Jumat, 24 Juli 2020

Jalan-Jalan ke Tanah Lot, Ngadem, dan Ngrujak



Oleh : Gustyanita Pratiwi

Ujug-ujug ada di Bali....

Ini jalan-jalan tahun kapan sih Mbul ?

Masih dalam rangkaian mlampah-mlampah Madam Beby Mbull di Pulau Dewata pada tahun 2016 silam Qaqa.. sebelum ada beiby alias masih berduaan aja ama Pak Su waktu 3 tahun penantian momongan #mau bilang hanimun tapi bukan hanimun, wong waktu itu aku lagi 'dapet', ahahaaaa..

Baca juga : Itinerary Bali 5 Hari 4 Malam


Nah, dikarenakan dulu nulisnya aku jadiin satu sama banyak tempat dalam bentuk itinerary, maka kelihatannya jadi ga begitu fokus ngulas per satu tempat-satu tempatnya. Uda gitu fotonya masih kujadikan grid/kolase lagi (itu loh aplikasi foto yang bisa bikin banyak foto digabung jadi satu alias dalam bentuk kotakan-kotakan), jadinya kurang begitu kelihatan. So, here we go, aku tulis ulang aja lah moment-momentnya karena sayang kalau fotonya mangkrak tanpa cerita.... Yaaa, itung-itung buat mecahin postingan bulan Agustus biar ga kopong-kopong banget arsipnya....hihihi

***

Pada suatu pagi yang cerah itu (kalau ga salah ini hari ke-4 dimana aku dan Pak Suami jalan ke Bali pada tahun 2016 silam, dimana kami caw-nya pada bulan-bulan berakhiran 'ber' tapi belum masuk masa peak season. Sekitar September atau Oktober ya aku lupa. Tapi yang jelas bulan-bulan segitu. Walaupun tetep aja kami masih random per harinya mau ke mana aja. Belum tau akutuw mauk kemana duuuh.. #busyeng ya si Mbulll....masa uda jauh-jauh terbang ke Bali, tapi itinerarynya ga jelas begini, wkwkw... Jadi, dalam total 5 hari 4 malam itu, kami jalan sesantainya aja, kemana kaki ini akan melangkah ya itu yang disatronin. Bikin itinerary sih bikin...tapi pada kenyataannya ga begitu saklek karena disesuaikan aja ama kondisi di lapangan. Soalnya ada aja moment dimana kami pengen melenceng dari tujuan awal. Untunglah, kami udah banyak mengantongi tempat-tempat cakep pada hari sebelumnya, jadi ga getun-getun amat lah ya dalam hal memaksimalkan harinya. Kami udah sempat mampir ke Ayam Betutu khas Gilimanuk, malam mingguan di pedestriannya Kute sambil ngematin sepintasan bule-bule yang pada party dan ngebeer-ngebeer sementara gw cuma bisa nenggak bear brand  >____________<", lalu paginya ngadem dan mainan pasir di Pantai Legian, mampir sejenak ke Pantai Padang-Padang sambil ngelihatin Festival Ukir-Ukiran Buah, makan di peyetan Bu Kris, lalu ke Pasar Seni Ubud dan jalan jauh ke depan plangnya Monkey Forest thok (ga sampai masuk) dan berakhir dengan ngopi-ngopi cantik di Starbuck sambil nungguin kura-kura Bus datang, en then malamnya dilanjut mamam seafood di bibir pantainya Jimbaran sambil ngedengerin deburan ombak dengan ditemani cahaya lilin (ow sungguh syahdunya). Jadi udah lumayan lengkap kan ya.

Nah, di hari-hari terakhir ini, kami tinggal itung kancing aja apakah mau eksplore sampai ke Desa Panglipuran, Trunyan, Tanah Lot, GWK, mbaleni Ubud lagi karena sebelumnya belum puas eksplorasi sana, Bali Zoo, Tegalalang, Bali Pulina, Istana Tampak Siring, dll. Ini ntar mau aku ulas satu-satu. Tungguin aja yes... Eh tapi yang opsi Desa Panglipuran dan juga Trunyannya ga jadi deng soalnya waktunya ga nyandak...kayaknya itu agak jauh dari tempat wisata lain, jadi ya skip aja... Apalagi carter mobilnya juga agak mehong...jadi bisa-bisa nyampai sana ga kebagian srengenge lagi sehingga dikhawatirkan ga bisa futu-futu...#e tetep ya gw mah ngincernya bagian futu-futunya duank...wgwg..

Okay, ini intro ngapa kepanjangan ya #kebiasaan, maapkan. 



Naik Taksi ke Tanah Lot

Aku lanjut lagi ya Gengs...

Tadi sampai mana?

Oh ya, hari ke-4 itu kan ya. Jadilah, pagi-pagi betul kami langsung mandi, nyarap di hotel, lalu let's go to tepian jalan raya. Lha ngapain ke tepian jalan raya...ya buat nyegat taksi lah Qaqa karena tujuan kami adalah Tanah Lot. Diputuskan begitu karena kami pikir Tanah Lot menarik juga buat dikunjungi setelah hampir 10 tahun ga ke sana. Sebab terakhir ke sana waktu aku masih SMA. Ikut darmawisata sekolah. Cara ke sananya gimana? Ya by taksi lah...Berhubung hotel yang kami inapi ada di Denpasar dan berseberangan ama Mall Galeria Bali pas, maka ga heran kalau banyak taksi yang berseliweran di situ. Sebenarnya kami juga sempat galau antara mau nyewa mobil dari pihak hotelnya langsung, naik kendaraan umum, atau taksi. Masing-masing tentu ada plus minusnya. Kalau rental mobil memang bisa dikatakan agak mahal, nyampe Rp 400-an sekian ribu..dan itu kalau untuk 1 tujuan tempat wisata ya mahal banget. Kalau masih ada rangkaian tempat wisata lainnya aku sih okey,...lah kalau cuma ke Tanah Lotnya thok ya termasuknya mahal. Kalau ngebis, kayaknya banyakan transitnya deh...eh tapi pas kucheck lagi, ternyata ga ada deng Trans Sarbagita atau Kura-Kura bus yang nyampai sana. Jadi satu-satunya cara yang paling masuk akal sesuai ama dompet kami adalah naksi...huehehhe... 

Nah, akhirnya setelah jalan agak jauhan dikit dari pelataran hotel dan sempat ngeliwatin pinggiran kali yang kelihatan banyak ikannya, kamipun dapat taksi....

Singkat cerita, biasalah awal-awal perkenalan dulu dengan drivernya yang aku bilang sih lumayan ramah. Kami juga sempat ditawari mau ditungguin atau ga, tapi berhubung kalau ditungguin kena tarif Rp 400 ribu (lha sama aja dong dengan nyewa mobil tadi, #kraii)....yaudah kami jawab aja untuk sementara ini didrop saja dulu pak...hihihi. Padahal si bapaknya udah bilang kalau uda nyampai sana bakal susah lagi nyari taksi...malah ga ada yang bisa ngantar sampai Denpasar. Adanya ya sewa mobil. Eh kami malah nyantuy aje kayak di pantuy....gampanglah ntar juga dapat....batin kami saat itu. Eh begitu pulangnya kejadian beneran ga dapat taksi...baru lah mamam deh gw wakakka #kawus ora kawus ora... Tapi itu ntar aku ceritakan di akhir postingan. Sekarang saatnya kita fokus ke perjalanan menuju Tanah Lotnya.



Dalam hati, kami bersuka cita karena pemandangan di luar jendela begitu indahnya. Kadang melewati pasar, pemukiman warga, juga pertokoan yang menjual aneka cindera mata. Pas liwat pasar dan mendapati penjual makanan khas Bali seperti tipat cantok, tipat blayag, nasi jinggo, lak-lak, jaje, dsb..rasa hatiku pengen tereak...berhenti dulu Blih...aku pengen foto...tapi ya ga mungkin laaaa karena kenyataannya kami terus jalan di atas aspal halus yang makin ke sini makin meliuk-liuk. Mana kiri kanannya uda membentang hamparan sawah dengan padi yang sudah menguning lagi. Jadi kerasanya tuh indaaaaaah banget. Kayak suasana di lirik lagu desaku. Sesekali kami juga melewati jalanan yang sepi dan bagaikan tiada berujung #lagu kalik ah. Memang bisa dikatakan rutenya cukup jauh. Dan bentuk aspalnya uda mulai bergelombang-gelombang. Tapi menurutku sih asyik. Walaupun tetep aja dalam hati deg-degan juga pas ngelihatin argo taksinya #mana jalannya cepet banget lagi haha....sampai akhirnya tuh argo berhenti di angka Rp 175 ribu.

Hore Pagian Udah Nyampe Tanah Lot !!

Tak lama kemudian, sekitar jam 09.00 WITA, kami tiba juga di area wisata Tanah Lot yang berlokasi di Desa Beraban, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali. Waktu tempuh dari hotel yang kami inapi sekitar 2 jam-an. Lumayan jauh juga. Tapi ga masalah, karena kami emang uda kangen banget ama Tanah Lot setelah sekian lama ga ke sini. Dengan membayar tiket untuk 2 orang yang kalau ga salah ingat sebesar Rp 30 ribu (tahun 2016), kami pun bisa bernostalgia kembali dengan salah satu pesona wisata di Pulau Dewata yang disakralkan ini.







Tanah Lot sendiri berasal dari kata Tanah yang artinya dataran atau tanah, dan lot yang artinya dataran yang berada di tengah laut. Ciri khas yang menjadi daya tarik wisatawan baik mancanegara maupun dalam negeri di tempat ini adalah keberadaan 2 pura yang  menghadap ke Samudra Hindia dan bangunannya berada di atas tebing batu karang yang berwarna hitam.

Satu pura yang berada di tepi pantai sebelah kiri dikenal dengan nama Pura Tanah Lot. Saat air pasang, pura ini akan terlihat seperti sebuah kapal besar yang sedang mengarungi samudera karena area di sekelilingnya akan digenangi air. Tinggi airnya bisa mencapai 2 meter atau lebih sehingga untuk menuju ke sana bisa menggunakan moda transportasi kapal. Namun, pada saat air surut, pengunjung dapat melihat dasar batu karangnya yang menjadi tempat bersarangnya ular suci Tanah Lot berada.




Sedangkan pura yang satunya lagi--yaitu yang berada di sebelah kanan--pada bagian tebing bawahnya terdapat semacam lubang besar yang kerap dilalui oleh ombak besar. Jadi pemandangan alamnya begitu dramatis, karena mata kita akan dimanjakan oleh biasnya warna biru laut yang kemudian bertemu dengan biru langit dalam satu garis cakrawala dengan diiringi oleh deburan gulung-gulung ombak yang menabrakkan diri ke karang.

Keduanya adalah tempat suci bagi umat Hindu di Bali sehingga tidak semua orang diperbolehkan masuk  kecuali untuk keperluan sembahyang yang mana pada saat sembahyang pun diwajibkan memakai busana sesuai ketentuan yang berlaku.

Tapi pada saat itu, kami ga sampai turun ke pantainya langsung sih... Jadi kami ga ketemu pasirnya. Kami hanya asyik bercengkrama di atas setelah gerbang masuk karena tempatnya cenderung adem, banyak pepohonannya. Oh ya, sebelum masuk ke sini, kami disambut dulu oleh sepasang patung penari yang menghubungkannya dengan area Pasar Seni Tanah Lot.





























Pasar Seni Tanah Lot Bali

Usai melewati pemeriksaan tiket, kami harus melewati Pasar Seni Tanah Lot sebelum benar-benar mencapai pantainya. Area pasar ini cukup luas dengan dilengkapi pedestrian yang rapi dimana di hadapannya banyak berdiri toko souvenir dan oleh-oleh khas Bali. Ada kaos barong, kain sarung Bali, topi, sandal, lukisan, ukiran kayu, hiasan kerang, patung, juga payung. Sempat kami ingin beli payung tapi akhirnya nyewa saja karena tentunya lebih murah. Kami juga beli topi biar ga panas-panas amat ini kepala kena gaharnya matahari yang mulai meninggi.

Klepon Jajanan Khas Tabanan

Selain cinderamata, di area Pasar Seni Tanah Lot juga terdapat banyak restoran serta kios yang menjual aneka makanan dan juga minuman ringan. Yang kulihat selintasan sih ada jagung bakar, sosis, buah-buahan lokal (kayak salak, pepaya, naga, belimbing, pisang, markisa, dll), kelapa muda, dan juga klepon. Dua yang terakhir ini menarik perhatian karena akhirnya Bebih Mbull beli dong...#udah kuduga. Kami sengaja mandeg di kios kelapa muda dan minta diplatokin 2 butir yang waktu itu kenanya Rp 15 ribu per butirnya. Alhamdulilah seger dan cukup mengobati haus setelah berpanas-panas ria di sepanjang Pasar Seninya. Mana daging kelapa mudaya lembut banget lagi, jadi menurutku harga segitu cukup whort it lah walaupun di Tangerang seglundungnya boleh dapet ceban alias Rp 10 ribu #ya nama pun juga tempat wisata ya, jadi ya wajar harganya segitu. Lalu untuk klepon, kami beli aja di bakul ibu-ibu yang duduk di emperan dengan tampah dalam pangkuan. Isinya? Tentu saja hamparan bulatan klepon warna ijo yang bertabur parutan kelapa. 

Selidik punya selidik, klepon ini ternyata memang jajanan asli Tabanan yang terbuat dari beras ketan dengan isian gula merah. Kami beli gopek dapat setangkup daun pisang yang diisi beberapa bulat klepon sebesar gundu. Begitu diceplus, makcressss lumer isian gula merahnya..ugh sedap !


























Menikmati Keindahan Pantai Tanah Lot Sembari Ngadem dan Ngrujak-Ngrujak

Dari Pasar Seni, sampailah kami di gerbang masuk kawasan wisata Tanah Lot dimana kami bisa melihat pemandangan pantainya dari atas. Nah, ternyata area ini ga aku temui saat darmawisata SMA 10 tahun yang lalu karena perasaan abis turun dari bus langsung ketemunya ama pantai. Kemungkinan besar karena pembangunannya belum setertata sekarang jadi aku memang baru ngehnya baru-baru ini. Dalam hatiku, loh kok Tanah Lot sekarang jauh lebih hijau dari saat kunjunganku yang pertama. Soalnya banyak taman dan pepohonannya. 

Kami aja begitu sampai langsung tergoda buat nyantai si gazebo yang tersedia di beberapa area. Tak lupa niat hati buat nglarisin beberapa penjual makanan seperti rujak buah, seriping pisang dan kacang bawang #uceedh klepon uda masuk pelud, lanjooot rujak dkknya ituh ya Mbooolll hahai.. Tapi enak, sambil ditemenin semilir angin, mulut ga berhenti ngunyah buah yang terdiri dari jambu biji merah, nenas, belimbing, pepaya mengkal, mentimun, bengkuang, kedondong, dan jambu air yang diiris tipis sembari di atasnya diguyur sambel kacang uleg kasar. Dicimitinnya pake tusuk gigi...huh hah. Pedes binggow tapi nagih...nyem-nyem....

Abis itu futu-futu.. 
futu-futu... 
futu-futu... 
futu-futu... 

"Mbulll Mbull..mbok kene ngadem-ngadem ama Mas, ojo futa-futu ae, kae loh pemandangan pantainya dinikmati..."
"Heuw.. iya iya iya..."
#si Mbul Nyiet-Nyiet pun melipir bercengkrama bareng Pak Su sambil menikmati hembusan angin dan deburan ombak..


























Pura Batu Bolong Tanah Lot

Oh ya, kami juga mampir sejenak ke depannya Pura Batu Bolong yang berada di sisi barat laut dari Pura Tanah Lot. Sama halnya dengan 2 pura sebelumnya, Pura Batu Bolong juga dibangun di atas tebing karang, namun kali ini terdapat jalan layang dari batu karang yang menghubungkan antara daratan dengan lokasi puranya. Pengunjung yang tidak berkepentingan dilarang masuk, jadi kami cuma jalan di area setapakannya aja yang berada tak jauh dari lokasi. Yah duduk-duduk di bangku gazebo sekitar 15 menitan sebelum akhirnya memutuskan pulang.

Nah pas baliknya ini kami akhirnya menyadari bahwa omongan si bapak taksi yang mengantarkan kami pagi tadi adalah benar adanya. Yaitu bakal susah nyari taksi lagi yang mau mengantarkan sampai area Denpasarnya kecuali kalau kami niat sewa mobil yang pada ngetem di situ... yah tau gitu tadi percaya aja ya apa kata bapaknya dan minta tungguin, tapi udah kebanjur gitu jeh. Jadi mau ga mau pulangnya kami musti sewa mobil. Eh tadinya beberapa mobil pada buka rate Rp 400 ribuan. Tapi pas kami balik badan dan dipanggil lagi, seorang bapak nyemlong "Emang adek-adek ini mau ke mana dan maunya berapa." #mantab kami dipanggil adek-adek, berarti tampang kami masih layak disebut sebage anak sekolaan yes hahahha #penting diumumin padahal datangnya juga pasangan bukan ucul dari rombongan bus darmawisata sekolah.




"Kami adanya Rp 200 ribu nih Om, nyampe Denpasar." 
"Oh ya sudah deh, naik. Ayok ga pa pa Rp 200 ribu."

Horeeeeey, akhirnya kami bisa pulang ke Denpasar dengan lega, walau itungannya PP itu ya sama aja sih kayak itungan andai sewa mobil aja dari awal hihihi...(all documentations taking by Gustyanita Pratiwi).

Bersambung......

48 komentar:

  1. Waah udah lama juga aku nggak ke Tanah Lot! Sepertinya terakhir ke sana di tahun 2014 deh, nemenin calon mertua (waktu itu hihi) jalan-jalan ke sini, namun berakhir kapok karena mereka nggak betah panaaas hahahaha

    Yang kusuka di Tanah Lot justru liat-liat pasar seninya. Walau nggak beli tapi suka aja liat jajanan dan barang-barang yang dijual. Ini kalau liat dari foto-fotonya Mba Nita, kayaknya waktu ke sana lagi nggak terlalu ramai ya?

    Aku ngakak banget dong kalian berdua dipanggil adek-adek sama supir, padahal beliau nggak tau ajaa si adek-adek ini lagi dalam rangka ingin bertemu adek bayi hihihihi

    Kebanyakan teman-teman yang liburan ke Bali pasti sewa mobil sih, soalnya males banget harus tawar-menawar dengan supir seperti ini. Soalnya harga yang dibuka pasti wow banget. Tapi syukurlah akhirnya dikasih juga yaa 200rb pulang ke Denpasar :D

    Maacihh Mba Nittt udah cerita jalan-jalannya ke Bali. Mayan lah mengobati rasa kangenku ingin pulang ke Bali hihi

    Btw, foto-fotonya ada yang double yaa, Mba?

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah mba jane berarti belum sempat pulkam lagi yak setelah 2014 itu?

      wakakak, iyak, kalau uda lepas jam 10 ke atas emang nyanyaaas jadinya kami juga mawi sewa payung segala di salah satu toko yang ada di pasar seninya

      iyah, aku juga suka lewat pasar seninya, selain pasar seni ubud dan pasar sokawati, di sinipun menarik2 banget barang-barang yang dijualnya, malah kami sempet bolak balik toko kain bali sekalian ngliatin batiknya...ternyata cakep cakep juga yak motifnya >________<

      wakakak, hu umb mba jane, lumayan lah dikira masih dedek2 kali, jadi akhirnya pas kami nyemlong nyoba nawar setengah rate yang uda ditawarkan, si bapaknya mau dan iyainnya cepet...coba kalau dari awal nyemlong udah pasutri, kali ga dapat itu potongan diskon sewa mubilnya hahahhaha

      lain kali kayaknya kalau ada kesempatan ke bali, aku mau nyewa mubil aja lah, kayaknya ga terlalu mahal, walau mungkin kudu partneran ama gps biar nda nyasar di jalan hihi

      sama sama mba jane, sebenernya masih ada lanjutannya di beberapa tempat wisata bali lainnya, ntar mau aku publish atu-atu, #lagi pe er ngewatermarkin foto-fotonya ahahhah

      eh apa iya ada yang double, coba tar aku ceki-ceki lagiiih :D

      Hapus
    2. Maksudnya sejak 2014 itu aku belum pernah ke Tanah Lot lagi, Mbaa. Tapi pulkam mah rutin tiap tahun hihi cuma harusnya libur lebaran kemarin pulkam lagi, kan anak-anak libur sekolah yaa, ehh si corona lah membatalkan semua rencana trip kami T_T untungnya pas Imlek kemarin udah sempat balik. Tetep aja kangen keluarga di sana hiks

      Iyaa betul, Mba Nit. Kalau memang destinasinya ke tempat wisata kayak gini (apalagi yang jaraknya jauh dari kota), lebih baik sewa mobil aja tanpa supir, puasss nanti jalan-jalannya :D

      Siapppp aku tunggu episode selanjutnya! πŸ˜†

      Hapus
    3. ow ahahhaha, punten tadi agak loading takirain mba jane udah jarang pulkam, ternyata 2014 nya terakhir just di tanah lotnya yak πŸ˜†πŸ˜†

      asyik-asyik makin rajin ngewatermatkin futu-futunya πŸ˜πŸ˜†πŸ˜†

      Hapus
  2. huwaa aku tahun 2016 desember juga ke tanah lot
    tapo sama rombongan guru guru dan foto di gapura yang oranye itu
    inget banget mbak sama bentangin sepanduk gede banget wkwkwk

    sayang aku ga bisa eksplore banyak terutama makanannya soale keburu waktu dan ragorang pada ngendon di tempat belanja ahahahah

    aku suka sih tanah lot bagus ombaknya gede bisa liat dari atas

    apalagi pas pagi seger banget
    diuh itu degannya seger banget

    BalasHapus
    Balasan
    1. eh hampir deketan ama jadwal trip kami dong mas ikrom klo desember, kacek 2 bulanan, wakakakka

      ayo mas pengalamanmu ditulis juga di blog, penasaran pengen baca aku :D

      hahah, kalau bareng rombongan terutama nek akeh-akehe ibu-ibu mang begitu ya mas, podo ebyek dewek-dewek >______< terutama nek wes timingnya belanja, bisa suwe banget iku di tempat oleh-oleh wkwkwk

      iya mas, deburan ombaknya pas kena karang tuh 'mak jederrr', rasanya kok bikin merinding karena takjub gitu loh

      degannya lemuw-lemuw banget mas, airnya juga seger tur daging deganne uakeeeh, tiyep disendok berasa kayak ga ntek-ntek, kami aja sampai wareg bianget loh telas sebutir-sebutir untuk tiap kepalanya hahah, aturan paron wae yoh :D

      Hapus
  3. Lihat post ini jadi makin nyesek karena gagal ke Bali bulan Mei gara-gara Corona :( wkwk. Padahal udah kangen banget dan udah siap mau kemana aja, eh taunya ada corona jadi harus batal 😭

    Btw waktu 2018 aku ke Tanah Lot kok penampakannya nggak seperti foto kak Nita ya? Curiga kak Nita ini masuknya dari pintu yang lain dibanding aku hahahah πŸ€” atau mungkin aku yang kurang perhatiin kiri kanan karena terlalu fokus sama pemandangan lautnya 😍
    Kalau pasar seni-nya aku lewatin tapi nggak nemu gazebo-gazebo gitu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah ternyata lia sempat ada rencana mau ke bali ya li, sayangnya musti ketunda karena keadaan lagi kek gini 😭 #pukpuk

      moga-moga corona cepat berlalu, amiiiiiiiin πŸ™πŸ™

      >________<

      nahhh kan ada juga yang ngerasa beda hihi, eh akupun pas 2016 baru tahu loh area masuk yang dari sini...😱😱yaitu yang banyak pepohonan ijo dan setapakan, juga beberapa titik buat duduk-duduk itu lia, padahal pas darmawisata SMA aku langsung 'mak jedul' tetiba kayak masuk area berpasirnya...ternyata baru kusadari area masuk yang ini ya setelah 2016 main ke sana lagi hahhahah....kalau abis pasar seni posisinya setelah bagian undakan-undakan itu sayyy ..

      eh kayaknya bukan gazebo deng li, tapi semacam pendopo apa ya, pokoknya dia di deketnya para pedagang rujak dllnya itu pada ngetem....pendopo atau apa ya aku ga tau namanya, tapi buat duduk duduk santai gitu deh
      lumayan buat bercengkrama walaupun makin siang makin panas hihi

      Hapus
  4. Saya belum pernah ke Bali mbak, jadinya belum bisa melihat pura di Tanah Lot gitu. Yah, seperti biasa, dana menjadi kendala.🀣

    Tapi enak juga rekreasi ke Bali ya, soalnya di Bali banyak bule bule gitu, jadi kesannya seperti di luar negeri biarpun kalo lihat fotonya malah sepertinya ngga ada bulenya. Yang ada orang Bali lagi sembahyang, ibu penjual kelapa muda, patung, pantai plus jajanan klepon.πŸ˜‚

    Ke Bali naik pesawat apa mobil mbak? Sepertinya naik pesawat karena lebih cepat ya. Tapi yang pasti tidak naik becak apalagi odong odong ya.🀣

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya ga pa pa atuh mas 😊, belom pernah pergi ke Bali kan juga bukan suatu masalah, iya to ahahhaha

      iya mas, apa ya... yang ku respect dari bali tuh karena orang-orangnya banyak yang menjunjung tinggi adat, budaya, serta warisan leluhur Mas jadi kerasanya tuh sakral banget hihi...#keinget kalau nyampai sini langsung disambut gamelan bali rasanya kayak ada perasaan yang susah diungkap dengan kata kata.. kerasa banget merindingnya, merinding yang bikin takjub gitu πŸ˜ŠπŸ˜ƒ

      masyarakat lokalnya juga support banget sektor pariwisatanya, jadi tempat-tempat wisatanya dikelola dengan totalitas. Bahkan pantai-pantainya pun kelihatan pada bersih-bersiiiiih banget hihi, mana penginapannya juga murceu-murceu lagi, biar kata bintangnya bagus tapi harganya itu bersainglah... eh ini aku beneran tulus memuji ya, bukan postingan lomba atau berbayar ahhaha....jadinyaa ya itu turis2 pada betah dolan ke Bali..ga cuma turis mancanegara deng, tapi lokal punya kayak aku juga betah πŸ˜ŠπŸ˜†

      oh pas tahun 2016 akhir aku ke tanah lot, kebetulan nyampe tekapenya agak pagian mas, sekitar jam 9 wita jadi masih sepi,
      Ada sih bule...cuma banyakan nongol pas uda nuju siang, turisnya bukan cuma dari barat aja sih, tapi dari negara asia lainnya kayak china, korea, dan jepang juga banyak mas..

      biasa mas, yang kupotret malah kebanyakan makanan khasnya ahhahaha, salah satunya ya si klepon itu tadi..sebenernya kalau di sana disebutnya lak-lak mas..tapi orang lebih familier dengan nama klepon

      kami ke sana naik pesawat, tapi 2016 gitu loh, nyarinya ya pas harga promo hahah, itupun pas dapat muraaaah bener karena kan pp ya.. untuk 2 kepala lagi jadi klo mahal ga deh... sebenernya cerita lengkap dari mulai naik pesawat dan selama 5 hari 4 malam di bali berikut kejadian koplak yang pernah kami alami ini uda pernah kutulis tahun 2016 juga sih πŸ€£πŸ˜‚πŸ˜‚

      Hapus
    2. Iya, yang kadang bikin kagum itu masyarakat nya juga mensupport tempat pariwisata nya sehingga jadi maju ya. Mereka gotong royong agar tempat itu maju, jika maju otomatis banyak orang datang, masyarakat lokal juga kecipratan rejekinya.😊

      Bali memang terkenal, kalo ngga salah aku pernah baca artikel mbak Pipit, orang Jepang lebih kenal Bali dari pada Indonesia.πŸ˜‚

      Wah dapat harga promo tiket pesawat pasti murah ya. Apa semurah di shopee yang harganya cuma 9999 saja mbak? 😁

      Kalo ada, aku mau dong, nanti cari penginapan juga yang harganya 9999 juga.🀣

      Eh, begitu balik lagi ke Jakarta sudah harga normal sejuta.😭

      Hapus
    3. bener sekali mas, bahkan untuk taksipun aku baru tahu kalau di sana memang pada memberdayakan warga lokalnya, jadi yang ada mobil bisa menangkap peluang untuk ngrangkap driver taksi atau usaha rental mobil, makanya ga heran ekonomi masyarakatnya jadi ikutan keangkat ya karena saling support itu tadi, kheseusnya di sektor pariwisatanya 😊

      nah iyakkk, aku juga ingatnya pas bagian tulisan mba pipit yang bahas itu sih yaitu bali justru pamornya lebih moncer bagi orang luar, baru ngeh indonesianya ity kalau dah disebutin balinya duluan xixixii

      wakakkaka bisa jadii haha, eh tapi kalau garcep mah nemu aja yang murah mas...tapi sebelum negara api menyerang alias ada pandemi sih, kalau sekarang aku kurang tahu bagaimana, semoga aja cepat kondusif..biar ekonomi bisa bangkit lagi, amiiin πŸ˜‡πŸ™πŸ™

      Hapus
  5. Mba Nita keren udah 4 tahun masih inget sedetail ini 😍😍 Asiik ya Mba duduk santai di gazebo sambil ga berenti ngunyah.. hehehe..
    Aku dulu terkahir ke tanah lot ga bisa terlalu menikmati karena panas n anakku ga betah. Apalagi di sana ga enak main air n main pasir kan. Padahal mamanya pengen lama2 foto2 n liat2 pasar seni nya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. nulisnya sambil ngliatin contekan arsip tahun 2016 tapih akuuuw mba thess hahhahaha


      iyah mba, adaaaa aja yang dikunyah tuh #alibinya sih ku nglarisin pedagangnya aja, tapi aslinya mah emang hobi ngunyah...ngunyah is my hobby ahahhaha


      ah pas ke tanah lot uda ber-4 atau ber-5 mba πŸ˜†πŸ˜œπŸ˜πŸ˜

      Hapus
  6. Uww pas masih berduaan. Hihi
    Lah mo ikutan bilang kawus tp ga tega karena ga nemu taksi pulangnya. Eh untungnya dipanggil adek2 jd cukup bayar 200rb, xixixi
    Pengen ke tanah lot, huhu

    BalasHapus
    Balasan
    1. wakakakakakka ampunih daku mba ell, jangan mbaaa jangan ikut ngawusin, tapi bilang aja syokooor kamu mba mbul syokooor haahah, iya mba kami sosoan pede pas pulange bisa gancil dapat taksi, ealah jebul mak jebul nda enek sing liwat...jadi bener kata pak taksi yang ngantar kami pagi, tau gitu taksewa aja sekalian suruh pulange nunggu hahhaha

      ayok mba kapan hari kalau sikon dah kondusif halan-halan lagi, ntar kubaca laporannya di blog hahahaiii

      Hapus
  7. wah mantab sekali jalan-jalan ke balinya mbak mbul, foto-fotonya lengkap, bikin pengen ke bali juga hehe :D.. foto laut dan ombaknya berasa semriwir di deket pantai, tapi sepertinya panas yaa :D... yang gw tau bali terkenal pantai kuta nya aja, ternyata banyak sekali yang bisa di datengin pas kesana, jadi inget jalan-jalanya om hao pas ke trunyan :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener bingit nif, pokoknya kalau ingat foto ini aku berasa pengen mbaleni dateng ke sana lagi deh #piye dong iki hahahah

      tapi sekarang mah tiket pesawat mahal, ga kayak pas jaman ituh hiks hiks #kemudoan nangis guling-guling 🀣

      iya nif pas uda menuju siang emang lumayan haaaawt alias hot aka panas, makanya lantas kami sewa payung

      nanti ya, aku bakal post waktu kami jalan ke beberapa pantainya, selain tanah lot ini kami juga sempet mampir ke pantai padang padang yang jadi salah satu lokasi shootingnya tante julia robert di film pray, eat, n love...sama liwat pantai pandawa dan tentu ajaaaa kute dan legian yang ibaratnya sebelah-sebelahan karena deket pollll

      ah iya nif..aku juga nonton edisi om haonya kisah tanah jawa yang bareng indigo travel with billy christian pas ke trunyan kan yaaa...seruuuuu

      sayang aku ga sempat ke trunyan padahal pengen banget... adohnya itu loh, ga keburu huhu

      Hapus
  8. Baca postingan ini jadi menghitung sendiri kapan terakhir saya ke tanah Lot ya? wakakakak, sudah lama banget, tahun 2010 kayaknya. Sering ke Bali tapi buat kerja jadi waktu buat explore ga banyak heheheh. Foto foto mbak Gusti bagus bagus, itu rujaknya sukses bikin ngeces

    BalasHapus
    Balasan
    1. bhuahahahah sudah 10 tahun yang lalu mas cipu, tahun segitu aku lagi mumet menuju tingkat akhir kuliah deh agaknya, lagi puyeng persiapan cari judul skripsi hahhaha

      iyah aku sampai hapal mas cipu pekerjaannya klo ga going abroad ya keliling indonesia, seruuuuu hihihi

      aduh jadi semangat pephotoan lagi ada yang nyanjung foto pemandangannya, makasih mas >__________< it means a lot to me #helaaw sok nginggris gw...buru buru check google translate :D

      Hapus
  9. Ha..ha.. Berkat mirip adek-adek bisa dapat diskon 200 rebu ya mbk... Salah satu keuntungan awet muda😁
    Tapi saya perhatikan, Mbak mbul kalau dolan kok kaya saya, makanan sama foto yang diincar. Kemana pun mainnya saya selalu mau coba jajan-jajan yang ada di sana. Tapi sayangnya perut saya cepet kenyang. Jadinya kudu milih mana yang paling kelihatan enak, setelah makan pasti saya pengen cepet-cepet keliling. Sendiri juga nggak masalah, soalnya mau berburu fotoπŸ˜‚
    Cekrek-cekrek sampai memory penuh sama foto dan vidio.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bhahahah lago hoki aja sih mba astri waktu itu πŸ˜‚πŸ˜‚
      Iya mbaaa, hihi soalnya kadang suka sayang aja klo ga sempet foto foto eee udah keburu cabut dari lokasi, pasti bikin sesampainya di rumah bakal kepikiran, trus ada pikiran buat mbaleni lagi hahah

      Hapus
  10. Keliling Bali emg lebih asoi pake motor. Kalo naik taksi gini agak susah kalo mau eksplor lebih lamaan.

    Rujake segere heeeemmmmm

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah iya prisca, kayaknya lebih mantepan lagi naik motor ya, bisa sambil menikmati udara terbuka hahahahiii

      Seger banget, tapi pedeus hihi, cucmey buat dimakan pas panas panas begindang >_______<

      Hapus
  11. Wih banyak yang bisa dilihat, mulai dari wisata hingga seni. Apalagi tempatnya itu, asri gak ada sampah, jadi pingin mampir kesana kak..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas, pokoknya berasa satu hari masih kurang, pengen memaksimalkan hari klo dah main ke bali tuh, termasuk juga tanah lotnya...

      Hihi iyak, pantainya super duper terawat, apalagi area yang atasnya ini, ijo dan sampah pada dibuang di tempatnya...#aslik, klo kesadaran masyarakat kebanyakan kayak gini mah lambat laun mayan mempercepat terwujudnya tatanan area wisata yang bersih :D

      Hapus
  12. Duh enaknya mba hanimun di bali, saya belum kesampean nih, hanimun aja di rumah kontrakan wkwkwk..memang Bali ini top markotop buat tempat liburan ya btw ini foto waktu masih langsing2nya ya hehe becanda mba nita 😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ga pa pa mba iid, ini pun dipaksa paksa ngambil jatah cuti wsktu itu biarbpak boss ga kelupaan pak su masih ada cuti, ntar lupa lagi malah suruh lembur mlulu hahahaha

      Biar di kontrakan tapi ada kenangannya kan 😜😜

      Haha tauk aja mba, iya nih dulu pas belom segembul sekarang hahhahaha

      Hapus
  13. Mba Nita, Tanah Lot ini salah satu tempat yang saya suka di Bali hihihi senang baca tulisan mba Nita mengenai Tanah Lot πŸ˜† area yang berbeda ini memang harus masuk dari pintu nggak jauh dari parkiran utama. Dan justru saya lebih suka santai-santai di area ini daripada area berpasirnya. Enak bingits saat sore jam 5 duduk di selasar sambil lihat matahari hampir terbenam. Terus kalau sore nggak begitu panas πŸ˜‚

    Ohya mba kalau sewa mobil tanpa driver alias setir sendiri lumayan murah di Bali -- semisal mobilnya manual around 175.000 while automatic around 275.000 πŸ˜„ kalau pakai driver baru agak mahal bisa 450.000 - 550.000 an πŸ˜† hehehehe. Eniho, terima kasih sudah bahas Tanah Lot, mba. Mengobati rindu saya yang terakhir ke sana tahun lalu sebelum Corona 🀧 semoga mba Nita one day bisa visit Bali lagi bersama keluarga tercinta 😍

    BalasHapus
    Balasan
    1. asyik samaan sama mba eno yabg asli sana 😜

      aku belom pernah nyoba ke sana pas sunrise hihi kayaknya cakep yakkk, apalagi pas air pasang berasa kayak nonton pemandangan yang subhanalloh indahnya dengan deburan ombak yang gaungnya kerasa sampai ke ati hihi

      aaaaakkk mamacih mba eno uda diinfokeun tarif rental mubil dengan dan tanpa driver πŸ₯°πŸ˜πŸ˜†πŸ˜† sepertinya buleh jadi jujugan aku pas ke sana lagi, moga moga one day bisa amiiiiiin 😍😍😍

      Hapus
  14. aduh ini kok mirip sama akuh ya, jalannya kapan, posting blognya kapan wqwqwq

    ya ampun aku selalu senang lho ke tanah lot, apalagi sama pasangan yaaa, kan banyak jalannya, terus endingnya pantai, duh bikin syahdu :')

    btw, foto2nya terlihat sepi ya, karena masih pagi kah? rasaanya tanah lot itu kok gak pernah sepi ya, meskipin low season pun tetap jadi jujugan favorit. berarti dirimu beruntung yaaa :D

    ditunggu kisah selanjutnya,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. wekekekek salim


      iya, aku juga dari sekian pantai pasti ujung ujungnya minta ke tanah lot yang gede areanya
      hu um soalnya aku pas nyampe sana kehitung pas masih pagi jadi masi sepi hihihi, enak buat pepotoan

      siyappp lagi aku kumpulin per satu tempatnya #terus keingat fotonya banyak banaaaa uhuhuhu

      Hapus
  15. kadang aku pingin lho liburan tanpa itinerary. kayak spontan saja ala2 di film begitu hahaha (padahal kan di film spontannya akting ya? hahaha)


    apa daya diri ini sangat perfeksionis, jadi harus banget dipersiapkan. kadang jadi stres sendiri kalo gak sesuai itin hahaha
    kudunya liburan ya kayak mbak Nita ini, santuy, dan let it flow. dibawa santai saja, dinikmati liburannya. huhu envyyy baca liburan ke bali.
    semoga corona lekas usai dan kita bisa jalan2 lagi yhaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. ahhahah iya yak, tapi tetep aja kalau pake itin seenggaknya ada patokannya yak hihihihi

      iyaak samaaa, aku kadang sebelum sampai tekape malah stress duluan kubek kubek website atau apa nyari itin dan tempat tempat kece siapa tahu sempat takdatangin, stress tapi antusias hihi

      eh begitu uda nyampe tekape bisa beda cerita, tujuannya bisa loh beda 180derajat dari rencana awal wakakkaka

      iya, mudah mudahan corona cepat melandai dan kemudian menghilang dari muka bumi ini ya walaupun kayaknya juga ga bisa instan hiks...sedih soalnya semua jadi kena imbasnya...mudah mudahan semua lini yang terdampak bisa cepat bangkit amiiiin

      Hapus
  16. Pisangnya begitu menggoda, saya suka sekali dengan pisang, apakah sama pisang disini dengan di bali ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. kayaknya pusang yang ada di foto ini sering aku lihat di pasar tangerang dan bogor juga mba hihi
      soalnya familier dengan ukurannya yang kecil tapu manis

      etapi aku ga sempat beli deng, cuma numpang foto aja hihihi

      Hapus
  17. Niiit, Ampe skr yaaa aku penasaran Ama ularnya. Walopun takut juga sih kalo mau liat. Tapi ga pernah di kluarin dari pura yaa? Soalnya pas ku ke Bali Ama pak suami, ke tanah lot juga, dan ada bli yg sedang bawa ular piton gitu di pundaknya. Trus boleh dipegang2 Ama turis. Bukan ular itu kan yaaa yang dianggab suci?

    Pertama kali ke tanah lot, itu pas aku SD. Jujurnya, tempat ini yg paliiiing aku inget banget, karena banyak cerukan2 batu yg berisi air lautnya. Dan karena pantainya sendiri ga bisa direnangin, main di cerukan2nya itu udah asyik banget utk anak2 dulu :D.

    Makanya pas ke Bali LG, aku lgs minta Raka ke sana lagi.

    Mahal jugaaa sewa mobilnya yaa. Aku kalo ke Bali berdua Ama Raka, selaku sewa motor. Bukannya napa2, tapi macetnya Bali ga nahaaaaan hahahaha. Mnding motoran. Kecuali kalo ajak anak2, baru deh sewa mobil. :D. Walopun yaaaa , sampe JKT itu aku slalu gosong dan balik ke warna kulit asal bisa makan waktu 7 bulanan -_- ... Sebeeel.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mba fanny, akupun ga ikut ke bawah dan nengok goa yang ada ular sucinya itu...sepertinya yang ula sucirnya emang bukan si phyton yang buat foto-foto itu mba, eh tapi pas SMA sebenernya aku pengen ikut foto tapi ga jadi karena ada biaya lagi, maklum sangu yang dikasih ibu waktu darmawisata SMA itu cuma Rp 300 ribuan jadi kudu diirit-pirit buat beli oleh-oleh xixixixix, kalau kelong buat bayar foto bareng phyton sayang...huhu

      kalau yang kuintip di portal tanah lot id nya yang ular sucinya itu yang garis item putih mba fan, semacam spesies ular laut sepertinya 😊

      iya....enak mainan diantara cerukan dan karang-karangnya musti kudu ati-ati karena siapa tahu ada yang tajem bebatuannya πŸ˜„

      eh sepertinya mengasyikkan juga ya kalau sewa motor, tapi enakan kalau pas jalan beduaan aja ama pak su klo motoran, kalau ada bocah ya mobilan aja dah hahaha, la rombongan kita sekompi berempat wkwkwkkw

      iya akupun pulang dari sana gosyong karena banyakan datenginnya wisata pantai πŸ˜†πŸ˜†

      Hapus
  18. Yang saya inget ke tanah lot itu udah lama banget. Ke sana cuman buat foto-foto doang.

    BalasHapus
  19. Aku belum pernah ke Bali, Mbak. Cakep banget ya pemandangan di Bali. Harus nabung dulu nih aku biar bisa liburan ke Bali.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi iyak, aku juga sebelumnya nabung 3 bulan dulu baru lega bisa pergi ke bali ga terlalu banyak tekor karena uda kupersiapkan jauh hari sebelumnya budgetnya berapa ^____^

      Hapus
  20. "Jadi adek-adek ini kabur dari bus darmawisata buat pacaran berdua?, nggak boleh ya dek! pamali pacaran masih kecil!"
    Wakakakakakakakak.

    Memang tampang dirimu itu imoet banget sih, suamimu juga, klop sudah kalian kek anak SMP yang kabur mau pacaran :D

    Tapi memang Denpasar - tanah Lot itu jauh banget loh.
    Diriku juga tahun 2013 dulu ke Bali, sempat 2 kali datang ke tanah lot.
    Sengaja 2 kali, karena pertama kali datang, astagaaa rame banget.
    Kedua kalinya datang, eh rame juga hahaha
    (menurut loe Rey? orang memang tempat wisata)

    Etapi diri kami nggak bisa lebih menikmati kayak kalian, saking bawa si kakak, waktu itu usianya masih 3 tahun, dan pas nyampe di sana dia krenki karena baru bangun plus panas banget pula (ye kaaann, namanya juga pinggir laut)

    Memang paling enak tuh jalan-jalan pas belom punya anak, atau pas anak-anak agak gedean, biar bisa lebih menikmati, apalagi kalau kayak kami, mau liburan itu biasanya nekat banget, karena nyukup-nyukupin duit yang seiprit hihihi

    Kalau juga nggak bisa dinikmati kan sayang banget.

    Oh ya, kalau ditanya apa yang menarik dari tanah Lot?
    Futu-futunya hahahaha.
    Sama beli oleh-oleh (buat diri sendiri, hahaha)

    Lainnya, atuh mah, bete saya ke sana itu,
    Udahlah panas, si kakak krenki, pas kami mau duduk-duduk santai dekat pemandangan laut tuh, eh disuruh pergi dong sama mamak-mamak yang kayaknya turis dari China.

    Btw, foto-fotomu ini jadi bikin kangen ke bali lagi say.
    Biar kata tanah lot panas, tapi ngangenin juga buat balik hanya untuk foto di sana hahahahahahaha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. wakkakaka e tapi bener kak rey kami disapa adek adek ama bapak driver nya loh hahha, sedikit bikin berbunga bunga dan menghibur hati buat kami yang sebenernya udah tuwak ini...hahha


      waaakkkz..tapi baca pengalaman kak rey dan famz ke bali naik kapal dan bawa bekel segambreng terasa soswit, walaupun ujung ujungnya di sana agak kebingungan mau eksplore mana aja hihi
      tapi seru kan jadi ada cerita...e itu malah jadi kenangan tersebdiri tuh cooler box buat tempat makan n minumnya wekekek..tapi jadinya itu diketeng keteng kah?

      waduh nyesek juga masa disuruh pigi ama tuirs.. apa mereka mau foto kali ya...tapi masa ga liat kak rey lagi lelah pengen ngaso huhuhu #sungguh ter la luuuh


      iya..enakan kalau ke sini pagiii atau sore biar mataharinya ga terlalu gahar hihihi

      Hapus
  21. Tanah Lot ini destinasi wajib jaman dulu ketika ada darmawisata, dikit dikit tanah lot :D
    habis jalan di bawah teriknya matahari, terus ngadem sambil makan klepon plus es kelapa muda ditambah ngerujak, duuhhhh enyak pokoknya dahhhhhh

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener banget mba ai, kalau ke bali belom ke sana rasanya kurang afdol hihi

      Hapus
  22. Nyesel saya ngebw-in postingan ini. Kan rasa keinginan untuk plesir ke Bali saya menggejolak lagi jadinya :( sudah 10 tahun lalu kali ya maen-maen ke sana. Waktu itu nyampe sana baru juga jalan bentaran doang eh turun hujan. Yadah ngabisin waktu di Tanah Lot cuma buat numpang berteduh aja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah makasih uda mampir blog aku ya

      besok kalau ada kesempatan ke bali, mampir lagi atuh, ntar biar eksplorenya tambah lengkap ^______^

      Hapus

Komenin dong...tanpa kehadiran kalian apalah arti aku menulis....
kalian penyemangat setiap bulir kalimat dalam blog ini :*
Namun jangan komentar SARU atau SARA ya, jika ada komentar dengan unsur tersebut, dengan berat hati akan aku HAPUS .

Oh ya, Dilarang juga mengambil gambar/foto atau menyadur tulisan tanpa mencantumkan sumber atau seijin pemiliknya. Apalagi untuk kepentingan komersial atau lomba. Thx ^____^