Minggu, 24 Mei 2020

"Happy Lebaran Dear Pembaca"



Kali ini update-annya super singkat, hihi...
Terima kasih sudah singgah membaca ya
Baik silent reader, pembaca yang nyasar (pembaca organik), atau teman-teman blogger yang biasa singgah kemari
Have a nice day :D

Rabu, 20 Mei 2020

Contoh Menu Masakan dalam Seminggu




Uda hitung mundur Lebaran, uda ga konsen, hihihi... Bawaannya pengen liburrr aja ngeblognya. Ada yang sama ga kayak aku yang lagi pengen sante-sante weh ngeblognya... Pengennya ngebluk aja bareng anak dan juga Pa Suami sambil marathonan film-film...#wah wah wah. 

Ya, sejalan dengan banyaknya tanggal merah yang berderet-deret di kalender, dan biarpun masa-masa ini banyak aku habiskan di rumah aja alias GA MUDIK~~ tapi tetep aja hawanya pengen ngebluk. Iya, aku mah tetep di sinii aja nih, yaitu di Tangerang City. Ya, walaupun bakal berlebaran di tanah rantau, tapi rasa-rasanya lebaran itu harus tetap berkesan dong ya seperti halnya lebaran-lebaran pada tahun sebelumnya. Alhamdulilah Bapak Ibu serta Mamak Bapak Mertua di kampung halaman sana sehat-sehat saja. Dan yang terpenting adalah mereka cukup pengertian dengan adanya ketidakbisaan kami pulang pada Lebaran tahun ini. Sesuai dengan himbauan pemerintah, ya kami sebagai rakyat kecil mah manut saja lah ya dengan harapan mudah-mudahan segala pandemi ini cepat berlalu. Amiiin ya robbal alamin.

Oh ya, ngomongin update-an kali ini, sebenernya aku cuma mau upload singkat-singkat aja tapi sebagai gantinya biarlah foto yang bercerita. Waduw ? 

Minggu, 10 Mei 2020

"Menjawab Pertanyaan Diri Sendiri"



Oleh : Gustyanita Pratiwi

Hallo Blog ?

Tebak aku lagi ngapain ? Lagi tarlingan lagunya Mbak Dian Anic nih sambil hokya-hokya ha-e ha-e #etdah, haha....

Ceritanya aku lagi kebanyakan energi nih buat nulas-nulis di blog. Jadi, sebagai pemanasannya aku akan memulainya dengaaaaaaaan...tet tet tet teteeeeeeeeeed...iseng bikin pertanyaan sendiri terus nanti juga bakal dijawab sendiri (kalau jaman dulu sih namanya lempar-lemparan Liebster Award ya). Tapi kalau sekarang sih uda jarang. Eh, pembaca yang mau ikutan jawab juga monggo loh di kolom komentar. Kalau ga ya udah lewati aja soalnya seperti biasaaaa, tulisanku kan ga ada yang penting, haha...

Gambar : bikinan Gustyanita Pratiwi alias sang admin dari blog ini :D

Sabtu, 09 Mei 2020

Just Mercy (2019)


Emotional dan Mengoyak Psikologis !

Oleh : Gustyanita Pratiwi

Melalui blog ini, kadang aku merasa bahagia tatkala merekomendasikan sebuah film yang harusnya punya kans besar untuk dipuji setelah ditonton. Salah satunya adalah Just Mercy (2019). Sebuah film bergenre biografi, crime, sekaligus drama yang diadaptasi dari memoar seorang penebang kayu bernama Walter 'Johnny D.' McMillian, pria campuran antara Afrika-Amerika yang dijatuhi hukuman mati atas tuduhan pembunuhan wanita muda (18 tahun) bernama Ronda Morrison pada tahun 1986. Kasus yang menggegerkan ini kemudian mendapat perhatian khusus dari seorang pengacara muda lulusan Harvard, Bryan Stevenson pada tahun 1989. Ia berniat membantu Johnny D. McMillian secara cuma-cuma karena yakin adanya upaya salah tangkap setelah adanya kesaksian palsu dari seseorang yang berstatus sebagai terdakwa bernama Ralph Myers. Myers sendiri dicurigai telah melakukan kebohongan karena bisa jadi ia mendapatkan tindakan intimidatif dari pihak-pihak tertentu agar Johnny D tetap kekeh dijadikan kambing hitamnya. #GustyanitaPratiwi_sinopsis_&_review_film


Judul film : Just Mercy 
Genre : drama hukum 
Negara : Amerika Serikat
Sutradara : Destin Daniel Cretton
Pemain : Michael B. Jordan, Jamie Foxx, Rob Morgan, Tim Blake Nelson, Rafe Spall, Brie Larson.
Tanggal rilis : 10 Januari 2020 (Amerika)
Bahasa : Inggris
Nominasi : Penghargaan Screen Actors Guild untuk Aktor Pendukung Terbaik, NAACP Image Award untuk Penulis Naskah Terbaik, NAACP Image Award for Outstanding Breakthrough Role in a Motion Picture

Jumat, 08 Mei 2020

"Merah Jambu"



Oleh : Gustyanita Pratiwi

Hay Blog !

Tahu ga, aku punya satu bulan dalam kalender setahun yang bagiku warnanya merah jambu. Bukan Februari seperti halnya punya orang-orang. Tapi Mei. Di Bulan Mei, aku dan si dia mengikat janji (duh biyung, ngapa jadi roman picisan kayak gini ya, haha... bisa-bisa yang lain pada muntah). Ga kok aku masih sayang sama pembaca, jadi aku ga akan berpuitis-puitis ria karena entahlah makin ke sini kapasitas otakku makin ngeblank tiap kali mau bikin 'kata-kata bersayap'. Udah jauh dari jaman-jaman abege yang nulis begituan terasa gampang. Ah, apa aku udah sebegininya ya termakan realita kehidupan, mungkin juga..

Baca juga : "Mei di Tahun ke-2"

Inget pas awal-awal diapelin pake motor ninja, sampai sekarang uda ada buntut 2, Gambar : Gustyanita Pratiwi

Rabu, 06 Mei 2020

The Lunchbox 2013 : Kisah-Kisah dalam Setumpuk Rantang Makan Siang yang Tertukar


Oleh : Gustyanita Pratiwi

"Bukan anak kembar dalam sinetron saja yang bisa tertukar, tapi rantang makan siang juga bisa tertukar, hehe..."

Seperti sebuah kebetulan yang ga diduga-duga, baru saja kemarin aku menuntaskan The Lunchbox (2013) untuk yang kesekian kalinya, eh ga tahunya begitu menengok ke laman berita online malah mendapati sebuah berita duka....sang pemeran utama dalam film ini dinyatakan meninggal dunia untuk selama-lamanya (baca : Irrfan Khan). Jadi agak lumayan syock juga aku bacanya. Seperti sebuah kebetulan yang ga diduga-duga #feeling deeply condolences :'(   #GustyanitaPratiwi_sinopsis_&_review_film

Kisah dari setumpuk rantang makan siang yang tertukar, The Lunchbox (2013), source : imdb

Minggu, 03 Mei 2020

Lebaran dan Biskuit Kaleng yang Bercerita



Oleh : Gustyanita Pratiwi

Kalau diliat-liat, aku sering juga ya bernostalgia tentang masa kecil di blog. Memang sih aku ngerasa masa kecilku itu kebanyakan indahnya. Jadi yang ada dalam memori ya emang begitu adanya. Ga ada kenangan buruk yang terlalu berarti sehingga ketika aku menuliskannya ya antusias aja rasanya. 

Meskipun Bapak Ibuku kerja, tapi aku tetep hepi-hepi aja di rumah. Kan lepas SD kelas 3 aku uda ga dititip lagi tuh sama tetangga. Ga kayak pas TK atau SD kelas 1. Jadi, uda dibolehin sendirian sambil nungguin Bapak Ibu pulang. Sebab Bapak kerja di STM di daerah Purworejo. Sedangkan Ibu dines di daerah Kebumen bagian Kabupatennya. Nah, rumah kami ada di tengah-tengahnya.

Biasanya sambil menunggu mereka pulang, aku ya main apa aja yang sekiranya menarik. Entah main sama teman-teman atau sendirian aja uplek sama tv, nonton telenovela juga iya hahahhah....tapi sebelum nonton telenovela biasanya di Indosiar kan ada tuh acara Teletubies, Sesame Street, Bananas in Pijamas, dll. Dan itu aku tonton juga dong, wakakak. Kalau main sama temen paling diajak mbolang ke sawah atau kebun tetangga buat nyari buah, main ke sungai, mancing, main lompat tali, sudamanda, mini-minian, barbie, petak umpet, dir-diran alias gundu atau kelereng, layangan, yoyo, kwartet, dll. Banyak deh. Pokoknya kebanyakan main di luar atau yang tradisional-tradisional gitu. Nah itu pas hari-hari biasa. #GustyanitaPratiwi_childhoodmemory

Sabtu, 02 Mei 2020

4 Rekomendasi Food Vlogger dengan Kualitas Video 4K (Ultra HD)



Oleh : Gustyanita Pratiwi

Kayaknya sekarang aku udah jarang banget mantengin TV. Soalnya aku gampang stress kalau ngeliat berita isinya covid. Makanya sekarang aku larinya ke youtube. Walaupun di youtube juga ga memungkiri bakal ketemu berita covid juga, tapi seenggaknya kan bisa skip-skip. 

Dulu aku pernah bilang bahwa aku ga gitu suka liat youtube. Biasanya aku bingung tuh kalau pas berhadapan dengan youtube maunya nonton apaan, karena kan aku ga pernah subscribe-subscribe channel tertentu. Kalau mau nonton ya ngacak aja. Kemana jari ini akan melangkah ya itu yang diklik. Kalau ga sengaja nemu yang menarik ya disamperin. Kalau ga ya ga. 

Ohhhh Man, Qu bener-bener takjoeb liat youtuber berikooot

Jumat, 01 Mei 2020

Resep Manisan Kolang-Kaling Ala Mbul Part 2


Oleh : Gustyanita Pratiwi

Kali ini aku mau posting yang super singkat aja. Pasti yang baca seneng kaaand karena tulisannya ga kepanjangan, ahahahhaha...#ooopsss. Ya, soalnya label resep emang mau kubikin sesimpel mungkin. Yang penting jembrengin aja foto step by step-nya banyak-banyak. Biar lebih jelas dan meyakinkan gitu. 

Oke, berhubung kemarin aku udah posting menu buka (dan sahur) ala-ala, nah sekarang aku mau kasih resep dessertnya. Atau yang dimakan sebagai pencuci mulut alias yang manis-manis. Yaitu favoritku apalagi kalau bukan manisan kolang-kaling. 

Memang sih dulu aku pernah ngepost manisan kolang-kaling juga di puasa tahun keberapa gitu, cuma yang itu kan warnanya merah. Nah sekarang aku pengen yang warnanya ijo #lho emang penting gitu ya? Wekekekk, yongkraaaii, penting dong mameeend ! Biar ada variasi gitu loh. Soalnya kebetulan dapat kolang-kaling di pasar yang bentuknya segedem-gedem tea', alias meuni gede-gede pisan. Sayang kan kalau ga segera dieksekusi, bisa-bisa ntar keburu kisut lagi... Makanya mumpung ada waktu, sekalian aku masak aja.

Kamis, 30 April 2020

Menu Buka Puasa Ala-Ala...


Oleh : Gustyanita Pratiwi

Menu buka (sekaligus sahur) kali ini aku bikin yang simple-simple aja. Sengaja ga masak dua kali biar menghemat waktu, energi, serta biaya #halah udah kayak iklan apaan tauk, haha. Tinggal sat-set-sat-set, sing penting ndang mateng, ndang dipangan, ndang entek. Lagipula buka pake kuah-kuahan juga okay kan ya biar perut ga langsung kaget kena yang berat-berat. #GustyanitaPratiwi_Resep.

Nah, pas moment masaknya itu, pokoknya diri ini udah menjelma bagaikan squidword yang tangannya ada banyak. Satu megang sutil, satu megang wajan, satu nguleg bumbu, satu petik-petik sayur. Kepala juga bentar-bentar nengok ke si Kakak yang lagi asyik main di ruang tamu yang sengaja kugelarin kasur tipis berdeketan dengan dapur (karena kan rumah aku kecil ya, jadi kemana-mana itu deket, mau ke kamar deket, mau ke dapur deket, mau ke kamar mandi juga deket, pokoknya semua serba deket, bahkan ruang makan pun kami ga punya saking minimalisnya rumah kami hahaaha...... jadi, kalau makan ya lesehan aja di atas kasur tipis yang ada di ruang tamu, wekwekwek).

Selasa, 28 April 2020

My Comfort Zone's Playlist


Oleh : Gustyanita Pratiwi

"Hello, good morning, how you do?"

"What makes your risin' sun so new?"

Lah ? Itu mah lirik lagunya Swichfoot yang berjudul 'Learning to Breath' ya. Tapi bukan itu sih judul yang aku suka, melainkan ada lagi judul yang lain yang menurutku ga kalah oke. Tiga diantaranya adalah Dare You to Move yang menjadi salah satu ost filmnya Mbak Mandy Moore yaitu Walk to Remember (awww ketahuan banget deh gw anak lamanya, haha...), Awakening, sama This is Home yang menjadi salah satu ostnya Narnia. Kenapa aku suka banget sama lagu ini ? Karena musiknya bikin semangat, walaupun kalau didengerin sambil pejemin mata, liriknya ada sebagian yang  terkesan mellow, hehe.. Tapi bagi gw itu ga masalah, soalnya gw tetep suka. Jadi kalau uda kedengeran starting lagunya nih, maka yang ada adalah gw yang tetiba pengen meragain gesture vokalisnya ketika doi sedang menyanyi #halah... hahaha.... 

Selasa, 21 April 2020

Ngemper Sejenak di Tukang Durian Pinggir Jalan Depan Telkom Kebumen


Oleh : Gustyanita Pratiwi

Keterangan : Liputan kuliner kali ini sudah dilakukan jauh  sebelum adanya pandemi yang menghebohkan dunia persilatan. Karena dalam bulan-bulan terakhir memang ga pernah kemana-mana alias #diRumah_aja

Suatu kali...

"Bull, pengen mandeg bentar ga? ", kata Pak Suami saat kami sedang melintasi Kebumen Kota, lebih tepatnya seberang Kantor Telkom, setelah arah-arah Tugu Lawet. 
"Emangnya kenapa Mas?"
"Liat tuh sebelah kanan jalan, ada yang sudah mengawe-awe dirimu supaya segera dibeli loh !"
WOW ! Begitu melihat ke arah jendela sesuai arahan Pak Su, Sugembulwatie alias Trumbul alias Tubul alias Ubung alias Pratiyem alias Tiyem alias gw segera membelalakkan mata berbinar-binar. Soalnya di sana ada buah kesukaanku yaitu durian. Mana duriannya montok-montok pula. Kuning keemasan di emperan jalan, digelar begitu aja, ada pula yang digantungin. 
"Gimana Bull? Tertarik beli ga, tar kalau udah balik Tangerang nyesel loh klo ga beli ?" Pak Suami kembali menggodaku untuk melipir ke bakul durian itu. 
Eh betewe, kok dari tadi Aku dipanggil Ball-Bull-Ball-Bull yes? Kan gw jadi inget tokoh Butal Bull yang ada dalam serial One Piece, hahaha. 

Oke fokus.

Eheum...maksudnya...

"Gimana Dek Nyiet? Mau turun ga? Turun aja yok, nyobain beberapa biji, sambil makan situ. Kayaknya enak deh....sekalian ngadem."
Oke lah kalau ditawarin begini sih gw mana bisa menolaknya #padahal mengatakannya dengan senang.


Kamis, 16 April 2020

Waroeng nDeso Mbantoel : Spesialis Ingkung Jowo, Ayamnya Sak 'Hoh-Hah' !



Oleh : Gustyanita Pratiwi

Keterangan : Liputan kuliner kali ini sudah dilakukan jauh-jauh hari sebelum adanya wabah atau pandemi yang menghebohkan dunia persilatan. 

Pada suatu hari yang telah lampau, Aku, Pak Suami, serta anak-anak, ingin mengajak Kakung dan Uti untuk mencicipi  ingkung jawa yang menjadi primadona sebuah warung makan di daerah Bantul, Yogyakarta. Memang di Bantul ini ada satu kecamatan khusus yang terkenal dengan sentra ingkungnya. Kecamatan tersebut bernama Kecamatan Pajangan, yang berada sekitar 12 km dari Kota Yogya. Kalau kita melintas ke daerah sini nih, maka yang ada adalah setiap beberapa kilometer sekali ada warung makan yang menawarkan menu utamanya berupa ingkung.

Oh ya, kalian sendiri mungkin ada yang belum mudeng tentang apa itu ingkung ya. Khususnya bagi pembaca yang dari luar Jawa. Ingkung sendiri menurut informasi yang kudapat dari Wahyana Giri MC (2010), Sajen & Ritual Orang Jawa, Yogyakarta : Narasi. hlm. 25-26 adalah salah satu ubo rampe penting dalam kenduri adat Jawa. Biassnya dia diletakkan di atas nasi uduk dan ditempatkan pada wadah terpisah dibandingkan lauk dan sayuran lain dalam besekannya. Nah ingkung ini berasal dari ayam kampung jantan yang sudah tua dan dimasak utuh serta diberi bumbu opor, kelapa, juga daun salam. Dia ini kalau dalam istilah Jawanya melambangkan bayi yang belum dilahirkan sehingga masih suci, belum memiliki kesalahan apa-apa. Makna lainnya adalah sebagai sikap pasrah dan menyerah atas kekuasaan Tuhan YME. Nah, dimasukkannya ingkung ke dalam ubo rampe kenduri dalam sebuah hajatan atau selamatan adalah dimaksudkan agar dapat mensucikan orang yang mempunyai hajat sekaligus tamu yang menghadirinya. Lalu, apa jadinya jika ingkung ini dijadikan menu utama sebuah warung makan? Padahal kan biasanya menu utamanya kalau ga ayam goreng kan ayam bakar ya? Nah ini lain daripada lain, karena basiknya asyam yang direbus. Pastinya jadi lebih istimewa juga dong ya karena menonjolkan sisi tradisionalnya...

Senin, 13 April 2020

Cerita di Balik Semangkuk Ramyun Teopokki



Oleh : Gustyanita Pratiwi

Semangkuk Teopokki Ramyun dan Halaman Khusus untuk Creameno

Senja pada pekan lalu aku mendapat sebuah paket spesial dari seorang teman blogger yang aku kenal baru-baru ini. Isinya Ramyun Teoppoki dan juga oden. Pengirimnya Mbak Eno. Pemilik blog Creameno. Tapi aku lebih sering memanggilnya Mbak Eno. Seperti halnya teman-teman blogger yang lain yang menyebutnya demikian, sebenarnya aku juga belum tahu siapa nama asli Mbak Eno. Entah kata 'eno' dalam penggalan nama blognya merupakan nama aslinya atau bukan. Tapi yang jelas Mbak Eno ini orangnya humble binti baik hati binti pinter binti suka menabung. I know that sebab salah satu kebiasaannya adalah sering memberikan bingkisan kepada orang-orang tercinta. Jangankan yang tercinta deh, orang yang bukan siapa-siapanya aja sering dikasih hadiah. Aku misalnya.. Iya, aku yang cuma sering ber haha-hihi doang di kolom komentarnya ini udah dapat hadiah sebanyak 3 kali (walaupun mungkin jenis komentarku ga sebermutu atau sepanjang yang lain, wekekek, piece Mbak Eno...cuma memang aku sering antusias kalau nemu blog yang selalu memuliakan pengunjungnya dengan cara tek tok dalam hal berinteraksi). Dah gitu, emang postingannya seru-seru sih, kadang bikin senyam senyum geje soalnya cerita-cerita dan karakter yang ditampilkan begitu menggemaskan...sampai kadang aku bertanya-tanya dalam hati bahwa sosok asli dari seorang Creameno itu seperti apa sih. Soalnya menurutku Mbak Eno ini misterius tapi juga lucu, kelihatan dari bahasa blognya yang menurutku comical banget, bhahhahha). Dari situlah lah otak serasa langsung memprogram supaya langsung ingat Creameno di luar kepala,  selain tentu saja karena alamat url blognya uda secara otomatis tersimpan dalam bentuk chace maupun halaman yang aku bintangi. Jadi, okey aku sering berkunjung ke blognya tanpa perlu dikode-kode morse terlebih dahulu, karena emang suka, hihi. Bahkan kadang ya, kalau lagi gabuuuuut banget diri ini, yang ada malah aku bacain satu-satu tuh acara bales-balesan di kolom komentarnya, wakakak..

Comic by :Gustyanita Pratiwi

Minggu, 12 April 2020

Hobiku....



Oleh : Gustyanita Pratiwi

Jam 23.07 menit

#habis nonton Escape Room bareng si Mas...
#tapi abis itu pingin lanjut ngeblog lagi. 
#walaupun isinya singkat-singkat aja. 
#Sebab ini malam Minggu,
#jadi adminnya pengen uhumb uhumb.... maksudnya uhumb-uhumb itu leyeh-leyeh sambil ngeteh bin ngupi-ngupi cantik atau ngemil nasgor gituw ((owalah ngemil kok nasgor, piye tuh pipi mo gembes Mbul?)), haha. 

Kali ini aku mau ngomongin hobi. Udah kayak tugas mengarang aja kan temanya hobi? Tapi biarlah. Sebab aslinya emang pengen majang gambar oret-oretanku yang ini nih.... Sedangkan gambarku yang lain bisa diklik di sini nih---> "Portofolio Gambar Iseng-Iseng Aja".

gembulnita (Gustyanita Pratiwi)

Jumat, 10 April 2020

Sinopsis The Boat (2018)


Oleh : Gustyanita Pratiwi

Okay, ini aku memang telat nonton The Boat (2018), yang ternyata wanjaiiii keren juga ya. Aduh, kenapa baru sekarang aku bisa menyelesaikan streamingan film ini--padahal rilisnya udah dari 2 tahun yang lalu. Itu pun yang di UK. Sedangkan yang di Malta baru rilis 2019. Tapi tetap saja aku antusias menontonnya. Sebab genre begini memang sudah jadi kesukaanku sejak lama. Mystery bercampur thriller, dengan sedikit bumbu horror. Siapa yang ga penasaran coba? Sambil setengah memaksa Pak Suami buat ikutan menonton juga padahal biasanya dia males karena udah underestimate duluan terhadap film-film yang aku rekomendasikan. Dipikirnya film-filmku tuh ga okay. Sedangkan film-film dia selalu yang jadi juaranya, seringnya jadi blockbuster. Dia kan sukanya lebih ke action ya, sedangkan aku suka yang tegang-tegang #Bhuwh #bagaimana bisa kompak coba, wakakak.

Tapi pas tau ternyata film ini menyuguhkan kesan misteri yang cukup mendalam, maka done juga akhirnya kami menyelesaikannya (apalagi setelah dipertegas dengan melihat trailernya terlebih dulu). Begh....semakin penasaran saja. Dari awal, tengah-tengah sampai akhir rasanya kayaknya ada 'sesuatu' yang menyihir kami buat mantengin terus supaya ga ketinggalan bagian pentingnya. Daaaaan.....ternyata begitu nyampe akhir, 'pecah' banget sih menurut w. Seketika itu pula gw langsung tercengang. Ga cuma gw sih sebenernya yang tercengang, sebab Pak Su juga aslinya ikut tercengang saking ga nyangka endingnya bakal begitu, cuma klo dia mah ga ditunjukin aja karena biasalah gengsi kalau harus mengakui bahwa pilihan filmku itu bagus. Kenapa dengan entengnya bisa aku katakan bagus? Karena dengan film yang settingnya di situ-situ tok, jumlah pemain segitu, serta dialog yang super minimalis (karena yah...aslinya emang tokohnya cuma 1 itu saja sih, dan dia lebih ke ngomong ama dirinya sendiri saat terjebak dalam situasi yang sangat stressfull)--dan itu ternyata sepanjang film kami kayak dipaksa suruh nebak endingnya bakal gimana. Semacam sesuatu yang kami pikir endingnya bakal begini, e ternyata kenyataannya bakal begitu. Memang begini begitunya teh maksudnya aya naon eta teh?

Ketimbang kebanyakan ngemeng doang, yuk lah baca yang sudah aku sarikan jalan ceritanya. Tapi sebelumnya monmaap nih ye kalau misalkan review film di blog ini memang pakenya formula suka-suka. Jadi kalau terkesan amatiran dan ga kayak pengamat apalagi kritikus film, juga spoiler yang bertebaran dimana-mana, ya tulung dimaklumin saja ya, huehehe...#Sinopsis_dan_review_film_ala_GustyanitaPratiwi

Sinopsis The Boat (2018)

Sinopsis The Boat (2018), sumber gambar : imdb

Judul Film : The Boat
Negara : Malta, Uk
Sutradara: Winston Azzopardi
Produser : Joe Azzopardi, Winston Azzopardi, Roy Boulter
Skenario : Joe Azzopardi, Winston Azzopardi
Cast : Joe Azzopardi
Genre: Mystery, Thriller
Tanggal Rilis : 22 September 2018 (UK), 22 Februari 2019 (Malta)
Durasi : 1 jam 29 menit

Rabu, 08 April 2020

Umami...


Oleh : Gustyanita Pratiwi

Mengapa yah, kadang aku merasa heran sama masakan sendiri yang kadang ga seenak masakan Pak Suami. Ya, bisa dikatakan Pak Suami itu hampir semua masakan bisa. Dan rasanya juga enak-enak terus. Ga kayak aku yang ga konsisten. Kadang enak, kadang ga enak. Malah sering juga terasa horror, haaaaa. Entah keasinan atau apalah yang istilahnya kurang pas aja di lidah. Meskipun kalau doi turun gunung ke dapur, yang ada bakal terjadi kekacauan. Dapur uda bisa dipastikan bakal  kayak kapal pecah. Semua alat-alat bodoh dikeluarkan. Entahlah itu pisau, sutil, baskom, saringan, wajan, kalo atau ayakan, leyeh, panci, dll. Pisau, kalau ga cocok ama pisau kecil yang biasa kugunakan sebagai pemotong sayuran, e doi malah ngeluarin pisau daging segala yang ukurannya segede gaban golok. Malah abis itu pamer memperlihatkan skill memotongnya kepadaku yang dia bilang ala-ala chef di kartun Shokugeki no Sōma...

Doi juga sebenarnya obsesi banget sih pingin beli pisau keren nan mahal kayak yang biasa digunakan oleh chef-chef itu. Padahal harganya bisa nyampe ratusan ribu bahkan jutaan dan setiap hari selalu dipandangin terus dong itu pisau merek ina inu di olx, jd.id, atau lazada, hahaha...(tapi ya ini sih cuma sampai tahap dimasukkin ke keranjang doang, soalnya jelas ga boleh lah sama aku klo sampe beli, mendingan buat beli yang lain yang lebih bermanpangat...iya kan iya dong Sayaaaank). Atau kalau biasanya aku ngiris bumbu dasar kayak bawang merah, bawang putih, cabe, dll cuma langsung iris aja di atas talenan, nah kalau Pak Su ndadak ngeluarin beraneka macam tatakan atau piring-piring kecil. Sutil juga dikeluarin semua, entah itu yang terbuat dari kayu atau logam. Leyeh pun sama, baik yang modelnya kayak lumpang atau yang biasa. Berikut ulegannya. Terus segala macam panci, saringan juga dikeluarkan. Tapi abis itu dibiarkan menumpuk di tempat cucian. Jadi doi fokus masaknya aja. Sedangkan asah-asah dan sebangsanya tetap akan jadi pekerjaanku, uhlalaaaa... tapi kalau dipikir-pikir kenapa masakannya selalu enak ya memang bagian ininya sih yang jadi pembedanya. Ketika doi masak, yang dikerjakan cuma proses masaknya aja. Sedangkan aku ya semua-muanya, mulai dari masak sampai kebersihannya. Jadi kalau Pak Suami bilang : "Mungkin aku masaknya pakai cinta, Mbul..", sedangkan aku ya sebenernya pakai cinta juga sih, cuma ditambahi bumbu kemrungsung aja, wakakakk......

Minggu, 05 April 2020

Sinopsis Wallace & Gromit The Curse of Were Rabbit (2005)


Sinopsis Wallace & Gromit, The Curse of Were-Rabbit (2005)

Oleh : Gustyanita Pratiwi

Kalau ditanya judul film animasi apa yang layak aku sematkan kalimat puja-puji, mungkin Wallace and Gromit The Curse of Were-Rabbit adalah jawabannya. Film lawas ini dirilis pada tahun 2005. Dan entah kenapa aku ga pernah bosan melihatnya. 

Film ini bukan hanya menonjolkan sisi teknologinya saja, tapi juga bagaimana menempatkan sinematografinya secara apik, malah boleh dibilang sangat-sangat niat. Wong setting kebun sayurnya saja yang dijadikan sebagai inti cerita bisa menampilkan detail yang sangat cantik kok. Ya, kebun sayur berikut hasil panennya yang begitu ranum dan warna-warni itu, dimana keberadaannya menghias sepanjang durasi. Pokoknya benar-benar memanjakan mata dan membuat relax. Sebenarnya ketika menonton film besutan sutradara Nick Park dan Steve Box ini, aku merasa kayak menonton film action thriller (dan juga sedikit bumbu horror) sih, namun dengan kemasan animasi. Tokoh-tokohnya mengingatkanku pada permainan anak yang disebut dengan Clay. Itu loh adonan yang bisa dibentuk-bentuk. Ya, setipe kayak tokoh di film Chicken Run dan series Shaun The Sheep lah (lha wong masih dalam satu produksi yang sama, piye to aku iki, hahaha). #Sinopsis_review_GustyanitaPratiwi

Sinopsis Wallace and Gromit The Curse of Were Rabbit (2005), sumber gambar : www(dot)walaceandgromit(dot)com

Judul Film :
Wallace and Gromit The Curse of Were Rabbit
Sutradara : Nick Park, Steve Box
Negara : Uk, Usa
Bintang film : Helena Bonham Carter, Peter Kay, Peter Sallis, Ralph Fiennes
Genre: Animation, Comedy, Family
Diterbitkan : 4 September 2005

Jumat, 03 April 2020

Telur Entog




Oleh : Gustyanita Pratiwi

Kalau lagi ngaca, kadang aku ngerasa bagaikan entog......

Ebot-ebot gitu....

Lucu sih kata Kangmas Papa, tapi yekan gw pingin diet juga, wakakak.

Sebenernya ga sah diet juga sah-sah aja, sebab kalau diet-diet segala dikhawatirkan malah gw-nya yang sakit. Jare beliau mending gw rajin olah raga aja, biar swehat. Tapi kapan olah raganya, ya itu yang kadang cuma sebatas wacana. Soalnya susah. Anak masih pada gelendotin Simboknya, jadi ya olahraganya pas mau tidur aja. Olahraga opo kui Mbul #meragukan. Olahraga driji kali alias ngecekin dashboard blog, hahaha..

Rabu, 01 April 2020

Sinopsis Hantu Kak Limah (2018)


Oleh : Gustyanita Pratiwi

Baru sekali ini nonton horror, malah terpingkal-pingkal terus. Sebabnya aku baru saja menonton film horror asal Malaysia yang disutradarai oleh Mamat Khalid. Judulnya Hantu Kak Limah. Film ini dirilis pada tahun 2018, namun baru bisa aku nikmati sekarang melalui streaming online. Di Netflix dan youtube sudah ada loh. Tapi kalau di youtube memang agak terpotong-potong sih beberapa part-nya, hihihi...

Film Hantu Kak Limah ini bergenre horror komedi. Jadi sepanjang cerita berisi kekonyolan-kekonyolan yang menurutku sukses penyampaiannya. Terutama karena horror ini diperkuat oleh karakter hantu nenek-nenek yang berambut gimbal, wajahnya pucat, matanya hitam, kuku kakinya lancip-lancip seperti landak, pokoknya tampangnya sangat menyeramkan. Berbeda dengan karakter hantu kuntilanak yang notabene bergaun putih, si Kak Limah ini masih menonjolkan sisi tradisionalnya, yakni tetap mengenakan kain jarik dan baju kebaya. 

Lalu ceritanya seperti apa? Langsung saja lah aku coba tulis sinopsis dan reviewnya, meskipun mungkin kata-katanya akan sangat jauh dari review ala pengamat film. Ya, review biasa aja, sebagaimana aku mengamati as penonton atau penikmat film (review dan sinopsis by Gustyanita Pratiwi).

Sinopsis Hantu Kak Limah (2018), sumber gambar: imbd(dot)com

Selasa, 31 Maret 2020

Cerita Tentang Mie Ayam


Oleh : Gustyanita Pratiwi

Kalau dihadapkan pada semangkuk bakso atau mie ayam, udah pasti gw bakal pilih mie ayam. Bukan karena ngebenci bakso, bukan, tapi kalau nyemilin baksonya doang kok rasanya kurang (((perasaan macam huapaaah inih ?). Ya bayangkan aja, semangkuk bakso kalau pesan yang bukan kosongan kan cuma dikasih bihun atau mie kuning sekedarnya, udah gitu baksonya cuma 3 butir. Bakso urat 1, alusnya 2. Yeikan sekarang bakso semakin sedikit ya karena mungkin bahan bakunya mahal. Paling yang dibanyakin cuma kuahnya doang. Lainnya paling tambah-tambah cesin atau pokcoy. Kurang boook, sekali sruput langsung abis sampai ke dasar mangkok. Kecuali kalau nyemilinnya pake nasi. E dulu jamannya gw kecil sempat mengalami trend loh kalau makan bakso pake nasi atau kalau ga ya mie pake nasi. Double karbo amat yak. Gegeggekk. #GustyanitaPratiwi_kuliner

Baca juga : Safari Pecel Ayam

Senin, 30 Maret 2020

30 Jajanan Pasar Khas Indonesia yang Aku Suka


Oleh : Gustyanita Pratiwi

Hellllllaaaaaw, apa kabar teman-teman semua ?
Semoga masih pada sehat-sehat ya....

Oh ya, berhubung peralatan tempurku buat ngeblog (baca : tab, leptop, dan juga HP ku lagi pada angin-anginan alias ada yang retak karena jatoh, ngehank, dan yang lainnya lelet parah, aku mau nyicil stok postingan dulu lah ya. Ga pada bosen kan? Ntar kalau uda pada bosen ama tulisan kulinerku, takhibernasi dulu deh ya, wkwkwk #alesan ae Luh Mbul, padahal sebenarnya lagi mandan malas update karena every single time ngebaca berita tentang corona. Ya, ntar deh kalau coronanya uda berlalu, mungkin mood nulisku akan balik lagi, heuehhehe #alesan opo iki Mbul.

Oh ya, kali ini aku mau majang foto-foto jajanan pasar yang seperti biasa huntingnya uda dari kapan tau ya #minta digibenk banget kan cuma pajang pamer fotonya doang hahahah, ampunih aku pemirsa, tapi beginilah sejak blog ini pengen aku banyakin postingan kuliner dan sedikit demi sedikit mulai membatasi tulisan yang too much personal, jadi ya monmaklum kalau isinya seringnya makanan moloooooo. Sebab ga bisa dipungkiri bahwa setelah sakseis mengupload foto-foto makanan yang menggugah selera, ga terasa, timbul kepuasan dalam diri ini #eduuuuun bahasa w. Oke lah daripada berpanjang-panjang kata, langsung aja ini dia jajan pasar yang aku suka. #GustyanitaPratiwi_kuliner.

1. Kue Lopis/Lupis

Kue lopis atau  lupis terbuat dari beras ketan yang dikukus. Warnanya hijau, bentuknya segitiga. Kue ini biasanya digunakan sebagai pelengkap cenil, jajan pasar yang terbuat dari beras ketan, berbentuk bulat pipih, dan biasanya berwarna cerah seperti pink atau merah muda dan juga putih. Cenil ini dimakan bersamaan dengan klepon dan lupis itu tadi yang di atasnya disiram dengan menggunakan kuah gula merah atau yang biasa disebut sebagai juruh. Dia juga akan lebih lengkap jika dimakan bareng taburan parutan kelapa. Nah, cenil ini biasanya dibungkus dengan tum-tuman daun pisang.  Sayangnya, sejak tinggal di Tangerang aku agak kesulitan menemukan cenil. Adanya kue lopisnya thok yang biasa dijual gerobagan bareng jajanan pasar khas Medan lainnya semisal klepon yang gedenya sak-hoh-hah (e ini bahasa perumpaman gede-gede dalam bahasa Jawa aja ya hehe), putu bambu, dsb. Aku suka kue lopis karena pada dasarnya aku memang menyukai makanan berbahan dasar ketan.


Jumat, 27 Maret 2020

Bakpao Medan


"Bakpaonya Jumbow, Isiannya Meleleh !

Oleh : Gustyanita Pratiwi

Kalau gw hitung pake jari, tukang makanan yang biasa ngiter di tempat tinggal W lumayan banyak loh. Dalam sehari, bisa ada beberapa macam pedagang yang keliling menggunakan sepeda motor ataupun sepeda onthelnya. Ada tukang Sari Roti, Tahu Susu garis miring Tahu Bandung, Susu Nasional, Siomay, Es Kado, Chi Cong Fan dan Bakpao Medan. Ntar agak maleman dikit, baru ada bakso tik tok tik tok, tukang nasgor tek tek, sampai tukang sekuteng. Tapi memang akhir-akhir ini ga semuanya ngiter sih. Sekarang mah sepi...paling cuma ada 1-2 aja yang masih rajin keliling. Salah duanya ya Sari Roti dan Bakpao Medan. #GustyanitaPratiwi_Kuliner

Baca juga : "Menu Masakan Padang ini yang Aku Suka"
Baca juga :  "Berburu Jajan Pasar di Daerah Pejagoan Kebumen"

Selasa, 24 Maret 2020

Sate Partodrono, Paling Terkenal Seantero Pituruh (Lokasi Dekat Pasar dan PLN Pituruh)


Sate Partodrono, Paling Terkenal Seantero Pituruh (Lokasi Dekat Pasar dan PLN Pituruh)

Oleh : Gustyanita Pratiwi

NB : Liputan kulinernya seperti biasa udah lama ya kayak yang udah aku ceritain di sini. Soalnya kalau dalam bulan ini kan ga kemana-mana alias di rumah aja seperti yang dianjurkan oleh pemerintah. Namun, karena draft sudah meng-awe-awe diriku supaya segera mempublish tulisan terbaru, jadi monmaklum kalau tulisannya super duper latepost #hiyahiyahiya #GustyanitaPratiwi_Kuliner


Oke, bismilahirohmanirohim...

Kali ini aku akan cerita tentang sate yang cukup terkenal di daerah Pituruh, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Lokasinya cukup dekat dengan rumah alm. Simbah yang ada di Pituruh. Persisnya deket dengan Kantor PLN Pituruh, sebelum Pasar Pituruh. Nah, bagi yang belum tahu Pituruh itu ada dimana, andai kita melintasi jalan raya yang menuju Kutoarjo, pasti lewat daerah Klepu kan (itu loh yang terkenal dengan Sate Tupainya~~tapi aku belum pernah coba sih hihi). Nah, Pituruh ini kalau dari Pertigaan Klepu, dia masuk ke utara, luruuuuuuuus terus nyampe tuh ke alun-alun, terus maju dikit lagi ketemu deh ama plang kantor PLN Pituruh yang depannya pasar. Nah, deket-deket situ tuh ada warung makan yang bentuknya kayak rumah biasa. Tapi jangan salah ! Meskipun tampak luar kayak rumah biasa, tapi terkenalnya udah seantero jagad Pituruh dan sekitarnya lho. Coba aja tengok sebelah kiri jalan pasti ada papan bertuliskan "Sate Partodrono, Rumah Makan Sederhana, Sate-Gule-Tongseng Kambing Muda plus Nasi Rames".


Kamis, 19 Maret 2020

Nostalgia Jalan-Jalan ke Candi Borobudur, Magelang, Indonesia Tahun 2015 (Sebelum ada Beiby)



Nostalgia Jalan-Jalan ke Candi Borobudur, Magelang, Indonesia Tahun 2015 (Sebelum ada Beiby)

Oleh : Gustyanita Pratiwi

Nb : Sebenarnya udah pernah posting cerita tentang Borobudur beberapa tahun silam. Malah postingannya aku bikin menjadi 2 bagian. Tapiiiii, karena waktu itu aku ga ngeh ada oknum blogger Auto Generate Content (AGC) yang menyedot artikelku sebanyak 150 artikel, makanya aku agak nyesek juga pas tahu digituin. 


Nyeseknya bukan karena apa-apa, tapi jelek-jelek begini kan tetep saja artikelku diambil tanpa ijin. Udah gitu diadsense-in pula. Kan susah ya bikin cerita ngalor ngidur berdasarkan pengalaman pribadi by kamera sendiri pula. Terus tiba-tiba disedot begitu aja, tanpa tedeng aling-aling bat bet bat bet. Mana sekarang akibatnya traffict blogku kesalip ama blog dia lagi. Jadi kalau aku search kata kunci ceritaku sendiri, yang nongol di atasku ya blognya dia. Blog aku ketilep, kadang ga keindeks, dan kalau dikorek-korek selalu ada di bawahnya. Jadi kayak diduplikat kontennya. Nyeseknya lagi adalah dulu itu aku kan masih polos ya, cupu gitu lah dalam hal ngeblog, foto ga dipakein watermark, lalu belum ngeh pula tentang pentingnya mencantumkan link ke blog sendiri di setiap postingan (itu loh yang misalnya ada tautan ke artikel lain yang awalnya ada tulisan baca juga di link bla bla bla). Nah ternyata karena sama sekali masih polosan belum jago ini itu, ya udah jadilah korban blog auto generate content yang ga perlu nulis artikel tinggal nyedot punya orang. Nyedotnya lewat mana kok bisa samaan plek ketiplek tiplek sama gitu ma blogger originalnya. Lewat feed Qaqa. Makanya sekarang tuh aku ngerasa terdzolimi karena dibikin rempong oleh blog macam ini. Dulu pernah kulaporkan ke DMCA sih, tapi ga tau kenapa blog tersebut masih ada. Artikelku yang dicurinya belum dihapus juga. Secara dikontak pun ga bisa karena ga ada kontaknya. Maksudnya kalau ada kontaknya kan bisa kutunggu itikad baiknya buat menghapus artikel colongannya itu. Eh ga ada sama sekali. Ya udah aku coba laporin aja ke DMCA pas tahun berapa gitu kalau ga salah 2016, tapi kayaknya ma google juga belum diapa-apain tuh, entah karena bahasa Inggrisku kacau atau ada step-step yang masih belum aku pahami waktu ngisi formnya. 

Ahhhh, ketimbang bete, karena beberapa popular post dan pengalaman travelingku seringnya ada di bawah blog dia rangkingnya, makanya aku tuh ingin mengatakan sungguh terrrr laaaa llluuuh. Sebagai tombo ati supaya ga patio gelo, ya aku pengen nulis ulang aja lah, dengan gaya bahasa yang sedikit beda, dan foto-foto yang masih pixel aslinya. Belum dirisize. Terus mau aku bombardir dengan watermark dan tambahin foto lainnya pula yang masih dalam satu moment pada waktu jalan-jalannya itu. Jadi kan ketahuan mana yang original. Karena mana ada kan yang palsuh megapixel fotonya lebih pecah, hahaha...kzl tapi kudu sabar....

Oke lah daripada berpanjang-panjang kata, udah ah...aku mau cerita lagi.

"One Day in H+4 Idul Fitri tahun 2015 ...."

Tahun 2015 adalah 2 tahun sebelum aku hamil si kakak.  Memang ceritanya waktu itu pas ada agenda honeymoon yang direncanakan lantaran ngepasin masa subur berdasarkan promil yang sedang kami jalani #halah haha. Walaupun ujungnya belom 'jadi' juga sih karena tekdungnya itu baru pas menginjak tahun 2017. Etapi emang judulnya ga terlalu ngoyo juga sih, sebab pertama...emang wayahnya lagi ga memungkinkan untuk terlampau santai karena masa-masa lebaran yang pastinya agak hectic karena ketemu banyak orang. Kedua, honeymoonnya sebenarnya juga dadakan aja hahahahha.... 

Pas ngerasanya lagi jenuh muter-muter sekitar situ-situ aja, ya kenapa ga terlintas buat dolan agak jauhan dikit coba. Kan masih berdua ini. Mumpung belum ada yang bikin remmpong. Mikir kami begicuwww. Misalnya sampai Jogja atau Magelang. Cari hotel dan nginap sehari semalam, terus jalan-jalan, kulineran deh. Cobain makanan khasnya, phota-photo, ntar taruh blog #jiahahah tetep ya khontheeeend.

Selasa, 17 Maret 2020

Ndekem Terus Dalam Rumah Kayak Ibu Kucing...



By : Gustyanita Pratiwi

Dalam Bulan Maret emang ga ada kemana-mana. Ndekem terus kayak ibuk kucing yang ngelonin anak-anaknya, hehe... Bulak-balik bersih-bersih rumah, ngepal-ngepel, cuca-cuci, kebersihan lah pokoknya. Nyapu juga ada berkali-kali. E tapi itu sebenarnya udah rutinitas deng, sehari-hari juga udah gitu. 

Ilustrasi : foto si Gumi, kucing jaman masih ngekos, sekarang ga tau dia masih ada pa engga

Jumat, 13 Maret 2020

Warung Nasi Liwet Mbak Sri Kulon Keprabon Solo, Baru Tahu Wedang Dongo itu Sama Dengan Ronde


Warung Nasi Liwet Mbak Sri, Kulon Keprabon Solo, Baru Tahu Wedang Dongo itu Sama Dengan Ronde

By : Gustyanita Pratiwi

Karena kemaren udah nyobain nasi liwet, jadi kulineran pada malam kedua ini pengennya nyobain sesuatu yang lain. Walaupun judulnya sama-sama warung nasi liwet juga dan lokasinya pun masih sederetan dengan Nasi Liwet Bu Wongso Lemu, Keprabon Kulon Solo. Nah, tempatnya dimana? Namanya Warung Nasi Liwet Mbak Sri yang posisinya ada di paling kanan dari deretan warung makan yang ada. 

Di warung makan ini, yang menarik perhatianku justru bagian wedangan-wedangannya. Secara, begitu lihat banner di bagian depan warung, tertulis berbagai macam wedangan yang sebagian masih asing di telingaku. Sebut saja wedang dongo, wedang sekoteng, wedang es kacang hijau, wedang es kacang putih, wedang kelengkeng, wedang es jeruk, juga teh. Yang aku belum ngeh tampilannya kayak apa itu wedang dongo, wedang es kacang putih, dan wedang kelengkeng.

Semangkuk wedang ronde dengan indil-indil merah jambu dan putih yang terbuat dari tepung beras ketan, terasa syahdu diteguk bersamaan dengan air jahe, irisan kolang-kaling dan kacang sangrai (Gustyanita Pratiwi docs)

Kamis, 12 Maret 2020

Warung Es Masuk Solo : Hujan-Hujan Ngiyup Bentar Nyobain Bakmie dan Sotonya


Warung Es Masuk Solo : Hujan-Hujan Ngiyup Bentar Nyobain Bakmie dan Sotonya

By : Gustyanita Pratiwi

Usai perhelatan wisudanya Adek yang kini resmi menyandang status sebagai lulusan S1 kedokteran (tapi masih harus koas 2 tahun) di Gedung dr. Prakosa, Kantor Pusat UNS, perut uda mulai kruyuk-kruyuk dong. Lagaknya uda minta diisi karena sedari pagi sarapannya ngaco. Malah ada yang belum sarapan saking buru-burunya ngejer acara, haha. Sempet ada drama kumbara juga, karena sebelum beneran deal makan siang kan rombongan dibagi menjadi 2 tuh. Satu ikut rombongannya Pakdhe Akbar, satu ikut rombonganku. Yang ikut Pakdhe Akbar ada Budhe Puput (kakak gw red), Mas Ahza (ponakan ganteng), Uti, sama Tante Anis (Adek gw). Sementara yang ikut denganku ada Pak Suami (ya iya lah doi kan yang nyetirin sebab Pak Agus sedang istirahat di hotel), Kakung, aku, Acyiqa, en si Bontot Tenggara. Nah, tadinya kan Tante Anies uda ada agenda mau foto studio khusus untuk moment wisuda. Tempatnya kebetulan lumayan dapet yang mblusuk-mblusuk. Terus pas nyampe lokasi eh dapat antriannya jam 4 sore. Padahal waktu itu masih jem 12-an menuju jam 1 siang. Lama banget kan kalau musti stay di tempat buat nunggu sampai jam 4. Terus nyobain opsi di studio foto satunya. Jalannya agak jauh lagi, deketan ama jembatan layang. Mana parkirannya susah hahaha....Eh pas uda nyampe, malah background fotonya kurang banyak, walhasil jadi galau deh si Tante Anies antara jadi foto apa ga. Nah, daripada uda muter-muter belum nemu foto studio yang bisa motret saat itu juga, jadi lebih baik kami makan siang dulu. Kadung ngelih jew... 


Rabu, 11 Maret 2020

Gudeg Ceker Bu Kasno Margoyudan Solo, Buka Jam 2 Pagi udah Ngantri !



Gudeg Ceker Bu Kasno Margoyudan Solo, Buka Jam 2 Pagi udah Ngantri !

By : Gustyanita Pratiwi

Seorang perempuan berkonde cepol dengan kebaya melekat di badannya keluar dari garasi sebuah rumah dengan membawa baskom demi baskom jadoel bermotif hijau lurik dibantu dengan asistennya. Baskom tersebut berisi aneka macam lauk pauk teman makan nasi gudeg yang biasa ia masak pagi-pagi betul, bahkan ayam jago saja kalah set. Ada ceker yang menjadi primadonanya, ingkung ayam kampung baik yang bagian kepala, sayap, brutu, dada, maupun paha, telur pindang, puritan (telur yang belum begitu jadi dan bentuknya kecil-kecil warna kuning), krecek,  jeroan ati ampela, cabai rawit, areh atau santan yang teksturnya menggumpal, gudeg nangka beserta kuahnya, nasi liwet, tahu, tempe, juga sambal. Perempuan tersebut kemudian duduk dengan baskom yang sudah ditata mengelilinginya. Selanjutnya pelanggan yang sudah mengular di luar sana segera merapat menyebutkan pesananannya satu-satu. Ada yang makan di tempat, ada pula yang dibawa pulang. Lalu dengan cekatan Beliau meracik satu demi satu piring berisi nasi, gudeg, dan lauk pauknya. Meski terbilang sudah berusia senja, namun nyatanya hal tersebut tak menyurutkan semangat Beliau untuk terus konsisten menyajikan hodangan terbaik yang selalu dikangeni warga Solo maupun pemburu makanan lokal yanh legendaris ini. Beliau Bu Kasno, pemilik Gudeg Ceker depan Greja Kristen Jawa Mergoyudan Solo, sebelah barat SMA Negeri 1 Surakarta (SMANSA). 


Selasa, 10 Maret 2020

Nasi Liwet Bu Wongso Lemu, Kuliner Solo yang Ada Sinden Nembang Jawanya


Nasi Liwet Bu Wongso Lemu, Kuliner Solo yang Ada Sinden Nembang Jawanya

By : Gustyanita Pratiwi

Aku merasakan atmosfer Jawa yang sangat kental begitu memasuki warung makan Nasi Liwet Bu Wongso Lemu, di daerah Keprabon Kulon Solo. Bagaimana tidak, begitu makan, kami langsung diiringi dengan bunyi kecapi dan tembang Jawa yang dilantunkan oleh seorang sinden lengkap dengan sanggul dan kebaya hijaunya. Slamat-slamat mendengarkan suaranya yang merdu, bahkan sesekali mampu mencapai nada tinggi, membuatku seolah terhanyut terbawa suasana. 

Ya, hari pertama tiba di Solo langsung kami gunakan untuk ekspedisi kuliner malam. Salah satu tujuannya adalah Nasi Liwet Bu Wongso Lemu yang berada di Jl Teuku Umar, Keprabon Kulon Solo. Ternyata, sesampai di sana, tempatnya ga cuma 1 loh gaes yang mengklaim diri sebagai Nasi Liwet Bu Wongso Lemu, melainkan ada beberapa yang saling berdampingan. Katanya sih masih saudaraan. Tapi, aku sendiri memilih masuk di warung yang paling kanan. Soalnya kelihatan paling ramai. Udah gitu bannernya paling gede. Tulisannya "Nasi Liwet Bu Wongso Lemu Asli" Terkenal Sejak 1950, Keprabon Kulon Solo. Nah, kata 'Asli' nya ini lah yang meyakinkan kami buat mampir. Apalagi di bagian depan juga terpajang lukisan seorang perempuan Jawa yang aku taksir merupakan Bu Wongso Lemunya.

Baca juga : Sarapan di Doplak Nasi Kebuli Pak Adi Batang, Nyaamleng dan Marem Tenan !
Baca juga : Kuliner Solo Dekat UNS, SBC Special Cah Kangkung, Kangkungnya Lemes, Harga Mahasiswa Banget !

Senin, 09 Maret 2020

Pengalaman Menginap di UNS Inn, Penginapan di Kawasan Kampus UNS



Pengalaman Menginap di UNS Inn, Penginapan di Kawasan Kampus UNS

By : Gustyanita Pratiwi

Usai makan siang di SBC Special Cah Kangkung, kami bergegas menuju UNS Inn, penginapan yang sudah kami booking dalam rangka menghadiri perhelatan wisuda Adek yang lulus Fakultas Kedokteran tahun ini. Sengaja nginep di sekitar kampus supaya dekat dengan gedung yang akan dijadikan acara. Jadi begitu jam menunjukkan pukul 14.00 WIB, kami segera meluncur ke Jl Ir. Sutarmi 36 A, Kentingan, Jebres, Solo tempat dimana hotel berada.

UNS Inn termasuk ke dalam kategori hotel bintang 2 yang berkonsep Jawa Klasik. Hal ini terlihat dari desain interiornya yang di sana-sini kental nuansa Jawa. Misalnya terdapat kursi ukiran kayu khas Jawa yang ada di area lobby, juga hiasan dinding gunungan yang biasa ditemukan pada pertunjukan wayang kulit. Letaknya ada di dinding sebelah plang yang bertuliskan nama hotelnya. Ada pula dekorasi dokar (delman), sepeda unta (sepeda jaman dulu), permainan dakon, cermin antik, pajangan dari kuningan, dan batik khas Solo beserta canting dan juga malam atau lilin untuk membatiknya. Batiknya cakep-cakep deh. Ada yang sudah dalam bentuk baju, ada pula yang masih dalam bentuk kain. Berbagai corak serta warna. Ada yang cokelat klasik, adapula yang warna cerah seperti merah jambu dan lainnya. Saat masuk, kami juga disambut dengan alunan gending Jawa yang menambah syahdu suasana. Iramanya mengingatkanku akan bebunyian yang biasa terdengar di acara resepsi mantenan jaman doeloe, hihi...

Minggu, 08 Maret 2020

Kuliner Solo Dekat UNS, SBC Special Cah Kangkung, Kangkungnya Lemes, Harganya Mahasiswa Banget !



Kuliner Solo Dekat UNS, SBC Special Cah Kangkung, Kangkungnya Lemes, Harganya Mahasiswa Banget !


Jumat itu cuaca Solo lumayan gahar. Kami tiba sekitar pukul 11.30 WIB tepat sebelum sholat jumat, dengan kondisi mobil yang lumayan ngebut. Perjalanan membelah alas Roban, lalu memasuki tol Semarang, dan bermuara di Solo terasa singkat saja. Rupanya Pak Agus membawa mobilnya lumayan ngetril, sehingga aku yang duduk di jok belakang sampai bolak-balik terjaga, padahal mata sebenernya sudah ngantuk betul hampir seperempat watt karena trek yang meliuk-liuk. Tapi, untunglah saat menengok ke carseat samping, Tenggara masih tidur dengan pulasnya, sementara Cyiqa sudah dalam posisi tidur yang serampangan di jok tengah barangkali saking capeknya karena kami start dari Tangerang pukul 23.30 WIB pada malam sebelumnya. Pak Suami yang duduk di depan samping Pak Agus juga sudah bablas. Well, yang penting kami tiba di Solo tepat waktu meski dengan acara mandeg-mandeg berulang kali. Termasuk juga sarapan di daerah Batang.


Sabtu, 07 Maret 2020

Sarapan di Doplak Nasi Kebuli Pak Adi Batang, Nyamleng dan Marem Tenan !


Sarapan di Doplak Nasi Kebuli Pak Adi Batang, Nyamleng dan Marem Tenan !

Sarapan kali ini dipersembahkan oleh Doplak Nasi Kebuli Pak Adi di daerah Batang arah-arah menuju Semarang, Provinsi Jawa Tengah. Wanjeeeeer jauh banget kan, sarapan aja gw bisa nyampe Mbatang #dalam rangka apa Mbul ?  Kalau diceritain panjang. Ini semua ada kaitannya dengan hestek #GustyanitaPratiwi_trip_to_Solo dan #GustyanitaPratiwi_jelajah_kuliner_Solo yang ntar lagi bakal aku tulis satu-satu. Siap-siap marem ya, isi blog ini berturut-turut bakal makanan semua huehehe...Deng ga spesifik makanan aja sih, soalnya emang kami ke Solo ada agenda penting alias acara keluarga. Yaitu ngehadirin hajatan wisudanya adek gw yang alhamdulilah udah lulus dari fakultas kedokteran salah satu PTN di Solo. Jadi ya wes lah sekalian aja kulineran. Kan di Jawa Tengah kulinernya enak-enak tur murah-murah. Jadi ya gw hayuk !

Sarapan nasi kebuli sungguh nikmat tiada tara (Gustyanita Pratiwi docs)

Selasa, 25 Februari 2020

Review Rumah Makan Nyi Iteung Cibubur


By : Gustyanita Pratiwi

Abis dari Kampung China Kota Wisata Cibubur kami mampir sejenak untuk makan siang yang dah terlanjur kesorean di Rumah Makan Nyi Iteung. Patokannya sebelum perempatan Cileungsi putar balik ke arah Cibubur kurang lebih 50 meter. Nah dia ada di sebelah kiri jalan. 

Kami ke sana udah agak sorean sih sebenarnya. Ya sekitar jem-jem 16.00 WIB lah. Maksudnya mau sekalian asyaran gitu. Juga numpang toilet karena sedari tadi belom pipis setelah kejebak macet sekian lama. Jadi pilih rumah makannya yang sekalian bagus aja. Yang ada mushola dan toiletnya. Oh ya satu lagi, terpentingnya adalah yang ada parkirannya. Kami prefer cari tempat makan yang parkirannya gede. Jadi lebih enakeun buat naruh kendaraannya. Ga takut kemepetan jalan raya atau empet-empetan ama kendaraan lain yang parkir di sebelahnya. Nah, kebetulan di Nyi Iteung ini dapet ke-3 kriteria itu. Jadi tanpa pikir panjang lagi, kami langsung aja mampir ke situ, di samping emang perut udah sangat keroncongan tentu saja, wekekek....