Selasa, 20 Februari 2024

Jalan Pagi di Setapakan Desa...



Assalamualaikum wr wb...
Hal yang paling aku sukai saat libur 3-4 hari di desa adalah pagi harinya. Siang juga suka sih, tapi tak terlalu. Sedangkan malam adalah yang paling ditunggu. Tapi pagi~sekali lagi adalah yang paling candu. Suasana adem. Bikin perasaan riang dan juga rindu. Sedangkan malem duinindnya luar biasaaa melebihi seperti saat pendingin udara disetel angka 22 derajat celcius. Di sini dinginnya sampai bisa bikin sedekapan terus di atas dada, tapi kerasanya jadi enak sih sebab ventilasi udara dibikin banyak, jadi aku merasa betah aja tenggelam dalam dekapan selimut hehehe...






Kebetulan kami boboknya di ruang depan pake kasur gelaran tanpa dipan. Terus kalau mandang langit-langit, kerasanya jadi jembar... angin berhembus semilir dari berbagai penjuru karena emang ventilasinya dibikin banyak... Hal yang selalu dibanggakan Ramane karena rumah tetap dibiarkan apa adanya, langsung genteng tanpa plafond atau eternit, jadi kelihatan pasak-pasak kayunya sebagai soko guru rumah.  Nah, karena bertambah dingin inilah maka semakin betah aja jam-jam 20.00 WIB udah menuju bobok, padahal kalau di kota jam segitu termasuknya masih 'sore'. Orang sini memang habis isyaan gemar istirahat, jarang ada yang nonton teve apalagi sampai keluar rumah hanya untuk sekedar nongkrong. 

Begitu pagi, kubuka daun jendela, dan kulihat kabut sudah menghias di sana dari pukul 5.10 WIB sampai waktu bergerak perlahan menuju srengenge naik, dan sinarnya yang hangat kemilau menyeruak diantara dahan-dahan dan pepohonan tinggi. Langit yang semula berwarna ungu kini perlahan menuju merah jambu hingga kemudian berganti menjadi biru. Kabut menawarkan hawa basah tipis-tipis yang membungkus udara dari setapakan hingga sawah-sawah. Samar-samar suara kodok di kejauhan timbul tenggelam diantara pematang, begitupula dengan cengkerik yang berisik, meski suaranya semakin asyik. Berdendang bersama kumbang-kumbang kampung, dan garengpung yang menunjukkan malam segera rampung.







Kubuka pintu samping sudah disambut dengan kokok ayam jantan yang siluetnya terpantul di bawah pohon klandingan, bersandingkan dengan ayam babon yang trengginas dan penuh semangat menotoli beras juga mengais tanah dengan ceker dan juga paruhnya. Sebuah pemandangan pagi yang paling kusuka. Indah seperti ada dalam cerita masa kecil. Tapi nyatanya sekarang masih ada.

Sebelumnya sudah kuseduh dulu segelas kecil teh hangat yang dasarnya menumpuk remah-remah daun kering dari teh jaring dengan takaran gula 1,5 sendok dan langsung kutuang dengan air panas dari dalam ceret. Teh jaring ini menurutku dapat memberikan perasaan nyaman saat menghirupnya terutama karena kekhasannya yang mengeluarkan aroma wangi-sepet-legit-tur kentel, enak disesap teguk demi teguk dengan konco sekotak snack pemberian tetangga tadi malam dari pengajian Bapak-Bapak yang gemar lek-lek-an sampai malam. Ada bolu gulung spikoe, pisang molen, pisang goreng, tahu baso, jeruk, dan juga pilus garuda. Di meja makan juga masih ada kweku dan ater-ater pacitan yang diantarkan tetangga kemarin siang saat aku jaga rumah sendirian. 

































































































Tapi aku baru minum tehnya beberapa teguk, sedang snacknya belum sempat kusentuh karena aku ingin jalan dulu keluar menghirup udara pagi pukul 06.16 WIB. Kukenakan alas kakiku dan berjalan di atas rerumputan basah menuju ke setapakan desa. Biasanya ruteku itu jalan terus sampai agak jauh dan bertemu dengan area tanah yang agak meninggi dimana samping-sampingnya berupa hamparan sawah yang menghijau dan lapangan yang bersisihan dengan kali. Agak atas lagi, kini sudah bukan jalan setapakan lagi melainkan jalan tanah yang dipenuhi dengan ilalang dan semak belukar di kanan kiri. Juga tanaman lumbu besar yang jika terkena tetesan embun, airnya akan berayun-ayun, bulat bening mengikuti goyangan sang daun. Biasanya daunnya ini digunakan untuk membuat bahan buntil isi kelapa parut yang lezat dengan cara-cara tertentu agar tak menimbulkan rasa gatal saat dimakan. Orang jaman dulu sangat piawai membuatnya, tapi aku sendiri belum pernah membuatnya. Aku biasanya membelinya di Toko Rakyat yang selain menjual aneka kue basah juga lauk pauk seperti buntil dari daun lumbu. 










Di atas sini, banyak pula kutemui pohon-pohon rindang seperti albasiah yang tampak gagah membingkai langit, pohon pisang yang sudah menunjukkan buah yang menuju masak, juga pohon jambu biji liar yang berbuah lebat betul, hampir memayungi separuh jalan. Jalan terus ke depan bisa-bisa nyampai jembatan. Tapi kubalikkan badanku karena kurasa rutenya sudah melebihi dari cukup sehingga kuputuskan untuk jalan pulang. 

~Mbul Kecil~


4 komentar:

  1. Sepertinya mbul akhir akhir ini sering di desa, sepertinya ada hajatan nih.😀

    Suasana desa yang sepi memang kadang bikin kangen. Apalagi kalo banyak pohonnya ya.

    BalasHapus
  2. Btw, itu foto paling bawah pohon Apakah? Apa pohon trembesi yang lagi fotosintesis.😂

    BalasHapus
  3. Desa, apalagi kampung halaman, selalu jadi tempat yang dirindukan bagi perantau yang kerja di perkotaan.

    Jadi rindu pulang ke kampung yang suasananya dingin. Tidak ada listrik dan jaringan. Tidak ada tipi. Dan betul kalau di kampung, sudah makan malam atau sudah salat isya udah pada tidur berselimut. Tengah malam atau subuh, biasanya air menetes dari atap seng meski tidak hujan lantaran dingin.

    Hehe, foto2 di artikelnya sejuk banget yah, plus enak ada buah dan snacknya. Sepertinya semuanya tidak dibeli. Hehe

    BalasHapus
  4. Jalan-jalan di desa memang mengasyikan ya Mbak.
    Apalagi suasana desa nya masih hijau dan asri seperti yang Mbak sampaikan pada foto-foto diatas.

    Duh...jadi rindu kampungnya kakek nih gara-gara lihat foto-foto disini.

    Salam,

    BalasHapus

I'm Mbul. Thanks for visiting here and dropping by. Your comments are always appreciated. Happy blogging āļ…(^・ω・^āļ…)