Senin, 13 Juli 2020

Warung Lesehan Nasi Uduk Pakdhe Supri



Oleh : Gustyanita Pratiwi

Malam itu, bulan sedang membentuk bulat separuh dengan beberapa bintang yang kerlipnya mengedip menghias kanvas hitam di angkasa raya. Suasana yang cukup syahdu untuk ngangkring atau sekedar makan malam lesehan, sebab kadang-kadang ya Minggu adalah hari libur masak nasional untukku, hihi.

Terlebih usai belanja di Lottemart untuk membeli beberapa keperluan bulanan, tiba-tiba ada yang berinisiatif mentraktirku ke tempat malming langganan sebelum ada bocah dulu. Tempatnya, udah beberapa kali kami satroni sih, makanya ga heran kalau sebelumnya juga udah nulis tentang tempat ini pada beberapa tahun sebelumnya. Sengaja, mau gua tulis lagi sebab kali ini dengan lebih banyak foto-foto #ooopppsss ahahaha...ya, walaupun ditambahi dengan dokumentasi pada tulisan sebelumnya sih (biar makin lengkap).

Kamis, 09 Juli 2020

Rumah yang Selalu Dirindukan



Oleh : Gustyanita Pratiwi

Karena harus ubyang-ubyung ikut mengurus prosesi pemakaman Simbah, maka Pak Suami memilih untuk mengantarkan aku dan si bayi ke rumah Prembun dulu lantaran tempat mertua dipastikan kosong dan semua orang bakal sibuk bantu-bantu di rumah duka yang berada tak jauh dari situ. Nah, berhubung aku masih ada urus 2 bayi, jadi Pak Su merasa kasihan kalau aku sampai kether (riweuh). So, terpaksalah aku ga ikut mengantarkan alm simbah sampai ke peristirahatan terakhir..

Baca juga : "Kelabu"

Gagahnya si kembang Asem :D

Selasa, 07 Juli 2020

Kala Menginap di Rumah Nenek...



Selalu ada sepersekian detik untuk manyun ketika Ibu mengagendakan aku dan kakak untuk menginap di rumah nenek kala kami masih SD dulu. Pasalnya, aku sebel banget kalau udah disuruh nginap di sana. 

Bukan....bukan karena nenekku bertampang penyihir laksana dongeng Hansel n Gretel yang suka mengiming-imingi bocah pake kue-kue manis dan aneka permen tapi abis itu direbus dalam kuali besar, tapi lebih ke karena kami ga gitu sering kumpul selain sama keluarga inti, tak terkecuali nenek. Apalagi kami nantinya akan tidur bareng nenek sementara ibu ga ikut dan hanya ngedrop kami saja. Huuuft rasanya benci banget akutuw kalau udah ada agenda itu, haha... Tapi herannya, ibu selalu saja mengagendakan itu tanpa mempertanyakan terlebih dulu persetujuanku, mau atau ga. Ya, harap maklum...waktu kecil aku kan anaknya biyungen banget. Jadi, opo-opo ibuk, opo-opo ibuk. Pokoknya aleman banget deh aku sama ibuk. Pisah bentar aja ga mau. Apalagi dititip ke rumah nenek wkwk... Tatud.

Jumat, 03 Juli 2020

Cara Makan Nasgor Ala Gw...




Oleh : Gustyanita Pratiwi


Sepertinya aku akan menobatkan nasgor sebagai makanan ternyelamatin-able pada saat kelaparan setelah mie instan. Apalagi kalau ada sisa nasi banyak--yang udah dingin ya, dan kalau bisa yang rada pera juga, jangan yang kelembekan ntar malah jadinya kayak bubur goreng lagi (u tatud aku). Terus uda gitu ada telur (yang emang wajib ada dalam kondisi apapun), cabe-cabean (bukan yang bonceng 3), bawang-bawangan, kecap, dan kalau bisa sih ada terasi. Yah, garem mah gosah disebut lah ya. Itu mah wajib ada, gegegegek.

Nasgor ala aku sebenernya gampang aja. Cuma kalau cara makannya sedikit unik, beda dari yang lain, ntar deh aku jelasinnya belakangan. Sekarang mau nerangin cara masaknya dulu.  

Gambar bikinan Gustyanita Praiwi alias gw ndiri as madam beby mbul

Kamis, 02 Juli 2020

Kebluk



Oleh : Gustyanita Pratiwi

Malem-malem ga bisa tidur malah marathonan konten horror. Mana yang kutonton Alas Roban lagi dari Kisah Tanah Jawa. Padahal sebelumnya masih dengerin lagu India. Coba tebak kami sukanya lagu siapa ? Yang bisa nebak ga dapat hadiah giveaway sih #setdah gibenk juga luh Bull..

Jawabannya adalah Govinda Song. Itu loh aktor india kawakan yang mukanya komikal banget dan kalau joget  luwes (kata Pak Suami sih gitu, aku aja baru tau siapa itu Govinda). Selain Govinda, sebenernya ada 1 lagi yang sering diulang-ulang ama Pak Su yaitu lagunya Hrithik Roshan yang di film Mujhse Dosti Karoge ! 

Selasa, 30 Juni 2020

Review Bedevilled (2010)



Oleh : Gustyanita Pratiwi

Kategori usia : Dewasa

Sinopsis Bedevilled (Kim Bok-nam Salinsageonui Jeonmal) 2010

Hae Won, adalah tipikal wanita urban yang berpemikiran modern. Paras cantiknya itu tak menjadikannya cepat menikah di umurnya yang kini sudah menginjak kepala 3. Posisinya sebagai customer service di sebuah bank di pusat kota Seoul rupanya telah menyita perhatiannya. Belum lagi ia harus berhadapan dengan serangkaian kejadian menyebalkan yang akhir-akhir ini sering menimpanya. Cek-cok dengan pacar, berurusan dengan nasabah yang terancam gagal bayar setelah berhutang dengan alasan sudah menjadi janda tua yang tidak berpenghasilan, juga harus memenuhi panggilan polisi lantaran menjadi saksi sebuah kasus penganiayaan yang melibatkan sekelompok berandalan terhadap remaja putri hingga tewas. Untuk yang terakhir, karena merasa malas berurusan dengan polisi, Hae Won memilih bungkam saja sehingga menyebabkan kelompok berandalan tersebut bebas. Ayah sang korban tidak terima. Ia berteriak histeris ke arah Hae Won supaya mau berubah pikiran demi keadilan sang putri. Sayangnya Hae Won lepas tangan dan pergi begitu saja tanpa belas kasihan sedikitpun dalam hatinya. #sinopsis_&_review_film_GustyanitaPratiwi

Sinopsis Bedevilled (2010), sumber gambar : imdb

Judul :
Bedevilled (Kim Bok-nam Salinsageonui Jeonmal)
Sutradara : Jang Cheol-soo
Produser : Park Kyu-young
Penulis : Choi Kwang-young
Starring : Seo Young-hee, Ji Sung-won
Music : Kim Tae-seong
Cinematography: Kim Gi-tae
Editor : Kim Mi-joo
Distributor: Sponge ENT
Release : Mei 2010 (Cannes), 2 September 2010 (Korea Selatan)
Durasi : 115 menit
Negara: South Korea
Bahasa: Korean

Jumat, 26 Juni 2020

Aku vs Kemeja Ungu Kotak-Kotak


Oleh : Gustyanita Pratiwi

Aku terbiasa menyebut baju berkerah atau kemeja dengan sebutan hem. Padahal kayaknya beda ya #maklum ku bukan orang konveski. Jadi ga tau apa bedanya hem sama kemeja, hihihi.

Ya udah biar ga salah sebut, aku bilang aja kemeja.

Salah satu model pakaian yang membuatku tampak ga tua-tua amat ya kemeja. Kemeja udah jadi semacam comfort outfit terutama setelah memasuki dunia kuliah maupun kerja. Bisa dibilang kemeja adalah syarat kami bisa mengikuti kegiatan belajar mengajar di dalam kelas. Walaupun beberapa teman masih ada yang tetap nekad menggunakan kaos. Tapi, meskipun begitu....asalkan masih ada catatan berkerahnya sih masih oke lah ya. 

Alis gw yang bak ulet bulu, bawaan dari orok :D

Kamis, 25 Juni 2020

Kelabu



Oleh : Gustyanita Pratiwi

Kokok ayam jago membangunku dari posisi tidur yang semula meringkuk. Sarung yang membungkus tubuh ini segera kulipat dengan cepat. Akupun bersiap untuk memulai aktivitas seperti biasanya walaupun judulnya akan kulakukan dengan santai-santai saja. Maklum, pagi itu disponsori oleh kediaman mertua yang letaknya di pedesaan dengan landscape berupa sawah, kali, pekarangan, dan juga rumpun bambu yang berada di samping-sampingnya. Jadi memang tidak ada agenda khusus, tidak seketat protokol saat berada di rumah sendiri. Wong masakan saja sudah disiapkan. Biasalah, masaknya porsi besar yang bisa dihangatkan untuk beberapa hari. Jadi tinggal cidak-ciduk saja seenak udel. Favorit Mamih (begitu kami menyebut Mamak Mertua) adalah sayur thewel aka gori atau nangka muda. Modelnya dibuat santan pedas. Lauknya opor ayam atau ayam kecap. Ayamnya hasil motong sendiri. Piaraan tapi yang jenis kampung. Jadi dagingnya agak wuled karena jago tua. Babonnya ada juga sih. Tapi yang ini buat digoreng biasa. Jadi perkara masak-memasak aku ga ada andil. Tinggal makan saja... meskipun bagian asah-asahnya ya tetap aku yang tackle-in (baca : cuci piring). Sama nyapu atau apa lah. Walaupun ga pernah diperintah langsung alias atas inisiatif sendiri. Ya masa kan gw ga ngapa-ngapain ? Bagaimana presedenku sebagai daughter in law. Tengsin lah yaaw, wekekek.

Baca juga : Gustyanita Pratiwi trip dan kuliner di Solo

Rabu, 24 Juni 2020

Cerewet




Siapa di sini yang cerewetnya di blog aja, tapi aslinya pendiem, cung ! 

Tebakanku sih banyak ya ?

Termasuk yang lagi ngetik postingan ini. Ga pendiem-pendiem amat sih sebenarnya. Apalagi se-cool Ai Haibara dalam Serial Detective Conan. Gw tuh ya....eng...apa ya namanya. Lebih ke kalem deh keknya. 

Ya, semacam kebutuhan ngeluarin 20.000 kata per perharinya as wanita lah, yang emang begitu kan lumrahnya menurut apa kata artikel, wekekek..  Jadi gw tuangkan sebagian kata-kata itu lewat tulisan di blog.

Selasa, 23 Juni 2020

Sebentar Panas, Sebentar Ujan...


Oleh : Gustyanita Pratiwi

Akhir-akhir ini langitnya kayak sering ngajak bercanda. Sebentar panas, sebentar ujan. Sampe engga tau lagi ini udah masuk musim apa. Harusnya sih uda musim kemarau ya. Tapi kok kayaknya masih sering geludug aja. Kadang ujannya gede, kadang ujannya kecil. Tapi sukses bikin cucian ga kering juga dalam satu kali naroh di tiang jemuran.

Yah, begitulah keadaan. Semua kan bergantung pada cuaca. Jadi ritual ngegilingnya pun harus kena imbasnya juga. Mau dirapel, kok ya kadang pas mataharinya suka ngumpet. Mau dicicil per 2 hari sekali sekian baju--biar weekend bisa taktinggal leyeh-leyeh, eh la kok gw-nya yang pegel... lha kan gw bukan binatu, jadi ya wes lah tetep aja nyucinya itu selalu w rapel. Biasanya kucuci sebelum Jumat. Ga saklek sih ini. Yang penting weekend beres. Karena kan kalau uda Jumat naga-naganya uda pengen gegoleran aja ya cem uler kadut. Jadi yaudah lah konsekuensinya adalah semuanya gw kebut dengan harapan weekend bisa lebih santaian dikit. Pilihannya kalau ga Selasa ya Kamis #nacib_mamah-mamah muda (udah tuwek kali ah) yang demvlond bin unyu-unyu (hoek) dan tukang galaw begini #nyuci baju aja pake galaw segala #sueeee memang.

Sabtu, 20 Juni 2020

"Obsesi Tinggi"



Oleh : Gustyanita Pratiwi

Kapan hari aku lagi ada obsesi sama sesuatu. Bukan kepengenan untuk mengikuti jejak blogger muda angkatan gw yang dulunya masih ber-elo-gue-an ria tapi sekarang udah bermetamorfosis jadi penulis dengan gaya essay semua yang which is itu keren, sementara gw masih di sini-sini aja--belom sampai ke arah sana, bukaaaan... Tapi terobsesi sama resep jajan-jajan receh yang tersebar di segala penjuru dunia kanal youtube dan pengen aku cobain satu-satu.

Mulai dari cireng, cimol, bakwan sayur yang kalau bisa rasanya seenak bikinan abang gorengan, gabus keju, sampai risol mayo yang kedengarannya sih gampang banget ya. Jadi Ai pantengin aja tuh satu-satu channel youtubenya (entah punya siapa) walaupun tanpa subscribe, like, ataupun komen, hahhaha...


Kamis, 18 Juni 2020

Sinopsis Revenge of The Pontianak (2019)



Oleh : Gustyanita Pratiwi

Sinopsis Revenge of The Pontianak (2019)

Dimulai dengan adanya suara rintihan seorang wanita diantara gelapnya kebun pisang. Suaranya sangat menyayat hati dan penuh keputusasaan. Mengaduh-aduh, seperti orang kesakitan. Suara siapakah itu ? Semua masih menjadi misteri karena jawabannya tentu saja akan muncul di pertengahan cerita. 

Semenjak peristiwa itu, tahun demi tahun pun berganti. Kini, di desa tersebut sedang ada iring-iringan pengantin yang mengantarkan Khalid, seorang duda anak satu yang menikahi gadis sederhana bernama Siti. Ibu dari Nik yang merupakan anak dari Khalid, diceritakan pada Siti sudah tidak mencintainya lagi sehingga pergi entah kemana meninggalkan Khalid dengan Nik yang pada waktu itu masih bayi (banget). Siti pun percaya saja apa kata Khalid. Sebab Siti sudah kadung cinta pada Khalid. Sudah merasa bahwa Khalid jodohnya. Jadi apapun yang dikatakan Khalid ya Siti manut saja. Padahal belum tentu juga kan Khalidnya jujur. Tapi terlepas dari itu semua, keduanya pun tampak sangat bahagia bersandingkan di pelaminan. Pesta berlangsung sangat meriah. Tamu-tamu datang silih berganti dan mengucapkan selamat. Pun demikian dengan Ibu Khalid yang turut memberikan wejangan kepada anak mantunya supaya setelah mengarungi bahtera rumah tangga dapat hidup rukun saling mengasihi. Juga berharap agar Nik cucunya bisa segera akrab dengan ibu sambungnya, Siti.Gustyanita Pratiwi_sinopsis_dan_review_film.

Sinopsis Revenge of the Pontianak (2019), source : imdb

Senin, 15 Juni 2020

Review New World (2013)



Oleh : Gustyanita Pratiwi

Sebagai pelahap film genre crime / action / thriller asal Negeri Ginseng, begitu disuguhi New World (2013), aku langsung pengen teriak : "Bedebah ! Ini sih kakap semua lakonnya !" Ga yang jahat, ga yang baik, ada pula yang abu-abu. Gimana ga kakap semua, sebut saja ada Choi Min-sik (The Oldboy, I Saw The Devil, Heart Blackened, Taegukgi, The Admiral : Roarring The Currents), Hwang Jung Min (yang jadi dukun di the Wailing, Veteran, Violent Prosecutor,  The Unjust, The Spy Gone North, a Bittersweet Life, Private Eye), Lee Jung-jae (The Housemaid, Assatination, Chief of Staff, Svaha : the Sixth Finger), Park Sun Wong (banyak jadi polisi dan penjahat di film thriller Korea), Jan Gwang (antagonisnya di Silenced, Masquerade, the Negotiation), Lee Geung Young (The Terror Live, a Company Man, Whistle Blower, The Berlin File, The Merciles), dll. #Review_ Gustyanita_Pratiwi

Sinopsis dan review New World (2013), source pict : imdb

Judul film : New World
Tanggal Rilis : 21 Februari 2013
Sutradara : Park Hoon-jung
Genre : Crime, action
Penulis : Park Hoon-jung
Produser : Han Jae-duk, Kim Hyun-Wo
Musik : Jo Yeong-wook
Sinematografi : Chung Chung hon, Yu Eok
Penyunting : Moon Se-kyung
Distributor : New Entertainment World Finecut (International)
Asal negara : Korea Selatan
Pemain : Lee Jung-jae (Lee Ja-sung), Choi Min-sik (Kepala Polisi Kang Hung-chul), Hwang Jung-min (Jung Chung), Park Sung-woong (Lee Jang-gu), Choi Iil-hwa (Jang So-ki), Song Ji-hyo (Shin Woo), Jang Gwang (Director Yang), Kwon Tae-won (Director Park), Jo Jin-moo (Direktur Ko), Lee Geung Young (Seok Dong-cheol)
Durasi : 134 menit

Kamis, 11 Juni 2020

"Ngeblog Pake HP"


Oleh : Gustyanita Pratiwi

Uda lama nggak buka leptop. Jadi ngeblognya pake HP aja. Eh nggak HP-HP amat ding. Tapi agak besaran dikit yaitu pake tab (tablet). Tab-nya Samsung tab S yang model jadul, sedangkan ilustrasi foto yang dari kamera sendiri biasanya pake Canon G7X Mark II kalau nggak camera digital biasa merek Canon. Kheseus foto yang dari camera ini biasanya kepake pas ngepost kuliner, jalan-jalan, atau masakanku. Untuk ilustrasi penunjang berupa gambar yang bikin sendiri biasanya ambil dari koleksi gambar lamaku aja. Atau kalau mau yang baru ya langsung sat-set-sat-set nggambar pake driji alias nunyuk-nunyuk layar apps gambarnya pake jari aing sendiri. Kalau pas lagi niat banget nih, sesekali pake pen digital dengan aplikasi gambarnya autodesk sketchbook. Tapi ini baru-baru aja sih yang langsung gambar dari tabnya. Sebelumnya kebanyakan gambar dulu di atas kertas terus discan yang so ribet sekali...tapi gw pede-pede aja ya meski gambarnya juga masih elek betul, hehe....#GustyanitaPratiwi


Selasa, 09 Juni 2020

Resep Tape Ketan Hitam


Oleh : Gustyanita Pratiwi

Perasaan admin blog ini uda khatam banget ya ngepost tentang tape ketan. Dulu pernah ngepost tentang cara bikin tape ketan ijo, nah sekarang giliran tape ketan itemnya. Soalnya kurang afdol kan kalau belum dicobain semua, wekekek. Ini semua karena habis libur lebaran aku dan Tamas bikin prakarya tape yang sebelumnya selalu kami nikmati pada saat lebaran di kampung halaman. Tapi berhubung kami ga mudik dan tetep ndekem aja di rumah kayak kucing, akhirnya jadilah ide-ide gila buat bebikinan apa gitu kek, dan salah satunya adalah tape ketan hitam. #GustyanitaPratiwi_Recipe

Sebenarnya bikin tape ketan ini lagi-lagi karena diajarin Pak Suami. Soalnya seperti yang aku bilang sebelumnya, emang dia lebih jago sih urusan masak ketimbang aku yang jagonya bagian finishing alias bersih-bersihnya doang #waduw. Jadi.... aku mah tinggal bantu doa aja merekonstruksi ulang masakannya aja. Lalu berdua uplek di dapur sebelum new normal dan kemarenan udah masuk kantor lagi. Jadi beliau mentraining gua duluan buat bebikinan apa kek yang berfaidah dikit, wakkakak...

Minggu, 07 Juni 2020

Ayam Kecap....



Oleh : Gustyanita Pratiwi

Salah satu resep yang pengen aku recook dari masakan mertua adalah ayam kecapnya. Ya, karena modelan masakan mertua ga begitu complicated bumbunya alias gampang dipraktikkan.

Apalagi kalau urusan lauk hewani, diantara ayam, daging, atau ikan, aku cenderung lebih bisanya ngolah ayam. Kalau daging paling cuma bisa buat isian sop #haha #sedih. Kalau ikan ? Agak riweuh ngolahnya sebenarnya saya tuh. Eh ayam juga riweh kan kalau beli yang utuhan. Tapi untung aja di tukang daging langganan udah ada yang dalam bentuk jadi. Maksudnya udah ada yang dibersiin dan dipotong-potong jadi amat sangat memudahkan bagi tipe-tipe orang yang ga mau ribet seperti gw, hahaha...#GustyanitaPratiwiResep

Eh tadi aku mau nulis resep ayam kecap kan ? Kok jadi kemana-mana yah. Ya udah deh, here we go ayam kecapnya ...

Kamis, 04 Juni 2020

Cerpen Majalah Bobo Jadoel Tahun 90-an yang Paling Membekas di Hatiku


Oleh : Gustyanita Pratiwi

Seperti yang sudah sering aku bilang di blog ini bahwa aku adalah termasuk generasi 90-an yang sangat menggemari Majalah Bobo. Saking terlampau gemarnya, aku bahkan masih ingat beberapa judul ceritanya, baik itu dongeng, cerbung, maupun cerpennya. Cergam singkatnya seperti Keluarga Bobo, Oki dan Nirmala, Dombi dan 3 Kurcaci, Kisah-Kisah Gogori si Anak Petani, Pocil, Paman Kikuk, Husin, dan Asta, Juwita dan Si Sirik, atau Bona dan Rong-Rong juga aku suka. Tapi itu ntar lah aku ulas kapan-kapan. Sekarang saatnya aku mau ngulas cerpen-cerpennya dulu, especially yang paling membekas di hatiku. Sebelumnya kan aku sudah pernah ngulas dongengnya ya. Nah, sekarang giliran cerpennya. Menurutku ya, selain cerita dari si cerpennya bagus, aku juga suka sama ilustrasinya. Terutama untuk Bobo yang tahun-tahun 90-an, antara 1990-1999. Paling sukanya sih di cerpen Bobo yang 1995, 1996, dan 1997. Ntah kenapa feelnya itu dapet banget (di aku).

Nah, lalu list cerpennya apa saja. Berikut aku sarikan dengan singkat-singkat saja ya. Siapa tahu ada yang ingat juga dan barangkali ada yang mau bernostalgia, hehe...#GustyanitaPratiwi


Senin, 01 Juni 2020

Nasi Kotak Kantor



Ibu aku termasuk orang kantoran. Eh, sekarang juga masih deng. Tinggal nunggu 4 tahun lagi biar ibu bisa pensiun. Ga sabar deh nunggu waktu itu tiba, biar Uti bisa sering main ama cucuw #ihihihiw #maksudnya biar gw bisa pacaran dulu ama bapaknya naq-anaq gituuuh #ketawaAlaBernardBear.

Ibu, secara otomatis jadi role model aku dalam berbagai hal, termasuk tentang kepengasuhan anak. Walaupun kami berbeda profesi tapi tetep aja aku banyak mencontoh cara-cara ibu dalam mengurus segala sesuatunya. Ibu yang pegawai kantoran sedangkan anaknya yang nomor 2 dan ngeyelan ini sampai saat ini masih on the right track jadi ibu rumah tangga (eh tapi aku happy loh jadi ibu rumah tangga :D, seenggaknya sampai dengan saat ini masih konsistain, ntah nanti akan tetap jadi IRT atau ga, wallohualam biar semesta yang menentukan).

Oh ya, ngomongin ibu, selalu ada cerita tentang sosok ibu. Kalian gitu juga ga ?  Kayaknya hampir semuanya gitu kan ...


Minggu, 24 Mei 2020

"Happy Lebaran Dear Pembaca"



Kali ini update-annya super singkat, hihi...
Terima kasih sudah singgah membaca ya
Baik silent reader, pembaca yang nyasar (pembaca organik), atau teman-teman blogger yang biasa singgah kemari
Have a nice day :D

Rabu, 20 Mei 2020

Contoh Menu Masakan dalam Seminggu




Uda hitung mundur Lebaran, uda ga konsen, hihihi... Bawaannya pengen liburrr aja ngeblognya. Ada yang sama ga kayak aku yang lagi pengen sante-sante weh ngeblognya... Pengennya ngebluk aja bareng anak dan juga Pa Suami sambil marathonan film-film...#wah wah wah. 

Ya, sejalan dengan banyaknya tanggal merah yang berderet-deret di kalender, dan biarpun masa-masa ini banyak aku habiskan di rumah aja alias GA MUDIK~~ tapi tetep aja hawanya pengen ngebluk. Iya, aku mah tetep di sinii aja nih, yaitu di Tangerang City. Ya, walaupun bakal berlebaran di tanah rantau, tapi rasa-rasanya lebaran itu harus tetap berkesan dong ya seperti halnya lebaran-lebaran pada tahun sebelumnya. Alhamdulilah Bapak Ibu serta Mamak Bapak Mertua di kampung halaman sana sehat-sehat saja. Dan yang terpenting adalah mereka cukup pengertian dengan adanya ketidakbisaan kami pulang pada Lebaran tahun ini. Sesuai dengan himbauan pemerintah, ya kami sebagai rakyat kecil mah manut saja lah ya dengan harapan mudah-mudahan segala pandemi ini cepat berlalu. Amiiin ya robbal alamin.

Oh ya, ngomongin update-an kali ini, sebenernya aku cuma mau upload singkat-singkat aja tapi sebagai gantinya biarlah foto yang bercerita. Waduw ? 

Jumat, 15 Mei 2020

"Merah Jambu"



Oleh : Gustyanita Pratiwi

Hay Blog !

Tahu ga, aku punya satu bulan dalam kalender setahun yang bagiku warnanya merah jambu. Bukan Februari seperti halnya punya orang-orang. Tapi Mei. Di Bulan Mei, aku dan si dia mengikat janji (duh biyung, ngapa jadi roman picisan kayak gini ya, haha... bisa-bisa yang lain pada muntah). Ga kok aku masih sayang sama pembaca, jadi aku ga akan berpuitis-puitis ria karena entahlah makin ke sini kapasitas otakku makin ngeblank tiap kali mau bikin 'kata-kata bersayap'. Udah jauh dari jaman-jaman abege yang nulis begituan terasa gampang. Ah, apa aku udah sebegininya ya termakan realita kehidupan, mungkin juga..

Baca juga : "Mei di Tahun ke-2"

Inget pas awal-awal diapelin pake motor ninja, sampai sekarang uda ada buntut 2, Gambar : Gustyanita Pratiwi

Minggu, 10 Mei 2020

"Menjawab Pertanyaan Diri Sendiri"



Oleh : Gustyanita Pratiwi

Hallo Blog ?

Tebak aku lagi ngapain ? Lagi tarlingan lagunya Mbak Dian Anic nih sambil hokya-hokya ha-e ha-e #etdah, haha....

Ceritanya aku lagi kebanyakan energi nih buat nulas-nulis di blog. Jadi, sebagai pemanasannya aku akan memulainya dengaaaaaaaan...tet tet tet teteeeeeeeeeed...iseng bikin pertanyaan sendiri terus nanti juga bakal dijawab sendiri (kalau jaman dulu sih namanya lempar-lemparan Liebster Award ya). Tapi kalau sekarang sih uda jarang. Eh, pembaca yang mau ikutan jawab juga monggo loh di kolom komentar. Kalau ga ya udah lewati aja soalnya seperti biasaaaa, tulisanku kan ga ada yang penting, haha...

Gambar : bikinan Gustyanita Pratiwi alias sang admin dari blog ini :D

Sabtu, 09 Mei 2020

Just Mercy (2019)


Emotional dan Mengoyak Psikologis !

Oleh : Gustyanita Pratiwi

Melalui blog ini, kadang aku merasa bahagia tatkala merekomendasikan sebuah film yang harusnya punya kans besar untuk dipuji setelah ditonton. Salah satunya adalah Just Mercy (2019). Sebuah film bergenre biografi, crime, sekaligus drama yang diadaptasi dari memoar seorang penebang kayu bernama Walter 'Johnny D.' McMillian, pria campuran antara Afrika-Amerika yang dijatuhi hukuman mati atas tuduhan pembunuhan wanita muda (18 tahun) bernama Ronda Morrison pada tahun 1986. Kasus yang menggegerkan ini kemudian mendapat perhatian khusus dari seorang pengacara muda lulusan Harvard, Bryan Stevenson pada tahun 1989. Ia berniat membantu Johnny D. McMillian secara cuma-cuma karena yakin adanya upaya salah tangkap setelah adanya kesaksian palsu dari seseorang yang berstatus sebagai terdakwa bernama Ralph Myers. Myers sendiri dicurigai telah melakukan kebohongan karena bisa jadi ia mendapatkan tindakan intimidatif dari pihak-pihak tertentu agar Johnny D tetap kekeh dijadikan kambing hitamnya. #GustyanitaPratiwi_sinopsis_&_review_film


Judul film : Just Mercy 
Genre : drama hukum 
Negara : Amerika Serikat
Sutradara : Destin Daniel Cretton
Pemain : Michael B. Jordan, Jamie Foxx, Rob Morgan, Tim Blake Nelson, Rafe Spall, Brie Larson.
Tanggal rilis : 10 Januari 2020 (Amerika)
Bahasa : Inggris
Nominasi : Penghargaan Screen Actors Guild untuk Aktor Pendukung Terbaik, NAACP Image Award untuk Penulis Naskah Terbaik, NAACP Image Award for Outstanding Breakthrough Role in a Motion Picture

Rabu, 06 Mei 2020

The Lunchbox 2013 : Kisah-Kisah dalam Setumpuk Rantang Makan Siang yang Tertukar


Oleh : Gustyanita Pratiwi

"Bukan anak kembar dalam sinetron saja yang bisa tertukar, tapi rantang makan siang juga bisa tertukar, hehe..."

Seperti sebuah kebetulan yang ga diduga-duga, baru saja kemarin aku menuntaskan The Lunchbox (2013) untuk yang kesekian kalinya, eh ga tahunya begitu menengok ke laman berita online malah mendapati sebuah berita duka....sang pemeran utama dalam film ini dinyatakan meninggal dunia untuk selama-lamanya (baca : Irrfan Khan). Jadi agak lumayan syock juga aku bacanya. Seperti sebuah kebetulan yang ga diduga-duga #feeling deeply condolences :'(   #GustyanitaPratiwi_sinopsis_&_review_film

Kisah dari setumpuk rantang makan siang yang tertukar, The Lunchbox (2013), source : imdb

Minggu, 03 Mei 2020

Lebaran dan Biskuit Kaleng yang Bercerita



Oleh : Gustyanita Pratiwi

Kalau diliat-liat, aku sering juga ya bernostalgia tentang masa kecil di blog. Memang sih aku ngerasa masa kecilku itu kebanyakan indahnya. Jadi yang ada dalam memori ya emang begitu adanya. Ga ada kenangan buruk yang terlalu berarti sehingga ketika aku menuliskannya ya antusias aja rasanya. 

Meskipun Bapak Ibuku kerja, tapi aku tetep hepi-hepi aja di rumah. Kan lepas SD kelas 3 aku uda ga dititip lagi tuh sama tetangga. Ga kayak pas TK atau SD kelas 1. Jadi, uda dibolehin sendirian sambil nungguin Bapak Ibu pulang. Sebab Bapak kerja di STM di daerah Purworejo. Sedangkan Ibu dines di daerah Kebumen bagian Kabupatennya. Nah, rumah kami ada di tengah-tengahnya.

Biasanya sambil menunggu mereka pulang, aku ya main apa aja yang sekiranya menarik. Entah main sama teman-teman atau sendirian aja uplek sama tv, nonton telenovela juga iya hahahhah....tapi sebelum nonton telenovela biasanya di Indosiar kan ada tuh acara Teletubies, Sesame Street, Bananas in Pijamas, dll. Dan itu aku tonton juga dong, wakakak. Kalau main sama temen paling diajak mbolang ke sawah atau kebun tetangga buat nyari buah, main ke sungai, mancing, main lompat tali, sudamanda, mini-minian, barbie, petak umpet, dir-diran alias gundu atau kelereng, layangan, yoyo, kwartet, dll. Banyak deh. Pokoknya kebanyakan main di luar atau yang tradisional-tradisional gitu. Nah itu pas hari-hari biasa. #GustyanitaPratiwi_childhoodmemory

Sabtu, 02 Mei 2020

4 Rekomendasi Food Vlogger dengan Kualitas Video 4K (Ultra HD)



Oleh : Gustyanita Pratiwi

Kayaknya sekarang aku udah jarang banget mantengin TV. Soalnya aku gampang stress kalau ngeliat berita isinya covid. Makanya sekarang aku larinya ke youtube. Walaupun di youtube juga ga memungkiri bakal ketemu berita covid juga, tapi seenggaknya kan bisa skip-skip. 

Dulu aku pernah bilang bahwa aku ga gitu suka liat youtube. Biasanya aku bingung tuh kalau pas berhadapan dengan youtube maunya nonton apaan, karena kan aku ga pernah subscribe-subscribe channel tertentu. Kalau mau nonton ya ngacak aja. Kemana jari ini akan melangkah ya itu yang diklik. Kalau ga sengaja nemu yang menarik ya disamperin. Kalau ga ya ga. 

Ohhhh Man, Qu bener-bener takjoeb liat youtuber berikooot

Jumat, 01 Mei 2020

Resep Manisan Kolang-Kaling Ala Mbul Part 2


Oleh : Gustyanita Pratiwi

Kali ini aku mau posting yang super singkat aja. Pasti yang baca seneng kaaand karena tulisannya ga kepanjangan, ahahahhaha...#ooopsss. Ya, soalnya label resep emang mau kubikin sesimpel mungkin. Yang penting jembrengin aja foto step by step-nya banyak-banyak. Biar lebih jelas dan meyakinkan gitu. 

Oke, berhubung kemarin aku udah posting menu buka (dan sahur) ala-ala, nah sekarang aku mau kasih resep dessertnya. Atau yang dimakan sebagai pencuci mulut alias yang manis-manis. Yaitu favoritku apalagi kalau bukan manisan kolang-kaling. 

Memang sih dulu aku pernah ngepost manisan kolang-kaling juga di puasa tahun keberapa gitu, cuma yang itu kan warnanya merah. Nah sekarang aku pengen yang warnanya ijo #lho emang penting gitu ya? Wekekekk, yongkraaaii, penting dong mameeend ! Biar ada variasi gitu loh. Soalnya kebetulan dapat kolang-kaling di pasar yang bentuknya segedem-gedem tea', alias meuni gede-gede pisan. Sayang kan kalau ga segera dieksekusi, bisa-bisa ntar keburu kisut lagi... Makanya mumpung ada waktu, sekalian aku masak aja.

Kamis, 30 April 2020

Menu Buka Puasa Ala-Ala...


Oleh : Gustyanita Pratiwi

Menu buka (sekaligus sahur) kali ini aku bikin yang simple-simple aja. Sengaja ga masak dua kali biar menghemat waktu, energi, serta biaya #halah udah kayak iklan apaan tauk, haha. Tinggal sat-set-sat-set, sing penting ndang mateng, ndang dipangan, ndang entek. Lagipula buka pake kuah-kuahan juga okay kan ya biar perut ga langsung kaget kena yang berat-berat. #GustyanitaPratiwi_Resep.

Nah, pas moment masaknya itu, pokoknya diri ini udah menjelma bagaikan squidword yang tangannya ada banyak. Satu megang sutil, satu megang wajan, satu nguleg bumbu, satu petik-petik sayur. Kepala juga bentar-bentar nengok ke si Kakak yang lagi asyik main di ruang tamu yang sengaja kugelarin kasur tipis berdeketan dengan dapur (karena kan rumah aku kecil ya, jadi kemana-mana itu deket, mau ke kamar deket, mau ke dapur deket, mau ke kamar mandi juga deket, pokoknya semua serba deket, bahkan ruang makan pun kami ga punya saking minimalisnya rumah kami hahaaha...... jadi, kalau makan ya lesehan aja di atas kasur tipis yang ada di ruang tamu, wekwekwek).

Selasa, 28 April 2020

My Comfort Zone's Playlist


Oleh : Gustyanita Pratiwi

"Hello, good morning, how you do?"

"What makes your risin' sun so new?"

Lah ? Itu mah lirik lagunya Swichfoot yang berjudul 'Learning to Breath' ya. Tapi bukan itu sih judul yang aku suka, melainkan ada lagi judul yang lain yang menurutku ga kalah oke. Tiga diantaranya adalah Dare You to Move yang menjadi salah satu ost filmnya Mbak Mandy Moore yaitu Walk to Remember (awww ketahuan banget deh gw anak lamanya, haha...), Awakening, sama This is Home yang menjadi salah satu ostnya Narnia. Kenapa aku suka banget sama lagu ini ? Karena musiknya bikin semangat, walaupun kalau didengerin sambil pejemin mata, liriknya ada sebagian yang  terkesan mellow, hehe.. Tapi bagi gw itu ga masalah, soalnya gw tetep suka. Jadi kalau uda kedengeran starting lagunya nih, maka yang ada adalah gw yang tetiba pengen meragain gesture vokalisnya ketika doi sedang menyanyi #halah... hahaha.... 

Selasa, 21 April 2020

Ngemper Sejenak di Tukang Durian Pinggir Jalan Depan Telkom Kebumen


Oleh : Gustyanita Pratiwi

Keterangan : Liputan kuliner kali ini sudah dilakukan jauh  sebelum adanya pandemi yang menghebohkan dunia persilatan. Karena dalam bulan-bulan terakhir memang ga pernah kemana-mana alias #diRumah_aja

Suatu kali...

"Bull, pengen mandeg bentar ga? ", kata Pak Suami saat kami sedang melintasi Kebumen Kota, lebih tepatnya seberang Kantor Telkom, setelah arah-arah Tugu Lawet. 
"Emangnya kenapa Mas?"
"Liat tuh sebelah kanan jalan, ada yang sudah mengawe-awe dirimu supaya segera dibeli loh !"
WOW ! Begitu melihat ke arah jendela sesuai arahan Pak Su, Sugembulwatie alias Trumbul alias Tubul alias Ubung alias Pratiyem alias Tiyem alias gw segera membelalakkan mata berbinar-binar. Soalnya di sana ada buah kesukaanku yaitu durian. Mana duriannya montok-montok pula. Kuning keemasan di emperan jalan, digelar begitu aja, ada pula yang digantungin. 
"Gimana Bull? Tertarik beli ga, tar kalau udah balik Tangerang nyesel loh klo ga beli ?" Pak Suami kembali menggodaku untuk melipir ke bakul durian itu. 
Eh betewe, kok dari tadi Aku dipanggil Ball-Bull-Ball-Bull yes? Kan gw jadi inget tokoh Butal Bull yang ada dalam serial One Piece, hahaha. 

Oke fokus.

Eheum...maksudnya...

"Gimana Dek Nyiet? Mau turun ga? Turun aja yok, nyobain beberapa biji, sambil makan situ. Kayaknya enak deh....sekalian ngadem."
Oke lah kalau ditawarin begini sih gw mana bisa menolaknya #padahal mengatakannya dengan senang.


Kamis, 16 April 2020

Waroeng nDeso Mbantoel : Spesialis Ingkung Jowo, Ayamnya Sak 'Hoh-Hah' !



Oleh : Gustyanita Pratiwi

Keterangan : Liputan kuliner kali ini sudah dilakukan jauh-jauh hari sebelum adanya wabah atau pandemi yang menghebohkan dunia persilatan. 

Pada suatu hari yang telah lampau, Aku, Pak Suami, serta anak-anak, ingin mengajak Kakung dan Uti untuk mencicipi  ingkung jawa yang menjadi primadona sebuah warung makan di daerah Bantul, Yogyakarta. Memang di Bantul ini ada satu kecamatan khusus yang terkenal dengan sentra ingkungnya. Kecamatan tersebut bernama Kecamatan Pajangan, yang berada sekitar 12 km dari Kota Yogya. Kalau kita melintas ke daerah sini nih, maka yang ada adalah setiap beberapa kilometer sekali ada warung makan yang menawarkan menu utamanya berupa ingkung.

Oh ya, kalian sendiri mungkin ada yang belum mudeng tentang apa itu ingkung ya. Khususnya bagi pembaca yang dari luar Jawa. Ingkung sendiri menurut informasi yang kudapat dari Wahyana Giri MC (2010), Sajen & Ritual Orang Jawa, Yogyakarta : Narasi. hlm. 25-26 adalah salah satu ubo rampe penting dalam kenduri adat Jawa. Biassnya dia diletakkan di atas nasi uduk dan ditempatkan pada wadah terpisah dibandingkan lauk dan sayuran lain dalam besekannya. Nah ingkung ini berasal dari ayam kampung jantan yang sudah tua dan dimasak utuh serta diberi bumbu opor, kelapa, juga daun salam. Dia ini kalau dalam istilah Jawanya melambangkan bayi yang belum dilahirkan sehingga masih suci, belum memiliki kesalahan apa-apa. Makna lainnya adalah sebagai sikap pasrah dan menyerah atas kekuasaan Tuhan YME. Nah, dimasukkannya ingkung ke dalam ubo rampe kenduri dalam sebuah hajatan atau selamatan adalah dimaksudkan agar dapat mensucikan orang yang mempunyai hajat sekaligus tamu yang menghadirinya. Lalu, apa jadinya jika ingkung ini dijadikan menu utama sebuah warung makan? Padahal kan biasanya menu utamanya kalau ga ayam goreng kan ayam bakar ya? Nah ini lain daripada lain, karena basiknya asyam yang direbus. Pastinya jadi lebih istimewa juga dong ya karena menonjolkan sisi tradisionalnya...

Senin, 13 April 2020

Cerita di Balik Semangkuk Ramyun Teopokki



Oleh : Gustyanita Pratiwi

Semangkuk Teopokki Ramyun dan Halaman Khusus untuk Creameno

Senja pada pekan lalu aku mendapat sebuah paket spesial dari seorang teman blogger yang aku kenal baru-baru ini. Isinya Ramyun Teoppoki dan juga oden. Pengirimnya Mbak Eno. Pemilik blog Creameno. Tapi aku lebih sering memanggilnya Mbak Eno. Seperti halnya teman-teman blogger yang lain yang menyebutnya demikian, sebenarnya aku juga belum tahu siapa nama asli Mbak Eno. Entah kata 'eno' dalam penggalan nama blognya merupakan nama aslinya atau bukan. Tapi yang jelas Mbak Eno ini orangnya humble binti baik hati binti pinter binti suka menabung. I know that sebab salah satu kebiasaannya adalah sering memberikan bingkisan kepada orang-orang tercinta. Jangankan yang tercinta deh, orang yang bukan siapa-siapanya aja sering dikasih hadiah. Aku misalnya.. Iya, aku yang cuma sering ber haha-hihi doang di kolom komentarnya ini udah dapat hadiah sebanyak 3 kali (walaupun mungkin jenis komentarku ga sebermutu atau sepanjang yang lain, wekekek, piece Mbak Eno...cuma memang aku sering antusias kalau nemu blog yang selalu memuliakan pengunjungnya dengan cara tek tok dalam hal berinteraksi). Dah gitu, emang postingannya seru-seru sih, kadang bikin senyam senyum geje soalnya cerita-cerita dan karakter yang ditampilkan begitu menggemaskan...sampai kadang aku bertanya-tanya dalam hati bahwa sosok asli dari seorang Creameno itu seperti apa sih. Soalnya menurutku Mbak Eno ini misterius tapi juga lucu, kelihatan dari bahasa blognya yang menurutku comical banget, bhahhahha). Dari situlah lah otak serasa langsung memprogram supaya langsung ingat Creameno di luar kepala,  selain tentu saja karena alamat url blognya uda secara otomatis tersimpan dalam bentuk chace maupun halaman yang aku bintangi. Jadi, okey aku sering berkunjung ke blognya tanpa perlu dikode-kode morse terlebih dahulu, karena emang suka, hihi. Bahkan kadang ya, kalau lagi gabuuuuut banget diri ini, yang ada malah aku bacain satu-satu tuh acara bales-balesan di kolom komentarnya, wakakak..

Comic by :Gustyanita Pratiwi

Minggu, 12 April 2020

Hobiku....



Oleh : Gustyanita Pratiwi

Jam 23.07 menit

#habis nonton Escape Room bareng si Mas...
#tapi abis itu pingin lanjut ngeblog lagi. 
#walaupun isinya singkat-singkat aja. 
#Sebab ini malam Minggu,
#jadi adminnya pengen uhumb uhumb.... maksudnya uhumb-uhumb itu leyeh-leyeh sambil ngeteh bin ngupi-ngupi cantik atau ngemil nasgor gituw ((owalah ngemil kok nasgor, piye tuh pipi mo gembes Mbul?)), haha. 

Kali ini aku mau ngomongin hobi. Udah kayak tugas mengarang aja kan temanya hobi? Tapi biarlah. Sebab aslinya emang pengen majang gambar oret-oretanku yang ini nih.... Sedangkan gambarku yang lain bisa diklik di sini nih---> "Portofolio Gambar Iseng-Iseng Aja".

gembulnita (Gustyanita Pratiwi)

Jumat, 10 April 2020

Sinopsis The Boat (2018)


Oleh : Gustyanita Pratiwi

Okay, ini aku memang telat nonton The Boat (2018), yang ternyata wanjaiiii keren juga ya. Aduh, kenapa baru sekarang aku bisa menyelesaikan streamingan film ini--padahal rilisnya udah dari 2 tahun yang lalu. Itu pun yang di UK. Sedangkan yang di Malta baru rilis 2019. Tapi tetap saja aku antusias menontonnya. Sebab genre begini memang sudah jadi kesukaanku sejak lama. Mystery bercampur thriller, dengan sedikit bumbu horror. Siapa yang ga penasaran coba? Sambil setengah memaksa Pak Suami buat ikutan menonton juga padahal biasanya dia males karena udah underestimate duluan terhadap film-film yang aku rekomendasikan. Dipikirnya film-filmku tuh ga okay. Sedangkan film-film dia selalu yang jadi juaranya, seringnya jadi blockbuster. Dia kan sukanya lebih ke action ya, sedangkan aku suka yang tegang-tegang #Bhuwh #bagaimana bisa kompak coba, wakakak.

Tapi pas tau ternyata film ini menyuguhkan kesan misteri yang cukup mendalam, maka done juga akhirnya kami menyelesaikannya (apalagi setelah dipertegas dengan melihat trailernya terlebih dulu). Begh....semakin penasaran saja. Dari awal, tengah-tengah sampai akhir rasanya kayaknya ada 'sesuatu' yang menyihir kami buat mantengin terus supaya ga ketinggalan bagian pentingnya. Daaaaan.....ternyata begitu nyampe akhir, 'pecah' banget sih menurut w. Seketika itu pula gw langsung tercengang. Ga cuma gw sih sebenernya yang tercengang, sebab Pak Su juga aslinya ikut tercengang saking ga nyangka endingnya bakal begitu, cuma klo dia mah ga ditunjukin aja karena biasalah gengsi kalau harus mengakui bahwa pilihan filmku itu bagus. Kenapa dengan entengnya bisa aku katakan bagus? Karena dengan film yang settingnya di situ-situ tok, jumlah pemain segitu, serta dialog yang super minimalis (karena yah...aslinya emang tokohnya cuma 1 itu saja sih, dan dia lebih ke ngomong ama dirinya sendiri saat terjebak dalam situasi yang sangat stressfull)--dan itu ternyata sepanjang film kami kayak dipaksa suruh nebak endingnya bakal gimana. Semacam sesuatu yang kami pikir endingnya bakal begini, e ternyata kenyataannya bakal begitu. Memang begini begitunya teh maksudnya aya naon eta teh?

Ketimbang kebanyakan ngemeng doang, yuk lah baca yang sudah aku sarikan jalan ceritanya. Tapi sebelumnya monmaap nih ye kalau misalkan review film di blog ini memang pakenya formula suka-suka. Jadi kalau terkesan amatiran dan ga kayak pengamat apalagi kritikus film, juga spoiler yang bertebaran dimana-mana, ya tulung dimaklumin saja ya, huehehe...#Sinopsis_dan_review_film_ala_GustyanitaPratiwi

Sinopsis The Boat (2018)

Sinopsis The Boat (2018), sumber gambar : imdb

Judul Film : The Boat
Negara : Malta, Uk
Sutradara: Winston Azzopardi
Produser : Joe Azzopardi, Winston Azzopardi, Roy Boulter
Skenario : Joe Azzopardi, Winston Azzopardi
Cast : Joe Azzopardi
Genre: Mystery, Thriller
Tanggal Rilis : 22 September 2018 (UK), 22 Februari 2019 (Malta)
Durasi : 1 jam 29 menit

Rabu, 08 April 2020

Umami...


Oleh : Gustyanita Pratiwi

Mengapa yah, kadang aku merasa heran sama masakan sendiri yang kadang ga seenak masakan Pak Suami. Ya, bisa dikatakan Pak Suami itu hampir semua masakan bisa. Dan rasanya juga enak-enak terus. Ga kayak aku yang ga konsisten. Kadang enak, kadang ga enak. Malah sering juga terasa horror, haaaaa. Entah keasinan atau apalah yang istilahnya kurang pas aja di lidah. Meskipun kalau doi turun gunung ke dapur, yang ada bakal terjadi kekacauan. Dapur uda bisa dipastikan bakal  kayak kapal pecah. Semua alat-alat bodoh dikeluarkan. Entahlah itu pisau, sutil, baskom, saringan, wajan, kalo atau ayakan, leyeh, panci, dll. Pisau, kalau ga cocok ama pisau kecil yang biasa kugunakan sebagai pemotong sayuran, e doi malah ngeluarin pisau daging segala yang ukurannya segede gaban golok. Malah abis itu pamer memperlihatkan skill memotongnya kepadaku yang dia bilang ala-ala chef di kartun Shokugeki no Sōma...

Doi juga sebenarnya obsesi banget sih pingin beli pisau keren nan mahal kayak yang biasa digunakan oleh chef-chef itu. Padahal harganya bisa nyampe ratusan ribu bahkan jutaan dan setiap hari selalu dipandangin terus dong itu pisau merek ina inu di olx, jd.id, atau lazada, hahaha...(tapi ya ini sih cuma sampai tahap dimasukkin ke keranjang doang, soalnya jelas ga boleh lah sama aku klo sampe beli, mendingan buat beli yang lain yang lebih bermanpangat...iya kan iya dong Sayaaaank). Atau kalau biasanya aku ngiris bumbu dasar kayak bawang merah, bawang putih, cabe, dll cuma langsung iris aja di atas talenan, nah kalau Pak Su ndadak ngeluarin beraneka macam tatakan atau piring-piring kecil. Sutil juga dikeluarin semua, entah itu yang terbuat dari kayu atau logam. Leyeh pun sama, baik yang modelnya kayak lumpang atau yang biasa. Berikut ulegannya. Terus segala macam panci, saringan juga dikeluarkan. Tapi abis itu dibiarkan menumpuk di tempat cucian. Jadi doi fokus masaknya aja. Sedangkan asah-asah dan sebangsanya tetap akan jadi pekerjaanku, uhlalaaaa... tapi kalau dipikir-pikir kenapa masakannya selalu enak ya memang bagian ininya sih yang jadi pembedanya. Ketika doi masak, yang dikerjakan cuma proses masaknya aja. Sedangkan aku ya semua-muanya, mulai dari masak sampai kebersihannya. Jadi kalau Pak Suami bilang : "Mungkin aku masaknya pakai cinta, Mbul..", sedangkan aku ya sebenernya pakai cinta juga sih, cuma ditambahi bumbu kemrungsung aja, wakakakk......

Minggu, 05 April 2020

Sinopsis Wallace & Gromit The Curse of Were Rabbit (2005)


Sinopsis Wallace & Gromit, The Curse of Were-Rabbit (2005)

Oleh : Gustyanita Pratiwi

Kalau ditanya judul film animasi apa yang layak aku sematkan kalimat puja-puji, mungkin Wallace and Gromit The Curse of Were-Rabbit adalah jawabannya. Film lawas ini dirilis pada tahun 2005. Dan entah kenapa aku ga pernah bosan melihatnya. 

Film ini bukan hanya menonjolkan sisi teknologinya saja, tapi juga bagaimana menempatkan sinematografinya secara apik, malah boleh dibilang sangat-sangat niat. Wong setting kebun sayurnya saja yang dijadikan sebagai inti cerita bisa menampilkan detail yang sangat cantik kok. Ya, kebun sayur berikut hasil panennya yang begitu ranum dan warna-warni itu, dimana keberadaannya menghias sepanjang durasi. Pokoknya benar-benar memanjakan mata dan membuat relax. Sebenarnya ketika menonton film besutan sutradara Nick Park dan Steve Box ini, aku merasa kayak menonton film action thriller (dan juga sedikit bumbu horror) sih, namun dengan kemasan animasi. Tokoh-tokohnya mengingatkanku pada permainan anak yang disebut dengan Clay. Itu loh adonan yang bisa dibentuk-bentuk. Ya, setipe kayak tokoh di film Chicken Run dan series Shaun The Sheep lah (lha wong masih dalam satu produksi yang sama, piye to aku iki, hahaha). #Sinopsis_review_GustyanitaPratiwi

Sinopsis Wallace and Gromit The Curse of Were Rabbit (2005), sumber gambar : www(dot)walaceandgromit(dot)com

Judul Film :
Wallace and Gromit The Curse of Were Rabbit
Sutradara : Nick Park, Steve Box
Negara : Uk, Usa
Bintang film : Helena Bonham Carter, Peter Kay, Peter Sallis, Ralph Fiennes
Genre: Animation, Comedy, Family
Diterbitkan : 4 September 2005

Jumat, 03 April 2020

Telur Entog




Oleh : Gustyanita Pratiwi

Kalau lagi ngaca, kadang aku ngerasa bagaikan entog......

Ebot-ebot gitu....

Lucu sih kata Kangmas Papa, tapi yekan gw pingin diet juga, wakakak.

Sebenernya ga sah diet juga sah-sah aja, sebab kalau diet-diet segala dikhawatirkan malah gw-nya yang sakit. Jare beliau mending gw rajin olah raga aja, biar swehat. Tapi kapan olah raganya, ya itu yang kadang cuma sebatas wacana. Soalnya susah. Anak masih pada gelendotin Simboknya, jadi ya olahraganya pas mau tidur aja. Olahraga opo kui Mbul #meragukan. Olahraga driji kali alias ngecekin dashboard blog, hahaha..

Rabu, 01 April 2020

Sinopsis Hantu Kak Limah (2018)


Oleh : Gustyanita Pratiwi

Baru sekali ini nonton horror, malah terpingkal-pingkal terus. Sebabnya aku baru saja menonton film horror asal Malaysia yang disutradarai oleh Mamat Khalid. Judulnya Hantu Kak Limah. Film ini dirilis pada tahun 2018, namun baru bisa aku nikmati sekarang melalui streaming online. Di Netflix dan youtube sudah ada loh. Tapi kalau di youtube memang agak terpotong-potong sih beberapa part-nya, hihihi...

Film Hantu Kak Limah ini bergenre horror komedi. Jadi sepanjang cerita berisi kekonyolan-kekonyolan yang menurutku sukses penyampaiannya. Terutama karena horror ini diperkuat oleh karakter hantu nenek-nenek yang berambut gimbal, wajahnya pucat, matanya hitam, kuku kakinya lancip-lancip seperti landak, pokoknya tampangnya sangat menyeramkan. Berbeda dengan karakter hantu kuntilanak yang notabene bergaun putih, si Kak Limah ini masih menonjolkan sisi tradisionalnya, yakni tetap mengenakan kain jarik dan baju kebaya. 

Lalu ceritanya seperti apa? Langsung saja lah aku coba tulis sinopsis dan reviewnya, meskipun mungkin kata-katanya akan sangat jauh dari review ala pengamat film. Ya, review biasa aja, sebagaimana aku mengamati as penonton atau penikmat film (review dan sinopsis by Gustyanita Pratiwi).

Sinopsis Hantu Kak Limah (2018), sumber gambar: imbd(dot)com

Selasa, 31 Maret 2020

Cerita Tentang Mie Ayam


Oleh : Gustyanita Pratiwi

Kalau dihadapkan pada semangkuk bakso atau mie ayam, udah pasti gw bakal pilih mie ayam. Bukan karena ngebenci bakso, bukan, tapi kalau nyemilin baksonya doang kok rasanya kurang (((perasaan macam huapaaah inih ?). Ya bayangkan aja, semangkuk bakso kalau pesan yang bukan kosongan kan cuma dikasih bihun atau mie kuning sekedarnya, udah gitu baksonya cuma 3 butir. Bakso urat 1, alusnya 2. Yeikan sekarang bakso semakin sedikit ya karena mungkin bahan bakunya mahal. Paling yang dibanyakin cuma kuahnya doang. Lainnya paling tambah-tambah cesin atau pokcoy. Kurang boook, sekali sruput langsung abis sampai ke dasar mangkok. Kecuali kalau nyemilinnya pake nasi. E dulu jamannya gw kecil sempat mengalami trend loh kalau makan bakso pake nasi atau kalau ga ya mie pake nasi. Double karbo amat yak. Gegeggekk. #GustyanitaPratiwi_kuliner

Baca juga : Safari Pecel Ayam