Rabu, 17 Maret 2021

Cerbung Majalah Bobo Jadoel 90-an : Si Kembar dan Mahluk Mineractus




Oleh : Gustyanita Pratiwi

Kali ini aku akan bernostalgia dengan Cerbung Majalah Bobo yang berjudul "Si Kembar dan Mahluk Mineractus". Sebuah cerbung di Majalah Bobo jadul yang identik dengan tokoh kembar perempuan~laki-laki bernama Regina dan Rexi, juga mahluk mineractus bernama Safir dan Rubi. Sedangkan musuhnya bernama Tuta Hoga dan Polydore. Ditulis dengan apik oleh Vanda Parengkuan dengan ilustrasi Yoyok yang begitu melekat di hati. 

Soalnya gambarnya itu beneran membangkitkan imajinasiku banget tentang si mahluk mineractusnya ini, juga kehidupan di alam bawah tanahnya seperti apa. Gambarnya simple tapi ngena banget. Makanya salah satu cerbung Majalah Bobo yang aku hapal walaupun lupa endingnya ya cerbung ini.


Cerbung Majalah Bobo Jadoel 90-an : Si Kembar dan Mahluk Mineractus 


Oh ya, cerbung "Si Kembar dan Mahluk Mineracus" ini adanya di : 

Majalah Bobo No. 11, tanggal 19 Juni 1997 
Majalah Bobo No. 21, tanggal 28 Agustus 1997
Majalah Bobo No. 23, tanggal 11 September 1997
Majalah Bobo No. 24, tanggal 18, September 1997

Aku sendiri belum punya lengkap ya. Ada beberapa nomor yang masih bolong-bolong di tengah. Tapi karena ada seorang teman pembaca yang request agar aku mengulasnya (dan kebetulan aku juga suka ama ceritanya), maka aku tuliskan saja garis besarnya. Berharap supaya yang sedang mengingat-ingat cerita ini bisa bernostalgia lagi begitu nemu tulisanku.

Okey langsung saja ya. 

Ini dia ceritanya.

Sinopsis Cerbung Majalah Bobo : Si Kembar dan Mahluk Mineractus

Sepasang anak kembar berbeda jenis kelamin bernama Regina dan Rexi ikut ayahnya Dokter Heri untuk berlibur ke Pulau Limeto, salah satu pulau terpencil yang sangat indah dan penuh dengan perbukitan juga hutan perawan. Diantarkan dengan menggunakan pesawat pribadi yang dikemudikan oleh seorang pilot dan co-pilot, rencananya mereka akan tinggal di rumah Dokter Tindas, teman Dokter Heri yang memilih mengabdikan dirinya di tempat ia dilahirkan dulu. 

Pulau Limeto sendiri suasananya sangat sunyi dan penuh dengan pohon-pohon besar yang menghiasi. Bahkan Regina saja sampai ingin membuat puisi setelah melihat pohon-pohon di sekelilingnya itu seperti menari. Ia tidak mempedulikan kembaraannya Rexi yang sibuk mengomel karena dirinya malah sibuk berjalan ke sana kemari sambil bersentimentil-sentimentil ria melantunkan kata-kata indah. Kalung pemberian ayahnya yang berkilatan mengikuti gerak langkahnya yang centil diantara jalan yang berbukit-bukit itu. 

Sampai kemudian, saat angin berhembus datang, sayup-sayup terdengar seperti suara orang tertawa yang seram sekali. "Eheeee...eheeee..eheee !" begitulah bunyinya. Bulu kuduk Regina pun meremang. Ia menghentikan langkahnya hingga rambutnya yang panjang sepinggang berhenti berkibar setelah angin (yang disertai suara tawa  itu) ikut berhenti. Ia pun segera menuju ke arah ayahnya maupun Rexi yang memastikan bahwa suara tersebut hanya suara angin saja. Mereka pun bergegas mengemasi barang karena tak lama kemudian mobil jeep hitam jemputan Dokter Tindas datang. Mereka kemudian berpindah dari pesawat pribadi menuju jeep hitam kepunyaan Dokter Tindas tersebut untuk selanjutnya dibawa ke rumahnya. 

Perjalanan ke rumah Dokter Tindas memakan waktu hingga 2 jam dan sempat dibarengi dengan hujan lebat. Namun demikian tak menyurutkan semangat anak-anak itu untuk menikmati liburan kali ini. Kapan lagi bisa menghabiskan hari di pulau yang sangat cantik ini. Jadi, setibanya di rumah Dokter Tindas, mereka segera bisa mengistirahatkan badan setelah capek seharian dalam perjalanan. Terlebih suasana rumahnya juga sangat nyaman dan asri. Di sana, ada seorang pelayan laki-laki bernama Utu yang tugasnya adalah bantu-bantu. Termasuk juga menyiapkan makanan dan lain-lain. 

Malamnya, saat sedang tidur, Regina malah bermimpi buruk. Ia didatangi oleh seorang kakek tua berambut panjang acak-acakan, bergigi berantakan, serta bermata merah. Kakek tua tersebut memotong rambut indah Regina sambil tertawa "Eheeee...eheeee..eheee !" Bunyi tawa yang sangat mirip dengan tawa yang ia pikir hembusan angin saat pertama kali tiba di Pulau Limeto. Seluruh tubuh Regina pun bercucuran keringat dingin. Ia ketakutan sehingga mengigau. Mendengar hal itu, Rexi pun masuk ke kamar Regina dan membangunkannya. Ia kemudian diberitahu isi mimpi Regina yang mengisyaratkan adanya suatu kejahatan di Pulau Limeto. 

Keduanya kemudian sepakat untuk menanyakannya pada 'Buku Perak'. Buku perak ini didapat dari perpaduan antara sepasang gelang perak yang ditautkan dan sebelumnya telah dibeli oleh Dokter Heri di sebuah toko antik. Tak tahunya gelang perak tersebut mempunyai kekuatan yang selanjutnya dirahasiakan oleh kedua anaknya. 

Long story short, dengan saling menempelkan gelang perak yang melingkar di pergelangan tangan masing-masing, tiba-tiba muncullah buku perak yang dimaksud. Mereka kemudian bertanya apakah ada kejahatan di Pulau Limeto. Buku Perak pun menjawab 'B' yang artinya adalah Betul. Lalu kejahatan apa yang dimaksud? Kembali Buku Perak menjawab tapi kali ini dalam bentuk teka-teki.

Teka-tekinya berbunyi seperti ini :

Di tempat pohon-pohon berpesta
di bawah bayangan flamboyan raksasa
tiada dedaunan di atasnya...
si besar tak tahan terjaga
ada kehidupan di dalamnya
ada kematian di dalamnya.


Regina bermimpi rambut panjangnya dipoting sesosok kakek tua yang tawanya seperti didengar saat pertama kali tiba di Pulau Limeto



Lalu setelahnya Buku Perak menghilang dan meninggalkan rasa penasaran di benak kedua anak kembar itu. 

Keesokan harinya, saat sedang kumpul bersama sambil makan pisang goreng bikinan Utu, Rexi pun mencoba bertanya kepada Dokter Tindas adakah tempat di sekitar sini yang memiliki pohon lebat? Dokter Tindas pun menjawab ada. Tapi letaknya ada di sebuah hutan di pucak bukit. Konon katanya hutan tersebut sangat angker. Dulu sewaktu kecil, kakeknya berkata bahwa di sana ada mahluk aneh yang berasal dari bahan mineral dengan tubuh warna-warni dan tembus pandang seperti jeli atau agar-agar. Mereka muncul dari dalam tanah di antara pohon-pohon itu. Sejak lahir mahluk-mahluk ini telah dibekali dengan kalung yang dapat menjaga keseimbangan tubuhnya. Pokoknya kalung tersebut jangan sampai lepas jika tidak ingin tubuh mereka melemah lalu kemudian mati. Tapi Dokter Tindas tidak tahu sih kalau hal tersebut benar atau tidaknya. 

Ketika Dokter Heri memutuskan untuk ikut ke tempat praktik Dokter Tindas, Rexipun minta tolong Utu untuk mengantarkannya ke hutan itu. Awalnya, Regina tak diajaknya karena takut bakal merepotkan. Tapi kemudian ia ajak juga sebab kembarannya itu memaksa ikut. Bertiga kemudian sepakat pergi ke hutan, tanpa sepengetahuan Dokter Heri maupun Dokter Tindas.

Setibanya di hutan, Rexi bertanya lagi pada Utu apakah di sana ada pohon flamboyan raksasa. Utu pun menjawab ada dan segera menunjukkan keberadaan pohon itu. Pohon yang ternyata berdaun merah dan batangnya jauh lebih besar dibandingkan dengan pohon-pohon di sekitarnya. Anehnya, setelah tiba di situ tiba-tiba Utu merasa mengantuk dan lantas jatuh tertidur. Regina pun menyelimuti Utu dengan menggunakan jaket milik laki-laki itu. Ia dan Rexi akhirnya berkesimpulan bahwa jangan-jangan Utu mengantuk karena sesuai dengan salah satu teka-teki dari Buku Perak. Itu loh yang bunyinya 'si besar tak tahan terjaga' yang artinya barang siapa yang melintasi area pohon flamboyan raksasa itu dan berusia dewasa, maka ia bakal mengantuk dan kemudian tertidur. Berbeda dengan Rexi dan Regina yang masih pantaran usia SD kelas 5 dan masih terjaga dengan lincahnya. Keduanya pun kemudian menyocokkan teka-teki buku perak lainnya yang berbunyi 'tiada dedaunan di atasnya...' Lalu saat kaki mereka berpijak pada area yang membentuk segi lima serta di atas tanahnya bersih tanpa dedauan sedikitpun yang mengotorinya, tiba-tiba terdengar suara seperti permukaan tanahnya terbuka. "Sruuukkk...sruuukkk...sruuuk!!" Mereka kemudian jatuh terperosok ke dalam lubang yang jauh berada di bawah tanah. 


Akhirnya Regina & Rexi menemukan pohon flamboyan raksasa yang disebutkan dalam teka-teki buku perak

Rambut panjang Regina dipotong Tuta Hoga untuk menetaskan telur Polydore



Singkat cerita, Regina dan Rexi kemudian masuk ke dunia bawah tanah dimana mereka terseok-seok tak tentu arah. Rexi terutama karena ia tidak memiliki kalung seperti Regina. Mereka kemudian bertemu dengan mahluk seperti jeli yang tembus pandang warna-warni seperti yang diceritakan oleh Dokter Tindas kemarin. Mahluk-mahluk ini lah yang disebut sebagai mahluk mineractus. Kebetulan yang mereka temui itu jumlahnya ada 2. Yang satu berwarna merah yaitu Safir, dan yang satunya lagi berwarna biru yaitu Rubi. 

Setelah berkenalan lebih jauh dan memastikan Safir dan Rubi tidak jahat, Rexipun diberikan kalung supaya dapat berjalan dengan seimbang, tidak terjatuh-jatuh lagi. Pantaslah Regina tidak terjatuh-jatuh seperti dirinya karena ternyata ia sudah punya kalung. Berarti memang benar dong kekuatan kalung itu. Walaupun sebelumnya ia tak mengira bahwa kalung Regina bisa seberpengaruh itu. 

Safir dan Rubi kemudian bercerita tentang sosok jahat yang dimaksud dan ternyata terletak pada seorang kakek tua bertampang buruk rupa bernama Tuta Hoga. Tuta Hoga ini dulunya adalah anak seorang dukun. Saat ayahnya sedang sekarat, Tuta Hoga kecil diwariskan sebuah oleh ayahnya yang dipercaya bisa mengantarkannya pada kekayaan. Caranya adalah ia harus menetaskan sebutir telur mahluk bernama Polydore dengan menggunakan potongan rambut anak perempuan yang memiliki saudara kembar. Polydore ini ditengarai sebagai mahluk yang dapat memakan habis mahluk-mahluk mineractus yang bertugas menjaga padang permata. Nantinya, jika mahluk mineractusnya sudah habis, maka bisa dipastikan Tuta Hoga bisa menguasainya. Nah, kalung tersebut akan berkedip dengan sendirinya lalu bandulnya berubah warna dari putih menjadi ungu jika keberadaan anak perempuan berambut panjang yang memiliki kembaran itu ditemukan. Maka tak heran jika Tuta Huga langsung tahu keberadaan Regina saat pertama kali pesawat yang ditumpangi Regina mendarat di Pulau Limeto. Oleh karenanya ia langsung memberikan sinyal dengan mengeluarkan tawa aneh yang nyaru dengan datangnya hembusan angin. 

Sayangnya, Tuta Hoga kecil tidak selesai mendengarkan penuturan ayahnya itu. Bahkan saat ayahnya meninggalpun ia tidak hadir. Dirinya malah melarikan diri ke padang permata dan saban hari mengamati tempat itu sampai lupa bagaimana caranya mengurus diri. Umurnya makin menua, rambutnya memanjang dan acak-acakan, giginya jelek, dan matanya merah. Ia sangat berharap moment telor Polydore dapat menetas itu segera tiba. Tentunya setelah dierami oleh potongan rambut panjang seorang anak perempuan yang memiliki kembaran.

Sialnya, saat sedang berjalan diantara lorong-lorong bawah tanah yang samping-sampungnya menjulur akar-akar pohon, juga sesekali melintas hewan tanah, rombongan mereka tak sadar diikuti Tuta Hoga. Saat Rexi, Safir, dan Rubi lengah, Regina berhasil diculik pria tua itu dan disekap di kediamannya yang cukup tersembunyi. Di sana, tangan dan kaki Regina diikat dengan menggunakan akar pohon, rambutnya lalu dipotong dengan paksa sehingga membuat Regina menangis tersedu-sedu. Bagaimana tidak, rambutnya yang hitam, indah, lagi panjang sepinggang yang selama ini selalu dirawatnya dengan tonik dan juga shampoo dengan paksa dipapras habis oleh Tuta Hoga untuk mengerami telur Polydore. Telur tersebut kemudian menetas dan Polydore kecil pun mulai bertumbuh dari hari ke hari. Bahkan gawatnya lagi adalah ia akan berubah menjadi raksasa hanya dalam kurun 2 hari. Untuk itulah Rexi, Safir dan Rubi berpacu dengan waktu untuk bisa segera menemukan Regina dan mencari cara agar bisa membunuh Polydore. (Sinopsis disarikan oleh Gustyanita Pratiwi)

Nah, lanjutannya apa...sejujurnya aku ga dapat episode akhirnya. Walaupun sewaktu SD dulu seingatku aku udah pernah baca bagian akhirnya, itupun dapat pinjam dari teman sekelas yang langganan. Cuma memang lupa endingnya kayak gimana #hiks...Tapi meskipun begitu, seenggaknya aku masih bisa bernostalgia dengan ceritanya walaupun ada bolong separuh. 

Nah, demikianlah, semoga bisa membantu menjawab request dari teman pembaca yang ingin aku menceritakan garis besar Cerbung Majalah Bobo : Si Kembar dan Mahluk Mineractus. Semoga membantu ya :)


Sudah dulu ya...

Saatnya aku mau leyeh-leyeh dulu.

Sampai jumpa lagi di postingan selanjutnya :)










 

38 komentar:

  1. Very interesting. Thanks for the information.

    Kisses

    BalasHapus
    Balasan
    1. thank you joanna, this series was in my favorite magazine when i was a kid 😍, Bobo Magazine

      Hapus
  2. sebagai pembaca majalah Bobo dari yang harganya 1000an kayaknya, aku nggak inget dengan tokoh REgina, Rexi. Malah kalau pengarangnya mba Vanda masih inget betul, karena dulu namanya memang sering terpampang di majalah hehe
    dan aku kecil cuman bisa mikir, pinter banget sih mba Vanda ini bikin imajinasi anak kecil gimana gitu. Idenya nemu aja

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul nama ibu vanda parengkuan memang melekat banget dengan cerita cerita anak di majalah Bobo Mba Ainun πŸ˜ƒ

      Hapus
  3. Rubrik cerpen itu satu-satunya yang ga aku baca dari bobo wkwkwkwkwk

    OMAIGAT, koleksian majalah bobonyaaaaa! Precious banget!

    Aku yakin itu nantinya bakal jadi antik dan harganya mahal.. Edan, itu majalah tahun kapan masih di simpen yaaaa T.T

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya bang hahhahaha...Tapi kalau ini cerbungnya sih, bukan cerpen. Memang dulu pas masih bocil mikirnya yang banyak tulisannya itu agak berat ya buat dibaca kayak misalnya cepen, dongeng, cerbung. Kutebak pasti lebih demen baca yang banyak gambarnya nih?

      tapi pas udah gede begini, begitu liat di e commerce ada cerbung, cerpen, dongeng Bobo dimasa lalu, lalu mencoba kubaca lagie....eh lha kok aku malah kangen buat baca ulang, maka dari situlah akhirnya kuniatinlah untuk hunting bundel-bundel majalah bobo lagi. Yoih jadi huntingnya justru pas uda gede gini Bang πŸ˜ƒπŸ˜…

      kalau yang koleksi jaman kecil mah udah diloakin sama ibu bang...padahal ada berkardus-kardus, banyak yang dikasih sodara atau temen juga, sayang pas pulkam kucari di gudang uda ga ada :'(

      Hapus
  4. Wah suka baca bobo jadul juga ya Mbul? Saya juga koleksi bobo jadul dari tahun 80an sampai awal 2000an

    Btw, Si Kembar dan Makhluk Mineractus ini udah diterbitin ulang loh di buku kumpulan dongeng bobo nomer 79, tapi mungkin bedanya ilustrasinya nggak senostalgia jaman dulu.. yang sekarang lebih kekinian 😁

    Barangkali penasaran coba browsing aja di tokped atau shopee sapa tau masih ada 😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. suka banget pak guru edotz...si mbul koleksi yang 1990-1999..tapi yang paling mbul suka yang 1995, 1996, 1997. Belom lengkap..hwahahhaha

      wah asyikkkkk! dikasi tahu uda diterbitin ulang di bobo nomer 79, bentar lagi kukubek kubek dulu ah e commerce nya wkwkwk

      #ratjoen ini mah ratjoen


      iyaaa yang sekarang ilustrasinya ga sememorable yang dulu dulu...tapi ga pa pa deh...yang penting ceritanya nemu lagi buat takbaca baca ulang Pak guru πŸ˜πŸ˜„πŸ˜ƒ

      Hapus
  5. ini ceritany nampak bergitu seram

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul kak, ada cerita 'gelapnya' meski cerita anak-anak. Tapi kalau ga salah ingat akhirnya happy ending kok πŸ˜ƒ

      Hapus
  6. Wuudihhh ada cerpen majalah jadul bobo tahun zebot..😊😊 Sepertinya unik dan menarik ceritanya nih.😊😊


    Ntar malam aku baca deh mbul..Sekarang lagi sibuk Berkarier...Ehh salah Berkelir maksudku.πŸ˜†πŸ˜†

    BalasHapus
    Balasan
    1. asyiiiikk...ditunggu komennya kang satria

      bener loh tar malam komentarin alur ceritanya yang super duper puanjaaaaaaaaaaaaang kek biasanya ya kang...ingat komenin alur ceritanya 🀭🀭🀭

      Hapus
  7. "Bona dan Ron-ron gajah kecil berbelalai panjang.." sambil nyanyi, trua isi kepala langsung keluar kenangan majalah bobo. Asli, Seru.

    BalasHapus
    Balasan
    1. khusus untuk bahasan bona dan rong rong nanti aku buatkan post tersendiri ya mas supriyadi 😊

      Hapus
  8. Sueee, sudah baca serius serius tapi malah cuma sepotong saja, ayo tanggung jawab nyelesein cerbung nya.😬

    Kalo cerpen atau cerbung di majalah bobo aku ngga terlalu ingat, ingatnya malah Bona gajah kecil berbelalai panjang dan petualangan di negeri wakanda eh negeri dongeng.

    Kalo aku udah ngga ingat soalnya dulu kadang bacanya punya teman yang kebetulan beli majalah bobo.

    Kalo koleksi ku waktu kecil malah komik Tatang S, yang tokohnya Petruk Gareng Bagong dan Semar.😁😁😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. hwaaa ΰΈ…(ΰΉ‘⊙Π΄⊙ΰΉ‘)ΰΈ…!! ampuni aim ya Alloh uda gantungin hanger di tiang jemuran...#eh gantungin ceritanya maksudnya πŸ˜œπŸ˜±πŸ˜πŸ˜†

      episode akhirnya mbul ga punya amas aguuuussss huhuhu

      gimana gimana, seandainya mas agus yang nerusin ceritanya kira kira regina, rexi, safir, rubi, tuta hoga dan polydorenya akan digimanain tuh endingnya?

      berarti nanti mbul siapin materi cergam Bona dan Rong Rong beneran yak...soalnya banyak fansnya bona si gajah pink yang unyuk itu weekkeke

      o komik tatang S adalah tentang Punakawan ya mas, kirain mas agus bacaannya Abdullah harahap thok πŸ™„πŸ€­πŸ€­

      nita dulu baca yang mirip mirip punakawan juga mas, tapi kayaknya masuknya di majalah apa ya si kuncung bukan ya...nita lupa deh..pokoknya bendelan gitu dan perpustakaan sekolah nita langganan itu πŸ˜πŸ˜ƒ

      Hapus
    2. Sudah ada tuh lanjutannya, silahkan baca di blog aku.😁

      #numpangpromosi.🀣

      Hapus
    3. oi oi oi amas aguuus bayar retribusi dan pph...uda numpang promo nih

      (*・Ο‰・οΎ‰οΎ‰οΎž☆゚゚

      Hapus
  9. wah aku engga ingat apdahal taun 1996-1999an aku masih langganan dulu
    yang kuingat pas hypenya Sea games maskotnya anoman mbak taun 19997 ini
    tapi cerpen bobo sukanya selalu ada teka teki
    kalau engga kayak cerita berantai yang pasti kasus dengan bantuan polisi
    ala ala pasukan mau tahu

    BalasHapus
    Balasan
    1. kelewatan edisi iki opo mas ikrom, soale iki ngarep mburi mbi komik sisipan Janji Irene wkwkw

      aku malah baru tau sik anoman kui loh

      iya banyak teka tekinya jadi nggarai penasaran n pingin moco terus lanjutannya :D

      Hapus
  10. 1. Yaa kisah yang menarik...Dan cerita ini lebih bagus memang untuk mendongengkan anak...Terbukti gw dongengkan cerita ini anak gw tidur langsung..🀣 🀣

    Regina & Rexi anak kembar yang diajak berlibur disebuah pulau aneh. Yang bernama pulau Limeto..Meski pulau itu terlihat cantik dan penuh dengan keindahan tetapi pulau itu ternyata menyimpan banyak misteri didalamnya.😳😳

    Terbukti saat Regina & Rexi sedang asik menikmati alam dipulau itu sayup2 terdengar suara Mak lampir jambe yang sedang nyirih sambil tertawa2...Heeeheeeer...Eeeheee...Eeehheeee..Heeheee..🀣 🀣 πŸ˜† Namun sikembar sepertinya tetap optimis bawa itu hanya halusinasi saja.

    Sampai pada akhirnya saat malam tiba Regina bermimpi ia didatangi Aki jerangkong begigi mirip ikan todak serta bermata belo merah...Sambil tertawa terkekek-kekek Aki jerangkong berkata.

    "Bagus juga nih rambut si Reginong, Gw potong aahh buat rambut palsu keren pastinya dan kalau gw jual disalon Vina Alfonita bisa untung belipat-lipat gw nih"..πŸ˜†πŸ˜†πŸ€£ 🀣

    Akhirnya apa yang dialami Reginong didengar oleh kembarannya Rexi, Ia pun menyadarinya meski keadaan rambut Reginong telah plontos dan pitak karena digondol oleh Aki jerangkong.😁😁

    Hingga keduanya pun penasaran dengan keadaan dipulau Remito. Akhirnya keduanya pun terpaksa mengeluarkan kitab perak Wasiat Dewa dan menyatukannya dengan kapak perak Naga Geni 212..🀯 🀯 hingga terbuktilah bahwa pulau itu memang angker karena dikitab itu terukir huruf B yang berarti pulau itu memang membetekan..πŸ€ͺ

    Dan akhirnya dengan bantuan si Utu anak kembar itupun menujun pohon Flamboyan merah tanpa menunggu lama akhirnya keduanya menemukan pohon yang ia cari...Namun sial bagi si Utu karena kekeyangan makan oseng2 mercon jatung bebek yang dibelinya diwarung mpok mbul iapun akhirnya tertidur dan pulas mendengkur.🀣 🀣

    BalasHapus
    Balasan
    1. Horeeeeew!! Kalau Kang Satria uda komen aku siap-siap senam perut karena pengen ketawa sampe guling guling dan keluar aer mata πŸ˜‚πŸ€£πŸ€£


      bener...bener...ini pas banget buat dongengin anak-anak tidur kang, makanya kalau anak kang satria hendak tidur, segera buka blog Mbul yang ini ya, biar pageview aku naik #etttttttt

      wkwkwkkw

      Kang....anjir banget deh aku ketawa ngakak beneran kann..kan???

      masa tuta hoganya kayak ikan todak? wakkakakakak...

      dan rambut regina mau dipapras dijadiin rambut palsu dan dijual ke salon mba vina πŸ˜†πŸ€­πŸ€­πŸ€­

      tapi rambut regina ga sampe pitak kang, cuma bondol cepak aja kayak lakik wkwkwk

      berarti si Utunya nglayap mulu di warung Mbul buat makan oseng mercon jantung bebek ye Kang hahahhahah? Kalau cepat ngantuk jangan-jangan dia gula darah tinggi tuh huhu

      Hapus
  11. 2. Akhirnya karena tak tega melihat si Utu kekeyangan dengan terpaksa kedua anak kembar itu membiarkan Utu tidur pulas. Lalu keduanya tetap menelusuri ridangnya pohon Flamboyan itu sambil menembangkan sebuah lagu yang berjudul bunga Flamboyan.

    Seindah cinta yang pernah kurasakan
    Begitu juga kemesraan wajahnya
    Bunga flamboyan ganti dirimu
    Yang kini tiada lagi

    Bunga flamboyan yang tumbuh di halaman
    Terjalin indah menemani hidupku
    Tak ingin lagi aku berpisah
    Walau hanya sekejap saja

    Bila kau ingin datang kembali
    Seperti pertama bertemu
    Tak jua aku melepaskan
    Bunga flamboyan yang tumbuh di halaman

    Terjalin indah menemani hidupku
    Biarpun layu kau kusayangi
    Seperti cintaku padamu.πŸ˜†πŸ˜†

    Akhirnya karena nyanyian kedua anak kembar itu terdengar Fals tanpa mereka sadari akhirnya keduanya terperosok kedalam lubang bawah tanah yang akhirnya menyebabkan keduanya terdampar dikawasan pusat grosir Batu Cincin Rawa Bening.😳πŸ₯΄ Disana kedua anak kembar itu bertemu dengan aneka macam batu yang bisa berbicara.🀣 🀣

    BalasHapus
    Balasan
    1. wakakkakakakka...kang satria ampun deh...masih berlanjut aja nglawaknya...makasih loh bikin Mbul terhibur

      coba kucari bagaimana itu nyanyian Pohon Flamboyan wakkakaaka

      emang beneran kah warna daunnya merah begitu ya kang, aku jujur lupa deh pohon flamboyan kayak gimana.

      Keduanya pas di atas tanah kosong area segi lima tanpa daun di atasnya sempet nyari-nyari kayak tuas atau apa gitu Kan, kan penasaran apa bener ada keajaiban atau ga di situ...e tau tau tanahnya ngebuka, lalu akhirnya mereka jatuh terjerembab di dunia mahluk berbentuk agak-agar atau jeli tembus pandang kang, kok batu akik sih hahhahahahhahaah

      Hapus
  12. Batu2 tersebut bernama Ruby, Mirah delima, Safir, Bacan, Dan Lumut aceh...🀣 🀣 Dari batu2 yang bisa berbicara itulah sikembar mengetahui siapa sosok jahat yang selalu meresahkan pulau Limeto. Dia adalah Tuta Hoga seorang Aki Jerangkong Sakti yang memiliki pukulan Kelabang Hijau yang maha Dashyat.😁😁

    Terbukti saat si kembar itu menyelidiki dimana keberadaan Tuta Hoga bersama batu2 bernyawa yang bernama Safir, Rubi dll...Ternyata dengan pukulan Kelabang Hijau Tuta Hoga berhasil menculik Reginong, Ternyata Kapak Maut Perak Naga Geni 212 tak kuasa menghadapi pukulan Kelabang Hijau milik Tuta Hoga. Dalam ketidak berdayaannya Reginong pun menangis tersedu2 karena rambutnya yang panjang dan berkilau yang selalu ia rawat disalon Alfonita kini tiada lagi. Karena rambut itu dipangkas oleh Tuta Hoga untuk mengerami Telur Menila ( Bebek ) Miliknya.

    Dan sialnya lagi dalam keadaan tak berdaya kontrak cerita Reginong dimajalah Bobo tahun zebot itu pun akhirnya berakhir....Selain itu Sutradara cerita anak yang berjudul Si Kembar dan Mahluk Mineractus ini, Yang bernama Beb Mbul Van Helen Weleh-Weleh lebih mementingkan bisnis kuliner Tumis Waluh Jipangnya yang memang sudah ia geluti sejak dirinya sering mangkal dipasar Lama Tangerang. πŸ₯΄ πŸ€ͺπŸ€ͺ πŸ₯΄ 🀣 🀣 🀣

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masih mendingan bisnis rongdo saja, banyak peminatnya dari pada bisnis waluh.πŸ˜„

      Hapus
    2. Kang Satria : Waduuuh kok ada Mirah Delima, Bacan dan Lumut Acehnya juga Kang Sat? hahahhahahahhaha...o ini yang ada di toko batu akik kawasan rawa bening ya wkwkwkwk

      bisaaa aja nih si Tuta Hoga ditambahin punya ajian pukulan kelabang hijau...hahahhahahhahah...

      Anjrit paling ngakaknya adalah puncline telur menila....ih bisaan aja deh emang Kang Satria nglawaknya....

      aku kan beneran jadi kebayangvtelur menila hahhahahahhaha

      Hapus
    3. Mas Agus : hwaaaaa ΰΈ…(ΰΉ‘⊙Π΄⊙ΰΉ‘)ΰΈ…!!
      kok rongdo siiiy
      huft

      mbul mau bisnis ronde aja..ntar mbul bercocok tanam jahenya saja dulu

      γƒΎ(❀╹◡╹)οΎ‰οΎž❀~

      Hapus
  13. Saat ceritanya terbit, usia saya masih dua tahun. Enggak ingat kalau cerita ini pernah ada di Majalah Bobo. Mungkin yang saya baca era-era 2000-an dan kisahya udah berbeda, ya. Haha.

    Biasanya sih dalam cerita anak, bocah-bocah itu berhasil mengalahkan si kakek-kakek (anak dukun itu). Mungkin Rubi dan Safir yang merupakan jenis bebatuan mulia ini masing-masing akan didapatkan oleh si anak kembar. Terus mereka kaya deh. Ngasal banget anjir nebak kelanjutan ceritanya. XD

    BalasHapus
    Balasan
    1. bisa banget imajinasimu yoga hahhahaha..tapi kalau ga salah ingat endingnya itu ga jadi bandul kalung juga sih si rubi dan safirnya, tapi polydorenya mati, tuta hoga beneran dikalahkan, dan dunia mahluk mineractus kembali aman, tapi tetep di bawah tanah sana...sementara si kembari bisa balik lagi ke permukaan tanah, cuma detailnya seperti apa aku lupa wkwkkwkw

      Hapus
  14. Ingat Majalah Bobo, jadi ingat pengalaman pertama nulis cerpen dan di muat di Bobo. Itu terjadi saat saya duduk di kelas 3 SMP. Dapet hadiah payung cantik, senangnya bminta ampun.

    Alhamdulillah cita-cita sejak kecil pengen jadi penulis kesampean, walaupun hanya menjadi seorang penulis blog, heheee...

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah keren mang maman ternyata cerpennya pernah dimuat di majalah bobo? #keplok keplok

      penulis blog juga membanggakan kok mang yang penting ilmu yang dibagikan bermanfaat atau paling tidak bisa menjadi catatan atau jurnal diri sendiri ☺😊

      Hapus
  15. wohohoh.. Tahun 1997 sudah baca Bobo, nampaknya mbak Mbul sudah sangat dewasa yaa hahaa. Di tahun itu, aku baru lahir dong.. 😁😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya memang sudah dewasa

      tapi apakah kalau tahunnya 1997 harus dibaca tahun 1997 pas....1997 itu aku blom masuk sd dan belom bisa baca...jadi bacanya itu tidak harus di tahun 1997 nya kan...bisa saja tahun 2000an awal baca majalah lawas
      hehe...dasar ya anak milenial ini suka menunjukkan diri sendiri paling muda πŸ˜‚πŸ€£

      Hapus
  16. Mba Nitaaa, aku sebagai orng yg masa kecilnya langganan Bobo, baca cerita mba nita ini bring back memories bgd 😍😍 Aku inget pernh baca cerita ini. Apalagi pas liat gambar tutu hoga megang telor itu, aku inget gambarnya.. Tp blas lupa sama ceritanya gimana. Hehehe.. Makasii udah ceritain lg petualangan si kembar ini Mba. Ditunggu cerita2 tntng Bobo lawas lainnya 😍😍

    BalasHapus
    Balasan
    1. asyikkkkk ada yang pernah baca ini #joged joged si mbul

      beneran nih mba thessa? horaaaayyy πŸ™ˆγƒΎ(❀╹◡╹)οΎ‰οΎž❀~

      (((o(♡´▽`♡)o)))

      soalnya aku ada rencana nerusin cerita nostalgia cerpen cerbung cergam dan komik sisipan bobo hihihi

      Hapus
  17. Pantes aku ga tau cerita ini, pdhl dulunya langganan bobo. Ternyata terbitan 97. Tahun segitu aku udh langganan Gadis , ga bobo lagi nit hahahahah.

    Bobo itu cuma sampe SD kls 6. Trus SMP aku minta ganti jd GADIS :D.

    Tapi cerbung2 dan cergam nya bobo memang slalu baguuuus, yg zaman dulu yaa. Kalo yg skr, ceritanya udh ga menarik, ato aku nya krn udh tuwir hahahah

    BalasHapus
    Balasan
    1. eh aku dulu kalau gadis seringnya pinjem mba fans...kalau ga sekalian femina n kartini...di tempat mbahku tante paling bungsu langganan jadi aku uda familier majalah majalah ini dari kecil 😝🀭

      Hapus

Komenin dong...tanpa kehadiran kalian apalah arti aku menulis....
kalian penyemangat setiap bulir kalimat dalam blog ini :*
Namun jangan komentar SARU atau SARA ya, jika ada komentar dengan unsur tersebut, dengan berat hati akan aku HAPUS .

Oh ya, Dilarang juga mengambil gambar/foto atau menyadur tulisan tanpa mencantumkan sumber atau seijin pemiliknya. Apalagi untuk kepentingan komersial atau lomba. Thx ^____^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...