berhasil ditangkap pihak Belanda. 10 laki-laki termasuk seorang anggota TNI/TP, 6 orang wanita, dan 8 anak-anak. Pada saat itulah pasukan dari SWK 100-105 mulai dikerahkan untuk membantu serangan hari pertama dengan sasaran seluruh Kota Solo dan Letnan Kolonel Slamet Riyadi mulai memegang komando menggantikan Mayor Akhmadi. 








Hari Kedua (08 Agustus 1949)

Tembakan pasukan ini semakin memperkuat serangan SWK 106 yang intinya DENTP Brigade XVII. Akibatnya pasukan Belanda semakin terdesak karena pasukan dari Brigade V menyekat kekuatan lawan dan menghambat bantuan lawan dari luar Kota Solo. Konvoi Belanda dari Semarang bahkan tidak dapat memasuki Kota Solo karena dihambat oleh pasukan TNI di Salatiga. 

Untuk membantu pasukannya yang terjebak di Solo, Belanda bahkan mulai mengarahkan 2 serangan dan 4 pengawas P-51 ditambah pasukan para yang diterjunkan ke Lanud Adi Soemarmo sekarang. Tapi bantuan ini gagal mengubah arah pertempuran dimana tentara Belanda di Solo makin terkepung dan hampir seluruh bagian Kota Solo dikuasai oleh TNI.














Hari ke-3 (09 Agustus 1949)

Belanda semakin gencar membalas serangan dibantu KST (Korps Spesiale Troepen) menembak setiap lelaki yang dijumpainya. Dalam peristiwa ini, seorang Komandan regu seksi 1 kompi 1 Sahir gugur di Pertempuran Panularan. 

Atas perintah Komandan Wehrkreise 1 Brigade V, Letnan Kolonel Slamet Riyadi, TNI melaksanakan serangan perpisahan, menandakan akhir masa serangan umum 4 hari. Pertempuran itu terus berlangsung hingga tengah malam, menjelang dimulainya masa gencatan senjata pada pukul 00.00 tanggal 11 Agustus 1949

Sementara itu, pihak Belanda sebagai pembalasan atas tewasnya 2 anggota KL pada hari yang semestinya sudah berlaku gencatan senjata yaitu pukul 11.00 memaksa keluar rumah banyak penduduk laki-laki maupun perempuan untuk kemudian membantainya dan membakar rumah merek dengan alat penyembur api. Peristiwa ini terjadi di sekitar Pasar Nangka. Tercatat sebanyak 36 nyawa melayang termasuk 5 wanita dan seorang bayi.










Hari keempat (10 Agustus 1949)

Serangan hari keempat ini berhasil menguasai seluruh wilayah kota. Letnan Kolonel Slamet Riyadi selaku komandan Wehrkreise I (Brigade V/II) memerintahkan mayor Akhmadi selaku Komandan SWK 106 untuk menarik seluruh pasukan ke garis tepi kota. Sebagai pelaksanaan gencatan senjata. Tapi pada kenyataannya tidak secepat itu berlangsung aman. Karena masih terjadi beberapa insiden yang menyebabkan pertempuran. Satu di sebelah timur Gapura Gading (baku tembak dari arah Pos Belanda ke 2 anggota TNI yang 1 diantaranya gugur. Insiden ini bermula dari upaya Belanda yang mencoba menambah pasukan Khusus Baret Hijau atau KST tanpa mengindahkan mulai berlakunya gencatan senjata. Pasukan yang dikenal kejam ini pada sekitar pukul 02.00-03.00 dini hari justru melakukan pembantaian di markas PMI wilayah Gading. Adalah Kediaman Dr Padmonegoro, Ketua PMI Cabang Surakarta yang menjadi sasaran serangan itu yang saat itu menjadi tempat mengungsi sebagaian penduduk. Kekejaman baret hijau Belanda ditunjukkan dengan membantai para pengungsi dengan cara menyembelihnya. Tercatat sebanyak 14 petugas PMI gugur dan 8 orang pengungsi tewas. Sementara 3 orang lainnya yang menjadi korban penyembelihan tidak sampai tewas.

Wow! Mbul pun tercengang! Akhirnya Mbul jadi belajar sejarah lagi khususnya tentang Sejarah Masa Perjuangan di Surakarta dulu #mendadak mengingat buku IPS. Dulu Mbul tiap diwulang IPS sejarah bukannya ngantuk tapi semangat hehehe.

Usai mendapat pelajaran berharga tentang sejarah kronologi serangan umum di Surakarta, kami pun melanjutkan perjalanan di area belakangnya Gedung Gelatoku ini yang merupakan Gedung Djoeang 46-nya. Saat itu memang sepi banget. Mungkin karena masih puasa. Tapi ga masuk gedungnya sih. Hanya duduk-duduk di area luarnya sambil menikmati indahnya bangungan gedung yang berarsitektur Belanda. Gedungnya sendiri memanjang mengelilingi sebuah hal yang cukup luas. Lantainya ada 2. Dan di bagian sayap kiri itu ada tangga dimana bagian dinding bawahnya khas banget dengan model bangunan jaman dulu. Ada batu alamnya yang kini dicat hitam putih. Tangganya sendiri marmer cokelat dan pinggirannya hitam. Lalu ada semacam pintu yang berbentuk lengkungan berjajar. Daun jendela dan pintunya juga khas arsitektur Belanda yang memang bentuknya tinggi-tinggi. Sedangkan pelatarannya ada beberapa bagian yang sudah dipasangi rumput sintetis. 



















Sambil menanti Kakak A menandaskan es krimnya, kami pun menikmati keindahan gedung ini sembari duduk atau keliling sebentar. Sesekali menandangi permintaan Paman kami yang kala itu tugas menyetir untuk berpose diantara megah dan misteriusnya Gedung Djoeang 45. Baru setelahnya kami ke Museum Keraton Kasunanan Surakarta.

8 komentar:

  1. cantik dan menarik tempatnya mbak mbul, pasti biasa jadi tempat prawedding ni

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya betul mas fajar, suasana kota solo memang indah dan cantik sudut sudut kotanya, kultur budayanya sangat kental 😊

      Hapus
  2. bisa dapet pelajaran sejarah gartis nih dari postingan mbak mbul :D,

    bagus banget bangunanya, foto-foto disitu layaknya cocok banget mbak :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. xixixiix ngulang nginget inget pelajaran sejarah pas masa penjajahan Belanda ya nif

      kebayang waktu itu ngeliat cerita di atas pas serangan 4 hari itu pasti mencekam apalagi yang baret hijau

      iya nif, bagus banget. Mana sepi lagi. Cuma karena siang jadinya masih panas. Kalau di Jepara ada bangunan menarik apa nif?

      Hapus
  3. menarik bangunan nya...saya suka gelato yang asem-asem..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbul juga suka gelato kak...baik yang manis maupun asem. Sayang pas ke situ Mbul lagi puasa hihihi

      Hapus
  4. Bagus museumnya mbul...Cuma aku belum pernah kesini..Apa mungkin museumnya udah direnovasi ulang kali yee Biar kesan sejarahnya ada dan tetap bisa dikenang.😁😁

    Itu es krimnya gratis mbul...Boleh dong kirim2 buat gue..🤣🤣🤣

    BalasHapus
    Balasan
    1. kayaknya ada beberapa bagian yang dah direnovasi kang...tapi tetep kesan aura Belandanya terasa...

      es krimnya bayar atuh 😂

      Hapus