Senin, 23 Mei 2022

Bogor dan Segala Kenangan Manis




Oleh : Nita
Assalamualaikum wr wb...

Hallo!!! Apa kabar? Semoga selalu dalam keadaan baik ya. Pada kesempatan kali ini Mbul akan posting cerita yang agak panjang. Bagi yang ga kuat baca, silakan diskip aja. Bagi yang masih pengen stay tune bareng si admin, silakan tetep pantengin terus channel ini. Eh udah kayak youcub aja ya, padahal Mbul cuma nulis-nulis random di blog. 



Oh ya, Mbul bilang tadi Mbul mau nulis super duper panjang ya. Karena agenda Mbul kali ini ada hubungannya dengan nostalgia dengan sekolah tercinta dan Bogor yang menyimpan banyak kenangan, hehehe. Tapi sebelum sampai ke situ, Mbul masih ada sedikit urut-urutan cerita dimana di rumah sempet bebikinan ini itu yang berhubungan sama makanan. Sebenernya ini bukan ide Mbul sih hihihi. Tapi Ayahanda tercinta yang keidean masak hasil terinspirasi dari sambel mercon-merconan yang banyak rawitnya. Ya, akhirnya malam-malam belanja ke pasar dan tumbas rawit oren sekresek selain daripada itu ada pula bumbon lainnya yang nanti akan aku rincikan lewat resepnya ya. 

Bagi pecinta kuliner pedas, pasti sudah tidak asing lagi dong dengan yang namanya sambal mercon. Sambal yang identik dengan kuliner pedasnya Jogja. Cuma kalau di Jogja ditambahi daging sapi, nah kalau kami ga. Kami pakenya kepala dan paha ayam. Juga entog. Sebab entog itu kan mirip Beby Mbul. Kesukaan Beby Mbul maksudnya. Entog adalah hidangan kesukaan Beby Mbul dan keluarga. Yang dari dulu sering beli entog mah Mas, Mbul kan ikud mam.




Kami memakai kurang lebih cabai rawit sebanyak setengah kg, tapi itu juga sudah ditambah cabai merah besarnya juga. Agak bikin pengen hacim-hacim juga ya sambil ngaduk dan goyang wajan yang dah dimasukin cabai rawit dan bumbu-bumbu blendernya. Karena aromanya wangi sekali dan kayak gelitikin idung Mbul yang mungil ini sehingga pengen hacim-hacim, gegeggeek.

Resep Sambal Mercon Ala-Ala Beliau yang sempet ditanya ama Ibuku liwat WA:

Bahan-Bahan :

Cabe rawit
Bawang putih
Sedikit bawang merah
Lengkuas
Daun salam
Sereh
Daun Jeruk
Jahe
Minyak
Gula
Garam
Sedikit penyedap

Cara Membuat :

Blender cabe rawit, bawang putih, sedikit bawang merah, lengkuas, daun salam, sereh, daun jeruk, jahe 
Panaskan minyak
Tumis bumbu yang sudah dihaluskan
Tambahkan sedikit garam, sedikit gula, penyedap rasa, dan rawit utuhan
Tunggu sampai matang

Oseng sambel mercon ini sudah sedikit agak mendekati mercon langganan. Walau seperti ada poin-poin yang kurang. Tapi itu sedikiiiiit aja. Dan selebihnya enak. Kami makan dengan daun suring rebus, plus kepala ayam goreng beli di kaki lima gerobakan. Tak lupa pula lalapan mentimun yang seger-seger banget dan maknyus pas dicolek bareng sambelnya. Timunnya terasa kranci.













Tiba-Tiba Mbul Ingat Bogor, Hohoho...

Karena ada tanggal abang nylempit dikit di deket-deket hari Minggu, akhirnya Mbul kepikiran pengen ke Bogor. Mbul kok pengen halan-halan menyusuri kembali sekolahku dulu ya hihihi. Mlampah-mlampah menikmati pedestrian yang kanan kirinya pohon-pohon gede dan bisa dibilang hutan, karena kampus aku memang ada di kawasan hutan terutama bagian asrama putri dimana aku setahun ada di sana. Ah....nyemlong pengen ke Bogor alhamdulilah proposalku di-ACC maka ga butuh waktu lama buatku agar jam 1 siang kudu harus beres-beres segala sesuatu yang ada. Walau aku jadi kelabakan sendiri karena sambal merconnya Ramane belum habis dan masih sewajan gede. Akhirnya aku punya ide buat dikulkas aja dan udah disetujui ama Beliau. Selain itu sebenernya kemarin baru masak nasi dan masih banyak. Aku lagi ga mam nasi sih jadi ya.....emang akhirnya masih nyisa banyak hahahah. Akhirnya aku kulkasin aja pake tupperware. Terus baru keingetan kemaren baru beli melon seglundungan gede. Jadi akhirnya diputuskanlah untuk membawa melon serta, nanti gampang sesampai Bogor bakal dibelah. Nyem...nyem...nyem!

Lalu tahu-tahu udah jem 2 siang dunk. Akhirnya Mbul dicepet-cepet buat beresin kerjaan yang belum kelar, termasuk dalam hal ini nyuci-nyuci dan njereng-njereng klambi dan juga sprei. 

Sore, Maem dulu di Sambel Dadak

Sekitar jam 3 sore, akhirnya kami start walau sebelumnya sambil cek GPS dulu, biar ga kena macet. Akhirnya lewat Parung walaupun di Ciputat mandeg dulu di warung makan Sunda karena ngelih sepagian belum mam. Akhirnya ngetag warung makan random aja dan nemunya ini. Pesennya ayam kampung goreng, pecak gurame, tahu dan tempe goreng, pete goreng, juga jengkol goreng. Tak lupa sambal dadak dalam 3 tatakan bulat kecil dan lalapannya yang terdiri dari leunca, timun, dan kemangi. Rasanya enak. Aku suka jengkol goreng dan tahu gorengnya yang empuk dan putih (bagian dalamnya). Juga petenya yang rapat-rapat dan manis. Kalau sambelnya pedes banget maka aku nyolek dikit aja.





Setelah jam 5 sore, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Tapi sebelumnya aku pipis dulu....eh ternyata kedatangan tamu bulanan wakakak... Ya udah akhinya nanti mampir Indomaret dulu buat beli sesuatu dan mungkin juga cemilan, teh botol, susu, biskuit Hello Panda rasa stroberi dlan Roma Kelapa kesukaanku dan Kakak A atau mogu-mogu. Memasuki daerah Parung lumayan padat, dan langsung disambut hujan gerimis. Agak lama sih di daerah sini. Bahkan masuk ke Bogornya akhirnya udah malam aja.













Review Hotel Salak the Heritage Bogor

Pada kesempatan kali ini destinasi yang akan diinapi adalah Hotel Salak The Heritage. Hotel yang paling terkenal di Kota Bogor dan dulu saat fresh graduate aku sempat nglamar juga di bagian managemennya sayang nda ketrima wkwkkw. Padahal dulu aku udah dandan unyu, rapi, dan wangi loh, tapi abis wawancara belum rejekinya kerja di sini, nyantolnya malah jadi reporter wkkwkw. Kalah aku sama yang lulusan D3 Perhotelan hihihi.

Hotel Salak the Heritage adalah hotel bersejarah dari zaman kolonial seluas lebih dari 8000 m2. Terdiri dari 4 bagian utama, yaitu The Heritage Building pada bagian pertama, bagian kedua dan ketiga adalah sayap kiri dan kanan, dan bagian keempat adalah paling belakang.

Tahun 1856, hotel ini berdiri dengan nama Binnehof Hotel yang dimiliki oleh Keluarga Gubernur Jenderal Belanda. Maka ga heran bangunannya memang khas Negeri Walandi sana ya Gengs. Tahun 1913, hotel sempat mengalami masalah finansial dan berubah nama menjadi NV American Hotel. Tahun 1922 hotel dilikuidasi oleh EA Dibbets yang merupakan pemilik saham terbesar NV American Hotel. Nama hotel kembali berubah menjadi Dibbets Hotel. Pada tahun 1932, hotel berganti pemilik dan namanya menjadi Believe Dibbets Hotel. Tahun 1942-1945, pada masa penjajahan Jepang, hotel dengan 54 kamar ini berubah fungsi menjadi markas polisi militer Jepang, Kempetai. Tahun 1948 diserahkan kepada pemerintahan Indonesia. Dua tahun kemudian yaitu 1950 hotel direnovasi dan berganti nama menjadi Hotel Salak yang diambil dari nama Gunung Salak. Artinya adalah 'perak'. Hotel Salak berarti 'Hotel Perak'. Tahun 1955, Hotel Salak menjadi salah satu hotel yang dipakai dalam Konferensi Asia Afrika. Tahun 1991 Rencana renovasi namun sempat tertunda dan baru bisa dilaksanakan 1992 seiring dengan dikeluarkannya Keputusan Menteri Dalam Negeri tanggal 27 Januati 1992. Tahun 1998 nama hotel berubah menjadi Hotel Salak The Heritage dengan standar hotel international. Pada April 1999, seiring dengan pertumbuhan bisnis di Bogor, Hotel Salak the Heritage mengoperasikan 40 superior rooms, fasilitas Rudi Salon dan Batutulis meeting rooms, Burangrang meeting rooms, Binnenhof Restaurant dan Kinanti Music Room.















































Akhir Februari 2000, Hotel Salak the Heritage menambah 24 Deluxe Rooms hingga totalnya menjadi 96. Lalu mengantisipasi permintaan customer dan pengembangan pasar di pertengahan 2000, Hotel Salak the Heritage menambah lebih banyak rooms hingga totalnya menjadi 120 rooms. Management juga menambah lebih banyak ruang meeting seperti Pakuan Padjajaran 1, Padjajaran 2, dan Padjajaran 3. Pada Juni 2003 yang diselesaikan adalah 3 meeting rooms dengan kapasitas 40-100 orang per rooms. Penambahan fasilitas yang terus dilakukan misalnya penambahan fitness center, the Kinanti Kids Club, dan Kinanti Music Rooms.

Hotel Salak the Heritage juga menambah inovasi baru dengan membuka Den Haag Cafe di Desember 2003 dengan menu utama cake dan pastry. Ada pula Liza Herbal Information Center dan Art Shops yang menjual souvenir cantik dan basic toiletteries. Tahun 2016 diadakan penbahan jumlah kamar menjadi 140 kamar.

Untuk type kamar yang sempat dijajal adalah yang Deluxe rooms. Fasilitasnya lumayan juga dan lantai sudah ada karpetnya. Jadi anget di pijakan kaki hehehhe #penting. Bednya ada 2 dan empuk. Terus ada mini kulkas, AC, TV, lemari, hanger, setrika dan mejanya, laundry, heater, air mineral, kopi+teh+gula pasir sachet. 



























Untuk kamar mandinya....jeng jeng jeng.....asyik ach ada bath upnya hehhehe. Memang dimanapun berada, bath up selalu Mbul cari karena Mbul hobinya berendam seperti Sizuka atau bintang iklan sabun Lux hihihi. Peralatan lainnya lumayan lengkap, bath soap, shampoo, odol, pasta gigi, handuk, hair dryer, toilet duduk, shower hot and cold. Ihiw! 

Sarapan dibuka mulai pukul 06.00 WIB. Kebanyakan menu nusantara ya. Ada nasi, nasi goreng, bihun goreng, jamur krispi, beef sausage, nugget, salad, roti, cake, nasi kuning plus pelengkapnya kayak tempe orek, teri kacang, tahu tempe goreng, telur balado, lontong sayur, bubur ayam, bubur sumsum, bubur mutiara, bubur kacang hijau, bubur ketan hitam, omelet dan telur ceplok, waffle, serabi, buah potong, susu, teh, kopi, dan jus juga mineral water.





























Habis makan pagi, kulihat kolam renang. Apakah Mbul ikut wet wet wet party di kolam renang? wkwkwkwk... Apakah Mbul menemani Kakak A ikut Wet Wet Party di kolam renang sambil berenang? 😂🤣🤣 Siangan dikit habis merem bentar baru deh jalan ke Tajur karena ada 2 kepentingan di sini. Ada yang pengen beli dompet, ada pula yang pengen beli sepatu. Daaaan yang pengen beli sepatu adalah akuuuuuuuw. Belinya di SKI. Aku dapat 2 sepatu. Satu sepatu pantofel dan satunya lagi sepatu santai. Ga lupa ku tergoda juga buat beli bross hihihi. Di sini ga beli tas ya. Soalnya Mbul ga begitu suka tas...orang kemana-mana tentenganku ransel kecil kayak anak sekulah wkwkwk. Ku ga kayak wanita peminim yang hobi dengan tas jinjing hahahhaa.




















































































Nyobain Sop Pipi Tembem di Sop Grogot Kaki Asli Sapi H. Rahmat

Tak terasa, sudah lama juga ngiterin SKI, akhirnya balik-balik udah sore dan terjebak macet. Perut udah keroncongan. Di jalan mata ga sengaja nemu Sop Grogot Kaki Sapi Asli H. Rahmat yang plang dan balihonya ijo-ijo gede banget. Kalau ga salah kawasan sini emang areanya kulineran. Jadi depan-depannya pun banyak tongkrongan buat anak muda. Ya udah, karena udah keburu ngelih, akhirnya merapat aja ke sini. Padahal sebelumnya mau ke Rumah Sumsum yang terkenal itu tapi maced. Jadi ya udah yang ada aja di depan mata samperin hihihi. Lagian sama-sama sapinya. Sebenarnya siapa sih yang pengen bangat mam sapi...hihihi...

Ngeliat ada pengunjung datang di musim liburan begini, dan sebelumnya sepi, akhirnya ownernya dengan ramah mempersilakan Mbul and family masuk. Langsung deh diajak ngobrol pula dan dikira aku itu youtuber. "Itu si Neng Youtuber apa selebgram?" Wakakakka. Bukan atuh Bapak. Mbul mah cuma blogger biasa bukan seleb hahhahah. Tapi seneng nulis kuliner. Hehehe. Soalnya si Bapaknya tahu aku bawa kamera jadi langsung deh jamuan disiapkan sebaik-baiknya. Malah sempet ditunjukin jalan juga yang ga macet tuh yang mana. Alhamdulilah deh, jadi diajak ngobrol dan beramah tamah gini. Mana tempatnya nyaman pula, karena meja bangkunya kayu asli gitu. Terus bersih. Itu sih yang jadi point plusnya.

Oh ya, ngomong-omong menu di sini unik sekali loh Pemirsa. Liat aja namanya Sop Grogot Kaki Sapi Asli H. Rahmat. Turunan menunya juga ga kalah unik karena ada nama-nama yang bikin senyum saat bacanya. Ada...






Diliat dari etalase kaca, terlihat bagian kaki sapi tergantung dengan indahnya, juga bumbu rempah-rempah yang tak kutahu namanya. Ada pula paru, pelengkap sop seperti tomat, daun bawang, kentang rebus, dan kuah dalam panci. Oh ya...satu lagi yang mencuri perhatianku. Si biang penambah rasa enak yaitu minyak samin Cap Onta. Asli deh kalau hidangan sapi atau kambing dipakein ini niscaya jadi menambah cita rasanya. 

Pesanan kami sendiri terdiri dari sop pipi tembem, sop grogot yang ternyata isinya kikil, es jeruk dan es teh manis. Tadinya mau beli sop lidah...tapi sayang lidahnya lagi habis, jadi direkomendasiin sama Pak Haji Rahmatnya sop pipi tembem mengingat yang datang mam adalah punya pipi tembem juga yaitu si Mbul wakakkakakak. Tauk ajah si Bapak mah rekomendasiinnya yang empuk-empuk. Jadi berasa punya teman ya bestie, karena sopnya sama-sama punya pipi tembem kayak Mbul hahhahah. 




































Sore semakin bergulir, satu persatu hidangan kami akhirnya diantar ke meja. Pertama es jeruk dan es teh manisnya. Setelah diseruput dikit ternyata es jeruknya enak banget. Es jeruknya pake jeruk asli, jadi kerasa seger...bukan jeruk kemasan atau ada tambahan sirupnya ya hihi. Sedangkan es teh manisnya juga seger pula. Tapi ini baru disruput dikit dulu. Soalnya kan mau mam yang tembem-tembem hihihi. Lalu berikutnya nasi, dan sopnya juga datang berbarengan. Mbul sih sebenernya lagi ga mam nasie hahahah...Tapi mam sop pipi tembemnya semangkuk juga udah kenyang. Alhamdulilah. 

Sop pipi tembem di Sop Grogot Kaki Sapi Asli H. Rahmat ini unik ya. Kuahnya itu bening tapi begitu disruput langsung makceng!!! Rasa rempahnya kuat sekali. Pedes-pedes nikmat uhammmmm... Kayak ada mericanya gitu. Terus isiannya itu potongan daging pipi yang tembem-tembem (jadi pegangin pipi ndiri hahahah), tomat, kentang rebus, daun bawang, dan emping goreng. Daging pipinya kenyal nikmat....uhhh. Terus dipadu sama kuah yang dikucrutin sambel dan acar timun juga rawit ijo alamaaak nikmatnya. Manteb...pedes-pedes nikmat. Tapi kalau suka manis kayak mbul jangan lupa kucrutin kecap juga ya. Mbul suka yang kuahnya manis gitu deh...makanya kecapnya agak banyakan. Terus lebih nikmat lagi jika dimam bareng kerupuk. Mana kerupuk putihnya renyah banget lagi, jadi double-double nikmatnya heheheh.

Untuk harganya sendiri sudah aku cantumkan di foto ya, silakan dizoom in zoom out sendiri. Tapi menurutku sih dengan harga segitu dan isian dagingnya banyak, udah sangat wort it lah ya. Mantabbbbb!!











"Sop Grogot Kaki Sapi Asli H. Rahmat"
Alamat : Jalan Duren Raya No. 4, Bogor
Jam buka : Setiap hari kecuali hari Jumat (jam 10.00-21.00 WIB)

Nostalgia Sekulahku Tercinta, Hiks....

Esok harinya, sebelum pulang, Mbul pengen nostalgia di sekulah tercinta ..hihihi. Yang deket hutan, bukan yang di kotanya hahahha... Walau ke sananya macet, tapi rasanya jadi kayak mengingat-ingat kembali memori kala itu. Kala aku masih baru lulus SMA unyu-unyu dan baru masuk Asrama karena memang sistemnya setahun wajib asrama sekalian pengenalan kampus. Juga saat-saat mam di sekitar sana, pas mau wisudaan tapi bapak ibu tetep nginap di kosan, dan keinget pertama kali dibonceng Tamas di sekitar kampus sampe sempet ditilang karena ga bawa helm. Bayarnya Rp 20.000,- soalnya dikira masih mahasiswa padahal beliau udah kerja hahhah..

Jadi kali ini Mbul mau cerita tentang pengalaman saat masih asrama dulu di sebuah kota yang sangat syahdu #uwuuuw ...

Jadi aku mulai darimana ya? Mungkin dari ini aja kali ya...eheum....jadi suatu ketika saat liburan ujian semester aku ga bisa pulang kampung dan masih harus stay di asrama. Suasana asrama itu suepiiiii banget. Asrama Putri ya. Letaknya ada di dalem kampus dan dikelilingi hutan. Maklum kan posisinya deket Fakultas Kehutanan. Nah di Asrama Putri ini ada 3 bangunan. Gedung 1, 2, dan 3. Gedung lama pula. Jadi emang setahun mahasiswa baru kudu wajib tinggal di situ, buat syarat juga supaya ngelatih jiwa solidaritas antar teman karena kami akan disatukan dengan kawan dari seluruh nusantara waktu itu. Per kamarnya itu diplot 4 orang-4 orang, acak dari daerah yang berbeda. Memang sengaja digitukan biar ga timbul genk-genk-an...misal yang sedaerah ngumpulnya yang sedaerah aja...atau yang kota ngumpulnya ama yang kota aja. Kebetulan aku kebagian sekamar sama orang Bekasi, Riau, dan Bogor Bojong Gede. Tapi yang sering jaga kamar itu aku dan yang dari Riau. Cuma yang dari Riau inj juga sering kumpul Omda (Organisasi Daerahnya). Mana sampai nginap pula, jadi tinggallah aku seorang diri yang sering ada di kamar. Termasuk pula pada suatu hari yang cukup mendung itu. 

Oh ya, boleh dibilang kamarku ini ndilalahnya pas banget posisinya ada di depan. Jadi kan nih asrama ada lorong-lorongnya. Aku dapet lorong 1 yang otomatis ada di lantai 1, kamar paling pinggir. Paling deket ama aula tempat dimana mahasiswi sering ditemuin ama orang tuanya kalau pas lagi weekend. Cuma aku doang yang jarang ditemuin hiks, sebab aku di rantau orang. Bapak Ibuku jauh di Kebumen sana. Jadi aku jarang banget ditengokin, hiks...#eh kecuali beberapa kali ditengokin simbah deng yang dari Jakarta sampai bawain mangkok jago segala ama peralatan makan buat aku, haha...

Nah, singkat kata, waktu itu emang hawa-hawa liburan udah berasa di depan mata. Teman-teman aku yang di lorong 1 kebanyakan udah pada cabut pada malam sebelumnya. Apalagi yang dari Jabodetabek, udah pasti pulang duluan ke rumah masing-masing sesaat setelah ujian terakhir. Ntah pada balik ke asramanya lagi kapan. Karena waktu itu aku masih nunggu dapat tiket pulang kampung sambil nyocokin jadwal teman-teman yang mau barengan naik bus Sumber Alam, akhirnya untuk sementara aku jaga kandang dulu. Kamar depanku juga samping-samping udah pada kosong semua. Ada sih 1-2 yang dari jauh banget tapi itupun pada main ke tempat sodaranya masing-masing yang ada di Jabodetabek. Kalau sohibku yang dari Kebumen juga ada sih, tapi dia ada di asrama beda gedung. Mau nginap di kamarnya ga enakeun soalnya masih ada temannya. Ya udahlah terpaksanya aku sendirian di kamarku ini. 

Abis pulang dari ngecekin nilai di departemen fakultas, aku balik kan nuju asrama. Tapi sebelumnya mampir dulu di kantin asrama yang ada di depannya. Kantinnya modelan prasmanan gitu. Menu-menu masakan rumahan khas sunda sih. Lauk dan sayurnya juga macem-macem. Nah, aku biasanya beli makanan di situ. Sebenernya pengurus asrama pernah nawarin ada yang mau catering ga? Aku mau tuh. Pernah nyoba sebulan nyatanya ga cocok ama menunya. Alhasil tiap makan, ya aku beli dulu. Abis kuliah ntah jalan ke Bara (area tempat makan yang keluar dari pagar luar kampus) atau sementok-mentoknya ya kantin asrama. Paling kalau pagi ada variasi lain beli gerobakan yang di belakang koperasi. Kayak nasi goreng, nasi kuning, nasi uduk, gado-gado, es doger dll. Itu kalau pagi banget modelan jam 7-10. Pas hari biasa nguantriiiiii banget. Tapi favorit aku nasgor ama nasi kuningnya sih. Cuma ya adanya pagi doang. Nuju siang udah abis.

Nah, karena yang makanan gerobakan belakang koperasi udah pada kukutan, akhirnya mau ga mau aku mampir bentar ke kantin asrama. Kebetulan suasana juga udah sepi banget. Sayuran dan lauknya masih banyak. Aku minta dicidukin nasi setengah, orek tempe, ama capjahe. Kalau beruntung ada jamur krispinya juga. Sebenernya rasa masakannya lebih cocok di luar area kampus sih. Maksudnya daerah Bara, Bateng, atau Balebak. Aku sukanya kalau abis motokopi tugas atau ngendon di warnet ya bablas terus nyari maem di Warung Yunani. Ini bukan lokasinya ada di negara Greek atau Yunani sana loh ya. Tapi emang namanya itu. Tau ga sih kenapa aku sukanya di sana? Soalnya tahu gorengnya enak. Tahu gorengnya dibikin kipas ada tepungnya. Terus ada jamur krispinya juga yang menurutku mirip kulit ayam. Sama kayak yang ada di Warung Seruni. Selain itu kalau cari makan di luar kampus bisa sekalian beli buah potong macam pepaya, nenas, atau semangka segar yang ditaruh di box ada balokan esnya. Eh ini kok malah jadi cerita tentang cari makanan ya, hahahha...maapkan...sering banget aku nulisnya ngelantur kemana-mana.

Jadi, aku uda cepalango beli nasi duluan buat dibungkus dibawa pulang dari kantin asrama kan. Nah, abis dari situ aku lanjut lagi lah jalan ke aspal yang menuju ke gerbang asrama putri. Ini depan gerbang langsung hutan loh beydewey, jadi bisa dibayangkan yah segimana ijonya kalau waktu pagi hari. Dan enak banget buat trek jogging.

Abis itu aku nyampe tuh di depan gerbang asrama, lanjut ke gedung 3 lorong 1 dan berjumpa dengan kamarku yang telah sepi ini. Seprei ke-3 temanku udah pada rapi semua karena mereka udah pulang ke rumah masing-masing, minus yang dari Riau yang nginap di asrama Omdanya. Memang dia sering banget ada kegiatan bareng omdanya sih. Beda ama Omda Kebumen yang paling-paling kegiatannya cuma piknik aja. Sehari kelar kalau ga ke Curug Nangka ya KRB. 

Aduh....sore itu suasana tambah syahdu aja kan. Lengaaaaang banget. Kubuka jendela gordennya sampai berkibar-kibar gitu karena anginnya kencaaang. Udah ada tanda-tanda mau ujan. Dari arah jendela kelihatan gedung bagian belakang sepiiii banget nget nget. Yang lantai atas jendelanya pada ditutupin semua. Area jemuran juga ga serame biasanya. Aku belom mau makan dulu sih soalnya ngantuk. Abis baca komiknya temen yang orang Bojonggede aku slamat-slamat kayak ketiduran gitu. Kebetulan ranjangnya itu ada 2 tingkat semua. Jadi aku pas kedapetan yang di atas. Aku suka di atas sih..tapi kadang nyaman juga yang di bawah. Tapi aku tuh kalau lagi sendirian gitu suka kebayang yang aneh-aneh. Padahal cuma perasaanku aja sih. Malah kadang kalau lemari mengerit sendiri rasanya langsung kebayang film Ju On wkwkwkw. Atau ngeliat kaca jadi keinget film  hadeeew parno...Makanya semua korsi yang ada di meja belajar ga ada yang aku hadepin pas ke arah cermin, takut ada sesuatu yang keluar..yaaaaaelah aku sampe kebawa cerita dalam film dong parah....hahahha...Padahal mungkin pas lagi ketakutan aja. Soalnya sendirian di asrama gedung tua  modelan jadul pula, hohoho....

Tapi beneran deh, nasi abis aku taruh di atas meja, aku naik ke ranjang atas. Aku bawa komik conan yang kemarin kupinjem dari temenku yang jarang ada di kamar. Rencananya mau nyari kesibukan dengan baca. Siapa tau kalau kutinggal baca, perasaan was-wasku jadi ilang. Eh tapi ga dong. Malah hawa-hawa semakin ga genah aja. Petir tiba-tiba menyambar kenceng banget. Lalu ujan dereeeeeeeees langsung breeeeesh kayak sekonyong-konyong turun dari langit. Aku tinggal ngedoa-doa aja semoga ga sampe mati lampu, sebab kalau sampe mati lampu kan amsyong aku. Aku ogah banget peteng-petengan sendirian dalam kamar yang segede ini ... Tapi kayaknya karena kelelahan akhirnya aku tidur dan kebangun pas mau magrib. Aku inget belom mandi dong. Yaudah aku magriban dulu, abis itu rencananya mau mandi sekalian nyuci baju kan mumpung sepi. Biasanya kalau pas lagi ga suasana liburan rame sampe antre segala. Ini saatnya aku bisa mandi dengan tenang mungkin sambil luluran dan juga nyuci. Lumayan rapelan cucian udah segunung, dan kalau ga ada yang kering lagi ngalamat aku ga ada baju, hahah...

Kelar magriban, ya pantarannya jam 7-an kurang aku jalan bawa ember dan peralatan mandi juga handuk yang kusampirkan di lengan. Aku ngegleng gitu aja menyusuri lorong 1 yang kala itu sepiiiii banget. Bener-bener kayak temen-temen tuh lagi pada pergi atau emang ada di kamarnya masing-masing. Aku jalan kan nuju kamar mandi yang tiap lorongnya itu ada beberapa deret ga cuma 1. Ngeliwatin tempat setrikaan dan kantin jujur dulu sih yang jualan Chocolatos atau makanan kecil lainnya. Kalau pagi malah ada yang ngiter lorong jajain molen arab. Udah deh sampailah aku di kamar mandi. Kupilih yang di tengah-tengah aja yang lantainya rada bersihan tapi aku agak sebel soalnya kenapa warna lantainya agak gelap sih kan aku suka takut kalau tiba-tiba ada cacing dan ga kelihatan haha.... Okey aku masuk tuh ke dalem kamar mandi. Rencananya mau luluran segala. Ya di samping nyuci baju dan daleman juga. Kulihat samping-sampingku kosong kan. Lanjutlah aku ama aktivitasku di dalam kamar mandi. Abis luluran guyur-guyur, uda cakep, uda wangi, cucian juga aku kasih detergen dan bilas-bilas tinggal kukasih pewangi aja di tahap akhir. Eh, mbasan mau ngrampungin cucian, terdengar dari kamar mandi samping keran kok nyala. Oh, mungkin ada yang lagi bertapa kali wkwkkw.. Ya uda...alhamdulilah berarti ada yang nemanin waktu aku mandi kan. Tapi kok abis itu keran mati lagi. Wah aku sendirian lagi dong. Mana abis itu mati lampu lagi...hwahahah... Aduh ga karuan amat aku mikirnya, mana lom pake baju lagi, badan masih ada sedikit busa-busa sabun. Yaudah ga pake lama aku langsung cebang cebung byur byur lalu salin-salin baju soalnya aku mau udahan. Abis andukan aku pake baju ganti malah sampe kebalik segala lagi. Rencananya abis itu aku mau langsung ngibrit aja dari kamar mandi. Eh pas kubuka pintu kamar mandinya, kulihat pintu ujung kok berkerit sedikit. Pas kutengok di dalam, kok ga ada siapa-siapa. Keran udah mati sih. Tapi mungkin aslinya itu cuma salurannya aja kali ya yang lagi byar pet ga kayak keran kamar mandiku tadi. Sebab emang kadang-kadang keran kamar mandinya seret sih. Lalu pintu goyang karena angin. Mungkin...ai don't know...wkwkwk. Tapi karena dasarnya aku lagi ketakutan, yaudahlah mikirnya jadi yang aneh-aneh segala kan, hahhah. Begitu jalan ke lorong, tiba-tiba terdengar bunyi guntur gede banget ngegeterin kaca jendela. Gimana ga tambah kicep aku. Larilah aku sambil gelagepan nyari kunci dan masukin ke lubangnya. Duh susah banget ga masuk-masuk...Seret. Masih untung aku udah salin baju ga sampe handukan doang hahhaha...walau cucian kutinggal di kamar mandi sih, auk mau kujemur kapan. Udahannya aku masuk ke kamar. Gordin jendela aku tutup rapet. Aku nyalain senter dan berdoa supaya baterenya ga cepet abis. Terus guling-guling yang warnanya putih aku tutupin pake selimut biar ga kebayang yang aneh-aneh. Aku naik lagi ke atas ranjang kelar Isyaan dan tutupan selimut sampai sekepala. Ga lama kemudian lampu udah nyala lagi. Tapi malam masih panjang dan aku masih sendirian di kamar. Hwaaa...






Oh ya, aku jadi ingat cerita yang lain lagi. Soalnya waktu itu pas banget lagi memasuki loket pintu masuk yang menuju ke rektorat. Eh dikira masih mahasiswa dunk uhuw padahal udah lulus. Tapi akoooh masih dikira mahasiswa dong hihihi. Kendaraan lalu muter melewati jalanan aspal dimana rektorat berada dan itu adalah dekat dengan fakultasku...Lalu aku jadi cerita banyak bahwa dulu saat Hari Minggu tiba aku rutin olahraga lari loh mengelilingi kampus yang luasnya berhektar-hektar. Aku mulai dari keluar kosan nerabas celah kecil yang tembus BNI, lalu lari ngikutin trek pedestrian di sepanjang jalan gedung sekulah tau-tau semua fakultas berhasil aku putarin hahahhaha. Keren! Padahal itu jalanan panjang banget. Ya, sebagai bonusnya pulangnya jadi beli bakso tusuk goreng yang dicor saos encer di depan BeeNI...ah...asyik sekali. Tapi karena muterin track ini aku juga jadi ingat oas masanya UTS UAS tingkat 1. Soalnya mata kuliahnya masih umum jadi seluruh area fakultas masih jadi tempat ujian. Beda kalau udah naik tingkat kan cuma di jurusannya aja. Nah, masa-masa UTS UAS ini Mbul sebagai mahasiswa baru ga jarang dapat jam ujian pagi, siang, maupun sore di tempat yang jauh dari asrama. Kalau lagi kesusu-susu biasanya ngebis, tapi kalau slow bisa jalan kaki walau lokasinya jauuuuh banget. Menyusuri setapakan yang pinggirnya hutan, melewati SMA, dan Wisma-Wisma....Abis itu bisa nyampe Peternakan, Perikanan Kehutanan, dan Kedokteran Hewan hihihi...Jalan-jalan yang pinggirnya serba hijau ini bikin ati adem. Inget banget dulu aku culun bener, pake terusan dress bunga-bunga pink, ransel pink, sepatu kets putih yang talinya merah, kalau ga hem yang skinny ngepress tubuh karena dulu aku cungring banget ga setembem sekarang hahhahaha...Kalau ga seringnya pake jeans. Terus kalau hujan payungnya tinggal digarkan aja. Berjalan diantara kecipak hujan dan rerumputan yang basah dan tergenang air. Hmmm syahdunya.






Beli Pisang di Belakang Terminal Laladon

Usai menyusuri sekolah tercinta, akhirnya udah jam-jam menuju pulang. Rencananya sih lewat Parung lagi. Tapi kena macet. Akhirnya di sekitar Terminal Laladon mandeg bentar buat beli buah-buahan. Aduuh liat pisang meuni ijo-ijo cantik jadi kepengen. Lalu pisang tanduk yang juga ga kalah panjangnya. Beli deh satu-satu. Pisang ambonnya beli yang mateng dan buat dimam hari itu juga kenanya Rp 25 ribu. Sedangkan pisang tanduknya separo (ga setandan). Kenanya Rp 50 ribu. Pisang tanduk emang mahal ya hwahahaa. Tapi enak sih bisa buat apa aja dengan pisang ini.

Di kedai buah ini sebenernya ga cuma jual pisang. Tapi ada pula bengkuang, talas, pepaya mengkal, dan ubi madu. Tapi Mbul cukup beli pisang aja hihihi.














Mampir Mie Ayam depan Indomaret

Usai beli pisang di Terminal Laladon, saatnya pulang. Lewatnya Mess Lanud Atang Sanjaya dan langsung disambut hujan deres banget... bressss !!!! Ampe sebagian jalan digenangi air kayak mau banjir. Belum sempat makan siang pula dan bingung mau mandeg dimana. 

Ujan-ujan tuh sebenernya pengen bakso atau mie ayam. Tapi galau mulu mau mandrg di bakso dan mie ayam mana hahhahahah. Secara kadang nemu tapi lokasinya susah atau lagi rame. Kalau ga penjualnya ga ada. Jadi akhirnya bablas lagi. Sempet ketemu berentet warung makan Sunda....tapi...tapi tapi....sekali lagi hasratku tuh lagi pengen ngebacowww atau ngemie yayaaaaamm huahahhahah...Akhirnya terus melaju di tengah hujan yang masih deres, bahkan liwat jalan tikus dan perkampungan...daaaaan ga nemu-nemu tempat makan #kacian. 





Sempet nemu warung bebek sambal mercon di daerah Parung, eh tapi kok rame banget. Lagi pengen mam di tempat syepi. Dan sebelahnya ada kede mie ayam. Sepi lagi. Cuma penjualnya nda ono...hihiho. Jadilah sekali lagi bablas terus padahal kayaknya mie ayamnya wenak. Hiks...

Akhirnya random aja nyobain mie ayam depan Indomaret yang aku ga tahu nama kedenya apa hahahaha....Tapi lumayan lah, walau mie ayamnya agak sangit-sangit dikit yang penting perut kenyang. Aduuuh kecolongan mam karbo sehari...hihihi. Sehari itu doang. Mienya pake pangsit dan baso. Lumayan bisa buat ga mam sampe malem hihihi. Soalnya lumayan kenyang.






















Beli Asinan Sayur Enak di Pondok Asinan Muncul

Setelah tuwuk (bukan kucing kuwuk ya...apalagi balung kuwuk hihihi), perjalanan dilanjut dan begitu memasuki perempatan Gunung Sindur mampir sejenak ke Asinan Gunung Sindur langganan. Nama aslinya Pondok Asinan Muncul. Lokasi persisnya di deket Prapatan Muncul.

Sebenernya ni kedai ga cuma jualan asinan. Tapi juga pempek dan makanan berat. Cuma emang terkenalnya asinan. Teman kantor kami yang namanya Pak Aceng kebetulan rumahnya di Parung dekat Gunung Sindur dan bila ke kantor kadang suka bawain Asinan juga. Beliau di kantor katanya karyawan teladan sebab rumah jauh tapi paling rajin dan kalau berangkat sering pagi-pagi. Heheheh. Coba kalau mampir ke rumah Pak Aceng, pasti disuguhin jamuan banyak banget karena beliau orang yang baik. Atau malah disuruh menginap sambil kulineran khas Parung.






Jadi di Asinan Gunung Sindur ini kami beli asinan sayur aja 2. Tadinya mau beli asinan buah juga, tapi karena masih musim lebaran dan liburan, belum sempet ngracik buahnya. Kalau sayur langsung diracikin cepet. Tapi sebenernya asinan sayurnya aku emang lebih suka sih. Sayurnya itu ada sawi asinnya, tauge, ketimun, wortel, kol, tahu kuning dan sambal kacang. Juga ada sambel encernya lagi yang dari cabe rawit. Enak deh. Tapi aku suka sambal kacangnya aja. Biasanya rawitnya ga pake. Uhmmm...rasanya seger-seger acem...enaaaagh! Oh ya satu lagi....paling enak tuh mam ini sambil remes-remes kerupuk kuning khasnya asinan loh. Kalau biasanya kerupuk kayak gini agak keras...nah di sini digorengnya renyah banget. Ampe kadang belum aku remesin ke asinannya udah kucemilin duluan. Abis rasanya enak. Bikin nagih. Harganya per porsi naik dari Rp 15 ribu jadi Rp 18 ribu.

Okey, segitu dulu ceritaku kali ini ya. See you on the next post ya. Dadaaaah!