Jumat, 06 Februari 2026

Pagi yang Hangat di Bulan Februari ðŸĐ·



Assalamualaikum wr wb...
Hai...hai...hai. Jumpa lagi denganku, Beby Mbul Nita di sini. Apa kabarnya, Teman-Teman semua? Semoga selalu dalam keadaan baik ya. Rabu pagi yang hangat dengan matahari menyembul sedikit diantara gumpal-gumpal awan yang seperti cotton candy. Angin kecil berhembus lembut menerbangkan dedaunan. Sesekali terdengar bunyi bergemerasak. Seekor kucing gemuk abu melintas, melompat dari arah semak-belukar, mengejar kadal atau serangga yang lewat, melewati rumah kosong yang ada pada bagian hook yang kini tengah berada dalam pengerjaan Pak Tukang. Kucing tersebut berjalan santai. Mukanya lucu seperti palas cat dengan beberapa helai kumis di pipi kanan dan kiri. Badannya sekel gemuk sehingga dijunjung pun agak sedikit abot. 






Pagi ini diawali dengan suara kicau burung dari sangkar milik Bapak tetangga samping rumah yang dikerek pada tiang kayu, depan rumah kami. Lebih tepatnya di gardu kosong yang biasa buat tempat kami duduk-duduk. Kata Suamiku, Bapak Tetangga baru saja membeli burung murai batu dan satu lagi aku agak kurang familier apa namanya, tapi sebagai Tetangga yang baik, kami ikut senang karenanya. Keberadaan burung tersebut menjadikan suasana sekitar rumah terasa vibes hutan atau pedesaan. Kicauan burung terdengar merdu, mengikuti irama naik dan turun. Menyenandungkan suara alam. Terkadang juga seperti siulan. Membuat betah suasana. 

Bapak Tetangga memang paling senang mengobrol dengan Suamiku. Beliau pensiunan yang hari-harinya selalu dihabiskan di rumah (meski usianya belum terlampau sepuh), tapi sering mencari teman mengobrol jika Suamiku belum berangkat kerja atau nongkrong di depan rumah menyiram tanaman. Bapak Tetangga tiba-tiba akan muncul dan menyapa dengan ramah. Jika aku ke depan, Beliau juga akan menyapa dengan ramah. Ndilalahnya Beliau cocoknya mengobrol dengan Suamiku yang notabene orangnya lebih luwes dan gampang membangun obrolan dengan orang tua. Begitu pula dengan Pak RT dan Bapak-Bapak lainnya. Pak Satpam juga ramahnya bukan main tiap kali kami lewat gerbang komplek baik ketika akan masuk atau keluar untuk jalan-jalan. Alhamdulilah, di lingkungan kami, kami selalu diterima dengan baik oleh semua. Meskipun usia kami jauh lebih muda dari mereka, tapi kami selalu mendapatkan perlakuan yang baik dan nyemedulur atau istilahnya bersahabat. Alhamdulilah bukankah tetangga yang baik adalah salah satu dari bentuk rejeki bukan?








Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 06.00 WIB. Aku sendiri tengah sibuk beraktivitas di dapur sedari pukul 05.00 kurang. Menyiapkan sarapan si Kecil sebelum berangkat sekolah dan menyiapkan air hangat untuk mereka mandi. Suamiku masih terlelap tidur setelah semalaman aku pijitin dengan lembut dan penuh kasih sayang, karena badannya agak kurang fit, jadi kubiarkan Beliau istirahat dengan nyaman supaya cepat pulih kesehatannya pada keesokan harinya. Pagi ini aku masak yang simpel-simpel saja, yaitu nasi goreng dengan telur ceplok. Menu lainnya mungkin dipikirkan nanti siang. Tak lupa kuseduhkan susu hangat yang airnya langsung kujerang dari dalam cerek. Aktivitas yang seperti biasa kulakukan. Setelah beberapa menit air kurebus, lubang kecil pada tutup cerek akan meraung disertai dengan kepulan uap panas yang mengepul, membuat si Kecilku mengibaratkannya seperti bagian dari kepala gajah. Moncong si cerek serupa belalai, begitu pikirnya. Dan dia akan berseru : "Gajahnya sudah bunyi....gajahnya sudah bunyi." Lalu aku akan beranjak dari dudukku dan langsung kumatikan nyala api kompor. Kuseduh susu untuknya, begitu pula untuk si Adik. Baru setelahnya kuseduhkan teh hangat untuk kami yang dewasanya~menggunakan gelas kesayangan. Gelas ini awet atau tahan panas, sebenarnya bukan gelas biasa sih. Tapi lebih ke mug dengan penutup juga sedotam. Bahannya dari logam makanya tahan panas. Paling enak untuk tempat minum teh manis hangat. Favoritku itu menggunakan teh tubruk. Teh dalam bungkus kotak berupa kertas yang isinya serbuk daun teh pilihan. Terasa nikmat jika diseduh dengan air panas dalam takaran gula pasir beberapa sendok kecil. 



















Usai aktivitas pagi yang berhubungan dengan sekolah si Kecil beres, aku lanjut memasak menu yang lebih lengkap lagi dari sarapan. Ini biasanya untuk makan siang sampai sore hari, karena terakhir makan biasanya sebelum petang. Aku berniat mengongseng daging sapi dengan cabai hijau, membuat mie goreng jawa campur cesin + tauge + daun bawang, serta membuat tempe mendoan yang kubikin agak basah dengan irisan daun bawang yang melimpah. Menjadikannya bertambah wangi dan membangkitkan selera. Oiya, masih ada kweku yang kubikin kemarin, tapi kini tinggal sepiring dan kuhangatkan kembali dengan kukusan. Masih empuk ternyata. Tapi hari ini kupastikan harus habis 
āļ…(^・ω・^āļ…)









































































Aku baru ingat, di kulkas buah-buahan sudah habis. Biasanya kami membeli buah-buahan untuk isi-isi kulkas, tapi karena dari kemaren kami agak sibuk, maka ketika weekend jadi lupa menyetok buah. Pada minggu sebelumnya, saat kami pergi ke pasar dan hendak membeli daging sapi untuk stok lauk, kami sempat melihat tumpukan jambu biji yang dalamnya merah di pinggir jalan di deret bakul-bakul buah. Juga rambutan, kates dan juga semangka. Buah-buahan berair dan penuh vitamin yang aku suka. Dua yang terakhir kapan saja ada karena tak mengenal musim. Biasanya yang paling sering kami beli iya itu, kates, semangka, dan satu lagi melon. Jika dapat yang manis dan berair rasanya senang...



















Di minggu kedua Bulan Februari, cuaca sudah lumayan kalem dari biasanya. Jika Januari penuh dengan hujan sepanjang hari, maka Februari sudah mendingan. Tidak sebrutal Januari yang biasanya hujan angin dari pagi hingga paginya lagi. Januari kemarin kurasa langitnya full mendung. Di Februari, hujan sudah mulai mereda. Sesekali masih, tapi di sebagian hari yang lain, cuaca mulai menghangat, matahari menyemburatkan sinarnya yang kemilau diantara pucuk-pucuk daun yang berembun. Kembang sepatu tumpuk, kembang sepatu biasa, dan kembang lainnya teraba basah dan indah. Rerumputan penuh dengan air. Kebun mungilku berkilauan serasa dimandikan. Siangnya, cuaca juga tak begitu terik. Mendung dan angin kencang masih terasa, tapi sudah mulai lebih kalem dari sebelumnya. Mudah-mudahan Februari dan seterusnya berjalan manis ya āļ…(^・ω・^āļ…)

Oiya, aku masih ada agenda merapikan lemari pakaianku, menyusun ulang bagaimana aku melipat pakaian dan kerudung yang aku punya, lalu menyetrikanya sebagian. Mungkin memilah mana yang akan kupakai di saat mendekati Hari Raya dan langsung menempatkannya di sisi lemari yang gampang ditengeri. Begitu pula dengan pakaian di lemari Suamiku dan si Kecil. Yang jelas, agenda merapikan lemari pakaian masih waiting list untuk dikerjakan setelah kemarin aku berhasil mencuci bersih semua peralatan masak untuk ditempatkan di lemari bawah meja dapur dengan bersemangat. InsyaAlloh, sebelum masuk Ramadhan aku bisa mengerjakannya, hehe...