Selasa, 13 April 2021

Review Supernova Petir by Dee Lestari



Oleh : Gustyanita Pratiwi

Sinopsis Supernova Petir, Dee Lestari

Review Supernova Petir, Gustyanita Pratiwi


Judul buku : Supernova Petir
Karya : Dee/Dewi Lestari
Cetakan pertama : April 2012
Cetakan kedua : April 2012
Penerbit : Bentang Pustaka
Hlm : x+286 hlm, 20 cm
ISBN : 978-602-8811-73-6
Pernah terbit dengan judul yang sama pada 2004


Di sudut Kota Bandung, tersebutlah seorang gadis keturunan Tiong Hoa bernama Elektra. Ia tinggal bersama ayah yang biasa disebut sebagai Dedi dan juga kakak perempuannya Watti. Mereka hidup dalam kesederhanaan di sebuah rumah bergaya Belanda, Eleanor. Rumah tersebut bukannya terlihat megah, malah lebih mirip sebagai gudang raksasa karena memang sehari-hari dioperasikan sebagai tempat servis barang elektronik bernama Wijaya Elektronik. Mungkin, dari situlah nama Elektra dan Watti bermula. Satu, berkaitan dengan istilah elektronik pada nama Elektra, satunya lagi berkaitan dengan satuan watt pada nama Watti. 

Duo adik-kakak Elektra dan Watti sedari kecil sudah dibiasakan hidup sederhana. Terlebih mereka juga piatu sejak lama, menjadikan Dedi harus bisa berperan sebagai ayah sekaligus ibu. Memang jika dibandingkan dengan anggota keluarga lainnya yang masih dalam satu keturunan yang sama, keluarga Wijaya lah yang kelihatan paling ngenes. Jika sepupu-sepupu Elektra dan Watti disekolahkan di SD swasta bergengsi lalu besarnya paling tidak harus menginjakkan kaki ke luar negeri, maka tidak dengan mereka. Elektra dan Watti terpaksa disekolahkan di sekolah negeri yang SPP-nya jauh lebih murah ketimbang sekolah swasta. Meski di sana, mereka kerap mendapatkan perlakuan berbeda lantaran kulit mereka yang tak pernah gosong meski dijemur terik matahari.  

Elektra dan Watti juga tak pernah sekalipun mencicipi mainan baru, sebab mainan lama mereka selalu berhasil disulap Dedi menjadi baru. Ya semua itu berkat tangan dingin Dedi yang memang ahli reparasi. 

Elektra dan Watti juga sering berseberangan pendapat tentang berbagai hal, terlebih karena sifat Elektra yang pasif, sementara Watti adalah kebalikannya. Jika Elektra mengibaratkan diri sebagai 'penonton', maka Watti ia ibaratkan sebagai pemeran opera sabunnya karena sifatnya yang kadang terlampau reaktif dan berlebihan. Mungkin bahasa gaul anak sekarang disebut sebagai lebayatun. 

Saat kecil, Elektra sangat suka bermain dengan hujan. Sambil bertelanjang kaki, ia tampak menikmati kilatan petir yang menyalak di angkasa. Dedi dan Watti tentu saja tidak mengijinkan anak itu berhujan-hujanan. Bila tiba saatnya hujan sudah menggelayuti langit, maka cepat-cepat Elektra dikurung di dalam kamar. Ia pun hanya bisa memandangi hujan beserta petirnya dari balik kaca jendela yang bergetar. 

Pernah suatu kali Elektra tersetrum listrik tegangan tinggi tapi tidak sampai koit. Watti mengira Elektra kerasukan iblis sehingga harus segera disucikan. Tapi Dedi bilang itu karena penyakit epilepsi. Ia marah besar ketika tahu Watti tidak cepat menolong Elektra pada saat kejang-kejang karena disangkanya adiknya itu kerasukan iblis jahat ketika sedang disembuhkan oleh seniornya di persekutuan yaitu Nelson. Dedi jelas tidak percaya dengan sesuatu hal yang irrasional, meskipun ia sendiri pernah menjalin ikatan suci dengan listrik setelah moment tersetrum listrik tiga fasa dari juntaian kabel telanjang yang ajaibnya membuat badannya menyala ketika ditempeli test pen.

Selang beberapa tahun kemudian, saat Elektra dan Watti beranjak dewasa, Dedi terkena serangan stroke. Beliau meninggal dengan sangat tiba-tiba hingga menyebabkan Elektra sangat terpukul. Terlebih kala itu Watti sedang disibukkan dengan rencana pernikahannya dengan Kang Atam, orang yang membuatnya sampai rela pindah agama sebagai syarat untuk memasuki kehidupan keluarga besarnya. Cukup tragis memang, mengingat pernikahan akhirnya tetap dilangsungkan tak lama setelah kematian almarhum meski kemudian Watti diboyong Kang Atam ke Tembagapura dan meninggalkan Elektra dengan segala piutang Wijaya Elektronik yang tak tertagih. 

Elektra pun mumet dan memikirkan segala cara agar bagaimana caranya ia bisa bertahan hidup. Ia juga paling ogah menuruti saran Watti yang menjodohkannya dengan Napoleon  (Bonaparte) Hutajulu kenalan Kang Atam yang masih menjadi koas. Berani samber gledeg lebih baik hidup susah di Bandung ketimbang menuruti saran kakaknya yang cerewet itu. Ya, meski iming-iming cerita tuan putri ala negeri dongeng yang akhirnya menemukan pangeran kaya dan sanggup menghidupinya tanpa perlu bekerja sempat merecoki pikiran Elektra, meski toh akhirnya ia tak sudi menyanggupinya.

Hari-haripun berjalan. Tak dipungkiri Elektra kian merasa kesepian. Ia tinggal di rumah besar yang sudah sangat usang dengan segala macam perabot yang ada khususnya barang elektronik bekas yang bertumpuk bagai gunungan dan menjadi penyebab utama rumahnya kelihatan sempit meskipun aslinya besar. Terlebih tabungannya kian menipis dan piutang Wijaya Elektronik tidak ada yang bisa ditagih. Setiap hari ia hanya makan telur dan telur saja. Cara memasaknya pun begitu-begitu pula. Diceplok lagi dan diceplok lagi. Sementara persediaan mie instan juga semakin menipis. Tak jarang, dengan keadaannya yang semakin memilukan itu ia pun menjadi sering sakit-sakitan.

Suatu hari, hujan turun dengan derasnya disertai dengan petir yang menyalak-nyalak. Ia pun memiliki kesempatan emas untuk mengenang masa kecilnya yaitu berhujan-hujanan dengan kaki telanjang. Mumpung tidak ada Watti dan Dedi. Ia pun berjalan keluar rumah dan tampak bahagia sekali bahkan menari-nari sampai akhirnya sebuah petir datang sekelebatan dan menyambar pohon asam yang ada di sudut kebun hingga terbelah jadi 2. Tukang warung dan kenek angkot yang lewatpun sampai bergumam :  Apakah yang barusan itu tarian pemanggil petir?


Intermezo dikit...

Clurutnya Mbul nampang dikit

 Mbul berniat latihan membaca lagi haha..



Untuk bertahan hidup dan bisa makan, sebenarnya Elektra sempat tebar jaring kemana-mana dengan melamar pekerjaan di sana-sini, namun entah kenapa ujungnya selalu berakhir pahit. Misalnya ia diprospek dalam sebuah MLM yang ia rasa tidak cocok untuk dirinya karena harus mencari downline atau kaki-kaki. Ia juga pernah terbersit ide untuk menjual saja rumah peninggalan Dedinya ini walau akhirnya belum menemukan pembeli yang pas karena berbagai macam alasan. 

Suatu malam, ia mendapati sebuah surat dari STIGAN (Sekolah Tinggi Ilmu gaib Nasional) yang menjadikannya kandidat sebagai Asisten Dosen. Elektra bingung bagaimana caranya surat itu bisa sampai di bawah kolong pintu rumahnya. Tapi karena sudah saking putus asanya ia menganggur, maka ia pun sempat berpikir untuk melamar posisi Asdos tersebut meski sebelumnya harus memenuhi sejumlah persyaratan tertentu. Diantaranya adalah menyiapkan barang-barang klenik agar nantinya surat lamaran tersebut bisa dijemput oleh kurir gaib. Karena awam dengan hal beginian, maka pergilah ia ke salah satu toko barang-barang klenik yang sejak kecil sering dikiranya sebagai rumah nenek sihir. Ternyata pemiliknya adalah sorang ibu paruh baya berdarah india dan kelihatan sangat relijius bernama Ibu Sati. Selain menjual perlengkapan klenik di tokonya, ia juga ternyata seorang yogini.

Elektra juga iseng ingin bertanya kepada orang pintar perihal waktu pengiriman lamarannya ke STIGAN karena ditulisnya menggunakan tahun saka. Ia pun mendatangi seorang dukun sakti bernama Ni Asih, atas saran dari mantan ART-nya yang kini telah sukses menapaki karir dalam bisnis MLM, Yayah dan Mimin. Ni Asih ini meski dari luar terkesan sebagai nenek-nenek yang kalem, tapi ternyata di setiap prakteknya, ia selalu berubah menjadi satu sosok lain yang teramat sangat garang. Namanya adalah Aki Jembros. Singkat kata, setelah diberitahu waktu penyerahan surat lamarannya adalah malam jumat, maka Elektra pun menyertakan pertanyaan tambahan kenapa nasibnya jelek terus terutama ketika menyangkut pekerjaan. Aki Jembros yang konon katanya sedang meminjam raga Ni Asih kemudian menjabarkan serangkaian asumsi bahwa selain sifatnya yang malas, Elektra juga diincar roh jahat sehingga sebisa mungkin harus cepat dikeluarkan supaya ke depan nasibnya berubah menjadi lebih baik. Namun karena metodenya membuat Elektra syock, maka tanpa sengaja ia pun melawan dan malah menyetrum dukun sakti tersebut.

Untuk mencari suasana baru, Elektra berinisiatif menata kembali interior rumahnya. Seluruh barang elektronik bekas yang tidak nyala kembali ia buang bahkan dinding yang kusam pun ia cat ulang. Lumayan menguras tabungan juga proses renovasi tersebut. Maka tak heran hari-harinya kembali dihiasi dengan makan telur sampai tak terasa muncul bisul di sana-sini. Suatu ketika ia tak sengaja berjumpa dengan teman SMA-nya Beatrix yang punya bisnis warnet. Ia lalu diiming-imingi Beatrix sebuah kegiatan baru yang menyenangkan yaitu berselancar di dunia maya. Dari mulai dibikinkan email, dijamu dengan beraneka macam bonus makanan pengganjal perut seperti indomie goreng telur juga teh botol sosro Elektra akhirnya seperti kesirep dengan internet. Chatting dengan berbagai macam akun di milis-milis dan latihan bergaul dengan kenalan baru dari berbagai belahan dunia. Hampir setiap hari ia menyambangi warnet Beatrix. Nongkrong di situ berjam-jam sampai tak tahu waktu. Akhirnya ia kelelahan dan jatuh sakit. Beruntung, Ibu Sati datang merawatnya seperti anak sendiri. Memasakkannya berbagai macam makanan sehat seperti tumis sayur-sayuran dan melatihnya bermeditasi. Ia juga menyarankan Elektra untuk coba memikirkan sesuatu dengan komputer tanpa harus pergi ke luar rumah. 

Elektra lantas diajak Kewoy (penjaga warnet di tempat Beatrix) untuk pergi ke pameran komputer. Di sana ia tergoda dengan seperangkat komputer canggih seharga Rp. 17 juta yang akhirnya dibeli begitu saja meskipun hal tersebut membuat Kewoy tepok jidat. Ibu Sati juga menyarankan Elektra agar membayangkan di rumahnya itu tidak hanya ada satu komputer. Melainkan berjajar-jajar komputer yang bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah. Apalagi kalau bukan buka warnet. Maka setelah membajak Kewoy dari tempat Beatrix, ia juga dikenalkan dengan seseorang yang bertangan dingin di bisnis ini, siapa lagi kalau bukan Toni atau Mpret. Selain ahli melambungkan suatu usaha, Mpret juga ternyata seorang hacker kelas kakap. Ia berhasil menyadap internet banking beberapa bank juga memindahkan uang dari satu rekening ke rekening lainnya dalam satu kali jentikan jari.

Elektra, Mpret, Kewoy, dan satu temannya lagi yang bernama Mi'un akhirnya sepakat mendirikan Elektra Pop setelah melalui serangkaian rembugan panjang. Rumah Eleanor pun disulapnya menjadi Warnet, Rental PS, Distro, Home theater dan gerobak nasi goreng milik Mas Yono yang ikut diboyong serta karena terkenal paling yahud seantero Bandung. 

Elektra Pop pun tak butuh waktu lama untuk cepat dikenal anak-anak gaul Bandung. Setiap harinya tempat itu ramai, bahkan nyaris 24 jam tak pernah “mati”, entah pengunjungnya sekedar untuk ngenet, main PS, belanja di distro, nonton film koleksinya Mpret atau makan nasi goreng Mang Yono. Perlahan tapi pasti kehidupan Elektra pun berubah drastis. Ia menjadi seorang enterpreneur yang sukses.

Suatu hari, Elektra kembali sakit. Ke-4 kawannya yaitu Kewoy, Mpret, Mi’un dan Mas Yono yang tadinya ingin membopongnya ke RS tiba-tiba dikejutkan oleh sesuatu yang di luar nalar. Saat tangan ke-4 orang itu menyentuh badan Elektra, tiba-tiba saja keluar aliran listrik yang menyetrum mereka sampai terjungkal. Lagi-lagi hal tersebut membuat geger seisi rumah. Pada saat itulah Ibu Sati datang tergopoh-gopoh menawarkan bantuan. Ia pun memberitahu Elektra bahwa ia memiliki kemampuan lebih. Ia juga bersedia melatih Elektra agar bisa mengendalikan kekuatannya sehingga bermanfaat untuk orang banyak. Maka seperti sudah ditunjukkan jalannya, Elektra pun membuka “Klinik Pengobatan Elektrik” yang akhirnya menyita  ruang PS. Dari situ, kemudian banyak sekali orang datang untuk berobat. Elektra pun kewalahan dengan pelanggan yang semakin membludag walaupun di luar konsumen Elektra Pop. Kadang badannya drop meski ia senang bisa berbuat baik untuk orang lain. Sayangnya hal tersebut tidak membuat senang satu orang. Siapa lagi kalau bukan Boss Kurus, Mpret. Ia pun berdebat dengan Elektra karena sedari awal klinik pengobatan ini tidak ada dalam perjanjian bisnis. Elektra berang dan mengatai Mpret perhitungan. Ia juga tanpa sadar mengeluarkan kata-kata yang membuat Mpret terluka sehingga akhirnya mereka malah diem-dieman. 

Namun kesalahpahaman itu berangsur-angsur padam setelah adanya moment dimana Elektra mengetahui bahwa Mpret sebenarnya justru peduli dengan Elektra yang tiap habis praktik malah tumbang. Ia takut Elektra kelelahan dan sakit-sakitan. Gadis itupun merasa bersalah karena sudah mengatai Mpret perhitungan dan bahkan penjahat (karena profesi Mpret yang sebagai hacker). Mereka pun kembali bersenda gurau seperti sedia kala. Sampai suatu ketika kemampuan Elektra semakin bertambah yakni bisa membaca pikiran orang hanya dengan menyentuh telapak tangannya saja. Dan dari situlah, ia tahu bahwa Mpret ternyata menyukainya walaupun tidak pernah diungkapkan.

Review Supernova Petir, Dee Lestari

Jatuh Cinta pada Tokoh Elektra tanpa Berpikir Dua Kali

Berjodoh dengan sang waktu, akhirnya aku bisa menamatkan Supernova Petir  Karya Dee Lestari ini setelah sekian lamanya terseok-seok menata mood untuk membaca kembali. Memang ini bukan kali pertama aku merampungkan Sekuel Supernova yang ke-3 setelah Akar dan Ksatria, Putri & Bintang Jatuh, tapi sudah sejak SD atau SMP aku membacanya meski cuma dapat pinjam dari rental bacaan samping sekolah kakak yang ada di Kabupaten sana. Iya, aku memang sudah baca buku ini di usiaku yang masih piyik~~yang covernya bukan kayak yang sekarang. Dulu covernya belum seseragam 6 sekuelnya yang lain dan cuma berbeda simbol. Yang dulu itu meski covernya sama-sama hitam tapi tengah-tengahnya seperti ada gambar petir yang menyerupai mata. Kertasnya juga tebal warna semi kuning dengan font yang sangat nyaman di mata sehingga aku membacanya sebagai sebuah karya yang megah karena ternyata aku juga sangat menyukai ceritanya. 

Dibanding dengan sekuelnya yang lain, Supernova Petir paling 'meremas-remas' hatiku meskipun jalan ceritanya sangat sederhana. Jauh lebih sederhana dibandingkan dengan sekuel Supernova lainnya yang kebanyakan ditempeli bahasa scientifik di sana-sini. 

Yang ini, aku merasa tokoh utama perempuannya cukup representatif untuk diriku. Sulit dipercaya memang, sebab biasanya aku tidak cepat jatuh cinta dengan tokoh utama perempuan sebuah novel kalau bukan karena faktor 'x'. 

Biasanya aku butuh waktu lama (bahkan kadang tidak jadi memutuskan suka karena satu dan lain hal). Karena bisa dikatakan mayoritas novel yang pernah kubaca seringnya menggambarkan tokoh utama perempuan dengan begitu paripurna,  baik dari segi fisik maupun psikis, sehingga i'm just like.. wow...kok kayaknya ga sesuai banget dengan pribadi yang sedang baca #dalam hal ini aku, hahaha. 

Sementara ketika menjumpai tokoh yang kurang lebih agak jauh dari ciri-ciri seorang primadona tentu aku merasa lebih tertarik, karena mungkin related ya. Lebih 'manusiawi' istilahnya. Ga digambarkan terlalu 'angel' begitu.


Clurutnya Mbul ikut menemani menamatkan buku ini (e ini clurut apa singa laut ya hwahahaha)


Contohnya ya di Supernova Petir ini. Aku berhasil dibuat kesengsem dengan tokoh utamanya yaitu Elektra yang merupakan si anak nomor dua (yang kebetulan kok ya sama-sama nomor 2-nya denganku di keluarga~~dan lagi-lagi juga sama-sama lulusan S1 ekonomi-nya, sama-sama sempat desperate juga pas awal-awal mencari pekerjaan saat fresh graduate tiba.

Nah, satu hal pula yang menjadikan Elektra ini begitu membius perhatianku, yaitu karena karakter polosnya yang kebangetan. Asli...polos banget. Ya polos, ya koplak, ya lugu... kalau orang Bandung bilang bodor

Banyak sekali part yang mengungkap betapa polosnya seorang Elektra, sampai aku  bisa membayangkan jika tokoh ini divisualisasikan mungkin kira-kira tampangnya akan menyerupai sesosok tokoh dalam komik atau manga yang memiliki 'mata malas' lalu di sudut keningnya muncul tetesan peluh, sementara di belakangnya ada garis-garis hitam. Very comical, but in totally innocent mode on...

Mungkin part yang bikin aku sampai melongo adalah bagian ia cuma bisa berkata 'hoi' pendek tatkala mendapati seorang remaja tanggung tengah netek di atas dada kakaknya yang baru menginjak usia pubertas lalu narasi selanjutnya berbunyi bahwa ia akhirnya mengantongi kartu As kakaknya supaya berhenti bertingkah rese seperti yang biasa dilakukannya selama ini. 

Part lainnya adalah betapa polosnya ia ketika dikirimi surat yang menjadikannya sebagai kandidat dosen di STIGAN (Sekolah Tinggi Ilmu Gaib) yang mana memiliki persyaratan tertentu agar lamarannya dijemput oleh kurir gaib. Nah, adegan di kuburan dimana ia kucing-kucingan saat hendak menitipkan lamarannya di kuburan itulah yang sukses membuatku terpingkal-pingkal. Terlebih pada akhirnya ia menyatroni kuburan mendiang kucingnya yang diberi nama Kambing di sekitar rumah Pamannya yang kaya lantaran sebelumnya misinya itu dikacaukan oleh seorang teman kuliah ketika hendak menaruh lamarannya di atas nisan yang ada di pekuburan umum. Sumpah pada bagian itu menurutku pecah banget, terlebih ketika ia tahu sebenarnya ia ditipu oleh STIGAN, tapi demi harga diri tidak sampai jatuh menyentuh tanah, maka ia pura-pura lempeng saja. Tertawa yang sudah bisa dipastikan model ekspresinya bagaimana. 

Part lainnya lagi adalah saat ia mulai menjadi manusia milenium dan kecanduan internet berkat sering nongkrong di warnet temannya Beatrix. Di situ digambarkan dengan sangat lugu betapa Elektra yang mulanya seperti berada dalam zaman dinosaurus~~ tidak tahu apa-apa ketambahan jarang bergaul, akhirnya bisa menjelajah dunia dan seisinya dalam satu kali klik. Chattingan dengan berbagai manusia dari banyak milis, membayangkan punya kawan akrab dari dunia maya, sampai bolak-balik ngendon di internet, begadangan, sampai persediaan tabungan nyaris habis, tinggal satu celengan ayam semasa kecil untuk bertahan hidup dengan diakali dengan cara mengkonsumsi telur ceplok dan mie instan dari hari ke hari. Sungguh nelangsa. Tapi anehnya diceritakan dengan sangat koplak. Tiap-tiap majasnya banyak sekali yang merujuk betapa polosnya si Elektra ini.

Kepolosan Elektra sebenarnya sudah dibangun sejak awal-awal cerita, dimana potret Elektra kecil selalu dirivalkan dengan saudarinya Watti yang lebih ia sebut sebagai pemeran opera sabun, sedangkan dirinya adalah penontonnya. Nuansa penceritaan semasa kecil itu membawaku berimajinasi tentang keduanya, juga sang Dedi yang sama lempengnya dengan Elektra. Keluarga kecil yang hidup dalam rumah besar yang menjelma bagai gudang raksasa. Sumpah nuansa rumahnya, bahkan sampai seinterior-interiornya yang meja makannya pun dari bekas meja pingpong yang salah satu kakinya diganjel dengan barang elektronik bekas, juga banyaknya pembukuan laba-rugi yang dihiasi gambar kambing bertanduk seperti devil (by Elektra) dan peri yang di atas kepalanya terdapat halo (by Watti) yang terbayang dalam benakku saat membacanya ya memang jelas adanya. 

Pun setelah semuanya mendewasa, Watti caw ikut suaminya Kang Atam ke Tembagapura dan si rumah Belanda Eleanor disulap menjadi Elektra Pop, aku sampai bisa membayangkan seberapa detail isinya ketika sudah ditata menjadi zona-zona. Pun demikian dengan penggambaran nasgor dan indomie goreng telur racikan Mang Yono. Benar-benar suatu gambaran setting tempat yang lovable meski terkesan vintage sampai-sampai seorang jompo bernama Pak Simorangkir yang sudah pikun sering nongkrong di situ dan mendapat julukan baru sebagai hantu terbaiknya Elelanor, bukan lagi the invisible man.

Cinta tanpa Diungkapkan Kenapa Bisa Seromantis ini ?

Meski Supernova Petir core-nya lebih ke potret seorang Elektra yang bergelut dengan kelebihannya di bidang listrik, tapi justru yang paling kunikmati adalah bagian percintaannya. Memang dimanapun ditemukan, cerita yang lebih aku tingkatkan konsentrasinya justru pada bagian ini. 

Meski dikatakan sangat singkat dan seperti nyempil di halaman menuju akhir, tapi bagian ini selalu bisa menjadi bumbu. Bahkan bagian Elektra-Watti, Elektra-Sati rasa-rasanya pengen aku baca dalam format cepat saja karena aku lebih tertarik dengan Elektra-Mpret alias Toni yang seperti aku bilang tadi mampu 'meremas-remas' hatiku. 

Bentuk cinta diantara keduanya (atau malah baru dari satu pihak saja ?) kedengarannya kok nothing to lose banget sebab tidak pernah diungkapkan lewat kata-kata. Tidak pernah mengharapkan balasan. Cuma bisa bertindak sebagai seseorang yang siap diandalkan kapan saja jika orang yang disukai butuh bantuan. That's it! Kedengaran sangat naif bukan? Tulus atau malah nelangsa....ah... Tapi kok ya anehnya malah membuat darahku cukup berdesir-desir begini ya, bagaimana aku malah sanggup merasakan keintiman diantara keduanya yang sempat berada dalam zona mitra bisnis---konco nongkrong aka konco celelekan----diem-dieman karena salah paham ----sampai kemudian salah satu diantaranya mengetahui bahwa yang satunya lagi ternyata memendam perasaan suka tanpa pernah mengungkapkan. 

Ya, ini terjadi pada saat Mpret ulang tahun dan segenap warga Elektra Pop sepakat membikinkan pesta balita yang diawali dengan ribut-ribut kecil karena Mpret, si Boss Kurus yang punya 'mata berbicara' ini ternyata phobia badut. Lalu setelah dengan teramat sungkan memulangkan badut itu, gantian Kewoy yang mengaju-ajukan Mpret supaya mau diberdirikan rambutnya oleh Elektra dengan kemampuan listriknya. Ya buat iseng-iseng saja. Nah, karena caranya adalah dengan menempelkan pergelangan tangan, maka secara otomatis gerakan ini langsung mengantarkan Elektra pada kemampuan membaca pikiran Mpret. 

Ya, bahwa selama ini Mpret yang ia kenal slengehan dan cuek bebek itu ternyata menaruh perasaan padanya. Suka dalam diam yang tak pernah diungkapkan. Dan bloonnya lagi adalah cuma Elektra seorang yang ga sadar padahal semua konco laki di Elektra Pop sudah tahu akan hal itu. Sampai Miun saking gemasnya bilang, semua hal tidak selalu harus diungkapkan dengan kata kata kan, tapi bisa juga dengan tindakan. 

Sebenarnya ini part klimaksnya sih dimana rasa penasaranku akan kemisteriusan seorang Mpret aka Toni yang ternyata ada keturunan Italia-Bandung ini memuncak. Ya gambaran Mpret dari sisi personalnya. Mpret yang ternyata lulusan ITB dan dulu idola banyak cewek walaupun tak ada satupun yang dipacarinya. Mpret yang jago bisnis dan punya solidaritas tinggi terhadap teman. Mpret yang kurus, galak, perhitungan (walau itu hanya asumsi Elektra saja yang tadinya belum mengenal Mpret lebih jauh, padahal kan sebenarnya ia care banget....). Mpret dengan kaus kucelnya dan sering ngangkot di pinggir pintu tapi siapa nyana dia adalah seorang hacker kelas wahid. Mpret dengan bola matanya yang indah dan berkarisma hingga seorang banci di salon langganannya sebegitu ngefansnya dengan dia walau akhirnya banci tersebut memutuskan untuk berubah menjadi macho dan beralih profesi menjadi kurir atas saran Mpret. Ah memang sungguh misterius si Mpret ini. Semisterius kisah cintanya yang akan dibawa kemana aku tak tahu. Apakah akan tetap seperti itu? Atau berkembang di sekuel selanjutnya. 

Tapi sesungguhnya part tergemasnya ada pada saat mereka diem-dieman. Jadi ada suatu masa, si Mpret tiba-tiba mengajak rapat umum pemegang saham karena ada sesuatu yang tidak ia setujui yaitu setelah dibukanya klinik pengobatan Elektra via setrum listrik. Mpret merasa itu sudah tidak masuk dalam perjanjian awal dan malah mengurangi jatah pemasukan zona PS karena tempatnya dipakai Elektra praktek. Dari situlah ketegangan bermula. Elektra menuduh Mpret perhitungan dan tidak menyetujui misi sosialnya menyembuhkan orang. Walau ketika dirunut ke belakang ternyata Mpret bukannya tidak setuju atau pelit, justru ia mengkhawatirkan kesehatan Elektra yang sehabis praktek sangat kelelahan dan tak jarang tumbang. Sayangnya Elektra tidak menyadari hal itu hingga akhirnya keduanya perang dingin. Itu dari kaca mata Elektra saja sih. Sementara dari kaca mata Mpret, bahkan di balik sikap dinginnya itu, diam-diam ia sangat melindungi Elektra. 

Misalnya pas bagian Lebaran dan seluruh karyawan mudik, Elektra mengira ia sendirian di rumah sehingga bersiap untuk menjemput bulan madu panjangnya setelah sekian lama tidak diritualkan (baca : bermalas-malasan aka tidur siang). Sampai akhirnya ada orang asing tiba-tiba masuk menggotong komputer PS yang ternyata orang suruhan Mpret karena ia akan membuka PS di Tasik. Semula Elektra sebal kenapa Mpret tidak bertanya dulu padanya, tapi kemudian setelah dijelaskan dan tahu ia malah segitu dilindunginya oleh pria kurus itu (meski dalam bentuk tindakan bukan kata-kata) barulah sedikit demi sedikit Elektra mulai menerima sosok Toni dalam bentuk yang lain. Toni yang selalu melindungi dan mengkhawatirkannya meski dalam keadaan diam. Hmmmm...cukup membuat meleleh sebenarnya...

Memang ceritanya sangat mengalir, meski part cinta-cintaannya menurutku terlampau kesedikitan. Aku berharapnya bisa lebih, karena kalau kata bahasa anak sekarang terkesan uwuwu banget. Kesan cinta yang manis dan tulus dari seorang yang cukup misterius. 

Ya, Supernova Petir bisa dikatakan yang menjadi ujung tombakku untuk mulai menyukai kegiatan membaca saat aku masih kecil dulu. Belum ada satu pun buku yang bisa menyamai rasa antusiasku selain membaca Supernova Petir ini. Maksudnya untuk buku karya penulis lokal ya. Rasanya tidak pernah bosan bagiku untuk membacanya lagi dan lagi hingga kadang berimajinasi sendiri andai suatu saat nanti Supernova Petir bakal difilmkan rasanya aku ga bakal rela jika pemainnya tidak sesuai dengan imajinasiku, hihi...Soalnya kadang kepolosannya itu mirip dengan diriku sih, hahahaha...

Ya begitulah review iseng-isengku dengan buku favorit sepanjang masaku, Supernova petir. Jauh dari cara blogger buku membuat resensi memang. Tapi beginilah caraku. Mohon dimaklumi kalau masih serampangan, tapi yang jelas i do love this book so much, love this book to the moon and back #ciyeeeeh. 

Oh ya, bagi yang belum baca, kalau mau baca digitalnya di ipusnas sudah ada...kalau ga di blognya Dee Lestari juga ada. Aku sendiri selang-seling kadang pas mau tidur baca buku fisiknya sebagai pengantar bobok, kadang kalau lagi di jalan baca versi digitalnya. Yang jelas aku seneng banget akhirnya bisa memberikan kesan-kesanku terhadap buku favoritku ini. Paling paling paling favorit diantara yang lain. 

Kalian sendiri sudah pernah baca Supernova Petirkah? Kalau sudah bagi pendapatnya dong, terserah mau dari sisi ceritanya boleh, dari sisi tokoh-tokohnya boleh, atau apapun itu deh? Diskusi aja yuk. Aku pengen tahu pandangan kalian tentang Supernova Petir ini? 



 


44 komentar:

  1. Aku sendiri baru tahu Supernova petir, tapi kalo ksatria, putri, dan bintang jatuh pernah dengar karena kalo ngga salah dibikin film ya, cuma sayangnya aku belum nonton filmnya.πŸ˜‚

    Baik review maupun sinopsisnya panjang banget, sepertinya aku ngga usah baca bukunya juga sudah tahu jalan ceritanya. Lumayan hemat lah.πŸ˜„

    Oh versi e-booknya sudah ada di iPusnas ya. Coba ah tengok.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maaaaas....tau ga sih...sezuzurnya mbul tuh pas lihat film ksatria, putri dan bintang jatuh langsung dwon dong...hwaha...soalnya yaaach seperti biasanya ya kalau abis baca novel terkagum kagum ama jalan ceritanya eeeh begitu difilmkan kok? hwa monangis rasanya wkwkwk...maksudnya mbul lebih pilih baca bukunya aja..nda merusak imajinasiku soalnyaπŸ₯ΊπŸ˜­
      (。>γ……<。)πŸ’¦sorry…emot mewek wkwkwk

      Mas aguuuus gimana...gimana? Komenin sinopsis dan alurnya yang petir ini dunk...menurut Mas gimana ceritanya? Setuju ga ma pendapat Mbul yang ngerasa ni buku selain lucu tapi juga ada sisi romantisnya begitu wkkwkwk..

      hu um mas, kalau mau baca gretongan kayak nitaaak bisa mas lihat di ipusnas, walau aku ada buku fisiknya juga...

      kemon maaaas komenin menurut mas sinopsis yang petir ini gemana? jabarin agak panjangaaaan dong #mbul nglunjak #tabok si mbul 😜😱🀭

      Hapus
    2. Ya memang sih, kadang ada novel yang ceritanya bagus tapi pas dijadikan film malah ancur.πŸ˜‚

      Sebenarnya soal buku, aku lebih milih buku fisiknya dari pada ebook sih, lebih berasa gitu.πŸ˜„

      Ya bagus sinopsisnya, detil banget cerita tentang Elektra, namanya dari kata elektronik, terus kakaknya watti, dari kata Watt.

      Kalo Elektra jadi ingat film barat dengan judul sama.πŸ˜ƒ

      Hapus
    3. bwahahahha bukan mbul yang bilang ancur lho..tapi mas agus ekwkwkwkwkkw

      iya bisa disentuh secara fisik emang lebih memuaskan πŸ˜ƒ

      terus alurnya gemanaaaa? bagus gaaa? hahhahahahahha #nglunjak terus si mbul biar mas agus komennya tambah panjang ahahahahha

      mmmm aku tau pasti james bond 😱

      Hapus
  2. Seru dan aneh juga yaa mbul kisah buku dari karang Dee..😊😊

    Dalam buku tersebut dikisahkan tentang seorang Elektra yamg punya kekuatan super, Bagaimana tidak ia tanpa sadar ternyata mempunyai jurus Tarian Petir, Yang bergelar Dewa Petir Menghatam Bumi.🀣🀣🀣

    Hingga sakin hebat ia sampai buka klinik trapi pengobatan untuk orang banyak. Hebat juga yee Si Elektra ..Cuma repot juga kalau pacaran sama si Elektra yee mbul, Baru gandeng tangan udah masuk UGD bisa ...Lhaa badannya setrum melulu.🀣🀣🀣


    Udah yee mbul gw mau lanjut keliling dagang kolek semoga laris manis yee.😊😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. kang lempar sini satu koleknya ? asal plastiknya jangan sampe pecah ya wkwkwkwk🀣


      iya Kang Satria, bisa dibilang begitu. Dee Lestari adalah novelis favoritku Kang, dan Supenova Petir ini yang paling aku suka 😁🀭

      Nah lho...tapi kok iya juga ya...yang ada mau gandeng apa meluk langsung keburu digotong ambulance dan opname bulak balik ya...lha kesetrum tegangan tinggi hahhahahah...

      mangga kang dilanjut ntar jangan lupa bagi keuntungan koleknya sama gw yak πŸ˜‚πŸ€£πŸ€£

      Hapus
    2. πŸ™„πŸ™„πŸ™„πŸ™„πŸ™„πŸ™„πŸ™„πŸ™„πŸ™„πŸ™„πŸ™„πŸ™„πŸ€‘πŸ€‘

      Hapus
    3. kang satria emotnya πŸ‘†πŸ‘†πŸ‘†πŸ‘†πŸ₯΄πŸ₯΄πŸ₯΄πŸ€­

      Hapus
  3. Novel Supernova petir?? Kok baru tahu ya tari, pasti isinya itu misteri betul gak mbak nit?? Eeets? Mat berbuka puasa ya mbak nit???

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ga begitu misteri sih tari, malah agak romantis juga walau kebanyakan lucu menurut nita..hehe

      iya sama sama selamat berbuka puasa juga ya tari 😍☺😊

      Hapus
  4. FiiiiX ..., aku yakin mbak Dee bikin tokoh ci Elektra terinspirasi dari perjalanan hidupnya kak Mbul ...[sok tau, haha!].

    Tapi bener ngga, tangannya kak Mbul juga sanggup ngluarin halilintar, eh* ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. bhahhahah husss...ojok halu mas hima wkwkwk...mung agak mirip dikit sih tapi yo ra kabeh hahahhahaahha


      lha rung dijajal...ojo ojo iso mengeluarkan hentakan gledeg wkwkwkkw

      Hapus
  5. Bukunya Dee baru Filosofi Kopi sama Madre yang aku baca, supernova belum tuntas baca semua kayaknya aku belum berjodoh sama model fiksi ilmiah, hahaha...

    Tapi kalau baca review ini jadi penasaran pengen baca lagi, terutama part cecintaannya. Penasaran sama si Mpret. wkwk...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang ini bagus kak pit ga senjlimet supernova yang akar, ksatria putri dan bintang jatuh, partikel, gelombang n intelegensia embun pagi. Yang ini ringan kok...

      iya bagian percintaannya bagus..walau ngambang tapi bikin hati berdebar-debar hihihi

      Hapus
  6. Novel Supernova Petir ini daku belum sempat baca kak. Begitupun dengan seri novel supernova lainnya. Mungkin karena fiksi ilmiah yang belum sampai ilmunya untuk daku serap hehe.

    Dari ulasan ini, setidaknya daku dapat penggambaran ceritanya yang bisa dipahami, apalagi melihat si mbul Clurut yang ternyata malah dia duluan yang udah baca daripada daku πŸ™ˆ

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbul Clurut ambil kloter terdepaan sayyy hihi

      Hapus
  7. Entah kenapa nggak terlalu bisa baca novel Dee Lestari, punya buku ini hampir lengkap serinya tapi baru baca beberapa halaman aja :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. oh gitu ya..oke deh trims atas waktunya yo mba

      Hapus
  8. Supernova ini banyak kan ya Mba Serinya kalau nggak salah ada 6 atau 7 gtu.. sengaja aku baca reviewnya Mba Nita agak dicepetin karena buku ini bakal masuk reading list tahun ini.. jadi nggk mau ke spoiler.. wkwk πŸ˜…

    BalasHapus
    Balasan
    1. bentar kuhitung dulu

      1. Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh
      2. Akar
      3. Petir
      4. Partikel
      5. Gelombang
      6. Intelegensia Embun Pagi

      Total enem wkwkwkkw

      hu um ga pa pa...aku emang sengaja agak panjangan soalnya sekalian njaring yang dah baca terus nyocokin ceritanya ama sinopsis ini sekalian ngejembreng kesan-kesanku juga hihihi

      Hapus
  9. wah suka banget mbak aku sama karangannya Dee, supernova apalagi.. ceritanya gila sih menurutku. aku udah baca semua dan sebaguss itu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. yesss sehati kita mba berarti

      iya soalnya ceritanya sebagus itu hehehe

      Hapus
  10. satu-satunya buku dee yang kubaca hanya aroma karsa saja, itu pun berhari-hari. Belom ada niat untk membaca buku dee lagi, meski kutau semua buku itu bagus-bagus :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. jajal taktebak...iki kayake febri dwi cahya udu yo? haha

      Hapus
    2. uduuuuuuuu yoooooooooo mbaaaa

      Hapus
    3. ah mosok sih? ojok berkelit ah feb wkwkwkkwkw...

      ai know your style kok wkwkwkkwkw

      Hapus
  11. gw baru tau juga buku ini mbak mbuul, kayaknya lumayan seru ya buat bacaan sebelum tidur :D, ceritanya sendiri kayaknya bervariasi dari elektara yang dikirimin surat dari stigma, sekolah tinggi ilmu gaib, bikin ngakak aja nih namanya :D, sampai dia dan temenya punya usaha warnet soda pop, eh elektra pop maksut gw :D

    gw pikir sih ini buku berkisah tentang elektra yang sedikit punya kemampuan di bidang listrik, dan ternyata juga jadi dukun pengobatan :D.. tapi ternyata ada romancenya juga :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seru mas nif...seru..

      mas nif baca dong di ipusnasnya...tar kalau udah kelar balik lagi nyocokin ama sinopsisnya di sini kasih tanggepan lagi ceritanya gimana 🀭🀭

      iya kocak banget asli kalau baca bukunya full mas, kuyakin dirimu bisa kepingkel pingkel karena kelakuan absurd elektra...tapi beneran deh dia polos bangaaat. Uda gitu disukain ama orang ga sadar hahahahhahah

      stigan maaas bukan stigma hihi

      sebenernya ga dukun sih si elektranya ini cuma kek semacam buka praktik pengobatan altetnatif dengan metode setrum...nah sebelum berubah nasib ini doi barulah iseng nanya ke dukun ni asih gegara sial mulu pas nyari kerja ga nyantol nyantol...eh pas dikasih metodenya kan agak agak nganu tuh elektra berontak makanya doi ga sengaja nyetrum tuh dukun hahahhahahha

      iya romancenya samar tapi so sweet menurutku 😝☺

      Hapus
  12. Jujur, kalau saya di usia yang sudah tidak muda lagi agak kesulitan mencerna jalan cerita dalam bentuk novel, hehehe.. Maklum lah, mata ini udah gak ku-ku menatap lama-lama layar HP yang ukurannya hanya sekian x sekian inchi 😁

    BTW, salut buat mbak Nita yang sudah mau berbagi dengan mereview cerita Supernova buah karya Dee Lestari yang memang penulis jempolan ini.

    Terus berkarya dan sukses selalu ya mbak Nita.

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener juga sih Mang Maman, saya pun mengakui makin ke sini euforia baca menurun drastis wkwkwkkwkw...tapi demi satu novel ter ter terfavorit saya dari semua novel penulis lokal yang oernah saya baca takjabanin bikin reviewnya xixxi...meski masih review ala ala kadar...ga seterstruktur peresensi novel betulan πŸ˜„

      Hapus
  13. Supernova theme is interesting. Post is great! Have a wonderful day.

    BalasHapus
  14. Meski pun kepanjangan tapi tetap seru soalnya tulisan mbaa Nita renyah sekali. Bikin senyam-senyum juga.
    Saya juga suka baca series Supernova dan koleksi novelnya. Samaan ya kita mbaa Nita. Petir yang paling seru, asyik, menghibur dan gak bikin mumet kepala.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Horrraaaayyyy

      *thank's God...akhirnya ada yang sepemikiran sama si Mbul mengenai seberapa seru Supernova Petir ini*

      *salim
      *kuterharuuw

      (((o(♡´▽`♡)o)))

      wekekeke

      makasih ya mbak yani uda beneran dibaca meski aku cara nulis review bukunya masih amatir hihi...

      iya kan aku pun begitu kayak klik gitu begitu mendalami karakter polosnya si Elektra ini πŸ˜‹πŸ˜

      (´✪Ο‰✪`)♡

      Hapus
  15. Elektra, namanya kayak nama tokoh komik Marvel..hihihi

    Sepertinya tidak perlu baca bukunya baca review ini sudah cukup tau isi buku Supernova, petir ini..hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mas Herman ada yang beda kayaknya...

      πŸ€”πŸ€”


      bentar

      oh aku tau 😳

      emotnya jadi smiley bukan supermen kal el lagi wkkwkwkwkwk

      akunnya ganti apa mas herman?

      eh iya sama kayak tokoh marvel...

      kata mas agus ada film dengan judul yang sama pas kusearching dibintangi jeniffer garner


      gimana gimana...mas herman komenin alurnya si petir ini dong...mau tau aku pandangan mu gimana? seru ga apa romantis? wkwkwkw

      Hapus
    2. Ngga ganti akun cuma bosen aja pakai nama dan logo Superman..hihihi..itu bukan emot smiley tapi emot bingung atau sedang mikir..hihihi

      Ada film solonya dan ada juga di film Daredevil

      Kalau menurut saya sih buku Supernova, Petir ini ngga begitu romantis tapi lebih ke sci-fi

      Hapus
    3. ow hahaha...tinggal ganti foto ya mas herman pake smiley yang kebingungan atau lagi mikir, kan matanya ngliat ke atas, sama kayak emotikon ini nih ---> πŸ€”πŸ˜‚

      kalau bukunya supernova ini biar kata ngebahas cewek super (punya kekuatan listrik), tapi tetep yang takbaca itu bagian percintaannya, walaupun cuma dikit nyempil nyempil pula wkwkwkkw...Kabarnya di sekuelnya yang terakhir yakni Intelegensia Embun pagi, bakal kumpul sama beberapa tokoh super lainnya dengan masing masing kekuatan berbeda, cuma aku belom selese baca. Ga tau di buku selanjutnya Toni atau Mpret bakal ada part khusus lagi ga sama Elektra. Berharapku sih ada. Soalnya keduanya so sweet banget wkkwkwk

      Hapus
  16. Ooh one of my fave! meski dari keseluruhan favorit saya itu Akar tapi ntah kenapa cerita petir ini yang paling nempel dikepala.

    Pas Watti nelfonin si Etra dari Tembagapura, sepemikiran sama Etra kayanya Watti tu ibarat burung dalam sangkar emas, apa2 mewah dan lengkap tapi ga bisa kemana-mana dan kesepian gitu.

    Sama yang ga bakal saya lupa istilah Cikay alias Cina kaya dan Cina aja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Horaaaaaaay....#mbul happy

      akhirnya ada juga yang uda khatam supernova...uda kuduga juga sih...kemaren aja mbul liat mba nisa udah update review rapi jali pastinya supernova uda khatam dong hihihi

      iya pas elektra diteleponin watti yang lebih mirip terror dari kakak yang cerewet emang kerasanya gitu ya mba nisa hihi..semua manusia emang ada kurang dan lebihnya. termasuk elektra dan watti ini..tapi tetep si mbul lebih suka elektra kemana mana ketimbang watti wkwkwkkw

      Hapus
    2. Iya, saya dah baca novel2nya sejak rilis mbak Mbul. Ide bagus di review aja ya di blog buat menceritakan pendapat dari sudut pandang dan kita ya.

      Watti itu kadadng sok idealis gimanaaaa gitu tapi malah jadi ga sesuai sama sikon ya hahaha..

      Hapus
    3. mba nisa...aku akar juga suka...serada masuk ke settingnya di thailand kan yak yang body ketemu kell ama istar summer...pokoknya supernova yang awal awal sampe petir aku demennya...kalau pas KPBJ aku suka rana dan fere ...ga tau kenapa ga gitu auka divanya hihi

      iyaaa watti tipikan idealis tapi pas dalam dunia nyata akgirnya terjebak dalam sangkar emas pelariannya ya neror adiknya etra hihi

      mba nis tanggapannya sama tokoh mpretnya adakah?

      Hapus
  17. Petir itu paling lucu bukunya dibanding yang lain. Pas gabung dgn teman-teman super di buku terakhir Elektra selalu berhasil bikin ngikik.

    Nah gimana mau ada romans Elektra sama Mpret sama dodolnya gitu. Nggak cocok jadi genre romans lebih pas komedi 😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Horrraaaaayyyy asyik ada yang ngeh juga dengan si petir ini hihihi #aku ada teman


      oiya tah...aku intelegensia embun pagi kok bacanya ga kelar kelar ya kak pheb..rasaku tebel bener halamannya dan ternyata di edisi akhir ibu satinya adalah eng ing eng yak hihih

      tapi lucuk kak pheb partnya berdua itu...rasa ada manis manisnya hihihi

      (((o(♡´▽`♡)o)))

      Hapus

Komenin dong...tanpa kehadiran kalian apalah arti aku menulis....
kalian penyemangat setiap bulir kalimat dalam blog ini :*
Namun jangan komentar SARU atau SARA ya, jika ada komentar dengan unsur tersebut, dengan berat hati akan aku HAPUS .

Oh ya, Dilarang juga mengambil gambar/foto atau menyadur tulisan tanpa mencantumkan sumber atau seijin pemiliknya. Apalagi untuk kepentingan komersial atau lomba. Thx ^____^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...