Minggu, 05 April 2020

Sinopsis Wallace & Gromit The Curse of Were Rabbit (2005)


Sinopsis Wallace & Gromit, The Curse of Were-Rabbit (2005)

Oleh : Gustyanita Pratiwi

Kalau ditanya judul film animasi apa yang layak aku sematkan kalimat puja-puji, mungkin Wallace and Gromit The Curse of Were-Rabbit adalah jawabannya. Film lawas ini dirilis pada tahun 2005. Dan entah kenapa aku ga pernah bosan melihatnya. 

Film ini bukan hanya menonjolkan sisi teknologinya, tapi juga bagaimana menempatkan sinematografinya secara apik sekali, malah boleh dibilang sangat-sangat niat. Wong setting kebun yang dijadikan inti cerita saja bisa menampilkan detail yang sangat cantik kok. Ya, kebun sayur berikut hasil panennya itu yang begitu ranum dan warna-warni menghias sepanjang film. Benar-benar memanjakan mata dan membuat relax, off course. Sebenarnya ketika menonton film besutan sutradara Nick Park dan Steve Box ini, aku merasa kayak menonton film action thriller (dan juga sedikit bumbu horror), namun dengan kemasan animasi. Tokoh-tokohnya sendiri mengingatkanku pada permainan anak yang disebut dengan Clay. Itu loh adonan yang bisa dibentuk-bentuk. Ya, setipe kayak Chicken Run dan Shaun The Sheep lah (lha wong namanya juga masih satu produksi yang sama, piye to aku iki, hahaha). #Sinopsis_review_GustyanitaPratiwi

Sinopsis Wallace and Gromit The Curse of Were Rabbit (2005), sumber gambar : www(dot)walaceandgromit(dot)com

Judul Film :
Wallace and Gromit The Curse of Were Rabbit
Sutradara : Nick Park, Steve Box
Negara : Uk, Usa
Bintang film : Helena Bonham Carter, Peter Kay, Peter Sallis, Ralph Fiennes
Genre: Animation, Comedy, Family
Diterbitkan : 4 September 2005

Jumat, 03 April 2020

Telur Entog




Oleh : Gustyanita Pratiwi

Kalau lagi ngaca, kadang aku ngerasa bagaikan entog......

Ebot-ebot gitu....

Lucu sih kata Kangmas Papa, tapi yekan gw pingin diet juga, wakakak.

Sebenernya ga sah diet juga sah-sah aja, sebab kalau diet-diet segala dikhawatirkan malah gw-nya yang sakit. Jare beliau mending gw rajin olah raga aja, biar swehat. Tapi kapan olah raganya, ya itu yang kadang cuma sebatas wacana. Soalnya susah. Anak masih pada gelendotin Simboknya, jadi ya olahraganya pas mau tidur aja. Olahraga opo kui Mbul #meragukan. Olahraga driji kali alias ngecekin dashboard blog, hahaha..

Rabu, 01 April 2020

Sinopsis Hantu Kak Limah (2018)


Oleh : Gustyanita Pratiwi

Baru sekali ini nonton horror, malah terpingkal-pingkal terus. Sebabnya aku baru saja menonton film horror asal Malaysia yang disutradarai oleh Mamat Khalid. Judulnya Hantu Kak Limah. Film ini dirilis pada tahun 2018, namun baru bisa aku nikmati sekarang melalui streaming online. Di Netflix dan youtube sudah ada loh. Tapi kalau di youtube memang agak terpotong-potong sih beberapa part-nya, hihihi...

Film Hantu Kak Limah ini bergenre horror komedi. Jadi sepanjang cerita berisi kekonyolan-kekonyolan yang menurutku sukses penyampaiannya. Terutama karena horror ini diperkuat oleh karakter hantu nenek-nenek yang berambut gimbal, wajahnya pucat, matanya hitam, kuku kakinya lancip-lancip seperti landak, pokoknya tampangnya sangat menyeramkan. Berbeda dengan karakter hantu kuntilanak yang notabene bergaun putih, si Kak Limah ini masih menonjolkan sisi tradisionalnya, yakni tetap mengenakan kain jarik dan baju kebaya. 

Lalu ceritanya seperti apa? Langsung saja lah aku coba tulis sinopsis dan reviewnya, meskipun mungkin kata-katanya akan sangat jauh dari review ala pengamat film. Ya, review biasa aja, sebagaimana aku mengamati as penonton atau penikmat film (review dan sinopsis by Gustyanita Pratiwi).

Sinopsis Hantu Kak Limah (2018), sumber gambar: imbd(dot)com

Selasa, 31 Maret 2020

Cerita Tentang Mie Ayam


Oleh : Gustyanita Pratiwi

Kalau dihadapkan pada semangkuk bakso atau mie ayam, udah pasti gw bakal pilih mie ayam. Bukan karena ngebenci bakso, bukan, tapi kalau nyemilin baksonya doang kok rasanya kurang (((perasaan macam huapaaah inih ?). Ya banyangkan aja, semangkuk bakso kalau pesan yang bukan kosongan kan cuma dikasih bihun atau mie kuning sekedarnya, udah gitu baksonya cuma 3 butir. Bakso urat 1, alusnya 2. Yeikan sekarang bakso semakin sedikit ya karena mungkin bahan bakunya mahal. Paling yang dibanyakin cuma kuahnya doang. Lainnya paling tambah-tambah cesin atau pokcoy. Kurang boook, sekali sruput langsung abis sampai ke dasar mangkok. Kecuali kalau nyemilinnya pake nasi. E dulu jamannya gw kecil sempat mengalami trend loh kalau makan bakso pake nasi atau kalau ga ya mie pake nasi. Double karbo amat yak. Gegeggekk. #GustyanitaPratiwi_kuliner

Baca juga : Safari Pecel Ayam

Senin, 30 Maret 2020

30 Jajanan Pasar Khas Indonesia yang Aku Suka


Oleh : Gustyanita Pratiwi

Hellllllaaaaaw, apa kabar teman-teman semua ?
Semoga masih pada sehat-sehat ya....

Oh ya, berhubung peralatan tempurku buat ngeblog (baca : tab, leptop, dan juga HP ku lagi pada angin-anginan alias ada yang retak karena jatoh, ngehank, dan yang lainnya lelet parah, aku mau nyicil stok postingan dulu lah ya. Ga pada bosen kan? Ntar kalau uda pada bosen ama tulisan kulinerku, takhibernasi dulu deh ya, wkwkwk #alesan ae Luh Mbul, padahal sebenarnya lagi mandan malas update karena every single time ngebaca berita tentang corona. Ya, ntar deh kalau coronanya uda berlalu, mungkin mood nulisku akan balik lagi, heuehhehe #alesan opo iki Mbul.

Oh ya, kali ini aku mau majang foto-foto jajanan pasar yang seperti biasa huntingnya uda dari kapan tau ya #minta digibenk banget kan cuma pajang pamer fotonya doang hahahah, ampunih aku pemirsa, tapi beginilah sejak blog ini pengen aku banyakin postingan kuliner dan sedikit demi sedikit mulai membatasi tulisan yang too much personal, jadi ya monmaklum kalau isinya seringnya makanan moloooooo. Sebab ga bisa dipungkiri bahwa setelah sakseis mengupload foto-foto makanan yang menggugah selera, ga terasa, timbul kepuasan dalam diri ini #eduuuuun bahasa w. Oke lah daripada berpanjang-panjang kata, langsung aja ini dia jajan pasar yang aku suka. #GustyanitaPratiwi_kuliner.

1. Kue Lopis/Lupis

Kue lopis atau  lupis terbuat dari beras ketan yang dikukus. Warnanya hijau, bentuknya segitiga. Kue ini biasanya digunakan sebagai pelengkap cenil, jajan pasar yang terbuat dari beras ketan, berbentuk bulat pipih, dan biasanya berwarna cerah seperti pink atau merah muda dan juga putih. Cenil ini dimakan bersamaan dengan klepon dan lupis itu tadi yang di atasnya disiram dengan menggunakan kuah gula merah atau yang biasa disebut sebagai juruh. Dia juga akan lebih lengkap jika dimakan bareng taburan parutan kelapa. Nah, cenil ini biasanya dibungkus dengan tum-tuman daun pisang.  Sayangnya, sejak tinggal di Tangerang aku agak kesulitan menemukan cenil. Adanya kue lopisnya thok yang biasa dijual gerobagan bareng jajanan pasar khas Medan lainnya semisal klepon yang gedenya sak-hoh-hah (e ini bahasa perumpaman gede-gede dalam bahasa Jawa aja ya hehe), putu bambu, dsb. Aku suka kue lopis karena pada dasarnya aku memang menyukai makanan berbahan dasar ketan.


Jumat, 27 Maret 2020

Bakpao Medan


"Bakpaonya Jumbow, Isiannya Meleleh !

Oleh : Gustyanita Pratiwi

Kalau gw hitung pake jari, tukang makanan yang biasa ngiter di tempat tinggal W lumayan banyak loh. Dalam sehari, bisa ada beberapa macam pedagang yang keliling menggunakan sepeda motor ataupun sepeda onthelnya. Ada tukang Sari Roti, Tahu Susu garis miring Tahu Bandung, Susu Nasional, Siomay, Es Kado, Chi Cong Fan dan Bakpao Medan. Ntar agak maleman dikit, baru ada bakso tik tok tik tok, tukang nasgor tek tek, sampai tukang sekuteng. Tapi memang akhir-akhir ini ga semuanya ngiter sih. Sekarang mah sepi...paling cuma ada 1-2 aja yang masih rajin keliling. Salah duanya ya Sari Roti dan Bakpao Medan. #GustyanitaPratiwi_Kuliner

Baca juga : "Menu Masakan Padang ini yang Aku Suka"
Baca juga :  "Berburu Jajan Pasar di Daerah Pejagoan Kebumen"

Selasa, 24 Maret 2020

Sate Partodrono, Paling Terkenal Seantero Pituruh (Lokasi Dekat Pasar dan PLN Pituruh)


Sate Partodrono, Paling Terkenal Seantero Pituruh (Lokasi Dekat Pasar dan PLN Pituruh)

Oleh : Gustyanita Pratiwi

NB : Liputan kulinernya seperti biasa udah lama ya kayak yang udah aku ceritain di sini. Soalnya kalau dalam bulan ini kan ga kemana-mana alias di rumah aja seperti yang dianjurkan oleh pemerintah. Namun, karena draft sudah meng-awe-awe diriku supaya segera mempublish tulisan terbaru, jadi monmaklum kalau tulisannya super duper latepost #hiyahiyahiya #GustyanitaPratiwi_Kuliner


Oke, bismilahirohmanirohim...

Kali ini aku akan cerita tentang sate yang cukup terkenal di daerah Pituruh, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Lokasinya cukup dekat dengan rumah alm. Simbah yang ada di Pituruh. Persisnya deket dengan Kantor PLN Pituruh, sebelum Pasar Pituruh. Nah, bagi yang belum tahu Pituruh itu ada dimana, andai kita melintasi jalan raya yang menuju Kutoarjo, pasti lewat daerah Klepu kan (itu loh yang terkenal dengan Sate Tupainya~~tapi aku belum pernah coba sih hihi). Nah, Pituruh ini kalau dari Pertigaan Klepu, dia masuk ke utara, luruuuuuuuus terus nyampe tuh ke alun-alun, terus maju dikit lagi ketemu deh ama plang kantor PLN Pituruh yang depannya pasar. Nah, deket-deket situ tuh ada warung makan yang bentuknya kayak rumah biasa. Tapi jangan salah ! Meskipun tampak luar kayak rumah biasa, tapi terkenalnya udah seantero jagad Pituruh dan sekitarnya lho. Coba aja tengok sebelah kiri jalan pasti ada papan bertuliskan "Sate Partodrono, Rumah Makan Sederhana, Sate-Gule-Tongseng Kambing Muda plus Nasi Rames".


Kamis, 19 Maret 2020

Nostalgia Jalan-Jalan ke Candi Borobudur, Magelang, Indonesia Tahun 2015 (Sebelum ada Beiby)



Nostalgia Jalan-Jalan ke Candi Borobudur, Magelang, Indonesia Tahun 2015 (Sebelum ada Beiby)

Oleh : Gustyanita Pratiwi

Nb : Sebenarnya udah pernah posting cerita tentang Borobudur beberapa tahun silam. Malah postingannya aku bikin menjadi 2 bagian. Tapiiiii, karena waktu itu aku ga ngeh ada oknum blogger Auto Generate Content (AGC) yang menyedot artikelku sebanyak 150 artikel, makanya aku agak nyesek juga pas tahu digituin. 


Nyeseknya bukan karena apa-apa, tapi jelek-jelek begini kan tetep saja artikelku diambil tanpa ijin. Udah gitu diadsense-in pula. Kan susah ya bikin cerita ngalor ngidur berdasarkan pengalaman pribadi by kamera sendiri pula. Terus tiba-tiba disedot begitu aja, tanpa tedeng aling-aling bat bet bat bet. Mana sekarang akibatnya traffict blogku kesalip ama blog dia lagi. Jadi kalau aku search kata kunci ceritaku sendiri, yang nongol di atasku ya blognya dia. Blog aku ketilep, kadang ga keindeks, dan kalau dikorek-korek selalu ada di bawahnya. Jadi kayak diduplikat kontennya. Nyeseknya lagi adalah dulu itu aku kan masih polos ya, cupu gitu lah dalam hal ngeblog, foto ga dipakein watermark, lalu belum ngeh pula tentang pentingnya mencantumkan link ke blog sendiri di setiap postingan (itu loh yang misalnya ada tautan ke artikel lain yang awalnya ada tulisan baca juga di link bla bla bla). Nah ternyata karena sama sekali masih polosan belum jago ini itu, ya udah jadilah korban blog auto generate content yang ga perlu nulis artikel tinggal nyedot punya orang. Nyedotnya lewat mana kok bisa samaan plek ketiplek tiplek sama gitu ma blogger originalnya. Lewat feed Qaqa. Makanya sekarang tuh aku ngerasa terdzolimi karena dibikin rempong oleh blog macam ini. Dulu pernah kulaporkan ke DMCA sih, tapi ga tau kenapa blog tersebut masih ada. Artikelku yang dicurinya belum dihapus juga. Secara dikontak pun ga bisa karena ga ada kontaknya. Maksudnya kalau ada kontaknya kan bisa kutunggu itikad baiknya buat menghapus artikel colongannya itu. Eh ga ada sama sekali. Ya udah aku coba laporin aja ke DMCA pas tahun berapa gitu kalau ga salah 2016, tapi kayaknya ma google juga belum diapa-apain tuh, entah karena bahasa Inggrisku kacau atau ada step-step yang masih belum aku pahami waktu ngisi formnya. 

Ahhhh, ketimbang bete, karena beberapa popular post dan pengalaman travelingku seringnya ada di bawah blog dia rangkingnya, makanya aku tuh ingin mengatakan sungguh terrrr laaaa llluuuh. Sebagai tombo ati supaya ga patio gelo, ya aku pengen nulis ulang aja lah, dengan gaya bahasa yang sedikit beda, dan foto-foto yang masih pixel aslinya. Belum dirisize. Terus mau aku bombardir dengan watermark dan tambahin foto lainnya pula yang masih dalam satu moment pada waktu jalan-jalannya itu. Jadi kan ketahuan mana yang original. Karena mana ada kan yang palsuh megapixel fotonya lebih pecah, hahaha...kzl tapi kudu sabar....

Oke lah daripada berpanjang-panjang kata, udah ah...aku mau cerita lagi.

"One Day in H+4 Idul Fitri tahun 2015 ...."

Tahun 2015 adalah 2 tahun sebelum aku hamil si kakak.  Memang ceritanya waktu itu pas ada agenda honeymoon yang direncanakan lantaran ngepasin masa subur berdasarkan promil yang sedang kami jalani #halah haha. Walaupun ujungnya belom 'jadi' juga sih karena tekdungnya itu baru pas menginjak tahun 2017. Etapi emang judulnya ga terlalu ngoyo juga sih, sebab pertama...emang wayahnya lagi ga memungkinkan untuk terlampau santai karena masa-masa lebaran yang pastinya agak hectic karena ketemu banyak orang. Kedua, honeymoonnya sebenarnya juga dadakan aja hahahahha.... 

Pas ngerasanya lagi jenuh muter-muter sekitar situ-situ aja, ya kenapa ga terlintas buat dolan agak jauhan dikit coba. Kan masih berdua ini. Mumpung belum ada yang bikin remmpong. Mikir kami begicuwww. Misalnya sampai Jogja atau Magelang. Cari hotel dan nginap sehari semalam, terus jalan-jalan, kulineran deh. Cobain makanan khasnya, phota-photo, ntar taruh blog #jiahahah tetep ya khontheeeend.

Selasa, 17 Maret 2020

Ndekem Terus Dalam Rumah Kayak Ibu Kucing...



By : Gustyanita Pratiwi

Dalam Bulan Maret emang ga ada kemana-mana. Ndekem terus kayak ibuk kucing yang ngelonin anak-anaknya, hehe... Bulak-balik bersih-bersih rumah, ngepal-ngepel, cuca-cuci, kebersihan lah pokoknya. Nyapu juga ada berkali-kali. E tapi itu sebenarnya udah rutinitas deng, sehari-hari juga udah gitu. 

Ilustrasi : foto si Gumi, kucing jaman masih ngekos, sekarang ga tau dia masih ada pa engga

Jumat, 13 Maret 2020

Warung Nasi Liwet Mbak Sri Kulon Keprabon Solo, Baru Tahu Wedang Dongo itu Sama Dengan Ronde


Warung Nasi Liwet Mbak Sri, Kulon Keprabon Solo, Baru Tahu Wedang Dongo itu Sama Dengan Ronde

By : Gustyanita Pratiwi

Karena kemaren udah nyobain nasi liwet, jadi kulineran pada malam kedua ini pengennya nyobain sesuatu yang lain. Walaupun judulnya sama-sama warung nasi liwet juga dan lokasinya pun masih sederetan dengan Nasi Liwet Bu Wongso Lemu, Keprabon Kulon Solo. Nah, tempatnya dimana? Namanya Warung Nasi Liwet Mbak Sri yang posisinya ada di paling kanan dari deretan warung makan yang ada. 

Di warung makan ini, yang menarik perhatianku justru bagian wedangan-wedangannya. Secara, begitu lihat banner di bagian depan warung, tertulis berbagai macam wedangan yang sebagian masih asing di telingaku. Sebut saja wedang dongo, wedang sekoteng, wedang es kacang hijau, wedang es kacang putih, wedang kelengkeng, wedang es jeruk, juga teh. Yang aku belum ngeh tampilannya kayak apa itu wedang dongo, wedang es kacang putih, dan wedang kelengkeng.

Semangkuk wedang ronde dengan indil-indil merah jambu dan putih yang terbuat dari tepung beras ketan, terasa syahdu diteguk bersamaan dengan air jahe, irisan kolang-kaling dan kacang sangrai (Gustyanita Pratiwi docs)