Selasa, 25 Februari 2020

Review Rumah Makan Nyi Iteung Cibubur


By : Gustyanita Pratiwi

Abis dari Kampung China Kota Wisata Cibubur kami mampir sejenak untuk makan siang yang dah terlanjur kesorean di Rumah Makan Nyi Iteung. Patokannya sebelum perempatan Cileungsi putar balik ke arah Cibubur kurang lebih 50 meter. Nah dia ada di sebelah kiri jalan. 

Kami ke sana udah agak sorean sih sebenarnya. Ya sekitar jem-jem 16.00 WIB lah. Maksudnya mau sekalian asyaran gitu. Juga numpang toilet karena sedari tadi belom pipis setelah kejebak macet sekian lama. Jadi pilih rumah makannya yang sekalian bagus aja. Yang ada mushola dan toiletnya. Oh ya satu lagi, terpentingnya adalah yang ada parkirannya. Kami prefer cari tempat makan yang parkirannya gede. Jadi lebih enakeun buat naruh kendaraannya. Ga takut kemepetan jalan raya atau empet-empetan ama kendaraan lain yang parkir di sebelahnya. Nah, kebetulan di Nyi Iteung ini dapet ke-3 kriteria itu. Jadi tanpa pikir panjang lagi, kami langsung aja mampir ke situ, di samping emang perut udah sangat keroncongan tentu saja, wekekek....


Jumat, 21 Februari 2020

Sinopsis Di Sini Ada Setan The Movie (2004)


Sinopsis Di Sini Ada Setan The Movie (2004)
"Telaga Cinta Abadi"

Lola (Indri Sathiya) adalah seorang gadis aneh yang memiliki indera keenam. Ia sedang patah hati lantaran pacarnya Danish (Rionaldo Stockhorst) akan menikah dengan perempuan lain. Ia sangat frustasi bahkan sering mendapatkan kejadian aneh karena pikirannya sering kosong. Suatu hari ia mendapat telepon misterius. Ada suara gelak tawa perempuan dengan latar belakang burung gagak. Karena takut, cepat-cepat telepon itu ia lemparkan. Anehnya, benda tersebut kemudian mengeluarkan air yang sepertinya berasal dari danau. Warna airnya perlahan-lahan berubah menjadi merah semerah darah dan menggenangi kali Lola.


sumber : capture youtube N.N.F.H Channel Di Sini Ada Setan 2004

Judul : Di Sini Ada Setan The Movie
Tanggal rilis awal : 2004
Sutradara : Purnomo A. Chakil
Musik : Popo Fauza
Skenario : Tisa TS
Produser : Sinemart

Kamis, 20 Februari 2020

Pengalaman Makan di Bebek Sambel Gledeg Galeong


Review Bebek Sambel Gledeg Galeong Ibu Siti Nurkhotimah

Perasaan ni admin posting bebek muluk dah. Pantasan makin hari makin kek bebek, terutama pas lagi mayun alias bimolih, bibir monyong lima milih #hiyahiyahiya...

Sabtu kemarian uda rekor banget seharian ga kemana-mana. Tapi begitu menuju sore kok pingin nglayap aja yak ? Biasalah pasangan muda anak baru 2. Ya klo weekend pinginnya kemana gitu. Biar anak dapet udara bebas. Yah, emaknya juga sih yang pend halan-halan,...tapi ga deng, paling cuma makan bebek di tempat biasa. Biasalah Sabtu Minggu prei masak. Prei terus bukane Andah masake ya Mbul, hohoho....#oooops

Rabu, 19 Februari 2020

Review Dorama Jepang Strawberry on The Shortcake (SOS) 2001


Sinopsis Strawberry on The Shortcake (SOS) 2001

"Jika kamu dihadapkan pada sepotong cake strawberry, mana yang akan kamu makan terlebih dulu ? Apakah strawberrynya dulu baru cakenya ? Ataukah cakenya dulu baru strawberrynya belakangan ?" Konon jika kamu makan strawberrynya terlebih dahulu, maka kamu termasuk orang yang memilih bersenang-senang di awal baru bersusah-susah di akhir. Sebaliknya, jika kamu menyimpan strawberrynya untuk dimakan belakangan berarti kamu lebih mengutamakan bersusah-susah dulu, baru menikmati hasilnya kemudian.

Kata-kata di atas merupakan potongan dialog dalam dorama Jepang Strawberry on the Shortcake (SOS) yang tayang sekitar tahun 2001. Bagian ini memang cukup menarik perhatianku karena memiliki makna filosofis tersendiri, terutama yang berkaitan dengan 4 tokoh di dalamnya. 

Bercerita tentang kisah percintaan yang bersegi-segi antar  Manato Irie (Hideaki Takizawa), Yui Misawa (Kyoko Fukada), Haruka Sawamura (Rina Uchiyama), Tetsuya Saeki (Yosuke Kubozuka), Bu Guru Mariko Asami (Yuriko Ishida), tunangan Bu Guru, one night standnya Manato Irie, guru lesnya Haruka Sawamura, Bapaknya Manato Iriye dan Ibunya Yui Misawa. Tapi yang paling intens sih cerita tentang Manato-Yui-Haruka-Saeki-Bu Guru Mariko. Kenapa bersegi-segi? Karena melibatkan banyak orang. Ga cuma segitiga atau pun segi empat seperti biasanya. Yang ini lebiiiiih. Malah menjalar kemana-mana, entah itu karena sekedar pelarian, ataupun yang akhirnya dijadikan tambatan hati, wakakka...puyeng-puyeng deh lau nontonnya. Sama gw juga geregetan sendiri pas ngematin siapa yang naksir siapa akhirnya jadian ama siapa. Ribet #panadol mana panadol?

Sumber : youtube, dorama Strawberry on the Shortcake (SOS)

Judul : Strawberry on the Shortcake (SOS) 
Jumlah Episode : 10
Director : Nobuhiro Doi, Hiroshi Matsubara
Penulis : Shinji Nojima
Genre : Drama Televisi Jepang, roman
Kategori tontonan : untuk usia dewasa

Selasa, 18 Februari 2020

Heboh Banget Mau Masak Rica-Rica Ayam Kampung, ya Alloh, Wkwkw !


"Balik lagi ke resep masakan ala Madam Beby Mbul Pemirsa!"

Minggu pagi, kesyahduan acara tidur Madam Beby Mbul dan suamik terusik tatkala naq wedok tetiba nangis jejeritan kayak orang kesurupan. Duh duh duh, onok opo toh Neng....hari masih pagi pun, dan Mamah baru tidur berapa jem aja huahahhaha.... Ternyata oh ternyata kakinya bentol merah gegara digigit sesuatu. Keknya gw tau nih sapa pelakunya. Soalnya kaki dan tangan gw juga ada beberapa yang bentol merah gateeeeel bener--rasanya gatel yang bener-bener menyebalkan sampai pengen mengumpat. Lalu teringat semalam, aku mendengar bunyi ngeow-ngeow di bagian atap, ya sapa lagi kalau bukan ibu kucing liar yang beranak lagi di sana lalu kutu-kutunya pada turun ke bawah, aaaaaaargh ! Sering kejadian kaya gini soalnya, makanya aku uda hapal, hahaha...

Minggu, 16 Februari 2020

Review Buku : Rumah Gema / The Hollow (Agatha Christie)


Review Buku : Rumah Gema / The Hollow (Agatha Christie)

Kalau di Sir Arthur Conan Doyle aku menyukai The Hound of the Baskervilles, nah di Agatha Christie aku memilih The Hollow sebagai favoritnya. The Hollow atau yang dibahasaIndonesiakan menjadi Rumah Gema buat ku mempesonakan dengan caranya yang cukup aneh. Aku seperti dibawa pada eksistensi sebuah rumah yang begitu 'hidup' namun memberikan kengerian yang samar-samar. Aku menyebutnya rumah yang menggemakan sebuah tragedi dengan efek yang menyayat-nyayat.  

Berkisah tentang Keluarga Angkatel yang masih berdarah bangsawan tengah merencanakan pertemuan di rumahnya yang bergaya klasik pada suatu pekan. Lucy Angkatel, sang pemilik rumah digambarkan bak seorang peri namun dengan sifat yang susah dimengerti karena pemikirannya yang dipenuhi banyak hal. Ia dan suaminya Henry turut mengundang sanak family mereka, baik yang berasal dari jauh maupun dekat. Ada John Christow beserta istri--Gerda, Henrieta Savernake (yang sebenarnya masih kekasih gelap John), Edward Angkatel, David Angkatel, dan Midge Hardcastle yang sudah lebih dulu tiba di sana. Mereka juga mengundang satu orang lagi yang cukup penting, siapa lagi kalau bukan Hercule Poirot sang detektif swasta legendaris favorit pembaca setia Agatha.

Mulanya semua berjalan normal bahkan cenderung biasa saja. Tapi baru sehari setelah acara perkumpulan itu, tiba-tiba sudah ada yang meninggal. Meninggalnya dengan cara yang tidak biasa lagi. Di tepi kolam renang kebanggaan Lucy, sosok John telentang dengan posisi yang ditata artistik. Yang lainnya berdiri mengelilinginya dalam pose-pose yang cukup aneh. Bahkan Poirot menilainya sampai terlihat tidak proporsional. Satu diantaranya yaitu Gerda yang meringkuk meratapi sakaratul maut sang suami, namun sambil memeluk revolver di dadanya. Pandangannya linglung seperti orang lemot. Lebih anehnya lagi, nama Henrieta malah disebut-sebut John untuk yang terakhir kalinya, sehingga semua menjadi geger.


Judul Buku : Rumah Gema (The Hollow)
Penulis : Agatha Christie
Alih bahasa : Ny. Suwarni A.S.
Desain sampul : Staven Andersen
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama 
Cetakan kedua : Desember 1995
Cetakan ketiga : Mei 2002
Cetakan keempat : Mei 2012
Jumlah halaman : 368 hlm, 18 cm
ISBN : 978-979-2-8261-0

Sabtu, 15 Februari 2020

Semangka-Semangka di Pasar Kutowinangun


"Saatnya Berburu Semangka !!!!"

Waktu mudik ke Kebumen tahun kemarin, ada 1 hal yang membuatku hapal sama keberadaan Pasar Kutowinangun. Yaitu lapak semangka yang berada di pusat keramaian Kutowinangun yang tumplek blek jadi satu sama terminal, juga pul bis-bis AKAP yang menuju arah-arah kota. Pemandangan ini tentu saja menarik perhatianku, terlebih Pak Suami yang emang hobi beli semangka. Lha wong di Tangerang aja bulak-balik ngajakin beli semangka, eh begitu liat di kampung ada semangka gede tur murah ya otomatis angkut ! Hahaha...

Baca juga : "Malam-Malam Durian !"
Baca juga : "Merindukan Pohon Rambutan"

Semangka nama lainnya itu tembikai. Eh ini aku juga baru tau lho dari wikipedia. Coba aja cek apa itu tembikai. Pasti keluarnya gambar semangka, hehehe...

Jumat, 14 Februari 2020

Kue Keranjang dari Tetangga


Dikelilingi orang-orang baik itu termasuk rezeki. Karena rezeki ga sekedar uang atau melimpahnya harta benda. Tapi juga kesehatan dan lingkungan yang supportif. Keluarga yang care, bapak ibu yang perhatian, kakak adik yang walau jauh di mato tapi tetap dekat di hati, juga tetangga yang nyemedulur dengan ketulusan hati bukan kaleng-kaleng #tsaelah. 

Baca juga : "Perkara Kolak"

Beruntung memang aku dan Pak Suami berjodoh dengan lingkungan rumah yang orangnya ga aneh-aneh. Walaupun lingkungannya majemuk dan berasal dari berbagai ras, suku, serta agama, tapi kami hidup rukun berdampingan satu sama lain. Alhamdulilah buku PPKn jaman SD-SMP-SMA ga cuma apal di luar kepala, tapi  juga diaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Kamis, 13 Februari 2020

Bunga-Bunga Krokot yang Bermekaran di Depan Rumah....



Bunga-bunga krokot yang bermekaran diterpa angin *uwuwu betapa cute-nya #wetetetetett ga pantes luh Mbul bersentimentil-sentimentil ria. Ga cocok sama sekali, Kat kat kaaaat ! Hahaha... Ya monmaap saianya emang lagi terbawa suasana. Tatkala memandangi bunga-bunga krokot yang mungil dan berwarna merah jambu ini, ingin sekali ku menjelma sebagai ibunya Atasinchi dan menyanyikan lagu ~ "Mawar meraaah penuh gairahhh". Sungguh kuasa Alloh yang mampu membuatnya bermekaran di jam-jam yang sama--pada pagi hari saat udara masih sejuk-sejuknya, lalu perlahan menguncup sendiri begitu matahari berada di atas peraduan.


Rabu, 12 Februari 2020

Mie Kangkung, Sekilas Rasanya Mirip Mie Ayam


Bismilahirohmanirohim
Halo halo halo...

Kalau dengar mie kangkung, apa yang terlintas dalam benak kalian ? Tentu saja mie yang mirip-mirip ama mie ayam. Bedanya paling sawi atau cesinnya diganti ama kangkung. Tapi untuk urusan mie dan ayam kecap yang jadi toppingnya sih mirip-mirip. 


Aku baru tahu sih ada makanan yang namanya begini. Mungkin karena kurang penjelajahan kuliner sebelum menikah ama Tamas. Secara, suamiku kan lebih kaya petualangan kulinernya ketimbang diriku yang katrok ini. Jadi ya, baru tau nama-nama makanan setelah tinggal sama dia wekekek... 

Selasa, 11 Februari 2020

Semur Jengkol Favorit



Seumur-umur kayaknya aku belum pernah lihat pohon jengkol deh. Maksudnya secara langsung gitu. Kalau ngliat dari google sih baru aja, hehe. Ya, kadang penasaran juga. Terus tiba-tiba khayalanku agak ngehalu dikit, andai-andai punya tanah sekian hektar (((andai-andai aja nih ya))), mungkin bisa kali kalau ditanemin pohon buah atau sayur-sayuran. Belinya di kampung saja. Maksudnya area Tangerang tapi bagian kampung, biar dapatnya harga murah. Nah, abis itu tinggal jadikan kebon deh. Ntar tiap weekend bisa mampir ke sana buat petik-petik. Ya ngekhayalnya punya pohon jengkol, pete, duku, kepel, rambutan, bahkan durian. Buat sarana hiburan aja ceunah. Terus di situ ga usah dibangun apa-apa. Paling templokin aja 1 kontainer buat dijadikeun tempat ngiyub #nunut ngiyub kulo nunut ngiyub, udan lali ra gowo payung...#Didi Kempot song's mode on.. Paling  kontainernya kasih kasur satu ama toilet, ude deh...ude serasa kayak rumah-rumah kontainer di luar negeri #ngayal teros Mbul hahaha... 

Ya tapi kalau punya pohon jengkol sendiri kayaknya enak, soalnya jengkol di pasaran kan mahal. Di warnas aja, paketan 10 ribu, jengkolnya dicidukin 3-4 biji doang huhu. Malah cuma dibanjirin kuahnya. Berarti kan lebih puas masak sendiri. Oh ya, aku pernah nulis resep semur jengkolnya di tautan yang ada di bawah ini #silakan kepoin sendiri.



Senin, 10 Februari 2020

Pengalaman Makan di Bebek Royal Tangerang


Nostalgia Makan di Bebek Royal Pertama Kali...

Kalau ditanya tempat makan yang ada kenangannya waktu masih pacaran ama Bapaknya anak-anak ya salah satunya adalah Bebek Royal. Inget banget, ke sini itu pas jamannya aku main ke Tangerang untuk yang kedua kalinya. Yang pertama pernah sih, tapi pas ada tragedi aku diturunin dari KRL jurusan Tenabang-Duri, gegara karcisku ilang waktu disamperin sama petugas. Kemungkinan besar sih jatuh di rel waktu aku naik dari pintu masuk yang ga ada tangganya (jaman itu emang belum ada kartu yang ditap ke pintu masuknya jadi masih pake karcis dalam bentuk kertas). Terus karena kejadian itu aku diturunin ke stasiun terdekat, kalau ga salah area Slipi atau Grogol gitu, aku lupa. Pokoknya sebelum masuk daerah Duri deh.

Baca juga : "Bebek Banyumas"

Minggu, 09 Februari 2020

Sinopsis The Ghost Bride (2017)



Sinopsis The Ghost Bride (2017)

Judul film : The Ghost Bride (2017)
Sutradara : Chito S. Roño
Diproduksi : Charo Santos-Concio Malou N. Santos
Skenario : Chito S. Roño, Charlson L. Ong, Cathy Camarillo
Cerita : Chito S. Roño, Enrico C. Santos, Juvy Galamiton
Cast : Kim Chiu, Alice Dixson
Musik : Carmina Cuya
Sinematografi: Neil Daza
Editor : Carlo Francisco Manatad
Produksi : Bioskop Star
Tanggal rilis : 1 November 2017


Kali ini aku akan mereview film horror Filipina tapi masih ada unsur tradisi Chinanya. Judulnya Ghost Bride (2017). Pernikahan manusia dengan hantu. Hiiiiy, kok seram ya. Ya emang seram sih, hehehe...(tapi sebenarnya ga serem-serem amat kok, cuma emang kalau ada film yang berkaitan dengan ritual arwah leluhur aku langsung teringat dengan film vampir China tahun 90-an yang sering diputar di RCTI tiap Sabtu pagi). Sebab memang di sini ditampilkan beberapa adegan yang menggambarkan tradisi bulan hantu kelaparan atau biasa disebut hungry gost festival, dimana para warga pada bulan ketujuh kalender Lunar akan disibukkan dengan acara membakar persembahan untuk arwah leluhur berupa makanan, buah, uang kertas, kendaraan kertas, perhiasan, dsb agar jiwa mereka tenang di alam sana. Sebab, dalam tradisi mereka, jiwa manusia yang sudah meninggal diyakini masih berkeliaran di muka bumi dan akan bergentayangan jika tidak didoakan anggota keluarganya.

Jumat, 07 Februari 2020

Menu ini yang Dimasak Ibu Dengan Penuh Cinta



Bismilahirohmanirohim...
Halo halo haloooo...

Bagi seorang anak, masakan ibu hampir selalu yang jadi juaranya. Aku bilang hampir karena ga semua ibu-ibu bisa masak. Ada pula yang bapaknya lebih jago atau kalaupun bisa masak ya rasanya standar kayak masakanku wakakkaka #ampun deh. 

Kebetulan ibuku adalah tipe yang udah turun ke pawon sejak masih usia SD, karena emang adik-adik ibu banyak. Jadi waktu kecil ibu sudah terbiasa bantuin Simbah bikin sayur atau kelan alias lauk buat sehari makan 3 kali. Hampir sama sih kayak aku yang sedari kelas 3 SD udah dilibatkan bantu-bantu di dapur. Bedanya paling ibu udah dipasrahi keseluruhan prosesi masak yang terbilang rumit (mulai dari ngoseng, mbening, nglodeh, nyoto, nyanten, sampai ngolahin lauk hewani), sedangkan aku dipasrahi yang gampang-gampang aja dulu. Paling bagian pethik-pethik doang, kupas bumbu dapur, atau mentok-mentoknya goreng lauk. Lauk pun baru yang gampil-gampil aja kayak tempe atau tahu. Kalau ayam, ikan, atau daging-dagingan yang berpotensi bakal meledak-ledak baru diambil alih oleh ibu. Dulu juga pakenya masih kompor minyak, atau kalau di tempat simbah pakai keren alias nama lainnya tungku batu bata dengan bahan bakar kayu. Itulah kenapa aku ngerasa generasi baby boomers kelihatan lebih telaten alias cag ceg kalau udah ngerjain sesuatu. Kayak udah ada potensi alami gitu loh, beda banget ama keturunan selanjutnya yang dalam hal ini gw, mau bikin menu apa ndadak ngecek dulu di cookpad wakaka).

Meja makan yang selalu dirindukan dengan sajian menu masakan ibu

Senin, 03 Februari 2020

Sinopsis Pizza (2014)



Sinopsis Pizza (2014)

Kunal Malkholkar (Akshay Oberoi) adalah seorang pengantar pizza yang tinggal bersama istrinya Nikita (Parvathy Omanakuttan) yang seorang penulis cerita horor. Keduanya tidak memiliki minat yang sama, karena sebenarnya Kunal sangat membenci istrinya ketika terus-menerus menceritakan hal-hal mistis. Apalagi dirinya malah disugesti untuk cepat-cepat mengalami kejadian mistis betulan. Mendengar hal itu, Kunal merasa sangat kesal. Ditambah pula ia tahu bahwa Nikki sedang hamil, padahal ia sendiri belum siap menjadi seorang ayah dengan pekerjaannya yang saat ini masih dirasa belum stabil.


Judul film : Pizza (2014)
Direktur : Akshay Akkineni
Penulis skenario : Akshay Akkineni
Penulis cerita : Karthik Subbaraj
Cast : Akshay Oberoy, Parvathy Omanakuttan, Arunoday Singh

Minggu, 02 Februari 2020

Malam-Malam Durian !


"Horay udah musim durian sekarang...."

Hari Minggu, malam Senin kemarin aku dan Pak Suami ngerasa gabut banget. Seharian nungguin ujan kok ga reda-reda. Padahal sebelumnya uda safari ke mol buat hunting batik dan kebaya dalam rangka memeriahkan wisudanya Tante Anis di Solo. Tapi emang wisudanya masih lama sih yaitu akhir Februari ini (insyaAlloh), walaupun yang pada heboh justru mbakyuw-mbakyuwnya ini) termasuk juga kakak w yang di Bekasi) yang malah pada modus belanja brukat tunik di mol-mol middle class, haha.... 

Jadi Sabtu siang aku cuz ke Jakarta buat belanja. Minggunya di rumah aja. Karena emang langsung deres puol #seakan-akan ujan kemaren menebus satu hari yang penuh dengan matahari pada hari Sabtunya. Dari pagi nyampe pagi lagi ujaaaaaan meleee, menjadikanku cuma ugat-uget aja kayak tatung nangka bareng naq beiby dan juga Kangmas Prabu.