Sabtu, 27 Maret 2021

Cerpen : Kedai Bunga





Oleh : Gustyanita Pratiwi


ilustrasi digambar sendiri oleh si admin Gustyanita Pratiwi


Baca juga : Kebun Mini

Cerek yang kujerang telah menjerit. Tergopoh aku mematikannya agar tak sampai 1 menit mencapai kompor. Pagi-pagi betul aku sudah bangun. Aku tidak tahu apakah barusan tidurku ngorok atau tidak. Tapi kepalaku jelas nyut-nyutan. Aku kedinginan luar biasa seperti berada di antara tumpukan salju yang menyerupai gula halus pada permukaan kue tart ulang tahun. Tapi kemudian aku teringat, bahwa aku tidur hanya mengenakan kaos oblong tipis  kebesaran dan celana pendek sepaha. Jadi kemungkinan besar aku kedinginan karena itu. Aku lupa keberadaan sarung yang biasa kupake ada dimana. Aku tidur dalam keadaan meringkuk seperti udang, bertemankan guling yang biasa kudekap dengan erat sampai kemudian aku terpejam.

Minggu, 21 Maret 2021

Kebun Mini





Oleh : Gustyanita Pratiwi


Lagi-lagi nulisin ini. Ga tau kenapa ya aku suka sekali nulis rumah masa kecilku yang bagian ini. Sebenarnya aku lagi blank nulis kata-katanya. Tapi aku terlanjur suka ama foto-fotonya. Soalnya aku udah nyimpan banyak. Dan aku pengen upload di blog. Sebab kalau ga di blog dimana lagi? Aku ga mainan sosmed lain selain blog :'(. Aku uda ga mainan fb, aku uda ga mainan ig, aku juga ga mudeng dolanan tuiter. Dan males juga mainan twitter. Entah kenapa aku lagi males mainan itu semua, wkwkwk. Udah dari 2019 sih. Jadi satu-satunya tempat yang masih bisa kupakai buat happy-happy adalah blog. Termasuk wadah buat nampung foto-fotoku yang ala kadar ini.


Jumat, 19 Maret 2021

Review Lombok Sawah Resto, Magelang





Oleh : Gustyanita Pratiwi

Hola hola hola....

Apa kabar hadirin dan hadirot sekalian, teman-teman blogger kesayangan Mbul yang sering komen atau mampir di mari? Hopefully you guys selalu dalam keadaan sehat ya. Always happy dan tidak pernah bosan meramaikan blog aku yang buduk ini. Sebab tanpa kalian apalah arti aku menulis....#weleh ngrayu :D.  

Kembali Beby Mbul is in da house yooooo.... karena aku mau review resto lagi!!!! 

Kali ini nemu tempat makan oke di Magelang,  lebih tepatnya arah-arah Secang-Pucang yang mana jalannya lebih kecil dibandingkan dengan jalan utama yang mau ke arah Purworejo kalau dari arah Magelang. Areanya memang agak sepi karena sebelumnya kanan kirinya itu sawah, sementara tempatnya sendiri udah mau masuk ke area perumahan. Nama restonya  adalah Lombok Sawah. Resto yang setelah kukepoin di internet ternyata lumayan nge-hits juga. Meskipun pada saat ke sana, pengunjung relatif sepi ya. Hanya ada beberapa pengunjung keluarga, termasuk Mbul.

Berarti comfy juga nih tempat. Protokol kesehatan pun dijalankan dengan ketat oleh resto ini. Jadi lumayan tenang lah jika ingin mencoba makan di tempat. Yeay!!! Aku memang lebih suka makan di tempat sepi sih. Lebih kyusuk, lebih tenang juga bisa foto-fotoin menunya...#ga tengsin dilihatin orang, wkwkwk.



Bebek goreng kremes plus lalap dan sambal korek Lombok Sawah Resto, Magelang

Kamis, 18 Maret 2021

Tirai Kasih yang Terkoyak




Oleh : Gustyanita Pratiwi

Demi cintaku kepada dirimu
Semua kuserahkan untukmu
Demi sayangku pada dirimu
Kurela berkorban untukmu
Walau sekian lama aku harus menunggu
Aku tetap menunggu dirimu
Demi rasa sayang rasa cintaku
Yang tulus dari dalam hatiku

Mimpi pun aku tak ingin jauh darimu
Apalagi kalau sampai berpisah
Selama-lamanya kuingin dekat denganmu
Aku ingin miliki dirimu


Suara lembut nan mendayu-dayu milik Desi Ratnasari yang membawakan lagu "Sampai Hati" mengudara bersamaan dengan opening song sebuah sinetron lawas era 1997, Tirai Kasih yang Terkoyak. Sinetron produksi Star Vision yang diputar RCTI usai Isya ini biasanya menemani hari-hariku semasa kecil dulu. Ga nonton sendirian sih sebenarnya, tapi lebih ke nemenin ibuku yang njinggleng nonton deretan sinetron lawas, dan salah satunya adalah sinetron dengan bintang utama Bella Esperance


Sinetron Jadul RCTI, Tirai Kasih yang Terkoyak, adegan Kemala yang gila dengan anaknya Satria kecil yang tetap menaruh hormat padanya

Rabu, 17 Maret 2021

Cerbung Majalah Bobo Jadoel 90-an : Si Kembar dan Mahluk Mineractus




Oleh : Gustyanita Pratiwi

Kali ini aku akan bernostalgia dengan Cerbung Majalah Bobo yang berjudul "Si Kembar dan Mahluk Mineractus". Sebuah cerbung di Majalah Bobo jadul yang identik dengan tokoh kembar perempuan~laki-laki bernama Regina dan Rexi, juga mahluk mineractus bernama Safir dan Rubi. Sedangkan musuhnya bernama Tuta Hoga dan Polydore. Ditulis dengan apik oleh Vanda Parengkuan dengan ilustrasi Yoyok yang begitu melekat di hati. 

Soalnya gambarnya itu beneran membangkitkan imajinasiku banget tentang si mahluk mineractusnya ini, juga kehidupan di alam bawah tanahnya seperti apa. Gambarnya simple tapi ngena banget. Makanya salah satu cerbung Majalah Bobo yang aku hapal walaupun lupa endingnya ya cerbung ini.


Cerbung Majalah Bobo Jadoel 90-an : Si Kembar dan Mahluk Mineractus 

Selasa, 16 Maret 2021

Tumis Waluh Jipang, Tempe Goreng, dan Kacang Merah Manis ala Beby Mbul






Oleh : Gustyanita Pratiwi

Haloooooooow! 

Assalamualaikum teman-teman blogger kesayanganku....

Langsung dari dapur Chef Beby Mbul yang bohai dan sexy, kali ini aku akan bikin masakan yang super simple, seadanya yang ada di kulkas apa.  Soalnya lagi membiasakan diri untuk makan sederhana. Sek...sek....sek...tadi kok? Bilang diri sendiri bohai dan sexy

#ojo nglawak Mbul
#tapi itu pancen kenyataan kok....
#oooops....deng ga deng ga, takut pembaca langsung close tab

Baiiiiiigh....



Tumis waluh dipadu padan dengan tempe goreng

Senin, 15 Maret 2021

Nasi Bebek Hitam Khas Madura ala Mbul





Oleh : Gustyanita Pratiwi


Tok Tok Tok!!!!!

Kulonuwun..........

Assalamualaikum........

Hallo lagi teman-teman blogger kesayangan aku....

Apa kabarnya? Masih teteup napas kaaand?

Saia juga.

Alhamdulilah kabarku baik-baik saja~walaupun ga ada yang nanyain siiii, apalagi ngangenin :XD.

#ngangenin updateanku maksudnya...
#bukan....bukan orangnya, kalau orangnya mah ga ada kalik... hihihi...
#alaaaaah umuk tenan aku iki.....padahal kan kemaren lagi bad emuuut 
#bad mood keleus Mbul, hahay....

Tapi sekarang sudah tidak lagi, Pemirsa! Sebab, kulit manggis kini ada ekstraksnya...hwahahahahha #tampol juga nih mulai nglawak lagi Si Mbulnya.



Nasi Bebek khas Madura Bumbu Hitam asli buatan Mbul Gustyanita Pratiwi

Minggu, 14 Maret 2021

Oseng-Oseng Mercon Jantung Bebek ala si Mbul





Oleh : Gustyanita Pratiwi

Olraiiiiiit!!! 

Masakan kali ini dipersembahkan oleh jantung bebek yang dah terlanjur dibeli oleh Tamas dari Prima Food sebanyak 1 kg. Banyak nian? Mau dibikin apa? Katanya sih biar Ubungwatie masak oseng-oseng mercon jantung bebek (((KATANYA))), hwahahawa...

#ntap kali dah uda macam chef aja saiaaaa...
#tapi ini tantangan. 

Biasanya memang kalau masak oseng-oseng Mbul itu jagonya. Sok deh sebutin aja oseng apa yang Mbul ga bisa. Oseng kangkung hayuk, oseng kulit melinjo okey, oseng kacang panjang kecil, oseng pare pahit ganciil, oseng mercon? Nah ini yang patut dicoba!!!!. Dicobanya pake bahan jantung bebek yang kubuat oseng mercon dengan ciri khas cabe hijau agak banyakan ya. 



Oseng mercon jantung bebek ala chef Mbul Gustyanita Pratiyem

Rabu, 10 Maret 2021

Cerpen : Cempedak




Oleh : Gustyanita Pratiwi

Sifat : fiktif belaka



Sudah hampir satu minggu cempedak yang bergelayut ranum itu membaui penciumanku. Lebih tepatnya setiap kali aku melewati 7 buah rumah petak dekat kali. Rumah yang ketujuh-tujuhnya berdinding tripleks sebagai pondasi utama~yang kedua ujungnya terdapat sebuah persimpangan. Maka aku akan ke sana, pada salah satu ujungnya--paling kiri, melangkah barang 10-15 meteran hingga sampailah aku pada sebuah pekarangan yang tidak terlalu besar. Hanya sepersepuluh dari ladang Bapakku yang ada di kampung. Pun di situ bisa kujumpai 5 pohon besar nan tinggi menjulang. Beberapa diantaranya ada yang seperti sarang demit. Singup, besar, wingit. Dengan beberapa juntai dahan yang menggamit pada kanan kiri batang, serta dedaunan yang membentuk kanopi, lebar. Satu-dua menggantung cempedak yang cukup sedang sebesar pepaya. Ada pula yang masih cikal bakal. Juga pohon yang masih lencir. Mungkin baru 3 tahunan ditanam pemiliknya. Atau malah tumbuh sendiri. Liar. Tapi, pohon-pohon itu tumbuh begitu subur. Jikalau liar, rasanya tak akan mungkin seperti itu. Cepat mendatangkan buah merupakan salah satu ciri dari sistim vegetatif.

Selasa, 09 Maret 2021

Gethuk Trio khas Magelang




Oleh : Gustyanita Pratiwi


Dorrrrr!!!!

Kali ini Mbul mau buka-bukaan.

Bukan buka-bukaan aju apalagi nana ya..... 

Tapiiiiiih, cuma mau buka bungkusan snack yang kemaren dibeli waktu ngendon di toko oleh-oleh Magelang. 

(((NGENDON)))

Jadi istilah kata kalau anak jaman sekarang bilangnya unboxing.

Baca juga : Pergi Memancing
Baca juga : Kucing Siluman



Gethuk Trio khas Magelang

Senin, 08 Maret 2021

Review Ayam Atung






Oleh : Gustyanita Pratiwi


Udah Maret. 

Uda Senin.

Uda tanggal 8.

Belom review ayam atungnya Mba Fanny dong. Pukpuk Beby Mbul yang molai kuwalahan ngepost yang mana dulu, sebab serep draftnya banyak dan lagi kuatur timing publishnya itu bagemana #syumbung, hihi.

Baik, dikarenakan ini sudah teramat lama dari pas ayamnya dateng bersamaan dengan gojek di suatu sore yang sedang mendung, maka kali ini aku akan mereviewnya dengan modelan review ala-ala Beby Mbul yang manis, tantik, dan juga tembem penuh dengan majas-majas hiperbol. 

Deng ga....

Ini review jujur kok tenang saja. 


Review Ayam Atung (Ayam Tungku) ala Beby Mbul

Minggu, 07 Maret 2021

Cerbung : The Goddess (Sang Dewi) Part 2








Ilustrasi digambar langsung oleh non admin Gustyanita Pratiwi




Cerbung : The Goddess (Sang Dewi) Part 2

Oleh : Gustyanita Pratiwi
Sifat : fiktif belaka



"Young. Nama saya Young. Saya seorang fotografer."

Aku bercakap sendiri di antara kaca-kaca etalase beberapa buah toko pecinan. Seorang wanita kantoran mengarahkan pandangannya kepadaku. Dia pikir, aku mungkin sudah gila. Kulihat sekilas tatapannya sungguh mendramatisir. Aku palingkan lagi mukaku ke arah kaca. Ah, mungkin aku sudah keren. Kurapikan bajuku sebentar dan aku yakin sebentar lagi cewek-cewek bakal pingsan saat berpapasan dengan orang tampan sepertiku.

Jumat, 05 Maret 2021

Dawet Hitam Bu Sumarni, Butuh




Oleh : Gustyanita Pratiwi

Waktu kecil, Mbul punya satu kedai dawet favorit yang beda dengan dawet hitam Jembatan Butuh yang terkenal itu. Kalau yang itu kan punya konco sekolahnya Bapake (Mbak Hartati) ya, yang mana pada saat Mbul terakhir ke sana kedainya sinambi jualan durian juga....(dan Mbul beli duriannya dong, walaupun cuma satu glundung, hihi). Terus yang itu juga lokasinya di timur Jembatan Butuh, abis pertigaan Klepu yang terkenal ada sate tupainya.


Nah kalau yang ini beda lagi. Yang ini rekomendasinya Bapak pas aku masi Es ed dulu sih (baca : SD). Kebetulan Bapak memang tipikal orang tua yang suka membelikan anak-anaknya jajan setelah pulang ngajar dari STM. Biasanya Bapak lebih royal sih urusan beliin anaknya jajan ketimbang Ibuk #sungkem ya Mamiiiiine hahahha.... 


Tape ketannya pingin Mbul icip 🙄😳

Selasa, 02 Maret 2021

Dua Orang Kunyuk




Oleh : Gustyanita Pratiwi

Cerita masa kecil lagi boleh ya? 

Kali ini aku mau mengingat-ingat tentang memori jaman TPA dulu kurang lebihnya saat aku masih usia SD. Ya pantaran kelas 3-4-an lah. 

TPA yang kumaksud di sini adalah kegiatan di luar ngaji yang di mushola setelah sholat magrib. Karena waktunya sekitar jam 2 siang. Dan aku dari rumah harus berangkat pukul 13.00 WIB supaya tidak telat dan dihukum Bu Guru. FYI, Bu Gurunya ini memang galak-galak, jadi aku suka nge-doa-doa dulu biar ga dapat Bu Guru yang galak ketika sudah gilirannya aku mengaji.






Tempat ngajinya sendiri lumayan jauh. Aku harus melewati serangkaian rute yang agak panjang karena beda RW dengan rumahku.

Beberapa kali, aku masuk halaman rumah warga sampe kalimat 'nderek langkung' atau 'nyuwun sewu' kuucapkan berulang kali. Habis itu masuk ke gang-gang sempit, thimik-thimik meniti jembatan dari pohon kelapa sementara di bawahnya mengalir kali yang beraliran cukup deras. Lucunya adalah di kali tersebut sering kudapati 'telur-telur goblog' yang mengapung terbawa arus, entah telur yang menetas dari unggas apa, aku tak tahu. Apakah dari bebek, angsa atau entog yang dibiarkan berkeliaran bebas di jalanan yang masih berupa tanah, aku masih blank. Tapi biasanya jadi iseng pengen nunjukin pake kayu bakar.