Selasa, 07 Juli 2020

Kala Menginap di Rumah Nenek...



Selalu ada sepersekian detik untuk manyun ketika Ibu mengagendakan aku dan kakak untuk menginap di rumah nenek kala kami masih SD dulu. Pasalnya, aku sebel banget kalau udah disuruh nginap di sana. 

Bukan....bukan karena nenekku bertampang penyihir laksana dongeng Hansel n Gretel yang suka mengiming-imingi bocah pake kue-kue manis dan aneka permen tapi abis itu direbus dalam kuali besar, tapi lebih ke karena kami ga gitu sering kumpul selain sama keluarga inti, tak terkecuali nenek. Apalagi kami nantinya akan tidur bareng nenek sementara ibu ga ikut dan hanya ngedrop kami saja. Huuuft rasanya benci banget akutuw kalau udah ada agenda itu, haha... Tapi herannya, ibu selalu saja mengagendakan itu tanpa mempertanyakan terlebih dulu persetujuanku, mau atau ga. Ya, harap maklum...waktu kecil aku kan anaknya biyungen banget. Jadi, opo-opo ibuk, opo-opo ibuk. Pokoknya aleman banget deh aku sama ibuk. Pisah bentar aja ga mau. Apalagi dititip ke rumah nenek wkwk... Tatud.


Tapi kalau agenda itu udah ketok palu, maka ibu akan mengantarkan aku dan kakak dengan menggunakan sepeda motornya. Setelah ngobrol bentar dengan nenek, biasanya ibu langsung pulang, sedangkan kami ditinggal. Entah karena mau pacaran saja dengan bapak--menikmati moment sekali-kali tanpa diriweuhin anak--istilahnya me time kalau kata orang jaman sekarang, atau memang karena keesokan harinya ada penataran atau dinas keluar kota. 

Pernah nih, (waktu aku masih keciiiiiiiil banget), di suatu malam yang sedang berhujan lengkap dengan petirnya yang menyambar-nyambar, ibu dan bapak mengantarkanku ke rumah nenek setelah menembus jalanan dengan menggunakan mantol tapi habis itu aku ditinggal karena memang besokannya ibu mau penataran ke luar kota, sementara bapak harus ngajar di STM seperti biasa. Jadi daycare dadakannya ya rumah nenek, hihihi... 

Lalu apakah yang terprogram dalam ingatanku dan masih terbayang-bayang hingga kini ? Begitu menjelang tidur, kami kan udah kumpul semua tuh di kamar nenek. Ada nenek (atau biasa kami sebut sebagai mbah putri), mbah kakung, aku, kakak, juga tante paling bontot. Ya ibu sama bapak mah ngobrol sebentar tapi abis itu langsung pulang. Nah, itu tuh dalam hatiku serasa pengen teriak "Gw jangan dinggaaaallll !" Hahaaa. Mana teringatnya pas malem-malem itu TV di kamar nenek masih nyala lagi. Dan kebetulan yang disetel adalah film horror Suzzana yang ceritanya tentang Nyi Roro Kidul. Jadi aku teringatnya malah bagian itunya. Pokoknya yang di salah satu adegan ada yang bilang kalau main ke segara kidul jangan pake baju ijo. Ntar takutnya bisa kendang  alias keseret ombak, padahal aku ga tau juga itu bener atau ga #ampun deh kemakan film kan akunya hahahaha..

Naik Motor via Jalan Desa yang Beberapa Kali Harus Melintasi Kuburan Kampung

Tapi ga memungkiri juga bahwa agenda menginap ini cuma untuk latihan aja biar aku dan kakak semakin akrab dengan nenek. Ya, soalnya kami disuruh ngancani nenek barang 1-2 malam aja di rumahnya yang berbeda kabupaten, walaupun jaraknya hanya beberapa kilo saja dari rumah.

Sabtu siang sekitar jam 2-an, ibu akan membonceng aku dan kakak untuk melewati jalan desa yang menuju ke rumah nenek. Naiknya motor alpha butut yang kalau mau riting itu bunyinya khas "tilut tilut tilut"...kurang lebih seperti itu bunyinya. Aku di posisi tengah, kakak di belakangku, ibu nyetir motor pelan-pelan. Beberapa kali kami harus menerobos perkampungan lain yang jaraknya lumayan jauh dan antar rumahnya disekat kebon juga pekarangan. Mana pohonnya tinggi-tinggi lagi. Jadi yang kuhapal dari jalanan desa itu ya langitnya yang gelap karena pohonnya tinggi. Walaupun uda ada yang diaspal alus tapi ada pula yang masih berupa jalan tanah yang kalau hujan becek banget penuh dengan kubangan lumpur. Jangan lupa, setapakan dengan kombinasi batu-batu kerikil yang batas pinggirannya agak jeru alias dalem jadi kalau simpangan ama kendaraan lain musti ati-ati bener biar nggak njeglong alias ngglimpang ke arah semak-semak.

Tapi itu belum seberapa dibandingkan dengan harus melewati kuburan yang jumlahnya ga cuma satu. Sebab ada beberapa titik kuburan yang harus kami lewati dan kesemuanya secara visual tampak M-E-N-Y-E-R-A-M-K-AN.

Kuburan pertama yang kami lewati masih dalam satu desa walaupun letaknya sudah nun jauh di perbatasan sana, dekat dengan desa tetanga. Kompleknya cukup luas dan benar-benar singub. Keberadaannya sudah terendus dari radius sekian kilometer berkat lambaian pohon kamboja yang ranting serta bunganya udah kelihatan dari jauh. Dia cuma dipagerin pake semen dengan ornamen tertentu yang teralisnya berbentuk mblenduk-mblenduk....dan ketika lewat, walaupun bisa dibilang mata cuma dalam posisi mengintip, tapi rasanya tuh bener-bener serem. Dalam fantasiku sebagai bocah kala itu, rasa-rasanya kok itu kuburan ngedark banget. Gelaaapnya minta ampun...bikin ku pengen merapal doa dalam hati dan buru-buru memposisikan jari jangan sampai dalam keadaan menunjuk. Soalnya waktu kecil aku sempat kepikiran kata-kata temen yang suka cerita horror, yaitu kalau jari sampai menunjuk area pekuburan, itu artinya jari akan langsung membusuk.....astaga temenku itu yah, sakses membuatku terbuai takhayul... Ditambah pula kata-katanya yang menakutiku andai bertemu dengan kunang-kunang, itu artinya aku bertemu kukune wong lanang eh maksudnya kukune wong mati...wakakak...(heran, kadang di umur-umur SD, ada saja teman yang hobi cerita horror, dan aku pun percaya-percaya aja saking pikiran masih lugu banget, wakakak).

Nah, itu baru kuburan pertama, kuburan selanjutnya udah masuk desa yang berbeda. Posisinya nyeberang sawah yang tetep aja areanya dipenuhi dengan pepohonan tinggi yang didominasi oleh kamboja dan juga jati belanda. Kalau yang ini masih agak jauhan dikit dari jalan raya, walaupun kijingnya tetep aja kelihatan. Ngomong-ngomong kijing itu bahasa jawanya dari nisan gengs, itu loh yang biasanya udah bentuk keramik...hehe...

Kuburan selanjutnya kelihatan jelas dari jalan aspal alus yang kami lewati. Posisinya persis di samping tempat penggilingan padi yang kalau siang masih oke lah kelihatan banyak orang, tapi kalau malem, udahlah mamam seremnya, hahaha... Pernah ya, kami lewat sore-sore eh lah da lah malah ada iring-iringan orang menggotong keranda sambil menyebutkan lafaz la ilaha illalloh dengan derap kaki cepat. Sontak aja aku langsung ngeh bahwa itu rombongan pengantar jenazah. Dan karena takut, otomatis ya aku merem aja sembari bilang pada ibu supaya ngebut ngendarain motornya.

Tapi ibu selalu menasihatiku supaya ga usah takut. Yang penting tiap lewat jangan lupa bilang : "Assalamualaikum !" supaya selamat sampai tujuan. Jadi bisa dibayangkan ya, karena rutenya melewati ga cuma 1 kuburan, jadi beberapa kali itu pula aku harus mengucapkan salam walaupun kulakukan sambil merem atau menghadap ke punggung ibu.

Terintimidasi Lukisan di Tempat Nenek

Setibanya di rumah nenek, pasti yang kulakukan pertama kali adalah melakukan serangkaian tur alias penjelajahan mulai dari area depan sampai belakang. Dari jembatan kecil yang dibawahnya kali dengan tambahan tempat duduk yang terbuat dari semen berlapis tegel dengan posisi menyerong yang sering kami sebut sebagai brug. Lalu setelah itu ada pagar dari semen juga yang di sela-selanya ditanami bunga sepatu (baik yang biasa ataupun yang mekrok alias bunga sepatu susun, bunga soka, kembang kertas, kembang pacar yang biasa buat kutekan kuku, dll). Lalu ada setapak panjang yang di pinggir-pinggirnya masih berupa tanah dengan satu pohon rambutan besar berdiri di tengah-tengahnya. Kalau sedang musimnya, berbuahnya lebat sekali loh (sampai kadang dijual-jualin). Pohon rambutan lainnya ada juga sih di halaman samping, tapi yang paling gede ya yang ada di depan itu. Baru abis itu ada teras yang pinggir lantainya dibikin berundak dengan jajaran pot pada lantai terbawah. Potnya ditanami berbagai macam tanaman hias macam suplir, lidah mertua, kuping gajah, krokot, dll. 

Sebenernya aku lumayan hapal sih dengan type rumah nenek yang dulunya merupakan rumah jadul era-era tahun 90-an mulai dari yang awalnya bercat ijo dan pintunya dari  papan kayu yang bisa dilepas satu-satu kayak pinto toko/ warung itu loh....sampai kemudian mengalami pemugaran beberapa kali jadi tembok yang pada beberapa sisinya dipasang batu alam hitam putih dan yang terakhir setelah nenek meninggal lalu rumah berpindah tangan ke tante paling bungsu sudah dalam bentuk dinding keramik putih. Tapi yang paling kuingat sih pada saat rumahnya masih bercat ijo, lantainya tegel hitam, depannya ada teras berundak serta di depan pintunya pas ada papan kayu yang biasa digunakan untuk jalan motor ketika akan masuk rumah. 

Penjelajahan selanjutnya adalah berpindah ke ruang tamu. Ruang tamunya model memanjang ke samping jadi sanggup menampung aneka perabot  furnitur walaupun ga semuanya setipe. Ada kursi kayu khas jawa yang dudukannya dari ayaman rotan, tapi kerangka kursinya beneran kayu yang ada ornamen-ornamennya itu loh. Lalu ada kursi yang stylenya lebih santai lagi dengan dudukan menyerupai karet yang bisa dibenggang-benggang. Tapi paling nyaman sih kursi kayu yang dudukannya anget karena pake busa dengan cover orens semi kecokelat-cokelatan. Nah, karena kursinya itu banyak, jadi mejanya juga banyak. Dan kalau lebaran tuh toples yang dipajang mengikuti kapasitas mejanya juga, wkwkwk...

Sudut-sudut penting ruang tamu sebenarnya ga cuma bertumpu pada meja kursinya aja. Tapi juga buffet yang terletak di belakang kursi dan satu akuarium ikan berlampu terang yang ditaruh di pojokan. 

Pertama, buffetnya dulu deh. Buffet kayunya ini terdiri dari beberapa bagian. Ada yang berupa rak-rak yang isinya terlihat dari luar, ada pula yang berdaun pintu. Yang berdaun pintu sih paling-paling isinya gelas atau piring hias yang biasa dijadikan kado nikahan. Tapi, yang lebih menarik perhatianku adalah rak yang isinya kelihatan dari luar itu. Yaitu beberapa cinderamata dari hasil pencariannya Mbah kakung waktu dines keluar kota semasa menjabat sebagai kepala sekolah di sebuah sd negeri di desanya. Cinderamatanya macem-macem. Ada yang dari kerang-kerangan, ada pula yang dari kayu-kayuan. Yang dari kerang-kerangan aku ingat banget ada yang bentuknya menyerupai merak, ada yang menyerupai kuda laut. Meraknya sepasang. Kuda lautnya 4. Terus yang dari kayu ada yang bentuknya diorama penari, wayang, kuda, burung garuda, dsb... 

Habis itu mata selanjutnya tertuju pada akuarium yang ada di pojokan. Akuariumnya kecil. Tapi terang banget lampu-lampunya. Mengingatkanku pada akuarium yang ada di kartun finding nemo. Tapi serius yang ini kecil kok. Hiasannya aja yang banyak. Ada pasirnya, rumput-rumputannya, karang-karangnya, bahkah satu yang menarik perhatianku adalah kerang-kerangan yang terhubung dengan lampu dan bisa membuka sendiri dimana di dalamnya ada patung putri duyung beserta sebutir mutiara. Seneng deh ngamatinnya, apalagi kalau lihat sela-sela hiasannya itu jadi tempat ikan koki sliwar-sliwer dengan jambulnya yang lucu....

Nah, yang paling membekas dalam ingatanku adalah lukisan besar yang letaknya di atas buffet dan juga akuarium itu. Lukisannya sih biasa aja sebenernya. Tapi entah kenapa gambarnya itu terasa magis buatku. Lukisannya tentang rawa-rawa atau hutan gitu lah tapi ada ranting pohonnya gede banget. Mana warnanya surem lagi. Hijau lumut dominan orens langit sore. Ah, aku jadi sering mengkhayal yang ga-ga kalau uda ngliat lukisan itu. Seakan-akan aku membayangkan kalau lagi ada di hutan dan terjebak di rawa-rawa dengan pemandangan pohon besar yang banyak sulur serta lumutnya itu...hmmmb...

Marathon Ngliatin Album Pengantin 

Tak ada yang lebih istimewa ketika nginep di rumah nenek tanpa ngeliatin foto album pengantin. Ya apa lagi kalau bukan foto pengantinnya anak-anak nenek yang jumlahnya ada 5 cewek semua, termasuk ibu. 

Rampung eksplore ruang tamu, biasanya aku dan kakak langsung menuju ruang tengah dan berebut album pengantin Tante (plus ibu) yang numpuk di lemari. Memang dulu kan fotonya dicetak dan disimpan dalam album ya, beda dengan foto jaman sekarang yang pakenya soft copy dan kalau mau lihat tinggal dicolok ke komputer atau leptop flash disknya, bahkan banyak juga yang disimpan di media sosial, hehe. Ya nama pun foto pengantin jadoel ya, jadilah tempat penyimpanannya masih dalam bentuk album.

Jadi di lemari itu ada bertumpuk album yang kebanyakan isinya foto resepsi pengantinnya anak-anak Mbah dari anak pertama hingga anak terakhir. Dari foto pengantinnya ibuk sampai foto pengantinnya tante yang paling bontot. Walaupun hampir kesemuanya pake adat nganten jawa paes surakarta, tapi yang kulakukan adalah membandingkan antara rias pengantin tante 1 dengan tante lainnya. Termasuk paesnya ibu. Kira-kira paling cantik riasannya siapa. Foto yang paling manglingin dan banyak senyum fotonya siapa. Soalnya ada juga yang hampir semua fotonya ga senyum hahaha... mungkin tegang kali jadi pengantin anyar. Terus kebaya ganti setelah beludru item bersepuh emasnya warna apa aja, patah (pengipas pengantin) serta domasnya cantik-cantik atau ga, plusss kukomentarin juga tuh masalah kipasnya. Apakah mekrok berbulu indah atau ga, hahaha...

Sampai pada suatu ketika, kami nemu beberapa pose foto pengantin yang kelihatan lumayan mesra dibandingkan pose di foto lainnya. Ya, namapun pikiran bocah yang serba polos ya, jadi waktu itu secara otomatis masa aku tereak : "Ih tante kok saru ya, cium-ciuman ama Om segala !" Ugh la la... haha padahal yang kulihat cuma pose foto pengantin yang sedang mencium kening pasangannya, wkwkkw...

Pagoda Pastilesnya Mbah Kakung

Selain hobi marathonan album pengantin Tante (dan juga ibu), aku juga suka ngacak-ngacak isi kabinet kamarnya nenek yang penuh dengan make up punya Tante yang kebanyakan uda expired... Ada lipstik yang udah ceprol ujungnya, eye shadow yang udah cowel di sana sini, perona pipi yang tinggal separuh, bedak yang bisa dipastikan udah dari jaman baheula, dll (tapi kok ya herannya masih dibiarin njogrog aja dalam lemari, ga ada yang dibuang). Alhasil dibikinlah jadi bahan eksperimen para cucunya ini hahaha...

Selain nemu beragam alat make up, yang paling sering kutemui adalah kaleng tempat permen pagoda pastiles yang bentuknya bulat dan permennya segitiga dengan aroma semriwing itu. Permen kesukaan Mbah Kakung. Sering betul Beliau beli sehingga bekas kalengnya pun bertebaran di mana-mana. Tapi aku sendiri paling suka sama yang rasa buah ketimbang yang semriwing pedes alias yang rasa original.  

Majalah Kartini Jadoel

Ada satu hal yang membuatku lumayan berkompromi ketika diajak menginap di rumah nenek. Tak lain dan tak bukan karena keberadaan tumpukan tabloid dan majalah wanita kayak Nova, Kartini, dan juga Femina yang semula adalah koleksinya Tante. 

Padahal waktu itu aku masih kecil, tapi kok yo iso-isone takbaca semua meski itu berisi cerpen dewasa, kasus artis era tahun itu, juga profil-profilnya. Ga heran, meskipun aku besar di era 90-an tapi aku tetep tahu loh deretan artis lawas karena emang dari kecil udah doyan baca majalah, meskipun harusnya diperuntukkan untuk dewasa ya. Bahkan ada satu cerbung yang masih aku ingat sampai sekarang. Isinya kurang lebih tentang kisah cinta penuh intrik yang judulnya Setangkai Mawar Kuning, oh myyyy....hahaha... Pernah suatu kali karena saking inginnya aku bernostalgia, maka kuhuntinglah Majalah Kartini jadoel sampai area Blok M Square dan alhamdulilahnya sih dapat walaupun cuma 1 edisi.

Jengkol Goreng

Pertama kalinya aku rasan jengkol ya di tempatnya nenek ini. Kala itu keadaan perut sedang 'ngelih-ngelihnya', ya udah aku geratakan aja nyari apa yang sekiranya bisa dimakan. Siapa nyana, di bawah tudung saji cuma ada sepiring jengkol mentah, sambal dadak, serta ikan peda goreng. Karena penasaran dengan si bulat yang berwarna kuning meling-meling itu, kucobalah untuk mencicip barang segigit-dua gigit dulu. Elahdalah, pas terasa dalam kecapan lidah, kok ya saat itu juga aku pengen nyengir kuda. Saking rasa tu jengkol mentah kok sepet amat ya bikin lidahku kebas. Beruntung di pawon, aku lihat ada yang udah digoreng dan masih nangkring di atas serog. Penasaran dengan rasanya, akhirnya kucomotlah satu dan kurasa-rasa dengan seksama. Ternyata yang ini lumayan enak. Rasanya mirip emping, tapi kenyil-kenyil gitu deh karena dagingnya padat. Ya demikianlah kenanganku waktu icip jengkol pertama kali karena selama ini sosoan ogah nyicip gegara waktu itu terintimidasi karena baunya yang aduhai semerbak.

Sensasi Jamban Cemplung yang Bawahnya Blumbang Buat Piara Ikan

Ini sih sebenernya nyanggupin kakak yang kalau lagi kebelet 'hajat' pasti pengennya nongkrong di jamban cemplung  yang bawahnya merupakan blumbang tempat miara ikan. Lokasinya ada di area belakang dekat kebon nanas dan juga durian. Bahkan ga jarang kami nemu taneman yang menyerupai pakan ular. Kadang tuh ya, aku mikir dalam hati, kok ya bisa kakak betah amat nongkrong di situ sembari menikmati semilir angin dari atas area bilik bambu yang terbuka. Sementara aku nunggu di luar sambil nangkapin capung pake plastik tapi abis itu ya diterbangin lagi. Ah ngaku aja luh suka nongkrong juga di situ Mbul...hahhaha, ya pernah sih satu-dua kali, tapi tetep aja menurutku ga sepewe kamar mandi dalem, wakakka. Soalnya takut ada ular.

Main Masak-Masakan Pake Bunga Sepatu dkk, Ceplok Piring, Teh-tehan, dan Mie-Miean

"Nduk ojo main ning pinggir kali ya, ngko ono ulo...", ujar ibu berkali-kali mengingatkanku dan kakak yang selalu terpesona pada kali yang ada di depan rumah nenek. Memang bukan sekedar peringatan belaka kata-kata itu, sebab satu-dua kali kami pernah menyaksikan sendiri ada ular yang melintas di area kali. Itu loh ular yang coraknya lorek-lorek hitam putih.

Jadi, sebagai gantinya ya kami main masak-masakan aja. Atas nama membaur dengan alam, kami masak-masakan sambil kotor-kotoran karena pakainya tanah sebagai nasinya, daun ceplok piring yang diiris-iris sebagai sayurannya, tumbuhan tali putri sebagai mie-mie-annya, juga bunga-bunga sepatu plus kembang soka sebagai cabainya. Nanti kalau ada transaksi jual beli, duitnya pake daun teh-tehan. Semakin gede bentuk daunnya, ceritanya semakin tinggi nilai nominalnya, katakanlah ibarat duit 100 ribuan kalau jaman sekarang.

Nanti kalau lagi kumat centilnya, biasanya kami pura-pura bergaya ala wanita dewasa sambil nempelin kelopak bunga kertas atau kembang ganyong yang warna-warni di atas kuku-kuku kami.

Rujakan Jambu Wer sama Tetangga Tempat Mbah, Berikut Drama Nesu-Nesuannya

Ga lengkap rasanya kalau masa kecil ga diwarnai dengan drama genk-genkan ala anak-anak cewek. Termasuk pula teman sepermainan kami yang merupakan tetangga dari tempatnya nenek. Ada yang sepantaran, ada pula yang lebih gede dari kami. 

Yang sepantaran, rumahnya ada di samping rumah nenek pas. Namanya Dewi. Ia berasal dari keluarga terpandang karena ibunya seorang bidan yang cukup prestisius kala itu. Satunya lagi adalah Mbak Rina, tetangga nenek yang rumahnya nyebrang jalan. Mbak Rina ini usianya lebih gede dari kami. Tapi biasanya ada sensi-sensiannya sih andai kami mainnya sama siapa. Misalnya ketika kami milih main sama Dewi, nanti Mbak Rinanya ga mau ikut. Begitupula sebaliknya, kalau kami lagi akrab dengan Mbak Rina, Dewinya melipir. Kalau di rumah Dewi kami senangnya karena banyak boneka. Mana rumahnya gedongan lagi (maklum anak bidan), dan yang aku heran pas dia makan ternyata makannya masih disuapin oleh mbak ART-nya loh. Mana menunya waktu itu pake mie rebus porsi gede lagi yang aku sendiri sama ibu dibatasin. 

Sedangkan sama Mbak Rina kami biasanya diajak rujakan. Tapi Dewinya ga mau ikut. Entah kenapa waktu itu ada aja istilah bolo-boloannya (bolo ini, untuk o-nya jangan dibaca kayak judul lagunya Tina Toon bolo-bolo ya, tapi kayak kata kodok). Nah pas main sama Mbak Rina, kami seringnya diajak rujakan jambu wer yang bumbunya pedes banget. Jambu wer itu jambu air tapi yang bentuknya kecil-kecil. Warnanya merah terang, beda sama jambu bol yang bentuknya memanjang ya. Kalau ga diajakin makan ke rumahnya dan disayurin oseng kangkung hasil masak sendiri plus lauk ikan pindang, wuh syedap.

Senangnya ketika Dijemput Kembali oleh Ibu 

Ga terasa, jika sudah melewati siang dan sore dengan segala macam agenda kanak-kanaknya, rasa hatiku lumayan lega juga. Sebab sebentar lagi bakal malam dan kami pengen cepet-cepet merem walaupun kenyataannya ga bisa.... mungkin karena faktor bukan di kamar sendiri kali ya, jadi susah bobok. Jadilah meski nenek udah tidur dengan pulasnya, tapi aku masih merem-merem doang, ga dalam kondisi tidur sama sekali. Bahkan di gendang telingaku ini rasanya bunyi irama jam dinding yang tik-tik-tik terasa mengganggu sekali saking aku susah tidurnya... Barulah ketika keesokan harinya suara deru sepeda motor ibu udah kedengaran dari jalan raya, maka hati ini langsung gembira karena itu artinya 'kewajiban' menginap di rumah nenek ini usai sudah..

Ya walaupun pulangnya harus on repeat sama rute 3 kuburan yang kuceritakan di awal... Tapi biasanya aku langsung ngantuk sih jadi ga merhatiin lagi suasana jalannya kayak apa. Jadi untuk menghindari aku jatoh dari boncengan, akhirnya aku diiket aja pake jarik yang dihubungkan ke pinggang ibu, hehe...

Demikianlah sepenggal kenanganku akan rumah nenek. Kadang-kadang aku kangen juga pengen merasakan suasana yang sama kayak yang kuceritakan di atas. Sayangnya rumah nenek yang sekarang ditinggali Tante sudah banyak berubah. Majalah Kartini dan Tabloid Nova jadoelnya entah pada ilang kemana :'( (Gustyanita Pratiwi).






36 komentar:

  1. Hmmm, kok agak mirip ya. Aku juga sebenarnya malas kalo disuruh nginap di rumah kakek dan nenek padahal masih satu desa lho. Mungkin karena biasanya sama orang tua terus kali ya.

    Biasanya untuk ke rumah nenek juga saya harus melewati kuburan kampung, cuma satu sih dan tidak ada pohon Kamboja nya tapi kisah tentang kuburan itu yang bikin malesin.

    Ya gimana ngga males, tuh kuburan katanya pernah nyasarin tukang becak. Jadi ceritanya ada tukang becak bawa penumpang cewek cantik. Eh pas di kuburan itu ceweknya terbang padahal dia bukan wonder woman atau supergirl. Gimana ngga males kalo mau lewat. Belum lagi katanya ada penunggunya yang berupa harimau segede kerbau.

    Kalo soal majalah sepertinya tidak ada satupun di rumah nenek kecuali buku pelajaran sekolah om tante saya. Maklum, orang kampung kali, jadinya tidak ada bacaan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas, dulu pas kecil tuh langsung mengkered aku klo disuruh siap-siap dolan tempat mbah tapi aku dan kakak suruh nginep dewekan, ibu balik lagi hahahah

      Wadidaw, cerita di kuburannya kek cerita horror suzzana mas, malah ada sundel bolongnya yak. Ahahahha, trus ada legenda harimau segede kerbau juga, ni ceritanya gimana mas? Kok aku jadi penasaran en pingin bikin cerpen kayak mas agus ya, yang temanya horror hahahha

      Hapus
    2. Itu cerita yang beredar dari mulut ke mulut mbak, entah benar atau ngga. Ada juga cerita versi lainnya. Katanya tukang becaknya tuh nganter cewek cantik gitu. Setelah itu sampai tuh di sebuah rumah yang bagus, padahal seingat tukang becak di daerah itu ngga ada rumah. Cewek itu lalu ngajak tukang becak masuk. Tukang becaknya terus ketiduran, begitu bangun tahu tahu ada di kuburan, langsung lari tuh tukang becak.

      Ayo bikin cerpennya mbak, pasti bagus soalnya mbak mbul orangnya teliti.😄

      Hapus
    3. Asli merindimg disko mas 😂

      Endingnya selalu nemplok di kuburan yee
      Ah iya, sumpah dari kemaren mampir ke blog temen temen yang jago nulis cerpen aku jadi ketularan pengen ngefiksi loh 😀

      Hapus
    4. What merinding, bukannya mbak mbul ngga takut yang begituan.😱

      Ayo bikin cerpen mbak seperti mbak Pipit dan mbak Astria, jadinya nanti kan aku bisa belajar sama mbak mbul.😊

      Hapus
    5. Kalau cerita atau film ya ga begitu takut mas
      Tapi klo yang beneran sih amit2 naudzubilahimindzalik jangan sampe ngliat deh #getok getok meja hiyyy serem

      Iya sih, coba aku bikin kerangka tulisannya dulu, ntar klo dah pede takpublish

      Hapus
  2. Kayaknya semua anak pasti agak malas kalau harus berada di rumah kerabat tanpa ditemani oleh orang tua, begitu juga saya. Makanya saya tidak mau sering-sering menitipkan anak di rumah kerabat, kecuali terpaksa sekali dan itu pun tak boleh lama.

    Tapi dalam situasi tertentu, memang lebih aman menitipkan anak kepada kerabat/keluarga yang akrab dengan kita daripada menitipkan kepada orang lain atau daycare yang mahal harganya. Hehe.

    Salam..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bli agung, aku dulu memang agak kurang antusias tiap disuruh nginap tempat mbah, bawaannya pengen cepet melalui hari biar cepet ketemu pagi terus dijemput ibu deh ahahahahha..

      Iya kalau dalam posisi orang tua, emang pas ada moment kepepet, nitip ke tempat neneknya anak-anak emang paling sreg di hati sih, secara cucu sendiri hehe

      Hapus
  3. Waktu kecil aku juga sering nginap rumah nenek kakek, soalnya jarak rumah mereka cuma 400 meter dari rumahku hahahaha. Jadi nginapya bisa tiap minggu di rumah nenek kakek. Yang paling kuingat adalah wajib sholat jemaah bareng sekeluarga, terus kalau malam ada saja cemilan enak macam pisang goreng, sukun goreng atau singkong goreng.

    Baca postingan ini bagian depan serasa baca review kuburan, kayaknya sereman kuburan kedua itu paling seram deh hahahah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau tempat nenek kakaek yakin ngajinya diawasin betul ya mas cipu, wekekkeke

      Hahhaha, asli ngakak review kuburan
      Tapi bener juga sih 😂😂

      Hapus
  4. Saya dulu kalau disuruh nginep di rumah nenek, padahal rumahnya di belakang rumah saya juga. Deket banget lho, tapi saya nggak pernah mau, karena nggak bisa tidur kalau nggak dikelonin emak😂
    Nah, kalau di rumah nenek yang lain alias ibunya bapak. Saya sering takut, soalnya di sana ada semacam patung atau hiasan dinding yang bentuknya itu kepala kambing dengan mata merah. Bagi saya yang masih kecil benda itu nyeremin parah, tapi pas udah gede gini kelihatan biasa aja😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wakakakka hiasan kepala ini malah adanya di tempat tanteku mba astria, tapi kayak patung kepala rusa, serem juga kalau dipikir2 hihi

      Iya akupun gitu, padahal ya nenek ga gimana-gimana, cuma cerewet aja #eh ahhaha

      Hapus
  5. Waah kebetulan nenek saya itu tinggal dirumah ibu, alias ngikut ibu saya, karena ibu anak bungsu, saya malahan deket baanget mbak sama nenek, waktu kecil emng rada bandel sih, kalo main sy suka jauh" bareng temen, trus kalo sy sekolah di sd, nenek suka nungguin di depan sekolah 😊, sampe sy sma nenek masih sehat walopun udh sepuh banget, suka traktir jajan, trus kalo nenek sakit kayak batuk itu saya suka anterin beliaw ke pak mantrinya.. Sy juga tidur sekamar bahkan seranjang bareng nenek, kalo pas jmn sma suka nonton film di tv yg serem,, nenek suka nemenin... Sampe akhirnya nenek meninggal, karena sakit dan udah sepuh juga, kangen masa" itu....Saya juga inget nenek suka pake jarik dan baju atasan seperti kebaya gitu, trus rambutnya suka di gelung 👵...koq jadi terharu dan kangeen karo nenek ku yoo 😭

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah kenangan manis dengan alm nenek mba henny banyak yak

      Enak dong mba henny bisa akreb ama nenek, ibuku anak mbarep soalnya mba hen, jadi ibu ga tinggal bareng nenek....tapi yang bungsupun merantau juga di nunukan kaltim pas awal-awal dines di perhutani...

      Kalau yang suka jarikan, kebaya, n pake sanggul nenek dari pihak bapakku mba hen, tapi kalau yang kuceritain di sini nenek dari pihak ibuku dan beliau ga sering berkebaya, seringe pake daster biasa hihihi 😉

      Hapus
  6. Aku juga maless banget kalau pas diajak mudik ke simbah di kediri
    tapi engga sampai ditinggal si mbak
    cuma nginepnya kan di sana rumahnya model yg engga ada asbesnya
    langsung langit-langit gitu
    pas kecil suka ngayal itu kalau ad ninja gimana ya
    aplagi las dulu kan zamannya ninja pas Pak Harto habis lengser
    duh imaninasiku hahaha


    eh yang jamban cemplung itu di nenek aku juga ada
    creepy banget
    suatu ketika pas pup eh ada biawak apa semacam nyambik ya
    ngeri banget aku sampe girap girap nangis

    permen pagoda sama apasih satunya itu memorable banget ya
    saman dulu suka banget dan kayaknya imposible buat beli sendiri haha


    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah tempat simbahe mas ikrom di kediri ya,
      Oh iya kalau yang atepnya langsung genteng dan pilar-pilar kayu kadang mandan panas yo mas, tapinasbes juga panas deng huhu

      Wakakakka, ngakak aku, kok yo iso mbayanginnya ninja

      Dan iyak, jamban cemplung tuh rawan ada hewan lewat
      Baru tau aku boawak sama dengan nyambik, kok bikin ku ngguyu kekel yo mas wahahahha

      Hapus
  7. Kalau pengalaman kecilku berbeda dengan kak Embul. Aku tuh paliiing seneng kalau tau diminta nginep di rumah simbah buyutku di desa di lateng gunung Merbabu.
    Nunggu momen libur sekolah panjang juga kutunggu banget karena pasti aku tinggal disana.
    Lah napa ? ...
    Karena aku ... Hahaha .. kelakuan jahil dan kenakalanku kambuh kalu disana 😅!.
    Liarnya minta ampun dan pernah nenek buyutku jadi korban kejahilanku dan sepupuku.
    Beliau terperosok ke dalam galian lubang jebakanku.

    Eh kok sama ya rumah simbah kita pakainya 'dinding' kayu yang dibuka pasang satu persatu, soalnya waktu digunain buat buka warung makan ndeso dan warung kelontong 🙂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wakakak aku nganti hapal loh mas him sing critamu iki
      Sebab beberapa kali njenengan crita yang ngisengin nenek buyut sampai kepentok masuk lubang jebakan, ckckckck, lumayan ndregil biyen berarti ya dikau mas hahahhahaha

      Ada adaaaa aja tingkah usilnya wkwkwk

      Hapus
  8. Duuuuh saya jadi berimajinasi soal kuburan dan lukisan rawa-rawanya, mba 🤣 saya sama seperti mba Nita, nggak suka kalau ditinggal di rumah simbah tapi kalau orang tua ikut menginap baru saya betah 😂 intinya nggak bisa jauh dari orang tua padahal kalau di rumah sendiri dan orang tua kerja pun nggak masalah ~ cuma insecure saja bawaannya kalau ditinggal di rumah keluarga besar 🙈

    Untung rumah simbah jauh dari Jakarta jadi orang tua nggak bisa sering-sering kirim saya ke rumah simbah kecuali satu kali seumur hidup dimana ibu saya menitipkan saya ke tante (kakaknya ibu) untuk bawa saya dan adik mudik ke rumah simbah 😅 ibu dan ayah nggak ikut karena kerja. Ya ampun jangan ditanya perasaan saya, gelisah luarrrrrr biasa hahaha. Padahal sama tante sebetulnya akrab, tapi entah kenapa berasa awkward membayangkan akan spend waktu sama keluarga tante tanpa orang tua dua minggu lamanya, di rumah simbah pula 🤭 maygad!

    Eniho, bicara soal jamban cemplung itu di dekat rumah simbah juga ada mba Nita 🙈 saya pernah coba sekali karena terpaksa sebab WC di rumah simbah sedang dipakai oleh keluarga besar lainnya. Terus ibu saya dengan idenya sendiri tentu tanpa persetujuan saya alias sedikit memaksa langsung mengajak saya ke jamban cemplung tepi kali dan meminta saya untuk ke sana. Hadehhhh yang ada saya nggak bisa. Entah malu karena open space dan entah takut jatuh ke bawah hahahahaa. Kalau mengingat kejadian itu bawaannya jadi kesal sama ibu padahal maksud ibu baik biar saya nggak sakit perutnya 😂

    Ps: saya jadi bisa visualisasikan rumah mbahnya mba Nita dari tulisan mba Nita. Bagus banget cara penyampaiannya mba 😍 detail hehehe jadi sambil baca sambil tergambarkan di otak sudut-sudut rumahnya. Thank you for sharing the stories, mba 😆💕

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wakakakkak ampunih dakuuuuuw mba eno, jadi menularkan hawa horror yak, gegara nulis lukisan hutan dan rawa-rawa juga review kuburannya wekekek, sejujurnya ini yang paling membekas di benakku pas cerita tentang rumah nenek, tapi jalanan desa ini kawit sekarang herannya ya masih seperti itu, tetep peteng dan banyak pohon tingginya, cuma memang uda pada diaspal alus semua, kecuali area jembatan yang bawahe mengalir kaii, nah itu masih setapakan aja dari jaman baheula hihihi


      Iya, walaupun beliau aslinya baik, tapi tetep aja kalau disuruh nginap dan ditinggal buatku gelisah, terus mikir biar hari cepet terlewati jadinya ngagendain kegiatan yang ga kerasa tau-tau udah sore aja, misalnya maraton baca majalah kartini, tabloid nova, dll, padahal aku masih kelas 3 SD waktu ituh hihi

      Iyaaaak wc cemplung ini lejend sekali emang masa-masa itu
      Dan letaknya selalu di belakang dekat kebon n rumpun bambu
      Wakakaka..,mana kakakku sering pewe kalau uda di situ, tapi emang adem sih hawanya, walaupun aku takut kalau tiba-tiba ada ular lewat hahahahah

      Aw aw, mamacih mba eno sayaaaaaang, selalu bersemangat aku kalau udah dikomen mba eno hihihi

      Hapus
  9. jaman aku cilik ya gini ini juga mba, nurut ae, lewat jalan gelap ya nunduk takut juga hahaha
    terus mitos kunang-kunang yang katanya kuku wong mati, ya aku percaya aja, dulu depan rumah aku sawah, jadi mainnya ke sawah, apalagi kalau nemu kunang-kunang, jaman sekarang kok ga pernah nemu ya

    nahh terus main jual-jualan dan masak-masakan juga pakai tanaman mie-miean itu, dan daun ceplok yang lebar, ga tau namanya hahaha. inget beberapa part aja jaman cilik, kalau sisa sisa yang ga keinget berarti aku masih kecil dan belum bisa mengingat kenangan itu. kalau liat foto album masa kecil, jadi mesem mesem sendiri

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yeay toast mba ai ^___________^

      Nah kan berarti bukan aku aja yang dicritani medeni bab kunang-kunang inih wkwkw

      Iyanjaman sekarang kunang-kunangnya bingung kali yak, soalnya ruang terbuka hijau n sawah2 uda pada dibangun perumahan hiks

      E ditambah suara 3 hewan lagi yang bener-bener ngingetin aku akan hawa pedesaan yang menenangkan djiwa mba ai, yaitu suara belalang, jangkrik, n garengpung yang bisa didenger di daerah nggunung, e garengpung bahasa indonesiane apa ya, tonggaret bukan yak

      Iya ini masak-masakan kayak ginian emang khas banget buat anak-anak yang tumbuh di era 90an hihihi

      Hapus
  10. kalo gw malah kebalikan seneng kalo disuruh nginep di rumah nenek, karna nenek gw baik banget, minta apa aja pasti di kasih, secara waktu itu gw adalah cucu pertama nya, jadi di manja parah :D

    gw jadi inget sama album foto yang di ceritain, kebetulan di keluarga gw juga punya, dari fotonya om tante, terus foto pernikahan jaman dulu, bikin nostalgia, makanya sekarang gw mencoba untuk nyimpen foto keluarga, biar nanti bisa jadi kenangan :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. ToooSs .. kita samaan mas Khanif 🙌😄

      Hapus
    2. Khanif : wih mangstab atuh nif, jadi cucu kesayangan nenek, biasanya cucu pertama tuh gitu ya, dikudang-kudang, ditumbaske opo ae hihihi

      Iya, aku juga sekarang kalau ada moment langsung jepret aja, cz waktu ga pernah kembali, sayang kalau kehilangan momentnya, btw gegara nulis ini aku pengen nostalgia album pengantin jadoelnya tante ku lagi deh hahahha

      Hapus
    3. Mas him : sama kayak hanif yak, jajaran cucu kesayangan nenek hihihi

      Hapus
    4. tapi cucu pertama banyak baban mbak, apalagi kalo udah gede gini, harapan keluarga bisa jadi orang sukses, tapi nyatanya samoai sekarang masih gini-gini aja huhuhu

      Hapus
    5. Iya nif ada benernya sih, anak pertama n cucu pertama biasanya diandelin banget, semangat nif
      Insyaalloh mah ntar kesuksesan menyertaimu juga asal tetap berusaha n berdoa 😊

      Hapus
  11. Waktu kecil aku memang suka tinggal sama nenek n kakek, soalnya sering dimanjain. Mau apa aja diturutin. Duh senengnya aku waktu itu. Wah2, mbaca tylisannya mbk ini jadi memorinya balik masa lalu, hehe....
    Thanks y, suguhan yang menarik. Mayan setelah lelah kerja, bisa rileks.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah syenangnya hihi, jadi kenangan masih buat diingat sekarang yak
      Sami-sami, lumayan buat ngajakin nostalgia yang lain, kayaknya banyak juga yang hampir sama masa kecilnya dengan yang kualami inih hihi

      Hapus
  12. Kalau aku dulu malah tinggal bareng Mbah Putri sama Mbah Kakung, Mbak Nit. Soalnya ayah ibu kerja dan kerjanya ibu ini shift. Jadi ibu khawatir gak bisa ngurusin aku dengan bener, sementara beliau juga waktu itu belum kuat secara ekonomi buat bayar art. Akhirnya aku dititipin ke rumah Mbah sejak masih bayi.

    Dan karena sejak bayi sudah sama Mbah, jadi Mbah ini sudah serasa seperti ayah ibu bagiku. Aku jadi lebih dekat dengan mereka daripada sama orang tua sendiri. Sebenarnya dulu sedih banget setiap ketemu ibu cuma di hari Sabtu Minggu doang, selepas itu ibu balik ke rumah yang deket tempat kerjanya. Rasanya kyk ibu dulu gak sayang aku gitu lho, Mbak Nit. Kok tega ninggalin aku. Akhirnya dulu aku jadi anak nakal yang gak nurut sama ibu. Gara-garanya masih kecil, jadi aku gak tau apa yang dirasakan ibu saat itu. Baru deh pas udah gede tau alasan ibu kenapa kok nitipin aku ke Mbah. Sekarang nyesel deh waktu ingat betapa nakalnya aku dulu.😭 Duh, malah jadi curhat nih aku jadinya.🤭

    Ngomong-ngomong waktu kecil dulu aku juga takut banget kalau lewat kuburan, Mbak. Setiap kali dibonceng dan harus lewat kuburan, aku langsung merem. Aku dulu juga gak berani nunjuk kuburan gara-gara kata temen kalau nunjuk kuburan, ntar ada setan yang ikut. Jadi kalau gak sengaja nunjuk kuburan, itu jari yang dipake nunjuk harus diemut dan ludah hasil emutannya itu harus dilepeh. Ada-ada aja ya pikiran anak yang masih kecil, Mbak.😂😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi ternyata mba roem lebih klulut ama mbah ya, kalau aku karena ibu anak mbarep jadi ibu ga tinggal bareng mbah...

      Wakakak, jaman cilik mba roem ternyata bandel toh, lucu bayanginnya, berarti sebelum nikah emang ama mbah apa langsung ama ayah ibu mba hihihi, tapi jadi ada cerita kan sekarang 😍

      Iya, samaaaa, herannya dulu kok ya aku sebangku ama teman yang hobi bangat cerita horror, pokoknya tiap ketemu ada aja yang diceritain, ntah itu kaki di sekolah sd yang angker, gundul pringis yang kata dia kedenger ada kelapa jatuh malem-malem ternyata kepala, pohon kelapa bercabang yang katanya angker, atau cerita tentang kuburan, hahahha, terus sebagai anak yang masih polos pikirannya aku mah percaya aja apa kata dia wkwkwk

      Hapus
  13. Jd inget, duluuu zaman SD tiap kali mudik ke Sibolga dan Sorkam, jujur aja aku Ama adek lgs cemberut. Ga suka. Alasan pertama, sibolga itu msh hrs 10-13 jam LG dr Medan kalo naik mobil. Mana jalannya dr Tarutung sampe sibolga kelokan trus non stop 2 jam!! Aku dulu msh srg mabokan nit, makanya sebel bgt kalo udh ksana.

    Alasan kedua, rumah nenekku ga pake AC hahahahaha. Secara anak kecil yg udh biasa pake AC di rumah, giliran ke rumah kampung yg tanpa AC dan panas bin gerah , ya pasti uring2an :p. Sibloga itu daerah pesisir pula. Bayangin aja panasnya.

    Alasan ketiga, rumah nenekku msh pake sumur yg hrs ditimba. Itupun airnya ga jernih hahahahahah. Pilihannya mandi nimba sumur, ato ke sungai yg sama aja coklat wrna airnya. Ya akukan geliiii , apalgi biasa mandi shower air anget di rumah :D.

    Alasan ke4, di sana msh banyak nyamuk. Dan kalo tidur pasti hrs pasang obat nyamuk bakar yg baunya nempel di badan pas pagi :p.

    Duuuuh ini kalo dipikir kok ga ada yg menariknya yaaa hahahaha. Tp jujur aja, sampe skrpun, aku ga terlalu seneng tiap mudik ke sana nit. Pasti berusaha sebentar doang, dan lgs balik LG ke Medan. Untungnya skr papa udh mau diajak nginep di hotel kalo ke sibolga. Dulu boro2, harus di rumah. Mungkin Krn ga ada kenangan manis sedikitpun sih, makanya aku sampe skr ga terlalu tertarik tiap diajak mudik ke kampung papa.

    Kalo kampung mama? Kakek nenek dari pihak mama udh meninggal sejak aku kecil. Nenek malah meninggal pas mamaku umur 2 thn. Jd samasekali ga kenal. Makanya aku ga prnh ke kampung mamaku, lagian kluarg besarnya mostly di Jakarta :D. Makanya kalo mudik ya berarti ke JKT dulu itu :D. Aku LBH suka laaah hahahaha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wakakakka, ternyata kamouang halaman papa mba fanny di daerah pesisir ya, emang kalau pesisir rata-rata airnya susah dan kurang jernih, juga kalau dirasa-rasa asin kan hihi

      Eh tapi sama dong, kalau sekarangbkata pak su aku kok makin nggaya, masalahnya sekarang aku d rumah panjer ac terus lha begitu pulkam ga ada ac, ya ngalamat dikerubungin nyamuk dan harus pasang paling ga kipas angin yang guede hihihi

      Eh tapi pas diceritain ini seruuuuu mba faaan...jadi ada kenangan lucunya, walaupun samaannkayak akoooh yaitu lebih banyak ga betahnya pas suruh nginap tempat nenek hahahhah

      Hapus
  14. Waaaah mbahnya Mba Nita rameee amat anaknya cewek semua ya hihi

    Aku dan adikku dulu juga suka dititipin di rumah nenek yang memang nggak jauh dari rumahku. Tapi bedanya aku senang-senang aja sih tiap kali ke sana. Mungkin karena aku dekattt sama nenek. Kata mama karena aku cucu pertama jadinya disayang-sayang. Masih inget banget kakekku suka muterin video Mr Bean yang masih pake VHS, sementara nenek sibuk masakin cucu2nya di dapur. Biasanya aku di rumah nenek sampai sore sebelum makan malam. Sore itu agendanya belajar naik sepeda roda dua. Dipikir-pikir lucu juga yaa kenangan belajar sepeda malah di gang rumah nenek 😆

    Setelah nikah pun aku masih suka menyempatkan ngunjungin nenek. Beliau senang sekali tiap tau aku mau datang, langsung dimasakin ini itu. Pokoknya kalo ke rumah harus dengan perut kosong. Setelah itu ngobrol2, nonton film bareng dan pulang. Waktu anakku belum setahun, juga kusering ajak main ke rumah nenek. Senang banget nenek bisa ngelonin cicit pertamanya hihi

    Nenek tiba2 meninggal saat acara ultah anakku yang pertama. Sampai hari ini masih kangen sekali dengan beliau 😊

    Ahh seruu baca ceritanya mba Nita ini. Terasa hangat di hatii (kecuali soal rute kuburan, itu SKIP! wkwkwk). Makasih yaa udah nulis ini, kita jadi diajak nostalgia dehh di rumah nenek masing2 hahaha maap yaa Mba numpang curhat jadinya aku di sini 😝

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aaawww....manis banget kenangan mba jane jaman piyik bersama nenek, dan sampai mba jane dewasa plus ada baby josh untung masih sempat menangi ya walaupun ga lama kemudian nenek berpulang...

      Ahahah jadi latihan nyepeda roda duanya di tempat nenek, seruuuu, kebanyang neneknya mba jane ngemong banget ama cucuuu hihi

      Dan entah kenapa, selain masakan ibu, masakan nenek juga kayak ada sihirnya, yaitu bisa menciptakan kenangan tersendiri dan ga bisa tergantikan oleh apapun 😍😍

      Hapus

Komenin dong...tanpa kehadiran kalian apalah arti aku menulis....
kalian penyemangat setiap bulir kalimat dalam blog ini :*
Namun jangan komentar SARU atau SARA ya, jika ada komentar dengan unsur tersebut, dengan berat hati akan aku HAPUS .

Oh ya, Dilarang juga mengambil gambar/foto atau menyadur tulisan tanpa mencantumkan sumber atau seijin pemiliknya. Apalagi untuk kepentingan komersial atau lomba. Thx ^____^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...