Sabtu, 27 November 2021

Cerpen dan Dongeng Majalah Bobo 90-an yang Selalu Punya Tempat di Hatiku (Part 3)





Oleh : Gustyanita Pratiwi

Hallo Assalamualaikum semua..

Kali ini Mbul akan lanjutkan lagi tulisan tentang Cerpen dan Dongeng Majalah Bobo 90-an yang Selalu Punya Tempat di Hatiku (Part 3). Kebetulan baru-baru ini lagi hoki nemu bundelan murah yang notabene sellernya jauh (Mojokerto Jatim red) tapi dapat cashback dan bebas ongkir dari promonya WIB Tokopedia (Waktu Indonesia Belanja). Udah gitu sampainya cepet banget lagi...hwa...syenang. Jadi selain belanja skincare and lipgloss aku juga mau cari hiburan dikit as reward buat kerja keras selama ini dalam hal apapun jadi boleh jajan dikit bundel majalah Bobo lah ya selain skincare and lipgloss hehehe..


Jadi, karena udah dateng bundelan Majalah Bobonya beberapa biji, maka langsung aja ga pake lama kubuka-buka lagi isinya. Rasanya deg-deg serrr mau nginget-nginget lagi cerpen dan dongeng di masa lalu (masa kecilku red) kira-kira nemu ga ya, soalnya beberapa cerpen dan dongengnya lupa di Bobo nomor berapa. Jadi begitu nemu langsung hati ini rasanya maknyes ga keruan, terharu gimana gitu wkwkwk....#lebey deh si Mbul. Maklum waktu Paud kan ibu sering dines luar kota. Nah, salah satu sogokannya biar mbul di cup-cup in diem egak nangis ya dibeliin Majalah Bobo lah, Donal Bebek lah, buku ilustrasi hewan lah...dll. Sampai mungkin karena udah jadi memori inti kayak yang ada dalam Film Inside Out makanya beberapa cerpen dan dongengnya Majalah Bobo ini kayak nempel terus dalam ingatan. Bahkan seilustrasi-ilustrasinya juga yang apik itu aku masih samar-samar inget. Jadi ketika aku lihat lagi di tahun sekarang rasanya kok kayak akunya menghangat....hatiku maksudnya yang menghangat uhwuwuww...huhu..

So, apa aja cerpen dan dongeng yang mau aku ulas...ini dia kutulis sedikit sinopsisnya ya. Siapa tahu ada yang mau nostalgia juga hehehe..

Di rumah Jago, Kak Diani M, Majalah Bobo No. 42 Tahun XXVI  


Bercerita tentang rencana seorang anak laki-laki yang dalam cerpen ini menggunakan kata ganti orang pertama aku dan keluarganya yang berencana menghabiskan akhir pekan di "Rumah Jago" mereka. Memang "Rumah Jago" ini kedengaran cukup unik ya sebab ayah sengaja membangun sebuah patung jago besar di depan rumah tersebut sehingga identik dengan sebutan Rumah Jago. 

Setelah melalui serangkaian perjalanan yang panjang, kira-kira sekitar pukul 5 sore mereka tiba di Rumah Jago. Sialnya, kala itu ibu lupa belanja makanan. Akhirnya sepakat ayah, ibu dan kakak yang belanja ke supermarket sementara si Aku kebagian tugas jaga rumah. Sebab jika dalam keadaan keroncongan rasanya untuk melangkah  saja malas betul dirinya. Tapi sendirian di rumah sebesar ini juga cukup menyeramkan. Maka cepat-cepat ia hidupkan semua lampu ketika petang menjelang. Kebetulan kamarnya menghadap ke teras depan. Dibukanya gorden sehingga ia dapat melihat teras depan, gerbang, dan juga rumah tetangga. Kamar depannya pun dapat terlihat jelas dari sini. Iseng-iseng dirogohnya sebatang cokelat guna meredam rasa laparnya. Namun saat akan menggigit cokelatnya itu, tiba-tiba terdengar bunyi berkelontang di rumah tetangga depan. Karena saking kagetnya, cokelatnya pun jatuh. Tampak 2 orang laki-laki di depan sana sedang gelut. Yang satu menonjok lawannya hingga terkulai lemas. Apakah ia meninggal? Gawatnya laki-laki yang memukul itu tiba-tiba menoleh ke arah jendela kamar si aku. Segera ia pun menutup gorden tersebut dengan tangan gemetar. Terlebih setelah bel pintu rumah tiba-tiba berbunyi beberapa kali dan saat diintip ternyata adalah laki-laki itu. Mana ayah, ibu, dan kakaknya belum pulang-pulang lagi. Kira-kira bagaimana ya nasib di aku dan apa yang tejadi dengan laki-laki yang ada di rumah depan itu ya?

TOM, Ine Wulansari, Majalah Bobo No. 23 tahun XXVI


Bercerita tentang seorang anak laki-laki bernama Tom yang sangat mengagumi Pak Flint, seorang nelayan hebat yang tinggal tak jauh dari rumahnya dimana ia tinggal bersama Paman Abel. Pak Flint ini orangnya royal. Semasa muda, ia gemar berlayar menjelajah samudra. Berkali-kali kapalnya dihadang bajak laut tapi ia berhasil mengalahkannya. Ia tidak mempunyai anak. Tapi ia sangat mencintai anak-anak. Saat perayaan Natal, ia selalu memakai kostum Santa Claus lalu berkeliling kampung membagikan hadiah untuk anak-anak kecil yang baik. Ya, intinya hampir semua anak mengenal Pak Flint.

Suatu kali, Tom berlari-lari kecil melewati kebun anggur yang ada di belakang rumahnya. Wajahnya amat senang. Ia berseru dan memanggil Paman Abel bahwa ia barusaja mendapat hadiah kapal kayu cantik dari Pak Flint. Paman Abel pun menyuruhnya makan, tapi kata Tom ia sudah makan di rumah Pak Flint. Lalu Paman Abel meminta Tom untuk membantunya mengangkat kayu. Perahu cantik itu ia letakkan di atas kotak musik yang ada di situ. 

Sebenarnya sebentar lagi akan ada pesta laut di desa Tom. Di sana akan ada lomba memasak ikan. Nah, saat waktu itu tiba ternyata Pak Flint dan Paman Abel ikut lomba. Semua pesertanya laki-laki. Harum semerbak aroma bumbu ikan pun menguar. Setelah penjurian, ternyata juaranya adalah Pak Flint. Tom pun bersorak riang. Ia disuruh Pak Flint untuk ikut mencicipi hasil masakannya setelah menaruh sepotong ikan di piring Tom. Tapi kemudian tahu-tahu anak itu teringat pada Paman Abel yang tiba-tiba menghilang dari kerumunan. Rupanya Paman Abel sedang menyendiri karena ia sedih semua orang mengelu-elukan Pak Flint yang hebat. Sementara ia merasa bukanlah siapa-siapa. Ya, mungkin bisa dibilang ngambek atau cemburu kali yaaaa hahahah...Tapi habis itu Tom pun mendekati Pamannya dan berkata yang membesarkan hati pamannya. Bahwa bagi Tom Paman Abel adalah orang yang sangat berarti dalam hidupnya. Paman Abel pun terharu lalu berkata bahwa ia sayang sekali pada Tom begitu pula keponakannya itu. Lalu keduanya menyantap gulai ikan bersama yang ternyata rasanya asin sekali. Saat itulah Tom bergurau bahwa itu kan masakan Paman Abel. Tadi ia menukarkan ikan masakan Pak Flint dengan ikan masakan Paman Abel. Keduanya pun akhirnya tertawa bersama.

Crukcuk Kuning, Dari Dongeng Rakyat Bali diceritakan kembali oleh Lena D


Bercerita tentang sepasang suami istri yang mempunyai dua orang anak perempuan bernama Ni Bawang dan Ni Kesuna. Sebagai anak bungsu, Ni Kesuna ini manja, malas, dan egois. Sedangkan kakaknya Ni Bawang selalu mengalah untuknya. 

Suatu pagi, sebelum berangkat ke pasar, ibu mereka berpesan agar kedua putrinya itu menurunkan padi dari lumbung dan menumbuknya menjadi beras. Mereka harus mengerjakannya bersama-sama agar cepat selesai. Tapi sepeninggal ibunya ke pasar, Ni Kesuna dengan malas menyuruh kakaknya bekerja sendiri. Mulai dari menurunkan padi di lumbung, memotong tangkainya, menjemur, menumbuk serta menampinya, semua Ni Bawang yang mengerjakan hingga akhirnya padi tersebut menjadi beras. Setelah itu ia mencuci pakaian sambil mengambil air di sungai. Nah setelah itu Ni Kesuna cepat-cepat melumuri tubuhnya dengan dedak. Jadi ketika ibunya pulang, yang disangka mengerjakan semuanya adalah Ni Kesuna. Malah ia bilang kakaknya itu sedang mandi di sungai seperti Mbul. Sang ibu yang tidak tahu duduk perkaranya pun langsung termakan hasutan putri bungsunya itu. Jadi ketika Ni Bawang pulang, ia dihukum oleh ibunya bahkan diusirnya dari rumah. Oh sungguh malang nasib Ni Bawang yang kena fitnah! Dengan sedih Ni Bawang pun meninggalkan rumah. Dalam perjalanannya yang tanpa tujuan, ia melihat seekor burung crukcuk kuning di atas pohon. Ia pun menangis dan mengadu pada burung itu. Ia meminta burung itu untuk mematuk kepalanya sampai mati. Tapi setelah tol...tol...tol..ditotok itu kepalanya, yang ada adalah sebuah mahkota indah yang terpasang di sana. Ia juga meminta burung itu mematuk telinganya yang setelah itu terpasang giwang di telinga kanan maupun telinga kirinya. Lalu tangannya pun terpasang gelang, jari-jarinya cincin, dan lehernya kalung. Burung itu juga memberi Ni Bawang pakaian yang indah. Setelah itu ia terbang menghilang. 

Ketika malam tiba, Ni Bawang pulang ke rumahnya. Namun keluarganya tidak membukakan pintu. Ia pun pergi ke rumah neneknya yang kemudian menyambut kedatangan cucunya itu. Esoknya Ni Kesuna dolan ke rumah neneknya. Ia pun terkejut melihat apa yang dikenakan Ni Bawang. Dengan ketulusan dan kelembutan hatinya yang seperti Mbul Ni Bawang pun menjelaskan semuanya kepada Ni Kesuna bahwa ia mendapat ini semua dari burung Crukcuk Kuning yang ada di hutan. Ia menjelaskannya tanpa dendam sedikitpun. Akhirnya iri dong Ni Kesuna. Nah sesampai rumah ia ingin ibunya itu menghukumnya. Tapi saat berlari ke hutan dan bertemu dengan Crukcuk kuning itu kira-kira ia dikasih perhiasan seperti yang diberikan kepada Ni Bawang atau tidak ya?

Suara Hantu di Tengah Malam, Kemala P, Majalah Bobo No. 49 XIX


Suatu hari Andre dan teman-teman meminta ijin orang tuanya berkemah di Gunung Salak. Namun ayahnya menyarankan agar ia mengajak adiknya Doni yang penakut. Andre sebetulnya malas mengajak Doni. Sebab bisa-bisa ia membuat acara kemah tidak asyik. Bagaimana nanti kalau malam-malam minta diantar pipis atau ditemani tidur. Tapi karena ayahnya terus mendesak maka mau tidak mau Andre membawa Doni turun serta. 

Perjalanan di tempat perkemahan cukup menyenangkan. Mereka ke sana dengan menggunakan bus yang kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki. Malamnya, Andre dkk tidur dalam satu tenda yang besar. Doni cepat sekali tertidur karena merasa capek setelah berjalan cukup jauh siang tadi. Tengah malam, tiba-tiba ia terbangun karena sayup-sayup mendengar suara seperti orang berteriak tidak jauh dari tenda. Kata Andre paling suara burung hantu. Tapi kemudian suaranya berganti menjadi seperti rintihan dan berpindah-pindah, menyayat di udara diantara dahan-dahan pohon. Kira-kira itu suara apa ya?

Mawar buat Nenek, Majalah Bobo No. 49 XIX


Pagi itu bunga-bunga mawar di rumah Tedi Beruang sedang bermekaran. Warnanya cantik sekali terlebih masih baru dan ada tetesan embun di sela-selanya. Tedi Beruang ingin sekali memetik beberapa kuntum untuk ia berikan kepada neneknya yang selalu menghias ruang tamunya dengan bunga mawar. Sayangnya, saat memetik sekuntum, tangan Tedi Beruang tertusuk duri hingga berdarah. Ibu pun datang tergopoh-gopoh untuk menolongnya. Beliau juga mengajari Tedi Beruang bagaimana cara memetik bunga mawar agar tidak tertusuk durinya yaitu dengan menggunakan gunting. Setelahnya bunga mawar itu ibu hias dengan kertas yang dibalut dengan kain yang diperciki air supaya bunga tersebut tetap segar. Nah, setelah jadi tinggal diberikan kepada Nenek . Wah Tedi Beruang adalah cucu yang manis ya kepada neneknya.

Pelukis yang Malang, Mudjibah Utami, Majalah Bobo No. 17 tahun XX

Petrisor adalah nama seorang pelukis miskin. Ia tinggal di sebuah gubug reyot bersama kucingnya yang kurus. Meski miskin, ia adalah orang yang baik hati dan suka menolong. Bahkan seringkali tetangganya minta dibuatkan lukisan dan ia tidak meminta bayaran sepeserpun.

Suatu malam, di hujan yang teramat berpetir ia melihat seorang nenek tua yang menggigil kedinginan di luar jendela. Ia pun bergegas menuntun nenek itu untuk masuk ke dalam gubugnya. Ia berikan syal dan jaketnya pada nenek itu agar tidak kedinginan. Setelahnya ia jerang air untuk membuatkan kopi. Ia berikan pula sepotong roti yang tinggal satu-satunya untuk menjamu tamunya itu. 

Keesokan harinya, Petrisor bangun dari tidurnya. Betapa terkejutnya ia karena nenek itu sudah tidak ada di tempat. Sebagai gantinya beliau meninggalkan kuas dan tulisan di kanvasnya dan berkata bahwa kuas ini adalah kuas ajaib. Gunakanlah bila hanya dalam keadaan terpaksa. Jangan serakah!

Dengan ragu-ragu, Petrisor mengambil kuas tersebut lalu melukis sepotong roti karena kelaparan. Ajaib! Roti tersebut menjadi roti sungguhan. Iapun melahapnya dengan gembira. 

Saat jalan-jalan di kota dan lewat pasar, ia tidak menjumpai orang-orang yang biasa berkerumun di sana. Rupanya warga sedang menyambut raja dan permaisuri yang sedang melakukan peninjauan daerah. Melihat itu semua, iapun terbersit keinginan untuk menjadi raja, memiliki istana juga permaisuri yang cantik. Dari situlah ia melukis semuanya walau pada akhirnya lukisannya tidak berubah atau tidak menjadi apa-apa. Malah setelahnya terdengar suara nenek yang bergema, katanya dirinya telah melanggar pesan nenek tersebut karena menggunakan kuasnya bukan dalam keadaan terpaksa. Jadi kekuatan kuasnya akhirnya lenyap. 

Biskuit Ajaib, dari : The Magic Biscuits/ A Book of Naughty Children, Enid Blyton/Tia, Majalah Bobo No. 32 tahun XXV



Suatu hari ketika sedang jalan-jalan di tengah hutan, Chathy dan John melihat sebuah kantong kertas tergeletak di dekat sebuah pohon. Keduanya lantas mendekati kantong kertas tersebut dan melihat isi di dalamnya yang ternyata adalah biskuit berbentuk huruf. John mengusulkan agar mereka membawanya karena siapa tahu di tengah jalan mereka menemukan pemiliknya. Sedangkan Cathy berkali-kali mengintipnya karena kelihatannya biskuit itu sangat lezat. Ia kemudian berkata pada saudaranya bahwa ia lapar dan ingin memakan 1 saja dari biskuit itu. Tapi John melarangnya karena memang itu bukan milik mereka. Cathy pun masih bersikeras karena toh tidak akan ketahuan kalau hanya mengambil 1-2 biskuit. Meskipun berulang kali John melarangnya tapi Cathy tetap ngeyel dan ia malah mengambil sebuah biskuit yang berbentuk huruf C. Saat biskuit tersebut ia masukkan ke dalam mulut dan ia kunyah ternyata rasanya sangat enak. Cathy pun menjadi ketagihan. Dia kembali memasukkan biskuit kedua dan biskuit ketiga yang berbentuk huruf A dan T. Sementara John berjalan terus dengan hati kesal. Saat itulah tiba-tiba terdengar bunyi Meong yang membuat John heran. Tak lama kemudian ia melihat seekor kucing besar dengan bulu keemasan berlari. Saat John ingin menunjukkan kucing itu pada Cathy, tidak didapatinya saudarinya itu dimanapun. Lagipula kantong biskuit tadi juga tergeletak di atas tanah. Dan kucing itu terus mengeong-ngeong menggosok-gosokkan badannya di kaki John. John pun berjongkok supaya bisa mengelusnya. Ia memandang mata kucing itu yang ternyata sebiru mata Cathy. Lalu setelah ia perhatikan lagi bulu keemasannya itu mirip dengan rambut Cathy. John pun tersentak kaget. Ia berpikir bahwa Cathy telah berubah menjadi kucing setelah memakan biskuit ajaib itu. Karena yang baru dimakan baru 3 huruf yaitu Cat, maka sihirnya pun bekerja dan mengubah Cathy menjadi kucing besar yang berwarna kuning keemasan. John sangat menyesal kenapa ia membiarkan Cathy memakannya. Seandainya saja ia tahu siapa pemiliknya mungkin ia bisa minta tolong padanya untuk mengembalikan Cathy seperti semula. 

John kemudian berjalan diantara pepohonan sampai menemukan sebuah rumah. Sambil menggendong kucingnya, John berjalan di setapakan dan bergegas mengetuk pintu rumah itu. Kemudian terdengar suara dari kurcaci tua yang sedang mengaduk sesuatu dari dalam panci besarnya. John pun bertanya apa kurcaci itu tahu siapa pemilik biskuit ini? Si Kurcaci pun menjawab tidak tahu dan malah tertarik dengan kucing John. Ia bilang ia akan membeli kucingnya dengan sepotong emas. Namun walau John menolak permintaan itu si kurcaci tua tetap memaksa dan malah menyambar kucing John sambil mengusirnya. Dengan cara yang menakutkan ia mendorong John keluar dari rumah kecil itu lalu membanting pintu. Kucing keemasan itupun dikurung di dalam rumah. Ia terus mengeong mencari jalan keluar. Sayangnya pintu langsung dikunci begitu pula dengan jendela dan yang lain. Wah apa yang terjadi selanjutnya dengan Pussycat Beby Mbul eh maksudnya kucing keemasan jelmaan Cathy itu ya? Dapatkan saudaranya John menyelamatkannya dari kurcaci itu?

Pengorbanan Asni, Dari Asni and Kokila/P.C. Roy Chaudury/Kwong, Majalah Bobo No. 20 tahun XXIV



Akibat bertengkar sesuatu hal yang sepele, 2 bidadari diturunkan dari langit   menuju ke bumi dalam wujud manusia. Keduanya sama-sama lahir di Thailand. Seorang menjadi anak perempuan nelayan kaya yang diberi nama Kokila (burung bersuara emas) meski wajahnya tidak begitu cantik.

Anak lain lahir dari keluarga miskin yang hanya memiliki sepetak kebun nanas. Anak itu diberi nama Asni dimana ia lahir saat Sungai Klong meluap. Keduanya jelas besar dalam keluarga yang berbeda. Kokila hidup mewah sedang Asni sedari kecil harus membantu kedua orang tuanya membanting tulang untuk mencukupi kebutuhan keluarga. 

Suatu kali terjadi musim kemarau panjang. Para petani dan peladang cemas bakal terjadi bencana kelaparan. Untuk itulah mereka mengadakan upacara meminta hujan. Dalam pesta itu, nampak seorang perjaka tampan bernama Manop. Ia bertatapan dengan Asni dan mulai jatuh cinta dengannya. Ia ingin menemui orang tua Asni untuk melamarnya. Orang tua Asni pun setuju. Namun diam-diam Kokila menaruh hati juga pada Manop. Ketika pemuda kekar itu sedang melempar tali untuk menambatkan perahunya, Kokila sengaja lewat di depannya hingga tali tersebut membelit pergelangan kaki Kokila. Manop pun meminta maaf padanya dan mengurut kakinya. Saat itulah Kokila bersenandung hingga berhasil menarik perhatian Manop. Tapi ternyata itu adalah campur tangan Dewi Uma.

Suatu hari saat sedang bekerja di kebun, Asni menemukan sebuah nanas emas. Menurut undang-undang pada masa itu jika ada penemuan barang aneh, maka barang tersebut harus diserahkan pada raja karena benda-benda seperti itu dianggap milik raja. Asnipun menyerahkannya pada raja hingga raja terpesona pada wajah Asni. Ia ingin memperistri Asni sebagai permaisurinya tapi cinta Asni hanya untuk Manop. Walaupun Manop sempat bersikap sangat ramah pada Kokila hingga menyebabkan Asni cemburu dan berpikir Manop meninggalkannya dan ia pun sempat berniat bunuh diri, tapi setelah tahu yang dicintai Manop adalah dirinya iapun ingin segera ke rumah Manop karena setelah penolakannya pada raja segala sesuatu yang dimilikinya dihilangkan. Ladangnya dirusak, ayahnya dibunuh dan rumahnya pun dihancurkan. Lalu di tengah perjalanannya ke rumah Manop, ia bertemu dengan beberapa ekor anak anjing yang induknya mati tertabrak kereta kerbau. Asni yang berhati lembut segera melindungi anak-anak anjing itu dan setelahnya semacam ada sesuatu yang damai dalam hatinya. Dan ternyata dalam perenungannya semasa menjadi manusia ia sudah banyak sekali mengalami penderitaan, untuk itulah ia akhirnya dijadikan bidadari kembali....

Lisette dan Annabel, Oleh : K. Rini, Majalah Bobo No. 28, Tahun XXIV



Bercerita tentang 2 orang sahabat yang berkawan karib yaitu Lisette dan Annabel yang berasal dari dusun kecil jauh dari kota. Saat menjelang remaja keduanya berniat untuk mendalami bakatnya masing-masing dengan pergi ke ibukota. Lisette mempelajari tenunan pada ahli tenun, sedangkan Annabel belajar menyanyi dan bermain seruling pada guru musik. Keduanya pun tumbuh menjadi gadis yang semakin cantik dan saling mensupport satu sama lain.

Tak sia-sia usaha keras mereka selama ini. Lisette mulai dikenal sebagai ahli tenun yang baik, sedangkan Anabelle sering diundang menyanyi dan bermain seruling di pesta-pesta kaum bangsawan. Hingga salah seorang bangsawan tiba-tiba mengangkatnya menjadi anak. Kini tak ada yang ingat sebenarnya Anabelle adalah gadis desa.

Kehidupan Lisette lain lagi. Hari-harinya dihabiskan untuk membuat kain tenun yang elok dan selalu dicari orang meski harganya mahal sekalipun. 

Suatu hari, di depan pondok Lisette yang sederhana datang kereta kuda yang megah. Dari dalam kereta muncul gadis cantik berpakaian mewah dan topi beludru biru berhiaskan bulu dan bunga-bunga. Ia mengetuk pintu pondokan Lisette yang ternyata setelah dibuka oleh sang Tuan Rumah tamunya itu adalah Anabelle. Mereka pun melepas rindu. Rupanya Anabelle mengajaknya untuk menghadiri pesta karena di sana banyak bangsawan tampan. Mulanya Lisette menolak dengan halus sebab ia sadar diri hanya gadis desa yang jarang pesta. Takutnya di sana malah ia kikuk dan membuat malu. Anabelle pun mencubit kawannya itu karena gemas. Tapi sekali lagi Lisette menolak dengan halus karena saat pesta berlangsung Lisette sudah ada janji bertemu dengan seorang tukang tenun. Anabelle masih berusaha karena ia penasaran juga apakah Lisette masih jomblo eh maksudnya punya kekasih atau belum. Karena kalau belum maka di pesta itu akan banyak kesempatan untuk berkenalan dengan pria-pria tampan. Ia juga bercerita bahwa calon suami Anabelle yaitu Richard berkenalan dengannya berkat bertemu dalam sebuah pesta. Ia lalu menceritakan belum pernah yang namanya berkenalan dengan Pangeran Tafarel, putra mahkota kerajaan dan malah berandai-andai seandainya ia berkenalan dengan Pangeran Tafarel apakah ia bisa memikat dirinya. Lisette pun mencoba menanggapi andai-andai Anabelle itu bahwa Richard pun tak kurang ternama dari Pangeran Tafarel. Ia turut berbahagia atas keberuntungan sahabatnya itu. Ia sendiri merendahkan diri karena lebih cocok bergaul dengan sesama ahli kain tenun saja. Anabelle lalu ingat bahwa ia sempat melihat Lisette berkereta dengan seorang pemuda yang kemudian dijawab oleh sahabatnya itu pemilik kebun kapas. Pemuda itu akan membuat kain tenun yang bagus-bagus dari kapas miliknya. Ya dikiranya pemuda itu hanyalah pemuda biasa sama seperti dirnya. Karena mendengar penjelasan Lisette, Anabelle pun menyerah. Tapi ia menginginkan agar Lisette mengajak serta pemuda itu hadir di pesta pernikahannya kelak bersama Richard.

Hari-hari pun berlalu, di hari pernikahan Anabel, suaminya Richard bilang bahwa Pangeran Tafarel akan hadir serta di sana dan membawa calon istrinya. Tak lama kemudian Richard berteriak bahwa tamu agung mereka datang. Putra mahkota tampan itu menggandeng seorang gadis yang berjalan anggun dan terus terang membuat terpana karena itu adalah Lisette. Rupanya pemuda yang diceritakan Lisette tempo lalu adalah pangeran yang menyamar. Ia adalah orang yang sibuk bekerja. Negerinya adalah penghasil kapas yang melimpah. Pangeran ingin kapas itu dijual ke negeri tetangga sudah dalam bentuk kain tenun karenanya ia jadi rajin menemui ahli kain tenun yang unggul. Saat bertemu Lisette, Pangeran pun terpesona padanya dan akan menjadikannya istri. Lisette pun beruntung akan dipersunting pangeran tapi dalam hal ini bukan karena titelnya, melainkan karena budi pekertinya yang luhur serta orangnya yang penyayang. Itulah yang membuat Lisette sangat bahagia bersandingkan dengan Pangeran.

Pemanah Buruk Rupa, Linda Tanuwiradjaja, Majalah Bobo No. 32 Tahun XXIII



Dahulu kala hiduplah seorang pemanah berbadan gagah dan tegap tapi wajahnya buruk rupa. Ia selalu ditemani kudanya yang bijak dan selalu memberinya pertolongan di saat susah. 

Suatu kali saat ia sedang menunggangi kudanya menuju ke hutan, ia menemukan sebuah bulu emas. Saat hendak mengambilnya, kudanya memperingatkan bahwa mengambil bulu emas sama dengan bencana. Tapi sang pemanah tetap saja nekad mengambilnya karena ia pikir jika ia menyerahkannya pada Kaisar maka ia akan mendapatkan hadiah. Padahal Kaisarnya itu terkenal kejam, lalim, dan serakah. 

Setelah bulu emas diberikan pada Kaisar, benar saja nasihat dari sang kuda. Bukannya mendapatkan hadiah, ia malah mendapat tugas baru yaitu disuruh menangkap burung emasnya. Karena kalau ada bulunya, pastilah ada burungnya kan? Nah, sampai sini Sang Pemanah pun menyesal. Seandainya ia menuruti nasihat dari sang kuda pasti ia tidak akan menemui kerepotan seperti ini.

Di tengah kegalauannya itu, sang kuda memberi masukan supaya ia meminta Kaisar memberinya 10 karung beras yang akan disebar di area tempat bulu itu ditemukan kemarin. Kaisar pun mengabulkan permintaannya itu. Dan berhasil, sang pemanah pulang dengan membawa burung emasnya. Kaisar tampak puas. Diangkatnya pemanah itu menjadi pemanah kerajaan. Tapi ia masih membebankan tugas sulit satu lagi yaitu minta dibawakan putri dari negeri tetangga yang terkenal dengan kecantikannya karena kaisar naksir padanya dan ingin memperistrinya. Lagi-lagi si pemanah cemas. Bencana terus-menerus datang karena bulu emas itu. Sang kuda pun memberi petunjuk supaya ia memberi putri tersebut bunga karena ia gemar bunga-bunga. Si pemanah pun menurut. Saat memberikannya pada sang putri itu, ia pun amat terpukau dengan kecantikan bunganya. Maka dari situ sang pemanah pun berujar bahwa ia bisa memberikannya lebih asal sang putri mau ikut dengannya ke kerajaan tempat dimana ia bertugas. Nah, setelahnya, ternyata di sana sang Kaisar telah menyambutnya dengan persiapan pernikahan. Karena mendengar ketamakan dan kekejaman sang kaisar, tentu sang putri takut. Tapi karena ia tidak bisa melarikan diri maka ia mengajukan satu permohonan. Ia mau dijadikan permaisuri oleh kaisar asal ia diperbolehkan memakai baju pengantin warisan ibunya yang berada di bawah laut dan dihimpit batu. Sang kaisar pun mengutus si pemanah untuk mengambilnya. 

Singkat kata, jauh di tepi pantai, sang pemanah bertemu dengan sekawanan kepiting sekarat yang minta tolong untuk dibawa ke air. Mereka tak mampu berjalan sendiri karena punggungnya kepanasan. Tanpa pikir panjang sang pemanah pun menolong kepiting itu. Oleh karenanya ia ditanya keinginan apa yang bisa mereka wujudnya. Sang pemanah pun minta diambilkan baju pengantin sang putri dan berhasil gaun itu akhirnya sampai juga ke tangan sang putri walau putri tersebut akhirnya merasa sedih karena siasatnya gagal. Akhirnya ia mengajukan permohonan satu lagi pada kaisar. Ia teringat sepasang pil ajaib pemberian almarhum ibunya. Yang berwarna merah akan mendatangkan kebahagiaan, sedang yang berwarna hitam akan mendatangkan bencana. Sang putri pun berujar bahwa ia pernah berjanji jika ada yang bisa mengambilkan gaun pengantinnya itu, maka ia bermaksud menikahinya. Tapi karena pemanah utusan kaisar berwajah buruk rupa, maka ia tidak ingin menikah dengannya. Ia pun pura-puranya berkata bagaimana kalau kaisar menyingkitkannya saja. Caranya, Kaisar harus menyediakan satu kolam penuh berisi air lalu sang pemanah disuruh berendam di situ dan ia akan memasukkan satu pil itu agar pemanah tenggelam sampai ke dasar tanah, tanpa menjelaskan warna dari pilnya. 

Selanjutnya saat eksekusi tiba, satu kolam itu sudah dibubuhkan pil yang berwarna merah, dan sang pemanah yang disuruh berendam di situ bukannya tenggelam malah wajahnya berangsur-angsur menjadi tampan. Sang putri pun akhirnya menaruh hati padanya karena sejak awal ia sudah mengagumi keberanian serta kegagahannya. Hingga membuat kaisar iri. Kaisar akhirnya ingin diperlakukan sama juga yaitu mandi di kolam dan dibubuhkan pil yang satunya lagi. Padahal pil yang hitam itu berarti bencana. Alhasil, saat sudah masuk ke dalam kolam kaisar pun tenggelam dan tak pernah muncul lagi. Nah, sebagai endingnya sang pemanah dan putri itu menikah, hidup rukun dan bahagia selama-lamanya.

Hasil Jajan Bundel Majalah Bobo 90-an ama Beli Skincare and lipgloss Idaman hehehe...











Nyobain lipgloss baru hasil belanja WIB-nya Tokopedia....

Kyaaaaa....ga terasa aku nulis lumayan puanjang juga ya walaupun cuma beberapa nomor doang ahahhaha....Ya udah sebagai amunisinya biar ga terengah-engah dan ngos-ngosan waktu ngetiknya, aku bonusin pake semangkok bakso beli dibungkus aja bawa pulang ini ya. Bakso sepuluh ribu doang tapi alamak enaaaaagh. Apalagi dimaem pas ujan ujan dingin-dingin begini. Juga ketambahan racikan saos, sambel en kecap di kaldunya kubikin merah kek gini...huhu...Kalian pengen juga ga. 

Oh ya...dari list cepen dan dongeng yang dah kutulis di atas mana yang menurut kalian menarik, komen di bawah ya...Nanti kalau menurutku ada yang bagus lagi aku tambahin sambil jalan. See you and dada....
























14 komentar:

  1. cukup banyak juga ya majalahnya. Lumayan juga sih kalo dapat cashback hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya lumayan nih nemu bundel majalah bobo di Tokopedia, langsung angkut ☺

      Hapus
  2. duarrrrr baksone langsung menggelora
    eh dirimu jan juara lek hunting bobo lawas mbak
    di Malang tinggal di TB wilis aja si kayaknya yang masih eksis
    kayaknya mereka juga jualan di Tokopedia

    yang cerita Tom aku jadi ingat Tom Sawyer
    macam anak yang curios gitu sama pekerjaan orang

    BalasHapus
    Balasan
    1. baksone manteb nih mas ikrom gegara ngliat ada bakso kecampuran sambel sampai merah aku kepengen wkwkk

      tb willis toko buku po mas ikrom?

      Hapus
  3. Dari beberapa judul dongeng dan cerpen majalah Bobo di atas tak ada satu pun yang pernah saya baca.

    Suara Hantu Di Tengah Malam bikin penasaran benarkah itu suara hantu atau hanya halusinasi si penakut, Doni?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ntar rencananya aku mau tambahij list judul cerpen dan dongengnya mas her, biar siapa tahu ada pembaca yang pernah baca juga bisa nostalgia hehe

      Mau tau endingnya? ternyata itu bukan suara hantu atau halusinasi Doni melainkan binatang sejenis kera yanh disebut kopo jadi pas dicek keluar tenda ama Andre dan teman temannya kopo ini lagi minum air di telaga, memang bunyinya agak seram,pertamanya kayak suara orang menjerit, abis itu tetiba kayak merintih...seram kan?

      Hapus
    2. Daripada ditambahkan mendingan dibikin post baru lagi part empatnya.

      Bukan seram tapi aneh suara kera kok seperti suara orang teriak. Eh tapi sebentar, teriaknya itu bukan teriak minta tolong kan?

      Hapus
    3. waaaaak pe er banget kalau ada part lagi hahahha...udah kayak bikin cerbung

      iya tapi seram juga sih kayak suara suara kera kalau bersahut sahutan di hutan huhuhu apalagi kan pohonnya tinggi

      Hapus
  4. Wah ..., majalah bobonya banyak, cerpennya buanyaaak ... Ya ananda Mbul. Terima kasih telah berbagi kisah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bunda, ntar embul mau kasih beberapa list judul lagi, kemarin mbul agak pegel ngetiknya, secara sebagai admin ku ngerjain postingannya seorang diri hihihi 😍

      Hapus
  5. Di sebuah desa hiduplah sebuah keluarga dengan dua orang anak, kakaknya namanya Niba Wang dan adek nya Nita Wang. Niba Wang anaknya pemalas sedangkan Nita Talia eh Nita Wang anaknya rajin.

    Suatu hari ibunya pergi ke pasar dan berpesan pada dua anaknya agar mencuci pakaian yang sudah tiga hari numpuk. Niba Wang yang malas lalu menyuruh adiknya. Sebagai adek Nita menurut lalu membawa sekeranjang pakaian ke sungai biarpun agak jauh dan juga berat.

    Setelah selesai mencuci pakaian ia lalu menjemurnya. Niba Wang lalu menyuruh adeknya menimba air. Nita kembali menurut biarpun sebenarnya kesal soalnya tempatnya jauh.

    Akhirnya ia membawa dua ember air tapi kakaknya masih menyuruhnya menyapu rumah biar bersih padahal Nita pengin main. Nita yang kesal lalu menyiram air ke kakaknya dan akhirnya mereka bertengkar.

    Saat bertengkar itulah ibunya pulang. Niba Wang lalu bilang bahwa ia tadi sudah capek mencuci pakaian dan menjemur baju, buktinya bajunya basah sedangkan Nita maunya main saja.

    Nita yang mendengar aduhan kakaknya tentu saja menangis dan masuk ke kamar. Ibunya lalu datang ke kamar dan memeluknya. Ibu lalu mengeluarkan majalah playboy eh majalah bobo kesukaan Nita, sebagai hadiah karena sudah mencuci pakaian.

    Lho kok ibu tahu, tanya Nita heran.
    Kan tempat nyuci baju nya ada di sebelah pasar.🤣🤣🤣

    Kaboorrr 🚶🏃💨

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wakwaaaaaaaaak....maaaaaas....

      ฅ(๑⊙д⊙๑)ฅ!!ฅ(^・ω・^ฅ)

      Embul lagi mam jadi keselek bacanya hihihi...mas mah bisaan aja bikin skenario dongengnya jadi begicuuuw...

      ow Nita Wang malanh betul punya kakak suwe ni bawang, harusnya dijadiin bumbu sop sopan aja ya biar ndak bossy kayak Ni Bawang...hahhahahah

      Berarti Nita pas mandi di sungai deket pasar dunk ?

      😳😱

      Lumayan kezal wong disuruh ngumbahi baju sampe segunung mas kan pegel tangan Mbul eh Nita Wang wkwkkwk

      (^・ω・^❁)(づ ̄ ³ ̄)づ tapi untung ga kendang ke sungai itu baju baju cucian ya....

      Hapus
  6. ...enjoy your December, time certainly passes quickly.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thank you Tom, ya hopefully December full of happiness ☺

      Hapus

Komenin dong...tanpa kehadiran kalian apalah arti aku menulis....
kalian penyemangat setiap bulir kalimat dalam blog ini :*
Namun jangan komentar SARU atau SARA ya, jika ada komentar dengan unsur tersebut, dengan berat hati akan aku HAPUS .

Oh ya, Dilarang juga mengambil gambar/foto atau menyadur tulisan tanpa mencantumkan sumber atau seijin pemiliknya. Apalagi untuk kepentingan komersial atau lomba. Thx ^____^