Jumat, 17 Juli 2026

Kupat Tahu Khas Purworejo Bikinanku 🩷



Assalamualaikum wr wb...
Hai....hai....hai. Jumpa lagi sama aku, Beby Mbul Nita, yang suka masak-masak di blog ini. Kali ini aku mau nulis tentang masakanku kemaren, yaitu masakan khas dari daerah asalnya Suamiku, yaitu Kabupaten Purworejo. Masakannya apalagi kalau bukan kupat tahu khas Purworejo. Karena kupat tahu itu ada yang dari beberapa daerah lain juga ya kalau di Jawa Tengah, jadi masing-masing ada ciri khasnya atau istilah kata perbedaannya. Misalnya ada yang pake sambel kacang, ada yang pake petis, dsb. Nah, kalau yang ini resepnya dari tempat asalnya Suamiku, jadi kuahnya itu lebih ringan. Dan, untuk kupat tahu yang kubikin ini Alhamdulilah berhasil walaupun aku bikin sendiri ya hihi. Rasanya pas mantab dan diapproved sama Suamiku, gegeggek. Aku kalau masak kayak gini, dan Suami udah bilang approved, berarti emang rasa masakannya enak, wkakakak. Jadi nanti akan aku tuliskeun resepnya gimana, baik kupat tahunya maupun juruh atau kuahnya. 








Pertama-tama, aku akan siapkan bahannya terlebih dahulu. Ada tahu cokelat yang kemudian aku cuci bersih dan aku potong kotak-kotak kecil. Abis itu tahunya aku alub-alub sebentar bareng sedikit garam dan Masako rasa kaldu sapi bubuk supaya gurih, sebenernya ga dialub-alub juga ga pa pa sih, tapi kali ini pengen takalub-alub gitu biar tahunya itu gurih. Selanjutnya aku akan goreng tahunya ke dalam minyak panas sampai kulit luarnya itu glowing, renyah, dan kokoh. Jadi daging tahu  putih yang ada di dalamnya ga gampang keluar. Setelah tahunya digoreng, angkat tahu lalu tiriskan. Terus aku juga akan siapkan perintilan lainnya selain tahu. Karena kupat tahu ga bisa berdiri sendiri, melainkan paling enak ya harus ada pelengkapnya. Diantaranya ada seledri, irisan bawang merah goreng, kecambah atau tauge, juga sambel. Sambel biasanya aku pake sambel bawang. Mau pake irisan kubis juga boleh, opsional aja. Yang penting yang udah disebutin tadi paling ga ya ada semua. Kalau itu udah ada semua, maka lengkaplah isian untuk kupat tahunya. Eh, tapi di kupat tahuku kali ini nanti kupatnya diganti sama lontong deng ama Suamiku, karena pas nyari kupat di pasar, ternyata ngendikane Suamiku bakul kupate belom pada dodolan, jadinya Beliau bawakan aku lontong agak banyakan. Kebetulan Beliau juga sukanya dahar lontong, jadi kalau itu dijadikan sebagai pengganti kupat akan sama enaknya enak, kan kupat ama lontong sama-sama dari beras yang di-dang ya, berarti kurang lebih rasanya sama meski beda di cara pembungkusan.










Selajutnya aku akan bikin kuahnya si kupat tahu ini atau kalau cara jowone disebutnya dengan juruh. Nah, ini yang membedakan antara kupat tahu khas Purworejo dengan kupat tahu dari daerah lainnya di Jawa Tengah. Karena yang ini bahannya lebih simpel, sederhana dan untuk kuahnya juga menurutku lebih ringan, enak tur seger, apalagi kalau maemnya ditambah dengan sambel bawang, begh...itu akan tambah nikmat lagi. Aku biasanya kalau maem kupat tahu tuw ga kumasukin kupatnya gegeggek, melainkan tahu dan perintilan lainnya duank. Nah, kupat tahu racikanku ini takbanyakin tahunya, irisan bawang merah goreng, kubis, ama sambel bawang. Kecambah ga pake, soalnya aku lebih ke tauge. Nah, itu kuahnya takkasih agak banyakan, maka rasanya akan lebih nikmat lagi. Sambel bawang yang diaduk ke dalam kuah, ditambah dengan gurih dan renyahnya irisan bawang merah goreng dan tahunya, begh rasanya enak tenan. Kuahnya seger banget. Rasanya itu antara pedas manis tapi iya nikmat. Pedesnya itu pedes manis gersang. Mantabb...Pokoknya kalau abis maem kupat tahu dijamin bakal keringetan, soale seger pol.


























Diriku, Nita Mbul/Nita Tiwi yang bikin kuoat tahunya



Aku, Beby Mbul Nita yang masak kuoat tahunya 











































Lalu bahan untuk kuahnya ada apa saja Mbul? Ada lengkuas yang digeprek atau dimemarkan, gula aren, sedikit garam, dan penyedap rasa nah ini direbus dengan air dan daun salam agak banyakan, supaya wanginya kerasa. Ciri khas kuahnya emang terletak di daun salam ama lengkuas. Nah, itu direbus dulu sampai matang. Setelah matang, udah deh, kuah kupat tahu  siap dijadikan pelengkap kupat tahunya (tapi kupatnya diganti ama lontong deng, gegeggek). Lalu seperti yang aku bilang tadi, sambel pelengkapnya adalah sambel bawang. Bawang putih dan cabai rawit aku cuci bersih lalu aku uleg dengan masih ada tekstur, tambah dengan sedikit garam dan penyedap rasa. Sirem dengan minyak panas dikit. Jadi deh sambel bawangnya. Nah, itu dicampur ke dalam kupat tahu rasanya bakal wenak tenan. Cara meraciknya adalah, taruh potongan kupat (tapi karena kupatnya lagi kosong, jadi diganti dengan lontong, irisan tahu cokelat goreng, kecambah, irisan kubis (kalau suka, kalau ga juga ga pa pa), irisan seledri, dan taburan bawang merah goreng. Btw, bawang merah gorengnya ini aku bikin sendiri loh, hehehe...memang jadi tungkul ada acara ngupas dan ngirisin bawang merah segala, tapi ujarku rasanya malah lebih nikmat karena ya itu ga amem atau mlempem, bawang merahnya fresh, renyah, gurih dan kranci. Nah, itu dikasih sambel bawang sedikit aja, lalu disirem kuah kupat tahunya. Hmmm, rasanya seger tenan. Enak dimaem pas cuaca adem atau berangin kayak gini. Seger banget. Kalau mau lawuh lagi bisa kuceplokkan telor ceplok atau kalau Tamas daharnya sama suiran daging entog goreng juga, yang disiapkan oleh diriku seorang Beby Mbul Nita yang bila dipikir-pikir mirip entog juga hahahha. "Enak, Dek, pas mantab rasanya." Alhamdulilah bikin kupat tahu khas Purworejo untuk pertama kalinya ini, aku sakseis dan berhasil. Horeee...






































Resep Kupat Tahu Khas Purworejo
Bahan-Bahan :

Tahu cokelat
kecambah
seledri
kubis
irisan bawang merah goreng
Pelengkap lainnya : kupat/lontong dan sambal bawang

Bahan Kuah Kupat Tahunya :

Lengkuas
daun salam
gula aren
garam
kecap manis
penyedap rasa
air

Cara Membuat :

Cuci bersih tahu cokelatnya. Iris kotak-kotak kecil. Alub-alub sebentar bareng sedikit garam dan Masako rasa kaldu sapi bubuk, goreng sampai kuning kecokelatan atau kulit luarnya kokoh
cuci bersih kubis dan rajang tipis-tipis kubisnya
cuci bersih kecambah, turiskan. Di aku, kecambah ga usah direbus aja ya Dek, begitu request Suamiku kalau untuk kecambah perintilan kupat tahu
cuci bersih seledri dan rajang tipis-tipis seledrinya
goreng irisan bawang merah buat taburan bawang merah goreng
Bikin sambel bawangnya
Sekarang bikin kuahnya, rebus air dengan ditambah gula aren, daun salam, lengkuas geprek, sedikit garam, penyedap rasa, dan kecap manis, masak kuahnya sampai mendidih dan matang. Setelah matang, kuah siap dijadikan pelengkap kupat tahunya.
Cara meraciknya, siapkan piring, taruh potongan kupat/lontong di dasar piringnya, kasih kecambah, irisan kubis, seledri, taburan bawang merah goreng, lalu siremkan kuah manis di atasnya. Kalau suka pedes bisa ditambah dengan sambel sesuai selera. Kalau mau lawuh tambahan lainnya bisa takbikinkeun telor ceplok/telor dadar, tempe mendoan atau lainnya.
Tahu kupat siap dinikmati








Besoknya, sarapan masih pake kupat tahu juga, tapi sorenya udah abis tuh, karena aku bikin ga banyak. Jadi malem Tamas beliin aku sate ayam favorit kami berdua, apalagi kalau bukan Sate Ayam H. Mamat yang ada di daerah Pasar Baru sebelum perempatan yang mau ke Otista (Otto Iskandardinata) dan Tanah Tinggi. Nah, tiap kali pengen maem sate, salah satu andalan dan selalu kami favoritkan adalah satenya H. Mamat ini. Dia itu rame terus, tiep kali kami liwat kedenya, selalu ngipas, jarang banget kami ngeliat H. Mamat libur, pokoknya ngipas terus. MasyaAlloh laris manis ya Sate H. Mamat tuw, dan aku juga udah sering review satenya di blog ini. Tapi emang bisa dikatakan satenya enak sih, daging ayamnya besar-besar, ada selipan kulitnya ada satu diantara potongan daging ayamnya tadi, terus sambal kacangnya juga enak. Teksturnya kental, medok dan lekoh. Rasanya itu legit gurih, ngeblend banget ama sate ayamnya. Kalau mau sedikit sambel biasanya dikasih sambel juga dalam wadah tersendiri. Nah, itu tuh satenya enak banget. Makanya kenapa kami sering belinya di H. Mamat. Selain udah cocok di hati, pelayanannya juga okey punya, kualitas rasa ga pernah berubah. Nah, itulah yang menjadikan kami selalu balik ke sana lagi dan balik ke sana lagi untuk kuliner sate ini di daerah Tangerang raya.















Sate H. Mamat dimaem sama lontong sisa kupat tahu yang masih ada rasanya enak juga, soalnya Tamas beli lontongnya agak banyakan.. Tapi mau dimaem sama nasi juga enak loh sate H. Mamat ini, dijambalin atau dicemilin juga enak gegeggek. Ga lupa pulangnya sekalian mampir beli minuman kesukaan, apalagi kalau bukan Yakult (kali ini beli yang original dan stroberi) juga YouC1000 rasa mangga. Minuman yang sering kami stok di kulkas dan bisa melancarkan pencernaan juga memelihara daya tahan tubuh. Mantabbb...