Minggu, 05 April 2020

Sinopsis Wallace & Gromit The Curse of Were Rabbit (2005)


Sinopsis Wallace & Gromit, The Curse of Were-Rabbit (2005)

Oleh : Gustyanita Pratiwi

Kalau ditanya judul film animasi apa yang layak aku sematkan kalimat puja-puji, mungkin Wallace and Gromit The Curse of Were-Rabbit adalah jawabannya. Film lawas ini dirilis pada tahun 2005. Dan entah kenapa aku ga pernah bosan melihatnya. 

Film ini bukan hanya menonjolkan sisi teknologinya, tapi juga bagaimana menempatkan sinematografinya secara apik sekali, malah boleh dibilang sangat-sangat niat. Wong setting kebun yang dijadikan inti cerita saja bisa menampilkan detail yang sangat cantik kok. Ya, kebun sayur berikut hasil panennya itu yang begitu ranum dan warna-warni menghias sepanjang film. Benar-benar memanjakan mata dan membuat relax, off course. Sebenarnya ketika menonton film besutan sutradara Nick Park dan Steve Box ini, aku merasa kayak menonton film action thriller (dan juga sedikit bumbu horror), namun dengan kemasan animasi. Tokoh-tokohnya sendiri mengingatkanku pada permainan anak yang disebut dengan Clay. Itu loh adonan yang bisa dibentuk-bentuk. Ya, setipe kayak Chicken Run dan Shaun The Sheep lah (lha wong namanya juga masih satu produksi yang sama, piye to aku iki, hahaha). #Sinopsis_review_GustyanitaPratiwi

Sinopsis Wallace and Gromit The Curse of Were Rabbit (2005), sumber gambar : www(dot)walaceandgromit(dot)com

Judul Film :
Wallace and Gromit The Curse of Were Rabbit
Sutradara : Nick Park, Steve Box
Negara : Uk, Usa
Bintang film : Helena Bonham Carter, Peter Kay, Peter Sallis, Ralph Fiennes
Genre: Animation, Comedy, Family
Diterbitkan : 4 September 2005

Jumat, 03 April 2020

Telur Entog




Oleh : Gustyanita Pratiwi

Kalau lagi ngaca, kadang aku ngerasa bagaikan entog......

Ebot-ebot gitu....

Lucu sih kata Kangmas Papa, tapi yekan gw pingin diet juga, wakakak.

Sebenernya ga sah diet juga sah-sah aja, sebab kalau diet-diet segala dikhawatirkan malah gw-nya yang sakit. Jare beliau mending gw rajin olah raga aja, biar swehat. Tapi kapan olah raganya, ya itu yang kadang cuma sebatas wacana. Soalnya susah. Anak masih pada gelendotin Simboknya, jadi ya olahraganya pas mau tidur aja. Olahraga opo kui Mbul #meragukan. Olahraga driji kali alias ngecekin dashboard blog, hahaha..

Rabu, 01 April 2020

Sinopsis Hantu Kak Limah (2018)


Oleh : Gustyanita Pratiwi

Baru sekali ini nonton horror, malah terpingkal-pingkal terus. Sebabnya aku baru saja menonton film horror asal Malaysia yang disutradarai oleh Mamat Khalid. Judulnya Hantu Kak Limah. Film ini dirilis pada tahun 2018, namun baru bisa aku nikmati sekarang melalui streaming online. Di Netflix dan youtube sudah ada loh. Tapi kalau di youtube memang agak terpotong-potong sih beberapa part-nya, hihihi...

Film Hantu Kak Limah ini bergenre horror komedi. Jadi sepanjang cerita berisi kekonyolan-kekonyolan yang menurutku sukses penyampaiannya. Terutama karena horror ini diperkuat oleh karakter hantu nenek-nenek yang berambut gimbal, wajahnya pucat, matanya hitam, kuku kakinya lancip-lancip seperti landak, pokoknya tampangnya sangat menyeramkan. Berbeda dengan karakter hantu kuntilanak yang notabene bergaun putih, si Kak Limah ini masih menonjolkan sisi tradisionalnya, yakni tetap mengenakan kain jarik dan baju kebaya. 

Lalu ceritanya seperti apa? Langsung saja lah aku coba tulis sinopsis dan reviewnya, meskipun mungkin kata-katanya akan sangat jauh dari review ala pengamat film. Ya, review biasa aja, sebagaimana aku mengamati as penonton atau penikmat film (review dan sinopsis by Gustyanita Pratiwi).

Sinopsis Hantu Kak Limah (2018), sumber gambar: imbd(dot)com

Selasa, 31 Maret 2020

Cerita Tentang Mie Ayam


Oleh : Gustyanita Pratiwi

Kalau dihadapkan pada semangkuk bakso atau mie ayam, udah pasti gw bakal pilih mie ayam. Bukan karena ngebenci bakso, bukan, tapi kalau nyemilin baksonya doang kok rasanya kurang (((perasaan macam huapaaah inih ?). Ya banyangkan aja, semangkuk bakso kalau pesan yang bukan kosongan kan cuma dikasih bihun atau mie kuning sekedarnya, udah gitu baksonya cuma 3 butir. Bakso urat 1, alusnya 2. Yeikan sekarang bakso semakin sedikit ya karena mungkin bahan bakunya mahal. Paling yang dibanyakin cuma kuahnya doang. Lainnya paling tambah-tambah cesin atau pokcoy. Kurang boook, sekali sruput langsung abis sampai ke dasar mangkok. Kecuali kalau nyemilinnya pake nasi. E dulu jamannya gw kecil sempat mengalami trend loh kalau makan bakso pake nasi atau kalau ga ya mie pake nasi. Double karbo amat yak. Gegeggekk. #GustyanitaPratiwi_kuliner

Baca juga : Safari Pecel Ayam

Senin, 30 Maret 2020

30 Jajanan Pasar Khas Indonesia yang Aku Suka


Oleh : Gustyanita Pratiwi

Hellllllaaaaaw, apa kabar teman-teman semua ?
Semoga masih pada sehat-sehat ya....

Oh ya, berhubung peralatan tempurku buat ngeblog (baca : tab, leptop, dan juga HP ku lagi pada angin-anginan alias ada yang retak karena jatoh, ngehank, dan yang lainnya lelet parah, aku mau nyicil stok postingan dulu lah ya. Ga pada bosen kan? Ntar kalau uda pada bosen ama tulisan kulinerku, takhibernasi dulu deh ya, wkwkwk #alesan ae Luh Mbul, padahal sebenarnya lagi mandan malas update karena every single time ngebaca berita tentang corona. Ya, ntar deh kalau coronanya uda berlalu, mungkin mood nulisku akan balik lagi, heuehhehe #alesan opo iki Mbul.

Oh ya, kali ini aku mau majang foto-foto jajanan pasar yang seperti biasa huntingnya uda dari kapan tau ya #minta digibenk banget kan cuma pajang pamer fotonya doang hahahah, ampunih aku pemirsa, tapi beginilah sejak blog ini pengen aku banyakin postingan kuliner dan sedikit demi sedikit mulai membatasi tulisan yang too much personal, jadi ya monmaklum kalau isinya seringnya makanan moloooooo. Sebab ga bisa dipungkiri bahwa setelah sakseis mengupload foto-foto makanan yang menggugah selera, ga terasa, timbul kepuasan dalam diri ini #eduuuuun bahasa w. Oke lah daripada berpanjang-panjang kata, langsung aja ini dia jajan pasar yang aku suka. #GustyanitaPratiwi_kuliner.

1. Kue Lopis/Lupis

Kue lopis atau  lupis terbuat dari beras ketan yang dikukus. Warnanya hijau, bentuknya segitiga. Kue ini biasanya digunakan sebagai pelengkap cenil, jajan pasar yang terbuat dari beras ketan, berbentuk bulat pipih, dan biasanya berwarna cerah seperti pink atau merah muda dan juga putih. Cenil ini dimakan bersamaan dengan klepon dan lupis itu tadi yang di atasnya disiram dengan menggunakan kuah gula merah atau yang biasa disebut sebagai juruh. Dia juga akan lebih lengkap jika dimakan bareng taburan parutan kelapa. Nah, cenil ini biasanya dibungkus dengan tum-tuman daun pisang.  Sayangnya, sejak tinggal di Tangerang aku agak kesulitan menemukan cenil. Adanya kue lopisnya thok yang biasa dijual gerobagan bareng jajanan pasar khas Medan lainnya semisal klepon yang gedenya sak-hoh-hah (e ini bahasa perumpaman gede-gede dalam bahasa Jawa aja ya hehe), putu bambu, dsb. Aku suka kue lopis karena pada dasarnya aku memang menyukai makanan berbahan dasar ketan.


Jumat, 27 Maret 2020

Bakpao Medan


"Bakpaonya Jumbow, Isiannya Meleleh !

Oleh : Gustyanita Pratiwi

Kalau gw hitung pake jari, tukang makanan yang biasa ngiter di tempat tinggal W lumayan banyak loh. Dalam sehari, bisa ada beberapa macam pedagang yang keliling menggunakan sepeda motor ataupun sepeda onthelnya. Ada tukang Sari Roti, Tahu Susu garis miring Tahu Bandung, Susu Nasional, Siomay, Es Kado, Chi Cong Fan dan Bakpao Medan. Ntar agak maleman dikit, baru ada bakso tik tok tik tok, tukang nasgor tek tek, sampai tukang sekuteng. Tapi memang akhir-akhir ini ga semuanya ngiter sih. Sekarang mah sepi...paling cuma ada 1-2 aja yang masih rajin keliling. Salah duanya ya Sari Roti dan Bakpao Medan. #GustyanitaPratiwi_Kuliner

Baca juga : "Menu Masakan Padang ini yang Aku Suka"
Baca juga :  "Berburu Jajan Pasar di Daerah Pejagoan Kebumen"

Selasa, 24 Maret 2020

Sate Partodrono, Paling Terkenal Seantero Pituruh (Lokasi Dekat Pasar dan PLN Pituruh)


Sate Partodrono, Paling Terkenal Seantero Pituruh (Lokasi Dekat Pasar dan PLN Pituruh)

Oleh : Gustyanita Pratiwi

NB : Liputan kulinernya seperti biasa udah lama ya kayak yang udah aku ceritain di sini. Soalnya kalau dalam bulan ini kan ga kemana-mana alias di rumah aja seperti yang dianjurkan oleh pemerintah. Namun, karena draft sudah meng-awe-awe diriku supaya segera mempublish tulisan terbaru, jadi monmaklum kalau tulisannya super duper latepost #hiyahiyahiya #GustyanitaPratiwi_Kuliner


Oke, bismilahirohmanirohim...

Kali ini aku akan cerita tentang sate yang cukup terkenal di daerah Pituruh, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Lokasinya cukup dekat dengan rumah alm. Simbah yang ada di Pituruh. Persisnya deket dengan Kantor PLN Pituruh, sebelum Pasar Pituruh. Nah, bagi yang belum tahu Pituruh itu ada dimana, andai kita melintasi jalan raya yang menuju Kutoarjo, pasti lewat daerah Klepu kan (itu loh yang terkenal dengan Sate Tupainya~~tapi aku belum pernah coba sih hihi). Nah, Pituruh ini kalau dari Pertigaan Klepu, dia masuk ke utara, luruuuuuuuus terus nyampe tuh ke alun-alun, terus maju dikit lagi ketemu deh ama plang kantor PLN Pituruh yang depannya pasar. Nah, deket-deket situ tuh ada warung makan yang bentuknya kayak rumah biasa. Tapi jangan salah ! Meskipun tampak luar kayak rumah biasa, tapi terkenalnya udah seantero jagad Pituruh dan sekitarnya lho. Coba aja tengok sebelah kiri jalan pasti ada papan bertuliskan "Sate Partodrono, Rumah Makan Sederhana, Sate-Gule-Tongseng Kambing Muda plus Nasi Rames".


Kamis, 19 Maret 2020

Nostalgia Jalan-Jalan ke Candi Borobudur, Magelang, Indonesia Tahun 2015 (Sebelum ada Beiby)



Nostalgia Jalan-Jalan ke Candi Borobudur, Magelang, Indonesia Tahun 2015 (Sebelum ada Beiby)

Oleh : Gustyanita Pratiwi

Nb : Sebenarnya udah pernah posting cerita tentang Borobudur beberapa tahun silam. Malah postingannya aku bikin menjadi 2 bagian. Tapiiiii, karena waktu itu aku ga ngeh ada oknum blogger Auto Generate Content (AGC) yang menyedot artikelku sebanyak 150 artikel, makanya aku agak nyesek juga pas tahu digituin. 


Nyeseknya bukan karena apa-apa, tapi jelek-jelek begini kan tetep saja artikelku diambil tanpa ijin. Udah gitu diadsense-in pula. Kan susah ya bikin cerita ngalor ngidur berdasarkan pengalaman pribadi by kamera sendiri pula. Terus tiba-tiba disedot begitu aja, tanpa tedeng aling-aling bat bet bat bet. Mana sekarang akibatnya traffict blogku kesalip ama blog dia lagi. Jadi kalau aku search kata kunci ceritaku sendiri, yang nongol di atasku ya blognya dia. Blog aku ketilep, kadang ga keindeks, dan kalau dikorek-korek selalu ada di bawahnya. Jadi kayak diduplikat kontennya. Nyeseknya lagi adalah dulu itu aku kan masih polos ya, cupu gitu lah dalam hal ngeblog, foto ga dipakein watermark, lalu belum ngeh pula tentang pentingnya mencantumkan link ke blog sendiri di setiap postingan (itu loh yang misalnya ada tautan ke artikel lain yang awalnya ada tulisan baca juga di link bla bla bla). Nah ternyata karena sama sekali masih polosan belum jago ini itu, ya udah jadilah korban blog auto generate content yang ga perlu nulis artikel tinggal nyedot punya orang. Nyedotnya lewat mana kok bisa samaan plek ketiplek tiplek sama gitu ma blogger originalnya. Lewat feed Qaqa. Makanya sekarang tuh aku ngerasa terdzolimi karena dibikin rempong oleh blog macam ini. Dulu pernah kulaporkan ke DMCA sih, tapi ga tau kenapa blog tersebut masih ada. Artikelku yang dicurinya belum dihapus juga. Secara dikontak pun ga bisa karena ga ada kontaknya. Maksudnya kalau ada kontaknya kan bisa kutunggu itikad baiknya buat menghapus artikel colongannya itu. Eh ga ada sama sekali. Ya udah aku coba laporin aja ke DMCA pas tahun berapa gitu kalau ga salah 2016, tapi kayaknya ma google juga belum diapa-apain tuh, entah karena bahasa Inggrisku kacau atau ada step-step yang masih belum aku pahami waktu ngisi formnya. 

Ahhhh, ketimbang bete, karena beberapa popular post dan pengalaman travelingku seringnya ada di bawah blog dia rangkingnya, makanya aku tuh ingin mengatakan sungguh terrrr laaaa llluuuh. Sebagai tombo ati supaya ga patio gelo, ya aku pengen nulis ulang aja lah, dengan gaya bahasa yang sedikit beda, dan foto-foto yang masih pixel aslinya. Belum dirisize. Terus mau aku bombardir dengan watermark dan tambahin foto lainnya pula yang masih dalam satu moment pada waktu jalan-jalannya itu. Jadi kan ketahuan mana yang original. Karena mana ada kan yang palsuh megapixel fotonya lebih pecah, hahaha...kzl tapi kudu sabar....

Oke lah daripada berpanjang-panjang kata, udah ah...aku mau cerita lagi.

"One Day in H+4 Idul Fitri tahun 2015 ...."

Tahun 2015 adalah 2 tahun sebelum aku hamil si kakak.  Memang ceritanya waktu itu pas ada agenda honeymoon yang direncanakan lantaran ngepasin masa subur berdasarkan promil yang sedang kami jalani #halah haha. Walaupun ujungnya belom 'jadi' juga sih karena tekdungnya itu baru pas menginjak tahun 2017. Etapi emang judulnya ga terlalu ngoyo juga sih, sebab pertama...emang wayahnya lagi ga memungkinkan untuk terlampau santai karena masa-masa lebaran yang pastinya agak hectic karena ketemu banyak orang. Kedua, honeymoonnya sebenarnya juga dadakan aja hahahahha.... 

Pas ngerasanya lagi jenuh muter-muter sekitar situ-situ aja, ya kenapa ga terlintas buat dolan agak jauhan dikit coba. Kan masih berdua ini. Mumpung belum ada yang bikin remmpong. Mikir kami begicuwww. Misalnya sampai Jogja atau Magelang. Cari hotel dan nginap sehari semalam, terus jalan-jalan, kulineran deh. Cobain makanan khasnya, phota-photo, ntar taruh blog #jiahahah tetep ya khontheeeend.

Selasa, 17 Maret 2020

Ndekem Terus Dalam Rumah Kayak Ibu Kucing...



By : Gustyanita Pratiwi

Dalam Bulan Maret emang ga ada kemana-mana. Ndekem terus kayak ibuk kucing yang ngelonin anak-anaknya, hehe... Bulak-balik bersih-bersih rumah, ngepal-ngepel, cuca-cuci, kebersihan lah pokoknya. Nyapu juga ada berkali-kali. E tapi itu sebenarnya udah rutinitas deng, sehari-hari juga udah gitu. 

Ilustrasi : foto si Gumi, kucing jaman masih ngekos, sekarang ga tau dia masih ada pa engga

Jumat, 13 Maret 2020

Warung Nasi Liwet Mbak Sri Kulon Keprabon Solo, Baru Tahu Wedang Dongo itu Sama Dengan Ronde


Warung Nasi Liwet Mbak Sri, Kulon Keprabon Solo, Baru Tahu Wedang Dongo itu Sama Dengan Ronde

By : Gustyanita Pratiwi

Karena kemaren udah nyobain nasi liwet, jadi kulineran pada malam kedua ini pengennya nyobain sesuatu yang lain. Walaupun judulnya sama-sama warung nasi liwet juga dan lokasinya pun masih sederetan dengan Nasi Liwet Bu Wongso Lemu, Keprabon Kulon Solo. Nah, tempatnya dimana? Namanya Warung Nasi Liwet Mbak Sri yang posisinya ada di paling kanan dari deretan warung makan yang ada. 

Di warung makan ini, yang menarik perhatianku justru bagian wedangan-wedangannya. Secara, begitu lihat banner di bagian depan warung, tertulis berbagai macam wedangan yang sebagian masih asing di telingaku. Sebut saja wedang dongo, wedang sekoteng, wedang es kacang hijau, wedang es kacang putih, wedang kelengkeng, wedang es jeruk, juga teh. Yang aku belum ngeh tampilannya kayak apa itu wedang dongo, wedang es kacang putih, dan wedang kelengkeng.

Semangkuk wedang ronde dengan indil-indil merah jambu dan putih yang terbuat dari tepung beras ketan, terasa syahdu diteguk bersamaan dengan air jahe, irisan kolang-kaling dan kacang sangrai (Gustyanita Pratiwi docs)

Kamis, 12 Maret 2020

Warung Es Masuk Solo : Hujan-Hujan Ngiyup Bentar Nyobain Bakmie dan Sotonya


Warung Es Masuk Solo : Hujan-Hujan Ngiyup Bentar Nyobain Bakmie dan Sotonya

By : Gustyanita Pratiwi

Usai perhelatan wisudanya Adek yang kini resmi menyandang status sebagai lulusan S1 kedokteran (tapi masih harus koas 2 tahun) di Gedung dr. Prakosa, Kantor Pusat UNS, perut uda mulai kruyuk-kruyuk dong. Lagaknya uda minta diisi karena sedari pagi sarapannya ngaco. Malah ada yang belum sarapan saking buru-burunya ngejer acara, haha. Sempet ada drama kumbara juga, karena sebelum beneran deal makan siang kan rombongan dibagi menjadi 2 tuh. Satu ikut rombongannya Pakdhe Akbar, satu ikut rombonganku. Yang ikut Pakdhe Akbar ada Budhe Puput (kakak gw red), Mas Ahza (ponakan ganteng), Uti, sama Tante Anis (Adek gw). Sementara yang ikut denganku ada Pak Suami (ya iya lah doi kan yang nyetirin sebab Pak Agus sedang istirahat di hotel), Kakung, aku, Acyiqa, en si Bontot Tenggara. Nah, tadinya kan Tante Anies uda ada agenda mau foto studio khusus untuk moment wisuda. Tempatnya kebetulan lumayan dapet yang mblusuk-mblusuk. Terus pas nyampe lokasi eh dapat antriannya jam 4 sore. Padahal waktu itu masih jem 12-an menuju jam 1 siang. Lama banget kan kalau musti stay di tempat buat nunggu sampai jam 4. Terus nyobain opsi di studio foto satunya. Jalannya agak jauh lagi, deketan ama jembatan layang. Mana parkirannya susah hahaha....Eh pas uda nyampe, malah background fotonya kurang banyak, walhasil jadi galau deh si Tante Anies antara jadi foto apa ga. Nah, daripada uda muter-muter belum nemu foto studio yang bisa motret saat itu juga, jadi lebih baik kami makan siang dulu. Kadung ngelih jew... 


Rabu, 11 Maret 2020

Gudeg Ceker Bu Kasno Margoyudan Solo, Buka Jam 2 Pagi udah Ngantri !



Gudeg Ceker Bu Kasno Margoyudan Solo, Buka Jam 2 Pagi udah Ngantri !

By : Gustyanita Pratiwi

Seorang perempuan berkonde cepol dengan kebaya melekat di badannya keluar dari garasi sebuah rumah dengan membawa baskom demi baskom jadoel bermotif hijau lurik dibantu dengan asistennya. Baskom tersebut berisi aneka macam lauk pauk teman makan nasi gudeg yang biasa ia masak pagi-pagi betul, bahkan ayam jago saja kalah set. Ada ceker yang menjadi primadonanya, ingkung ayam kampung baik yang bagian kepala, sayap, brutu, dada, maupun paha, telur pindang, puritan (telur yang belum begitu jadi dan bentuknya kecil-kecil warna kuning), krecek,  jeroan ati ampela, cabai rawit, areh atau santan yang teksturnya menggumpal, gudeg nangka beserta kuahnya, nasi liwet, tahu, tempe, juga sambal. Perempuan tersebut kemudian duduk dengan baskom yang sudah ditata mengelilinginya. Selanjutnya pelanggan yang sudah mengular di luar sana segera merapat menyebutkan pesananannya satu-satu. Ada yang makan di tempat, ada pula yang dibawa pulang. Lalu dengan cekatan Beliau meracik satu demi satu piring berisi nasi, gudeg, dan lauk pauknya. Meski terbilang sudah berusia senja, namun nyatanya hal tersebut tak menyurutkan semangat Beliau untuk terus konsisten menyajikan hodangan terbaik yang selalu dikangeni warga Solo maupun pemburu makanan lokal yanh legendaris ini. Beliau Bu Kasno, pemilik Gudeg Ceker depan Greja Kristen Jawa Mergoyudan Solo, sebelah barat SMA Negeri 1 Surakarta (SMANSA). 


Selasa, 10 Maret 2020

Nasi Liwet Bu Wongso Lemu, Kuliner Solo yang Ada Sinden Nembang Jawanya


Nasi Liwet Bu Wongso Lemu, Kuliner Solo yang Ada Sinden Nembang Jawanya

By : Gustyanita Pratiwi

Aku merasakan atmosfer Jawa yang sangat kental begitu memasuki warung makan Nasi Liwet Bu Wongso Lemu, di daerah Keprabon Kulon Solo. Bagaimana tidak, begitu makan, kami langsung diiringi dengan bunyi kecapi dan tembang Jawa yang dilantunkan oleh seorang sinden lengkap dengan sanggul dan kebaya hijaunya. Slamat-slamat mendengarkan suaranya yang merdu, bahkan sesekali mampu mencapai nada tinggi, membuatku seolah terhanyut terbawa suasana. 

Ya, hari pertama tiba di Solo langsung kami gunakan untuk ekspedisi kuliner malam. Salah satu tujuannya adalah Nasi Liwet Bu Wongso Lemu yang berada di Jl Teuku Umar, Keprabon Kulon Solo. Ternyata, sesampai di sana, tempatnya ga cuma 1 loh gaes yang mengklaim diri sebagai Nasi Liwet Bu Wongso Lemu, melainkan ada beberapa yang saling berdampingan. Katanya sih masih saudaraan. Tapi, aku sendiri memilih masuk di warung yang paling kanan. Soalnya kelihatan paling ramai. Udah gitu bannernya paling gede. Tulisannya "Nasi Liwet Bu Wongso Lemu Asli" Terkenal Sejak 1950, Keprabon Kulon Solo. Nah, kata 'Asli' nya ini lah yang meyakinkan kami buat mampir. Apalagi di bagian depan juga terpajang lukisan seorang perempuan Jawa yang aku taksir merupakan Bu Wongso Lemunya.

Baca juga : Sarapan di Doplak Nasi Kebuli Pak Adi Batang, Nyaamleng dan Marem Tenan !
Baca juga : Kuliner Solo Dekat UNS, SBC Special Cah Kangkung, Kangkungnya Lemes, Harga Mahasiswa Banget !

Senin, 09 Maret 2020

Pengalaman Menginap di UNS Inn, Penginapan di Kawasan Kampus UNS



Pengalaman Menginap di UNS Inn, Penginapan di Kawasan Kampus UNS

By : Gustyanita Pratiwi

Usai makan siang di SBC Special Cah Kangkung, kami bergegas menuju UNS Inn, penginapan yang sudah kami booking dalam rangka menghadiri perhelatan wisuda Adek yang lulus Fakultas Kedokteran tahun ini. Sengaja nginep di sekitar kampus supaya dekat dengan gedung yang akan dijadikan acara. Jadi begitu jam menunjukkan pukul 14.00 WIB, kami segera meluncur ke Jl Ir. Sutarmi 36 A, Kentingan, Jebres, Solo tempat dimana hotel berada.

UNS Inn termasuk ke dalam kategori hotel bintang 2 yang berkonsep Jawa Klasik. Hal ini terlihat dari desain interiornya yang di sana-sini kental nuansa Jawa. Misalnya terdapat kursi ukiran kayu khas Jawa yang ada di area lobby, juga hiasan dinding gunungan yang biasa ditemukan pada pertunjukan wayang kulit. Letaknya ada di dinding sebelah plang yang bertuliskan nama hotelnya. Ada pula dekorasi dokar (delman), sepeda unta (sepeda jaman dulu), permainan dakon, cermin antik, pajangan dari kuningan, dan batik khas Solo beserta canting dan juga malam atau lilin untuk membatiknya. Batiknya cakep-cakep deh. Ada yang sudah dalam bentuk baju, ada pula yang masih dalam bentuk kain. Berbagai corak serta warna. Ada yang cokelat klasik, adapula yang warna cerah seperti merah jambu dan lainnya. Saat masuk, kami juga disambut dengan alunan gending Jawa yang menambah syahdu suasana. Iramanya mengingatkanku akan bebunyian yang biasa terdengar di acara resepsi mantenan jaman doeloe, hihi...

Minggu, 08 Maret 2020

Kuliner Solo Dekat UNS, SBC Special Cah Kangkung, Kangkungnya Lemes, Harganya Mahasiswa Banget !



Kuliner Solo Dekat UNS, SBC Special Cah Kangkung, Kangkungnya Lemes, Harganya Mahasiswa Banget !


Jumat itu cuaca Solo lumayan gahar. Kami tiba sekitar pukul 11.30 WIB tepat sebelum sholat jumat, dengan kondisi mobil yang lumayan ngebut. Perjalanan membelah alas Roban, lalu memasuki tol Semarang, dan bermuara di Solo terasa singkat saja. Rupanya Pak Agus membawa mobilnya lumayan ngetril, sehingga aku yang duduk di jok belakang sampai bolak-balik terjaga, padahal mata sebenernya sudah ngantuk betul hampir seperempat watt karena trek yang meliuk-liuk. Tapi, untunglah saat menengok ke carseat samping, Tenggara masih tidur dengan pulasnya, sementara Cyiqa sudah dalam posisi tidur yang serampangan di jok tengah barangkali saking capeknya karena kami start dari Tangerang pukul 23.30 WIB pada malam sebelumnya. Pak Suami yang duduk di depan samping Pak Agus juga sudah bablas. Well, yang penting kami tiba di Solo tepat waktu meski dengan acara mandeg-mandeg berulang kali. Termasuk juga sarapan di daerah Batang.


Sabtu, 07 Maret 2020

Sarapan di Doplak Nasi Kebuli Pak Adi Batang, Nyamleng dan Marem Tenan !


Sarapan di Doplak Nasi Kebuli Pak Adi Batang, Nyamleng dan Marem Tenan !

Sarapan kali ini dipersembahkan oleh Doplak Nasi Kebuli Pak Adi di daerah Batang arah-arah menuju Semarang, Provinsi Jawa Tengah. Wanjeeeeer jauh banget kan, sarapan aja gw bisa nyampe Mbatang #dalam rangka apa Mbul ?  Kalau diceritain panjang. Ini semua ada kaitannya dengan hestek #GustyanitaPratiwi_trip_to_Solo dan #GustyanitaPratiwi_jelajah_kuliner_Solo yang ntar lagi bakal aku tulis satu-satu. Siap-siap marem ya, isi blog ini berturut-turut bakal makanan semua huehehe...Deng ga spesifik makanan aja sih, soalnya emang kami ke Solo ada agenda penting alias acara keluarga. Yaitu ngehadirin hajatan wisudanya adek gw yang alhamdulilah udah lulus dari fakultas kedokteran salah satu PTN di Solo. Jadi ya wes lah sekalian aja kulineran. Kan di Jawa Tengah kulinernya enak-enak tur murah-murah. Jadi ya gw hayuk !

Sarapan nasi kebuli sungguh nikmat tiada tara (Gustyanita Pratiwi docs)

Selasa, 25 Februari 2020

Review Rumah Makan Nyi Iteung Cibubur


By : Gustyanita Pratiwi

Abis dari Kampung China Kota Wisata Cibubur kami mampir sejenak untuk makan siang yang dah terlanjur kesorean di Rumah Makan Nyi Iteung. Patokannya sebelum perempatan Cileungsi putar balik ke arah Cibubur kurang lebih 50 meter. Nah dia ada di sebelah kiri jalan. 

Kami ke sana udah agak sorean sih sebenarnya. Ya sekitar jem-jem 16.00 WIB lah. Maksudnya mau sekalian asyaran gitu. Juga numpang toilet karena sedari tadi belom pipis setelah kejebak macet sekian lama. Jadi pilih rumah makannya yang sekalian bagus aja. Yang ada mushola dan toiletnya. Oh ya satu lagi, terpentingnya adalah yang ada parkirannya. Kami prefer cari tempat makan yang parkirannya gede. Jadi lebih enakeun buat naruh kendaraannya. Ga takut kemepetan jalan raya atau empet-empetan ama kendaraan lain yang parkir di sebelahnya. Nah, kebetulan di Nyi Iteung ini dapet ke-3 kriteria itu. Jadi tanpa pikir panjang lagi, kami langsung aja mampir ke situ, di samping emang perut udah sangat keroncongan tentu saja, wekekek....


Jumat, 21 Februari 2020

Sinopsis Di Sini Ada Setan The Movie (2004)


Sinopsis Di Sini Ada Setan The Movie (2004)
"Telaga Cinta Abadi"

Lola (Indri Sathiya) adalah seorang gadis aneh yang memiliki indera keenam. Ia sedang patah hati lantaran pacarnya Danish (Rionaldo Stockhorst) akan menikah dengan perempuan lain. Ia sangat frustasi bahkan sering mendapatkan kejadian aneh karena pikirannya sering kosong. Suatu hari ia mendapat telepon misterius. Ada suara gelak tawa perempuan dengan latar belakang burung gagak. Karena takut, cepat-cepat telepon itu ia lemparkan. Anehnya, benda tersebut kemudian mengeluarkan air yang sepertinya berasal dari danau. Warna airnya perlahan-lahan berubah menjadi merah semerah darah dan menggenangi kali Lola.


sumber : capture youtube N.N.F.H Channel Di Sini Ada Setan 2004

Judul : Di Sini Ada Setan The Movie
Tanggal rilis awal : 2004
Sutradara : Purnomo A. Chakil
Musik : Popo Fauza
Skenario : Tisa TS
Produser : Sinemart

Kamis, 20 Februari 2020

Pengalaman Makan di Bebek Sambel Gledeg Galeong


Review Bebek Sambel Gledeg Galeong Ibu Siti Nurkhotimah

Perasaan ni admin posting bebek muluk dah. Pantasan makin hari makin kek bebek, terutama pas lagi mayun alias bimolih, bibir monyong lima milih #hiyahiyahiya...

Sabtu kemarian uda rekor banget seharian ga kemana-mana. Tapi begitu menuju sore kok pingin nglayap aja yak ? Biasalah pasangan muda anak baru 2. Ya klo weekend pinginnya kemana gitu. Biar anak dapet udara bebas. Yah, emaknya juga sih yang pend halan-halan,...tapi ga deng, paling cuma makan bebek di tempat biasa. Biasalah Sabtu Minggu prei masak. Prei terus bukane Andah masake ya Mbul, hohoho....#oooops

Rabu, 19 Februari 2020

Review Dorama Jepang Strawberry on The Shortcake (SOS) 2001


Sinopsis Strawberry on The Shortcake (SOS) 2001

"Jika kamu dihadapkan pada sepotong cake strawberry, mana yang akan kamu makan terlebih dulu ? Apakah strawberrynya dulu baru cakenya ? Ataukah cakenya dulu baru strawberrynya belakangan ?" Konon jika kamu makan strawberrynya terlebih dahulu, maka kamu termasuk orang yang memilih bersenang-senang di awal baru bersusah-susah di akhir. Sebaliknya, jika kamu menyimpan strawberrynya untuk dimakan belakangan berarti kamu lebih mengutamakan bersusah-susah dulu, baru menikmati hasilnya kemudian.

Kata-kata di atas merupakan potongan dialog dalam dorama Jepang Strawberry on the Shortcake (SOS) yang tayang sekitar tahun 2001. Bagian ini memang cukup menarik perhatianku karena memiliki makna filosofis tersendiri, terutama yang berkaitan dengan 4 tokoh di dalamnya. 

Bercerita tentang kisah percintaan yang bersegi-segi antar  Manato Irie (Hideaki Takizawa), Yui Misawa (Kyoko Fukada), Haruka Sawamura (Rina Uchiyama), Tetsuya Saeki (Yosuke Kubozuka), Bu Guru Mariko Asami (Yuriko Ishida), tunangan Bu Guru, one night standnya Manato Irie, guru lesnya Haruka Sawamura, Bapaknya Manato Iriye dan Ibunya Yui Misawa. Tapi yang paling intens sih cerita tentang Manato-Yui-Haruka-Saeki-Bu Guru Mariko. Kenapa bersegi-segi? Karena melibatkan banyak orang. Ga cuma segitiga atau pun segi empat seperti biasanya. Yang ini lebiiiiih. Malah menjalar kemana-mana, entah itu karena sekedar pelarian, ataupun yang akhirnya dijadikan tambatan hati, wakakka...puyeng-puyeng deh lau nontonnya. Sama gw juga geregetan sendiri pas ngematin siapa yang naksir siapa akhirnya jadian ama siapa. Ribet #panadol mana panadol?

Sumber : youtube, dorama Strawberry on the Shortcake (SOS)

Judul : Strawberry on the Shortcake (SOS) 
Jumlah Episode : 10
Director : Nobuhiro Doi, Hiroshi Matsubara
Penulis : Shinji Nojima
Genre : Drama Televisi Jepang, roman
Kategori tontonan : untuk usia dewasa

Selasa, 18 Februari 2020

Heboh Banget Mau Masak Rica-Rica Ayam Kampung, ya Alloh, Wkwkw !


"Balik lagi ke resep masakan ala Madam Beby Mbul Pemirsa!"

Minggu pagi, kesyahduan acara tidur Madam Beby Mbul dan suamik terusik tatkala naq wedok tetiba nangis jejeritan kayak orang kesurupan. Duh duh duh, onok opo toh Neng....hari masih pagi pun, dan Mamah baru tidur berapa jem aja huahahhaha.... Ternyata oh ternyata kakinya bentol merah gegara digigit sesuatu. Keknya gw tau nih sapa pelakunya. Soalnya kaki dan tangan gw juga ada beberapa yang bentol merah gateeeeel bener--rasanya gatel yang bener-bener menyebalkan sampai pengen mengumpat. Lalu teringat semalam, aku mendengar bunyi ngeow-ngeow di bagian atap, ya sapa lagi kalau bukan ibu kucing liar yang beranak lagi di sana lalu kutu-kutunya pada turun ke bawah, aaaaaaargh ! Sering kejadian kaya gini soalnya, makanya aku uda hapal, hahaha...

Minggu, 16 Februari 2020

Review Buku : Rumah Gema / The Hollow (Agatha Christie)


Review Buku : Rumah Gema / The Hollow (Agatha Christie)

Kalau di Sir Arthur Conan Doyle aku menyukai The Hound of the Baskervilles, nah di Agatha Christie aku memilih The Hollow sebagai favoritnya. The Hollow atau yang dibahasaIndonesiakan menjadi Rumah Gema buat ku mempesonakan dengan caranya yang cukup aneh. Aku seperti dibawa pada eksistensi sebuah rumah yang begitu 'hidup' namun memberikan kengerian yang samar-samar. Aku menyebutnya rumah yang menggemakan sebuah tragedi dengan efek yang menyayat-nyayat.  

Berkisah tentang Keluarga Angkatel yang masih berdarah bangsawan tengah merencanakan pertemuan di rumahnya yang bergaya klasik pada suatu pekan. Lucy Angkatel, sang pemilik rumah digambarkan bak seorang peri namun dengan sifat yang susah dimengerti karena pemikirannya yang dipenuhi banyak hal. Ia dan suaminya Henry turut mengundang sanak family mereka, baik yang berasal dari jauh maupun dekat. Ada John Christow beserta istri--Gerda, Henrieta Savernake (yang sebenarnya masih kekasih gelap John), Edward Angkatel, David Angkatel, dan Midge Hardcastle yang sudah lebih dulu tiba di sana. Mereka juga mengundang satu orang lagi yang cukup penting, siapa lagi kalau bukan Hercule Poirot sang detektif swasta legendaris favorit pembaca setia Agatha.

Mulanya semua berjalan normal bahkan cenderung biasa saja. Tapi baru sehari setelah acara perkumpulan itu, tiba-tiba sudah ada yang meninggal. Meninggalnya dengan cara yang tidak biasa lagi. Di tepi kolam renang kebanggaan Lucy, sosok John telentang dengan posisi yang ditata artistik. Yang lainnya berdiri mengelilinginya dalam pose-pose yang cukup aneh. Bahkan Poirot menilainya sampai terlihat tidak proporsional. Satu diantaranya yaitu Gerda yang meringkuk meratapi sakaratul maut sang suami, namun sambil memeluk revolver di dadanya. Pandangannya linglung seperti orang lemot. Lebih anehnya lagi, nama Henrieta malah disebut-sebut John untuk yang terakhir kalinya, sehingga semua menjadi geger.


Judul Buku : Rumah Gema (The Hollow)
Penulis : Agatha Christie
Alih bahasa : Ny. Suwarni A.S.
Desain sampul : Staven Andersen
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama 
Cetakan kedua : Desember 1995
Cetakan ketiga : Mei 2002
Cetakan keempat : Mei 2012
Jumlah halaman : 368 hlm, 18 cm
ISBN : 978-979-2-8261-0

Sabtu, 15 Februari 2020

Semangka-Semangka di Pasar Kutowinangun


"Saatnya Berburu Semangka !!!!"

Waktu mudik ke Kebumen tahun kemarin, ada 1 hal yang membuatku hapal sama keberadaan Pasar Kutowinangun. Yaitu lapak semangka yang berada di pusat keramaian Kutowinangun yang tumplek blek jadi satu sama terminal, juga pul bis-bis AKAP yang menuju arah-arah kota. Pemandangan ini tentu saja menarik perhatianku, terlebih Pak Suami yang emang hobi beli semangka. Lha wong di Tangerang aja bulak-balik ngajakin beli semangka, eh begitu liat di kampung ada semangka gede tur murah ya otomatis angkut ! Hahaha...

Baca juga : "Malam-Malam Durian !"
Baca juga : "Merindukan Pohon Rambutan"

Semangka nama lainnya itu tembikai. Eh ini aku juga baru tau lho dari wikipedia. Coba aja cek apa itu tembikai. Pasti keluarnya gambar semangka, hehehe...

Jumat, 14 Februari 2020

Kue Keranjang dari Tetangga


Dikelilingi orang-orang baik itu termasuk rezeki. Karena rezeki ga sekedar uang atau melimpahnya harta benda. Tapi juga kesehatan dan lingkungan yang supportif. Keluarga yang care, bapak ibu yang perhatian, kakak adik yang walau jauh di mato tapi tetap dekat di hati, juga tetangga yang nyemedulur dengan ketulusan hati bukan kaleng-kaleng #tsaelah. 

Baca juga : "Perkara Kolak"

Beruntung memang aku dan Pak Suami berjodoh dengan lingkungan rumah yang orangnya ga aneh-aneh. Walaupun lingkungannya majemuk dan berasal dari berbagai ras, suku, serta agama, tapi kami hidup rukun berdampingan satu sama lain. Alhamdulilah buku PPKn jaman SD-SMP-SMA ga cuma apal di luar kepala, tapi  juga diaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Kamis, 13 Februari 2020

Bunga-Bunga Krokot yang Bermekaran di Depan Rumah....



Bunga-bunga krokot yang bermekaran diterpa angin *uwuwu betapa cute-nya #wetetetetett ga pantes luh Mbul bersentimentil-sentimentil ria. Ga cocok sama sekali, Kat kat kaaaat ! Hahaha... Ya monmaap saianya emang lagi terbawa suasana. Tatkala memandangi bunga-bunga krokot yang mungil dan berwarna merah jambu ini, ingin sekali ku menjelma sebagai ibunya Atasinchi dan menyanyikan lagu ~ "Mawar meraaah penuh gairahhh". Sungguh kuasa Alloh yang mampu membuatnya bermekaran di jam-jam yang sama--pada pagi hari saat udara masih sejuk-sejuknya, lalu perlahan menguncup sendiri begitu matahari berada di atas peraduan.


Rabu, 12 Februari 2020

Mie Kangkung, Sekilas Rasanya Mirip Mie Ayam


Bismilahirohmanirohim
Halo halo halo...

Kalau dengar mie kangkung, apa yang terlintas dalam benak kalian ? Tentu saja mie yang mirip-mirip ama mie ayam. Bedanya paling sawi atau cesinnya diganti ama kangkung. Tapi untuk urusan mie dan ayam kecap yang jadi toppingnya sih mirip-mirip. 


Aku baru tahu sih ada makanan yang namanya begini. Mungkin karena kurang penjelajahan kuliner sebelum menikah ama Tamas. Secara, suamiku kan lebih kaya petualangan kulinernya ketimbang diriku yang katrok ini. Jadi ya, baru tau nama-nama makanan setelah tinggal sama dia wekekek... 

Selasa, 11 Februari 2020

Semur Jengkol Favorit



Seumur-umur kayaknya aku belum pernah lihat pohon jengkol deh. Maksudnya secara langsung gitu. Kalau ngliat dari google sih baru aja, hehe. Ya, kadang penasaran juga. Terus tiba-tiba khayalanku agak ngehalu dikit, andai-andai punya tanah sekian hektar (((andai-andai aja nih ya))), mungkin bisa kali kalau ditanemin pohon buah atau sayur-sayuran. Belinya di kampung saja. Maksudnya area Tangerang tapi bagian kampung, biar dapatnya harga murah. Nah, abis itu tinggal jadikan kebon deh. Ntar tiap weekend bisa mampir ke sana buat petik-petik. Ya ngekhayalnya punya pohon jengkol, pete, duku, kepel, rambutan, bahkan durian. Buat sarana hiburan aja ceunah. Terus di situ ga usah dibangun apa-apa. Paling templokin aja 1 kontainer buat dijadikeun tempat ngiyub #nunut ngiyub kulo nunut ngiyub, udan lali ra gowo payung...#Didi Kempot song's mode on.. Paling  kontainernya kasih kasur satu ama toilet, ude deh...ude serasa kayak rumah-rumah kontainer di luar negeri #ngayal teros Mbul hahaha... 

Ya tapi kalau punya pohon jengkol sendiri kayaknya enak, soalnya jengkol di pasaran kan mahal. Di warnas aja, paketan 10 ribu, jengkolnya dicidukin 3-4 biji doang huhu. Malah cuma dibanjirin kuahnya. Berarti kan lebih puas masak sendiri. Oh ya, aku pernah nulis resep semur jengkolnya di tautan yang ada di bawah ini #silakan kepoin sendiri.



Senin, 10 Februari 2020

Pengalaman Makan di Bebek Royal Tangerang


Nostalgia Makan di Bebek Royal Pertama Kali...

Kalau ditanya tempat makan yang ada kenangannya waktu masih pacaran ama Bapaknya anak-anak ya salah satunya adalah Bebek Royal. Inget banget, ke sini itu pas jamannya aku main ke Tangerang untuk yang kedua kalinya. Yang pertama pernah sih, tapi pas ada tragedi aku diturunin dari KRL jurusan Tenabang-Duri, gegara karcisku ilang waktu disamperin sama petugas. Kemungkinan besar sih jatuh di rel waktu aku naik dari pintu masuk yang ga ada tangganya (jaman itu emang belum ada kartu yang ditap ke pintu masuknya jadi masih pake karcis dalam bentuk kertas). Terus karena kejadian itu aku diturunin ke stasiun terdekat, kalau ga salah area Slipi atau Grogol gitu, aku lupa. Pokoknya sebelum masuk daerah Duri deh.

Baca juga : "Bebek Banyumas"

Minggu, 09 Februari 2020

Sinopsis The Ghost Bride (2017)



Sinopsis The Ghost Bride (2017)

Judul film : The Ghost Bride (2017)
Sutradara : Chito S. Roño
Diproduksi : Charo Santos-Concio Malou N. Santos
Skenario : Chito S. Roño, Charlson L. Ong, Cathy Camarillo
Cerita : Chito S. Roño, Enrico C. Santos, Juvy Galamiton
Cast : Kim Chiu, Alice Dixson
Musik : Carmina Cuya
Sinematografi: Neil Daza
Editor : Carlo Francisco Manatad
Produksi : Bioskop Star
Tanggal rilis : 1 November 2017


Kali ini aku akan mereview film horror Filipina tapi masih ada unsur tradisi Chinanya. Judulnya Ghost Bride (2017). Pernikahan manusia dengan hantu. Hiiiiy, kok seram ya. Ya emang seram sih, hehehe...(tapi sebenarnya ga serem-serem amat kok, cuma emang kalau ada film yang berkaitan dengan ritual arwah leluhur aku langsung teringat dengan film vampir China tahun 90-an yang sering diputar di RCTI tiap Sabtu pagi). Sebab memang di sini ditampilkan beberapa adegan yang menggambarkan tradisi bulan hantu kelaparan atau biasa disebut hungry gost festival, dimana para warga pada bulan ketujuh kalender Lunar akan disibukkan dengan acara membakar persembahan untuk arwah leluhur berupa makanan, buah, uang kertas, kendaraan kertas, perhiasan, dsb agar jiwa mereka tenang di alam sana. Sebab, dalam tradisi mereka, jiwa manusia yang sudah meninggal diyakini masih berkeliaran di muka bumi dan akan bergentayangan jika tidak didoakan anggota keluarganya.

Jumat, 07 Februari 2020

Menu ini yang Dimasak Ibu Dengan Penuh Cinta



Bismilahirohmanirohim...
Halo halo haloooo...

Bagi seorang anak, masakan ibu hampir selalu yang jadi juaranya. Aku bilang hampir karena ga semua ibu-ibu bisa masak. Ada pula yang bapaknya lebih jago atau kalaupun bisa masak ya rasanya standar kayak masakanku wakakkaka #ampun deh. 

Kebetulan ibuku adalah tipe yang udah turun ke pawon sejak masih usia SD, karena emang adik-adik ibu banyak. Jadi waktu kecil ibu sudah terbiasa bantuin Simbah bikin sayur atau kelan alias lauk buat sehari makan 3 kali. Hampir sama sih kayak aku yang sedari kelas 3 SD udah dilibatkan bantu-bantu di dapur. Bedanya paling ibu udah dipasrahi keseluruhan prosesi masak yang terbilang rumit (mulai dari ngoseng, mbening, nglodeh, nyoto, nyanten, sampai ngolahin lauk hewani), sedangkan aku dipasrahi yang gampang-gampang aja dulu. Paling bagian pethik-pethik doang, kupas bumbu dapur, atau mentok-mentoknya goreng lauk. Lauk pun baru yang gampil-gampil aja kayak tempe atau tahu. Kalau ayam, ikan, atau daging-dagingan yang berpotensi bakal meledak-ledak baru diambil alih oleh ibu. Dulu juga pakenya masih kompor minyak, atau kalau di tempat simbah pakai keren alias nama lainnya tungku batu bata dengan bahan bakar kayu. Itulah kenapa aku ngerasa generasi baby boomers kelihatan lebih telaten alias cag ceg kalau udah ngerjain sesuatu. Kayak udah ada potensi alami gitu loh, beda banget ama keturunan selanjutnya yang dalam hal ini gw, mau bikin menu apa ndadak ngecek dulu di cookpad wakaka).

Meja makan yang selalu dirindukan dengan sajian menu masakan ibu

Senin, 03 Februari 2020

Sinopsis Pizza (2014)



Sinopsis Pizza (2014)

Kunal Malkholkar (Akshay Oberoi) adalah seorang pengantar pizza yang tinggal bersama istrinya Nikita (Parvathy Omanakuttan) yang seorang penulis cerita horor. Keduanya tidak memiliki minat yang sama, karena sebenarnya Kunal sangat membenci istrinya ketika terus-menerus menceritakan hal-hal mistis. Apalagi dirinya malah disugesti untuk cepat-cepat mengalami kejadian mistis betulan. Mendengar hal itu, Kunal merasa sangat kesal. Ditambah pula ia tahu bahwa Nikki sedang hamil, padahal ia sendiri belum siap menjadi seorang ayah dengan pekerjaannya yang saat ini masih dirasa belum stabil.


Judul film : Pizza (2014)
Direktur : Akshay Akkineni
Penulis skenario : Akshay Akkineni
Penulis cerita : Karthik Subbaraj
Cast : Akshay Oberoy, Parvathy Omanakuttan, Arunoday Singh

Minggu, 02 Februari 2020

Malam-Malam Durian !


"Horay udah musim durian sekarang...."

Hari Minggu, malam Senin kemarin aku dan Pak Suami ngerasa gabut banget. Seharian nungguin ujan kok ga reda-reda. Padahal sebelumnya uda safari ke mol buat hunting batik dan kebaya dalam rangka memeriahkan wisudanya Tante Anis di Solo. Tapi emang wisudanya masih lama sih yaitu akhir Februari ini (insyaAlloh), walaupun yang pada heboh justru mbakyuw-mbakyuwnya ini) termasuk juga kakak w yang di Bekasi) yang malah pada modus belanja brukat tunik di mol-mol middle class, haha.... 

Jadi Sabtu siang aku cuz ke Jakarta buat belanja. Minggunya di rumah aja. Karena emang langsung deres puol #seakan-akan ujan kemaren menebus satu hari yang penuh dengan matahari pada hari Sabtunya. Dari pagi nyampe pagi lagi ujaaaaaan meleee, menjadikanku cuma ugat-uget aja kayak tatung nangka bareng naq beiby dan juga Kangmas Prabu. 

Jumat, 31 Januari 2020

Resep Tape Ketan Hijau Cantik Ala Mamih Mertua



Waktu ngeliat rak pendingin supermarket yang ada tape ketan hijau kemasannya, tiba-tiba aku jadi keingetan kalau sering majang foto tape di blog, tapi belum pernah sekalipun nulis step-step cara bikinnya. Owalah piye sih Mbul ? # Ngana jadi tinta adinda ide atau bagaimana. Keknya gw kekurangan aquwa deh #aquwa mana aquwa...#hoho. Ya monmaklum, efek saking sibuknya ngurus 2 bayi, pak suami, dan rumah, aku jadi makin pelupa gini. Padahal aku uda ada stok fotonya sejak lama. Sejak lebaran beberapa tahun silam malah. Yaitu, pas diajarin Mamih mertua bikin tape buat persiapan Lebaran.


Jadi mumpung sekarang aku masih online nih, maka ga ada salahnya dong kalau aku tulis sekalian di sini. Siapa tau kelak aku bisa mempraktekkan langsung bagaimana membikin tape ketan hijau yang secantik bikinan Mamih Mertua. Lumayan kalau bisa bikin apa-apa sendiri, menghemat bajet euy dibandingkan kalau gw beli di supermarket. Uda gitu bisa dapat banyak lagi, plus tentu saja tingkat kemanisannya bisa diatur sesuai selera sendiri.


Kamis, 30 Januari 2020

Menu Masakan Tanggal Tua (Pake Banget)


Akhir-akhir ini updatenya cepet banget Mbul ? Iya nih, ngabisin stok foto lama. Tau sendiri kan aku tu cuma bisa nulis--lebih tepatnya mood nulis kalau udah ada ilustrasi fotonya. Sedangkan fotoku itu uda ada segunung. Banyak banget. Jadi, aku ngerasa mubazir aja kalau punya foto tapi ga ada ceritanya. Bisa sih ditaruh di instagram. Tapi jujur aku lagi jarang buka instagram. Lagi pula aku suka bingung kalau mau upload di instagram mau yang mana duluan, secara aku ngerasa fotoku itu bagus semua #narsis tingkat halu luh Mbul #terus dikepret berjamaah sama sobat instagram, haha.

Atau bisa aja sih cerita-cerita model tulisan opini atau pemikiran kayak blogger lainnya yang ga perlu ribet pake foto. Tapi aku ga ahli nulis itu. Salah-salah malah salah dalam penyampaian maksud serta tujuan. Sebab tema tulisan yang berbentuk opini dan pemikiran ini kadang suka menuai pro dan kontra. Sedangkan aku, maunya yang aman aja lah materinya, ahhahah... ya walaupun balik lagi, oleh sebab up datenya mengandalkan cerita dari foto semata, jadilah lama juga kudu watermarknya.  Kewalahan-kewalahan deh Lauw Mbul #ini aja dah ada wacana bakal dimatiin wifinya. Jadi selagi masih bisa up date, ya gw akan update huehehhe....Ngabisin kapasitas penyimpanan blogspot sebesar 15 GB lebih tepatnya. 


Rabu, 29 Januari 2020

Mochi Kesukaanku



Review Tetsin Mochi Mochio, Mochi Kesukaanku !!

Tadinya aku ga 'ngeh' nama mochi ini adalah Tetsin Mochi Mochio. Baru aja tahu pas mau ditulis di blog. Padahal udah sering beli sejak lama #wakakak... Ya maklum namanya juga bukan postingan berbayar. Coba aja lihat isi blogku, jarang banget kan ada postingan berbayarnya #KRAI... Etapi biasa aja ding, kan aku ngereview juga suka-suka. Karena tiap nemu makanan enak ya aku tinggal bela-beli aja, ga ngematin mereknya apa. Kalau enak baru aku kasih reviewnya di blog. Kalau ga, ya ga pernah aku review sih.  Sesimple itu. Jadi aslik pake duit sendiri #ga pake endorse haha..

Tetsin Mochi Mochio ini aku bilang sih buletannya gede ya. Isiannya juga full karena emang harganya mahal. Per buletnya Rp 8000,-. Dulu sempat menangin waktu masih range Rp 4000-Rp 7000,-. Ya pantaran tahun-tahun 2013-an. Tapi sekarang udah naik jadi Rp 8000,-. Mungkin ngikut kenaikan inflasi. Kalau dari informasi di text boxnya sih, si mochinya ini punya berat kurang lebih 50 gram/pcs. Komposisi bahan-bahannya sendiri terdiri dari tepung ketan, gula, minyak nabati, margarin, tepung maizena, madu, kacang walnut. Klaim di boxnya sih katanya ga pakai pengawet.