Kamis, 09 Juli 2020

Rumah yang Selalu Dirindukan



Oleh : Gustyanita Pratiwi

Karena harus ubyang-ubyung ikut mengurus prosesi pemakaman Simbah, maka Pak Suami memilih untuk mengantarkan aku dan si bayi ke rumah Prembun dulu lantaran tempat mertua dipastikan kosong dan semua orang bakal sibuk bantu-bantu di rumah duka yang berada tak jauh dari situ. Nah, berhubung aku masih ada urus 2 bayi, jadi Pak Su merasa kasihan kalau aku sampai kether (riweuh). So, terpaksalah aku ga ikut mengantarkan alm simbah sampai ke peristirahatan terakhir..

Baca juga : "Kelabu"

Gagahnya si kembang Asem :D

Kami berkemas dengan cepat karena akan jalan ke Prembun sekitar jam 2 siang. Dengan membawa perlengkapan seadanya, kami langsung tancap gas saja menggunakan kendaraan ertiga yang semula sudah dicuci bersih oleh Pak Agus. Karena semula rencananya akan balik ke Tangerang. Tapi berhubung siangnya ada berita lelayu, jadi ya akhirnya cancel. Skenario pun berubah total. Dengan mengirimkan pesan whatsap ke ibu yang masih dinas di Kabupaten Kebumen, akhirnya kami langsung otw aja ke Prembun walaupun isi pesannya belum centang biru alias belum dibaca. Toh di rumah juga ada kakung ini (baca : bapak gw red) yang emang udah pensiun dan pekerjaannya emang santai-santai aja di rumah selain juga masih aktif ternak teri (anter anak-anter istri). 

Jarak tempat mertua yang berada di Desa Dlangu dengan tempat orang tuaku di Prembun sebenarnya cukup dekat. Hanya berselang setengah jam saja namun memang sudah beda kabupaten yang dipisahkan oleh kali. Jadi termasuknya kami ini nikahnya model 'peknggo' alias ngepek tonggo (ngambil tetangga). Tonggo bedo deso lan kabupaten (tetangga beda desa dan kabupaten). Tapi lokasinya masing-masing udah di perbatasan kabupaten semua, jadi ya sama aja berdekatan, alias kayak tetanggaan aja istilahnya, xixixix... 

Dalam perjalanan ke Prembun, sebenernya suasana hati kami sedikit kemrungsung. Soalnya takut slisiban dengan kedatangan mobil jenazah. Jadi asemnya malah barang ga kebawa semua. Botol susu pun yang keangkut cuma 1. Lah iki piye le mimik nanti wong uda ga ada yang nenen semua, hahhahaa.... Duh ya ngalamat musti ada acara balik dulu karena bocah ga bisa minum kalau tanpa comotomo tercintah..wkwkk

"Lah piye sih Bulll, takkirain tadi udah dicepak-cepakke semua," gerutu Pak Su yang udah membawa kami sampai separuh perjalanan dan kini titik lokasi kami sudah berada di area Pasar Kelapa. 

"Lah karan ubrug...yo piye maneh, jadinya aku lupa deh ama apa yang mau dibawa, hoho."

Tapi ya sudahlah daripada balik lagi, ntar malah keburu ketemu mobil jenazah yang uda jalan dari Banjar sana. Toh ini juga udah hampir sampai ke Prembunnya.

Benar saja, tak berapa lama kemudian, kami sudah sampai di daerah Prembun. Tapi sebelumnya mampir dulu ke Indomaret buat beli sesuatu sekalian isi pulsa. Maklum hengphone aing kan suka skate-kate ga ada pulsanya gegara di Tangerang kebiasaan pake wifi, hahaha...

Oke lanjoooot..

Begitu nyampe rumah Prembun, Kakung yang baru dapat kabar dari ibu kalau Simbahnya Pak Suami yang ada di Dlangu sana meninggal dunia, langsung tanggap dan mempersilakan kami (aku dan bayik) untuk didrop sementara di situ, baru besokannya dijemput lagi buat balik Tangerang. Yah, walaupun nylemurke anakku yang nomer satu itu agak Pe er ya, sebab doi emang nempelnya ama bapaknya ...jadi biar ga tantrum atau engeh pas bapaknya ke tempat almarhum, ya kudu dialihkan pake sesuatu. Sesuatunya itu apakah gerangan ? Jawabannya adalah kucing-kucing kakung.

Kucing-kucing Kakung

Kakung memang seorang pecinta kucing. Udah ada beberapa generasi kucing yang pernah kami pelihara dan semuanya diopeni dengan baik oleh kakung. Di umurnya yang sudah menginjak 62 tahun ini (walaupun menurutku masih terlihat awet muda), kakung emang telaten ngurus 'anak-anak' keduanya ini mulai dari beliin pindang atau ikan gesek yang diuled pakai nasi sebagai pakan mereka, memandikan kalau wayahnya mandi, mengobati kalau sakit/korengan, dsb. Kalau yang terakhir sih tugasnya uti selaku mantri hewan. Ya, kalau kakung sih urusan teknis sehari-harinya kucing lah. Sedangkan uti emang ga begitu pati-pati seneng kucing. Paling turun tangan pas ngobati aja. Suka batuk ama bulunya soalnya. Eh rambut dong ya harusnya, kalau bulu mah bangsa aves hihihi... Beda dengan kakung alias bapakku yang emang eman banget ama kucing. Emannya itu tulus sampai kucing-kucing liar pada berdatangan sendiri dan minta dipelihara #eh gimana gimana?. Ya, sebab semula kucing-kucing yang ada di rumah itu emang kucing liar semua.

Kakung (bapakku), di usianya yang sudah 62 tahun masih tetep awet muda
Perhatikan yang ada di atas kitchen set sodara-sodara :D

"Lumayan nggo rame-rame Nit, ben omah ga patio sepi, kan anak putu wes podo merantau kabeh," begitu ujar Kakung suatu kali.

Kalau kuhitung-hitung, yang sekarang ini berarti masuknya udah generasi ke-4 atau 5 dari kucing-kucing itu. Soalnya terakhir kali ngelihat ya masih dalam bentuk cemeng alias anak kucing yang baru dilahirkan oleh babonnya yang ebot-ebot kayak gw itu. Eh la kok sekarang udah pada jadi kucing remaja. Emak-emak pendulunya udah pada mati semua, bapaknya sih kucing tetangga aja atau kucing liar yang biasanya nongkrong di rumah.... tapi semuanya uda pada jadi kucing tua, beberapa malah ada yang pergi tanpa kembali....(kucing mah gitu ya, kalau sekiranya udah usia pasti ngilang, kayaknya emang ga mau ketahuan Tuannya andai udah deket ama ajal, hiks hiks). 

Nah, jadi si kucing-kucing ini akhirnya bisa jadi pengalih perhatian anakku biar ga ngeh kalau bapaknya udah cabs ke Dlangu lagi, hihihi #licik ya gw. Tapi lumayan lah, dia bisa belajar bagaimana cara ngempanin kucing setelah sebelumnya di tempat mertua belajar ngempanin ayam (tanpa takut ditlabung sedikitpun kayak emaknya, ckckck).












Keterangan caption foto nama-nama kucing Kakung :

Foto 1 (dari kiri atas ke kanan bawah) : Coky (kucing tetangga), Bundel (anaknya Nining--dinamain begitu karena buntutnya bundel, Nining (babonnya Bundel and Srunthul), Srunthul (kembarannya Bundel, dinamain begitu karena hobinya nyelonong)
Foto 2 : Sapi (anaknya Srunthul kalau ga Bundel, lupa gw, cucunya Nining)
Foto 3 : Bunda Nining dan anak pertama Bundel
Foto 4 : Bundel dan ketiga anak Srunthul (Sapi, si Putih, dan si Hitam)
Foto 5 : si Kuning
Foto 6 : Budhe bundel dan 3 keponakannya, Srunthul suka males ngasuh anaknya
Foto 7 : Bluwek alias Tuwewek (suaminya Nining), entah bokapnya Bundel n Srunthul atau bukan, soalnya Nining juga suka kumpul ama Coky si kucing kembang asem milik tetangga
Foto 8 : Nining alias Tunining alias Markening alias Ebot-Ebot
Foto 9 : Bundel dan keponakan
Foto 10 : Bundel dan keponakan (egein)
Foto 11 : Coky...

Ngadem 

Selain rumah pokok kami di Tangerang, tak ada yang lebih menentramkan djiwa selain rumah Prembun alias rumah bapak ibuku yang udah menjadi bagian dalam hidup (sejak kanak-kanak hingga sesaat sebelum merantau ke Bogor demi melanjutkan kuliah strata 1). 

Rumah Prembun ini udah mengalami beberapa kali renov, dari yang awal-awal aku kecil masih pake dinding bata dan lantai tegel (cor-coran semen), sampai tambah memanjang dari tahun ke tahun karena sekalian menghabiskan sisa tanah yang ada untuk beberapa spot. 

Seperti bagian samping yang dibikin area santai dengan penempatan meja kursi panjang yang menghadap ke kolam kecil di mana di atasnya membentang kanopi pohon jeruk, di belakangnya lagi ada kolam ikan dalam bentuk bak-bak, sedikit lahan untuk tanaman yang bisa dipakai untuk pelengkap sayur seperti belimbing wuluh, kucai, salam, kemangi, dll. Ada pula tanaman sirih yang merambat dengan suburnya sebelum nyampe di koloni pralon yang dijadikan media tanam kangkung dan juga pokcoy. Paling belakangnya lagi, ada kandang ayam lama yang pagarnya sudah diganti dari yang semula bambu menjadi teralis besi hasil las-lasan. Yang terbaru, ada juga kandang entog yang ternyata lumayan banyak. Ada sekitar 10 entog yang dipelihara. Makanannya sama sih kayak ayam, bekatul gitu deh. Kata Uti sih kalau cucu-cucu pulang mau disembelihin beberapa ekor buat di dimasak santan, hihi... Selain itu aku juga pernah nyobain yang namanya nyeplok telur entog yang ceritanya sudah pernah aku tuliskan sebelumnya (silakan tinggal klik aja tulisan yang warna merah).





























Pohon Alpukat Depan Rumah

"Mbak, kowe wes weruh wit alpukat sing neng arep omah durung?", ujar ibu suatu kali yang slerep-slerep kuperkirakan akan memamerkan pohon alpukat asuhannya. 

Ahaaaa ! 

Pohon alpukat ? 
Kok aku belum tahu ya?

Segera saja aku berlari untuk memastikan keberadaannya. Bener apa ga hasil ngendikane ibu tadi. Pohon alpukat tapi nanem sendiri. Biasanya kan tinggal beli ya di pinggir jalan. Nah ini nanem sendiri. Dan benar saja, space halaman yang tadinya menjadi milik si mendiang pohon rambutan (yang sekarang sudah ditebang dari kapan tahu) akhirnya kini menjadi milik si pohon alpukat yang sebenarnya berbodi ramping itu. Ya, tidak seperti halnya pohon alpukat besar yang sering kutemui di kantor pertanian seberang jalan raya (yang sekarang udah menjadi RSUD--kalau ga salah), pohon alpukat yang ada di rumah masih terbilang belum terlalu tinggi. 





"Ini alpukat apa Bu?", tanyaku memastikan.

"Alpukat mentega Mbak, ibu dapat mbibit dari koncone ibu, njerone apik banget loh...kuning cantik, ra pernah entuk sing bosok, " jawab ibu sumringah. Terpancar jelas dalam matanya, betapa si pohon alpukat yang tadinya kecil sekarang sudah tumbuh dan berbuah lebat berkat hasil tangan dinginnya. 

"Jajal takunduhe beberapa."
"Buat ngejus Cyiqa lumayan," ibu menambahkan. 

Lalu terdengar bunyi mak 'grel-grel-grel' dari sebilah genter (bambu yang ujungnya dikasih penyangga untuk mengunduh buah yang telah matang) dan kami dapat 8 biji ukuran sedeng (yang jadinya untuk dibawa pulang Tangerang). Belum terlalu matang sih, karena memang luarnya masih keras. Tapi ga masalah, karena tinggal diperam beberapa hari saja udah langsung mateng. Benar saja setelah kami peram dengan metode mengimbuh alpukat yang pernah kutulis sebelumnya, begitu matang dan buahnya kami belah...tadaaaa !!!! Dalemnya cantik-cantik banget seperti kata Uti, hihihi....(Gustyanita Pratiwi).

Note : Sepenggal cerita awal tahun lalu yang masih serangkaian dengan acara memenuhi undangan wisudaannya adek  dan setelahnya menyempatkan diri untuk mampir ke kampung halaman :D


60 komentar:

  1. Mbak Gusti, rumahnya orang tuanya asri sekali. Sudah tamannya teduh, ada kolam ikannya, kucing kucing lucunya banyak, plus kudapannya banyak. Siapa yang ga betah mbak kalau rumahnya serba kumplit seperti itu....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih mas cipu :D

      Iya bapak ibuk emang telaten kalau disuruh ternak atau ingon-ingon, plus nanem yang ijo-ijo, jadilah kalau pas sowan sana serasa energi terecharge lagi ^_^

      Hapus
  2. Wkwkwk lucu juga tuh, bapaknya mbak mbul kerjanya ternak teri, anter anak anter istri.πŸ˜‚

    Wah, bapaknya sayang amat sama kucing ya, sampai ada yang generasi ke empat atau kelima. Itu kalo manusia udah termasuk buyut ya. Tapi mungkin itu yang membuat bapaknya terlihat awet muda.πŸ˜„

    Kalo saya kurang suka dengan alpukat, penginnya sih nanam pohon kelengkeng, manis soalnya apalagi kelengkeng madu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas, beliau karena uda pensiun jadi saatnya sekarang santai-santai menikmati masa tua dengan gembira, termasuk ternak teri yang buat beliau terasa seperti refreshing soalnya kantor ibu lumayan jauh dan waktu nganter pake sepedq motor uda serasa jalan-jalan aka pacaran lagi ahahhahahah

      Iya mas, kucing di rumah tuh ngrempuyuk banget, kalau pagi pada reang ngeak-ngeok minta makan, dan yang paling disiplin ngurusin semua-muanya ya kakungnya anak-anak ini >______<

      Alpukat mentega enak mas, bisa buat ngejus, dan daginge tebal tur padat, kelengkeng madu juga aku suka sih, tapi susah kan nanem pohon kelengkeng yang kudu besar dulu sampai bisa berbuah, eh tapi kalau tahu caranya sih mungkin bisa ya pas masih kecil uda berbuah...kayak yang di tukang taneman buah itu loh yang walaupun tanemannya dalem pot tapi biasanya udah mentungul buahnya :Xd

      Hapus
    2. Yang aku ketawain itu ternak teri nya, kirain beneran ternak teri di laut.πŸ˜‚

      Karena kebiasaan jadinya kucingnya pada ngeang ngeong ya. Tapi mudah-mudahan Mbah Kakung nya ngga miara kucing garong.🀭

      Kayaknya di tukang tanaman itu ada obat khusus, makanya biarpun dalam pot sudah bisa berbuah, biar yang beli tertarik. Aku pernah beli pohon mangga harum manis yang sudah ada buahnya, tapi giliran aku tanam di tanah ya nunggu empat tahun baru berbuah.πŸ˜‚

      Hapus
    3. Jyahahahha kalau ternak teri betulan atuh susah mas ahhaha

      Kucingnya manut-manut mas, cuma emang kalau pagi ampun deh reang alias ngeak-ngeok berisik juga hahaha

      Oh iya kah? Soalnya aku awam tanam-tanaman..takkirain ada varietas buah yang emang cepet gitu ditanam dalammpot udah mentungul buahnya ahahha

      Hapus
  3. Rumahnya homey sekaliiii kak! Sederhana tapi berasa nyaman, dan pekarangannya luas! Enak banget buat para kucing buat lari sana sini hihihi

    Btw, sumpah aku kira yang di atas kitchen set ada yang horor-horor, eh ternyata si kucing 🀣

    Alpukatnya juga cuantik banget! Dagingnya itu cantik ya, tebel-tebel pula. Awalnya ku kira mangga itu wkwkw

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya lia, emang kalau di desa mah yang penting nyaman aja koentjienya li, biar sederhana tapi kerasanya adem aja, sayur tinggal metik, buah tinggal metik, ayam tinggal motong , ikan tinggal mancing, eh kami juga ada piara lele juga sih walaupun beberapa kali jadi sasaran diobok-obok para kucing hahahhaha (kadang ibu ngomel tau lelenya abis hahaha)

      Wakakka, keren ya li, kucingnya bisa matanya bercahaya gitu, mana dia naiknya gimana coba bisa sampe atas-atas gituh (itu kitchen set lumayan tinggi sebenernya)

      Iya, mirip mangga ya, tapi mangga mentah yang dibelah ahahhaha, dan ternyata itu alpuket mentega, aku aja baru tahu pas uda ditunjukin mamine, kalau ga kayaknya aku ga ngeh ada pohon alpuket hahahahah

      Hapus
    2. Bayanginnya aja udah berasa ademnya kak!
      Ih mantep banget ada kolam lele, kucingnya kenyang dong 😝

      Iya, kelihatan tinggi lho itu! Hebat banget itu kucingnya bisa sampai ke atas sana. Kalau mata dia nggak bersinar, aku nggak tahu kalau ada kucing 🀣

      Hooh mirip mangga mentah yang biasa buat rujak itu lho. Bagus ih kak buahnya!

      Hapus
    3. Iya lia, lumayan buat isi-isi waktu pensiun hihi

      Kucingnya kenyang juga li, tapi pleus dapet omelan dari ibuku karena ngabisin isi kolam hahahhahahah

      Iya, kucingnya mah udah kayak penampakan cuma kelihatan sorot matanya aja hahhaha

      Hapus
  4. Rumahnya bapak ibu bagus banget, besar, asri, rindang. Pasti betah banget di sana. Apalagi si kecil, ya.

    Enak ya, Nita, kalau bisa makan buah atau hasil ternak hasil memelihara sendiri. Rasanya beda dibanding kalau beli, hehehe.

    Mugi2 bapak dan ibu tansah pinaringan sehat ya, Nita. Aamiin.πŸ€—

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasi mba pipit, salah satu hal yang terpaling paling paling ngangenin kalau uda suntuk ama hiruk pikuk kota ya rumah masa kanak-kanakku ini mba
      >________<

      Iya, herannya aku klo bapak ibu yang nandur apa kok jadi ya, giliran aku di tangerang ga jadi ahhaa, apa ngaruh karena tekstur tanahnya ga segembur di sana yak, juga di sini panas banget, sedang di desa adem jadi tanaman apa aja kok ndilalahnya jadi...

      Bener bingit, beberapa buah hasil pohon sendiri manisnya tuh beda dari yang beli.,,selain alpuket dan jeruk, kami juga ada nanem sirkaya, mangga, pepaya, n pisang. Pepaya n mangganya terutama yang manis-manis. Klo rambutan udah almarhum alias uda ditebang dari lama, padahal klo lagi musimnya lebat banget hiks hiks

      Amin, makasih mba pipit :*

      Hapus
  5. Kenapa ya diawal kalimat aku bacanya malah ngguyu, lah wong berita duka cita simbahnya kak Mbul malah diselipi cerita ketinggalan botol susu dan para bayi wis ora nenen meneh wwkkk πŸ˜….

    Eh, itu para kucing kok bisa pose kompak duduk manis kayak pemotretan potomodel sih ?.
    Pinter banget mereka ya ..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wakakakak biasa mas him, uda emak-emak gini bawaannya ada aja yang keri atau ketriwal, termasuk botole bocah ahhahahhaha

      Kucingnya kan suka jaim mas, yen lagi difoto kok yo posene iso sok cute gitu, asline yo mung glandang-glundung tura-turu wae, alias pindah posisi tok kayak gombalan berbulu ahahahhahahhaha #kucing-kucing sue memang iki loh wekekek..

      Hapus
  6. Ini rumah orang tuamu yang dijawa tengah Nite... Kirain di Tangerang..Halamannya cukup rapi dan menarik. Terlebih beliau juga hobi ternak kucing dan hobi juga sepertinya bercocok tanam.😊😊

    Melihat photo2 kucing2 yang lucu2 jadi ingat sama kucing2 kakak gw yang jumlahnya cukup banyak. Padahal tidak dipelihara cuma dikasih makan saja. Cuma anehnya mereka pada betah dan seperti enggan kemana2. Jadi seolah2 seperti melihara kucing.

    Mungkin ayahmu juga awalnya sperti itu kali yee Nite.😊😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali kang satria :D

      Kalau rumahku di tangerang mah minimalism alias sakunyil hihihi, ga segede rumah ortu kami di kampuang nun jauh di mato, keknya juga ga segede istananya kang satria di depok city, πŸ˜‚

      Iya awalnya begitu kang, si kucing ya sliwar sliwer aja, tapi ama bapakku diempanin ikan pindang (yang kadang bikin ibuku nyap-nyap haha),tapi akhirnya kucinge kayak minta dipiara gitu, jadilah tempatku kek penampungan kucing kampung liar huahahhahah

      Hapus
    2. Rumahnya kang satria di Depok yang pernah aku lihat di Facebook sih ngga terlalu besar mbak, cuma cukup lumayan nyaman untuk ditinggali. Rumahnya ngga segede Raffi Ahmad tapi 11 12 sama rumah Anang Hermansyah yang dijual kemarin itu.πŸ˜„

      Hapus
    3. Ahsiyaaaap yang turunan sultan 😁

      Hapus
    4. Tetanggan ama si doel anak sekolaan dunk klo cinere πŸ˜‚πŸ˜‚

      Hapus
    5. Lho, Cinere apa Depok sih? πŸ˜…

      Hapus
    6. Cinere mungkinnuda masuk depok mereun mas
      Tapi untuk lebih jelasnya silakan aja cek di gugle maps atau juragan satria ahahhah

      Hapus
  7. Kukira Dlangu daerah Mojokerto Jawa Timur, jebul ternyata Dlangu daerah Jawa Tengah mbahaha. Ngapunten salah fokus, Mbak ~XD

    Kucingnya totalnya berapa itu Mbak? Aku sampe pusing ngitungnya hahaha. Salah fokus ke profesi ternak teri wkwkwk.

    Rumahnya adem sekaliiii, apalagi dikelilingi pohon-pohon gitu :') jadi keinget rumah nenek yang di desa juga :'D Apalagi makanannya juga makanan rumah, ada jamunya juga. Duh jadi ngiler.

    Seneng banget ih punya pohon alpukat mentega sendiri di rumah! Lumayan ini, biasanya kalau diet gantinya makan pakai alpukat ~XD cantik bangeet, kuningnya menggoda syekali hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukan say hahhaha, dlangu ternyata ada banyak ya, di mojokerto pun ada #baru tau akuh

      Klo ditotal aku ga bisa memastikan, soalnya kadang bingung warnanya ada yang samaan, ntah uda keitung berapa ahahahha

      Iya makasih andhira, komplet jamuannya klo di kampuang halaman, plus jamu jamuan benerannya juga dibeliin ama bakul yang atr-ater pake motor lo yang suka kami setop raketang beli beras kencur n kunir asem

      Iya, pohon alpuketnya biar kata gering (kurus), tapi buahnya buanyak hihihi

      Hapus
  8. wah gw jadi inget sama nenek ku juga, udah tua dan kemaren baru sakit, kadang takut gitu karna udah tua...


    kucingnya banyak bener ya, apa bener itu nama-namanya gak lupa :D..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah semoga nenek khanif lekas sembuh ya, biar bisa bercanda ria dengan cucu kesayangan hehe

      Iya nif, setau gw bener sih itu namanya, e kecuali yang terakhir gw lupa tuh ama 3 cemeng, tapi yang gw ingat banget ada yang namanin Sapi (yang namain adek gw btw haha), soalnya ada totol-totol item putihnya kayak sapi perah

      Hapus
  9. mbak nita kapan kapan nulis resep bapake biar awet muda dong
    serius bapake mbak nita kayak masih umur 40an awal (aku langsung kepo hehe)

    sing foto kucing nomer 9-10 lucu banget se iso kruntelan koyok ngunu haha
    wi iyo mbak asri banget
    enak iku gae ngisis

    alpukate nyenengno
    aku tau mbak nandur tapi sedilut wis akeh ulere
    dadi akhire dibabat karo paklikku huhu

    eh iku menthoge kok akeh yo
    ganas ganas gak mbak hehe (aku wedi menthog haha)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Karena posture bapake mandan kuru jadi ga ketok terlalu sepuh yo mas hahahah

      Iya kucinge sok imut maaaas, nek difoto meuni kelihatan sok cool mereka hahahah

      Iya isih soale ngarep mburi samping-samping pekarangan tanggane kabeh wkwkwk

      Kayake sih ga nganti uleren banget mas, hahaha, gilo juga aku yen akeh ulere wite

      Enthoge yo agresif juga wkwkwk, pokoknya segala macem unggas aku juga mandan wedi sih, tapi sik paling takhindari disosor soang alias angsa hahahha

      Hapus
  10. Rumah Prembun sama rumah mertua 30 menit mbak? Deket berarti ya? Penasaran aku, itu bisa ketemu di mana? Secara, walaupun pek-nggo, tapi kan Purworejo - Kebumen itungannya juga udah beda Kabupaten. Wkwkwk.

    Wah, kebalikan e bapakku mbak. Bapakku kalau sama kucing nggak begitu suka. Beliau kalau ada kucing terus ndeket jalan ke arah rumah gitu langsung di gusah. Kayaknya dendam karena sering kejadian si kucing nyolong lawuh di dapur rumah sih. Hahaha. Dan beliau itu lebih suka melihara ayam sama burung.

    Bisa sebanyak itu. Nek pas wayah e dikasih makan mesti rame banget itu. Apalagi suara ngeong-ngeongnya *aku mbayangke πŸ˜‚* Ngakak pas nemu nama Srunthul. Bapak e njenengan dapet ilham dari mana itu mbak?

    Gagal fokus sama lemari yang jadi sekat ruang makan-dapur. Itu lemari jadul bukan si mbak? Di rumahku dulu juga ada, tapi sekarang udah rusak. Khasnya itu ada kaca gesernya di bagian atas. Khas banget, sumpah!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Deket Nu, angger jamane ra enak yo tinggal ngecolt tekan hahhahaha, tapi nek ngecolt pesti bareng cah sekolah utawa wong pasar...sesek euy

      Ketemunya biyen liwat fb hahahahhaha
      Ketemuan 2 kali langsung jadian wkwk

      Wakakka, nek sing tukang nggusah di rumahku ibuku sih nu, nek ning bapak tu kucing malah klulute masya Alloh ahahha

      Iya dipikir2 nek ngingu ayam luwih manpangati, la iso dijupuk endhog utawa disembeleh to, burung nggo ingon-ingon suarane marahi tentrem wkwkkwk

      Srunthul soale nek teko kui mak srunthul gitu alias nyelonong aje hahahah

      Kayake sing njenengi adikku deh wkwk

      Iya nu, kui lemari jadoel sik legendaris ituh, kayu n duwuri kaca bisa digeser..khas nggo nyimpen masakan ra an?

      Hapus
  11. mampir lagi ke Mbak NIt Gimbul.

    Eh mbak, itu yang desert ada cambahnya, itu namanya apa ya? kaya tahu campur Lamongan. seger banget

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wakakak, matur suwun pak dokter tubagus uda mampir kembali

      Itu yang ada cambahe soto khas jawa tengah tapi versi obuku pak dokter
      Jadi toppinge sengaja ada kecambahe biar kretes-kretes gitu, n kuahe ada tambahan kacang sangrai tumbuke loh hehehe

      Hapus
  12. Masya Allah, kakung, bagi kucingnya satu, huhu.. banyak beud, nama-namany juga lucuk.
    Btw, aku juga rinduuuuu rumah buanget, metik rambutan, makan mangga rame-rame, duduk santai di teras sambil makan bakso bakar, duh..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah mba kyindaerim suka uching jugag, ni tangkap atu ahahahhaha

      Samaaak, akupun belom bisa mup on dari rambutan masa kecil, dulu depan rumah ada satu pohon rambhtan yang nglothok sekali, tapi sekarang uda ditebang hiks hiks

      Bakso bakar, kayaknya tantaaaab ^_______<

      Hapus
  13. Rumah ortu mba Nita suasananya seperti rumah di kampung halaman simbah. Asri dan damai banget rasanya pasti yah setiap mudik ke sana 😍 hihihi. By the way, saya banget itu mba, kadang sudah setengah jalan harus balik lagi karena kelupaan bawa barang ahahahahaha 🀣 pernah lupa bawa dompet sudah masuk di dalam mall. Bingung mau belanja sama bayar parkir bagaimana. Akhirnya panggil mba untuk datang πŸ™ˆ

    Terus saya ketawa baca nama-nama kucingnya mba especially Srunthul dan Tunining hahahahaha kok ya bisa kepikiran kasih nama itu, ajaib πŸ˜† by the way, yang kucing oren paling banyak gaya kayaknyah. Di foto pun beda sendiri posenya 🀭 lagi jaga wibawa apa yah hahahahahahahha.

    You are so lucky mba, ibunya punya pokat mentega 😍 kapan hari pernah beli onlen, harga lumayan juga 🀣 kalau punya tanaman sendiri kan enak tinggal petik pas sudah matang πŸ˜† hihi. Semoga Kakung dan ibu mba selalu dilimpahkan rizki sehat yaaah dan betulan lho Kakung nggak kelihatan seperti sudah 62. Kalau nggak diinfo, saya kira masih 50 tahunan πŸ˜„

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wakakkaka sama toast mba eno
      Memang kalau udah di rumah masa kecil, rasanya segala sesuatu seakan masuk ke mesin waktu, jadi ku ceritanya juga sembari menghayati, lalu tiba-tiba kangen masa-masa itu, masa kecil yang masih taunya main n seneng-seneng wkwkwk

      Hahah, sama banget mba eno, mungkin aku uda faktor u kali ya, suka banget aku kelupaan, wakakak

      Ternyata mba eno juga sama ya, yah namanya manusia kita tak pernah lepas dari lupa #tsailah ahaha

      Tunining ini favorit aku loh mba, sebab dia babon dari segala babon wakkakaka, dulu nemunya pas masih kecil, cileren lagi, terus dirawat ama bapake jadilah sesehat itu, gemuk ebot-ebot pantatnya kalau jalan. Lalu buntutnya suka kebit-kebit, daaaaan paling nyebelin tapi bijin ngakak hobinya tidur tapi di posisi kasur ruang tipi posisi tengah-tengah, uda ngalah-ngalahi wewenang majikannya hahahahahaha....si tunining ini kami kasih banyak nama alay kayak markening, gebot, ebot-ebot, dll saking gemesnya aku ama dia
      Kalau srunthul memang dari segi muka lebih mirip ama emaknye nining ketimbang kembarannya bundel wkwkwk


      Hu umb mba eno, alhamdulilah alpokatnya kok ya bisa tumbuh subur walaupun ukurannya ga segede yang di farmer market atau raja buah, tapi isinya jarang nemu yang busuk. Biarpun jatoh dan mlethek alhamdulilah isinya masih bagus, ga cepet coklat

      Amiiin makasih mba eno sayang, sehat selalu untuk mba eno sekeluarga 😘

      Hapus
  14. Rumahnya asri banget, saya suka dengan tempe mendoannya :D
    Yuk kalau nanti pulang, kita kopdar di Prembun
    Biar wong kebumen kumpul :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebenernya tempe tepung biasa sih mas djangkaru
      Bukan mendoan wkwkw
      Tepungnya pake tepung beras rose brand jadi mandan kemriuk gitu deh

      Wah aku kok penasaran ya ada ga ya paguyuban blogger kebumen ehehe

      Hapus
  15. Bukan Embul namanya kalau dia nulis nggak bikin tercengang,
    Masha Allaaahhh, adem dan asri banget rumah ortunya saayy...
    sampai udah baca saya balikin lagi ke atas liat-liat fotonya, masha Allaahh...

    Bersih dan adem dan asri banget, kalau saya keknya sulit bisa meninggalkan rumah demikian :D

    Bapakmu juga fantastis say, usia segitu masih awet muda, nggak heran anaknya udah mamak-mamak tapi tetep kek anak SMP momong anak hahahaha.

    Dan kucingnyaaaa...
    Astagaaa.. bolehkah saya bawa pulang satu atau dua ekor anak meong yang lucuuuu banget itu.

    pohon-pohonnya juga say, alpukatnya, bikin saya kangen sama kakak saya, di depan rumahnya juga ada pohon alpukat, yang kalau udah berbuah, sukses bikin saya mual-mual berbulan-bulan nggak mau makan alpukat, saking udah eneg tiap saat makan alpukat hahahaha

    Saking banyaknya, biasanya kakak saya kerokin buahnya terus ditaruh di frezer biar awet.
    Duh kan jadi ngiler, mana buahnya sehat-sehat tuh.

    Dan belimbing nya, saya paling suka makan belimbing kecut itu, jauh lebih suka itu ketimbang belimbing manis.
    Biasanya saya kasih garam, lalu makan di depan orang-orang, sampai saya yang makan, orang yang jerit-jerit kekecutan liatnya hahahaha.

    Tapi yang memang ngegemesin adalah anak-anak meong itu.
    Saya aslinya sukaaaa banget ama meong.
    Tapi sejak punya anak, saya jadi benci meong, saking mereka suka pup dan pipis sembarangan, sementara semakin nambah umur, saya semakin sensi sama bau-bauan.

    Tapi tetep Nit, enak banget kalau ke rumah ortumu, membayangkan bisa main seharian ama anak-anak meong itu, bobo sama mereka, wiihhh asyik banget.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wakakakaka, makasih kak rey, tjipok juga nih ahahahah

      OmeGod...kenapa aku ngakak, kak rey ternyata suka mpus meong juga ya, ga heran, karena kak rey juga suka anak kecil juga kan, jadi ama mpus juga sayang hihihi

      Wakakkakakakkaka, ya Alloh ya rob...sampe mual-mual muntab mblenger mamam alpuket pas masa kecil ya kak rey, eh kadang aku ngebayangin desa masa kecil kak rey di buton serasa surga dunia, banyak pohon buah n ijo juga huhuhu

      Eh tapi alpuket difreezer jadi es batu dong yaaak, apa masih kerasa alpukatnya kak rey ahhahah

      Dan ya ampun aku bayanginnya linu blimbing wuluh dicocol garem hihi, tapi dulu ku sering juga sih makan dengan cara begitu, asem kecutnya nagih hahhahahah

      Tapi sama banget dong, sebenernya aku gemes ama kucing, anakku apalagi, tapi makin jadi emak-emak aku mah ribet duluan ama pup n pee nya...klaua di kampung mah tanah buat boker kucing ada tinggal gali sendiri, nah kalau di komplek mah ku ribet ahhahahhaha

      Hapus
  16. Wah Kakung masih awet muda banget, Mbak Nit. Tak kira masih 50an, ternyata sudah 60 yo? Moga selalu seger waras, supaya bisa main-main terus sama cucu-cucunya.πŸ˜†

    Bapaknya Mbak Nita ini persis sama ayahku. Sama-sama pecinta kucing. Dulu waktu aku masih SMA pernah pelihara kucing sampai 7 ekor. Tapi sekarang sudah dibuang semua. Disisain satu aja. Sekarang yang satu itu sudah hampir 7 tahun nemenin ayah.🀭

    Kucingku itu tampilannya mirip banget sama si Kuning, Mbak Nit. Namanya Wanita, tapi sebenarnya laki-laki. Dinamai wanita niatnya supaya dia ini menganggap dirinya wanita, jadi biar gak menghamili betina lain. Soalnya kucing-kucingku yang laki-laki tuh biasanya kalau udah menghamili betina dan punya anak, anak istrinya dibawa pulang ke rumah. Sungguh bertanggung jawab kalau dipikir-pikir, tapi merepotkan majikannya. Makanya diberi nama wanita walaupun sesungguhnya lelaki. Tapi ternyata akhirnya sama aja. Si wanita tetep suka sama betina dan beberapa kali bawa pulang anak istrinya ke rumah. Py Iki, Mbak Nit? Apa perlu ganti nama? πŸ˜‚

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiiin makasih mba roem sayaaang :*, sehat-sehat selalu untuk ayah mbak roem juga hihihi

      Kayaknya bapak kita sehati ya mba roem, apa karena sama-sama pns ya ahahahhaha #eh, iya sama-sama hobi ngurusin kucing hihi

      Wakakakka, kok kucing mba roem sungguh lawak sekali yach

      Kayaknya perlu dibuburin merah putih mba roem buat ganti nama wekekke, abis don juan juga kucing mba roem, sukanya bawa oleh-oleh keluarga biar dipiara juga ama ayahe mba roem...sungguh ter la lu itu si wanita yang sebenernya bukan wanita ahahhahahaha

      Tapi lumayan panjang umur juga ya itu kucing bisa nyampe 7 tahun, berarti sekarang kucingnya dah sepuh hihihi

      Hapus
  17. Uluh uluh kucingnya banyak banget mbk, apa karena seneng melihara kucing jadi bapaknya aweet muda ya... Soalnya nggak kelihatan udah 62 lho.
    Saya pernah baca artikel mbk, katanya kucing kalau mau meninggal memang bakalan pergi jauh, sengaja supaya nggak ketahuan majikannya.

    Seneng banget ya kalau rumah banyak sayuran sama buah-buahan gitu. Di depan rumah saya juga ada pohon alpukat. Tapi kadang sebel karena pas berbuah banyak banget uletnya dan saya salah satu manusia yang benci banget sama ulet. Yang paling parah, dulu uletnya sampai merambat ke kamar mandi. Dan akhirnya saya lebih memilih mandi di rumah pak lekπŸ˜‚

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bruakakakakkk iya mba astri, memang pohon alpukat ini identiknya banyak uletnya ya, klo uda musim waduh kena angin dikit terbang deh tuh ulet kemana-mana, biasanya klo pas musim kemarau n pohon meranggas, banyak angin kering nah tu ulet nemplok halaman hiiy atut...wakkaka

      Iya mba astri mungkin karena bapake enjoy aja jafinya tampak bugar, haha...
      Lumayan hobi bertanam atau berkebun sekalian buat hiburan mengisi masa pensiun hihihi

      Hapus
  18. Aku kesengsem sama suasana rumahe mbak..
    adem banget kayane...
    .
    terus nk ngarep omah ada tanaman tanamanya gitu terus melihara banyak hewan. wah suasananya dapet banget pokoknya... opo neh makan sego jagung + gudangan + teh anget.. wes tohhhh... Wkwk
    .
    Maleh dadi pengen pulang kampung ng Boyolali kih. Wkwkwk...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Matur suwun mas eksa :D
      Iya mas, rasanya asrep klo banyak tanduran, apalagi tandurane bisa dimakan ahahahha

      Eh dirimu ada rumah di boyolali toh, ayo mas kapan2 tulis juga, penasaran juga dengan boyolali, ku rasane og kalau dicritani kota-kota di jawa tengah pengenlu tuh sowan gitu ahhahahah

      Dan yes gudangan is my favourite food too ahahhahaha
      Plus gorengan
      Plus teh anget juga
      Mancaaab

      Hapus
    2. Iya mbak, saya asli Boyolali, ibuk Boyolali, bapak Jogja, sekarang tinggal di Kendal :D
      .
      Oke sip mbak kapan kapan kalau mood nulisnya lagi baik, soalnya akhir akhir ini kacau sekali moodnya, makanya jarang ngeblog. Wkwkw...

      Hapus
    3. Uh si upp mas eksa, ditunggu ntar kalau uda kambek semangatnya nulis boyolali :D

      Hapus
  19. ((ternak teri))

    Saya kira itu betulan memelihara ikan teri atau bisnis jual-beli gitulah. Rupanya sebuah istilah semacam Titi DJ. Haha.

    Kalau kucingnya sebanyak itu, jelas fokus anaknya Mbak bisa teralihkan. Jadi kangen kasih makan kucing juga nih. Selama pandemi rasanya saya jarang banget melihat kucing di sekitar rumah. Atau saya yang terlalu lama di rumah aja. Entahlah.

    Baru tahu avokad tuh ada jenisnya. Saya kira sama aja. Itu memang bagus sih isinya bersih-bersih. Jadi pengin ditaruh di es campur. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yoih yogaaa semacam singkatan guyonan gituh ahahha

      Iya yog, lumayan gw bisa mengalihkan perhatian anakku, kalau ga bisa melung-melung tau bapake tindakan bentar hihi

      Apa kucingnya pada ikut social distancing juga ya huhuhu, iya gegara kororo semua-mua jadi nampak berbeda yaaa
      Malah hewan juga ikutan ndekem juga kalau yang peliharaan, eh tapi tempat gw masih banyak sih yog yang sliwar-sliwer di halaman kalau kucing kampung mah

      Iya yog, ada jenis-jenisnya, dagingnya lebih padet, enak loh yog ditaruh di es campur, eh dimakan bareng kental manis atau susu bubuk juga enak loh ahahhaha

      Hapus
  20. Nit....kucingmu akeh tenan.... Btw...kok Sik gemati malah bapak Yo, pdhl yang sehari-hari sama hewan, ibu... πŸ˜€

    Rumahmu lapang banget...sejuk lagi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bapak luwih telaten nek perkara kucing mba lis, ibu kadang ga patio kober saking kucinge sakmblarah-mblarah ahahhahah

      Tapi nek sakit atau disteril ben ga manak terus bagiane ibu :D

      Hapus
  21. foto yang natural tanpa di buat-buat, tetapi seakan-akan kita merasakan berada di tempat tersebut, sungguh asri dan memang ngangenin pastinya tuh tempat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar sekali,
      Hawanya adem tentrem gemah ripah loh jinawi
      Asyik ada yang muji fotonya, itu kuambil pake kamera pocket canon aja hehe

      Hapus
  22. Naksir sekali dengan rumah orangtuanya Mba Nit yang asriii 😍 ada kolam ikannya pulak. Ehtapi itu aman yaa dari geng kucing? Yang mengurus semua kebun tanaman dan hewan di rumah itu berarti orangtua yaa Mba Nit?

    Duh aku malah salfok dengan hidangan di atas meja makan. Itu sop yang ada kecambahnya apa namanya Mba? Kayaknya dimakan bareng gorengannya endess. Abis itu cuci mulut dengan jus alpukat yg dipetik dari kebun. Waaah mantull 😝

    Rasanya gimana gitu yaa bisa pulang ke rumah orangtua dengan anak-anak sendiri. Mereka bisa merasakan main di tempat di mana kita tumbuh besar dulu hihi

    Salam sehat buat orangtuanya Mba Nit ya. Khususnya buat ayah yang bener-bener terlihat awet muda. Bener kata Mba Eno, gak disebut umur aku kira juga masih awal 50an πŸ˜†

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aw tararengkyuh mba jane

      Kalau yang baknya tinggi aman mba, tapi kalau yang kolam di bawahe pohon jeruk kan cetek tuh, nah itu suka diobok ama si kucing dong dong ibuku maramara ahahhahahhahaha

      Iya semunya yang ngurus bapak ibuku buat hobi mengisi hari tua, lumayan buat kegiatan santai-santai tapi bikin happy hihi..

      Yang ada kuahnya itu soto khas ibuku mba jane, kuahnya emang pekat karena ada kacang tumbuknya, dimakannya bareng topping soto pada umumnya sih like kubis, bihun, kecambah, suiran ayam beserta kulitnya, daun seledri, tomat, perkedel, dan gorengan. Sambelnya sambel cabe rawet rebus diuleg kasih gareng, begh...mantab hihihi

      Amiiin ya rob, doa yang sama buat mama papanya mba jane yah :*

      Hapus
  23. Di belakang rumah orangtuaku karena halamannya luas, sering ada kucing nongkrong di situ buat tidur siang wkwk. Tadinya nongkrong doang, sekarang jadi keenakan, jadi tinggal deh. Sama ibuku sering dikasih makan. Ada kali 5-6 ekor. Aku pikir itu udah banyak banget. Nah pas beberapa hari yang lalu aku jalan-jalan ke pantai, lewat samping rumah tetangga yang jarang aku lewati (karena lewat situ lebih dekat walau agak sempit jalannya), terus ngeliat kucing banyak banget. Kayaknya ada belasan ekor, jadi kaget sendiri haha. Soalnya gak pernah liat kucing-kucing itu berkeliaran.

    Btw, rumahnya bagus banget dan luas banget ya itu di foto. Itu kalau di tengah kota pasti harganya mahal sekali wkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Uching kalau udah nemu tempat pewe suka begitu Man, uda dikasih ati minta jantung wakkaka, tapi kalau kuchingnya ndud dan cakep ga pa pa deh dipiara ahhahahha

      Wah tempat tinggalmu deket pantai kah?

      Wakakak, iya kalau banyak banget serasa ada di penampungan kucing hihi

      Haha, makasih Man, bisa ajaaaa wkwk :D

      Hapus
  24. aku kayaknya bakalan nangis kalo banyak kucing seperti ini :D, lahh aku wedi kucing mbak
    aku baru denger nama daerah unik kayak Prembun

    rumah begini bikin betah nih, halaman luas, bersih, ada kolam ikan bisa kasih makan tiap hari, banyak tanaman ijo ijo di depan rumah, kayak bapakku suka nanem nanem begini
    kalo punya pohon alpukat sendiri enak ya, kalo lagi pengen bikin jus tinggal ambil aja
    apalagi buah ini masuk kategori musiman, kalau langka harganya mahall, apalagi pas aku lagi pengen jus apukat, susah dicari mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. wakakakak, wedi sik cilik po mbokne mba ai, aku nek sing cilik yo wedi, tapi kalau mbokne kucing aku ora wedi hahahah

      wah bapaknya mba ai ternyata hobi berkebun juga ya, sehat2 buat beliau ya mba ai..

      iya lumathung alias lumayan soale alpuket mentega di pasaran termasuknya mahal hihihi

      Hapus

Komenin dong...tanpa kehadiran kalian apalah arti aku menulis....
kalian penyemangat setiap bulir kalimat dalam blog ini :*
Namun jangan komentar SARU atau SARA ya, jika ada komentar dengan unsur tersebut, dengan berat hati akan aku HAPUS .

Oh ya, Dilarang juga mengambil gambar/foto atau menyadur tulisan tanpa mencantumkan sumber atau seijin pemiliknya. Apalagi untuk kepentingan komersial atau lomba. Thx ^____^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...