Kamis, 04 Juni 2020

Cerpen Majalah Bobo Jadoel Tahun 90-an yang Paling Membekas di Hatiku


Oleh : Gustyanita Pratiwi

Seperti yang sudah sering aku bilang di blog ini bahwa aku adalah termasuk generasi 90-an yang sangat menggemari Majalah Bobo. Saking terlampau gemarnya, aku bahkan masih ingat beberapa judul ceritanya, baik itu dongeng, cerbung, maupun cerpennya. Cergam singkatnya seperti Keluarga Bobo, Oki dan Nirmala, Dombi dan 3 Kurcaci, Kisah-Kisah Gogori si Anak Petani, Pocil, Paman Kikuk, Husin, dan Asta, Juwita dan Si Sirik, atau Bona dan Rong-Rong juga aku suka. Tapi itu ntar lah aku ulas kapan-kapan. Sekarang saatnya aku mau ngulas cerpen-cerpennya dulu, especially yang paling membekas di hatiku. Sebelumnya kan aku sudah pernah ngulas dongengnya ya. Nah, sekarang giliran cerpennya. Menurutku ya, selain cerita dari si cerpennya bagus, aku juga suka sama ilustrasinya. Terutama untuk Bobo yang tahun-tahun 90-an, antara 1990-1999. Paling sukanya sih di cerpen Bobo yang 1995, 1996, dan 1997. Ntah kenapa feelnya itu dapet banget (di aku).

Nah, lalu list cerpennya apa saja. Berikut aku sarikan dengan singkat-singkat saja ya. Siapa tahu ada yang ingat juga dan barangkali ada yang mau bernostalgia, hehe...#GustyanitaPratiwi


1. Antara Bayangan dan Kenyataan, Widya Suwarna, Majalah Bobo No. 41, 16 Januari 1997

Liburan Cawu 1 kali ini Anik berencana pergi ke Jakarta untuk menginap di tempat kakaknya Endah yang sedang kuliah di sana. Sebelumnya Anik membayangkan nanti ia akan mengunjungi kontrakan Kak Endah yang ia kira sangat megah seperti yang terlihat dalam foto. Soalnya di foto yang ia perlihatkan kepada sahabatnya Nuni dan Ida, di sana Kak Endah terlihat berpose dengan bermacam-macam gaya dengan background rumah mewah. Ada yang berpose di dekat kolam renang, ada yang di dapur dengan kitchen set cantik, dsb. Pokoknya ia tak sabar ingin segera sampai di tempat Kak Endah dan akan berfoto seperti itu.

Dengan ikut Mang Udin yang merupakan pedagang jeruk di kereta Jurusan Karawang-Jakarta, Anik dipesani ibu supaya nanti turun di stasiun Kemayoran. Sebelumnya ia dibawakan bekal berupa wajik dan dodol untuk dimakan sama-sama di tempat Kak Endah. Di kereta ia ditinggal sendiri karena Mang Udin harus menjajakan jeruknya. Tapi, sebelumnya ia dikasih 4 buah jeruk sebagai obat haus selama perjalanan.



Tak lama kemudian, sampailah ia di Stasiun Kemayoran. Namun, seolah tak mengenali sosok yang menjemputnya Anik melihat Kak Endah dengan penampilan tak biasa. Ya, Kak Endah ternyata berjualan jamu di sela-sela aktivitas kuliahnya. Lumayan bisa buat menambal biaya hidup dan kuliah sehingga ayah tak perlu lagi mengiriminya uang. Belum habis rasa herannya, Anik bertambah kaget lagi karena Kak Endah mengajaknya ke kontrakan yang sama sekali lain dari bayangannya. Ya, kontrakan Kak Endah letaknya di perkampungan padat penduduk dan masuknya harus melalui gang-gang kecil. 

Ternyata yang ada di foto selama ini adalah rumah temannya yang pada waktu itu sedang mengadakan pesta ulang tahun. Jadi Kak Endah diminta datang untuk membantu masak-masak. Selain berjualan jamu, Kak Endah juga aktif membikinkan pesanan souvenir untuk nikahan orang. Wah, dalam hati Anik kagum juga pada kakaknya yang terampil dan pandai memanfaatkan peluang.

2. Mamaku Pengantar Koran, Widya Suwarna, Majalah Bobo No. 2, 18 April 1996

Tidak seperti biasanya Ami pulang cepat karena guru-guru ada rapat di sekolah. Karena lapar dan Mamanya tidak kelihatan makanya ia pingin mencari sesuatu yang sekiranya bisa dimakan (padahal biasanya kalau sedang pergi-pergi Mama akan menuliskan pesan di papan tulis yang digantung di dinding). Ah, mungkin Mamanya sedang pergi sebentar. Ia pun segera membuka tudung saji dan di sana cuma ada nasi, kering tempe, dan telur dadar. Jadi ia putuskan untuk beli kolak saja di tempat Mbak Ipah yang berjualan di depan rumahnya.


Di saat Mbak Ipah sedang membungkuskan kolaknya, tiba-tiba di ujung jalan Ami menjumpai sosok wanita yang berpenampilan layaknya ABG dengan mengayuh sepeda mini dan beberapa lembar koran di keranjangnya. Sosok itu tak asing baginya karena dia adalah Mamanya. Terkejut sang mama menjadi pengantar koran, Ami pun langsung tak selera memakan kolaknya. Di rumah ia ngambek dan protes kenapa mamanya menjadi pengantar koran. Ami terus terang malu akan hal itu. Tapi dengan sabar dan penuh keibuan Mama pun menceritakan alasannya. Bahwa ia baru saja merintis usaha agen koran. Memang awal-awal ia sendiri yang akan mengantarkan. Tapi nanti, jikakau sudah maju, mungkin ia akan memperkerjakan orang lain. Lagian jadi pengantar koran itu kan halal. Malah karena korannya berbahasa asing, Mama pikir ia akan ada andil untuk membiasakan orang dalam berlatih bahasa Inggris. Tidak ada yang salah dengan menjadi pengantar koran kan? Mendengar hal itu, Ami pun seolah tersadar dan membenarkan perkataan Mamanya. 

3. Biskuit Ika, Widya Suwarna, Majalah Bobo No. 29, 24 Oktober 1996

Bercerita tentang seorang anak SD bernama Ika, dimana setelah pulang sekolah ia bertemu dengan tantenya yang bernama Tante Tutik di sebuah halte bus. Sang Tante yang kebetulan habis kursus dan berbelanja di supermarket akhirnya memberinya oleh-oleh berupa 2 biskuit (satu rasa stroberi dan satu rasa cokelat). Katanya, biskuit itu harus dibagi rata sama Eko, adiknya, walaupun kenyataaannya Ika sempat berbuat serakah dengan menyimpan 1 biskuit cokelat tanpa memberi tahu adiknya, dan membiarkan biskuit stroberinya dimakan berdua. Baru ketika secara tak sengaja ia mendapat tamparan keras tentang arti penting nilai berbagi dari 2 orang pemulung di halte bus usai iabelajar kelompok di tempat temannya, Ika pun tersadar akan sifatnya itu. Ia pun ingin segera membagi biskuitnya yang satu lagi agar bisa dimakan bersama adiknya begitu tiba di rumah dan berniat untuk tidak serakah lagi.


4. Catatan Belanja, Wahyu Noor S, Majalah Bobo No. 43, 1 Februari 1996

Bercerita tentang kekesalan Nila saat menemani temannya Asri belanja. Bagaimana tidak kesal, Asri anaknya sungguh pelupa. Apa yang mau dibeli tidak dicatat dulu dari rumah. Jadilah sesampai di pasar malah beli macam-macam yang sebenarnya tidak penting-penting amat. Ya beli vas bunga plastik lah, jepit rambut lah, juga jajan bakso tenis dan es degan manis sambil sekalian mentraktir Nila juga. Eh, ternyata ada sesuatu yang kelupaan yaitu kaos kaki putih yang harusnya dibeli supaya pada saat upacara bendera nanti dia tidak disetrap. Akhirnya besokannya dia musti balik lagi ke pasar, dan kebetulan bertemu dengan Nila lagi yang kali ini pergi bareng Adiknya Sita. Mereka kebetulan ada keperluan belanja peralatan menggambar untuk Sita. Berbeda dengan Asri, cara belanja Nila lebih terencana, yaitu dengan menuliskan catatan dulu sehingga pada saat sudah sampai di pasar tidak belanja yang aneh-aneh. Dari situ Asri pun berniat untuk mencontoh Nila.


5. Salahnya Inu, Majalah Bobo No. 15, 18 Juli 1996

Bercerita tentang Inu yang akan menghadapi ulangan setelah bel istirahat pertama. Celakanya, semalam ia malah ketiduran setelah menonton sinetron si Doel Anak Sekolahan yang ditayangkan di TV. Padahal ia sudah menenggak segelas kopi, nyatanya matanya tetap saja merem dan kebablasan sampai pagi. Jadilah ia blank dengan segala materi yang akan dijadikan ulangan. Dengan waktu yang demikian mepet, ia bermaksud menghapal secepat mungkin sebelum bel masuk berbunyi. Sayangnya, baru saja ia berusaha menghapal, Tia temannya datang membuyarkan konsentrasinya. Ia malah mengajak Inu jajan Pempek Palembang di kantin dan ngobrol ke sana kemari. Inu kesal. Ia menolak ajakan Tia dan ngeloyor begitu saja mencari tempat yang agak tenangan dikit untuk belajar. Sayangnya bel keburu berbunyi. Pupus sudah harapan Inu untuk bisa menjawab setiap soal ulangan dengan lancar. Iapun bener-bener ngambek dan menyalahkan Tia.


6. Bihun Goreng Spesial, Aat Danamihardja, Majalah Bobo No. 20, 1996

Bercerita tentang dua bersaudari bernama Dita dan Angga yang bertukar tugas dalam mengerjakan pekerjaan rumah yang diamanahkan oleh kedua orang tuanya. Dita yang semula bertugas memasak kini harus menggantikan tugas Angga membersihkan rumah. Begitupula sebaliknya, Angga yang biasa beberes kini kebagian memasak. Ini semua gara-gara celetukan Angga yang bilang memasak itu lebih gampang daripada menyapu, mengepel atau lainnya. Jadilah Dita kesal dan menantang Angga agar bertukar posisi supaya tahu bagaimana susahnya memasak. Ia ingin mengetes seberapa bisa kemampuan Angga yang kali ini dipesani Papa untuk membuat bihun goreng. Karena jarang turun ke dapur, maka Angga pun bingung memulainya darimana. Parahnya ia malah gengsi segala lagi tidak mau bertanya pada Dita. Jadilah bihun goreng bikinannya kacau balau, hahahaha...


7. Sainganku Sahabatku, Anita Ratnayanti, Majalah Bobo No. 30, 2 November 1995

Mei sering dimintai tolong ibunya untuk membantu Nenek setiap sore membersihkan ruman. Mulanya Mei kesal karena dengan pekerjaannya itu, ia jadi merasa kurang bermain. Tapi apa mau dikata, usia nenek sudah renta. Sehingga mengharuskannya bantu-bantu.

Suatu ketika Mei bolos membantu nenek. Jadilah nenek kelelahan dan sempat jatuh sehingga kesehatannya menurun. Maka suatu ketika Mama Mei meminta anak Art-nya untuk membantu Nenek menggantikan Mei. Tak disangka, Mei yang melihat anak tersebut akhirnya akrab dengan Nenek juga kadang dikasih ini itu oleh Mama menjadi sedikit agak cemburu. Suatu kali, saat si anak tersebut lewat dengan sepeda yang tadinya adalah sepedanya, segeralah Mei mengagetkannya. Anak itupun terjatuh dan kakinya terkilir. Semua orang panik termasuk Nenek. Mei pun merasa bersalah dan menyesali perbuatannya. Iapun membantu memanggilkan tukang urut agar kaki anak tersebut segera sembuh. Keduanya lalu menjalin persahabatan dengan indahnya dan tak ada lagi iri-iri-an di hati Mei.


8. Papang, Kemala P, Majalah Bobo No. 26, 5 Oktober 1995

Bercerita tentang Papang anak lelaki kelas 6 SD yang gemar membuat kesal teman-teman belajar kelompoknya. Sebut saja Pita, Oni, dan Sesa. Pasalnya, ia sering sekali datang terlambat dengan berbagai macam alasan, entah itu sedang mengisi bak mandi lah, ketiduran lah, dsb. Seperti sore kali ini, lagi-lagi Papang terlambat datang ke rumah Pita padahal hari sudah menuju magrib. Ujung-ujungnya yang lain lebih memilih mengerjakan PR duluan dan pulang karena yang ditunggu-tunggu tak muncul juga. Berbeda dengan Pita, Santi adiknya justru senang jika Papang datang. Soalnya ia sering dikasih permen sih. Sayangnya hari itu Papang belum muncul juga, sampai akhirnya Pita memutuskan untuk menulis laporan hasil belajar kelompok yang harusnya menjadi tugas Papang sebagai ketuanya. Papang bener-bener ngeselin. Pokoknya kalau ia beneran datang biar saja ia tidak akan menemuinya. Eh, tak lama kemudian Santi pun berteriak bahwa Papang datang, tapi dengan kondisi yang mengenaskan karena baru saja tabrakan dengan pohon, jadi lututnya berdarah-darah dan pipinya bengkak. Pita pun kasihan sebab kata Papang ia sengaja ngebut setelah sebelumnya menimba air terlebih dulu. Kali ini Pita pun memaafkan kesalahan Papang. Apalagi ditambah dengan ia membawa permen cokelat 2 biji, satu untuk Santi dan satu lagi untuk dirinya. Mereka pun kembali akur seperti sedia kala.

9. Tulisan Mbok Isah, Widya Suwarna, Majalah Bobo No. 37, 22 Desember 1994

Ririn kecapean setelah mencari kado untuk temanya Yanti seusai sekolah. Sesampai rumah, perutnya pun keroncongan. Ia bertanya kepada Mama hari ini memasak apa. Mama bilang di meja ada lontong, sate, sayur lodeh, kerupuk, dan sambal. Meski begitu dengan cueknya Ririn bilang kurang selera. Ia malah minta ijin pada Mama agar Mbok Isah membelikannya mie godog yang ada di ujung gang. Mama sih bilang terserah, tapi dalam hatinya pasti kecewa karena sudah masak banyak-banyak, eh ujung-ujungnya ga dimakan. 

Saat menikmati mie godog pesanannya, Ririn penasaran dengan aktivitas Mbok Isah yang seperti sedang mencatat sesuatu. Maklum, Mbok Isah baru lulus kursus membaca dan menulis yang diselenggarakan ibu-ibu PKK, jadi mulai sekarang ia rajin menulis sesuatu. Iseng, Ririn kemudian bertanya apa yang sedang ditulisnya. Awalnya Mbok Isah menolak, tapi setelah dipaksa Ririn akhirnya diperlihatkannya tulisannya itu. Ternyata isinya daftar kegiatan memasak Mama hari ini. Dan jika diurutkan lumayan panjang juga prosesnya. Dari situ Ririn kemudian tersadar bahwa tindakannya tadi yang menolak mencicipi masakan Mama adalah kurang sopan. Akhirnya ia pun meminta maaf pada Mama dan berjanji sore itu akan mencoba masakan Mama.


10. Tamu, Sisilia Lilis S, Majalah Bobo No. 7, 25 Mei 1995

Rani akan kedatangan sepupunya Intan dari Jakarta yang merupakan anak orang kaya. Tantenya, yang merupakan adik Papanya memang seorang pengusaha sukses. Jadi sangat berbeda dengan keluarganya yang sederhana. Oleh karenanya, beberapa kali Mama mengingatkan agar Rani berlaku sopan pada Intan. Tapi apa yang dibayangkan Rani tentang Intan ternyata berbeda 180 derajat dengan kenyataannya. Ia pikir karena berasal dari kalangan berada, Intan anaknya sopan. Eh ternyata malah kebalikannya. Tapi meskipun begitu, ia akan tetap mengikuti didikan orang tuanya agar selalu bersikap sopan kepada siapapun, tidak memandang status maupun kelas sosial.


11. Panggilan untuk Ega, Wahyu Noor S, Majalah Bobo 50, 21 Maret 1996

Bercerita tentang kekesalan Ega yang diejek teman-temannya lantaran selalu dipanggil oleh neneknya dengan menggunakan kentongan. Padahal kebiasaannya itu sudah turun-temurun sejak lama. Baik itu ditujukan buat nenek waktu masih kecil ketika dipanggil oleh buyutnya Ega, atau buat ayahnya waktu masih kecil supaya segera pulang setelah seharian bermain. Tapi, kata teman-teman cara tersebut sungguh bikin malu. Jadilah ia protes agar neneknya tidak lagi membunyikan kentongan. Ga taunya, neneknya sedih dan akhirnya memenuhi permintaan cucunya itu. Beliau jadi berbicara seperlunya saja agar Ega merasa tidak dicereweti. 

Suatu kali Ega merasa rindu juga setelah lama tidak mendengar bunyi kentongan yang merupakan bentuk perhatian nenek padanya. Sayangnya, beberapa hari terakhir kondisi kesehatan nenek menurun dan harus dibawa ke rumah sakit. Ega pun menyesal dan berjanji tidak bersikap kurang sopan lagi pada nenek yang telah merawatnya sejak kecil sepeninggal ibunya dulu.


12. Latihan Puasa Bagi Laila, Wahyu Noor S, Majalah Bobo No.  44, 8 Februari 1996

Bercerita tentang keinginan Laila untuk puasa sehari penuh namun nyatanya tidak bisa karena maagnya kumat. Maklum dirinya baru berusia 7 tahun dan masih dalam taraf latihan. Mamapun dengan bijaksana menasihati agar puteri kecilnya itu bisa berlatih sedikit demi sedikit dulu, tidak langsung puasa penuh. Beliau juga segera membuatkan Laila segelas susu hangat dan mie instan rebus agar puterinya tidak sakit perut. Nanang, kakak Laila yang melihat adiknya membatalkan puasa lantas meledek dan mengatainya bakalan jadi ulat segede bantal karena tidak jadi puasa. Tapi Mama menegur Nanang, karena memang segala sesuatu itu ada awalnya. Dan karena Laila masih kecil, maka puasanya setengah hari dulu juga tidak apa-apa.


13. Berani Mengeritik, Widya Swarna, Majalah Bobo No. 43, 1 Februari 1996

Bercerita tentang Fiona yang bergabung dengan geng teman cewek di sekolah barunya yang terdiri dari 3 orang. Mulanya Fiona sangat senang karena memiliki teman baru yang kompak, tapi setelah tahu kebiasaan ketiga temannya itu, ia malah jadi kurang sreg. Suatu hari ia memutuskan untuk berani mengkritiknya supaya temannya itu mau berubah. Misalnya supaya tidak terlalu boros saat jajan di kantin, mau naik kendaraan umum yang murah tidak melulu taxi atau bajaj, juga tidak menyalin jawaban PR tanpa berusaha mengerjakannya terlebih dahulu. Memang awalnya mendapat kritik seperti itu terasa menyebalkan. Kedengarannya Fiona kok sok tahu banget dan mengatur-ngatur hidup orang. Tapi setelah direnungkan lagi, ternyata ada benarnya juga kritikannya itu sehingga membuat ketiganya sadar dan mau berubah ke arah yang lebih baik.


14. Aku Sayang Kamu, Kemala P, Majalah Bobo No. 27, 10 Oktober 1996

Menceritakan kekesalan Keke terhadap Dede adiknya yang bandel luar biasa. Baru kemaren Dede diare akibat sembrono memungut jambu air untuk dimakan sebagai rujak bareng kawannya Awang, eh sekarang malah memecahkan jambangan bunga. Awalnya Keke seperti biasa ingin mengomeli adiknya itu. Tapi ketika tak sengaja ia menangkap pembicaraan sang adik dengan Awang, bahwa ia sangat sayang pada kakaknya dan selama ini berbuat begitu karena cari perhatian, perasaan Keke jadi meleleh. Ia pun berjanji agar ke depannya tidak terlalu bersikap galak pada Dede.


15. Ferina, Kemala P, Majalah Bobo No. 24, 19 September 1996

Bercerita tentang Ferina yang dikenal baik hati dan senang menolong teman-temannya, tapi kali ini ia harus dirawat di rumah sakit karena tangannya patah setelah jatuh dari pohon jambu di belakang rumahnya. Vivit sahabatnya, menyayangkan tindakan Ferina yang masih mau saja meladeni teman-temannya yang lain seperti Mira yang asal minta dibawakan jambu, padahal kemarin hujan deras sehingga batang pohonnya licin. Ferina juga selalu berbaik hati pada siapapun misalnya mau mengajari temannya yang selalu ijin pamit ke kamar mandi ketika pelajaran matematika, dll. Pokoknya Ferina itu tipe-tipe anak yang tidak bisa berkata tidak. Selalu saja ia menyanggupi apa yang diminta temannya walaupun kadang terdengar merepotkan. Vivit saja kalau memposisikan diri sebagai Ferina merasa malas. Jadi Vivit pikir, barangkali dengan kejadian ini Ferina bisa merenung agar tidak harus setiap permintaan temannya yang merepotkan itu dituruti. Tapi tak disangka, Ferina yang tangannya kini tengah digips itu tetap ceria. Malah ia kini menikmati buah kebaikannya seperti teman-teman yang bersedia membawakan catatan pelajaran selama ia dirawat agar ia tak ketinggalan pelajaran dan juga banyak yang membawakannya makanan loh.


16. Bisa Miskin, Bisa Tidak, Widya Suwarna, Majalah Bobo No. 26, 1 Oktober 1998

Bercerita tentang Airin yang sepulang sekolah merasa dihantui pertanyaan tentang perekonomian yang akhir-akhir ini terasa cukup sulit. Banyak orang di luaran sana yang tiba-tiba demi sebuah sembako sampai harus menjual barang-barang berharga. Ingin rasanya ia mengungkapkan keresahannya itu pada Mamanya. Tapi sayang, setiba di rumah Mama dan bibi ART-nya sedang menghadiri acara pemakaman seorang kerabat. Yang ada hanya si Empat, anak Bibi ART-nya yang berusia sebaya dengannya. Tak disangka, selain pintar masak (yang dalam cerita ini si Empat memasakkan nasi goreng ikan asin yang kelihatannya enak), Airin malah bisa belajar banyak hal. Terutama tentang filosofi kehidupan antara istilah kaya harta, kaya iman, miskin harta, dan miskin iman. Wah si Empat pintar juga ya ternyata.


17. Sudah Tertangkap, Basah Lagi, Majalah Bobo No. 26, 1 Oktober 1998

Bercerita tentang kenakalan Erwin dan Dani yang iseng menjadikan bak kamar mandi di asramanya sebagai tempat untuk berenang. Pantas saja akhir-akhir ini, bak mandi sering kotor. Alhasil, teman-temannya pun ingin menangkap basah mereka suatu kali supaya keduanya jera dan tidak lagi mengulangi perbuatannya.


18. Susu untuk Adik, Lena D, Majalah Bobo No. 31, 5 November 1998

Bercerita tentang Galang yang bersedia membuatkan Abeng temannya berbagai permaianan dari kulit jeruk bali namun dengan imbalan susu gratis. Rencananya ia akan memberikan segelas untuk adiknya karena memang akhir-akhir ini harga susu sedang mahal. Tak disangka, adiknya malah ingin membagi susu tersebut kepada temannya yang sedang sakit dan dirawat di rumah sakit. Dari situlah Galang malah jadi belajar dari ketulusan hati adiknya yang tidak pernah pelit untuk berbagi.


19. Suatu Sore, Benny Ramdani, Majalah Bobo No. 6, 21 Mei 1992

Bercerita tentang Irna yang mulanya kesal karena tidak dijemput Mamanya usai berlatih tari di gelanggang seni. Oleh karenanya ia harus menaiki metromini agar bisa sampai ke rumah tepat waktu. Tak di sangka, di halte ia malah diajak ngobrol oleh gadis yang berpenampilan kumal tapi sok akrab. Namanya Uket. Mulanya ia berusaha tak menghiraukan Uket, tapi lama-lama ia kasihan juga karena Uket merasa sedih ketika dicuekin Irna. Akhirnya keduanya pun ngobrol sampai tau-tau metromini sampai di pemberhentian mereka. Karena keduanya sama-sama turun, Irna pikir Uket ini pastilah tinggal di perkampungan yang ada di belakang komplek perumahannya. Tapi begitu Uket mengajak Irna singgah ke rumahnya yang ternyata sama sekali tidak ada di kampung, bahkan bangunannya sudah ada tepat di depan mata, Irnapun terpana. Ya bangunan rumah yang megah dan kelihatannya tidak matching dengan penampilan Uket. Siapa sebenarnya Uket ini. Ternyata Uket bukanlah seperti yang dibayangkannya selama ini. Ia adalah anak orang kaya yang aslinya bernama Sita dan kini tengah memerankan seorang gelandangan untuk sebuah pentas drama. Latihannya pun sama-sama di tempat Irna berlatih tari, yaitu di Gelanggang Seni. Nah, cerpen ini mengajarkan kita untuk tidak buru-buru mengecap orang dari segi penampilannya saja.

20. Selamat Jalan Opa, Pipiet Senja, Majalah Bobo No. 6, 21 Mei 1992

Bercerita tentang Ucok yang tak percaya akan kepergian Opanya untuk selama-lamanya. Opanya sendiri merupakan seorang veteran yang dulunya membantu merebut kemerdekaan dari tangan penjajah. Padahal tempo hari ia masih mengobrol dengan beliau dalam keadaan segar bugar. Bahkan, ia malah dijanjikan akan diajari jurus silat terbaru sambil bercanda ria karena Opanya baru sempat sekarang. Maklum, sebelumnuya beliau sibuk mendokumentasikan kisah perjuangannya dulu ke dalam bentuk buku. Jadi rasanya bagaikan mimpi di siang bolong ketika Tante Mie mengabarkan bahwa Opa telah tiada. Dipikirnya Tante Mie cuma bercanda. Tapi, setelah melihat sendiri sang Opa sudah betul-betul terbujur kaku dengan kain kafan yang menyelimuti seluruh tubuhnya, Ucok kembali tersadar. Tapi setelah itu ia jadi bangga akan sifat-sifat Opa dan ingin meneruskan impian Beliau dalam mempertahankan dan mengisi kemerdekaan dengan hal-hal yang berguna untuk kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

21. Kenangan yang Tersisa, Mudjibah Utami, Majalah Bobo No. 47, 2 Maret 1995

Bercerita tentang lebaran Adel yang kali ini harus dilalui tanpa nenek. Sebab awal puasa lalu nenek jatuh dari kamar mandi dan akhirnya meninggal setelah 3 hari dirawat di rumah sakit. Saat hari raya tiba, Adel jadi teringat semua kenangannya akan Nenek. Sebab selama ini Nenek lah yang sudah mengasuhnya sejak kecil. Maklum Mama Adel memang anak bungsu. Jadi Nenek memintanya untuk tinggal bersamanya. Adel juga ingat bahwa Nenek pernah berjanji untuk membuatkannya mukena bila Adel berhasil puasa selama sebulan penuh. Sayang saat keinginan tersebut terpenuhi Nenek telah tiada. Tapi tetap saja, kenangan bersama Beliau sangat membekas di hati Adel, apalagi sebelumnya memang pernah ada kejadian lucu waktu Adel masih dalam tahap puasa.


22. Atun, Mala G. S, Majalah Bobo No. 47, 2 Maret 1995

Bercerita tentang gadis kecil bernama Atun yang kerap bolak-balik mengintip sebuah rumah tingkat yang letaknya tak jauh dari Toko Meriah, tempat ia biasa dimintai tolong ibunya untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Atun kecil yang manis, sering mengenakan baju dan pita merah saat melintas ke sana. Pulangnya, pasti ia akan mengamati keadaan di sekitar rumah yang tampak asri karena halamannya penuh dengan bunga-bunga ros. Ia juga sering melihat kursi roda yang digantungkan di bagian dinding dari rumah itu, tapi tidak tahu siapa yang memakainya. 

Suatu kali, Atun dimintai tolong ibunya untuk beli beras di Toko Meriah. Nah, pulangnya ia mampir lagi buat melihat rumah tingkat itu. Tak disangka kursi roda yang biasa tergantung di dinding sudah ada yang mendudukinya. Dialah gadis manis yang usianya beberapa tahun lebih tua dari Atun. Gadis itu sedang membaca majalah Bobo kesukaan Atun yang biasanya ia pinjam dari perpustakaan. Oh ya, gadis di kursi roda itu tidak sendiri. Ia ditemani pengasuhnya yang bernama Yu Tin. 

Karena keasyikan mengamati, akhirnya kresek tempat beras yang dipegang Atun tiba-tiba pecah. Atun teriak panik, dan Yu Tin diminta majikannya untuk menghampirinya. Ia juga bilang bahwa Non Ines ingin ketemu. Wah siapa pula itu Non Ines. Pasti gadis yang duduk di kusi roda itu.


23. Cuci Piring, Majalah Bobo No. 40, 12 Januari 1995

Bercerita tentang Tio yang rajin membantu ibunya mencuci piring setelah ada pembagian tugas dengan kakaknya. Tio kebagian siang hari sedangkan kakaknya malam hari. Alasannya adalah kalau malam, Tio ingin santai-santai saja saat nonton TV tanpa adanya gangguan mencuci piring. 

Sayangnya akhir-akhir ini Tio merasa kesal karena kebiasaanya itu malah diolok-olok oleh teman sekolahnya. Masa ada yang bilang cuci piring identik dengan pekerjaan perempuan. Ya, Tio sebal banget, hanya karena cuci piring, ia malah dikatai banci.


Kejadian itu bermula pada suatu siang dimana Tio iseng sedang menyapa geng temannya yang kebetulan lewat dan kelihatan dari arah jendela dapur rumah Tio. Geng temannya itu pulang terlambat lantaran Nanang, salah satu ketuanya habis mentraktir nasi kuning kantin pada teman-temannya. Saat lewat itulah, Tio ditawari mampir warung pojok juga buat ditraktir nasi goreng karena sebelumnya belum sempat ditraktir nasi kuning. Tio sih setuju saja. Tapi paling ia tidak oesan nasi goreng. Ya cuma kolak boleh lah. 

Nah, pas sorenya itu Tio ditanya kenapa tadi ia ada di dapur. Eh pas dijawab lagi cuci piring malah ditertawakan habis-habisan. Keesokannya, ia juga diejek oleh seisi kelas. Tapi kemudian Nanang tersadar, bahwa ia pun sebenarnya sering pula membantu ibu walaupun bukan dalam bentuk cuci piringnya. Misalnya membantu menggantikan baju adik bayi setelah mandi, membantu membelikan belanjaan ibu di pasar, membantu menjual ayam, dll, dan itu semua kan tidak ada kaitannya dengan pekerjaan laki-laki atau perempuan... Makanya, kelak kalau masih ada yang mengejek Tio, dia bakal membelanya di garda terdepan.

24. Oma Ami Pecinta Lingkungan, Widya Suwarna, Majalah Bobo No.  40, 12 Januari 1995

Bercerita tentang Oma Ami yang punya kebiasaan unik setiap pagi saat berkeliling kompleknya. Yaitu beliau akan berdandan rapi sambil menjinjing tas berbunga-bunga dan tangan satunya memegang tongkat berujung sekop. Di beberapa titik, ia akan berhenti sejenak sambil memungut sesuatu di jalanan yang kemudian dimasukkannya ke dalam tas bunganya.


Sayangnya suatu hari ada penjambret yang mengambil tas cantik Oma Ami yang malang. Padahal Oma Ami sudah bilang bahwa isinya adalah sesuatu yang tidak berguna. Tanpa mengindahkan perkataannya, penjambret itu pun tetap memaksa mengambil tasnya dan kabur entah kemana. Oma Ami pun ditolong warga sekitar sambil bercerita tentang isi tas cantiknya itu sebenarnya apa. Setelah warga tahu, mereka pun tertawa karena pasti penjambretnya akan bete sekali begitu melihat isinya, hahaha..

25. Yang Sudah Lama Dicari, Kemala P, Majalah Bobo No. 14, 11 Juli 1996

Bercerita tentang pikiran Irfan yang tiba-tiba melayang ke suatu masa tatkala ia sedang melamun di sebuah dahan pohon nangka sambil sayup-sayup dari arah dapur terdengar lantunan musik dangdut kesukaan Bibi ART-nya. Ya, musik dangdut itu mengingatkannya pada suatu kejadian di beberapa tahun silam saat ia dan keluarganya sedang dalam perjalanan ke rumah nenek yang ada di Jakarta. Waktu itu mereka pergi menggunakan bus umum dengan suasana di luar sana hujan deras. Adiknya Ina yang masih berusia 3 tahun berada dalam dekapan Mama karena tiba-tiba menggigil hebat akibat deman. Hal tersebut tentu saja membuat Mama panik karena Beliau lupa tidak membawa obat penurun panas. Di tengah kegamangannya itu tiba-tiba seorang bocah lelaki seumuran Irfan mendekati Mama dan memberikan bungkusan dalam plastik setelah di luaran sana berlari menembus hujan. Bibirnya biru, wajahnya pucat. Tapi tak disangka bungkusan yang dibawanya adalah obat penurun panas buat sang adik. Mama pun gembira karena mendapatkan apa yang dicari. Tapi tak sempat memberikan selembar uang sebagai tanda terima kasih, eh anak itu sudah  keburu pergi dari hadapannya dan bus pun kembali berjalan.


Tak disangka, Irfan pun tersadar dari lamunannya ketika Gani temannya tiba-tiba memanggilnya dan ingin memperkenalkannya pada seseorang. Dan orang tersebut adalah...eng ing eng...si anak yang dulu memberikan obat penurun panas kepada Mama. Rupanya ia baru pindah dari Lampung sepeninggal ibunya, dan akan disekolahkan orang tua Gani yang berarti akan sekelas dengan Irfan. Ah, sebuah kebetulan yang ga disangka-sangka ya.

25. Anak-anak Laut, Lena D, Majalah Bobo No. 11 Juli 1996

Bercerita tentang kakak beradik bernama Adam dan Dicky yang berhadapangan dengan kerasanya kehidupan sebagai 'anak-anak laut'. Keduanya saban hari mencoba peruntungan di dekat darmaga dengan cara melompat ke dasar laut setelah seseorang melemparkan koin ke laut agar diambilkan kembali dengan imbalan uang, Pekerjaan ini walaupun menantang bahaya dan sempat dikhawatirkan oleh Ibu, tapi tetap saja dijalani oleh Adam dan Dicky dengan gembira. Apalagi karena banyak keinginan yang bisa dicapai setelah bersusah payah menyisihkan uang hasil menyelamnya itu. Misalnya ia bisa membeli sepatu baru walaupun ada acara berantem duluan karena ada kesalahpahaman yang terjadi antara Dicky dan Adam. Tapi ya begitulah... namanya juga kakak dan adik ya. Berantem dikit mah biasa hahaha...

26. Menjadi Bi Iyah, Lena D, No. 10/XX1V

Bercerita tentang Mimi yang ngambek ketika ART-nya, Bi Iyah berikut anaknya Ani hendak mengambil cuti untuk berlibur selama seminggu di kampung halaman. Pasalnya Mimi selama ini selalu ditemani main oleh Ani. Jadi Mimi merasa seminggu ini ia bakal kesepian. Tapi sebagai upaya untuk menghiburnya, Mama pun minta ditemani masak agar Mimi ada kegiatan bermanfaat. Apalagi siang itu agendanya adalah masak sop kesukaan Mimi. Mimi pun jadi tahu bagaimana cara mengupas wortel dan kentang walaupun awalnya lumayan kesulitan. Tapi setelah jadi semangkuk sop hangat  yang lezat, Mimi jadi ketagihan membantu ibunya di dapur, persis seperti apa yang biasa Bi Iyah kerjakan selama ini.


27. Ketika Mobil Mogok, Widya Suwarna, No. 10/XX1V

Bercerita tentang kekesalan Nina yang tadinya mau happy-happy aja liburan bareng temannya, eh ujung-ujungnya malah disuruh momong kedua adiknya yang masih kecil yaitu Oki dan Dian. Walaupun masih tampak sebal, untung saja Angie temannya kelihatan luwes dan pandai menjaga anak kecil, jadi sepanjang perjalanan tugasnya malah seakan tergantikan oleh Angie. Ya, karena Oki dan Dian sudah nemplok duluan sama sifat keibuan Angie. 

Namun, belum juga sampai di tempat tujuan, tiba-tiba mobil mogok. Sembari menunggu mesin dan tangki oli diperiksa, Nina dkk pun memilih melipir di bawah sebatang pohon rindang yang ada di pinggir jalan. Ia jadi banyak belajar bagaimana cara Angie momong adiknya. Pasalnya biarpun kepepet berada dalam situasi yang menyebalkan, Angie bisa tetap menghandle keduanya agar tetap gembira, entah itu dengan mengajarkan berbagai macam hal. Misalnya bercerita, mengajarkan tebak-tebakan nama pohon yang mereka lihat, mengamati sekitar termasuk semut dan juga liangnya, dsb. Dari situ Nina jadi tersadar, harusnya ia sebagai kakak kandung bisa seluwes Angie yang bahkan adalah anak tunggal.


28. Pelanggan Minyak Goreng, Ti, Majalah Bobo No. 19, 17 Agustus 1997

Bercerita tentang penjual minyak keliling bernama Pak Mas'un yang setiap hari berkeliling sambil meneriakkan dagangannya. Pelanggannya banyak. Pasalnya minyak yang dijualnya sangat murah di bawah harga rata-rata. Makanya pelanggannya pada setia. Apalagi Pak Mas'un juga selalu melayani mereka dengan senang hati walaupun beberapa diantara pelanggannya ada yang terkenal cerewet, suka ngebon dan lain-lain. 

Suatu kali Pak Mas'un sakit. Ia libur berjualan karena harus istirahat. Pak Jupri, penjual minyak saingannya biasa menjual minyak dengan harga lebih tinggi dari Pak Mas'un tahu kalau Pak Mas'un sakit. Iapun berniat membeli semua minyak Pak Mas'un biar minyaknya ga keburu tengik. Karena tak mau rugi besar dan ia pun butuh uang untuk berobat, maka ia pun terpaksa menjual minyaknya ke Pak Jupri.


Tak berapa lama, kabar Pak Mas'un sakit terdengar di kalangan pelanggannya. Maka berbondong-bondonglah mereka ke rumah Pak Mas'un untuk menengok. Ada yang membawakan buah, ada yang memberinya amplop berisi beberapa lembar uang, juga yang tukang ngebon pun sengaja datang sambil membawakan sup panas berikut hutang yang akan segera dikembalikan. Ah, betapa gembiranya hati Pak Mas'un. Karena kebaikan hatinya pada pelanggan membuatnya berlimpah rejeki.

29. Berikanlah, Marta !, Widya Suwarna, Majalah Bobo No. 12, 26 Juni 1997

Bercerita tentang Marta yang dinasihati Mamanya supaya tidak hitung-hitungan ketika menolong orang. Ia mendapat pelajaran berharga ini tatkala menolong Wati, anak seumurannya yang menjadi korban kebakaran dan selama seminggu akan menginap di rumahnya, sebelum bisa menempati kos-kosan yang akan disiapkan saudaranya minggu depan. 

Mulanya, Marta tidak ngeh siapa Wati. Ia malah sebelumnya curiga karena sepulang sekolah, ia berpapasan dengan anak perempuan yang seperti mengayuh sepeda mininya. Ia tahu betul sepeda mininnya seperti apa karena di dekat keranjangnya ada stiker donal bebeknya. Nah, karena penasaran, maka setiba di rumah ia langsung mengecek sepedanya apa ada di gudang atau tidak. Eh pas dicek ternyata tidak ada. Marta panik. Dikiranya sepedanya beneran dicuri anak tadi. Untung segera Mama menjelaskan. Karena Beliau meminta tolong Wati (anak yang dilihatnya tadi) buat beli semangka di supermarket dengan menggunakan sepeda Marta. Terus Mama jadi menjelaskan deh siapa itu Wati yang sekarang sedang kesusahan karena rumahnya habis kebakaran. Ga ada yang tersisa sedikitpun kecuali baju seragam dan tas sekolahnya. Makanya baju saja Wati ga punya. Dari situ Marta disuruh Mama buat memberikan Wati berapa setel supaya Wati ada baju buat ganti. Meskipun berat tapi Marta menyanggupi. Eh, ga taunya beberapa hari kemudian ia malah merasa Tuhan itu adil karena Kak Silvia ponakan Mama yang baru saja diterima bekerja di sebuah maskapai penerbangan asing mampir ke rumah. Oleh-oleh yang dibawanya banyak. Salah satunya adalah blouse cantik Mama, dan beberapa stel baju buat Marta. Tuh kan, kalau kita ga hitung-hitungan ngasih orang, pasti Tuhan kasih gantinya jauh lebih banyak tanpa bisa kita  sangka-sangka ya.

30. Pindah Rumah, Intan, Majalah Bobo No. 48, 6 Maret 1997

Bercerita tentang Keluarga Reta yang harus pindah rumah setelah sang Ayah dipindahtugaskan dari Jakarta ke Bandung. Seluruh keluarga happy kecuali Reta karena ia harus berpisah dengan Puti sahabatnya. Makanya wajahnya ditekuk teris padahal rumah yang akan mereka tempati lumayan bagus dan banyak bunganya. 

Karena tidak seantusias Mas Bayu yang ternyata sangat menyukai rumahnya, apalagi setelah melihat adanya lapangan sepak bola di dekat situ, akhirnya Reta memilih berkeliling sementara sampai ia dipanggil oleh seseorang yang tinggal tak jauh dari rumahnya. Namanya Melati. Anaknya seumuran dengannya dan sekolah di tempat Reta kelak. Keduanya sama-sama punya latar belakang yang sama karena Melatipun baru saja berpisah dengan sahabatnya Mia yang juga pindah beberapa hari lalu. Dari situ akhirnya Reta dan Melati bisa cepat akrab dan akhirnya menjalin persahabatan baru. Reta pun tidak murung lagi. Ayah dan ibu ikut gembira deh.


31. Peri Gigi, Benny Ramdani, Majalah Bobo No.  51, 28 Maret 1991

Bercerita tentang Tika yang sudah diajari ayah ibunya supaya tidak takut ketika pergi ke dokter gigi, atau bahkan harus cabut gigi. Sebabnya mereka bilang bahwa nanti gigi yang sudah dicabut itu akan digantikan oleh peri gigi dengan uang. Memang kedengarannya agak absurd tapi lumayan juga bikin Tika ga nangis jika sudah berurusan dengan dokter gigi. Manjur juga cara ayah dalam menceritakan keberadaan si peri gigi ini loh hahaha...


32. Mirah, Majalah Bobo No. 51, 1 April 1993

Bercerita tentang Mirah, ART-nya Bu Ananto yang sering sekali dijumpai sedang membaca ketika pekerjaannya telah rampung. Rupanya ia sering membaca buku pelajaran. Ketika ditanyai Bu Ananto sih, katanya biar Mirah ga ketinggalan pelajaran andai suatu saat nanti bisa sekolah lagi. Bu Ananto pun takjub. Ia kemudian berniat menyekolahkan ART-nya itu dan membelikan semua perlengkapan sekolahnya berikut biaya pendaftaran serta bulanannya. Bahkan Mirah disekolahkan di sekolah yang cukup bagus di kota itu. Paling yang mengganjal di hati Mirah adalah pesan Bu Ananto yang bunyinya begini : nanti kalau ada temannya yang tanya bilang saja ia adalah anak Bu Ananto. Pas Mirah tanya kenapa, katanya biar tidak ada yang mengejeknya. Wah, habis itu Mirah malah jadi rendah diri dong. Ia jadi berpikir apa sebegitu rendahnya pekerjaannya sebagai ART. Karenanya, ia jadi tampak murung saja setiap ada di kelas karena takut berkumpul dengan teman-temannya lalu ditanyai macam-macam. Melihatnya begitu, Bu guru pun memanggilnya dan bertanya kenapa Mirah selalu tampak minder. Nah, dari situlah akhirnya ia berterus terang dan disarankan tidak mengapa jujur saja paling tidak dengan sahabat dekatnya.


33. Kuningan, Lena D, Majalah Bobo No. 50, 20 Maret 1997

Bercerita tentang kegalauan Sri yang akan menghadapi hari libur Kuningan, apakah ia akan menghabiskan waktu dengan membantu ibu dalam menyiapkan pesanan renggina, banten, dan mejahitan untuk keperluan upacara adat atau menerima ajakan temannya berlibur di desa selama 2 hari. Sri memang anak yang berbakti. Jafi ia merasa tak enak hati kalau tidak membantu ibu, padahal pesanan sedang banyak. Kasihan kalau ibu kerepotan lantaran bekerja sendirian. Sedangkan di dalam hatinya paling dalam, ia juga ingin sekali berlibur bersama teman-temannya. Akhirnya, ia memaksimalkan hari sebelum hari libur itu untuk membantu menggoreng renggina yang terbuat dari ketan dengan harapan paling tidak satu hari bisa ikut berlibur di desa tempat temannya. Oh ya, karena membaca cerpen ini aku jadi tahu loh beberapa macam nama penganan khas Bali, dan aku jadi pengen tahu cara bikinnya juga hihihi...


34. Ternyata, Aat Danamihardja, Majalah Bobo No. 26, 5 Oktober 1995

Bercerita tentang Mimin seorang anak yang kedapatan sedang memikul keranjang berisi roti untuk diantarkan ke kios langganan. Di sepanjang perjalanan, pikirannya berkelana kemana-mana. Mulai dari nasibnya yang harus menyambangi jalanan licin ini setiap hari karena saat ini ia harus bejerja pada Wak Jarkasih sang juragan roti isi selai. Padahal Wak Jarkasih orangnya terkenal galak, judes, jutek atau apapun itu istilahnya, sehingga membuat banyak orang segan padanya. Pokoknya banyak banget deh pegawainya yang sudah kena semprot, entah karena lupa membubuhkan pengembang pada adonan kue, ketahuan nyomotin selai, dll. Nah, ia sendiri sih berdoa supaya jangan sampai sekali-sekalinya kena marah. Soalnya Wak Jarkasih kalau sudah marah serem. Ia kan juga butuh banget pekerjaan ini karena harus membiayai sekolahnya dan juga adiknya yang tahun ini sudah masuk SD. Pokoknya kudu hati-hati banget deh jangan sampai kena apes. Eh baru saja ia memikirkan hal itu, tiba-tiba seorang anak dengan sepedanya menabraknya hingga terjungkal. Keranjang roti di tangannya juga ikutan ambyar. Isinya berhamburan jatuh ke lumpur dan kotor semua. Tapi pas mau memarahi si anak yang menabraknya tadi, tiba-tiba diurungkannya niatnya itu karena tahu si anak sedang buru-buru mengayuh sepeda karena mau menebus obat buat ibunya yang sedang sakit keras. Miminpun sejenak trenyuh. Ia jadi teringat dengan mendiang ibunya dan tak ingin anak itu bernasib sama dengan dirinya yang kini telah piatu. Ia pasrah saja deh kalaupun hari ini harus kena omel Wak Jarkasih. Tapi beneran ga ya, Wak Jarkasih akan marah. Sebab ia sudah ada di belakangnya loh...waduh...


Nah, demikianlah cerpen-cerpen Majalah Bobo Jadoel tahun 90-an yang paling aku suka karena biarpun bacaannya ringan tapi pesan moralnya bagus-bagus. Sudah begitu ilustrasinya membekas banget lagi di hatiku, hehehe...(Gustyanita Pratiwi)



47 komentar:

  1. Waaah mba Nita koleksi majalah Bobonya ada berapa banyak? 😍 nggak kebayang happy-nya anak-anak mba Nita kelak karena dapat warisan majalah Bobo yang fenomenal 😆

    By the way, cerpen Bobo ini memang singkat singkat banget tapi pesan moralnya jelas ya, mba. Nggak heran kalau pernah jadi bacaan populer anak-anak di tahun 90'an dan saya rasa secara nggak langsung majalah Bobo sedikit banyak juga membantu membentuk karakter anak-anak para era-nya 😁 sebab siapapun yang baca Bobo, pasti belajar hal basic seperti tolong menolong, memiliki rasa empati dan simpati, dan hal-hal baik yany lain 🙈

    Jujur sebagai salah satu pembaca Bobo (meski sudah nggak hapal lagi isi jelasnya), bisa dibilang saya dapat ilmu banyak dari Bobo diwaktu kecil hehehe. Terus penasaran sekarang Bobo masih ada apa nggak? Huhu. Berharap dunia permajalahan anak bisa kembali naik 😍 pasti anak-anak suka sekali kalau punya kesempatan bisa baca Bobo, bahkan mungkin akan excited menunggu mamang mamang koran lewat 😂 secara dulu saya selalu menanti-nantikan mamang koran lewat demi bisa baca Bobo cepat-cepat 🙈💕

    Thank you for bringing back the memories ya, mba Nita 😍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau dalam bentuk bundel ada 10 apa yak #lupa hihi
      Klo yang satuan lumayan bertumpuk juga hihihi
      #kebiasaan anaknya suka ngoleksi memori jadoel akoooh mba eno ahhahahahhah

      Iya mba kebanyakan pesan moralnya sesuai dengan ajaran buku-buku PPKN jaman sekolah dulu...

      Sekarang masih ada mbak, cuma kalau yang sekarang gambarnya rada beda ama tahun 90an, dan aku lebih kliknya ama gambar di bobo jadoel hihi
      Kalau yang sekarang kayaknya lebih ke anak-anak banget, mungkin untuk pangsa pasar usia PAUD kali ya

      Sama-sama Mba eno, saking sukanya aku sama Bobo ya begini deh suka tetiba bernostalgia, soalnya kebanyakan cerita dan ilustrasinya memorable banget di hatiku

      ^__________^

      Hapus
    2. Itu yg buat Paud itu Bobo Junior. Hehehe.. aku tau karena sekarang aku langganan Bobo juga buat anak2ku. 😁 Kakak yg kelas 1 SD udah Bobo yang biasa. Tapi buat si adik masih Bobo Junior.

      Tapi tapi, setuju sama Mba Nita, Bobi sekarang ilustrasinya beda sama jaman dulu. Dan aku juga klik aja gt sama gambar2 yg dulu, efek jaman anak 90an 😁 Bobo yg sekarang lebih kekinian gambar2nya.

      Kalau Mba Nita suka cerpen2nya, aku suka Dongeng dari dulu. Tiap pulang dari pasar beli Bobo bareng Papa, aku langsung baca Dongeng. Itu juga kayaknya yg bikin aku suka banget cerita genre fantasy sampe sekarang..

      Hapus
    3. Ahhh yaaaaak bener banget kata mba thessa, itu bobo junior (´⌣`ĘƒÆŠ)♡

      Tapi aku senengnya bobo yang biasa, klo bobo junior emang buat usia masih kecil banget hihi

      Iya kaaan, ilustrasi yang dulu kalau gambar orang kayak beneran real gitu hihi

      Eh mba thess aku juga sebelumnya pernah bahas dongengnya juga loh, hihi
      Baik dongeng, cerpen, cerbung, dan ergam aku sukaaaa

      Iya karena genre fantasi bikin imajinasi kita berkembang kemana-mana yes hihihi

      Hapus
  2. Dulu zaman SD sudah paling bahagia kalau dibawain majalah Bobo sama Almarhumah Mama, maklum di kampung saya tidak ada yang menjual majalah anak-anak, yang ada cuma penjual buku pelajaran. Serasa dapat harta karun kalau Mama berhasil bawa majalah Bobo buat anaknya.

    Saya setuju majalah Bobo itu sarat akan nilai yang disampaikan dengan bahasa yang anak-anak mudah dimengerti. Cerpen-cerpen yang mbak Gustya review adalah contoh betapa Bobo sebenarnya membantu pembentukan karakter anak anak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mas Cipu, serasa dapat harta karun klo uda ketemu Bobo waktu aku kecil tuh, apalagi kadang aku dapatnya lungsuran punya teman atau sodara bisa dapat sekardus sendiri, alamak hati ini bahagia amat rasanya #sesederhana itu bahagiaku waktu kecil dulu xixixi

      Iya cerita-ceritanya walau dikemas ringan dan related ama kehidupan anak-anak SD tapi ngena-ngena moral of de story-nya :D

      Hapus
  3. Majalah BOBO seperti bacaan wajib buat anak-anak yang lahir tahun 80-90 an. Saya pun sering membaca majalah ini. Sekarang majalah BOBO tinggal versi digitalnya. Saya pernah baca versi digitalnya ternyata sudah agak berbeda dengan versi cetaknya yang zaman dulu. Cerpen yang ada di majalah BOBO sarat pesan moralnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Pak Vicky, rasanya udah kayak melegenda gitu buat anak-anak yang besar di era 80-an dan 90-an...termasuk sering update soalnya kan majalahnya...walau ada juga tabloid yang untuk usia teen kayak gaul, dll
      Tapi tetep, aku sukanya bobo, hihi

      Cerita-ceritanya itu loh yang macem-macem. Kadang cerpen-cerpennya sehari-hari banget, dan dongeng juga cergamnya imajinatif banget, bikin yang baca jadi seneng berimajinasi ^____^

      Untuk versi digital aku juga pernah baca, beberapa ada yang dari cetaknya juga kan, tapi tetep lebih greget kalau pegang majalah cetaknya hihihi

      Hapus
  4. Ternyata majalah Bobo masih ada yaa nit...Gw kirain sudah Almarhum.ðŸĪĢðŸĪĢ Karena dulu termasuk majalah kesukaan gw waktu SD. Selain Majalah Bobo aku suka juga bacaan era 90,an Deny Manusia ikan & Popaye. Dulu sempat disimpan cuma karena kelamaan akhirnya majalah2 jadul gw diKilo sama nyokap gw. 😭😭


    Termasuk Novel2 karya Eny Arrow dan Wiro Sableng turut dikilo juga sama nyokap gw.ðŸĪŦðŸĪŦ Terkadang sebuah tabloid atau majalah dan sejenisnya bisa membuat kangen juga yaa Nite.😊😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masihhh
      Masih ada
      Blom almarhum kok kang sat ahahhaha
      Cuma emang kalau dilihat jumlah halaman serta ilustrasinya lumayan beda antara bobo era 2000an ama 90an dan 80an...ama 70an juga beda deng...eh masing2 tahun aku punya loh hahahha, tapi paling banyak yang 90an emang, dari 90-99, paling suka ama yang 95-97

      Kalau deni manusia ikan aku kurang ngikutin ceritanya kang satria, aku lebih seneng yang komik sisipan mirip karakter orang yang di komik nina, xixixix...(banyak sih judul-judulnya)


      #etdaaah ngapa novel eny arrow ikut dibawa-bawa ahahah, aku malah baru tahu karya master stensilan tersebut pas baru2 ini abis baca2 blog kang satria n mas agus hahahhahaha, sebelumnya ga tau sama sekali karya enny arrow loh gw tuh ahhahaha


      Iyak bener bangaad, serasa diajak menelusuri lorong waktu :D

      Hapus
  5. Xixixi tau ngga, kak .. dirumahku juga masih ada koleksi majalah bobo.
    Aku masih ingat dulu tiap edisi baru datang dikirim kerumah aku dan adikku yang selisih 1 tahun sama aku seringkali rebutan kejar-kejaran rame,pernah adikku kubuat nangis juga 😁.
    Gegara ulah konyol begitu kami pernah dibentak papaku dan kami lagi-lagi mengulanginya lagi tiap kali majalah bobo datang 😄.

    Sayang ya sekarang majalah bobo cetak ikutan kegeser dengan dunia digital, jadinya cuma bisa baca online.
    Ngga bisa koleksi fisik cetak lagi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eh seriyuss mas him ada majalah bobo juga di rumah ? Tahun berapa mas kepow deh aku hahahhaha

      Soalnya masih ada edisi yang bolong-bolong jadi belum lengkap banget koleksi tahunnya

      Wakakak, bisa aja yak, gelud kakak adek, tapi kocak sih
      Aku dan mbakku juga gitu loh, dulu sering banget berantem rebutan baca duluan #khas berantemnya kakak adek gitu deh hahhahah

      Iya, padahal kerasa lebih seneng ama majalah fisiknya (kalau aku), klo baca versi digital cepet lupa, hihihi

      Hapus
  6. Wah salah satu majalah kesukaanku waktu kecil ya majalah bobo, soalnya isinya bagus dan banyak petualangan seperti negeri dongeng, Bona dan rongrong. Bagus sekali menurutku tapi kenapa ngga ada yang aku ingat ya ceritanya. Padahal dulu suka banget baca nyewa dari teman yang punya. Kadang beli juga tapi yang sudah lewat tiga bulan.😄

    Dulu kalo ngga salah malah pernah ada di TVRI acara bobo yaitu kisah di negeri dongeng. Ada Nirmala juga dan aku takjub menontonnya saat itu, rasanya keren banget waktu itu.

    Soal cerpen cerpen bobo ini aku save dulu ah buat dongeng anak sebelum tidur. Cuma yang nomer satu yaitu antara bayangan dan kenyataan kok agak mirip jaman sekarang ya, cuma bedanya kalo zaman sekarang kebanyakan selfie seperti di pantai padahal lagi rebahan di pasir tetangga atau lagi tamasya di Paris, padahal cuma Photoshop.😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Xixixixi, sama banget mas, aku juga duku seringe daoat hibahan dari teman, jadi majalah bekas berkardus-kardus dari teman dengan senang hati aku terima, soalnya teman langganan, tapi kalau uda dibaca mungkin bosan, lalu aku dong dengan senang hati menampungnya wakakkaka


      Oiyakah, o apa dibikin pentas seni kayaknya ya yang operet gitu kan


      Iya yak, baru ngeh aku, related juga ama kehidupan jaman now, eekekekke...untung aja tokoh di cerpen pertama orangnya ga fake hahahhaha

      Klo yang dicrop gitu jatuhnya kocak juga yak ahahhahah

      Hapus
    2. Oh iya, namanya operet ya, aku juga lupa lupa ingat sih soalnya masih kecil waktu itu. Biarpun keren tapi masih tertutup sama bayang bayang satria baja hitam yang dulu diputar di RCTI mbak.ðŸĪ­

      Memang, kalo editannya ngga pas kelihatannya kocak, tapi kasihan juga kalo di bully, mungkin sebenarnya dia pengin ke Paris beneran tapi buat makan saja pas pasan, akhirnya diserahkan pada Photoshop.😅

      Hapus
    3. Ow berarti jam tayangnya sama ama satria baja hitam yak operetnya

      Jadi bingung kan antara mau nonton yang mana ahahaha
      Tapi dulu tvri ku pernah ngalamin masihnitem putih deh, belom sebening sekarang
      Makanya dulu banyak yang nonton channel lain, paling ganti gantian rcti, sctv, ma indosiar

      Klo sekarang kan tvri uda bening yaa

      Wakaka, iya juga sih, ngenes tapi ya kasihan, tapinya lucu jugaa
      Ada juga sih yang sengaja pake sotosop buat lucu2an aja

      Hapus
  7. Waaah, Nita keren banget. Bisa menulis lagi cerpen sebanyak itu. Koleksi majalah Bobonya pasti banyak banget, nih.

    Aku masih inget yang cerita no.9, hehehe. Ririn akhirnya sadar bahwa kerjaan mama banyak, ya.

    Iya, Bobo yang dulu gambarnya lebih bagus, ceritanya sarat akan pesan moral. Jujur, aku belum pernah beli Bobo jaman now. Pengen beliin Bobo buat anak tapi takut dirobek, hehe.

    Dan, Ny. Widya Suwarna, sangat lekat di ingatanku. Ceritanya bagus2.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba pit, kata paksu yen lagi ngledek lumayan bisa mbendung segoro hahaha


      Iyak, yg tulisan mbok isah masa kata kuncinya aku malah keingetan sama mie godog pengkolannya cobaaaa ahaha

      Na iya saat ini juga anakku takcekeline sik kertas tebal sik, klo yg kertas biasa ngalamat bisa disuwek wahaha

      Bener mba pit cerpen2 beliau mang bagus2, sederhana tapi ngena di hati

      Hapus
  8. jadi nostalgia deh mampir kesini..Langganan Bobo dari kecil sampe punya anak 3...OMG tapi udah 2 tahunan ini berhenti langganan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi, iya mba fit,
      Wah brarti mba fitri uda apal sama bobo 2000an juga ya soalnya 2 tahun lalu masi langganan :D

      Hapus
  9. Saya juga sering baca majalah Bobo dulu Mbul, tapi bukan punya sendiri sih, punya sepupu.
    Mama saya nggak bsia beliin soalnya huhuhu.

    Sepupu saya langganan majalah Bobo dan banyak komik donald bebek, padahal jarang dibaca.
    Ya udah deh, saya yang ngabisin bacanya setiap main ke rumahnya.

    Btw keren banget dirimu Mbul, bsia-bisanya dirimu rangkum banyak cerita di sini hahaha.
    Sungguh setiap postinganmu tuh bikin ternganga-nganga, mencerminkan betapa niatnya dirimu.
    Persis kayak dirimu rangkum banyak percakapan Dono Kasino Indro, soooooo niat banget hahahahaha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama kak rey, yang beli ndiri bisa diitung pake jari, tapi klo yang dikasih entah temen atau sodara banyak malah ampe berkardus2 dan bundelan
      Sayang pas uda SMa mendadak raib, konon sih uda pada diloakin ibu hahhahahah
      Padahal tiep mudik aku selalu inget n ceritanya pengen bernostalgia, tapi keingetan lagi uda diloakin wkwkkwk

      Donal bebek juga aku suka
      Apalagi dulu temen sering bawa ke sekolah lalu aku pinjam beberapa hari

      Donal yang berwarna terutama xixixi

      Hahahha, soale yang aku suka banget biasanya biar aku ga lupa aku tulis semacam list2 kak rey, buat aku baca2 ulang gitu wkwkkw

      Hapus
  10. Mbak Nita masih punya koleksi majalah bobo, ya? Wah, majalahku malah sudah aku loakin semua.🙈

    Aku dulu juga pecinta majalah bobo lho, Mbak Nit. Dari SD kelas satu sampai lulus SMP masih suka cari-cari majalah bobo. Tapi semenjak masuk SMA sudah gak pernah beli lagi. Soalnya sudah mulai banyak aktivitas organisasi. Pulang sore menjelang malam, jadi sudah terlalu capek dan pengen langsung tidur aja.😂

    Ngomong-ngomong aku jadi kepo pengen baca-baca yang era 90an, Mbak Nit. Soalnya aku belum pernah baca yang tahun 90an. Maklum, saat tahun-tahun itu aku masih belum bisa baca. Menyebutkan huruf A-Z aja aku masih belum hapal.🙈

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah biar kutebak ..mba roem kelahiran 90an akhir atau awal 2000an (anak milenium dong hihihi). Gimana mba ada perbedaan mencolok ga dengan bobo era 2000an

      Sepengamatanku 90an ilustrasi orangnya lebih kelihatan real hihi

      Kalau bobo jaman kecil tentu uda diloakin ibu, tapi aku beli lagi dong, kata pak suami sebagai bonus jadinya duit hore2nya aku boleh beli bobo wekeekekek

      Hapus
  11. ini majalah kesukaan aku dari kecil, kalo dikoleksi kayakya udah banyak bangettttttt
    malah waktu masih SMP atau SMA masih ada tumpukannya, sekarang udah dijual, sedih
    gogori, nahh aku ingat ini hehehe, semacam komik kayak oki dkk, bona rong rong duhhh suka semua pokokya isinya

    cerpennya juga,ada nilai nilai yang bisa dipetik dari cerita itu. mungkin karena masih SD pemahamannya ya segitu gitu aja hahaha
    waktu gede gini, waktu ke gramedia harganya udah puluhan ribu dan malah mau beli saking kangennya. tapi ga jadi wkwkkw

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wakakak iya mba ai, ini aja aku pas gede ngumpulin ulang, lumayan buat dongengin anakku ntar xixi, sengaja beli bekas, di e commerce klo lg hoki nemu, tapi emang uda langka sih untuk yang beberapa edisi

      Gogori emang lumayan fenomenal, halamannya di tengah, satu tempat ama dombi dan pocil :D

      Gambarnya walau sederhana tapi ngena ya mba ai ^_^

      Wah iya klo edisi barunya di gramed uda mahal ya sesuai naiknya inflasi hihihi

      Hapus
  12. Baca postingan Mba Nit yang ini serasa masuk ke mesin waktu hihi aku nostalgia banget inii. Bobo juga salah satu majalah favorit aku semasa SD, sampai minta mama langganan supaya nggak usah bolak-balik beli di tukang majalah.

    Cerpen Bobo di masanya memang sangat bagus, ya. Ceritanya sederhana dan seputar kehidupan sehari-hari, pesan moralnya pun dapet. Aku masih ingat sempat beli buku edisi khusus koleksi Cerpen terbaik dari Bobo, salah satu ceritanya yang masih nempel di kepala ada seorang anak cewek namanya Badriah disuruh nganterin bakcang naik becak, ehh bakcangnya malah dimakan di tengah jalan huahaha lucu banget tiap kali ingat cerpen itu.

    Gara-gara suka cerpen Bobo aku jadi gemar menulis. Tiap ada tugas mengarang cerita di pelajaran Bahasa Indonesia, aku pasti semangat banget mengerjakannya 😆

    Aku baru tau lho Bobo masih eksis sampai hari ini. Mudah-mudahan dia bertahan terus, nanti aku mau langganan lagi untuk anakku kalau dia udah bisa baca 😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yeayyy toast sama mba jane, emang banyak dari kita yang dulunya suka baca especially majalah anak2 seperti bobo, gedenya jadi suka nulis juga yak hihihi
      Aku juga suka pelajaran mengarang loh, klo uda ada mapel bahasa indonesia, dan temanya mengarang, aku pasti mengarang indah saking puanjangnya wekekekkk

      OmyGod, aku baca cerita mba jane tentang bakcang ngapa ku jadi pengen bakcang yak hihi, jadi ngebayangin makan bakcang aku dong hahaha

      Iya pengennya bobo nerbitin edisi tahun 90an lagi deh, e bisa ga ya hihi
      Soalnya banyak banget penggemar bobo jadoel ^_______^

      Hapus
  13. mmm..mmm...Majalah Bobo adalah salah satu majalah kesukaan saya juga.Namun sayang sekali waktu itu Majalah ini susah didapatkan.jadi saya yang waktu itu haus akan buku bacaan terpaksa diam menahan rindu,hahaha.....

    Koleksi majalah Bobo Milik Mbak lumayan banyak yah...? Jangan dibuang Mbak, simpan saja buat generasi mendatang. Soalnya Majalah seperti itu, selain menghibur juga menambah pengetahuan.

    Nyimpannya jangan di dapur yah, ntar kihlaf dijadikan bungkus cabai loh,hahah......

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bhahahaaa kang nata seperti biasa bikin aku ngguyu kemekel deh tiep baca komennya

      Lumayan banyak kang, rencananya aku mau bikin perpus mini #klo renov rumah dah jadi #ehhhh

      Wakakak, bisa ae kang, ga kok ga bakal buat bungkus cabe, paling bungkus tempe #eh canda haha

      Hapus
  14. Saking sukanya dulu sama majalah Bobo saya dan adik sampai bacanya rebutan trus akhirnya berlangganan sampai setahun, abis itu pas menginjak abg malah langganannya majalah ananda padahal sama juga majalah anak2 hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi sama mba iid aku ama mbakku juga suka banget majalah bobo, tp kami seringe dikasih

      Oiya klo ananda aku dulu sering baca juga, hihi
      Pinjam di perpus sekolah klo ananda aku :D

      Hapus
  15. Nita..kenapa hobinya bahas yang jadul jadul seperti ini sih. Kok saya selalu dipaksa untuk bernostalgia terus..

    Jadi teringat masih punya banyak majalah bobo, entah terbitan tahun berapa..😇😇 emang disimpen di rumah eyang Uti si kribo

    Tapi dulu majalah sederhana ini pernah menjadi bagian hidup saya...Bahkan, bisa dikata salah satu yang membuat saya senang jadi kutu buku...😇😇

    Makasih Nit sudah membawa kenangan masa kecil saya kembali 🙏🙏🙏🙏

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wekekkekeg iya juga yak pak anton, aku baru ngeh sering juga aku bahas yang jadoel2, biar bisa ngajak nostalgia yang lain aku pak ahahahha

      Wah kalau masih ada coba kalau dijual di ecommerce pasti banyak peminatnya pak, termasuk aku hihi
      Tapi klo bobo emang aku sukanya yang jadoel, klo tahun 2000an ga minat hihi

      Sama sama pak anton
      Ga heran pak anton tulisannya bernas-bernas, lah wong udah jadi kutu buku sejak kecil hihihi

      Hapus
  16. Balas dendam Winnie udah nemu belum mba? Saya masih cari cari yang nomer 42 ke atas 😁 susah banget

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hay dyka, balas dendan winnie aku dapat komiknya aja, waktu itu beli di bukalapak udah ceprolan, ulasan ceritanya uda kutulis di sini
      https://gembulnita.blogspot.com/2019/05/komik-sisipan-bobo-balas-dendam-winni.html

      Hapus
  17. Halo Mbak Nita, salam kenal :)

    Terima kasih sudah menghidupkan kembali kenangan lama. Mb Nita, apakah tahu cerpen dengan judul "Bibit Bobot dan Bebet" dan "Diatas langit masih ada langit"? Kalau tidak salah ini cerpen tahun 1995 keatas gitu mb.

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku pernah dengar, tapi di koleksiku ga ada, maaf kurang bisa bantu jadinya☺🙏

      Hapus
  18. Mbaak Nita... masyaAllah.. seneng banget bisa mampir di blog ini.
    Btw, saya lagi nyari kalau tidak salah cerita bersambung tentang dua anak kembar, berpetualang di negeri di bawah pohon flamboyan, dengan Rubi dan Safir. Batu permata. Kalau tidak salah ceritanya ditulis oleh Vanda Parengkuan.
    Masih ingat nggak? Itu kayaknya certita bersambung yang pertama soalnya jarang-jarang dulu majalah bobo ada cerbungnya. Trims.. mohon dibalas ya mbaaaaak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hay nindya makasih sudah mampir blig aku ya, siyap next time aku akan ulas yang si kembarvdan mahluk mineracus, ruby savir, rexy regina ...tungguin ya...😄☺😊

      Hapus
    2. Hallo kak hanindya...aku mau UPDATE ...ulasan cerbung majalah bobo : Si Kembar dan Mahluk Mineractus sudah aku ulas di link ini ya...monggo kak dibaca ☺😊😍

      https://gembulnita.blogspot.com/2021/03/cerbung-majalah-bobo-jadoel-90-si.html?m=1

      Hapus
  19. Mbak, terima kasih sekali. Krn blog ini aku jadi bs tracking lg bobo2 jaman dlu yg aku punya. Bener2 seneng krn dlu yg membacakan bobo adalah eyang putri yg sdh almarhum. Jd teringat momen2 dg beliau. Aku mau tanya mba... Mungkin mb nita pernah baca entar dongeng atau cerpen dr bobo 90an yg ceritanya kakak beradik naik kereta yg isinya org2 berperilaku aneh. Mereka jg dpt tiket jadul. Ternyata kereta ini kereta hantu. Mungkin mba pernah baca dan ingat ini bobo seri yg mana. Sehat selalu mba ♥️

    BalasHapus
    Balasan
    1. hallo kak..terima kasih sudah mampir dan bernostalgia...sepertinya aku oernah baca...coba aku kubek kubek dulu ya..nanti kalau sudah nemu aku coba tuliskan apa judulnya..semoga ada di salah satu koleksiku..

      (((o(♡´▽`♡)o)))

      Hapus
    2. Terima kasih ��♥️ aku sudah cari bobo seri ini dari beli random di shopee, tokped, ig, cari yg covernya familiar smp beli semua bobo di blog mba yg familiar ceritanya tapi masih nihil. Aku inget sekali sering minta dibacakan cerita ini ke eyang. It means great deal, terimakasih sdh mencoba membantu mba ��♥️
      Oiya, seperti expectasiku, kita seumuran dan mungkin baca bobo di momentum yg sama ��

      Hapus
    3. hai kalau gitu aku panggil berli saja ya hihi

      iya akupun sama selalu terkenang cerpen dan dongeng bobo

      ada beberapa seri di tahun 90an yang masih belum aku dapat dan masih aku hunting hihi...soalnya aku masih ada judil cerpen dan dongeng yang dulu aku suka banget tapi aku blom nemu 😍ðŸĨ°

      Hapus
  20. Wah ada cerpen-cerpen saya

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah keren...ternyata kak benny adalah salah seorangbdari cerpenis di atas...tau ga kak saya selalu suka cerpen anak anak majalah bobo tahun 90-99 an

      terima kasih sudah mampir ke blog aku ya kak (*´︶`*)āļ…♡

      Hapus

Komenin dong...tanpa kehadiran kalian apalah arti aku menulis....
kalian penyemangat setiap bulir kalimat dalam blog ini :*
Namun jangan komentar SARU atau SARA ya, jika ada komentar dengan unsur tersebut, dengan berat hati akan aku HAPUS .

Oh ya, Dilarang juga mengambil gambar/foto atau menyadur tulisan tanpa mencantumkan sumber atau seijin pemiliknya. Apalagi untuk kepentingan komersial atau lomba. Thx ^____^